Anda di halaman 1dari 16

TUGAS TERSTRUKTUR I

STRATIGRAFI ANALISIS
BATUAN VOLKANIKLASTIK

Oleh:
1.
2.
3.
4.
5.

Muhammad Noor Elvan


(H1F012002)
Yazid Saputra
(H1F012003)
Erizky Ade Kurniawan
(H1F012005)
Dimas Agustin Sumirat
(H1F012006)
Shisil Fitriana
(H1F012013)
6. Alfin Adil Aziz
(H1F012017)
7. Luthfi Adi Prasetyo
(H1F012018)

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
PURWOKERTO
2015
1. DEFINISI BATUAN VOLKANIKLASTIK
Batuan piroklastik adalah batuan yang terbentuk dari letusan gunung api
(berasal dari pendinginan dan pembekuan magma) namun seringkali bersifat

klastik. Menurut william (1982) batuan piroklastik adalah batuan volkanik yang
bertekstur klastik yang dihasilkan oleh serangkaian proses yang berkaitan dengan
letusan gunung api, dengan material asal yang berbeda, dimana material penyusun
tersebut terendapkan dan terkonsolidasi sebelum mengalami transportasi
(rewarking) oleh air atau es. Magma yang merupakan lelehan panas, pijar, dan
relatif encer, dapat bergerak dan menerobos ke permukaan bumi melalui ronggarongga yang terbentuk oleh proses tektonik (bidang sesar). Selain berupa padatan,
magma juga mengandung uap air dan gas yang bervariasi komposisinya. Kalau
magma tersebut encer dan bertekanan tinggi, maka akan terjadi letusan gunung
api. Sumbat kepundan akan hancur dan terlempar ke sekitarnya dan bersamaan
dengan itu sebagian magma panas juga akan terlempar ke udara. Akibat dari
letusan tersebut terjadi proses pendinginan yang cepat, sehingga magma akan
membeku dengan cepat dan membentuk gelas (obsidian), tufa atau abu halus,
lapili dan bom (berupa batuapung dengan rongga-rongga gas). Material yang
halus (tufa) akan terlempar jauh dan terbawa angin ke tempat yang lebih jauh,
sedangkan bom, lapili, dan gelas, dan material-material lain yang berukuran pasir
dan kerikil akan jatuh di sekitar puncak gunung.
Batuan yang tersusun oleh fragmen hasil erupsi volkanik secara eksplosif
(Williams, Turner, Gilbert, 1954) Batuan yang terdiri dari bahan rombakan yang
diletuskan dari lubang volkanik, diangkut melalui udara sebagai bahan maupun
awan pijar, kemudian diendapkan di atas tanah dalam kondisi kering atau dalam
tubuh air (Henrich, 1959) Bagian dari batuan volkaniklastik (Fisher, 1961 & Vide
Carozi, 1975) Batuan yang terdiri dari material detrital/rombakan dari hasil
kegiatan volkanik, ditransport dan diendapkan di danau, darat ataupun laut.
(Johannsen, 1977).
a) Mineral Penyusun Batuan Piroklastik
Berdasarkan terbentuknya, fragmen piroklast dapat dibagi menjadi:
Juvenile pyroclasts : hasil langsung akibat letusan, membeku dipermukaan
(fragmen gelas, kristal pirojenik)
Cognate pyroclasts : fragmen batuan hasil erupsi terdahulu (dari gunungapi yang
sama).

Accidental pyroclasts : fragmen batuan berasal dari basement (komposisi


berbeda)
Fragmen:
1. Gelas/ Amorf
2. Litik
3. Kristalin

b) Mineral Mineral Alterasi


Alterasi = Metasomatisme
Merupakan perubahan komposisi mineralogy batuan (dalam keadaan
padat) karena pengaruh Suhu dan Tekanan yang tinggi dan tidak dalam kondisi
isokimia menghasilkan mineral lempung, kuarsa, oksida atau sulfida logam.
Proses alterasi merupakan peristiwa sekunder, tidak selayaknya metamorfisme
yang merupakan peristiwa primer. Alterasi terjadi pada intrusi batuan beku yang
mengalami pemanasan dan pada struktur tertentu yang memungkinkan masuknya
air meteoric untuk dapat mengubah komposisi mineralogy batuan.
Beberapa contoh mineral alterasi antara lain:
Kalkopirit
Pirit
Limonit
Garnierit
Epidote
Malakit
Khlorit
Orphiment
Realgar
Galena

1. Ash flow (tufls) fragmental flow.


a. Breksi aliran piroklastik adalah bahan piroklastik yang tersusun atas
fragmen runcing runcing hasil endapan piroklastik ( Fisher, 1960 ).
b. Ignimbrite adalah suatu batuan yang terbentuk dari aliran abu panas (
MacDonald, 1972).
c. Welded tuff adalah endapan aliran abu panas yang terelaskan akibat
deposisi pada saat masih panas.
2.

Ash fall yaitu primary piroklastik atau bahan yang belum mengalami
pergerakan dari tempat semula diendapkan oleh proses jatuhan selama
belum mengalami pembatuan/litifikasi ( Fisher, 1960 ).
a. Agglomerate diartikan sebagai batuan yang terbentukdari hasil
konsolidasi material yang mengandung bomb (tuff agglomerate
merupakan batuan yang kandungan bomb sabending atau lebih banyak
dari abu vulkanik ) ( widiasmoro dkk,1977 ).
b. Agglutinate merupakan hasil akumulasi fragmen fragmen pipih yang
terelaskan, berasal dari erupsi basaltic yang sangat encer ( tryrell,
1931 ).
c. Breksi piroklastik adalah batuan yang mengandung block lebih dari
50% ( macDonald,1972 dan Fisher 1958 ).
d. Tuff pyroclastic brecia adalah batuan yang mengandung block
sebanding dengan abu volkanik atau bias juga lebih dominant abu
e.

volkanik ( Norton 1917 dan MacDonald, 1972 ).


Lapilistone adalah batuan yang penyusun utamanya berukuran lapili

yaitu 2 64 mm ( fisher, 1961 ).


f. Lapili tuff batuan yang kandungan lapili dan abu volkanik sebanding
atau lebih dominant abu volkanik ( Fisher, 1961 dan MacDonald,
1972 ).
3.

Nama batuan tidak berkaitan dengan genesanya, misalnya breksi volkanik


adalah batuan yang terdiri dari penyusun utama fragmen volkanik yang
runcing runcing, dengan matriks berukuran sekitar 2 mm dengan
bermacam macam komposisi dan tekstur (bisa berupa endapan piroklastik,
autoklastik,alloklastik dll), ( Fisher, i958 ).

4.

Breksi volkanik autoklastik terbentuk sebagai akibat letusan gas yang


terkandung di dalam lava atau akibat pergerakan lava sebelum mengalami
pembatuan.

a. Breksi aliran terbentuk pada bagian tepi lava aliran akibat pemadatan
pada tepi kerak dan gerakan mengalir setelah pendinginan ( Fisher
1960, Wright & owes, 1963, MacDonald, 1972 ).
b. Breksi letusan terbentuk akibat letusan gas yang terkandung didlam
lava sehingga terjadi fragmentasi pada kerak bagian luar lava yang
mulai membeku.
5.

Breksi volkanik aloklastik adalah breksi yang terbentuk dari hasil


fragmentasi, batuan yang telah ada sebelum mengalami pengerjaan oleh
proses volkanisme.
a. Breksi intrusi yaitu breksi yang mengandung fragmen batuan yang
diterobos magma dalam matriks batuan beku ( Harker, 1908 dan
Bowes, 1960 ).
b. Explosion brecia terbentuk dari hancuran batuan karena adanya
ledakan volkanik yang terjadi dibawah permukaan ( Wright & bowes,
1960 ).
c. Tuffisite merupakan material klastik yang dihasilkan dari pelarutan
material tufaan oleh gas didalam pipa volkanik ( Fisher, 1961 ).
d. Tuffisite brecia merupakan breksi yang tersusun atas fragmen batuan
yang diintrusi magma dengan tuff sebagai matriks dan mengandung
bekas aliran gas didalamnya (Wright & Bowes, 1960).

6.

Breksi volkanik epiklastik.


a. Breksi laharik merupakan breksi yang dihasilkan dari aliran Lumpur
pekat, berupa percampuran antara batuan volkanik berukurn beragam
dengan bahan non volkanik (Fisher, 1960 ).
b. Batupasir tufaan/konglomerat tufaan merupakan batuan sedimen
epiklastik yang terangkut juga didalamnya komponen piroklastik
misalnya pumis atau shard. 14 .
c. Batupasir/konglomerat volkanik merupakan batuan epiklastik yang
tersusun atas fragmen fragmen berupa batuan volkanik yang telah
mengalami erosi dan pengangkutan yang kemudian terendapkan.
c) Tektur Batuan Piroklastik
Warna Batuan
Warna

batuan

berkaitan

erat

dengan

komposisi

mineral

penyusunnya.mineral penyusun batuan tersebut sangat dipengaruhi oleh

komposisi magma asalnya sehingga dari warna dapat diketahui jenis magma
pembentuknya, kecuali untuk batuan yang mempunyai tekstur gelasan.
Tekstur Batuan
Pengertian tekstur batuan piroklastik mengacu pada kenampakan butir-butir
mineral yang ada di dalamnya, yang meliputi Glassy dan Fragmental. Pengamatan
tekstur meliputi :
o Glassy
Glassy adalah tekstur pada batuan piroklastik yang nampak pada batuan
tersebut ialah glass.
o Fragmental
Faragmental ialah tekstur pada batuan piroklastik yang nampak pada
batuan tersebut ialah fragmen-fragmen hasil letusan gunung api.
Struktur Batuan
Struktur adalah kenampakan hubungan antara bagian-bagian batuan yang
berbeda.pengertian struktur pada batuan beku biasanya mengacu pada pengamatan
dalam skala besar atau singkapan dilapangan.pada batuan beku struktur yang
sering ditemukan adalah:
a. Masif : bila batuan pejal, tanpa retakan ataupun lubang-lubang gas
b. Vesikular : dicirikandengan adanya lubang-lubang gas,sturktur ini dibagi lagi
menjadi 3 yaitu:
- Skoriaan : bila lubang-lubang gas tidak saling berhubungan.
- Pumisan : bila lubang-lubang gas saling berhubungan.
Aliran : bila ada kenampakan aliran dari kristal-kristal maupun lubang gas.
c. Amigdaloidal : bila lubang-lubang gas terisi oleh mineral-mineral sekunder.
d. Berlapis : bila dalam batuan tersebut terdapat lapisan-lapisan endapan dari
fragmen-fragmen letusan gunung api.
Derajat Kristalisasi
Derajat kristalisasi mineral dalam batuan beku, terdiri atas 3 yaitu :
Holokristalin
Tekstur batuan beku yang kenampakan batuannya terdiri dari keseluruhan mineral
yang membentuk kristal, hal ini menunjukkan bahwa proses kristalisasi
berlangsung begitu lama sehingga memungkinkan terbentuknya mineral - mineral
dengan bentuk kristal yang relatif sempurna.
Hipokristalin
Tekstur batuan yang yang kenampakannya terdiri dari sebagaian mineral
membentuk kristal dan sebagiannya membentuk gelas, hal ini menunjukkan

proses kristalisasi berlangsung relatif lama namun masih memingkinkan


terbentuknya mineral dengan bentuk kristal yang kurang.
Holohyalin
Tekstur batuan yang kenampakannya terdiri dari mineral yang keseluruhannya
berbentuk gelas, hal ini menunjukkan bahwa proses kristalisasi magma
berlangsung relatif singkat sehingga tidak memungkinkan pembentukan mineral mineral dengan bentuk yang sempurna.
Ukuran Batuan
Ukuran batuan yang dihasilkan dari letusan gunung api terbagi menjadi 4,
antara lain :
1. Bomb ( d > 64 mm)
Bomb adalah gumpalan-gumpalan lava yang mempunyai ukuran lebih besar dari
64 mm.
2. Block (d > 64 mm)
Block adalah batuan piroklastik yang dihasilkan oleh erupsi eksplosif dari
fragmen batuan yang sudah memadat lebih dulu dengan ukuran lebih besar dari 64
mm.
3. Lapili (d = 2 64 mm) Lapili berasal dari bahasa latin lapillus, yaitu nama
untuk hasil erupsi ekplosif gunung api yang berukuran 2 mm 64 mm.
4. Debu / ash (d < 2 mm)
Debu adalah batuan piroklastik yanh berukuran 2 mm 1/256 mm yang
dihasilkan oleh pelelmparan dari magma akibat erupsi ekplosif.
Bentuk Batuan Piroklastik
Bentuk batuan dalam batuan piroklastik sama halnya dengan teksturnya, antara
lain:
-

Glassy

Glassy adalah bentuk tekstur pada batuan piroklastik yang nampak pada batuan
tersebut ialah glass.
-

Fragmental

Fragmental ialah bentuk tekstur pada batuan piroklastik yang nampak pada
batuan tersebut ialah fragmen-fragmen hasil letusan gunung api.
Struktur Batuan Piroklastik
Struktur batuan piroklastik pada prinsipnya sama dengan struktur batuan beku,
seperti struktur skoria, vesikuler, massive maupun amikdoloidal maupun struktur
batuan sedimen, yaitu struktur perlapisan graded bedding atau cross bedding.
Tahap Penamaan Batuan Piroklastik

Klasifikasi penamaan batuan piroklastik secara umum dibedakan atas :


Klasifikasi berdasarkan fragmen piroklastiknya ( Fisher, 1966 dan Schimid,
1981) yaitu :

Aglomerat, bila batuan disusun oleh fragmen piroklastik dominan berupa

bom yang berukuran > 64 mm.

Breksi piroklastik, bila batuan disusun oleh fragmen piroklastik dominan

berupa blok yang berukuran > 64 mm.

Breksi tufa, bila batuan disusun oleh percampuran fragmen piroklastik

blok maupun ash.

Tufa, bila batuan disusun oleh fragmen piroklastik berupa ash dan lapilli

dimana ash lebih dominan.

Tufa lapilli, bila batuan disusun oleh fragmen piroklastik berupa lapili dan

ash dimana lapilli lebih dominan. Oleh Schimid (1981), tufa lapili disebut juga
lapilli.

Size

Wentworth William

Twen Hofel

Fisher

(mm)

1932
Blocks = Volcanik breccia

1950
Bombs

1961

256

Coarse Blocks
Bomb = anglomerat
and

128
64
32

Lapili = Lapili tuff

Lapili

Fine

Bomb

10
8
4

Lapili

Coarse ash = Fine ash

2
0.5

Coarse ash
Coarse ash

0.250
0.125
0.0825

Fine ash (Fine tuff)


Fine ash

Fine ash
Tabel 3.1.

Klasifikasi batuan piroklastik oleh Wentworth, william (1932),


Twen Hofel (1950), Fisher (1961)

Klasifikasi untuk tufa, berdasarkan pada material penyusun tufa ( W. T. G, 1954 )


dibedakan atas:

Tufa gelas, tufa yang dominan disusun oleh material gelas.

Tufa kristal, tufa yang dominan disusun oleh material kristal.

Tufa litik, tufa yang dominan disusun oleh material litik.

2. PROSES DAN STRUKTUR SEDIMEN KHAS BATUAN


VOLKANIKLASTIK
1. Endapan jatuhan piroklastik (pyroclastic fall deposits)
Dihasilkan dari letusan eksplosif yang melemparkan material-material
vulkanik dari lubang vulkanik ke atmosfer dan jatuh ke bawah dan
terkumpul di sekitar gunung api. Endapan ini umumnya menipis dan ukuran
butir menghalus secara sistimatis menjauhi pusat erupsi, sebaran mengikuti
topografi, pemilahannya baik, struktur gradded bedding normal & reverse,
komposisi pumis, scoria, abu, sedikit lapili dan fragmen litik, komposisi
pumis lebih besar daripada litik.

Endapan jatuhan piroklastik menurut Walker,1983

2. Endapan aliran piroklastik (pyroclastic flow deposits)


Dihasilkan dari pergerakan lateral di permukaan tanah dari fragmenfragmen piroklastik yang tertransport dalam matrik fluida (gas atau cairan
yang panas) yang dihasilkan oleh erupsi volkanik, material vulkanik ini
tertransportasi jauh dari gunung api.

Skematik endapan Piroklastik aliran (Cas dan Wright, 1988)

Endapan ini umumnya pemilahannya buruk, mungkin menunjukan grading


normal fragmen litik dan butiran litik yang padat, yang semakin berkurang
menjauhi pusat erupsi, sortasi buruk dan butiran menyudut, sebaran tidak
merata dan menebal di bagian lembah. Contoh : lahar yaitu masa piroklastik
yang mengalir menerus antara aliran temperatur tinggi (> 1000C) di mana
material piroklastik ditransportasikan oleh fase gas dan aliran temperatur
rendah yang biasanya bercampur dengan air.

Mekanisme terjadinya aliran piroklastik (Cas dan Wright, 1988)

Contoh struktur sedimen piroklastik jatuhan

3. Endapan surge piroklastik (pyroclastic surge deposits)


Pergerakan lateral material- material piroklastik (low concentration volcanic
particles,gases,andwater;rasio partikel : gas rendah; konsentrasi partikel
relatif rendah) yang mengalir dalam turbulent gas yang panas. Pyroclastic
surge dibentuk langsung dari erupsi explosif phreatomagmatic dan phreatic
(base surge) dan dalam asosiasi dengan erupsi dan emplacement pyroclastic
flow (ash cloud surge & ground surge). Karekteristiknya, endapan ini
menunjukan stratifikasi bersilang, struktur dunes, laminasi planar, struktur
anti dunes dan pind and swell, endapan sedikit menebal di bagian topografi
rendah dan menipis pada topografi tinggi, terakumulasi dekat vent.

Endapan Piroklastik Surge Walker, 1983

Mekanisme terbentuknya Endapan Surge

Secara keseluruhan bentuk dari endapan piroklastik apabila terdapat dalam sebuah
morfologi dapat digambarkan seperti berikut:

Bentuk endapan piroklastik berdasarkan morfologi

a.

Basement
Pada daerah Jawa Timur tidak ditemukan adanya batuan Basement, batuan

basement ini ditemukan tersingkap pada bagian barat Jawa Timur yaitu di

Kompleks Basement Karangsambung dan Bukit Jiwo ( Gambar 2). Batuan yang
tersingkap terdiri atas ofiolite dan potongan busur kepulauan (Smyth dkk. (2005).
b. Sistem Pertama
Sedimentasi ini berasal pada saat umur Awal Kenozoikum, endapan ini
berstruktur angular unconformity dengan basement. Sedimen pada sistem ini
terdiri atas konglomerat fluvial. Di atasnya terdapat sekuen trangresif dari
batubara, konglomerat, lempung, dan pasir kuarsa dari Formasi Nangulan yang
berumur Eosen Tengah (Lelono 2000 , dalam Smyth dkk. 2005). Pada batupasir
terdiri dari depu lapisan vulkanik, pumice, dan lapisan selang seling tuff
dan mudstone. Semakin ke atas terjadi perubahan komposisi batupasir berupa
peningkatan mineral feldspar . Pada sistem ini material volkanik meningkat dan
sedimen berubah dari kaya akan kuarsa menjadi kaya mineral feldspar. Sedimen
pada sistem ini diperkirakan setebal 1000 m yang tersingkap pada bagian barat
( Karangsambung , Nangulan dan Jiwo).
Pada bagian atas sistem ini terdapat unconformity ini dapat diinterpretasi terjadi
akibat dari penurunan muka air laut. Sedimentasinya memiliki orientasi perlapisan
yang hampir sama, dengan tidak adanya kegiatan deformasi.
c.

Sistem Ke-Dua
Pada sistem ini endapan yang ditemukan berupa hasil dari vulkanik primer

berumur oligo miosen yang menutupi sebagian zona Pegunungan Selatan. Pada
saat ini terjadi aktivitas vulkanik yang sangat intensif , eksplosif dan bertipe
Plinian (Smyth dkk., 2005). Endapan berupa batuan Andesite Riolit , termasuk
abu vulkanik, Tuff kristal, Pumice Breksia litik , lava dome danlava flows. Tebal
lapisan berkisar antara 250 m - 2000 m. Sistem ini dan vulkanik aktifitas terekam
sebagai vulkanisme dengan umur pendek dan mungkin terjadi letusan besar
(Smyth dkk. 2005).
d. Sistem Ke-Tiga
Sedimen sistem ini sekitar 500 m terekam sebagai pengerosian sistem ke
dua dan peningkatan endapan karbonat. Terumbu berkembang sangat baik dan
terjadi penurunan aktifitas vulkani secara besar , sehingga mengakibatkan
kematian aktifitas vulkanik.

DAFTAR PUSTAKA
Endarto, Danang. 2006. Pengantar Geologi Dasar. Bandung: FITB-ITB

Soeroto, Bambang. 1994. Diktat Kuliah Geomorfologi. Yogyakarta: UPN Veteran


Yogyakarta.
Referensi lain:
Karami,

Ghozian.

2010.

Sedimen

Biogenik

Kimia

dan

Volkanogenik.

http://geofact.blogspot.com/2010/02/sedimen-biogenik-kimia-danvolkanogenik.html (diakses Senin, 20 April 2015)


Yayang. 2010. Batuan Sedimen The present is the key to the past.
http://cogangeologist.blogspot.com/2010/12/batuan-sedimen_16.html
(diakses Senin, 20 April 2015)

Anda mungkin juga menyukai