Anda di halaman 1dari 25

1

1. Memahami dan menjelaskan anatomi ginjal dan saluran kemih


1.1 Makroskopik
Ginjal
Ginjal terletak dibagian belakang (posterior) abdomen
atas.Retroperitenium, diliputi peritoneum pada permukaan
depannya (kurang dari 2/3 bagian. Terletak di depan dua costa
terakhir (11 dan 12) dan tiga otot besar transversus abdominalis,
quadratus lumborum dan psoas major. Ukuran normal ginjal :
12x6x2 cm, berat 130 gram. Ginjal bentuknya sepert kacang tanah
dari luar mempunyai :
Ekstemitas superior / cranialis atau polus cranialis
Ekstemitas inferior/caudalis atau polus cranialis
Margo lateralis lebih menuju kedepan
Margo medialis lebih menuju kebelakang, dimana terdapat
hilum renale yang merupakan tempat keluar masuknya
ureter, A V renalis, nervus dan vasa lymphatica
Dibelakang ginjal terdapat tiga nervi yaitu n. Subcostalis, n.
Iliohypogastricus dan n. Ilioinguinalis sehingga bila terjadi radang
maka bisa menekan ketiga nervi tersebut. Ginjal kiri lebih tinggi dari
ginjal kanan sekitar setengah vertebra, terletak mulai tepi atas
VT12 sampai tepi bawah VL3, atau sekitar empat ruas vertebra.
Karena ginjal kiri lebih tinggi dari kanan, maka ginjal kiri terdapat
dua costae yaitu costae 11 dan 12, ginjal kanan hanya punya satu
costae yaitu costae 12, sedangkan costae 11 tidak menyentuh
sama sekali. Bentuknya seperti kacang tanah, di puncak atasnya
terdapat topi disebut glandula supra renalis.
Bentuknya seperti kacang tanah, di puncak atasnya terdapat
topi disebut glandula supra renalis. Ada beberapa struktur yang
masuk atau keluar dari ginjal melalui hilus antara lain arteri dan
vena renalis, nervus vasomotor simpatis dan pembuluh getah
bening dan ureter. Ginjal diliputi oleh suatu kapsula cribrosa tipis
mengkilat, yang berikatan longgar dengan jaringan dibawahnya dan
dapat dilepaskan dengan mudah dari permukaan ginjal, disebut
fascia renalis.
Fascia renalis terbagi dua yaitu lamina anterior di depan dan
lamina posterior di belakang. Kearah kiri dan kanan bersatu dengan
fascia transversa abdominalis membentuk rongga yang diisi lemak
disebut corpus adiposum. ke cranial setinggi VT 11 bersatu
membentuk fascia abdominalis untuk selanjutnya melapisi
diaphragma. Sedangkan ke caudal akan masuk ke panggul dan
tidak lagi dapat di identifikasi sebagai fascia, hanya merupakan
jaringan ikat jarang saja.Ginjal mempunyai selubung, yang langsung
membungkus ginjal disebut capsula fibrosa sedangkan yang
membungkus lemak-lemak disebut capsula adiposa . Pada
penampang lintang ginjal terbagi dua:
a) pinggir
: cortex. Ada bagian cortex yang masuk ke
dalam medulla disebut columnae renales (Bertini)

b) Tengah
: medulla, ada bangunan seperti piramid disebut
pyramides renales dengan puncaknya disebut papillae
renales dan basisnya disebut basis pyramidis
Pada medulla papillae renales ke calices renales minores. Dua
calices renales minores yang berdekatan menjadi calices renales
majores. Dua atau tiga calices renales majores menjadi pelvis
renalis, yang selanjutnya akan berlanjut menjadi ureter dan
bermuara ke vesica urinaria
Pelvis renalis
Berbentuk sepert corong, keluar dari ginjal melalui hilus
reanlis, menerima dari calix major. Ureter keluae dari hillus
ginjal dan berjalan vertikal kebawah dibelakang peritoneum
pariatale melekat ke m. Psoas selanjtunya masuk ke pelvis
menyilang a.v. iliaca comunnis di depan lig. Sacro iliaca
menuju vesica urinaria.
Perdarahan
a) A. Renalis cabang aorta abdominalis
b) A. Testicularis/ovarica cabang aorta abdominalis
c) A. Vesicalis superior cabang a. Hypogastrica/ a. Iliaca
interna
Pembuluh lymph
Mengalir melalui nl. Aortae lateralis dan nl. iliacus
Persyarafan
a) Plexus renalis
b) N. Testicularis
c) N. Hypogastricus
d) Serabut afferen akan berjalan dengan saraf simpatis ke
medulla spinalis melalui (L1,L2)
Ureter
Ureter adalah saluran yang mengalirkan urin dari ginjal ke
vesica urinaria. Panjangnya 25-30 cm. Ureter terdiri dari 2 bagian :
pars abdominalis dan pars pelvica, batas keduanya aditus pelvis.
Jalan ureter pada pria dan wanita berbeda terutama pada daerah
pelvis karena ada alat laat yang berbeda pada panggul. Pada peia
ureter menyilang superficial di dekat ductus deferefns, sedangkan
pada wanita ureter diataa fornix lateral vagina namun dibawah lig.
Cardinale dan A. Uterina.
Perdarahan : ureter atas = A. Renalis. Ureter bawah = A.
Vesicalis inferior.
Persyarafan : plexus hypogastricus inferior T11-L2 melalui
neuron simpatis
Adanya batu dalam ureter disebut uroterolithiasis yang
ditandai nyeri kolik(colic ureter) dan hematuria, yang secara
klasik dapat mejalar ke paha. Infeksi batu yang besar bisa
menyebabkan hydronephrosis atau infeksi di ginjal.
Vesica urinaria
Disebut juga bladder atau kandung kemih, retroperitoneal
karena hanya dilapisis pada bagian superiornya. Terletak di regio
hypogastrica (supra pubis). Vesica urinaria volumenya dapat

disesuaikan dengan mengubah status kontraktil otot polos di


dindingnya. Bila kosong, apexnya hanya sampai tepi cranial
symphisis. Urin dikosongkan dari kandung kemih ke luar tubuh
melalui ureter. Organ ini mempunyai fungsi reservoir urine (200500 cc). Vesica urinaria punya 4 bagian:
Apex vesicae
Corpus vesicae
Fundus (basis ) vesicae
Cervix vesicae
Lapisan dalam vesica urinaria pada muara masuknya ureter
terdapat plica ureterica. Pada VU kosong plica ini terbuka, dan
apabila VU penuh plica ini tertutup. Pada keadaan tertentu plica ini
rusak urin akan naik keatas masuk ke ginjal dan menumpul disebut
hydronephrosis. Pada pria vesicula seminalis dipermukaan posterior
VU dan dipisahkan oleh ductus defferens. Pada wanita diantara VU
dengan rectum ada uterus. Cervix vesicae pada pria menyatu
dengan prostat, pada wanita langsung melekat ke fascia pelvis.
Membran mukosa VU pada waktu kosong membentuk lipatan yang
sebagian menghubungkan kedua ureter mebentuk plica
interureterica. Lipatan itu akan membentuk segitiga disebut
trigonum vesicae (litaudi).
Vesica urinaria dipersarafi oleh cabang plexus hypogastricus
inferior :
1) Serabut post ganglioner simpatis glandula para
vertebralis L1-2
2) Serabut preganglioner parasimpatis N. S2,3,4 melalui
N. Splancnicus dan plexus hypogastricus inferior
mencapai dinding vesica urinaria.
Urethrae
Merupakan saluran dari urin yang dieksresikan oleh tubuh
melalui ginjal, ureter, vesica urinaria, mulai dari ujung bawah VU
samapi ostium uretgtrae externum. Urethrae pria lebih panjang dari
wanita karena tidak sama perjalanannya di panggul. Panjang uretra
pada laki laki : 20-25 cm, pada perempuan : 3-4cm. Urethrae pada
pria dibagi menjadi atas :
Pars prostatica
Pars membranacea
Pars cavernosa
Prostata (glandula prostatica)
Bagian sistem reproduksi pria yang mengelilingi urethrae.
Bentuk ovoid, ujung caudal : apex prostata, bersandar pada serabut
medial M. Levator ani dan M. Levator prostata. Ukuran sebesar biji
kenari. Fungsi : mengeluarkan semen yang membawa sperma. Pada
prostat dewasa, masih dapat dibedakan lobus lateralis kanan dan
kiri yang menonjol saling dihubungkan oleh jaringan musculo
fibrous disebut isthmus. Biasanya pada prostat, didaerah uvula
pada bibir posterior collum vesicae terjadi pembesaran prostat yang
dianggap sebagai hipertropi median lobe.

Vaskularisasi : Aa. Vesicales inferior


Menurut struktur : kelenjar 50%, otot polos 25%, jaringan
fibrotik 25%.
Prostat terdiri 5 lobus :
Lobus anterior
Lobus lateral dextra dan sinistra
Lobus posterior
Lobus media

1.2 Mikroskopik
Ginjal
Ginjal dibungkus oleh capsula fibrosa yang tidak melekat
terlalu erta dengan parenchyma dibawahnya. Pada potongan ginjal,
parenchyma terlihat bewarna merah kecoklatan didaerah cortex
dan lebih terang di daerah medulla. Medulla ginjal disusun oleh
pyramid, dasarnya menghadap cortex dan puncaknya (apex)
menonjol ke dalam lumen calyx minor. Piramid dibungkus oleh
jaringan cortex. Pada sisi piramid terdapat substansia corticalis
disebut columa bertalis (bertini). Pyramid beserta columna renalis
serta jaringan coretx yang berkaitan membentuk lobus ginjal.
Ginjal tersusun dari unit individual yang disebut tubulus
uriniferus. Tubulus ini terdiri dari 2 bagian, yaitu nefron dan ductus
koligens. Pangkal nefron berupa kantung buntu yang disebut
capsula bowman, bentuk seperti mangkuk berdinding 2 lapis.
Bagian luar yaitu parietalis dibentuk epitel selapis gepeng dan pars
visceralis yang dibentuk oleh sel besar yang mempunyai banyak
pedicle/foot processes, yaitu podcyte.
Glomerulus
Kedalam capsula bowman masuk gulungan kapiler disebut
glomerulus. Capsula bowman dan glomerulus disebut corpus
malpighi yang fungsi utamanya adalah filtrasi. Hasil dari
filtrasi darah disebut ultrafiltrat yang kemudian dialirakn ke
dalam sistem tubulus.
Tubulus proksimal
Berfungsi reabsorps, ion Na kembali diserap ke jaringan
interstisial,glukosa asam amino,dll. Dinding tubulus proximal
disusun oleh epitel selapis kuboid, dengan inti berbentuk
lonjong dan cytoplasma eosinofil, batas antar sel tidak
terlihat jelas. Pada permukaan sel terdapat microvilli, yang
memberikan gambaran brush border.
Ansa henle
Bagian tipis ansa henle terletak dimedulla tersusun oleh
epitel selapis gepeng, lumennya kecil mirip kapiler. Pars
ascendes dilapisi epitel selapis kuboid (segmen tebal

asendens). Dan menjadi bagian dari pars rectus tubulus


distal.
Tubulus distal
Disusun oleh selapis sel sel kkuboid, sitoplasma kurang
eosinofil dibanding tubulus proximal, tidak terdapat
gambaran brush border. Di cortex tubulus ginjal berkelok
kelok, mendekati glomerulus dan kemudian bermuara ke
dalam ductus koligens. Sel sel epitel dinding tubulus distal
pada sisi dekat glomerulus berubah menjadi lebih tinggi dan
tersusun rapat sehingga disebut macula densa.
Ductus koligens
Sel epitel dinding ductus koligens terlihat lebih tinggi, tampak
pucat, batas antar sel terlihat tegas dan dinding sel pada
apex cenderung mengelembung menonjol ke lumen.
Ureter
Ureter terdiri dari lapisan mucosa,muscularis dan adventitia.
Tunica mucosa mempunyai lamina propria berupa jaringan ikat
jarang dibawah epitel . tunika muscularis tediri tiga lapisan otot
polos, sebelah dalam berjalan longitudinal, dibagian tengah circular
dan diselah luar longitudinal. Tunica adventitia merupakan jaringan
ikat jarang.
Vesica urinaria
Vesica urinaria terdiri dari 3 lapisan, yaitu mucosa,
muscularis dan adventitia/ serosa. Lapisan sel yang menyususn
epitel transisional pada mukosa lebih banyak. Pada permukaan
epitel yang teregang dapat ditemukan sel payung dengan dinding
apicalnya bewarna acidofil. Dibawah epitel tedapat lamina propia .
tunica muscularis tersusun oleh lapisan otot polos yang berjalan ke
berbagai arah. Tunica adventitia berupa jaringa ikat, sehingga
vesica urinaria ditutupi oleh peritoneum (serosa).
Glandula prostat
Mukosa kelenjar berlipat lipat, dilapisi oleh epitel torak atau
epitel bertingkat torak. Didalam lamina propia terdapat serat serat
otot polos.
2. Memahami dan menjelaskan fisiologi ginjal
2.1 Filtrasi
Organ yang bekerja pada proses filtrasi adalah glomerulus. Jumlah
plasma darah yang masuk ke dalam glomerulus setiap menitnya adalah
1000-1200 ml atau kira kira 25% cardiac output. Sumber utama filtrasi di
dapat dari tekanan darah.(baik tekanan sirkulasi sistemik maupun pada
kapiler glomerulus). Dalam hal ini terutama tekanan aorta (sebesar 70%
atau 75 mmHg) yang disebut gross filtration force (GFF). Keadaan yang
dapat menghambat fungsi filtrasi glomerulus antara lain :
Obstruksi arteri ke ginjal
Radang jaringan interstisial
Peninggian tekanan intra tubulus karena obstruksi pada tubulus
kontruktus koligens,ureter dan uretra.

Membran glomerulus bersifat semipermeabel. Kurang lebih 1 liter


plasma darah yang difiltrasi akan menghasilkan 120 ml filtrat di kapsula
bowman, ini yang disebut filtrasi glomerulus (glomerular filtration rate/
GFR) air dan zat yang terlarut bermolekul kecil seperti elektrolit (natrium
dan kalium),glukosa, asam amino, asam urat,ureum, dan kreatinin lolos
melewati glomerulus menuju tubulus kontortus proksimal.
Sedangkan albumin dan beberapa protein elemen seluler serta
boundprotein (lipoprotein) dan bilirubin akan tertahan sehingga yang
disebut dengan fitrat glomerulus adalah plasma darah tanpa sel darah dan
protein atau filtrat glomerulus adalah cairan ekstra seluler tanpa protein,
dengan berat jenis 1010. Oleh karena itu bila terjadi kerusakan membran
glomerulus maka akan menyebabkan tersumbatnya kapiler-kapiler
glomerulus yang lama kemudian akan menyebabkan rusak dan bocornya
kapiler-kapiler tersebut dan mengakibatkan sel-sel darah dan protein
plasma dapat menerobos glomerulus sehingga muncul urin
2.2 Reabsorpsi
Tugas tubuh proksimal adalah mengembalikan zat-zat yang masih
dapat digunakan oleh tubuh kembali ke dalam sirkulasi darah (reabsorpsi)
bagian air, natrium klorida,semua jenis glukosa (sampai ambang batas),
hampir semua jenis asam amino, vitamin dan sebagian kecil ion-ion
seperti magnesium, kalsium,kalium,dan bikarbonat di reabsorpsi kemudian
di kembalikan dalam sirkulasi darah. Proses reabsorpsi sendiri dijalankan
oleh tubulus kontortus proksimal juga dijalankan oleh ansa Henle.
Reabsorpsi bersifat sangat selektif sehingga komposisi urin yang
dihasilkan akan berbeda dengan komposisi filtrat glomerulus. 60-80% ultra
filtrat glomerulus di reabsorpsi tubulus proksimal. Semua proses
reabsorpsi zat-zat ultra filtrat ini berlangsung secara transport aktif kecuali
proses reabsorpsi untuk air dan klorida yang berlangsung secara difusi
pasif. Asam urat 98-100% di reabsorpsi aktif kemudian disekresi kembali.
Ureum, asam urat, dan kreatinin diekskresi bersama dalam urin.
Kecepatan reabsorpsi air di tubulus kontortus proksimal bersifat
tetap, artinya tidak bergantung GFR ataupun kebutuhan tubuh( hal ini
disebut dengan reabsorpsi obligatoar) sehingga filtrat di tubulus kontortus
proksimal bersifat isoomotik. Proses berlanjut terus ke ansa Henle.
Pada ansa Henle terjadi reabsorpsi air, natrium dan klorida. Dinding
ansa Henle pars descendens bersifat semplemeabel terhadap air sehingga
air dapat direabsorpsi tetapi reabsorpsi terhadap natrium dan klorida
belum berlangsung sehingga filtrat dihasilkan lebih pekat(hipertonik).
Karena dinding ansa Henle pars ascendens bersifat impermeabel terhadap
air dan mulai berlangsung proses reabsorpsi terhadap natrium dan klorida
maka filtrat yang tadi hipertonik saat masuk ke tubulus kontortus distal
menjadi hipoosmotik.
Proses reabsorpsi air di tubulus kontortus distal bergantung pada
kebutuhan tubuh(hal ini disebut dengan reabsorpsi fakultatif atau selektif)
artinya pada saat tubuh membutuhkan lebih banyak air maka air akan di
reabsorpsi secara maksimal. Hal tersebut dimungkinkan dengan adanya
sekresi anti diuretic hormone(ADH) yang terjadi karena perubahan

tekanan osmotik darah. Reabsorpsi air juga terjadi di duktus koligens


dibawah pengaruh ADH.
2.3 Sekresi
Tugas tubulus kontortus proksimal mesekresi hasil metabolisme sel
tubulus. Secara normal ion hidrogen,sedikit kreatinin,asam urat,dan
seluruh tubuh substansi sintetik(misal penicillin,diodrast,paraaminohipurat
dan fenol merah di sekresi ke dalam filtrat di lumen tubulus kontortus
proksimal,sedangkan air ammonia dan kalium disekresi masuk ke dalam
tubulus kontortus distal.
Proses sekresi ion hidrogen bergantung pada proses regenerasi
bikarbonat dan sekresi ammonia. Pengaturan akhir yang menyangkut
ekskresi akan dilakukan oleh duktus koligens. Kecepatan aliran filtrat saat
mencapai akhir tubulus kontortus distal tinggal 1 ml per menit (kecepatan
murni pembentukan urin) duktus koligens dibantu oleh keadaan kipertonik
di dalam medula akan mengatur banyaknya air yang harus ditahan atau
dikeluarkan. Duktus koligens dibawah pengaruh ADH yang akan
menstimulasi reabsorpsi air. Dinding duktus koligens tidak permeabel
terhadap air tetapi dengan adanya ADH, dinding tersebut berubah
menjadi permeabel sehingga air dapat berdifusi pasif dari lumen duktus
koligens ke dalam medula dan menghasilkan urin yang lebih pekat. Jadi
urin terdiri dari filtrat glomerulus dan filtrat tubulus. Kemudian urin
mengalir dari duktus koligens menuju pelvis renalis
2.4 Eskresi
Hanya zat sisa dan kelebihan elektrolit yang tidak dibutuhkan oleh
tubuh yang tertinggal ,larut dalam H2O dalam volume tertentu untuk
dieliminasi melalui urin. Ginjal dapat mengeksresikan urin dengan volume
dan konsentrasi bervariasi untuk menahan atau mengeluarkan H 2O,
masing-masing bergantung pada apakah tubuh mengalami kekurangan
atau kelebihan H2O. Ginjal dapat menghasilkan urin yang berkisar dari 0,3
ml/menit pada 1200 mosm/liter hingga 25ml/menit pada 100 mosm/liter
dengan mereabsorpsi H2O dalam jumlah bervariasi dari bagian distal
nefron. Vasopresin meningkatkan permeabilitas tubulus distal dan
koligentes terhadap H2O tubulus-tubulus ini impermeabel terhadap H 2O
jika terdapat vasopresin. Sekresi vasopresin menigkat sebagai respon
terhadap defisit H2O, dan karenanya reabsorpsi H2O meningkat. Sekresi
vasopresin dihambat sebagai respons terhadap kelebihan H 2O sehingga
reabsorpsi H2O berkurang. Penyesuaian reabsorpsi H2O yang dikendalikan
oleh vasopresin membantu tubuh mengoreksi setiap ketidakseimbangan
cairan. Kandung kemih dapat menampung hingga 250 sampai 400 ml urin
sebelum reseptor regang di dindingnya memicu refleks berkemih. Refleks
ini menyebabkan pengosongan involunter kandung kemih dan pembukaan
sfingter uretra internus dan eksternus secara bersamaan.
2.5 Komposisi Urin
Urin sebagian besar terdiri dari air (95%) dan elemen lain (5%).
Elemen-elemen tersebut dari urea(2%) dan (3%) campuran dari berbagai

macam substansi organik dan anorganik. Adanya variasi konsentrasi dari


zat-zat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya intake makanan,
aktifitis fisik, metabolisme tubuh, fungsi endokrin dan bahkan posisi
tubuh.Urea yang merupakan hasil sampah metabolik di produksi di hepar
dari sisa-sisa protein dan asam amino. Jumlah urea dalam hampir
setengah dari total zat-zat yang terkandung dalam urin.
Zat-zat organik lainnya di dalan urin yaitu kreatinin dan asam urat.
Zat anorganik yang paling utama ada di urin yaitu klorida,natrium dan
kalium. Sedangkan zat anorganik lain yang ada di dalam urin dalam
jumlah kecil adalah magnesium,kalsium, besi, ammonia,fosfat dan sulfat.
Zat lain yang ditemukan dalam urin adalah hormon,vitamin dan obatobatan di urin juga ditemukan sel,silinder,kristal,mucus,dan bakteri.
Peningkatan jumlah dari elemen-elemen ini seringkali mengindikasikan
adanya suatu penyakit.
2.6 Pengaturan keseimbangan asam basa oleh ginjal
Sistem renal
Untuk mempertahankan keseimbangan asam basa, ginjal harus
mengeluarkan anion asam novatil dan mengganti HCO3. Ginjal
mengatur keseimbangan asam basa dengan sekresi dan reabsorpsi
ion hidrogen dan ion bikarbonat. Pada mekanisme pengatran oleh
ginjal ini berperan tiga sistem bufer asam karbonat-bikarbonat,
bufer fosfat,dan pembentukan amonia. Tubulus proksimal adalah
tempat utama reabsorpsi bikarbonat dan pengeluaran asam.
Regenerasi bikarbonat
Bikarbonat dipertahankan dengan cara reabsorpsi di tubulus
proksimal agar konsentrasi ion bikarbonat di tubulus sama dengan
di plasma. Pembentukan HCO3 baru, merupakan hasil eksresi H +
dengan buffer urin dan dari produksi dan eksresi NH4 +. Bikarbonat
dengan ion hidrogen membentuk asam karbonat. Asam karbonat
kemudian berdisosiasi menjadi CO2 dan air. Reaksi ini dipercepat
oleh enzim anhidrase karbonat yang terdapat pada brush border sel
tubulus ginjal.berdasarkan PH urin, ginjal dapat mengembalikan
bikarbonat ke dalam darah atau membiarkannya keluar melalui
urin.
Sekresi ion hidrogen
Ginjal mengsekresikan ion H+ dari tubulus proksimal dan distal
sangat sedikit, hanya 0,025 mmol/L (PH 4,6) atau 0,1 meq/L pada
urin PH 4,0. Bufer utama di lumen tubulus adalah posfat dan
amonia. Fosfat di dalam tubulus bergabung dengan ion H +
membentuk H2PO4-. Bila terjadi perubahan PH , maka ion H + di
eksresi melalui lumen tubulus. Proses eliminasi ini berlangsung di
tubulus proksimal dan distal serta pada duktus koligenstes.
Produksi dan eksresi NH4+
Amonia dibuat di sel tubulus ginjal dari asam amino glutamin
dengan bantuan enzim glutaminase. Enzim ini berfungsi optimal
pada ph rendah. Ammonia bergabung dengan ion H + membentuk
ion H+ mebentuk ion amonium yang tidak kembali ke sel tubulus

dan keluar melalui urin bersamaan dengan H+. Produksi dan eksresi
NH4+ diatur ginjal sebagai respons perubahan keseimbangan asam
basa. Setiap eksresi NH4+ dalam urin, HCO3,kembali ke dalam
darah.
3. Memahami dan menjelaskan glomerulonefritis
3.1 Definisi, epidemiologi
Glomerulonefritis adalah peradangan pada glomerulus yaitu organ
kecil di ginjal yang berfungsi sebagai penyaring. Glomerulus berfungsi
membuang kelebihan cairan, elektrolit dan limbah dari aliran darah dan
meneruskannya ke dalam urin.Glomerulonefritis dapat menyerang secara
mendadak dan menyebabkan peradangan kronis secara bertahap.
Penyakit ini dapat disebabkan oleh banyak hal. Jika yang terjadi
hanya glomerulonefritis saja, maka disebut sebagai glomerulonefritis
primer. Jika penyakit lain seperti lupus atau diabetes adalah penyebabnya,
maka disebut glomerulonefritis sekunder. Jika parah atau berkepanjangan,
radang akibat glomerulonefritis dapat merusak ginjal.
Indonesia pada tahun 1995, melaporkanadanya 170 pasien yang
dirawat di rumahs akit pendidikan dalam 12 bulan. Pasien terbanyak
dirawat di Surabaya (26,5%),kemudian disusul berturut-turut di
Jakarta(24,7%), Bandung (17,6%), dan Palembang (8,2%) . Pasien laki-laki
dan perempuan berbanding 2 : 1 dan terbanyak pad a anak usia antara 68 tahun (40,6%).

3.2 Klasifikasi
Klasifiksi secara gambaran histopatologis (primer)
Klasifikasi glomerulonefritis primer secara histopatologik dibagi menjadi
glomerulonefritis proliferatif dan non proliferatif, termasuk
glomerulonefritis non proliferatif adalah glomerulonefritis lesi minimal,
glumerulosklerosis fokal dan segmental, serta glomerulonefritis
membranosa.
Glomerulonefritis lesi minimal (GNLM)
Merupakan salah satu yang dikaitkan dengan sindrom nefrotik dan
disebut pula nefrosis lupoid. Pemeriksaan dengan mikroskop cahaya
dan IF menunjukkan gambaran glomerulus yang normal. Pada
pemeriksaan mikroskop elektron hilangnya foot processes sel epitel
viseral glomerulus.
Glomerulonefritis fokal dan segmental (GSFS)
Secara klinis gambaran sindrom nefrotik dengan gejala proteinuria
masif, hipertensi, hematuri, dan disertai fungsi ginjal. Dengan
mikroskop cahaya menunjukkan sklerosis glomerulus yang
mengenai bagian tertentu. Obliterasi kapiler golmerulus terjadi
pada segmen glomerulus dan dinding kapiler mengalami kolaps.
Kelainan ini disebut hialinosis yang terdiri dari IgM dan komponen
C3, glomerulus lain dapat normal atau membesar dan pada
sebagian kasus penambahan sel.
Glomerulonefritis membranosa (GNMN)

10

Atau disebut nefropati membranosa merupakan penyebab sindrom


nefrotik. Biasanya dikaitkan dengan LES, infeksi hepatitis B,C, tumor
ganas, atau akibat obat : penisilamin,preparat emas, obat anti
inflamasi non steroid. Pemeriksaan mikroskop cahaya tidak
menunjukkan kelainan. Mikroskop IF ditemukan deposit IgG dan
komponen C3 berbentuk granular dan dinding kapiler glomerulus.
Dengan pewarnaan khusus tampak konfigurasi spike like pada MBG.
Gambaran histopatologi pada mikroskop cahaya,IF,dan mikroskop
elektron sangat tergantung pada stadium berikutnya.
Glomerulonefritis proliferatif
Tergantung lokasi keterlibatan dapat dibagi menjadi
glomerulonefritis membranoproliferatif, glomerulonefritis
mesangioproliferatif, dan gromerulonefritis kresentik. Pada
pemeriksaan mikroskop cahaya memperlihatkan proliferasi
mesangial dan inflitrasi leukosit serta akumulasi matriks
ekstraseluler. Infiltrasi makrofag ditemukan glomerulus terjadi
penebalan MBG serta duble contour. Mikroskop IF ditemukan
endapan IgG,IgM,dan C3 pada dinding kapiler yang berbentuk
granular.
Glomerulonefritis sekunder
Glomerulonefritis sekunder yang banyak ditemukan dalam klinik
yaitu glomerulonefritis pascastreptococcus, dimana kuman
penyebab tersering adalah streptococcus beta hemolitikus grup
Ayang nefritogenik terutama menyerang anak pada masa awal usia
sekolah. Glomerulonefritis pasca streptococcus datang dengan
keluhan hematuria nyata, kadang-kadang disertai sembab mata
atau sembab anasarka dan hipertensi.
3.3 Etiologi
Berbagai penyakit dapat menyebabkan glomerulonefritis, mulai dari
infeksi hingga penyakit yang mempengaruhi seluruh tubuh Terkadang
penyebabnya tidak diketahui. Beberapa penyakit yang dapat
menyebabkan Glomerulonefritis adalah:
Infeksi
Glomerulonefritis Post-streptokokus
Glomerulonefritis dapat muncul satu atau dua minggu
setelah sembuh dari infeksi tenggorokan atau infeksi kulit.
Kelebihan produksi antibodi yang dirangsang oleh infeksi
akhirnya menetap di glomerulus dan menyebabkan
peradangan.Gejalanya meliputi pembengkakan, pengeluaran
urin sedikit, dan masuknya darah dalam urin. Anak-anak lebih
mungkin untuk terserang glomerulonefritis post-streptokokus
daripada orang dewasa, namun mereka juga lebih cepat
pulih.
Bakteri endokarditis
Bakteri ini bisa menyebar melalui aliran darah dan menetap
di dalam hati, menyebabkan infeksi pada katup jantung.

11

Orang yang berisiko besar terserang penyakit ini adalah


orang-orang yang memiliki cacat jantung. Bakteri
endokarditis berkaitan dengan penyakit glomerulus, tetapi
hubungan yang jelas antara keduanya masih belum
ditemukan.
Infeksi virus
Virus yang dapat memicu glomerulonefritis adalah infeksi
human immunodeficiency virus (HIV) dan virus penyebab
hepatitis B dan hepatitis C.
Penyakit sistem kekebalan tubuh
Lupus Eritomatosus Sistemik (SLE/systemic lupus
erythematosus)
Lupus yang kronis dapat menyebabkan peradangan pada
banyak bagian tubuh, termasuk kulit, persendian, ginjal, sel
darah, jantung dan paru-paru.
Sindrom Goodpasture.
Adalah gangguan imunologi pada paru-paru yang jarang
dijumpai. Sindrom Goodpasture menyebabkan perdarahan
pada paru-paru dan glomerulonefritis.
Nefropati IgA.
Ditandai dengan masuknya darah dalam urine secara
berulang-ulang. Penyakit glomerulus primer ini disebabkan
oleh penumpukan imunoglobulin A (IgA) dalam glomerulus.
Nefropati IgA dapat muncul selama bertahun-tahun tanpa
menampakkan gejala. Kelainan ini tampaknya lebih sering
terjadi pada pria dibandingkan pada wanita.
Vaskulitis
Adalah gangguan yang ditandai oleh kerusakan pembuluh darah
karena peradangan, pembuluh darah arteri maupun vena.
Polyarteritis.
Vaskulitis yang menyerang pembuluh darah kecil dan
menengah di beberapa bagian tubuh seperti, ginjal, hati, dan
usus.
Granulomatosis Wegener.
Vaskulitis yang menyerang pembuluh darah kecil dan
menengah pada paru-paru, saluran udara bagian, atas dan
ginjal.
Kondisi yang menyebabkan luka pada glomerulus
Tekanan darah tinggi.
Kerusakan ginjal dan kemampuannya dalam melakukan
fungsi normal dapat berkurang akibat tekanan darah tinggi.
Sebaliknya, glomerulonefritis juga dapat menyebabkan
tekanan darah tinggi karena mengurangi fungsi ginjal.

Penyakit diabetes ginjal.


Penyakit diabetes ginjal dapat mempengaruhi penderita
diabetes. Nefropati diabetes biasanya memakan waktu
bertahun-tahun untuk bisa muncul. Pengaturan kadar gula

12

darah dan tekanan darah dapat mencegah atau


memperlambat kerusakan ginjal.
Focal segmental glomerulosclerosis.
Ditandai dengan jaringan luka yang tersebar dari beberapa
glomerulus, kondisi ini dapat disebabkan oleh penyakit lain
atau tanpa alasan yang diketahui.

3.4 Patogenesis
Adanya periode laten antara infeksi streptokok dengan gambaran
klinis dari kerusakan glomerulus menunjukan bahwa proses imunologi
memegang peranan penting dalam patogenesis glomerulonefritis.
Glomerulonefritis akut pasca streptokok merupakan salah satu contoh dari
penyakit komplek imun.Pada penyakit komplek imun, antibodi dari tubuh
(host) akan bereaksi dengan antigen-antigen yang beredar dalam darah
(circulating antigen) dan komplemen untuk membentuk circulating
immunne complex. Untuk pembentukkan circulating immunne complex ini
diperlukan antigen dan antibodi dengan perbandingan 20 : 1.
Jadi antigen harus lebih banyak atau antibodi lebih sedikit. Antigen
yang beredar dalam darah (circulating antigen),bukan berasal dari
glomerulus seperti pada penyakit anti GBM, tetapi bersifat heterolog baik
eksogen maupun endogen. Kompleks imun yang beredar dalam darah
dalam jumlah banyak dan waktu yang singkat menempel/melekat pada
kapiler-kapiler glomeruli dan terjadi proses kerusakan mekanis melalui
aktivasi sistem komplemen, reaksi peradangan dan mikrokoagulasi.
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa bentuk Glomerulonefritis
akut pasca-streptokok mempunyai prognosis pada lebih baik dari pada
bentuk non-streptokok, dan prognosis pada anak lebih baik daripada orang
dewasa.Pada anak lebih kurang 90% atau lebih akan menyembuh. Gejala
klinik menghilang dalam beberapa minggu, namun hematuria mikroskopik,
cylindruria dan proteinuria ringan dapat tetap ada selama lebih kurang 1
tahun.

3.5 Patofisiologi
Diawali dari infeksi streptococcus beta hemoliticus grup A tipe
12,4,16,25,29 yang terjadi pada tenggorokan dan kadang-kadang pada
kulit. Setelah masa laten 1 sampai dengan 2 minggu infeksi ini
menimbulkan reaksi antibodi dengan antigen khusus dari streptococcus
yang merupakan unsur membrana plasma spesifik khusus, yang
menimbulkan kompleks antigen-antibodi dalam darah yang bersirkulasi
kedalam glomerulus yang terperangkap dalam membran basalis yang
mengakibatkan terjadinya distensi yang merangsang terhadap reflek renointestinal dan proksimili anatomi meningkat sehingga timbul anoreksia,
mual ,muntah.
Kompleks tersebut juga akan terfiksasi sehingga mengakibatkan
lesi dan peradangan yang menarik leukosit polimerfonuklear (PMN) dan

13

trombosit menuju tempat lesi terjadi fagositosis dan pelepasan enzim


lisosom yang merusak endotel dan membrana basalis glomerulus.
Respon dari lesi tersebut timbul proliferasi. Sel-sel endotel yang
diikuti oleh sel-sel mesangium dan sel-sel epitel akibatnya menimbulkan
kebocoran kapiler glomerulus maka protein dan sel darah merah dapat
keluar bersama kemih yang sedang dibentuk ginjal timbul protenuria,
hematuria, albuminuria, oliguria. Dengan penurunan ureum
mengakibatkan pruritus ,hematuria menimbulkan anemia, kadar hb
menjadi menurunyang menyebabkan mengeluh sesak.
Albuminuria mengakibatkan hipoalbumenia yang berpengaruh pada
sistem imun mengakibatkan tekanan osmotik menurun mempengaruhi
transudasi cairan ke interstitiil mengakibatkan edema. selain
menimbulkan, kerusakan kapiler generalit, proliferasi dan kerusakan
glomerulus dapat mempengaruhi GFR yang mengalami penurunan
sehingga aldosteron meningkat terjadi retensi Na+ dan air sehingga
menimbulkan edema. Retensi air mempengaruhi ECF yang meningkat
sehingga memicu terjadi hipertensi. Selain itu hipertensi juga dapat
diakibatkan dari aktivitas vasodepresor yang meningkat sehingga terjadi
vasospasme.
3.6 Manifestasi klinis
Glomerulonefritis ditandai dengan :
Proteinuria
Hematuria
Penurunan fungsi ginjal
Edema akibat perubahan eksresi garam
Kongesti aliran darah
Hipertensi
Manifestasi klinik GN merupakan kumpulan gejala atau sindrom klinik yang
terdiri dari :
Kelainan urin asimptomatik : ditemukan proteinuria subnefrotik dan
atau hematuri mikroskopik tanpa edema, hipertensi, dan gangguan
fungsi ginjal.
Sindrom nefritik : ditemukan hematuria, proteinuria, gangguan
fungsi ginjal, retensi air dan garam, serta hipertensi.
GN progresif cepat : ditandai dengan penurunan fungsi ginjal dalam
beberapa hari atau beberapa minggu, gambaran nefritik, dan pada
biopsy ginjal menunjukkan gambaran spesifik.
Sindrom nefritik : ditandai dengan proteinuria massif (3,5g/1,73
m/hari), edema anasarka, hipoalbuminemia, dan hiperlipidemia).
GN kronik : ditandai dengan proteinuria persisten dengan atau
tanpa hematuria disertai penurunan fungsi ginjal progresif lambat
3.7 Pemeriksaan dan diagnosis
Pemeriksaan Fisik
Adanya gross hematuri (urin yang berwarna seperti teh), dengan
atau tanpaedema (paling mudah terlihat edema periorbital atau
mata tampak sembab), padakasus yang agak berat dapat timbul

14

gangguan fungsi ginjal biasanya berupa retensinatrium dan urin.


Gejala lain yang muncul tidak spesifik. Bila disertai
denganhipertensi, dapat timbul nyeri kepala. Demam tidak selalu
ada. Pada kasus berat (GNdestruktif) dapat timbul proteinuria masif
(sindrom nefrotik), edema anasarka atauasites, dan berbagai

gangguan fungsi ginjal yang berat.


Sindrom Nefritis Akut
Gejala yang timbul adalah edema, hematuria, dan hipertensi
dengan atautanpa klinis GNA PS.
95% kasus klinis memiliki 2 manifestasi, dan 40%

memiliki semuamanifestasi akut nefritik sindrom


Edema
Edema tampak pada 80-90% kasus dan 60% menjadi
keluhan saat ke dokter.
Terjadi penurunan aliran darah yang bermanifestasi sedikit
eksresi natriumdan urin menjadi terkonsentrasi. Adanya

retensi natrium dan air inimenyebabkan terjadinya edema.


Hipertensi
Hipertensi muncul dalam 60-80% kasus dan biasanya pada
orang yang lebihbesar.
Pada 50% kasus, hipertensi bisa menjadi berat
Jika ada hipertensi menetap, hal tersebut merupakan
petunjuk progresifitaske arah lebih kronis atau bukan
merupakan GNA PS.
Hipertensi disebabkan oleh retensi natrium dan air yang
eksesif.
Meskipun terdapat retensi natrium, kadar natriuretic peptida
dalam plasmameningkat.
Aktivitas renin dalam plasma rendah.
Ensefalopati hipertensi ada pada 5-10% pasien,biasanya

tanpa defisitneurologis.
Oliguria
Tampak pada 10-50% kasus, pada 15% output urin <200ml.
Oliguria mengindikasikan bentuk cresentic yang berat.
Biasanya transien, dengan diuresis 1-2 minggu.
Hematuria
Muncul secara umum pada semua pasien.
30% gross hematuria.
Disfungsi ventrikel kiri
Disfungsi ventrikel kiri dengan atau tanpa hipertensi atau efusi
perikardiumdapat timbul pada kongestif akut dan fase
konvalesen.

15

Pada kasus yang jarang, GNA PS dapat menunjukkan gejala


perdarahanpulmonal.
Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Beberapa uji serologis terhadap antigen streptokokus dapat
dipakai untuk membuktikan adanya infeksi streptokokus,
antara lain antistreptozim, ASTO, antihialuronidase, dan anti
Dnase B. Skrining antistreptozim cukup bermanfaat oleh karena
mampu mengukur antibodi terhadap beberapa antigen
streptokokus.
Titer anti streptolosin O meningkat pada 75-80% pasien
dengan glomerulonefritis akut pasca streptokokus dengan
faringitis, meskipun beberapa strain streptokokus tidak
memproduksi streptolisin O. Bila semua uji dilakukan uji
serologis dilakukan, lebih dari 90% kasus menunjukkan
adanya infeksi streptokokus.
Titer ASTO meningkat pada hanya 50% kasus
glomerulonefritis akut pasca streptokokus atau pasc
aimpetigo, tetapi antihialuronidase atau antibodi yang lain
terhadap antigen streptokokus biasanya positif. Pada awal
penyakit titer antibodi streptokokus belum meningkat,
hingga sebaiknya uji titer dilakukan secara seri. Kenaikan
titer 2-3 kali lipat berarti adanya infeksi.Tetapi , meskipun
terdapat bukti adanya infeksi streptokokus, hal tersebut
belum bdapat memastikan bahwa glomerulonefritis
tersebut benar-benar disebabka karena infeksi
streptokokus. Gejala klinis dan perjalanan penyakitpasien
penting untuk menentukan apakah biopsi ginjal memang
diperlukan.
Titer antibodi streptokokus positif pada >95 % pasein

faringitis, dan 80% pada pasien dengan infeksi kulit.


Antistreptolisin, antinicotinamiddinucleotidase (anti-NAD),
antihyaluronidase (Ahase) dan anti-DNAse Bpositif setelah
faringitis. Titer antibodi meningkat dalam 1 minggu
puncaknyapada satu bulan dan akan menurun setelah

beberapa bulan.
Pada pemeriksaan serologi didapatkan penurunan
komponen serumCH50 dan konsentrasi serum C3.

16

Penurunan C3 terjadi ada >90% anak dengan GNA PS.


Pada pemeriksaan kadar komplemen, C3 akan kembali
normaldalam 3 hari atau paling lama 30 hari setelah onset
4,5,6 Peningkatan BUN dan kreatinin. Peningkatannya
biasanya transien.Bila peningkatan ini menetap beberapa
minggu atau bulan menunjukkanpasien bukan GNA PS
sebenarnya. Pasien yang mengalami bentuk kresentik GN
mengalami perubahan cepat, dan penyembuhan tidak
sempurna. Adanya hiperkalemia dan asidosis metabolik
menunjang adanya gangguan fungsi ginjal. Selain itu
didapatkan juga hierfosfatemi dan Ca serum yang
menurun.
Pada urinalisis menggambarkan abnormalitas,
hematuria dan proteinuria muncul pada semua kasus.
Pada sedimen urin terdapat eritrosit,leukosit, granular.
Ditemukan juga glukosuria. Eritrosit paling baik
didapatkan pada urin pagi hari, terdapat 60-85% pada
anak yang dirawatdi RS. Hematuria biasanya menghilang
dalam waktu 3-6 bulan dan mungkin dapat bertahan 18
bulan. Hematuria mikroskopik dapat muncul meskipun
klinis sudah membaik. Proteinuria mencapai nilai +1
sampai +4, biasanya menghilang dalam 6 bulan. Pasien
dengan proteinuria dalam nephrotic-range dan proteinuria
berat memiliki prognosis buruk.
Pada pemeriksaan darah tepi gambaran anemia
didapatkan,anemia normositik normokrom.
Gambaran laboratorium :
Urinalisis menunjukkan adanya proteinuria (+1 sampai
+4), hematuria makroskopik ditemukan hampir pada 50%
penderita, kelainan sedimen urine dengan eritrosit
disformik, leukosituria serta torak selulet, granular, eritrosit
(++),albumin (+), silinder lekosit (+) dan lain-lain. Kadangkadang kadar ureum dan kreatinin serum meningkat
dengan tanda gagal ginjal seperti hiperkalemia asidosis,
hiperfosfatemia dan hipokalsemia. Kadang-kadang tampak

adanya proteinuria masif dengan gejala sindroma nefrotik.


Komplomen hemolitik totalserum (total hemolytic
comploment ) dan C3 rendah pada hampir semua pasien

17

dalam minggu pertama, tetapi C4 normal atau hanya


menurun sedikit, sedangkan kadar properdin menurun
pada 50% pasien. Keadaan tersebut menunjukkan aktivasi
jalur alternatif komplomen.Penurunan C3 sangat mencolok
pada pasien glomerulonefritis akut pasca streptokokus
dengan kadar antara 20-40 mg/dl (harga normal 50-140
mg.dl).Penurunan C3 tidak berhubungan dengann
parahnya penyakit dan kesembuhan.Kadar komplemen
akan mencapai kadar normal kembali dalam waktu 68minggu. Pengamatan itu memastikan diagnosa, karena
pada glomerulonefritisyang lain yang juga menunjukkan

penuruanan kadar C3, ternyata berlangsung lebih lama


Adanya infeksi sterptokokus harus dicari dengan
melakukan biakan tenggorok dan kulit. Biakan mungkin

negatif apabila telah diberi anti mikroba


Beberapa uji serologis terhadap antigen sterptokokus
dapat dipakai untuk membuktikan adanya infeksi, antara
lain antisterptozim, ASTO, antihialuronidase,dan anti Dnase
B. Skrining antisterptozim cukup bermanfaat oleh karena
mampu mengukur antibodi terhadap beberapa antigen

sterptokokus.
Titer anti sterptolisin O mungkin meningkat pada 75-80%
pasien dengan GNAPS dengan faringitis,meskipun
beberapa starin sterptokokus tidak memproduksi
sterptolisin O.sebaiknya serum diuji terhadap lebih dari
satu antigen sterptokokus. Bila semua uji serologis
dilakukan, lebih dari 90% kasus menunjukkan adanya

infeksi sterptokokus.
Titer ASTO meningkat pada hanya 50% kasus, tetapi
antihialuronidase atau antibodi yang lain terhadap antigen
sterptokokus biasanya positif. Pada awal penyakit titer
antibodi streptokokus belum meningkat, hingga sebaiknya
uji titer dilakukan secara seri. Kenaikan titer 2-3 kali berarti
adanya infeksi.Krioglobulin juga ditemukan GNAPS dan
mengandung IgG, IgM dan C3.kompleks imun bersirkulasi
juga ditemukan.

18

Tetapi uji tersebut tidak mempunyainilai diagnostik dan

tidak perlu dilakukan secara rutin pada tatalaksana pasien.


GAMBARAN PATOLOGI
Makroskopis ginjal tampak agak membesar, pucat dan terdapat titiktitik perdarahan pada korteks. Mikroskopis tampak hampir semua
glomerulus terkena,sehingga dapat disebut glomerulonefritis difusa.
Tampak proliferasi sel endotel glomerulus yang keras
sehinggamengakibatkan lumen kapiler dan ruang simpai Bowman
menutup. Di sampingitu terdapat pula infiltrasi sel epitel kapsul,
infiltrasi sel polimorfonukleus danmonosit. Pada pemeriksaan
mikroskop elektron akan tampak membrana basalismenebal tidak
teratur.
Terdapat gumpalan humps di subepitelium yang mungkindibentuk
oleh globulin-gama, komplemen dan antigen Streptococcus.
3.8 Penatalaksanaan
Hasil pengobatan glomerulonefritis tergantung pada bentuk akut
atau kronisnya penyakit, penyebab yang mendasari, serta jenis dan
tingkat keparahan gejala.
Beberapa kasus glomerulonefritis akut cenderung sembuh dengan
sendrinya dan tidak memerlukan pengobatan khusus. Maka tujuan
pengobatan adalah untuk melindungi ginjal dari kerusakan lebih lanjut.
Pengobatan tekanan darah tinggi
Menjaga tekanan darah di bawah kontrol adalah kunci untuk
melindungi ginjal. Untuk mengontrol tekanan darah tinggi dan
memperlambat penurunan fungsi ginjal, dokter akan meresepkan
beberapa obat, antara lain:
Diuretik
Angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor
Angiotensin II reseptor agonis
Pengobatan untuk penyebab yang mendasari
Jika ada penyebab yang mendasari peradangan ginjal, dokter
akan meresepkan obat lain untuk mengobati masalahnya di
samping pengobatan untuk mengontrol hipertensi:
Radang atau infeksi bakteri lainnya, antibiotik yang sesuai.
Lupus atau vaskulitis. kortikosteroid dan obat penekan
sistem kekebalan untuk mengendalikan peradangan.
Nefropati IgA. Suplemen minyak ikan dan beberapa obat
penekan kekebalan telah berhasil membantu beberapa
pasien nefropati IgA.
Sindrom Goodpasture. Plasmapheresis kadang-kadang
digunakan untuk mengobati penderita sindrom Goodpasture.
Plasmapheresis adalah proses mekanis yang menghilangkan
antibodi dari darah dengan beberapa plasma darah keluar

19

dari darah dan menggantinya dengan cairan lain atau plasma


donor.
Terapi untuk gagal ginjal
Untuk glomerulonefritis akut dan gagal ginjal akut, dialisis
dapat membantu mengurangi kelebihan cairan dan mengontrol
tekanan darah tinggi. Dialisis adalah proses menghilangkan limbah
dan kelebihan air dari darah, dan digunakan untuk menggantikan
fungsi ginjal pada penderita gagal ginjal.Terapi jangka panjang yang
diberikan untuk gagal ginjal stadium akhir adalah dialisis ginjal dan
transplantasi ginjal. Ketika transplantasi tidak memungkinkan,
dialisis menjadi satu-satunya pilihan.
3.9 Komplikasi
Akut
Oliguria sampai anuria yang dapat berlangsung 2-3 hari
Ensefalopati hipertensi
Gangguan sirkulasi berupa dispne, ortopne, terdapatnya
ronkibasah, pembesaran jantung, dan hipertensi
Anemia
Kronis
Nefrotik sindrom
Nephritic akut sindrom
Gagal ginjal kronis
Tahap akhir penyakit ginjal
Hipertensi
Kronis atau infeksi saluran kemih berulang
Peningkatan kerentanan terhadap infeksi lain
3.10 Prognosis
Glomerulonefritis akut poststreptococcal menyebabkan sepenuhnya
dalam banyak kasus, terutama pada anak-anak. Sekitar 0,1% anak dan
25% dari orang dewasa menderita gagal ginjal kronis.Prognosis untuk
orang dengan glomerulonefritis progresif cepat tergantung pada tingkat
keparahan jaringan parut glomerular dan apakah penyakit yang
mendasari, seperti infeksi, bisa disembuhkan. Pada sekitar 75% dari
orang-orang yang diobati dini (dalam minggu sampai beberapa bulan),
fungsi ginjal dipertahankan dan dialisis tidak diperlukan.
Namun, karena gejala-gejala awal bisa tak jelas dan samar-samar,
banyak orang yang telah glomerulonefritis progresif cepat tidak menyadari
penyakit yang mendasarinya dan tidak mencari perawatan medis sampai
gagal ginjal berkembang. Jika pengobatan terjadi terlambat, orang
tersebut lebih mungkin menderita gagal ginjal kronis. Prognosis juga
tergantung pada penyebab, usia orang tersebut, dan setiap penyakit lain
orang tersebut mungkin.
Jika penyebabnya tidak diketahui atau orang yang lebih tua,
prognosis lebih buruk.Pada beberapa anak-anak dan orang dewasa yang
tidak pulih sepenuhnya dari glomerulonefritis akut, jenis gangguan ginjal
berkembang, seperti proteinuria asimtomatik dan sindrom hematuria atau
sindrom nefrotik. Orang lain dengan glomerulonefritis akut, terutama

20

orang dewasa yang lebih tua, sering mengembangkan glomerulonefritis


kronis.
3.11 Pencegahan
Pencegahan glomerulonefritis paling baik dilakukan dengan
menghindari infeksi saluran pernapasan atas, serta infeksi akut dan kronis
lainnya, terutama yang asal streptokokus. infeksi, biasanya dari
tenggorokan, harus diperoleh dan kepekaan antibiotik yang tepat untuk
mematikan organisme yang tepat. Penilaian medis yang segera untuk
terapi antibiotik diperlukan harus dicari ketika infeksi dicurigai.
Penggunaan profilaksis dianjurkan untuk imunisasi yang sesuai.
4. Memahami dan menjelaskan adab berkemih
4.1 Hukum urine dalam islam
Najis dalam pengertian bahasa adalah kotor. Menurut hukum syariat
adalah segala sesuatu yang menjadi penghalang sahnya shalat.
Yang termasuk najis ialah segala sesuatu yang keluar dari kubul atau
dubur, kecuali mani. darah, nanah, susu binatang yang tidak boleh
diminum, arak,anjing,dan semua bangkai najis kecuali bangkai manusia,
ikan, dan belalang.
Najis terbagi dalam tiga, yaitu :
Najis Mukhaffafah.
Najis yang ringan, yaitu air kencing bayi laki-laki yang belum
memakan makanan kecuali menyusu pada ibunya. Cara
mensucikannya dengan memercikakan air pada tempat kencing itu.
Najis Mughalladah
Najis yang berat, yaitu ajing, babi, dan keturunan kedua- duanya.
Jika seorang terkena anggota binatang tersebut dalam keadaan
basah wajiblah disucikan disemak. Cara mensucikannya yaitu
dengan dibasuh tujuh kali dengan air mutlak, dan salah satu darinya
hendaklah dengan air tanah.
Najis Mutawassitah.
Najis pertengahan, yaitu selain daripada najis mukhaffah dan
mughalladah. Cara mensucikan hendaklah dihilangkan rasanya,
baunya, dan warnanya. Jika setelah dibasuh masih tidak hilang
rasanya, hendaklah dibasuh lagi hingga hilang. Selepas itu jika tidak
hilang juga, maka hukumnya adalah dimaafkan.
Begitulah pembagian najis menurut Islam, dan cara membersihkanya atau
mensucikannya.
4.2 Cara mensucikan diri setelah berkemih
Buang hajat merupakan rutinitas amaliyah yang sering dilakukan
semua orang. Maka alangkah baiknya bila kita mengetahui adab-adab
buang hajat sesuai dengan tuntunan syariat Islam yang mulia ini.
Adanya tuntunan dalam masalah buang hajat ini menunjukkan
bahwa Islam adalah agama yang sangat sempurna. Tidak ada yang tersisa
dari problematika umat ini, melainkan telah dijelaskan secara gamblang
oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Tak heran, jika kaum musyrikin

21

pernah terperangah seraya berkata kepada Salman Al-Farisi radhiallahu


anhu:
Sungguh nabi kalian telah mengajarkan segala sesuatu sampai-sampai
perkara adab buang hajat sekalipun. Salman menjawab: Ya, benar
(HR. Muslim No. 262)
Diantara adab-adab tersebut adalah:
Berdoa Sebelum Masuk WC
WC dan yang semisalnya merupakan salah satu tempat yang dihuni
oleh setan. Maka sepantasnya seorang hamba meminta
perlindungan kepada Allah subhanahu wataala dari kejelekan
makhluk tersebut. Oleh karena itu Rasulullah shalallahu alaihi
wasallam mengajarkan doa ketika akan masuk WC:
( )
(Dengan menyebut nama Allah) Ya Allah, sesungguhnya aku
berlindung kepada-Mu dari kejelekan setan laki-laki dan setan
perempuan. (HR. Al-Bukhari no. 142 dan Muslim no. 375. Adapun
tambahan basmalah diawal hadits diriwayatkan oleh Ibnu Majah
dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani)
Doa ini dapat pula dibaca dengan lafazh:
( )
(Dengan menyebut nama Allah) Ya Allah, sesungguhnya aku
berlindung kepada-Mu dari segala bentuk kejahatan dan para
pelakunya. (Lihat Fathul Bari dan Syarhu Shahih Muslim pada
penjelasan hadits diatas)
Mendahulukan Kaki Kiri Ketika Masuk WC Dan Mendahulukan Kaki
Kanan Ketika Keluar
Dalam masalah ini tidak terdapat hadits shahih yang secara khusus
menyebutkan disukainya mendahulukan kaki kiri ketika hendak
masuk WC. Hanya saja terdapat hadits Aisyah radhiyallahu anha,
ia berkata:
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menyukai mendahulukan
yang kanan pada setiap perkara yang baik. (HR. Muslim)
Oleh karena itu, beberapa ulama seperti Al-Imam An-Nawawi dalam
kitab beliau, Syarhu Shahih Muslim, dan juga Al-Imam Ibnu Daqiqil
Id menyebutkan disukainya seseorang yang masuk WC dengan
mendahulukan kaki kiri dan ketika keluar dengan mendahulukan
kaki kanan.
Tidak Membawa Sesuatu Yang Terdapat Padanya Nama Allah
subhanahu wataala Atau Ayat Al-Qur`an kedalam WC
Sesuatu apapun yang terdapat padanya nama Allah subhanahu
wataala, atau terdapat padanya ayat Al-Quran, atau terdapat
padanya nama yang disandarkan kepada salah satu dari nama Allah
subhanahu wataala seperti Abdullah, Abdurrahman dan yang
lainnya, maka tidak sepantasnya dimasukkan ke tempat buang
hajat (WC). Allah subhanahu wataala berfirman:
Barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah, maka
sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati. (QS. Al-Hajj: 32)
Adapun hadits yang sering dipakai dalam masalah ini tentang
peletakan cincin Rasulullah shalallahu alaihi wasallam ketika masuk

22

WC merupakan hadits yang dilemahkan para ulama. (Taudhihul


Ahkam, 1/324)
Berhati-hati Dari Percikan Najis
Tidak berhati-hati dari percikan kencing merupakan salah satu
penyebab diadzabnya seseorang di alam kubur. Tetapi perkara ini
sering disepelekan oleh kebanyakan orang. Suatu ketika Rasulullah
shalallahu alaihi wasallam melewati dua kuburan, seraya beliau
shalallahu alaihi wasallam bersabda:
Sungguh dua penghuni kubur ini sedang diadzab. Tidaklah
keduanya diadzab melainkan karena menganggap sepele perkara
besar. Adapun salah satunya, ia diadzab karena tidak menjaga
dirinya dari kencing. Sedangkan yang lainnya, ia diadzab karena
suka mengadu domba. (HR. Al-Bukhari no. 216 dan Muslim no.
292)
Dan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah memperingatkan:
Bersucilah kalian dari kencing. Sungguh kebanyakan (orang)
diadzab di alam kubur disebabkan karena kencing. (HR. AdDaraquthni)
Tidak Menampakkan Aurat
Menutup aurat merupakan perkara yang wajib dalam Islam. Oleh
karena itu Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melarang
seseorang dalam keadaan apapun, termasuk ketika buang hajat,
untuk menampakkan auratnya di hadapan orang lain. Beliau
shalallahu alaihi wasallam bersabda:
Apabila dua orang buang hajat, maka hendaklah keduanya saling
menutup auratnya dari yang lain dan janganlah keduanya saling
berbincang-bincang. Sesungguhnya Allah sangat murka dengan
perbuatan tersebut. (HR. Ahmad dishahihkan Ibnus Sakan, Ibnul
Qathan, dan Al-Albani, dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu)
Oleh karena itu, kebiasaan Rasulullah shalallahu alaihi wasallam
adalah menjauh dari pandangan para sahabatnya ketika hendak
buang hajat. Abdurrahman bin Abi Qurad radhiallahu anhu berkata:
Aku pernah keluar bersama Rasulullah shalallahu alaihi wasallam
ke tempat buang hajat. Kebiasaan beliau ketika buang hajat adalah
pergi menjauh dari manusia. (HR. An Nasai No. 16. Dishahihkan
Asy Syaikh Muqbil dalam Al-Jamius Shahih, 1/495)
Tidak Beristinja dengan Tangan Kanan
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melarang beristinja dengan
tangan kanan sebagaimana sabda beliau shalallahu alaihi
wasallam:



Janganlah seseorang diantara kalian memegang kemaluan dengan
tangan kanannya ketika sedang kencing dan jangan pula cebok
dengan tangan kanan. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat
Abu Qotadah radhiallahu anhu)
Hadits inipun mengandung larangan memegang kemaluan dengan
tangan kanan ketika sedang kencing. Hal ini menunjukkan bahwa
Islam sangat memperhatikan adab (etika yang baik) dan
kebersihan, termasuk ketika buang hajat sekalipun.

23

Boleh Bersuci dengan Batu (Istijmar)


Diantara bentuk kemudahan dari Allah subhanahu wataala ialah
dibolehkan bagi seseorang untuk bersuci dengan batu (istijmar).
Abdullah bin Masud radhiallahu anhu berkata:
Suatu hari Rasulullah shalallahu alaihi wasallam buang hajat, lalu
beliau meminta kepadaku tiga batu untuk bersuci. (HR. Al-Bukhari
No. 156)
Namun batu yang dipakai harus berjumlah ganjil dengan jumlah
minimal tiga batu sebagaimana dinyatakan Salman Al-Farisi
radhiallahu anhu:
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melarang bersuci (istijmar)
kurang dari tiga batu. (HR. Muslim)
Juga hadits dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, Rasulullah
shalallahu alaihi wasallam bersabda:
Jika kalian bersuci dengan batu (istijmar), maka hendaklah dengan
bilangan ganjil. (HR. Muslim)
Para ulama menyebutkan kriteria batu yang dipakai adalah batu
yang suci lagi kering. Tidak boleh jika batu tersebut dalam keadaan
basah. Dibolehkan juga menggunakan benda-benda lain selagi bisa
menyerap benda najis dari tempat keluarnya, yaitu qubul dan
dubur, dengan syarat berjumlah ganjil dan minimal 3 (tiga) buah.
Larangan Beristinja dengan Tulang dan Kotoran Binatang
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melarang beristinja dengan
tulang atau kotoran binatang, disamping keduanya merupakan
benda yang tidak dapat menyucikan. Jabir bin Abdillah radhiallahu
anhu berkata:
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah melarang beristinja
dengan tulang dan kotoran binatang. (HR. Muslim)
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menyebutkan hikmah
pelarangan beristinja dengan tulang sebagaimana disebutkan dari
Abu Hurairah radhiallahu anhu, Rasulullah shalallahu alaihi
wasallam bersabda:
Tulang adalah makanan saudara kalian dari kalangan jin. (HR. AlBukhari)
Tidak Menghadap Atau Membelakangi Kiblat Ketika Buang Hajat
Para ulama berbeda pendapat dalam permasalahan ini. Sebagian
ulama berpendapat dilarangnya buang hajat dengan menghadap
atau membelakangi kiblat secara mutlak, baik di tempat terbuka
maupun di tempat tertutup. Inilah pendapat Ibnu Taimiyyah, AsySyaukani, Asy-Syaikh Al-Albani dan yang lainnya. Berdalil dengan
hadits dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu anhu, Rasulullah
shalallahu alaihi wasallam bersabda:
Apabila seseorang dari kalian buang hajat, maka janganlah
menghadap kiblat atau membelakanginya. Akan tetapi hendaknya
ia menyamping dari arah kiblat. (HR. Al-Bukhari No. 394 dan
Muslim No. 264)
Sebagian ulama lain berpendapat bahwa larangan buang hajat
dengan menghadap kiblat adalah apabila di tempat terbuka. Namun
jika di tempat tertutup, maka dibolehkan menghadap kiblat. Dalil

24

yang menunjukkan bolehnya perkara tersebut adalah hadits dari


Ibnu Umar radhiallahu anhu, ia berkata:
Aku pernah menaiki rumah saudariku Hafshah (salah satu istri
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam) untuk suatu kepentingan.
Maka aku melihat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sedang
buang hajat dengan menghadap ke arah negeri Syam dan
membelakangi Kabah. (HR. Al-Bukhari No. 148 dan Muslim No.
266)
Demikian pula hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu, ia
berkata:
Beliau shalallahu alaihi wasallam melarang kami membelakangi
atau menghadap kiblat ketika buang hajat. Akan tetapi aku melihat
beliau kencing dengan menghadap kiblat setahun sebelum beliau
wafat. (HR. Ahmad, 3/365, dihasankan Asy-Syaikh Muqbil dalam AlJamius Shahih, 1/493)
Pendapat inilah yang nampak bagi penulis lebih kuat. Dan ini
pendapat yang dipilih Al-Imam Malik, Ahmad, Asy-Syafii, dan
mayoritas para ulama.
Namun dalam rangka berhati-hati, sebaiknya tidak menghadap
kiblat ketika buang hajat walaupun di tempat tertutup. Hal ini
disebabkan karena perbedaan pendapat yang sangat kuat diantara
para ulama dalam masalah ini.
Berdoa Setelah Keluar WC
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengajarkan doa yang
dibaca ketika keluar dari tempat buang hajat. Aisyah radhiyallahu
anha berkata:
Bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam jika keluar dari
tempat buang hajat membaca doa:

(Aku memohon pengampunanmu). (HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, AnNasai, Ibnu Majah dan dishahihkan Al-Albani dalam Irwaul Ghalil
No. 52)
Terdapat riwayat-riwayat lain yang menyebutkan beberapa bentuk
doa yang dibaca setelah buang hajat. Namun seluruh hadits-hadits
tersebut didhaifkan para ulama pakar hadits. Al-Imam Abu Hatim
Ar-Razi berkata: Hadits yang paling shahih tentang masalah ini
adalah hadits Aisyah (yang telah disebutkan diatas). (Taudhihul
Ahkam, 1/352)
DAFTAR PUSTAKA
Sherwood.2009.Fisiolgi manusia edisi 6. Jakarta : EGC
Prodjosudjadi,Wiguno.2010.Ilmu penyakit dalam jilid 2 (glomerulonefritis).
Jakarta : Interna Publishing
Madjid,Amir,dkk.2008.Gangguan keseimbangan air elektrolit dan asam
basa. Jakarta :FKUI
http://health.detik.com/read/2011/11/09/071515/1763329/770/glomerulon
efritis-peradangan-pada-alat-penyaring-ginjal
http://www.scribd.com/doc/52827386/13/Epidemiologi

25

http://www.tanyadokter.com/tipdetail.asp?id=1002168
http://medical-dictionary.thefreedictionary.com/glomerulonephritis
http://members.tripod.com/abu_dillah/asya/SYARIAH-1.htm
http://www.scribd.com/doc/48862772/Glomerulonefritis-Akut
https://kaahil.wordpress.com/2008/11/23/10-tuntunan-buang-hajat/