Anda di halaman 1dari 21

Nanda Najih Habibil Afif (270110120183)

Diktat
Rangkuman
Geomigas
Tugas UAS Geomigas 2015

Fakultas Teknik Geologi


Universitas Padjadjaran
2015

1. Dasar Petroleum System


Pencarian minyak dan gas bumi adalah mengenai syarat-syarat terjadinya dan
ditemukannya minyak dan gas bumi itu sendiri, yang dimana untuk ditemukannya
minyak dan gas bumi tersebut diperlukan adanya suatu sistem yang menerangkan
mengenai unsur dan proses yang harus ada untuk mengetahui adanya hidrokarbon
bawah permukaan. Sistem yang digunakan sebagai dasar pencarian minyak dan gas
bumi disebut dengan basic petroleum system. Petroleum System merupakan beberapa
sistem yang tersusun atas unsur dan proses yang berkesinambungan dalam pembentukan
Hydrocarbon (Minyak dan Gas Bumi). Unsur-unsur dan proses ini saling berkaitan satu
dengan yang lainnya, dimana apabila salah satu unsur atau proses ini tidak terpenuhi,
maka Hidrokarbon tidak akan terbentuk.

1.1 Unsur-Unsur Petroeleum System


Unsur-unsur dalam petroleum system adalah sebagai berikut:
1. Source Rock
Source rock atau batuan induk merupakan unsur pertama dalam pembentukan
hidrokarbon. Source rock adalah batuan yang memiliki banyak kandungan dari
material organik sisa-sisa hewan dan tumbuhan. Source rock biasanya merupakan
batuan berbutir halus, sehingga mampu mengawetkan kandungan material organik
yang ada didalamnya. Material organik tersebut harus mengalami proses pematangan
agar bisa menjadi hidrokarbon dengan cara memperoleh tekanan dan suhu yang
cukup. Source rock sendiri terletak didasar-dasar basin (cekungan) tempat sisa-sisa
material organik terendapkan.
2. Reservoir Rock
Reservoir rock atau batuan reservoar merupakan batuan yang memiliki tingkat
porositas (kemampuan untuk menyimpan fluida) dan tingkat permeabilitas
(kemampuan untuk meloloskan fluida) yang baik, sehingga hidrokarbon yang berasal
dari batuan induk dapat disimpan, tersalurkan, dan terakumulasi dengan baik didalam
batuan ini. Pada hakekatnya semua jenis batuan (Batuan Beku, Piroklastik, Sedimen,
dan Metamorf) dapat menjadi batuan reservoar asalkan dapat memenuhi dua syarat
diatas, yaitu memiliki tingkat Porositas dan Permeabilitas yang baik.

Geologi Minyak dan Gas Bumi

3. Traps
Traps atau perangkap merupakan bentukan geometri dibawah permukaan yang
memungkinkan berhentinya pergerakan hidrokarbon dibatuan reservoar, sehingga
hidrokarbon yang berada pada batuan reservoar dapat terakumulasi. Traps
merupakan salah satu unsur yang paling penting dalam mencari keterdapatan
hidrokarbon dibawah permukaan. Usaha dalam eksplorasi lebih ditujukan untuk
mencari parangkap-perangkap reservoir ini. Secara umum traps dapat dibagi menjadi
3, yaitu: perangkap struktur, perangkap stratigrafi, dan perangkap kombinasi.

Perangkap stratigrafi

Perangkap stratigrafi
4. Seal Rock
Seal rock atau batuan tudung merupan suatu batuan yang memiliki tingkat porositas
dan permeabilitas yang buruk (kedap air) sehingga hidrokarbon yang ada pada batua
reservoar tidak akan keluar lagi, biasanya seal rock terletak diatas batuan reservoar.

Geologi Minyak dan Gas Bumi

Seal atau cap rock


5. Migration Route
Migration route merupakan proses perpindahan hidrokarbon yang telah matang dari
source rock (batuan induk) ke batuan reservoar. Migrasi itu sendiri dibagi menjadi
dua,

yaitu

primary

migration dan secondary

migration.

Primary

migration merupakan proses perpindahan atau bergeraknya hidrokarbon yang telah


matang dari batuan induk menuju ke batuan reservoar. Secondary migration
merupakan pergerakan hirdokarbon didalam reservoar menuju tempat akumulasinya
hidrokarbon (pergerakan ke arah perangkap/trap).

Jalur migrasi migas


1.2 Proses Utama Pembentukan Migas dalam Petroleum System
Proses utama yang terlibat dalam hal ini adalah sebagai berikut:
1. Generation
Generation merupakan proses dimana source rock (batuan induk) mengalami proses
pemanasan dan tekanan yang cukup untuk merubah material-material organik
menjadi hidrokarbon.

Geologi Minyak dan Gas Bumi

2. Migration
Migration merupakan proses perpindahan hidrokarbon dari batuan induk menuju
batuan reservoar hingga pergerakannya berhenti di perangkap reservoar.
3. Accumulation
Accumulation merupakan proses terakumulasinya hidrokarbon pada perangkap
reservoar setelah pergerakannya berhenti di trap.
4. Preservation
Preservation merupakan sisa-sisa dari hidrokarbon yang berada dalam batuan
reservoar yang tidak terubah oleh proses biodegration dan water washing.
5. Timming
Timming merupakan proses terbentuknya perangkap sebelum dan selama
hidrokarbon bermigrasi.

2. Geokimia Minyak dan Gas Bumi


Geokimia petroleum (minyak dan gas bumi) adalah penerapan prinsip-prinsip kimia
yang mempelajari tentang asal, migrasi, akumulasi dan alterasi dari petroleum (minyak
dan gas bumi) selain itu menerapkan konsep-konsepnya dalam rangka eksplorasi
petroleum yang lebih efektif. Jika dilihat kasar, minyak bumi hanya berisi minyak
mentah saja, tapi dalam penggunaan sehari-hari ternyata juga digunakan dalam bentuk
hidrokarbon padat, cair, dan gas lainnya. Pada kondisi temperatur dan tekanan standar,
hidrokarbon yang ringan seperti metana, etana, propana, dan butana berbentuk gas yang
mendidih pada -161.6 C, -88.6 C, -42 C, dan -0.5 C, berturut-turut (-258.9, -127.5,
-43.6, dan +31.1F), sedangkan karbon yang lebih tinggi, mulai dari pentana ke atas
berbentuk padatan atau cairan. Meskipun begitu, di sumber minyak di bawah tanah,
proporsi gas, cairan, dan padatan tergantung dari kondisi permukaan dan diagram fase
dari campuran minyak bumi tersebut.
Jenis hidrokarbon yang terdapat pada minyak bumi sebagian besar terdiri dari alkana,
sikloalkana, dan berbagai macam jenis hidrokarbon aromatik, ditambah dengan
sebagian kecil elemen-elemen lainnya seperti nitrogen, oksigen dan sulfur, ditambah
beberapa jenis logam seperti besi, nikel, tembaga, dan vanadium. Jumlah komposisi
molekul sangatlah beragam dari minyak yang satu ke minyak yang lain tapi persentase
proporsi dari elemen kimianya dapat dilihat di bawah ini.

Geologi Minyak dan Gas Bumi

Elemen

Rentang persentase

Karbon

83 sampai 87%

Hidrogen

10 sampai 14%

Nitrogen

0.1 sampai 2%

Oksigen

0.05 sampai 1.5%

Sulfur

0.05 sampai 6.0%

Logam

< 0.1%

Komposisi elemen berdasarkan berat


Hidrokarbon

Rata-rata

Rentang

Parafin

30%

15 sampai 60%

Naptena

49%

30 sampai 60%

Aromatik

15%

3 sampai 30%

Aspaltena

6%

sisa-sisa

Komposisi molekul berdasarkan berat


Minyak bumi merupakan campuran dari berbagai macam hidrokarbon, jenis molekul
yang paling sering ditemukan adalah alkana (baik yang rantai lurus maupun bercabang),
sikloalkana, hidrokarbon aromatik, atau senyawa kompleks seperti aspaltena. Setiap
minyak bumi mempunyai keunikan molekulnya masing-masing, yang diketahui dari
bentuk fisik dan ciri-ciri kimia, warna, dan viskositas.
Alkana, juga disebut dengan parafin, adalah hidrokarbon tersaturasi dengan rantai lurus
atau bercabang yang molekulnya hanya mengandung unsur karbon dan hidrogen dengan
rumus umum CnH2n+2. Pada umumnya minyak bumi mengandung 5 sampai 40 atom
karbon per molekulnya, meskipun molekul dengan jumlah karbon lebih sedikit/lebih
banyak juga mungkin ada di dalam campuran tersebut.
Sikloalkana, juga dikenal dengan nama naptena, adalah hidrokarbon tersaturasi yang
mempunyai satu atau lebih ikatan rangkap pada karbonnya, dengan rumus umum CnH2n.
Sikloalkana memiliki ciri-ciri yang mirip dengan alkana tapi memiliki titik didih yang
lebih tinggi.

Geologi Minyak dan Gas Bumi

Hidrokarbon aromatik adalah hidrokarbon tidak tersaturasi yang memiliki satu atau
lebih cincin planar karbon-6 yang disebut cincin benzena, dimana atom hidrogen akan
berikatan dengan atom karbon dengan rumus umum CnHn. Hidrokarbon seperti ini jika
dibakar maka akan menimbulkan asap hitam pekat. Beberapa bersifat karsinogenik.
Berikut ada definisi dari tiap-tiap fluida petroleum :
1. Minyak mentah (crude oil) : bagian dari petroleum yang berwujud cairan dalam
reservoir asli bawah tanah dan tetap berwujud cairan pada kondisi temperatur dan
tekanan atmosferik.
2. Gas alam (natural gas) : bagian dari petroleum yang berwujud gas atau berupa
larutan dalam minyak mentah, di dalam reservoir asli bawah tanah, dan berwujud
gas pada temperatur dan tekanan atmosferik.
3. Kondensat Lease (lease condensate) : bagian cairan petroleum yang kebanyakan
terdiri dari pentana dan lebih berat yang berwujud gas (uap) dalam kondisi awal
reservoir dan terkondensasi dalam bentuk cairan ketika gas diproduksi lewat
perlengkapan separasi dibawah kondisi ambien pada satu lease.

Penjabaran hidrokarbon jenuh

Geologi Minyak dan Gas Bumi

Penjabaran hidrokarbon aromatic

Materi organik dalam sedimen dapat diklasifikasikan sebagai berikut:


1. Kerogen:
Campuran senyawa organik itu membuat
sebagian dari bahan organik dalam batuan
sedimen. Hal ini tidak larut dalam pelarut
organik biasa karena berat molekul besar
(ke atas dari 1.000 dalton) senyawa
komponen STI.
2. Bitumen:
Campuran cairan organik itu sepenuhnya
larut dalam karbon disulfida.

Geologi Minyak dan Gas Bumi

Diagenesis pada materi organik dari biopolymers (proteins, lipids, carbohydrates dan
lignins yang disintesis oleh tanaman dan hewan) ke geopolymers (nitrogenous dan
humic complexes) disebut kerogen. Kerogen merupakan fraksi materi organik pada
batuan sedimen yang tidak larut dalam pelarut alkaline maupun pelarut organik (seperti
chloroform). Akumulasi materi organik pada endapan sedimen merupakan sumber
potensial bagi kerogen yang dengan demikian merupakan sumber potensial bagi
pembentukan hidrokarbon selama diagenesis. Konsentrasi, komposisi dan tingkat
kematangan kerogen merupakan parameter penting bagi pembentukan minyak dan gas.
Jumlah dan tipe kerogen akan menentukan jumlah minyak dan gas baik yang telah
dibuat maupun yang akan dibuat dalam endapan sedimen. Penentuan tipe kerogen
dilakukan baik dari optical (petrografi) maupun metode kimia. Analisis petrografi
mengklasifikasikan morpologi materi organik dari berbagai lingkungan pengendapan
seperti marine atau lacustrine serta tingkat kematangannya. Sedangkan analisis
geokimia mengklasifikasikannya berdasarkan sifat kimia. Pada petroleum geokimia,
pembagian kerogen menjadi empat tipe ditentukan hanya berdasarkan pada kandungan
H-, O-, dan C-.

1.

Tipe I
Kerogen tipe ini dikarakterisasikan dengan rasio H/C (hydrocarbon/carbon) yang
tinggi >1.5 dan rasio O/C (oxygen/carbon) rendah <0.1. Kerogen tipe I ini memiliki
index hidrogen >300 dan index oksigen <50. Kerogen tipe ini juga disebut alginite,
mengandung konsentrasi tinggi alkanes dan asam lemak serta merupakan sumber

Geologi Minyak dan Gas Bumi

terbaik untuk maturasi oil-prone. Sumber utamanya berasal dari sedimen alga
seperti endapan lacustrin. Terjadinya kerogen tipe I ini relatif jarang jika
dibandingkan dengan tipe lainnya.
2.

Tipe II
Kerogen tipe ini dikarakterisasikan dengan rasio H/C relatif tinggi (1.0 1.4) dan
rasio O/C relatif rendah (0.09 1.5). Memiliki index hidrogen antara 200 dan 300,
sedangkan index oksigen antara 50 dan 100. Kerogen tipe II ini juga disebut exinite
berada pada lingkungan marine dan umumnya berasosiasi dengan calcareous atau
sedimen dolomitic. Tipe II sangat sering dijumpai pada lapangan minyak dan gas.
Contoh dari kerogen tipe ini adalah group Devonian dan Colorado berumur
Cretaceous di Kanada Barat, berumur Paleozoic di Afrika Utara, beberapa source
beds berumur Cretaceous dan Tertiary di Afrika Barat, berumur Jurassic di Eropa
Barat dan Arab Saudi dsb

3.

Tipe III
Kerogen tipe ini dikarakterisasikan dengan rasio H/C relatif rendah (<01.0) rasio
O/C relatif rendah (0.2 0.3). Index hidrogen di bawah 300 dan index oksigen di
atas 100. Tipe kerogen ini juga disebut vitrinite. Sumber utamanya berupa tanaman
darat yang ditemukan pada sedimentasi detrital tebal sepanjang continental margin.
Tipe hidrokarbon yang dihasilkan utamanya adalah gas. Contoh kerogen tipe III ini
dapat ditemukan di negara kita Indonesia tepatnya di delta Mahakam. Upper
Cretaceous pada cekungan Douala (Kamerun) dan di lower Mannville shale di
Alberta juga merupakan contoh dari kerogen tipe III ini.

4.

Tipe IV
Ada juga tipe IV yang dikenal sebagai inertinite. Tipe ini biasanya berasosiasi
dengan batubara atau materi organik yang mengalami proses oksidasi parah serta
tidak mempunyai potensial untuk menghasilkan minyak dan gas.

Analisis source rock meliputi hal sebagai berikut:


1.

Total Organic Carbon (TOC)

2.

Source Potential

3.

Hydrogen Index (HI) and Oxygen Index (OI)

4.

Gas/ Oil Generation Index (GOGI)

Geologi Minyak dan Gas Bumi

10

TOC merupakan pengukuran paling penting yang digunakan. Dihitung dari segi persentase
dari jumlah aslinya batu berat. Bervariasi dari 0-100% (TOC <1,5% Ketika dewasa = bukan
sumber minyak). Sebuah TOC tinggi bukan satu-satunya parameter untuk menentukan
kerogen batuan baik Karena Mungkin inert dan tidak memiliki minyak bumi menghasilkan
potensial.

Source potential ditentukan oleh simulasi pemecahan kerogen di laboratorium pada


550 C Suhu selama beberapa menit (kerogen rusak di kisaran suhu: 100-230 dalam
kondisi bawah permukaan). Hal ini diukur dengan menggunakan Rock-Eval pirolisis.
Dalam hal ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:

S1 = HC bebas yang dikeluarkan selama pemanasan pada 250 C

S2 = HC dikeluarkan dari kerogen selama pemanasan pada 550 C (potensi


minyak bumi Total)

PI = S1 / S1 + S2

Tmax = suhu maksimum S2 (skala kematangan dasar; meningkatkan seiring


bertambahnya waktu)

HI dan OI yang berasal dari pengukuran Rock-Eval dalam kombinasi dengan TOC:

HI = S2 / TOC (mg / g)

OI = S3 / TOC (mg / g)

Digunakan untuk mengkarakterisasi jenis kerogen

HI = rasio HC yang dikeluarkan terhadap kandungan karbon organik

Geologi Minyak dan Gas Bumi

11

OI = rasio karbon dioksida yang dikeluarkan terhadap kandungan karbon


organik

Source: IPA
Kerogen Type

HI

Type I

>550

Type II

400-550

Oil-prone coal

300-400

Gas-prone coal

50-300

Inert material

>50

3. Analisis Petrofisik
3.1 Pengertian
Analisis petrofisik merupakan salah satu proses yang penting dalam usaha untuk
mengetahui karakteristik suatu reservoir. Melalui analisis petrofisik dapat diketahui
zona reservoir, jenis litologi, identifikasi prospek hidrokarbon, porositas, volume shale
dan saturasi air.
3.2 Persamaan Archie
Gustave E. Archie, bapak dari analisa log, sumbangan yang terpenting dalam analisa
log yaitu adanya hubungan antara porositas, resistivitas, dan saturasi hidrokarbon dari
suatu batuan reservoir. Persamaan yang dipakai oleh Archie atau Archies equation
yaitu :

Geologi Minyak dan Gas Bumi

12

Resistivitas dari suatu formasi batuan yang mengandung air sebanding dengan
resistivitas air formasi batuan itu. Faktor pembanding yang konstan disebut faktor
formasi (F). Dengan rumus :

Ro : Resistivitas dari formasi batuan yang seluruh pori porinya berisi air 100%
Rw : Resistivitas air formasi
Archie juga menemukan variasi faktor formasi yang memiliki hubungan dengan
porositas, ditulis dengan rumus :

F = Faktor formasi
= Porositas
M = Faktor sementasi
Nilai a dam m memiliki variasi nilai dimana nilai tersebut berdasarkan dari variasi
ukuran butir, pemilahan butir, dan tekstur batuan. Normal tingkatan nilai a sekitar 0,5
sampai 1,5. Dan nilai m dari 1,7 sampai 3,2. Archie biasanya menggunakan nilai a = 1
dan m = 2.
Archie menyatakan bahwa rumus dari saturasi air ditulis dengan rumus :

Kemudian nilai Ro dihubungkan dengan nilai faktor formasi dan nilai dari resistivitas
air seperti yang dituliskan dengan persamaan berikut :

Geologi Minyak dan Gas Bumi

13

Jadi hasil dari rumus yang dibuat oleh Archie tentang cara mencari nilai saturasi air bisa
dituliskan dengan rumus :

Sw = Saturasi air = Porositas


F = Faktor formasi a = Panjang alur
m = Faktor sementasi Rw = Resistivity water
Rt = Tahanan formasi sebenarnya
a. Identifikasi Zona Reservoir
Dalam mengidentifikasi zona reservoir umumnya dilakukan dengan membaca log
gamma ray, log ini mengidentifikasi kandungan radioaktif yang terdapat dalam batuan
dimana semakin tinggi kandungan radioaktifnya maka log gamma ray akan menunjukan
nilai yang tinggi. Gamma ray dengan nilai yang tinggi biasanya mencirikan litologi
berbutir halus (shaly) sedangkan gamma ray dengan nilai yang rendah biasanya
menunjukan litologi berupa reservoir, baik itu sandstone maupun limestone, akan tetapi
dalam kondisi lapangan tertentu juga ditemukan high gamma ray sand dimana lapisan
sandstone banyak mengandung mineral feldspar sehingga kurva log gamma ray akan
menunjukan defleksi nilai yang tinggi disebabkan oleh mineral feldspar yang bersifat
radioaktif (Umumnya Potassium), untuk itu dalam penentuan zona reservoir kita juga
harus mengkalibrasi dengan sampel cutting dan side wall core.
b. Identifikasi Jenis Litologi
Setelah membagi zona reservoir kemudian kita dapat menentukan jenis litologi yang
ada di lokasi penelitian, penentuan jenis litologi sangat penting terutama untuk
memasukan nilai parameter dalam perhitungan petrofisik misalnya untuk memasukan

Geologi Minyak dan Gas Bumi

14

faktor sementasi dan konstanta archie karena perbedaan dalam penafsiran jenis litologi
akan mempengaruhi hasil dari perhitungan. Penentuan jenis litologi umumnya
didasarkan pada klasifikasi beberapa parameter dengan membaca log, log yang dibaca
antara lain log resisitivity, log neutron, log sonic dan Photoelectric Index (PEF).
Semakin banyak parameter log yang dipakai semakin baik dalam penafsiran jenis
litologi, meski begitu kita tetap harus mengkalibrasi data kita dengan data sampel
cutting maupun side wall core untuk mendapatkan data yang lebih akurat.
c. Identifikasi Prospek Hidrokarbon
Log neutron merupakan log yang dapat membaca Hydrogen Index yang terkandung
dalam batuan dengan cara menembakan neutron kedalam formasi, dimana semakin
tinggi hidrogen indeksnya maka neutron yang dipantulkan kembali kedalam detektor
dalam logging tools akan semakin sedikit (log neutron menunjukan nilai yang rendah)
dan sebaliknya ketika kandungan hidrogen pada formasi sedikit maka jumlah neutron
yang dipantulkan kembali kedalam detektor logging tools akan semakin banyak (log
neutron menunjukan nilai yang tinggi). Log density merupakan log yang membaca
fungsi dari densitas batuan, prinsip dari log ini adalah dengan menembakan sinar
gamma kedalam formasi, sinar gamma tersebut akan menendang elektron keluar dan
ditangkap oleh detektor dalam logging tools, banyaknya jumlah elektron yang ditangkap
oleh detektor merupakan fungsi dari nilai densitas formasi (semakin banyak elektron
yang ditangkap maka semakin tinggi densitas formasi dan sebaliknya).

Ketika

dikombinasikan dengan interval skala yang berlawanan maka log neutron dan density
dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kandungan hidrokarbon yang ditunjukan
oleh adanya cross over (butterfly effect), semakin besar separasi cross over yang
ditunjukan oleh log neutron dan density maka dapat ditafsirkan bahwa hidrokarbon
tersebut merupakan gas dan apabila separasinya sedikit lebih kecil maka ditafsirkan
bahwa jenis hidrokarbon tersebut merupakan minyak atau air. Selain itu kita juga perlu
membandingkan dengan log resistivity, jika resistivitas menunjukan nilai yang tinggi
maka dimungkinkan daerah cross over tersebut merupakan hidrokarbon akan tetapi jika
resisitivitasnya rendah dimungkinkan zona tersebut merupakan air.

Petrofisik adalah salah satu cabang geofisika yang mempelajari tentang sifat fisik dari
suatu batuan.

Geologi Minyak dan Gas Bumi

15

Beberapa sifat fisik tersebut adalah :


* Porositas
* Permeabilitas
* Saturasi
* Wettabilitas
* Tekanan Kapiler
* resistivitas batuan.
Mempelajari karakteristik fisik suatu batuan sangat penting karena kita akan lebih
mengenal batuan yang akan kita amati tersebut. Di industri oil & gas misalnya, sifat
fisik batuan sangat penting dipelajari mengetahui karakter reservoar (batuan tempat
menyimpan hidrokarbon) sebagai batuan yang layak untuk dilakukan pengeboran
ataupun perforasi (produksi) lebih lanjut.
petrofisik juga merupakan salah satu mata kuliah yang harus diambil oleh mahasiswa
yang mengambil jurusan teknik perminyakan. dengan mengetahui porositas,
permeabilitas dan saturasi air dan oil pada batuan reservoir, dengan sifat-sifat tersebut
dapat membantu meramalkan cadangan minyak di reservoir.
Di minggu pertama ini, kita akan banyak membahas tentang porositas dan saturasi.
Porositas adalah perbandingan antara volume total pori-pori dengan volume bulk
batuan. Pori-pori secara primer adalah matrix pore, dan secara sekunder adalah
rekahan/fracture, rongga/vug, dan lain-lain.
Pada umumnya, porositas yang terukur, baik secara analisis laboratorium, maupun
dengan log adalah porositas efektif. Hal ini, seperti disebut di atas, karena adanya
isolated pore yang tidak berpengaruh terhadap produktivitas reservoir. Lambang
porositas adalah . Karena merupakan perbandingan, maka porositas tidak memiliki
satuan.
Fungsi Porositas
1. Menentukan OOIP (original oil in place).
2. Menentukan probable recovery / recovery factor.
3. Mengambil keputusan apakah minyak yang terdapat pada reservoir tersebut
layak diproduksi atau tidak dilihat dari segi ekonomi.
4. Mengetahui posisi kedalaman reservoir.
5. Menentukan jenis batuan.
6. Menentukan kemungkinan susunan butir pada batuan reservoir.

Geologi Minyak dan Gas Bumi

16

7. Menentukan besar permeabilitas pada pori-pori batuan.


8. Menentukan cadangan potensial dari sutau reservoir minyak/gas.\
9. Menentukan selang waktu untuk perforasi atau acidizing.
Peran hukum boyle di sini sangat berhubungan karena kerja dari alat porosimeter sendiri
menggunakan prinsip dari hukum boyle yaitu pada suhu yang tetap maka tekanan akan
berbanding terbalik dengan volume. Pada alat ini dialirkan gas kedalam ruang
pengukuran core. Gas yang mengalir ini akan mengisi ruang kosong (termasuk pori
pada core) pada ruang sampel. Karena sebagian gas mengalir ke ruang sampel maka
kerapatan gas tersebut akan berkurang sehingga tekanan gas tersebut juga ikut
berkurang. Perubahan tekanan inilah yang dibaca jarum penunjuk pada alat porosimeter.
Perubahan tekanan ini merepresentasikan volume core yang dimasukkan ke dalam
ruang sampel karena jika core yang dimasukkan bervolume besar maka akan sedikit gas
yang mengisi kekosongan ruang sampel, yang membuat kerapatan dan tekanan gas tidak
banyak berkurang sehingga simpangan perbedaannya tidak akan terlalu besar. Lain
halnya jika core yang dimasukkan bervolume kecil, akan banyak gas yang mengisi
kekosongan di dalam ruang sampel yang mengakibatkan tekanan gas menjadi banyak
berkurang.

Volume

yang

terukur

disini

dianggap

sebagai

volume

grain.

Jenis-jenis porositas berdasarkan:


a. Hubungan antar pori.
1) Porositas absolut : perbandingan volume pori yang berhubungan dengan volume
pori yang tidak berhubungan, dikalikan volume total batuan.
2) Porositas efektif : perbandingan volume pori yang saling berhubungan dengan
volume total.
3) Porositas residual : perbandingan volume pori yang tidak berhubungan dengan
volume total.
b. Pembentukan batuan.
1) Porositas primer : porositas yang terbentuk bersamaan dengan terbentuknya
batuan tersebut.
2) Porositas sekunder : porositas yang terbentuk setelah terbentuknya batuan
tersebut.
c. Kuantitatif.
1) 0% - 5% : porositas yang dapat diabaikan.

Geologi Minyak dan Gas Bumi

17

2) 5% - 10% : porositas rendah.


3) 10% - 20% : porositas baik.
4) > 20% : porositas sangat baik.
d. Kualitatif.
1) Intergranular : pori-pori yang terdapat diantara butiran batuan.
2) Interkristalin : pori-pori yang terdapat diantara kristal batuan.
3) Rekah : pori-pori yang terdapat diantara rekahan batuan.
4) Bintik-bintik jarum : pori-pori yang terpisah.
5) Porositas ketat : pori-pori kecil yang terletak diantara butiran yang berdekatan
dan kompak.
6) Porositas padat : butiran batuan yang sangat kecil, sehingga hampir tidak ada
porositas.
7) Gerowong : pori-pori yang berukuran besar.
8) Goa : pori-pori yang berukuran sangat besar.
Jenis-jenis log yang dapat digunakan untuk menentukan porositas :
1) Density Log
2) Neutron Log
3) Sonic (acoustic) Log

Saturasi
Saturasi adalah perbandingan kuantitas (volume) suatu fluida dengan pori-pori batuan
tempat fluida tersebut berada. Misalnya, saturasi air dalam suatu source rock adalah
besarnya volume air dibanding volume total pori-pori batuan tersebut. (Catatan: Pada
umumnya saturasi dihitung berdasarkan volume pori-pori efektif. Hal ini karena adanya
isolated pore yang tidak berpengaruh pada produktivitas reservoir.) Sehingga, dapat
dikatakan bahwa saturasi adalah berapa persen bagian dari suatu pori yang terisi fluida.
Karena saturasi merupakan perbandingan/persentase, maka secara matematis saturasi
tidak memiliki satuan.
Saturasi dilambangkan dengan Sw untuk air, So untuk minyak, dan Sg untuk gas.
Karena tidak mungkin ada pori-pori yang kosong oleh fluida (vakum) maka
Sw+So+Sg=1. Secara umum ada 2 cara untuk menentukan saturasi, yaitu dengan
analisis

laboratorium

atas

Geologi Minyak dan Gas Bumi

sampel

core

dari

reservoir,

dan

dengan

log.

18

metode pengukuran saturasi air dan/atau minyak di laboratorium core analysis.


a.

Retort method : mengukur saturasi secara langsung dengan meletakkan core


pada suhu 10001100oF, sehingga air dan minyak menguap. Volume minyak
dan air didapat dari distilasi.

b. Vacuum distillation : mengukur saturasi untuk core sample yang besar


menggunakan vacuum distillation.
c. Solvent extraction : mengukur saturasi dengan mengekstraksi pelarut dan
mengumpulkan uapnya untuk menghitung volume fluida dengan tepat.
d. Reaksi dengan kalsium hidrida : mengukur saturasi dengan meletakkan sample
core pada test tube yang juga berisi bubuk kalsium hidrida dan diukur
volumenya pada suhu tinggi. Melalui beberapa reaksi kimia, akan didapat
volume air dalam sample core.
e. Metode colorimetry : mengukur saturasi menggunakan colorimetry yang
skalanya dapat disesuaikan, dan digunakan untuk membandingkan dengan
warna pada sample core.

4. Eksplorasi Migas
Dalam explorasi minyak dan gasbumi tidak dibedakan antara suatu survai pendahuluan
atau prospeksi dan explorasi sebagaimana dalam bidang pertambangan. Yang diartikan
explorasi minyak dan gasbumi dalam industri minyak adalah semua kegiatan dfari
permulaan sampai akhir dalam usaha penemuan dan penambahan cadangan minyak dan
gasbumi yang baru. Sebagaimana telah dikatakan, operasi explorasi mencakup semua
kegiatan yang merupakan bagian integral dalam usaha pencarian minyakbumi, termasuk
pemboran explorasi. Pekerjaan penyelidikan dalam suatu explorasi minyakbumi ini
dilakukan pada umumnya oleh para ahli geologi, termasuk juga mereka yang
berspesialisasi dalam geofisika, paleontologi dan sebagainya. Fasa ini berlangsung
terus, malahan juga pada taraf exploitasi. Dalam hal ini seorang ahli geologi harus
membantu dalam penentuan cadangan dan juga dalam rencana pemboran explotasi.
Urutan suatu operasi explorasi meliputi proses sebagai berikut:
1.

Perencanaan explorasi (exploration Planning)

2.

Opearsi survai lapangan

3.

Penilaian dan prognosis prospek

Geologi Minyak dan Gas Bumi

19

4.

Pemboran explorasi

Pengembangan reevaluasi daerah Sejajar dengan dilakukannya urutan operasi exploari


ini juga dilakukan pengkajian dan evaluasi secara terus menerus oleh suatu kelompok
studi yang menunjang explorasi dan yang menyarankan berbagai garis kebijaksanaan
dalam bidang explorasi. Secara visual, urutan ini diperlihatkan dalam gambar 8-3.
Dalam diagram diperlihatkan bahwa pertama-tama haruslah dilakukan suatu studi
mengenai keadaan geologi regional daerah yang telah kita pilih, sehingga kita dapat
mengetahui misalnya, jenis cekungannya, geologi sejarah perkembangan cekungan serta
sedimentasinya, kerangka tektonik dan sebagainya. Dari studi ini kemudian dilakukan
suatu tinjauan sepintas lalu ( reconnaissance survey) yang merupakan suatu operasi
lapangan, dengan mengunjungi daerah tertentu.

Geologi Minyak dan Gas Bumi

20

Geologi Minyak dan Gas Bumi