Anda di halaman 1dari 16

1.

MM Anatomi makroskopis dan mikroskopis organ limfoid


1. LYMPHNODES
Lymphnodes = kelenjar getah bening
Makroskopik:
-

Kacang/ginjal
Ovoid
Hillus : bagian cekung tempat keluar/masuk pembuluh darah
Terdapat pada:
Regio Axilaris
Regio Inguinalis
Sepanjang perjalanan pembuluh besar dari leher, dalam rongga dada, perut
Regio Mesenterium

Mikroskopik
-

Parenkhim : terdiri dari jaringan Limfoid yang ditembus oleh pembuluh getah bening
khusus sinus-sinus getah bening
Stroma
a. Kerangka Retikuler. Terdiri dari :
- Sabut Retikuler (anyaman)
- Sel Retikuler (mata anyaman)
- Sel bebas (terletak dalam anyaman)
b. Kerangka Kollagen membentuk:
- Kapsul
- Trabekule

Intan aprelia prayusmi A - 9

CORTEX ( makroskopis)
-

Bagian luar Gelap


Terdiri dari jaringan Limfoid padat : Terdapat Primary Nodule & Germinal Center

CORTEX ( mikroskopis)
-

Sel-sel Limfosit kecil tersusun padat

MEDULLA ( makroskopis )
-

Bagian dalam Terang


Terdiri dari jaringan Limfoid Diffus/Kendor

MEDULLA ( mikroskopis )
-

Sel-sel Limfosit kecil, jumlahnya lebih sedikit Sel-sel Retikuler

Intan aprelia prayusmi A - 9

SINUS-SINUS GETAH BENING


-

Ruangan/celah berdinding endotel

Fungsi Kelenjar Getah Bening:


1. Pertahanan tubuh
Limfosit & Plasma Cell
2. Penyaringan Cairan Limfe
3. Produksi Limfosit
4. Pembentukan Antibodi
2.THYMUS
Lokasi : Bagian proximal mediastinum dan sebelah ventral dari pembuluh besar yang
meninggalkan jantung
Makroskopik:
-

Merupakan masa pipih, warna abu-abu


Terdiri dari 2 Lobus yang masing-masing dihubungkan dengan jaringan ikat

Mikroskopik:
-

Tiap lobus dilapisi kapsul tipis yang terdiri dari jaringan ikat kendor
Tiap lobus terdiri dari lobulus-lobulus dan sekat-sekat jaringan ikat
Komponen Selluler:
Limfosit T
Sel Retikuler
Makrofag

HASSALS CORPUSCLE/HASSALS BODIES


Sel Retikuler yang tersusun konsentris, beberapa hari, pada bagian pusat menunjukkan tandatanda degenerasi Hyalin dengan HE Masa kemerahan
Fungsi Thymus Membentuk Limfosit
Involusi Thymus Berat relatif max dicapai akhir masa embrional
Berat absolut 30 40 gram akil balik
Kemunduran (aged involution) Masa dewasa Thymus diganti oleh Lemak

Intan aprelia prayusmi A - 9

3.LIEN = LIMPA
-

Merupakan organ Limfatik terbesar


Letak: Hypochondrium kiri dibawah diafragma
Fungsi:
Membentuk sel darah
Merusak sel darah merah
Menyaring darah
Cadangan darah
- Mempunyai kapsul jaringan ikat padat terdiri dari sabut kollagen, elastis dan otot polos
- Hillus bagian Cekung, tempat keluar masuknya : pembuluh darah, pembuluh limfe
- Pada irisan segar : Pada permukaan Limpa
Daerah bulat panjang, warna abu-abu, 0.2-0.7 mm
White Pulp = Badan Malphigi
terdiri dari jaringan Limfoid Noduler & Diffus Diantara white pulp terdapat area-area
yang berwarna gelap kemerahan Red Pulp =Pulpa Merah
MIKROSKOPIS PULPA PUTIH
Terdiri dari :
-

Primary Nodule
Germinal Center
Arteri : Arteri Sentralis
Komponen Selluler : Limfosit kecil, sel plasma, makrofag

MAKROSKOPIS PULPA MERAH


Terdiri dari anyaman Sinusoid yang bercabang-cabang dan saling beranastromossom yang satu
dan yang lain dipisahkan oleh jaringan Limfoid dalam bentuk:
SPLENIC CORD/ PULP CORD/ BILLROTH CORD
Massa selluler yang seperti busa disangga oleh kerangka Retikuler. Massa Selluler terdiri dari :
-

Sel Limfosit
Sel Retikuler
Sel Plasma
Makrofag
Eritrosit
Trombosit

Intan aprelia prayusmi A - 9

Sirkulasi Limpa
Ada 2 pendapat :
1. Open circulation Kapilar arteri terakhir mencurahkan isinya langsung ke pembuluh
darah
2. Closed circulation Kapilar arteri terakhir berhubungan langsung dengan vendous
sinusoid
4. TONSIL
Jaringan Limfatik dibawah permukaan basah dari saluran yang mempunyai hubungan dengan
dunia luar & diliputi epitel
-

Macam- macam Tonsil


1. Tonsilla Lingualis pada Radix Linguae
Epitel : berlapis pipih melapisi kripta (cekungan)
Keliling mukus (weber) bermuara pada dasar kripta
Lumen kripta bersih jarang beradang
2. Tonsilla Palatina Diantara arcus glossopalatinus dan arcus pharingo palatinus
Epite l: berlapis pipih
Kripta dalam, bercabang cabang
Lumen kripta kotor sering beradang
3. Tonsilla pharingica pada dinding belakang nasopharynx
Epitel : berderet silindris bersilia dengan sel-sel goblet, Tak ada
kripta

2. MM Sistem imun dan Mekanismenya


a. Memahami definisi imunitas alami/non spesifik
Imunitas ini disebut nonspesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroba tertentu,telah
ada dan siap sejak lahir. Mekanismenya tidak menunjukkan spesifitas terhadap benda asing.

Intan aprelia prayusmi A - 9

Imunitas nonspesifik menjadi lini pertahanan terdepan tubuh kita.


-

Waktu responnya sangat cepat dan selalu siap


Tidak memerlukan pajanan terhadap patogen sebelumnya
Imunitas nonspesifik pada dasarnya terbagi atas :
Fisik/mekanik : kulit, selaput lendir, batuk, bersin
Humoral/larut : asam lambung, interferon dan komplemen,
sitokin,laktoferin
Seluler : Sel monosit-makrofag, sel granulocyte, sel NK ,sel mast,
sel dendritic
Sel yg berperan utama dalam pertahanan nonspesifik adalah sel mononuklear(monosit
dan makrofag) sel polimofonuklear atau granulocyte.
Peran sel-sel ini adalah mengenali dan menangkap antigen, mengolah dan selanjutnya
mempresentasikannya ke sel T

1. Fagosit mononuklear
- Terdiri atas monosit dalam sirkuasi dan makrofag dalam jaringan.
- Monosit dan makrofag sama-sama mempunyai fungsi yg sama.
Untuk fagositosis mikroba patogen,
Melepas mediator inflamasi dan sitokin, serta
Mempresentasikan antigen dari patogen yg dicerna kepada sel limfosit T.
Penghancuran kuman (fagosit) dengan membentuk fagolisoson, yaitu
fusi antar fagosom yg didalamnya terdapat patogen dan lisosom, yg akan
mendestruksi patogen, baik dengan mengunakan enzim pencernaan dari
lisosom maupun menggunakan spesies oksigen reaktif. Hal ini juga
mengawali pengelepasan mediator inflamasi maupun sitokin yg akan
menginduksi baik sel-sel imun spesifik maupun nonspesifik lainnya.
2. Sel mast
- Sel yg dalam struktur, fungsi dan proliferasinya serupa dengan sel basophil.
- Sel mast hanya ditemukan dalam jaringan yg berhubungan dengan pembuluh darah.
Sel mast diaktifkan dengan pengaruh PAF, C3a,C5a dan mediator lainnya. Bila sudah
teraktivasi, maka sel mast akan degranulasi mengeluarkan berbagai sitokin yg berperan
dalam proses inflamasi
3. Sel Natural Killer (NK)
- Termasuk sel limfosit berkembang dari sel asal progenitor yg sama dengan sel B dan
T.
- Mengenali dan membunuh berbagai sel yg sudah terinfeksi tanpa bantuan tambahan
untuk aktivasinya
- Mengandung perforin yg dapat melubangi membran sel sasaran dan granzim untuk
sitotoksik, sama seperti Th. Selini memproduksi IFN- dan TNF- yg merupakan sitokin
proinflamasi serta berperan dalam pengaktifan makrofag dan regulator sel Th

Intan aprelia prayusmi A - 9

4. Sel Dendritik(SD)
- Antigen presenting cell(APC) paling efektif letaknya yg strategis di tempat-tempat
mikroba masuk tubuh.
- Mengenali antigen,mengawali respon imunitas seluler dan humoral yg mengaktifkan sel
T dan sel B.
- APC mempresentasikan peptida antigen ke sel T CD4 melalui MHC-II atau ke sel T CD*
melalui MHC-I, sehingga dapat mengaktifkan kedua sel tersebut.
b. Memahami definisi imunitas didapat/spesifik
-

Pajanan yg terjadi pada sel-sel sistem imun ini menimbulkan sensitasi, sehingga
antigen yg sama dan masuk kedalam tubuh untuk kedua kali akan dikenal lebih cepat dan
kemudian dihancurkan.
Dapat membentuk sel memori yg dapat mengenali struktur antigen yg sama.
Memiliki kemampuan dapat membedakan berbagai macam antigen.
Sel sistem imun spesifik sendiri terbagi 2, yaitu :
- Imunitas humoral (sel B) : 5-25% dari limfosit dalam darah.
o Sel B matang mengekspresikan reseptor BCR pada permukaan sel
yg berperan dalam diversitas, spesifitas dan memori Sel B
menggunakan antibodi sebagai reseptor sel yg dapat mengenal
antigen bebas.
o BCR yg mengikat antigen asing akan memicu 4 proses :
proliferasi, differensiasi menjadi sel plasma yg memproduksi
antibodi, membentuk sel memori dan mempresentasikan antigen ke
sel T. Sel B dapat pula diaktifkan sel T, baik secara T dependen dan
T Independen. Fungsi antibodi secara umumnya adalah untuk
netralisasi antigen, opsonisasi dan lisis sel.
- Imunitas seluler (sel T) : dari sel progenitor asal sumsum tulang
o Kemudian bermigrasi timus berdifferensiasi menjadi sel T
matang. Kemampuan sel limfosit T matang mengenal antigen asing
dimungkinkan oleh ekspresi reseptor TCR mengenal antigen
diikat MHC dipresentasikan sel APC. Sel limfosit T dibagi
menjadi menjadi 2 sel yg mempunyai fungsi yg berbeda, yaitu sel
Th(CD4) dan Tc(CD8)

Sel th
o Jenis perkembangan sel T naif yg terpajan dengan antigen yg diikat
oleh MHC-II selCD4. Sel CD4 berproliferasi sub tipe sel
Th, yaitu sel Th1 atau Th2.

Intan aprelia prayusmi A - 9

o Pada sel Th1, IL-12 dan IFN- yg diproduksi sel APC


mempresentasikan antigen rangsang differensiasi sel CD4
sel Th1.
o Sel Th1 berperan pengaktifan dan mengerahkan makrofag
dengan cara : menyintesis sitokin IL-2, IFN- dan TNF.
o Pada sel Th2, pengaruh sitokin IL-4, IL-5, IL-10,IL-13 yg dilepas
sel mast yg terpajan antigen atau cacing akan membuat sel Th
menjadi Th2. Sel Th2 mengeluarkan sitokin IL-3, IL-4, IL-5,
IL-10 dan IL-13 merangsang sel B produksi lebih banyak
antibodi, meningkatkan aktivasi Tc dan mengaktivasi eosinofil
pada infeksi parasit.
-

Sel Tc

o Sel T naf berikatan dengan antigen yg diikat MHC-I,


dimana koreseptor CD8 mengenalinya dan akan merangsang
differensiasi sel T naif sel Tc.
o Fungsi utama sel Tc menghancurkan sel terinfeksi,
o Dapat jg menigkatkan aktivasi sel NK
o Sel Tc dapat menghancurkan sel terinfeksi dengan 2 tahap:
1. Pertama sel Tc mengekspresikan molekul perforin yg dapat
melubangi permukaan sel
2. Sel Tc menyintesis enzim granzim dan memasukkannya ke
dalam lubang yg dibuat perforin, sehingga granzim akan
mengaktifasi apoptosis sel tersebut

III. MM Antigen dan Antibodi


a. Memahami definisi antigen
Antigen bahan yg berinteraksi dengan produk respons imun yg diransang oleh
imunogen spesifik seperti antibodi atau TCR.
Antigen ini dimiliki oleh berbagai macam patogen. Sel sistem imun tidak berinteraksi
dengan seluruh molekul antigen, tetapi limfosit mengenal tempat khusus pada
makromolekul yg disebut epitop atau determinan antigen.
Epitop adalah bagian dari antigen yg dapat membuat kontak fisik dengan reseptor
antibodi. Oleh karena sel B mengikat antigen yg bebas dalam larutan, epitop yg
dikenalnya cenderung mudah ditemukan dipermukaan antigen. Epitop sel T dari protein
berbeda dalam peptida, biasanya berasal dari hasil cerna protein patogen oleh enzim yg
dikenal oleh TCR dalam kompleks dengan MHC.Memahami macam-macam antigen
beserta strukturnyaAntigen dapat dibagi berdasar :
1. Pembagian antigen menurut epitop :
a) Unideterminan, univalen : satu jenis epitop pada satu molekul
b) Unideterminan, multivalen : satu jenis epitop berjumlah lebih dari satu disatu
molekul
c) Multideterminan, univalen : banyak jenis epitop tp jumlah masing-masing cm satu
Intan aprelia prayusmi A - 9

d) Multideterminan, multivalen : banyak jenis epitop berjumlah lebih dari satu


2. Pembagian antigen menurut spesifitas :
a) Heteroantogen : dimiliki oleh banyak spesies
b) Xenoantigen : hanya dimiliki spesies tertentu
c) Aloantigen : Spesifik untuk individu dalam satu spesies
d) Antigen organ spesifik : hanya dimiliki organ tertentu
e) Autoantigen :dimiliki tubuh sendiri
3. Pembagian antigen menurut ketergantungan terhadap sel T :
a) T dependen : memerlukan pengenalan oleh sel T terlebih dahulu
b) T independen : dpt merangsang sel B tanpa bantuan sel T terlebih dahulu
4. Pembagian antigen menurut sifat kimiawi :
a) Polisakarida
b) Lipid
c) Asam nukleat
b. Memahami definisi antibodi
- Antibodi tergolong protein yg disebut globulin dan dikenal sebagai
immunoglobulin(Ig).
- Immunoglobulin dibentuk oleh sel plasma yg berasal dari proliferasi sel B yg
terjadi setelah kontak dengan antigen.
- Fungsi utamanya adalah mengikat antigen dan menghantarkannya ke sistem
efektor pemusnahan
1. Immnunoglobulin G (IgG) :
IgG merupakan komponen utama serum
75% dari semua immunoglobulin.
igG memiliki sifat opsonin yg efektif karena sel-sel fagosit, monosit dan makrofag
mempunyai reseptor untuk fraksi Fc dari IgG.
IgG jg dapat menembus plasenta masuk ke janin.

2. Immnunoglobulin A (IgA) :
Ig utama dalam cairan sekresi seromukosa untuk menjaga permukaan luar tubuh
IgA dapat menetralkan toksin
Mengaglutinasikan kuman dan bekerja sebagai opsonin
IgA sendiri dapat mengaktifkan komplemen jalur alternative
3. Immnunoglobulin M (IgM) :
IgM merupakan Ig terbesar.
IgM juga merupakan Ig paling efektif dalam aktifasik omplemen Jalur klasi

Intan aprelia prayusmi A - 9

IgM dibentuk paling awal pada respons imun primer terhadap kebanyakan
antigen.
IgM juga merupakan Ig yg predominan diproduksi janin.
4. Immnunoglobulin D (IgD) :
IgD ditemukan dalam serum dengan kadar yg sangat rendah
IgD merupakan komponen permukaan utama sel B dan merupakan tanda dari
differensiasi sel B ygsudah lebih matang
IgD jg tidak mengikat komplemen dan tidak dilepas sel plasma.
5. Immnunoglobulin E (IgE) :
IgE berperan dalam pertahanan terhadap infeksi parasit pengerahan agen
antimicrobial
IgE terutama berperan dalam reaksi alergi dan dapat menimbulkan syok
anafilaksis
IV. MM vaksinasi dan imunisasi
4.1 memahami dan menjelaskan vaksinasi dan imunisasi
Imunisasi / pengebalan adalah suatu usaha untuk membuat seseorang menjadi kebal
terhadap penyakit tertentu dengan menyuntikan vaksin.
Vaksin adalah kuman hidup yang dilemahkan / kuman mati / zat yang bila dimasukkan
ke tubuh menimbulkan kekebalan terhadap penyakit tertentu.
Imunisasi bertujuan untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit : Poliomyelitis
(kelumpuhan), Campak (measles), Difteri (indrak), Pertusis (batuk rejan / batuk seratus hari),
Tetanus, Tuberculosis (TBC), Hepatitis B dan untuk mencegah penyakit dan kematian bayi serta
anak yang disebabkan oleh wabah yang sering berjangkit.

4.2 memahami dan menjelaskan klasifikasi vaksin


Macam Vaksin dan Cara Pemberian
a. Vaksin Polio
Bibit penyakit yang menyebabkan polio adalah virus, vaksin yang digunakan
oleh banyak negara termasuk Indonesia adalah vaksin hidup (yang telah
diselamatkan) vaksin berbentuk cairan.
Kemasan sebanyak 1 cc / 2 cc dalam 1 ampul.
b. Vaksin Campak

Intan aprelia prayusmi A - 9

c.

d.

e.

f.

g.

Bibit penyakit yang menyebabkan campak adalah virus. Vaksin yang


digunakan adalah vaksin hidup.
Kemasan dalam flacon berbentuk gumpalan yang beku dan kering untuk
dilarutkan dalam 5 cc pelarut. Sebelum menyuntikkan vaksin ini, harus
terlebih dahulu dilarutkan dengan pelarut vaksin (aqua bidest). Disebut beku
kering oleh karena pabrik pembuatan vaksin ini pertama kali membekukan
vaksin tersebut kemudian mengeringkannya.
Vaksin yang telah dilarutkan potensinya cepat menurun dan hanya bertahan
selama 8 jam.
Vaksin BCG
Vaksin BCG adalah vaksin hidup yang berasal dari bakteri.
Vaksin BCG adalah vaksin beku kering seperti campak berbentuk bubuk.
Vaksin BCG melindungi anak terhadap penyakit tuberculosis (TBC),
Dibuat dari bibit penyakit hidup yang telah dilemahkan, ditemukan oleh
Calmett Guerint.
Sebelum menyuntikkan BCG, vaksin harus lebih dulu dilarutkan dengan 4 cc
cairan pelarut (NaCl 0,9%).
Vaksin yang sudah dilarutkan harus digunakan dalam waktu 3 jam. Vaksin
akan mudah rusak bila kena sinar matahari langsung. Tempat penyuntikan
adalah sepertinya bagian lengan kanan atas.
Vaksin Hepatitis B
Bibit penyakit yang menyebabkan hepatitis B adalah virus.
Vaksin hepatitis B dibuat dari bagian virus yaitu lapisan paling luar (mantel
virus) yang telah mengalami proses pemurnian.
Vaksin hepatitis B akan rusak karena pembekuan dan pemanasan.
Vaksin hepatitis B paling baik disimpan pada temperatur 2,8C.
Vaksin DPT, TT, dan DT
Terdiri toxoid difteri, baketi pertusis dan tetanus toxoid, kadang disebut triple
vaksin.
Vaksin DPT disimpan pada suhu 2,8C kemasan yang digunakan :
- 5 cc untuk DPT
- 5 cc untuk TT
- 5 cc untuk DT
Pemberian imunisasi DPT, DT, TT dosisnya adalah 0,5 cc.
Vaksin toxoid difteri
Vaksin ini merupakan bagian dari DPT atau DT, difteri disebabkan oleh
bakteri yang memproduksi racun, vaksin terbuat dari toxoid yaitu racun
difteri yang telah dilemahkan.
Vaksin difteri akan rusak jika dibekukan dan juga akan rusak oleh panas.
Vaksin pertusis

Intan aprelia prayusmi A - 9

Merupakan bagian dari vaksin DPT, penyebab penyakit pertusis adalah bakteri
vaksin dibuat dari bakteri yang telah dimatikan, akan mudah rusak, bila kena
panas
Sama seperti vaksin BCG, dalam vaksin DPT komponen pertusis merupakan
vaksin yang paling mudah rusak.
h. Vaksin tetanus
Vaksin ini merupakan bagian dari vaksin DPT, DT atau sebagai tetanus toxoid
(TT).
Tetanus disebabkan oleh bakteri yang memproduksi toxin.
Vaksin terbuat dari toxin tetanus yang telah dilemahkan
Tetanus toxoid akan rusak bila dibekukan dan akan rusak bila kena panas.
Kontra Indikasi
a. BCG
: Sakit kulit (luka) di tempat suntikan
b. DPT 1
: Panas lebih dari 38C, riwayat kejang demam
c. DPT 2 atau 3 : Reaksi berlebihan setelah imunisasi DPT (misalnya suhu tinggi dengan
kejang, penurunan kesadaran, shock).
d. DT
: Tidak ada
e. TT
: Tidak ada
f. Polio
: Diare
g. Campak
: Riwayat kejang demam, panas lebih dari 38C
h. Hepatitis B : Tidak ada
Dosis, Jumlah dan Waktu Pemberian Serta Efek Samping
a. BCG
-

Umur : 0 11 bln
Dosis : 0,05 cc
Cara : Intrakutan, lengan kanan
Jumlah suntikan : Satu kali
Efek samping :
I.
Reaksi normal
Bakteri BCG ditubuh bekerja dengan sangat lambat. Setelah 2
minggu akan terjadi pembengkakan kecil merah di tempat
penyuntikan dengan garis tengah 10 mm.
Setelah 2 3 minggu kemudian, pembengkakan menjadi abses
kecil yang kemudian menjadi luka dengan garis tengah 10 mm,
jangan berikan obat apapun pada luka dan biarkan terbuka atau bila
akan ditutup gunakan kasa kering. Luka tersebut akan sembuh dan
meninggalkan jaringan parut tengah 3-7 mm.
II.
Reaksi berat
Kadang terjadi peradangan setempat yang agak berat atau abses
yang lebih dalam, kadang juga terjadi pembengkakan di kelenjar

Intan aprelia prayusmi A - 9

III.

b. DPT
-

limfe pada leher / ketiak, hal ini disebabkan kesalahan penyuntikan


yang terlalu dalam dan dosis yang terlalu tinggi.
Reaksi yang lebih cepat
Jika anak sudah mempunyai kekebalan terhadap TBC, proses
pembengkakan mungkin terjadi lebih cepat dari 2 minggu, ini
berarti anak tersebut sudah mendapat imunisasi BCG atau
kemungkinan anak tersebut telah terinfeksi BCG.

Umur : 2 11 bln
Dosis : 0,05 cc
Cara : IM / SC, jumlah suntikan : 3 x
Selang pemberian : Minimal 4 minggu
Efek samping :
a. Panas
Kebanyakan anak akan menderita panas pada sore hari setelah
mendapat imunisasi DPT, tapi panas ini akan sembuh 1 2 hari.
Anjurkan agar jangan dibungkus dengan baju tebal dan
dimandikan dengan cara melap dengan air yang dicelupkan ke air
hangat.
b. Rasa sakit di daerah suntikan
Sebagian anak merasa nyeri, sakit, kemerahan, bengkak.
c. Peradangan
Bila pembengkakan terjadi seminggu atau lebih, maka hal ini
mungkin disebabkan peradangan, mungkin disebabkan oleh jarum
suntik yang tidak steril karena :
- Jumlah tersentuh
- Sebelum dipakai menyuntik jarum diletakkan diatas tempat
yang tidak steril.
- Sterilisasi kurang lama.
- Pencemaran oleh kuman.
d. Kejang-kejang
Reaksi yang jarang terjadi sebaliknya diketahui petugas reaksi
disebabkan oleh komponen dari vaksin DPT.

c. Polio
-

Umur : 0 11 bln
Dosis : 2 tetes
Cara : Meneteskan ke dalam mulut
Selang waktu : Berikan 4 x dengan jarak minimal 4 minggu.
Efek samping : Bila anak sedang diare ada kemungkinan vaksin tidak bekerja
dengan baik karena ada gangguan penyerapan vaksin oleh usus akibat diare berat.
d. Hepatitis D
- Umur : Mulai umur 0 bulan
- Dosis : 0, 5 cc / pemberian
- Cara : Suntikan IM pada bagian luar
Intan aprelia prayusmi A - 9

- Jumlah suntikan : 3 x
- Selang pemberian : 3 dosis dengan jarak suntikan 1 bulan dan 5 bulan.
- Efek samping : tidak ada
e. Campak
- Umur : 9 bln.
- Dosis : 0, 5 cc
- Cara : Suntikan secara IM di lengan kiri atas
- Jumlah suntikan : 1 x dapat diberikan bersamaan dengan pemberian vaksin lain
tapi tidak dicampur dalam 1 semprit.
- Efek samping vaksin campak : panas dan kemerahan.
- Anak-anak mungkin panas selama 1 3 hari setelah 1 minggu penyuntikan,
kadang disertai kemerahan seperti penderita campak ringan
4.3 memahami dan menjelaskan klasifikasi imunisasi
Imunisasi Wajib Untuk Bayi :
1. BCG : Bacille Calmette Guerin
Vaksin ini ditemukan pertama kali pada tahun 1921 oleh Albert Calmette
seorang mokrobiologi dan Camille Guerin seorang dokter hewan, yang
keduanya berasal dari Perancis.
Vaksin ini dibuat dari bakteri penyebab tuberkulosis (mycobacterium
bovis) yang sudah dilemahkan.
Manfaat : Perlindungan terhadap Tuberkulosis (TB).
Diberikan pada : Bayi baru lahir < usia 2 bulan
Bila > dari 2 bulan test Mantoux (tuberkulin) lebih dahulu untuk
mengetahui apakah bayi positif atau negatif terinfeksi "Mycobacterium
tuberculosis". Bila negatif, baru boleh diberikan vaksinasi.
Lama perlindungan : Sampai 15 tahun dengan tingkat efektifitas optimal
sebesar 40%.
Tidak perlu diulang karena vaksinnya terbuat dari bakteri hidup yang
dilemahkan, sehingga antibodi yang dihasilkan akan selalu diproduksi
tubuh.
2. Hepatitis B :
Diwajibkan di lebih dari 100 negara, termasuk Indonesia.
Manfaat : Mencegah infeksi virus hepatitis B yang dapat menyebabkan
penyakit sirosis (pengerutan hati) dan akhirnya bisa menjadi kanker hati.
Diberikan pada : Bayi berumur minimal 12 jam, kondisinya stabil, tidak
ada gangguan paru paru dan jantung.
Lama perlindungan : Bila kadarnya sesuai, anak sudah terproteksi.
Tidak perlu diulang, dengan syarat pemberiannya sesuai jadwal yaitu :
umur 0, umur 1 bulan, dan umur 6 bulan.

Intan aprelia prayusmi A - 9

3.

Polio :
Dibuat dari virus polio yang sudah dimatikan. Vaksin ini sudah
dikembangkan dan diberikan secara oral sejak tahun 1962.
Vaksin yang diberikan dengan suntikan dikenal sebagai IPV (Inactivated
Polio Vaccine), sedangkan yang diberikan secara oral disebut OPV (Oral
Polio Vaccine).
Manfaat : Mencegah infeksi virus polio yang dapat menyebabkan
kelumpuhan.
Diberikan pada : Bayi yang baru lahir. Selanjutnya diberikan lagi pada
umur 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, atau umur 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan.
Lama perlindungan : Seumur hidup, asal pemberiannya hingga umur 6
tahun sesuai jadwal.
Pemberian vaksin, diulang setelah umur 18 - 24 bulan (ulangan pertama),
dan 5-6 tahun (ulangan ke-2) saat anak masuk sekolah. Total seluruh
imunisasi polio adalah 6 kali. Vaksinasi perlu diulang pada saat Pekan
Imunisasi Nasional (PIN) yang diselenggarakan oleh Departemen
Kesehatan RI.

4.

DPT :
Terbuat dari komponen bakteri (toksoid) Difteri dan Tetanus yang telah
dimurnikan, serta bakteri Pertusis yang telah dilemahkan.
Manfaat : Mencegah infeksi penyakit difteri, tetanus, dan batuk partusis.
Diberikan pada : Bayi umur 6-8 minggu, dilanjutkan pada umur 3-4 bulan
atau 4-6 bulan.
Boleh diberikan bersamaan dengan vaksinasi BCG, Campak, Polio (OPV
dan IPV), hepatitis B, HiB, dan vaksin "yellow fever".
Lama perlindungan : Seumur hidup, asal pemberian vaksin hingga umur
12 tahun sesuai jadwal.
Diulang pada umur 18 bulan (pertama), dan 1 kali pada usia 5 tahun.
Selanjutnya pada usia 12 tahun diberikan imunisasi TT (Tetanus Toxoid).
5. Campak :
Dibuat dari virus hidup yang dilemahkan.
Di negara - negara yang memiliki angka kejadian dan kematian tinggi,
vaksinasi diberikan mulai umur 9 bulan. Sedangkan di negara-negara
dengan kasus kejadian rendah, vaksinasi campak diberikan dalam bentuk
MMR (Mumps Measles Rubella) yang diberikan pada bayi setelah usia 12
bulan.
Manfaat : Memberikan perlindungan dari infeksi virus Paramyxovirus
penyebab campak atau morbil.
Diberikan pada : Bayi berumur 9 bulan (vaksin campak) atau dalam
bentuk MMR diberikan pada rentang umur 12 - 15 bulan.

Intan aprelia prayusmi A - 9

Lama perlindungan : 5 tahun


Diulang : Setelah anak usia 6 tahun saat masuk sekolah dasar, baik untuk
campak maupun MMR.

Daftar pustaka
http://imamabror.wordpress.com/2010/03/24/struktur-anatomi-dan-fisiologi-sistem-lifatik-dancairan-limfe/
http://id.shvoong.com/lifestyle/family-and-relations/2052196-imunisasi-wajib-untuk-bayi/
kamus saku Dorland
google books anatomi fisiologi tubuh manusia Paul D Anderson
Manuaba, IBG. 1998. Ilmu Kebidanan dan Kandungan. Jakarta: EGC.
Ilmu Kesehatan Anak Jilid I. 1985. Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI.
Rustam, Mochtar. 1998. Sinopsis Obstetri Jilid I. Jakarta: EGC.
Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Acuan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.

Intan aprelia prayusmi A - 9