Anda di halaman 1dari 64

PEDOMAN

No. 008/BM/2009

Konstruksi dan Bangunan

Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup


Bidang Jalan

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM


DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PRAKATA
Pedoman ini adalah hasil pemutakhiran dari Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan
Hidup Bidang Jalan Nomor: 08/BM/05 yang merupakan bagian dari Pedoman
Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan.
Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan berisi tentang
pemahaman perlunya pengelolaan lingkungan hidup dan penerapannya dalam setiap
kegiatan

pembangunan

jalan

yaitu

perencanaan,

pelaksanaan

konstruksi,

pengoperasian dan pemeliharaan jalan. Untuk itu semua pihak yang terkait dalam
penyelenggaraan jalan (baik pengambil keputusan maupun pelaksana proyek)
disarankan untuk membaca Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang
Jalan ini sehingga pembangunan jalan yang berkelanjutan dan berwawasan
lingkungan hidup bisa tercapai.
Pertimbangan

perlunya

dilakukan

pemutakhiran

terhadap

Pedoman

Umum

Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan tersebut diantaranya karena:


1. Adanya perubahan dan pergantian peraturan perundang-undangan yang terkait
dengan penyelenggaraan jalan.
2. Adanya perubahan dan pergantian pedoman, prosedur dan manual yang terkait
dengan penyelenggaraan jalan.
Kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyusunan Pedoman
Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini disampaikan terima kasih.

Jakarta,

2009

Direktur Jenderal Bina Marga

A. Hermanto Dardak

ii

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PENDAHULUAN
Dalam mengupayakan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan agar dapat
dilaksanakan dengan baik dan memenuhi azas pembangunan yang berkelanjutan dan
berwawasan lingkungan, perlu disusun Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup
Bidang Jalan
Pedoman ini adalah hasil pemutakhiran dari Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan
Hidup Bidang Jalan yang merupakan bagian dari Pedoman Pengelolaan Lingkungan
Hidup Bidang Jalan yang terdiri dari 4 (empat) pedoman yaitu:
1. Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan
2. Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan
3. Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan
4. Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan
Tujuan Penyusunan Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan adalah
untuk memberikan petunjuk bagi pemrakarsa atau penyelenggara jalan dan semua
pihak yang bertanggung jawab atau pihak terkait penyelenggaraan jalan dalam
memenuhi azas pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup.
Pedoman umum pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini adalah sebagai salah
satu acuan dalam memahami latar belakang dan perlunya penerapan pengelolaan
lingkungan hidup bidang jalan. Dalam pedoman ini terdapat pemahaman pengelolaan
lingkungan hidup berdasarkan acuan yang berupa undang-undang, peraturan
pemerintah, keputusan menteri, peraturan menteri dan pedoman serta prosedur yang
terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.
Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan penjelasan
tentang kebijakan nasional tentang lingkungan hidup, kebijakan dalam
penyelenggaraan jalan dan kebijakan sektoral terkait dengan pengelolaan lingkungan
hidup bidang jalan dan petunjuk secara umum tentang perencanaan, pelaksanaan dan
pemantauan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang perlu dilakukan pada
setiap tahapan kegiatan pembangunan jalan berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku
Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan berisi tentang
pemahaman perlunya pengelolaan lingkungan hidup dan penerapannya dalam setiap
kegiatan pembangunan jalan yaitu perencanaan, pelaksanaan konstruksi,
pengoperasian dan pemeliharaan jalan. Untuk itu semua pihak yang terkait dalam
penyelenggaraan jalan (baik pengambil keputusan maupun pelaksana proyek)
disarankan untuk membaca Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang
Jalan ini sehingga pembangunan jalan yang berkelanjutan dan berwawasan
lingkungan hidup bisa tercapai.

ii

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

DAFTAR ISI
Halaman
i
ii
iii
iv
v

Prakata
Pendahuluan
Daftar Isi
Daftar Gambar
Daftar Tabel
1.
2.
3.
4.

Ruang Lingkup
Acuan Normatif
Istilah dan Definisi
Penyelenggaraan Jalan
4.1 Pembangunan Jalan
4.2 Visi dan Misi Direktorat Jenderal Bina Marga

1-53
3-53
4-53
7-53
9-53
11-53

5. Kebijakan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan


5.1 Kebijakan Pengelolaan Lingkungan Hidup
5.2 Kebijakan Sektoral yang terkait dengan Pengelolaan
Lingkungan Hidup Bidang Jalan
5.2.1 Penataan Ruang
5.2.2 Pertanahan
5.2.3 Kehutanan
5.2.4 Pertanian
5.2.5 Energi dan Sumber Daya Mineral
5.2.6 Perhubungan
5.2.7 Sosial
5.2.8 Budaya
5.2.9 Kebijakan Pemerintah Daerah
5.3 Pembangunan Jalan yang berkelanjutan dan berwawasan
Lingkungan hidup

11-53
11-53
14-53

6. Aspek Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jala

28-53

7. Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan


7.1 Perencanaan Umum
7.2 Pra Studi Kelayakan
7.3 Studi Kelayakan
7.3.1 Studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
[AMDAL]
7.3.2 Upaya Pengelolaan Lingkungan [UKL] dan Upaya
Pemantauan Lingkungan [UPL]
7.3.3 Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan
Pemantauan Lingkingan Hidup
7.3.4 Audit Lingkungan dan Dokumen Pengelolaan Lingkungan
Hidup

32-53
32-53
35-53
35-53
36-53

iii

17-53
17-53
19-53
20-53
20-53
21-53
23-53
24-53
25-53
25-53

39-53
39-53
40-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

7.4
7.5

7.6

Perencanaan Teknik
Penyiapan Dokumen Lelang dan Dokumen Kontrak yang
Mencantumkan Persyaratan Pengelolaan dan Pemantauan
Lingkungan Hidup
Perencanaan Pengadaan Tanah

40-53
40-53

41-53

8. Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup


8.1 Kegiatan Pengadaan Tanah
8.2 Pekerjaan Konstruksi Jalan
8.3 Pengoperasian dan Pemeliharaan Jalan

42-53
42-53
42-53
43-53

9. Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan


9.1 Pemantauan pada Tahap Perencanaan
9.2 Pemantauan pada Tahap Pengadaan Tanah
9.3 Pemantauan pada Tahap Konstruksi
9.4 Pemantauan pada Tahap Pengoperasian dab Pemeliharaan
Jalan
9.5 Evaluasi Kualitas Lingkungan pada Pasca Pembangunan Jalan
9.6 Pelaporan Hasil Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup
dan Pemantauan Lingkungan

43-53
44-53
44-53
44-53
45-53

10. Institusi Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan


10.1 Pemrakarsa Kegiatan Pembangunan Bidang Jalan
10.2 Institusi Terkait

46-53
46-53
47-53

11. Pembiayaan
11.1 Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup
11.2 Biaya Pemantauan Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup

49-53
49-53
50-53

12. Penutup

51-53

iv

45-53
46-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.1
Gambar 4.1
Gambar 5.1

Gambar 5.2
Gambar 12.1

Konsepsi Penyusunan Pedoman Pengelolaan


Lingkungan Hidup Bidang Jalan
Bagian-Bagian Jalan
Peraturan Perundang-undangan Berdasarkan Sektor
yang Terkait dengan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Bidang Jalan
Pembangunan jalan yang berkelanjutan dan
berwawasan lingkungan hidup dalam siklus proyek
Bagan Peran Unit/Penanggung Jawab/Pimpinan Proyek
dalm Pengelolaan Lingkungan Proyek Jalan yang
berkelanjutan

1-53
9-53
16-53

27-53
53-53

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 6.1
Tabel 6.2
Tabel 6.3
Tabel 7.1

Lingkup Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup


Bidang Jalan
Lingkup Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Bidang Jalan
Lingkup Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Bidang Jalan
Pengelompokan Daerah Sensitif

29-53
30-53
31-53
34-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN
1. RUANG LINGKUP
Jalan adalah prasarana transportasi darat yang mempunyai peran penting dalam
bidang ekonomi, sosial budaya, lingkungan hidup, politik, pertahanan dan keamanan.
Di samping itu, jalan merupakan prasarana distribusi barang dan jasa sehingga
menjadi urat nadi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara. Jalan yang mempunyai
peran positif penting tersebut, dalam proses pembangunannya juga dapat
mengakibatkan dampak negatif terhadap lingkungan dan sosial.
Salah satu tuntutan dalam pembangunan jalan yaitu azas pembangunan berkelanjutan
dan berwawasan lingkungan hidup. Untuk memenuhi tuntutan tersebut antara lain
melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup.
Dalam mengupayakan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan agar dapat
dilaksanakan dengan baik dan memenuhi azas pembangunan yang berkelanjutan dan
berwawasan lingkungan, perlu disusun Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup
Bidang Jalan.
Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan terdiri dari 4 (empat) buku
yaitu:
-

Pedoman
Pedoman
Pedoman
Pedoman

Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan


Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan
Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan
Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan

Konsepsi dari penyusunan pedoman tersebut adalah pemahaman perlunya


pengelolaan lingkungan hidup dan penerapannya pada setiap tahapan pembangunan
jalan sejak tahap perencanaan, pengadaan tanah, pelaksanaan konstruksi,
pengoperasian dan pemeliharaan jalan serta evaluasi pasca pembangunan jalan.
Gambar 1.1. Konsepsi Penyusunan Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang
Jalan
Pemahaman perlunya
Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Bidang Jalan

Pedoman Umum
Pengelolaan Lingkungan
Hidup Bidang Jalan (Buku 1)

Pedoman Perencanaan
Pengelolaan Lingkungan
Hidup Bidang Jalan (Buku 2)
Penerapan
Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Bidang Jalan

Pedoman Pelaksanaan
Pengelolaan Lingkungan
Hidup Bidang Jalan (Buku 3)
Pedoman Pemantauan
Pengelolaan Lingkungan
Hidup Bidang Jalan (Buku 4)

1-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan


penjelasan tentang kebijakan nasional tentang lingkungan hidup, kebijakan dalam
penyelenggaraan jalan dan kebijakan sektoral terkait dengan pengelolaan
lingkungan hidup bidang jalan dan petunjuk secara umum tentang perencanaan,
pelaksanaan dan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang
perlu dilakukan pada setiap tahapan kegiatan pembangunan jalan berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pedoman Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan
petunjuk tentang penyusunan rencana pengelolaan lingkungan hidup yang
diperlukan pada kegiatan perencanaan jalan.
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan
petunjuk tentang pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada kegiatan
pengadaan tanah, pelaksanaan konstruksi jalan, pengoperasian dan pemeliharaan
jalan.
Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan memberikan
petunjuk tentang pemantauan pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang
jalan yang telah dilakukan pada kegiatan perencanaan, pengadaan tanah,
pelaksanaan konstruksi, pengoperasian dan pemeliharaan jalan serta evaluasi
pasca pembangunan jalan.

Tujuan
Tujuan Penyusunan Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan adalah
untuk memberikan petunjuk bagi pemrakarsa atau penyelenggara jalan dan semua
pihak yang bertanggung jawab atau pihak terkait penyelenggaraan jalan dalam
memenuhi azas pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup.
Cara Penggunaan Pedoman Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan.
Bagi yang ingin mengetahui dan memahami ketentuan umum tentang pengelolaan
lingkungan hidup bidang jalan dapat membaca Pedoman Umum Pengelolaan
Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Sedangkan bagi yang ingin mengetahui dan
memahami penerapan dan pelaksanaan (implementasi) kegiatan pengelolaan
lingkungan hidup bidang jalan, maka perlu membaca Pedoman Perencanaan
Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan dan Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan
Lingkungan Hidup Bidang Jalan. Sedangkan bagi yang ingin mengetahui tata cara
pemantauan pengelolaan lingkungan pada tahap perencanaan, pengadaan tanah,
pelaksanaan konstruksi jalan, pengoperasian dan pemeliharaan serta evaluasi pasca
pembangunan jalan perlu membaca Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan
Hidup Bidang Jalan.
Pedoman umum pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini adalah sebagai salah
satu acuan dalam memahami latar belakang dan perlunya penerapan pengelolaan
lingkungan hidup bidang jalan. Isi dari pedoman ini adalah pemahaman pengelolaan
lingkungan hidup berdasarkan acuan yang berupa undang-undang, peraturan
pemerintah, keputusan menteri, peraturan menteri dan pedoman serta prosedur yang
terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.
Pedoman ini mencakup:
1.
2.

Latar belakang perlunya pengelolaan lingkungan hidup pada pembangunan jalan.


Kebijakan pengelolaan lingkungan hidup bidang Jalan yang berisi peraturan
perundang-undangan mengenai pengelolaan lingkungan hidup, kebijakan sektor
terkait pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan dan kebijakan Pemerintah
Daerah.
2-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

3.

Gambaran umum perencanaan, pelaksanaan dan pemantauan pengelolaan


lingkungan hidup bidang jalan.
Institusi dalam pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.
Pembiayaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.

4.
5.

2. ACUAN NORMATIF
Acuan dalam penyusunan pedoman pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan antara
lain adalah:

Undang-Undang
-

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan


Dasar Pokok-Pokok Agraria
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 1961 tentang Pencabutan
Hak-Hak atas Tanah dan Benda-Benda yang ada Di atasnya
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 tahun 2004 tentang Jalan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan
Ruang
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2007 tentang Perkereta
Apian
Undang-Undang Republik Indonesia No 22 tahun 2009 tentang Lalulintas dan
Angkutan Jalan

Peraturan Pemerintah
-

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 tahun 1999 tentang


Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 15 tahun 2005 tentang Jalan
Tol
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 tahun 2006 tentang Jalan

Peraturan Presiden
-

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2005 tentang


Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 65 tahun 2006 tentang
Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 36 tahun 2005 tentang Pengadaan
Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 tahun 2008 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional

Keputusan Menteri dan Peraturan Menteri


-

Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 86 tahun 2003 tentang


Pedoman Penyusunan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya
Pemantauan Lingkungan Hidup
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 45 tahun 2005 tentang Pedoman
Penyusunan Laporan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup
(RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL)
3-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 tahun 2006 tentang


Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 08 tahun 2006 tentang
Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.14/Menhut-II/2006 tentang Pinjam Pakai
Kawasan Hutan
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.64/Menhut-II/2006 tentang Perubahan
Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.14/Menhut-II/2006 tentang Pedoman
Pinjam Pakai Kawasan Hutan
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 12 tahun 2007 tentang
Dokumen Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup Bagi Usaha dan/atau
Kegiatan yang Tidak Memiliki Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 tahun 2008 tentang
Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 10/PRT/M/2008 tentang Penetapan
Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Bidang Pekerjaan Umum yang Wajib Dilengkapi
dengan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan
Lingkungan Hidup.

Pedoman
-

3.

Pedoman Umum Pengelolaan Lingkungan


Pedoman Perencanaan Pengelolaan
(011/PW/04)
Pedoman Pelaksanaan Pengelolaan
(012/PW/04)
Pedoman Pemantauan Pengelolaan
(013/PW/04)

Hidup Bidang Jalan (08/BM/05)


Lingkungan Hidup Bidang Jalan
Lingkungan

Hidup

Bidang

Jalan

Lingkungan

Hidup

Bidang

Jalan

ISTILAH DAN DEFINISI

3.1 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL)


Kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan
pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang
penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
3.2 Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL)
Telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu
usaha dan/atau kegiatan.
3.3 Dampak Lingkungan Hidup
Pengaruh perubahan pada lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha
dan/atau kegiatan.
3.4 Daya Dukung Lingkungan Hidup
Kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia, makhluk
hidup lain dan keseimbangan antara keduanya.
4-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

3.5 Ekosistem
Tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan
saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas dan produktivitas
lingkungan hidup.
3.6 Habitat
Lingkungan tempat tumbuhan atau satwa dapat hidup dan berkembang secara alami.
3.7 Konservasi Sumber Daya Alam Hayati
Pengelolaan sumber daya alam hayati untuk menjamin pemanfaatannya secara
bijaksana serta kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan
meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragaman hayati.
3.8 Kawasan
Wilayah dengan fungsi utama lindung atau budidaya.
3.9 Kawasan Lindung
Kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan
hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan.
3.10 Kawasan Budidaya
Kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar
kondisi dan potensi sumber-sumber daya manusia dan sumber daya buatan.
3.11 Kawasan Hutan
Wilayah tertentu yang ditunjuk dan/atau ditetapkan oleh Pemerintah untuk
dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap.
3.12 Kehutanan
Sistem penyusunan yang bersangkut paut dengan hutan, kawasan hutan, dan hasil
hutan yang diselenggarakan secara terpadu.
3.13 Lingkungan Hidup
Kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk
manusia dan perilakunya yang mempengaruhi alam itu sendiri,kelangsungan
perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
3.14 Pelindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan
hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup
yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan
dan penegakan hukum.
3.15. Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) adalah
perencanaan tertulis yang memuat potensi, masalah lingkungan hidup,serta upaya
perlindungan dan pengelolaannya dalam kurun waktu tertentu
3.16 Pelestarian Fungsi Lingkungan Hidup
Rangkaian upaya untuk memelihara kelangsungan daya dukung dan daya tampung
lingkungan hidup.

5-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

3.17 Pembangunan Berkelanjutan dan Berwawasan Lingkungan Hidup


Upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi
ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta
keselamatan, kemampuan, kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan
generasi masa depan.
3.18 Baku Mutu Lingkungan Hidup
Ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat,energi atau komponen yang ada atau
harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaaanya dalam suatu
sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup.
3.19 Pencemaran Lingkungan Hidup
Masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke
dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui baku mutu
lingkungan hidup yang telah ditetapkan.
3.20 Penataan Ruang
Proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan
ruang.
3.21 Ruang
Wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan dan ruang udara sebagai satu
kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan
serta memelihara kelangsungan hidupnya.
3.22 Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL)
Upaya penanganan dampak penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan
akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan.
3.23 Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL)
Upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak penting akibat
dari rencana usaha dan/atau kegiatan.
3.24 Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan
Lingkungan Hidup (UPL)
Pengelolaan dan pemantauan terhadap usaha dan/atau kegiatan yang tidak
berdampak penting terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses
pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.
3.25. Ekoregion
Ekoregion adalah wilayah geografis yang memiliki kesamaan ciri iklim, tanah, air,flora
dan fauna asli serta pola interaksi manusia dengan alam yang menggambarkan
integritas sistem alam dan lingkungan hidup
3.26. Kajian Lingkungan Hidup Strategis
Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) adalah rangkaian analisis yang
sistematis,menyeluruh dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan
yang berkelanjutan telah menjad dasar dan terintegrasi dalam perencanaan/program
dan pelaksanaan pembangunan suatu wilayah
6-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

4. PENYELENGGARAAN JALAN
Jalan sebagai bagian sistem transportasi nasional mempunyai peran penting terutama
dalam mendukung bidang ekonomi, sosial dan budaya serta lingkungan hidup dan
dikembangkan melalui pendekatan pengembangan wilayah agar tercapai
keseimbangan dan pemerataan pembangunan antar daerah, membentuk dan
memperkukuh kesatuan nasional untuk memantapkan pertahanan dan keamanan
nasional serta membentuk struktur ruang dalam rangka mewujudkan sasaran
pembangunan nasional.
Penyelenggaraan jalan yang meliputi pengaturan, pembinaan, pembangunan dan
pengawasan jalan diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 38 tahun
2004 tentang Jalan. Penyelenggaraan jalan berdasarkan azas kemanfaatan, keamanan
dan keselamatan, keserasian, keselarasan dan keseimbangan, keadilan, transparansi
dan akuntabilitas, keberdayagunaan dan keberhasilgunaan, serta kebersamaan dan
kemitraan.
Secara umum penyelenggaraan jalan meliputi:
a. Pengaturan jalan meliputi:
-

Pembentukan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya;


Perumusan kebijakan perencanaan;
Penyusunan perencanaan umum;
Pengendalian penyelenggaraan jalan.

b. Pembinaan jalan meliputi:


-

Penyusunan dan penetapan norma, standar, kriteria dan pedoman pembinaan


jalan;
Pelayanan dan pemberdayaan sumber daya manusia;
Penelitian dan pengembangan jalan;

c. Pembangunan jalan meliputi:


-

Pemrograman dan penganggaran;


Perencanaan teknis;
Pengadaan tanah;
Pelaksanaan konstruksi;
Pengoperasian dan pemeliharaan jalan.

d. Pengawasan jalan meliputi:


-

Kegiatan evaluasi dan pengkajian pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan


jalan;
Pengendalian fungsi dan manfaat hasil pembangunan jalan;
Pemenuhan standar pelayanan minimal yang ditetapkan.

Petunjuk pelaksanaan mengenai Undang-Undang Nomor 38 tahun 2004 tentang Jalan


diuraikan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 tahun 2006
tentang Jalan.
Dalam kaitan penyelenggaraan jalan dengan pengelolaan lingkungan hidup, maka
pengaturan (khususnya perumusan kebijakan perencanaan dan penyusunan
perencanaan umum) serta pembangunan jalan merupakan kegiatan yang menjadi
lingkup kajian pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.
Dalam memahami penyelenggaraan jalan perlu mengetahui bagian-bagian jalan,
seperti berikut ini:
7-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

1) Ruang manfaat jalan (RUMAJA) merupakan ruang sepanjang jalan yang dibatasi
oleh lebar, tinggi dan kedalaman tertentu yang ditetapkan oleh penyelenggara
jalan. RUMAJA meliputi badan jalan, saluran tepi jalan dan ambang pengamanan
jalan.
- Badan jalan untuk pelayanan lalu lintas dan angkutan jalan;
- Saluran tepi jalan untuk menampung dan menyalurkan air agar badan jalan
terbebas dari pengaruh air;
- Ambang pengamanan jalan adalah bidang tanah atau bangunan pengaman jalan
antara tepi badan jalan dan batas ruang manfaat jalan.
2) Ruang milik jalan (RUMIJA) merupakan ruang sepanjang jalan yang dibatasi oleh
lebar, kedalaman dan tinggi tertentu. RUMIJA terdiri dari ruang manfaat jalan dan
sejalur tanah di luar ruang manfaat jalan. Sejalur tanah tersebut diperuntukkan
bagi pelebaran jalan dan penambahan jalur lalu lintas serta kebutuhan ruang untuk
pengamanan jalan.
Ruang milik jalan paling sedikit memiliki lebar sebagai berikut:
- Jalan bebas hambatan 30 (tiga puluh) meter;
- Jalan raya 25 (dua puluh lima) meter;
- Jalan sedang 15 (lima belas) meter;
- Jalan kecil 11 (sebelas) meter.
3) Ruang pengawasan jalan (RUWASJA) merupakan ruang di luar RUMIJA yang
penggunaannya di bawah pengawasan penyelenggara jalan. RUWASJA
diperuntukkan bagi pemandangan bebas pengemudi dan pengamanan konstruksi
jalan dan pengamanan fungsi jalan.
Lebar ruang pengawasan jalan ditentukan dari tepi badan jalan paling sedikit
ukurannya sebagai berikut:
- Jalan arteri primer 15 (lima belas) meter;
- Jalan kolektor primer 10 (sepuluh) meter;
- Jalan lokal primer 7 (tujuh) meter;
- Jalan lingkungan primer 5 (lima) meter;
- Jalan arteri sekunder 15 (lima belas) meter;
- Jalan kolektor sekunder 5 (lima) meter;
- Jalan lokal sekunder 3 (tiga) meter;
- Jalan lingkungan sekunder 2 (dua) meter;
- Jembatan 100 (seratus) meter.

8-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Bagian-bagian jalan digambarkan pada gambar 4.1.


Gambar 4.1 Bagian-Bagian Jalan

5m
x
d

b
c

a
1.5 m

= Ruang Manfaat Jalan (Rumaja)

= Ruang Pengawasan Jalan (Ruwasja)


= Bangunan

= Ruang Milik Jalan (Rumija)


a = Jalur Lalu Lintas
b = Bahu Jalan
c = Saluran Tepi

4.1

d = Ambang Pengaman
x = b-a-b Badan Jalan

Pembangunan Jalan

Pembangunan jalan merupakan bagian dari penyelenggaraan jalan yang meliputi


kegiatan pemrograman dan penganggaran, perencanaan teknis, pengadaan tanah,
pelaksanaan konstruksi, pengoperasian dan pemeliharaan jalan.
a. Pemrograman dan Penganggaran
1) Pemrograman penanganan jaringan jalan merupakan penyusunan rencana
kegiatan penanganan ruas jalan yang menjadi tanggung jawab penyelenggara
jalan sesuai kewenangannya. Kegiatannya mencakup:
Penetapan rencana kinerja yang akan dicapai serta biaya yang diperlukan
Program pemeliharaan jalan, program peningkatan jalan dan program
pembangunan jalan baru
2) Penganggaran dalam rangka pelaksanaan program penanganan jaringan jalan
mencakup kegiatan pengalokasian dana yang diperlukan untuk mewujudkan
sasaran program.
b. Perencanaan Teknis
Perencanaan teknis merupakan kegiatan penyusunan dokumen rencana teknis yang
berisi gambaran pembangunan jalan yang ingin diwujudkan. Perencanaan teknis
dilakukan secara optimal dengan memperhatikan aspek lingkungan hidup. Kegiatan
perencanaan teknis mencakup perencanaan teknis jalan, jembatan dan
terowongan.
1) Perencanaan Teknis Jalan
Perencanaan teknis jalan sekurang-kurangnya memenuhi ketentuan teknis:
- Ruang manfaat jalan (RUMAJA), ruang milik jalan (RUMIJA) dan ruang
pengawasan jalan (RUWASJA)
- Dimensi jalan
- Muatan sumbu terberat, volume lalu lintas dan kapasitas
- Persyaratan geometrik jalan
9-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Konstruksi jalan
Konstruksi bangunan pelengkap
Perlengkapan jalan
Ruang bebas
Kelestarian lingkungan hidup, serta
Wajib memperhitungkan kebutuhan fasilitas pejalan kaki dan panyandang
cacat.
2) Perencanaan Teknis Jembatan
Perencanaan teknis jembatan harus memenuhi ketentuan teknis beban rencana
dan ruang bebas bawah jembatan (ketentuan ruang bebas untuk lalu lintas dan
angkutan yang melewatinya).
3) Dokumen Rencana Teknis
Penyusunan dokumen rencana teknis dibuat sesuai dengan Keputusan Menteri.
c. Pengadaan Tanah
Pengadaan tanah diperlukan untuk konstruksi jalan baru, pelebaran jalan atau
perbaikan alinyemen. Apabila konstruksi jalan umum berada di atas hak atas tanah
orang maka perlu dilakukan pembebasan dengan cara pengadaan tanah sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.
d. Pelaksanaan Konstruksi Jalan
Pelaksanaan pekerjaan konstruksi jalan didasarkan atas rencana teknis jalan dan
dilakukan setelah pengadaan tanah selesai dilaksanakan. Selama pelaksanaan
konstruksi jalan maka penyelenggara jalan wajib menjaga kelancaran dan
keselamatan lalu lintas, serta fungsi bangunan utilitas.
e. Pengoperasian dan Pemeliharaan
1) Pengoperasian Jalan
Pengoperasian jalan adalah kegiatan penggunaan jalan untuk melayani lalu
lintas jalan. Untuk menjamin keselamatan pengguna jalan maka perlu
dilengkapi dengan perlengkapan jalan.
Jalan umum dioperasikan setelah ditetapkan memenuhi persyaratan laik fungsi
jalan umum secara teknis dan administratif.
Kelaikan fungsi jalan umum secara teknis bila memenuhi persyaratan:
Teknis struktur perkerasan jalan
Teknis struktur bangunan pelengkap jalan
Teknis geometri jalan
Teknis pemanfaatan bagian-bagian jalan
Teknis penyelenggaraan manajemen dan rekayasa lalu lintas
Teknis perlengkapan jalan
Kelaikan fungsi jalan umum secara administratif apabila memenuhi persyaratan:

Administrasi perlengkapan jalan, status jalan, kelas jalan, kepemilikan tanah


ruang milik jalan, leger jalan dan dokumen analisis mengenai dampak
lingkungan hidup (AMDAL)

2) Pemeliharaan Jalan
Pemeliharaan jalan meliputi pemeliharaan rutin, pemeliharaan berkala dan
rehabilitasi yang dilaksanakan berdasarkan rencana pemeliharaan jalan.
Pelaksanaan pemeliharaan jalan harus memperhatikan keselamatan pengguna
jalan.
10-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

4.2

Visi dan Misi Direktorat Jenderal Bina Marga

Direktorat Jenderal Bina Marga sebagai penyelenggara jalan mempunyai tugas


melaksanakan sebagian tugas pokok Departemen Pekerjaan Umum dalam perumusan
dan pelaksanaan kebijakan dan standarisasi teknis bidang jalan.
Dalam rencana strategik Direktorat Jenderal Bina Marga telah disusun visi dan misi
dalam mewujudkan penyelenggaraan sistem jaringan jalan.
a. Visi
Visi Direktorat Jenderal Bina Marga sebagai penyelenggara jalan adalah:
Terwujudnya sistem penyelenggaraan jaringan jalan yang handal, bermanfaat dan
berkelanjutan untuk mendukung tercapainya Indonesia yang aman dan damai, adil
dan demokrasi serta lebih sejahtera.
b. Misi
1) Memenuhi kebutuhan infrastruktur jalan untuk mendukung pengembangan
wilayah dan kelancaran distribusi barang dan jasa;
2) Mendorong berkembangnya industri konstruksi yang kompetitif;
3) Meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dan masyarakat dalam
pembangunan infrastruktur jalan;
4) Mengembangkan teknologi yang tepat guna dan kompetitif serta meningkatkan
keandalan mutu infrastruktur jalan;
5) Menerapkan organisasi yang efisien, tata laksana yang efektif dan terpadu
dengan prinsip good governance serta mengembangkan sumber daya
manusia (SDM) yang profesional.
c. Tujuan
1) Terselenggaranya jaringan jalan nasional yang handal dan terhubung secara
sinergis mendukung tercapainya Indonesia yang aman dan damai;
2) Membuka peluang keterlibatan pemangku kepentingan (stakeholders) termasuk
pemerintah daerah, mitra kerja dan masyarakat dalam penyelenggaraan jalan
mendukung tercapainya Indonesia yang adil dan demokratis;
3) Meningkatkan aksesibilitas dan mobilitas barang dan jasa dari pusat-pusat
produksi ke daerah pemasaran mendukung tercapainya Indonesia yang lebih
sejahtera.
Dalam mewujudkan visi, misi dan tujuan tersebut diperlukan peran masyarakat. Peran
masyarakat dalam penyelenggaraan jalan termuat dalam ketentuan-ketentuan
penyelenggaraan jalan yaitu dalam penyusunan program, penganggaran, perencanaan
teknis, pelaksanaan konstruksi serta pengoperasian dan pemeliharaan jalan. Peran
masyarakat dapat berupa pemberian usulan, saran, informasi atau melakukan
langsung.

5.

KEBIJAKAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

5.1 Kebijakan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup


Pelindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah upaya sistematis dan terpadu
yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya
pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan,
pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan dan penegakan hukum.
11-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Kebijakan mengenai perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup telah diatur


dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Ruang lingkup perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup meliputi perencanaan,
pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan dan penegakan hukum.
Perlindungan dan pengelolaan lingkungan bertujuan :
a. Melindungi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dari pencemaran dan/atau
kerusakan lingkungan hidup
b. Menjamin keselamatan,kesehatan, dan kehidupan manusia
c. Menjamin kelangsungan kehidupan makhluk hidup dan kelestarian ekosistem
d. Menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup
e. Mencapai keserasian,keselarasan dan keseimbangan lingkungan hidup.
f. Menjamin terpenuhinya keadilan generasi masa kini dan masa depan
g. Menjamin pemenuhan dan perlindungan hak atas lingkungan hidup sebagai bagian
dari hak asasi manusia
h. Mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana
i. Mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan
j. Mengantisipasi isu lingkungan global
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, maka perlindungan dan pengelolaan lingkungan
hidup harus dilaksanakan secara terpadu oleh instansi pemerintah sesuai dengan
bidang tugas dan tanggung jawab masing-masing, masyarakat dan pelaku
pembangunan lain dengan memperhatikan keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan
kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup.
Untuk itu berdasarkan UU No 32 tahun 2009, dalam perencanaan pembangunan harus
disiapkan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH).
Perencanaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan melalui
tahapan:

Inventarisasi lingkungan hidup, dilaksanakan untuk memperoleh data dan


informasi mengenai sumber daya alam yang meliputi potensi dan
ketersediaan,jenis yang dimanfaatkan, bentuk penguasaan, pengetahuan
pengelolaan,bentuk kerusakan dan konflik serta penyebab konflik yang timbul
akibat pengelolaan.

Penetapan wilayah ekoregion berdasarkan inventarisasi seperti tersebut diatas, dan


ditetapkan oleh Menteri setelah berkoordinasi dengan instansi terkait.

Penyusunan Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH)


oleh Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota. RPPLH memuat rencana tentang
pemanfaatan dan/atau pencadangan sumber daya alam; pemeliharaan dan
perlindungan
kualitas
dan/atau
fungsi
lingkungan
hidup;
pengendalian,pemantauan, serta pendayagunaan dan pelestarian sumber daya
alam; dan adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim.
RPPLH terdiri atas RRPLH Nasional, RPPLH Propinsi dan RPPLH Kabupaten/Kota.
RPPLH Nasional disusun berdasarkan inventarisasi nasional.RPPLH Propinsi disusun
berdasarkan RPPLH nasional, inventarisasi tingkat pulau/kepulauan dan
inventarisasi tingkat ekoregion. RPPLH Kabupaten/Kota disusun berdasarkan
RPPLH Propinsi, inventarisasi tingkat pulau/kepulauan dan inventarisasi tingkat
ekoregion.

12-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

RPPLH menjadi dasar penyusunan dan dimuat dalam rencana pembangunan


jangka panjang dan rencana pembangunan jangka menengah. Pemanfaatan
sumber daya alam dilakukan berdasarkan RPPLH. Dalam hal RPPLH belum
tersusun, pemanfaatan sumber daya alam didasarkan pada daya dukung dan daya
tampung lingkungan hidup yang ditetapkan oleh Menteri, Gubernur,
Bupati/Walikota.
Pembangunan sebagai upaya sadar dalam mengolah dan memanfaatkan sumber daya
alam untuk meningkatkan kemakmuran rakyat, mengandung resiko pencemaran dan
perusakan lingkungan hidup. Kerusakan atau kepunahan salah satu sumber daya alam
akan mengakibatkan kerugian besar bagi masyarakat yang tidak dapat dinilai dengan
materi. Sedangkan pemulihan kembali ke keadaan semula tidak mungkin lagi. Oleh
karena itu pengelolaan lingkungan hidup wajib dilakukan secara terpadu dengan
penataan ruang, perlindungan sumber daya alam non hayati, perlindungan sumber
daya buatan, konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, cagar budaya,
keanekaragaman hayati dan perubahan iklim.
Salah satu instrumen untuk pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan
adalah Kajian Lingkungan Hidup Srategis (KLHS). Pemerintah dan pemerintah daerah
wajib membuat KLHS untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan
telah menjadi dasar dan terintegrasi dalam rencana dan/atau program pembangunan
suatu wilayah. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib melaksanakan KLHS kedalam
penyusunan atau evaluasi : Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), Rencana
Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah
(RPJM) nasional,provinsi dan kabupaten/kota (UU No 32 tahun 2009)
Tindakan yang tidak bertanggung jawab yang dapat menimbulkan kerugian pada
orang lain, kerusakan pada sumber daya alam dan lingkungan hidup diwajibkan
membayar ganti rugi atau ancaman dengan tindakan pidana, dimana ketentuannya
diatur dalam Bab XV Ketentuan Pidana, Undang-Undang No 32 tahun 2009.
Beberapa peraturan yang menjelaskan tentang tanggung jawab dalam pengelolaan
lingkungan hidup antara lain:
-

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 tahun 1999


tentang Pengendalian Pencemaran Udara antara lain menjelaskan bahwa: setiap
orang atau penanggung jawab kegiatan yang mengakibatkan terjadinya
pencemaran udara wajib menanggung biaya penanggulangan pencemaran udara
dan biaya pemulihannya atau diancam pidana.
Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep
48/MENLH/XI/ 1996 tentang Baku Tingkat Kebisingan antara lain menjelaskan
bahwa setiap penanggung jawab kegiatan wajib mentaati baku tingkat kebisingan,
memasang alat pencegah kebisingan dan melaporkan hasil pemantauan tingkat
kebisingan.
Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep
49/MENLH/XI/ 1996 tentang Baku Tingkat Getaran antara lain menjelaskan bahwa
setiap penanggung jawab kegiatan wajib mentaati baku tingkat getaran,
memasang alat pencegah getaran dan melaporkan hasil pemantauan tingkat
getaran.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan
Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air antara lain menjelaskan setiap orang
yang melakukan kegiatan berkewajiban memberikan informasi yang benar dan
akurat mengenai pelaksanaan kewajiban pengelolaan kualitas air dan pengendalian
pencemaran air.
13-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Kegiatan pembangunan di berbagai sektor yang semakin meningkat mengandung


resiko pencemaran dan perusakan struktur dan fungsi pelestarian lingkungan hidup.
Demikian juga halnya kegiatan pembangunan jalan berpotensi menimbulkan dampak
terhadap lingkungan hidup, diantaranya bangkitan lalu lintas, perubahan bentang
lahan, pencemaran udara, meningkatnya kebisingan, getaran, emisi gas dari
kendaraan dan dampak terhadap sosial ekonomi budaya.
Dalam rangka menjamin pelestarian fungsi lingkungan hidup maka:
-

Setiap kegiatan dilarang melanggar baku mutu dan kriteria baku kerusakan
lingkungan hidup;
Setiap kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting
terhadap lingkungan hidup, wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan
hidup;
Setiap penanggung jawab kegiatan wajib melakukan pengelolaan limbah hasil
kegiatan;
Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang mempunyai dampak terhadap
lingkungan hidup wajib memiliki dokumen pengelolaan lingkungan hidup
(Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 12 tahun 2007 tentang Dokumen
Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup bagi Usaha dan/atau Kegiatan
yang Tidak Memiliki Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup).

Tuntutan pelestarian fungsi kualitas lingkungan hidup


berimplikasi setiap kegiatannya harus berlandaskan
berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup. Hal ini
Peraturan Pemerintah Nomor 34 tahun 2006 tentang Jalan
-

pada pembangunan jalan


asas pembangunan yang
sudah tergambarkan dalam
antara lain:

Sistem jaringan jalan disusun berdasarkan rencana tata ruang dan pelayanan
distribusi barang dan jasa untuk mengembangkan semua wilayah ditingkat nasional
dengan menghubungkan semua pusat simpul;
Persyaratan teknis jalan harus memenuhi ketentuan, keamanan, keselamatan dan
lingkungan;
Perencanaan teknis jalan harus dilakukan secara optimal dengan memperhatikan
aspek lingkungan hidup
Suatu ruas jalan umum dinyatakan laik fungsi secara administratif apabila
memenuhi persyaratan administrasi perlengkapan jalan, status jalan, kelas jalan,
kepemilikan tanah ruang milik jalan, leger jalan dan dokumen analisis mengenai
Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL)

Dengan demikian maka lingkungan hidup harus dikelola dengan prinsip melestarikan
fungsi lingkungan hidup yang sesuai, selaras dan seimbang untuk menunjang
pembangunan lingkungan hidup bagi peningkatan kesejahteraan dan mutu lingkungan
hidup generasi masa kini dan generasi masa depan, sehingga tujuan pengelolaan
lingkungan hidup dapat terwujud.
5.2 Kebijakan Sektoral yang Terkait dengan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Bidang Jalan
Kebijakan sektoral yang terkait dengan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan
meliputi peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh sektor terkait dan
peraturan daerah. Peraturan perundang-undangan tersebut digunakan sebagai acuan
kerja dan rambu-rambu hukum serta kekuatan hukum dalam mendukung
penyelenggaraan jalan.
14-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 38 tahun 2004 tentang Jalan, menjelaskan


bahwa: Penyelenggaraan jalan berdasarkan pada asas kemanfaatan, keamanan dan
keselamatan, keserasian, keselarasan dan keseimbangan, keadilan, transparansi dan
akuntabilitas, keberdayaan dan keberhasilgunaan serta kebersamaan dan kemitraan.
Asas keserasian, keselarasan dan keseimbangan dalam penyelenggaraan jalan perlu
diimplementasikan secara baik terutama apabila terkait dengan sektor lain yang
mempunyai kebijakan yang perlu diperhatikan/ditaati.
Lingkup peraturan perundang-undangan yang terkait dengan Pengelolaan Lingkungan
Hidup Bidang Jalan disajikan pada gambar 5.1.

15-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Gambar 5.1. Peraturan Perundang-Undangan Berdasarkan Sektor yang Terkait


dengan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan
2. Linkungan Hidup
- Undang-Undang RI Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya
- Undang-Undang RI Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
- PP Nomor 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup
- Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 tahun
2006 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib

3. Tata Ruang
- Undang-Undang RI Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan
Ruang

4. Pertanahan
- Undang-Undang RI Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan
1. Jalan
- Undang-Undang
RI
nomor 38 tahun
2004 tentang
Jalan
- Peraturan
Pemerintah
RI nomor 34
tahun
2006 tentang
Jalan
- PP RI No.15
tahun 2005
tentang Jalan
Tol
- Kepmen PU No.
10/PRT/M/2008
tentang Jenis
Usaha

Dasar Pokok Agraria


- Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 1961 tentang Pencabutan
Hak- Hak atas Tanah dan Benda-Benda yang ada di Atasnya
- Peraturan Presiden RI Nomor 36 tahun 2005 tentang
Pengadaan tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk
Kepentingan Umum
- Peraturan Presiden RI Nomor 65 tahun 2006 tentang
Perubahan Peraturan Presiden nomor 36 tentang Pengadaan
Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum

5. Kehutanan
- Undang-Undang Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan
- Permen Menteri Kehutanan No. P-14/Menhut-II/2006 tentang Pedoman
Pinjam Pakai Kawasan Hutan

6. Pertanian
- Instruksi Presiden RI Nomor 2 Tahun 2007 tentang
Percepatan Rehabilitasi dan Revitalisasi Lahan Gambut di
Kalteng dan

7. Perhubungan
- Undang-undang RI No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas
Angkutan Jalan
- Undang-Undang RI No 23 tahun 2007 tentang Perkereta Apian
- Peraturan Pemerintah RI No 41 Tahun 1993 Tentang Angkutan

8. Pertambangan dan Energi


- Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 01P/47/MPE/1992 tentang Jalur Bebas Minimum antar Penghantar
SUTT/SUTET dengan Tanah atau Benda Lain
- Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi No.300/K.38.M

9. Sosial
- Keppres RI No. 111 tahun 1999 ttg Pembinaan Kesejahteraan Sosial
Komunitas Adat Terpencil
10. Kebudayaan
- Undang-Undang RI Nomor 5 tahun 1992 tentang Cagar Budaya
- Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1993 tentang
11. Kebijakan Daerah
- Peraturan Daerah (Propinsi, Kabupaten, Kota)
- Keputusan Kepala Daerah (Gubernur, Bupati, Walikota)
12. Peraturan Terkait Lainnya

16-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

5.2.1 Penataan Ruang


Penataan ruang adalah suatu sistem proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan
ruang dan pengendalian penataan ruang. Penyelenggaraan penataan ruang bertujuan
untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif dan
berkelanjutan berlandaskan wawasan nusantara yang diatur dalam Undang-Undang
Republik Indonesia nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Peraturan
Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional.
Penyelenggaraan jalan erat kaitannya dengan penataan ruang terutama pada tahap
perencanaan jalan dalam menentukan rute jalan atau koridor jalan yang akan
dibangun. Hal tersebut dijelaskan pada Undang-Undang nomor 38 tahun 2004 tentang
Jalan pada pasal 6 bahwa: Sistem jaringan jalan disusun dengan mengacu pada
rencana tata ruang wilayah dan dengan memperhatikan keterhubungan antar kawasan
dan/atau dalam kawasan perkotaan, dan kawasan pedesaan.
Dalam merencanakan suatu pembangunan jalan, maka perlu memperhatikan penataan
ruang berdasarkan sistem (sistem wilayah dan internal perkotaan), fungsi utama
kawasan (kawasan lindung dan kawasan budidaya), wilayah administratif (wilayah
nasional, wilayah propinsi, wilayah kabupaten/kota), kegiatan kawasan (kawasan
perkotaan dan kawasan pedesaan) dan nilai strategis kawasan (kawasan strategis
nasional, provinsi, kabupaten/kota).
Apabila suatu rencana pembangunan jalan akan memanfaatkan atau melalui daerahdaerah yang penataan ruangnya sudah ditetapkan dalam Tata Ruang Wilayah oleh
pemerintah dan/atau pemerintah daerah, maka harus mengacu pada ketentuanketentuan yang ditetapkan antara lain:
a. Menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan;
b. Memanfaatkan ruang sesuai dengan izin pemanfaatan ruang dari pejabat yang
berwenang;
c. Memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang,
dan
d. Memberikan akses terhadap kawasan yang oleh ketentuan peraturan perundangundangan dinyatakan sebagai milik umum.

5.2.2 Pertanahan
Pada umumnya pembangunan jalan baru, pelebaran jalan dan perubahan alinyemen
akan memerlukan tanah. Untuk memenuhi kebutuhan tanah tersebut, maka perlu
dilakukan pengadaan tanah. Pengadaan tanah dilakukan sebelum pelaksanaan
konstruksi jalan dimulai.
Dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 34 tahun 2006 tentang Jalan,
pada paragraf 4 Pengadaan Tanah, pasal 90 menjelaskan bahwa:
(1)
(2)

Jalan umum dibangun di atas tanah yang dikuasai oleh negara;


Dalam hal pelaksanaan konstruksi jalan umum di atas hak atas tanah orang,
pelaksanaan konstruksi jalan umum dilakukan dengan cara pengadaan tanah;
(3) Pengadaan tanah diperlukan untuk konstruksi jalan baru, pelebaran jalan atau
perbaikan alinyemen;
(4) Pengadaan tanah dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
17-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Pengadaan tanah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan tanah dengan cara
memberikan ganti rugi kepada yang melepaskan atau menyerahkan tanah, bangunan,
tanaman dan benda-benda yang berkaitan dengan tanah atau dengan pencabutan hak
atas tanah. Penyelenggaraan pengadaan tanah diatur dalam:
- Peraturan Presiden Nomor 36 tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi
Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum.
- Peraturan Presiden nomor 65 tahun 2006 tentang Perubahan atas Peraturan
Presiden nomor 36 tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan
Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.
- Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 tahun 2007 tentang
Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 36 tahun 2005 tentang
Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum
sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Presiden Nomor 65 tahun 2006
tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 36 tahun 2005.
Dalam rangka pengadaan tanah untuk pembangunan jalan, maka harus mengikuti
aturan yang telah ditentukan mulai dari permohonan rencana pembangunan jalan,
permohonan penetapan lokasi hingga tata cara pengadaan tanah.
Ketentuan-ketentuan yang perlu diperhatikan dalam pengadaan
pembangunan jalan antara lain:

tanah untuk

a) Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum


(termasuk Jalan) oleh pemerintah atau pemerintah daerah dilaksanakan dengan
cara:
- Pelepasan atau penyerahan hak atas tanah, atau
- Pencabutan hak atas tanah.
b) Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum
(termasuk jalan) hanya dapat dilakukan apabila berdasarkan pada Rencana Tata
Ruang Wilayah yang telah ditetapkan terlebih dahulu.
c) Pengadaan tanah dilakukan melalui musyawarah dalam rangka memperoleh
kesepakatan mengenai:
- Pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum di lokasi tersebut
- Bentuk dan besarnya ganti rugi
Musyawarah dilakukan secara langsung antara pemegang hak atas tanah,
bangunan, tanaman dan benda-benda lain yang terkait dengan tanah dengan
instansi yang memerlukan tanah.
d) Pengadaan tanah dapat dilakukan dengan cara ganti rugi kepada yang berhak atas
ganti rugi yaitu: pemegang hak atas tanah, nadzir bagi harta benda wakaf,
pemegang hak milik atau pemegang hak pengelolaan. Ganti rugi dapat dibayarkan
terhadap hak atas tanah dan/atau bangunan dan/atau tanaman dan/atau bendabenda lain yang berkaitan dengan tanah.
Bentuk ganti rugi dapat berupa:
- Uang; dan/atau
- Tanah pengganti; dan/atau
- Pemukiman kembali; dan/atau
- Gabungan dari dua atau lebih bentuk ganti kerugian sebagaimana dimaksud
tersebut;
- Bentuk lain yang disetujui oleh pihak-pihak yang bersangkutan.
e) Untuk pengadaan tanah yang luasnya lebih dari 1 (satu) hektar, maka perlu
dibentuk Panitia Pengadaan Tanah, sedangkan untuk pengadaan tanah yang
18-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

luasnya tidak lebih dari 1 (satu) hektar, dapat dilaksanakan secara langsung melalui
jual beli, tukar menukar atau cara lain yang disepakati.
f) Nilai harga tanah akan ditentukan oleh tim penilai harga tanah yang dibentuk oleh
Panitia Pengadaan Tanah berdasarkan NJOP atau nilai nyata sebenarnya dengan
memperhatikan NJOP tahun berjalan dan dapat berpedoman pada variabel-variabel
yang berlaku.
g) Pelaksanaan
pembangunan
fisik
jalan
dapat
dimulai
setelah
penyerahan/pengesahan hak atas bangunan, tanaman dan benda-benda lain yang
ada di atas tanah yang telah diganti rugi.
5.2.3 Kehutanan
Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem pada komponen lahan yang di dalamnya
terdapat sumber daya alam hayati yang didominasi oleh pohon-pohon dalam kesatuan
alam yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Hutan sebagai
salah satu penentu sistem penyangga kehidupan dan sumber kemakmuran rakyat
cenderung menurun kondisinya. Oleh karena itu keberadaannya harus dipertahankan
secara lestari.
Peraturan perundang-undangan sektor kehutanan yang menjadi acuan dan terkait
dengan pembangunan bidang jalan di kawasan hutan adalah:
- Undang-Undang nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan
- Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.14/Menhut-II/2006 tentang Pedoman Pinjam
Pakai Kawasan Hutan
- Peraturan Pemerintah nomor 34 tahun 2002 tentang Tata Hutan dan Penyusunan
Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan.
Berdasarkan peraturan perundang-undangan tentang
menjelaskan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

Kehutanan

antara

lain

a. Pemanfaatan kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan


kehutanan hanya dapat dilakukan di dalam kawasan hutan produksi dan kawasan
hutan lindung;
b. Penggunaan kawasan hutan di luar kegiatan kehutanan dapat dilakukan tanpa
mengubah fungsi pokok kawasan hutan;
c. Pinjam pakai kawasan hutan dilaksanakan atas dasar persetujuan Menteri;
d. Pinjam pakai kawasan hutan hanya dapat dilakukan untuk kepentingan strategis
atau kepentingan umum terbatas di luar sektor kehutanan tanpa mengubah status,
fungsi dan peruntukan kawasan hutan;
e. Pinjam pakai kawasan hutan dapat berbentuk pinjam pakai tanpa kompensasi atau
pinjam pakai dengan kompensasi;
f. Izin pinjam pakai kawasan hutan berlaku untuk jangka waktu 5 (lima) tahun yang
dapat diperpanjang setiap 5 (lima) tahun sesuai masa berlakunya izin kegiatan.
Permohonan perpanjangan izin pinjam pakai kawasan hutan harus diajukan paling
lambat 6 (enam) bulan sebelum berakhirnya izin, diajukan kepada Kepala Balai
Planologi Kehutanan dengan tembusan disampaikan kepada Menteri Kehutanan;
g. Apabila kegiatan pembangunan jalan mengakibatkan kerusakan hutan, maka wajib
dilakukan reklamasi dan rehabilitasi sesuai pola yang ditetapkan Pemerintah.
h. Apabila kegiatan pembangunan jalan mengakibatkan perubahan permukaan dan
penutupan tanah, maka wajib membayar dana jaminan reklamasi dan rehabilitasi
yang diatur oleh Peraturan Pemerintah;
i. Apabila jalan sudah terbangun lebih dahulu dari pada penetapan atau pengukuhan
kawasan hutan, maka harus tetap dimintakan perijinan penggunaan kawasan hutan
19-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

kepada Departemen Kehutanan. Demikian juga apabila pengelola jalan akan


melakukan kegiatan pemeliharaan atau peningkatan jalan, maka berkewajiban
memberitahukan rencana kegiatan kepada pihak otoritas kawasan hutan. Hal ini
berkaitan dengan upaya-upaya konservasi yang harus dilakukan oleh pengelola
jalan;
j. Kegiatan peningkatan atau pembangunan jalan harus mampu menjaga keberadaan,
kelestarian dan keutuhan kawasan hutan dari berbagai kerawanan yang mungkin
terjadi diantaranya perambahan, penebangan liar maupun kebakaran hutan.
5.2.4 Pertanian
Salah satu keterkaitan penyelenggaraan jalan dengan sektor pertanian adalah adanya
kebijakan pemerintah tentang perencanaan 15 juta hektar lahan pertanian lestari dan
Instruksi Presiden Republik Indonesia nomor 2 tahun 2007 tentang Percepatan
Rehabilitasi dan Revitalisasi Kawasan Pengembangan Lahan Gambut di Kalimantan
Tengah.
- Pemerintah merencanakan persiapan 15 juta hektar lahan untuk pertanian pangan
lestari di seluruh wilayah Indonesia guna menekan kerawanan pangan nasional.
Lahan pertanian yang dipersiapkan adalah untuk lahan padi dan tanaman pangan
lainnya seperti jagung dan sagu. Lahan lestari tersebut tidak boleh dialihfungsikan
dan kalau terpaksa harus beralihfungsi, maka lahan itu harus diganti dengan
pencetakan lahan baru dengan luas sekurang-kurangnya dua kali luas lahan yang
dipakai.
- Instruksi Presiden nomor 02 tahun 2007 tentang Percepatan Rehabilitasi dan
Revitalisasi Kawasan Pengembangan Lahan Gambut di Kalimantan diantaranya
mengatur program konservasi kawasan hutan gambut, hutan gelam, konservasi
hidrologi, konservasi flora dan fauna, konservasi hutan krangas, konservasi
ekosistem air hitam, konservasi hutan mangrove, kebakaran hutan dan reboisasi.
Berkaitan dengan kebijakan tersebut maka pembangunan jalan terutama dalam
perencanaan jaringan jalan perlu memperhatikan kebijakan tersebut, sehingga tidak
menimbulkan masalah lingkungan hidup.
5.2.5 Energi dan Sumber Daya Mineral
Dalam sistem jaringan jalan primer dan sistem jaringan jalan sekunder yang mengacu
pada rencana tata ruang wilayah seringkali dijumpai rute jalan atau koridor jalan
bersimpangan dengan jaringan utilitas diantaranya jaringan pipa penyalur minyak dan
gas bumi dan Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara Tegangan
Ekstra Tinggi (SUTET).
Ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang pipa penyalur minyak dan gas bumi dan
Saluran Udara Tegangan Tinggi dan Ekstra Tinggi diatur berdasarkan keputusan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
a. Terkait dengan kegiatan pipa penyalur minyak dan gas bumi
Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi nomor 300 K/38/M.PE/1997 tentang
Keselamatan Kerja Pipa Penyalur Minyak dan Gas Bumi mengatur antara lain
mengenai jarak bebas minimum dan perlintasan dengan penyalur pipa minyak dan
gas.
b. Terkait dengan saluran udara tegangan tinggi (SUTT atau SUTET)

20-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi nomor 01.P/47/MPE/1992 tentang


Ruang Bebas Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Saluran Udara Tegangan
Ekstra Tinggi (SUTET) untuk Penyaluran Tenaga Listrik.
Dalam rangka pengamanan dan pemeliharaan SUTT dan SUTET telah diatur
tentang keterkaitan dengan pembangunan jalan antara lain yaitu: pembuatan
jalan, pembangunan saluran udara transmisi energi listrik dan penyelenggaraan
kegiatan lainnya yang berada dibawah, menyilang ataupun sejajar dengan SUTT
atau SUTET harus memperhatikan jarak bebas minimum yang ditetapkan.
c. Terkait dengan penambangan bahan galian golongan C
Kegiatan penambangan bahan galian golongan C merupakan salah satu kegiatan
yang terkait dengan pembangunan jalan dalam pemenuhan bahan material untuk
pelaksanaan konstruksi jalan. Bahan galian golongan C adalah bahan galian
golongan C yang berupa tanah urug, pasir, sirtu, tras dan batu apung.
Ketentuan-ketentuan tentang penambangan galian golongan C antara lain:
a) Apabila kegiatan penambangan bahan galian golongan C kapasitasnya >
250.000 m3 per tahun dan atau jumlah material penutup yang dipindahkan >
1.000.000 ton, maka berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 11 tahun 2007 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib
Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Lingkungan Hidup, kegiatan
penambangan galian C wajib dilengkapi dengan AMDAL;
b) Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor Kep
43/MENLH/10/1996 tentang Kriteria Kerusakan LIngkungan bagi Usaha atau
Kegiatan Penambangan Bahan Galian Golongan C di Daratan, maka pembinaan
teknis penambangannya dilakukan oleh Menteri Pertambangan dan Energi yang
telah berubah menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral;
c) Ijin penambangan bahan galian golongan C ketentuannya berdasarkan RTRW
setempat dan ketentuan yang tercantum dalam keputusan Kepala Daerah
(Gubernur, Bupati, Walikota) atau instansi penanggung jawab penambangan
bahan galian golongan C.
5.2.6 Perhubungan
Transportasi merupakan sarana yang sangat penting dan strategis dalam
memperlancar roda perekonomian, memperkukuh persatuan dan kesatuan serta
mempengaruhi semua aspek kehidupan bangsa dan Negara. Pentingya transportasi
tersebut tercermin pada semakin meningkatnya kebutuhan akan jasa angkutan bagi
mobilitas orang serta barang dari dan ke seluruh pelosok tanah air, bahkan dari dan
keluar negeri. Di samping itu transportasi juga berperan sebagai penunjang,
pendorong, dan penggerak bagi pertumbuhan daerah yang berpotensi namun belum
berkembang, dalam upaya peningkatan dan pemerataan pembangunan serta hasil
hasilnya.
Menyadari peranan transportasi, maka Lalu Lintas dan Angkutan Jalan harus ditata
dalam satu sistem Transportasi Nasional secara terpadu dan mampu mewujudkan
tersedianya jasa transportasi yang serasi dengan tingkat kebutuhan lalu lintas dan
pelayanan angkutan yang tertib, selamat, aman, nyaman, cepat, tepat, teratur, lancar
dan dengan biaya yang terjangkau oleh daya beli masyarakat.
Penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan perlu dilakukan secara
berkesinambungan dan terus ditingkatkan agar lebih luas daya jangkau dan
pelayanannya kepada masyarakat dengan memperhatikan sebesar-besar kepentingan
21-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

umum dan kemampuan masyarakat, kelestarian lingkungan, koordinasi antar


wewenang pusat dan daerah serta antar instansi, ketertiban masyarakat dalam
penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan, sekaligus dalam rangka mewujudkan
sistem transportasi nasional yang handal dan terpadu.
Dalam mewujudkan penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan seperti tersebut
diatas diperlukan kerjasama dengan Departemen Perhubungan sebagai departemen
pembina penyelenggaraan lalulintas dan angkutan jalan dengan Departemen Pekerjaan
Umum sebagai departemen yang bertanggung jawab dalam pembangunan sarana
transportasi dan pembangunan jaringan transportasi/jalan. Seperti juga dalam
pembangunan
jaringan
transportasinya
yang
berwawasan
lingkungan,
penyelenggaraan lalulintas dan angkutan jalannya pun juga memperhatikan aspek
pelestarian lingkungan.
Beberapa peraturan yang mengatur penyelenggaraan lalu lintas jalan yang
berkesinambungan, berwawasan lingkungan dengan memperhatikan aspek
keselamatan pengguna jalan adalah
 Undang-Undang No 22 tahun 2009, tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan
 Peraturan Pemerintah No. 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas
Jalan
 Peraturan Pemerintah No. 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas
Jalan dan Peraturan Pemerintah No 41 Tahun 1993 tentang Angkutan Jalan.
Dalam UU No. 22 tahun 2009, tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan disebutkan juga
mekanisme pencegahan dampak lingkungan akibat penyelenggaraan lalu lintas jalan
sbb :
 Untuk mencegah pencemaran udara dan kebisingan suara kendaraan bermotor
yang dapat mengganggu kelestarian lingkungan hidup, setiap kendaraan
bermotor wajib memenuhi persyaratan ambang batas emisi gas buang dan
tingkat kebisingan;


Setiap pemilik, pengusaha angkutan umum dan/atau pengemudi kendaraan


bermotor, wajib mencegah terjadinya pencemaran udara dan kebisingan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), yang diakibatkan oleh peoperasian
kendaraannya;

Dalam penjelasan Peraturan Pemerintah No. 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan
Lalu Lintas Jalan disebutkan :
Pembinaan di bidang lalu lintas jalan yang meliputi aspek- aspek pengaturan,
pengendalian dan pengawasan lalu lintas harus ditujukan untuk keselamatan,
keamanan, ketertiban, kelancaran lalu lintas. Di samping itu, dalam melakukan
pembinaan lalu lintas jalan juga harus diperhatikan aspek
kepentingan umum atau masyarakat pemakai jalan, kelestarian lingkungan, tata ruang,
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, hubungan internasional serta
koordinasi antar wewenang pembinaan lalu lintas jalan di tingkat pusat dan daerah
serta antar instansi, sektor dan unsur terkait lain- nya.
Di samping itu, untuk dapat lebih meningkatkan daya guna dan hasil guna dalam
penggunaan dan pemanfaatan jalan, diperlukan pula adanya ketentuan-ketentuan bagi
Pemerintah dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan perencanaan, pengaturan,
pengawasan dan pengendalian lalu lintas dan juga dalam melaksanakan kegiatankegiatan perencanaan, pengadaan, pemasangan, dan pemeliharaan fasilitas
perlengkapan jalan di seluruh jaringan jalan primer dan sekunder yang ada di tanah air
22-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

baik yang merupakan Jalan Nasional, Jalan Propinsi, Jalan Kabupaten, Jalan Kota,
maupun Jalan Desa.
Untuk kepentingan baik pemerintah maupun masyarakat, maka dalam peraturan
pemerintah ini diatur ketentuan-ketentuan mengenai prasarana lalu lintas dan
angkutan jalan yang meliputi antara lain kelas jalan, jaringan lintas angkutan barang,
terminal penumpang dan barang fasilitas pejalan kaki, fasilits penyeberangan orang,
fasilitas parkir, rambu-rambu, marka jalan, alat pemberi isyarat lalu lintas, dan lain
sebagainya di mana kesemuanya itu merupakan unsur penting dalam
menyelenggarakan lalu lintas dan angkutan jalan yang berdaya guna dan berhasil guna
serta dalam rangka memberikan perlindungan keselamatan, keamanan, kemudahan
serta kenyamanan bagi para pemakai jalan.
Disebutkan dalam Permen tersebut Pasal 14 tentang Penetapan Jaringan Trayek dan
Pasal 15 tentang Penetapan Jaringan Lintas harus selalu mempertimbangkan beberapa
hal salah satu di antaranya adalah pertimbangan kelestarian lingkungan.
Dalam sistem jaringan jalan primer dan sistem jaringan sekunder yang mengacu pada
tata ruang wilayah seringkali rute atau koridor jalan berlintasan dengan jalur kereta
api. Jalur kereta api meliputi daerah manfaat jalan kereta api, daerah milik jalan kereta
api dan daerah pengawasan jalan kereta api termasuk bagian bawahnya serta ruang
bebas atasnya yang diperuntukan bagi lalu lintas kereta api.
Ketentuan tentang pembangunan jalan terkait dengan jalur kereta api mengacu pada:
-

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2007 tentang Perkereta Apian


Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 52 tahun 2000 tentang Jalur Kereta
Api
Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 53 tahun 2000 tentang Perpotongan
dan/atau Persinggungan antara Jalur Kereta Api dengan Bangunan Lain.

Ketentuan tentang pembangunan jalan terkait dengan jalur kereta api antara lain
yaitu:
a. Apabila pembangunan jalan terdapat perlintasan dengan jalur kereta api, maka
harus mendapatkan izin yang diberikan oleh Direktur Jenderal Perhubungan Darat;
b. Perpotongan antara jalur kereta api dengan jalan di buat tidak sebidang;
c. Pengecualian terhadap ketentuan tersebut dapat dilakukan dengan tetap menjamin
keselamatan dan kelancaran perjalanan kereta api dan lalu lintas jalan;
d. Pembangunan jalan yang berlintasan atau bersinggungan dengan jalur kereta api
harus dilaksanakan dengan ketentuan untuk kepentingan umum dan tidak
membahayakan perjalanan kereta api;
e. Pembangunan, pengoperasian, perawatan dan keselamatan perpotongan antar
jalur kereta api dan jalan menjadi tanggung jawab pemegang izin.
5.2.7 Sosial
Kegiatan pembangunan jalan seringkali menimbulkan dampak terhadap aspek sosial,
antara lain terhadap kondisi sosial komunitas rentan. Komunitas rentan adalah
kelompok sosial yang mencakup masyarakat adat termasuk komunitas adat terpencil
dan kelompok fakir miskin yang sangat potensial mengalami dampak dari
pembangunan jalan.
Apabila suatu ruas jalan melintasi atau berdekatan dengan pemukiman komunitas adat
maka perlu diperhatikan keberadaan komunitas adat tersebut. Kebijakan yang
23-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

mengatur komunitas adat terpencil adalah Keputusan Presiden nomor 111 tahun 1999
tentang Pembinaan Kesejahteraan Sosial Komunitas Adat Terpencil.
-

Komunitas adat terpencil adalah kelompok sosial budaya yang bersifat lokal,
terpencar serta kurang atau belum terlibat dalam jaringan dan pelayanan sosial,
ekonomi maupun politik di samping itu juga dicirikan antara lain oleh lokasinya
yang terpencil dan sulit dijangkau.

Ciri-ciri komunitas adat terpencil adalah:


-

Berbentuk komunitas kecil, tertutup dan homogen;


Pranata sosial bertumpu pada hubungan kekerabatan;
Secara geografis terpencil dan relatif sulit dijangkau;
Pada umumnya masih hidup secara subsisten;
Peralatan teknologinya sederhana;
Terbatasnya akses pelayanan sosial, ekonomi dan politik.

Potensi dampak sosial akibat pembangunan jalan dapat terjadi apabila dalam tahap
perencanaan tidak memperhatikan aspek lingkungan dan sosial. Terutama pada saat
penentuan rute atau koridor jalan yang melalui daerah komunitas rentan. Untuk
mencegah atau menghindari dampak sosial terhadap komunitas rentan di antaranya
pada saat pemilihan rute atau koridor jalan diupayakan tidak melalui atau mendekati
daerah komunitas rentan. Apabila rencana rute atau koridor jalan berada pada radius
kurang dari 10 (sepuluh) kilometer dari permukiman komunitas rentan, maka perlu
melakukan konsultasi dengan masyarakat dan instansi terkait. Dari hasil konsultasi
tersebut menjadi acuan utama untuk menetapkan rute atau koridor jalan yang akan
dibangun, serta untuk menangani dampak negatif sosial.
5.2.8 Budaya
Salah satu aspek kebudayaan yang perlu diperhatikan dalam pembangunan bidang
jalan adalah kawasan cagar budaya yaitu kawasan yang merupakan lokasi budaya
berupa bangunan yang bernilai tinggi dan situs purbakala. Kebijakan tentang benda
cagar budaya diatur dalam:
-

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1993 tentang Benda Cagar


Budaya.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 10 tahun 1993 tentang
Pelaksanaan Undang-Undang R.I nomor 5 tahun 1993.
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor
062/U/1995 tentang Pemilikan, Penguasaan, Pengalihan dan Penghapusan Benda
Cagar Budaya dan/atau Situs.
Keputusan Menteri Pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia Nomor
063/U/1995 tentang Perlindungan dan Pemeliharaan Cagar Budaya.
Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor
064/U/1995 tentang Penelitian dan Penetapan Benda Cagar Budaya dan/atau
Situs.

Berdasarkan peraturan perundang-undangan tersebut dan


pembangunan jalan, maka hal yang perlu diperhatikan antara lain:

terkait

dengan

a. Untuk kepentingan perlindungan dan pemeliharaan benda cagar budaya, maka


dilarang merusak benda cagar budaya, situs dan lingkungannya. Kegiatan yang
termasuk dapat merusak benda cagar budaya, situs dan lingkungan adalah
kegiatan:
24-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Mengurangi, merambah, mengubah, memindahkan dan mencemari benda


cagar budaya.
- Mengurangi, mencemari dan/atau mengubah fungsi cagar budaya.
b. Dalam rencana pembangunan jalan sebaiknya rute jalan atau koridor jalan tidak
melalui daerah yang termasuk cagar budaya, situs dan lingkungannya. Apabila
suatu rencana rute jalan atau koridor jalan akan melalui daerah cagar budaya, situs
dan lingkungannya, maka perlu melakukan koordinasi, konsultasi dan wajib
melaporkan terlebih dahulu kepada Menteri yang bertanggung jawab di bidang
kebudayaan secara tertulis dan dilengkapi dengan studi AMDAL. Hal tersebut untuk
mencegah terjadinya dampak negatif terhadap aspek budaya.
-

5.2.9 Kebijakan Pemerintah Daerah


Keberadaan peraturan daerah (PERDA) dan keputusan kepala daerah terkait
perencanaan jalan maupun pelaksanaan konstruksi jalan perlu diperhatikan dan
menjadi acuan dalam pembangunan jalan maupun pengelolaan lingkungan hidup
bidang jalan. Berbagai peraturan daerah diterbitkan oleh pemerintah provinsi,
kabupaten maupun kota berkaitan dengan pembangunan jalan dan pengelolaan
lingkungan hidup, antara lain:
-

Penetapan dan pelaksanaan KLHS tingkat propinsi/kabupaten/kota


Penetapan dan pelaksanaan kebijakan RRPLH propinsi/kabupaten/kota
Peraturan daerah mengenai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
Peraturan daerah mengenai sumber material (quarry) galian C.
Peraturan daerah mengenai penetapan lokasi pembuangan material sisa (disposal
area).
Keputusan Gubernur/Bupati/Walikota mengenai jenis kegiatan yang wajib
dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.
Peraturan daerah mengenai penetapan baku mutu kualitas air permukaan.
Peraturan daerah mengenai keharusan menggunakan jasa laboratorium
lingkungan di daerah yang terakreditasi dalam pengukuran kualitas lingkungan
hidup.
Peraturan daerah mengenai status lingkungan hidup daerah.
Penerbitan ijin lingkungan pada tingkat propinsi/kabupaten/kota

Dan kebijakan daerah lainnya.

5.3 Pembangunan Jalan yang Berkelanjutan dan Berwawasan Lingkungan


Hidup
Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar
dan terencana, yang memadukan aspek lingkungan hidup,sosial, dan ekonomi ke
dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup serta
keselamatan, kemampuan,kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan
generasi masa depan. Pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup
merupakan tujuan dari asas perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang
tercantum dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Penyelenggara jalan mempunyai visi terwujudnya sistem penyelenggaraan jaringan
jalan yang handal, bermanfaat dan berkelanjutan untuk mendukung tercapainya
Indonesia yang aman dan damai, adil dan demokratis serta sejahtera.

25-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Dalam mewujudkan visi tersebut, tidak terlepas dari tuntutan pelestarian lingkungan
hidup yang membawa implikasi perlunya pengembangan teknologi ramah lingkungan,
konservasi, penerapan tata ruang secara konsisten, penerapan teknologi tepat guna,
sederhana dan mutakhir, serta keterlibatan masyarakat.
Berbagai kebijakan pemerintah dan pedoman di bidang kebinamargaan dan
lingkungan hidup serta kebijakan sektor terkait menjadi acuan kerja dan rambu-rambu
serta kekuatan hukum dalam mendukung pelaksanaan pembangunan bidang jalan
demi tercapainya azas pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan
hidup.
Prinsip dasar kebijakan tersebut adalah menerapkan pertimbangan lingkungan hidup
dalam siklus pembangunan bidang jalan (siklus proyek) pada setiap tahap kegiatan
mulai dari perencanaan, pelaksanaan konstruksi, pengoperasian dan pemeliharaan
jalan serta evaluasi pembangunan jalan.
Dengan menerapkan pertimbangan lingkungan sebagai upaya pengelolaan lingkungan
pada setiap tahapan kegiatan tersebut maka pembangunan bidang jalan telah
menerapkan prinsip dasar pembangunan jalan yang berkelanjutan dan berwawasan
lingkungan hidup. Penerapan pertimbangan lingkungan dalam pembangunan bidang
jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dapat digambarkan dalam
gambar 5.2.
Dari siklus tersebut dapat dilihat kapan seharusnya masing-masing tahapan studi
lingkungan seharusnya dilaksanakan. Apabila tahapan studi dalam siklus ini
diikuti/dilaksanakan sebagaimana mestinya maka studi lingkungan tidak akan menjadi
hambatan untuk tahapan kegiatan selanjutnya. Persetujuan AMDAL atau UKL/UPL tidak
akan menghambat dimulainya pelaksanaan konstruksi sekaligus pembangunan jalan
yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dapat tercapai.

26-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Gambar 5.2. Pembangunan Jalan yang Berkelanjutan dan Berwawasan


Lingkungan Hidup dalam Siklus Proyek

- Benefit & manfaat


- Pelaksanaan RKL/UKL-RPL/UPL
- Audit lingkungan

RPJM (Rencana Program Jangka Menengah)


Rencana Pengembangan Wilayah
RTRW
Tata guna lahan

- Rencana Umum Jaringan Jalan


- Koridor Jalan
- Data Teknis, LH & Ekonomi

PERENCANAAN UMUM
PENYARINGAN LINGKUNGAN AWAL/
INFORMASI ASPEK LINGKUNGAN

EVALUASI PASCA PROYEK

PRASTUDI KELAYAKAN

EVALUASI KINERJA PENGELOLAAN


LINGKUNGAN & PEMANTAUAN LINGKUNGAN

PENYARINGAN LINGKUNGAN /
PELINGKUPAN
- Pra study kelayakan
- Survey lapangan
- Data teknis (LH & Ekonomi)
-

PASCA KONSTRUKSI (O&M)


IMPLEMENTASI PENGELOLAAN &
PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP

STUDI KELAYAKAN
AMDAL ATAU UKL/UPL

- As build drawing
- RKL/UKL-RPL/UPL
- SOP

- Studi Kelayakan
- Amdal. UKL/UPL
- Data Teknis, LH & Ekonomi

KONSTRUKSI

PERENCANAAN TEKNIS

IMPLEMENTASI PENGELOLAAN &


PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP

INTEGRASI REKOMENDASI RKL/RPL

PRA-KONSTRUKSI
Dokumen kontrak (ketentuan umum,
gambar rencana, spesifikasi umum ,
spesifikasi khusus, Bill Of Quantity)
RKL/UKL-RPL/UPL, SOP

PROSES/IMPLEMENTASI/PEMANTAPAN
PENGADAAN TANAH [LARAP]

27-53

DED (Detail Engineering Design)


Survey sosial
Data kepemilikan tanah
Opsi kompensasi

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

6. ASPEK PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN


Pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan adalah kegiatan pengelolaan lingkungan
hidup dalam setiap kegiatan pembangunan jalan mulai tahap perencanaan
(perencanaan umum, pra studi kelayakan, studi kelayakan dan perencanaan teknis),
tahap pengadaan tanah, tahap pelaksanaan konstruksi, tahap pengoperasian dan
pemeliharaan jalan serta tahap evaluasi pasca kegiatan pembangunan jalan.
Pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan mencakup juga kegiatan pemantauan
terhadap komponen kegiatan dan komponen lingkungan hidup yang berpotensi
terkena dampak.
a. Tujuan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan
Tujuan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan adalah:
1) Mencegah, mengurangi dan menanggulangi dampak negatif serta
meningkatkan dampak positif pembangunan jalan terhadap lingkungan hidup
2) Turut mewujudkan tata kepemerintahan yang baik dibidang pengelolaan
lingkungan hidup (good environmental governance) dalam penyelenggaraan
jalan.
3) Meningkatkan kepatuhan penyelenggaraan jalan dalam menjaga kualitas fungsi
lingkungan hidup
4) Meningkatkan
kapasitas
penyelenggara
jalan
dalam
melaksanakan
penyelenggaraan jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup.
b. Sasaran Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan
Sasaran pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan mencakup:
1) Terintegrasinya dan diterapkannya pertimbangan lingkungan hidup dalam
penyelenggaraan jalan.
2) Terwujudnya prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik dibidang pengelolaan
lingkungan hidup (good enveronmental governance) dalam penyelenggaraan
jalan.
3) Meningkatnya kepatuhan penyelenggara jalan dalam menjaga kualitas fungsi
lingkungan hidup.
4) Meningkatnya kapasitas penyelenggara jalan dalam penyelenggaraan jalan
yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup.
c. Target Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan
Target pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan adalah tercapainya
pembangunan jalan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup melalui
program dan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang terukur pada jangka
menengah dan jangka panjang.
d. Lingkup Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan.
Dalam rangka mencegah, mengurangi dan menanggulangi dampak negatif dan
meningkatkan dampak positif, maka penggelolaan lingkungan akan didasarkan
pada kegiatan sebagai sumber dampak dan komponen linggkungan hidup yang
terkena dampak. Komponen kegiatan mencakup kegiatan pembangunan jalan
termasuk pengadaan tanah. Komponen lingkungan hidup mencakup komponen
fisik kimia (kualitas udara, kebisingan, getaran, kualitas air, tanah, bentang lahan,
topografi, geologi, hidrologi), komponen biologi (flora, fauna dan biota air), sosial

28-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

ekonomi budaya (keresahan, aset, mata pencaharian, utilitas, mobilitas penduduk,


lalu lintas, budaya, kesehatan masyarakat dan kenyamanan dan lain-lain).
Ruang lingkup pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan sesuai dengan tahapan
kegiatan mencakup:
1) Perencanaan jalan
-

Perencanaan umum
Pra studi kelayakan
Studi kelayakan
Perencanaan teknis

2) Pembangunan jalan
- Pengadaan tanah
- Pelaksanaan konstruksi jalan
- Pengoperasian dan pemeliharaan jalan
3) Evaluasi pasca pembangunan jalan
- Evaluasi dan pengkajian hasil pembangunan jalan
Pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan mencakup kegiatan perencanaan
pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan, pelaksanaan pengelolaan lingkungan
hidup bidang jalan dan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.
- Perencanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan adalah kegiatan
merencanakan dan menentukan upaya-upaya pengelolaan lingkungan hidup
pada tahap perencanaan pembangunan bidang jalan;
- Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan adalah suatu kegiatan
yang menerapkan atau melaksanakan upaya-upaya pengelolaan lingkungan
hidup bidang jalan yang telah direncanakan atau direkomendasikan pada tahap
perencanaan untuk tahap pelaksanaan pembangunan jalan;
- Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan adalah kegiatan
pemantauan dan evaluasi atas segala upaya-upaya yang sedang dilakukan atau
telah dilakukan sejak perencanaan hingga pelaksanaan pembangunan jalan.
Hasil dari pemantauan menjadi bahan evaluasi terhadap kegiatan pembangunan
jalan.
Gambaran umum lingkup kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan
disajikan pada tabel 6.1, tabel 6.2 dan tabel 6.3.
Lokasi pengelolaan lingkungan hidup mencakup lokasi tapak proyek jalan, sumber
material beserta jalur pengangkutan material dan base camp (lokasi kantor proyek,
bengkel, barak pekerja, stockpile, lokasi penyimpanan dan pengoperasian alat
berat dan lain-lain).
Tabel 6.1. Lingkup Perencanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan
No.
1.

Kegiatan
Perencanaan Umum Jaringan
Jalan

Pengelolaan Lingkungan Hidup


- Pertimbangan lokasi rute atau koridor
terhadap:
Tata ruang
Daerah sensitif
Konsultasi masyarakat

29-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

No.

Kegiatan

Pengelolaan Lingkungan Hidup

2.

Pra Studi Kelayakan

- Penyaringan jenis studi lingkungan


(AMDAL atau UKL-UPL) dan
pelingkupan isu lingkungan.

3.

Studi Kelayakan

- Penyusunan Studi Analisis Mengenai


Dampak Lingkungan (AMDAL) atau
Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup
dan Upaya Pemantauan Lingkungan
Hidup (UKL-UPL).

4.

Perencanaan Teknis

- Penerapan atau Penjabaran Rencana


Pengelolaan Lingkungan Hidup dan
Rencana Pemantauan Lingkungan
Hidup (RKL-RPL) atau Upaya
Pengelolaan Lingkungan Hidup dan
Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup
(UKL-UPL) dalam desain teknis.

5.

Perencanaan Pengadaan Tanah

- Penyusunan Studi Analisis Dampak


Sosial
(ANDAS)
dan
Rencana
Pengadaan Tanah dan Pemukiman
Kembali (LARAP)

Catatan:

Penyusunan dokumen lingkungan sesuai hasil penyaringan (AMDAL atau UKLUPL) wajib dilakukan.
Penyusunan dokumen sosial baik akibat pengadaan tanah maupun akibat
melintasi daerah komunitas rentan (komunitas adat dan/atau fakir miskin)
sangat disarankan agar pembangunan jalan dapat diterima dan didukung oleh
komunitas setempat.

Tabel 6.2. Lingkup Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan


No.

Kegiatan

1.

Pengadaan Tanah

2.

Konstruksi Jalan

a.

Persiapan Konstruksi
a1. Mobilisasi tenaga kerja
a2. Mobilisasi peralatan berat
a3. Pembuatan jalan
masuk/akses
a4. Pembangunan base camp

b.

Pelaksanaan Konstruksi
b1. Di lokasi proyek
1) Pembersihan lahan
2) Pekerjaan tanah
3) Pekerjaan drainase

Pengelolaan Lingkungan Hidup


- Menerapkan Rencana Pengadaan
Tanah dan Pemukiman Kembali dalam
Pelaksanaan Pembebasan Tanah
- Menerapkan Prosedur Mitigasi
Dampak Standar Pekerjaan Jalan
Tahap Konstruksi
- Melaksanakan rekomendasi RKL atau
UKL yang telah dan yang belum
dijabarkan (jika ada) dalam detail
desain
- Menerapkan Prosedur Mitigasi
Dampak Standar Pekerjaan Jalan
Tahap Konstruksi

30-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

4) Pekerjaan konstruksi
badan jalan
5) Pekerjaan jembatan
6) Penghijauan dan
pertamanan
7) Pemasangan perlengkapan
jalan
8) Penanganan sisa
pembersihan lahan dan
sisa pekerjaan konstruksi
b2. Lokasi sumber material
1) Pengambilan material
bangunan dari quarry
2) Pengangkutan material
bangunan

b3. Lokasi base camp


- Pengoperasian base camp

3.

Pengoperasian dan
Pemeliharaan Jalan

a.

Pengoperasian jalan

b.

Pemeliharaan jalan

- Melaksanakan rekomendasi RKL atau


UKL yang telah dan yang belum
dijabarkan (jika ada) dalam detail
desain

- Menerapkan Prosedur Mitigasi


Dampak Standar Pekerjaan Jalan
Tahap Konstruksi
- Melaksanakan rekomendasi RKL atau
UKL yang telah dan yang belum
dijabarkan (jika ada) dalam detail
desain
- Menerapkan Prosedur Mitigasi
Dampak Standar Pekerjaan Jalan
Tahap Konstruksi
- Melaksanakan rekomendasi RKL atau
UKL yang telah dan yang belum
dijabarkan (jika ada) dalam detail
desain

- Menerapkan Pedoman, Prosedur dan


Manual Pengelolaan Lingkungan Hidup
- Melaksanakan rekomendasi RKL atau
UKL yang telah dan yang belum
dijabarkan (jika ada) dalam detail
desain

Tabel 6.3. Lingkup Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan


No.

Kegiatan

Pemantauan Lingkungan Hidup

1.

Perencanaan Jalan

- Memantau perencanaan pengelolaan


lingkungan yang telah dimasukkan
dalam perencanaan umum, pra studi
kelayakan, studi kelayakan dan
rencana teknis

2.

Pengadaan Tanah

- Memantau pelaksanaan pengelolaan


lingkungan pada saat pelaksanaan
pengadaan tanah

3.

Konstruksi Jalan

- Memantau pelaksanaan pengelolaan


lingkungan pada saat kegiatan
konstruksi jalan

31-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

- Memantau kondisi lingkungan dengan


cara membandingkan baku mutu
lingkungan hidup yang berlaku
4.

Pengoperasian dan Pemeliharaan - Memantau pelaksanaan pengelolaan


Jalan
lingkungan pada saat pengoperasian
dan pemenliharaan jalan
- Memantau kondisi lingkungan dengan
cara membandingkan baku mutu
lingkungan hidup yang berlaku

5.

- Memantau status kualitas lingkungan

Evaluasi Pasca Pembangunan


Jalan

Secara umum studi lingkungan pada tahap pra konstruksi/perencanaan perlu sudah
dilaksanakan dengan baik, meskipun waktu pelaksanaannya terkadang tidak sesuai
dengan tahapan seperti yang digambarkan pada gambar 5.2. Sayangnya terkadang
hasil studi tersebut hanya berhenti sampai pada tahap studi/rencana, dan tidak
diaplikasikan dalam pengelolaan lingkungan dalam tahap konstruksi maupun
operasional. Beberapa kendala yang menyebabkan hal ini antara lain adalah: hasil
studinya sendiri tidak bisa diintegrasikan dalam desain/pelaksanaan konstruksi;
kendala lainnya adalah tidak ada satu klausul pun dalam dokumen lelang/dokumen
kontrak menyinggung masalah bagaimana pengelolaan lingkungan seharusnya
dilaksanakan dalam pekerjaan konstruksi dan juga menyangkut masalah
pembiayaannya, sehingga dalam pelaksanaan konstruksinya sendiri tidak ada
kekuatan hukum yang mengikat kontraktor untuk melaksanakan kegiatan pengelolaan
dampak lingkungan.
Monitoring pelaksanaan pengelolaan lingkungan selama proses konstruksi dan
operasional juga masih sangat lemah pelaksanaannya.
Uraian secara umum mengenai perencanaan, pelaksanaan
lingkungan hidup bidang jalan disajikan pada butir berikut.

7. PERENCANAAN
JALAN

PENGELOLAAN

LINGKUNGAN

dan

HIDUP

pemantauan

BIDANG

Kegiatan pada tahap perencanaan merupakan awal kegiatan pembangunan jalan


dalam siklus proyek yang meliputi perencanaan umum, pra studi kelayakan, studi
kelayakan dan perencanaan teknis.
7.1 Perencanaan Umum
Perencanaan umum jaringan jalan adalah kumpulan rencana ruas-ruas jalan beserta
besaran pencapaian sasaran kinerja pelayanan jalan tertentu untuk jangka panjang
dan jangka menengah. Rencana umum jaringan jalan disusun berdasarkan rencana
pembangunan nasional, rencana tata ruang dan rencana umum jaringan transportasi.
Dalam perencanaan umum jaringan jalan perlu memperhatikan aspek lingkungan
hidup, diantaranya dengan cara menghindari daerah-daerah yang dianggap sensitif
yaitu kawasan lindung dan kawasan tertentu yang tergolong sensitif mengalami
perubahan atau dampak lingkungan. Hal tersebut diperlukan dalam rangka mencegah

32-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

dampak lingkungan yang akan terjadi pada saat pelaksanaan konstruksi,


pengoperasian jalan dan pemeliharaan jalan. Di samping itu juga perlu dilakukan
konsultasi masyarakat sebagai bahan pertimbangan penentuan rute atau koridor jalan.
a. Kesesuaian dengan Tata Ruang
Dalam pemilihan rute jalan atau koridor jalan perlu memperhatikan dan
menyesuaikan dengan tata ruang wilayah (RTRW) nasional, provinsi, kabupaten
dan kota yang telah ditetapkan. Seperti yang telah diuraikan di atas penyusunan
RTRW harus sudah mengacu pada KLHS nasional, propinsi, kabupaten/kota (UU
No 32 tahun 2009).
b. Memperhatikan daerah sensitif (sensitive area)
Pemilihan rute jalan atau koridor jalan perlu memperhatikan daerah sensitif:
kawasan lindung dan kawasan tertentu di luar kawasan lindung. Karena
karakteristiknya yang khas/spesifik, maka dampak negatif yang akan timbul oleh
suatu kegiatan di daerah sensitif potensinya lebih besar dibandingkan di daerah
yang bukan sensitif. Bila kegiatan pembangunan jalan melalui daerah sensitif,
maka harus memenuhi ketentuan perizinan yang diatur oleh pemerintah dan
pemerintah daerah menurut kewenangan dan ketentuan peraturan perundangundangan.
Yang termasuk daerah sensitif yaitu kawasan lindung dan kawasan tertentu di luar
kawasan lindung.
Kawasan Lindung mencakup:
1. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahnya yaitu: kawasan
hutan lindung, kawasan bergambut, kawasan resapan air;
2. Kawasan perlindungan setempat yaitu: sempadan pantai, sempadan sungai,
kawasan sekitar danau/waduk, dan kawasan sekitar mata air;
3. Kawasan suaka alam dan cagar budaya yaitu: kawasan suaka alam, kawasan
suaka alam laut dan perairan lainnya, kawasan pantai, kawasan pantai berhutan
bakau, taman nasional, taman hutan raya, taman wisata alam, cagar alam,
suaka margasatwa, serta kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan.
4. Kawasan rawan bencana alam yaitu: kawasan rawan letusan gunung berapi,
kawasan rawan gempa bumi, kawasan rawan tanah longsor, kawasan rawan
gelombang pasang dan kawasan rawan banjir;
5. Kawasan lindung lainnya yaitu: taman buru, cagar biosfer, kawasan
perlindungan plasma nutfah, kawasan pengungsian satwa dan terumbu karang.
Sumber: Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 tahun 2007 tentang
Penataan Ruang
Daerah Sensitif di Luar Kawasan Lindung mencakup:
1. Daerah komunitas rentan, mencakup komunitas adat termasuk Komunitas Adat
Terpencil (KAT) dan Kelompok Fakir Miskin
2. Daerah berlereng curam (kemiringan lereng > 40%)
3. Daerah rawan banjir
4. Kawasan komersial
5. Kawasan permukiman
6. Lahan produktif
7. Kawasan sekolah

33-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

8. Kawasan rumah sakit


9. Perpotongan jalan dengan jalur kereta api
10. Kawasan perbatasan negara
Sumber: IMES 2008
Berdasarkan pertimbangan kesamaan karakteristik biogeofisik dan sosialnya dan
tujuan perlindungannya, daerah sensitif dikelompokkan dalam 7 (tujuh) kelompok
yang dapat dilihat pada tabel 7.1. Secara rinci kriteria (ciri-ciri) daerah sensitif dan
tujuan perlindungannya dapat dilihat pada Lampiran 1.
Tabel 7.1 Pengelompokkan Daerah Sensitif
Kelompok Daerah Sensitif

Jenis Daerah Sensitif


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
1.
2.
1.

1. Kawasan Hutan

2. Kawasan Lindung di Luar Kawasan


Hutan

3. Kawasan Rawan Bencana Alam


4. Kawasan Cagar Budaya

2.
1.
5. Daerah Komunitas Rentan
6. Kawasan Komersial, Permukiman dan
Lahan Produktif

7. Kawasan Khusus

2.
1.
2.
3.
1.
2.
3.
4.

Sumber: IMES 2008

34-53

Cagar Alam
Suaka Margasatwa
Daerah Pengungsian Satwa
Taman Nasional
Taman Hutan Raya
Taman Wisata Alam
Taman Buru
Hutan Lindung
Lahan Basah
Kawasan Resapan Air
Sempadan Sungai
Sempadan Pantai
Kawasan Sekitar Danau/Waduk
Kawasan Sekitar Mata Air
Pantai Berhutan Bakau
Suaka Alam Laut dan Perairan Lainnya
Kawasan Rawan Bencana Alam
Daerah Berlereng Curam
Cagar Budaya dan Bangunan
Monumental
Areal/Tempat Dilindungi
Komunitas Adat, termasuk Komunitas
Adat Terpencil (KAT)
Kelompok Fakir Miskin
Kawasan Komersial
Kawasan Permukiman
Lahan Produktif
Kawasan Sekolah
Kawasan Rumah Sakit
Perpotongan Jalan dengan Jalur
Kereta Api
Kawasan Perbatasan Negara

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

c. Konsultasi Masyarakat
Berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 34 tahun 2006 tentang Jalan,
masyarakat dapat ikut berperan dalam pengaturan, pembinaan, pembangunan dan
pengawasan jalan.
Konsultasi masyarakat merupakan suatu forum keterlibatan masyarakat dalam
proses penyelenggaraan jalan. Pada saat pemilihan alternatif rute rencana
pembangunan jalan perlu dilakukan konsultasi dengan masyarakat untuk
menampung pendapat, usulan, saran dan tanggapan sebagai bahan pertimbangan
untuk pemilihan rencana rute jalan.
Konsultasi masyarakat dilaksanakan dengan berbagai metode dan dengan berbagai
pemangku kepentingan antara lain yang mewakili golongan/kelompok masyarakat
yang terkena proyek, mewakili instansi, lembaga swadaya masyarakat, mewakili
kelompok profesi, dan mewakili instansi pemerintah daerah.
7.2 Pra Studi Kelayakan
Kegiatan pada tahap ini adalah penentuan alternatif koridor jalan, rute jalan
(alinyemen) termasuk menganalisis kelayakan (sementara) tiap alternatif koridor
tersebut berdasarkan pertimbangan teknis, ekonomi, finansial dan lingkungan hidup.
Penerapan aspek lingkungan hidup pada tahap ini adalah penyaringan jenis studi
lingkungan (environmental screening) dan pelingkupan isu lingkungan yang perlu
dikaji dalam studi lingkungan.
a. Penyaringan Jenis Studi Lingkungan
Studi lingkungan untuk suatu rencana kegiatan merupakan salah satu usaha
pengelolaan lingkungan hidup. Studi lingkungan diperlukan dalam rangka
mencegah, mengurangi dan menanggulangi potensi dampak yang ditimbulkan
kegiatan pembangunan jalan.
Pada tahap perencanaan umum diperlukan penyaringan jenis studi lingkungan
berdasarkan pertimbangan kriteria dampak penting, peraturan tentang jenis
kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL atau wajib dilengkapi UKL-UPL. Hasil dari
penyaringan ini adalah jenis kajian studi lingkungan yang harus dilaksanakan untuk
suatu rencana kegiatan apakah itu AMDAL, UKL/UPL atau SOP/wajib membuat
surat pernyataan kesanggupan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.
Studi kajian lingkungan tersebut akan dilakukan pada tahap studi

kelayakan/Perencanaan.
b. Pelingkupan Isu Lingkungan
Pelingkupan isu lingkungan merupakan kajian awal lingkungan hidup yang berupa
penentuan pelingkupan dampak potensial berdasarkan identifikasi dampak,
evaluasi dan klasifikasi dampak serta prioritas dampak penting. Hasil pelingkupan
ini selanjutnya merupakan bahan penyusunan Kerangka Acuan ANDAL.
Hasil kajian awal lingkungan ini juga merupakan bagian dari laporan pra studi
kelayakan.
7.3 Studi Kelayakan

35-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Kegiatan utama studi kelayakan dalam rencana pembangunan bidang jalan mencakup
analisis kelayakan teknis, kelayakan finansial dan ekonomi serta kelayakan lingkungan.
Analisis kelayakan lingkungan dilaksanakan melalui studi lingkungan hidup yaitu
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) atau Upaya Pengelolaan
Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). Studi
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup merupakan bagian dari studi kelayakan.
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup merupakan syarat yang harus dipenuhi
untuk mendapatkan penetapan kelayakan lingkungan yang diterbitkan oleh pejabat
yang berwenang. Pernyataan layak lingkungan hidup suatu rencana pembangunan
bidang jalan harus dinyatakan dalam dokumen AMDAL atau UKL-UPL sebagai
kesimpulan dari hasil studi lingkungan. Menteri, gubernur, bupati/walikota akan
menerbitkan izin lingkungan bagi suatu rencana usaha/kegiatan yang sudah
mendapatkan penetapan kelayakan Lingkungan (Pasal 36 Undang-undang No. 32
tahun 2009). Di samping itu pemrakarsa rencana pembangunan bidang jalan juga
wajib memberikan pernyataan akan melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana
pengelolaan lingkungan hidup.
7.3.1 Studi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL)
Analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak
besar dan penting suatu kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang
diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan kegiatan.
Hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup digunakan sebagai bahan
perencanaan pembangunan. Oleh karena itu dalam dokumen AMDAL seyogyanya
sudah mengantisipasi potensi-potensi dampak lingkungan yang penanganannya perlu
dimasukkan/diintegrasikan dalam desain jalan, termasuk juga sudah mengantisipasi
diperlukannya perlengkapan jalan untuk keselamatan pemakai jalan. AMDAL
disiapkan oleh pemrakarsa atau penanggung jawab kegiatan.
Pemrakarsa kegiatan menyusun dokumen konsep AMDAL (Dokumen Kerangka Acuan,
Analisis Dampak Lingkungan Hidup, Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dan
Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup) kemudian diajukan kepada Komisi Penilai di
tingkat pusat atau di tingkat daerah. Selanjutnya dokumen konsep AMDAL dinilai oleh
Komisi Penilai dan berdasarkan hasil penilaian akan diterbitkan kesepakatan untuk
Kerangka Acuan dan keputusan kelayakan lingkungan hidup terhadap kegiatan yang
direncanakan tersebut. Menteri, gubernur, bupati/walikota akan menerbitkan izin
lingkungan bagi suatu rencana usaha/kegiatan yang sudah mendapatkan penetapan
kelayakan lingkungan
a. Penyusunan AMDAL
Tata cara penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan telah diatur dalam
Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 08 tahun 2006 tentang
Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.
Dalam Pedoman tersebut diatur tata cara penyusunan Kerangka Acuan Analisis
Dampak Lingkungan (KA-ANDAL), penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup
(ANDAL), penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan
penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL).

36-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Hal penting dalam proses penyusunan AMDAL adalah keterlibatan masyarakat dan
keterbukaan informasi kepada masyarakat yang terkait dengan rencana
pembangunan jalan. Prosedur pelaksanaan keterlibatan masyarakat dan
keterbukaan informasi berdasarkan keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 08 Tahun
2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi Dalam Proses
AMDAL. Dalam proses ini masyarakat menyampaikan aspirasi, keluhan dan nilainilai yang dimiliki masyarakat, serta usulan penjelasan masalah dari masyarakat
yang berkepentingan untuk memperoleh keputusan yang terbaik.
b. Penilaian Dokumen AMDAL
Tata cara penilaian AMDAL diatur berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 27
tahun 1999 dan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 05 tahun
2008 tentang Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Hidup. Komisi Penilai AMDAL di tingkat pusat dibentuk oleh Menteri Negara
Lingkungan Hidup, di tingkat Provinsi oleh Gubernur, di tingkat Kabupaten oleh
Bupati dan ditingkat Kota oleh Walikota. Komisi Penilai mempunyai fungsi
memberikan masukan dan dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan
kesepakatan kerangka acuan dan kelayakan lingkungan hidup atas rencana
kegiatan. Komisi penilai dibantu oleh tim teknis dan sekretariat Komisi Penilai.
Penilaian Dokumen AMDAL (KA-ANDAL, ANDAL, RKL dan RPL) dilakukan oleh
Komisi Penilai AMDAL, dengan ketentuan sebagai berikut:
-

Rencana kegiatan pembangunan jalan yang melintasi lebih dari satu wilayah
provinsi, dan untuk kegiatan yang bersifat strategis di wilayah sengketa
dengan negara lain, di wilayah laut lebih dari 12 (dua belas) mil laut dari
pantai ke laut lepas dan/atau di lintas batas Negara Kesatuan Republik
Indonesia dengan negara lain, dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL Pusat (di
Kementerian Negara Lingkungan Hidup/KLH);
Rencana kegiatan pembangunan jalan yang melintasi lebih dari satu kabupaten
atau
kota,
dinilai
oleh
Komisi
Penilai
AMDAL
Provinsi
(di
Bapedalda/BPLHD/Dinas Lingkungan Hidup Provinsi);
Rencana kegiatan pembangunan jalan yang berlokasi dalam wilayah satu
kabupaten atau kota dan yang bersifat strategis yaitu pembangunan jalan tol
dengan skala semua besaran, dinilai oleh Komisi Penilai AMDAL Kabupaten
atau Kota (di Bapedalda/ BPLHD/ Dinas Lingkungan Hidup kabupaten atau
kota).

Penilaian dokumen AMDAL dilakukan dalam bentuk rapat dengan cara


mempresentasikan atau memaparkan konsep dokumen tersebut dihadapan komisi
Penilai oleh Pemrakarsa dan Konsultan yang membantu menyusun dokumen
AMDAL. Semua saran, pendapat dan tanggapan para anggota komisi penilai yang
disampaikan saat rapat presentasi wajib segera ditanggapi oleh pemrakarsa dalam
rangka penyempurnaan dokumen AMDAL.
Hasil dari penilaian Kerangka Acuan (ANDAL) adalah Keputusan Kesepakatan
Kerangka Acuan (KA ANDAL) yang ketentuannya adalah:
- Keputusan kesepakatan Kerangka Acuan akan diterbitkan oleh ketua Komisi
Penilai berdasarkan hasil penilaian Komisi Penilai;
- Keputusan atas penilaian konsep Kerangka Acuan diterbitkan dalam jangka
waktu selambat - lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak
diterimanya konsep Kerangka Acuan;

37-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

- Apabila melebihi jangka waktu tersebut, maka Kerangka Acuan dianggap telah
disepakati.
Hasil dari penilaian ANDAL, RKL dan RPL adalah berupa Keputusan Kelayakan
Lingkungan Hidup dengan ketentuan sebagai berikut:
- Keputusan kelayakan lingkungan hidup terhadap rencana kegiatan akan
diterbitkan oleh:
a.
b.
c.
d.

Menteri Negara Lingkungan Hidup di tingkat pusat;


Gubernur bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai provinsi;
Bupati bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai kabupaten;
Walikota bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai kota.

- Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu kegiatan atas penilaian ANDAL,


RKL dan RPL akan diterbitkan dalam jangka waktu selambat lambatnya 75
(tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak diterimanya konsep dokumen
ANDAL, RKL dan RPL.
- Apabila dalam jangka waktu tersebut belum diterbitkan keputusan kelayakan
lingkungan hidup, maka rencana kegiatan dimaksud dianggap telah layak
lingkungan hidup.
- Keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa apabila:
-

Rencana kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun


sejak diterbitkannya keputusan kelayakan tersebut. Bila keputusan kelayakan
lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa, maka untuk melaksanakan
kegiatan tersebut pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan
persetujuan ANDAL, RKL, RPL kepada instansi yang bertanggung jawab.

- Keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan batal atas kekuatan


Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1999 tentang AMDAL apabila:
-

Pemrakarsa memindahkan lokasi kegiatan;


Pemrakarsa mengubah desain, kapasitas, bahan baku dan bahan penunjang;
Terjadi perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar akibat peristiwa
alam atau akibat lain sebelum melaksanakan kegiatan.

Bila pemrakarsa akan melaksanakan kegiatan, maka pemrakarsa wajib membuat


AMDAL baru sesuai ketentutan yang berlaku.
Menteri, gubernur, bupati/walikota akan menerbitkan izin lingkungan bagi suatu
rencana usaha/kegiatan yang sudah mendapatkan penetapan kelayakan
lingkungan. Izin lingkungan dapat dibatalkan apabila:
-

persyaratan yang diajukan mengandung cacat hukum, kekeliruan,


penyalahgunaan, serta ketidakbenaran dokumen,data dan informasi

penerbitannya tidak memenuhi syarat sebagaimana tercantum dalam


keputusan komisi tentang kelayakan lingkungan atau rekomendasi UKL/UPL

kewajiban yang tercantum dalam dokumen AMDAL dan UKL/UPL tidak


dilaksanakan oleh penanggungjawab kegiatan

Izin lingkungan merupakan persyaratan untuk memperoleh izin usaha/kegiatan

38-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Apabila studi AMDAL dilaksanakan sesuai dengan tahapan dalam siklus


pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan (gambar 5.2)
maka tidak akan menjadi hambatan dalam pelaksanaan pembangunan jalan
tahap berikutnya.
7.3.2 Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan
Lingkungan (UPL)
Rencana kegiatan pembangunan bidang jalan yang tidak wajib dilengkapi dengan
AMDAL, dan/atau memenuhi kriteria Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor
10/PRT/M/2008 maka wajib dilengkapi dengan Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL)
dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). Tata cara penyusunan dokumen UKL
dan UPL diatur dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 86 tahun
2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Upaya
Pemantauan Lingkungan Hidup.
UKL dan UPL bukan bagian dari AMDAL namun mempunyai tujuan yang sama yaitu
mencegah, mengurangi atau menanggulangi dampak negatif dan meningkatkan
dampak positif dari kegiatan terhadap lingkungan hidup. Agar dapat diintegrasikan
dalam desain jalan,maka UKL/UPL seyogyanya juga sudah mengantisipasi dampak
lingkungan yang dalam pengelolaannya perlu dimasukkan dalam desain, termasuk
perlengkapan jalan untuk keselamatan pemakai jalan. Agar tidak menghambat
pelaksanaan konstruksi, sebaiknya studi dilakukan pada tahap studi kelayakan atau
perencanaan umum.
a. Penyusunan UKL-UPL
Penyusunan dokumen UKL dan UPL didasarkan pada hasil identifikasi kegiatan,
rona lingkungan dan dampak lingkungan hidup. Pada penyusunan dokumen UKL
dan UPL tidak diperlukan analisis atau kajian mendalam. Data dan informasi yang
digunakan sebagian besar berupa data sekunder dilengkapi dengan data primer
hasil survai sesuai dengan kebutuhan.
Pelaksanaan UKL dan UPL pembangunan jalan berada langsung di bawah
pembinaan instansi yang membidangi pembangunan jalan di tingkat pusat yaitu
Departemen Pekerjaan Umum cq. Direktorat Jenderal Bina Marga atau di tingkat
daerah yaitu Dinas yang bersangkutan.
b. Rekomendasi Dokumen UKL-UPL
Dokumen UKL dan UPL perlu mendapat rekomendasi dari instansi yang
bertanggung jawab dalam pengelolaan lingkungan hidup di tingkat pusat (KLH)
maupun tingkat daerah (Bapedalda/BPLHD/Dinas LH Provinsi, Kabupaten atau
Kota).
c. Izin Lingkungan
Berdasarkan rekomendasi tersebut menteri,gubernur, bupati/walikota
menerbitkan izin lingkungan bagi suatu rencana usaha/kegiatan.

akan

7.3.3. Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan


Lingkungan Hidup
Setiap rencana usaha/kegiatan yang tidak termasuk dalam kategori berdampak
penting, tidak wasjib dilengkapi UKL/UPL atau kegiatan usaha kecil dan mikro wajib

39-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

membuat Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan


Hidup.
7.3.4. Audit Lingkungan dan Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Sehubungan ketentuan peralihan yang tercantum pada Undang-undang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Nomor 32 tahun 2009, pasal 121 (ayat 1 dan 2)
maka berlaku ketentuan sebagai berikut:

Dalam waktu 2 tahun sejak berlakunya Undang-undang tersebut (3 Oktober 2009),


apabila terdapat kegiatan pembangunan jalan yang sedang dan telah dilaksanakan
namun tidak memiliki dokumen AMDAL maka wajib dilakukan Audit Lingkungan
terhadap kegiatan tersebut.

Dalam waktu 2 tahun sejak berlakunya Undang-undang tersebut (3 Oktober 2009),


apabila terdapat kegiatan pembangunan jalan yang sedang dan telah dilaksanakan
namun tidak memiliki dokumen UKL/UPL maka wajib membuat Dokumen
Pengelolan Lingkungan Hidup.

7.4 Perencanaan Teknis


Perencanaan teknis merupakan kegiatan penyusunan dokumen desain jalan yang
berisi gambaran pembangunan jalan yang ingin diwujudkan. Perencanaan teknis
dilakukan secara optimal dengan memperhatikan aspek lingkungan hidup.
Kegiatan pada tahap perencanaan teknis antara lain adalah:
- Penetapan trase atau rute jalan secara definitif berdasarkan pertimbangan
kelayakan teknis, kelayakan ekonomis dan finansial, dan kelayakan lingkungan;
- Pembuatan gambar rencana teknis rinci jalan, jembatan dan bangunan
pelengkapnya berdasarkan standar, pedoman teknis maupun manual yang berlaku;
- Perhitungan pembiayaan konstruksi jalan, jembatan dan bangunan pelengkapnya;
- Penyusunan dokumen lelang dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi.
Penerapan pertimbangan lingkungan yang diperlukan pada tahap ini adalah
penjabaran Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) atau Upaya Pengelolaan
Lingkungan Hidup (UKL) terhadap perencanaan teknis, dalam bentuk gambar teknis
maupun program-program sosialisasi atau koordinasi dengan instansi terkait (terutama
pengelola utilitas, infrastruktur, fasilitas umum yang terpengaruh rencana konstruksi
jalan). Persyaratan teknis jalan harus memenuhi ketentuan keamanan, keselamatan
dan lingkungan.
Untuk keperluan perencanaan teknis, maka konsultan perencanaan teknis harus
memahami isi Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) atau isi Upaya Pengelolaan
Lingkungan Hidup (UKL) dari pembangunan jalan tersebut. Sebaiknya anggota tim
konsultan perencanaan teknis dilengkapi dengan tenaga ahli lingkungan hidup.

7.5 Penyiapan
Dokumen
Lelang
dan
Dokumen
Kontrak
yang
Mencantumkan Persyaratan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan
Hidup

40-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Berdasarkan Undang-Undang nomor 18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi,


penyelenggaraan pekerjaan konstruksi wajib memenuhi ketentuan kerja, keteknikan,
keamanan dan kesehatan perlindungan tenaga kerja, serta tata lingkungan
setempat untuk menjamin terwujudnya tertib penyelenggaraan pekerjaan konstruksi.
Agar pekerjaan konstruksi jalan dan pengelolaan lingkungan hidup dapat dilaksanakan
dengan baik dan benar, maka persyaratan pengelolaan lingkungan hidup yang telah
diuraikan dalam dokumen RKL-RPL atau UKL-UPL harus dijadikan acuan dalam
dokumen lelang dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi jalan, termasuk besarnya
biaya pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan.
Bagi kegiatan pembangunan jalan yang tidak wajib dilengkapi dokumen AMDAL atau
dokumen UKL-UPL maka perlu memasukkan Pedoman Mitigasi Dampak Standar
Pekerjaan Jalan Tahap Konstruksi dalam dokumen lelang dan dokumen kontrak
pekerjaan konstruksi jalan.
Tahapan ini seringkali tidak/belum dilakukan, sehingga menjadi titik lemah dalam
pelaksanaan pengelolaan lingkungan selama konstruksi, karena biaya yang dibutuhkan
dalam mengelola dampak lingkungan belum dimasukkan dalam dokumen kontrak.
7.6

Perencanaan Pengadaan Tanah

Pengadaan tanah untuk lokasi pembangunan jalan merupakan salah satu kegiatan
yang berpotensi menimbulkan dampak negatif penting terhadap kondisi sosial
ekonomi budaya masyarakat yang terkena pembebasan tanah. Seringkali pekerjaan
konstruksi jalan terhambat bahkan tidak dapat dilaksanakan karena pengadaan tanah
berlarut-larut. Untuk mencegah dan mengurangi dampak sosial ekonomi budaya
masyarakat, maka perlu dilakukan kajian sosial ekonomi budaya yang obyektif dan
akurat. Hal tersebut dilakukan dalam rangka penyusunan rencana pengadaan tanah
dan pemukiman kembali (LARAP). Penyusunan rencana pengadaan tanah dan
permukiman kembali dimaksudkan untuk memperoleh gambaran terinci tentang
penduduk yang terkena dampak pengadaan tanah, jenis dan besaran kerugian yang
mungkin terjadi. Tujuannya adalah untuk menyusun rencana tindak dalam
penanganan dampaknya, terutama dalam upaya pemulihan dan peningkatan sosial
ekonomi penduduk yang terkena dampak. Dalam proses penyusunan LARAP
diperlukan konsultasi masyarakat untuk mendapatkan informasi, saran, pendapat,
harapan dan kesepakatan yang akan menjadi acuan dalam proses pengadaan tanah
yang akan dilaksanakan.
Berbeda dengan penyiapan dokumen AMDAL atau UKL/UPL yang sifatnya wajib untuk
disiapkan/dibuat untuk mendapatkan rekomendasi kelayakan lingkungan suatu
rencana kegiatan, dan keharusannyapun diatur oleh Undang-Undang/Peraturan
Pemerintah/Peraturan Menteri, maka penyiapan dokumen LARAP dalam pengadaan
lahan sifatnya adalah himbauan/anjuran. Tidak ada peraturan yang mengharuskan
pembuatannya/penyusunannya, yang ada adalah peraturan bagaimana pengadaan
tanah tersebut dilaksanakan. Studi analisis dampak sosial (yang menghasilkan
rekomendasi berupa dokumen LARAP) merupakan kajian lanjutan yang lebih
mendalam dari kajian aspek sosial dalam dokumen AMDAL/UKL-UPL. Pelaksanaan
studinya bisa dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan studi AMDAL/UKL-UPL.

41-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

8. PELAKSANAAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP


Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan adalah pelaksanaan atau
implementasi kegiatan pengelolaan lingkungan hidup dalam rangka mencegah,
mengurangi dan menanggulangi dampak negatif dan meningkatkan dampak positif
terhadap lingkungan hidup pada tahap pelaksanaan konstruksi jalan, pengoperasian
dan pemeliharaan jalan. Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan
dilaksanakan berdasarkan arahan dan rekomendasi yang telah diuraikan dalam
Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) atau Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup
(UKL) yang telah disusun.
Pelaksanaan pengelolaan lingkungan pada pembangunan jalan terutama dilakukan
pada kegiatan-kegiatan sebagai sumber dampak terhadap lingkungan dan komponen
lingkungan hidup yang terkena dampak.
8.1 Kegiatan Pengadaan Tanah
Salah satu kegiatan pembangunan jalan yang berpotensi menimbulkan dampak sosial
adalah pengadaan tanah sebelum pelaksanaan konstruksi jalan. Dampak sosial yang
mungkin terjadi di antaranya keresahan masyarakat, hilangnya mata pencaharian dan
pendapatan, kegiatan usaha, berubahnya aset dan terganggunya kegiatan sosial
akibat pembebasan tanah dan atau pemukiman kembali.
Pelaksanaan pengadaan tanah ketentuannya mengacu pada Peraturan Kepala Badan
Pertanahan Nasional Nomor 3 tahun 2007 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan
Presiden Nomor 36 tahun 2006, tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan
Pembangunan untuk Kepentingan Umum dan sebagaimana yang diubah dalam
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 65 tahun 2006.
Pada tahap ini, kegiatan pengadaan tanah dilaksanakan berdasarkan pada rencana
pengadaan tanah (LARAP) yang telah disusun pada tahap sebelumnya. Pengalaman
menunjukkan bahwa LARAP sangat bermanfaat sebagai acuan dalam melaksanakan
pembebasan tanah untuk pembangunan jalan.
8.2 Pekerjaan Konstruksi Jalan
Kegiatan pada tahap konstruksi meliputi pekerjaan pembersihan lahan (land clearing),
pekerjaan tanah (earth work) yang mencakup galian dan timbunan (cut and fill),
pekerjaan drainase (drainage), pekerjaan jembatan, pekerjaan badan jalan,
pemasangan perlengkapan jalan, penghijauan dan pertamanan serta penanganan sisa
pembersihan lahan dan sisa konstruksi jalan.
Dampak-dampak lingkungan yang perlu dikelola pada tahap konstruksi jalan secara
umum adalah:
a. Di lokasi kegiatan pembangunan jalan.
1) Persiapan konstruksi
a) Penanganan dampak
b) Penanganan dampak
c) Penanganan dampak
d) Penanganan dampak

akibat
akibat
akibat
akibat

mobilisasi tenaga kerja


mobilisasi peralatan berat
pembuatan jalan masuk/jalan akses
pembangunan base camp

42-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

2) Pelaksanaan konstruksi
a) Penanganan dampak akibat pembersihan lahan
b) Penanganan dampak akibat pekerjaan tanah
c) Penanganan dampak akibat pekerjaan drainase
d) Penanganan dampak akibat pekerjaan badan jalan
e) Penanganan dampak akibat pekerjaan jembatan
f) Penghijauan dan pertamanan
g) Penanganan dampak akibat pemasangan perlengkapan jalan
h) Penanganan dampak akibat sisa pembersihan lahan dan sisa pekerjaan
konstruksi
b. Di lokasi quarry dan jalur angkutan material
1) Penanganan dampak akibat pengambilan material bangunan di quarry
2) Penanganan dampak akibat pengangkutan material bangunan
c. Di lokasi basecamp
Penanganan dampak akibat pengoperasian base camp.
Pemantapan RKL atau UKL mungkin diperlukan apabila terjadi perubahan atau revisi
desain saat pelaksanaan pekerjaan konstruksi.
8.3 Pengoperasian dan Pemeliharaan Jalan
Kegiatan pada tahap ini adalah pengoperasian jalan dan pemeliharaan jalan agar
dapat dimanfaatkan sesuai standar pelayanan yang diinginkan pemrakarsa dan
pengguna jalan.
Dampak negatif yang terjadi terhadap lingkungan dan perlu dikelola pada saat
pengoperasian jalan terutama adalah pencemaran udara, kebisingan, timbulnya
getaran, terganggunya stabilitas tanah, terjadinya genangan air, resiko kecelakaan lalu
lintas dan perubahan penggunaan lahan. Sedangkan dampak positif berupa
meningkatnya pelayanan jalan perlu terus dikelola agar dapat ditingkatkan.
Lingkup pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap ini yang mencakup
kegiatan pengoperasian dan pemeliharaan jalan adalah:
a.

Penanganan dampak akibat pengoperasian jalan


1)
2)
3)
4)
5)

b.

Penanganan
Penanganan
Penanganan
Penanganan
Penanganan

dampak
dampak
dampak
dampak
dampak

menurunnya kualitas udara


meningkatnya kebisingan
meningkatnya getaran
berubahnya penggunaan lahan
terhadap genangan atau banjir

Penanganan dampak akibat pemeliharaan jalan


1) Penanganan dampak terhadap gangguan lalu lintas

9. PEMANTAUAN
JALAN

PENGELOLAAN

LINGKUNGAN

HIDUP

BIDANG

Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan adalah kegiatan memantau


kegiatan pembangunan jalan sejak perencanaan hingga pelaksanaan pengelolaan

43-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

lingkungan hidup. Lingkup kegiatannya adalah mencakup kegiatan pemantauan


terhadap komponen kegiatan yang dianggap menimbulkan dampak lingkungan dan
komponen (parameter) lingkungan yang dianggap terkena dampak dan kegiatan
pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan hingga pelaksanaan
pembangunan jalan.
Pelaksanaan pemantauan lingkungan hidup bertujuan untuk:
- Mengidentifikasi kesesuaian pelaksanaan pengelolaan lingkungan yang dilakukan
dengan rencana pengelolaan lingkungan hidup;
- Menilai dan mengevaluasi tingkat keberhasilan pelaksanaan pengelolaan lingkungan
yang telah dilakukan.
Untuk memudahkan pengawasan dan evaluasi hasil pelaksanaan Rencana Pengelolaan
Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL), maka
perlu dibuat laporan pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan
Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) sesuai keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup nomor 45 tahun 2005. Maksud dari penyusunan laporan tersebut
adalah:
- Memberikan kemudahan kepada pemrakarsa dalam membuat laporan pelaksanaan
RKL dan RPL;
- Memberikan kemudahan kepada instansi terkait dalam pengawasan pelaksanaan
RKL dan RPL;
- Memanfaatkan data hasil pemantauan lingkungan dalam menerapkan sistem
pengelolaan lingkungan berdasarkan prinsip perbaikan yang menerus (continual

improvement).
9.1 Pemantauan pada Tahap Perencanaan
Pemantauan pada tahap perencanaan mencakup pemantauan terhadap kegiatan
perencanaan umum, pra studi kelayakan, studi kelayakan, dan perencanaan teknis
jalan yang mengintegrasikan dan menerapkan aspek lingkungan pada setiap
kegiatannya.
9.2 Pemantauan pada Tahap Pengadaan Tanah
Lingkup pemantauan lingkungan hidup mencakup pemantauan terhadap pelaksanaan
kegiatan pengadaan tanah dan komponen sosial ekonomi budaya yang terkena
dampak pembebasan tanah. Secara umum komponen sosial ekonomi budaya yang
perlu dipantau mencakup:
1)
2)
3)
4)
5)

Keresahan masyarakat;
Hilangnya aset;
Hilangnya mata pencaharian;
Terganggunya kegiatan sosial ekonomi budaya;
Tingkat kehidupan PTP.

9.3 Pemantauan pada Tahap Konstruksi


Lingkup pemantauan lingkungan pada kegiatan tahap konstruksi secara umum
mencakup:
a. Pemantauan komponen fisik-kimia

44-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

1) Pemantauan kualitas udara (partikulat dan debu);


2) Pematauan kebisingan;
3) Pemantauan getaran;
4) Pemantauan kualitas air permukaan (sungai, rawa, dan lain-lain);
5) Pemantauan kondisi stabilitas lereng/longsor dan erosi.
b. Pemantauan komponen biologi
1) Pemantauan flora (keberadaan jenis, kelimpahan dan status keberadaan jenis);
2) Pemantauan fauna (terganggunya habitat, mobilitas satwa, keberadaan jenis
dan statusnya).
c. Pemantauan komponen sosial ekonomi budaya
1) Pemantauan kesempatan kerja yang dapat diserap penduduk lokal;
2) Pemantauan kecemburuan sosial;
3) Pemantauan terganggunya hubungan sosial (kekerabatan) dan aksesibilitas;
4) Pemantauan kerusakan jalan;
5) Pemantauan gangguan atau kerusakan utilitas umum;
6) Pemantauan kondisi lalu lintas.
d. Pemantauan komponen kesehatan masyarakat
1) Pemantauan kondisi kesehatan masyarakat;
2) Pemantauan sanitasi;
3) Pemantauan kesehatan dan keselamatan kerja (K3).
9.4 Pemantauan pada Tahap Pengoperasian dan Pemeliharaan Jalan
a. Pengoperasian Jalan
1) Pemantauan komponen fisik-kimia
(1) Pemantauan kualitas udara (SO2, NO2, CO, debu, partikulat)
(2) Pematauan kebisingan
(3) Pemantauan getaran
(4) Pemantauan kualitas air permukaan (sungai, rawa, dan lain-lain)
(5) Pemantauan kondisi stabilitas lereng/longsor dan erosi
2)

Pemantauan komponen biologi


(1) Pemantauan flora (landscape dan tanaman)
(2) Pemantauan fauna (daerah lintasan satwa liar yang terpotong jalan)

3) Pemantauan komponen sosial ekonomi budaya


Pemantauan penggunaan lahan sekitar RUMIJA dan RUWASJA
b. Pemeliharaan Jalan
- Pemantauan kondisi lalu lintas (arus lalu lintas dan kecelakaan lalu lintas)
9.5 Evaluasi Kualitas Lingkungan pada Pasca Pembangunan Jalan
Evaluasi kualitas lingkungan adalah kegiatan untuk mengkaji dan menilai kondisi
lingkungan sepanjang koridor jalan terkait dengan pengoperasian jalan. Tujuan
evaluasi adalah untuk mengevaluasi kinerja pengelolaan dan pemantauan lingkungan
untuk perbaikan kinerja pemrakarsa secara menerus (continual improvement).
Evaluasi mencakup:
a. Evaluasi kecenderungan (trend evaluasi)

45-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Evaluasi kecenderungan adalah evaluasi untuk melihat kecenderungan (trend)


perubahan kualitas lingkungan dalam suatu rentang ruang dan waktu. Untuk
melakukan evaluasi ini memerlukan data seri hasil pemantauan.
b. Evaluasi tingkat kritis
Evaluasi tingkat kritis adalah evaluasi untuk menilai tingkat kritis (critical level) dari
suatu dampak pada suatu ruang dan waktu apakah melampaui baku mutu atau
standar lainnya.
c. Evaluasi penaatan
Evaluasi penaatan adalah evaluasi terhadap tingkat kepatuhan dari pemrakarsa
kegiatan untuk memenuhi berbagai ketentuan yang terkait dengan pengelolaan
lingkungan dan pemantauan lingkungan hidup.
Pada evaluasi kualitas lingkungan ini perlu membuat suatu kesimpulan yang memuat
hal-hal penting yang dihasilkan dari pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup. Selain itu juga perlu menguraikan temuan dan usulan untuk
perbaikan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup selanjutnya dan perbaikan
kinerja pemrakarsa dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan jalan.
9.6 Pelaporan Hasil Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan
Pemantauan Lingkungan Hidup
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah nomor 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup bahwa pemrakarsa kegiatan wajib menyampaikan laporan
pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL) dan rencana pemantauan
lingkungan hidup (RPL) kepada instansi yang membidangi pengendalian dampak
lingkungan hidup.
Format pelaporan pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana
Pemantauan Lingkungan (RPL) diatur dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan
Hidup nomor 45 tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan Laporan Pelaksanaan
Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan
Hidup (RPL).

10. INSTITUSI DALAM PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG


JALAN
10.1 Pemrakarsa Kegiatan Pembangunan Bidang Jalan
Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu
kegiatan yang akan dilaksanakan. Pejabat yang bertanggung jawab sebagai
pemrakarsa dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan adalah
Pemimpin Proyek atau Satuan Kerja atau Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)
perencanaan, pembangunan dan pemeliharaan jalan.
Tugas dan tanggung jawab pemrakarsa dalam pengelolaan lingkungan hidup bidang
jalan adalah merencanakan dan melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup pada
setiap kegiatan mulai dari perencanaan (perencanaan umum, pra studi kelayakan,
studi kelayakan, disain teknik), pengadaan tanah, pelaksanaan konstruksi,
pengoperasian dan pemeliharaan jalan.

46-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Pemrakarsa wajib mematuhi peraturan perundang-undangan yang terkait dalam


perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan
terkait dengan prosedur, baku mutu atau standar yang berlaku. Di samping itu juga
pemrakarsa wajib melakukan koordinasi dan konsultasi pada masyarakat dan instansi
terkait serta wajib membuat laporan hasil pengelolaan dan pemantauan lingkungan
hidup atas kegiatan bersangkutan.
Pemimpin Proyek atau Satuan Kerja atau PPK perencanaan, pembangunan dan
pemeliharaan jalan adalah pejabat yang bertanggung jawab sebagai pemrakarsa
dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan.
Kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang perlu dilaksanakan antara lain adalah:
a)
b)
c)

d)
e)
f)

g)
h)

Melakukan penyaringan penentuan jenis studi lingkungan AMDAL atau UKL-UPL;


Menyusun Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA - ANDAL);
Menyusun Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL), Rencana Pengelolaan
Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) apabila kegiatan
wajib dilengkapi AMDAL atau menyusun Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL)
dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL);
Menyusun dokumen Rencana Pengadaan Tanah (LARAP).
Konsultasi dan musyawarah dengan masyarakat yang akan terkena dampak,
mengenai rencana kegiatan proyek pembangunan jalan yang akan dilaksanakan;
Melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup untuk pencegahan atau
penanggulangan dampak negatif dan peningkatan dampk positif yang timbul
akibat kegiatan pembangunan jalan, baik pada tahap pra-konstruksi, konstruksi
dan pasca konstruksi.
Melakukan koordinasi dengan instansi terkait baik di tingkat pusat maupun
daerah, dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup;
Melaporkan hasil pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup
kepada instansi penanggung jawab pengelolaan lingkungan hidup di pusat atau di
daerah sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

10.2 Institusi Terkait


Beberapa institusi terkait dalam pengelolaan lingkungan hidup kegiatan pembangunan
jalan, adalah sebagai berikut.
10.2.1 Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda)
Instansi pemerintah yang terkait dengan pembangunan jalan dan pengelolaan
lingkungan hidup bidang jalan adalah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
(Bappeda). Pemrakarsa perlu melakukan konfirmasi dan konsultasi mengenai lokasi
rencana jaringan jalan yang terkait dengan tata ruang wilayah yang telah disusun oleh
BAPPEDA baik di lingkungan Provinsi, Kabupaten maupun Kota.
Peran lain BAPPEDA dalam pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan adalah
melakukan koordinasi dengan pemrakarsa yang menyangkut program dan
pelaksanaan pembangunan jalan yang harus sesuai dengan program perencanaan
pembangunan yang telah disusun oleh BAPPEDA. Agar masalah lingkungan dan sosial
yang mungkin terjadi, dapat dicegah atau dikurangi seminimal mungkin.

47-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

10.2.2 Instansi Pengelola Lingkungan Hidup


Instansi yang bertanggung jawab dalam pengelolaan lingkungan hidup di pusat,
provinsi, kabupaten dan kota mempunyai nama yang berbeda yaitu:
-

Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH);


Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah (BAPEDALDA);
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD);
Dinas Lingkungan Hidup (DLH);
Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK);
Dinas Analisis Dampak Lingkungan;
Dan lain-lain.

Instansi tersebut berperan dalam pembinaan dan koordinasi pengendalian


pencemaran dan kerusakan lingkungan, dan pengawasan pelaksanaan pengelolaan
lingkungan hidup di pusat dan daerah. Selain itu mempunyai peran penting dalam
penilaian dokumen studi lingkungan.
Tugas pembinaan dan koordinasi pengendalian dan pengawasan pengelolaan
lingkungan hidup bidang jalan antara lain:



Memberi masukan tentang tata cara pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan
serta rekomendasi yang diperlukan;
Memantau pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan yang
dilaksanakan oleh pemrakarsa;

10.2.3 Institusi Terkait Lainnya


Institusi terkait lainnya adalah instansi pemerintah atau institusi swasta baik di tingkat
pusat maupun daerah, yang terkait dengan kegiatan pembangunan bidang jalan, di
antaranya:







Badan Pertanahan Nasional (BPN) atau Dinas/Kantor Pertanahan Provinsi atau


Kabupaten/Kota, dalam kaitannya dengan kegiatan pengadaan tanah;
Departemen Kehutanan atau Dinas Kehutanan Provinsi atau Kabupaten/Kota,
dalam kaitannya dengan pembangunan jalan yang melewati atau berbatasan
langsung dengan kawasan hutan;
Departemen Perhubungan, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat atau Dinas
Perhubungan Provinsi atau Kabupaten/Kota, dalam kaitannya dengan masalah
transportasi termasuk masalah perlintasan antara jalan dengan jalur kereta api;
Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata, atau Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Provinsi dan Kabupaten/Kota, dalam kaitannya dengan pembangunan
jalan yang melewati lokasi cagar budaya;
Departemen Sosial, Dinas Sosial Provinsi dan Kabupaten/Kota, dalam kaitannya
dengan masalah dampak sosial yang mungkin timbul terhadap masyarakat
(termasuk komunitas rentan), serta dampak kegiatan pengadaan tanah dan
pemindahan penduduk.
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral kaitannya dengan tumpang tindih
antara jalan dengan instalasi jaringan migas dan listrik.
Departemen Pertanian kaitannya dengan tumpang tindih penggunaan lahan
dengan infrastruktur pertanian dengan jalan.
Departemen Pertahanan dan Keamanan kaitannya dengan lokasi kegiatan
strategis bidang keamanan.

48-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai
pengelola utilitas, energi, transportasi dan lain-lain.
Perusahaan swasta yang bergerak di lingkungan/sektor-sektor terkait dengan
Pemerintah.




10.2.4 Masyarakat
Masyarakat adalah perorangan maupun kelompok yang terkena dampak pekerjaan
jalan atau yang berkepentingan terhadap kelestarian lingkungan hidup. Termasuk
kedalam kelompok masyarakat ini adalah:
a)
b)
c)
d)

Penduduk terkena proyek (PTP);


Lembaga swadaya masyarakat (LSM);
Tokoh-tokoh masyarakat dan pemerhati lingkungan;
Kelompok masyarakat rentan (komunitas adat terpencil dan kelompok miskin).

Peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan, antara lain
dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a)
b)

Memberi tanggapan dan saran terhadap rencana kegiatan pembangunan jalan;


Memberi tanggapan dan saran tentang pengelolaan lingkungan dalam kegiatan
konsultasi masyarakat;
Menghadiri rapat komisi penilai AMDAL dan memberi masukan tentang aspekaspek pengelolaan lingkungan, termasuk yang berhubungan dengan pengadaan
tanah, kompensasi untuk tanah dan bangunan, pemukiman kembali penduduk
dan penanganan masyarakat komunitas rentan.

c)

11.

PEMBIAYAAN

11.1 Biaya Pengelolaan Lingkungan Hidup


a. Perencanaan Jalan
1) Tahap Perencanaan Umum
Anggaran biaya penyaringan jenis studi lingkungan seharusnya termasuk
dalam biaya perencanaan umum. Biaya tersebut mencakup biaya personil
tenaga ahli lingkungan, biaya perjalanan tinjauan ke lapangan dan sebagai
anggota tim studi perencanaan umum.
2) Tahap Pra Studi Kelayakan
Pada tahap pra studi kelayakan diperlukan biaya kajian awal lingkungan dalam
rangka pelingkupan dampak potensial lingkungan untuk Kerangka Acuan
ANDAL. Biaya tersebut sebagai bagian dari biaya pra studi kelayakan atau studi
kelayakan. Komponen biaya mencakup biaya personel dan survai lapangan
tenaga Ahli Lingkungan sebagai anggota tim studi pra studi kelayakan atau
studi kelayakan.
3) Tahap Studi Kelayakan

49-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Pada tahap ini diperlukan biaya untuk pelaksanaan studi AMDAL atau UKL dan
UPL, bila rencana kegiatan yang bersangkutan termasuk kategori wajib
dilengkapi dokumen AMDAL atau UKL dan UPL.
Jika studi AMDAL atau UKL dan UPL ini dilaksanakan bersamaan dengan Studi
Kelayakan (oleh konsultan yang sama), anggaran biayanya merupakan bagian
dari studi kelayakan. Namun, sering kali studi AMDAL atau UKL dan UPL
dilaksanakan tersendiri oleh konsultan bidang lingkungan hidup, sehingga
anggaran biayanya tersendiri.
Anggaran biaya studi AMDAL atau UKL dan UPL secara umum mencakup
komponen-komponen biaya personel, peralatan dan material, survai lapangan,
analisis laboratorium, serta penyusunan laporan termasuk presentasi dan
pembahasan di Komisi Penilai AMDAL.
4) Perencanaan Teknis
Untuk dapat memahami secara baik isi RKL atau UKL yang akan dijabarkan
dalam desain teknis, maka diperlukan tenaga ahli lingkungan. Biaya tenaga ahli
lingkungan tersebut harus sudah dimasukkan dalam anggaran perencanaan
teknis.
b. Kegiatan Pengadaan Tanah
Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pengadaan tanah
adalah biaya pengadaan tanah termasuk biaya rehabilitasi penduduk terkena
dampak seperti tercantum dalam Rencana Pengadaan Tanah (LARAP).
c. Kegiatan Konstruksi Jalan
Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi seharusnya
termasuk dalam biaya pekerjaan konstruksi. Hal ini harus ditegaskan baik dalam
dokumen lelang maupun dokumen kontrak pekerjaan konstruksi jalan.
d. Pengoperasian dan Pemeliharaan Jalan
Anggaran biaya pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pengoperasian dan
pemeliharaan jalan seharusnya termasuk dalam biaya pekerjaan pemeliharaan
jalan.
11.2 Biaya Pemantauan Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup
a. Perencanaan Jalan
Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap
perencanaan seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pekerjaan perencanaan,
atau dianggarkan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana
pekerjaan perencanaan.
b. Kegiatan Pengadaan Tanah
Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pengadaan
tanah seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pengadaan tanah, atau
dianggarkan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pengadaan
tanah.
c. Kegiatan Konstruksi Jalan

50-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi


seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pekerjaan konstruksi atau biaya
pekerjaan konsultan supervisi pekerjaan konstruksi.
d. Pengoperasian dan Pemeliharaan Jalan
Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap
pengoperasian dan pemeliharaan seharusnya termasuk dalam anggaran biaya
pemeliharaan dan rehabilitasi jalan, atau dialokasikan secara khusus dalam
anggaran rutin instansi pelaksana pemeliharaan dan rehabilitasi jalan.
e. Biaya Evaluasi pada Tahap Evaluasi Pasca Pembangunan Jalan
Anggaran biaya evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek
perlu dianggarkan secara khusus oleh instansi atau unit kerja yang membidangi
kegiatan perencanaan umum atau pembinaan lingkungan.
11.3 Prioritas Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Apabila terdapat keterbatasan dana yang tersedia, maka pelaksanaan pemantauan
pengelolaan lingkungan sebaiknya diprioritaskan pada dampak kegiatan-kegiatan
tertentu dengan dasar pertimbangan:
1) Kegiatan yang diperkirakan akan menimbulkan dampak besar dan penting;
2) Kegiatan berada di lokasi yang sensitif, misalnya melintasi atau berbatasan
langsung atau berdekatan dengan kawasan lindung;
3) Berpotensi menjadi sumber masalah sosial atau kasus lingkungan yang sensitif;
4) Permintaan atau laporan instansi tertentu, masyarakat sekitar lokasi proyek, atau
Lembaga Swadaya Masyarakat.

12. PENUTUP
Pelaksanaan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini, harus
terintegrasi dalam pengelolaan (manajemen) pembangunan jalan secara keseluruhan.
Untuk keperluan itu, koordinasi dan konsultasi antar instansi terkait mutlak diperlukan,
dan peranan Pemimpin Proyek (Satuan Kerja atau Pejabat Pembuat Komitmen/PPK)
selaku pemrakarsa atau pengelola pekerjaan sehari-hari sangat penting.
Yang dimaksud dengan pemimpin proyek di sini adalah semua pemimpin proyek
bidang perencanaan, pembangunan dan pemeliharaan, selaku pemrakarsa kegiatan,
yang masing-masing secara berkesinambungan bertanggung jawab untuk
melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup pada tiap tahap kegiatan pembangunan
jalan.
Agar
proses
pengelolaan
lingkungan
hidup
dapat
terlaksana
secara
berkesinambungan, semua dokumen mengenai lingkungan hidup (AMDAL, UKL dan
UPL, LARAP, Laporan Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan dan Pemantauan
LIngkungan) yang dibuat oleh pemimpin proyek pada tahap tertentu, harus
diserahterimakan kepada pemimpin proyek tahap berikutnya, sebagai satu kesatuan
dengan dokumen teknis, untuk digunakan sebagai arahan pengelolaan lingkungan
hidup tahap berikutnya (lihat Gambar 12.1).

51-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Keberhasilan pengelolaan lingkungan hidup juga tergantung dari ketersediaan


sumberdaya manusia yang berkualitas serta dana dan sarana penunjang yang
memadai sesuai dengan kebutuhan pada tiap tahap kegiatan pembangunan jalan. Di
samping itu, keberadaan unit kerja dalam struktur organisasi proyek, yang mempunyai
tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup akan sangat berperan dalam mencapai tujuan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup bidang jalan.

52-53

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Gambar 12.1
Bagan Peran Unit/Penanggung Jawab/Pimpinan Proyek dalam Pengelolaan
Lingkungan Proyek Jalan yang Berkesinambungan
Unit/Penanggung
Jawab/Pemimpin
Proyek
Perencanaan

Penyusunan
dokumen
AMDAL atau
UKL dan UPL,
Desain,
Spesifikasi
Teknis,
LARAP

Unit/Penanggung
Jawab/Pemimpin
Proyek
Pengadaan Tanah

Unit/Penanggung
Jawab/Pemimpin
Proyek Konstruksi

Unit/Penanggung
Jawab/Pemimpin
Proyek
Pemeliharaan dan
Rehabilitasi

Pengadaan
Tanah
termasuk
Pengelolaan
Lingkungan
Hidup

Laporan
Pelaksanaan
Pengadaan
Tanah, termasuk
Laporan
Pelaksanaan
Pengelolaan
dan
Pemantauan
Lingkungan
Hidup

Pelaksanaan
Pekerjaan
Konstruksi
termasuk
Pengelolaan
Lingkungan
Hidup

Laporan
Pelaksanaan
Pekerjaan
Konstruksi
termasuk
Laporan
Pemantauan
Pengelolaan
Lingkungan
Hidup

Evaluasi Kualitas
Lingkungan
Hidup
Pasca Proyek

53-53

Pemanfaatan,
Pemeliharaan,
Rehabilitasi
termasuk
Pengelolaan
Lingkungan
Hidup

Laporan
Pelaksanaan
Pemeliharaan dan
Rehabilitasi
termasuk
Laporan
Pelaksaaan
Pengelolaan dan
Pemantauan
Lingkungan
Hidup

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

Lampiran 1.
Kriteria (Ciri-Ciri) Daerah Sensitif dan Tujuan Perlindungannya
No.

Kriteria (Ciri-Ciri)

Kawasan Hutan

Taman Nasional

Tujuan Perlindungan

Kawasan berhutan atau bervegetasi tetap, yang memiliki


flora dan fauna yang beraneka ragam, memiliki
arsitektur bentang alam yang baik dan memiliki aksen
yang baik untuk keperluan pariwisata.

Sumber: UU No. 5/19990 dan Keppres No. 32/1990


2

Taman Hutan Raya


Kawasan berhutan atau bervegetasi tetap, yang memiliki
flora dan fauna yang beraneka ragam, memiliki
arsitektur bentang alam yang baik dan memiliki aksen
yang baik untuk keperluan pariwisata.

Sumber: UU No. 5/19990 dan Keppres No. 32/1990


3

Pengembangan pendidikan,
rekreasi dan pariwisata, serta
[eningkatan kualitas
lingkungan sekitarnya dan
perlindungan dari pencemaran

Taman Wisata Alam


Kawasan berhutan atau bervegetasi tetap, yang memiliki
flora dan fauna yang beraneka ragam, memiliki
arsitektur bentang alam yang baik dan memiliki aksen
yang baik untuk keperluan pariwisata.

Sumber: UU No. 5/19990 dan Keppres No. 32/1990


4

Cagar Alam
Kawasan yang ditunjuk mempunyai keaneka ragaman
jenis tumbuhan dan satwa dan tipe ekosistemnya;
Mewakili formasi biota tertentu dan/atau unit-unit
penyusun;
Mempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisiknya
yang masih asli dan tidak atau belum diganggu
manusia;
Mempunyai luas dan bentuk tertentu agar menunjang
pengelolaan yang efektif dengan daerah penyangga
yang cukup luas;
Mempunyai ciri khas dan dapat merupakan satusatunya contoh di suatu daerah serta keberadaanya
memerlukan upaya konservasi

Sumber : UU No. 5/1990, Keppres 32/1990


5

Melindungi keanekaragaman
biota, tipe ekosistem, gejala
dan keunikan alam bagi
kepentingan plasma nutfah,
ilmu pengetahuan dan
pembangunan pada umumnya

Suaka Margasatwa
Kawasan yang ditunjuk merupakan tempat hidup dan
perkembangbiakan dari suatu jenis satwa yang perlu
dilakukan upaya konservasinya.
Memiliki keanekaragaman dan populasi satwa yang
tinggi
Merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa
migrant tertentu
Mempunyai luas yang cukup sebagai habitat jenis
satwa yang bersangkutan

1-5

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

No.
6

Kriteria (Ciri-Ciri)

Tujuan Perlindungan

Daerah Pengungsian satwa


Merupakan wilayah kehidupan satwa yang sejak
semula menghuni areal tersebut
Mempunyai luas tertentu yang memungkinkan
berlangsungnya proses hidup dan kehidupan serta
berkembangbiaknya satwa tersebut

Sumber: Keppres No. 32/1990


7

Taman Buru
Areal yang ditunjuk mempunyai luas yang cukup dan
lapangannya tidak membahayakan; dan/atau
Terdapat satwa buru yang dikembangbiakkan
sehingga memungkinkan perburuan secara teratur
dengan mengutamakan segi rekreasi, olahraga dan
kelestarian satwa.

Pengembang biakan satwa


buru untuk memungkinkan
perburuan secara teratur

Sumber: UU No. 41/1999


8

Hutan Lindung
Kawasan dengan faktor-faktor lereng lapangan, jenis
tanah, curah hujan yang melebihi nilai skor 175,
dan/atau
Kawasan hutan yang mempunyai lereng lapangan >
40 %, dan/atau
Kawasan hutan yang mempunyai ketinggian diatas
permukaan laut > 2.000 m.

Mencegah erosi, banjir,


sedimentasi, menjaga fungsi
hidrologis tanah untuk
menjamin ketersediaan unsur
hara tanah, air tanah dan air
permukaan

Sumber: Keppres No 32/1990


B

Kawasan Lindung di luar Kawasan Hutan

Kawasan Lahan Basah (Rawa/Gambut)


Rawa air tawar, rawa air payau, rawa air asin, lahan
gambut, perairan laut dengan kedalaman < 6 m.

Sumber: Konvensi Ramsar


2

Kawasan Resapan Air


Curah hujan yang tinggi, struktru tanaha yang mudah
meresapkan air dan bentuk geomorfologi yang mampu
meresapkan air hujan secara besar-besaran.

Sumber: Keppres No. 32/1999


3

Melindungi keaneka ragaman


biota, tipe ekosistem, gejala
dan keunikan alam bagi
kepentingan plasma nutfah,
ilmu pengetahuan dan
pembangunan pada umumnya
Peresapan air hujan untuk
penyediaan air tanah dan
penanggulangan banjir, baik
untuk kawasan bawahannya
maupun maupun kawasan
bersangkutan

Sempadan Sungai
Sekurang-kurangnya 100 meter di kiri kanan sungai
besar dan 50 m di kiri kanan anak sungai yang berada
di luar permukiman;
Untuk sungai di kawasan pemukiman berupa daerah
sepanjang sungai yang diperkirakan cukup untuk
dibangun jalan inspeksi (10 15 meter).

Melindungi kualitas air sungai,


kondisi fisik pinggir dan dasar
sungai serta mengamankan
aliran sungai

Sumber: Keppres No. 32/1990


4

Sempadan Pantai
Daratan sepanjang tepian yang lebarnya proposional
dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100
meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.

Melindungi pantai dari abrasi


gelombang, tsunami dan
intrusi air laut

2-5

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

No.

Kriteria (Ciri-Ciri)

Tujuan Perlindungan

Sumber: Keppres No. 32/1990


5

Kawasan Sekitar Danau/Waduk


Daratan sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya
proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik
danau/waduk antara 50 100 m dari titik pasang
tertinggi

Melindungi kelestarian fungsi


danau/waduk

Sumber: Keppres No.32/1990


6

Kawasan Sekitar Mata Air


Sekurang-kurangnya dengan jari-jari 200 meter di
sekitar mata air.

Sumber: Keppres No. 32/1990


7

Pantai Berhutan Bakau


Minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang
tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air
surut terendah ke arah darat

Sumber: Keppres No. 32/1990


8

Kawasan Suaka Alam Laut dan Perairan Lainnya


Kawasan berupa perairan laut, perairan darat, wilayah
pesisir, muara sungai, gugusan karang dan atol yang
mempunyai ciri khas berupa keaneka ragaman dan/atau
keunikan ekosistem

Sumber: Keppres No. 32/1990


C

Kawasan Rawan Bencana Alam

Kawasan Rawan Bencana Alam

Melindungi kualitas dan


kuantitas air dan kondisi fisik
kawasan sekitarnya
Tempat berkembangbiaknya
biota laut disamping sebagai
pelindung pantai dari
pengikisan air laut serta
pelindung usaha budi daya di
belakangnya
Melindungi keanekaragaman
biota, tipe ekosistem, gejala
dan keunikan alam bagi
kepentingan plasma nutfah,
ilmu pengetahuan dan
pembangunan pada umumnya

Berpotensi tinggi mengalami bencana alam seperti


letusan gunung berapi, gempa bumi dan/atau longsor

Sumber: Keppres No. 32/1990


2

Daerah Berlereng Curam


Kemiringan lereng > 40 %
Umumnya berada di daerah pegunungan
Rawan longsor

Melindungi manusia dan


kegiatannya serta prasarana
jalan dan prasarana lainnya
dari bencana alam

Sumber: Keppres No. 32/1990


D

Kawasan Cagar Budaya

Cagar Budaya dan Bangunan Monumental


Tempat serta ruang di sekitar bangunan bernilai budaya
tinggi, situs purbakala dan kawasan dengan bentukan
geologi tertentu yang mempunyai manfaat tinggi untuk
pengembangan ilmu pengetahuan

Sumber: Keppres No. 32/1990


2

Areal/Tempat Dilindungi
Dianggap sebagai tempat keramat yang dipercayai
masyarakat
Sebagai tempat acara ritual tradisional

Melindungi peninggalanpeninggalan sejarah,


bangunan arkeologi dan
monumen nasional dari
ancaman kepunahan yang
disebabkan oleh kegiatan alam
maupun manusia

Sumber: IMES 2008


E

Daerah Komunitas Rentan

3-5

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

No.
1

Kriteria (Ciri-Ciri)
Komunitas Adat
Kehidupannya sudah sangat erat dengan wilayah
nenek moyangnya dan sumber alam di dalamnya;
Adanya lembaga sosial, ekonomi, dan budaya
setempat;
Dapat memiliki identitas atau tidak sebagai kelompok
dan budaya yang khas

Sumber: IMES 2008


2

Tujuan Perlindungan

Komunitas Adat Terpencil (KAT)


Berbentuk komunitas kecil, tertutup, dan homogen;
Pranata sosial bertumpu pada hubungan
kekerabatan;
Pada umumnya terpencil secara geografis dan relatif
sulit dijangkau;
Pada umumnya masih hidup dengan sistem ekonomi
sub sisten;
Peralatan teknologinya sederhana;
Ketergantungan pada lingkungan hidup dan SDA
setempat relatif tinggi;
Terbatasnya akses pelayanan sosial, ekonomi, dan
politik.

Perlindungan atas hak


pemanfaatan wilayah warisan
adat, serta hak untuk
melestarikan atau
mengembangkan perilaku
kehidupan budayanya, meliputi
aspek fisik (hubungan dengan
tanah) maupun aspek non fisik
termasuk sosial budaya seperti
kekhasan cara hidup

Sumber: Keppres No. 111/1999


3

Kelompok Fakir Miskin


Penghasilan rendah, atau berada di bawah garis
kemiskinan yang dapat diukur dari tingkat
pengeluaran per orang per bulan berdasarkan standar
BPS per wilayah provinsi/kabupaten/kota;
Kertergantungan pada bantuan pangan untuk
penduduk miskin (seperti zakat/beras untuk orang
miskin/santunan sosial);
Keterbatasan pemilikan pakaian untuk tiap anggota
keluarga per tahun ( hanya mampu memiliki 1 stel
pakaian lengkap per orang per tahun);
Tidak mampu membiayai pengobatan jika ada salah
satu anggota keluarga sakit;
Tidak mampu membiayai pendidikan dasar 9 tahun
bagi anak-anaknya
Tidak memiliki harta (asset) yang dapat dimanfaatkan
hasilnya atau dijual untuk membiayai kebutuhan
hidup selama tiga bulan atau dua kali batas garis
sangat miskin;
Tinggal di rumah yang tidak layak huni;
Sulit memperoleh air bersih

Mencegah peniadaan akses


pengembangan harga diri
(pendidikan, keterampilan,
kesehatan, sarana usaha
ekonomi, dan modal) sebagai
prasyarat untuk mandiri dalam
pemenuhan kebutuhan dasar
manusia

Sumber: Renstra Penanggulangan Kemiskinan Program


Pemberdayaan Fakir Miskin 2006-2010, Depsos, 2005
F

Kawasan Komersial, Permukiman dan Lahan


Produktif

Kawasan Komersial
Tempat kegiatan transaksi barang atau jasa sangat
tinggi
Tempat pengumpulan dan distribusi komoditas
perdagangan

Mepertahankan kelancaran
kegiatan komersial, dan
mencegah terjadinya
pencemaran/kerusakan

4-5

PEDOMAN UMUM
PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BIDANG JALAN

No.

Kriteria (Ciri-Ciri)
Dilengkapi fasilitas pendukung yang baik

Tujuan Perlindungan
lingkungan

Sumber: IMES 2008


2

Kawasan Permukiman
Kepadatan penduduk minimal 250 jiwa / ha dan
dilengkapi fasos dan fasum

Sumber: IMES 2008


3

Mencegah terjadinya
gangguan ketentraman dan
kenyamanan serta kesehatan
penghuni permukiman

Lahan Produktif
Diandalkan sebagai sumber pendapatan ekonomi
untuk kehidupan pemiliknya;
Diandalkan sebagai kawasan penghasil komoditas
dengan nilai ekonomi tinggi
Mempunyai peran sosial yang tinggi khususnya dalam
penyediaan lapangan kerja bagi masyarakat petani

Mencegah penciutan luas areal


produktif, dan
mempertahankan
keberlanjutan tingkat
produktivitasnya

Sumber: IMES 2008


G

Kawasan Khusus

Kawasan Sekolah(Zona selamat sekolah)


Terdapat sekolah yang memiliki akses langsung ke
jalan;
Akses tersebut di atas merupakan titik masuk utama
dari murid-murid sekolah;
Terdapat aktifitas berjalan kaki, bersepeda dan
penyeberangan oleh murid sekolah secara signifikan
pada dan di sepanjang jalan

Sumber: Peraturan Dirjen. Perhubungan Darat No. SK


3236/AJ403/DRJD/2006 Tentang Uji Coba Penerapan
Zona Selamat Sekolah di 11 (sebelas) Kota di P. Jawa
2

Kawasan Rumah Sakit


Terdapat rumah sakit yang memiliki akses langsung
ke jalan;
Akses tersebut di atas merupakan titik masuk utama
para karyawan, pasien serta pengunjung rumah sakit.
Fungsi jalan merupakan jalan arteri, baik arteri primer
maupun sekunder

Mencegah terjadinya
gangguan terhadap
ketentraman suasana sekitar
rumah sakit

Perpotongan Jalan dengan Jalur Kereta Api


Terdpaat perlintasan sebidang antra jalan dengan
jalur kereta api;
Fungsi jalan merupakan jalan arteri, baik arteri primer
maupun sekunder

Mencegah terjadinya
kecelakaan lalu lintas terhadap
penyeberang jalan khususnya
anak-anak sekolah dan
mencegah gangguan proses
belajar dan mengajar akibat
kebisingan lalu lintas
kendaraan bermotor

Mencegah terjadinya
gangguan terhadap
keselamatan dan kelancaran
perjalanan kereta api maupun
lalu lintas di jalan

Kawasan Perbatasan Negara


Daratan yang berbatasan langsung dengan negara
tetangga
Berfungsi khusu pertahanan dan keamanan

Sumber: PP Nomor 26 tahun 2008 tentang Rencana Tata


Ruang Wilayah Nasional

Mencegah keluar masuknya


orang dan/atau barang secara
illegal yang melintasi batas
negara

5-5

Anda mungkin juga menyukai