Anda di halaman 1dari 23

PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

Anak Berkebutuhan Khusus


Hiperaktif

Disusun Oleh :
Febriati Dian Mubarokah
Guguh Nomilasari
Muchammad Taufiq
Rawa Dana Lestari

(K3314022)
(K3314024)
(K3314034)
(K3314044)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat rahmat dan karuniaNyalah, makalah yang berjudul Anak Berkebutuhan
Khusus Hiperaktif dapat terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Mata
Kuliah Perkembangan Peserta Didik sebagai bahan pembelajaran pada semester 2
ini.
Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dosen Mata Kuliah
Perkembangan Peserta Didik, Ibu Dr. Sri Yamtinah S.Pd., M.Pd yang telah
membimbing dalam proses penyusunan makalah ini sehingga dapat
menyelesaikannya dengan prosedur membuat makalah yang benar.
Demikian makalah ini kami susun dan kami sadar sebagai seorang pelajar
yang baru saja memulai proses pembelajarannya dalam dunia perkuliahan,
penulisan makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif untuk hasil makalah
kami, sehingga kedepannya akan ada perbaikan dan makalah yang dibuat akan
menjadi lebih baik.
Harapan kami, semoga dengan disusunnya makalah ini, akan memberikan
manfaat bagi kami sendiri selaku penyusun, juga bagi pembaca dan tentunya bagi
pihak-pihak yang terkait dalam makalah ini.

Surakarta,

Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar..........................................................................................................i
Daftar Isi..................................................................................................................ii
BAB I Pendahuluan..................................................................................................1
Latar Belakang.........................................................................................................1
Rumusan Masalah....................................................................................................1
Tujuan......................................................................................................................2
BAB II Pembahasan.................................................................................................3
Anak Hiperaktif........................................................................................................3
Ciri-Ciri Anak Hiperktif...........................................................................................3
Penyebab Anak Menjadi Hiperaktif.........................................................................4
Kendala-Kendala yang Dihadapi Anak Hiperaktif..................................................6
Cara Menangani Anak Hiperaktif............................................................................8
Cara Mendidik Anak Hiperaktif.............................................................................12
Cara Mengembangkan Potensi Anak Hiperaktif....................................................14
Penutup...................................................................................................................17
Kesimpulan............................................................................................................17
Daftar Pustaka........................................................................................................19

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Anak

berkebutuhan

khusus

(ABK) adalah

anak

dengan

karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa


selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Salah
satu dari anak berkebutuhan khusus ini adalah hiperaktif.
Attention Deficit Hyperaktivity Disorder (ADHD) atau hiperaktif,
dicirikan

dengan

tingkat

gangguan

perhatian,

impulsivitas

dan

hiperaktivitas yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan dan


gangguan ini dapat terjadi disekolah maupun di rumah (Isaac, 2005).
ADHD adalah salah satu alasan dan masalah kanak-kanak yang paling
umum mengapa anak-anak dibawa untuk diperiksa oleh para professional
kesehatan mental. Konsensus pendapat professional menyatakan bahwa
kira-kira 3,05% atau sekitar 2 juta anak-anak usia sekolah mengidap
ADHD (Martin, 1998).
Dewasa ini, anak ADHD semakin banyak. Sekarang prevalensi
anak ADHD di Indonesia meningkat menjadi sekitar 5% yang berarti 1
dari 20 anak menderita ADHD. Peningkatan ini disebabkan oleh berbagai
faktor seperti genetik ataupun pengaruh lingkungan yang lain, seperti
pengaruh alkohol pada kehamilan, kekurangan omega 3, alergi terhadap
suatu makanan, dll (Verajanti, 2008).
Oleh karena itu, pada makalah ini, kami akan membahas lebih
lanjut mengenai hiperaktif dan disertai dengan hasil wawancara yang
berasal dari narasumber yang terpercaya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan hiperaktif?
2. Apa saja ciri-ciri anak hiperktif?
3. Apa yang menyebabkan anak menjadi hiperaktif?
4. Apa saja kendala yang dihadapi anak hiperaktif?
1

5. Bagaimana cara menangani anak hiperaktif?


6. Bagaimana cara mendidik anak hiperaktif?
7. Bagaimana cara mengembangkan potensi anak hiperaktif?
C. Tujuan
1. Menjelaskan yang dimaksud dengan hiperaktif
2. Menjelaskan apa saja ciri-ciri anak hiperktif
3. Menyebutkan hal-hal yang dapat menyebabkan anak menjadi
4.
5.
6.
7.

hiperaktif
Menyebutkan apa saja kendala yang dihadapi anak hiperaktif
Menjelaskan cara menangani anak hiperaktif
Menjelaskan cara mendidik anak hiperaktif
Menjelaskan cara mengembangkan potensi anak hiperaktif

BAB II
PEMBAHASAN
1.

Anak Hiperaktif
Menurut narasumber Hiperaktif adalah gangguan perilaku dan
pemusatan perhatian karena gangguan di otak/ disfungsi neurologi. Kata
hiperaktivitas (hiperaktivity) digunakan untuk menyatakan suatu pola
prilaku pada seseorang yang menunjukkan sikap tidak mau diam, tidak
menaruh perhatian dan implusif. Anak-anak yang yang hiperaktif selalu
bergerak. Mereka tidak mau diam bahkan dalam situasi-situasi, misalnya
ketika sedang mengikuti pelajaran di kelas yang menuntut agar mereka
bersikap tenang. Mereka tidak pernah merasakan asyiknya permaianan
atau mainan yang umumnya disukai anak-anak lain seusia mereka,
sebentar-sebentar mereka bergerak untuk beralih dari permainan atau
mainan satu ke yang lain. Anak hiperaktif adalah anak yang mengalami
gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktivitas (GPPH) atau
attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD). Kondisi ini juga
disebut sebagai gangguan hiperkinetik. Dahulu kondisi ini sering disebut
minimal brain dysfunction syndrome. Gangguan hiperkinetik adalah
gangguan pada anak yang timbul pada masa perkembangan dini (sebelum
berusia 7 tahun) dengan ciri utama tidak mampu memusatkan perhatian,

2.

hiperaktif dan impulsif.


Ciri-Ciri Anak Hiperktif
Ciri-ciri anak penderita hiperaktif menurut narasumber sebagai berikut :

Tidak dapat memusatkan perhatian/ konsentrasi.


Tidak mau duduk diam/ selalu bergerak.
Berbicara terus-menerus.
Impulsive (bertindak tanpa berpikir) maksudnya dia tidak bisa mengontrol
tindakannya, misalnya mengambil bola yang jatuh di selokan padahal

selokannya dalam.
Sulit mengerti atau memahami nasihat orang lain.
Namun secara umum ada tiga tanda utama anak yang menderita hiperaktif,

yaitu:

1. Tidak ada perhatian.


Ketidakmampuan memusatkan perhatian atau ketidak mampuan untuk
berkonsentrasi pada beberapa hal seperti membaca, menyimak pelajaran,
dan sering tidak mendengarkan perkataan orang lain.
2. Hiperaktif
Mempunyai terlalu banyak energi. Misalnya berbicara terus menerus, tidak
mampu duduk diam, selalu bergerak, dan sulit tidur.
3.

Impulsif
Sulit untuk menunggu giliran dalam permainan, sulit mengatur
pekerjaanya, bertindak tanpa dipikir, misalnya mengejar bola yang lari ke
jalan raya, menabrak pot bunga pada waktu berlari di ruangan, atau
berbicara tanpa dipikirkan terlebih dahulu akibatnya.

Ciri-ciri khusus anak yang hiperaktif diantaranya ialah sebagai berikut:


1. Sering menggerak-gerakkan tangan atau kaki ketika duduk, atau sering
menggeliat.
2. Sering meninggalkan tempat duduknya, padahal seharusnya ia duduk
manis.
3. Sering berlari-lari atau memanjat secara berlebihan pada keadaan yang
tidak selayaknya.
4. Sering tidak mampu melakukan atau mengikuti kegiatan dengan tenang.
5. Selalu bergerak, seolah-olah tubuhnya didorong oleh mesin. Juga,
tenaganya tidak pernah habis.
6. Sering terlalu banyak bicara
7. Sering sulit menunggu giliran
8. Sering memotong atau menyela pembicaraan
9. Jika diajak bicara tidak dapat memperhatikan lawan bicaranya (bersikap
apatis terhadap lawan bicaranya)
Biasanya hiperaktif terlihat sejak usia >3 tahun (masa perkembangan diri)
karena setelah usia 3 tahun pada umumnya aktivitas anak lebih terarah.
3.

Penyebab Anak Menjadi Hiperaktif


Penyebab gangguan anak hiperktif :
Faktor neurologik

Insiden hiperaktif yang lebih tinggi didapatkan pada bayi yang lahir
dengan masalah-masalah prenatal seperti lamanya proses persalinan,
distres fetal, persalinan dengan cara ekstraksi forcep, toksimia gravidarum
atau eklamsia dibandingkan dengan kehamilan dan persalinan normal. Di
samping itu faktor-faktor seperti bayi yang lahir dengan berat badan
rendah, ibu yang terlalu muda, ibu yang merokok dan minum alkohol juga
meninggikan insiden hiperaktif.
Terjadinya perkembangan otak yang lambat. Faktor etiologi dalam bidang
neuoralogi yang sampai kini banyak dianut adalah terjadinya disfungsi
pada salah satu neurotransmiter di otak yang bernama dopamin. Dopamin
merupakan zat aktif yang berguna untuk memelihara proses konsentrasi.
Beberapa studi menunjukkan terjadinya gangguan perfusi darah di daerah
tertentu pada anak hiperaktif, yaitu di daerah striatum, daerah orbitalprefrontal, daerah orbital-limbik otak, khususnya sisi sebelah kanan
Faktor toksik
Beberapa zat makanan seperti salisilat dan bahan-bahan pengawet
memilikipotensi untuk membentuk perilaku hiperaktif pada anak. Di
samping itu, kadar timah (lead) dalam serum darah anak yang meningkat,
ibu yang merokok dan mengkonsumsi alkohol, terkena sinar X pada saat
hamil juga dapat melahirkan calon anak hiperaktif.
Faktor genetik
Didapatkan korelasi yang tinggi dari hiperaktif yang terjadi pada keluarga
dengan anak hiperaktif. Kurang lebih sekitar 25-35% dari orang tua dan
saudara yang masa kecilnya hiperaktif akan menurun pada anak. Hal ini
juga terlihat pada anak kembar.
Faktor psikososial dan lingkungan
Pada anak hiperaktif sering ditemukan hubungan yang dianggap keliru
antara orang tua dengan anaknya. Berikut ini adalah beberapa cara yang
bisa dilakukan oleh orang tua untuk mendidik dan membimbing anak-anak
mereka yang tergolong hiperaktif :

Orang tua perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktifitas

Kenali kelebihan dan bakat anak

Membantu anak dalam bersosialisasi

Menggunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan


penguat positif (misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan
tertib), memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor perilaku
anak

Memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk


menyalurkan kelebihan energinya

Menerima keterbatasan anak

Membangkitkan rasa percaya diri anak Dan bekerja sama dengan guru di
sekolah agar guru memahami kondisi anak yang sebenarnya
Disamping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri
dengan bimbingan orang tua. Contohnya dengan memberikan contoh yang
baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orang tua
mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua
sebelumnya.

4. Kendala-Kendala yang Dihadapi Anak Hiperaktif


Problem-Problem yang biasa dialami oleh Anak Hiperaktif
1. Problem di sekolah
Anak tidak mampu mengikuti pelajaran yang disampaikan oleh guru
dengan baik. Konsentrasi yang mudah terganggu membuat anak tidak
dapat menyerap materi pelajaran secara keseluruhan. Rentang perhatian
yang pendek membuat anak ingin cepat selesai bila mengerjakan tugastugas sekolah. Kecenderungan berbicara yang tinggi akan mengganggu
anak dan teman yang diajak berbicara sehingga guru akan menyangka
bahwa anak tidak memperhatikan pelajaran. Banyak dijumpai bahwa anak
hiperaktif banyak mengalami kesulitan membaca, menulis, bahasa, dan
matematika. Khusus untuk menulis, anak hiperaktif memiliki ketrampilan
motorik halus yang secara umum tidak sebaik anak biasa.
2. Problem di rumah

Dibandingkan dengan anak yang lain, anak hiperaktif biasanya lebih


mudah cemas dan kecil hati. Selain itu, ia mudah mengalami gangguan
psikosomatik (gangguan kesehatan yang disebabkan faktor psikologis)
seperti sakit kepala dan sakit perut. Hal ini berkaitan dengan rendahnya
toleransi terhadap frustasi, sehingga bila mengalami kekecewaan, ia
gampang emosional. Selain itu anak hiperaktif cenderung keras kepala dan
mudah marah bila keinginannya tidak segera dipenuhi. Hambatanhambatan tersbut membuat anak menjadi kurang mampu menyesuaikan
diri dengan lingkungannya. Anak dipandang nakal dan tidak jarang
mengalami penolakan baik dari keluarga maupun teman-temannya. Karena
sering dibuat jengkel, orang tua sering memperlakukan anak secara kurang
hangat. Orang tua kemudian banyak mengontrol anak, penuh pengawasan,
banyak mengkritik, bahkan memberi hukuman. Reaksi anakpun menolak
dan berontak. Akibatnya terjadi ketegangan antara orang tua dengan anak.
Baik anak maupun orang tua menjadi stress, dan situasi rumahpun menjadi
kurang nyaman. Akibatnya anak menjadi lebih mudah frustrasi. Kegagalan
bersosialisasi di mana-mana menumbuhkan konsep diri yang negatif. Anak
akan merasa bahwa dirinya buruk, selalu gagal, tidak mampu, dan ditolak.
3. Problem berbicara
Anak hiperaktif biasanya suka berbicara. Dia banyak berbicara, namun
sesungguhnya kurang efisien dalam berkomunikasi. Gangguan pemusatan
perhatian membuat dia sulit melakukan komunikasi yang timbal balik.
Anak hiperaktif cenderung sibuk dengan diri sendiri dan kurang mampu
merespon lawan bicara secara tepat.
4. Problem fisik
Secara umum anak hiperaktif memiliki tingkat kesehatan fisik yang tidak
sebaik anak lain. Beberapa gangguan seperti asma, alergi, dan infeksi
tenggorokan sering dijumpai. Pada saat tidur biasanya juga tidak setenang
anak-anak lain. Banyak anak hiperaktif yang sulit tidur dan sering
terbangun pada malam hari. Selain itu, tingginya tingkat aktivitas fisik
anak juga beresiko tinggi untuk mengalami kecelakaan seperti terjatuh,
terkilir, dan sebagainya.

5. Cara Menangani Anak Hiperaktif


Anak hiperaktif bisa menjalankan kehiduan normal kalau dia
konsisten untuk terapi, perawatan medis dan diet ketat.
Berikut adalah penanganan anak hiperaktif

Konsultan medis dan konsumsi obat stimulant.


Terapi ; terapi ini sangat penting untuk memberikan stimulasi dan
mengontrol perilakunya.
Melihat penyebab hiperaktif yang belum pasti terungkap dan adanya beberapa
teori penyebabnya, maka tentunya terdapat banyak terapi atau cara dalam
penanganannya sesuai dengan landasan teori penyebabnya.
Beberapa terapi untuk anak hiperaktif :
1) Applied Behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai, telah dilakukan penelitian
dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah
memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive
reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya. Saat
ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.
2) Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan
berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu
autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang.
Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu
untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang
lain. Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.
3) Terapi Okupasi
Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan
motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk
memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok
dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi
okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot -otot halusnya
dengan benar.
4) Terapi Fisik

Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara


individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik
kasarnya. Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang
kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi
sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-ototnya dan
memperbaiki keseimbangan tubuhnya.
5) Terapi Sosial
Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang
komunikasi dan interaksi. Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan
dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama
ditempat bermain. Seorang terapis sosial membantu dengan memberikan
fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan
mengajari cara-caranya.
6) Terapi Bermain
Terapi

bermain

sangat

penting

untuk

mengembangkan

ketrampilan,

kemampuan gerak, minat dan terbiasa dalam suasana kompetitif dan


kooperatif dalam melakukan kegiatan kelompok. Bermain juga dapat dipakai
untuk sarana persiapan untuk beraktifitas dan bekerja saat usia dewasa. Terapi
bermain digunakan sebagai sarana pengobatan atau terapitik dimana sarana
tersebut dipakai untuk mencapai aktifitas baru dan ketrampilan sesuai dengan
kebutuhan terapi.
7) Terapi Perilaku
Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak
memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya,
Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak
heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk
mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya
dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut
untuk memperbaiki perilakunya,
8) Terapi Perkembangan

Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention)


dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya,
kekuatannya

dan

tingkat

perkembangannya,

kemudian

ditingkatkan

kemampuan sosial, emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan


berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan
ketrampilan yang lebih spesifik.
9) Terapi Visual
Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual
thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode
belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan PECS (Picture
Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai
untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi.
10) Terapi Biomedik
Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam
DAN (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak
autistik.
Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala
anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak
pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara
intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal
yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan.
Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi
yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri
(biomedis).

Diet makanan yang bisa meningkatkan energi seperti tepung dan gula.
Diet atau makanan merupakan faktor penting yang menunjang pengobatan

ADHD. Makanan yang tepat membantu otak untuk lebih mudah


berkonsentrasi, terfokus, dan terorganisir.
Diet ADHD harus bebas dari semua makanan penyebab alergi yang mungkin
dialami oleh seorang anak.Makanan yang menyebabkan alergi tidak hanya

10

menyebabkan efek negatif pada perkembangan anak namun juga pada


kesehatan secara keseluruhan. Beberapa makanan penyebab alergi diantaranya
adalah susu, telur, ikan tinggi merkuri, makanan dengan pewarna, penyedap,
pengawet, pemanis buatan, makanan aditif seperti salisilat dan natrium
benzoat, dll.
ADHD menyebabkan seorang anak menjadi rewel dan pemilih perihal apa
saja yang hendak dimakannya. Oleh karena itu, makanan sebaiknya juga
disajikan sedemikian rupa sehingga menarik perhatian anak untuk mau
memakannya.
Berikut adalah beberapa faktor yang harus diperhatikan tentang diet
ADHD untuk balita dan anak-anak.
Menyeimbangkan Karbohidrat dan Protein
Memberikan makanan berprotein tinggi seperti kacang-kacangan, telur
(jika tidak alergi), dan daging merupakan pilihan terbaik bagi anak ADHD.
Memberikan karbohidrat kompleks yang bersumber dari sayuran dan
buah-buahan seperti apel, pir, kiwi, jeruk, dll merupakan pilihan yang bijak.
Cobalah memberikan buah-buahan tersebut kepada anak-anak di malam
hari. Karbohidrat kompleks menginduksi tidur sehingga membantu anak
mendapatkan istirahat yang cukup.
Jangan pernah memberikan terlalu banyak karbohidrat sederhana seperti
permen, gula, tepung, dan kentang karena akan menyebabkan kenaikan kadar
gula tubuh. Konsumsi gula dipercaya memperburuk kondisi ADHD dan bisa
memicu masalah kekurangan gizi.
Sertakan Nutrisi yang Cukup
Nutrisi seperti asam lemak esensial omega-3 dan semua jenis vitamin serta
mineral yang dibutuhkan harus dimasukkan dalam rencana diet untuk anak
dengan ADHD.
Jika diperlukan, beri anak suplemen vitamin dan mineral jika tidak cukup
mendapatkannya dari makanan.
Beberapa substansi yang dibutuhkan antara lain zat besi, ferritin, asam
amino, asam organik, vitamin B kompleks, seng, dan magnesium.

11

Menghilangkan Alergen Makanan


Setiap anak memiliki sensitivitas berbeda terhadap jenis makanan yang
mungkin menyebabkan alergi. Makanan penyebab alergi harus dihindari
karena menyebabkan efek buruk pada perkembangan anak dan pengobatan
ADHD.
Beberapa makanan yang dapat menyebabkan alergi diantaranya adalah
kacang tanah, telur, tepung terigu, keju, susu dan produk susu, gula, cokelat,
jagung, dan kedelai.
Anak hiperaktif sangat kecil kemungkinannya untuk sembuh, melainkan harus
dibimbing dan diarahkan agar, hiperaktif pada diri anak itu tidak mengendalikan
dirinya melainkan anak itu bisa mengendalikan hiperaktifnya sehingga dapat
tumbuh menjadi manusia yang sukses dan bermanfaat bagi lingkungannya.
6. Cara Mendidik Anak Hiperaktif
Cara mengajar anak hiperakktif harus konsisten dengan peraturan dan menerapkan
reward dan punishmen. Maksudnya kalau kita memberikan pembelajaran dan
anak melakukan trik agar tidak mengerjakan pembelajaran tersebut kita harus
tetap konsisten untukk membuat dia tetap mengerjakan. Kalau dia mau dan bisa
mengerjakan, kita bberi hadiah dan kalau dia tidak mau mengerjakan atau
membangkang, kita beri hukuman. Hukuman disini bukan berarti disiksa tetapi
misalnya timeout di kursi konsentrasi.
Berikut merupakan beberapa cara yang dapat dilakukan oleh orang tua dalam
mendidik anak hiperaktif:
1. Pastikan anak mendapatkan kegiatan tambahan. Dengan cara yang satu ini,
anak akan punya sebuah tempat yang bisa digunakan untuk melampiaskan
hiperaktifnya tersebut. Biasanya tempat yang pas untuk melakukan hal
tersebut adalah karate, renang, atau olahraga bola. Beberapa kegiatan
tambahan tersebut membutuhkan kerja keras dan tantangan luar biasa
sehingga Anda bisa membuat anak lebih percaya diri dan semakin baik
prestasinya di kemudian hari. Disamping itu ini juga bisa mencegah
mereka untuk melampiaskan hiperaktifnya ke hal-hal yang sangat negatif

12

dan bisa merusak masa depan semisal narkoba, merokok, dan lain
sebagainya.
2. Jangan lupa untuk mengajarkan anak Anda untuk duduk diam sewaktu
makan. Meskipun anak banyak tingkah, Anda harus membuatnya mengerti
bahwa ada saat dimana dia tidak boleh hiperaktif yaitu pada saat makan.
Tidak hanya makan, namun juga pada saat melakukan hal-hal lain yang
normalnya membutuhkan ketenangan. Dengan mendidik anak untuk
bersikap baik, mereka bisa menjadi anak yang tahu sopan santun dan tahu
kapan harus bersikap hiperaktif dan kapan harus bersikap normal atau
tenang.
3. Jangan segan untuk membuat anak Anda menjadi gembira setiap mereka
menginginkan, pastikan anak Anda diberikan beberapa faslitas yang
menyenangkan di rumah. Hal ini bisa dilakukan dengan cara membelikan
anak Anda mainan yang bermanfaat yang dapat membantu proses tumbuh
kembangnya, Anda dapat memberikan fasilitas internet untuk anak Anda
agar dia dapat bermain sambil belajar. Cara tersebut juga dapat membuat
anak mengenal sisi lain dari dunia tehnologi dan membuat hiperaktifnya
terarahkan ke hal yang positif.
4. Anda sebaiknya berhati-hati ketika memasukkan anak ke sekolah, pilihan
sekolah akan menentukan perkembangan sifatnya di kemudian hari.
Kesalahan dalam memilih sekolah akan berakibat fatal dengan rusaknya
moral anak Anda, maka dari itu jaga selalu pergaulan mereka dan pilihlah
sekolah yang berisikan anak-anak yang pintar dan berpendidikan. Jangan
memilih sekolah yang menjadi gudangnya anak nakal.
Anak hiperaktif tidak harus sekolah di sekolah khusus, sekarang sudah banyak
sekolah inklusi yang memang memberikan pelayanan dan penanganan khusus
untuk anak berkebutuhan khusus seperti anak hiperaktif tetapi dia tetap bisa
bersama dan membaur dengann teman-teman yang normal.
Selain itu beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orang tua untuk
mendidik dan membimbing anak-anak mereka yang tergolong hiperaktif :
1. Orang tua perlu menambah pengetahuan tentang gangguan hiperaktifitas.

13

2. Kenali kelebihan dan bakat anak.


3. Membantu anak dalam bersosialisasi.
4. Menggunakan teknik-teknik pengelolaan perilaku, seperti menggunakan
penguat positif (misalnya memberikan pujian bila anak makan dengan
tertib), memberikan disiplin yang konsisten, dan selalu memonitor
perilaku anak.
5. Memberikan ruang gerak yang cukup bagi aktivitas anak untuk
menyalurkan kelebihan energinya.
6. Menerima keterbatasan anak.
7. Membangkitkan rasa percaya diri anak.
8. Dan bekerja sama dengan guru di sekolah agar guru memahami kondisi
anak yang sebenarnya.
9. Disamping itu anak bisa juga melakukan pengelolaan perilakunya sendiri
dengan bimbingan orang tua. Contohnya dengan memberikan contoh yang
baik kepada anak, dan bila suatu saat anak melanggarnya, orang tua
mengingatkan anak tentang contoh yang pernah diberikan orang tua
sebelumnya.
7. Cara Mengembangkan Potensi Anak Hiperaktif
Peran keluarga dan teman-teman untuk anak hiperaktif sebagai pendukung dan
penyemangat yang selalu memberikan bantuan dan bimbingan untuk mereka.
Jangan mengucilkan atau memandang mereka sebagai pembawa masalah tetapi
bimbing memereka untuk mengatasi hambatan yang dimiliki anak tersebut.
Cara mengembangkan potensi anak. Dilihat dari segi apa anak itu menonjol.
Kalau aktivitas dia terlalu banyak, maka kita bisa beri dia kegiatan yang
melibatkan motoric kasarnya. Contohnya olahraga.
1. Bagi orang tua dan keluarga
Dalam tulisan yang bersumber dari CyberNews Suara Merdeka
memberikan beberapa contoh sikap yang dapat dilakukan oleh orang tua
dan keluarga anak hiperaktif, yaitu
a. Periksalah. Dengan cara mengonsultasikan persoalan yang diderita
anaknya kepada ahli terapi psikologi anak.
b. Pahamilah. Anda dan keluarga dapat mengikuti support group dan
parenting skill-training.

14

c. Latih kefokusannya. Jangan tekan dia, terima keadaannya itu,


perlakukan anak dengan hangat dan sabar, tetapi konsisten dan
tegas dalam menerapkan norma dan tugas.
d. Telatenlah. Jika dia telah betah untuk duduk lebih lama,
bimbinglah anak untuk melatih koordinasi mata dan tangan dengan
cara menghubungkan titik-titik yang membentuk angka atau huruf,
anak bias diberi latihan menggambar bentuk sederhana dan
mewarnai. Bias pula mulai diberikan latihan berhitung dari
berbagai variasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan
pembagian. Mulailah dengan penjumlahan atau pengurangan
dengan angka-angka di bawah 10, setelah itu baru perkenalkan
konsep angka 0 dengan benar.
e. Bangkitkan kepercayaan dirinya.

Gunakan

teknik-

teknik

pengelolaan perilaku, seperti menggunakan penguat positif


misalnya memberikan pujian, memberikan disiplin yang konsisten
dan selalu memonitor perilaku anak. Anak juga bias melakukan
pengelolaan perilakunya sendiri dengan bimbingan orang tua.
f. Kenali arah minatnya. Kenali bakat atau kecendrungan
perhatiannya sejak dini.
g. Minta dia bicara. Bantu anak bersosialisasi, misalnya melakukan
aktivitas

bersama,

sehingga anda

bias

mengajarkan

anak

bagaimana bersosialisasi dengan teman dan lingkungan.


h. Siap bahu membahu. Bantulah anak mewujudkan apa yang dia
inginkan, bekerja samalah dengan guru di sekolah agar memahami
kondisi anak yang sebenarnya.
2. Bagi guru
Di lingkungan sekolah, guru yang memiliki tanggung jawab dalam
membimbing/ mengarahkan anak yang hiperaktif (penderita ADD/
ADHD). Menurut Ron Kurtus strategi yang dapat dilakukan oleh guru,
antara lain:
a. Mengelola kelas, dengan karakteristik; membuat rancangan dan
struktur kegiatan kelas, pemberian tugas yang memerlukan waktu
yang tidak lama, instruksi guru yang dapat melatih rasio siswa dan

15

bersifat individual, kurikulum pembelajaran yang menarik,


menggunakan reinforsemen yang positif.
b. Membantu siswa memiliki harapan akademik yang baik, sering
memantau dan memeriksa pekerjaan siswa, penuh kesabaran,
kehangatan, dan humoris, konsisten dan tegas, pengetahuan tentang
perilaku anak yang berbeda, bekerja sama dengan guru yang
memiliki keahlian khusus tentang anak hiperaktif.
c. Membantu siswa melakukan self monitoring atau pemantauan
perilaku diri sendiri, karena biasanya siswa menyadari bahwa
mereka memiliki masalah dan ingin memperbaikinya. Guru dapat
melakukan metode dengan menggunakan audio seperti bip-acak,
tekniknya

bias

dengan

memberikan

rewards

dan

akurasi

pemeriksaan.
8.

16

BAB III
KESIMPULAN
1. Menurut narasumber Hiperaktif adalah gangguan perilaku dan pemusatan
perhatian karena gangguan di otak/ disfungsi neurologi.
2. Ciri-ciri anak penderita hiperaktif menurut narasumber sebagai berikut :
- Tidak dapat memusatkan perhatian/ konsentrasi.
- Tidak mau duduk diam/ selalu bergerak.
- Berbicara terus-menerus.
- Impulsive (bertindak tanpa berpikir) maksudnya dia tidak bisa mengontrol
tindakannya, misalnya mengambil bola yang jatuh di selokan padahal
selokannya dalam.
- Sulit mengerti atau memahami nasihat orang lain.
3. Penyebab gangguan anak hiperktif :
Faktor neurologik
Faktor toksik
Faktor genetik
Faktor psikososial dan lingkungan
4. Problem-Problem yang biasa dialami oleh Anak Hiperaktif
Problem di sekolah
Problem di rumah
Problem berbicara
Problem fisik
5. Cara Menangani Anak Hiperaktif
Konsultan medis dan konsumsi obat stimulant.
Terapi ; terapi ini sangat penting untuk memberikan stimulasi dan
mengontrol perilakunya.
Diet makanan yang bisa meningkatkan energi seperti tepung dan gula.
6. Cara mengajar anak hiperakktif harus konsisten dengan peraturan dan
menerapkan reward dan punishmen. Maksudnya kalau kita memberikan
pembelajaran dan anak melakukan trik agar tidak mengerjakan
pembelajaran tersebut kita harus tetap konsisten untukk membuat dia tetap
mengerjakan. Kalau dia mau dan bisa mengerjakan, kita bberi hadiah dan
kalau dia tidak mau mengerjakan atau membangkang, kita beri hukuman.
7. Peran keluarga dan teman-teman untuk anak hiperaktif sebagai pendukung
dan penyemangat yang selalu memberikan bantuan dan bimbingan untuk
mereka. Jangan mengucilkan atau memandang mereka sebagai pembawa

17

masalah tetapi bimbing memereka untuk mengatasi hambatan yang


dimiliki anak tersebut.

18

Daftar Pustaka
https://ideguru.wordpress.com/2010/04/09/faktor-faktor-penyebab-anakhiperaktif/
http://blogpoenyadina.blogspot.com/2010/12/makalah-anak-hiperaktif.html
http://doktersehat.com/mengenal-dan-membimbing-anak-hiperaktif/
http://hajrianawarnadunia.blogspot.com/2009/12/mengenal-anak-hiperaktif-dancara.html

19

20