Anda di halaman 1dari 2

Biro Dakwah Amar Maaruf Nahi Munkar, Masjid Jamek Kampung Nakhoda

Mimbar Nakhoda O a
BIL: 25/SYAABAN 1436H/JUN 2015M

PERCUMA UNTUK AHLI JEMAAH MASJID

Keagungan Bulan Syaaban


Barang siapa yang mengagungkan bulan Syaaban, bertaqwa kepada Allah dan taat
kepadaNya serta menahan diri dari perbuatan maksiat, maka Allah mengampuni dosanya
dan menyelamatkannya pada tahun itu dari segala macam bencana, dan dari bermacam-macam
penyakit. Sisi yang penting untuk direnung ketika memasuki bulan Syaaban yang merupakan salah
satu dari 12 bulan dalam kalendar Islam yang dalam sejarah kehidupan dan perjalanan Agama Islam
memiliki erti sangat penting kerana pada bulan ini banyak kejadian besar dan kebaikan terjadi di
dalamnya. Menurut Imam Ibnu Mandzur dalam Lisanul-Arab, makna kata Syaaban adalah dari
lafadz Syaaba atau berarti Zhahara yang tampak di antara dua bulan mulia iaitu Rejab dan
Ramadhan. Sedangkan Menurut As-Sayyid Muhammad Bin Alawi Al-Maliki dalam kitabnya
Madza Fi Syaaban, dalam bulan Syaaban ini ada kejadian-kejadian besar yang berkaitan erat
dengan perjalanan hidup Ummat. Kejadian-kejadian tersebut di antaranya:
1. Pada bulan Syaaban, Allah berkenan untuk merubah arah Qiblat Ummat Islam dari MasjidilAqsha ke arah Masjidil-Haram yang sebelumnya tatkala Ummat Islam berada di Kota Madinah,
jika melakukan Shalat, maka Qiblatnya mengarah ke arah Baitul-Maqdis. Apa yang mereka
lakukan ini menjadi bahan cemuhan orang-orang Yahudi di Kota Madinah. Mereka mengatakan,
Katanya Muhammad membawa risalah dan agama baru yang lengkap. Tapi ternyata Qiblat
mereka masih menggunakan Qiblatnya orang Yahudi, iaitu Baitul-Maqdis. Ucapan tersebut, bagi
sebahagian Ummat Islam yang baru masuk Islam dan sangat tipis Imannya sudah lebih dari cukup
untuk memurtadkan mereka kembali. Sehingga keadaan ini menjadi pemikiran yang sangat
mendalam bagi Nabi . Kerana itu, Nabi selalu berdoa dan sering melihat ke atas berharap ada
Firman Allah yang dapat memberi penyelesaian masalah ini. Kemudian tepat pada 15 Syaaban,
Allah berkenan memindahkan Qiblat Ummat Islam menuju Masjidil-Haram.
2. Pada bulan Syaaban, segala amal manusia dalam jangka waktu satu tahun dilaporkan Kehadhrat
Allah . Sebagaimana Hadits yang disampaikan Usamah bin Zaid Radhiyallahu Anhu: Saya
pernah berkata: Ya Rasulullah !Saya tidak melihat anda berpuasa penuh pada bulan
lain, seperti puasa anda di bulan Syaaban ini? Baginda menjawab: Pada bulan ini adalah
sebuah bulan yang banyak dilalaikan oleh Ummat manusia dan ia berada di antara Rejab
dan Ramadhan yang pada bulan tersebut seluruh amal manusia dilaporkan ke Hadhrat
Allah, maka aku senang tatkala Amal Ibadahku dilaporkan sedang aku dalam keadaan
berpuasa. (An-Nasai)
3. Pada bulan ini, khususnya pada malam Nishfu Syaaban, Allah berkenan untuk menentukan umur
manusia. Seperti dalam Hadits Aisyah Radhiyallahu Anha yang pernah bertanya kepada Nabi :
Wahai Rasulullah , apakah bulan yang anda paling sukai untuk melakukan puasa, adakah bulan
Syaaban? Baginda menjawab: Sesungguhnya Allah pada bulan ini menetapkan setiap
jiwa manusia yang akan mati pada satu tahun ke hadapan, maka aku senang tatkala ajalku
tiba, aku sedang dalam keadaan Puasa.
Kerana itulah, Para Ulama kita mengadakan acara khusus pada malam Nishfu Syaaban setelah
Maghrib dengan membaca Surah Yasin tiga kali dengan niat yang pertama, semoga dipanjangkan
umur dalam Ibadah kepada Allah. Kedua, dengan niat semoga dijauhkan dari segala bala dan
musibah. Ketiga, kita berdoa agar selalu diberikan kecukupan Dunia oleh Allah. Selain itu, dianjurkan
untuk memperbanyak bacaan Shalawat kepada Nabi Muhammad , memperbanyak Puasa Sunnah,
dan memperbanyak melakukan Shalat Malam dengan iringan Doa dan Istighfar.

Perpindahan Qiblat Dari Baitul-Maqdis


Masjidil-Aqsha Ke Kaabah Masjidil-Haram
Dalam Tafsir Ath-Thabari dijelaskan bahawa ketika Rasulullah berhijrah ke Madinah, sementara kebanyakan
penduduknya adalah Yahudi, maka Allah memerintah Baginda menghadap Baitul-Maqdis sebagai Qiblat. Orang-orang
Yahudi merasa gembira kerana Baitul-Maqdis merupakan Qiblat mereka. Selama berqiblat ke Baitul-Maqdis ini, orangorang Yahudi selalu mencaci-maki Rasulullah . Mereka berkata: Muhammad menyelisihi agama kita tetapi berqiblat
kepada Qiblat kita! Dan masih banyak lagi celotehan mereka. Sikap orang-orang Yahudi tersebut membuat Nabi
Muhammad tidak senang, dan setiap hari Baginda berdoa menengadahkan wajah mulianya ke langit dalam keadaan
rindu agar Allah menurunkan wahyu, bahawa Qiblat dipindahkan dari Baitul-Maqdis ke Kaabah.
Allah mengkabulkan doa Rasulullah dengan turunnya Surah Al-Baqarah ayat 144 yang berisi perintah untuk
berpindah Qiblat dari Baitul-Maqdis ke Kaabah: Sungguh Kami sering melihat mukamu menengadah ke langit,
maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke Qiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah
Masjidil-Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orangorang Yahudi dan Nasrani yang diberi Kitab Taurat dan Injil memang mengetahui bahawa berpaling ke MasjidilHaram itu adalah benar dari Tuhannya. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.
Ummat Islam Shalat menghadap Baitul-Maqdis selama 17 bulan lebih 3 hari. Yakni sejak hari Isnin 12 Rabiul Awal
tahun ke-1 Hijrah hingga hari Selasa 15 Syaaban tahun ke-2 Hijrah. Shalat yang pertama kali dilakukan sesudah
perpindahan Qiblat tersebut adalah Shalat Ashar. Dalam riwayat lain dikatakan bahawa pada malam 15 Syaaban atau
Nishfu Syaaban telah terjadi peristiwa penting dalam sejarah perjuangan Ummat Islam yang tidak boleh kita lupakan
sepanjang masa. Diantaranya adalah perintah memindahkan Qiblat Shalat dari Baitul-Maqdis yang berada di Palestina ke
Kaabah yang berada di Masjidil-Haram, Makkah pada tahun ke-8 Hijrah.
Sebagaimana kita ketahui, sebelum Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, yang menjadi Qiblat Shalat adalah Kaabah.
Kemudian setelah Baginda Hijrah ke Madinah, beliau memindahkan Qiblat Shalat dari Kaabah ke Baitul-Maqdis yang
digunakan orang Yahudi sesuai dengan izin Allah untuk Qiblat Shalat mereka. Perpindahan tersebut dimaksudkan untuk
menjinakkan hati orang-orang Yahudi dan untuk menarik mereka kepada Syariat Al-Quran dan agama yang baru iaitu
Agama Tauhid. Tetapi setelah Rasulullah menghadap Baitul-Maqdis selama 16-17 bulan, ternyata harapan Rasulullah
tidak terpenuhi. Orang-orang Yahudi di Madinah berpaling dari ajakan beliau, bahkan mereka merintangi Islamisasi yang
dilakukan Nabi dan mereka telah bersepakat untuk menyakitinya. Mereka menentang Nabi dan tetap berada pada
kesesatan. Kerana itu Rasulullah berulang kali berdoa memohon kepada Allah agar diperkenankan pindah Qiblat
Shalat dari Baitul-Maqdis ke Kaabah lagi, setelah Rasul mendengar ejekan orang-orang Yahudi yang mengatakan:
Muhammad menyalahi agama kita namun mengikuti Qiblat kita. Apakah yang memalingkan Muhammad dan para
pengikutnya dari Qiblat Kaabah yang selama ini mereka gunakan? Ejekan mereka ini dijawab oleh Allah dalam Surah
Al-Baqarah ayat 143:

Dan Kami tidak menjadikan Qiblat yang menjadi Qiblatmu, melainkan agar Kami mengetahui siapa yang
mengikuti Rasul dan siapa yang membelot.
Perpindahan Qiblat Shalat dari menghadap Baitul-Maqdis ke Kaabah Masjidil-Haram adalah hal yang sangat dinantinanti oleh Rasulullah agar segera turun ayat tentang perpindahan Qiblat tersebut, maka setelah 6 bulan Nabi berada
di Madinah yakni hari Selasa Nishfu Syaaban iaitu pada pertengahan bulan Syaaban, dan pada akhirnya Allah
memperkenankan Rasulullah memindahkan Qiblat Shalat dari Baitul-Maqdis ke Kaabah sebagaimana Firman Allah
dalam Surah Al-Baqarah ayat 144:


(: )



Sungguh Kami (Allah) sering melihat wajahmu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan
kamu ke Qiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke Masjidil-Haram, dan di mana saja kamu berada
palingkanlah wajahmu ke arahnya. (QS. Al Baqarah: 144) (Al Jami Li Ahkam Al Quran Lil Qurthubi, juz 2 hal.150)
Di antara kebiasaan yang dilakukan oleh Ummat Islam pada malam Nishfu Syaban adalah membaca surat Yasin tiga
kali yang setiap kali diikuti doa yang antara lain isinya adalah: Ya Allah jika Engkau telah menetapkan aku di sisiMu
dalam Ummul-Kitab (buku induk) sebagai orang celaka atau orang-orang yang tercegah atau orang yang
disempitkan rezekinya maka hapuskanlah, Ya Allah demi anugerahMu, kecelakaanku, ketercegahanku dan
kesempitan rezekiku.

Mimbar Nakhoda ini diterbitkan secara bulanan oleh Biro Dakwah Amar Maaruf Nahi Munkar, Masjid Jamek Kampung
Nakhoda, Jalan Nakhoda Tengah, 68100 Batu Caves, Selangor Darul Ehsan dengan kerjasama Naqsyabandi Akademi
Quran Sunnah Hadits, Madrasah Ulul Azmi, Kampung Sepakat Wira Damai, Batu Caves. Cetakan adalah terhad, maka
digalakkan untuk difotostat dan diedarkan kepada orang lain, semoga Allah memberkati dan memberikan ganjaran
pahala yang berterusan, Amin.

Ketua Editor: Ust. Jalalluddin Ahmad Ar-Rowi / Penolong Editor: Sdr. Muhammad Taufiq

Biro Dakwah Amar Maaruf Nahi Munkar, Masjid Jamek Kampung Nakhoda

Ketentuan Umur Dan Rezeqi


:

: :

Diriwayatkan dari Sayyidatina Aisyah Radhiyallahu Anha, bahwasanya Rasulullah berpuasa di bulan Syaaban seluruhnya
sampai bertemu dengan Ramadhan. Dan tidaklah Nabi puasa sebulan penuh selain Ramadhan kecuali Syaaban. Sayyidatina
Aisyah berkata: Wahai Rasulullah , apakah bulan Syaaban adalah bulan yang paling engkau sukai untuk berpuasa?
Rasulullah menjawab: Benar wahai Aisyah, tidak ada satupun jiwa yang akan mati pada satu tahun ke hadapan kecuali
ditentukan umurnya pada bulan Syaaban. Dan aku senang seandainya ketika umurku ditulis aku dalam keadaan beribadah
dan beramal Shalih kepada Tuhanku.

: :
( ) .
Utsman Bin Mugirah Bin Al-Akhnas berkata bahwasanya Rasulullah bersabda: Ajal seseorang ditentukan dari bulan
Syaaban ke bulan Syaaban berikutnya, sehingga ada seseorang bisa menikah dan melahirkan padahal namanya sudah
tercantum dalam daftar orang-orang yang mati. (Hadits ini Mursal dan disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir).


: :
( ) .

Rasulullah bersabda: Allah membuka kebaikan dalam empat malam; Malam Aidul-Adha dan Aidul-Fithri, Malam
Nishfu Syaaban di mana pada bulan itu ditulis Ajal dan Rezeqi seorang hamba serta ditulis juga di malam tersebut Haji dan
Malam Arafah sampai Adzan. (Ad-Dailami).

Bulan Keampunan Dan Rahmat


Bulan Syaaban adalah pintu menuju bulan Ramadhan. Barangsiapa yang berupaya membiasakan diri bersungguh-sungguh
dalam beribadah di bulan ini, Insya Allah dia akan menuai kejayaan di bulan Ramadhan. Sebagaimana Imam Dzun-Nun Al-Mishri
pernah mengatakan: Rejab adalah bulan menanam, Syaaban adalah bulan menyirami dan Ramadhan adalah bulan
untuk menuai. Di antara 12 bulan, tiada satupun yang disebut oleh Rasulullah sebagai bulan Baginda. Berbeza halnya dengan
bulan Syaaban, Baginda dengan tegas mengatakan: Bulan Syaaban adalaah bulanku. Apakah keistimewaan di sebalik
bulan Syaaban? Banyak peristiwa agung yang terjadi dalam bulan Syaaban ini.

. :
()
Dari Abu Musa Radhiyallahu Anhu bahawa Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah muncul (ke dunia) pada
malam Nishfu Syaban dan mengampuni seluruh makhlukNya, kecuali orang musyrik dan orang yang saling dengki.
(Ibnu Majah). Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu bahawa Rasulullah bersabda: Apabila datang malam Nishfu
Syaban, maka Shalatlah pada malam harinya dan berpuasalah pada siang harinya. Kerana sesungguhnya Allah akan
turun ke Dunia pada malam tersebut sejak matahari terbenam dan berfirman: Adakah orang yang meminta maaf
kepadaku, maka akan Aku ampuni. Adakah yang meminta rezeki, maka Aku akan melimpahkan rezeki kepadanya.
Adakah orang yang sakit, maka akan Aku sembuhkan. Dan hal-hal yang lain sampai terbitnya fajar. (Ibnu Majah).
Aisyah Radhiyallahu Anha berkata: Suatu malam saya kehilangan Rasulullah , lalu aku mencarinya. Ternyata beliau
sedang berada di Baqi sambil menengadahkan wajahnya ke langit. Beliau bersabda: Apakah kamu (Aisyah) khawatir
Allah akan menyia-nyiakan kamu dan RasulNya? Aku menjawab: Wahai Rasulullah , saya pikir engkau sedang
mendatangi sebagian istri-istrimu. Rasulullah menjawab: Sesungguhnya Allah turun ke dunia pada malam Nishfu
Syaban dan mengampuni ummatku lebih banyak dari jumlah bulu dombanya Bani Kalb. (Ahmad, Ibnu Majah dan AtTirmidzi).
Di antara keistimewaan bulan Syaaban adalah bulan diturunkannya ayat Shalawat Nabi . Ibnu Shaif Al-Yamani
menyebutkan bahwasanya bulan Syaaban disebut bulannya Rasulullah kerana pada bulan tersebut turun ayat perintah
membaca Shalawat kepada Rasulullah yakni pada Surah Al-Ahzab ayat 56 iaitu Firman Allah:



(:
) .
x

Sesungguhnya Allah dan Malaikat-MalaikatNya berselawat untuk Nabi Muhammad , Wahai orang-orang yang
beriman berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah Salam penghormatan untuknya. (Al-Ahzab: 56) (TukhfatulIkhwan Lil-Imam Ahmad bin Hijazi Al-Fisyni, hal.74)

Laporan Amal Perbuatan Manusia


Pada malam Nishfu Syaban semua amal manusia dilaporkan kepada Allah . Alangkah baiknya jika saat itu catatan amal
perbuatan kita berupa ibadah. Dalam hadits Nabi dijelaskan:

: : :
( : ) .
Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid yang bertanya kepada Rasulullah : Wahai Rasulullah , aku tidak
melihatmu puasa pada bulan-bulan lain seperti pada bulan Syaaban? Rasulullah menjawab: Bulan ini adalah
bulan yang dilupakan manusia, antara bulan Rajab dan Ramadhan. Dan bulan ini saat dilaporkannya amal
perbuatan manusia kepada Tuhan semesta alam. Dan aku senang jika amalku dilaporkan sedangkan aku dalam
keadaan puasa. (HR. Imam An-Nasai dalam At-Targhib Wat-Tarhib Lil-Mundziri, Juzuk 2 halaman 48). Sebenarnya
pelaporan amal kita ini ada yang harian, ada yang mingguan dan ada pula yang tahunan. Laporan harian dilakukan Malaikat
pada siang hari dan malam hari. Yang mingguan dilakukan Malaikat setiap Isnin dan Khamis. Adapun yang tahunan dilakukan
pada setiap Lailatul-Qadar dan Malam Nishfu Syaaban.

: :

Rasulullah bersabda: Apabila datang malam Nishfu Syaaban, berseru Zat Allah yang berseru: Apakah ada orang
yang memohon ampun maka Aku akan mengampuninya? Apakah ada yang meminta maka Aku akan memberinya?
Tidak ada seorang pun yang meminta sesuatu kecuali Aku akan memberinya, kecuali wanita pezina atau orang
Musyrik. (Al-Baihaqi)

:
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhu berkata: Terdapat lima malam di mana Doa tidak ditolak; malam Jumaat,
malam pertama bulan Rejab, malam Nishfu Syaaban, malam Aidul-Fitri dan malam Aidul-Adha. (Al-Baihaqi)

( ) . :
Rasulullah bersabda: Bulan Syaaban adalah bulanku, dan bulan Ramadhan adalah bulan Allah. Bulan Syaaban
mensucikan, sedang bulan Ramadhan melebur dosa. (Ad-Dailami dari Sayyidah Aisyah)
Bulan Syaaban dinamakan juga bulan Al-Quran, sebagaimana disebutkan dalam beberapa atsar. Memang membaca AlQuran selalu dianjurkan di setiap saat dan di manapun tempatnya, namun ada saat-saat tertentu pembacaan Al-Quran itu
lebih dianjurkan seperti di bulan Ramadhan dan Syaaban, atau di tempat-tempat khusus seperti Makkah, Raudhah dan lain
sebagainya. Syaikh Ibnu Rajab Al-Hanbali meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu Anhu: Kaum muslimin ketika memasuki
bulan Syaaban, mereka menekuni pembacaan ayat-ayat Al-Quran dan mengeluarkan Zakat untuk membantu orangorang yang lemah dan miskin agar mereka bisa menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan. Dalam Hadits disebutkan
bahawa ketika Sahabat, Usamah bin Zaid Radhiyallahu Anhu bertanya tentang puasa di bulan Syaban, maka Nabi
bersabda:


:

x :


(







) .

Usamah bin Zaid telah menceritakan kepadaku, dia berkata, saya bertanya: Ya Rasulullah saya tidak pernah
melihat anda berpuasa pada suatu bulan dari bulan-bulan yang ada sebagaimana mana anda berpuasa pada bulan
Syaaban? Maka beliau bersabda: Bulan Syaaban adalah bulan yang dilupakan kebanyakan manusia kerana bulan
yang terletak di antara bulan Rejab dan bulan Ramadhan. Padahal di bulan Syaaban, amal semua Ummat manusia
dalam setahun dilaporkan kepada Allah Rabbul-Alamin, maka aku senang berharap ketika amalku itu dilaporkan di
waktu aku sedang berpuasa. [Hadits Hasan, diriwayatkan oleh An-Nasai (2357) dalam Sunan An-Nasai, Malik dalam
Al-Muwaththa riwayat Muhammad bin Al-Hasan (372), Ahmad (21801), Ibnu Abi Syaibah (9765), Al-Baihaqi dalam
Syuabul-Iman (3820), An-Nasai dalam Sunan An-Nasai Al-Kubra (2666)]
Diriwayatkan pula dalam hadits yang lain Aisyah

mengatakan:

. :






)
(

Dari Aisyah
ia telah berkata: Adalah Rasulullah jika berpuasa sampai kami mengatakan tidak pernah
berbuka dan jika sedang tidak berpuasa sampai kami mengatakan tidak pernah berpuasa. Aku tidak melihat
Rasulullah menyempurnakan puasanya satu bulan penuh kecuali puasa di bulan Ramadhan dan aku tidak melihat
di suatu bulan yang paling banyak digunakan oleh Rasulullah untuk berpuasa kecuali di bulan Syaaban. [AlBukhari (1868), Muslim (1156), Abu Dawud (2434), Ahmad (24801), Ibnu Hibban (3648), Al-Baihaqi dalam As-Sunan
Al-Kubra (8245), An-Nasai dalam Sunan An-Nasai Al-Kubra(2660)]