Anda di halaman 1dari 58

WAWASAN

ALUMNI
Profil Alumni Lulusan 1972,1974,
1976, 1977, 1982 dan 1987
SMP Muhammadiyah 7
Kotagede

PENULIS
Erwito Wibowo

"Ketika Masa Depan Adalah Sesuatu


Yang Belum Pasti,
Seringkali Membuat Kita Diliputi
Beragam Pertanyaan.
Maka,
Nasib Dan Keberuntungan
Seseorang Menempuh
Perjalanan Hidup
Melalui Rute Yang Berbeda-beda.
Inilah Sosok-Sosok Profil
Alumni Lulusan 1972, 1974, 1976,
1982 dan 1987.
SMP Muhammadiyah 7
Kotagede."

Abstraksi

REUNI
"Mengenang
hal yang menyenangkan,
ketika ternyata
kenangan berada
di masa depan."

Abstraksi

REUNI
Setiap orang pada dasarnya mencari
rasa aman.
Hal ini antara lain bisa diperoleh
lewat kenangan masa lalu,
melalui pertemuan reuni dengan
teman-teman lama.
Dengan reuni bisa memberikan
perasaan positip emosional, orang
merasa aman dan nyaman kembali
berada di tengah teman-teman yang
sejak dulu dikenalnya dengan baik.

Abstraksi

REUNI
Reuni tak sekedar silaturahmi,
tapi silaturahmi dengan kedekatan,
Kedekatan hati, kedekatan perasaan,
dengan begitu menjadi sarana
mengenal lebih dalam tentang sosok
manusia, yang tiada lain teman kita
sendiri.
Karakter seseorang bisa menunjukkan
kemana dia akan bekerja nantinya.
Itu semua disimpulkan dari acara
reuni.
Dengan reuni bisa membuat rasa
kebersamaan yang hadir
semakin kuat, rasa persahabatan
makin mengental, memunculkan rasa
kesetiakawanan.

Abstraksi

REUNI
Begitu banyak orang yang
memerlukan reuni.
Reuni bagi sebagian orang bukan
acara yang menghabiskan waktu.
Kesempatan ini justru
ditunggu-tunggu, antara lain untuk
mendapatkan aura yang berbeda dari
kejenuhan ritme kehidupan
sehari-hari.
Reuni selain demi menyambung
silaturahmi juga bermanfaat
membentuk jaringan komunikasi.

Abstraksi

REUNI
Mengapa orang suka reuni ?
Antara lain karena dalam acara itu
mereka bisa mengenang hal-hal pada
masa lalu yang menyenangkan.
Orang akan segan datang reuni kalau
pada acara itu mereka justru
mengingat kembali hal yang tak
menyenangkan atau bahkan traumatis
dalam hidupnya.

Abstraksi

REUNI
Dengan reuni,
banyak teman yang lama tidak
diketahui kabar beritanya,
seperti tiba-tiba muncul.
Mereka bekerja di berbagai bidang.
Ini merupakan aset informasi, karena
dari situ seseorang bisa mendapatkan
banyak hal, mulai dari cerita yang
mencerahkan hidup sampai
kesempatan berusaha.
Karena rasa percaya dan setia kawan,
mereka akhirnya membantu kawan
lama yang membutuhkan kerjasama
usaha.

Abstraksi

REUNI
Reuni juga mampu membuat
seseorang lepas dari statusnya
sehari-hari.
Kalau biasanya dia adalah seorang
suami/istri, dalam reuni mereka
semua menjadi lajang kembali.
Reuni akan lebih asyik tanpa
melibatkan keluarga.
Tidak perlu lagi menjaga image,
keluarga juga enggak merasa
dilupakan, karena biasanya kalau
reuni, selama proses penyiapannya,
aktifitasnya seseorang pasti akan lupa
diri pada keluarga.

Abstraksi

REUNI
Reuni menjadi ajang mengenang
kenakalan, masa muda, rasa jatuh
cinta, dan mengklarifikasi gosip.
Cerita tentang siapa pacaran dengan
siapa dan sekarang nikah dengan
siapa, sering menjadi trending topik
sebuah reuni.
Atau soal berantem, musuhan, saling
jothakan dan saling meledek, tetapi
tetap yang namanya teman adalah aset
nomer satu.

Abstarksi

REUNI
Reuni juga bisa melebarkan jaringan
pertemanan.
Ini bukan hanya membuat hidup
seseorang menjadi kaya teman,
tetapi juga kaya informasi.
Rasa setia kawanan dan persahabatan
yang kembali muncul saat reuni,
kemudian bisa berlanjut,
ini yang tak bisa dimiliki denagn uang.

Brigjen. Drs. H. Bambang Sudarisman, SH.MM

Bambang Sudarisman kelahiran 29 Mei 1958 pernah sekolah di


SMP Muhammadiyah 7 Kotagede sampai kelas II kemudian
melanjutkan ke sekolah lain. Kita mengenangnya sebagai teman yang
punya pengalaman dan kenangan yang sama terhadap guru, karyawan
dan lingkungan sekolah ketika belajar di lembaga pendidikan yang
namanya sekolah. Bambang Sudarisman ini berkulit gelap, sehingga
ketika sekolah di SMP Muhammadiyah 7 selalu mengenakan baju
berlengan panjang, maksudnya agar perjalanan dari rumahnya di desa
Condrowangsan, Potorono, Bantul sampai sekolahan tidak terlalu lama
disengat matahari sehingga makin tidak menghitamkan kulitnya. Dia
agak
merasa
terganggu
dengan
kulit
gelapnya.
Menurut pengakuan Suwarjono teman alumni seangkatan yang
rumahnya di nJomblangan, mengatakan bahwa pernah Bambang
Sudarisman mengunjungi Suwarjono yang tengah berbaring sakit,
Bambang Sudarisman berkata: "Saya mau menggantikan kamu sakit
asal sebagai gantinya kulit saya tiba-tiba bisa kuning." Begitulah logika
anak SMP masih lucu dan terdengar aneh.

Bambang Sudarisman lulusan Akpol Magelang tahun 1983,


berpangkat Letda Pol, memperoleh pendidikan jurusan reserse,
kemudian ditempatkan di PAMAPTA Poltabes Palembang. Kemudian
antara tahun 1984-1986 banyak ditempatkan di Jambi, sampai
berpangkat Lettu Pol. Pernah menjabat Kanit Reserse Polresta Jambi,
Kasit Lantas Polresta Jambi, hingga Kapores Selektif Polresta Jambi.
Mungkin begitu leluasa panjang bertugas di Jambi sehingga sempat
mengenal seorang wanita saat itu berusia 20 tahun yang menjadi
jodohnya. Wanita itu kebetulan kelahiran Jambi, bernama Warmayani
(16 Februari 1968). Dari pernikahannya itu memperoleh anak semata
wayang diberi nama Putri Maharani, kelahiran Jakarta 30 Mei 1988.
Kabar berita perkembangan karir dan prestasi yang
membanggakan terus mengalir deras menjadi informasi baru bagi
penulis. Bambang Sudarisman berhasil menempuh pendidikan di PTIK
Bandung angkatan XXIV lulus 1989, dan berhak menyandang gelar
dokterandus serta pangkat Kapten Pol, dan ditempatkan di Polres
Ambon. Pada tahun-tahun itu Bambang Sudarisman banyak
ditempatkan di kawasan Indonesia Timur. 1990 bertugas di Maluku.
1993 menjabat sebagai Wakapolres di Maluku Utara. 1994 menjabat
sebagai Kapolres Halmahera. 1995 di Polda Maluku.
Bambang juga sadar sebagai seorang penegak hukum, maka dia
harus memiliki wawasan hukum secara akademik, lantas dia studi
hukum hingga meraih gelar sarjana hukum. Pendidikan tersebut
ditempuh di SISPIM. Lulus tahun 1998 dengan pangkat Letkol Pol.
Sejak itu antara tahun 1997-2009, dia banyak bertugas dan
ditempatkan di Jawa. Pernah menjabat Kapolres Wonogiri, Kapolres
Cilacap, Kapolresta Surakarta dan Kapolwil Pekalongan. Kabar-kabar
berita yang menggembirakan terus mengalir bermunculan melalui HP
penulis maupun email.
Pada 2003, ketika menjabat sebagai Kapoltabes Jambi pangkatnya
sudah Kombes Pol. Pada 2005, Bambang bertugas menjadi pendidik di
Gabungan Pendidikan Utama Akpol di Semarang. Kemudian, sebelum
ditempatkan tugas di Dir Intelkam Polda Jateng pada 2008, harus
menempuh pendidikan di SESPATI pada 2007.
Ketika menjabat sebagai Kapolwil Pati pada 2009, Bambang juga
berhasil melakukan program SP2HP (Surat Pemberitahuan
Perkembangan Hasil Penyidikan). SP2HP merupakan program kerja
akselerasi transformasi menuju Polri yang mandiri, profesional dan
dipercaya masyarakat. Jadi setiap laporan polisi, masyarakat luas yang
ingin menanyakan perkembangan kasusnya, bisa dapat melihat dari

internet. Sukses melaksanakan program di Kapolwil Pati, Bambang


terus dipanggil ke Jakarta, memegang jabatan sebagai Direktur
Ekonomi Baintelkrim. Penugasan keluar negeri yang pernah dijalani,
dia pernah tugas di Singapura, Sidney Australia, Wellington, New
Zealand.
Semakin tinggi jabatan struktural di organik Polri, menjadi
tantangan bagi Bambang untuk studi Magister Manajemen, karena
untuk mengelola dan mengendalikan personil secara struktural
membutuhkan pengetahuan dan wawasan manajemen. Meski begitu,
menurut pengakuan Bambang, dulu ketika menjabat Kapolres, dia
tidak pernah membaca seluruh laporan-laporan yang tebal-tebal,
personil bawahannya yang sering diminta membacakan resume laporan,
lantas Bambang tinggal mengambil kebijakan sebagai keputusan.
Begitulah cerdiknya Bambang Sudarisman.
Kini, masa depan berada di pangkuannya. Ungkapan rasa syukur
berada di depan mata. Cakrawala nampak luas dan jernih dihiasi
pelangi. Puncak karir Bambang sekarang menjabat sebagai Kapolda
Jambi, dengan pangkat brigjen, memiliki anak perempuan bernama
Putri Maharani, anak semata wayang ini sudah dinikahkan dan
menganugerahkan dua cucu, laki-laki dan perempuan. Menantu
Bambang juga seorang polisi karir, bernama Dani Kusuma Negara
kelahiran Semarang 28 Juni 1997.

drh. Suwardi

drh. Suwardi (lahir 2 November 1958), hidupnya sudah cukup


mapan dan terpandang. Rumahnya bersih dan apik di kampung
Patalan KG II/749 Kotagede, menunjukkan orang yang tertib dan
disiplin. Di ruang tamunya banyak dihiasi foto-foto keluarga dalam
bingkai besar. Dia lulusan SMP Muhammadiyah 7, 1974. Drh. Suwardi
menikah tahun 1986 dengan gadis kampung Patalan bernama
Kusdarmiati. Dari pernikahannya dikarunia dua anak putra dan putri.
Anak sulungnya perempuan bernama drh. Medania Purwaningrum
MSc, kelahiran Medan 1987, sudah bersuami juga seorang dokter
hewan. Anak keduanya bernama Arif Tirtana kelahiran 6 Agustus 1992,
lulusan STAN , kini bekerja di bea cukai.
Selepas dari SMP Mutu, Suwardi meneruskan sekolah di SMA PIRI
Baciro Yogyakarta tahun 1975. Lantas meneruskan di Fakultas
Kedokteran Hewan UGM lulus tahun 1986. Suwardi ini mahir dalam
menghitung. Sewaktu di SD Muhammadiyah Kleco I, ketika akan
menghadapi ujian, sekolah menyelenggarakan belajar bersama
dilakukan malam hari di sekolahan. Pak Kasidi selaku guru membuat
soal di papan tulis, kemudian diselesaikan secara bersama-sama. Lantas
ketika pak Kasidi membuat soal lain yang angka-angkanya sudah

dirubah ditawarkan kepada murid-murid siapa yang bisa


menyelesaikan silakan maju. Semua tidak ada yang berani maju.
Kecuali Suwardi yang berani menyelesaikan soal-soal, murid-murid
lainnya tinggal menyalin hasilnya. Di SMP Mutu juga begitu, ketika
menyelenggarakan belajar malam hari, yang berani tampil maju
mengerjakan soal, cuma Suwardi dan Hendro Asmoro Yuwono. Murid
lainnya tinggal nyalin.
Ketika kenangan itu ditanyakan Suwardi, bahwa anda kuat dalam
hitung-menghitung kenapa mengambil kedokteran hewan yang harus
menghafal nama-nama latin yang sulit dilafalkan dan diingat. Jawaban
Suwardi, begini : "Pada permulaannya memang sulit, tapi itu harus
dikuasai sejak awal."
drh. Suwardi bekerja di Medan selama 16 tahun (1986-2001).
Sempat di Jakarta 1,5 tahun. Tahun 2004 bertugas di Semarang. Mulai
2014 pindah ke Yogyakarta. Kantornya di Bandara Adi Sucipto
bertugas di karantina pengawasan lalu lintas komoditas pertanian
dalam rangka pencegahan masuknya hama penyakit. Ada karantina
hewan dan tumbuhan. Dari sisi administrasi dan teknis, komoditas
pertanian bisa bebas keluar masuk syaratnya harus dilengkapi
dokumen. "Saya bekerja secara sift (giliran tugas), karena mengikuti
gerak bandara yang tidak boleh libur meskipun hanya sehari," ungkap
Suwardi yang nomor HP 0818469209
Tugas drh. Suwardi menguji di laboratorium, membuat diagnose
ada dan tidaknya penyakit untuk barang ekspor maupun impor.
Kemudian memberikan jaminan setelah dinyatakan sehat berupa
dokumen sertifikat kesehatan. Kalau ada yang tidak lolos, harus
dikarantina diobati sampai sembuh dan dinyatakan sehat. Di kantor
karantina banyak orang yang bekerja dari berbagai disiplin ilmu.
Untuk pengeluaran serifikasi yang berkompenten harus seorang dokker
hewan.
Drh. Suwardi di masa-masa mudanya merupakan sosok orang yang
gigih dan ulet. Orang kebanyakan kalau sudah kesulitan uang akan
sulit untuk meneruskan sekolah yang memerlukan banyak pembiayaan.
Istilah bahasa Jawanya, kepentok. Kepentok biayanya juga kepentok
kemampuan daya pikirnya. Suwardi melihat tantangan menghalangi
pandangannya. Tirai yang mengganggu pandangan ia singkap, dengan
berusaha sak sak kecekele agar mampu membiayai sekolahnya. Dia
berpikir mata pencaharian apa yang mampu cepat mendapatkan uang
tunai untuk biaya hidup dan sekolahnya. Jadilah dia loper minyak
tanah dari rumah ke rumah. Dengan sepeda jengki phonik jerigen di

samping boncengan menuju agen minyak tanah di warung Bronjong.


Dari minyak tanah itulah drh. Suwardi meraih kemapanan baru sesuai
dengan pendidikan yang ditempuh.
Suwardi sempat pernah mengabdikan diri di SMP Muhammadiyah
7 Kotagede sebagai tenaga pengajar praktikum mapel biologi. Juga
pernah ngajar di Mahad Islamy. Ketika ditanya suka dukanya bekerja
di karantina bandara, Suwardi mengatakan bahwa kalau terjadi mutasi
kerja di pelosok tanah air, tetap kantor tempatnya bekerja mesti dekat
bandara, dimana tentu saja selalu berada di kota tidak dipelosok.
Suwardi juga pernah ditempatkan di kota Belawan. "Cuma yang
menyedihkan ketika harus mengurus syarat-syarat administrasi
kepindahan sekolah kedua anak-anaknya, " ungkap dia lebih lanjut.

H.M. Warjono

Warjono, kelahiran 10 April 1957 beralamat di Jomblangan RT 2


Banguntapan, merupakan alumni SMP Muhammadiyah 7 angkatan
1974, sekarang menjabat sebagai kabag pemerintahan kecamatan
Banguntapan bernomer kontak 6287839805281, dia juga pemilik
rumah makan dan pemancingan Projomino, juga mengelola Yayasan
Pondok Pesantren Wira Usaha Sunan Kalijaga dan panti asuhan yatim
dan dhuafa "Sabillu ssalam"
Semula, desa Jomblangan bersuasana agraris telah diubah dengan
kehadiran rumah makan dan pondok pesantrennya menjadi
bersuasana dan warna santri. Santri-santri yang statusnya yatim
bahkan piatu berada di asrama dekat tempat usahanya bahkan mereka
belajar mengelola bisnis rumah makan dan pemancingan. Warjono
membuka dirinya, "Silakan siapa saja yang memilki kerabat yatim
piatu titipkan ke pondok pesantern saya. Di sini akan memperoleh
pendidikan dan belajar wira usaha,"ungkapnya dengan tulus.
Pada waktu pertama kali membuat gagasan pondok pesantren wira
usaha "Sunan Kalijaga" banyak masyarakat yang memandang sebelah
mata. Warjono mampu membuktikan. Dan berhasil. Pesantrennya,
bukan sembarang pondok pesantren. Pondok pesantren yang berbeda.

Pondok pesantren yang mampu melengkapi daripada pondok pesantren


yang telah mapan. Pesantren yang tidak hanya membekali para santri
ilmu agama, tapi juga wira usaha. Sudah cukup banyak pesantren
berdiri tapi hanya mengajarkan ilmu agama, bukan ilmu untuk
mempertahankan hidup dengan berusaha. "Saya yakin, seseorang akan
hidup terhormat dengan wirasawsta. Umat Islam hanya bisa bangkit
dan terpandang dengan wiraswasta. Dengan wira swasta seseorang
akan mandiri dan produktif." ungkap Warjono yang beristrikan Hj. Sri
Sunarti asal Moyudan, Sleman.
Rumah makan dan pemancingan serta pondok pesantrennya tidak
berpagar. Sangat terbuka. Terbuka terhadap pemandangan alam
pedesaan yang asri, tapi juga pemandangan hatinya. Hatinya lebih
terbuka lagi terhadap kerjasama dengan lembaga lain sebagai mitra
relasi yang mampu mengantarkan kebahagiaan dunia akherat. Banyak
lembaga mengulurkan tangan melakukan kerjasama. Kerjasama yang
berhasil dirintis dibukanya Pusat Pendidikan Pertanian Terpadu, yang
diresmikan oleh ketua PP Muhammadiayah, Prof.DR. Din Syamsudin.
Pusat Diklat yang dikelola Warjono juga pernah menghadirkan 236
Majelis Pemberdayaan Masyarakat utusan dari Pimpinan Wilayah
Muhammadiyah se Indonesia. Kemudian, pada 13 Agustus 2009 Pondok
Pesantren Wira Usaha "Sunan Kalijaga" diresmikan Hidayat Nur
Wahid selaku ketua MPR RI. Di Pondok Pesantren ini juga seorang
Cholid Mahmud selaku Dewan Perwakilan Daerah bersedia duduk di
Divisi Pengembangan Pondok.
Warjono mengaku bahwa : "Saya bekerjasama dengan siapa saja,
dengan siapa pun, tidak beraktifitas politik, tidak mengayunkan
bendera politik, tapi saya berbuat mengayunkan langkah semata-mata
untuk keumatan. Hidup harus bermanfaat. Hidup harus berguna untuk
orang lain. Saya tidak mengenal bendera politik." Bahkan dia mampu
mendirikan TK Alam dengan siswa sebanyak 35 anak. Pendidikan yang
diberikan agar anak-anak menyukai tanaman dan mampu memelihara.
Yayasannya tidak mengambil untung. Biaya dibuat seringan-ringannya.
Dari yayasan ada yang mengelola. Bahkan sempat ada yang tidak
mampu, lalu Warjono yang membayar ke Yayasan miliknya.
Warjono merintis pondok pesantren ini ketika masih kuliah
Fakultas Syariah IAIN Yogyakarta. Lulus sarjana muda 1982.
Keberhasilan usahanya banyak didukung karena luas pergaulannya.
Dari pergaulan itu muncul kemitraan. Tahun 1986 pernah dinobatkan
sebagai Pemuda Pelopor tingkat DIY. Tahun 1988 menjadi Pemuda
Pelopor tingkat nasional yang dilantik oleh mempora Akbar Tanjung.

Ketika membuat produk pelatihan yang berupa diklat Warjono melalui


yayasannya melakukan kerjasama dengan Prof. Ali Agus, dekan
fakultas peternakan UGM. Bagaimana beternak kambing, bebek,
bagaimana peminjahan lele.
Pondok pesantrennya memiliki uztad yang mampu ngopeni kelinci,
kambing. Cara bertanam dan memelihara ikan. Waktu merintis
memang pengadaan operasional mahal, untuk pelatihan perlu
menyiapkan bahan-bahan, termasuk menyiapkan (orang) pelatih yang
spesialis.
Kemudian yang menonjol justru diklat-diklat tersebut, disamping
pondok pesantrennya. Ada diklat cuma satu hari. Bahkan ada yang
cuma satu jam. Pesertanya para pensiunan jasa marga yang kepingin
mengisi hari tuanya dengan wira usaha. Bagaimana membuat pupuk
organik. Pupuk dibuat bahannya dari kencing kambing dan kelinci.
Keuntungan hasil penjualan pupuk organik melebihi harga daging
kambing. Penggemukan kambing dengan permentasi. Hasilnya
dagingnya bisa dua kali lipat dari cara konvensional.
Warjono dikaruniai empat putra laki-laki semua. Anak pertama,
Nurdin Bimawan, kelahiran 6 Desember 1986 alumni komunikasi UII,
juga alumni SMP Muhammadiyah 7, telah memberikan kegembiraan
berupa cucu pada Warjono. Anak kedua, Fathillah Fahmi kelahiran
1990, lulusan hukum melanjutkan kuliah notariat di UII. Anak ketiga,
Bekti Muzbakhaliq, kelahiran 1994 kuliah di Fakultas Ekonomi UII.
Anak keempat, Wikan Dinu Satoto, kelahiran 1998 masih sekolah di
MAN Lab UIN.
Kenangan Warjono terhadap SMP Muhammadiyah 7 ketika dia
dipercaya menjadi ketua IPM selama 3 tahun. Waktu itu sekolah di
SMP Muhammadiyah 7 belum banyak siswa mengenakan sepatu, cuma
nyeker. Kalau bersepatu akan tampak lain sendiri, asing di tengah
teman-temannya yang nyeker seperti wong angon bebek. Agar tidak
berbeda, setiap individu setia pada kebersamaan nasibe nyeker.
Weladhalah, celaka bagi Warjono. Dia sebagai ketua IPM ranting SMP
Muhammadiyah 7 memperoleh undangan rapat di IPM kota. Terpaksa
pulang dulu mengenakan sepatu baru berani berangkat ke kota.
Sebagai ketua Paguyuban Alumni Mutu Warjono berharap pada
teman-teman untuk rajin menjalin silaturahmi. Peran alumni besar
sekali. Warjono membandingkan dengan alumni jamaah haji satu regu
(kelompok) itu rajin sebulan sekali menyelenggarakan pertemuan
untuk menjaga kemabruran. Itu jamaah haji yang intens bersama
selama hanya 45 hari di Mekkah. Caba bandingkan dengan para

alumni, bertemu secara intens selama minimal 3 tahun. Mestinya kita


juga mampu menjaga kemabruran alumni. Perlu dicoba. Dan siapa
tahu muncul kemitraan baru dengan teman yang lama sudah dikenal.

H. Iswanto Agus Harfian

Iswanto Agus Harfian kelahiran 8 Juli 1957, pekerjaan terakhir


sebagai lurah di Tahunan (2011-2013). Menikah tahun 1983 dengan
Yustina Rusnawati dikarunia dua putra. Putra pertama bernama Muh.
Farid Isnawan kelahiran 1 Oktober 1984, lulusan SMA Taruna
Nusantara memperoleh bea siswa sekolah pertambangan di Singapura,
tepatnya di Nanyang Technological University, Singapura. Sekolah 4
tahun dan 6 tahun mengabdi kerja sebagai konsekuensi kontrak bea
siswa. Genapnya sudah hidup selama 11 tahun di Singapura
ditempatkan di Singapura Air Line. Merasa jenuh di Singapura, Farid
akhirnya sekarang bekerja di PT. Uniliver Indonesia di Surabaya.
Anak kedua Iswanto bernama Rizka Agung Herlambang, lahir 1
April 1988, lulusan UAD 2009 jurusan ilmu komputer, sekarang bekerja
di bagian pelayanan umum kantor pemerintah kecamatan Kotagede.
Anak-anak yang berhasil menjadi hiasan mata bagi orang tuanya.
Menjadi penyejuk hati bagi kedua orang tua ketika mengenang saat
bagaimana memperbesarkannya. Iswanto ini lulusan SMP
Muhammadiyah 7 1974 kemudian melanjutkan di SMA
Muhammadiyah I Yogyakarta. Selepas SMA, Iswanto sempat bekerja di

perusahaan kerajinan imitasi Padi Mas milik KH. As'ad Humam di


Selokraman. Tugasnya memasarkan barang dagangan kerajinan imitasi
di Bandung dan Purwokerto selama 1978-1979.
Sambil berwiraswasta seperti itu, diam-diam Iswanto rajin
memasukkan lamaran-lamaran kerja. Salah satu lamarannya ada yang
nyanthol, dia diterima di Departemen Penerangan, berangkatlah dia
pada tahun 1980 dan bekerja di Departemen Penerangan kantornya di
jalan Merdeka Barat Jakarta Pusat. Pada tahun 1983
dipindahtempatkan di Kanwil Penerangan propinsi DIY di jalan KHA
Dahlan Yogyakarta. Di Yogyakarta Iswanto malang melintang sebagai
jupen (juru penerangan) di beberapa kecamatan, seperti :
Gondokusuman, Gedong Tengen, Pakualaman, Mergangsan. Tugasnya
memberikan penjelasan kepada masyarakat terhadap kebijakan
pemerintah pusat dan daerah melalui forum yang diselenggarakan
masyarakat seperti: PKK, RT, RW, Dasawisma, PAUD, LPMK,
pengajian kampung dan lain-lain yang semuanya dilangsungkan di
malam hari, di luar jam kantor. Meski repot, boros waktu dalam
melayani masyarakat, alhamdulillah, Iswanto mampu menyisihkan
waktunya untuk menunaikan ibadah haji pada tahun 2010 bersama
istrinya.
Ketika Departemen Penerangan dibubarkan masa pemerintahan
Gus Dur, Iswanto dilimpahkan ke Dinas Sosial tugasnya melayani
masyarakat, tidak jauh berbeda ketika berada di Penerangan. Di Dinas
Sosial kebanyakan tugasnya melayani komplain masyarakat terhadap
tingkat ketidakpuasan yang disebabkan produk kebijakan pemerintah.
Masalah limbah di tengah masyarakat, perceraian hingga wong padu
harus ditangani. Selain itu, juga menangani Gelandangan dan Pengemis,
Anak Jalanan, Rumah Singgah Anjal yang fiktif, Penyandang Cacat,
KMS, Rumah Tidak Layak Huni. Persoalan-persoalan masyarakat
bawah menjadi santapan sehari-hari Iswanto, karena begitu
menguasainya sehingga mengantarkan dia memperoleh jabatan lurah
di kalurahan Tahunan. Iswanto bernomer kontak 081328785957.
Harapan Iswanto terhadap Alumni SMP Mutu, "Agar di antara
alumni ada ruang untuk saling komunikasi. Meskipun setahun hanya
sekali. Biar ada kesinambungan terhadap adanya alumni. Perwakilan
guru bisa juga diundang untuk mengetahui perkembangan SMP Mutu.
Membuat wadah untuk kegiatan alumni, kalau perlu difasilitasi sekolah.
Siapa tahu kalau kita pergi keluar kota bisa mampir ke teman sesama
alumni, kalau tujuan pokok sudah dikunjungi."

Hendro Asmoro Yuwono

Hendro Asmoro Yuwono kelahiran 18 Februari 1958 yang beralamat


di kampung Pasegan RW 05 kalurahan Purbayan Kotagede, selepas
dari SMP Muhammadiyah 7 Kotagede masuk di STM Pembangunan
Mrican Yogyakarta, lulus pada 1980, Lantas, tiba-tiba, pada 1981
muncul proyek dari Bank Dunia, Hendro dipilih dan ditunjuk
sekolahnya untuk membantu melakukan perakitan mesin-mesin di
BLPT (Balai Latihan Kerja Teknis), seperti mesin bubut, mesin pres
dan segala teknik mesin.
Dari pengalaman adanya proyek Bank Dunia itulah yang
mengantarkan Hendro melanjutkan diklat guru D3 di Bandung pada
tahun 1982. Dan, akhirnya pada 1985 Hendro harus memilih menjadi
guru di BLPT yang berkantor jalan Kyai Mojo no 70 Yogyakarta.
Sampai tahun 2012, Hendro menjadi guru terus-menerus, dari mutasi
ke mutasi lainnya. Termasuk ketika muncul Surat Keputusan Bersama
(SKB) 5 kementerian yang menyatakan bahwa di BLPT di Daerah
Istimewa Yogyakarta tidak ada posisi untuk jabatan guru, yang ada
adalah posisi untuk jabatan instruktur. Hendro kawus tidak berkutik.
Surat Keputusan Bersama 5 kementerian menjadi rintangan yang
dilematis bagi Hendro Asmoro Yuwono yang bernomer HP

081392299438. Karena menurut penuturan Hendro bahwa profesi guru


jelas hanya menangani pendidikan formal, sedangkan profesi
instruktur hanya menangani pendidikan non formal. Meski begitu,
Hendro cerdik lebih memilih status guru, karena masa pensiunnya lebih
lama dibanding profesi instruktur. Ditambah lagi, profesi guru
memperoleh fasilitas tunjangan guru, tunjangan fungsional, tunjangan
intelektual, termasuk tunjangan profesional, karena posnya
anggarannya berbeda-beda dan sendiri-sendiri. "Kalau saya memilih
menjadi instruktur sekarang mungkin sudah pensiun, tapi karena saya
memilih menjadi guru sampai sekarang masih aktif mengajar,"
begitulah penjelasan Hendro yang beristrikan Endang Yamsiningsih
dan memberikan karunia 3 orang anak.
Sampai sekarang Hendro mengajar di SMK 2 Sihono dan SMK
Muhammadiyah I Patuk, keduanya di wilayah Gunungkidul yang harus
dilaju dari rumahnya di Kotagede. Di SMK 2 Sihono, kompentensinya
Hendro tidak sesuai, karena hanya mengajar elektronik industri yang
hanya mampu mengumpulkan 6 jam pelajaran, di situ Hendro hanya
sebagai guru definitif. Dengan kecerdikannya, Hendro mengambil 24
jam pelajaran bidang elektrik audio dan video di SMK Muhammadiyah
I Patuk, agar memperoleh akumulasi 30 jam wajib yang harus
diperolehnya.
Untuk mensiasati penuh sesaknya lalu lintas di sepanjang jalan
Wonosari, Hendro memilih mengajar sedikit siang hari, karena dia
hafal hari-hari dan jam-jam tertentu lalu lintas ramai. Pada hari Senin
banyak orang dari arah Gunungkidul turun bekerja atau sekolah di
Yogyakarta. Sementara pada hari Sabtu orang-orang Gunungkidul
pulang dari arah Yogyakarta.
Hendro juga sudah melakukan sertifikasi guru. Dari basis
pengembangan diri, masa kerja dan pengalaman yang sudah dimiliki,
termasuk penelitian dan menulis karya tulis sebagai buku pegangan
siswa, juga sudah dilakukan. Malam-malam ketika suasana sepi dan
hening, adalah saat yang nyaman bagi Hendro untuk melakukan
aktifitas menulis. Buku-buku yang ditulis antara lain: (1) Dasar-Dasar
Televisi Berwarna dan Instalasi Sound System, (2) Teknik Dasar
Reparasi Televisi Warna. (3) Dasar-Dasar Radio Reparasi AM dan FM,
(4) Pengetahuan Dasar CD,VCD, DVD dan Tape Recorder, kurikulum
2006.
Hendro dikarunia 3 putra yang membanggakan hidupnya, menjadi
semangat dan penerus cita-cita keluarga. Anak sulungnya bernama
Satiyaksa Restu Baskoro, kelahiran 12 Desember 1985, Lulus SMK

lantas kerja di Jakarta, ketika muncul PHK kembali ke Yogyakarta


kepingin menjadi dosen, sekarang kuliah di Fakultas Hukum
Universitas Widya Mataram Yogyakarta. Anaknya nomer dua bernama
Al-Husen Flower Rizki, kelahiran 3 Maret 1991 menjadi dosen di
STTNAS Yogyakarta, lulusan S2 Geologi UGM. Anaknya ragil,
perempuan bernama Al-Ilhami Nur Habibi Takwa Kalmi menempuh
pendidikan di Poltekkes Yogyakarta.

Subagyo Ja'far Shadiq

Tim kreatif program infotaiment Hitam Putih Trans 7 dengan host


Deddy Corbuzier, tertarik pada usaha seseorang menawarkan jual jasa
garap soal spesialis matematika untuk SD, SMP dan SMA yang biasa
mangkal di pojok kantor pos Kotagede, yang sebelumnya sudah
diunggah media sosial semacam Detik.com, Kompas.com, Media.com,
di web. Dampak pengungahan berita itu menjadikan makin deras
telpon datang bertubi-tubi, sekadar mencari informasi saja.
Subagyo berangkat ke Jakarta 17 Desember 2014, tanpa
pengarahan dan simulasi gladi resik, langsung masuk ruang make up
lalu take, sehingga ketika ada pertanyaan mendadak Deddy, Subagyo
agak grogri, kurang mampu menyusun dan menemukan kata-kata yang
tepat. "Apa anda yakin dengan usaha itu ?" tanya Deddy. Jawaban
Subagyo waktu itu begini : "Saya masih ragu-ragu, tapi saya akan
berusaha dimana suatu saat pasti saya menemukan keberhasilan."
Subagyo masih berargumen dengan jawaban spontan itu. "Coba

bayangkan, kalau anda merasa dan meyakini pekerjaan anda yakin


berhasil, itu menjadi belum tentu. Tapi, sebaliknya, kalau tidak yakin
tapi justru berhasil. Saya tidak terpengaruh dengan jawaban saya yang
ragu-ragu ."
Semula, anak Subagyo diberi buku-buku paket dari tempatnya
sekolah, seperti biologi, kimia, fisika dan matematika. Kemudian dia
tertarik membantu mengerjakan PR matematika anaknya, hasilnya
bagus. Hal itu menjadikan memacu Subagyo untuk mengerjakan
matematika lainnya dari kumpulan soal-soal dan penjelasannya. "Ini
seperti untuk melatih kembali kemampuan saya, " kenang Subagyo.
Subagyo ini lulusan SMP Muhammadiyah 7 1974. Dia langsung
duduk di bangku kelas III karena sempat beberapa tahun dia
meninggalkan bangku sekolah untuk bekerja. Di kelas III SMP, mata
pelajaran yang sangat dikuasai untuk ulangan harian adalah Bahasa
Inggris, Ilmu Kimia, Ilmu Ukur dan Aljabar, masing-masing
memberikan nilai 10. Habib Chirzin guru bahasa Inggris, waktu itu
kalau dengan Subagyo sudah melakukan percakapan harian dengan
bahasa Inggris, bukan lagi sebatas grammer.
Subagyo melanjutkan SMA Yub di malam hari. Kemudian masuk
Fakultas Teknik Kimia UGM 1979 hanya beberapa semester saja.
Setelah putus kuliah, dia membuka bimbingan les di rumahnya.
Membuka jasa terjemahan bahasa Inggris. Mengerjakan jasa ketik
skripsi. Semua itu dikerjakan ketika bertempat tinggal di daerah
Pogung 1988. Kemudian menjadi penulis freelance untuk beberapa
koran, seperti : Kompas, Kedaulatan Rakyat, Gatotkaca, Joko Lodhang.
Pernah menjadi reporter di Yogya Post pada 1990. Pernah kerja di
Suara Muhammadiyah mengerjakan advertorial ( profil pengusaha dan
usahanya).
Kemampuan bahasa Inggrisnya juga sempat dipergunakan ketika
menjadi guide di art shop dan workshop MD Silver Kotagede, tahun
1980 an. Dan jangan lupa, Subagyo pernah juga kerja di perusahaan
kerajinan kuningan. Dia spesialis ngondel untuk teko, barang berupa
selinder kemudian diblendukkan, sebelum masuk SMP Mutu di kelas
III.
Kenapa Subagyo memilih Jual Garap Jasa Soal Matematika ? Dia
melihat bahwa mata pelajaran matematika itu dianggap momok bagi
orang tua, dan tidak setiap orang tua mampu mendidik anaknya untuk
mapel matematika, ditambah lagi mereka malas mengajari anaknya.
Larinya pasti les bimbingan. Peluang itu saya tangkap menjadi basis
usaha saya. Insya Allah jasa saya ini akan menjadi jalan keluar bagi

para orang tua. Saya mencoba peruntungan baru dengan membuka


lapak di pojok kantor pos Kotagede, di samping di rumahnya di
Pungkuran Timur RT 05 Plered atau bisa kontak HP 087738405830.
Menurut Subagyo yang beristrikan Suwarti (50), "Matematika itu
unik. Kalau sudah pusing belajar matematika pasti akan menemukan
jawaban. Jangan berpikiran bahwa yang ahli matematika itu gampang
menyelesaikan, yang ahli pun melalui proses menemukan jawabannya."
Pesan Subagyo, yang terpenting dalam belajar matematika, ikuti
prosesnya dan jangan patah semangat.
Subagyo Ja'far Shodiq yang dikarunia dua orang anak, mempunyai
pengalaman yang unik bersama matematika. "Saya pernah
mengerjakan matematika milik perguruan tinggi. Saya mengerjakan
sejak pagi pukul 08.00 baru selesai ketemu jawabannya pukul 19.00."
"Saya berani mengatakan bahwa tidak ada orang jenius yang tanpa
latihan. Itulah matematika. Jika ingin mencintai matematika, carilah
guru sebanyak-banyaknya, buku-buku sebanyak-banyaknya. Belajar
matematika itu harus senang. Caranya dengan mengulang pelajaran,
menggunakan rumus dan menerapkan dan mencoba contoh-contoh
baru, " begitu kiat Subagyo.
Di akhir perbincangan, Subagyo menyarankan kepada para orang
tua dalam menghadapi anak yang kesulitan pelajaran matematika, tak
perlu khawatir. Berilah solusi dan fasilitasi anak agar mau giat belajar.
Orang tua jangan masa bodoh jika anaknya lemah dalam pelajaran
matematika.

Erwito Wibowo

Erwito Wibowo lahir tidak jauh dari titik nol Km kota Yogyakarta
(26 Mei 1958), tepatnya di rumah praktek dr. Hendri, sekarang menjadi
toko batik Prapanca, selatan kantor KONI DIY jl. Trikora (Pangurakan)
no 3 Yogyakarta. Ketika itu di Kotagede belum ada klinik bersalin yang
memadai, sehingga seluruh keluarganya lahir di sana.
Dia menghabiskan masa mudanya di pojok pasar, persisnya jalan
Mentaok Raya no 2 Kotagede, yang merupakan pusat geografi sosial
dan ekonomi di Kotagede. Pernah bekerja di majalah remaja muslim
"Estafet" berkantor di gedung Maya Indah Building jalan Kramat
Raya No 3 N, Jakarta Pusat (1986). Melanjutkan kerja di majalah
"Kiblat", jl. Agus Salim no 24, Jakarta Pusat (1988).
Memperhatikan perkembangan hidupnya yang senantiasa berada di
pusat keramaian, menghasilkan sosok pribadi yang selalu gelisah
terhadap dinamika kehidupan masyarakat. Akan tetapi, kegelisahannya
bukan bersifat fisik, justru berbanding terbalik dengan dunia
keramaian yang gegap gempita. Karena dia berminat pada dunia
penulisan, dunia penulisan adalah jalan sunyi. Dia berada di pusaran
kesunyian.

Sebagai orang Kotagede asli, Erwito Wibowo sering mencermati


kehidupan kampung-kampung di Kotagede, menjadi tim penulis buku
Toponim Kotagede, asal muasal nama-nama Kampung di Kotagede
yang diterbitkan Kementerian Pekerjaan Umum Dirjen Cipta Karya
Pemerintah Pusat Jakarta bekerjasama dengan Java Recovery Funding
Rekompak (2011). Juga menulis naskah komik Seri Pendidikan Pusaka
Untuk Anak, diterbitkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum Dirjen
Cipta Karya Pemerintah Pusat bekerja sama dengan JRF REKOMPAK.
(2011). Erwito Wibowo bernomer HP 087839155415. Email
erwitowibowo00@g.mail.com atau lmbkotagede@g.mail.com
Bekal pendidikannya termasuk kurang berhasil, lulus SD
Muhammadiyah Kleco I (1971). SMP Muhammadiyah 7 Kotagede
(1974). SMA Muhammadiyah I Yogyakarta (1977). Sempat kuliah
sampai tingkat doktoral 1, di Fakultas Ekonomi Universitas Proklamasi
'45 jalan Dagen no 20 Yogyakarta (1981). Minatnya pada dunia
penulisan sehingga sering memberi kontribusi tulisan pada media,
terutama cetak. Tahun 1982, pernah bekerja sebagai reporter di
Bengkel Jurnalistik Gelanggang di jalan Candrakirana no 23 Sagan
Yogyakarta, yang melayani media terbitan bernama "Gelanggang"
milik unit kerohanian Jamaah Shalahuddin UGM dan terbitan berkala
bernama "Islamic Courier". Tahun 1985, bekerja di penerbitan buku
Islam progresif "Shalahuddin Press" di Ngadiwinatan Yogyakarta.
Tahun 1986, mengikuti Sanggar Kerja Total penulisan skenario film
(TV play) yang diselenggarakan TVRI Stasiun Yogyakarta kerjasama
dengan Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) dan Lembaga
Penelitian Penerbitan Press Yogyakarta (LP3Y).
Sering bergaul dengan teman-teman peminat sastra, terlibat dalam
penulisan buku "Orang-Orang Malioboro, Kiprah Persada Studi Klub
1967-1977" Diterbitkan oleh Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan
Pemerintah Pusat Jakarta (2010). Buku ini diterbitkan untuk
mengenang presiden penyair Malioboro : Umbu Landu Paranggi yang
orang Sumbawa. Tulisannya juga ada di "Embun Tajalli" Seikat Sajak
Dan Cerpen penulis Yogyakarta, terbitan Divisi Sastra Festifal Kesenian
Yogyakarta (FKY XII, 2000). Antologi cerpen karya pribadi berjudul
"Cincin" diterbitkan penerbit Binar Press Yogyakarta (2005), yang
merupakan kumpulan cerpennya yang dimuat di Kuntum, Masa Kini,
Yogya Post, Suara Muhammadiyah, Bunga Rampai Kebudayaan
"Refleksi" dan majalah sastra "Horison" Jakarta. Namanya masuk
dalam Buku Pintar Sastra Indonesia berisi biografi pengarang dan
karyanya dengan editor Pamusuk Eneste, Penerbit Buku Kompas 2001.

Erwito Wibowo dulu, sewaktu kelas I di SMP Muhammadiyah 7,


sering diolok-olok teman-teman kampung yang mengatakan : "SMP
Buntu ! SMP Buntu !" Adapun maksudnya, masuk sekolah di SMP
Muhammadiyah 7 akan mengalami kebuntuan, tidak akan bisa
meneruskan ke sekolah lanjutan. Ungkapan SMP Buntu meneror
suasana hatinya. Sekarang dia mampu memberi kontribusi pada SMP
Muhammadiyah 7 Kotagede, dia diberi ruang kapling di buletin Qolami,
untuk mengisi rubrik Wawasan Kotagede. Dia menulis di rubrik itu
sejak tahun 2008. Tulisannya juga berada di antologi "Fasisme"
terbitan Kalam Elkama (1996). Termasuk antologi "Zamrud
Khatulistiwa" terbitan Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta
bekerjasama dengan Taman Budaya Yogyakarta (1997). Terlibat
menulis di buku "Muhammadiyah Sebagai Gerakan Seni Dan Budaya,
Suatu Warisan Intelektual Yang Terlupakan" Diterbitkan oleh LPM
Universitas Ahmad Dahlan kerjasama dengan Pustaka Pelajar dan
Lembaga Seni Budaya Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (2009).
Erwito Wibowo, meski tidak berada di amal usaha Muhammadiyah,
tapi aktif berada persyarikatan Muhammmadiyah secara struktural.
Menjadi anggota Lembaga Seni Budaya Pimpinan Wilayah
Muhammadiyah dua periode 2005-2010 dan 2010-2015. Ketika LSBO
PWM DIY memproduksi cinema Muhammadiyah "Matahari Masih
Bersinar" ikut terlibat menulis 5 naskah film pendek. Termasuk
menulis naskah "Sang Jendral" sebuah sandiwara yang dipentaskan
selama dua hari di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta produksi
LSBO PWM DIY (2014). Sebagai penggagas ide cerita naskah ketoprak
"Jumeduling Surya Ora Tau Owah" di pentaskan 2 hari di Concert
Hall Taman Budaya Yogyakarta diproduksi LSBO PDM kota
Yogyakarta (2015). Menulis naskah ketoprak "mBok Rondo Bodon Dan
Ki Ageng Paker" dipentaskan di Gedung Dakwah Muhammadiyah
PDM Bantul, diproduksi Dinas Kebudayaan propinsi DIY (2015).
Merasa memiliki banyak kegiatan tapi masih tetap bisa pulang di
rumahnya di Dolahan KG III/580 Kotagede. Itu semua dikarenakan
terpanggil kalimat : "Omah kang sejati sak temene biso kanggo deleh
ati." Kemudian itu menjadikan prinsipnya terhadap konsep rumah.
Rumah adalah tempat ketika hati dinaungi rasa damai dan waktu
seolah melambat karena canda tawa keluarga begitu menentramkan,
terutama dua anak putrinya: Deva Renata (17) dan Devi Izdihar Rif'at
(13) Dan terik matahari telah diteduh-nyamankan dengan pohon-pohon
besar di pekarangan rumahnya. Rumahnya terbuka tanpa pagar. Bisa
dimasuki orang kapan saja. Terbuka dan kokoh terhadap segala gejala

perubahan. Tahun 2008, ketika muncul keperihatinan terhadap


kampung-kampung dimana banyak rumah tanpa halaman, lantas di
pekarangan rumahnya diselenggarakan peristiwa budaya namanya
Babad Kampung Festifal Kesenian Yogyakarta (FKY XX, 2008) dengan
tema : Kampung Kelangan Kebon. Dimaksudkan untuk menggugah
kesadaran kembali masyarakat agar menata ulang konsep pekarangan
depan rumah untuk tidak sekedar nyaman, tetapi membangun suasana
segar tanpa rasa sumpek menghimpit hati, perasaan dan menekan
tetangga lainnya.
Erwito Wibowo aktif di beberapa lembaga. Seperti di Kampung
Wisata Purbayan, serta di jaringan kota dan propinsi. Di Yayasan
Pusdok (Pusat Studi, Dokumentasi Dan Pengembangan Budaya
Kotagede). Di Forum Musyawarah Bersama Sahabat Pusaka Kotagede.
Di Lembaga Informasi Dan Pengendali "Living Museum Budaya"
Kotagede. Di Forum Badan Pengelola Cagar Budaya Kotagede yang
dibentuk Dinas Kebudayaan DIY. Menjadi sekretaris II di Forum
Musyawarah Seniman Dan Budayawan Muslim DIY. Juga berkiprah di
Jaringan Jurnalis Indonesia Pengda DIY. Tahun 2001 pernah menjadi
tutor penulisan kreatif yang diselenggarakan jaringan Forum Lingkar
Pena Indonesia untuk cabang Yogyakarta kegiatannya diadakan di
rumputan depan gedung induk Fakultas Ekonomi Bulaksumur UGM.

Like Suryadi

Like Suryadi kelahiran 17 Juli 1958 beralamat di Pondongan,


selepas dari SMP Muhammadiyah 7 1974 mengikuti banyak
kursus-kursus. Kursus elektronik, bahasa Inggris dan potong rambut.
Kemudian masuk dunia kerja, karena hidup di lingkungan Kotagede
maka lapangan kerja yang terbuka luas adalah pengrajin. Like
menekuni kerajinan emas sejak 1975-1983.
Karena kerbatasan ekonomi tidak bisa melanjutkan pendidikan.
Like Suryadi cerdik, tidak kehilangan akal. Agar terus nyambung
dengan wawasan baru, dia ikut nimbrung temannya yang kuliah untuk
mengikuti mendengarkan kuliah untuk menambah dan membuka
wawasan baru. Waktu itu, sistem perkuliahan tidak memperlakukan
disiplin yang ketat, sehingga memungkinkan sekali seseorang diajak
temannya mengikuti mendengarkan kuliah tanpa dibebani
mengerjakan tugas-tugas. Biasanya, fakultas ekonomi dan hukum satu
kelas ruang kuliah berisi 300 orang mahasiswa. Seorang mahasiswa bisa
mengajak teman akrab dari kampungnya untuk mengikuti
mendengarkan mata kuliah. Like Suryadi memanfaatkan situasi
tersebut untuk memperoleh pengetahuan.

Disamping sebagai pengrajin emas, Like Suryadi juga menerima


reparasi radio dan TV unit mobil. Kecintaannya pada dunia elektronik
menjalar merambah ke ORARI 1976, dia termasuk salah satu diantara
pendirinya, sempat menjabat sebagai bendahara ORARI lokal
kabupaten Bantul. Di ORARI, Like Suryadi bertemu jodohnya. Dia
menikah dengan gadis kelahiran Solo bernama Saturnina Tytut
Krisharianti pada 22 Mei 1959. Dari pernikahannnya, dikarunia 2
orang anak, yakni Devita Surnaningtyas 1983 juga alumnus SMP Mutu
yang telah memberikan seorang cucu. Anak kedua, Yudi Dwi Arifianto
kelahiran 1986 juga alumnus SMP Mutu.
Yudi Dwi ini mewarisi bakat ayahnya, Yudi juara pertama nasional
kaligrafi yang diselenggarakan UIN Kalijaga, sebagaimana bakat Like
Suryadi ketika kelas II di SMP Muhammadiyah 7, juara II melukis
kelas ornamen yang diselenggarakan SSRI, bersama Dwi Astuti dan
Herlani. Yudi Dwi Arifianto juga sering mengikuti MTQ tingkat
nasional bidang kaligrafi. Sekarang Yudi menjadi guru kaligrafi di
SMK N 5 Yogyakarta. Juga kerja di Grama Surya, percetakan milik
Muhammadiyah. Yudi juga sering kerjasama dengan Erros Sheila on 7
mengerjakan asesoris guitar listrik, kelas internasional.
Sekitar tahun 2000, Like Suryadi harus mengakhiri usaha kerajinan
emas yang mengalami kemrosotan order secara luar biasa. Istrinya
membuka warung kelontong di rumahnya. Sekarang, Like Suryadi
mengabdikan dirinya di Masjid Gede Mataram Kotagede. Tugas
pokoknya di kantor sekretariat Masjid Gede Mataram Kotagede
menjabat sebagai kepala rumah tangga. Mengingat Masjid Gede
Mataram Kotagede ini bagian dari keistimewaan Yogyakarta serta
kraton Mataram Yogyakarta memiliki kewewenangan mengelola. Oleh
karena itu, atas kesetiaan Like Suryadi dalam mengabdikan diri di
masjid tersebut maka kraton mengangkat dia sebagai abdi dalem
keprajan, memperoleh gelar Mas Ngabehi Renggo Suryadi (2013).
Sebagai abdi dalem Like Suryadi sering ditimbali ke masjid Panepen
kraton Yogyakarta untuk mengikuti pengajian.
Like Suryadi sadar bahwa Masjid Gede Mataram ini menjadi pusat
informasi masyarakat yang ingin tahu lebih banyak tentang kompleks
masjid, maka sebagai kepala rumah tangga masjid, dia banyak
menerima tamu mulai dari TK, SD, SMP, SMA, guru, mahasiswa, dosen,
guru. Tamu-tamu yang sifatnya lokal, nasional sampai internasional
sering dilayani, seperti: Malaysia, Thailand, Belanda, Amerika, Jepang.
Banyak juga rombongan mahasiswa non muslim yang kepingin tahu
tentang sejarah masjid, tentang agama Islam dan banyak respon baik

dari mereka. Menurut Like, yang semula tidak tahu Islam menjadi tahu.
Masjid Gede Mataram ini menjadi langganan kunjungan mahasiswa
UIN seluruh Indonesia untuk penelitian atau studi wisata. Mahasiswa
non muslim yang akan melakukan penelitian terkoordinir melalui
lembaga gereja di Kotabaru.
Like Suryadi mengaku dalam melayani tamu-tamu dia bekerjasama
dengan Warisman (alumni lulusan 1970). "Pelayanan yang diberikan
muncul dari berbagai disiplin bidang, ada jurusan arsitektur, ada yang
sejarah, ada yang budaya serta komunikasi. Bagaimana komunikasi
yang merupakan bagian dari peradaban terbangun antara masjid
dengan masyarakat serta lingkungan," ungkap Like menjelaskan.
Like Suryadi juga melayani masyarakat yang ingin
mempergunakan sebagian wilayah masjid untuk acara akad nikah,
resepsi serta acara keagamaan lainnya. Permintaan itu tidak hanya
masyarakat lokal, tapi nasional bahkan internasional ada. Juga
melayani kelompok hobby studi fotografi yang mengambil obyek
kompleks masjid. Sebagai kepala rumah tangga masjid juga melayani
santunan terhadap 80 anak-anak yatim. 90 anak yang duduk di TPA di
bawah binaan Masjid Gede Mataram. Termasuk menyantuni berupa
sembako untuk 139 orang jamaah. Dan membuka klinik kesehatan
gratis untuk umum 2 kali seminggu, hari Jum'at dan Sabtu.
Like Suryadi juga sering menjelaskan bahwa sebaiknya peziarah
masuk kompleks masjid mulai dari gerbang utara meski gerbang utama
dari arah timur. Alasan dia, kalau dari gerbang utara, pengunjung
langsung ketemu tempat wudhu dan bisa mengambil air wudhu dan
mengerjakan sholat. Kalau dari sisi gerbang timur, pengunjung akan
menemukan dua pilihan ketika berada di depan bangunan kuncungan
masjid. Mau ke kanan mengambil air wudhu atau ke kiri masuk
makamkeramat.
Adapun kenangan Like Suryadi terhadap para alumni SMP
Muhammadiyah 7, ia merasa sampai sekarang ini teman-teman masih
menjadi teman yang hangat bahkan ada yang seperti keluarga sendiri
karena kedekatannya. Like juga terkenang pada penanaman ideologi
Muhammadiyah melalui mata pelajaran kemuhammadiyahan yang
dibawakan pak Hajuwat (alm). Penanaman itu sangat membekas
dirasakan Like Suryadi, sehingga seorang lulusan SMP
Muhammadiyah 7 akan beridentitas dan berkarakter kuat sebagai
pribadi muslim, hal seperti itulah termasuk yang ikut mengantarkan
Like Suryadi menjadi anggota Pimpinan Ranting Muhammadiyah
Jagalan.

Like Suryadi juga terkenang akan gurunya pak Kamali Anwar dan
pak Arsyad AU. Di SMP Muhammadiyah 7, Like punya prestasi bagus
di bidang mata pelajaran eksata. Menurut pak Arsyad, itu merupakan
anugerah yang tidak dimiliki siswa lain. Sebagai bagian dari
masyarakat Kotagede pak Kamali Anwar, pak Arsyad AU dan Like
Suryadi sering bertemu di Masjid Gede Mataram. Pertemuan yang
secara kebetulan itu sering dimanfaatkan untuk melakukan
perbincangan hangat. Bukan perbincangan antara murid dan guru,
melainkan perbincangan antar masyarakat Kotagede. Kemudian Like
berkesimpulan : " Hidup ini indah walau ada tingkat kesulitan. Dari
banyak kekurangan tetap merasa hidup bahagia. Dari satu sisi merasa
bisa, dari sisi lain mungkin tidak. Tapi yang namanya kenangan
tetaplah indah. Terus dimana letak kenangan ? Kenangan berada di
masa depan. Dan sangat indah dinikmati ketika kita menapaki usia
tua."

PROFIL ALUMNI LULUSAN 1972

Prof. DR. Darwis Khudori


Darwis Khudori (59), lulusan SMP Muhammadiyah 7 tahun 1972.
Semula dia sudah lulus dari PGAL (Pendidikan Guru Agama Lengkap)
Mahad Islamy Kotagede. Dimana lulusana PGAL MI dipersiapkan
lulusannya menjadi tenaga pendidik guru agama setingkat SD dan SMP.
Darwis Khudori kepingin masuk SMP Muhammadiyah 7 duduk di
kelas 3 (tiga), agar kelak setelah lulus bisa masuk ke sekolah umum. Dia
membiayai sekolahnya dengan bekerja sebagai tenaga tukang obras di
Penjahit "Panjenengan" milik Januzi orang kampung Pondongan.
Lulus dari SMP Muhammadiyah 7 masuk SMA I Teladan
Yogyakarta tahun 1973. Lulus dari SMA Teladan masuk Fakultas
Teknik jurusan arsitektur Universitas Gajah Mada, dan lulus tahun
1984. Kemudian memperdalam studinya di bidang permukiman dan
perkotaan di negeri Belanda (1987 dan 1989), dan menempuh studi
lanjut di bidang sejarah di Perancis (1989-1999). Thesisnya tentang
transformasi sosial dan arsitektural di kota Ismalia, Mesir. Di kota
Ismailia banyak bangunan dipengaruhi lagam asitektur Perancis yang
menjadi perhatian penelitiannya, karena Mesir waktu pernah menjadi
jajahan Perancis.

Thesisnya memberikan gelar Doktor dari Universitas


Paris-Sorbonne pada tahun 1999. Sejak tahun 1995, Darwis Khudori
orang dari kampung Selokraman menjadi pengajar dan peneliti di
Universitas Le Havre, Perancis, dalam bidang Bahasa-Bahasa dan
Peradaban-Peradaban Timur. Karya-karya tulisnya belakangan, yang
berupa esai dan artikel ilmiah, terbit dalam bahasa Perancis, Inggris,
Belanda dan Indonesia tentu saja.
Setelah lama tak terdengar kabarnya, 27 tahun kemudian, pada 25
Oktober 2010, tiba-tiba Darwis Khudori datang ke Kotagede
bekerjasama dengan Lembaga Informasi Dan Pengendali "Living
Museum Budaya" di kampung Dolahan KG III/580 Kotagede yang
dikelola Erwito Wibowo. Darwis datang ke Kotagede sebagai inisiator
dan koordinator acara Diversity in Globalised Society, dengan tema
"The Rule of Asia of Afrika for Sustainable World the Commemoration
of 1955 Bandung Asia Afrika Conference" Darwis dengan membawa 70
orang tamu asing dalam acara mengenang 55 tahun Konferensi Asia
Afrika, melakukan santap malam diiringi siteran, orkes keroncong
Timpasko Baru dan menyaksikan tarian karonsih di pendopo budaya
kampung Dolahan.
Perjalanan hidup Darwis Khudori yang unik tidak lepas dari masa
kanak-kanak dan remajanya. Lahir dan dibesarkan dalam keluarga
santri (Muhammadiyah) di tengah masyarakat yang sangat diwarnai
oleh tradisi kejawen yang kuat, Kotagede, ia selalu cenderung terlibat
dalam kegiatan yang berkaitan dengan masalah keagamaan,
kebudayaan, keilmuan dan kemasyarakatan, dimana dia berada.
Pendidikan keislamannya yang ketat di masa kanak-kanak dan
remaja tak menghalanginya untuk menjadi pemikir bebas, kawan dan
rekan berbagai golongan, bangsa dan agama. Misalnya, di jurusan
arsitektur UGM dia berkenalan dengan Romo Mangun yang segera
menjadi guru, sahabat dan rekan sekerjanya, baik di kampus, di studio
arsitektur maupun di tengah-tengah masyarakat, khususnya di
kampung Lembah Code, terutama sejak tahun 1978 hingga
keberangkatannya ke Perancis pada 1989.
Sikap Darwis Khudori yang bebas dari batas-batas agama dan
kecenderungannya untuk mencari akar-akar kebudayaan yang dalam
juga membuatnya dekat dengan orang-orang NU yang cenderung
memekarkan tradisi seperti Gus Dur dan Hikam yang merupakan
kawan-kawannya sejak lama, meskipun Darwis dibesarkan di kalangan
Muhammadiyah yang cenderung meninggalkan tradisi.
Darwis merasa prihatin dengan kesulitan masyarakat muslim

menghadapi modernisasi dan globalisasi, yang sering membawanya


kepada fanatisme dan formalisme agama, dia sengaja mempelajari
secara mendalam sebuah masyarakat muslim yang mengalami
transformasi budaya akibat pertemuannya dengan peradaban Barat.
Darwis sempat mondar-mandir antara Mesir dan Perancis untuk
melakukan penelitian dan menghayati kehidupan masyarakat Mesir
yang menjadi bahan studi doktornya. Di samping kegiatan utamanya
sebagai pengajar dan peneliti, dia juga berperan serta, seperti masa di
Indonesia, dalam kegiatan-kegiatan kebudayaan dan LSM di Perancis.
Kesukaannya berkelana dan kegiatan-kegiatan profesionalnya,
telah membawanya ke berbagai negara, khususnya di Dunia Arab,
India, Cina, Eropa dan Amerika Utara. Darwis juga suka menulis fiksi.
Ketika duduk di kelas III SMP Muhammadiyah 7, cerpennya dimuat di
koran Kompas Minggu. Di tahun 1976 dan 1977, dua cerpennya
memenangkan sayembara penulisan cerpen di majalah Gadis. Naskah
dramanya berjudul Joko Bodo memenangkan sayembara penulisan
naskah drama remaja Dewan Kesenian Jakarta.
Sebagian karya fiksinya sudah diterbitkan dalam bentuk buku,
seperti : Rahasia Sebuah Arca, Untung Sahabatku dan Terlepas dari
Hukuman ( kertiganya merupakan cerita anak-anak, 1983). Kumpulan
cerpennya Gadis Dalam Lukisan (1982). Antologi cerpennya
"Orang-Orang Kotagede" sangat fenomenal, diterbitkan Bentang
Budaya (2000). Puisi-puisinya dimuat dalam antologi "Tugu" bersama
penyair-penyair pilihan dari Yogyakarta (1987). Puisi-puisi lainnya
dimuat dalam antologi "Tonggak" (1988) bersama penyair-penyair
pilihan seluruh Indonesia.

PROFIL ALUMNI LULUSAN 1976


Drs. Kuswanto

Di masa damai dunia yang paling menarik adalah bidang pendidikan.


Hal itu dikarenakan dunia ini dianggap bidang paling strategis dan
penting. Strategis dan penting karena baik buruknya suatu generasi
ditentukan sejauh mana bidang pendidikan menyiapkan sumber daya
manusia terbaiknya. Memiliki sistematika, metodologi dan jenjang
pentahapan serta intensitas secara total setiap hari berinteraksi dengan
murid.
Drs. Kuswanto kelahiran 5 Juli 1960, lulusan SMP Muhammadiyah
7 beralamat rumah di kampung Pekaten KG III/832 Prenggan
Kotagede. Dia termasuk dari sekian ratus alumni yang hidup dari dunia
pendidikan. Selepas SMP Muhammadiyah 7 masuk SPG Negeri 2
Yogyakarta 1980. Tahun 1980 dunia pendidikan diundur setengah
tahun menyesuaikan sistem tahun anggaran pemerintah, maka antara
tahun 1980 sampai 1982 sempat menganggur. Baru pada tahun 1982
Kuswanto masuk IKIP Muhammadiyah dan lulus tahun 1988. Sebelum
lulus kuliah sempat mengajar di sekolah-sekolah dasar secara

berpindah-pindah. Seperti di SD Cokrodirjan 1, SD Cokrodirjan 2 dan


SD Kotagede 7.
Kemudian baru antara rentang waktu 1995-2013 dia benar-benar
hidup sebagai pendidik dengan spesialis menjabat sebagai kepala
sekolah. Pertama kali diangkat sebagai kepala sekolah di SD Negeri 2
Nglegi, Patuk, Gunungkidul. Seterusnya berbagai lembaga pendidikan
sekolah dasar dimana dia menjabat sebagai kepala sekolahnya bisa
dideretkan, seperti di : SD Negeri Serayu 2, SD Negeri Keputren, SD
Negeri Panembahan, SD Negeri Pujokusuman 1, SD Negeri
Suryowijayan, dan SD Negeri Percobaan Yogyakarta.
Sebagai kepala sekolah Kuswanto merasakan secara mendalam,
pernah menangani sekolah dasar buruk dan favorit. Sekolah dasar yang
buruk itu berada di lingkungan dan kawasan masyarakat yang buruk.
Dia pernah menjadi kepala sekolah di SD Negeri di pinggir sungai
Winongo dan Code. Masyarakatnya miskin, bodoh tidak berpendidikan
dan moralnya kurang bagus. Hal itu terjadi ketika dia menjabat
sebagai kepala sekolah di kawasan slam, rural urban. Di belakang
gedung sekolah yang berhimpitan dengan perkampungan miskin
masyarakatnya biasa mabuk, berjudi dan mengumbar umpatan buruk
(misuh) Hal seperti itu bukan pemandangan yang idealnya bagi tumbuh
kembang pribadi anak usia sekolah dan belum saatnya mengetahui. Hal
yang buruk itu menjadi makanan sehari-hari bagaimana mungkin
dunia pendidikan mampu mengimbangi dengan menciptakan insan
berkualitas. "Di kawasan seperti itu, membutuhkan kesabaran,
keteladanan dan masyarakatnya berharap diuwongke " ujarnya.
Kuswanto terkenang ketika ditempatkan di kawasan kampung gali
pada tahun 1983. "Saya masih muda, dengan karakter pribadi saya
lembut, tidak temperamental, apik, malah justru bisa diterima di
tengah-tengah masyarakat yang keras. Mereka menganggap saya masih
lugu belum tahu betul dunia mereka. Dan sekarang bekas murid-murid
saya dari masyarakat perkampungan pinggir sungai Code, banyak yang
berhasil menjadi pedagang batik di pasar Beringharjo. Saya sering
berjumpa. Saya menganggap melalui sentuhan pendidikan dasar, saya
berhasil menaklukan karakter lingkungan. Berhasil merubah sikap
mereka. Mereka bisa menaruh hormat," ungkap dia mengenangkan.
Kalau teringat dahulu bagaimana susahnya menghadapi mereka.
Mau menghadapi ujian saja tidak siap. Mereka mengalami kejenuhan
belajar. Mereka belum memiliki kesadaran bahwa akhir pendidikan itu
harus menempuh yang namanya ujian. Bagi mereka nggak ikut ujian
tidak menjadi soal. Bukan perkara penting. Sekolah harus merayu agar

bisa mengikuti ujian akhir.


Hal yang menyenangkan bagi Kuswanto kalau menjadi kepala
sekolah di daerah yang masyarakatnya mapan, sekolahnya termasuk
favorit. Banyak wali murid yang kritis karena datang dari kalangan
masyarakat terdidik, seperti dosen, PNS dan wiraswasta yang sukses.
Mereka bersikap kritis terhadap suatu kebijakan. Mereka tahu lebih
dahulu mengenai kebijakan dari pemerintah pusat di bidang
pendidikan dan bagaimana penerapannya di daerah. Mereka sering
menjadi patner komunikasi yang baik antara sekolah dengan wali
murid melalui komite sekolah.
Menjadi kepala sekolah yang paling susah ketika ditempatkan di SD
Negeri 2 Nglegi, Patuk, Gunungkidul. Dan itu hanya mampu dijalani
Kuswanto selama satu tahun ajaran (1995-1996). SD Negeri 2 Nglegi,
Patuk, termasuk kategori SD terpencil dan sulit dijangkau, letaknya di
atas bukit. Sepeda motor guru diparkir di halaman kantor kalurahan,
untuk menuju tempat sekolah harus mendaki bukit terjal lamanya
antara 1,5 sampai 2 jam perjalanan. Guru hanya effektif mengajar
hanya 2 jam, pukul 11.00 siang harus turun. Murid-murid juga harus
mampu menaklukan medan yang berat itu setiap hari. Orang tua murid
memilihkan anaknya sekolah di situ, meskipun di bawah
perkampungan mereka ada juga gedung sekolah. Alasan mereka, agar
kalau pulang sekolah siang-siang dalam kondisi lapar dan letih, tinggal
terdorong menuruni turunan terjal masih kuat. Berbeda kalau letak
sekolahnya di bawah, saat pulang harus menaiki bukit terjal dalam
kondisi sudah tidak bertenaga.
Di SD Negeri 2 Nglegi, Patuk tidak guru perempuan. Kalau ada
penempatan guru perempuan di situ, pasti ia segera minta SK pindah
dikarenakan kondisi medannya yang berat. Banyak guru yang
rumahnya di Beran atau Bantul, membuat dan mengatur jadwal
mengajar sendiri. Seminggu mereka membuat jadwal mengajar hanya
tiga hari. Misalnya Senin, Rabu dan Sabtu. Mereka merasa capek
dengan medan perjalanan yang harus dilalui. Kejadian seperti itu
berada di depan mata, karena tingkat kesulitannya juga di depan mata.
Dan kepala sekolah tidak mampu berbuat apa-apa. Tidak bisa
melarang dan hanya mampu membiarkan. "Pernah dan sering upacara
sekolah tiap hari Senin pagi hanya diikuti 2 orang guru. Sekarang
mungkin kondisinya tidak seperti itu lagi. Tapi letak sekolah di atas
bukit tetap tidak berubah. Dan yang paling berkesan, dengan kondisi
alam yang berat seperti itu, tapi justru murid-muridnya berprestasi,"
ungkap Kuswanto mengenang waktu lalu.

Dan sudah lama Kuswanto membuka les bimbingan untuk anak


tingkat sekolah dasar, sejak 1999. Semula hanya membimbing anaknya
belajar. Kemudian anak tetangga kiri kanan mulai berminat dan
mempercayakan untuk mengikuti les sore hari. Bimbingan belajar ini
sudah berkempang pesat. Pesertanya ada yang datang dari Sleman dan
Bantul. Untuk melayani dia dibantu 2 orang tenaga pengajar.
Tahun 2014-2015 ini, Drs. Kuswanto yang beristrikan Ismudianti
dari kampung Cokrodirjan, menunggu pengangkatan kembali sebagai
kepala sekolah. Sejak tahun 2010 muncul peraturan pemerintah bahwa
jabatan kepala sekolah hanya untuk 2 periode (8 tahun). Di Yogyakarta
baru bisa diterapkan trahun 2013. Dan untuk menjadi kepala sekolah
harus mengikuti diklat. Alhamdulillah, Kuswanto sudah memiliki
NUKS (Nomer Urut Kepala Sekolah) tinggal menunggu pengangkatan
kembali. Selama menunggu pengangkatan statusnya harus turun
menjadi guru agar masih bisa mengajar.
Kuswanto dikaruniai 3 putra putri. Anak sulungnya bernama
Wikan Haqi Baihaqi kelahiran 1988, lulusan STAN Jakarta, statusnya
pegawai Badan Pengawas Keuangan (BPK) di Samarinda. Anak kedua
putri bernama Qorataayun Nindyo Pawestri, kelahiran 1995 mahasiswa
UAD Yogyakarta. Anak ketiga bernama Qorataayun Natali Paska
Ramadhan,kelahiran 2000, masih sekolah di SMP Muhammadiyah 7
Kotagede.
Kuswanto juga aktif Majelis Kader di PRM Prenggan, juga aktif
temu alumni angkatan 1976 maupun lintas angkatan.
"Saya sangat berharap, agar lulusan SMP Muhammadiyah 7
menjadi kadernya Muhammadiyah. Bisa ditempuh dengan cara dimana
dia bertempat tinggal bisa aktif dimana di situ ada kegiatan ranting."
"Harapan saya terhadap alumni, agar alumni memiliki kepedulian
dalam bentuk memberikan kontribusi berupa materi atau pemikiran
bagi kemajuan SMP Mutu dan sebaliknya, sekolahan bersedia
memfasilitasi program alumni, " begitu harapan Kuswanto.

PROFIL ALUMNI LULUSAN 1978


FAJAR TRIAWAN (53)

Fajar Triawan kelahiran 29 Mei 1962, beralamat di Dolahan KG


III/580 Kotagede lulusan SMP Muhammadiyah 7 tahun 1978. Di SMP
guru pelajaran menggambar kebetulan bapak Suharjo MS, ketika
masuk SMSR Karangmalang mengambil jurusan patung, ketemu lagi
bapak Suharjo selaku kepala sekolah di sana. Lama pendidikan di
SMSR 4 tahun.
Lepas dari SMSR masuk STSRI (ASRI) di Gampingan no 1
Yogayakarta 1982. Ketika di STSRI (ASRI), dia menjadi mahasiswa
kesayangannya Edy Sunarso (dosen). Edy Sunarso langganan dipercaya
pemerintah
sejak
presiden
Soekarno
untuk
menggarap
monumen-monumen. Seperti : Patung Pancoran, Tugu Selamat Datang
di jalan Thamrin, Putung Pembebasan di Lapangan Banteng. Patung di
depan gedung DPR/MPR di Senayan. Sewaktu menggarap Monumen
Yogya Kembali, Fajar Triawan sebagai mahasiswa STSRI dilibatkan.
Fajar Triawan bersama Hery Crus, coleganya di STSRI, tahun 1983
namanya dikenal ketika menggarap model untuk monumen patung Ari
Hanggara atas pesanan Nugroho Notosusanto selaku menteri
Pendidikan Nasional. Model patung Ari Hanggara diekspose koran
lokal maupun nasional. Ari Hanggara adalah anak korban keganasan

orang tua. Menteri Nugroho Notosusanto kepingin agar anak usia


sekolah jangan diperlakukan secara sadis. Untuk mengenang dan
memaknai maksud itu direncanakan pembuatan patung Ari Hanggara.
Konsep ide pemikiran mendikbud Nugroho Notosusanto
memperoleh penolakan dari masyarakat luas dan diekspos melalui
media cetak. Opini masyarakat mengatakan bahwa kalau dibuat
patung, justru malah tidak mendidik karena patung sifatnya abadi.
Sesuatu yang abadi sulit dilupakan dan hanya menyisakan trauma saja.
Patung model Ari Hanggara sudah selesai dikerjakan tetapi gagal
menjadi monumen karena penolakan dari masyarakat. Ironisnya, kisah
sedih Ari Hanggara berhasil difilmkan, menjadi produksi film nasional
dan sangat komersiel sekali, mengeruk banyak uang dari
mengeksploitasi kesedihan. Dan film juga bersifat abadi karena ada
sifat dokumentasi. Sebuah kebijakan yang berbeda untuk kasus yang
sama.
Fajar Triawan ini perupa spesialis monumen, Isi monumen, ada
patung, relief dan diorama. Dia bersama teman-teman 1984
mengerjakan relief di selasar Gedung Pemuda yang diresmikan
Menpora Abdul Ghofur. Termasuk membuat relief sepanjang 143 meter
di Pacitan yang diresmikan presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Monumen Si8liwangi di Jawa Barat. Dia bekerja di beberapa stodio
patung di seputaran Yogyakarta. Di antara stodio-stodio patung di
Yogyakarta spesialis monumen, siapapun pemenang tender proyek,
yang mengerjakan modelnya sebelum dicor pasti Fajar Triawan. Dia
bekerja di banyak stodio patung, di antaranya milik Yusman yang baru
saja mengerjakan 7 patung presiden RI. Pernah kerja di tempat
seniman terkenal di Bandung, di Selasar Sunaryo dan Barli.
Fajar Triawan memilih seni rupa patung yang lebih menjanjikan
daripada seni rupa lukis. Untuk tingkat ketrampilan urusan
menggambar, dia termasuk mahir,matang dan menguasai detail.
Makanya dia memilih patung, karena sketsa patung membutuhkan
teknik penguasaan gambar bentuk yang matang. Karya patung itu
anonim, dikerjakan banyak orang. Berbeda dengan seni rupa lukis
yang dikerjakan secara individual. Kalau tidak punya style dan nama
besar, seni rupa lukis sulit terangkat harga nominalnya. Sedangkan seni
rupa patung inklud pada totalitas bentuk monumen. Biasanya, yang
namanya monumen pasti merupakan proyek berbiaya besar. Begitulah
pilihan yang diikuti sesuai dengan jalan pikirannya.
Stodio-stodio tempatnya dia bekerja banyak memperoleh proyek
besar untuk kawasan Indonesia Timur. Dia terlibat mengerjakan 3

patung tokoh agama setinggi 23 meter berbahan fiber glass yang


dipasang di Timor Leste, Raja Ampat Papua barat dan Di Sulawesi
Tengah.

PROFIL ALUMNI LULUSAN 1982


HAMID NURI

Hamid Nuri kelahiran 8 Desember 1968 bertempat tinggal di


Prenggan Selatan KG II/926 Prenggan Kotagede, bernomer kontak
6285790096657 lulusan SMP Muhammadiyah 7 1982 meneruskan di
MAN 2 Yogyakarta lulus 1986. Berani hidup dari menulis. Dunia
tulis-menulis dimulai ketika menulis di majalah pelajar "Kuntum" 1986.
Merambah ke surat kabar harian sebagai reporter di "Masakini" pada
1985-1986. Di Yogya Post 1989-1998.
Wawasan jurnalistiknya makin meluas, mulai berani merambah di
koran-koran daerah yang sifatnya nasional, menempati sebagai
reporter maupun redaksi. Di surat kabar harian "Pos Kita" 2000-2004.
Bengawan Pos di Solo memegang desk rubrik liputan daerah meliputi
kawasan Klaten, Boyolali, Sragen dan Karanganyar. Sudirman Pos di

Purwokerto daerah liputannya meliputi Kedu, Magelang dan Wonosobo.


2011 bekerja di SKH "Yogya Raya" di Yogyakarta. 2011 ketika di
Radar Yogya sebagai desk mengendalikan rubrik "komunitas"
Di Radar Yogya juga bertugas meliput berita daerah meliputi kawasan
Magelang, Kedu dan sekitarnya. Juga sempat sebagai pembantu lepas
pada tabloid "Kliwonan" terbitan Yogyakarta.
Sekarang, Hamid Nuri harus berhadapan dengan titik tolak baru di
bidang jurnalistik. Karena munculnya perkembangan teknologi era
digital, dimana memang harus diperhitungkan adaptasi masyarakat
terhadap minat baca yang begitu berbeda dengan masuknya media
sosial yang berbasis gadget. Sangat jelas teknologi digital mengubah
konsep jurnalisme. Dampaknya, semua orang pemilik gadget menjadi
sumber dan sekaligus nara sumber untuk menyampaikan minat
bidangnya masing-masing, bermunculan tanpa kendali dan tidak
memerlukan komplikasi campur tangan sentuhan editor yang
berbelit-belit di meja redaksi. Memiliki daya tarik yang lebih memikat
ditunjang keindahan visualisasi. Jurnalisme media cetak akan banyak
kehilangan akal berhadapan dengan gadget. Kehadiran berita online
yang menyuguhkan berita secara cepat dan gratis mengancam dan
mematikan sejumlah media cetak terutama koran dan majalah.
Prestasi-prestasi yang pernah diraih Hamid Nuri sebagai penulis
bisa disebutkan antara lain : Juara 1 lomba penulisan esai saat even
Piala Bulu Tangkis Dunia yang diselenggarakan di gedung olah raga
Amongrogo Yogyakarta. Juara 1 loma penulisan esai saat even Lomba
Dark Rise, Yogya-Surabaya-Jakarta. Juara 3 lomba penulisan artikel
tentang Air Minum tahun 2003. Juara 2 penulisan Cerkak yang
diselenggarakan Yayasan Karmel Malang.
Hamid Nuri disamping menulis dalam bahasa Indonesia juga
menulis dalam bahasa daerah (Jawa) sebagai penulis lepas. Tulisannya
sering dimuat di majalah berbahasa Jawa seperti: "Joko Lodhang"
-Yogyakarta."Penyebar Semangat"-Surabaya."Jawa Anyar"-Surakarta.
"Joyoboyo"-Surabaya. "Mekarsari"-Yogyakarta. Untuk tulisan berita
yang berbahasa Indonesia, banyak dimuat seperti : di Suara
Merdeka-Semarang.Solo Pos - Solo. Majalah "Metropolitan"-Surabaya.
Koran "Mimbar Umum" - Medan. Koran "Semangat" - Padang. Koran
"Gala" - Bandung. Koran "Aceh" - Aceh.
Tugas yang paling mengesankan menurut penuturan Hamid Nuri
saat meliput bencana Gunung Kelud di Jawa Timur pada 1990. Fasilitas
teknologi masih terbatas tapi harus secepatnya mengirim berita ke
kantor harian. Maka dia menggunakan saluran telpon, berita dikirim

melalui percakapan lesan melalui saluran telpon dengan penanggung


jawab desk rubrik. Kemudian gambar liputan foto dikirim melalui jasa
kurir via bis antar kota antar propinsi. Segalanya masih serba susah
tanpa fasilitas teknologi yang memadai.
Hal yang menyedihkan juga pernah dialami ketika memperoleh tugas
meliput korban pembunuhan di kota Trenggalek, Jawa Timur. Sampai
di Trenggalek belum tahu tempat lokasinya. Ketika sampai di lokasi
ternyata medannya berat dan asing. Untuk menuju lokasi
mempergunakan kendaraan colt untuk angkutan barang. Sempat
menimbulkan kecurigaan warga. Mestinya mewawancarai malah
diinterogasi. Ditanyai macam-macam. Puncak kesulitannya ketika
harus bermalam di terminal Trenggalek.
Tahun 1997, ketika bertugas meliput Sea Games di Jakarta.
Keterbatasan fasilitas yang disediakan media tempat kerja yang
memberi tugas, sementara media lain sudah canggih, sudah mampu
mempergunakan email dan online, sudah memiliki stodio di lapangan.
Memburu kecepatan berita dengan adanya peran teknologi, tapi minim
sentuhan akhir tangan redaksi sehingga hasil tulisan akhir kurang
sempurna.
Hal yang menyenangkan bagi Hamid Nuri ketika menjadi reporter
media koran. "Bisa pergi atau berwisata tanpa mengeluarkan biaya
pribadi," ujarnya. "Semua biaya ditanggung media koran atau
penyelenggara even yang menugaskan untuk melakukan peliputan,"
tambah Hamid. Dan yang sangat berkesan bagi Hamid bisa secara
dekat mewawancarai tokoh-toko nasional. Hamid pernah ikut
mewawancarai Gus Dur sewaktu Muktamar NU di Krapyak
Yogyakarta 1989. Pernah mewawancarai pak AR Fakhruddin ketua PP
Muhammadiyah ketika Muktamar di Yogyakarta. Pernah juga
dimarahai Lukman Harun bekas sekjen PP Muhammadiyah. Karena
ada intrik di berita Muktamar. Ada yang mengerjai Lukman Harun
dari Yogyakarta sehingga dia terlempar tidak masuk 13 orang
formatur.
Dan, yang paling menjengkelkan ketika Hamid kekancingan di
gedung Istora Senayan Jakarta. Waktu itu tempat press room di lantai
bawah. Sehabis menulis berita, Hamid naik ke lantai atas dan
menemukan sofa empuk. Karena capek dan letih, sementara berita
sudah selesai ditulis. Hamid mencoba sofa untuk istirahat melepaskan
penat. Saking empuknya sofa, terlanjur kebablasan ketiduran. Ternyata
petugas gedung sudah mengunci semua pintu-pintu di Istora. Jadilah
Hamid Nuri semalaman tidur di Istora, Senayan.

Sekarang Hamid mengaku sebagai penulis lepas. Hasil yang bisa


dicapai penulis lepas adalah tingkat produktifitas. Semakin prodiktif
semakin nampak hasilnya. Untuk bisa kaya penulisan haruslah kaya
bahan bacaan. Untuk memperkaya khazanah penulisannya, Hamid
sudah biasa nongkrong di perpustakaan daerah kota Yogyakarta untuk
mencari buku-buku yang bisa dijadikan referensi baru. Atau membuka
internet. Hamid sering juga mengikuti kegiatan yang diselenggarakan
Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta di Balai Bahasa Yogayakarta.
Sebagai penulis, Hamid juga sudah menghasilkan buku, seperti :
Toponim Kotagede, buku Trans Yogya, Antologi Puisi Bersama yang
berjudul "Di Bawah Lampu Mercuri".

PROFIL ALUMNI LULUSAN 1986


SYAFARUDDIN (43)

Syafaruddin kelahiran 19 April 1971, beralamat di kampung


Cokroyudan Kotagede ini lulusan 1987 dari SMP Muhammadiyah 7
Kotagede. Orangnya gagah. Hidupnya juga gagah. "Kehidupan yang
gagah harus dijalani dengan kegagahan pula," begitulah prinsip
hidupnya. Syafaruddin dikarunia postur yang gagah perkasa, fisiknya
cocok bekerja di lapangan, sering dia dilibatkan dalam teknis
pengamanan untuk mengendalikan massa, terutama untuk even-even
yang berbasis massa banyak. Makanya dia berada di Kokam Kotagede,
FKPM (Patuh) Kalurahan Purbayan dan Bumi Mataram Resque milik
pemerintah kecamatan Kotagede.
Pada even-even yang sering menggunakan jalan protokol Kotagede,
siapa yang tak kenal Syafaruddin, dia spesialis voridij mengendarai
American Jeep dan selalu disiplin mengenakan uniform. Selain Jeep,
Syafaruddin juga menguasai kendaraan tipe gagah pula, sebuah truk,
khusus yang ini untuk menunjang aktifitas mata pencahariannya.
Dengan gagah pula Syafaruddin membuka usaha lapak penjualan
keping VCD maupun DVD, ikut merintis keramaian pasar malam hari

di pojok pasar Kotagede. Dengan perkasa pula Syafaruddin memiliki 3


anak, putra dan putri dari hasil pernikahannya dengan gadis Darakan
Barat. Anaknya sulung bernama Ani Noor Aisya (16), M. Khairuddin
(8), M. Rafa Firmansyah (7). Syafaruddin memang Gagah Gede Pidekso,
siap diterjunkan di segala medan dan situasi keramaian untuk
mengendalikan pengamanan. Pengendalian pengamanan dalam situasi
sulit sering dijumpai, dalam situasi paling buruk pun dia tidak pernah
kabur meninggalkan konsekuensinya.
Pantas dia memperoleh julukan Raden Mas Gagah bukan sembrung
lagi.

Alumni Profil Guru 1965-1966

H. Muhammad Bachrun Nawawi

M. Bahrun Nawawi adalah salah satu perintis sekolah SMP


Muhammadiyah 7 dan dia menjadi kepala sekolah yang pertama ketika
lembaga pendidikan tersebut mengambil tempat di musholah Aisyiyah
di kampung Keboan Kotagede. Waktu itu, Bahrun Nawawi masih
kuliah di Psikologi UGM. Tiba-tiba, dia dipanggil untuk mengikuti
pendidikan di Australia, sebagai mahasiswa berprestasi. Ketika
persiapan pembekalan di karantina, sempat omong-omong dengan
mahasiswa lain yang juga akan berangkat dalam rombongannya.
Mahasiswa tersebut ternyata anaknya tokoh ini dan tokoh itu, tidak
memiliki prestasi, tanpa mengikuti tes penjaringan secara administratip
maupun wawancara, hanya sebagai mahasiswa titipan menikmati
fasilitas negara, menikmati kebanggaan bisa sekolah di luar negeri.
Begitulah Indonesia dahulu yang kita cintai. Mungkin sekarang masih
juga begitu, barangkali.
Tahun 1966 terpaksa SMP Muhammadiyah 7 yang masih perlu
perhatian dia tinggalkan untuk belajar di Australia. Di Australia selama
sepuluh tahun hingga meraih gelar sarjana ilmu-ilmu sosial dan

pendidikan dari Perth, Australia Barat. Sekitar 1975 pulang ke


Indonesia. Birokrasi pemerintah Orde Baru yang represif memeriksa
dengan ketat kepulangan M. Bahrun Nawawi, karena kepergiannya ke
Australia adalah tahun-tahun genting masa transisi dari Orla ke Orba.
Dia diperiksa ada atau tidak indikasi politisnya sebagai mahasiswa
pelarian keluar negeri karena masa pergolakan politik. Ternyata dia
clear.
Karena pengalamannya hidup di luar negeri, tahun 1976 dia
diterima bekerja di staf Foster Parent Plan International (FPPI) DIY.
FPPI itu suatu lembaga Internasional yang melakukan Pembinaan
Kesejahteraan Anak dan Keluarga, suatu lembaga non-pemerintah
yang bermarkas besar di London, Inggris. Anak-anak dari keluarga
miskin dijadikan anak angkat oleh orang tua angkat di luar negeri
tanpa harus memboyong anak tersebut. Konsekuensi pengangkatan
tersebut dengan memberikan fasilitas pendidikan dan fasilitas sosial
lainnya. Komunikasi anak angkat dan bapak angkat difasilitasi kantor
FPPI.
M. Bahrun Nawawi berkantor di Karangmojo, Gunungkidul. Setiap
pagi ada jemputan yang menunggu di pojok pasar Kotagede, dia
berangkat dari rumahnya di Trunojayan. Tahun 1977, dia menikah
dengan Sumirahatun yang rumahnya di pojok pasar Kotagede. Tahun
1978 ketika memiliki anak pertama M. Annas Irfani, keluarga M.
Bahrun Nawawi pindah di pojok pasar Kotagede. Kepindahannya
dimaksudkan agar mobil jemputan dari kantor tidak terlalu lama
menunggu dia jalan kaki dari rumahnya di Trunojayan. Tahun 1981
anak kedua lahir, M Barik Affandi.
Ketika bertempat tinggal di pojok pasar Kotagede, setiap sore beliau
sering menyirami jalan depan rumah yang kotor kemudian
menyapunya. Ada orang yang kenal dan melihat, lalu menegurnya:
"Direktur Plan Internasional, kok neng ngomah gelem nyapu." Jawaban
M. Bahrun Nawawi taktis, begini : "Direktur ki nek neng kantor. Nek
neng ngomah yo kepala rumah tangga. Di rumah, saya juga biasa
nyetrika sendiri," jawabnya lebih jauh.
Ketika kerja di FPPI banyak tugas keluar negeri harus dijalani,
sehingga keluarganya sering ditinggalkan. Situasi itu menjadi perhatian
ibu mertuanya. Ibu mertuanya suatu hari bilang padanya : " Run, kowe
kuwi kerep lungo neng monco negoro mergo pinter boso asing, terus
bojomu kuwi wedhi banget nek ketemu boso Inggris."
Keperihatinan ibu mertuanya mengobsesei M. Bahrun Nawawi.
Alhamdulillah, kemudian ada kabar baik. Ada tawaran bagi dia untuk

melamar program direktur internasional. Dia lolos dan ditempatkan


tugas di Liberia, Afrika 1986-1990 dengan membawa seluruh
keluarganya. Di Liberia pun, M. Bahrun Nawawi sering ditugaskan
kantor keluar negeri, praktis keluarganya ditinggalkan di Liberia, hal
itulah yang memaksa istrinya Sumirahatun harus berkomunikasi
dengan bahasa Inggris, apalagi di Liberia mungkin hanya ada 4 orang
yang berasal dari Indonesia, karena kantor kedutaan Indonesia tidak
ada, dan harus dirangkap dengan negara terdekatnya.
Di Liberia sesungguhnya program Direktur Internasional harus
dijalani selama lima tahun. Karena muncul pergolakan politik di
Liberia, sehingga M. Bahrun Nawawi ditarik dan ditempatkan bertugas
di Sudan 1990-1994. Pada 1992, bersama keluarganya menunaikan
ibadah haji melalui Sudan. Di Sudan mayoritas penduduknya muslim,
sehingga ada perguruan tinggi internasional di sana. Banyak mahasiswa
Indonesia menempuh pendidikan di Sudan. Setelah kenal dengan
keluarga M. Bahrun Nawawi, lalu rumahnya sering dijadikan markas
singgah mahasiswa Indonesia. Dan Sumirahatun tidak hanya bisa
bahasa Inggris tapi juga Arab. Program FPPI di Sudan selesai, Bahrun
Nawawi lalu ditugaskan sebagai Direktur FPPI di Nusa Tenggara Barat
1994-1997, berkantor di Lombok. Selesai tugas di Lombok, 1997 pulang
ke Kotagede. 1998 sesungguhnya ada tawaran program direktur
internasional lainnya dari markas besar FPPI di London, Inggris.
Karena ada staf FPPI di Indonesia yang iri akan prestasinya, surat itu
lama sengaja tidak disampaikan. Sampai suatu saat markas besar
menelpon menanyakan kenapa tidak ada respon. Ternyata ada sabotase
administrasi.
Sementara menunggu perkembangan kabar lebih lanjut, dia
teringat keinginan ibu mertuanya. Dimana suatu saat pernah
bilang :"Run, kowe kuwi direktur internasional, kapan kowe iso tuku
omah?" Lalu dia menjawab, "Benjing menawi Gusti Allah maringi nek
nggih kagungan. Kepasrahan yang tulus membuahkan hasil. Benar.
Sebentar kemudian banyak orang yang menawarkan tanah, juga
rumah. Mereka mengira direktur internasional itu uangnya banyak.
Dia pribadi yang sederhana dan jujur. Ada famili yang punya tanah
berupa sawah luas akan melakukan bagi waris, ditawarkan ke Bahrun
Nawawi. "Nek jembare tanah semono, aku le iso tuku carane diangsur.
Gelem pora dituku nganggo coro diangsur," begitu katanya. Hal serupa
terjadi pada rumahnya yang sekarang ditempati di kampung
Nyamplungan. Keluarga yang punya rumah sudah menunjuk bahwa
hanya kamu yang saya pilih membeli rumah saya. "Saya ikhlas dan

senang kalau kamu yang membeli dan menempati," kata yang punya
rumah. Akhirnya rumah di Nyamplungan itu dibeli juga dengan cara
diangsur.
1999 adalah tahun-tahun yang genting dan melahirkan reformasi. M.
Bahrun Nawawi mengikuti aktifitas tersebut. Melalui partai politik
PAN, dia menjadi DPRD kota Yogyakarta 1999-2004. Tahun 2004,
beliau maju DPRD tingkat propinsi. Karena dia termasuk senior, oleh
partai politik ditempatkan pada urutan no 3, sementara untuk generasi
muda ditempatkan pada nomer jadi, yakni 1 dan 2. Sesungguhnya
perolehan suara M. Bahrun Nawawi cukup signifikan. Tapi tidak
memiliki daya dorong karena berada di urutan no 3. Sementara dari
kalangan generasi muda Kotagede, M. Bahrun Nawawi didorong agar
melakukan PAW. Sementara yunior yang akan di PAW berada di nomor
lebih baik di atasnya, berargumen bahwa dia dengan M. Bahrun
Nawawi tidak ada deal akan PAW secara tertulis. Kemudian muncul
rumor, yunior yang terancam akan di PAW bersedia memberikan
konpensasi sekian puluh juta pada beliau. Kematangan dan keteguhan
pribadi serta nama baik, harga diri M. Bahrun Nawawi tidak akan
dipertaruhkan terhadap upaya kelicikan konpensasi itu. Biarkan hal itu
menjadi kenangan saja.
Hj. Sumirahatun istrinya sekarang aktif di kantor KBIH Aisyiyah.
Sudah 9 kali berangkat sebagai pembimbing. Kemampuan bahasa
Arabnya dan Inggris sering dimanfaatkan ketika harus berkomunikasi
dengan para Syeh pengendali Matap. M. Annas Irfani anaknya sulung
adalah lulusan perguruan tinggi di Malaysia, sementara M. Barik
Affandi lulusan perguruan tinggi di Australia, sekarang kerja di
perusahaan advertising ditempatkan di Vietnam.
M. Bahrun Nawawi juga aktif di persyarikatan Muhammadiyah.
Menjabat di Hizbul Wathan Kwartir Pusat sebagai ketua bidang
hubungan luar negeri. Ketua komite SMA Muhammadiyah 4 Kotagede.
Ketua Pengajian Ahad pagi. Pernah menjadi Ketua RW
Pekaten-Nyamplungan. Sekarang menjadi ketua LPMK kalurahan
Prenggan. Bahkan pernah menjadi Ketua forum LPMK kota
Yogyakarta. Dulu beliau pernah berpesan : "Nek iso ki wong-wong
Muhammadiyah kuwi do podho dadi RT utowo RW, atau lebih jauh lagi.
Maksudte ben iso memberi warna pada lembaga bentukan pemerintah di
tingkat basis masyarakat. Nek ora ngono, masyarakat arep diwarnai
warna liyo sing bedho karo warna Muhammadiyah. Kerja pengabdian
Muhammadiyah dadi ora effisien. Wong liyo nggarap masyarakat,
Muhammadiyah ugo nggarap masyarakat. Yen sing nggarap podho ora

susah mindhon gaweni."