Anda di halaman 1dari 22

TEKNOLOGI PERTANIAN YANG BERKELANJUTAN

PADA LAHAN PASANG SURUT


(Tugas 3)

OLEH :
ELZA NOVILYANSA
1425011015

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
1

2015
BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia memiliki sumber daya lahan yang sangat luas untuk peningkatan
produkivitas tanaman pangan khususnya tanaman padi. Beras sebagai salah satu sumber
pangan utama penduduk Indonesia dan kebutuhannya terus meningkat karena selain
penduduk terus bertambah dengan laju peningkatan sekitar 2% per tahun, juga adanya
perubahan pola konsumsi penduduk dari non beras ke beras. Disamping itu terjadinya
penciutan lahan sawah irigasi akibat konversi lahan untuk kepentingan non pertanian dan
munculnya penomena degradasi kesuburan lahan menyebabkan produktivitas padi sawah
irigasi cenderung melandai (Deptan, 2008). Berkaitan dengan perkiraan terjadinya penurunan
produksi tersebut maka perlu diupayakan penanggulanggannya melalui peningkatan intensitas
pertanaman dan produktivitas lahan sawah yang ada, pencetakan lahan irigasi baru dan
pengembangan lahan potensial lainnya termasuk lahan marginal seperti lahan rawa pasang
surut.
Pemanfaatan lahan rawa pasang surut untuk lahan pertanian dapat menjadialternatif
ekstensifikasi yang prospektif karena ketersediannya yang cukup luas.Luas lahan rawa pasang
surut di Indonesia diperkirakan 20.11 juta hektar terdiri dari 2.07 juta hektar lahan pasang
surut potensial, 6.71 juta hektar lahan sulfatmasam, 10.89 hektar lahan gambut, dan 0.44 juta
hektar lahan salin(Alihamsyah, 2002). Dalam implementasinya, usaha pemanfaatan lahan
harus menerapkan konsep keberlanjutan dalam arti pengelolaan lahan yang dilakukan
mampumemenuhi

kebutuhan

pangan

nasional

saat

ini

tanpa

mengorbankan

generasimendatang untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka. Oleh karena itu,diperlukan


suatu pendekatan sistem budidaya pertanian yang menyeluruh, tidak hanya menitikberatkan

pada aspek produksi saja, tetapi juga bersifat partisipatif,mampu diterima dan dijangkau oleh
masyarakat, dan tidak merusak atau menurunkan kualitas lingkungan lahan tersebut, salah
satunya melalui pendekatan Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (PTT). PTT
bukan merupakan paket teknologi, melainkan merupakan pendekatan dalam peningkatan
produksi melalui pengelolaan tanaman, tanah, air, hara, danOrganisme Pengganggu Tanaman
(OPT) secara menyeluruh dan berkelanjutan.Dalam penerapannya, PTT bersifat (1)
partisipatif, (2) dinamis, (3) spesifiklokasi, (4) terpadu, dan (5) sinergis antar komponen
teknologi yang diterapkan(Balittra, 2012).
Pemanfaatan lahan tersebut untuk pertanian merupakan alternatif yang dapat
mengimbangi berkurangnya lahan produktif terutama di pulau Jawa yang beralih fungsi untuk
berbagai keperluan pembangunan non pertanian. Hasil penelitian Ismail et al. (1993)
menunjukkan bahwa lahan rawa ini cukup potensial untuk usaha pertanian baik untuk
tanaman pangan, perkebunan, hortikultura maupun usaha peternakan. Kedepan lahan rawa ini
menjadi sangat strategis dan penting bagi pengembangan pertanian sekaligus mendukung
ketahanan pangan dan usaha agribisnis (Alihamsyah, 2002).
Usaha tani di lahan rawa pasang surut umumnya produktivitasnya masih rendah,
karena tingkat kesuburan lahannya rendah, mengandung senyawa pirit, masam, terintrusi air
laut dan dibeberapa bagian tertutup oleh lapisan gambut. Pertumbuhan tanaman di lahan
pasang surut menghadapi berbagai kendala seperti kemasaman tanah, keracunan dan
defisiensi hara, salinitas serta air yang sering tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Komoditas yang banyak diusahakan petani adalah padi dengan teknik budidaya yang
diterapkan masih sederhana dan menggunakan varietas lokal serta pemupukan tidak lengkap
dengan takaran rendah (Suwarnoet al, 2000).

Umumnya petani di lahan pasang surut mengusahakan tanaman padi hanya satu kali
dalam setahun yaitu penanaman padi dilakukan pada musim hujan, dengan pola tanam padi
bera atau padi palawija. Namun pola tanam padi bera lebih dominan dibandingkan dengan
pola tanam padi-palawija. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan produksi padi melalui
intensifikasi dengan meningkatkan produktivitas padi musim hujan melalui penerapan inovasi
teknologi PTT padi dan meningkatkan intensitas pertanaman padi di lahan pasang surut.
Makalah ini bertujuan mengoptimalkan potensi sumber daya lahan lahan untuk peningkatan
produksi dan produktivitas padi melalui penerapan inovasi teknologi pertanaman padi musim
hujan dan peningkatan intensitas pertanaman padi (IP Padi 200) di lahan pasang surut desa
Teluk Ketapang Kecamatan Senyerang Kabupaten Tanjung Jabung Barat Provinsi Jambi.
B. Tujuan

Adapun tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui Pertanian Berkelanjutan yang
di lakukan pada Lahan Rawa Pasang Surut.
C. Sasaran

Optimalisasi penggunaan lahan pasang surut dalam sektor pertanian sehingga dapat
meningkatkan produktifitas dari lahan tersebut.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Lahan Pasang surut

Lahan rawa adalah lahan yang tergenang secara terus menerus akibat drainase buruk.
Lahan rawa di bagi menjadi dua yaitu rawa lebak dan rawa pasang surut. Lahan rawa pasang
surut merupakan lahan yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut.
Lahan pasang surut merupakan suatu lahan yang terletak pada zone/wilayah sekitar
pantai yang ditandai dengan adanya pengaruh langsung limpasan air dari pasang surutnya air
laut atau pun hanya berpengaruh pada muka air tanah. Sebagian besar jenis tanah pada lahan
rawa pasang surut terdiri dari tanah gambut dan tanah sulfat masam.
Lahan rawa pasang surut jika dikembangkan secara optimal dengan meningkatkan
fungsi dan manfaatnya maka bisa menjadi lahan yang potensial untuk dijadikan lahan
pertanian di masa depan. Untuk mencapai tujuan pengembangan lahan pasang surut secara
optimal, ada beberapa kendala. Kendala tersebut berupa faktor biofisik, hidrologi yang
menyangkut tata air, agronomi, sosial dan ekonomi
Kemudian tanah pasang surut biasanya dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan
terutama untuk lahan persawahan. Luas lahan pasang surut yang dapat dimanfaatkan
berfluktuasi antara musim kemarau dan penghujan. Pemanfaatan lahan pasang surut telah
menjadi sumber mata pencaharian penting bagi masyarakat disekitarnya meskipun belum
dapat menggunakannya sepanjang tahun. Rata - rata lahan pasang surut hanya dapat ditanami
sekali dalam setahunnya selebihnya dibiarkan dalam keadaan bero karena tergenang air.

Tergenangnya lahan pasang surut secara periodik ada kaitannya dengan kepentingan
pembangkit tenaga listrik dan meluapnya air pada musim penghujan. ( Hanggari,2008).
B. Zona wilayah lahan pasang surut
Berdasarkan pengaruh air pasang surut dimusim hujan dan pengaruh air laut dimusim
kemarau, wilayah rawa dibagi atas :
1. Zona 1 : Wilayah rawa pasang surut air asin/ Payau
Wilayah rawa pasang surut air asin/payau merupakan bagian dari wilayah rawa
pasang surut terdepan, yang berhubungan langsung dengan laut lepas. Biasanya,
wilayah rawa ini menempati bagian terdepan dan pinggiran pulau-pulau delta serta
bagian tepi estuari, yang dipengaruhi langsung oleh pasang surut air laut/salin. Sebagai
contoh, pulau-pulau delta di muara S. Musi dan Banyuasin di Sumatera Selatan.
Pada zona wilayah rawa ini, terdapat kenampakan-kenampakan (features) bentang
alam (landscape) spesifik yang mempunyai bentuk dan sifat-sifat yang khas disebut
landform. Sebagian besar wilayah zona I termasuk dalam landform marin. Pembagian
lebih detail dari landform marin, disebut sub-landform, pada zona I rawa pasang surut
air asin/payau dapat dilihat pada irisan vertikal tegak lurus pantai.

Gambar 1. Penampang skematis zona I wilayah rawa pasang surut air asin/ payau,
merupakan pantai lepas yang memiliki beting pasir pantai (coastal dunes)

Gambar 2. Penampang skematis zona I wilayah rawa pasang surut air asin/ payau,
pantai pada bagian yang terlindung dalam estuari, atau teluk

Wilayah zona I, khususnya di bagian sub-landform "dataran bergaram", atau


"salt-marsh", baik yang dipengaruhi air asin/salin maupun air payau, akibat salinitas
atau kandungan garam yang masih tinggi, tanah umumnya tidak sesuai untuk pertanian.
Oleh karenanya, tanah tersebut tidak direklamasi, baik oleh penduduk maupun oleh
pemerintah.
2. Zona 2 : Wilayah rawa pasang surut air tawar.
Lokasi zona II masih terdapat pada wilayah daerah aliran bagian bawah, tetapi
lebih ke arah hulu, dimana pengaruh langsung air laut / salin sudah tidak ada lagi, tetapi
energi pasang surut masih terasa berupa naik dan turunnya air (tawar) sungai mengikuti
siklus gerakan air pasang surut. Wilayahnya dapat mencakup seluruh pulau-pulau delta
kecil, seperti Delta Upang dan Delta Telang, atau sebagian besar wilayah pulau besar,
seperti Delta Berbak dan Delta Pulau Petak. Secara keseluruhan, wilayah ini umumnya
dimasukkan sebagai landform fluvio-marin, karena terbentuk dari gabungan pengaruh
sungai (fluvio) dan pengaruh marin.
Satuan-satuan sub-landform yang terdapat di zona II dapat dilihat lebih jelas pada
wilayah yang terletak di antara dua sungai besar. Penampang skematis sub landform di
antara dua sungai besar pada zona II diilustrasikan pada Gambar berikut.

Gambar 3. Penampang skematis sub-landform di antara dua sungai besar pada zona
II lahan rawa pasang surut air tawar

Oleh karena pengaruh sungai masih kuat, di sepanjang pinggir sungai terbentuk
tanggul sungai alam (natural levee) yang sempit dan lebarnya bervariasi, makin ke arah
hilir relatif sempit dan tidak begitu nyata terlihat di lapangan. Tetapi ke arah hulu,
kenampakannya di potret udara lebih jelas, terutama karena perbedaan vegetasi yang
tumbuh. Lebarnya adalah sekitar 0,2-1 km, dan setempat-setempat sampai sekitar 2 km.
Tanggul sungai terbentuk akibat pengendapan muatan sedimen sungai yang terjadi
selama berabad-abad, setiap kali sungai meluap ke daratan selama musim hujan. Bahan
endapan berupa debu halus dan lumpur, akan mengendap pertama-tama di pinggir
sungai, sementara bahan yang lebih halus berupa liat, akan diendapkan pada wilayah di
belakang tanggul. Tanah yang terbentuk di bagian tanggul sungai alam, merupakan
endapan sungai (fluviatile) yang tebalnya beragam, dari sekitar 0,5 m sampai lebih dari
1,5 m, menutupi endapan dasar yang merupakan endapan marin. Oleh karena terbentuk
dari bahan relatif agak kasar, debu kasar dan halus serta lumpur, tanah tanggul sungai
(levee soils) umumnya bertekstur sedang, dengan kandungan fraksi debu relatif tinggi,
seperti lempung, lempung berdebu, lempung liat berdebu, dan liat berdebu.

C. Luas Lahan dan Penyebarannya


Dengan menggunakan peta satuan lahan skala 1 : 250.000, Nugroho et al. (1992)
memperkirakan luas lahan rawa pasang surut di Indonesia, khususnya Sumatera, Kalimantan,
Sulawesi dan Irian Jaya mencapai 20,11 juta ha, yang terdiri dari 2,07 juta ha lahan potensial,
6,71 juta ha lahan sulfat masam, 10,89 juta ha lahan gambut dan 0,44 juta ha lahan salin.
Sedangkan menurut wilayah dan statusnya, menunjukkan bahwa potensi lahan pasang surut
terluas ada di Sumatera, Kalimantan dan Irian Jaya . Lahan tersebut tersebar terutama di
pantai timur dan barat Sumatera, pantai selatan Kalimantan, pantai barat Sulawesi serta pantai
utara dan selatan Irian Jaya sedangkan sebaran tipologi lahan berbeda menurut wilayah dalam
arti bahwa tiap wilayah dapat mencakup beberapa tipologi lahan dan tipe luapan air.
Dari luas lahan pasang surut tersebut, sekitar 9,53 juta hektar berpotensi untuk dijadikan
lahan pertanian, sedangkan yang berpotensi untuk areal tanaman pangan sekitar 6 juta hektar.
Areal yang sudah direklamasi sekitar 4,186 juta hektar, sehingga masih tersedia lahan sekitar
5,344 juta hektar yang dapat dikembangkan sebagai areal pertanian. Dari lahan yang
direklamasi, seluas 3.005.194 ha dilakukan oleh penduduk lokal dan seluas 1.180.876 ha
dilakukan oleh pemerintah yang utamanya untuk daerah transmigrasi dan perkebunan
Pemanfaatan lahan yang direklamasi oleh pemerintah adalah 688.741 ha sebagai sawah dan
231.044 ha sebagai tegalan atau kebun, sedangkan 261.091 ha untuk keperluan lainnya.
D. Prospek Untuk Produksi Tanaman Pangan
Berbagai hasil penelitian dan pengalaman memperlihatkan bahwa lahan pasang surut
memiliki prospek yang besar untuk dikembangkan menjadi areal produksif tanaman pangan
untuk mendukung peningkatan ketahanan pangan dan bahkan untuk diversifikasi produksi
dan pengembangan agroindustri serta pengembangan agribisinis dan lapangan kerja (Ismail et
al., 1993).
9

E. Tipologi dan Tipe lahan pasang surut


1. Tipologi Lahan Pasang Surut
Berdasarkan tipologinya lahan pasang surut digolongkan ke dalam empat tipologi
utama, yaitu:
a. Lahan Potensial

Lahan potensial adalah lahan yang paling kecil kendalanya dengan ciri
lapisan pirit (2 %) berada pada kedalaman lebih dari 30 cm, tekstur tanahnya liat,
kandungan N dan P tersedia rendah, kandungan pasir kurang dari 5 persen,
kandungan debu 20 % dan derajat kemasaman 3,5 hingga 5,5 . (Manwan, I.
dkk.1992). Lahan potensial yaitu lahan pasang surut yang tanahnya termasuk
tanah sulfat masam potensial dengan lapisan pirit berkadar 2% terletak pada
kedalaman lebih dari 50 cm dari permukaan tanah (Jumberi)
b. Lahan Sulfat Masam
Lahan sulfat masam adalah lahan yang lapisan piritnya berada pada
kedalaman kurang dari 30 cm dan berdasarkan tingkat oksidadinya lahan sulfat
masam ini dibagi lagi lahan sulfat masam potensial yaitu lahan sulfat masam yang
belum mengalami oksidasi dan lahan sulfat masam aktual yaitu lahan sulfat
masam yang telah mengalami oksidadi. (Manwan, I. dkk.1992).
Lahan sulfat masam ini dibedakan lagi menjadi : (a) lahan sulfat masam
potensial, yaitu apabila lapisan piritnya belum teroksidasi dan (b) lahan sulfat
masam aktual, yaitu apabila lapisan piritnya sudah teroksidasi yang dicirikan oleh
adanya horizon sulfurik dan pH tanah < 3,5. (Jumberi,)
c. Lahan Gambut/Bergambut
10

Lahan gambut/bergambut adalah lahan yang mempunyai lapisan gambut


dan berdasarkan ketebalan gambutnya lahan ini dibagi ke dalam empat sub
tipologi yaitu lahan bergambut, gambut dangkal, gambut dalam dan gambut
sangat dalam, umumnya lahan gambut kahat beberapa unsur hara mikro yang
ketersediaannya sangat penting untu pertumbuban dan pekermbangan tanaman
Lahan gambut ini dibagi lagi menjadi : (a) lahan bergambut bila ketebalan
lapisan gambut 20-50 cm, (b) gambut dangkal bila ketebalan lapisan gambut 50100 cm, (c) gambut sedang bila ketebalan lapisan gambut 100-200 cm, (d) gambut
dalam bila ketebalan lapisan gambut 200-300 cm dan (e) gambut sangat dalam
bila ketebalan lapisan gambut > 300 cm. (Jumberi,)
d. Lahan Salin
Lahan salin adalah lahan pasang surut yang mendapat pengaruh atau intrusi
air garam dengan kandungan Na dalam larutan tanah sebesar > 8% selama lebih
dari 3 bulan dalam setahun, sedangkan lahannya dapat berupa lahan potensial,
sulfat masam dan gambut.
Berdasarkan pertimbangan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh dalam
pemanfaatan dan pengelolaan lahan rawa adalah: (a) kedalaman lapisan
mengandung pirit/bahan sulfidik, dan kondisinya masih tereduksi atau sudah
mengalami proses oksidasi, (b) ketebalan dan tingkat dekomposisi gambut serta
kandungan hara gambut, (c) pengaruh luapan pasang dari air salin/payau, (d) lama
dan kedalaman genangan air banjir, dan (e) keadaan lapisan tanah bawah, atau
substratum.

11

Penggolongan tipologi lahan pasng surut di atas sangat umum, sehingga


menyulitkan transfer teknologi dalam satu tipologi lahan, oleh karena itu diusulkan
penggelompokkan lahan yang lebih rinci dengan mempertimbangkan berbagai ciri dan
karakteristik yang lebih spesifik
2. Tipe Luapan Air Pasang Surut
Berdasarkan tipe luapan air, tipe luapan lahan pasang surut:
1) Tipe luapan A bila lahan selalu terluapi air baik pada waktu pasang besar
maupun pasang kecil dan Lahan bertipe luapan A selalu terluapi air pasang,
baik pada musim hujan maupun musim kemarau,;
2) Tipe luapan B bila lahannya hanya terluapi oleh air pasang besar. lahan bertipe
luapan B hanya terluapi air pasang pada musim hujan saja;
3) Tipe luapan C bila Lahan tidak terluapi air pasang baik pasang besar maupun
pasang kecil, tetapi permukaan air tanah kurang dari 30 cm dari permukaan
tanah. Lahan bertipe luapan C tidak terluapi air pasang tetapi kedalaman muka
air tanahnya kurang dari 50 cm,;
4) Tipe luapan D bila lahannya tidak terluapi oleh air pasang baik pasang besar
maupun pasang kecil, tetapi permukaan air tanahnya berada pada kedalaman
lebih dari 30 cm dari permukaan tanah.
Tipologi lahan dan tipe luapan air merupakan acuan yang seharusnya dipatuhi dalam
penerapan paket teknologi agar usahatani yang dikelola dapat memberikan hasil yang optimal.
Paket teknologi usahatani itu sendiri pada garis besarnya berisi:
a. Teknik pengelolaan lahan dan air yang memuat pengaturan pemasukan dan pengeluaran
air baik pada tingkat makro maupun tingkat mikro, penataan dan pengeolahan lahan;

12

b. Teknik budidaya yang memuat teknik budidaya tanaman, ikan dan ternak, di dalamnya
meliputi vareitas/jenis yang cocok, pupuk dan pemupukkan, pencegahan dan
pengendalian organisme penganggu tanaman (opt), dan;
c. Teknik reklamsi lahan. Pengelolaan lahan dan air merupakan salah satu faktor penentu

keberhasilan pengelolaan usahatani di lahan pasang surut dalam kaitannya dengan


optimalisasi pemanfaatan dan pelestarian sumberdaya lahannya ( alihamsyah, 2003).
Pengaturan pemasukan dan pengeluaran air baik di tingkat makro maupun ditingkat
mikro sangat tergantung dengan tipe luapan air pada satu kawasan tertantu. Pada lahan yang
bertipe luapan A diatur dengan sistem satu arah, lahan yang bertipe luapan B selain dengan
sistem satu arah juga disertai dengan sistem tabat. Sedangkan lahan yang bertipe luapan C dan
D dimana sumber air utamanya adalah air hujan digunakan sistem tabat yang dilengkapi
dengan pintu stoplog untuk menjaga permukaan air tanah sesuai dengan kebutuhan tanaman
dan yang lebih terpenting adalah agar permukaan air tanah selalu tetap berada pada lapisan
pirit dengan kandungan lebih dari 2% dengan maksud agar tidak terjadi oksidasi. Pada
pengaturan pemasukan dan pengeluaran air satu arah, saluran pemasukkan dan pengeluaran
dibedakan dimana antara saluran pemasukkan dan pengeluaran dibuatkan pintu engsel (Flape
Gate) yang membuka kedalam pada saluran pemasukkan dan membuka keluar pada saluran
pembuangan (Ismail, I.G. dkk. 1993).

13

BAB III. PEMBAHASAN

A. Kesesuaian Inovasi/Karakteristik Lokasi :

Lahan pasang surut di Propinsi Jambi sebagian besar terdapat di Kabupaten Tanjung
Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur terletak pada 102 o70 sampai dengan 103o00 Bujur
Timur dan 01o00 sampai dengan 01o30 Lintang Selatan. Luas areal potensial untuk
pengembangan komoditas pertanian diperkirakan 200.000 ha dari luas tersebut potensi untuk
tanaman pangan 90.000 ha. Kabupaten Tanjung Jabung Timur merupakan Kabupaten yang
memberikan kontribusi terbesar beras di Propinsi Jambi (Pemda Tanjabtim). secara geografis
terletak antara 01

0620-01o1333 dan 104o0122-104o0906 BT. Lahan pasang surut

terbagi atas 4 tipologi yaitu lahan potensial, sulfat masam, lahan gambut dan salin serta tipe
luapan air A, B, C dan D. Iklimnya type B berdasarkan klasifikasi iklim Schmit dan Ferguson
dengan bulan basah antara 8-10 bulan dan bulan kering 2-4 bulan. Curah hujan bulanan
tertinggi umumnya terjadi pada bulan Desember/januari dan curah hujan terendah bulan
Agustus.
B. Keunggulan/Nilai Tambah Inovasi :
Penerapan inovasi teknologi tersebut dapat meningkatkan kualitas dan produktivitas
lahan, dapat meningkatkan intensitas penggunaan lahan dan penerapan beragam pola tanam
serta pendapatan petani. Produksi padi meningkat dari 2,5 3 ton/ha menjadi 4-6 ton/ha.
Penerimaan usahatani padi per hektar sebesar Rp. 6.250.000 dan keuntungan usahatani padi
per hektar yaitu Rp. 3.303.000.

14

Uraian Inovasi :
Tabel 1. Inovasi teknologi sistem usaha tani padi di lahan pasang surut
No
1.

Komponen Teknologi
Pola tanam dan penataan lahan

Inovasi teknologi
Sesuai dengan tipologi lahan dan tipe luapan air
Padi-Padi
Padi-Palawija/Hortikultura

2.

Pengelolaan tata air


- Makro

Saluran Primer, Sekunder, Pintu air

- Mikro

Saluran kemalir/cacing (20x30 cm)


Saluran kuarter (60x60 cm)
Saluran terier (75x70 cm)

3.

Pengelolaan lahan

Olah tanah dan TOT dengan herbisida

4.

Varietas

Batanghari, IR 42, Indragiri, Margasari,


Punggur, Lambur. Banyuasin.

5.

Pemupukan
(kg/ha)

6.

dan

Sei

Ameliorasi Sesuai dengan tipologi lahan

Urea

100-300

SP

120-180

KCl

100-150

Dolomit

1000-3000

CuSO4

ZnSO4

10

Pengendalian hama/penyakit

PHT

1) Pola Tanam dan Penataan Lahan

Pola tanam dengan penataan lahan sawah pada tipe luapan A adalah padi-padi.
Sedangkan pola tanam dengan penataan lahan sawah atau surjan pada tipe luapan air B adalah
padi-padi dan padi- palawija/hortikultura.
Tabel 2.

Acuan penataan lahan masing-masing tipologi lahan dan tipe luapan air di lahan
pasang surut.
15

Tipologi Lahan
Potensial

Sawah

Sulfat masam

Sawah

Bergambut

Sawah

Tipe luapan air


B
C
Sawah/surjan
Sawah/surjan/t
egalan
Sawah/surjan
Sawah/surjan/t
egalan
Sawah/surjan
Sawah/tegalan

Gambut dangkal
Gambut sedang

Sawah
-

Sawah/surjan
Konservasi

Gambut dalam

Konservasi

Salin

Sawah/tambak

Sawah/tambak

Sawah/tegalan
Tegalan/perkeb
unan
Tegalan/perkeb
unan
-

D
Sawah/tegalan/
kebun
Sawah/tegalan/
kebun
Sawah/tegalan/
kebun
Tegalan/kebun
Perkebunan
Perkebunan
-

2) Tata Air
Melalui pengelolaan lahan dan air yang tepat, maka produksi dan indeks pertanaman
(IP) pada lahan rawa pasang surut akan dapat ditingkatkan. Aspek utama pengelolaan air pada
lahan rawa pasang surut yaitu pengendalian muka air tanah yang berfluktuasi sehingga
dicapai kondisi muka air tanah di petak lahan yang dapat mendukung pertumbuhan tanaman
(Ngudiantoro et al, 2009).
Pengelolaan tata air makro dan mikro merupakan faktor penentu keberhasilan
pengelolaan lahan pasang surut. Pengoperasian dan perawatan tata air makro (meliputi
jaringan saluran primer, sekunder dan tertier serta pintu air) selama ini menjadi tanggung
jawab Dinas PU sedangkan tata air mikro (jaringan saluran kuarter, saluran keliling dan
cacing) menjadi tanggung jawab petani. Saluran cacing/kemalir dibuat dengan jarak 9 m dan
12 m. Pada lahan bertipe lupan air A diatur dalam system aliran satu arah sedangkan pada
lahan bertipe luapan air B diatur dengan sistem satu arah dan tabat, karena air pasang pada
musim kemarau sering tidak masuk kepetakan lahan. Sistem tata air pada tipe luapan air C
dan D ditujukan untuk menyelamatkan air, karena sumber air hanya berasal dari air hujan.
16

Oleh karena itu saluran air pada sistem tata air di lahan bertipe luapan air C dan D perlu
ditabat dengan pintu air stoplog untuk menjaga permukaan air tanah agar sesuai dengan
kebutuhan tanaman serta memungkinkan air hujan tertampung dalam saluran tersebut.
Dengan pengelolaan air yang baik, maka dapat melakukan pengaturan pola tanam
dan waktu tanam yang sesuai. Sehingga dapat meningkatkan indeks pertanaman (per musim
tanam). Hal ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pendapatan petani.
Dari uraian diatas, menunjukkan bahwa jaringan dan sistem tata air merupakan aspek
yang sangat penting dalam pengembangan dan peningkatan produksi dan lahan pertanian serta
sifat fisik tanah berpengaruh dalam pertumbuhan dan produksi tanaman.

Gambar 4. Layout sistem tata air pada lahan pasang surut


Berdasarkan layout di atas tampak bahwa pintu diletakkan pada saluran tersier
sebelum mencapai area lahan usaha, hal ini bertujuan agar air pasang dari laut tidak mencapai
lahan usaha. Pintu yang digunakan memiliki engsel yang dapat terbuka kearah saluran
sekunder, sehingga saat pasang, air laut tidak bisa masuk ke saluran tersier pada lahan usaha,
dan saat surut, saluran tersier sekitar lahan usaha dapat membuang kelebihan air dari air tanah
17

dan hujan, Sebenarnya pintu air dapat juga diterapkan pada saluran sekunder maupun primer,
namun terkadang saluran tersebut sering digunakan sebagai sarana transportasi, sehingga
penggunaan pintu air perlu dilengkapi dengan sistem multi-polder yang mampu menaik
turunkan muka air, seperti yang diterapkan di Belanda.
3) Pengelolaan Lahan
Penyiapan lahan dengan pengolahan tanah di lahan pasang surut diperlukan selain
untuk memperbaiki kondisi lahan menjadi lebih seragam dan rata dengan adanya
penggemburan dan pelumpuran juga untuk mempercepat proses pencucian bahan beracun dan
pencampuran bahan ameliorasi maupun pupuk dengan tanah . Pengolahan tanah yang
memberikan hasil baik dari segi fisik lahan dan hasil tanaman adalah dengan bajak singkal
atau tajak diikuti oleh rotary atau glebeg yang dikombinasikan dengan herbisida . Bila
tanahnya sudah gembur atau berlumpur baik dan merata yang umumnya dijumpai pada lahan
bergambut dengan tipe luapan air A dan B, pengolahan tanah secara intensif tidak diperlukan
tetapi diganti dengan pengolahan tanah minimum atau tanpa olah tanah (TOT) yang
dikombinasikan dengan penggunaan herbisida. Hal ini menunjukkan bahwa dilahan pasang
surut untuk pengolahan tanahnya tergantung kondisi lahannya. Walaupun pengolahan tanah
diperlukan tapi tidak harus dilakukan setiap musim, karena pengolahan tanah yang dilakukan
selang dua musim tanam tidak menurunkan hasil tanaman.
4) Ameliorasi dan Pemupukan
Pemberian bahan amelioran atau bahan pembenah tanah dan pupuk merupakan faktor
penting unuk memperbaiki kondisi tanah dan meningkatkan produktivitas lahan. Bahan
tersebut dapat berupa kapur atau dolomit maupun bahan organik atau abu sekam dan serbuk
kayu gergajian. Pemberian kapur sebanyak 1-2 ton/ha mampu meningkatkan hasil padi dan
palawija, untuk keperluan praktis secara umum pemberian kapur sebanyak 0,5 1 ton/ha
18

sudah cukup memadai. Dari serangkaian kegiatan hasil penelitian pengelolaan hara dan
pemupukan dapat disintesiskan dosis optimum untuk tanaman padi tertera pada tabel 2 .
Takaran pupuk dilahan pasang surutt perlu disesuaikan dengan status hara tanah, hal ini
berdasarkan serangkaian penelitian pemupukan berdasarkan status hara tanah untuk tanaman
padi varietas yang kurang tanggap terhadap pupuk N seperti varietas Margasari.
Tabel 2. Dosis pupuk dan bahan amelioran untuk tanaman padi di lahan pasang surut
Jenis Pupuk
(kg/ha)
N atau urea
P2O5 atau SP36
K2O atau KCl
CuSO4 atau terusi
ZnSO4
Kapur atau dolomite

Lahan potensial

Lahan sulfat masam


potensial
45-90 =100-200 67,5-135 =150-300
22,5-45= 60-120 45,0-70 =120-180
50=100
45,0-70 = 90-150
1000-3000

Lahan gambut
45=100
60=160
50=100
5
10
1000-2000

BAB IV. KESIMPULAN


19

A. Tata air mikro dapat mengurangi kemasaman tanah dan kandungan besi yang
merupakan kendala utama dilahan pasang surut
B. Sistem TOT disertai dengan penyemprotan herbisida Glyfosat sebanyak 6 l/ha pada
lahan sulfat masam dan bergambut yang sudah melumpur selain dapat mengurangi
waktu kerja 70-75 % juga meningkatkan hasil padi.
C. Keseimbangan hara N, P, K dan Ca sangat penting dalam pengelolaaan hara dan
pemupukan dilahan pasang surut. Dengan pemberian hara secara lengkap dapat
meningkatkan hasil padi dari 0,64 ton/ha menjadi 4,24 ton/ha sampai 6,0 ton/ha
D. Kelebihan dari tanah pasang surut:
1. Memanfaatkan lahan yang diperkirakan lahan yang tidak dapat di gunakan oleh

lahan pertanian
2. Memaksimalkan lahan yang terdapat disuatu daerah
3. Mungurangi tingkat penggangguran di daerah yang memiliki lahan pasang surut
E. Kekurangan tanah pasang surut:
a. Adanya perluasan wilayah pasang surut yang disebabkan karena pendangkalan di

tepian rawa, sehingga wilayah rawa menyempit. Hal ini dapat dipercepat dengan
kebiasaan membuang limbah sisa panen (jerami) ke dalam rawa.
b. Pencucian unsur hara dan kegiatan pemupukan menimbulkan adanya kekhawatiran

bahwa pada saat air pasang, unsur unsur terlarut masuk dalam lingkungan
perairan. Hal ini dapat menimbulkan suburnya berbagai species tumbuhan aquatik
maupun semi aquatik seperti eceng gondok, jenis rumput dll. Hal inilah yang dapat
menyebabkan eutrofikasi.
20

c. Peningkatan kadar keasaman lahan karena pelapukan bahan organik dan kelarutan

zat tertentu serta pencucian zat kimia dan penyemprotan pestisida, herbisida, zat
pengatur tumbuh yang dipergunakan oleh petani. Jika residu atau senyawa yang
ikut terlarut dalam air irigasi dan masuk dalam lingkungan perairan rawa akan
mempengaruhi kualitas air rawa dan kehidupan di dalamnya termasuk populasi
ikan.
d. Penggarapan lahan pasang surut menjadikan lahan subur bagi berbagai jenis

tumbuhan liar, selain tanaman budidaya. Jika lahan tersebut kemudian dibiarkan
menjadi bero, dengan cepat akan tumbuh berbagai jenis tumbuhan liar. Hadirnya
species tumbuhan terjadi secara bergantian melalui proses adaptasi dan suksesi,
dapat merubah lahan secara perlahan.
e. Pengolahan lahan, pada dasarnya menyebabkan partikel tanah lepas sehingga rawan

terhadap erosi. Bila hal ini terjadi, erosi tersebut akan mempercepat proses
penambahan sedimen ke dasar perairan rawa.

21

DAFTAR PUSTAKA
Gandasasmita, Karmini dkk.2006. Karakteristik dan pengelolaan lahan rawa. BALAI
BESAR PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBERDAYA LAHAN
PERTANIAN : Bogor.
http://bbsdlp.litbang.deptan.go.id/phocadownload/buku/bukulahanrawa.pdf

http://diondalampenelitian.blogspot.com/search?
http://kenzhi17.blogspot.com/

22