Anda di halaman 1dari 17

APENDIKS VERMIFORMIS

1. Anatomi
Apendiks disebut juga sebagai umbai cacing
Fungsi organ ini belum diketahui pasti
Merupakan organ berbentuk tabung dengan panjang kira-kira 10
cm (3-15cm) dan berpangkal disekum
Pangkal dari apendiks tepatnya berada di titik Mc. burney
Lumennya mnyempit dibagian proksimal dan melebar dibagian
distal
Namun pada bayi apendiks berbentuk kerucut, melebar pada
pangkal dan menyempit kearah ujungnya
Mempunyai penggantung disebut mesoapendiks atau
mesenteriolum
Letaknya :
1.
Retrocaecal
2.
Retrocolica
3.
Pre/post ileal
4.
Paracolica
5.
Promontorium
6.
Inguinal
7.
Pelvis
Persarafan :
1.
Parasimpatis n.vagus
2.
Simpatis n. Th X
Perdarahan :
Dilakukan oleh a. apendikularis tanpa kolateral jadi jika
arteri ini tersumbat misalnya thrombosis oleh infeksi maka
akan mengalami gangrene
Buku Ajar Ilmu Bedah . R Samsuhidajat Dan Wim De Jong
2. Fisiologi
Apendiks menghasilkan lendir 1-2ml per hari
Lender secara normal dikeluarkan ke dalam lumen dan
selanjutnya mengalir ke sekum
Hambatan aliran lender di muara apendiks apendisitis
Immunoglobulin sekretoar dihasilkan oleh GALT (gut Assosiation
lymphoid tissue) yang terletak sepanjang sal. Cerna ialah IgA
namun dihasilkan dalam jumlah sedikit sehingga sekalipun
dilakukan pengangkatan tidak member pengaruh besar dalam
tubuh
Buku Ajar Ilmu Bedah . R Samsuhidajat Dan Wim De Jong

APPENDISITIS
1. Definisi
Penyakit akut atau gawat abdomen terseringa yang terjadi akibat
peradangan pada apendiks oleh beberapa sebab yang mengenai pada
seluruh lapisan dindingnya
Buku Ajar Ilmu Bedah . R Samsuhidajat Dan Wim De Jong
Buku Bedah Seri Catatan Kuliah FK UNDIP
2. Etiologi
Obstruksi lumen apendiks
Hyperplasia jaringan limfe
Infeksi
Kinking atau apendiks yang menekuk
Adhesi
Fekalit
Tumor
Cacing ascaris
Entamoeba Histolitica
Konstipasi
Buku Ajar Ilmu Bedah . R Samsuhidajat Dan Wim De Jong
Buku Bedah Seri Catatan Kuliah FK UNDIP
Konstipasi dapat menyebabkan peningkatan tekanan intraluminal
sekum, yang dapat diikuti oleh obstruksi fungsional apendiks dan
berkembangbiaknya bakteri. Penyebab utama konstipasi adalah diet
rendah serat. Diet rendah serat dapat menyebabkan feses menjadi
memadat , lebih lengket dan berbentuk makin membesar, sehingga
membutuhkan proses transit dalam kolon yang lama Diet tinggi serat
tidak hanya memperpendek waktu transit feses dalam kolon, tetapi
dapat juga mengubah kandungan bakteri.
Infeksi
bakteri yang berkembang pada lumen apendiks adalah Bacteroides
fragilis dan Escherichea colli. Kedua bakteri ini adalah flora normal
usus. Bakteri ini menginvasi mukosa, submukosa, dan muskularis,
yang menyebabkan udem, hiperemis dan kongesti local vaskuler, dan

hiperplasi kelenjar limfe. Kadang-kadang terjadi trombosis pada vasa


dengan nekrosis dan perforasi.
Beberapa penelitian klinis berpendapat bahwa Entamoeba
histolytica, Trichuris trichiura, dan Enterobius vermikularis dapat
menyebabkan erosi membrane mukosa apendiks dan perdarahan. Pada
kasus infiltrasi bakteri, dapat menyebabkan apendisitis akut dan abses
Pada awalnya Entamoeba histolytica berkembang di kripte glandula
intestinal. Selama infasi pada lapisan mukosa, parasit ini memproduksi
ensim yang dapat menyebabkan nekrosis mukosa sebagai pencetus
terjadinya ulkus. Keadaan berikutnya adalah bakteri yang menginvasi
dan berkembang pada ulkus , dan memprovokasi proses inflamasi yang
dimulai dengan infiltrasi sel radang akut.
Akibat sumbatan / obstruksi mengakibatkan sekresi mukus terganggu ,
sehingga tekanan intra lumen meningkat mengakibatkan gangguan
drainage pada :
Limfe : Oedem kuman masuk ulcerasi mukosa Appendisitis akut
Vena
: TrombusIskhemikuman masuk pus Appendisitis Supuratif
Arteri : Nekrosis kuman masuk ganggren Appendisitis ganggrenosa
Perforasi peritonitis umum

3. Klasifikasi
A. Berdasar waktu
Kronik disebut kronik jika :
Riwayat nyeri perut kanan bawah > 2minggu
Radang kronik apendiks tampak secara makroskopis ataupun
mikroskopis
Gamabaran mikroskopis berupa : fibrosis menyeluruh pada
dinding apendiks, sumbatan parsial atau total pada lumen,
adanya jaringan parut dan ulkus lama di mukosa, infiltrate sel
inflamasi
Keluhan menghilang setelah apendiktomi
Rekuren disebut rekuren jika :
Jika ada riwayat nyeri berulang diperut kanan bawah yang
mendorong dilakukan apendektomi
Hasil patologi menunjukan gambaran radang
Kelainan ini terjadi ketika apendisitis akut pertama kali
sembuh spontan Namun apendiks tidak kembali ke bentuk

asal akibat terjadi fibrosis dan jaringan parut sehingga


rekuren
Akut datang dengan serangan akut

B. berdasarkan komplikasi atau tidak


1. Acute appendicitis tanpa komplikasi. (cataral
appendicitis)
Proses peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mucosa saja.
Appendix kadang tampak normal, atau hanya hiperemia saja. Bila
appendix tersebut dibuka, maka akan tampak mukosa yang
menebal, oedema dan kemerahan. Kondisi ini disebabkan invasi
bakteri dari jaringan limpoid ke dalam dinding appendix. Karena
lumen appendix tak tersumbat. Maka hal ini hanya menyebabkan
peradangan biasa.
Bila jaringan limpoid di dinding appendix mengalami oedema,
maka akam mengakibatkan obstruksi lumen appendix, yang
akan mempengaruhi feeding sehingga appendix menjadi gangrena,
seterusnya timbul infark. Atau hanya mengalami perforasi
(mikroskopis), dalam hal ini serosa menjadi kasar dan dilapisi
eksudat fibrin Post appendicitis acute, kadang-kadnag terbentuk
adesi yang mengakibatkan kinking, dan kejadian ini bisa
membentuk sumbatan pula
2.

Acute appendicitis dengan komplikasi:


Peritonitis.
Abses atau infiltrat.

Merupakan appendicitis yang berbahaya, karena appendix menjadi


lingkaran tertutup yang berisi fecal material, yang telah
mengalami dekomposisi. Perbahan setelah terjadinya sumbatan
lumen appendix tergantung daripada isi sumbatan. Bila lumen
appendix kosong, appendix hanya mengalami distensi yang berisi
cairan mucus dan terbentuklah mucocele. Sedangkan bakteria
penyebab, biasanya merupakan flora normal lumen usus berupa
aerob (gram + dan atau gram ) dan anaerob. Pada saat appendix
mengalami obstruksi, terjadi penumpukan sekresi mucus, yang
akan mengakibatkan proliferasi bakteri, sehingga terjadi
penekanan pada moukosa appendix, dikuti dengan masuknya
bakteri ke dalam jaringan yang lebih dalam lagi. Sehingga timbulah
proses inflamasi dinding appendix, yang diikuti dengan proses

trombosis pembuluh darah setempat. Karena arteri appendix


merupakan end arteri sehingga menyebabkan daerah distal
kekurangan darah, terbentuklah gangrene yang segera diikuti
dengan proses nekrosis dinding appendix.
Dikesempatan lain bakteri mengadakan multiplikasi dan invesi
melalui erosi mukosa, karena tekanan isi lumen, yang berakibat
perforasi dinding, sehingga timbul peritonitis.

C. Berdasar sifat lihat patofisiologi


Apendisitis akut fokal (akut dini)
Apendisitis supuratif akut
Apendisitis gangrenosa
Apendisitis perforasi (perforate)
Apendisitis infiltrate
Buku Ajar Ilmu Bedah . R Samsuhidajat Dan Wim De Jong
Buku Bedah Seri Catatan Kuliah FK UNDIP
4. Pathogenesis
Pada dasarnya appendicitis akut adalah suatu proses penyumbatan yang
mengakibatkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan .
Obstruksi mukusMakin lama mucus tersebut makin banyak, namun elastisitas
dinding apendiks mempunyai keterbatasan menyebabkan peningkatan tekanan
intralumen. menghambat aliran limfe edema, diapedesis bakteri, dan ulserasi
mukosa. apendisitis akut fokal (nyeri tumpul diepigastrium daerah
umbilikal.)
Bila sekresi mukus terus berlanjuttekanan akan terus meningkat obstruksi
vena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding. Peradangan meluas
dan mengenai peritoneum setempat (nyeri pindah di daerah kanan bawah).

apendisitis supuratif akut.


Setelah kemudian serosa juga terinvasi mukosa peritoneum parietale terkena
( nyeri tajam, nyeri somatic yang khas yaitu di sisi kanan bawah (titik Mc Burney)).

aliran arteri terganggu infark dinding apendiks gangren apendisitis

gangrenosa(demam sedang, takikardi, mulai toksik, leukositosis)( 24-36 jam).


Bila dinding yang telah rapuh itu pecah apendisitis perforata (demam
tinggi, takikardi, nyeri seluruh perut, defans musculer) peritonitis.
Bila semua proses di atas berjalan lambat
omentum dan usus halus yang berdekatan akan bergerak ke arah apendiks dan
melokalisasi daerah infalmasi mengelompok dan memebentuk suatu infiltrate
apendiks apendisitis infiltrate(massa perut kanan bawah,KU membaik) .
Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang.
1. abses

perforasi dan ruptur apendisitis perforata(demam tinggi, takikardi, nyeri

seluruh perut, defans musculer,pembengkakan masa) peritonitis


2. menghilang
akan sembuh,masa apendikuler akan tenangmengurai scr lambat(tidak

bisa sembuh sempurna)membentuk jaringan parutadhesi(nyeri berulang


perut kanan bawah)meradang lagieksaserbasi akut
Pada orangtua kemungkinan terjadi perforasi lebih besar karena daya tahan tubuh
sudah lemah dan telah ada gangguan pembuluh darah. Pada anak-anak, karena
omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, dinding apendiks lebih tipis.
Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang
memudahkan terjadinya perforasi.
(Kapita Selekta 2000)
(Sjamsuhidajat R, Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah : 1997)
5. Patofisiologi
Obstruksi
Akumulasi mucus
Tek. Intralumen meningkat
Distensi lumen

Fase akut
fokal atau
akut dini

Translokasi bakteri ke apendiks


Inflamasi dinding apendiks
Thrombosis local
Gangren
Perforasi

Fase
supuratif
akut

Fase
gangrenosa
Fase
perforasi

Omentum dan usus bergerak ke apendiks membentuk massa

Fase
Buku Ajar Ilmu Bedah . R Samsuhidajat Dan Wim De Jonginfiltrat

Buku Bedah Seri Catatan Kuliah FK UNDIP


6. Gambaran Klinis
a. Symptoma.
nyeri abdominal ( Secara klinis nyeri dimulai difus terpusat di daerah
epigatrium bawah atau umbilical , dengan tingkatan sedang dan
menetap, kadang-kadang disertai dengan kram intermiten. Nyeri akan
beralih setelah periode yang bervariasi dari 1 hingga 12 jam, biasanya
4 6 jam , nyeri terletak di kuadran kanan bawah )
b.

Signa.
Tanda vital tidak berubah banyak.
Peninggian temperature jarang lebih dari 1C rekuensi nadi normal
atau sedikit meninggi. Adanya perubahan atau peninggian yang besar
berarti telah terjadi komplikasi atau diagnosis lain perlu diperhatikan.
Pasien biasanya lebih menyukai posisi supine dengan paha kanan
ditarik ke atas, karena suatu gerakan akan meningkatkan nyeri.
Nyeri kuadran kanan bawah secara klasik ada bila apendiks yang
meradang terletak di anterior.
Nyeri tekan sering maksimal pada atau dekat titik yang oleh McBurney
dinyatakan sebagai terletak secara pasti antara 1,5 2 inchi dari spina
iliaca anterior pada garis lurus yang ditarik dari spina ini ke umbilicus.
Adanya iritasi peritoneal ditunjukkan oleh adanya nyeri lepas tekan
dan Rovsings sign. Adanya hiperestesi pada daerah yang diinervasi
oleh n. spinalis T10, T11, T12 , meskipun bukan penyerta yang
konstan adalah sering pada apendisitis akut. Tahan muskuler terhadap

palpasi abdomen sejajar dengan derajat proses peradangan, yang


pada awalnya terjadi secara volunteer seiring dengan peningkatan
iritasi peritoneal terjadi peningkatan spamus otot, sehingga kemudian
terjadi secara involunter. Iritasi muskuler ditunjukkan oleh adanya
psoas sign dan obturator sign.
Buku Ajar Ilmu Bedah . R Samsuhidajat Dan Wim De Jong
Buku Bedah Seri Catatan Kuliah FK UNDIP
1. Bila letak apendiks retrosekal retroperitoneal, yaitu di belakang
sekum (terlindung
oleh sekum), tanda nyeri perut kanan bawah tidak begitu jelas dan
tidak ada tanda rangsangan peritoneal. Rasa nyeri lebih kearah
perut kanan atau nyeri timbul pada saat melakukan gerakan seperti
berjalan, bernapas dalam, batuk, dan mengedan. Nyeri ini timbul
karena adanya kontraksi m.psoas mayor yang menegang dari
dorsal.
2. Bila apendiks terletak di rongga pelvis
Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada rektum,
akan timbul gejala dan rangsangan sigmoid atau rektum,
sehingga peristalsis meningkat, pengosongan rektum akan
menjadi lebih cepat dan berulang-ulang (diare).
Bila apendiks terletak di dekat atau menempel pada kandung
kemih, dapat terjadi peningkatan frekuensi kemih, karena
rangsangannya dindingnya.
7. Diagnosis banding

Gastroentritis akut
Mual, muntah dan diare mendahului rasa sakit. Sakit perut lebih
ringan dan tidak berbatas tegas. Hiperperistalsis sering ditemukan.
Panas dan leukositosis kurang menonjol dibandingkan appenditis
akut.
Limfadenitis mesenterikus pada anak
Limfadenitis mesenterikus yang biasa didahului oleh enteritis atau
gastroenteritis ditandai dengan nyeri perut, terutama kanan disertai
dengan perasaan mual, nyeri tekan perut samar terutama kanan.
Demam dengue

Demam dengue dapat dimulai dengansakit perut mirip peritonitis.


Disini didapatkan hasil tes positif untuk Rumpel Leede,
Trombositopenia dan hematokrit meningkat.
Kelainan ovulasi (Mittelschmerz)
Folikel ovarium yang pecah (ovulasi) mungkin memberikan nyeri
perut kanan bawah pada pertengahan siklus menstruasi. Pada
anamnesis, nyeri yang sama pernah timbul lebih dahulu. Tidak ada
tanda radang, dan nyeri biasa hilang dalam waktu 24 jam tetapi
mungkin dapat mengganggu selama 2 hari.
Kehamilan di luar kandungan
Hampir selalu ada riwayat terlambat haid dengan keluhan yang
tidak menentu. Jika ada ruptur tuba atau abortus kehamilan di luar
rahim dengan perdarahan, akan timbul nyeri yang mendadak difus
di daerah pelvis dan mungkin terjadi syok hipovolemik. Pada
pemeriksaan vaginal didapatkan nyeri dan penonjolan rongga
Douglas dan pada kuldosentesis didapatkan darah.
Kista ovarium terpuntir
Timbul nyeri mendadak dengan intensitas yang tinggi dan teraba
massa dalam rongga pelvis pada pemeriksaan perut, colok vaginal
atau colok rektal. Tidak terdapat demam. Pemeriksaan
ultrasonografi dapat menentukan diagnosis.
Endometriosis eksterna
Endometrium di luar rahim akan memberikan keluhan nyeri di
tempat endometriosis berada, dan darah menstruasi terkumpul di
tempat itu karena tidak ada jalan keluar.
Urolitiasis pielum/ureter kanan
Batu ginjal kanan. adanya riwayat kolik dari pinggang ke perut
menjalar ke inguinal kanan merupakan gambaran yang khas.
Eritrosituria sering ditemukan. Foto polos atau urografi intravena
dapat memastikan penyakit tersebut.
Penyakit radang panggul
Suhu biasanya lebih tinggi dari pada apendisitis dan nyeri perut
bagian bawah perut lebih difus. Infeksi panggul wanita biasanya
lebih disertai keputihan dan infeksi urin. Pada colok vagina, akan
timbul nyeri hebat di panggul jika uterus diayunkan.
Buku Ajar Ilmu Bedah . R Samsuhidajat Dan Wim De Jong
Buku Bedah Seri Catatan Kuliah FK UNDIP

8. Dasar diagnosis
ANAMNESIS
1. Sakit perut mulai sekitar pusat yang berpindah ke perut kanan bawah
2. Sakit tidak menjalar ke pinggang
3. Buang air kecil tidak terganggu
4. Hampir selalu disertai mual dan muntah
5. Demam timbul setelah sakit perut
PEMERIKSAAN FISIK :
Berjalan membungkuk sambil memegangi perut kanan bawah
Bila diminta tidur akan mem-fleksikan tungkai pada sendi lutut dan
sendi panggul

INSPEKSI :
Perut tidak kembung
Kulit tidak ada kelainan
Tidak ada gambaran usus dan peristaltik usus

AUSKULTASI :
Bising usus menurun
Tidak terdengar bising aorta
PALPASI :

Nyeri tekan (+) Mc.Burney

Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan kuadran kanan bawah atau titik
Mc Burney dan ini merupakan tanda kunci diagnosis

Nyeri lepas (+) karena rangsangan peritoneum

Rebound tenderness (nyeri lepas tekan ) adalah rasa nyeri yang hebat
(dapat dengan melihat mimik wajah) di abdomen kanan bawah saat
tekanan secara tiba-tiba dilepaskan setelah sebelumnya dilakukan
penekanan yang perlahan dan dalam di titik Mc Burney.

Defens musculer (+) karena rangsangan m.Rektus abdominis

Defence muscular adalah nyeri tekan seluruh lapangan abdomen yang


menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietale.

Rovsing sign (+)

Penekanan perut sebelah kiri terjadi nyeri sebelah kanan, karena tekanan
merangsang peristaltik dan udara usus , sehingga menggerakan
peritoneum sekitar appendik yang meradang (somatik pain)
Rovsing sign adalah nyeri abdomen di kuadran kanan bawah, apabila kita
melakukan penekanan pada abdomen bagian kiri bawah, hal ini
diakibatkan oleh adanya nyeri lepas yang dijalarkan karena iritasi
peritoneal pada sisi yang berlawanan

Psoas sign (+)

Pada appendik letak retrocaecal, karena merangsang peritoneum


Psoas sign terjadi karena adanya rangsangan muskulus psoas oleh
peradangan yang terjadi pada apendiks

Pemeriksaan Penunjang
1.Laboratorium
a. Pemeriksaan darah
- leukositosis pada kebanyakan kasus appendisitis akut terutama pada kasus dengan
komplikasi.
- pada appendicular infiltrat, LED akan meningkat
b. Pemeriksaan urin untuk melihat adanya eritrosit, leukosit dan bakteri di dalam
urin. Pemeriksaan ini sangat membantu dalam menyingkirkan diagnosis banding
seperti infeksi saluran kemih atau batu ginjal yang mempunyai gejala klinis yang
hampir sama dengan appendicitis. Pada pemeriksaan urin, sedimen dapat normal atau

terdapat leukosit dan eritrosit lebih dari normal bila apendiks yang meradang
menempel pada ureter atau vesika
2. Radiologis
a. Foto polos abdomen
Pada appendicitis akut yang terjadi lambat dan telah terjadi komplikasi (misalnya
peritonitis) tampak:
- scoliosis ke kanan
- psoas shadow tak tampak
- bayangan gas usus kananbawah tak tampak
- garis retroperitoneal fat sisi kanan tubuh tak tampak
- 5% dari penderita menunjukkan fecalith radio-opak
- mouse tail partial filling hasil positif bila : non filling Appendicogram 1997)cut
off. (Aksara Medisina
b. . USG
Bila hasil pemeriksaan fisik meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan USG, terutama
pada wanita, juga bila dicurigai adanya abses. Dengan USG dapat dipakai untuk
menyingkirkan diagnosis banding seperti kehamilan ektopik, adnecitis dan
sebagainya. (www.jama.com 2001)
c.Barium enema
Yaitu suatu pemeriksaan X-Ray dengan memasukkan barium ke colon melalui anus.
Pemeriksaan ini dapat menunjukkan komplikasi-komplikasi dari appendicitis pada
jaringan sekitarnya dan juga untuk menyingkirkan diagnosis banding.
Foto barium enema yang dilakukan perlahan pada appendicitis akut memperlihatkan
tidak adanya pengisian apendiks dan efek massa pada tepi medial serta inferior dari
seccum; pengisisan lengkap dari 2000) menyingkirkan appendicitis.
(Schwartzapendiks
d. CT-Scan
Dapat menunjukkan tanda-tanda dari appendicitis. Selain itu juga dapat
menunjukkan komplikasi dari appendicitis seperti bila terjadi abses.

e. Laparoscopi
Yaitu suatu tindakan dengan menggunakan kamera fiberoptic yang dimasukkan dalam
abdomen, appendix dapat divisualisasikan secara langsung.Tehnik ini dilakukan di
bawah pengaruh anestesi umum. Bila pada saat melakukan tindakan ini didapatkan
peradangan pada appendix maka pada saat itu juga dapat langsung dilakukan
pengangkatan appendix.

9. Penatalaksanaan
Tindakan paling tepat : apendektomi
fase akut : apendiktomi
Fase perforasi :apendiktomi
Fase infiltrate :konservatif antibiotik,diet lunak,apendiktomi 2-3
bln kmudian
Fase eksaserbasi akut: apendiktomi
Fase abses :drainase,apendiktomi interval
Fase kronik : operasi afroud (2-3 bln kmudian)
Buku Ajar Ilmu Bedah . R Samsuhidajat Dan Wim De Jong
Buku Bedah Seri Catatan Kuliah FK UNDIP
10.

Komplikasi
Perforasi
Abses
Peritonitis generalisata

Buku Ajar Ilmu Bedah . R Samsuhidajat Dan Wim De Jong


Buku Bedah Seri Catatan Kuliah FK UNDIP

peritonitis
DEFINISI
Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada
selaput rongga perut
(peritoneum).
Peritonitis adalah radang peritoneum dengan eksudasi serum, fibrin, sel
sel, dan pus, biasanya disertai dengan gejala nyeri abdomen dan nyeri tekan
pada abdomen, konstipasi, muntah, dan demam peradangan yang biasanya
disebabkan oleh infeksi pada peritoneum
PENYEBAB
Peritonitis biasanya disebabkan oleh :
1.Penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi.
Yang sering menyebabkan peritonitis adalahper for as i lambung, usus,
kandung empedu
atau usus buntu.
2. Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan
kegiatan seksual
3.Infeksi dari rahim dan saluran telur, yang mungkin disebabkan oleh
beberapa jenis
kuman (termasuk yang menyebabkangonor e dan infeksi chlamidia)
4.Kelainan hati atau gagal jantung, dimana cairan bisa berkumpul di perut
(asites) dan
mengalami infeksi
5.Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan.
Cedera pada kandung empedu, ureter, kandung kemih atau usus selama
pembedahan
dapat memindahkan bakteri ke dalam perut. Kebocoran juga dapat terjadi

selama
pembedahan untuk menyambungkan bagian usus.
6.Dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal) sering mengakibatkan
peritonitis.
Penyebabnya biasanya adalah infeksi pada pipa saluran yang ditempatkan di
dalam perut.
7.Iritasi tanpa infeksi.
Misalnya peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau bubuk bedak pada
sarung tangan
dokter bedah juga dapat menyebabkan peritonitis tanpa infeksi
Patofisiologi
Peradangan peritoneum merupakan komplikasi berbahaya yang sering
terjadi akibat penyebaran infeksi dari organ organ abdomen (misalnya:
apendisitis, salpingitis), rupture saluran cerna atau dari luka tembus
abdomen. Organisme yang sering menginfeksi adalah organisme yang hidup
dalam kolon pada kasus ruptur apendiks, sedangkan stafilokok dan
streptokok sering masuk dari luar9.
Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya
eksudat fibrinosa. Abses terbentuk di antara perlekatan fibrinosa, yang
menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi
infeksi. Perlekatan biasanya menghilang bila infeksi menghilang, tetapi dapat
menetap sebagai pita pita fibrosa, yang kelak dapat mengakibatkan
obstruksi usus9.
Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada permukaan peritoneum atau
bila infeksi menyebar, dapat timbul peritonitis umum. Dengan
perkembangan peritonitis umum, aktifitas peristaltik berkurang, usus
kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang ke dalam
lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan
oliguria. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung lengkung usus yang
meregang dan dapat mengganggu pulihnya pergerakan usus dan
mengakibatkan obstruksi usus9.
Peritonitis mekonium adalah peritonitis non bakterial yang berasal dari
mekonium yang keluar melalui defek pada dinding usus ke dalam rongga
peritoneum. Defek dinding usus dapat tertutup sendiri sebagai reaksi
peritoneal. Bercak perkapuran dapat terjadi dalam waktu 24 jam
manifestasi klinis

Gejala peritonitis tergantung pada jenis dan penyebaran infeksinya.


Biasanya penderita muntah, demam tinggi dan merasakan nyeri tumpul di
perutnya.
Bisa terbentuk satu atau beberapa abses.
Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan
(perlengketan,adhes i)
yang akhirnya bisa menyumbat usus.
Bila peritonitis tidak diobati dengan seksama, komplikasi bisa berkembang
dengan cepat.
Gerakanper is taltik usus akan menghilang dan cairan tertahan di usus halus
dan usus besar.
Cairan juga akan merembes dari peredaran darah ke dalam rongga
peritoneum. Terjadidehidr asi berat dan darah kehilangan elektrolit.
Selanjutnya bisa terjadi komplikasi utama, seperti kegagalan paru-paru,
ginjal atau hati dan
bekuan darah yang menyebar
Gejalanya bisa berupa:
- muntah darah (hematemesis)
- mengeluarkan tinja yang kehitaman (melena)
- mengeluarkan darah dari rektum (hematoskezia)
Tinja yang kehitaman biasanya merupakan akibat dari perdarahan di saluran
pencernaan bagian atas, misalnya lambung atau usus dua belas jari. Warna
hitam terjadi karena darah tercemar oleh asam lambung dan oleh
pencernaan kuman selama beberapa jam sebelum keluar dari tubuh.
Sekitar 200 gram darah dapat menghasilkan tinja yang berwarna kehitaman.
Penderita dengan perdarahan jangka panjang, bisa menunjukkan gejalagejala anemia, seperti mudah lelah, terlihat pucat, nyeri dada dan pusing.
Jika terdapat gejala-gejala tersebut, dokter bisa mengetahui adanya
penurunan abnormal tekanan darah, pada saat penderita berdiri setelah
sebelumnya berbaring.
Gejala yang menunjukan adanya kehilangan darah yang serius adalah
denyut nadi yang cepat, tekanan darah rendah dan berkurangnya
pembentukan air kemih. Tangan dan kaki penderita juga akan teraba dingin
dan basah. Berkurangnya aliran darah ke otak karena kehilangan darah, bisa
menyebabkan bingung, disorientasi, rasa mengantuk dan bahkan syok.

Gejala kehilangan darah yang serius bisa berbeda-beda, tergantung pada


apakah penderita memiliki penyakit tertentu lainnya. Penderita dengan
penyakit arteri koroner bisa tiba-tiba mengalami angina (nyeri dada) atau
gejala-gejala dari suatu serangan jantung.
Pada penderita perdarahan saluran pencernaan yang serius, gejala dari
penyakit lainnya, seperti gagal jantung, tekanan darah tinggi, penyakit paruparu dan gagal ginjal, bisa bertmbah buruk.
Pada penderita penyakit hati, perdarahan ke dalam usus bisa menyebabkan
pembentukan racun yang akan menimbulkan gejala seperti perubahan
kepribadian, perubahan kesiagaan dan perubahan kemampuan mental
(ensefalopati hepatik).
penatalaksanaan
Prinsip umum pengobatan adalah pemberian antibiotik yang sesuai,
dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik atau intestinal,
penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara
intravena, pembuangan fokus septik atau penyebab radang lainnya, bila
mungkin dengan mengalirkan nanah keluar dan tindakan tindakan
menghilangkan nyeri9.
Biasanya yang pertama dilakukan adalah pembedahan eksplorasi darurat,
terutama bila disertai appendisitis, ulkus peptikum yang mengalami perforasi
atau divertikulitis. Pada peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau
penyakit radang panggul pada wanita, pembedahan darurat biasanya tidak
dilakukan. Diberikan antibiotik yang tepat, bila perlu beberapa macam
antibiotik diberikan bersamaan. Cairan dan elektrolit bisa diberikan melalui
infus