Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN
Sejak Tsunami Aceh tahun 2004, sampai sepanjang tahun ini Indonesia seakan sedang
melakukan maraton bencana dari satu pulau ke pulau lain dan dari satu provinsi ke provinsi
lain. Pada awal tahun 2010 setelah letusan Gunung Api Merapi mereda, tanah air Indonesia
kembali diguncang bencana alam besar: gempa bumi di Yogyakarta dan tsunami di kawasan
selatan Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah. Sementara itu, bencana yang berkaitan dengan
fenomena geologi, seperti semburan lumpur panas di Porong, Sidoarjo, belum juga berhenti.
Kemudian pada akhir tahun 2010 merapi kembali menyala yang lebih ganas, diikuti oleh
Tsunami Mentawai dan banjir bandang di beberapa wilayah seperti di Wasior Irian Jaya
(BNPB 2010).
Bencana merupakan kejadian luar biasa yang menyebabkan kerugian besar bagi
manusia dan lingkungan dimana hal itu berada diluar kemampuan manusia untuk dapat
mengendalikannya, disebabkan oleh faktor alam atau manusia atau sekaligus oleh keduanya.
Didalam Penanganan bencana terdapat beberapa aspek yaitu aspek mitigasi bencana
(pencegahan), kegawatdaruratan saat terjadinya bencana, dan aspek rehabilitasi. Penanganan
kegawatdaruratan targetnya adalah penyelamatan sehingga risiko tereliminir. Sedangkan
rehabilitasi merupakan upaya mengembalikan pada kondisi normal kembali. Dampak
bencana yang ditimbulkan dapat berupa kematian masal, terganggunya tatanan sosiologis dan
psikologis masyarakat, pengangguran, kemiskinan, kriminalitas, keterbelakangan, dan
hancurnya lingkungan hidup masyarakat. Begitu besarnya risiko yang ditimbulkan oleh
bencana ini, maka penanganan bencana menjadi sangat penting untuk menjadi perhatian dan
tugas kita bersama.

BAB II
PEMBAHASAN
Bencana (Disaster)
Menurut UU No. 24 tahun 2007, pengertian bencana adalah peristiwa atau rangkaian
peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang
disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga
mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda,
dan dampak psikologis (Toha, 2007). Pengertian bencana menurut International Strategy for
Disaster Reduction (2004) adalah suatu gangguan serius terhadap aktivitas di masyarakat
yang menyebabkan kerugian luas pada kehidupan manusia dari segi materi, ekonomi atau
ling-kungan dan melampaui kemampuan masyarakat yang bersangkutan untuk mengatasi
dengan menggunakan sumber daya mereka sendiri. World Health Organization (WHO),
mendefinisikan bencana adalah Kejadian pada suatu daerah yang mengakibatkan kerusakan
ekologi, kerugian kehidupan manusia serta memburuknya kesehatan dan pelayanan kesehatan
yang ber-makna sehingga memerlukan bantuan luar biasa dari pihak luar[10]. Sedangkan
Hodgetts & Jones (2002) mendefinisikan bencana dengan istilah Major Incident. In health
service terms a major incident can be defined as any incident where the location, number,
severity, or type of live casualties requires extraordinary resources.
Tahapan Bencana
Disaster atau bencana dibagi beberapa tahap yaitu : tahap pra-disaster, tahap serangan
atau saat terjadi bencana (impact), tahap emergency dan tahap rekonstruksi.
a. Tahapan Pra Disaster
Tahap ini dikenal juga sebagai tahap pra bencana, durasi waktunya mulai saat sebelum
terjadi bencana sampai tahap serangan atau impact. Tahap ini dipandang oleh para ahli
sebagai tahap yang sangat strategis karena pada tahap pra bencana ini masyarakat perlu
dilatih tanggap terhadap bencana yang akan dijumpainya kelak. Latihan yang diberikan
kepada petugas dan masyarakat akan sangat berdampak kepada jumlah besarnya korban saat
bencana menyerang (impact), peringatan dini dikenalkan kepada masyarakat pada tahap pra
bencana. Dengan pertimbangan bahwa, yang pertama kali menolong saat terjadi bencana
adalah masyarakat awam atau awam khusus (first responder), maka masyarakat awam khusus
perlu segera dilatih oleh pemerintah kabapaten kota. Latihan yang perlu diberikan kepada
masyarakat awam khusus dapat berupa : Kemampuan minta tolong, kempuan menolong diri

sendiri, menentukan arah evakuasi yang tepat, memberikan pertolongan serta melakukan
transportasi.
Peran tenaga kesehatan dalam fase pra disaster adalah:
1. Tenaga kesehatan mengikuti pelatihan dan pendidikan yang berhubungan dengan
penanggulangan ancaman bencana untuk tiap fasenya.
2. Tenaga kesehatan ikut terlibat dalam berbagai dinas pemerintah, organisasi
lingkungan, palang merah nasional, maupun lembagalembaga kemasyarakatan dalam
memberikan penyuluhan dan simulasi persiapan menghadapi bencana kepada
masyarakat.
3. Tenaga kesehatan terlibat dalam program promosi kesehatan untuk meningkatkan
kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana yang meliputi hal-hal berikut ini:
Usaha pertolongan diri sendiri ketika ada bencana
Pelatihan pertolongan pertama dalam keluarga seperti menolong anggota

keluarga yang lain


Tenaga kesehatan dapat memberikan beberapa alamat dan nomor telepon
darurat seperti dinas kebakaran, rumah sakit dan ambulance

b. Tahapan Bencana (Impact)


Pada tahap serangan atau terjadinya bencana (Impact phase), waktunya bisa terjadi
beberapa detik sampai beberapa minggu atau bahkan bulan. Tahap serangan dimulai saat
bencana menyerang sampai serang berhenti. Waktu serangan yang singkat misalnya: serangan
angin puting beliung, serangan gempa di Jogyakarta atau ledakan bom, waktunya hanya
beberapa detik saja tetapi kerusakannya bisa sangat dahsyat. Waktu serangan yang lama
misalnya : saat serangan tsunami di Aceh terjadi secara periodik dan berulang-ulang,
serangan semburan lumpur lapindo sampai setahun lebih bahkan sampai sekarang belum
berhenti yang mengakibatkan jumlah kerugian yang sangat besar.
Peran tenaga kesehatan pada fase Impact adalah:
1. Bertindak cepat
2. Do not promise, tenaga kesehatan seharusnya tidak menjanjikan apapun secara pasti
dengan maksud memberikan harapan yang besar pada korban selamat
3. Berkonsentrasi penuh terhadap apa yang dilakukan
4. Koordinasi dan menciptakan kepemimpinan untuk setiap kelompok

yang

menanggulangi terjadinya bencana


c. Tahapan Emergency
Tahap emergensi dimulai sejak berakhirnya serangan bencana yang pertama, bila
serangan bencana terjadi secara periodik seperti di Aceh dan semburan lumpur Lapindo

sampai terjadinya rekonstruksi. Tahap emergensi bisa terjadi beberapa minggu sampai
beberapa bulan. Pada tahap emergensi ini, korban memerlukan bantu-an dari tenaga medis
spesialis, tenaga kesehatan gawat darurat, awam khusus yang terampil dan tersertifikasi.
Diperlukan bantuan obat-obatan, balut bidai dan alat evakuasi, alat transportasi yang efisien
dan efektif, alat komunikasi, makanan, pakaian dan lebih khusus pakaian anakanak, pakaian
wanita terutama celana dalam, BH, pembalut wanita yang kadang malah hampir tidak ada.
Diperlukan mini hospital dilapangan, dapur umum dan manajemen perkemahan yang baik
agar kesegaran udara dan sanitasi lingkungan terpelihara dengan baik.
Peran tenaga kesehatan ketika fase emergency adalah :
1. Memfasilitasi jadwal kunjungan konsultasi medis dan cek kesehatan sehari-hari
2. Tetap menyusun rencana prioritas asuhan ketenaga kesehatan harian
3. Merencanakan dan memfasilitasi transfer pasien yang memerlukan penanganan
kesehatan di RS
4. Mengevaluasi kebutuhan kesehatan harian
5. Memeriksa dan mengatur persediaan obat, makanan, makanan khusus bayi, peralatan
kesehatan
6. Membantu penanganan dan penempatan pasien dengan penyakit menular maupun
kondisi kejiwaan labil hingga membahayakan diri dan lingkungannya.
7. Mengidentifikasi reaksi psikologis yang muncul pada korban (ansietas, depresi yang
ditunjukkan dengan seringnya menangis dan mengisolasi diri) maupun reaksi
psikosomatik (hilang nafsu makan, insomnia, fatigue, mual muntah, dan kelemahan
otot)
8. Membantu terapi kejiwaan korban khususnya anak-anak, dapat dilakukan dengan
memodifikasi lingkungan misal dengan terapi bermain.
9. Memfasilitasi konseling dan terapi kejiwaan lainnya oleh para psikolog dan psikiater
10. Konsultasikan bersama supervisi setempat mengenai pemeriksaan kesehatan dan
kebutuhan masyarakat yang tidak mengungsi.

d. Tahap Rekonstruksi
Pada tahap ini mulai dibangun tempat tinggal, sarana umum seperti sekolah, sarana
ibadah, jalan, pasar atau tempat pertemuan warga. Pada tahap rekonstruksi ini yang dibangun
tidak saja kebutuhan fisik tetapi yang lebih utama yang perlu kita bangun kembali adalah
budaya. Kita perlu melakukan rekonstruksi budaya, melakukan re-orientasi nilai-nilai dan
norma-norma hidup yang lebih baik yang lebih beradab. Dengan melakukan rekonstruksi
budaya kepada masyarakat korban bencana, kita berharap kehidupan mereka lebih baik bila
dibanding sebelum terjadi bencana. Situasi ini seharus-nya bisa dijadikan momentum oleh

pemerintah untuk membangun kembali Indonesia yang lebih baik, lebih beradab, lebih
santun, lebih cerdas hidupnya, lebih me-miliki daya saing di dunia internasional. Hal ini yang
nampaknya kita rindukan, karena yang seringkali kita baca dan kita dengar adalah
penyalahgunaan bantuan untuk korban bencana dan saling tunggu antara pemerintah daerah
dengan pemerintah pusat.
Peran tenaga kesehatan pada fase rekonstruksi adalah:
1. tenaga kesehatanan pada pasien post traumatic stress disorder(PTSD)
2. tim kesehatan bersama masyarakat dan profesi lain yang terkait bekerjasama dengan
unsur lintas sector menangani masalah kesehatan masyarakat pasca gawat darurat
serta mempercepat fase pemulihan (Recovery) menuju keadaan sehat dan aman
Manajemen Bencana
Manajemen Bencana adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk mengendalikan
bencana dan keadaan darurat, sekaligus memberikan kerangka kerja untuk menolong
masyarakat dalam keadaan beresiko tinggi agar dapat menghindari ataupun pulih dari
dampak bencana. Skala dan status bencana menurut UU nomor 24 tahun 2007, ditentukan
oleh presiden. Penentuan skala dan status bencana ditentukan berdasarkan kriteria jumlah
korban dan material yang dibawa oleh bencana, infrastruktur yang rusak, luas area yang
terkena, sarana umum yang tidak berfungsi, pengaruh terhadap sosial ekonomi dan
kemampuan sumber daya lokal untuk mengatasinya.
Tujuan dari manajemen bencana:
1. Mengurangi atau menghindari kerugian secara fisik, ekonomi maupun jiwa yang
dialami oleh perorangan, masyarakat negara.
2. Mengurangi penderitaan korban bencana
3. Mempercepat pemulihan
4. Memberikan perlindungan kepada pengungsi atau masyarakat yang kehilangan tempat
ketika kehidupannya terancam.
Didalam siklus manajemen bencana terdapat beberapa tahapan dalam upaya untuk
menangani suatu bencana yaitu:
1. Penanganan Darurat; yaitu upaya untuk menyelamatkan jiwa dan melindungi harta
serta menangani gangguan kerusakan dan dampak lain suatu bencana. Sedangkan
keadaan darurat yaitu kondisi yang diakibatkan oleh kejadian luar biasa yang berada
di luar kemampuan masyarakat untuk menghadapinya dengan sumber daya atau
kapasitas yang ada sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok dan
terjadi penurunan drastis terhadap kualitas hidup, kesehatan atau ancaman secara
langsung terhadap keamanan banyak orang di dalam suatu komunitas atau lokasi.
2. Pemulihan (recovery) adalah suatu proses yang dilalui agar kebutuhan pokok
terpenuhi. Proses recovery terdiri dari:

Rehabilitasi : perbaikan yang dibutuhkan secara langsung yang sifatnya

sementara atau berjangka pendek.


Rekonstruksi : perbaikan yang sifatnya permanen
3. Pencegahan (prevension); upaya untuk menghilangkan atau mengurangi kemungkinan
timbulnya suatu ancaman. Namun perlu disadari bahwa pencegahan tidak bisa 100%
efektif terhadap sebagian besar bencana.
4. Mitigasi (mitigation); yaitu upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak buruk
dari satu ancaman. Misalnya: penataan kembali lahan desa agar terjadinya banjir tidak
menimbulkan kerugian besar.
5. Kesiap-siagaan (preparedness); yaitu persiapan rencana untuk bertindak ketika terjadi
(kemungkinan akan terjadi) bencana. Perencanaan terdiri dari perkiraan terhadap
kebutuhan-kebutuhan dalam keadaan darurat danidentifikasi atas sumber daya yang
ada untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Perencanaan ini dapat mengurangi dampak
buruk dari suatu ancaman.
Manajemen bencana dapat dibagi menjadi beberapa fase:
1. Fase Mitigasi
Mitigasi merupakan kegiatan yang dirancang untuk mengurangi resiko dan
potensi kerusakan akibat keadaan darurat. Analisa demografi populasi rentan dan
kemampuan komunitas harus dianalisa. Mitigasi mencakup pendidikan kepada publik
tindakan untuk menyiapkan bencana pada individu, keluarga, dan komunitas. Dimulai
dengan mengidentifikasi hazard potensial yang mempengaruhi operator organisasi.
Indonesia kini tengah menuju mitigasi/tindakan preventif. Mitigasi yang
dilakukan adalah dengan pembangunan struktural dan non struktural di daerah rentan
gempa dan bencana alam lainnya. Tindakan mitigasi struktural contohnya dengan
pemasangan sistem informasi peringatan dini tsunami, yang bekerja setelah terjadi
gempa. Mitigasi non struktural adalah penataan ulang tata ruang area rentan bencana.
2. Fase kesiapsiagaan dan pencegahan (Prevention phase)
Fase kesiapsiagaan adalah fase dimana dilakukan persiapan yang baik dengan
berbagai tindakan untuk meminamalisir kerugian yang ditimbulkan akibat terjadinya
bencana dan menyusun perencanaan agar dapat melakukan kegiatan pertolongan serta
perawatan yang efektif saat terjadi bencana. Tindakan terhadap bencana menurut PBB
ada

kerangka:

pengkajian

terhadap

kerentanan;

membuat

perencanaan;

pengorganisasian; sistem informasi; pengumpulan sumber daya; sistem alarm;


mekanisme tindakan; pendidikan dan pelatihan penduduk; gladi resik.
Beberapa langkah yang dilakukan oleh Badan Nasional Penanganan Bencana
baik tingkat Nasional dan Daerah telah diusahakan sekeras mungkin. Contohnya

pemetaan daerah rawan bencana gempa, regionalisasi daerah bencana gempa,


penetapan daerah yang menjadi wilayah basis pencapaian lokasi bencana gempa, serta
penetapan daerah lokasi evakuasi saat dilakukan penanganan korban gempa bumi.
3. Fase tindakan (Respon phase)
Fase tindakan merupakan fase dimana dilakukan berbagai aksi darurat yang
nyata untuk menjaga diri sendiri atau harta kekayaan. Tujuan dari fase tindakan
adalah mengontrol dampak negatif dari bencana. Aktivitas yang dilakukan: instruksi
pengungsian; pencarian dan penyelamatan korban; menjamin keamanan dilokasi
bencana; pengkajian terhadap kerugian akibat bencana; pembagian dan penggunaan
alat perlengkapan pada kondisi darurat; pengiriman dan penyerahan barang material;
dan menyediakan tempat pengungsian. Fase tindakan dibagi menjadi fase akut dan
fase sub akut. Fase akut, 48 jam pertama sejak bencana terjadi disebut fase
penyelamatan dan pertolongan medis darurat sedangkan fase sub akut terjadi sejak 23 minggu.
4. Fase pemulihan
Fase pemulihan merupakan fase dimana individu atau masyarakat dengan
kemampuannya sendiri dapat memulihkan fungsinya seperti kondisi sebelumnnya.
Pada fase ini orang-orang mulai melakukan perbaikan darurat tempat tinggal, mulai
sekolah atau bekerja, memulihkan lingkungan tempat tinggalnya. Fase ini merupakan
masa peralihan dari kondisi darurat ke kondisi tenang.
5. Fase Rehabilitasi
Fase Rehabilitasi merupakan fase dimana individu atau masyarakat berusaha
mengembalikan fungsi fungsi-fungsinya seperti sebelum bencana dan merencanakan
rehabilitasi terhadap seluruh komunitas. Keadaannya mengalami perubahan dari
sebelum bencana.
Pelayanan medis bencana berdasarkan siklus bencana
1. Fase Akut pada siklus bencana
Prioritas di lokasi bencana, pertolongan terhadap korban luka dan evakuasi
dari lokasi berbahaya ke tempat yang aman. 3 T (triage, treatment, dan transportation)
penting untuk menyelamatkan korban luka sebanyak mungkin. Pada fase ini juga
dilakukan perawatan terhadap mayat.
2. Fase menengah dan panjang pada siklus bencana
Fase perubahan pada lingkungan tempat tinggal. Pada fase ini harus
memperhatikan segi keamanan, membantu terapi kejiwaan korban bencana,
membantu kegiatan untuk memulihkan kesehatan hidup dan membangun kembali
komunitas sosial.
3. Fase tenang pada siklus bencana

Fase

tidak

terjadi

bencana,

pada

fase

ini

diperlukan

pendidikan

penanggulangan bencana saat bencana terjadi, pelatihan pencegahan bencana pada


komunitas dengan melibatkan penduduk setempat, pengecekan dan pemeliharaan
fasilitas peralatan pencegahan bencana baik di daerah maupun fasilitas medis, serta
membangun sistem jaringan bantuan.
Peran perawat dalam manajemen bencana fase akut
1. Biasanya pertolongan pertama pada korban bencana dilakukan tepat setelah keadaan
stabil.
2. Setelah bencana mulai stabil, masing-masing bidang tim survey mulai melakukan
pengkajian cepat terhadap kerusakan-kerusakan, begitu juga perawat sebagai bagian
dari tim kesehatan.
3. Perawat harus melakukan pengkajian secara cepat untuk memutuskan tindakan
pertolongan pertama.
4. Ada saat dimana seleksi pasien untuk penanganan segera (emergency) akan lebih
efektif. (Triase )
Merah --- paling penting, prioritas utama.
Keadaan yang mengancam kehidupan sebagian besar pasien mengalami
hipoksia, syok, trauma dada, perdarahan internal, trauma kepala dengan

kehilangan kesadaran, luka bakar derajat I-II


Kuning --- penting, prioritas kedua.
Prioritas kedua meliputi injury dengan efek sistemik namun belum jatuh ke
keadaan syok karena dalam keadaan ini sebenarnya pasien masih dapat
bertahan selama 30-60 menit. Injury tersebut antara lain fraktur tulang
multipel, fraktur terbuka, cedera medulla spinalis, laserasi, luka bakar derajat

II
Hijau --- prioritas ketiga
Yang termasuk kategori ini adalah fraktur tertutup, luka bakar minor, minor

laserasi, kontusio, abrasio, dan dislokasi


Hitam --- meninggal
Ini adalah korban bencana yang tidak dapat selamat dari bencana, ditemukan
sudah dalam keadaan meninggal

Analisa Kasus
Seperti kasus pada kota padang, mengalami pergeseran lempeng hindia
australia yang menyebabkan gempa bumi tektonik berkekuatan di atas 7 scala
Riechter. Pergeseran lempeng hindia ini merupakan sebab gempa bumi yang terjadi
karena alam. Oleh karena itu, tindakan penghindaran bencana alam lebih diarahkan
pada menghilangkan, atau mengurangi kondisi yang dapat menimbulkan bencana.

Kondisi dalam menghilangkan, mengurangi kondisi bencana dengan membuat


struktur bangunan yang sesuai untuk kondisi gempa yang dapat bangunan tahan
terhadap goncangan, sehingga dapat menghidari kerugian fisik, ekonomi, dan
lingkungan.
Kasus tersebut berada dalam fase tindakan. Fase tindakan dengan adanya
kerjasama antara pemerintah kota padang bekerjasama dengan masyarakat dan tim
bantuan gempa, menangani korban dan masyarakat. Prioritas pelayanan medis di
lokasi bencana adalah pertolongan terhadap korban luka dan evakuasi dari lokasi
berbahaya ke tempat yang aman. Pelaksanaan 3 T (triage, treatment, dan
transportation) penting untuk menyelamatkan korban luka sebanyak mungkin pada
kota Padang. Pendirian RS lapangan juga merupakan dalam fase tindakan karena
Rumah sakit M Jamil menderita kerusakan akibat gempa, sehingga bangunan rusak,
alat berjatuhan, tidak dapat digunakan.

BAB III
PENUTUP

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bencana dapat mengakibatkan masalah


fisik, psikologis, sosial, spiritual, dan ekonomi. Manajemen bencana perlu dilakukan secara
cepat dalam mengatasi bencana. Manajemen yang dilakukan dapat dilakukan sesuai fase.
Manajemen yang cepat dan tepat dapat meminimalisir masalah dan kerugian yang terjadi
akibat bencana. Peranan pelayanan medis juga penting dalam manajemen bencana. Perawat
memilki peranan dan kontribusi pada setiap fase dalam manajemen bencana. Oleh karena itu,
manajemen bencana merupakan hal penting yang harus dilakukan dalam mengatasi bencana.
Salah satu syarat sukses penanganan emergency bencana adalah kepemimpinan. Ketiadaan
atau kelemahan kepemimpinan adalah kebingungan, kehancuran, kerugian, dan malapetaka.
Kepemimpinan yang dimaksud tentu selayaknya dari unsur pemilik otoritas (pemerintah).
Keberhasilan semua elemen masyarakat dalam kancah bencana sangat tergantung keberadaan
pemimpin. Kepemimpinan dalam penanganan emergency bencana haruslah mampu dengan
cepat, tepat, dan berani mengambil keputusan, bersikap tegas, menjalankan sistem instruksi
bukan diskusi.

DAFTAR PUSTAKA
Clark, M.J. (1999). Nursing in the community: dimension of community health nursing. 3rd
edition. Stamford, Connecticut: Appleton & Lange.
Efendi, F & Makfudli. (2009). Keperawatan kesehatan komunitas: Teori dan praktik dalam
keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Nies, M.A & McEwen, M. (2007). Community/public health nursing: promoting the health of
population. 4th edition. St.Louis, Missouri: Elselvier.
Palang Merah Indonesia. (2009). Keperawatan bencana.

Anneahira.

Korban

gempa

bumi.

http://www.anneahira.com/korban-gempa-bumi.htm

diunduh pada 2 Mei 2011


Science. Manajemen bencana. http://id.shvoong.com/exact-sciences/earth-sciences/1932953manajemen-bencana/ diunduh pada 2 Mei 2011
Jurnal Ilmiah Kesehatan Media Husada volume 01/nomor 01/Agustus 2012

MAKALAH KEPERAWATAN DISASTER


RESPON FASE AKUT BENCANA

d
i
s
u
s
u
n

oleh :

HAYATI FAUZIAH
I31110003

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
2013