Anda di halaman 1dari 9

BAB VI

PEMBAHASAN

Bab ini membahas mengenai hasil penelitian yang telah dilaksanakan yaitu pengaruh
pelatihan proses keperawatan (NANDA, NIC, dan NOC)

terhadap kemampuan

(pengetahuan) perawat dalam penyusunan NOC di ruang anak Rumah Sakit Saiful Anwar
Malang, setelah data kuesioner diolah, kemudian diinterpretasikan dan dianalisa sesuai
dengan variabel yang diteliti, maka berikut ini akan diuraikan beberapa bahasan mengenai
variabel tersebut.

6.1 Tingkat Kemampuan (Pengetahuan) Perawat Dalam Penyusunan NOC Sebelum


Pelatihan
Berdasarkan gambar 5.7 dapat diketahui tingkat kemampuan (pengetahuan) dalam
penyusunan NOC sebelum diberikan pelatihan proses keperawatan (NANDA, NIC, dan
NOC) adalah hanya 2 responden (5%) yang baik, dan yang kurang sebanyak 27 responden
(71%).
Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar perawat di
ruang anak Rumah Sakit Saiful Anwar, sebelum pelatihan proses keperawatan (NANDA,
NIC, dan NOC) memiliki tingkat kemampuan (pengetahuan) yang kurang dalam penyusunan
kriteria hasil (NOC) yang tepat sehingga akan mengalami kesulitan dalam penerapan
asuhan keperawatan yang memenuhi standar asuhan keperawatan secara internasional.
Peneliti berpendapat bahwa salah satu faktor penyebab kurangnya kemampuan
(pengetahuan) responden dalam penyusunan kriteria hasil (NOC) adalah faktor pendidikan.
Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian yaitu dilihat dari pendidikan, dalam penelitian
responden terbanyak lulusan D3 keperawatan sebanyak 36 responden (95%). Hal tersebut
sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa kemampauan (pengetahuan) yang kurang
dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti: umur, pekerjaan, tingkat pendidikan, sumber
informasi, kebudayaan lingkungan sekitar, dan pengalaman (Notoatmodjo, 2011).

Pada penelitian ini terlihat bahwa pendididkan masih tergolong dalam perawat
pemula. Pendidikan memegang peran penting dalam setiap perubahan. Dengan tingginya
tingkat pendidikan yang ditempuh diharapkan kemampuan (pengetahuan) seseorang akan
bertambah. Menurut Notoadmodjo (2011) semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan
semakin besar kesempatan untuk memperoleh kemampuan (pengetahuan), berpikir logis
dan memahami informasi yang diperoleh, oleh sebab itu semakin tinggi tingkat pendidikan
perawat dapat dikatakan bahwa pengetahuannya tentang informasi baru dalam menyusun
atau membuat serta melakukan proses keperawatan juga semakin baik dan pengalamannya
juga semakin banyak.
Tingkat pendidikan responden sebagian besar lulusan D3 dihubungkan dengan lama
bekerja perawat di ruangan maupun di rumah sakit menunjukan hampir setengah responden
yaitu sebanyak 13 responden (34%) sudah bekerja 10 tahun, hal ini dapat menjukan
rentang lamanya perawat sudah lulus dari pendidikan D3 keperawatan akan dapat
menyebabkan kurangnya atau belum terpaparnya informasi tentang proses keperawatan
(NANDA, NIC, dan NOC)pada saat menempuh pendidikan D3 keperawatan.
Gambaran kemampuan (pengetahuan) perawat di ruang anak Rumah Sakit Saiful
Anwar yang kurang dalam penyusunan NOC juga telah terlihat dari hasil penelitian
sebelumnya yang dilakukan oleh Agus Achmadi (2008) yang berjudul Gambaran Aplikasi
Diagnosa Keperawatan NANDA NIC-NOC pada Pasien Schizophrenia di Ruang MPKP RS
Jiwa Prof. dr. Soeroyo Magelang dengan hasil tujuan dan kriteria hasil tidak sesuai dengan
NOC. penelitian lainnya seperti yang dilakukan oleh oleh Mohamad Asad Efendi (2011) di
Rumah Sakit PTPN Jember berjudul Perbedaan Tingkat Kualitas Dokumentasi Proses
Keperawatan Sebelum Dan Sesudah Penerapan NANDA-I, NIC, Dan NOC Di Ruang
Anthurium RS PTPN X Jember menunjukkan bahwa tingkat kualitas dokumentasi sebelum
NANDA, NIC dan NOC diterapkan dalam kategori sedang (89,3%).
Berdasarkan hasil penelitian sebagian besar responden dapat menjawab kuesioner
no 12 yang membahas tentang indicator NOC nutritional status, kemungkinan disebabkan
perawat sering terpapar dengan NOC nutritional status dan di lapangan NOC nutritional

status juga merupakan salah satu NOC sering digunakan sehingga responden lebih banyak
mengetahui data-data atau indikator yang termasuk di dalam NOC nutritional status.
Seorang perawat profesional penting memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam
melakukan asuhan keperawatan sehingga mampu melakukan proses asuhan keperawatan
yang berkualitas dan berstandar internasional. Upaya untuk meningkatkan atau mencapai
kemampuan adalah dengan pelatihan (Mathis & Jackson, 2002). Pelatihan merupakan
proses pendidikan jangka pendek yang menggunakan cara dan prosedur yang sistematis
dan terorganisir, dan dalam pelatihan para peserta pelatihan akan mempelajari pengetahuan
dan keterampilan yang sifatnya praktis untuk tujuan tertentu (Sumantri, 2000). Pelatihan
bertujuan

untuk

mengembangkan

keahlian

pengetahuan dan mengembangkan sikap

atau

keterampilan,

mengembangkan

(Mangkunegara, 2005). Pelatihan bermanfaat

untuk memperbaiki kemampuan, keterrampilan dan sikap serta standar keselamatan kerja
(Robbins & Judge, 2009). Oleh karena itu, pelatihan sangat penting bagi setiap perawat
khususnya perawat anak untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan sehingga
dapat meningkatkan kemampuan perawat dalam melakukan asuhan keperawatan
berstandar internasional khususnya kemampuan dalam hal menyusun NOC.

6.2 Tingkat kemampuan (pengetahuan) Perawat Dalam Penyusunan NOC Setelah


Pelatihan
Setelah diberikan pelatihan proses keperawatan (NANDA, NIC, dan NOC), pada
gambar 5.8 menunjukkan sebagian besar responden memiliki kemampuan (pengetahuan)
dalam penyusunan NOC yang baik yaitu sebanyak 25 responden (66%) dan tidak satupun
kurang dari 38 responden, hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar perawat di ruang
anak Rumah Sakit Saiful Anwar, setelah diberikan pelatihan proses keperawatan (NANDA,
NIC, dan NOC) memiliki tingkat kemampuan (pengetahuan) yang baik dalam penyusunan
NOC.
Peneliti berpendapat bahwa penyebab kemampuan (pengetahuan) responden dalam
penyusunan kriteria hasil (NOC) sebagian besar baik adalah karena dipengaruhi berbagai

faktor diantaranya faktor pengalaman dan informasi. Responden mengikuti pelatihan proses
(NANDA, NIC, dan NOC) sebagai pengalaman bagi responden.

Melalui pengalaman

tersebut responden mendapat berbagai hal salah satunya kemampuan (pengetahuan), ini
terbukti dari hasil penelitian setelah responden mengikuti pelatihan kemampuan
(pengetahuan) kognitif responden menjadi meningkat dan didukung dengan adanya teori
yang mengatakan bahwa kemampuan (pengetahuan) kognitif salah satunya dapat
dipengaruhi oleh pengalaman (Notoatmodjo, 2011) dan terbentuk dari pengalaman dan
ingatan yang didapat sebelumnya (Sudarmita, 2002).
Faktor lain selain pengalaman, yaitu informasi. Karena menurut Notoatmodjo (2011),
sebuah informasi berperan penting dalam membantu seseorang memperoleh pengetahuan.
Pada penelitian ini informasi yang didapatkan dari pelatihan. Melalui pelatihan tersebut,
perawat terpapar informasi terkini terkait penyusunan proses keperawatan yang terstandar
sehingga memberi atau menambah informasi yang terkait yang dimiliki responden yang
dapat memperbaharui kemampuan (pengetahuan) kognitif responden. Hal ini dapat menjadi
modal responden dalam penyusunan kriteria hasil (NOC) di ruang anak rumah sakit Saiful
Anwar Malang.
Hasil penelitian ini ditunjang dengan adannya hasil penelitian sebelumnya yang
dilakukan oleh Mohamad Asad Efendi (2011) di Rumah Sakit PTPN Jember berjudul
Perbedaan Tingkat Kualitas Dokumentasi Proses Keperawatan Sebelum Dan Sesudah
Penerapan NANDA-I, NIC, Dan NOC Di Ruang Anthurium RS PTPN X Jember
menunjukkan bahwa tingkat kualitas dokumentasi keperawatan setelah penerapan NANDA,
NIC, dan NC dalam kategori baik hanya (57,1%) dan kategori sedang (42,9%). Hasil
penelitian ini membuktikan bahwa pelatihan dapat meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan peserta pelatiahan.

6.3 Pengaruh pelatihan proses keperawatan (NANDA, NIC, dan NOC) terhadap
kemampuan dalam penyusunan NOC perawat di ruang anak.
Berdasarkan gambar 5.9 sebagian besar kemampuan (pengetahuan) responden
dalam kategori baik sebelum pelatihan yaitu sebanyak 5% dan setelahpelatihan yaitu
sebanyak 66%, artinya terjadi peningkatan sebesar 51%, sedangkan yang termasuk dalam
kategori kurang sebelum pelatihan sebanyak 71% dan setelah pelatihan tidak terdapat
pengetahuan yang kurang.
Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan uji wilcoxon rank test didapatkan p
value = 0,000 (p value < 0,05), hal ini dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima
sehingga dapat terlihat bahwa ada pengaruh pelatihan proses keperawatan (NANDA, NIC,
dan NOC)terhadap kemampuan (pengetahuan) perawat dalam penyusunan kriteria hasil
(NOC).
Peneliti menyimpulkan bahwa adanya perbedaan tingkat kemampuan (pengetahuan)
dalam penyusunan NOC pada responden sebelum dan setelah diberikan pelatihan proses
keperawatan (NANDA, NIC, dan NOC), hal ini disebabkan adanya pengaruh dari pelatihan.
Hal ini sesuai dengan teori bahwa salah satu manfaat dari pelatihan adalah memperbaiki
atau meningkatkan kemampuan (pengetahuan) peserta pelatihan, sehingga pelatihan
proses keperawatan (NANDA, NIC, dan NOC) yang diberikan kepada perawat ruang anak
juga dapat meningkatkan dan mengembangkan kemampuan (pengetahuan) dalam
penyusunan kriteria hasil (NOC) (Robbins & Judge, 2009).
Pelatihan dapat mempengaruhi atau meningkatkan kemampuan (pengetahuan)
disebabkan banyak hal, diantaranya faktor: isi pelatihan pelatiah yang relevan dan sejalan
dengan kebutuhan pelatihan serta up to date;

kesesuaian materi dengan kebutuhan

pelatihan yang mana dipaparkan materi yang sebelumnya responden belum mengetahui
atau memahami tentang materi dan isi materi merupakan hal yang sangat di butuhkan
responden sehingga menimbulkan ketertarikan responden untuk mengetahui dan mengerti
serta memahami isi materi yang di sampaikan; keterampilan intruktur dalam menyampaikan
materi sehingga responden terdorong untuk belajar; fasilitas pelatihan yang mendukung

yang mana selain responden mendengarkan instruktur pelatihan menjelaskan materi,


responden juga didukung dengan adanya modul materi dan buku-buku yang di bagikan
yang dibagikan sebagai pendukung pada saat pelatihan berlangsun; dan metode pelatihan
yang pada penelitian ini digunakan metode presentasi informasi yaitu ceramah, diskusi
tanya jawab (Sofyan, 2008; Handoko, 2008).
Berdasarkan gambar 5.10 dapat diketahui bahwa sebagian besar kemampuan
(pengetahuan) perawat berdasarkan peningkatan point nilai yang didapatkan per responden
yaitu meningkat sebanyak 34 responden (89%) dan menetap sebanyak 4 responden (11%).
Peningkatan bila berdasarkan kategori tingkatan kemampuan yaitu dari kurang menjadi
cukup sebanyak 10 responden (26%), kurang menjadi baik sebanyak 18 responden (48%),
dan cukup menjadi baik sebanyak 5 responden (13%), sedangkan yang menetap yaitu
kategori cukup menjadi cukup sebanyak 3 responden (8%) yaitu 2 responden nilainya tetap
saat sebelum dan setelah dan 1 responden point nilainya meningkat saat setelah namun
masih dalam kategori cukup, dan yang tetap dalam kategori baik sebanyak 2 responden
(5%) dengan poin nilai sebelum dan setelah tetap sama. Sehingga dengan melihat
peningkatan yang secara keseluruhan sebesar 89 % dan peningkatan terbesar pada
kategori kurang menjadi baik sebanyak 48%, dapat disimpulkan adanya peningkatan yang
bermakna terhadap kemampuan perawat dalam penyusunan NOC setelah pelatihan.
Berdasarkan gambar 5.12 terlihat perbedaan jumlah responden yang menjawab
benar per kuesioner yaitu

yang paling tinggi ditunjukan pada

kuesioner no 14 dan

kuesioner no 15 dengan berdasarkan gambar 5.13 ada peningkatan setelah pelatihan


sebesar 20 responden. kuesioner no 14 membahas tentang indicator NOC pain control dan
kuesioner no 15 membahas tentang indicator NOC pain level, artinya sebagian besar
responden dapat mengerti, memahami dan mengetahui tentang komponen NOC bagian
indicator khususnya pada indicator NOC tentang pain, dan responden dapat membedakan
yang termasuk indicator NOC pain control dengan pain level, yang selanjutnya bermanfaat
bagi responden dalam menentukan intervensi (NIC) yang tepat dan sesui sehingga asuhan
keperawatan dapat dilakukan dengan baik dan dan dilakukan sesuai kondisi pasien.

Berdasarkan gambar 5.12 pada kuesioner no 7 pada setelah pelatihan tetap terdapat
7 responden yang dapat menjawab dengan tepat, sehingga disimpulkan tidak ada
peningkatan. Kuesioner no 7 membahas tentang NOC untuk gangguan system pernapasan.
Tidak ada peningkatan kemungkinan disebabkan karena responden masih belum
memahami atau mengetahui yang termasuk dalam kategori NOC untuk diagnosa gangguan
sistem pernafasan.
Dari hasil penelitian ini, maka dilihat perlunya pelatihan proses keperawatan
(NANDA, NIC, dan NOC) berkelanjutan, sehingga sebagai sarana untuk meningkatkan
kemampuan (pengetahuan) serta skill perawat dalam penyusunan kriteria hasil (NOC)
dalam melakukan asuhan keperawatan yang bestandar internasional, yang bermanfaat
memberikan label dan ukuran kriteria hasil yang komsebelumhensif, berfokus pada pasien,
lebih spesifik, cepat penerimaannya dan dapat mengidentifikasi pernyataan faktor resiko
untuk kelompok populasi, serta skala pengukuran yang diterima dalam organisasi atau
sistem mnajemen. Karena itu pelatihan proses keperawatan (NANDA, NIC, dan NOC) harus
diberikan pada perawat yang bertugas di ruang anak maupun ruangan lainnya, agar asuhan
yang diberikan berkualitas dan berstandar internasional.

6.4 Implikasi Terhadap Keperawatan


6.4.1 Pendidikan Keperawatan
Adanya hasil penlitaian mengenai kemampuan (pengetahuan) perawat dalam
penyusunan kriteria hasil (NOC) pada perawat dan ruang anak dapat dijadikan sebagai
salah satu bahan pertimbangan untuk diperkenalkan atau dimasukan dalam kurikulum
pendidikan setiap institusi pendidikan keperawatan di indonesia sejak dini atau sejak D3
keperawatan sampai jenjang pendidikan tertinggi, agar meningkatkan pengetahuan peserta
didik tentang proses keperawatan (NANDA, NIC, dan NOC) yang berstandar internasional
dan di akui di dunia yang sesuai dengan keilmiahan.

6.4.2 Praktik Keperawatan Klinik


Hasi penelitaian tersebut, diharapkan kepada perawat anak untuk selalu terbuka
serta menggali informasi baru tentang asuhan keperawatan yang berstandar internasional
(NANDA, NOC, dan NIC) serta yang lainnya) dan dapat mempertimbangkan untuk
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi agar lebih banyak mendapat ilmu
keperawatan yang masih belum didapat pada saat D3 keperawatan dan memberikan
perubahan kemampuan (pengetahuan) mnjadi lebih baik.
6.4.1 Kebijakan Rumah Sakit
Hasil penelitian ini, dapat dijadikan salah satu bahan pertimbangan bagi pihak rumah
sakit dalam membuat kebijakan khususnya bagi profesi keperawatan untuk mengikuti
pelatihan khususnya pelatihan dalam proses keperawatan (NANDA, NIC, dan NOC) secara
berkelanjutan. Adanya koordinasi dan kerjasama antara institusi rumah sakit dan intitusi
pendidikan untuk memberikan pelatihan atau pendidikan tentang informasi proses
keperawatan yang sesuai dengan standar internasional dansesuai dengan keilmiahan
sehingga adanya kesesuaian antara teori dan praktik dan perawat lebih terbuka terhadap
informasi baru yang akan mengembangkan keilmuan keperawatan sehingga asuhan yang
diberikan berkualitas.

6.5 Keterbatasan Penelitian


Peneliti menyadari bahwa pelaksanaan penelitian ini masih banyak kekurangan, hal
ini dapat disebabkan karena:
a. Penelitian ini, peneliti tidak menggali tingkat Kemampuan (pengetahuan) responden
secara

holistik

terhadap

responden.

Peneliti

mengabaikan

faktor-faktor

yang

mempengaruhi tingkat pengetahuan seperti: sumber informasi (sumber informasia yang


diperoleh responden, apabila responden mengetahui tentang proses keperawatan
(NANDA, NIC, dan NOC) dan pengalaman (apa adakah responden pernah mendapat
pelatihan atau pembelajaran tentang proses keperawatan NANDA, NIC, dan NOC
sebelumnya).

b. Keterbatasan waktu dalam melakukan penelitian penilaian kemampuan (pengetahuan)


kognitif sebelum dan setelah dalam jangka waktu yang singkat. Peneliti terbatas hanya
melihat pengaruh pelatiahan terhadap kemampuan (pengetahuan) kognitif responden
segera pada hari itu juga setelah pelatihan, oleh sebab itu hanya mampu melihat
kemampuan (pengetahuan) kognitif dalam jangka waktu yang pendek sehingga pengaruh
pelatiahan terhadap kemampuan (pengetahuan) kognitif dalam jangka panjang tidak
c.

teridentifikasi.
Pemberian materi pelatihan hanya dapat diberikan yang dasar atau belum sampai
mendalam dan terbatas hanya pada 13 NOC yang sering digunakan di ruang anak.
Sehingga hal ini memungkinkan responden hanya mendapat kemampuan (pengetahuan)
dalam penyusunan NOC yang dasar dan sebatas materi yang dapat disampaikan dalam
pelatihan.