Anda di halaman 1dari 21

BAB I

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS
Nama Pasien
Umur
Berat/ tinggi badan
Pekerjaan
Agama
Alamat

: Tn. S
: 60 Tahun
: 55 kg/ cm
: Petani
: Islam
: Mrajan Ngrayun

Suku

: Jawa

No. RM
Tanggal Masuk RS
Tanggal Operasi

: 31xxxxx
: 19 Oktober 2014
: 20 Oktober 2014

Bangsal

: Flamboyan

Dokter yang merawat : dr.Bambang, Sp. B


Dokter Anestesi

: dr. Suko Basuki, Sp.An

Diagnosis Pre Operatif : Ileus obstruksi letak rendah

II.

Macam Operasi

: Laparotomy

Macam Anestesi

: General Anestesi

KEADAAN UMUM
Kesadaran
Tekanan Darah
Nadi
Suhu
Respirasi

I.

: Compos Mentis, tampak kesakitan


: 140/90mmHg
: 76x/ menit
: 36,20 C
: 24x/ menit

ANAMNESIS
Keluhan Utama
Perut kembung
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan mengeluhkan perut kembung dan tidak bisa
kentut selama 6 hari SMRS. Pasien mengatakan masih bisa BAB sedikit. 3

hari SMRS pasien muntah-muntah, perut terasa kencang, dada sesak. 1 hari
SMRS pasien dibawa ke mantri dan diberi obat tetapi tidak ada pebaikan.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat operasi disangkal
Riwayat mondok di rumah sakit disangkal
Riwayat batuk lama disangkal
Riwayat asma atau sesak nafas disangkal
Riwayat alergi obat disangkal
Riwayat hipertensi disangkal
Riwayat Diabetes Mellitus disangkal
Pasien tidak sedang dalam pengobatan suatu penyakit tertentu dan
tidak mengkonsumsi obat-obatan apapun.
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat anggota keluarga yang menderita keluhan serupa disangkal
Riwayat penyakit diabetes melitus atau kencing manis disangkal
Riwayat penyakit hipertensi atau darah tinggi disangkal
Anamnesis Sistem

Sistem Cerebrospinal

: Demam (-), Nyeri kepala (-)

Sistem Cardiovascular

: Nyeri dada (-), berdebar-debar (-)

Sistem Respiratorius

: Sesak (+), batuk (-)

Sistem Gastrointestinal

: Mual (+), muntah (+)

Sistem Urogenital

: BAK lancar

Sistem Integumentum

: Akral hangat (+), sianotik (-)

Sistem Muskoloskeletal

: Nyeri tulang (-), gangguan gerak (-)

Kebiasaan/Lingkungan :
Riwayat merokok dan konsumsi alkohol disangkal.
II.

PEMERIKSAAN FISIK
Kepala
Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-)


2

Hidung

: Bentuk normal, sekret (-)

Telinga

: Pendengaran normal, sekret (-/-)

Mulut

: Bibir kering (-), pucat (-), pecah-pecah (-).

Leher

: Deformitas (-), pembesaran kelenjar getah bening (-)

Thorak

Inspeksi

: dinding dada simetris (+), sikatrik (-)

Palpasi

: fremitus normal kanan kiri, krepitasi (-)

Auskutasi : SDV +/+, ronki -/-, suara jantung 1 dan 2


normal.
Perkusi
Abdomen

: Inspeksi

: sonor
: distensi (+), Darm contour (-), Darm

steifung (-)

Ekstremitas

Auskultasi

: peristaltik (+), metalic sound (+)

Palpasi

: Nyeri tekan (+)

Perkusi

: Hipertimpani

: Dalam batas normal

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Tanggal : 19 Oktober 2014
Parameter
WBC
Lymphy
Mid#
Gran#
Lymph%
Mid%

Hasil
12,8
O,8
2,0
10,0
5,9
15,7

Range
4.0-10.0
0.8-4.0
0.1-1.5
2.0-7.0
20.0-40.0
3.0-15.0

III.

Gran%

78,4

50.0-70.0

HGB
RBC
HCT
MCH
MCV
MCHC
RDW-CV
RDW-SD

10,6
4,26
30,7
24,9
72,0
34,6
16,2
45,1

11.0-16.0
3.50-5.50
37.0-54.0
27.0-34.0
80-100
32.0-36.0
11.0-16.0
35.0-56.0

PLT
MPV
PDW
PCT

278
7,7
15,6
2,14

100-300
6.5-12.0
9.0-17.0
0.108-0.282

Glukosa

132

<140 mg/dl

BT
CT

2 menit
8 menit

1-5 menit
5-11 menit

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Rontgen Abdomen 3 posisi : Kesan : tampak adanya obstruksi letak rendah

IV.

KESIMPULAN
Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan fisik serta laboratorium, maka:
Diagnosa pre-operatif : Ileus Obstruktif
Status operatif

V.

: ASA 3

TINDAKAN ANESTESI
1. Di Ruang Operasi
a. Cek Persetujuan Operasi
b. Periksa tanda vital dan keadaan umum
c. Lama Puasa 8 jam
d. Cek obat-obatan dalam alat anestesi
e. Infus Rl 20 tetes/menit
f. Posisi Supine
g.Katater : terpasang
2. Di Ruang Operasi
Anestesi mulai
:
11.15

Operasi mulai

Operasi selesai : 13.00

Anestesi selesai

: 11.30

Keadaan pre-operarif

: Pasien sudah terpasang NGT sejak tanggal 19


oktober 2014. Keadaan pasien tampak kesakitan,
kooperatif, tensi 140/90mmHg, nadi 76 x/ menit

Jenis Anestesi

: anestesi umum, general endotracheal anestesi


dengan ET oral no: 7 respirasi kontrol.

Premedikasi yang diberikan : Anestesi yang diberikan :

Induksi anestesi ( jam 11.15)


Untuk induksi digunakan ketamin 100 mg. Setelah itu pasien diberi O2
murni selama 1 menit, disusul pemberian atracurium setelah terjadi
relaksasi kemudian dilakukan intubasi melalui oral dengan ET no. 7.
Setelah di cek pengembangan paru dan suara nafas paru kanan dan kiri
sama, ET di fiksasi dan dihubungkan dengan sistem apparatus anestesi.
Pernafasan pasien dibantu sampai terjadi nafas spontan.

Maintenance
Untuk mempertahankan status anestesi digunakan kombinasi O2 3 L/
menit, N2O 3 L/ menit, fluothane 30 cc. Selain itu juga diberikan
dexamethasone 10 mg.
Selama tindakan anestesi berlangsung, tekanan darah dan nadi senantiasa
di kotrol setiap 5 menit. Tekanan darah sistolik berkisar antara 110-120
mmHg, dan 50-60 mmHg untuk diastolik. Infus RL diberikan pada
penderita sebagai cairan rumatan.

Monitoring Selama Anestesi


Jam
0
5

Nadi

TD
120/70
120/70

Sp02
100
100

10

115/60

100

15

115/60

100

20

110/60

100

25

110/60

100
5

30

115/70

100

35

110/60

100

40

110/60

100

45

110/60

100

50

115/70

100

55

115/70

100

60

110/60

100

65

110/60

100

Keadaan post operasi


Operasi selesai dalam waktu 120 menit, tetapi pemberian agent anestesi
masih dipertahankan dengan tujuan agar tindakan ekstubasi dalam
dilakukan pada keadaan tidak sadar penuh sehingga tidak menimbulkan
batuk dan mencegah kejang otot yang dapat menyebabkan gangguan nafas,
hipoksia dan sianosis.
Program post operasi
Pasien dikirim ke HCU dengan catatan:

Setelah pasien sadar, pasien tidur dengan bantalan sehingga posisi kepala
ekstensi selama 24 jam, pasien belum boleh duduk dan berdiri.

Kontrol tekanan darah, nadi dan pernafasan tiap 30 menit.

Bila pasien mual-muntah diberi ondansetron 4 mg IV.

Cairan infuse RL, D5 beri O2 lewat nasal.

Jika pasien sadar penuh dan peristaltik (+), coba makan dan minum

Tanggal 20 Oktober 2014


CM 1500, CK 1000. Ceftriaxon 2x1 gr, ketorolac 2x30mg, metronidazole
3x500mg, ranitidine 2x1

Tanggal 21 Oktober 2014


6

CM 1500, CK 1250. Ceftriaxon 2x1 gr, ketorolac 2x30mg, metronidazole


3x500mg, ranitidine 2x1

Tanggal 22 Oktober 2014


CM 1800, CK 1200. Ceftriaxon 2x1 gr, ketorolac 2x30mg, metronidazole
3x500mg, ranitidine 2x1. PRC 2 kolf

Pemeriksaan Laboratorium
Tangggal : 23 Oktober 2014
Parameter
WBC
Lymph#
Mid#
Gran#
Lymph%
Mid%
Gran%

Hasil
9,0
0,8
1,0
7,2
8,8
11,3
79,9

Range
4.0-10.0
0.8-4.0
0.1-1.5
2.0-7.0
20.0-40.0
3.0-15.0
50.0-70.0

HGB
RBC
HCT
MCH
MCV

10,1
4,06
31,0
24,9
76,3

11.0-16.0
3.50-5.50
37.0-54.0
27.0-34.0
80-100
7

MCHC
RDW-CV
RDW-SD

32,6
16,8
47,2

32.0-36.0
11.0-16.0
35.0-56.0

PLT
MPV
PDW
PCT

310
7,8
15,3
2,42

100-300
6.5-12.0
9.0-17.0
0.108-0.282

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Asal kata Anestesi (pembiusan; berasal dari bahasa Yunani an-"tidak,
tanpa" dan aesthtos, "persepsi, kemampuan untuk merasa"), secara umum berarti
suatu tindakan menghilangkan rasa sakit ketika melakukan pembedahan dan
berbagai prosedur lainnya yang menimbulkan rasa sakit pada tubuh. Istilah
anestesi digunakan pertama kali oleh Oliver Wendel Holmes Sr pada tahun 1846.
Obat yang digunakan dalam menimbulkan anesthesia disebut sebagai anestetik,
dan kelompok ini dibedakan dalam anestetik umum dan anestetik lokal.
Bergantung pada dalamnya pembiusan, anestetik umum dapat memberikan efek
analgesia yaitu hilangnya sensasi nyeri atau efek anesthesia yaitu analgesia yang
disertai hilangnya kesadaran, sedangkan anestetik lokal hanya menimbulkan efek

analgesia. Anestesi umum bekerja di Susunan Saraf Pusat, sedangkan anestetik


lokal bekerja langsung pada Serabut Saraf di Perifer.
Anestesi umum (General Anesthesia) disebut pula dengan nama Narkose
Umum (NU). Anastesi Umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral
disertai hilangnya kesadaran dan bersifat reversible. Anestesi umum yang
sempurna menghasilkan ketidak sadaran, analgesia, relaxasi otot tanpa
menimbulkan resiko yang tidak diinginkan dari pasien.
Dengan anestesi umum, akan diperoleh triad (trias) anestesia, yaitu :
Hipnosis (tidur)
Analgesia (bebas dari nyeri)
Relaksasi otot
Hipnosis didapat dari sedatif, anestesi inhalasi (halotan, enfluran,
isofluran, sevofluran). Analgesia didapat dari N2O, analgetika narkotik, NSAID
tertentu. Obat-obat tertentu misalnya thiopental hanya menyebabkan tidur tanpa
relaksasi atau analgesia, sehingga hanya baik untuk induksi. Hanya eter yang
memiliki trias anestesia. Karena anestesi modern saat ini menggunakan obat-obat
selain eter, maka trias anestesi diperoleh dengan menggabungkan berbagai macam
obat. Eter menyebabkan tidur, analgesia dan relaksasi, tetapi karena baunya tajam
dan kelarutannya dalam darah tinggi sehingga agak mengganggu dan lambat
(meskipun aman) untuk induksi. Sedangkan relaksasi otot didapatkan dari obat
pelemas otot (muscle relaxant). Relaksasi otot diperlukan untuk mengurangi
tegangnya tonus otot sehingga akan mempermudah tindakan pembedahan. Obatobat opium seperti morfin dan petidin akan menyebabkan analdesia dengan
sedikit perubahan pada tonus otot atau tingkat kesadaran. Kombinasi beberapa
teknik dan obat dapat dipergunakan untuk mencapai tujuan ini dan kombinasi ini
harus dipilih yang paling sesuai untuk pasien.
Sebelum pasien diberi obat anestesi, langkah sebelumnya adalah dilakukan
premedikasi yaitu tindakan awalan anesthesia dengan memberikan obat-obat
pendahuluan yang terdiri dari obat-obat golongan anti kholinergik, sedatif, dan
analgetik. Tujuan dari pemberian obat-obatan premedikasi adalah:

1. Menimbulkan rasa nyaman bagi pasien, yang meliputi bebas dari rasa
2.
3.
4.
5.

takut, tegang, dan khawatir: bebas nyeri dan mencegah mual muntah.
Mengurangi sekresi kelenjar dan menekan refleks vagus.
Memudahkan/memperlancar induksi.
Mengurangi dosis obat anesthesia.
Mengurangi rasa sakit dan kegelisahan pasca bedah.

B. Jenis Anestesi Umum


Anestesi umum dibagi menurut bentuk fisiknya terdiri dari 2 cara, yaitu ;
1. Anestetik Inhalasi
2. Anestetik Intravena
1. ANESTETIK INHALASI
Obat anastetik inhalasi yang pertama kali dikenal dan digunakan untuk
membantu pembedahan ialah N2O. Dalam dunia modern, anastetik inhalasi
yang umum digunakan untuk praktek klinik ialah N 2O, halotan, enfluran,
isofluran, desfluran, dan sevofluran. Agen ini dapat diberikan dan diserap
secara terkontrol dan cepat, karena diserap serta dikeluarkan melalui paruparu (alveoli). Dalam praktek kelarutan zat inhalasi dalam darah adalah
faktor utama yang penting dalam menentukan kecepatan induksi dan
pemulihannya. Induksi dan pemulihan berlangsung cepat pada zat yang
tidak larut.
Konsentrasi alveolar minimal (KAM) atau MAC (Minimum Alveolar
Concentration) ialah kadar minimal zat tersebut dalam alveolus pada
tekanan 1 atmosfir yang diperlukan untuk mencegah gerakan pada 50%
pasien yang dilakukan insisi standar. Pada umumnya immobilisasi tercapai
pada 95% pasien, jika kadarnya dinaikkan di atas 30% nilai KAM. Dalam
keadaan seimbang tekanan parsial zat anestetik dalam alveoli sama dengan
tekanan zat dalam darah dan otak tempat kerja obat. Keterbatasan lain
bahwa konsep MAC hanya membandingkan tingkat anestesi saja dan tidak
dapat memperkirakan efek fisiologis pada sistem organ penting seperti
fungsi kardiovaskular dan ginjal, terutama pada pasien berpenyakit
menahun. Konsentrasi uap anestetik dlaam alveoli selama induksi
ditentukan oleh :

10

a. Konsentrasi inspirasi
Induksi makin cepat kalau konsentrasi makin tinggi, asalkan tidak
terjadi depresi nafas atau kejang laring. Induksi makin cepat jika
disertai oleh N2O (efek gas kedua).
b. Ventilasi alveolar
Ventilasi alveolar meningkat, konsentrasi alveolar makin tinggi, dan
sebaliknya.
c. Koefisien gas/darah
Makin tinggi angkanya, makin cepat larut dalam darah, makin rendah
konsntrasi dalam alveoli, dan sebaliknya.
d. Curah jantung atau aliran darah paru
Makin tinggi curah jantung, makin cepat uap diambil darah.
e. Hubungan ventilasi-perfusi
Gangguan hubungan ini memperlambat ambilan gas anestetik.
Sebagian besar gas anestetik dikeluarkan lagi oleh paru-paru.
Sebagian lagi dimetabolisir oleh hepar dengan sistem oksidasi sitokrom
P450. Sisa metabolisme yang larut dalam air dikeluarkan melalui ginjal.
Macam-macam jenis obat untuk anestesi inhalasi adapun sebagai berikut :
a) N2O (gas gelak, nitrous oxide, dinitrogen monoxida)
N2O dalam ruangan berbentuk gas tak berwarna, bau manis, tak iritasi,
tak terbakar dan beratnya 1,5 kali berat udara. Zat ini dikemas dalam
bentuk cair, dalam silinder warna biru 9000 liter atau 1800 liter dengan
tekanan 750 psi atau 50 atm. Pemberian anestesia dengan N2O harus
disertai O2 minimal 25%. Gas ini bersifat anestesi lemah, tetapi
analgesinya kuat, sehingga sering digunakan untuk mengurangi nyeri
menjelang persalinan. Jarang digunakan sendirian, tetapi dikombinasi
dengan salah satu cairan anestetik lain. Pada akhir anestesia setelah N 2O
dihentikan, maka N2O akan cepat keluar mengisi alveoli, sehingga terjadi

11

pegenceran O2 dan terjadilah hipoksia difusi. Untuk menghindarinya,


berikan O2 100% selama 5-10 menit.
b) Halotan
Merupakan turunan etan, berbau enak dan tak merangsang jalan nafas.
Halotan harus disimpan dalam botol gelap (coklat tua) supaya tidak
dirusak oleh cahaya dan diawetkan oleh timol 0,01%. Selain untuk induksi
dapat juga untuk laringoskopi intubasi.
Pada nafas spontan rumatan anestesia sekitar 1-2 vol % dan pada
nafas kendali sekitar 0,5 1 vol % yang tentunya disesuaikan dengan
respon klinis pasien. Halotan menyebbakan vasodilatasi serebral,
meninggikan aliran darah otak yang sulit dikendalikan dengan teknik
anestesia hiperventilasi, sehingga tidak disukai untuk bedah otak.
Kelebihan dosis menyebabkan depresi napas, menurunnya tonus
simpatis, hipotensi, bradikardi, vasodilatasi perifer, depresi vasomotor,
depresi miokard dan inhibisi reflex baroreseptor. Kebalikan dari N2O,
halotan analgesinya lemah, anestesinya kuat, sehingga kombinasi
keduanya ideal sepanjang tidak ada kontraindikasi.
Kombinasi dengan adrenalin sering menyababkan disritmia, sehingga
penggunaan adrenalin harus dibatasi. Adrenalin dianjurkan dengan
pengenceran 1:200.000 (5ug/ml) dan maksimal penggunaannya 2 ug/kg.
Pada bedah sesar, halotan dibatasi maksimal 1 vol%, karena relaksasi
uterus akan menimbulkan perdarahan. Halotan menghambat pelepasan
insulin, meninggikan kadar gula darah.
Kira-kira 20% halotan dimetabolisir terutama di hepar secara oksidatif
menjadi komponen bromine, klorin, dan asam trikoloro asetat. Secara
reduktif menjadi komponen fluoride dan produk non-volatil yang
dikeluarkan lewat urin. Metabolisme reduktif ini menyebabkan hepar kerja
keras, sehingga merupakan indikasi kontra pada penderita gangguan hepar,
pernah dapat halotan dalam waktu kurang tiga bulan atau pada pasien
kegemukan. Pasca pemberian halotan sering menyebabkan pasien
menggigil.
c) Enfluran
Merupakan halogenasi eter dan cepat poluer setelah ada kecurigaan
gangguan fungsi hepar setelah pengunaan ulang oleh halotan. Pada EEG
12

menunjukkan

tanda-tanda

epileptik,

apalagi

disertai

hipokapnia.

Kombinasi dengan adrenalin lebih aman 3 kali dibanding halotan. Di


metabolisme hanya 2-8% oleh hepar menjadi produk non volatil yang
dikeluarkan lewat urin. Sisanya dikeluarkan lewat paru dalam bentuk asli.
Induksi dan pulih anestesi lebih cepat dibandingkan halotan. Efek depresi
nafas lebih kuat, depresi terhadap sirkulasi lebih kuat, dan lebih iritatif
dibandingkan halotan, tetapi jarang menimbulkan aritmia. Efek relaksasi
terhadap otot lurik lebih baik dibandingkan halotan.
d) Isofluran
Merupakan halogenasi eter yang pada dosis anestetik atau sub
anestetik dapat menurunkan laju metabolisme otak terhadap oksigen,
tetapi meninggikan aliran darah otak dan tekanan intrakranial, namun hal
ini dapat dikurangi dengan teknik anestesia hiperventilasi, sehingga
banyak digunakan untuk bedah otak.
Efek terhadap depresi jantung dan curah jantung minimal, sehingga
digemari untuk anesthesia teknik hipotensi dan banyak digunakan pada
pasien dengan gangguan koroner. Isofluran dengan konsentrasi > 1%
terhadap uterus hamil menyebabkan relaksasi dan kurang responsive jika
diantisipasi dengan oksitosin, sehingga dapat menyebabkan perdarahan
pasca persalinan. Dosis pelumpuh otot dapat dikurangi sampai 1/3 dosis
biasa jika menggunakan isofluran.
e) Sevofluran
Merupakan halogenasi eter. Induksi dan pulih dari anestesi lebih
cepat dibandingkan dengan isofluran. Baunya tidak menyengat dan tidak
merangsang jalan nafas, sehingga digemari untuk induksi anestesia
inhalasi di samping halotan. Efek terhadap kardiovaskular cukup stabil,
jarang menyebbakan aritmia. Efek terhadap sistem saraf pusat sama seperti
isofluran dan belum ada laporan toksik terhadap hepar. Setelah pemberian
dihentikan sevofluran cepat dikeluarkan oleh badan. Belum ada laporan
yang membahayakan terhadap tubuh manusia.
2. ANESTESI INTRAVENA
Keuntungan anestesi intravena lebih dapat diterima pasien, kurang
perasaan klaustrofobik (perasaan akan-akan wajah ditutupi topeng), tahap
13

tidak sadar yang lebih cepat dan lebih menyenangkan bagi ahli anestesi. Oleh
karena itu, agen intravena dapat digunakan sendiri untuk menimbulkan
anestesi.
Di antara kekurangannya, paling menonjol induksi yang cepat
(kadang-kadang sangat cepat) dan depresi cerebrum yang jelas, seperti
terlihat pada gangguan pernapasan yang mengharuskan digunakannya
ventilasi dan ketidak-stabilan hemodinamik. Agen induksi intravena biasanya
digunakan bersama dengan anestesi inhalasi lain untuk mendapatkan
analgesia yang memadai dan dengan relaksan otot untuk mendapatkan
operasi yang optimum.
Pemakaian obat anestetik intravena, dilakukan untuk : induksi
anesthesia, induksi dan pemeliharaan anesthesia bedah singkat, suplementasi
hypnosis pada anesthesia atau tambahan pada anelgesia regional dan sedasi
pada beberapa tindakan medik atau untuk membantu prosedur diagnostik
misalnya tiopental, ketamin dan propofol. Untuk anestesia intravena total
biasanya menggunakan propofol. Anestesi intravena ideal membutuhkan
kriteria yang sulit dicapai oleh hanya satu macam obat yaitu larut dalam air
dan tidak iritasi terhadap jaringan, mula kerja cepat, lama kerja pendek, cepat
menghasilkan efek hypnosis, mempunyai efek analgesia, disertai oleh
amnesia pascaanestesia, dampak yang tidak baik mudah dihilangkan oleh
obat antagonisnya, cepat dieliminasi dari tubuh, tidak atau sedikit mendepresi
fungsi respirasi dan kardiovaskuler, pengaruh farmakokinetik tidak
tergantung pada disfungsi organ, tanpa efek samping (mual muntah),
menghasilkan pemulihan yang cepat. Untuk mencapai tujuan di atas, kita
dapat menggunakan kombinasi beberapa obat atau cara anestesi lain.
Kombinasi beberapa obat mungkin akan saling berpotensi atau efek salah satu
obat dapat menutupi pengaruh obat yang lain.
A. Induksi

Atracurium
Atracurium merupakan obat pelumpuh otot non depolarisasi.
Pelumpuh otot non depolarisasi (inhibitor kompetitif, takikurare) berikatan

14

dengan reseptor nikotinik-kolinergik, tetapi tidak menyebabkan depolarisasi,


hanya menghalangi asetilkolin menempatinya sehingga asetilkolin tidak
dapat bekerja. Mula kerja dan lamanya tergantung pada dosis yang
diberikan. Pada dosis untuk intubasi endotrakea, mula kerjanya 2-3 menit
setelah suntikan tunggal intravena, sedangkan lama kerjanya berkisar 15-35
menit.
Atracurium mengalami metabolism didalam darah atau plasma
melalui reaksi kimia yang unik yang disebut dengan reksi Hoffman yang
tidak tergantung pada fungsi hati atau ginjal, sehingga penggunaannya pada
penyakit ginjal atau hati tidak memerlukan perhatian khusus. Tidak
mempunyai efek akumulasi pada pemberian berulang, sehingga masa
kerjanya singkat. Tidak mempengaruhi fungsi kardiovaskular, sehingga
merupakan

pilihan

pada

pasien

yang

menderita

kelainan

fungsi

kardiovaskular.
Pemulihan fungsi saraf otot dapat terjadi secara spontan sesudah
masa kerjanya berakhir, atau apabila diperlukan dapat diberikan obat
antikholinesterase.
Dosis dan cara pemberiannya:
1. Untuk intubasi endotrakea, dosisnya 0,5 0,6 mg/kgBB, diberikan
secara intravena.
2. Untuk relaksasi otot pada saat pembedahan, dosisnya 0,5 0,6
mg/kgBB,diberikan secara intravena.
3. Pada keadaan tertentu, dapat diberikan secara infus tetes kontinyu.
Ketamin 100 mg
Ketamine adalah suatu rapid acting non balbiturat general
anaesthetic termasuk golongan phenyl cyclohexylamine.
Terhadap susunan saraf pusat
Mempunyai efek analgesia sangat kuat, akan tetapi efek
hipnotiknya kurang dan disertai dengan efek disosiasi, artinya pasien
mengalami perubahan persepsi terhadap rangsang dan lingkungannya. Pada
dosis lebih besar, efek hipnotiknya lebih sempurna.
Apabila diberikan intravena maka dalam waktu 30 detik pasien
akan mengalami perunbahan tingkat kesadaran yang disertai tanda khas

15

pada mata berupa kelopak mata terbuka spontan dan nistagmus. Selain itu
kadang-kadang dijumpai gerakan yang tidak disadari, seperti gerakan
menguyah, menelan, tremor, dan kejang. Apabila diberikan secara
intramuscular, efeknya akan tampak dalam 5-8 menit. Aliran darah ke otak
meningkat, menimbulkan peningkatan tekanan intrakranial.
Terhadap mata menimbulkan lakrimasi, nistagmus, dan kelopak
mata terbuka secara spontan. Terjadi peningkatan tekanan intraokuler akibat
peningkatan aliran darah pada fleksus koroidalis.
Terhadap system kardiovaskular
Ketamin adalah obat anesthesia yang bersifat simpatomimetik,
sehingga bisa meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung.
Peningkatan tekanan darah disebabkan oleh karena efek inotropik positif
dan vasokonstriksi pembuluh darah perifer.
Terhadap system respirasi
Pada dosis biasa, tidak mempunyai pengaruh terhadap system
respirasi.

Bisa

menimbulkan

dilatasi

bronkus

karena

sifat

simpatomimetiknya, sehingga merupakan obat pilihan pada pasien asma.


Terhadap metabolisme
Ketamin merangsang sekresi hormone-hormon katabolic seperti
katekolamin, kortisol, glucagon, tiroksin dan lain-lainnya, sehingga laju
katabolisme tubuh meningkat.
Dosis dan cara pemberian
1. Untuk induksi
Diberikan intravena dalam bentuk larutan 1% dengan dosis lazim 12/kgBB pelan-pelan.
2. Untuk pemeliharaan
Diberikan intravena intermitten atau tetes kontinyu. Pemberian secara
intermitten diulang setipa 10-15 menit dengan dosis setengah dari dosis
awal sampai operasi selesai.
Kontra indikasi:
Tekanan inta cranial meningkat, misalnya pada tumor kepala, trauma
kepala dan operasi intracranial.
Tekanan intra ocular meningkat seperti pada glaucoma.
Pasien yang menderita penyakit sistemik yang sensitif terhadap obatobat simpatomimetik.

16

B. Maintanance
a. N2O (Nitrous Oksida)
Kemasan dan sifat fisik
N2O diperoleh dengan memanaskan amonium nitrat sampai 250C (NH4
NO32H2O + N2O). N2O dalam ruangan berbentuk gas tak berwarna, bau
manis, tak iritasi, tak terbakar dan beratnya 1,5 kali berat udara.
Absorpsi, distribusi dan eliminasi
Berdasarkan saturasinya di dalam darah, absorpsi N2O dalam darah
bertahap; Pada 5 menit pertama absorpsinya mencapai saturasi 100%
dicapai stelah 5 jam. Pada tingkat saturasi 100% tidak ada lagi absorpsi dari
alveoli dan dalam darah. Pada keadaan ini konsentrasi N2O dalam darah
sebanyak 47 ml N2O dalam 100 ml darah.
Di dalam darah, N2O tidak terikat dengan hemoglobin tetapilarut dalam
plasma dengan kelarutan 15 kali lebih besar dari kelarutan oksigen. N2O
mampu berdifusi ke dalam semua rongga-rongga dalam tubuh, sehingga
bisa menimbulkan hipoksia-difusi apabila diberikan tanpa kombinasi
dengan oksigen, oleh karena itu setiap mempergunakan N2O harus selalu
dikombinasikan dengan oksigen.
Terhadap sistem saraf pusat
Berkhasiat analgesia dan tidak mempunyai efek hipnotik. Khasiat
analgesianya relatif lemah akibat kombinasinya dengan oksigen. Efeknya
terhadap tekanan intracranial sangat kecil bila dibandingkan dengan obat
anesthesia yang lain. Terhadap susunan saraf otonom, N2O merangsang
reseptor alfa saraf simpatis, tetapi tahanan perifer pembuluh darah tidak
mengalami perubahan.
Terhadap sistem organ yang lain
Pada pemakaian yang lazim dalam praktek anesthesia, N2O tidak
mempunyai pengaruh negatif terhadap sistem kardiovaskular, hanya sedikit
menimbulkan dilatasi pada jantung. Terhadap system respirasi, ginjal,
system reproduksi, endokrin dan metabolism serta system otot rangka tidak

17

mengalami perubahan, tonus otot tetap tidak berubah sehingga dalam


penggunaannya mutlak memerlukan obat pelumpuh otot.
Efek Samping
N2O akan meningkatkan efek depresi nafas dari obat tiopenton
terutama setelah diberikan premedikasi narkotik.
Kehilangan pendengaran pasca anesthesia, hal ini disebabkan oleh
karena adanya perbedaan solubilitas antara N2O dan N2 sehingga
terjadi perubahan tekanan pada rongga telinga kanan.
Pemanjangan proses pemulihan anastesia akibat difusinya ke tubuh
seperti misalnya pneumothoraks.
Pemakaian jangka panjang menimbulkan depresi sumsum tulang
sehingga bisa menyebabkan anemia aplastik.
Mempunyai efek teratogenik pada embrio terutama pada umur
embrio 8 hari 6 minggu, yang dianggap periode kritis.
Hipoksia difusi pasca anesthesia.Hal ini terjadi sebagai akibat dari
sifat difusinya yang luas sehingga proses evaluasinya terlambat.
Oleh karena itu pada akhir anesthesia, oksigenasi harus diperhatikan.
Penggunaan Klinik
Dalam praktik anastesia, N2O digunakan sebagai obat dasar dari anestesi
umum

yang

selalu

dikombinasikan

dengan

oksigen

dengan

perbandingan antara N2O dan O2 = 70 : 30 (untuk pasien normal), 60 :


40 (untuk pasien yang memerlukan tunjungan oksigen lebih banyak)
atau 50 : 50 (untuk pasien yang beresiko tinggi). Dosis untuk
mendapatkan efek analgesik digunakan dengan perbandingan 20%:80%,
untuk induksi 80% : 20%, dan pemeliharaan 70% : 30%.
Kelebihan dosis menyebabkan depresi napas, menurunnya tonus
simpatis, terjadi hipotensi, bradikardi, vasodilatasi perifer, depresi
vasomotor, depresi miokard dan inhibisi reflex baroreseptor. Halotan
analgesinya lemah, anestesinya kuat, sehingga kombinasi dengan N2O
ideal sepanjang tidak ada indikasi kontra (Latief, 2002).
D. Intubasi Endotracheal
18

Tujuan

dilakukan

tindakan

intubasi

endotrakhea

adalah

untuk

membersihkan saluran trakheobronchial, mempertahankan jalan nafas agar


tetap paten, mencegah aspirasi, serta mempermudah pemberian ventilasi dan
oksigenasi bagi pasien operasi. Pada dasarnya, tujuan intubasi endotrakheal:
a. Mempermudah pemberian anestesia.
b. Mempertahankan jalan nafas agar tetap bebas serta mempertahankan
kelancaran pernafasan.
c. Mencegah kemungkinan terjadinya aspirasi isi lambung (pada keadaan tidak
sadar, lambung penuh dan tidak ada refleks batuk).
d. Mempermudah pengisapan sekret trakheobronchial.
e. Pemakaian ventilasi mekanis yang lama.
f. Mengatasi obstruksi laring akut.
g. Obat.

BAB III

PEMBAHASAN

19

Pemeriksaan pra anestesi memegang peranan penting


pada setiap operasi yang melibatkan anestesi. Pemeriksaan yang
teliti

memungkinkan

kita

mengetahui

kondisi

pasien

dan

memperkirakan masalah yang mungkin timbul sehingga dapat


mengantisipasinya.

Pada

case

report

ini

disajikan

kasus

penatalaksanaan anestesi umum pada operasi laparotomy pada


penderita laki-laki, usia 60 tahun, status fisik ASA 3, dengan
diagnos ileus obstruksi yang dilakukan teknik anestesi umum
dengan ET no.7.
Pada pasien ini penatalaksanaan preoperatifnya adalah pre
op visite yang bertujuan untuk mengetahui kondisi umum pasien
serta komplikasi yang mungkin terjadi bila ada penyakit penyulit.
Pada pasien ini didapatkan hasil pemeriksaan generalisnya
dalam batas normal,

tidak ada penyakit sistemik dan terdapat

kelainan hasil laboraturium dimana terjadi peningkatan jumlah


leukosit.

Untuk

mencapai

hasil

maksimal

dari

anestesi

seharusnya permasalahan yang ada diantisipasi terlebih dahulu


sehingga kemungkinan timbulnya komplikasi anestesi dapat
ditekan seminimal mungkin.
Setelah selesai operasi, pasien dipindahkan ke Recovery
Room. Pasien diberikan Ceftriaxon 2x1 gr, ketorolac 2x30mg, metronidazole
3x500mg, ranitidine 2x1. Pasien diberikan O2 3liter/menit untuk
membantu perfusi jaringan, sedangkan pemberian. Pada tanggal 22
Oktober 2014 pasien ditransfusi PRC 2 kolf. Pemberian harus pula
diimbangi dengan dengan pengeluaran cairan yang mencukupi,
jadi harus dipastikan fungsi miksi pada pasien normal. Volume
urin normal adalah 0,5-1 cc/kgBB/jam, maka pada pasien ini
pengeluaran

urin

kurang

lebih

adalah

1,13

cc/kgBB/jam.

Observasi ini dilakukan sampai kondisi pasien stabil.

20

DAFTAR PUSTAKA

Brown E.N, Lydic R, Schiff ND., 2010. General Anesthesia, Sleep, and Coma.
The New England Journal of Medicine.
Gunawan, S. G. 2007., Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. FKUI. Jakarta. Hal 786787.
Latief SA, Surjadi K, Dachlan MR., 2002. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Edisi 1.
FKUI. Jakarta. Hal 124-127.
White Paul F,PhD,MD FANZCA., 2004. Anesthesia For Ambulatory Surgery.
Journal Of Ambulation research. 27 (Suppl.1) S43-57
Wirjoatmojo K. 2000. Anestesiologi Dan Reanimasi Modul Dasar Untuk
Pendidikan S1 Kedokteran. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Depatemen
Pendidikan Nasional.

21