Anda di halaman 1dari 6

KEDOKTERAN NUKLIR SEBAGAI MODALITAS (STAGING)

PEMERIKSAAN CA HEPAR
Oleh :
Edi Prasetiyono
Radiografer RSPAD Gatot Soebroto Jakarta
Staging merupakan suatu penilaian yang mampu mendeskripsikan seberapa jauh kanker
telah menyebar. Hal-hal yang menjadi pertimbangan dalam staging adalah ukuran tumor/lesi
primer, seberapa dalam penetrasi tumor tersebut, invasi terhadap organ di sekitarnya, luas
penyebaran ke kelenjar getah bening regional, serta organ yang berada jauh dari tumor primer
namun ikut terkena kanker (apabila ada). Pada umumnya staging menggunakan dua metode,
yaitu metode TNM (Tumors, Nodes, Metastases) dan metode AJC (American Joint
Committee).
Berbicara mengenai pemeriksaan dengan kedoketeran nuklir, modalitas utamanya adalah
SPECT CT dan PET CT.
Staging pada liver dengan pencitraan kedokteran nuklir dibagi menjadi tiga seri pencitraan
yaitu :
1. Liver Blood Pool Scan / Sidik puling darah hati.
2. Hole Body 99mTc-MIBI.
3. Bone Scanning.
4. PET-CT

1. Liver Blood Pool Scan / Sidik puling darah hati


Pembahasan yang pertama dimulai dengan blood pool. Defek fokal yang ditemukan pada
sidik hati dapat disebabkan massa jinak atau ganas. Massa jinak seperti kista dan abses miskin
vaskularisasi, sedangkan hemangioma dan keganasan (hepatoma) kaya akan vaskularisasi,
walaupun dengan karakteristik yang berbeda. Pada hepatoma didapatkan hipervaskularisasi
arterial sedangkan pada hemangioma hipervaskularisasi venosa. Karakteristik yang berbeda
ini dapat di evaluasi dengan menilai aliran radiofarmaka 99mTc-eritrosit secara dinamik dan
serial. Pada hepatoma pencitraan fase dinamik akan menunjukkan aliran radiofarmaka yang
cepat kearah lesi tetapi kemudian akan terjadi defek kembali pada pencitraan lanjut (fase
serial), hal ini disebabkan aliran darah keluar dari lesi berlangsung dengan cepat pula.
Sedangkan pada hemangioma terjadi keadaan sebaliknya, yaitu defek radioaktivitas semakin
tinggi terutama pada menit ke-60. hal ini disebabkan aliran darah yang masuk maupun keluar
dari daerah lesi sama-sama lamban. Penentuan suatu defek fokal pada hemangioma sangat
penting, artinya karena bila dilakukan biopsi dapat berakibat fatal.
Indikasi
Deteksi hemangioma hati
Radiofarmaka
99m
Tc-RBC, dengan teknik penandaan in-vivo
Persiapan
Tidak diperlukan persiapan khusus
Peralatan
Kamera gamma, kolimator LEHR, energi 140 keV, dengan window 20%

Tatalaksana

Posisi pasien : telentang dengan lapang pandang meliputi hati

Protokol akuisisi : pencitraan dinamik Anterior, matriks 128x128, 3 detik/frame, 40


frames, dimulai bersamaan dengan saat penyuntikan radiofarmaka secara bolus intravena.
( RBC dulu 15 kemudian baru 99mTC )

Pencitraan pooling Anterior : dilaksanakan segera setelah pencitraan dinamik selesai,


matriks 256x256, cacahan maksimun 500 - 750 kcounts.

Pencitraan serial statik : matriks 256x256, cacahan maksimum : 500 750 kcounts,
waktu akusisi : 5, 10, 15, 20, 30, 45, dan 60 menit pasca penyuntikan, bila diperlukan
pencitraan dilakukan 2 jam pasca penyuntikan.

Agar lesi dapat diidentifikasikan lebih jelas dapat dilakukan pencitraan secara
tomografi menggunakan kamera SPECT : rotasi 360, jumlah frame 64, 30 detik/frame.
Penilaian
Pada hemangioma, lesi yang pada awalnya tampak sebagai defek/kurang menangkap
radioaktivitas, akan menangkap radioaktivitas tinggi terutama pada pencitraan serial menit ke60. penangkapan radioaktivitas yang lebih tinggi ini dapat dibandingkan dengan penangkapan
radioaktivitas oleh jaringan sekitarnya atau dengan pencitraan awal.

2. Hole Body Tc-SESTAMIBI


Pembahasan mengenai penyebaran pada jaringan lunak, dapat disidik dengan menggunakan
sidik seluruh tubuh atau hole body scanning dengan 99mTc-sestamibi.
Beberapa ttumor ganas mempunyai afinitas tinggi terhadap 99mTc-sestamibi. Keuntungan
menggunakan 99mTc-sestamibi adalah : pelaksanaannya lebih cepat, energi lebih rendah dan
tidak tergantung pada kadar TSHs, sehingga penderita tidak perlu menghentikan terapi
subtitusi. Bila penderita adalah calon radioterapi interna dengan 131I maka efikasi pengobatan
akan lebih memuaskan.
Indikasi
Untuk mengetahui adanya sisa jaringan tiroid di thyroid bed dan jaringan metasis
fungsional di tempat lain.
Kasus relaps dengan kadar serum Tg tinggi dan gejala klinis yang jelas.
Dilakukan 6 bulan pasca tiroblasi maupun pasca radioterapi.

Radiofarmaka
99m
Tc-sestamibi sebanyak 10mCi. Diberikan intravena.
Persiapan
Tidak ada persiapan khusus, tidak perlu puasa dan terminasi terapi subtitusi tidak diperlukan
Peralatan

Kamera gamma planar

Kolimator LEHR dan LEGP

Energi 140 KeV

Window 20%
Tatalaksana
Akuisisi dilakukan 15menit setelah penyuntikan radiofarmaka. Pasien tidur telentang dengan
kepala mengadah. Akuisisi dilakukan pada lapang pandang kepala dan leher, toraks, abdomen
dan ekstremitas bawah. Bila pasien ada keluhan, lakukan pemeriksaan SPOT pada daerah
yang dikeluhkan. Ukuran matriks 128x128 dengan jumlah cacahan 400 Kcount.

3. Bone Scanning
staging ketiga adalah penyebaran pada tulang yang dapat di deteksi dengan modalitas hole
body bone.
Bone scanning akan diulas tersendiri secara terperinci oleh Sdri. Rini Sintawati dari RSHS.
Bandung
4. PET- CT
PET-CT UNTUK MEMBANTU MENENTUKAN STAGING PADA PASIEN DENGAN
CARSINOMA
LATAR BELAKANG
Penentuan staging pada pasien dengan carcinoma penting bagi dokter untuk menentukan
tindakan pengobatan terhadap pasien. Penentuan staging pada pasien dengan carcinoma
berdasarkan pada ukuran tumor, keterlibatan kelenjar getah bening regional, ada tidaknya
metastasis . PET-CT mampu memberikan informasi perubahan fisiologis & biokimia pada
tingkat seluler bahkan molekuler

PET-CT
Positron Emition Computed Tomografi (PET) adalah pemeriksaan non-invasif yang dapat
menggambarkan fungsi seluler dari tubuh kita secara 3 dimensi dengan menggunakan
radiofarmaka. PET scan akan mendeteksi aktivitas metabolic dari sel-sel tubuh kita. Sel-sel
kanker yang aktif mempunyai aktivitas metabolic yang berlebih. PET/CT menggabungkan
modalitas PET dan CT dalam satu perangkat sehingga pencitraan dari keduannya dapat
digabungkan dalam satu gambar.
Jika gambar pada CT scan dibuat dengan sinar-x dari sumber luar. Sebaliknya, PET
menggunakan bahan radioaktif disebut radiofarmaka atau radiotracer, yang disuntikkan ke
dalam aliran darah. bahan radioaktif tersebut akan ikut dalam metabolisme tubuh dan
terakumulasi dalam organ atau daerah tubuh yang diperiksa, di mana ia melepaskan sejumlah
kecil energi dalam bentuk sinar gamma. Detektor PET mendeteksi energi ini dan dengan
bantuan komputer menciptakan gambar-gambar struktur dan fungsi organ dan jaringan dalam
tubuh Anda. Tidak seperti teknik pencitraan lain, PET berfokus pada pencitraan yang
menggambarkan proses fisiologis dalam tubuh, seperti tingkat metabolisme atau tingkat
aktivitas berbagai reaksi kimia lainnya, bukan menunjukkan
anatomi dan struktur

.
METODE
Persiapan pasien PET/CT :
Pasien puasa selama 6 jam sebelum pemeriksaan, tetapi cukup minum air putih. Nutrisi
parenteral dan infuse harus dihentikan paling tidak 4 jam sebelum pemeriksaan. Pasien cukup
istirahat dari satuhari sebelum pemeriksaan, dan tidak dianjurkan melaksanakan aktifitas fisik
yang tinggi.
Pasien akan diberikan radioaktif perunut (FDG) dalam jumlah kecil melalui IV. Pasien
akan diminta untuk beristirahat selama 60 menit untuk memberikan waktu agar FDG ikut
dalam metabolisme tubuh. Pasien akan dilakukan scan dengan PET/CT selama 20-30 menit.

Pembahasan
FDG yang merupakan tracer dimana komposisi utamanya adalah glucose akan menyebar
keseluruh tubuh, sel carcinoma dalam tubuh akan menyerap glucose yang memiliki aktifitas
metabolic yang aktif. Daerah yang menunjukkan intensitas yang lebih besar, yang disebut
"hot spot," menunjukkan di mana sejumlah besar radiotracer terakumulasi karena adanya
aktivitas metabolik. Daerah yang kurang intens, atau "cold nodul," menunjukkan konsentrasi
yang lebih kecil dari radiotracer dan aktivitas metabolic yang kurang. Bila PET memberikan
informasi metabolic dan fungsional maka CT akan memberikan informasi anatomi.
Penggabungan keduanya dalam satu modalitas akan memberikan kelengkapan informasi.
Pada kasus keganasan manfaat PET/CT adalah antara lain menegakkan diagnosis yang lebih
dini, penentuan penyebaran dan tingkat penyakit (staging) yang lebih akurat dan efektif,
penentuan perencanaan terapi yang lebih tepat, pemantauan respon terhadap terapi yang dapat
dilakukan lebih awal sehingga jika dibutuhkan perubahan rencana terapi juga dapat dilakukan
lebih awal, penentuan tumor ganas atau jinak, penentuan lokasi biiopsi.
KESIMPULAN
Pencitraan KEDOKTERAN NUKLIR SPECT-CT dan PET/CT dapat digunakan untuk
mambantu menentukan staging pada pasien dengan DIAGNOSA Ca Hepar.