Anda di halaman 1dari 16

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan
teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan
mengembangkan daya pikir manusia (BNSP, 2006). Berdasarkan pengertian di
atas, maka wajar saja kita sering mendengar kalimat yang sering disitir akademisi
matematika yaitu Math for All. Setiap orang di dalam kehidupannya pasti tidak
dapat terlepas dengan matematika, siapapun, dan apapun profesinya pastinya
membutuhkan matematika. Sejalan dengan prinsip tersebut maka sedari dini mulai
dari jenjang pendidikan terendah sampai dengan tinggi diberikan pelajaran
matematika sebagai salah satu pelajaran yang wajib ditempuh. Hal ini dapat
menjadi bekal siswa dalam kehidupan sehari-hari serta kebutuhan karirnya kelak.
Math for All ini juga sejalan dengan prinsip pembelajaran di Amerika yang
menganut prinsip No Child Left Behind. Di sini tidak ada satupun siswa yang
dianggap tidak mampu belajar matematika, dan semua siswa berhak mendapatkan
materi pembelajaran matematika yang sama.
Matematika yang diberikan di sekolah memiliki kedudukan penting dalam
upaya meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Tujuan tersebut
dapat dicapai dengan mempertimbangkan enam prinsip matematika sekolah dalam
pembelajaran (NCTM, 2000) yang melingkupi: (1) Equity. Keunggulan pada
pendidikan matematika memerlukan keadilan (dugaan yang tinggi dan dorongan
yang kuat pada semua siswa); (2) Curriculum. Kurikulum lebih dari kumpulan

Nelly Yuliana, 2013


Pengaruh Pendekatan Differentiated Instruction (DI) Terhadap Kecemasan Matematika (Match
Anxiety), Peningkatan Kemampuan Pamahaman Dan Penalaran Matematis Siswa SMK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

aktivitas: harus koheren; difokuskan pada kepentingan matematika, dan artikulasi


sekolah yang baik dan tepat; (3) Teaching. Pengajaran matematika yang efektif
memerlukan pemahaman bagaimana siswa mengetahui dan membutuhkan belajar
yang lebih menantang serta mendorong mereka untuk belajar lebih baik; (4)
Learning. Siswa belajar matematika harus dengan pemahaman, dengan aktif
membangun pengetahuan baru dari pengalaman dan pengetahuan sebelumnya; (5)
Assesment. Asesmen harus mendorong pembelajaran dari pentingnya matematika
dan menyiapkan informasi yang bermanfaat diantaranya guru dan siswa; (6)
Technology. Teknologi yang diperlukan dalam pengajaran dan pembelajaran
matematika, itu mempengaruhi dalam mengajar matematika dan mempertinggi
pembelajaran siswa.
Standar isi mata pelajaran matematika untuk semua jenjang pendidikan dasar
dan menengah dalam

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP, 2007)

menyatakan bahwa tujuan umum pendidikan matematika sekolah adalah:


1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan, menjelaskan
keterkaitan antar konsep atau algoritma, secara luwes, efisien, dan tepat
dalam pemecahan masalah
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat melakukan manipulasi
matematika dalam membuat generalisasi yang menyusun bukti atau
menjelaskan gagasan pernyataan matematika
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,
merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan
solusi yang diperoleh.
4. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol dan diagram, tabel, atau
media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan
yaitu memiliki sikap ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari
matematika serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Nelly Yuliana, 2013


Pengaruh Pendekatan Differentiated Instruction (DI) Terhadap Kecemasan Matematika (Match
Anxiety), Peningkatan Kemampuan Pamahaman Dan Penalaran Matematis Siswa SMK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Tujuan umum pendidikan matematika sekolah pada butir pertama


mengisyaratkan bahwa kemampuan pemahaman konsep merupakan syarat untuk
mencapai kemampuan pemecahan masalah, sehingga kemampuan pemahaman
matematis

memiliki

peran

penting dalam

kemampuan-kemampuan matematis

membentuk

dan

menunjang

yang lainnya. Sama halnya dengan

kemampuan pemahaman, kemampuan penalaran dalam butir tujuan yang kedua


memberikan

pengertian

bahwa

kemampuan

penalaran

matematis

siswa

mempengaruhi kemampuan siswa untuk dapat menyusun bukti atau menjelaskan


ide gagasan. Di sini siswa dapat membuat suatu kesimpulan dan mengemukakan
ide dengan baik dengan cara bernalar, yaitu memperhatikan keserupaan data, pola,
memperkirakan solusi, dan membuat konjektur, sehingga kemampuan penalaran
ini sangatlah penting kedudukannya dalam membentuk kemampuan matematis
lainnya.
Hal tersebut juga sesuai dengan standar pendidikan matematika yang
ditetapkan National Council of
beberapa

Teachers of Mathematics (2000) yaitu ada

kemampuan-kemampuan

standar

yang

harus

dicapai

dalam

pembelajaran matematika meliputi: (1) komunikasi matematis(mathematical


communication); (2) penalaran matematis (mathematical reasoning); (3)
pemecahan masalah matematis(mathematical problem solving); (4) koneksi
matematis(mathematical

connection);

dan

(5)

representasi

matematis(mathematical representation).
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa ada beberapa kemampuan
matematis siswa yang harus dikembangkan dalam proses pembelajaran. Salah

Nelly Yuliana, 2013


Pengaruh Pendekatan Differentiated Instruction (DI) Terhadap Kecemasan Matematika (Match
Anxiety), Peningkatan Kemampuan Pamahaman Dan Penalaran Matematis Siswa SMK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

satu kemampuan yang harus dikembangkan adalah penalaran matematis siswa.


Berkenaan dengan pengembangan kemampuan matematis siswa,NCTM (2000)
menyatakan bahwa siswa harus mempelajari matematika berdasarkan pemahaman
dan aktif mengkonstruksi pengetahuan baru dari pengalaman dan pengetahuan
yang dimiliki sebelumnya. Artinya

siswa dituntut mampu menghubungkan

pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya serta menghubungkan


pengetahuan baru dengan pengalaman sebelumnya. Pada saat siswa akan
mempelajari materi matematika yang baru maka akan dipengaruhi oleh sejauh
mana pengetahuan awal atau kesiapan yang dimiliki siswa, sehingga menentukan
keberhasilan siswa tersebut dalam mempelajari pengetahuan baru dalam
pembelajaran. Seperti yang dikemukakan Shadiq (2009) pengetahuan yang ada
pada kerangka kognitif maupun pengalaman lama yang pernah dialami
siswalah yang akan menentukan keberhasilan suatu proses pembelajaran.
Pentingnya kemampuan pemahaman dan penalaran di atas menjadikan
penelitian-penelitian tentang kemampuan tersebut perlu dilakukan. Suryadi
(Kurniawan,

2010)

mengungkapkan

bahwa

hasil

sejumlah

penelitian

pembelajaran matematika pada umumnya masih terfokus pada pengembangan


berpikir matematis yang bersifat prosedural. Kemampuan berpikir matematis yang
bersifat prosedural dengan kemampuan pemahaman dan penalaran matematis
adalah aspek yang saling melengkapi, sehingga tidak bisa dipisahkan satu sama
lain. Oleh karenanya diperlukan pula penelitian-penelitian yang berfokus kepada
pengembangan kemampuan pemahaman dan penalaran matematis. Prosedur
penting, namun dengan kemampuan pemahaman konsep dan kemampuan bernalar

Nelly Yuliana, 2013


Pengaruh Pendekatan Differentiated Instruction (DI) Terhadap Kecemasan Matematika (Match
Anxiety), Peningkatan Kemampuan Pamahaman Dan Penalaran Matematis Siswa SMK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

yang baik dapat membuat pembelajaran yang dilakukan lebih bermakna, sehingga
siswa tidak mudah lupa. Dengan kemampuan pemahaman dan penalaran yang
baik, maka siswa hanya membutuhkan daya mengingat kembali (recall) untuk
memahami cara menyelesaikan soal yang serupa.
Fakta di lapangan sangat berbeda dengan yang diharapkan, berdasarkan
data dari Depdiknas mengenai Ujian Nasional siswa SMK lima tahun terakhir,
menyatakan bahwa nilai rata-rata matematika merupakan nilai terendah dari
semua mata pelajaran yang diujiankan (Kurniawan, 2010). Rendahnya
kemampuan siswa dalam mempelajari matematika ini juga dikeluhkan oleh para
guru matematika SMK peserta diklat di PPPPTK Matematika (Markaban, 2008).
Sejalan dengan itu, ada beberapa penelitian yang telah dilakukan guna
meningkatkan kemampuan pemahaman dan penalaran siswa, namun hasilnya
masih belum maksimal. Penelitian Sunardja (2009) menyebutkan bahwa
kemampuan pemahaman dan penalaran matematis siswa baik kelas eksperimen
maupun kelas kontrol belum tuntas secara klasikal. Lalu penelitian Sudihartini
(2009) juga menyebutkan pembelajaran di kelas eksperimen baru mencapai
ketuntasan belajar secara klasikal pada kemampuan pemahaman konsep.
Sedangkan pada kemampuan penalaran matematis siswa kelas eksperimen belum
tuntas secara klasikal. Penelitian Lestari (2008) menyatakan bahwa dari hasil
deskripsi jawaban soal tampak siswa masih kesulitan dalam menyelesaikan soalsoal untuk pemahaman relasional, penalaran analogi, penalaran kondisional dan
penalaran silogisme. Secara khusus penelitian di SMK yang dilakukan Wijaya
(2011) menyebutkan bahwa meskipun rataan skor postes kemampuan penalaran

Nelly Yuliana, 2013


Pengaruh Pendekatan Differentiated Instruction (DI) Terhadap Kecemasan Matematika (Match
Anxiety), Peningkatan Kemampuan Pamahaman Dan Penalaran Matematis Siswa SMK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

kelas eksperimen lebih tinggi daripada kelas kontrol namun hasil yang diperoleh
belum maksimal. Kemudian penelitian Arviantoet al. (2011) menyatakan bahwa
masih rendahnya pemahaman konsep siswa SMK dalam belajar matematika.
Data yang telah dikemukakan di atas memberi makna bahwa penelitian
terhadap aspek kemampuan pemahaman dan penalaran matematis masih perlu
dilakukan, seperti yang dikemukakan Sutarto (2010) tentang perlunya penelitian
lebih lanjut tentang kontribusi yang diberikan strategi yang digunakan pada aspek
pemahaman instrumental, mekanikal, komputasi, atau pada aspek pemahaman
rasional, relasional fungsional, serta aspek generalisasi, yaitu berupa penemuan
fakta, memberikan makna pada fakta, atau membuat kesimpulan dari fakta-fakta.
Rendahnya kemampuan-kemampuan matematis siswa dapat dipengaruhi
oleh banyak faktor, salah satunya dipengaruhi oleh kecemasan matematika siswa.
Seperti yang terungkap dalam penelitian Anita (2011) yang menyatakan bahwa
tinggi rendahnya kemampuan berpikir matematis siswa dapat dipengaruhi oleh
kecemasan matematika yang sering disebut mathematics anxiety. Oleh karena itu,
sebaiknya guru memperhatikan adanya indikasi kecemasan matematika pada diri
siswa. Kecemasan matematika (mathematics anxiety) adalah perasaan-perasaan
atau ketegangan saat memanipulasi angka-angka, menyelesaikan permasalahan
matematika dalam kehidupan sehari-hari sertadalam situasi akademik (Royanto,
2010). Kecemasan dapat dialami oleh semua siswa, baik yang memliki
kemampuan matematis tinggi atau rendah. Tapi saat kecemasan matematika itu
sudah berlebihan, dengan kata lain telah mengganggu sikap positif siswa terhadap
matematika, maka akan menghambat siswa dalam belajar dan mengembangkan

Nelly Yuliana, 2013


Pengaruh Pendekatan Differentiated Instruction (DI) Terhadap Kecemasan Matematika (Match
Anxiety), Peningkatan Kemampuan Pamahaman Dan Penalaran Matematis Siswa SMK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

kemampuan matematisnya.Kecemasan matematika ini layak mendapatkan


perhatian, khususnya yang terjadi pada siswa-siswa di Indonesia. Terutama
berdasarkan data PISA tahun 2006, yang mengatakan bahwa jumlah siswa di Asia
yang mengalami kecemasan matematika cukup tinggi (Tim, 2010). Hal yang sama
juga dinyatakan Anita (2009) dalam penelitiannya tentang kecemasan matematika
siswa SMP. Temuannya menyatakan bahwa tingkat kecemasan yang paling tinggi
dialami siswa adalah kecemasan terhadap ujian matematika. Hal itu bukan hanya
terlihat dalam analisis skala kecemasan matematika, tapi tampak pula pada saat
pembelajaran di kelas. Artinya kecemasan matematika yang terjadi pada diri siswa
telah masuk kategori yang mengkhawatirkan.
Kecemasan matematika termasuk dalam ranah afektif hasil pembelajaran
matematika. Disebutkan Suryanto (2008) bahwa aspek afektif dianggap sebagai
hasil langsung atau tidak langsung dari pembelajaran matematika kumulatif sejak
sekolah dasar sampai sekolah menengah (sekolah menengah atas). Pernyataan
tersebut dapat memberi dugaan bahwa tingkat kecemasan siswa SD tidak akan
jauh berbeda dengan tingkat kecemasan siswa tersebut ketika telah berada jenjang
SMP. Begitu pula tingkat kecemasan siswa SMP, diduga tidak akan jauh berbeda
dengan tingkat kecemasan siswa tersebut saat ketika menduduki jenjang
pendidikan SMA atau SMK.
Menimbang cukup tingginya tingkat kecemasan siswa serta bagaimana
kecemasan matematika tersebut mempengaruhi kemampuan matematika siswa,
maka penelitian-penelitian berkenaan kecemasan matematika ini perlu dilakukan.
Sebagaimana yang disarankan oleh Sumardiyono (2011) bahwa perlu dilakukan

Nelly Yuliana, 2013


Pengaruh Pendekatan Differentiated Instruction (DI) Terhadap Kecemasan Matematika (Match
Anxiety), Peningkatan Kemampuan Pamahaman Dan Penalaran Matematis Siswa SMK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

penelitian yang lebih komprehensif terkait kecemasan matematika karena gejala


ini merupakan gejala umum dan nyata yang mempengaruhi perkembangan belajar
peserta didik maupun pendidik. Lebih rinci Plaisance (2010) menyarankan agar
penelitian di masa mendatang harus menyelidiki berkenaan menentukan metode
pengajaran apa yang digunakan, bagaimana metode diimplementasikan, dan apa
yang membuat metode tersebut

menyenangkan sehingga dapat mengubah

kecemasan matematika siswa.


Faktor lain yang mempengaruhi rendahnya tingkat kemampuan siswa,
salah satunya adalah cara mengajar guru yang kurang efektif. Slameto (2010)
mengatakan salah satu syarat yang diperlukan dalam mengajar yang efektif adalah
guru perlu mempertimbangkan perbedaan individual. Karena masing-masing
siswa mempunyai perbedaan dalam berbagai segi, misalnya intelegensi, bakat,
minat, kebutuhan, kesiapan belajar, gaya belajar dan lain sebagainya. Guru
harusmemeriksa kembalimetode pengajaran tradisionalyang seringtidaksesuai
dengangaya

belajar

siswa

dan

keterampilanmengajarguru

perlu

lebih

diproduktifkan. Pelajaranmatematika harusdisajikandalam berbagaicara(Khatoon


dan Mahmood, 2010). Tentu saja maksudnya adalah dengan menyajikan
matematika dalam beragam cara, maka dapat memberikan peluang yang lebih
besar kepada guru untuk

memenuhi kebutuhan siswanya yang beragam

pula.Perbedaan siswa lainnya adalah perbedaan dalam kemampuan matematika,


beberapa dari siswa kurang memiliki kemampuan tentang konsep matematika,
stuktur dan proses (Kusumah, 2010). Penjelasan di atas memberi makna bahwa
guru harus mengubah cara mengajar tradisional atau konvensional yang sering

Nelly Yuliana, 2013


Pengaruh Pendekatan Differentiated Instruction (DI) Terhadap Kecemasan Matematika (Match
Anxiety), Peningkatan Kemampuan Pamahaman Dan Penalaran Matematis Siswa SMK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

digunakan menuju bentuk pengajaran yang dapat mengakomodir perbedaanperbedaan individual tersebut.
Sebenarnya kemampuan yang harus dimiliki seorang guru untuk
memahami siswa secara mendalam merupakan kompetensi yang memang harus
dimiliki oleh seorang guru sebagai agen pembelajaran yang termuat didalam UU
no.14 tahun 2005. Sejalan dengan hal itu, dalam PP no.19 tahun 2005
menjelaskan apa saja kompetensi

yang harus dimiliki oleh guru, berupa

kompetensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, serta


kompetensi sosial. Kompetensi

pedagogik

meliputi

pemahaman

terhadap

peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil


belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai
potensi yang dimilikinya.
Subkompetensi memahami peserta didik secara mendalam memiliki
indikator esensial: memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsipprinsip perkembangan kognitif; memahami peserta didik dengan memanfaatkan
prinsip-prinsip kepribadian; dan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik.
Secara umum perkembangan kognitif siswa SMK hampir sama dengan siswa
SMA yang rata-rata telah masuk ke dalam tahap operasi formal. Karakteristik
tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar
secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Berarti siswa
telah mampu menyeimbangkan dengan karakter matematika yang abstrak. Namun
jika ditilik dari karakter SMK sendiri, yang merupakan sekolah kejuruan dengan
muatan kurikulum yang lebih menekankan kepada penguasaan kecakapan hidup

Nelly Yuliana, 2013


Pengaruh Pendekatan Differentiated Instruction (DI) Terhadap Kecemasan Matematika (Match
Anxiety), Peningkatan Kemampuan Pamahaman Dan Penalaran Matematis Siswa SMK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

10

berupa keterampilan yang sesuai dengan minat dan bakat siswa, maka hal ini akan
berpengaruh kepada perkembangan kognitif siswa SMK juga. Karena interaksi
siswa terhadap lingkungannya dalam hal ini SMK akan memberikan interaksi dan
menciptakan pengalaman fisik yang merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi perkembangan kognitif siswa.
Pelajaran matematika di SMK yang termasuk pelajaran adaptif secara
substansi isi hampir sama dengan matematika SMA. Hanya saja dari sisi
kedalaman materi, matematika SMA lebih dalam daripada matematika SMK.
Akan tetapi, sebagaimana tertuang dalam salah satu butir Standar Kompetensi
Lulusan (SKL) mata pelajaran matematika SMK di semua kelompok kejuruan
(BNSP, 2012) yaitu menerapkan matematika

sebagai dasar penguasaan

kompetensi produktif dan pengembangan diri, menjadikan matematika SMK


memiliki karakteristik yang berbeda dengan matematika SMA. Ada Standar
Kompetensi (SK) yang ada di SMK namun tidak ada di SMA, dan sebaliknya.
Contoh SK matematika SMK, memecahkan masalah berkaitan dengan konsep
aproksimasi kesalahan. SK ini tidak ada pada matematika SMA baik kelompok
IPA atau IPS, SK tersebut hanya ada pada matematika SMK kelompok teknologi,
kesehatan dan pertanian. Hal ini dikarenakan SK tersebut menjadi dasar siswa
dalam mempelajari pelajaran produktif kejuruannya. Misalnya siswa SMK
teknologi jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik, SK tersebut menjadi dasar
mereka dalam mempelajari SK pelajaran produktif yaitu menggunakan hasil
pengukuran dengan Kompetensi Dasar (KD) melakukan pengukuran besaran
listrik.

Nelly Yuliana, 2013


Pengaruh Pendekatan Differentiated Instruction (DI) Terhadap Kecemasan Matematika (Match
Anxiety), Peningkatan Kemampuan Pamahaman Dan Penalaran Matematis Siswa SMK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

11

Namun sebaliknya, contoh SK matematika SMA,

menggunakan

perbandingan, fungsi, persamaan, dan identitas trigonometri dalam pemecahan


masalah. SK ini tidak ada pada matematika SMK kelompok sosial, administrasi
perkantoran, dan akuntansi, karena memang pada pelajaran produtif SMK
kelompok sosial, administrasi perkantoran, dan akuntansi tidak membutuhkan
dasar SK tersebut. Kekhasan SK dan KD atau Standar Isi dari matematika SMK
ini membuat matematika pada SMK memiliki karakter tersendiri. Materi-materi
matematika SMK hanya terbatas kepada sejauh mana materi itu dapat terpakai
dalam pelajaran produktif. Singkatnya, matematika SMK diajarkan untuk
mendukung dan mempermudah siswa dalam belajar pelajaran produktif.
Kompetensi guru dalam merancang pembelajaran, termasuk memahami
landasan

pendidikan untuk kepentingan pembelajaran, memiliki peran yang

penting. Subkompetensi ini memiliki indikator esensial: memahami landasan


kependidikan; menerapkan teori belajar dan pembelajaran; menentukan strategi
pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin
dicapai, dan materi ajar; serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan
strategi yang dipilih. Guru matematika SMK yang memiliki kompetensi ini harus
dapat merancang strategi pembelajaran yang cocok dengan karakteristik
matematika SMK dan siswa SMK itu sendiri. Matematika SMK yang aplikatif
dalam kejuruannya masing-masing dan siswa yang lebih senang bekerja dengan
cara praktek atau termasuk tipe belajar kinestetik. Meski tidak dipungkiri siswa
dengan tipe belajar visual dan audio juga pasti ada. Karakteristik ini yang

Nelly Yuliana, 2013


Pengaruh Pendekatan Differentiated Instruction (DI) Terhadap Kecemasan Matematika (Match
Anxiety), Peningkatan Kemampuan Pamahaman Dan Penalaran Matematis Siswa SMK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

12

merupakan salah satu dari perbedaan individual yang seharusnya menjadi


perhatian guru dalam merencanakan pembelajaran di kelas.
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa mengatasi perbedaan-perbedaan
individual (1) akan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar sambil mendorong
mereka untuk tetap berkomitmen dan tetap positif serta (2) siswa dapat belajar
efektif ketika berhadapan dengan tugas-tugas yang menantang, tidak terlalu
sederhana atau terlalu kompleks. (Tomlinson dalam Harta, 2011). Penelitian
serupa juga menemukan bahwa mengabaikan karakteristik ini (1) akan
mengabaikan gaya belajar yang berbeda dan kepentingan hadir disemua kelas
(Fischer dan Rose dalam Harta, 2011) (2) dapat mengakibatkan beberapa siswa
jatuh kebelakang, kehilangan motivasi dan gagal untuk berhasil. (3) siswa yang
kemungkinan maju dan termotivasi pada awalnya menjadi hilang semangat
dikarenakan guru yang berusaha menyelesaikan target kurikulum sebanyak
mungkin (Tomlinson dalam Harta, 2011). Menimbang keutamaan mengatasi
perbedaan individual yang telah diuraikan diatas maka diperlukan suatu cara atau
pendekatan yang dapat dengan efektif mengakomodir perbedaan individual siswa
tersebut.
Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan perbedaan individual itu
adalah dengan membedakan instruksi (differentiated instruction). Differentiated
instruction (DI) adalah cara untuk menyesuaikan instruksi kepada kebutuhan
siswa dengan tujuan memaksimalkan potensi masing-masing pembelajar dalam
lingkup yang diberikan (Tomlinson dalam Butler, 2008). Tomlinson membedakan
DI berdasarkan proses, isi, penilaian, atau kombinasi dari ketiganya. Berbeda

Nelly Yuliana, 2013


Pengaruh Pendekatan Differentiated Instruction (DI) Terhadap Kecemasan Matematika (Match
Anxiety), Peningkatan Kemampuan Pamahaman Dan Penalaran Matematis Siswa SMK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

13

halnya dengan pendekatan Direct Instruction yang sering disebut pula DI. Direct
Instruction adalah sebuah pendekatan untuk mengajar yang berorientasi pada
keterampilan dan praktek-praktek pengajaran yang diarahkan oleh guru (Carnine,
2000). Jadi pendekatan Direct Instruction ini dapat dikatakan berpusat kepada
guru, sedangkan pendekatan Differentiated Instruction berbasis guru tapi berpusat
kepada siswa.
Differentiated Instruction atau disingkat DI yang dimaksud di sini adalah
cara berpikir tentang pengajaran dan pembelajaran yang menekankan pada kondisi
awal individu daripada rencana tindakan yang mengabaikan kesiapan, minat dan
profil belajar siswa (Good dalam Butler, 2008). DI memberikan kesempatan yang
lebih banyak kepada siswa untuk mengeksplorasi perbedaan individualnya untuk
dijadikan kekuatan dalam memahami matematika. Proses tersebut diawali dengan
pengumpulan informasi awal siswa berupa kesiapan belajar siswa (readiness),
minat (interest) dan gaya belajar siswa (learning profile) pada tahap sebelum
pembelajaran dimulai yang dilakukan guru. Berdasarkan informasi inilah DI
disusun, pada tahap ini pula guru berperan sangat penting untuk merencanakan
dan membuat bahan ajar berdasarkan DI sehingga perbedaan individual siswa
justru dapat disinergikan menjadi kekuatan yang dapat membuat siswa lebih
efektif belajar matematika.
Logan (2008) menyatakan bahwa DI milik sekolah menengah. Karena
pada saat siswa berada pada jenjang itu, perbedaan siswa lebih terlihat jelas.
Dengan

menerapkan

DI,

gurudapatberperan

dalam

membantusiswauntuk

mencapai hasil belajar yang lebih baikdan mengembangkan potensinya.Lebih

Nelly Yuliana, 2013


Pengaruh Pendekatan Differentiated Instruction (DI) Terhadap Kecemasan Matematika (Match
Anxiety), Peningkatan Kemampuan Pamahaman Dan Penalaran Matematis Siswa SMK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

14

lanjut

Logan

menyatakan

bahwa

sekolahmemiliki

tanggung

jawab

untukmenyesuaikan diri denganperkembangankebutuhan dantingkatansiswa. Jadi


dapat dikatakan bahwa untuk pendekatan DI ini tepat digunakan pada
pembelajaran siswa pada jenjang SMK.
Berdasarkan uraian yang dikemukakan di atas, maka penelitian difokuskan
pada pengaruh pendekatan Differentiated Instruction (DI) terhadap kecemasan
matematika (Math Anxiety), peningkatan kemampuan pemahaman serta penalaran
matematis siswa SMK.

B. Rumusan Masalah
Paparan latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, mengerucutkan
penelitian ini kepada empat masalah yang dirinci sebagai berikut:
1. Apakah peningkatan kemampuan pemahaman siswa yang belajar melalui
pendekatan

DI

lebih

baik

dibandingkan

dengan

pembelajaran

konvensional?
2. Apakah peningkatan kemampuan penalaran siswa yang belajar melalui
pendekatan

DI

lebih

baik

dibandingkan

dengan

pembelajaran

konvensional?
3. Apakah terdapat asosiasi antara kemampuan pemahaman dengan
penalaran matematis siswa?
4. Apakah terdapat pengaruh pembelajaran dengan pendekatan DI terhadap
kecemasan matematika siswa?

Nelly Yuliana, 2013


Pengaruh Pendekatan Differentiated Instruction (DI) Terhadap Kecemasan Matematika (Match
Anxiety), Peningkatan Kemampuan Pamahaman Dan Penalaran Matematis Siswa SMK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

15

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan diatas, maka penelitian ini
bertujuan untuk:
1. Menelaah tentang peningkatan pemahaman matematis siswa yang belajar
melalui pendekatan DI apakah lebih baik dibandingkan dengan
pembelajaran konvensional.
2. Menelaah tentang peningkatan penalaran matematis siswa yang belajar
melalui pendekatan DI apakah lebih baik dibandingkan dengan
pembelajaran konvensional.
3. Menelaah asosiasi antara kemampuan pemahaman matematis dan
penalaran matematis siswa.
4. Menelaah pengaruh pendekatan DI terhadap kecemasan matematika
siswa.

D. Manfaat Penelitian
Selain menjawab permasalahan penelitian yang akan dikaji, penelitian ini juga
akan memberikan banyak manfaat, khususnya kepada siswa, guru, praktisi
pendidikan lainnya serta dunia pendidikan umumnya. Berikut manfaat yang akan
diberikan penelitian ini:
1. Memberi gambaran kondisi kecemasan matematika siswa.
2. Menawarkan salah satu alternatif pilihan pendekatan dalam mengajar
matematika.

Nelly Yuliana, 2013


Pengaruh Pendekatan Differentiated Instruction (DI) Terhadap Kecemasan Matematika (Match
Anxiety), Peningkatan Kemampuan Pamahaman Dan Penalaran Matematis Siswa SMK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

16

3. Memberikan variasi cara belajar bagi siswa, dalam hal ini pembelajaran
didasarkan kepada perbedaan individual siswa.
4. Menjadi penyegaran dalam pembelajaran matematika konvensional.
5. Memberi gambaran kondisi kemampuan pemahaman dan penalaran
matematika siswa khususnya siswa SMK.
6. Menjadi bahan dan kajian untuk penelitian lebih lanjut berkenaan
penerapan pendekatan DI dalam pembelajaran matematika.

Nelly Yuliana, 2013


Pengaruh Pendekatan Differentiated Instruction (DI) Terhadap Kecemasan Matematika (Match
Anxiety), Peningkatan Kemampuan Pamahaman Dan Penalaran Matematis Siswa SMK
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu