Anda di halaman 1dari 3

Uji Aktivitas Antikanker Secara Invitro dengan metode BSLT ( Brine Shrimp Letality Test )

Tahapan uji BSLT adalah sebagai berikut (McLaughlin, 1998):


1. Pembuatan medium penetasan
Sebanyak 300 ml medium penetasan disiapkan, kemudian disaring.
2. Penetasan telur
Medium penetasan yang telah disiapkan dimasukkan ke dalam beaker glass. Telur
Artemia salina dimasukkan ke dalam wadah tersebut dan dibiarkan selama 24-48 jam,
disertai aerasi kuat di bawah cahaya lampu sampai telur-telur tersebut menetas. Setelah
menetas, larva A. salina diambil dengan pipet untuk dipindahkan ke dalam vial.
3. Pembuatan variasi konsentrasi
Larutan induk dengan konsentrasi 10.000 g/ml dibuat dengan melarutkan 20 mg sampel
dalam 200 l DMSO untuk membantu proses pelarutan, lalu ditambahkan 1800 l
medium pemeliharaan ke dalamnya. Dari larutan tersebut, dibuat berbagai variasi
konsentrasi lalu ditempatkan ke dalam vial-vial. Pada pengujian tahap 1 variasi
konsentrasi yang digunakan adalah 1000g/ml, 100 g/ml, 10 g/ml dan 1 g/ml,
sedangkan pada pengujian tahap II variasi konsentrasi dipersempit sesuai data yang
diperoleh.
4. Pengujian terhadap larva Artemia salina
Pengujian dilakukan dengan memasukkan 10 ekor larva Artemia salina ke dalam vial
yang telah berisi larutan uji. Efek toksik ditentukan setelah larva Artemia salina terpapar
selama 24 jam dengan larutan uji dengan cara menghitung persentase mortalitasnya.
Pengujian dilakukan secara triplo. DMSO dan medium pemeliharaan tanpa penambahan
bahan uji digunakan sebagai blanko lalu dibuat pengenceran yang sama seperti variasi
konsentrasi bahan uji. Larva dianggap mati jika tidak memperlihatkan gerakan selama
waktu pengamatan dan tidak hidup kembali ketika dipindahkan ke dalam medium
pemeliharaan.
5. Perhitungan nilai LC50
Efek toksik dilihat dari pengamatan dengan menghitung persen mortalitas.
jumlah A.salina yang mati
Mortalitas ( % ) =
100%
jumlah populasi awal
Untuk membuat grafik, sumbu x adalah log konsentrasi dan sumbu y adalah persentase
mortalitas sehingga didapatkan persamaan garis y = ax + b. dari persamaan garis tersebut
dihitung nilai LC50 dengan memasukkan angka 50 sebagai y. nilai x yang diperoleh
menunjukkan LC50 dari bahan uji. LC50 menunjukkan kematian 50% hewan uji pada
konsentrasi tertentu. Jika pada control ada larva yang mati, maka persentase mortalitas
dihitung menggunakan rumus Abbot sebagai berikut:
Mortalitas larva A. salina =

T-K
100%
10

dengan T : Jumlah larva A. salina uji yang mati


K : Jumlah larva A. salina kontrol yang mati
10 : Jumlah larva A. salina uji
Suatu senyawa dikatakan toksik jika nilai LC50 < 100 g/ml

Uji Keamanan
Hewan coba yang digunakan sebanyak 14 ekor mencit galur Swiss, jenis kelamin
jantan dan betina, umur 3 bulan dengan berat rata-rata 25-30 gram. Mencit dikandangkan
menggunakan fasilitas kandang yang memenuhi syarat dengan suhu pemeliharaan 26 1 0C,
dan kelembaban 65 5 %. Mencit sebelum diberi perlakuan diadaptasikan dahulu terhadap
kondisi penelitian selama 1 minggu.
Selanjutnya, membuat rancangan percobaan LD50

berdasarkan metode Weil

(1952). Maksud dari LD50 adalah dalam dosis dimana 50% dari populasi spesies tertentu mati.
Untuk menentukan LD50, terlebih dahulu dilakukan penelitian dengan menggunakan 2 ekor
mencit pada tiap kelompok . Uji ini dimaksudkan untuk mendapatkan dosis antara di mana
kedua mencit tidak mengalami kematian dan dosis yang mengakibatkan kedua mencit
mengalami kematian . Tahapan yang sesungguhnya, mencit dipuasakan makan sebelum
diperlakukan namun tetap diberi minum selama 4 jam sebelum perlakuan dan 2 jam sesudah

perlakuan. Selanjutnya sediaan produk bahan herbal diberikan secara oral dengan
dosis tertentu misalnya 312,5; 625; 1250; 2500; 5000; dan 10000 mg/Kg BB. Untuk contoh
pemberian dosis seperti diatas, hewan uji dibagi ke dalam 7 kelompok perlakuan sebagai
berikut:
1. kelompok A: kontrol, diberi makan dan minum standar;oral;
2. kelompok B sampai dengan G secara berturut-turut diberi dosis : 312,50 mg, 625
mg, 1250 mg, 2500 mg, 5000 mg dan 10000 mg/Kg BB/per oral.
Penentuan LD50 dilakukan dengan melihat data kematian mencit pada setiap
kelompok perlakuan mulai dosis 312,5 10000 mg/Kg BB selama 48 jam. Data kematian
dari setiap kelompok diolah menjadi data kumulatif yang kemudian dijadikan persentase
kematian. Hasil persentase kematian kemudian diolah menurut metode Reed-Muench dengan
interpolasi linier untuk mendapat LD50 dan standar error (SE).
Sedangkan metode penetapan sifat toksik dilakukan setelah perlakuan dengan bahan
uji pada dosis tunggal, jumlah kematian hewan uji yang mati diamati selama 24 jam. Apabila
diperlukan, pengamatan kematian hewan uji dapat diikuti sampai hari ke-15.
Untuk metode penetapan gejala klinis pada umumnya menimbulkan beberapa gejala
klinis, di antaranya peningkatan aktifitas, peningkatan laju bernafas, mencit tampak
meregangkan badan dan beristirahat di sudut kandang. Hal ini disebabkan karena kandungan
bahan kimia dari produk herbalyang memiliki sifat toksik berat. Pada akhirnya mencit mulai
menutup mata dan terlihat tenang, dan akhirnya mengalami kematian setelah periode kritis (3
jam).