Anda di halaman 1dari 3

Nama : Praditya Agustin Wulandari

NIM

: H 0912099

Kelas : ITP B
Makul : Tugas Kimia Pangan
Soal :
Jelaskan Intermediate Moisture Food (IMF)! Sebutkan contohnya serta rentang Aw dan kadar
airnya!
Jawab :
Intermediate Moisture Food (IMF) merupakan pangan semi basah atau sebagai makanan
dengan kadar air 10-40% dengan nilai aktivitas air (Aw) 0.6-0.9 serta mempunyai tekstur yang
plastis sehingga memungkinkan IMF dapat dibentuk dan dapat langsung dimakan (Soekarto,
1979). Definisi IMF lainnya dikemukakan oleh Robson (1976), yaitu produk IMF umumnya
mempunyai nilai aw pada kisaran 0.65-0.85 dan berkadar air sekitar 15-30 %.
Ciri khas IMF tersebut menjadikan IMF memiliki daya awet yang cukup baik karena
pada kondisi yang demikian pertumbuhan bakteri menjadi tidak efektif karena sebagian besar
bakteri tumbuh pada Aw di atas 0.90. Demikian juga untuk pertumbuhan khamir yang bersifat
patogen. Hal ini adalah suatu keuntungan dari IMF menjadi stabil terhadap pertumbuhan
mikroba, tahan disimpan tanpa memerlukan proses pengawetan lain seperti pendinginan,
sterilisasi ataupun pengeringan. Hal ini juga ditunjang oleh kondisi substrat dari pangan semi
basah yang bersifat sebagai pengawet. Menurut Koswara (2006), makanan semi basah pada
umumnya mempunyai daya awet yang sedang. Jika disimpan pada suhu ruang akan mempunyai
keawetan sekitar 12 hari.
Karakteristik utama produk pangan semi basah yaitu mudah ditelan tanpa ada sensasi
kering, dapat langsung dikonsumsi tanpa adanya penyiapan lebih lanjut, dan daya awet pangan
semi basah serta proses pembuatannya yang cukup sederhana. Cara pengolahan pangan semi
basah terutama didasarkan pada penurunan nilai kadar air diikuti aktivitas air (Aw) sampai
tingkat mikroba patogen dan pembusuk tidak tumbuh, tetapi kandungan airnya mash cukup
sehingga memiliki tekstur yang plastis, misalnya dengan penambahan humektan atau
mengurangi kadar air dengan pengeringan. Menurut Karel (1976), teknik produksi pangan semi

basah meliputi tiga kategori yaitu (1) Pencelupan basah (moist infution), (2) Pencelupan kering
(dry infution) dan (3) Pencampuran (blending). Pangan semi basah dapat diproduksi dengan cara
tradisional dan modern. Cara tradisional misalnya penggaraman atau penambahan gula. Proses
produksi pangan semi basah modern dapat dilakukan dengan dua cara yaitu adsorpsi dan
desorpsi. Pengolahan tipe adsorpsi menggunakan bahan kering yang kemudian dikontrol proses
pembasahannya, sedangkan pada tipe desorpsi, bahan dimasukkan ke dalam larutan yang
mempunyai tekanan osmosis lebih tinggi, sampai diperoleh keseimbangan pada tingkat Aw yang
diinginkan (Robson, 1976).
Beberapa contoh bahan pangan yang menerapkan teknologi Intermediate Moisture Food
(IMF) antara lain : dodol (campuran tepung dan gula), bakpia pathuk, wingko babat, manisan
buah, tepung ubi jalar, tepung pisang dan tepung kacang hijau. Selain itu dalam Jurnal
Teknosains Pangan Vol 2 No 1 Januari 2013 mencakup penelitian mengenai gethuk ubi jalar
ungu yang mempunyai kadar air 20-40% yang sudah sesuai dengan Standar Nasional Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Basuki, Wasito Wahyu, Windi Atmaka dan Dimas Rahardian Aji Muhammad. 2013. Pengaruh
Penambahan Berbagai Konsentrasi Gliserol Terhadap Karakteristik Sensoris, Kimia dan
Aktivitas Antioksidan Gethuk Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas). Jurnal Teknosains
Pangan Vol 2 No 1 Januari 2013.
Karel, M. 1976. Technology and Application of New Intermediate Moisture Foods. Di dalam R.
Davies, G.G. Birch, and K.J. Parker. (eds.) Intermediate Moisture Foods. Applied Science
Publisher LTD. London. Di dalam Setyaningtyas, Anggraeni Gigih. 2008. Formulasi
Produk Pangan Darurat Berbasis Tepung Ubi Jalar, Tepung Pisang, Dan Tepung Kacang
Hijau Menggunakan Teknologi Intermediate Moisture Foods (IMF). (Skripsi). Institut
Pertanian Bogor.
Koswara, Sutrisno. 2006. Lebih Akrab dengan Kue Basah. http://www.ebookpangan.com.
Diakses pada tanggal 5 Nopember 2011. Di dalam Basuki, Wasito Wahyu, dkk. 2013.
Pengaruh Penambahan Berbagai Konsentrasi Gliserol Terhadap Karakteristik Sensoris,
Kimia dan Aktivitas Antioksidan Gethuk Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas). Jurnal
Teknosains Pangan Vol 2 No 1 Januari 2013.
Robson J. N. 1976. Some Introductory Thoughts on Intermediate Moisture Foods. Di dalam
Davies R, G. G Birch, dan K. J. Parker (eds). Intermediate Moisture Food. Applied
Science Publisher LTD. London. Di dalam Setyaningtyas, Anggraeni Gigih. 2008.
Formulasi Produk Pangan Darurat Berbasis Tepung Ubi Jalar, Tepung Pisang, Dan
Tepung Kacang Hijau Menggunakan Teknologi Intermediate Moisture Foods (IMF).
(Skripsi). Institut Pertanian Bogor
Setyaningtyas, Anggraeni Gigih. 2008. Formulasi Produk Pangan Darurat Berbasis Tepung Ubi
Jalar, Tepung Pisang, Dan Tepung Kacang Hijau Menggunakan Teknologi Intermediate
Moisture Foods (IMF). (Skripsi). Institut Pertanian Bogor.
Soekarto S. T. 1979. Air Ikatan, Penetapan Kuantitatif dan Penerapannya pada Stabilitas
Pangan dan Disain Pangan Semi Basah. Departemen Teknologi Hasil Pertanian Fatemeta
IPB. Bogor. Di dalam Basuki, Wasito Wahyu, dkk. 2013. Pengaruh Penambahan
Berbagai Konsentrasi Gliserol Terhadap Karakteristik Sensoris, Kimia dan Aktivitas
Antioksidan Gethuk Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas). Jurnal Teknosains Pangan Vol 2
No 1 Januari 2013.