Anda di halaman 1dari 36

CASE REPORT

REGIONAL ANESTESI PADA PASIEN LAKI-LAKI USIA


31 TAHUN DENGAN HERNIA INGUINALIS LATERALIS
DEXTRA

Oleh:
Hasmeinda Marindratama, S.

J510145069

Ked

PEMBIMBING:

dr. Damai Suri, Sp. An

KEPANITERAAN KLINIK STASE ANESTESI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015
1

CASE REPORT
REGIONAL ANESTESI PADA PASIEN LAKI-LAKI USIA
31 TAHUN DENGAN HERNIA INGUINALIS LATERALIS
DEXTRA

Diajukan oleh:

Hasmeinda Marindratama, S.

J5101450

Ked

69

Telah disetujui dan disahkan oleh Bagian Program Pendidikan Profesi


Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta
Pada hari

Mei

2015

Pembimbing
dr. Damai Suri, Sp. An

()

Kabag. Profesi Dokter


dr. Dona Dewi Nirlawati

(.........................................)

KEPANITERAAN KLINIK STASE ANESTESI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015

BAB I

PENDAHULUAN

Anestesiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mendasari


berbagai

tindakan

meliputi

pemberian

anestesi,

penjagaan

keselamatan penderita yang mengalami pembedahan, pemberian


bantuan hidup dasar, pengobatan intensif pasien gawat, terapi
inhalasi dan penanggulangan nyeri menahun. Kata anesthesia
diperkenalkan oleh Oliver Wendell Holmes yang menggambarkan
keadaan tidak sadar yang bersifat sementara, karena pemberian
obat dengan tujuan untuk menghilangkan nyeri pembedahan. Pada
prinsipnya dalam penatalaksanaan anestesi pada suatu operasi
terdapat beberapa tahap yang harus dilaksanakan yaitu pra
anestesi yang terdiri dari persiapan mental dan fisik pasien,
perencanaan anestesi, menentukan prognosis dan persiapan pada
pada hari operasi. Sedangkan tahap penatalaksanaan anestesi
terdiri dari premedikasi, masa anestesi dan pemeliharaan, tahap
pemulihan serta perawatan pasca anestesi.1,2,3
Herniorrhapy merupakan tindakan bedah pada hernia dengan
membuang kantong hernia disertai teknik memperkuat bagian
bawah di belakang canalis inguinalis.
Pemilihan

jenis

anestesi

untuk

herniorrhapy

ditentukan

berdasarkan usia pasien, kondisi kesehatan dan keadaan umum,


sarana prasarana serta keterampilan dokter bedah, dokter anestesi
dan perawat anestesi. Di Indonesia, herniorrhapy dilakukan di
bawah anestesi spinal. Mengingat herniorrhapy merupakan tindakan
bedah yang dilakukan dengan anestesi spinal, komplikasi yang
ditimbulkannya merupakan gabungan komplikasi tindakan bedah
dan anestesi. Adapun komplikasi yang dapat ditemukan berupa
laringospasme, gelisah pasca operasi, mual, muntah, kematian pada
saat induksi pada pasien dengan hipovolemia, hipersensitif terhadap
obat anestesi serta hipotensi dan henti jantung.6

BAB

II

LAPORAN KASUS

I.

II.

Identitas Pasien
Nama
Jenis kelamin
Umur
Alamat
Diagnosis Pre Op
Tindakan Op
Tanggal Masuk
Tanggal Operasi

:
:
:
:
:
:

: Bp. S
: Laki-laki
31 tahun
Sawahan, Matesih, Karanganyar
Hernia Inguinalis Lateralis Dextra
Herniorrhapy
21 Mei 2015
22 Mei 2015

Anamnesis
i. Keluhan Utama
Benjolan keluar masuk pada kantong kemaluan sebelah kanan
ii. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan terdapat benjolan pada kantong
kemaluan. Keluhan dirasakan sejak 1 bulan yang lalu namun
mulai terasa nyeri 1 minggu terakhir. Benjolan keluar ketika
pasien mengejan. Pasien tidak merasakan mual, muntah, pusing,
BAB dan BAK dbn.
iii. Riwayat penyakit dahulu
Riwayat Hipertensi
: disangkal
Riwayat DM
: disangkal
Riwayat Alergi Obat
: disangkal
Riwayat keluhan serupa
: disangkal
Riwayat makan makanan tidak berserat
: disangkal

iv. Riwayat keluarga


Riwayat Hipertensi
Riwayat DM

: disangkal
: disangkal
4

III.

Riwayat Alergi Obat


Riwayat keluhan serupa

: disangkal
: disangkal

Pemeriksaan Fisik
1. Pemeriksaan Fisik
a). Status Generalis
Keadaan Umum : Compos Mentis
Vital Sign

: - Tekanan darah : 120/80 mmHg


-

Frekuensi Nafas : 20 x/ menit


Frekuensi Nadi : 80 x/ menit
Suhu : 36o C

Kepala

: Konjungtiva anemis (-), sklera ikterik (-)

Leher

: Retraksi supra sterna (-) deviasi trachea (-)


peningkatan JVP (-), pembesaran kelenjar limfe
(-)

Thorax

- Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi

: Ictus cordis tidak teraba

Perkusi : Redup
Auskultasi : Bunyi jantung I-II murni, regular, bising jantung (-).
-

Paru
Inspeksi : simetris kanan kiri, tidak terdapat luka bekas
operasi
Palpasi : nyeri tekan (-), massa (-)
Perkusi : sonor kanan kiri
Auskultasi : Suara dasar vesikuler

(+/+),

Rhonki

(-/-),

Wheezing (-/-)
Abdomen

Inspeksi : Simetris, distended (-), bekas operasi (-), darm


contour (-), darm steifung (-)
Auskultasi : peristaltik (+) normal
Palpasi :
- nyeri tekan (-), defance muscular (-), benjolan (-)
Perkusi : Timpani (+)
Ekstremitas

: Clubbing finger (-), Edema tungkai (-)


5

b). Status Lokalis


-

Skrotum
Inspeksi :
Tampak benjolan pada skrotum dextra
Palpasi : benjolan pada skrotum dextra (+), dapat keluar

masuk (+), nyeri


tekan (+)
2. Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan Darah Rutin
Hasil lab
Hb
: 14,5 g/dL
Leukosit
: 3890 /uL
Hematokrit
: 44,9 %
Trombosit
: 200000 /uL
Eritrosit
: 5120000 /uL
Gran%
: 50,5 %
Limfosit%
: 41,4 %
Monosit%
: 4,0 %
Basofil%
: 0,2 %
Eosinofil%
: 3,9 %
CT
: 04.00 menit
BT
: 01.30 menit
GDS
: 76 mg/100ml
HbsAg (Rapid)
: Non Reaktif
Ureum
: 22 mg/dL
Creatinin
: 1,04 mg/100ml
IV.

KESIMPULAN KONSUL ANESTESI

- Setuju penatalaksanaan dengan status fisik ASA II, rencana RA/SAB


V.

LAPORAN ANESTESI PASIEN

a) Diagnosis pra-bedah

: Hernia Inguinalis Lateralis Dextra

b) Diagnosis post-bedah : post operasi herniorrhapy


c) Jenis pembedahan

: mayor khusus

Status Anestesi
Persiapan Anestesi
6

1. informed concent
2. Puasa 8 jam sebelum Operasi
Penatalaksanaan Anestesi
- Jenis anestesi

Regional Anestesi (RA)

- Premedikasi

Oxtercid 1 vial
Ondancetron 1 amp
Ketoprofen 2 amp (IM)

- Medikasi

Bupivakain 2 ml
O2 4 liter/menit

- Teknik anestesi

* Pasien dalam posisi


duduk

dan

kepala

menunduk.
* Dilakukan desinfeksi di
sekitar daerah tusukan
yaitu di regio vertebra
lumbal 3-4.
*

Dilakukan

Sub

Arakhnoid Blok dengan


jarum spinal no.25 pada
regio vertebra Lumbal
3-4.
* LCS keluar (+) jernih.
* Barbotage (+).
- Respirasi

Spontan

- Posisi

Supine

Jumlah

cairan

: Koloid

= 500 cc ( HES)

yang masuk

Perdarahan

selama operasi

70

cc

di

tabung

suction

Pemantauan selama anestesi :


-

mulai

09.45

09.55

09.50

10.30

45 menit

anestesi
-

mulai

operasi
-selesai
anestesi
-

selesai

operasi
Durasi
Operasi

VI. Pelaksanaan Anestesi


a. Jam 9:40 pasien masuk kamar operasi, ditidurkan telentang di
atas meja operasi, manset dan monitor dipasang.
b. Jam 9:45 dilakukan Anestesi Regional Spinal
c. Pemeliharaan dengan mengalirkan O2 2 liter/menit
d. Jam 9:55 ahli bedah

memulai operasi, selama operasi tanda

vital, perdarahan dan saturasi O2 dimonitor tiap 5 menit.


e. Jam 10:30 operasi selesai
f. Jam 10:30 penderita dipindahkan ke ruang pulih sadar.
Monitoring selama operasi.
Waktu

Tekanan

Nadi

SpO2

Keterangan

09.45

darah
110/70

80

99

Infuse RL, pasang

99
99

oksigen 4 lpm
Anestesi Regional
Infuse FIMA HES,

09.50
09.55

115/75
120/80

90
85

Pelaksanaan
Operasi
10.00
10.05
10.10
10.15
10.20
10.25
10.30

115/75
110/70
120/80
120/80
120/80
120/80
120/80

90
90
85
80
90
80
85

99
99
99
99
99
99
99

Infuse Tutofusin
Operasi selesai

1. Di Ruang Pemulihan
-

Jam 10:30 : pasien dipindahkan ke recovery room dalam keadaan


sadar, posisi terlentang, kepala di ekstensikan, diberikan O 2 2
liter/menit, dan tanda-tanda vital dimonitoring tiap 10 menit.

Jam 10:50

: pasien stabil baik, dipindahkan ke Bangsal Kantil


Monitoring Pasca Anestesi

Waktu

Tekanan

Nad RR

Keterangan

10.30

Darah
110/80

i
76

20

O2 2 L/mnt, Monitoring

10.35
10.40
10.45

120/80
120/80
120/80

80
80
80

20
20
20

tanda Vital
Monitoring tanda Vital
Monitoring tanda Vital
Monitoring tanda Vital
Aldrette Score 10

2. Instruksi Pasca Anestesi


a. Rawat pasien posisi terlentang, kontrol vital sign. Bila tensi turun
di bawah 90/60 mmHg, infus dipercepat. Bila muntah, berikan
Ondansetron 4 mg. Bila kesakitan, berikan Ketorolac 1 ampul.
b. Lain-lain
-

Kontrol balance cairan.


Monitor vital sign.
9

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. ANESTESI SPINAL

10

Anestesi spinal adalah salah satu metode anestesi yang diinduksi


dengan menyuntikkan sejumlah kecil obat anestesi lokal ke dalam
cairan cerebro-spinal (CSF). Anestesi spinal/subaraknoid disebut juga
sebagai analgesi/blok spinal intradural atau blok intratekal. Anestesi
spinal dihasilkan bila kita menyuntikkan obat analgesik lokal ke dalam
ruang sub arachnoid di daerah antara vertebra L2-L3 atau L3-L4 atau
L4-L5.
Spinal anestesi mudah untuk dilakukan dan memiliki potensi untuk
memberikan kondisi operasi yang sangat baik untuk operasi di bawah
umbilikus. Spinal anestesi dianjurkan untuk operasi di bawah umbilikus
misalnya hernia, ginekologi dan operasi urologis dan setiap operasi
pada perineum atau alat kelamin. Semua operasi pada kaki, tapi
amputasi meskipun tidak sakit, mungkin merupakan pengalaman yang
tidak menyenangkan untuk pasien yang dalam kondisi terjaga. Dalam
situasi ini dapat menggabungkan tehnik spinal anestesi dengan
anestesi umum.
Teknik anestesi secara garis besar dibagi menjadi dua macam, yaitu
anestesi umum dan anestesi regional. Anestesi umum bekerja untuk
menekan aksis hipotalamus-pituitari adrenal, sementara anestesi
regional berfungsi untuk menekan transmisi impuls nyeri dan menekan
saraf otonom eferen ke adrenal. Teknik anestesia yang lazim digunakan

11

dalam herniorrhapy adalah anestesi regional, tapi tidak selalu dapat


dilakukan berhubung dengan sikap mental pasien.
Anestesi spinal sangat cocok untuk pasien yang berusia tua dan
orang-orang dengan penyakit sistemik seperti penyakit pernapasan
kronis, hati, ginjal dan gangguan endokrin seperti diabetes. Banyak
pasien dengan penyakit jantung ringan mendapat manfaat dari
vasodilatasi yang menyertai anestesi spinal kecuali orang-orang
dengan penyakit katub pulmonalis atau hipertensi tidak terkontrol.
Sangat cocok untuk menangani pasien dengan trauma yang telah
mendapatkan

resusitasi

yang

adekuat

dan

tidak

mengalami

hipovolemik.
Indikasi:

Bedah ekstremitas bawah


Bedah panggul
Tindakan sekitar rektum perineum
Bedah obstetrik-ginekologi
Bedah urologi
Bedah abdomen bawah
Pada bedah abdomen atas dan

bawah

pediatrik

biasanya

dikombinasikan dengan anesthesia umum ringan.

Kontra indikasi absolut:


Pasien menolak
Infeksi pada tempat suntikan
Hipovolemia berat, syok
Koagulapatia atau mendapat terapi koagulan
Tekanan intrakranial meningkat
Fasilitas resusitasi minim
Kurang pengalaman tanpa didampingi konsulen anestesi.

Kontra indikasi relatif:


Infeksi sistemik
Infeksi sekitar tempat suntikan
Kelainan neurologis
Kelainan psikis
Bedah lama
Penyakit jantung
Hipovolemia ringan
12

Nyeri punggung kronik


Persiapan analgesia spinal :
Pada dasarnya persiapan untuk analgesia spinal seperti persiapan
pada anastesia umum. Daerah sekitar tempat tusukan diteliti
apakah

akan

menimbulkan

kesulitan,

misalnya

ada

kelainan

anatomis tulang punggung atau pasien gemuk sekali sehingga tak


teraba tonjolan prosesus spinosus. Selain itu perlu diperhatikan halhal di bawah ini:

Informed consent

: tidak boleh memaksa

pasien untuk menyetujui anesthesia spinal


Pemeriksaan fisik
: tidak dijumpai kelainan

spesifik seperti kelainan tulang punggung


Pemeriksaan laboratorium anjuran
: Hb, ht,pt,ptt
Peralatan analgesia spinal :
o Peralatan monitor: tekanan darah, pulse oximetri, ekg
o Peralatan resusitasi
Jarum spinal
o Jarum spinal dengan ujung tajam(ujung bamboo runcing,
quinckebacock) atau jarum spinal dengan ujung pensil (pencil
point whitecare).

Teknik analgesia spinal :


Posisi duduk atau posisi tidur lateral dekubitus dengan tusukan pada
garis tengah ialah posisi yang paling sering dikerjakan. Biasanya
dikerjakan di atas meja operasi tanpa dipindah lagi dan hanya
diperlukan sedikit perubahan posisi pasien. Perubahan posisi
berlebihan

dalam

30

menit

pertama

akan

menyebabkan

menyebarnya obat.
Setelah dimonitor, tidurkan pasien misalkan dalam posisi lateral
dekubitus. Beri bantal kepala, selain enak untuk pasien juga supaya
tulang belakang stabil. Buat pasien membungkuk maximal agar

processus spinosus mudah teraba. Posisi lain adalah duduk.


Perpotongan antara garis yang menghubungkan kedua garis Krista
iliaka, misal L2-L3, L3-L4, L4-L5. Tusukan pada L1-L2 atau diatasnya

berisiko trauma terhadap medulla spinalis.


Sterilkan tempat tusukan dengan betadine atau alkohol.
Beri anastesi lokal pada tempat tusukan (Bupivacain 20 mg)

13

Cara tusukan median atau paramedian. Untuk jarum spinal besar


22G, 23G, 25G dapat langsung digunakan. Sedangkan untuk yang
kecil 27G atau 29G dianjurkan menggunakan penuntun jarum yaitu
jarum suntik biasa semprit 10cc. Tusukkan introduser sedalam kirakira 2cm agak sedikit kearah sefal, kemudian masukkan jarum
spinal

berikut

mandrinnya

ke

lubang

jarum

tersebut.

Jika

menggunakan jarum tajam (Quincke-Babcock) irisan jarum (bevel)


harus sejajar dengan serat duramater, yaitu pada posisi tidur miring
bevel

mengarah

keatas

atau

kebawah,

untuk

menghindari

kebocoran likuor yang dapat berakibat timbulnya nyeri kepala pasca


spinal. Setelah resensi menghilang, mandarin jarum spinal dicabut
dan keluar likuor, pasang semprit berisi obat dan obat dapat
dimasukkan pelan-pelan (0,5ml/detik) diselingi aspirasi sedikit,
hanya untuk meyakinkan posisi jarum tetap baik. Kalau anda yakin
ujung jarum spinal pada posisi yang benar dan likuor tidak keluar,
putar arah jarum 90 biasanya likuor keluar. Untuk analgesia spinal

kontinyu dapat dimasukan kateter.


Posisi duduk sering dikerjakan untuk bedah perineal misalnya bedah
hemoroid dengan anestetik

hiperbarik. Jarak

kulit-ligamentum

flavum dewasa 6cm. Posisi:


Posisi Duduk
Pasien duduk di atas meja operasi
Dagu di dada
Tangan istirahat di lutut
Posisi Lateral:
Bahu sejajar dengan meja operasi
Posisikan pinggul di pinggir meja operasi
Memeluk bantal/knee chest position

Tinggi blok analgesia spinal :


Faktor yang mempengaruhi:
Volume obat analgetik lokal: makin besar makin tinggi daerah

analgesia
Konsentrasi obat: makin pekat makin tinggi batas daerah analgesia
Barbotase: penyuntikan dan aspirasi berulang-ulang meninggikan
batas daerah analgetik.

14

Kecepatan: penyuntikan yang cepat menghasilkan batas analgesia


yang tinggi. Kecepatan penyuntikan yang dianjurkan: 3 detik untuk

1 ml larutan.
Maneuver valsava:

serebrospinal dengan akibat batas analgesia bertambah tinggi.


Tempat pungsi: pengaruhnya besar pada L4-5 obat hiperbarik

mengejan

meninggikan

tekanan

liquor

cenderung berkumpul ke kaudal(saddle blok) pungsi L2-3 atau L3-4

obat cenderung menyebar ke cranial.


Berat jenis larutan: hiper,iso atau hipo barik
Tekanan abdominal yang meningkat: dengan dosis yang sama

didapat batas analgesia yang lebih tinggi.


Tinggi pasien: makin tinggi makin panjang kolumna vertebralis
makin besar dosis yang diperlukan.(BB tidak berpengaruh terhadap

dosis obat)
Waktu: setelah 15 menit dari saat penyuntikan,umumnya larutan
analgetik sudah menetap sehingga batas analgesia tidak dapat lagi
diubah dengan posisi pasien.

Anastesi Lokal untuk Anastesi Spinal


Berat jenis cairan cerebrospinalis pada 37 derajat celcius adalah
1.003-1.008. Anastetik lokal dengan berat jenis sama dengan css
disebut isobaric. Anastetik local dengan berat jenis lebih besar dari
css disebut hiperbarik. Anastetik local dengan berat jenis lebih kecil
dari css disebut hipobarik. Anastetik local yang sering digunakan
adalah jenis hiperbarik diperoleh dengan mencampur anastetik local
dengan

dextrose.

Untuk

jenis

hipobarik

biasanya

digunakan

tetrakain diperoleh dengan mencampur dengan air injeksi.

Anestetik local yang paling sering digunakan:


Lidokaine (xylobain,lignokain) 2%: berat jenis 1.006, sifat isobaric,

dosis 20-100 mg (2-5ml)


Lidokaine (xylobain,lignokaine) 5% dalam dextrose 7.5%: berat jenis

1.003, sifat hyperbaric, dose 20-50 mg (1-2 ml)


Bupivakaine (markaine) 0.5% dlm air: berat jenis 1.005, sifat

isobaric, dosis 5-20 mg


Bupivakaine (markaine) 0.5% dlm dextrose 8.25%: berat jenis
1.027, sifat hiperbarik, dosis 5-15 mg (1-3 ml)
15

TEKNIK ANESTESI
Posisi lumbal punksi ditentukan sesuai dengan kesukaan penderita,
letak daerah operasi dan densitas larutan anestetik local. Vertebra lumbal
difleksikan untuk melebarkan ruang procesus spinosus dan memperluas
rongga interlamina. Pada posisi prone, menempatkan bantal dibawah
panggul untuk membantu fleksi vertebra lumbal.
Saat lahir medulla spinalis berkembang sampai L4, setelah umur 1
tahun medulla spinalis berakhir pada L1-L2. Jadi blok spinal dibuat
dibawah L2 untuk menghindari resiko kerusakan medulla spinalis. Garis
penghubung

yang menghubungkan

Krista iliaca memotong daerah

interspace L4-5 atau procesus spinosus L4.


Pendekatan median lebih sering digunakan. Jari tengah tangan
operator non dominan menetukan titik interspace yang dipilih, kulit yang
menutupi interspace diinfiltrasi dengan anestesi local menggunakan jarum
halus. Jarum spinal ditusukkan pada garis tengah secara sagital,
mengarah ke cranial menghadap ruang interlamina. Penusukan keruang
sub

arachnoid

melewati

kulit,

jaringan

sub

cutan,

ligamentum

supraspinosus, ligamentum interspinosus dan ligamentum flavum. Ketika


ujung jarum mendekati ligamentum flavum terdapat peningkatan tahanan
disertai perasaan poping, saat itu jarum menembus duramater dengan
kedalaman 4-7 cm. Jika ujung jarum menyentuh tulang harus ditarik
kembali secukupnya untuk membebaskan dari ligametum, sebelumnya
diarahkan kearah cranial atau kaudal.
Setelah itu stylet ditarik, CSS mengalir dari jarum secara bebas. Jika
CSS bercampur darah hendaknya dibersihkan secepatnya; kemungkinan
ini jarum mengenai vena epidural. Setelah yakin aliran CSS ahli anestesi
memegang jarum dengan tangan yang bebas , dengan menahan
belakang pasien, ibu jari dan telunjuk memegang pangkal jarum, dan
menghubungkan dengan spoit yang telah berisi larutan anestetik. Aspirasi
CSS untuk meyakinkan ujung jarung tetap dalam CSS. Injeksi dengan
cepat menggunakan jarum kecil memudahkan bercampurnya anestesi
16

dengan CSS, ini memudahkan

penyebaran larutan

dengan CSS dan

menurunkan perbedaan densitas antara larutan dengan CSS. Injeksi yang


sangat lambat (2 atau 3 ml dalam semenit atau lebih) mengurangi
efeknya . setelah injeksi obat aspiarasi lagi CSS untuk lebih menyakinkan
posisi jarum.
Bila pendekatan midline tidak berhasil seperti

orang tua dengan

kalsifikasi ligamentum atau pasien kesulitan posisi karena keterbatasan


fleksi lumbal. Jarum ditusukkan kira-kira 1-1,5 cm dilateral garis tengah
pada bagian bawah procesus spinosus dari interspace yang diperlukan.
Jarum ditusukkan kearah median dan ke cephal menembus otot-otot
paraspinosus. Jika jarum mengenai tulang berarti mengenai lamina
ipsilateral dan jarum diposisikan kembali ke arah superior atau inferior
masuk ruang sub arachnoid.
Pendekatan selain midline atau paramedian adalah pendekatan
lumbosakral (taylor), yang digunakan interspace columna vertebralis pada
L5-S1. Identifikasi spina iliaca posterior superior dan kulit, dimulai 1 cm
kemedian dan 1 cm inferior ketitik tersebut. Jarum diarahkan kemedial
dan ke superior sampai masuk ke kanalis spinalis pada midline L5-S1.
JARUM SPINAL
Pemilihan jarum spinal tergantung

usia pasien, kebiasaan ahli

anestesiologi dan biaya. Ujung jarum quincle umumnya mempunayi bevel


yang panjang yang menyatu dengan lubang. Dapat dibagi dalam ukuran:
20G-29G; ukuran 22G dan 25G yang sering digunakan. Ujung jarum
quincle yang runcing menebus dengan mudah . untuk menjamin posisi
yang tepat mengalirnya CSS dilihat pada 4 kwadran dengan memutar
jarum.
Tidak seperti jarum dengan bevel tajam, jarum bentuk pensil
mempunyai ujung berbentuk tapering dengan lubang disamping. Untuk
insersi dibutuhkan tenaga yang lebih. Contoh jarum bentuk pensil adalah
Sprotte, Whitacre dan Gertie Marx. Perbedaan antara kedua jarum
tersebut adalah ukuran dan letak lubang dilateral. Meskipun lebih mahal
17

dari pada bevel tajam, jarum ini kurang menyebabkan kerusakan pada
duramater dan lebih sedikit mengakibatkan sakit kepala post anesthesia
spinal.
Penentuan jenis jarum lebih banyak ditentukan oleh usia. Walaupun
harga yang lebih mahal jarum pensil point, lebih bagus bagi penderita
yang mempunyai resiko yang besar terhadap sakit kepala post anesthesia
spinal.
OBAT-OBAT SPINAL ANESTESI
Anestesi spinal yang memuaskan membutuhkan blok sepanjang
dermatom daerah operasi. Keterbatasan memperluas anestesi yang
diperlukan untuk memblok dermatom sangat penting untuk mengurangi
beratnya efek menjadi minimum. Obat yang digunakan untuk anestesi
spinal termasuk anestesi local, opioid dan vasokonstriktor, dektrosa
kadang-kadang ditambahkan untuk meningkatkan berat jenis larutan.
Anestetik local.
Semua anestetik local efektif untuk anesthesia spinal. Criteria yang
digunakan untuk memilih obat adalah lamanya operasi. Tetrakain dan
buvipakain biasanya dipilih untuk operasi yang lebih lama dari 1 jam dan
lidokain untuk operasi-operasi yang kurang dari 1 jam, walaupun durasi
anestesi spinal tergantung pula pada penggunaan vasokonstriktor, dosis
serta distribusi obat.
Dalam menentukan dosis yang digunakan untuk anesthesia spinal,
variable individual pasien tidak merupakan kepentingan yang besar. Pada
umumnya lebih banyak anestetik local akan menghasilkan anestesi yang
lebih luas.
KOMPLIKASI ANESTESI SPINAL
Komplikasi dini / intraoperatif :

Hipotensi
Anestesi spinal tinggi / total.
18

Henti jantung
Mual dan muntah
Penurunan panas tubuh
Parestesia.

Komplikasi lanjut
o
o
o
o
o
o
o

B.

Post dural Puncture Headache (PDPH)


Nyeri punggung (Backache)
Cauda equine sindrom
Meningitis
Retensi urine
Spinal hematom.
Kehilangan penglihatan pasca operasi

HERNIA

DEFINISI
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui
defek atau bagian yang lemah dari dinding yang bersangkutan. Pada
hernia abdomen, isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari
lapisan muskulo-aponeurotik dinding perut. Hernia terdiri atas cincin,
kantong, dan isi hernia.
EPIDEMIOLOGI
Tujuh puluh lima persen dari semua kasus hernia di dinding
abdomen muncul disekitar lipatan paha. Hernia sisi kanan lebih sering
terjadi daripada di sisi kiri. Hernia indirect lebih banyak daripada hernia
direct yaitu 2:1, perbandingan pria:wanita pada hernia indirect adalah 7:1.
Hernia femoralis kejadiaanya kurang dari 10% dari semua hernia tetapi
40% dari itu muncul kasus emergensi dengan inkaserasi atau strangulasi.
Hernia femoralis lebih sering terjadi pada lansia dan laki-laki yang pernah
menjalani operasi hernia inguinal.
ETIOLOGI
Penyebab terjadinya hernia adalah:
19

a Lemahnya dinding rongga perut. Dapat sejak lahir atau didapat


kemudian dalam hidup
b Akibat dari pembedahan sebelumnya
c Kongenital
-

Hernia kongenital sempurna


Bayi sudah menderita hernia karena adanya defek pada

tempat-tempat tertentu.
-

Hernia kongenital tidak sempurna


Bayi

dilahirkan

normal

(kelainan

belum

tampak)

tapi

mempunyai defek pada tempat-tempat tertentu (predisposisi) dan


beberapa bulan (0-1 tahun) setelah lahir akan terjadi melalui defek
tersebut karena dipengaruhi oleh kenaikan tekanan intraabdominal
(mengejan, batuk, menangis)
d Aquisial adalah hernia yang bukan disebabkan karena adanya defek
bawaan tetapi disebabkan oleh faktor lain yang dialami manusia,
antara lain:
-

Tekanan intraabdominal yang tinggi, yaitu pada pasien yang


sering mengejan pada saat buang air besar atau buang air kecil.

Konstitusi tubuh. Pada orang kurus terjadinya hernia karena


jairngan ikatnya yang sedikit, sedangkan pada orang gemuk
disebabkan

karena

jaringan

lemak

yang

banyak

sehingga

peningkatan

tekanan

menambah beban jaringan ikat penyokong.


-

Distensi

diding

abdomen

karena

intaabdominal
-

Penyakit yang melemahkan dinding perut

Merokok

Diabetes mellitus

BAGIAN HERNIA
Bagian-bagian dari hernia menurut:
20

a. Kantong

hernia.

Pada

hernia

abdominalis

berupa

peritoneum

parietalis. Tidak semua hernia memiliki kantong, misalnya hernia


incisional, hernia adiposa, hernia internalis.
b. Isi hernia: berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong
hernia, misalnya usus, ovarium, dan jaringan penyangga usus
(omentum).
c. Pintu hernia: merupakan bagian locus minoris resistance yang dilalui
kantong hernia.
d. Leher hernia: bagian tersempit kantong hernia.

KLASIFIKASI HERNIA
Menurut sifat dan keadaannya hernia dibedakan menjadi3:
a Hernia reponibel: bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus keluar
jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi bila berbaring atau
didorong masuk perut, tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi
usus.
b Hernia ireponibel: Bila isi kantong tidak dapat direposisi kembali ke
dalam rongga perut. Ini biasanya disebabkan oleh perlekatan isi
kantong pada peritoneum kantong hernia.
c. Hernia inkarserata: bila isi hernia terjepit oleh cincin hernia, berarti
isi kantong terperangkap, tidak dapat kembali ke dalam rongga
perut disertai terjadinya gangguan pasase usus.

21

d.

Hernia strangulata: bila isi hernia terjepit

oleh cincin hernia, isi

kantong terperangkap dan terjadi gangguan pasase usus serta


gangguan vaskularisasi sehingga dapat terjadi nekrosis..
Menurut Erickson (2009) dalam Muttaqin 2011, ada beberapa
klasifikasi

hernia

yang

dibagi

berdasarkan

regionya,

yaitu:

hernia

inguinalis, hernia femoralis, hernia umbilikalis, dan hernia skrotalis.


a Hernia

Inguinalis, yaitu: kondisi prostrusi (penonjolan) organ

intestinal masuk ke rongga melalui defek atau bagian dinding yang


tipis atau lemah dari cincin inguinalis. Materi yang masuk lebih
sering adalah usus halus, tetapi bisa juga merupakan suatu
jaringan lemak atau omentum. Predisposisi terjadinya hernia
inguinalis adalah terdapat defek atau kelainan berupa sebagian
dinding rongga lemah. Penyebab pasti hernia inguinalis terletak
pada lemahnya dinding, akibat perubahan struktur fisik dari dinding
rongga

(usia

lanjut),

peningkatan

tekanan

intraabdomen

(kegemukan, batuk yang kuat dan kronis, mengedan akibat


sembelit, dll).
b Hernia Femoralis, yaitu: suatu penonjolan organ intestinal yang
masuk melalui kanalis femoralis yang berbentuk corong dan keluar
pada fosa ovalis di lipat paha. Hernia femoralis umumnya dijumpai
pada perempuan tua. Insidensinya pada perempuan kira-kira 4 kali
lelaki.
c Hernia Umbilikus, yaitu: suatu penonjolan (prostrusi) ketika isi suatu
organ abdominal masuk melalui kanal anterior yang dibatasi oleh
linea alba, posterior oleh fasia umbilicus, dan rektus lateral. Hernia
ini terjadi ketika jaringan fasia dari dinding abdomen di area
umbilicus mengalami kelemahan.
d Hernia Skrotalis, yaitu: hernia inguinalis lateralis yang isinya masuk
ke dalam skrotum secara lengkap. Hernia ini harus cermat
dibedakan dengan hidrokel atau elevantiasis skrotum.

22

PATOFISIOLOGI HERNIA INGUINALIS LATERALIS


Kanalis inguinalis dalam kanal yang normal pada fetus. Pada bulan
ke-8 dari kehamilan, terjadi desensus vestikulorum melalui kanal tersebut.
Penurunan testis akan menarik peritoneum ke daerah scrotum sehingga
terjadi tonjolan peritoneum yang disebut dengan prosesus vaginalis
pritonea. Bila bayi lahir umumnya prosesus telah mengalami obliterasi,
sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut. Tetapi
dalam beberapa hal sering belum menutup, karena yang kiri turun
terlebih dahulu dari yang kanan, maka kanalis inguinalis yang kanan lebih
sering terbuka. Dalam keadaan normal, kanal yang terbuka ini akan
menutup pada usia 2 bulan.1,2
Bila prosesus terbuka sebagian, amka timbul hidrokel. Bila kanal
terbuka terus, karena rosesus tidak berobliterasi maka akan timbul hernia
inguinalis lateral kongenital. Biasanya hernia pada orang dewasa ini
terjadi karena dengan bartambahnya umur, organ dan jaringan tubuh
mengalami proses degenerasi. Pada orang tua kanalis tersebut telah
menutup. Namuan karena daerah ini merupakan locus minoris resistance,
maka

pada

keadaan

yang

menyebabkan

tekanan

intraabdominal

meningkat seperti batuk-batuk kronik, bersin yang kuat dan mengangkat


barang-barang berat, mengejan. Kanal yang sudah tertutup dapat terbuka
kembali dan timbul hernia inguinalis lateralis karena terdorongnya sesuatu
23

jaringan tubuh dan keluar melalui defek tersebut. Akhirnya menekan


dinding rongga yang telah melemas akibat trauma, hipertrofi prostat,
asites, kehamilan, obesitas, dan kelainan kongenital dan dapat terjadi
pada semua.2
Pria lebih banyak dari wanita, karena adanya perbedaan proses
perkembangan alat reproduksi pria dan wanita semasa janin. Potensial
komplikasi terjadi perlekatan antara isi hernia dengan dinding kantong
hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali. Terjadi
penekanan terhadap cincin hernia. Akibat semakin banyaknya usus yang
masuk

cincin

hernia

menjadi sempit dan menimbulkan gangguan

penyaluran isi usus. Timbulnya edema bila terjadi nekrosis. Bila terjadi
penyumbatan dan perdarahan akan timbul perut kembung, muntah,
konstipasi. Bila inkaserata dibiarkan, maka lama kelamaan akan timbul
edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah dan terjadi nekrosis.2

DIAGNOSIS
a. Pemeriksaan fisik
-

Pemeriksaan Finger test menggunakan jari ke 2 atau jari ke 5,


dimasukkan lewat skrotum melalui anulus eksternus ke kanal
inguinal, penderita disuruh batuk. Bila impuls diujung jari berarti
hernia ingunalis lateralis, bila impuls disamping jari hernia
inguinalis medialis.4

24

Pemeriksaan Ziemen test posisi berbaring, bila ada benjolan


masukkan dulu, hernia kanan diperiksa dengan tangan kanan,
penderita disuruh batuk bila rangsangan pada jari ke-2 hernia
ingunalis lateralis, jari ke-3 hernia inguinalis medialis, jari ke-4

hernia femoralis.4
-

Pemeriksaan Thumb test

anulus ditekan dengan ibu jari dan

penderita disuruh mengejan, bila keluar benjolan berarti hernia


inguinalis

medialis,

bila

tidak

keluar

benjolan

berarti

hernia

inguinalis lateralis.4

25

b. Pemeriksaan penunjang
-

Leukosit > 10.000 18.000/mm3

Serum elektrolit meningkat

Pemeriksaan radiologis

Pemeriksaan ultrasonografi juga berguna untuk membedakan


hernia incaserata dari suatu nodus limfatikus patologis atau
penyebab lain dari suatu massa yang teraba di inguinal.

CT scan dapat digunakan untuk mngevaluasi pelvis untuk


mencari adanya hernia obturator.

DIAGNOSIS BANDING
a. Keganasan : limfoma, retroperitoneal sarcoma, metastasis, tumor
testis
b. Penyakit

testis

primer:

varicocele,

epididimitis,

torsio

testis,

hidrokel, testis ectopic, undescenden testis


c. Aneurisma artery femoralis
d. Nodus limfatikus
e. Kista limfatikus
f. Kista sebasea
g. Psoas abses
h. Hematoma
26

i. Ascites
PENATALAKSANAAN
1. Konservatif
a) Reposisi (memasukkan hernia ke tempat semula)
Hanya dapat dilakukan pada hernia reponibilis

dengan

menggunakan kedua tangan. Tangan yang satu melebarkan leher


hernia sedangkan tangan yang kedua memasukkan isi hernia
melalui leher hernia tadi.
b) Suntikan
Dilakukan setelah reposisi berhasil dengan menyuntikkan cairan
sklerotik berupa phenol dan alkohol di daerah sekitar hernia agar
jaringan di sekitar kantung hernia tadi mengalami sklerosis dan
fibrosis sehingga akan menyempitkan kantung hernia dan
akhirnya isi hernia tidak dapat lagi masuk ke dalam kantung
hernia tersebut.
c) Sabuk hernia
- Diberikan pada pasien yang melolak operasi
- Bentuk sabuk seperti kepala ular diletakkan tepat di pintu
-

hernia.
Pemakaian dalam jangka waktu lama berdefek tidak baik
yaitu

menyebabkan

pintu

hernia

semakin

lebar

dan

pemakaian yang tidak puas.


- Pemakaian sabuk sebaiknya setelah reposisi berhasil.
2. Operatif
Merupakan penanganan hernia yang paling baik dan dapat
dilakukan

pada

semua

jenis

hernia

baik

hernia

reponibilis,

irreponibilis, strangulasi maupun incarserata.


- Untuk herna irreponibilis operasi dapat dilakukan elektif/
-

terencana.
Untuk hernia irreponibilis harus dilakukan segera 2x24 jam

setelah diagnosa.
Speed operasi (operasi yang harus segera setelah diagnosis
ditegakkan dengan cara melihat keadaan umum). Dilakukan
untuk hernia incarserata di mana pasien sudah tidak dapat
flatus/ defekasi dan terlihat tanda-tanda ileus, tetapi belum
terjadi iskemik dan gangren pada isi hernia.

Jenis Operasi:
27

Herniotomy
Insisi 1-2 cm diatas ligamentum inguinal dan aponeurosis

obliqus eksterna dibuka sepanjang canalis inguinalis eksterna.


Kantong hernia dipisahkan dari m.creamester secara hati-hati
sampai ke kanalis inguinalis internus, kantong hernia dibuka, lihat
isinya dan kembalikan ke kavum abdomen kemudian hernia
dipotong. Pada anak-anak cukup hanya melakukan herniotomy dan
tidak memerlukan herniorrhapy.1,2
-

Herniorrhapy
Dinding posterior di perkuat dengan menggunakan jahitan

atau non-absorbable mesh dengan tekhnik yang berbeda-beda.


Meskipun tekhnik operasi dapat bermacam-macam tekhnik bassini
dan shouldice paling banyak digunakan. Teknik operasi liechtenstein
dengan

menggunakan

mesh

diatas

defek

mempunyai

angka

rekurensi yang rendah.1,2


-

Hernioplasty
merapatkan conjoint tendo ke ligamentum inguinale dan

mengaitkan kedua struktur tadi maksudnya adalah LMR hilang/


tertutup dan dinding perut menjadi lebih kuat.
.
PROGNOSIS
Tergantung dari umur penderita, ukuran hernia serta kondisi dari isi
kantong hernia. Prognosis baik jika infeksi luka, obstruksi usus
segera

ditangani.

Penyulit

pasca

bedah

seperti

nyeri

pasca

herniorraphy, atrofi testis dan rekurensi hernia umumnya dapat


diatasi.
TERAPI CAIRAN
Terapi cairan perioperatif bertujuan untuk :
1. Mencukupi kebutuhan cairan, elektrolit dan darah yang hilang
selama operasi
2. Penggantian cairan dan pemberian obat selama operasi
28

Pemberian cairan operasi dibagi :


1. Pre Operasi
Pemberian cairan sebelum operasi diberikan karena pasien
sebelum operasi dipuasakan terlebih dahulu. Sehingga pasien
dapat mengalami defisit cairan. Kebutuhan cairan untuk dewasa
dalam 24 jam adalah 2 ml/ kgBB/ jam. Bila terjadi dehidrasi
ringan 2% BB, sedang 5 % BB, berat 7 % BB. Setiap kenaikan
suhu 1 C kebutuhan cairan bertambah 10-15 %
2. Selama operasi
Selama proses operasi dapat terjadi kehilangan cairan karena
proses operasi. Kebutuhan cairan pada dewasa untuk operasi :
a. Ringan
: 4 ml/ kgBB/ jam
b. Sedang
: 6 ml/ kgBB/ jam
c. Berat
: 8 ml/ kgBB/ jam
Bila terjadi perdarahan selama operasi, perdarahan dihitung
kurang dari 10% EBV maka cukup diganti dengan cairan
kristaloid sebanyak 3 kali volume darah yang hilang. Apabila ada
perdarahan

lebih

dari

10%

maka

dapat

dipertimbangkan

pemberian plasma/ koloid/ dextran dengan dosis 1- 2 kali darah


yang hilang.
3. Setelah operasi
Pemberian cairan pasca operasi ditentukan berdasarkan defisit
cairan selama operasi ditambah cairan kebutuhan pasien seharihari.

PEMULIHAN
Setelah operasi dilakukan pemulihan dan perawatan pasca
operasi dan anestesi. Biasanya akan dilakukan di dalam recovery
room yaitu ruangan untuk observasi pasien pasca operasi atau
anestesi. Recovery room atau ruang pemulihan adalah ruangan
tempat pasien sebelum dipindahkan ke bangsal.

29

BAB IV
PEMBAHASAN

Sebelum

dilakukan

operasi,

kondisi

penderita

tersebut

termasuk dalam ASA II. Penderita berusia 31 tahun dan memiliki


30

tekanan darah 120/80 mmHg, riwayat hipertensi disangkal dan


pasien tidak ada gangguan sistemik yang berat. Selain itu dari
anamnesis dan pemeriksaan fisik, tidak ditemukan kelainan organik,
fisiologik,

psikiatrik,

dan

biokimia

yang

berarti.

Berdasarkan

diagnosis bedah pasien yaitu hernia inguinalis lateralis dextra,


rencana operasinya adalah herniorrhapy sehingga jenis anestesi
yang akan dilakukan adalah anestesi regional, yaitu spinal, karena
letak organnya di bawah umbilical.
Obat-obatan premedikasi yang diberikan adalah ondancetron
1 amp. Ondansetron merupakan suatu antagonis reseptor serotonin
5-HT3

selektif

yang

diindikasikan

sebagai

pencegahan

dan

pengobatan mual dan muntah pasca bedah. Pelepasan 5HT3 ke


dalam

usus

dapat

merangsang

refleks

muntah

dengan

mengaktifkan serabut aferen vagal lewat reseptornya. Ondansetron


diberikan pada pasien ini untuk mencegah mual dan muntah yang
bisa

menyebabkan

pemberian

anastesi

aspirasi
secara

pada

pasien

spinal,

saat

terdapat

operasi.

Pada

hiperperistaltik

gastrointestinal oleh aktivitas parasimpatis vagal yang disebabkan


oleh simpatis yang terblok, sehingga pada kasus ini premedikasi
berupa ondansentron dapat diberikan.
Induksi anestesi pada kasus ini menggunakan anestesi lokal
yaitu bupivacaine sebanyak 1 ampul. Kerja bupivacain adalah
dengan menghambat konduksi saraf yang menghantarkan impuls
dari saraf sensoris. Kebanyakan obat anestesi lokal tidak memiliki
efek samping maupun efek toksik secara berarti. Pemilihan obat
anestesi lokal disesuaikan dengan lama dan jenis operasi yang akan
dilakukan.
Efedrin HCL diberikan apabila pasien mengalami penurunan
tekanan darah. Hal ini merupakan efek fisiologis dari anestesi spinal
yaitu adanya blok simpatis sehingga terjadi penurunan tekanan
darah.

Efedrin

menstimulasi

merupakan
reseptor

alfa

vasopresor,
dan

yang

beta,

bekerja

sehingga

dengan
berakibat
31

peningkatan heart rate, tekanan darah. Selain itu efedrin juga


memiliki efek terhadap relaksasi otot polos bronkus dan saluran
cerna, serta dilatasi pupil. Dosis efedrin sekali pemberian adalah 525 mg dapat diulang minimal setelah 10 menit.
Teknik :

Posisi duduk
Melakukan identifikasi posisi interspace L3-L4
Melakukan disinfeksi local dan melakukan anestesi pada

daerah tusukan dan diperluas


Dengan menggunakan jarum G 25 S/RSA yang menembus

hingga ruang subarachnoid


Ditandai dengan LCS yang

subarachnoid
Lalu lakukan barbotage
Setelah itu masukkan bupivacaine 2 ml
Pasien lalu diposisikan kembali posisi tidur, pasang kanul O2

3L/menit
Nilai blok sensorik : hasilnya blok setinggi Th10
Monitor tanda vital

keluar

bila

sudah

masuk

Terapi cairan
Pasien sudah tidak makan dan minum 8 jam, namun sudah di
pelihara kekurangan cairannya dengan memberikan cairan infus
selama di bangsal
Untuk kebutuhan sebelum operasi:
a. Pengganti puasa
= 8 x 90 = 720 cc/jam
Untuk kebutuhan selama operasi berlangsung:
BB = 45 kg
b. Maintenance
2 cc/kgBB/jam
= 2 x 45 =90 cc/jam
c. Stress operasi (ringan) 4cc/kgBB/jam
= 4 x 45 = 180 cc/jam
Perdarahan <20 % EBV tidak perlu transfusi, cukup diganti dengan
kristaloid
Pemberian Cairan :
Kebutuhan cairan selama operasi ringan 30 menit
=pengganti puasa + maintenance + stress operasi
= (1/2 x 720) + 90 + 180
= 630 cc/ jam
= 315 cc untuk 30 menit

32

Operasi berlangsung selama 30 menit, sehingga kebutuhan


cairan pasien adalah sebanyak 315 cc. Kemudian setelah dilakukan
operasi diketahui jumlah perdarahan pada kasus ini yaitu sebanyak
100 cc. Menurut perhitungan, perdarahan yang lebih dari 20 %
Estimated Blood Volume (EBV) harus dilakukan tindakan pemberian
transfusi darah. Pada pasien ini, perkiraan perdarahan adalah 100
cc, dimana EBV-nya adalah 2925cc.
EBV perempuan dewasa
= 65 x 45 cc

= 65 cc/kgBB

= 2925 cc

Sehingga didapatkan jumlah perdarahan (% EBV) adalah

3,4

%
% EBV = 100/2925 x 100 % = 3,4 %
Oleh karena perdarahan pada kasus ini kurang dari 20% EBV
maka tidak diperlukan tranfusi darah. Dengan pemberian cairan
rumatan (koloid 1flab) sudah cukup untuk menangani banyaknya
perdarahan.
Untuk kebutuhan cairan di bangsal, perhitungannya adalah
sebagai berikut :
1. Maintenance 2 cc/kgBB/jam

= 45x 2 cc =

90cc/jam
2. Sehingga jumlah tetesan yang diperlukan jika mengunakan
infuse 1 cc ~ 20 tetes adalah 90/60 x 20 tetes

30

tetes/menit
Post operatif
Setelah operasi selesai, pasien dibawa ke recovery room. Observasi
post operasi dengan dilakukan pemantauan secara ketat meliputi vital
sign (tekanan darah, nadi, suhu dan respirasi). Oksigen tetap diberikan
2-3 liter/menit
Dari hasil Aldrrete score di dapatkan :
33

Aldrete Score
Motorik
Respirasi
Sirkulasi
Kesadaran
Kulit

Point
4 ekstermitas
2 ekstremitas
Spontan + batuk
Nafas kurang
Beda <20%
20-50%
>50%
Sadar penuh
Ketika dipanggil
Kemerahan
Pucat
Sianosis

Nilai
2
1
0
2
1
0
2
1
0
2
1
0
2
1
0

Total

Pada Pasien

10

Apabila total Aldrete score >7 pasien sudah dapat dipindah ke


bangsal. Pada saat malam hari post operasi.
Sistem Pernapasan
Respiratory Rate : 20 x/mnt
Sistem Sirkulasi
Tekanan darah
: 120/80 mmHg
Nadi
: 80x/mnt
Sistem Saraf Pusat
GCS
: 15
Sistem Perkemihan
DBN
Sistem Pencernaan
Bising usus : 6x/mnt
Sistem Muskuloskeletal
DBN

BAB V
PENUTUP
34

1. Kesimpulan
Bp. S, 31 tahun, BB 45 Kg, TB 165 cm. Pasien ini didiagnosis
dengan hernia inguinalis lateralis dextra yang ditegakkan dari
anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesis didapatkan
keluhan muncul benjolan pada kantong kemaluan yang dapat keluar
masuk. Untuk rencana penatalaksanaan pasien ini dengan operatif,
teknik herniorrhapy dengan jenis anestesi regional.
Kebutuhan cairan selama operasi yaitu jumlah dari, pengganti
puasa, maintanance dan stress operasi (360+ 90 + 180 = 630cc)
untuk 1 jam pertama karena pasien hanya memerlukan 45 menit
untuk operasi jadi hanya memerlukan cairan 475 cc, sedangkan
cairan yang sudah diberikan saat operasi adalah 500cc, sehingga
balance cairannya adalah +25cc. Selama

proses operasi tidak

terjadi masalah gejolak hemodinamik. Di ruang pemulihan (recovery


room), vital sign pasien dalam batas normal dan nilai aldrette score
mencapai 10 sehingga pasien selanjutnya bisa dipindahkan ke
bangsal.
2. Saran
a. Persiapan preoperatif pada pasien perlu dilakukan agar proses
anestesi dapat berjalan dengan baik
b. Perhatikan kebutuhan cairan pasien saat berlangsungnya operasi
c. Pemantauan tanda vital selama operasi terus menerus agar dapat
melihat keadaan pasien selama pasien dalam keadaan anesthesia.

DAFTAR PUSTAKA
35

Besrnards CM, Epidural and Spinal Anesthesia. In : Handbook of


Clinical Anesthesia, editor : Barrash PG, Gullen BF, Stoelting
RK, Philadelpia, Lippincott Williams and Wilkins, 2001.
Brown DL, Spinal, Epidural and Caudal anesthesia. In : Anesthesia,
editor : Miller RD, ed

5 th, Volume 1, California, Churchill

Livingstone, 2000.
Darmokusumo, K, Buku Pegangan Kuliah Ilmu Bedah, Fakultas
Kedokteran, Universitas Muhamadiyah Yogyakarta.
Grace, Pierce. A., Neil R. Borley., At a Glance, Edisi 3. Erlangga,
Jakarta, 2007, hlm.106-107.
Kendarto, 2001. Catatan Kuliah Bedah Satu. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.
Mansjoer, A., Suprohaita., Wardani, W.I., Setiowulan, W., editor.,
Bedah Digestif, dalam Kapita Selekta Kedokteran, Edisi
Ketiga, Jilid 2, Cetakan Kelima. Media Aesculapius, Jakarta,
2005, hlm. 307-313.
Molnar R, Spinal, Epidural, and Caudal anesthesia, In : Clinical
Anesthesia Prosedures of the Massachusetts General Hospital,
editor : Davison JK, Eukhardt WF, Perese DA, ed 4 th, London,
Little brown and Company, 1993.
Sjamsuhidayat.R & Wim de jong. Buku ajar ilmu bedah. Edisi revisi.
Jakarta : penerbit buku kedokteran EGC, 1997. h523-538

36