Anda di halaman 1dari 5

Kenakalan remaja

DEFENISI
Juvenile delinquency ( kenakalan remaja ) ialah perilaku jahat/dursila, atau
kejahatan/kenakalan anak-anak muda; merupakan gejala sakit ( patologis ) secara sosial pada
anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, sehingga mereka
itu mengembangkan bentuk tingkah laku yang menyimpang.(1)
Pengertian kenakalan remaja menurut Resolusi PBB 40/33 tentang UN Standard Minimum
Rules for the Administration of Juvenile Justice ( Beijing Rules ) khusus dalam rules 2.2
adalah salah seorang anak atau orang muda ( remaja ) yang melakukan perbuatan yang dapat
dipidana menurut sistem hukum yang berlaku dan diperlakukan secara berbeda dengan orang
dewasa(4)
BATASAN TENTANG REMAJA(4)
Perkembangan usia anak hingga dewasa dapat diklasifikasikan menjadi empat yaitu :
a. Anak, seorang yang berusia di bawah 12 tahun
b. Remaja dini, seorang yang berusia 12 15 tahun
c. Remaja penuh, seorang yang berusia 15 17 tahun
d. Dewasa muda, seorang yang berusia 17-21 tahun
e. Dewasa, seorang berusia di atas 21 tahun.
Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli sependapat bahwa
remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun.
ETIOLOGI
Beberapa penyebab dari kenakalan remaja meliputi gangguan-gangguan perilaku. Penyebab
gangguan perilaku mungkin berasal dari anak sendiri atau mungkin dari lingkungannya, akan
tetapi akhirnya kedua faktor ini saling mempengaruhi.(2)
Anak sendiri
1. Penyebab yang diturunkan. Diketahui bahwa ciri dan bentuk anggota tubuh dapat
diturunkan. Demikian juga beberapa sifat kepribadian yang umum dapat diturunkan
dari orangtua kepada anaknya.
2. Penyebab yang diperoleh pada waktu anak berkembang. Telah lama diketahui bahwa
gangguan otak seperti trauma kepala, ensefalitis, neoplasma dan lain-lain dapat
mengakibatkan perubahan kepribadian. Anak dengan sindroma otak organik ini
mungkin menunjukkan hiperkinesia, kegelisahan, kecenderungan untuk merusak dan
kekejaman.

Lingkungan
Meskipun faktor-faktor yang diturunkan itu mempengaruhi perilaku anak, akan tetapi faktor
lingkungan sering lebih menentukan. Dan karena lingkungan itu dapat diubah maka dengan
demikian gangguan perilaku itu dapat dipengaruhi atau dapat dicegah. Beberapa penyebab
gangguan perilaku yang berasal dari lingkungan ialah:
1. Orangtua
2. Saudara-saudara
3. Orang lain di rumah
4. Hubungan di sekolahnya
5. Keadaan ekonomi
DIAGNOSIS DAN GEJALA KLINIS(3)
Menurut PPDGJ III pedoman diagnostik untuk gangguan tingkah laku ( F-91 ):
1. Gangguan tingkah laku berciri khas dengan adanya pola tingkah laku dissosial, agresif
atau menentang yang berulang dan menetap.
2. Penilaian tentang adanya gangguan tingkah laku perlu memperhitungkan tingkat
perkembangan anak. Tempertantrum merupkan gejala normal pada perkembangan
anak berusia 3 tahun, dan adanya gejala ini bukan merupakan dasar bagi diagnosis ini.
Begitu pula pelanggaran terhadap hak orang lain (seperti tindak pidana dengan
kekerasan) tidak termasuk kemampuan anak berusia 7 tahun dan dengan demikian
bukan merupakan kriteria diagnostik bagi anak kelompok usia tersebut.
3. Diagnosis ini tidak dianjurkan kecuali tingkah laku seperti yang diuraikan di atas
berlanjut selama 6 bulan atau lebih.
Gejala Klinis:
1. Perkelahian atau menggertak pada tingkat berlebihan
2. Kejam terhadap hewan atau sesama manusia
3. Pengerusakan yang hebat atas barang milik orang lain
4. Membakar
5. Pencurian
6. Pendustaan berulang-ulang
7. Membolos dari sekolah dan lari dari rumah

8. Sering meluapkan tempertantrum yang hebat dan tidak biasa


9. Perilaku provokatif yang menyimpang
10. Sikap menentang yang berat dan menetap
DIAGNOSA BANDING(3)
1. Gangguan emosional pada kanak-kanak
2. Gangguan kebiasaan
TERAPI(2)
Penanganan kenakalan remaja memang sukar, karena sangat kompleks dan dapat meliputi
pendekatan somatik, psikologik dan sosial .
Obat psikotropik dapat membantu dalam mengawasi perilaku agresif individual, terutama
bila terdapat kerusakan otak. Psikoterapi sangat sukar dalam hal ini. Lebih baik bila
dilakukan terapi keluarga.
PROGNOSA(2)
Prognosa dari kenakalan remaja atau gangguan perilaku remaja tergantung pada lamanya
gangguan dan lingkungan sosial remaja itu serta adanya keinginan dari diri remaja tersebut
untuk memperjuangkan masa depannya.

Ada beberapa teori yang membahas mengenahi sebab-sebab terjadinya perilaku kenakalan
remaja yang pada dasarnya dapat digolongkan menjadi dua, yaitu: teori yang mendasarkan
pada pandangan bahwa manusia lahir bagaikan kertas putih (tabula rasa) yang dipelopori oleh
John Locke dan teori yang mendasarkan pada pandangan bahwa manusia lahir telah
membawa potensi-potensi psikis yang biasa disebut dengan aliran nativisme.
Teori
Biologis
Teori ini berpendapat bahwa tingkah laku sosiopatik atau delinkuen pada anak-anak dan
remaja dapat muncul karena faktor-faktor fisiologis dan struktur jasmaniah seseorang, juga
dapat oleh cacat jasmaniah seseorang, dan juga dapat oleh cacat jasmaniah yang dibawa sejak
lahir.
Kejadian
ini
berlangsung
(Kartono,
2001):
a) Melalui gen atau plasma pembawa sifat dalam keturunan, atau melalui kombinasi gen;
dapat juga disebabkan oleh tidak adanya gen-gen tertentu, yang semuanya bisa memunculkan
penyimpangan perilaku, dan anak-anak menjadi delinkuen secara potensial.
b) Melalui pewarisan tipe-tipe kecenderungan yang luar biasa (abnormal), sehingga
membuahkan tingkah laku delinkuen.
c) Melalui pewarisan kelemahan konstitusional jasmaniah tertentu yang menimbulkan
perilaku delinkuen atau sosiopatik. Misalnya cacat jasmaniah bawaan bracydactylisme
(berjari-jari pendek) dan diabetes mellitus (sejenis penyakit gula) itu erat berkorelasi dengan
sifat-sifat
kriminal
serta
penyakit
mental.
Lebih jelas Jensen (1985) yang dikutip oleh Sarlito Wirawan Sarwono, menurutnya teori
psikogenik menyatakan bahwa kelainan perilaku disebabkan oleh kelainan fisik atau genetic
(Sarwono, 2001). Searah dengan Jensen, Sheldon dalam teori konstitusinya beranggapan
bahwa faktor-faktor genetik dan faktor-faktor biologis lainnya memainkan peranan yang
menentukan dalam perkembangan individu. Sheldon menjelaskan bahwa ada sejenis struktur
biologis hipotesis (morfogenotipe) yang mendasari jasmani luar yang bisa diamati (fenotipe)
dan yang memainkan peranan penting tidak hanya dalam menentukan perkembangan
jasmani, tetapi juga dalam membentuk tingkah laku (Hall, 1993).

Teori
Psikogenis
Teori ini menekankan sebab-sebab perilaku delinkuen dari aspek psikologis. Antara lain
faktor inteligensi, ciri kepribadian, motivasi, sikap-sikap yang salah, fantasi, rasionalisasi,
internalisasi diri yang keliru, konflik batin, emosi yang kontroversial, kecenderungan
psikopatologis dan lain-lain. Menurut Sigmund Freud, sebab-sebab kejahatan dan
keabnormalan adalah karena pertempuran batin yang serius antara ketiga proses jiwa (Id,
Ego, Superego) sehingga menimbulkan hilangnya keseimbangan dalam pribadi tersebut.
Ketidak seimbangan itu menjurus pada perbuatan kriminal sebab fungsi Ego untuk mengatur
dan memcahkan persoalan secara logis menjadi lemah (Mulyono, 1995). Argumen sentral
dari teori ini adalah sebagai berikut: delinkuen merupakan bentuk penyelesaian atau
kompensasi dari masalah psikologis dan konflik batin dalam menanggapi stimuli eksternal
atau sosial dan pola-pola hidup keluarga yang patologis (Kartono, 1998).
Teori
Sosiogenis
Teori sosiogenis yaitu teori-teori yang mencoba mencari sumber-sumber penyebab kenakalan
remaja pada faktor lingkungan keluarga dan masyarakat. Termasuk dalam teori sosiogenis ini
adalah teori Broken Home dari Mc. Cord, dkk (1959) dan teori penyalah gunaan anak dari
Shanok (1981) (dalam Sarwono, 2001). Sutherland menyatakan bahwa anak dan para remaja
menjadi delinkuen disebabkan oleh partisipasinya ditengah-tengah suatu lingkungan sosial,
yang ide dan teknik delinkuen tertentu dijadikan sarana yang efesien untuk mengatasi
kesulitan hidupnya (Dalam Kartono, 1998). Healy dan Bronner sarjana Ilmu sosial dari
Universitas Chicago yang banyak mendalami sebab-sebab sosiogenis kenakalan remaja
sangat terkesan oleh kekuatan kultural dan disorganisasi sosial dikota-kota yang berkembang
pesat, dan banyak membuahkan perilaku delinkuen pada anak, remaja serta pola kriminal
pada orang dewasa (Dalam Sarwono 2001). Argumen sentral dari teori ini menyatakan bahwa
perilaku delinkuen pada dasarnya disebabkan oleh stimulus-stimulus yang ada diluar
individu.
DAFTAR PUSTAKA
Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja,(Jakarta:Radja Grafindo Persada, 2001).
Calvin S. Hall & Gardner Lindzey, Teori-teori Sifat dan Behavioristik, (Yogyakarta:Kanisius,
1993).
Y. Bambang Mulyono, Pendekatan Analisis Kenakalan Remaja dan Penanggulangannya,
(Yogyakarta:Kanisius,
1995).
Kartini Kartono, Patologi Sosial 2, (Jakarta:Radja Grafindo Persada, 1998