Anda di halaman 1dari 46

ABSTRAK

S o d i g : Pascasarjana Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya. Analisis


Efisiensi Belanja Langsung Pendidikan dan Kesehatan di Kabupaten Barito Utara. Ketua
Pembimbing: Maryunani, Komisi Pembimbing : Dwi Budi Santoso.
Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi tingkat efisiensi alokasi anggaran
belanja pendidikan dan kesehatan di Pemerintah Daerah Kabupaten Barito Utara.
Metode analisis yang digunakan adalah efisiensi frontier anggaran yang
didasarkan pada teori produksi, pengukuran nilai efisiensi diperoleh dengan
menggunakan metode analisis Stochastic Production Frontier (SPF), dimana dengan
metode Stochastic Production Frontier (SPF) nilai efisiensi yang diperoleh berupa efisiensi
anggaran secara absolut.
Wawancara langsung terhadap masyarakat di Kabupaten Barito Utara sebagai
pengguna jasa pemerintah terhadap pelayanan publik, secara umum sarana dan
prasarana sudah baik, yang perlu diperhatikan yaitu tingginya biaya pendidikan dan
kesehatan sehingga sangat membebani masyarakat.
Penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum pengelolaan anggaran belanja
langsung pendidikan dan kesehatan di Kabupaten Barito Utara sebelum pemekaran
masih kurang efisien, sedangkan sesudah pemekaran terjadi peningkatan tingkat efisien
lebih baik.
Faktor faktor yang mempengaruhi tingkat efisiensi anggaran belanja langsung
pendidikan dan kesehatan di Kabupaten Barito Utara terhadap pengelolaan anggaran
pendidikan dan kesehatan yaitu : sumber daya manusia, kebijakan pemerintah, sarana
dan prasarana serta faktor kondisi alam di Kabupaten Barito Utara.

Kata kunci : Efisiensi Frontier, Anggaran Pendidikan dan Kesehatan, Pelayanan


Publik.

ABSTRACT

Sodig: Graduate School of Economics UB. Direct Expenditure Efficiency Analysis


of Education and Health in North Barito regency. Chief Editor: Maryunani, Commission
Advisor: Dwi Budi Santoso.
This study aims to estimate the level of efficiency of budget allocations for
education and health in North Barito regency.
The analytical method used is the efficiency frontier budget based on production
theory, the measurement of the efficiency value is obtained by using analytical methods
Stochastic Production Frontier (SPF), where the method of Stochastic Production Frontier
(SPF) value of efficiency obtained in the form of budget efficiency in absolute terms.
Interview directly to the society in North Barito regency as users of government
services to the public service, generally have good facilities and infrastructure, to note are
the high cost of education and health so it is a burden on society.
This study shows that in general direct budget management of education and
health in North Barito regency before the division is still less efficient, whereas after the
splitting of an increase in the level of efficiency is better.
Factors that influence the level of efficiency of direct spending of education and
health in North Barito regency of budget management of education and health, namely:
human resources, government policies, facilities and infrastructure and the natural
condition factors in North Barito regency.

Keywords: Efficiency Frontier, Budget and Health Education,


Public Service.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berdasarkan
Undang
Undang-Undang
Nomor 32 tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah dan UndangUndang
Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang
Perimbangan
Keuangan
antara
Pemerintah
Pusat
dan
Daerah,
Pemerintah Pusat dengan Daerah
merupakan satu kesatuan yang tidak
dapat
dipisahkan
kan
dalam
upaya
penyelenggaraan pemerintahan dan
pelayanan masyarakat.
Semangat
emangat
desentralisasi,
demokratisasi,
transparansi
dan
akuntabilitas menjadi sangat dominan
dalam
mewarnai
proses
penyelenggaraan
pemerintah
pada
umumnya dan proses pengelolaan
keuangan
gan daerah pada khususnya.
Dengan
pengaturan
tersebut
diharapkan terdapat keseimbangan
yang lebih transparan dan akuntabel
dalam pendistribusian kewenangan,
pembiayaan dan penataan sistem
pengelolaan keuangan yang lebih baik
dalam
mewujudkan
pelaksanaan
otonomi
onomi daerah secara optimal sesuai
dinamika dan tuntutan masyarakat
yang berkembang.
Peraturan Pemerintah Nomor 58
tahun 2005 tentang Pengelolaan

Keuangan Daerah, dimana kebijakan


pengelolaan
keuangan
daerah
mempunyai sasaran agar pengeluaran
pemerintah
h dapat teridentifikasi dengan
jelas dan terukur mengenai sesuatu
yang ingin dicapai dalam satu tahun
anggaran. Sasaran yang ingin dicapai
tersebut dituangkan dalam APBD yang
memuat rencana keuangan yang
diperoleh dan digunakan Pemerintah
Daerah dalam rangka
ka melaksanakan
tugas pemerintahan dan memberikan
pelayanan kepada masyarakat.
Adapun di dalam belanja daerah,
pembiayaan terbagi dua belanja tidak
langsung dan belanja langsung, belanja
tidak langsung merupakan belanja yang
untuk kegiatan rutin seperti belanja
be
pegawai sedangkan untuk belanja
langsung
merupakan
investasi
pemerintah daerah untuk peningkatan
pembangunan secara umum.
Sejalan dengan era otonomi
daerah, belanja daerah terus mengalami
peningkatkan
sesuai
esuai
dengan
penyediaan dana dalam Anggaran
A
Pendapatan dan Belanja Daerah
aerah (APBD)
Kabupaten Barito Utara seperti pada
gambar 1.1
di bawah ini :

Gambar.1.1
Besarnya jumlah total APBD Kabupaten Barito Utara
Tahun 2003 2008
504,800,747,071
395,401,266,495
330,967,770,621
198,166,186,102
188,346,109,737
172,936,160,472
2003

2004

2005

2006

Sumber data : Perda APBD 2003-2008


200
Kab.Bariro Utara

2007

2008

Berdasarkan gambar 1.1 diatas


memperlihatkan
bahwa
ada
peningkatan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD) Kabupaten
Barito Utara. Sejauh
jauh mana, peningkatan
belanja daerah mampu diikuti oleh
pengelolaan anggaran yang efisien
sesuai
suai dengan tuntutan peningkatan
taraf hidup masyarakat Barito Utara
secara umum.
Besarnya komitmen pemerintah
daerah dalam menyediakan layanan
publik melalui pengeluaran belanja
pemerintah daerah
ah bidang pendidikan
dan kesehatan. Pelayanan publik yang
maksimal seharusnya menjadi tujuan
dari dana yang dibelanjakan oleh
pemerintah
daerah.
Dana
yang
dibelanjakan untuk mencapai sasaran

pembangunan menjadi permasalahan


penting dalam alokasi pengeluaran
pengeluara
pemerintah daerah.
Walaupun
demikian
dalam
penyelenggaran
belanja
elanja
langsung
pendidikan dan kesehatan di Kabupaten
Barito Utara, perlu dilihat kesesuaian
pelaksanaannya dengan kaidah-kaidah
kaidah
pengelolaan anggaran secara efisien.
Terjadinya
kenaikan
Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)
Kabupaten Barito Utara
a sejauh mana
tingkat efisiensi terhadap pengelolaan
anggaran belanja pendidikan dan
kesehatan dengan adanya peningkatan
anggaran. Hal ini dapat dilihat pada
gambar 1.2 sebagai berikut.

Gambar.1.2
Besarnya jumlah belanja pendidikan dan belanja kesehatan
Kabupaten Barito Utara
Tahun 2003 2008
33,310,529,050
25,783,330,500
24,448,134,405
19,381,140,198
12,465,532,000
7,976,720,058
6,428,368,000
9,817,263,500
4,941,550,000
4,727,968,730
3,670,500,000
3,235,011,000
2003

2004
2005
Bel.Pendidikan

2006

2007
Bel.Kesehatan

2008

Sumber data : Perda APBD 2003-2008


200
Kab.Bariro Utara
dengan Terjadinya peningkatan alokasi
anggaran pendidikan dan kesehatan
sejauh mana dalam pengelolaannya
terhadap tingkat efisiensi alokasi
anggaran pendidikan dan kesehatan
guna memaksimalkan input terhadap
output
yang
dihasilkan.
Dalam
program/kegiatan tujuan pemerintah
daerah
h adalah untuk memaksimalkan
hasil dari keluaran anggaran dalam
pelaksanaan
pembangunan
pembangunan,
hasil
pembangunan yang maksimal berkaitan
erat
dengan
efisiensi
dalam

pelaksanaannya. Proses pelaksanaan


tidak efisien dapat disebabkan karena :
1. Secara teknis tidak efisien, hal ini
disebabkan karena ketidakberhasilan
pemerintah dalam mewujudkan
pelaksanaan yang maksimal, artinya
input anggaran yang dikeluarkan
tidak dapat menghasilkan output
yang
telah
ditetapkan
yang
maksimal.
2. Secara alokatif tidak efisien karena
pada
tingkat
anggaran
input
(masukan) dan output (keluaran)
tertentu, proporsi penggunaan input

tidak optimum. Hal ini terjadi karena


produk
penerimaan
marjinal
(Marginal Revenue Product) tidak
sama
dengan
biaya
marjinal
(Marginal
Cost)
input
yang
digunakan.
Secara empiris pemerintah daerah
adalah sebagai pelayan masyarakat
dalam menyiapkan anggaran masukan
(input) maupun keluaran (output) karena
sangat
jarang
dijumpai
dalam
pelaksanaan
pembangunan
bisa
teroganisasi antara pemerintah daerah
yang satu dengan sama pemerintah
daerah yang lain karena setiap
pemerintah
daerah
mempunyai
kebijakan anggaran yang berbeda-beda
disesuaikan dengan kebutuhan daerah.
Dengan latar belakang seperti itu, dalam
program/kegiatan orientasi Pemerintah
Daerah dalam suatu pelaksanaan
pembangunan daerah yang relatif
homogen cenderung mengejar efisiensi
teknis yang dalam pelaksanaannya
diterjemahkan
sebagai
upaya
memaksimalkan hasil pembangunan.
Dalam menyiapkan Rencana
Kerja Pemerintah Daerah, Pemerintah
telah mengeluarkan Kebijakan yaitu
Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun
2008 tentang Tahapan Tata Cara
Penyusunan,
Pengendalian
dan
Evaluasi
Pelaksanaan
Rencana
Pembangunan
Daerah.
Yang
disesuaikan dari Peraturan Pemerintah
Nomor 58 tahun 2005 tentang
Pengelolaan Keuangan Daerah.
Menggunakan analisis standar
belanja, standar satuan harga dan
standar pelayanan minimal anggaran
berdasarkan prestasi kerja diharapkan
dapat mengoptimalkan penggunaan
dana masyarakat yang selama ini dinilai
cenderung lebih besar untuk belanja
publik. Penjelasan Permendagri tersebut
mengisyaratkan semua pengeluaran
daerah dalam rangka pelaksanaan
desentralisasi fiskal dilakukan sesuai
jumlah dan sasaran yang ditetapkan

dalam APBD, sehingga APBD menjadi


dasar bagi kegiatan pengendalian,
pemeriksaan
dan
pengawasan
keuangan daerah.
Mengkaji
persoalan
tentang
pelaksanaan
anggaran
sebenarnya
adalah mengkaji masalah efisiensi teknis
karena ukuran penyediaan anggaran
pada hakekatnya menunjukkan pada
seberapa besar keluaran (output) dapat
dihasilkan per unit masukan (input)
tertentu. Jika faktor hasil diasumsikan
output, efisiensi teknis pada akhirnya
menentukan hasil pembangunan yang
diterima pemerintah/masyarakat.
Penyusunan
APBD
bertujuan
penyediaan anggaran lebih berorientasi
pada
kepentingan
publik
dan
memenuhi prinsip transparansi, dan
akuntabilitas. Maka untuk menyusun
anggaran pendapatan dan belanja
daerah yang memenuhi azas tertib,
transparansi, akuntabilitas, konsistensi,
komparabilitas, akurat dapat dipercaya
dan mudah dimengerti, sesuai dengan
tahapannya maka disusun Kebijakan
Umum APBD, prioritas dan plafon
anggaran sementara yang selanjutnya
menjadi pedoman bagi perangkat
daerah dalam menyusun usulan
program. Kegiatan dan anggaran yang
disusun berdasarkan prinsip-prinsip
anggaran prestasi kerja dan dituangkan
dalam rencana kerja dan anggaran
(RKA)
SKPD
dengan
mempertimbangkan kondisi ekonomi
dan keuangan daerah.
Pengembangan pembangunan di
Kabupaten Barito Utara juga perlu
memperhatikan kondisi tingkat efisiensi
teknis. Dalam praktek pelaksanaan
dilapangan, Pemerintah Daerah hanya
akan menyadari hakekat efisiensi teknis
hanya jika inefisiensi (in-effeciency)
yang
dialaminya
secara
nyata
mengakibatkan kerugian yang terukur.
Pemerintah Daerah meningkatkan
alokasi anggaran belanja langsung yang
memenuhi kebutuhan masyarakat luas,

menunjang usaha-usaha produktif dan


mempunyai multiplier effect luas serta
berjangka panjang dan dihindari untuk
belanja yang bersifat konsumtif karena
mengingat efisiensi anggaran sa,at ini
sangat penting. Belanja langsung yang
hasil, manfaat dan dampaknya untuk
publik disesuaikan dengan kemampuan
pemerintah daerah.
Pembentukan
pemekaran
Kabupaten Murung Raya adalah untuk
mewujudkan peningkatan pelayanan
pemerintah daerah kepada masyarakat
Kabupaten Murung Raya, diharapkan
dengan adanya pemekaran wilayah di
ikuti dengan pelayanan pemerintah
lebih terfokus salama ini Kabupaten
Barito Utara memiliki wilayah yang
sangat luas 32.000 Km. Pemekaran
kabupaten di Provinsi Kalimantan
Tengah berdasarkan Undang Undang
Nomor 5 Tahun 2002, tentang
Pembentukan Kabupaten Murung Raya,
Kabupaten
Seruyan,
Kabupaten
Sukamara,
Kabupaten
Lamandau,
Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten
Pulang Pisau, Kabupaten Murung Raya,
dan Kabupaten Barito Timur.
Pemekaran wilayah Kabupaten
Barito Utara bertujuan meningkatkan
pelayanan publik akan difokuskan

kepada pelayanan bidang pendidikan,


kesehatan. Namun harus diingat bahwa
dalam waktu yang relatif singkat (6
tahun setelah pemekaran) bisa jadi
belum terlihat perubahan yang berarti
dalam capaian (outcome) kinerja
pelayanan publik ini. Karena itu
indikator kinerja pelayanan publik akan
lebih menitikberatkan perhatian pada
sisi input pelayanan publik itu sendiri.
Selama ini Kabupaten Barito Utara
memiliki wilayah cukup luas yaitu
32.000 Km dengan 11 kecamatan
sebelum
pemekaran
wilayah,
sedangkan setelah pemekaran wilayah
Kabupaten Barito Utara memiliki luas
wilayah
8.300 Km dengan 6
kecamatan 98 desa 10 kelurahan.
Sedangkan Kabupaten Murung Raya
hasil pemekaran wilayah memiliki luas
wilayah
23.700 Km dengan 5
kecamatan.
Meningkatkan akuntabilitas serta
memperjelas efektivitas dan efisiensi
penggunaan alokasi anggaran belanja
langsung dengan penyusunan rencana
anggaran
belanja
berdasarkan
pendekatan anggaran kinerja yang
berorientasi pada pencapaian hasil dari
input yang direncanakan.

1.2

belanja pendidikan dan kesehatan di


Pemerintah Kabupaten Barito Utara,
dalam pelaksanaan program/kegiatan
pembangunan guna
meningkatkan
kesejahteraan masyarakat Barito Utara
khususnya dan Kalimantan Tengah
pada umumnya.

Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar
belakang di atas, maka permasalahan
dapat dirumuskan sebagai berikut ;
1. Seberapa besar tingkat efisiensi
pendidikan dan kesehatan sebelum
dan sesudah pemekaran seiring
dengan peningkatan anggaran ?.
2. Faktor-faktor
apa
saja
yang
mempengaruhi
yang
dominan
terhadap tingkat efisiensi alokasi
anggaran
pendidikan
dan
kesehatan ?
Berdasarkan permasalahan di
atas, maka penelitian ini penting untuk
dilakukan sebagai upaya meningkatkan
efisiensi pengelolaan alokasi anggaran

1.3

Tujuan Penelitian
Berdasaran latar belakang serta
rumusan masalah penelitian di atas,
maka tujuan penelitian adalah sebagai
berikut.
1. Mengestimasi
tingkat
efisiensi
alokasi anggaran pendidikan dan
kesehatan sebelum dan sesudah
pemekaran.

2. Mengidentifikasi faktor-faktor yang


mempengaruhi dan variabel yang
dominan berpengaruh terhadap
tingkat efisiensi alokasi anggaran
belanja langsung pendidikan dan
kesehatan.
1.4

Manfaat Penelitian.
Manfaat yang diharapkan dari
hasil penelitian ini adalah dapat
memberikan kontribusi nyata bahwa
belanja langsung dapat lebih efisiensi
dalam perencanaan penganggaran di
Kabupaten Barito Utara secara khusus
dan
Kalimantan
Tengah
pada
umumnya;
1. Sebagai
bahan
acuan
dan
pertimbangan
serta
sumbangan

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1.
2.1.1

Kajian Teori
Efisiensi: Makna Dan
Pengukuran

Ilmu ekonomi mempelajari


teori alokasi harga, di mana harga
mengalokasikan sumberdaya pelaku
ekonomi secara optimal. Permasalahan
produsen
adalah
mengalokasikan
sumberdayanya, dengan kendala yang ada
secara optimal (efisien), sehingga
menghasilkan output yang maksimum
(Sunaryo, 2001). Permasalahan tersebut
merupakan bidang kajian kaidah alokasi
optimal
dalam
teori
produksi.
Pemahaman yang mendalam terhadap
kaidah-kaidah alokasi optimal pada
proses produksi dapat memudahkan
produsen
dalam
mengidentifikasi
karakteristik-karakteristik
alokasi
optimalnya, sehingga inefisiensi dalam
proses produksi bisa diketahui dan
diperbaiki.
Efisiensi
merupakan
perbandingan antara output dengan
input atau dengan istilah lain output per
unit input (Mahmudi, 2007). Suatu
organisasi apabila mampu

pemikiran
kepada
Pemerintah
Kabupaten Barito Utara bahwa
dengan teridentifikasinya faktor
kendala dan solusi, maka diharapkan
dalam penyusunan APBD terutama
belanja langsung yang lebih efisien.
2. Penelitian ini diharapkan dapat
dijadikan sebagai bahan referensi
dan
tambahan khasanah pustaka
bagi
penelitian
selanjutnya
khususnya
penelitian
tentang
efisiensi
belanja
langsung
Pemerintah Kabupaten Barito Utara,
khususnya didalam penetapan skala
prioritas pemerintah daerah dalam
pengalokasian anggaran
belanja
langsung pendidikan dan kesehatan.

menghasilkan output tertentu dengan


input serendah-rendahnya, atau dengan
input tertentu mampu menghasilkan
output sebesar-besarnya (spending well).
Efisiensi dapat dijelaskan melalui
hubungan antar faktor input yang terbatas
(scarce) dan output yang dihasilkan.
Hubungan ini pada dasarnya dapat
dievaluasi melalui sudut pandang efisiensi
ekonomis (economic efficiency) dan efisiensi
teknis (technical efficiency). Efisiensi
ekonomis atau efisiensi biaya berkaitan
dengan penentuan kombinasi inputinput
optimal
yang
dapat
merninimumkan
biaya
produksi
suatu tingkat output tertentu.
Efisiensi menurut (Mardiasmo
(2004) adalah Tercapainya Output
dengan
Input
tertentu.
Efisiensi
merupakan
perbandingan
Output
dengan Input yang dikaitkan dengan
standar kinerja yang telah ditetapkan.
Efisiensi juga didefinisikan hubungan
antara input dan output. Efisiensi
merupakan ukuran apakah penggunaan
barang dan jasa yang dibeli oleh
organisasi untuk mencapai output
tertentu. Efisiensi juga mengandung
beberapa pengertian antara lain :

1. Efisiensi pada sektor usaha swasta


(private sector efficiency), dijelaskan
dengan konsep input output yaitu
rasio output dan input;
2. Efisiensi pada sektor pelayanan
masyarakat (public sector efficiency)
adalah
suatu
kegiatan
yang
dilakukan dengan baik dengan
pengorbanan seminimal mungkin;
3. Suatu kegiatan dikatakan telah
dikerjakan
secara
efisien
jika
pelaksanaan pekerjaan tersebut telah
mencapai sasaran (output) dengan
biaya (input) yang terendah atau
dengan biaya (input) minimal
diperoleh
hasil
(output)
yang
diinginkan.
Lebih lanjut Mardiasmo (2009)
menyatakan bahwa rasio efisiensi tidak
dinyatakan dalam bentuk absolute
tetapi dalam bentuk relatif, misalnya
unit A lebih efisien tahun ini bila
dibandingkan dengan tahun lalu.
Sehingga semakin kecil rasio efisiensi
maka kinerja pemerintah bisa dikatakan
semakin efisien.
Perlu
diperhatikan
bahwa
acuan optimal (efisien) dalam
alokasi sumberdaya (input) adalah
alokasi optimal ala Pareto (Pareto efficient
allocation). Kondisi ini dicirikan
dengan:
produsen
tidak
mempunyai
insentif
untuk
merealokasikan
sumberdayanya,
misalnya dengan mengurangi faktor
produksi
yang
satu
kemudian
menambah faktor produksi yang lain.
Dalam kondisi optimal, jika produsen
melakukan realokasi sumberdaya,
outputnya akan lebih rendah dari
kondisi awalnya. Kondisi optimal ini
mengindikasikan bahwa tidak ada lagi
insentif
bagi
produsen
untuk
melakukan
adjustments
dalam
mengalokasikan sumberdayanya.
Menurut Cooper et al. (2000),
efisiensi berdasarkan Extended ParetoKoopmans Definition mengandung
makna bahwa efisiensi sempurna

(100%) dapat dicapai oleh suatu unit jika


dan hanya jika tidak satupun dari input
rnaupun outputnya dapat diperbaiki
tanpa mengurangi sejumlah input
atau outputnya yang lain. Dalam
praktiknya, tingkat efisiensi secara
teori yang memungkinkan tidak
akan dapat diketahui karena fungsi
produksi suatu unit tidak diketahui.
Karena itu diperlukan definisi
efisiensi dengan memperhitungkan
informasi
empiris yang tersedia,
sehingga definisi efisiensi ala pareto
efficient allocation tersebut disesuaikan
menjadi
efisiensi
relatif
dengan
melakukan estimasi "isokuan efisiensi"
dari sampel unit-unit dalam industri yang
dianalisis. Sehingga suatu unit dikatakan
100% efisien, jika kinerja dari unit-unit
yang lain tidak menunjukkan bahwa
input dan outputnya dapat diperbaiki
tanpa mengurangi sejumlah input dan
outputnya yang lain.
Pendekatan yang dilakukan oleh
Farrel (1957) untuk membandingkan
efisiensi relatif dengan sampel petani
secara cross section, meskipun hanya
terbatas pada satu output yang
dihasilkan oleh masing-masing unit
sampel. Fase kedua adalah mulai
diperkenalkan konsep efisiensi alokasi
yang membawa pada dikenalnya
konsep batas biaya (cost frontier)
disamping konsep batas produksi
(production frontier). Fase ketiga adalah
perkembangan lebih lanjut dari konsep
cost frontier yaitu pemanfaatan input
dan atau output sebagai variabel
kebijakan yang bisa dipilih secara
optimal oleh unit pelaku ekonomi ketika
menghadapi harga pasar dalam pasar
persaingan sempurna atau tidak
sempurna.
Menurut Farrell (1957) dalam
Coelli (1996), efisiensi perusahaan
terdiri dari dua komponen, yakni
efisiensi
teknis
(technical
efficiency)
yang
mencerminkan
kemampuan suatu perusahaan untuk

mencapai tingkat output maksimal dari


input-input yang tersedia, dan price
efficiency/allocative
efficiency
yang
mencerminkan kemampuan
suatu
perusahaan
untuk
menggunakan
input- input dalam proporsi yang
optimal, dengan kendala harga dari
masing-masing
input.
Kedua
pengukuran ini kemudian dapat
digabungkan untuk menghasilkan
suatu ukuran total efisiensi ekonomis
(economic efficiency/overall efficiency)
DEA merupakan alat analisis yang
digunakan untuk mengukur efisiensi
antara lain untuk penelitian kesehatan
(healt care), pendidikan (education),
transportasi, pabrik (manufacturing),
maupun perbankan. Ada tiga manfaat
yang diperoleh dari pengukuran
efisiensi dengan DEA (Insukindro dkk,
2000), pertama, sebagai tolok ukur
untuk memperoleh efisiensi relatif yang
berguna
untuk
mempermudah
perbandingan antara unit ekonomi yang
sama. Kedua, mengukur berbagai
variasi efisiensi antar unit ekonomi
untuk mengidentifikasi faktor-faktor
penyebabnya dan ketiga, menentukan
implikasi kebijakan sehingga dapat
meningkatkan tingkat efisiensinya.
Siagian,
Sondang
P.
(1984)
menyebutkan
Efisiensi
adalah
perbandingan terbalik antara suatu
kegiatan dengan hasilnya menurut
definisi ini efisiensi terdiri atas dua
unsure yaitu kegiatan dan hasil dari
kegiatan tersebut. Kedua unsur ini
masing-masing dapat dijadikan pangkal
untuk mengembangkan pengertian
efisiensi berikut :
a. Unsur kegiatan yaitu suatu kegiatan
dianggap mewujudkan efisiensi
kalau suatu hasil tertentu tercapai
dengan kegiatan terkecil. Unsur
kegiatan terdiri dari lima sub unsure
yaitu pikiran, tenaga, bahan, waktu
dan ruang.
b. Unsur hasil yaitu suatu kegiatan
dianggap mewujudkan efisiensi

kalau dengan suatu kegiatan tertentu


mencapai hasil yang terbesar unsure
hasil terdiri dari dua sub unsure
yaitu jumlah (kwantitas) dan mutu
(kwalitas).
Efisiensi
merupakan
sebuah
konsep yang bulat pengertiannya dan
utuh jangkauannya. Hal ini berarti bagi
efisiensi tidak tepat dibuat tingkattingkat perbandingan derajat, seperti
lebih efisienatau paling efisien
Efisiensi adalah perbandingan terbalik
diantara dua unsur kegiatan dan
hasilnya. Oleh karena itu tidaklah
mungkin dikatakan perbandingan yang
lebih lebih atau paling terbaik
kemungkinannya adalah efiesiensi dan
nonefisiensi.
Sedangkan
efisiensi
produksi
menggambarkan
besarnya
biaya/
beban/pengorbanan
yang
harus
dibayar/harus
ditanggung
untuk
mengahasilkan
output.
Banyak
sedikitnya kuantitas input yang harus
dipakai untuk menghasilkan output
menentukan suatu keadaan efisiensi.
Efisiensi diartikan sebagai ketetapan
dan kemampuan menjalankan suatu
usaha/kerja
dengan
tidak
mengorbankan waktu, tenaga dan
biaya, (Prakosa, 2003). Efisiensi juga
diartikan sebagai perbandingan antara
masukan (input)
dengan keluaran
(output). Efisiensi merupakan ukuran
apakah penggunaan barang dan jasa
yang dibeli oleh organisasi untuk
mencapai output tertentu.
Efisiensi pada sektor pelayanan
masyarakat (public sector efficiency)
adalah suatu kegiatan yang dilakukan
dengan baik dengan pengorbanan
seminimal mungkin, suatu kegiatan
dikatakan telah dikerjakan secara
efisien jika pelaksanaan pekerjaan
tersebut telah mencapai sasaran
(output) dengan biaya (input) yang
terendah atau dengan biaya (input)
minimal diperoleh hasil (output) yang
diinginkan.
Pengukuran
efisiensi

berguna sebagai tolak ukur untuk


memperoleh efisiensi relative, dan
informasi mengenai efisiensi memiliki
implikasi kebijakan karena pimpinan
dapat menentukan kebijakan suatu
organisasi secara tepat.
Secara umum konsep efisiensi itu
ada 4 (empat) macam, yaitu :
1. Technical
efficiency,
adalah
penggunaan unsur-unsur produksi
tertentu untuk mencapai produksi
yang maksimum atau pencapaian
produksi
tertentu
dengan
menggunakan sejumlah factor
produksi yang minimum.
2. Economic Efficiency, adalah usaha
mengadakan penyebaran atau
alokasi sumber ekonomis dan
penyebaran barang dan jasa
dengan sebaik baiknya sesuai
dengan keinginan masyarakat.
3. Private
Efficiency,
efisiensi
perusahaan adalah usaha untuk
mencapai hasil penerimaan yang
sebesar-besarnya.
4. Social
Efficiency,
adalah
penggunaan
sumber-sumber
ekonomis dengan memberikan
kemanfaatan yang maksimum dan
adil bagi masyarakat. Apa yang
dianggap efisien bagi perusahaan
belum tentu efisien menurut
ukuran social, (Ensiklopedi Umum
Indonesia, 1987)
Pengukuran
efisiensi
dapat
dilakukan tanpa tolok ukur atau dengan
tolok ukur. Untuk pengukuran efisiensi
yang dilakukan tanpa tolok ukur, maka
dapat dilihat dari : segi hasil, bila
dengan pengorbanan yang sama dapat
dicapai hasil yang lebih tinggi; segi
pengorbanan, bila dengan hasil yang
sama diperlukan pengorbanan yang
lebih sedikit. Sedangkan pengukuran
efisiensi yang dilakukan dengan tolok
ukur, maka dapat dilihat dari; segi hasil,
bila dengan membandingkan antara
hasil riil yang dapat dicapai seseorang
dengan hasil standar minimumnya; segi

pengorbanan, bila dengan pengorbanan


riil yang diberikan seseorang dengan
standar
pengorbanan
maksimum,
(Daud dalam Halim, 2004)
Efisiensi
dapat
didefinisikan
sebagai perbandingan antara keluaran
(output) dengan masukan (input), atau
jumlah keluaran yang dihasilkan dari
satu input yang dipergunakan. Suatu
perusahaan dapat dikatakan efisien
menurut Syafaroedin Sabar, (1989) (1)
Mempergunakan jumlah unit input
yang lebih sedikit dibandingkan dengan
jumlah input yang dipergunakan oleh
perusahaan lain dengan menghasilkan
jumlah
output
yang
sama,
(2)
Menggunakan jumlah unit input yang
sama, dapat menghasilkan jumlah
output yang lebih besar.
Untuk menentukan apakah suatu
kegiatan dalam organisasi itu termasuk
efisien atau tidak maka prinsip-prinsip
atau
persyaratan
efisiensi
harus
terpenuhi,yaitu sebagai berikut. (Ibnu
Syamsi, 2004): (1) Efisiensi harus dapat
diukur, (2)Efisiensi mengacu pada
pertimbangan rasional, (3) Efisiensi
tidak
boleh mengorbankan kualitas,
(4)
Efisiensi
merupakan
teknis
pelaksanaan
(5) Pelaksanaan
efisiensi harus disesuaikan dengan
kemampuan
organisasi
yang
bersangkutan, (6) Efisiensi itu ada
tingkatannya, bisa dengan prosentase.
Menurut Shone Rinald (1981)
efisiensi
merupakan
perbandingan
output dan input berhubungan dengan
tercapainya output maksimum dengan
sejumlah input, yang berarti jika ratio
output input besar maka efisiensi
dikatakan semakin tinggi. Dapat
dikatakan bahwa efisiensi adalah
penggunaan input yang terbaik dalam
memproduksi output.
Menurut Kost dan Rosenwig (1979)
dalam Etty Puji Lestari (2001), efisiensi
adalah rasio antara output dan input,
sedangkan menurut Dinc dan Haynes
(1999) efisiensi merupakan seluruh

kriteria penting dalam menentukan


seberapa besar input yang digunakan
untuk menghasilkan output yang
diinginkan.
Ada tiga faktor yang menyebabkan
efisiensi (Kost dan Rosenwig, 1979
dalam Etty Puji Lestari, 2001) yaitu
apabila dalam input yang sama
menghasilkan output yang lebih besar,
dengan input yang lebih kecil
menghasilkan output yang sama dan
dengan input yang besar menghasilkan
output yang lebih besar.
Ditinjau dari teori ekonomi, ada
dua pengertian efisiensi, yaitu efisiensi
teknis dan efisiensi ekonomi. Efisiensi
ekonomis mempunyai sudut pandang
makro yang mempunyai jangkauan
lebih luas dibandingkan efisiensi teknis
yang
bersudut
pandang
mikro.pengukuran
efisiensi
teknis
cenderung terbatas pada hubungan
teknis dan operasional dalam proses
konversi
input
menjadi
output.
Akibatnya, usaha untuk meningkatkan
efisiensi teknis hanya memerlukan
kebijakan mikro yang bersifat internal,
yaitu dengan pengendalian dan alokasi
sumber daya yang optimal. Harga
dalam efisiensi ekonomis tidak dapat
dianggap given, karena harga dapat
dipengaruhi oleh kebijakan makro
(Sarjana,1999).
Dalam
meminimumkan
biaya
produksi sejumlah output tertentu,
harus dipilih kombinasi input yang
membebani biaya minimum (Least Cost
Combination). Kombinasi ini terjadi pada
saat kurva isocost menyinggung kurva
produksi sama atau isokuan. Isokuan
yaitu kurva yang menggambarkan
gabungan dari faktor produksi yang
digunakan yang dapat menghasilkan
satu
tingkat
produksi
tertentu
(Nicholson,1995).
Persinggungan antara isokuan dan
isocost menunjukkan keseimbangan
produsen.
Keseimbangan
tersebut
tercapai apabila efisiensi teknis dan

efisiensi ekonomis sama. Isokuan


menggambarkan kemampuan (kendala)
produsen secara ekonomis, maka
keseimbangan produsen dicapai melalui
penggabungan efisiensi teknis dengan
efisiensi ekonomis.
2.1.2 Fungsi Produksi dan Efisiensi
Produksi merupakan hasil akhir
dari proses atau aktivitas ekonomi
dengan
memanfaatkan
beberapa
masukan atau input. Dengan pengertian
ini
dapat
dipahami
bahwa
program/kegiatan
adalah
mengkombinasi
sebagai
input
(masukan) untuk menghasilkan output.
Hubungan teknis antara input dengan
output
tersebut
dalam
bentuk
persamaan, tabel atau grafik merupakan
fungsi produksi (Salvatore, 1995).
Fungsi produksi Cobb-Douglas
adalah suatu fungsi atau persamaan
yang melibatkan dua atau lebih
variabel, yang satu disebut dengan
variabel dependen, yang dijelaskan (Y)
dan yang lain disebut variabel
independen, yang menjelaskan (X)
(Soekartawi, 2003).
Nicholson
(1995)
menyatakan
bahwa fungsi produksi dimana =1
(elastisitas substitusi) disebut fungsi
produksi
Cobb-Douglas
dan
menyediakan bidang tengah yang
menarik antara dua kasus extrim. Kurva
produksi sama untuk kasus CobbDouglas memiliki bentuk cembung
yang
normal,
seperti
Gambar
dibawah ini.
Gambar 2.1
Kurva produksi sama untuk fungsi
produksi dengan nilai =1

Sumber : Nicholson, Walter, 1995

Secara matematis fungsi produksi


Cobb-Douglas adalah sebagai berikut :
Q=f(K,L)=AKaLb..................... (2.1)
dimana A, a dan b adalah konstanta dan
koefisien positif.
Menurut Taken dalam Kusmantoro
Edy S et.al. (1992), menyatakan bahwa
besarnya produksi yang dapat dicapai
oleh pemerintah ditentukan oleh
efisiensi
penggunaan
unsur-unsur
produksi seperti tanah, modal dan
pengelolaannya. Pengamatan tentang
efisiensi usaha tani, tidak hanya
merupakan suatu bidang penelitian
ekonomi
pertanian,
tetapi
juga
merupakan suatu bagian penting dari
kebijakan pengembangan pertanian
yang dilakukan dibeberapa negara
sedang berkembang.
Soekartawi (2003) menyatakan
bahwa penyelesaian fungsi CobbDouglas selalu dilogaritmakan dan
diubah bentuk fungsinya menjadi
fungsi linier. Beberapa persyaratan yang
harus dipenuhi antara lain :
a. Tidak ada nilai pengamatan yang
bernilai nol, sebab logaritma dari 0
adalah suatu bilangan yang tidak
diketahui besarnya (infinite);
b. Dalam fungsi produksi, perlu asumsi
bahwa
tidak
ada
perbedaan
teknologi pada setiap pengamatan
(non neutral difference in the respective
technologi). Ini artinya, kalau fungsi
Cobb-Douglas yang dipakai sebagai
model dalam suatu pengamatan dan
bila
diperlukan
analisa
yang
merupakan lebih dari suatu model,
maka perbedaan model tersebut
terletak pada intercept dan bukan
pada kemiringan garis (slope) model
tersebut;
c. Tiap variabel X adalah perfect
competition;
d. Perbedaan lokasi (pada fungsi
produksi) seperti iklim, sudah
tercakup pada faktor kesalahan U.
Fungsi Produksi Frontier adalah
fungsi produksi yang dipakai untuk

mengukur bagaimana fungsi produksi


sebenarnya terhadap posisi frontiernya.
Karena
fungsi
produksi
adalah
hubungan fisik antara faktor produksi
dan produksi, maka fungsi produksi
frontier adalah hubungan fisik faktor
produksi dan produksi pada frontier
yang posisinya terletak pada garis
Isokuan. Garis Isokuan ini adalah
tempat kedudukan titik-titik yang
menunjukkan
titik
kombinasi
penggunaan masukan / input produksi
yang optimal (Soekartawi, 2003).
Dalam terminologi ilmu ekonomi,
pengertian
efisiensi
digolongkan
menjadi
3 macam, yaitu efisiensi
teknis, efisiensi alokatif (efisiensi harga)
dan efisiensi ekonomi (Soekartawi,
2003).
Program/kegiatan secara teknis
dikatakan lebih efisien dibanding
dengan yang lain bila petani itu dapat
berproduksi lebih tinggi secara fisik
dengan menggunakan faktor produksi
yang sama. Sedang efisiensi harga dapat
dicapai oleh seorang petani bila ia
mampu memaksimumkan keuntungan
(nilai marginal produk setiap faktor
produksi
variabel
sama
dengan
harganya). Efisiensi ekonomi dapat
dicapai bila kedua efisiensi yaitu teknis
dan harga juga efisien (Yoto Paulus dan
Lace dalam Sufridson, et.al., 1989).
Farell
dan
Nerlove
dalam
Sufridson
et.al.,
(1989)
mencoba
menjelaskan cara pengukuran efisiensi
sebagaimana dalam Gambar berikut :
Gambar 2.2
Ukuran Efisiensi

Dalam gambar tersebut UU`


adalah
garis
ISOQUANT
yang
menunjukkan berbagai kombinasi input

X1 dan X2 untuk mendapatkan


sejumlah Y tertentu yang optimal. Garis
ini sekaligus menunjukkan garis frontier
dari fungsi produksi Cobb-Douglas.
Garis PP` adalah garis biaya
(isocost) yang merupakan tempat
kedudukan titik kombinasi dari biaya
berapa dapat dialokasikan untuk
mendapatkan sejumlah input X1 dan X2
sehingga mendapatkan biaya yang
optimal.
Sedangkan
garis
OC
menggambarkan
jarak
sampai
seberapa teknologi dari suatu usaha
apakah itu usaha pemerintah atau non
pemerintah. Titik C menunjukkan posisi
sebuah usaha pemerintah, sedangkan D
menunjukkan titik produksi yang
optimum.
A dan B menunjukkan
ukuran penggunaan biaya yang tidak
efisien.
Dalam penelitian yang akan
dilakukan adalah ingin mengestimasi
sejauh
mana
tingkat
sistem
penganggaran
di
Pemerintah
Kabupaten Barito Utara yang meliputi
perencanaan pembangunan terutama di
bidang Pendidikan dan Kesehatan
untuk lebih jauh mengetahui dari
varibel mana yang lebih dominan
efisiensi dalam penanggaran serta
pengeluaran Pemerintah terutama di
Kabupatan Barito Utara, yang lebih
kongkret dan nyata dalam memperbaiki
kesejahteraan masyarakat Barito Utara
khususnya serta masyarakat Kalimantan
Tengah baik secara kuantitatif maupun
kualitatif.
Sedangkan penelitian akan dilakukan
dengan
menggunakan
beberapa
variabel
yaitu,
Pendidikan
dan
Kesehatan sebagai variabel bebas (X)
sedangkan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah (APBD) sebagai variabel
terikat (Y) dalam rangka mengukur
efisiensi alokasi penganggaran daerah
dilihat dari belanja langsung Pendidikan
dan Kesehatan Pemerintah Daerah
Kabupaten Barito Utara.

2.1.3 Elastisitas
dan
Efisiensi
Anggaran
Setyowati, E. Dkk (2000) Kurva
permintaan
yang
memiliki
nilai
koefisien arah negative menunjukkan
bahwa
jumlah
yang
diminta
berhubungan terbalik dengan tingkat
harga per unit barang tersebut. Seberapa
besar jumlah yang diminta akan
berubah
jika
harga
mengalami
perubahan. Koefisien elastisitas harga
( Price Elasticity of Demand ) mengukur
presentase perubahan jumlah yang
diminta akibat persentase perubahan
harga barang itu. Dengan kata lain
elastisitas
harga
suatu
barang
merupakan proporsi perubahan jumlah
barang yang diminta dibagi proporsi
perubahan harga barang tersebut.
% Q Q/Q
Q
P
Ep =
=
=
(2.2)
.%P
P/P
P
Q
Sehubungan dengan elastisitas, sifat
suatu barang dalam kaitannya dengan
perubahan
harga
barang
dapat
dibedakan menjadi tiga, yaitu ;
a). Elastis ( Ep > 1 ), apabila harga
berubah 1% jumlah barang yang
diminta berubah lebih dari 1% ;
b). Inelastis ( Ep < 1 ), apabila harga
berubah 1% jumlah barang yang
diminta berubah kurang dari 1% ;
c). Uniter ( Ep = 1 ), apabila harga
berubah 1% jumlah barang yang
diminta akan berubah 1%.

Pengukuran kinerja berdasarkan


indikator alokasi biaya (ekonomi dan
efisiensi)
dan
indicator
kualitas
pelayanan. Dengan demikian teknik ini
sering disebut dengan pengukuran
yaitu efisiensidan efektivitas.
1. Efisiensi (daya guna) mempunyai
pengertian yang berhubungan erat
dengan
konsep
produktivitas.
Pengukuran efisiensi dilakukan
dengan
menggunakan
perbandingan antara output yang

dihasilkan terhadap input yang


digunakan (cost of output). Proses
kegiatan
operasional
dapat
dikatakan efisiensi apabila suatu
produk atau hasil kerja tertentu
dapat dicapai dengan penggunaan
sumber daya dan dana yang
serendah-rendahnya
(spending
well). Jadi, pada dasarnya ada
pengertian yang serupa antara
efisiensi dengan ekonomi karena
kedua-duanya
menghendaki
penghapusan
atau
penurunan
biaya (cost reduction)
2. Efektivitas (hasil guna) merupakan
hubungan antara keluaran dengan
tujuan atau sasaran yang harus
dicapai. Pengertian sfektivitas ini
pada
dasarnya
berhubungan
dengan pencapaian tujuan atau
target
kebijakan.
Kegiatan
operasional
dikatakan
efektif
apabila proses kegiatan tersebut
mencapai tujuan dan sasaran akhir
kebijakan (spending wisely)
Efisiensi diukur dengan rasio
antara output dengan input. Rasio
efisiensi tidak dinyatakan dalam bentuk
absolute tetapi dalam bentuk relative.
Unit A adalah lebih efisien disbanding
unit B, unit A adalah lebih efisien tahun
ini
dibanding
tahun
lalu,
dan
seterusnya. Karena efisiensi diukur
dengan membandingkan output dan
input, maka perbaikan efisiensi dapat
dilakukan dengan cara :
a. Meningkatkan output pada tingkat
input yang sama.
b. Meningkatkan
output
dalam
proporsiyang lebih besar daripada
proporsi peningkatan input.
c. Menurunkan input pada tingkatan
output yang sama.
d. Menurunkan input dalam proporsi
yang lebih besar daripada proporsi
penurunan output.
Salah satu kebijakan yang dapat
ditempuh oleh Pemerintah Kabupaten
Barito
Utara
dalam
rangka

meningkatkan pembanagunan daerah


khususnya pendidikan dan kesehatan
adalah melalui intensifikasi pendidikan
dan kesehatan, yaitu memaksimalisasi
terhadap kebijakan pembangunan yang
selama ini dilaksanakan, antara lain
melalui: peningkatan efisiensi dan
efektivitas dalam pengelolaan belanja
anggaran pembangunan
pendidikan
dan kesehatan, perbaikan administrasi
pendidikan dan kesehatan. Intensifikasi
pendidikan dan kesehatan adalah suatu
tindakan atau usaha-usaha untuk
mengetahui secara detail sejauh mana
hasil pembangunan yang selama ini
sudah dijalankan.
Dalam upaya intensifikasi, aspek
kelembagaan, aspek ketatalaksanaan
dan
aspek
personalianya,
yang
pelaksanaannya
melalui
kegiatan
sebagai berikut :
1. Memperbaiki/menyesuaikan aspek
kelembagaan
pendidikan
dan
kesehatan kemudian perangkatnya
sesuai dengan kebutuhan yang terus
berkembang.
2. Memperbaiki/menyesuaikan aspek
ketatalaksanaan, baik administrasi
maupun operasional yang meliputi :
penyempurnaan administrasi sistem
aturan yang berlaku sesuai dengan
ketentuan-ketentuan yang ada.
3. Peningkatan
pengawasan
dan
pengendalian yang meliputi :
pengawasan
dan
pengendalian
yuridis,
perlu
diteliti
apakah
pembangunan yang ada telah
berdasarkan
undangundang/peraturan daerah serta tidak
bertentangan dengan peraturan yang
ada: pengawasan dan pengendalian
teknis,
ini
menitikberatkan
pelaksanaan pembangunan selama
ini
dengan
sasaran
menyempurnakan
sistem
dan
prosedur
pelaksanaan,
serta
pengawasan
dan
pengendalian
penatausahaan,
hal
ini
lebih

ditujukan kegiatan para pelaksana


dan ketertiban administrasi.
4. Peningkatan kualitas sumberdaya
manusia pengelola pendidikan dan
kesehatan dapat dilakukan dengan
mengikutsertakan aparatnya dalam
kursus keuangan daerah, program
pendidikan dan pelatihan yang
berkaitan
dengan
pengelolaan
keuangan
daearah
secara
menyeluruh.
5. Meningkatkan kegiatan penyuluhan
kepada
masyarakat
untuk
menumbuhkan
kesadaran
masyarakat dalam meningkatkan
efisiennsi dan efektivitas dalam
pelaksanaan pembangunan.
2.1.4Faktor-Faktor yang mempengaruhi
efisiensi.
Upaya untuk mencapai target
pelaksanaan anggaran belanja langsung
agar bisa menunjang Pembangunan
Daerah guna menunjang keberhasilan
pelaksanaan
otonomi
daerah
di
Indonesia, dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain yaitu (Kaho,1997): (i)
faktor
manusia
sebagai
subjek
penggerak (faktor dinamis) dalam
penyelenggaraan otonomi daerah; (ii)
faktor keuangan yang merupakan
tulang punggung bagi terselenggaranya
aktivitas pemerintahan daerah; (iii)
faktor peralatan yang merupakan sarana
pendukung
bagi
terselenggaranya
aktivitas pemerintahan daerah; serta (iv)
faktor organisasi dan manajemen yang
merupakan sarana untuk melakukan
penyelenggaraan pemerintahan daerah
secara baik, efisien, dan efektif.
Banyak
faktor-faktor
yang
mempengaruhi
efisiensi
alokasi
anggaran tidak semua faktor tersebut
diatas akan dibahas, akan tetapi dalam
penelitian ini lebih memfokuskan
kepada faktor Kelembagaan dan
Kebijakan. Lembaga merupakan wadah
yang memberi tempat kepada seluruh
unsur sumberdaya manusia dengan
membagi tugas, hak, wewenang, dan

tanggung jawab masing-masing sesuai


jabatan yang didudukinya (Buchari
Zainun, 2003).
Kelembagaan sangat dipengaruhi
oleh sumberdaya manusia, sarana dan
prasarana,
serta
sistem
pengendaliannya (Dawud, 2005). Jadi
dalam penelitian ini kelembagaan yang
dimaksud adalah kelembagaan pada
SKPD Pendidikan dan Kesehatan yang
terdiri dari sumberdaya manusia yang
dimiliki oleh SKPD Pendidikan dan
Kesehatan berupa sumberdaya manusia
dan sarana dan prasarana di SKPD
Pendidikan dan Kesehatan.
2.1.4.1 Sumberdaya Manusia
Sumberdaya
manusia
adalah
potensi yang merupakan asset dan
berfungsi
sebagai
modal
(non
material/non finansial) didalam suatu
organisasi, yang dapat diwujudkan
menjadi potensi nyata secara fisik dan
non fisik dalam mewujudkan eksistensi
organisasi (Nawawi, 2005). Ruki (2003)
mendifinisikan sumberdaya manusia
adalah sumber dari kekuatan yang
berasal dari manusia-manusia yang
dapat didayagunakan oleh sebuah
organisasi. Apabila sumber daya
manusia di dalam suatu unit kerja maka
sumberdaya manusia dimaksud adalah
tenaga kerja, pegawai, atau karyawan
(Notoatmodjo, 2003)
Dalam sebuah organisasi sangat
diperlukan pembagian tugas yang baik
dan pemberian wewenang yang tepat,
namun demikian yang lebih penting
lagi adalah menempatkan orang-orang
secara tepat pula. Menurut Kaho (2005)
otonomi daerah dapat dilaksanakan
dengan baik tergantung sumber daya
manusia dalam hal ini kepala daerah
beserta stafnya dalam menggerankkan
peralatan
seefisien
dan
seefektif
mungkin untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
Kuantitas dan kualitas sumberdaya
manusia yang memadai diiringi dengan
penempatan personil sesuai dengan

kapabilitasnya akan berdampak pada


efektifitasnya pelayanan dan sistem
organisasi pemerintah daerah. Kualitas
sumber
daya
manusia
sangat
dipengaruhi oleh tingkat pendidikan
baik formal maupun non formal seperti
pelatihan, seminar, dan lain-lain.
Keefektifan
organisasi
pemerintah
daerah tentu saja akan berpengaruh
pada peningkatan efisiensi pelaksanaan
alokasi anggaran daerah.
2.1.4.2

Kebijakan Pemerintah Daerah


Kibijakan dalam arti luas dapat
dibagi menjadi dua kelompok yaitu:
kebijakan dalam bentuk peraturan
perundang-undangan dan peraturan
yang tidak tertulis namun disepakati
yang disebut konvensi (Nugroho, 2004).
Dalam penelitian ini difokuskan pada
kebijakan publik yang berupa peraturan
daerah serta perundang-undangan.
2.1.4.3

Sarana dan Prasarana


Menurut Kaho (2005) salah satu
yang
mempengaruhi
pelaksanaan
otonomi
daerah
adalah
adanya
peralatan yang cukup baik. Peralatan
disini adalah setiap benda atau alat
yang dapat dipergunakan untuk
memperlancar pekerjaan atau kegiatan
pemerintah daerah. Peralatan yang baik
adalah peralatan yang praktis, efisien
dan efektif. Dalam hal ini jelas
diperlukan bagi terciptanya suatu
pemerintahan daerah yang baik seperti
alat-alat kantor, alat komonikasi dan
transportasi.
Terry (2000) komponen terakhir
dari pengorganisasian mencakup sarana
prasarana fisik dan sasaran umum
didalam lingkungan dimana pegawaipegawai melaksanakan tugas-tugas
mereka, lokasi, mesin, perabotan kantor,
blanko-blanko, penerangan dan sikap
mental merupakan faktor-faktor yang
membentuk lingkungan. Dengan sarana
dan prsarana yang memadai dalam
rangka pelayanan terhadap pelaksanaan
program/kegiatan membuat
mudah

dalam melaksanakan kewajibannya


sehingga
pada
akhirnya
akan
meningkatkan Efisiensi.
2.1.5

Keuangan Daerah
Secara teoritis, yang dimaksud
dengan keuangan daerah adalah semua
hak dan kewajiban yang dapat di nilai
baik berupa uang maupun barang yang
dapat di nilai baik berupa uang maupun
barang yang dapat dijadikan kekayaan
daerah sepanjang belum dimiliki atau di
kuasai oleh Negara atau daerah yang
lebih tinggi serta pihak-pihak lain sesuai
ketentuan atau peraturan perundangundangan yang berlaku ( Mamesah,
1997)
Keuangan daerah juga diartikan
sebagai suatu hak dan kewajiban yang
dapat di nilai dengan uang demikian
pula sesuatu baik berupa uang maupun
barang yang menjadi kekayaan daerah
yang berhubungan dengan pelaksanaan
hak dan kewajiban tersebut dalam batas
wewenang daerah ( Ichsan dkk, 1997).
Konsekwensi logis dari UndangUndang Nomor 32 tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah dan UndangUndang Nomor 33 tahun 2004 tentang
Perimbangan
Keuangan
antara
Pemerintah
Pusat
dan
Daerah
menyebabkan
perubahan
dalam
manajemen keuangan daerah. Inti dari
perubahan tersebut
adalah pada
budgeting
reform
atau
reformasi
anggaran.
Aspek utama budgeting reform
atau
reformasi
anggaran
adalah
perubahan dari traditional budget ke
performance
budget.
Selama
ini
pemerintah daerah masih menggunakan
traditional budget, dimana penyusunan
anggaran
bersifat
line-item
dan
incrementalism, yaitu proses penyusunan
anggaran yang hanya mendasarkan
pada besarnya realisasi anggaran tahun
sebelumnya. Konsekwensinya tidak ada
perubahan mendasar atas anggaran
baru ( Mulyanto, 2002; Mardiasmo,
2002).

Performance
budget
pada
dasarnya adalah system penyusunan
dan pengelolaan anggaran daerah yang
berorentasi pada pencapaian hasil atau
kinerja.
Kenirja
tersebut
harus
mencerminkan effisiensi dan efektivitas
pelayanan publik,yang berarti harus
berorentasi pada kepentingan publik.
Kebutuhan masyarakat daerah untuk
menyelenggarakan
otonomi
secara
luas,nyata dan bertanggung jawab, dan
otonomi harus di pahami sebagai hak
atau kewajiban masyarakat daerah
untuk
mengelola
dan
mengatur
urusanya. Hal ini berarti aspek atau
peran pemerintah daerah tidak lagi
merupakan
alat
kepentingan
Pemerintah Pusat belaka melainkan alat
untuk memperjuangkan aspirasi dan
kepentingan daerah (Mardiasmo, 2002).
Menurut
Mardiasmo
(2002),
prinsip-prinsip
yang
mendasari
pengelolaan keuangan daerah tersebut
terbagi
atas
tiga,
yaitu:
Pertama.Transparansi, maksud dari
prinsip ini adalah kebutuhan dalam
proses
perencanaan,
penyusunan,
pelaksanaan anggaran daerah. Artinya
bahwa setiap anggota masyarakat
memeliki hak dan akses yang sama
untuk mengetahui proses anggaran
karena menyangkut aspirasi dan
kepentingan
masyarakat,terutama
pemenuhan
kebutuhan-kebutuhan
hidup masyarakat. Kedua, Akuntabilitas
hal ini berhubungan dengan prinsip
pertanggungjawaban
publik
yang
berarti bahwa proses penganggaran
mulai dari perencanaan, penyusunan
dan pelaksanaan harus benar-benar
dapat
dilaporkan
dan
dipertanggungjawabkan kepada DPRD
dan masyarakat. Ketiga, Value of money
berarti diterapkannya tiga prinsip
dalam proses penganggaran yaitu
ekonomi, efesiensi dan efektivitas.
Pelaksanaan otonomi
daerah
sebagai sarana utama di bidang
keuangan adalah adanya Anggaran

Pendapatan dan Belanja Daerah ( APBD


) yang oleh Mamesah (1995) di
definisikan sebagai rencana operasional
keuangan pemerintah daerah yang di
satu
pihak
menggambarkan
pengeluaran setinggi-tingginya guna
membiayai
kegiatan-kegiatan
dan
proyek-proyek dalam satu tahun
anggaran tertentu dan pihak lain
menggambarkan perkiraan penerimaan
dan sumber-sumber penerimaan daerah
guna
menutupi
pengelauranpengeluaran yang dimaksud.
Adapun dalam belanja daerah,
pembiayaan terbagi dua belanja tidak
langsung
dan
belanja
langsung
komponen belanja tidak langsung dan
belanja langsung yaitu :
a. Belanja tidak langsung
b. Belanja Langsung
Uraian di atas sudah jelas
perbedaan yang ditimbulkan antara
belanja tidak langsung dan belanja
langsung, belanja tidak langsung
kecenderungannya bersifat konsumtif
sedangkan dalam komponen belanja
langsung
merupakan
investasi
pemerintah jangka panjang dalam
menggerakkan roda perekonomian di
suatu daerah apabila di sesuaikan
dengan
kondisi
geografis
dan
sumberdaya yang ada di daerah.
Secara umum ada tiga pendekatan
dalam menentukan pola perilaku
belanja. Ketiga pendekatan itu adalah
instuisi, pendekatan analisis enjering,
dan pendekatan analisis data belanja
masa lalu antara lain:
1. Pendekatan
intuisi
merupakan
pendekatan yang didasarkan intuisi
pembuat keputusan. Intuisi tersebut
bisa
ddasari
atas
surat-surat
keputusan, kontrak-kontrak kerja
dengan pihat lain dan sebagainya.
2. Pendekatan
Analisis
Enjenering
merupakan
pendekatan
yang
didasarkan pada hubungan fisik
yang jelas antara masukan (Input)
dengan keluaran (output). Misalnya,

jika pemerintah daerah melakukan


kegiatan bimbingan teknis maka
diketahui bahwa akan memerlukan
lima orang panitia, dua buah
computer, sepuluh rim kertas, dan
lain sebagainya. Pendekatan ini
memang teliti, namun seringkali
memerlukan waktu dan belanja yang
relative tinggi.
3. Pendekatan Analisis Data Belanja Masa
Lalu merupakan pendekatan yang
didasarkan pada data belanja masa
lalu. Pendekatan ini beramsumsi
bahwa belanja di masa akan datang
sama perilakunya dengan belanja
di masa yang lalu. Data belanja
masa
lalu
dianalisis
untuk
mengetahui
perilaku
masingmasing belanja. (Irwan Taufiq
Ritongga, 2010).
Gambaran
di
atas
dapat
disimpulkan bahwa berhasil tidaknya
pelaksanaan otonomi daerah dalam hal
pembiayaan
penyelenggaraan
pemerintah daerah, salah satunya
ditentukan
oleh
kemampuan
pemerintah daerah mengelola keuangan
daerah
secara
efisiensi
dalam
pengeluaran belanja daerah.
2.1.6

Bantuan Pemerintah Pusat.


Alokasi
dari
anggaran
pemerintah pusat sering diungkapkan
sebagai transfer pemerintah, yang
memiliki peranan yang besar bagi
kebanyakan tatanan pemerintah dari.
Dari banyak sumber penerimaan
pemerintah daerah ternyata tidak
member hasil yang cukup dalam
membiayai pengeluaran publiknya,
untuk itu pemerintah pusat harus
membatasi diri dalam memanfaatkan
hasil pajaknya untuk kepentingan
daerah.
Selanjutnya
menurut
Davey
(1988), tujuan pemberian bantuan oleh
Pemerintah Pusat kepada Pemerintah
Daerah berbeda-beda antara lain :
1. Mendorong upaya oleh pemerintah
daerah untuk program-program

pembangunan dan pelayanan yang


sejalan dengan kebujakan nasional.
2. Merangsang pertumbuhan ekonomi
daerah, baik untuk membantu
pertumbuhan
maupun
untuk
mengurangi
ketimpangan
antar
wilayah.
3. Mengendalikan pengeluaran daerah
untuk memastikan penyesuaian
terhadap standard an kebijakan
nasional.
4. Menetapkan standar pelayanan atau
pembangunan yang adil atau lebih
adil.
5. Mengembangkan wilayah-wilayah
yang kapasitas fisiknya rendah,
suatu potensi relative rendah untuk
meningkatkan penerimaan langsung
mereka.
6. Membantu wilwyah-wilayah untuk
mengatasi keadaan darurat.
Pengalokasian semua jenis bantuan
tidak memberikan keleluasaan yang
sama kepada daerah. Dalam konteks
yang lain bantuan Pemerintah Pusat
dapat digolongkan ke dalam dua jenis,
yaitu block grant dan specific grant. Block
grant adalah subsidi yang memberikan
kebebasan kepada penerima untuk
membelanjakannya. Dalam block grant
ini Pemerintah Daerah diberi kebebasan
untuk mengalokasikan ke sektor
manapun. Specific grant, penggunaannya
telah ditentukan oleh Pemerintah Pusat
untuk program tertentu.
Boadway dan Wildasin (1984)
mengatakan apabila tujuan pemberian
bantuan untuk mendorong jenis-jenis
pengeluaran tertentu oleh Pemerintah
penerima,
maka
bantuan
dalam
membentuk conditional matching grant
(Specific grant) adalah lebih tepat.
Apabila tujuan pemberian bantuan
semata-mata adalah untuk pengalihan
daya beli (transfer of purchacing power)
dari tingkat Pemerintah yang lebih
tinggi kepada tingkat Pemerintah yang
lebih rendah, maka bantuan dalam

bentuk unconditional grant (block grant)


adalah lebih tepat.
2.1.7

Faktor penentu efisiensi belanja


langsung
Dilihat dari fungsi dan tujuan
dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD) secara khusus belanja
langsung
mempunyai
tujuan
pembangunan
atau
investasi
pemerintah daerah jangka panjang yang
berhubungan langsung dengan program
pemerintah pusat karena pemerintah
daerah sebagai kepanjangan tangan
pemerintah pusat yang ada di daerah.
2.1.7.1 Pendidikan
Perkembangan kondisi pendidikan
di Kabupaten Barito Utara cukup
membaik dari tahun ketahun, terlihat
sarana dan prasarana yang bertambah
begitu juga dengan tenaga pengajar. Hal
ini tidak lepas dari peran pemerintah
daerah dan kesadaran masyarakat akan
penting-nya
pendidikan,
karena
membaiknya
pendidikan
akan
berdampak
kepada
sumberdaya
manusia yang nantinya diharapkan
dapat mengisi lapangan kerja guna
meningkatkan pembangunan daerah.
Semua problematika pendidikan
pada umumnya saling berkaitan antara
kabupaten yang satu dengan kabupaten
yang lain sehingga akan ada peluang
kerjasama
dalam
mengatasi
ketertinggalan pada masing-masing
kabupaten/ kota. Berbagai upaya telah
dilakukan
untuk
menyediakan
pelayanan pendidikan yang merata dan
bermutu kepada masyarakat. Namun
pembangunan
bidang
pendidikan
masih
menghadapi
permasalahan,
antara
lain:
belum
meratanya
penyediaan pendidikan, rendahnya
kualitas dan relevansi pendidikan,
lemahnya
pelaksanaan
manajemen
sistem pendidikan. Akibatnya masih
terdapat anak-anak usia sekolah 6-14
tahun yang tidak dapat sekolah yang
tidak mampu untuk menjangkau

pendidikan.
Selain itu, pendidikan yang sudah
terlaksana masih belum merata pada
setiap daerah, terutama pendistribusian
guru, kualifikasi gurupun masih ada
yang tergolong belum memenuhi
standard mengajar jika dipandang dari
ijazah yang dimiliki. Kondisi geografis
menjadi faktor paling utama, karena
masih terdapat daerah yang memiliki
keterbatasan aksesbilitas transportasi
dan komunikasi.
2.1.7.2 Kesehatan
Pembangunan
dibidang
kesehatan diarahkan dalam rangka
meningkatkan pemerataan pelayanan
dan mutu kesehatan bagi masyarakat.
Hal tersebut akan tercapai apabila
sarana dan prasarana tersedia dalam
kondisi cukup dan terjangkau oleh
masyarakat. Sarana dan prasarana
kesehatan tersebut antara lain berupa
rumah sakit, puskesmas, puskesmas
pembantu dan tenaga kesehatan. Untuk
mencapai
tujuan
tersebut
diatas
Pemerintah Daerah Kabupaten Barito
Utara, secara terus menerus berupaya
meningkatkan pembangunan di bidang
kesehatan.
2.1.8

Faktor-faktor Kendala efisiensi.


Beberapa kendala yang dihadapi
oleh pemerintah daerah itu sendiri
dengan luas wilayah yang cukup luas
serta penyebaran penduduk yang tidak
merata serta jarak antara ibukota
kabupaten dengan ibukota kecamatan
di Kabupaten Barito Utara itu sendiri
sangat jauh. Akibatnya pembangunan
secara umum banyak memerlukan biaya
yang cukup besar terutama dalam
bidang pembangunan infrastruktur
jalan
dan
jembatan,
pendidikan,
kesehatan dan tenaga kerja serta
pembangunan-pembangunan yang lain
agak terlambat.
Ada beberapa kendala lain yang
dihadapi oleh pemerintah Kabupaten

Barito Utara terutama di bidang


kesehatan yaitu:
a. Tenaga medis seperti dokter, dokter
spesialis, perawat dan tenaga medis
lainnya masih kurang dibandingkan
dengan
jumlah
penduduk
Kabupaten Barito Utara, sehingga
mempengaruhi terhadap pelayanan
kesehatan di puskesmas dan rumah
sakit.
b. Persediaan dan perlengkapan obat
dan alat medis rumah sakit maupun
puskesmas terbatas dan kurang
memadai.
c. Pengetahuan
dan
perhatian
masyarakat
terhadap
masalah
kesehatan masih rendah, sehingga
akan
mempengerahui
tingkat
kesehatan masyarakat.
d. Kondisi sarana dan prasarana
penunjang
kesehatan terutama
puskesmas, pustu dan polindes
kurang memadai untuk pelayanan
kesehatan.
Kemungkinan tingkat efisiensi
alokasi
belanja
pendidikan
dan
kesehatan Pemerintah Kabupaten Barito
Utara sangat jauh berbeda dengan
kabupaten-kabupaten yang ada di
seluruh Indonesia. Hal ini karena
kondisi Kabupaten Barito Utara yang
berada di pedalaman Kalimantan
Tengah masih relatif kurang sarana dan
prasara yang menunjang. Mengingat
keterbatasan kemampuan keuangan
terutama belanja langsung, luasnya
wilayah serta penyebaran penduduk
yang tidak merata merupakan salah
satu kendala tersendiri yang dihadapi
Pemerintah Daerah Kabupaten Barito
Utara dalam meningkatkan pelayanan
di bidang pendidikan dan kesehatan
bagi masyarakat.
2.2.

Landasan Empiris dari Penelitian


terdahulu
2.2 .1. Government Spending on Health
Care and Education in Croatia:
Efficiency and Reform Options

Etibar
Jafarov
dan
Victoria
Gunnarsson (IMF Working Paper, 2008),
Penelitian ini mangkaji tingkat efisiensi
relative dari pengeluaran pemerintah
untuk sektor kesehatan dan pendidikan
di Negara Kroasia pada tahun 2007.
Hasil efisiensi yang di hitung berupa
efisiensi teknis biaya, efisiensi teknis
system dan efisiensi teknis keseluruhan.
Dalam meneliti tingkat efisiensi
relatif dari pengeluaran pemerintah di
Negara Kroasia, peneliti menggunakan
metode analisis Data Envelopment
Analysis (DEA). Untuk sektor kesehatan
peneliti menggunakan variabel input
besaran anggaran kesehatan yang
dikeluarkan
pemerintah
Kroasia.
Adapun untuk variabel output dalam
penelitian ini digunakan data Angka
Harapan Hidup, Angka Kematian Kasar
per 100.000 penduduk, angka kematian
bayi per 1000 kelahiran, angka kematian
balita per 1000 kelahiran, angka
kematian ibu maternal per 100.000
kelahiran, dan kasus tuberkolosis per
100.000 penduduk.
Hasil penelitian menyabutkan telah
terjadi inefisiensi yang signifikan dalam
teknis biaya pengeluaran kesehatan di
Negara Kroasia pada tahun 2007. Hal
tersebut berkaitan dengan adanya
ketidak cukupan dalam me-recovery
biaya, mekanisme pembiayaan dan
penyelenggaraan institusi yang buruk,
serta kelemahan dalam penetapan
sasaran subsidi kesehatan.
Education and Health in G7
Countries: Achieving Better
Outcomes with Less Spending.
Marijn
Verhoeven,
dkk.(IMF
Working Paper, 2007), Penelitian yang
dilakukan ada tahun 2005 ini bertujuan
untuk menilai tingkat efisiensi di sektor
pendidikan dan kesehatan dan mencari
hubungan antara perbedaan efiseinsi
dari berbagai negara, kebijakan serta
faktor institusional.
Dalam mengukur tingkat efisiensi
pengeluaran pemerintah, penelitian ini

2.2.2

menggunakan metode analisis statistik


non
parametrik
berupa
Data
Envelopment Analysis (DEA). Penelitian
ini menggunakan 3 tahap penghitungan
efisiensi
dengan meletakkan satu
variabel intermediate diantara input dan
output akhir. Adapun untuk sektor
kesehatan
Variabel
input
yang
digunakan
adalah
pengeluaran
pemerintah untuk sektor kesehatan,
dengan variabel intermedietenya berupa
jumlah tempat tidur di rumah sakit,
jumlah dokter per kapita, jumlah
BAB III
KERANGKA KONSEPTUAL.
Kebijakan anggaran merupakan
hasil akhir dari proses atau aktivitas
progrm/kegiatan dengan memanfaatkan
beberapa
masukan
atau
input.
Kombinasi penggunaan faktor-faktor
anggaran diusahakan sedemikian rupa
agar
dalam
jumlah
tertentu
menghasilkan
barang
dan
jasa
maksimum
untuk
kesejahteraan
masyarakat. Tindakan ini sangat
berguna
untuk
memperkirakan
probabilitas pemerintah relatif terhadap
pemanfatan sumberdaya yang tersedia.

imunisasi, dan jumlah konsultasi


dokter. Sedangkan untuk variabel
indikator
outcome
kesehatannya
digunakan Angka Harapan Hidup,
Angka
Kematian
Kasar,
Angka
kematian bayi per 1000.
Inefisiensi pengeluaran pemerintah
untuk sektor publik yang terjadi ada
negara-negara G7 disebabkan karena
kurangnya
efektifitas
dalam
memperoleh sumberdaya, seperti guru
dan tenaga medis (dokter)
Berdasarkan landasan teori yang
telah dipaparkan di atas maka dalam
penelitian ini, peneliti ingin mengetahui
efisiensi yang terjadi dalam alokasi
belanja
langsung
dapat disusun
kerangka konsep penelitian seperti pada
gambar 3.1.

Gambar 3.1
Kerangka Fikir Penelitian

PENGELUARAN
APBD

Input
Anggaran Pendidikan

Input
Anggaran Kesehatan
EFFISIENSI

Output
Pendidikan
Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian

Output
Kesehatan

Berdasarkan Gambar 3.1 dapat


dijelaskan bahwa kerangka pikirkiran
yang menjadi dasar pada penelitian ini
dibangun berdasarkan teori-teori serta
beberapa penelitian sebelumnya yang
menyangkut
analisis
efisiensi.
Kemudian dari apa yang telah
disampaikan dalam landasan teoritis
maupun empiris dapat dilihat dari 2
dimensi
yaitu
Pendidikan
dan
kesehatan.
Anggaran juga dapat digunakan
sebagai
alat
untuk
menentukan
besarnya
pengeluaran,
membantu
pengambilan
keputusan
dan
perencanaan pembangunan, otorisasi
pengeluaran di masa-masa yang akan
datang, sumber pengembangan ukuranukuran standar untuk evaluasi kinerja
dan sebagai alat untuk memotivasi para
pegawai dan alat koordinasi bagi semua
aktivitas dari berbagai unit kerja. Jadi
anggaran daerah merupakan rencana
kerja
pemerintah
daerah
yang
diwujugkan dalam bentuk uang selama
periode tertentu biasanya satu tahun
(Jones & Pendlebury,1996).
Pendidikan merupakan salah satu
faktor yang sangat menentukan dalam
kualitas manusia, semakin tinggi
pendidikan yang di tempuh seseorang
maka dapat diharapkan akan semakin
tinggi kualitas orang tersebut. Melalui
pendidikan
maka
pengetahuan,
kecerdasan dan ketrampilan seseorang
akan berkembang. Oleh karena itu
menjadi kewajiban pemerintah untuk
secara terus-menerus meningkatkan
pembangunan pendidikan, baik aspek
kualitas, kuantitas maupun yang
mencakup aspek pemerataan.
Sedangkan dalam pembangunan
dibidang kesehatan dalam rangka
meningkatkan pemerataan pelayanan
dan mutu kesehatan di setiap lapisan
masyarakat. Hal tersebut akan tercapai
apabila sarana dan prasarana tersedia

dalam kondisi cukup dan terjangkau


oleh masyarakat. Sarana dan Prasarana
kesehatan tersebut antara lain berupa
rumah sakit, Puskesmas, Puskesmas
Pembantu dan tenaga kesehatan yang
memadai. Untuk mencapai tujuan
tersebut Pemerintah Daerah Kabupaten
Barito Utara, secara terus menerus
berupaya meningkatkan pembangunan
di
bidang
kesehatan
dari
sisi
pengelolaan anggaran secara efisiensi.
Dalam terminologi ekonomi,
dikenal adanya konsep efisiensi teknis,
efisiensi harga/alokatif dan efisiensi
ekonomis. Suatu penggunaan faktor
anggaran dikatakan efisien secara teknis
kalau faktor produksi yang dipakai
menghasilkan produksi maksimum.
Dikatakan efisiensi harga / alokatif
kalau nilai dari produk marjinal sama
dengan harga faktor faktor produksi
yang bersangkutan dan dikatakan
efisiensi ekonomi kalau usaha tersebut
mencapai efisiensi teknis sekaligus juga
mencapai efisiensi harga (Soekartawi,
2003).
BAB IV
METODE PENELITIAN
Penelitian merupakan suatu
kegiatan
yang
bertujuan
untuk
memperoleh kebenaran pengetahuan
yang bersifat ilmiah, melalui prosedur
yang ditetapkan. Penelitian hendaknya
dilakukan dengan cermat dan teliti, agar
hasil yang diperoleh tepat dalam
penelitian kegiatan yang dilakukan
dengan seksama dalam menentukan
jenis
data,
sumber
data,
cara
mengumpulkan data, tujuan penelitian
dan teknik analisa data.
4.1.

Identivikasi Variabel Penelitian.


Penelitian ini menggunakan 2
jenis variabel, yaitu untuk mengetahui
dari kedua jenis tersebut yang paling
dominan efisien. Didalam suatu alokasi
penganggaran
pemerintah
daerah

sangat diperlukan untuk mengetahui


efisiensi karena dengan keterbatan
anggaran
dana
tersebut.
Dalam
penelitian ini yang menjadi variabel
adalah Pendidikan dan Kesehatan. Dari
variabel tersebut sejauh mana tingkat
efisiensi alokasi anggaran terhadap
pengeluaran pemerintah daerah selama
ini dari tahun 1990 - 2008.
4.2.

Jenis Data dan Sumber Data.


Penelitian ini jenis data dan
sumbernya dapat dibedakan sebagai
berikut :
1) Jenis data menurut sifatnya
Data
yang
digunakan
dalam
penelitian ini adalah data kuantitatif,
yaitu data berupa angka-angka dan
dapat dihitung secara statistik.
Adapun data
yang
digunakan
adalah
Anggaran
Pendapatan
Belanja Daerah (Belanja Langsung)
Kabupaten Barito Utara Pendidikan
dan Kesehatan di Kabupaten Barito
Utara.
2) Jenis data menurut sumbernya
Data menurut sumbernya dalam
penelitian ini menggunakan data
skunder, yaitu data yang diperoleh
dalam bentuk sudah jadi yang
dikumpulkan dan diolah oleh pihakpihak terkait berupa distribusi
sektoral
terhadap
Anggaran
Pendapatan Belanja Daerah (Belanja
Langsung) Kabupaten Barito Utara.
Serta data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah wawancara
langsung dengan Sekretaris Daerah,
Kepala Dinas Pendidikan, Kepala
Dinas Kesehatan serta sampel
responden yang diambil secara acak
terhadap
masyarakat
pengguna
pelayanan
Pendidikan
dan
Kesehatan.

4.3.

Definisi Operasional Variabel


Penelitian.
Untuk menguji variabel yang telah
diajukan, maka setiap variabel perlu
diberikan ukuran dan definisi dengan
jelas terlebih dahulu. Adapun definisi
dari variabel yang digunakan sebagai
berikut :
1. Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (Y) total anggaran belanja
langsung ( Rp ) Pendidikan dan
Kesehatan di Kabupaten Barito
Utara.
2. Pendidikan
adalah
proporsi
penduduk berusia wajib belajar 7 15 tahun yang dapat membaca dan
menulis huruf latin atau lainnya
serta besarnya belanja langsung
(Rp) yang diperluhkan periode
tahun 1990 sampai dengan 2008.
3. Kesehatan menggambarkan suatu
kesejahteraan masyarakat. Variabel
ini
merupakan
menunjukkan
berapa besarnya anggaran Belanja
Langsung (Rp) yang dikeluarkan
oleh Pemerintah Kabupaten Barito
Utara periode tahun 1990 sampai
dengan 2008.
4.4

Analisis
Faktor
Efisiensi
Penganggaran.
Teknik analisa data yang
dipergunakan
untuk
menganalisis
faktor-faktor
yang
mempengaruhi
efisiensi alokasi anggaran pendidikan
dan kesehatan yang diamati adalah
dengan memakai fungsi produksi
frontier (Stochastic Production Function
Cob-Douglas)
(Zen,
et.
Al.,2003;
Panayotou, 1980). Selain itu statistik
deskriptif juga digunakan untuk
mendeskriptifkan responden yang telah
diamati.
4.4.1.

ingin

Model Fungsi Anggaran


Frontier
Model adalah gambaran yang
dicapai
(Soekartawi,1990).

Sedangkan menurut Herlambang dkk


Berdasarkan
pengamatan
empiris,
(2002) model adalah ringkasan teori
faktor tersebut berkaitan erat dengan
yang dinyatakan dalam formulasi
karakteristik
masyarakat
setempat,
matematika. Untuk mencapai tujuan
budaya dan status ekonomi. Dengan
dimaksud
digunakan
model
demikian model yang diaplikasikan
ekonometrika, yang merupakan pola
dalam penelitian ini diekspresikan
khusus
dari
model
matematika
sebagai berikut :
mencakup variabel pengganggu (Error
Term).
APBD Pendidikan = 0 + 1X1 + 2X2 +
Input Anggaran Pendapatan dan
3X3 + 4X4+ E . . . ( 4.2 )
Belanja Daerah merupakan fungsi dari :
Keterangan
:
Pendidikan dan Kesehatan. Secara
matematis persamaan tersebut dapat
(a) Variabel-variabel yang bekerja dalam
ditulis sebagai berikut :
fungsi Pendidikan,
Y = f (X1, X2, ) ................. (4.1)
Y = jumlah Anggaran Pendidikan (Rp)
Salah satu model estimasi tingkat
X1 = Rasio yang sekolah dan usia
efisiensi teknis yang banyak digunakan
sekolah ( % )
adalah melalui pendekatan Stochastic
X2 = Rasio ruang kelas dan murid ( % )
Production Frontier (SPF). Model ini
X3 = Rasio guru dan murid ( % )
pertama kali diperkenalkan oleh Aigner
X4 = Jumlah buta huruf/kejar Paket ( % )
et al., (1977); dan dalam saat yang
APBD Kesehatan = 0 + 1X1 + 2X2 +
bersamaan
juga
dilakukan
oleh
3X3 + 4X4+ E . . . ( 4.3 )
Meeusen
dan
Broek
(1977).
Keterangan
:
Pengembangan
pada
tahun-tahun
(b) Variabel-variabel yang bekerja
berikutnya banyak dilakukan seperti
dalam fungsi Kesehatan,
oleh Battase and Coelli (1988, 1992,
Y
=
jumlah Anggaran Kesehatan (Rp)
1995), Waldman (1984), Kumbhakar
X1 = Jumlah kelahiran hidup ( % )
(1987) maupun Greene (1993).
X2 = Jumlah angka harapan hidup ( % )
Sebagaimana
dijelaskan
X3 = Rasio jumlah penduduk /
sebelumnya, dalam tataran praktis
paramedis ( % )
upaya maksimalkan hasil dari program
X4
=
Rasio jumlah penduduk
kegiatan biasanya diwujudkan melalui
/puskesmas
(%)
peningkatan
efisiensi
teknis.
Tabel 4.1
Definisi Operasional Variabel
Variabel
Dependen Anggaran
Pendidikan
Independen Anggaran
Pendidikan

Kode
Y

Rp.

Rasio yang sekolah


dan usia sekolah

x2

Rasio ruang kelas


dan murid
Rasio guru dan siswa

Jumlah buta huruf /


kejar paket

x4

Independen Anggaran
Kesehatan

Skala Pengukuran

x1

x3

Dependen Anggaran
Kesehatan

Definisi
Total Anggaran
Pendidikan

x1
x2
x3
x4

Total Anggaran
Kesehatan

Rp.

Jumlah kelahiran
hidup
Angka harapan hidup

Rasio Jumlah
penduduk/paramedis
Rasio jumlah
penduduk/puskesmas

4.2

Metode Analisa Data Penelitian.


Menurut
Karlinhger
(1977),
menyatakan bahwa variabel adalah
konstruk (constructs) atau sifat yang
akan dipelajari. Diberikan contoh
misalnya tingkat aspirasi, penghasilan,
pendidikan, status sosial, jenis kelamin,
golongan gaji, produktivitas kerja dan
lain-lain. Di bagian lain karlinhger
menyatakan bahwa variabel dapat
dikatakan sebagai suatu sifat yang
diambil dari suatu nilai yang berbeda
(different
values).Dengan
demikian
variabel ini merupakan suatu yang
bervariasi. Selanjutnya Kidder (1981),
menyatakan bahwa variabel adalah
suatu kualitas (qualities) dimana peneliti
mempelajari dan menarik kesimpulan
darinya (Sugiyono, 2008).
Untuk
mengetahui
efisiensi
Pendidikan
dan
Kesehatan
di
Kabupaten Barito Utara periode tahun
1990-2008 digunakan model persamaan
analisis sebagai berikut :
Y = f (X1, X2, X3, X4) ....... (4.4)
Keterangan :
(a) Variabel-variabel yang bekerja dalam
fungsi Pendidikan,
Y = jumlah anggaran pendidikan (Rp)
X1 = rasio yang sekolah dan usia
sekolah ( % )
X2 = rasio ruang kelas dan murid ( % )
X3 = rasio guru dan murid ( % )
X4 = jumlah buta huruf / kejar paket (%)
Y = f (X1, X2, X3, X4) ........ (4.5)
Keterangan :
(b) Variabel-variabel yang bekerja
dalam fungsi Kesehatan,
Y = jumlah anggaran kesehatan (Rp)
X1 = jumlah kelahiran hidup ( % )
X2 = jumlah angka harapan hidup ( % )
X3 = rasio jumlah penduduk/
paramedis ( % )
X4 = rasio jumlah penduduk/puskesmas
(%)
4.2.1. Pengukuran tingkat efisiensi
Teknik
analisa
data
yang
dipergunakan
untuk
menganalisis

faktor yang mempengaruhi efisiensi


pengalokasian anggaran pendidikan
dan kesehatan di Kabupaten Barito
Utara, yang diamati adalah dengan
memakai fungsi produksi Cob-Douglas
dan Fungsi produksi frontier (Stochastic
Production Function Cob-Douglas) (Zen,
et. Al.,2003; Panayotou, 1980). Selain itu
statistik deskriptif juga digunakan
untuk mendeskriptifkan responden
yang telah diamati.
Model adalah gambaran yang
ingin dicapai (Soekartawi, 1990).
Sedangkan menurut Herlambang dkk
(2002) model adalah ringkasan teori
yang dinyatakan dalam formulasi
matematika. Untuk mencapai tujuan
dimaksud
digunakan
model
ekonometrika, yang merupakan pola
khusus
dari
model
matematika
mencakup variabel pengganggu (Error
Term).
Pendekatan SPF juga pernah
digunakan misalnya Erwidodo (1992)
maupun
Siregar
(1987).
Dalam
penelitian ini digunakan model SPF
yang telah mengalami pengembangan
lebih lanjut, yaitu model Stochastic
Production Frontier Technical Efficiency
(SPF-TE) sebagaimana dilakukan oleh
Battesa and Coelli (1995) maupun Yau
and Liu (1998).
Dengan cara yang sama, dapat
dibuat rasio untuk setiap rincian item
pos pengeluaran dengan subkelompok
pengeluaran
yang
bersangkutan,
misalnya
pengeluaran
bidang
transportasi terhadap belanja pelayanan
publik, pengeluaran bidang pendidikan
terhadap belanja pelayanan publik,
pengeluaran bidang kesehatan terhadap
belanja
pelayanan
publik
dan
sebagainya.
Beberapa cara untuk meningkatkan
efisiensi adalah dengan meningkatkan
output dengan input yang sama, atau
menaikkan output dengan proporsi
yang besar dengan kenaikan input yang
proporsional, atau menurunkan input

dengan proporsi yang besar dan


menurunkan ouput secara proporsional
(Daud dalam Halim, 2004).
Kinerja pemerintah daerah dalam
melakukan pengelolaan pengalokasian
anggaran dikatagorikan efisien apabila
rasio yg dicapai kurang dari 1 (satu)
atau dibawah 100%. Semakin kecil rasio

efisiensi berarti kinerja pemerintah


daerah semakin baik (Halim, 2002)
Mengadopsi standar efisiensi dari
evaluasi kinerja pembangunan Kota
Sukabumi
maka standar efisiensi
kinerja pemerintah daerah dapat
disajikan dalam tabel 4.2 sebagai
berikut:

Tabel 4.2
Standar efisiensi kinerja pemerintah
Prosentase Kinerja Pemerintah

Kreteria

<60%

Sangat efisien

60%-80%

Efisien

80%-90%

Cukup efisien

90%-100%

Kurang Efisien

>100%

Tidak Efisien

Sumber: Evaluasi Kinerja Pembangunan Kota Sukabumi Tahun 2009

Efisiensi menurut Mardiasmo (2004)


adalah tercapainya output dengan input
tertentu.
Efisiensi
merupakan
perbandingan output dengan input
yang dikaitkan dengan standar kinerja
yang telah ditetapkan. Efisiensi juga
didefinisikan hubungan antara input
dan output. Efisiensi merupakan ukuran
apakah penggunaan barang dan jasa
yang dibeli oleh organisasi untuk
mencapai output tertentu. Efisiensi juga
mengandung
beberapa
pengertian
antara lain :
1. Efisiensi pada sektor usaha swasta
(private sector efficiency), dijelaskan
dengan konsep input output yaitu
rasio output dan input;
2 Efisiensi pada sektor pelayanan
masyarakat (public sector efficiency)
adalah suatu kegiatan
yang
dilakukan dengan baik dengan
pengorbanan seminimal mungkin;
3 Suatu kegiatan dikatakan telah
dikerjakan secara efisien jika
pelaksanaan pekerjaan tersebut
telah mencapai sasaran (output)
dengan biaya (input) yang terendah
atau dengan biaya (input) minimal

diperoleh hasil (output) yang


diinginkan.
Lebih lanjut Mardiasmo (2009)
menyatakan bahwa rasio efisiensi tidak
dinyatakan dalam bentuk absolut tetapi
dalam bentuk relatif, misalnya unit A
lebih efisien tahun ini bila dibandingkan
dengan tahun lalu. Sehingga semakin
kecil rasio efisiensi maka kinerja
pemerintah bisa dikatakan semakin
efisien.
4.3 Analisis Deskriptip mengenai
faktor-faktor yang mempengaruhi
alokasi efisiensi anggaran belanja
langsung.
Metode analisis statistik deskriptif
juga digunakan dalam penelitian ini
yaitu untuk menghitung indikator
sosial-ekonomi seperti profil responden,
misalnya perencanaan, monitoring,
tingkat pendidikan, hubungan atasan
bawahan pemerataan pembagian tugas
dan lain-lain (Indah Susilowati, 1997).
Analisis deskriptif juga digunakan
untuk mengetahui gambaran umum
dan
kondisi
Instansi/SKPD
dan
pengelolaan anggaran belanja langsung
di daerah penelitian dari masing-masing
SKPD sebagai obyek yang di teliti

sejauh mana tingkat efisiensi yang


diperoleh.
Kelembagaan
sangat
dipengaruhi oleh sumberdaya manusia,
sarana dan prasarana di SKPD
pendidikan dan kesehatan. Sedangkan
untuk Kebijakan sangat dipengaruhi
oleh peraturan-peraturan yang dibuat
oleh Kepala daerah bersama DPRD
(Dawud, 2005).
4.3.1 Sumberdaya Manusia.
Sumberdaya manusia di dalam
suatu unit kerja maka sumberdaya
manusia dimaksud adalah tenaga kerja,
pegawai, atau karyawan (Notoatmodjo,
2003). Dalam sebuah organisasi sangat
diperlukan pembagian tugas yang baik
dan pemberian wewenang yang tepat,
namun demikian yang lebih penting
lagi adalah menempatkan orang-orang
secara tepat pula.
Kuantitas
dan
kualitas
sumberdaya manusia yang memadai
diiringi dengan penempatan personil
sesuai dengan kapabilitasnya akan
berdampak
pada
efektifitasnya
pelayanan dan sistem organisasi
pemerintah
daerah.
Kualitas
sumberdaya
manusia
sangat
dipengaruhi oleh tingkat pendidikan
baik formal maupun non formal seperti
pelatihan, seminar, dan lain-lain.
Keefektifan
organisasi
pemerintah
daerah tentu saja akan berpengaruh
pada
peningkatan
Pengelolaan
anggaran belanja langsung daerah.
Dalam Penelitian ini yang
dimaksudkan
dengan
sumberdaya
manusia adalah jumlah pegawai,
penempatan
pegawai yang tepat
dimana dapat dilihat dari struktur
organisasi, serta tingkat pendidikan
para
pegawai
di
Instansi/SKPD
Pendidikan dan Kesehatan Kabupaten
Barito Utara baik secara formal maupun
non formal.
4.3.2

Kebijakan Pemerintah.
Peraturan Daerah yang dimiliki
Pemerintah
Daerah
akan
lebih

memudahkan untuk menerapkan sangsi


bagi yang melanggar. Pedoman dalam
pengelolaan anggaran belanja langsung
agar sesuai dengan ketentuan Peraturan
Daerah yang ada, disamping itu juga
memungkinkan memberikan reward
kepada
orang-orang
yang
telah
melaksanakan kewajibannya dengan
taat, sehingga peraturan
sangat
diperlukan
untuk
mengatur
hal
tersebut.
Kebijakan pemerintah yang
dimaksud adalah berupa PeraturanPeraturan baik berupa Perda maupun
Surat Keputusan yang dimiliki terkait
dengan pengaturan standard belanja
daerah yang dimiliki oleh Pemerintah
Daerah Kabupaten Barito Utara.
4.3.3

Sarana dan Prasarana.


Menurut Kaho (2005) salah satu
yang
mempengaruhi
pelaksanaan
otonomi
daerah
adalah
adanya
peralatan yang cukup baik. Peralatan
disini adalah setiap benda atau alat
yang dapat dipergunakan untuk
memperlancar pekerjaan atau kegiatan
pemerintah daerah. Peralatan yang baik
adalah peralatan yang praktis, efisien.
Dalam hal ini jelas diperlukan bagi
terciptanya suatu pemerintahan daerah
yang baik seperti alat-alat kantor, alat
komonikasi dan transportasi.
Terry (2000) komponen terakhir
dari pengorganisasian mencakup sarana
prasarana fisik dan sasaran umum
didalam lingkungan dimana pegawaipegawai melaksanakan tugas-tugas
mereka, lokasi, sarana dan prasarana,
ruang gedung/ kelas, puskesmas dan
puskesmas pembantu, serta tenaga yang
memenuhi
standar
kualitas
di
bidangnya dan sikap mental merupakan
faktor-faktor
yang
membentuk
lingkungan.
Dengan
sarana
dan
prsarana yang memadai dalam rangka
pelayanan
terhadap
masyarakat
membuat mudah dalam melaksanakan
kewajibannya sehingga pada akhirnya
akan meningkatkan Efisiensi.

BAB V
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

5.1 Analisishasil penelitian pendidikan


dan kesehatan
5.1.1 Sebelum pemekaran wilayah
kabupaten
Analisis yang digunakan untuk
mengestimasi tingkat efisiensi alokasi
belanja anggaran langsung pendidikan
sebelum pemekaran kabupaten, rasio
yang sekolah dan usia sekolah (X1),
rasio ruang kelas dan murid (X2), rasio
guru dan murid (X3) dan jumlah buta
Huruf/kejar paket (X4), terhadap

APBD Pendidikan di Pemerintah


Kabupaten Barito Utara (Y). Sebagai
dasar perhitungannya digunakan model
efisiensi frontier sebagai berikut :
APBD Pendidikan = 0 + 1X1 + 2X2 +
3X3+4X4+ E (5.1)

Tabel 5.17
Rangkuman hasil frontier antara rasio yang sekolah dan usia sekolah(x1), rasio ruang kelas dan
murid(x2), rasio guru dengan murid(x3) dan jumlah buta huruf/kejar paket(x4) terhadap
efisiensi belanja langsung pendidikan (Y) di Kabupaten Barito Utara
belanja (Y)
Rasio yang
sekolah dan usia
sekolah (x1)
Rasio Kelas dan
Murid (x2)
Rasio Guru dan
Murid (x3)
buta huruf/kejar
paket (x4)
_cons

Coef

Str.Err.

P>z

[95% Conf.

-3.157799

1.618502

-1.95

0.051 -6.330005

-1.114338

1.31456

-0.85

0.397

-3.690827

Interval]

0.0144065
1.462152

2.530076

1.920414

1.32

0.188

-1.233866

6.294018

-2.13855

0.587126

-3.64

0.000

-3.289294

-0.987805

20.39149

8.266846

2.47

0.014

4.188773

36.59421

Sumber : lampiran 1

Persamaan dari hasil efisiensi frontier


diperoleh sebagai berikut ;
Y = 20.39149 3.157799x1
1.114338x2 + 2.530076x3 2.13855x4
Interpretasi dari hasil estimasi efisiensi
frontier telah diperoleh sebagai berikut.
1 (koefisien frontier rasio yang
sekolah dan usia sekolah) =
3.157799 artinya
apabila ada
penambahan rasio sekolah dan
usia sekolah sebesar 1 persen
maka terjadi penurunan anggaran
belanja
langsung
pendidkan
sebesar 3.157799 persen.
2 (koefisien frontier rasio ruang kelas
dan murid) = 1.114338 artinya
apabila ada penambahan rasio
ruang kelas dan murid 1 persen

maka terjadi penurunan anggaran


belanja
langsung
pendidikan
sebesar
1.114338 persen.
3 (koefisien frontier rasio guru dan
murid) = 2.530076 artinya apabila
ada penambahan rasio guru dan
murid 1 persen maka terjadi
peningkatan
belanja
langsung
pendidikan sebesar
2.530076
persen.
4 (koefisien frontier jumlah buta
Huruf/kejar paket) = 2.13855,
artinya apabila ada penambahan
jumlah buta Huruf/kejar paket 1
persen makan terjadi penurunan
anggaran
belanja
langsung
pendidikan sebesar
2.13855
persen.

Berdasarkan tabel 5.17 hasil


estimasi menunjukan bahwa variabel
rasio yang sekolah dengan usia sekolah
dan buta huruf/kejar paket yang sangat
berpengaruh terbalik terhadap efisiensi,
artinya apabila variabel rasio yang
sekolah dengan usia sekolah dan buta
huruf/kejar paket berpengaruh terhadap
efisiensi tetapi terjadi penurunan tingkat
efisiensi sebesar variabel rasio yang
sekolah dan usia sekolah dan buta
huruf/kejar paket, mengingat luas
wilayah dan tidak meratanya penduduk
menjadi
kendala
tersendiri
bagi

pemerintah daerah dalam pencapaian


program/kegiatan, sedangkan rasio
ruang kelas dan murid serta rasio guru
dan murid masih belum signifikan
terhadap alokasi anggaran belanja
langsung pendidikan. Menggunakan
program analisis Stochastic Production
Frontier (SPF), maka diperoleh hasil
estimasi penelitian alokasi anggaran
pendidikan
sebelum
pemekaran
wilayah di Kabupaten Barito Utara
seperti pada gambar 5.2

Gambar 5.2
Hasil Analisis Effisiensi Pendidikan
Tahun 1990/1991 - 2008

1.500
1.000
0.500
0.000
1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002
Sumber

: APBD Kabupaten Barito Utara (data diolah 2010)

Keterangan : Tahun 1990-2002 sebelum pemekaran

Hasil yang diperoleh estimasi pada


gambar 5.2 menyatakan bahwa tingkat
efisiensi pada tahun 1990/1991 hingga
tahun 2002, sangat fluktuatif. Bahwa
berarti
tingkat
efisien
sebelum
pemekaran
wilayah
kabupaten
tergolong masih rendah. Kenddala
utama sebelum pemekaran wilayah
kabupaten yaitu dengan luas wilayah
kabupaten sebelum pemekaran 32.000
Km, dengan penyebaran penduduk
yang tidak merata

5.1.2

Persepsi Masyarakat Terhadap


Pelayanan Pendidikan
Berdasarkan penelitan lapangan
dengan cara wawancara langsung
terhadap masyarakat menggunakan
acak sampel dari 40 responden
memdapatkan hasil bahwa tingkat
effektifitas
belanja
langsung
di
Kabupaten Barito Utara hubungan
antara effisiensi anggaran dengan
effektifitas dari aspek pelaksanaan.
Dalam
perkembangannya
persepsi
masyarakat
terhadap
pelayanan
pendidikan di Kabupaten Barito Utara
sebelum pemekaran dapat dilihat pada
gambar 5.3

Gambar 5.3
Persepsi Masyarakat Terhadap Pelayanan Pendidikan
Sebelum pemekaran wilayah
w
kabupaten
Tahun 1990/1990 2008
100%
80%
60%
40%
20%
0%
Sarana &
Peningkat
Kualitas Kuantitas
Biaya
prasarana
Perpustak
an
guru/pen guru/pen
pendidika
pendidika
aan
guru/pen
gajar
gajar
n
n
gajar
tidak memadai

30

40

32.5

37.5

35

100

memadai

70

60

67.5

62.5

65

Sumber
Keterangan

: hasil lapangan ( data diolah 2010)


: Sebelum Pemekaran Kabupaten

Berdasarkan wawancara dari 40


sampel responden mendapatkan hasil
jawaban sarana dan prasarana memadai
(70%) tidak memadai (30%), kualitas
guru/pengajar memadai (60%) tidak
memadai
(40%),
kuantitas
guru/pengajar memadai (67,5%) tidak
memadai
(32,5%),
perpustakaan
memadai ( 62,5%) tidak memadai
(37,5%), peningkatan guru/pengajar
memadai (65%)
65%) tidakmemadai (35%)
dan biaya pendidikan memadai (0%)
tidak memadai (100%).
Hasil lapangan bahwa alokasi
anggaran pendidikan dari aspek
pelaksanaan adalah masih belum
effisien dan efektif, sedangkan dari sisi
masyarakat Kabupaten Barito Utara
masih mengharapkan
gharapkan biaya pendidikan
untuk di gratiskan selama menempuh
sekolah dari SD s/d SMP. Dikarenakan
luas
wilayah
serta
penyebaran
penduduk yang tidak merata serta

kesadaran tentang pengetahuan


pentingnya pendidikan dimasyakat
yang masih rendah.
5.1.3

Sesudah
dah pemekaran wilayah
kabupaten
Analisis yang digunakan untuk
mengetahui tingkat efisiensi alokasi
belanja anggaran langsung pendidikan
setelah pemekaran kabupaten, rasio
r
yang sekolah dan usia sekolah (X1),
rasio ruang kelas dan murid (X2), rasio
guru dan murid (X3) dan jumlah buta
huruf/kejar
paket
(X4),
terhadap
APBDPendidikan
di
Pemerintah
Kabupaten Barito Utara (Y). Sebagai
dasar perhitungannya digunakan model
efisiensi
fisiensi frontier sebagai berikut :
APBD Pendidikan = 0 + 1X1 + 2X2 +
3X3+4X4+ D+E . . . ( 5.2 )

Tabel 5.18
Rangkuman hasil frontier antara rasio yang sekolah dan usia sekolah(x1), rasio ruang kelas dan
murid(x2), rasio guru dengan murid(x3) dan jumlah buta huruf/kejar paket(x4) terhadap
efisiensi belanja langsung pendidikan (y) di Kabupaten Barito Utara
belanja (Y)
Rasio yang
sekolah dan usia
sekolah (x1)
Rasio Kelas dan
Murid (x2)

Coef.

Std.

Err.

P>z

[95% Conf.

Interval]

28.96393

13.05921

2.22

0.027

3.368346

54.55952

-2.928686

7.251689

-0.4

0.686 -17.14174

11.28436

Rasio Guru dan


Murid (x3)

5.859223

7.596409

0.77

0.441 -9.029465

20.74791

buta huruf/kejar
paket (x4)

-1.189895

4.974228

-0.24

0.811 -10.93920

8.559413

5.663929

11.20072

0.51

0.613 -16.28908

27.61694

_cons

Sumber : lampiran 2

Persamaan dari hasil efisiensi setelah


pemekaran kabupaten diperoleh sebagai
berikut;
Y = 5.663929 + 28.96393x1 - 2.9286861x2 +
5.859223x3 - 1.189895x4
Interpretasi dari hasil analisis efisiensi
telah diperoleh sebagai berikut.
1 (koefisien frontier rasio yang
sekolah dan usia sekolah) =
28.96393, artinya apabila ada
penambahan rasio sekolah dan usia
sekolah sebesar 1 persen maka
terjadi peningkatan belanja
langsung
pendidkan
sebesar
28.96393 persen.
2 (koefisien frontier rasio ruang kelas
dan murid) = - 2.9286861, artinya
apabila ada penambahan rasio
ruang kelas dan murid
1 persen
maka terjadi penurunan belanja
langsung pendidikan sebesar
2.9286861 persen.
3 (koefisien frontier rasio guru dan
murid) = 5.859223, artinya apabila
ada penambahan rasio guru dan
murid 1 persen maka terjadi
peningkatan
belanja
langsung
pendidikan
sebesar
5.859223
persen.
4 (koefisien frontier jumlah buta
huruf/kejar paket) = - 1.189895,
artinya apabila ada penambahan
jumlah buta Huruf/kejar paket 1
persen
makan
maka
terjadi
penurunan
belanja
langsung

pendidikan sebesar - 1.189895


persen.
Berdasarkan tabel 5.18 hasil
estimasi efisiensi menunjukan bahwa
variabel rasio yang sekolah dan usia
sekolah, menunjukkan berpengaruh
positif terhadap efisiensi anggaran
belanja langsung pendidikan sesudah
pemekaran kabupaten. Sedangkan rasio
ruang kelas dan murid, rasio guru dan
murid serta buta huruf/kejar paket
belum berpengaruh terhadap efisiensi
setelah pemekaran kabupaten. Tetapi
sudah ada pengaruh positif terhadap
rasio guru dan murid, hal ini terjadi
dikarenakan
pemekaran
wilayah
kabupaten relatif pendek dengan
demikian dampak pengaruh efisiensi
alokasi anggaran belanja langsung
pendidikan belum banyak terjadi
perubahan tingkat efisiensinya di
Kabupaten Barito Utara.
Sedangkan dari hasil perhitungan
tingkat efisiensi variabel rasio ruang
kelas dan murid dan buta huruf/kejar
paket belum berpengaruh terhadap
alokasi anggaran belanja langsung
pendidikan setelah pemekaran wilayah
kabupaten, hal ini senada dengan yang
diungkapkan
oleh
Kepala
Dinas
Pendidikan Kabupaten Barito Utara,
pada tanggal 27 Oktober 2010;
Bahwa
dengan
penyebaran
penduduk yang tidak merata serta
jauh jarak antara desa yang satu

dengan yang lain sangat kesulitan


untuk
mengantisipasinya,
seandainya
bisa
dijalankan
kegiatannya memakan biaya yang
cukup besar hal ini karena kondisi
alam yang ada di Kabupaten Barito
Utara, terutama wilayah kecamatan
yang
sarana
dan
prasarana
transportasi sangat minim
Serta dalam perencanaan Dinas
Pendidikan menginventarisir semua
program/kegiatan yang ada di
SKPD Diknas hal ini dilaksanakan
sejauhmana
kegiatan-kegiatan
tersebut dilaksanakan ? dalam hal
ini supaya perencanaan untuk
kedepan bisa lebih akuntabel serta
tepat sasaran yang nantinya akan

meningkatkan
efisiensi
yang
maksimal.
Sedangkan untuk penganggaran
Dinas pendidikan menyesuaikan
dengan kondisi lapangan dimana
program/kegiatan itu dilaksanakan
dengan
mempertimbangkan
peraturan
yang
ada
tentang
anggaran serta kondisi wilayah
kegiatan berdasarkan surat edaran
Bupati Barito Utara No.130.21/ 290 /
DPPKA. Tentang penatausahaan
dan pengelolaan keuangan daerah.
Menggunakan program analisis
Stochastic Production Frontier (SPF), maka
diperoleh hasil penelitian alokasi
anggaran pendidikan di Kabupaten
Barito Utara setelah pemekaran wilayah
seperti pada gambar 5.4

Gambar 5.4
Hasil Analisis Effisiensi Pendidikan
Tahun 1990/1991 - 2008

0.997
0.997
0.997
0.997
2003

2004

2005

2006

2007

2008

Sumber data : APBD Kabupaten Barito Utara ( data diolah 2010)


Keterangan : Tahun 2003-2008 setelah pemekaran

Sedangkan setelah pemekaran


kecenderungan tingkat efisiensinya
sudah mulai membaik. Hal ini dapat
dlihat pada tabel 5.4 tingkat efisiensi
alokasi anggaran belanja pendidikan
bila dibandingkan sebelum pemekaran
wilayah kabupaten walaupun masih
belum berpengaruh banyak tetapi ada
kecenderungan meningkat efisiensinya..
Pendidikan merupakan salah satu
faktor yang sangat menentukan dalam
kualitas manusia, semakin tinggi
pendidikan yang ditempuh seseorang
maka diharapkan semakin tinggi
kualitas
masyarakat.
Melalui
pendidikan
maka
pengetahuan,
kecerdasan dan ketrampilan masyarakat

akan berkembang. Oleh karena itu,


kewajiban pemerintah secara terus
menerus
meningkatkan
mutu
pendidikan serta menyangkut aspek
pemerataan terutama dalam bidang
pendidikan khususnya di Kabupaten
Barito Utara.
Peningkatan
pertumbuhan
anggaran pendidikan terlihat terjadi
setelah pemekaran wilayah kabupaten
yaitu antara tahun 2003 sampai dengan
2008 itu ditunjukkan dengan hasil
estimasi bahwa mulai membaik tingkat
efisiensinya. Peningkatan membaiknya
efisiensi sejak tahun 2003 hinga tahun
2008, ini juga disebabkan adanya
pembagian wilayah yang tadinya 11

kecamatan sekarang Barito Utara


menjadi
6
kecamatan,
secara
administrataif wilayah pemerintah lebih
berkonsentrasi
si dalam penangganan
anggaran
5.1.4
.4 Persepsi Masyarakat Terhadap
Pelayanan Pendidikan
Berdasarkan hasil penelitan
lapangan dengan cara wawancara
langsung
terhadap
masyarakat
menggunakan acak sampel dari 40

responden memdapatkan hasil bahwa


tingkat effektifitas belanja langsung di
Kabupaten Barito Utara ada hubungan
antara effisiensi anggaran dengan
effektifitas dari aspek pelaksanaan.
Perkembangan persepsi masyarakat
terhadap pelayanan pendidikan di
Kabupaten Barito Utara sesudah
pemekaran wilayah kabupaten
abupaten dapat
dilihat pada gambar 5.5

Gambar 5.5
Persepsi Masyarakat Terhadap Pelayanan Pendidikan
Sesudah pemekaran wilayah kabupaten
Tahun 1990/1990 - 2008

100%
80%
60%
40%
20%
0%
Sarana &
Kualitas
prasarana
guru/pen
pendidika
gajar
n

Peningkat
Kuantitas
Biaya
Perpustak
an
guru/pen
pendidika
aan
guru/pen
gajar
n
gajar

tidak memadai

12.5

20

17.5

15

12.5

100

memadai

87.5

80

82.5

85

87.5

Sumber
Keterangan

: hasil lapangan ( data diolah 2010)


: Setelah Pemekaran Kabupaten

Berdasarkan gambar 5.5 hasil dari


wawancara
sebanyak
40
sampel
responden mendapatkan hasil jawaban
sarana dan prasarana memadai (87,5%)
tidak
memadai
(12,5%),
kualitas
guru/pengajar memadai (80%) tidak
memadai
(20%),
kuantitas
guru/pengajar memadai (82,5%)
(82,5% tidak
memadai
(17,5%),
perpustakaan
memadai ( 85%) tidak memadai (15%),
peningkatan guru/pengajar memadai
(87,5%) tidak memadai (12,5%) dan
biaya pendidikan memadai (0%) tidak
memadai (100%).
Berdasarkan gambar 5.5, tingkat
efisien sudah mulai membaik dengan
adanya
peningkatan
sarana
dan
prasarana pendidikan walaupun masih
belum
sepenuhnya
terpenuhi
dikarenakan
pemekaran
wilayah
kabupaten masih tergolong relatif
pendek yaitu 6 (enam) tahun. Disisi
Di
lain
salah satu indikator biaya pendidikan,

masyarakat
mengaharapkan
biaya
pendidikannya di gratiskan oleh
Pemerintah Daerah Kabupaten Barito
Utara.
5.2.1
5.2.1.1

Tingkat Effisiensi Kesehatan


Sebelum pemekaran wilayah
kabupaten
Analisis
is yang digunakan untuk
mengestimasi tingkat efisiensi alokasi
belanja anggaran langsung kesehatan,
jumlah
umlah kelahiran hidup (X1), Jumlah
angka harapan hidup (X2), Jumlah
kapasitas paramedis (X3) dan Jumlah
kapasitas puskesmas (X4), terhadap
APBDKesehatan
di
Pemerintah
Kabupaten Barito Utara (Y). Sebagai
dasar perhitungannya digunakan model
efisiensi frontier sebagai berikut;
APBD Kesehatan = 0 + 1X1 + 2X2 +
3X3 + 4X4+ E . . . (5.3)

Tabel 5.19
Rangkuman hasil frontier antara jumlah kelahiran hidup(x1), angka harapan hidup(x2), jumlah
kapasitas paramedis(x3) dan jumlah kapasitas puskesmas(x4) terhadap efisiensi belanja
langsung kesehatan(Y) di Kabupaten Barito Utara
belanja (Y)
Angka Kelahiran
Hidup
(x1)
Angka Harapan
Hidup
(x2)
Rasio Penduduk
dengan
Paramedis (x3)
Rasio Penduduk
dengan
Puskesmas(x4)
_cons

Coef.

Std.

Err.

P>z

[95% Conf.

Interval]

1.108361

1.592227

0.70

0.486

-2.012347

4.229069

20.10334

49.91808

0.40

0.687

-77.73429

117.941

0.8854379

0.610988

1.45

0.147

-0.312077

2.082953

-4.201188
-48.85178

1.241052
227.9252

-3.39
-0.21

0.001
0.830

-6.633606
-495.5771

-1.76877
397.8735

Sumber : Lampiran 3
Persamaan dari hasil efisiensi diperoleh
sebagai berikut ;
Y = - 48.85178 + 1.108361x1 +
20.10334x2 + 0.8854379x3 - 4.201188x4
Interpretasi dari hasil analisis efisiensi
telah diperoleh sebagai berikut.
1 (koefisien frontier jumlah kelahiran
hidup) = 1.108361, artinya apabila
ada penambahan jumlah kelahiran
hidup 1 persen maka terjadi
peningkatan
alokasi
anggaran
belanja langsung kesehatan sebesar
1.108361 persen.
2 (koefisien frontier angka harapan
hidup) = 20.10334, artinya apabila
ada penambahan angka harapan
hidup 1 persen maka terjadi
peningkatan
alokasi
anggaran
belanja langsung kesehatan sebesar
20.10334 persen.
3 (koefisien frontier jumlah kapasitas
paramedis) = 0.8854379, artinya
apabila ada penambahan jumlah
kapasitas paramedis
1
persen maka terjadi peningkatan
alokasi anggaran belanja langsung
kesehatan sebesar
0.8854379
persen.
4 (koefisien frontier jumlah kapasitas
puskesmas) = -4.201188, artinya
apabila ada penambahan jumlah
kapasitas puskesmas
1
persen maka terjadi penurunan

alokasi anggaran belanja langsung


kesehatan
sebesar
-4.201188
persen.
Berdasarkan tabel 5.19, diperoleh
hasil estimasi bahwa variabel rasio
penduduk
dengan
puskesmas
berpengaruh terhadap efisiensi alokasi
anggaran belanja langsung kesehatan di
Kabupaten Barito Utara. Dilihat dari
nilai koefisiennya bernilai negatif hal ini
menunjukkan jika terjadi peningkatan
variabel rasio penduduk dengan
puskesmas maka akan menurukan
tingkat efisiensi alokasi anggaran
belanja langsung kesehatan. Hasil ini
bertolak belakang dengan teori yang
ada karena menurut teori semakin
tinggi
rasio
penduduk
dengan
puskesmas maka akan meningkatkan
tingkat efisiensi. Sedangkan variabel
angka kelahiran hidup, rasio penduduk
dengan paramedis, serta angka harapan
hidup belum signifikan terhadap
efisiensi alokasi anggaran belanja
langsung kesehatan sebelum pemekaran
wilayah di Pemerintah Kabupaten
Barito Utara .
Menggunakan program analisis
Stochastic Production Frontier (SPF), maka
diperoleh hasil penelitian alokasi
anggaran kesehatan di Kabupaten
Barito Utara sebelum pemekaran
wilayah seperti pada gambar 5.6

Gambar 5.6
Hasil Analisis Effisiensi Kesehatan
Tahun 1990/1991 2008
1.0000
0.5000
0.0000
1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002
Sumber
: APBD Kabupaten Barito Utara ( Data diolah 2010)
Keterangan : Tahun 1990-2002
2002 sebelum pemekaran

Berdasarkan estimasi gambar 5.6


menunjukkan hasil yang diperoleh
menyatakan, bahwa hasil efisiensi pada
tahun 1990/1991 hingga tahun 2002
sangat fluktuatif tingkat pertumbuhan
efisiensi alokasi anggaran belanja
kesehatan sebelum pemekaran wilayah
di Kabupaten Barito Utara.
5.2.1.2
.2 Persepsi Masyarakat Terhadap
Pelayanan Kesehatan
Berdasarkan
hasil
lapangan
dengan cara wawancara langsung

terhadap masyarakat menggunakan


acak sampel dari 40 sampel responden
memdapatkan hasil bahwa tingkat
efisiensi alokasi anggaran belanja
langsung kesehatan di Kabupaten Barito
Utara, ada hubungan antara effisiensi
anggaran dengan effektifitas dari aspek
pelaksanaannya
nya tetapi tidak terlalu
besar sebelum pemekaran wilayah
kabupaten.
Persepsi
masyarakat
terhadap pelayanan Kesehatan di
Kabupaten Barito Utara sebelum
pemekaran wilayah selama ini dapat
dilihat gambar 5.7

Gambar 5.7
Persepsi Masyarakat
Ma
Terhadap Pelayanan Kesehatan
Sebelum pemekaran wilayah kabupaten
Tahun 1990/1991- 2008
100%
80%
60%
40%
20%
0%
Sarana & Pelayana Kuantitas
prasarana
n
paramedi
kesehat
kesehat
kesehat
s

Pelayana
n jam
kerja

Pelayana
n
puskes

Biaya
berobat

tidak memadai

35

37.5

45

42.5

40

100

memadai

65

62.5

55

57.5

60

Sumber
Keterangan

: hasil lapangan (data diolah 2010)


: Sebelum Pemekaran Kabupaten

Berdasarkan
hasil
dari
wawancara
sebanyak
40
sampel
responden mendapatkan hasil jawaban
sarana dan prasarana memadai (65%)
tidak memadai (35%), pelayanan
kesehatan memadai (62,5%) tidak

memadai (37,5%), kuantitas paramedis


memadai (55%) tidak memadai (45%),
(45%
pelayanan jam kerja memadai ( 57,5%)
tidak memadai (42,5%), pelayanan
puskesmas
memadai
(60%)
tidakmemadai
(40%)
dan
biaya

kesehatan memadai (0%) tidak memadai


(100%)
Berdasarkan gambar 5.7 terlihat
bahwa masih belum efektif dari sisi
pelayanan
serta
perlu
diadakan
peningkatan tingkat efisiensi dan
efektifitas alokasi anggaran belanja
langsung kesehatan, tetapi
tidak
mengabaikan indikator biaya berobat

masyarakat yang mengaharapkan biaya


berobat kesehatan di gratiskan oleh
Pemerintah Daerah Kabupaten Barito
Utara.
5.2.1.3

Sesudah pemekaran wilayah


kabupaten

APBD Kesehatan = 0 + 1X1 + 2X2 +


3X3 + 4X4+D+ E . . . . . . (5.4 )

Tabel 5.20
Rangkuman hasil frontier antara jumlah kelahiran hidup(x1), angka harapan hidup(x2), jumlah
kapasitas paramedis(x3)dan jumlah kapasitas puskesmas(x4) terhadap efisiensi belanja
langsung kesehatan(Y)
di Kabupaten Barito Utara
belanja (Y)

Coef.

Std.

Err.

P>z

[95% Conf.

Interval]

Angka elahiran
Hidup
(x1)

25.79063

2.069325

12.46

0.00

21.73483

29.84643

Angka arapan
Hidup
(x2)

-348.115

25.09949

-13.87

0.00

-397.309

-298.921

Rasio Penduduk
dengan
Paramedis (x3)

0.714209

0.472263

1.51

0.13

-0.21141

1.639828

Rasio Penduduk
dengan
Puskesmas(x4)

4.19089

6.217279

0.67

0.5

-7.99475

16.37653

1274.238

110.4508

11.54

1057.758

1490.718

_cons

Sumber : Lampiran 4

Persamaan dari hasil efisiensi diperoleh


sebagai berikut ;
Y = 1274.238 + 25.79063x1348.1148x2 +
0.7142091x3 + 4.19089x4
Interpretasi dari hasil analisis efisiensi
telah diperoleh sebagai berikut.
1 (koefisien frontier angka kelahiran
hidup) = 25.79063, artinya apabila
ada penambahan jumlah kelahiran
hidup 1 persen maka terjadi
peningkatan
alokasi
anggaran
belanja langsung kesehatan sebesar
25.79063 persen.
2 (koefisien frontier angka harapan
hidup)
=
348.1148,
artinya
apabila ada penambahan angka
harapan
hidup
1
persen
maka terjadi penurunan alokasi
anggaran
belanja
langsung
kesehatan 348.1148 persen.
3 (koefisien frontier rasio penduduk
dengan paramedis) = 0.7142091,
artinya apabila ada penambahan
jumlah
kapasitas
paramedis

1 persen maka terjadi peningkatan


belanja langsung kesehatan sebesar
0.7142091 persen.
4 (koefisien frontier rasio penduduk
dengan puskesmas) = 4.19089,
artinya apabila ada penambahan
jumlah
kapasitas
puskesmas
1 persen maka terjadi peningkatan
belanja langsung kesehatan sebesar
4.19089 persen.
Berdasarkan tabel 5.20 hasil
estimasi diperoleh, variabel angka
kelahiran hidup dan angka harapan
hidup berpengaruh terhadap tingkat
efisiensi alokasi anggaran belanja
langsung kesehatan setelah pemekaran
wilayah kabupaten di Barito Utara,
namun variabel angka harapan hidup
dilihat dari nilai koefisiennya yang
bernilai negatif hal ini menunjukkan jika
semakin banyak angka harapan hidup
maka
justru
akan
menimbulkan
penurunan tingkat efisiensi. Hal ini
bertolak belakang dengan teori yang

ada karena menurut teori semakin


banyak jumlah angka harapan hidup
maka meningkatkan tingkat efisiensi.
Adapun penyebab penurunan tingkat
efisiensi alokasi anggaran belanja
lansung kesehatan diungkapkan Kepala
Seksi Dinas Kesehatan Kabupaten Barito
Utara tanggal, 23 Nopember 2010,
bahwa komposisi yang mempengaruhi
terbentuknya angka harapan hidup itu
sendiri antara lain;
Peningkatan derajat kesehatan
memiliki kaitan yang sangat erat
dengan faktor lingkungan, faktor
perilaku,
faktor
pelayanan
kesehatan dan genetik. Faktor
terbesar yang menentukan tingkat
derajat kesehatan dari keempat
faktor tersebut adalah faktor
perilaku masyarakat itu sendiri
Kesadaran masyarakat terlihat dari
pola pikir dalam hal kesehatan yang
terimplementasi dalam kehidupan
sehari-hari seperti keadaan rumah
untuk tempat tinggal, kesadaran
masyarakat untuk menggunakan
fasilitas buang air besar, dan
lainnya
Peningkatan
Kesadaran
akan
pentingnya perencanaan dalam
kehidupan berkeluarga memiliki
kecenderungan peningkatan. Hal
ini dapat dilihat dari sisi umur
kawin pertama dan penggunaan alat
kontrasepsi. Semakin muda usia
seorang wanita memasuki jenjang
perkawinan maka semakin panjang
masa reproduksinya dan semakin
besar
kemungkinannya
untuk
memiliki
anak
lebih
banyak.
Pemerintah
telah
menentukan
umur minimum melangsungkan
perkawinan untuk wanita adalah 20
tahun dan untuk pria adalah 25
tahun. Hal ini berdasarkan pada
usia tersebut baik laki-laki dan
perempuan diharapkan sudah siap
secara fisik dan mental untuk
menjalani
perkawinan.

Dihubungkan dengan kesehatan


maka pada usia tersebut wanita
telah siap untuk melahirkan.
Berdasarkan
penelitian
bahwa
angka kematian bayi dan ibu
sebagian
besar
berada
pada
kelompok usia ibu di bawah 20
tahun
Penggunaan
alat
kontrasepsi
berguna untuk mengatur jumlah
anak yang dimiliki dan jarak anak
yang dilahirkan. Dengan jumlah
anak yang terbatas sesuai anjuran
pemerintah cukup 2 anak akan
membuat orang tua lebih mampu
memberikan kesempatan dari sisi
kualitas maupun kuantitas kepada
anak, baik dari segi pendidikan,
pemberian gizi dan sisi lainnya yang
tentu berbanding terbalik seiring
dengan jumlah anak yang lebih
banyak
Pelayanan, ketersediaan dan akses
ke fasilitas kesehatan memiliki
kontribusi tidak kalah pentingnya
terhadap umur harapan hidup
seseorang. Dengan meningkatnya
pelayanan kesehatan diharapkan
makin banyak penduduk yang
mengalami
keluhan
kesehatan
mengunjungi fasilitas pelayanan
kesehatan
untuk
mengobati
penyakitnya.
Apabila Pemerintah Daerah ingin
memaksimalkan dalam pencapaian
program/kegiatan serta pemerataan
terhadap peningkatan kualitas angka
harapan hidup alokasi anggaran belanja
langsung kesehatan harus ditingkatkan
karena penduduk Barito Utara tempat
tinggalnya
tidak
merata
serta
kecenderungan berkelompok dan di
sepanjang alur sungai Barito, sangat
memerlukan biaya operasional yang
cukup tinggi dilihat dari kondisi alam
Pemerintah Daerah Kabupaten Barito
Utara. Variabel rasio penduduk dengan
paramedis dan rasio penduduk dengan
puskesmas belum signifikan terhadap

tingkat efisiensi alokasi anggaran


belanja langsung kesehatan sesudah
pemekaran
wilayah
kabupaten
dikarenakan jangka waktu sampel data
sangat pendek 6 (enam) tahun.

Menggunakan program analisis


Stochastic Production Frontier (SPF), maka
diperoleh hasil penelitian alokasi
anggaran kesehatan di Kabupaten
Barito Utara sesudah pemekaran
wilayah seperti pada gambar 5.8

Gambar 5.8
Hasil Analisis Effisiensi Kesehatan
Tahun 1990/1991 2008

0.9882
0.9880
0.9878
0.9876
0.9874
2003

2004

2005

2006

2007

2008

Sumber
: APBD Kabupaten Barito Utara ( Data diolah 2010)
Keterangan : Tahun 2003-2008 setelah pemekaran

Melihat pertumbuhan efisiensi


setelah pemekaran walaupun masih
belum signifikan tingkat efisiensinya
kecenderungan
adanya
perbaikan
setelah pemekaran. Pembangunan di
bidang
kesehatan
dalam
rangka
meningkatkan pemerataan pelayanan
kesehatan
masyarakat
pemerintah
memperhatikan kondisi lingkungan
masyarakat. Hal tersebut tercapai
apabila sarana dan prasarana tersedia
dalam kondisi cukup dan terjangkau
oleh masyarakat. Sarana dan prasarana
tidak lepas dari alokasi anggaran
kesehatan yang memadai antara lain
berupa rumah sakit, puskesmas dan
puskesmas pembantu serta tenaga
kesehatan itu sendiri. Untuk mencapai
tujuan pemerintah daerah Kabupaten
Barito Utara secara terus menerus
meningkatkan pembangunan bidang
kesehatan.
Peningkatan
pertumbuhan
anggaran kesehatan terlihat setelah
pemekaran wilayah kabupaten tahun
2003
sampai
dengan
2008
menunnjukkan hasil estimasi frontier
tingkat efisiensi mengalami peningkatan

walaupun belum mencapai efisiensi


maksimal berarti terjadi perbaikan sejak
tahun 2003 hingga tahun 2008, dengan
adanya pemekaran wilayah kabupaten
semula 11 kecamatan sekarang menjadi
6 kecamatan, secara administratif
wilayah Pemerintah Daerah Kabupaten
Barito Utara lebih berkonsentrasi dalam
penangganan
alokasi
anggaran
kesehatan.
Tahun 2007-2008 kecenderungan
menurun berdasarkan grafik efisiensi
hasil
estimasi,
kecenderungan
penurunan disebabkan faktor non teknis
dari program/kegiatan yang dijalankan
oleh pemerintah daerah. Hasil temuan
dilapangan adanya kemarau panjang
mengakibatkan
program/kegiatan
kesehatan ke pedalaman Kabupaten
Barito Utara terganggu. Hal senada
diungkapkan oleh bapak Drs.H.Sapto
Nugroho, MM (Jabatan Sekretaris
Daerah Kabupaten Barito Utara), pada
tanggal, 28 Oktober 2010 penyebab
menurunnya
efisiensi
di
bidang
kesehatan sebagai berikut :
Pada
tahun
2007-2008
di
Kabupaten Barito Utara mengalami

inefisiensi disebabkan terjadinya


karena faktor alam yaitu kemarau
panjang mengakibatkan berdampak
pada surutnya air sungai Barito dan
sungai-sungai
sungai
yang
ada
di
Kabupaten Barito Utara, perlu
diketahui
ui
bahwa
sarana
transportasi utama masyarakat
Barito Utara khususnya dalam
pencapaian
ke
pedalaman
Kabupaten
Barito
Utara
menggunakan sarana air, dari sini
kegiatan operasional kesehatan
pemerintah
yang
langsung
menyentuh ke masyarakat Barito
Utara khususnya
ya di pedalaman
terganggu terutama dalam bidang
Kesehatan, karena kesahatan tidak
bisa disamakan dengan bidang
Pendidikan dalam pencapaiannya
khususnya di Kabupaten Barito
Utara. Tidak bisa disamakan disini

dalam arti apabila ada masyarakat


sakit tidak harus
us menunggu, tapi
pendidikan
walaupun
ada
keterlambatan tetap proses belajar
mengajar terus berjalan tidak harus
menunggu.
5.2.1.4PersepsiMasyarakat
.4PersepsiMasyarakat Terhadap
Pelayanan Kesehatan
Berdasarkan
hasil
lapangan
dengan cara wawancara langsung
terhadap masyarakatt menggunakan
acak sampel dari 40 responden
memdapatkan hasil bahwa tingkat
efisiensi
dan
effektifitas
belanja
langsung kesehatan di Kabupaten Barito
Utara ada hubungan antara effisiensi
anggaran dengan effektifitas dari aspek
pelaksanaan. Persepsi
masyarakat
masyar
terhadap pelayanan Kesehatan di
Kabupaten Barito Utara selama ini
dapat dilihat gambar 5.9

Gambar 5.9
Persepsi Masyarakat Terhadap Pelayanan Kesehatan
Sesudah pemekaran wilayah kabupaten
Tahun 1990/1991- 2008

100%
80%
60%
40%
20%
0%
Sarana & Pelayana Kuanlitas Pelayana Pelayana
prasaran
n
paramedi
n jam
n
a
kesehat
s
kerja
puskes

Biaya
berobat

tidak memadai

22.5

20

17.5

17.5

20

100

memadai

77.5

80

82.5

82.5

80

Sumber
Keterangan

: hasil lapangan (data diolah 2010)


: Setelah Pemekaran Kabupaten

Berdasarkan
dari
hasil
wawancara sebanyak 40 responden
dengan mendapatkan hasil jawaban
sarana dan prasarana Kesehatan
memadaii (77,5%)
tidak memadai
(22,5%), Pelayanan Kesehatan memadai
(80%) tidak memadai (20%), kuantitas
paramedis memadai (82,5%) tidak
memadai (17,5%), Pelayanan jam kerja
memadai ( 82,5%) tidak memadai
(17,5%), Pelayanan Puskesmas memadai

(80%) tidakmemadai (20%) dan biaya


berobat ke Puskesmas dan Pustu
memadai (0%) tidak memadai (100%)
Hasil lapangan bahwa alokasi
anggaran
kesehatan
dari
aspek
pelaksanaan adalah tingkat effisien
masih kurang tetapi sudah ada
perbaikan peningkan efisiensi setelah
pemakaran
mengingat
pemekaran
wilayah kabupaten masih tergolong
relatif pendek waktunya yaitu 6 (enam)

tahun., Sedangkan dari sisi masyarakat


Kabupaten
Barito
Utara,
masih
mengharapkan bahwa biaya berobat
untuk di gratiskan selama berobat di
Puskesmas dan Puskesmas Pembantu.
5.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi
effisiensi
belanja
langsung
Pendidikan dan Kesehatan.
Berdasarkan
hasil
analisis
yang
diperoleh belanja langsung bidang
pendidikan dan kesehatan adalah
effisien, dari hasil itu ada beberapa
faktor yang mempengaruhi terhadap
effisiensi antara lain :
5.3.1

Sumberdaya Manusia
Sumberdaya manusia yang
cakap, mampu dan terampil belum
menjamin produktifitas kerja yang baik,
apabila moral kerja dan kedisiplinannya
rendah. Mereka baru bermanfaat bila
dapat
mendukung
terwujudnya

organisasi. SDM yang kurang mampu,


kurang cakap dan tidak trampil, salah
satunya mengakibatkan pekerjaan tidak
dapat diselesaikan secara optimal
dengan cepat dan tepat pada waktunya.
Keberhasilan kebijakan efisiensi
belanja langsung pendidikan yang
dijalankan
Pemerintah
Daerah
Kabupaten Barito Utara dipengaruhi
sumberdaya manusia yang berkualitas,
sarana dan prasarana serta sumberdana,
serta didukung tersedianya sarana
sekolah yang memadai dan tenaga
pengajar yang berkualitas dengan
diadakannya bagi pengajar yang
dianggap mampu serta memberikan
kebijakan sertifikasi bagi para pengajar
dapat dilihat pada tabel .5.25 5.26
sebagai berikut :

Tabel 5.25
Sumberdaya Manusia Pengelola Anggaran Pendidikan
Tahun 2008
No

Gololngan

Jumlah

IV

65 Orang

III

153 Orang

II

57 Orang

2 Orang

Sumber : DPPKA Kab.Barito Utara Tahun 2008


Tabel 5.26
Sumberdaya Manusia Pengelola Anggaran Pendidikan
Di daerah terpencil
Tahun 2008
No

Gololngan

Jumlah

IV

16 Orang

III

16 Orang

II

2 Orang

Sumber : DPPKA Kab.Barito Utara Tahun 2008

Pemerintah Daerah Kabupaten


Barito Utara secara umum pegawai
pengelolaan
anggaran
bidang
pendidikan telah cukup memadai, itu
terlihat dari pegawai pegawai yang
ada hal ini dapat dilihat pada tabel. 5.21

dan 5.22. Namun begitu Pemerintah


Daerah terus berusaha meningkatkan
kualitas sumberdaya manusia dalam
pengelolaan anggaran pendidikan guna
peningkatan tingkat efisien belanja
langsung pendidikan di Kabupaten
Barito Utara. Pemerintah Daerah

Kabupaten Barito Utara secara umum


sangat kekurangan pegawai dalam

bidang kesehatan dapat dilihat pada


tabel.5.27 sebagai berikut :

Tabel 5.27
Sumberdaya Manusia Pengelola Anggaran Kesehatan
Tahun 2008
No

Gololngan

Jumlah

1
2
3

IV
III
II

5 Orang
44 Orang
15 Orang

Sumber : DPPKA Kab.Barito Utara Tahun 2008

Pemerintah Daerah Kabupaten


Barito Utara secara umum pegawai
dalam Pengelolaan anggaran bidang
kesehatan telah cukup memadai, itu
terlihat dari pegawai yang ada hal ini
dapat dilihat pada tabel. 5.23, hal ini
juga ada perbedaan antara personil
pengelola anggaran pendidikan dan
kesehatan dikarenakan fungsi dan tugas
memang berbeda pula. Namun begitu
Pemerintah Daerah terus berusaha
meningkatkan kualitas sumberdaya
manusia dalam pengelolaan anggaran
kesehatan guna peningkatan tingkat
efisien belanja langsung kesehatan di
Kabupaten Barito Utara.
5.3.2

Kebijakan Pemerintah
Kebijakan
penganggaran
Pemerintah Kabupaten Barito Utara
berdasarkan
Peraturan
Pemerintah
Nomor 58 Tahun 2005 dan Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun
2006 serta peratutaran perundanganundangan yang terkait lainnya.
SKPD
Pendidikan
dan
Kesehatan pengelolaan anggaran harus
berdasarkan surat edaran Bupati Barito
Utara
No.130.21/290/DPPKA
tentang penatausahaan dan pengelolaan
Keuangan Daerah, serta Renstra dan
Renja SKPD pendidikan dan Kesehatan
telah sesuai dengan Rencana Kerja
Pemerintah Daerah (RKPD)
Kebijakan
anggaran
daerah
semakin dilakukan langkah-langkah
penyempurnaan
dalam
rangka
memantapkan sistem penganggaran
yang berbasis kinerja. Penganggaran

berbasis kinerja menekankan pada


hubungan
yang
optimal
antara
kebutuhan/alokasi anggaran dengan
manfaat dan hasil yang dicapai atau
diperoleh masyarakat dari suatu
kegiatan yang di anggararkan. Sistem
baru ini juga menetapkan dasar-dasar
penyusunan anggaran berdasarkan
prinsip-prinsip
keadilan,
efisiensi,
efektivitas, transparansi, partisipasi dan
akuntabilitas.
Pelaksanaan
monitoring
dan
evaluasi terhadap SKPD Pendidikan
dan
Kesehatan
dari
mulai
penganggaran
sampai
dengan
pelaksanaan kegiatan dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan peraturan
yang berlaku dengan baik, tetapi tidak
menutup
kemungkinan
adanya
hambatan hanbatan faktor
lain
seperti, faktor geografis alam di
Kabupaten Barito Utara itu sendiri.
5.3.3
Sarana dan Prasarana
5.3.3.1 Sarana
dan
Prasarana
Pendidikan
Pemerintah Daerah Kabupaten
Barito Utara dalam bidang pendidikan
berupaya menyiapkan sarana dan
prasarana
yang
memadai
untuk
kegiantan belajar mengajar yang sesuai
standar, terus meningkatkan sarana dan
prasarana antara lain :
a) Merehabilitasi atau membangun
gedung/ruangkelas/rumah
dinas
guru yang sudah tidak layak
digunakan. Penyediaan sarana
penunjang belajar mengajar sesuai
kebutuhan seperti computer, buku,

sarana laboratorium dan penunjang


olah raga.
b) Adanya
kekurangan
guru,
termasuk persyaratan kompetensi
Pemerintah
Daerah
berupaya
memenuhi dengan menempatkan
guru bantu yang telah diangkat
dan untuk memenuhi persyaratan
mengajar, diadakan diklat guru
bidang study, bantuan biaya
pendidikan dan uji kompetensi.
c) Kekurangan guru-guru, di daerah
terpencil secara bertahap dipenuhi
dengan memobilisasi guru dari
daerah yang berlebihan khususnya
di kota, dengan diberikan fasilitas
penunjang.
d) Untuk meningkatkan minat baca
yang rendah, disediakan fasilitas
perpustakaan
yang
memadai
dengan tersedianya buku-buku
yang lengkap dan menarik minat
baca siswa sekolah dari tingkat
dasar sampai jenjang perguruan
tinggi.
e) Untuk menunjang proses kegiatan
belajar perlu disediakan fasilitas
laboratorium
dan
fasilitas
penunjang lainnya yang memadai.
Penyediaan sarana dan prasarana
adalah dalam upaya peningkatan
kualitas dan aksesibilitas pendidikan
anak usia dini, pendidikan dasar dan
menengah
kemudian
peningkatan
budaya
pembelajaran
dalam
masyarakat, peningkatan kualitas dan
kesejahteraan
pendidik
serta
peningkatan
kualitas
manajemen
pendidikan yang efektif dan efisien.
5.4.3.2 Sarana
dan
Prasarana
Kesehatan
Pemerintah Daerah Kabupaten
Barito Utara dalam bidang kesehatan
berupaya menyiapkan sarana dan

prasarana
yang
memadai
untuk
pelayanan ke masyarakat yang sesuai
standar, terus meningkatkan sarana dan
prasarana antara lain :
a) Pemerintah Daerah Kabupaten
Barito Utara dalam menyiapkan
peningkatan Sumberaya manusia
dan memenuhi kekurangan tenaga
medis di Kabupaten Barito Utara
pemerintah aerah mengirim tenaga
kesehatan dan pendidikan untuk
mengikuti program DIII, S1, S2 dan
dokter spesial, guna memenuhi
kebutuhan
pelayanan
kepada
masyakat.
b) Mengadakan
peralatan
dan
penyediaan obat-obatan sesuai
dengan kebutuhan masyarakat di
lapangan.
c) Penyuluhan
dan
pelatihan
dilakukan secara proporsional
antara
penyuluhan
langsung
kepada
masyarakat
dengan
pelatihan
aparatur,
termasuk
penyebarluasan
informasi
kesehatan kepada masyarakat.
d) Membangunan dan merehabilitasi
terhadap sarana dan prasarana
penunjang pelayanan kesehatan,
terutama Puskesmas, Pustu dan
rumah
dinas
yang
sangat
diperlukan.
e) Peningkatan kualitas pelayanan
kesehatan terhadap masyarakat
melalui kursus dan pelatihan (Job
training) bagi aparatur kesehatan
di tingkat Kabupaten maupun
Kecamatan.
Penyediaan sarana dan prasarana
adalah dalam upaya peningkatan
kuanlitas terhadap pelayanan kesehatan
masyarakat,
peningkatan
kualitas
kesejahteraan dokter dan paramedis
guna
memaksimalkan
pelayanan
kesehatan yang efektif dan efisien.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian
dan analisis data serta pembahasannya,
dapat disampaikan kesimpulan hasil
penelitian sebagai berikut .
1. Mengalami pertumbuhan tingkat
efisiensi pengelolaan
anggaran
pendidikan
dan
kesehatan
cenderung sudah cukup tinggi
terutama
setelah
pemekaran.
Walaupun pengelolaan anggaran
cukup efisien namun masyarakat
merasakan bahwa biaya pendidikan
dan
kesehatan
cukup
tinggi.
Demikian juga kualitas pelayanan
publik dirasakan oleh masyarakat
cukup memadai.
2. a) Faktor
faktor
yang
mempengaruhi tingkat efisiensi
alokasi anggaran pendidikan dan
kesehatan yaitu, kualitas SDM di
masing masing SKPD sangat
berpengaruh terhadap tingkat
efisiensi anggaran. Kebijakan
perencanaan
dan
prosedur
pengalokasian
anggaran
berpengaruh terhadap tingkat
efisien anggaran. Sarana dan
prasarana yang dimiliki SKPD
sangat mendukung peningkatan
tingkat
efisiensi
anggaran
terutama
setelah
pemekaran
kabupaten.
b) Variabel yang memiliki pengaruh
dominan
terhadap
tingkat
efisiensi alokasi anggaran belanja
pendidikan
dan
kesehatan
sebelum pemekaran wilayah di
Kabupaten Barito Utara adalah
variabel
rasio
usia
yang
bersekolah dan usia sekolah,

Jumlah buta huruf/kejar paket dan


rasio
penduduk
terhadap
puskesmas. Sedangkan setelah
pemekaran wilayah di Kabupaten
Barito
Utara
variabel
yang
dominan terhadap tingkat efisiensi
alokasi
anggaran
belanja
pendidikan dan kesehatan di
Kabupaten Barito Utara adalah
variabel rasio usia yang bersekolah
dan usia sekolah serta jumlah
kelahiran
hidup
dan
angka
harapan hidup.
6.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas,
dapat disampaikan beberapa saran
sebagai berikut ; Kabupaten Barito
Utara untuk Dinas Pendidikan dan
Dinas Kesehatan :
1.

2.

3.

Pemerintah Daerah Kabupaten


Barito Utara harus mengkaji lebih
mendalam mengapa peningkatan
efisiensi
anggaran
tidak
mempengaruhi
persepsi
masyarakat
tentang
biaya
pendidikan dan kesehatan yang
ditanggung oleh masyarakat.
Kedisiplinan anggaran dimasingmasing SKPD perlu dipertahankan,
jika perlu ditingkatkan.
Masih
perlu
didalami
lagi
hubungan antara tingkat efisiensi
dengan biaya pelayanan publik,
yang secara normatif memiliki
hubungan positif.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Nurjaman. 1990. Public Capital


and Economical Growth : Issues of
Quantity, Finance, and Effesiency.
Economic
Development
and
Ultural Change 48(2):391- 406.
Barito Utara, Kabupaten. 2010. Barito
Utara Dalam Angka 1992-2009.
Muara Teweh.
,2010,

Pendidikan Kabupaten
Barito
Utara
Tahun
1990/1991- 2008.

,2010,

Kesehatan
Kabupaten
Barito
Utara
Tahun
1990/1991-2008.

Barito Utara, Kabupaten. 2010. Anggaran


Pendapatan dan Belanja Daerah
Tahun anggaran 1990/1991 - 2008.
Muara Teweh.
Buchari Zainun. 2004. Administrasi dan
Manajemen Sumber Daya
Manusia Pemerintah Indonesia,
Ghalia Indonesia, Jakarta
Coelli, T.1996, A. Guide to DEAP Version
2.1:
A
Data
Envelopment
Analysis (Computer) Program.
CEPA
Working
Paper
1996/08.http.//www.une.edu.au/e
conometrics/cepa.htm. Desember
2008.
Cooper,W.W., Seiford, and Tone, K.2000.
Data
Envelopment
Analysis:
A.Chomprehensive Text with
Models, Aplications, References
and
DEA-Solver
Sofhware.
http://www.deazone.com.
Nopember 2008.

Dawud, Joni. 2005. Desentralisasi dan


Tuntutan Penataan Kelembagaan
Daerah. Humaniora, Bandung
Etty Puji Lestari, 2001. Efisiensi Teknik
Perbankan di Indonesia Tahun 19951999 : Aplikasi DEA. ( Tesis S2
UGM, tidak dipublikasikan )
Etibar Jafarov dan Victoria Gunnarsson,
Penelitian ini mangkaji tingkat
efisiensi relative dari pengeluaran
pemerintah
untuk
sektor
kesehatan dan pendidikan di
Negara Kroasia pada tahun 2007.
(IMF Working Paper, 2008)
Evaluasi Kinerja Pembangunan Kota
Sukabumi,
2009.
http://www.sukabumikota.go.id/t
apem/akip/Evaluasi_Kinerja_Pem
bangunan_Kota_Sukabumi_2009.
pdf, diakses tgl, 15 Agustus 2010
Farel, MJ. 1957. The Measurrement of
Productivite Effisiency. Journal of
the Royal Statistical Sosiety 120 (
series A). 253-281.
,1987,

Halim,

Ensiklopedi
Indonesia.

Umum

Abdul, 2004, Bunga Rampai


Manajemen Keuangan Daerah,
Edisi Revisi, UPP AMP YKPN,
Yogyakarta.

Harahap, Soyan Syafri. 1996. Manajemen


Kontemporer, penerbit PT
Rajagrafindo Persada. Jakarta

Ichsan,

Moch, Ratih Nur Pratiwi,


Trilaksono
Nugroho,
1997.
Administrasi Keuangan Daerah:
Pengelolaan
dan
penyusunan
Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah (APBD), Cetakan Pertama
PT Danar Wijaya, Brawijaya
University Press. Malang.

Ikhwan. M. 2004, Analisis Efisisiensi


Lemabaga Pendidikan ( Study
Kasus : SMA di Kota Semarang,
Universitas
Diponegoro
Semarang 2004.
Jones Rowan and pendlebury. Maurice
1996. Public sector Accounting,
London, Pitman Publishing
Kaho, Joseph Riwu.1997.Prospek Otonomi
Daerah di Negara Kesatuan Republik
Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo
Persada.

Monden, Y ( 1995 ) Sistem Produksi


Toyota,
buku
pertama
( diterjemakan oleh Nugroho, E )
PT. Pustaka Binaman Pressindo,
Jakarta.
Nawawi, Hadari. 2005. Manajemen
Sumber Daya Manusia Untuk
Bisnis yang Kompetitif. Gajah
Mada University Press.
Yogyakarta
Nicholson W., 1995. Teori Mikro
Ekonomi, Prinsip Dasar dan
Perluasan.Edisi kelima.
Terjemahan : Daniel Wirajaya,
Jakarta : Bina Rupa Aksara.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003.
Pengembangan Sumber Daya
Manusia. Rineka Cipta. Jakarta

Lela Dina Pertiwi (Jurnal Ekonomi


Pembangunan, Vol. 12 No. 2
Agustus 2007,hal. 123-139)

Ritonga, Irwan Taufiq ( 2010) Analisis


Standar Belanja: Konsep, Metode
Pengembangan,
dan
Implementasi
di
Pmerintah
Daerah. Sekolah Pasca Sarjana,
UGM.

Mamesah, DJ, 1997. Sistem Administrasi


Keuangan Daerah, PT Gramedia
Pustaka Utama, Jakarta.

Sadono Sukirno, 2000. Pengantar Teori


Mikro Ekonomi, Edisi Kedua, Jakarta
: PT. Raja Grafindo Persada.

Marijn Verhoeven, dkk. Penelitian yang


dilakukan
tahun 2005 ( IMF
Working Paper, 2007),

Salvator, Dominick, Ph.D. 1995. Teori dan


soal-soal Teori Mikroekonomi.
Edisi kedua. Jakarta Penerbit
Erlangga.

Mardiasmo, 2002. Otonomi dan Manajemen


Keuangan Daerah, Penerbit Andi
Offset. Yogyakarta.
Mardiasmo, 2009. Akuntasi Sektor Publik,
Penerbit
Andi
Offset.
Yogyakarta.
Mardiasmo.
2004. Otonomi dan
Manajemen Keuangan Daerah,
Edisi kedua
,penerbit Andi
Offset. Yogyakarta.
_________ 2009. Akuntansi Sektor Publik.
Andi. Jakarta

Setyowati, E. Dkk 2000. Ekonomi Mikro


Pengantar, Edisi ke 1 Penerbit
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi
YKPN Yogyakarta, 2000.
Siagian,

Sondang P. (1984) Filsafat


Administrasi. Jakarta. Gunung
Agung.

Sjafrizal. 1985. Teori Ekonomi Regional ;


Konsep
Pengembangan.
PT.Gramedia Jakarta.

Soekartawi, 1990. Teori Ekonomi Produksi


Dengan Pokok Bahasan Analisis
Fungsi
Coob-Douglas.
Jakarta
Rajawali Pers.
Sugiyono, 2007, Metode Penelitian
Kuantitatif , kualitatif dan R & D
Penerbit
CV.ALFABETA,
Bandung
Suherlan, Dadang, 2001. Potensi Efesiensi
dan
Efektifitas
Pemungutan
Retribusi Kebersihan di Kota
Bekasi 2001. Tesis-S2 Program
Pascasarjana UGM Yogyakarta.
Sukirno,
Sadono.
1985.
Ekonomi
Pembangunan: Proses, masalah dan
Dasar Kebijakan. LPFE UI, Jakarta.
Sunaryo,
T.2001.
Ekonomi
Manajerial.Aplikasi
Teori
Ekonomi Mikro, Erlangga Jakarta.
Syamsi, Ibnu. 1992. Dasar-dasar
Kebijakan Keuangan Negara. PT
Bina Aksara, Jakarta

Terry, George. 2000. Prinsip-Prinsip


Manajemen, penerbit Bumi
Aksara. Jakarta
Todaro, Michael P. 2000. Pembangunan
Ekonomi 1 Edisi Kelima. PT Bumi
Aksara; Jakarta.
Peraturan Perundang-undangan :
Undang-Undang RI Nomor 32 tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah.
Undang-Undang RI Nomor 33 tahun 2004
tentang Perimbangan Keuangan
antara Pemerintah Pusat dan
Daerah.
Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun
2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah.
Peraturan
Menteri Dalam Negeri RI
Nomor 13 tahun 2006 yang
direvisi menjadi
Nomor 59 Tahun 2007 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan
Daerah.