Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

Pendengaran adalah persepsi saraf mengenai energi suara. Gelombang suara adalah
getaran udara yang merambat dan terdiri dari daerah-daerah bertekanan tinggi karena
kompresi (pemampatan)molekul-molekul udara yang berselang seling dengan daerah-daerah
bertekanan rendah karena penjarangan molekul tersebut.
Gelombang suara juga dapat berjalan melalui medium selain udara, misalnya air.
Namun, perjalanan gelombang suara dalam media tersebut kurang efisien, diperlukan tekanan
yang lebih besar untuk menimbulkan pergerakan cairan daripada pergerakan udara karena
inersia (resistensi terhadap perubahan) cairan yang lebih keras. Suara ditandai oleh nada
(tone, tinggi rendahnya suara), intensitas (kekuatan, kepekaan, loudness), dan timbre
(kualitas, warna nada).
Telinga terdiri dari tiga bagian yaitu telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.
Bagian luar dan tengah telinga menyalurkan gelombang suara dari udara ke telinga dalam
yang berisi cairan, untuk memperkuat energy suara dalam proses tersebut. Telinga dalam
berisi dua sistem sensorik yang berbeda : koklea, yang mengandung reseptor-reseptor untuk
mengubah gelombang suara menjadi impuls-impuls saraf, sehingga kita dapat mendengar,
dan aparatus vestibularis, yang penting untuk keseimbangan.(1)

BAB II
ANATOMI TELINGA

Telinga merupakan sebuah organ yang mampu mendeteksi/mengenal suara & juga
banyak berperan dalam keseimbangan dan posisi tubuh. Secara anatomi telinga dibedakan
atas telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Membran timpani memisahkan antara
telinga luar dan telinga tengah.

Telinga luar
Terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membrane timpani. Daun telinga terdiri dari
tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan
pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang.
Panjangnya kira-kira 2,5-3 cm. Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak
kelenjar serumen (kelenjar keringat) dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh
kulit liang telinga. Pada duapertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen.

Telinga Tengah
Telinga tengah merupakan sebuah rongga yang berisi udara yang berbentuk kubus. Di
dalamnya terdapat saluran Eustachius yang berfungsi menjaga keseimbangan tekanan udara
dalam faring. Batas-batas telinga tengah antara lain :
Batas atas

: membrane timpani

Batas depan

: tuba Eustachius

Batas bawah

: vena jugularis (bulbus jugularis)

Batas belakang

: aditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertiikalis

Batas atas

: tegmen timpani (meningen/otak)

Batas dalam

: berturut-turut dari atas ke bawah kanalis semi sirkularis horizantalis,

kanalis fasialis, oval window, round window, dan promontoroium.


Membran Timpani
Membran timpani merupakan bagian dari
telinga tengah berbentuk bundar dan cekung
bila dilihat dari arah liang telinga dan
terlihat obliq terhadap sumbu liang telinga.
Bagian atas disebut pars flaksida sedangkan
bagian bawah disebut pars tensa. Bayangan
penonjolan bagian bawah maleus pada
membrane timpani disebut sebagai umbo.
Dari umbo bermula suatu reflek cahaya
(cone of light) ke arah bawah yaitu pada
pukul 7 untuk membrane timpani kiri dan
pukul 5 untuk membrane timpani kanan.
Refleks cahaya (cone of light) adalah
cahaya dari luar yang dipantulkan oleh membrane timpani. Di membrane timpani terdapat
dua serabut yaitu serabut sirkuler dan serabut radier. Serabut inilah yang menyebabkan
timbulnya refleks cahaya yang berupa kerucut itu. Fungsi membran timpani adalah bergetar
secara sinkron dengan gelombang suara yang mengenainya, menyebabkan tulang-tulang
pendengaran telinga tengah bergetar .(2)

Tuba Eustachius
Tuba Eustachius yang menghubungkan telinga tengah dan nasofaring. Tuba eustachius
disebut juga tuba auditory atau tuba faringotimpani. Bentuknya seperti huruf S. Pada orang
dewasa panjang tuba sekitar 36 mm berjalan ke bawah, depan dan medial dari telinga tengah
13 dan pada anak dibawah 9 bulan adalah 17,5 mm11. Bagian tulang terdapat pada bagian
belakang dan pendek (1/3 bagian). Tuba eustachius terdiri dari 2 bagian : Bagian tulang
terdapat pada bagian belakang dan pendek (1/3 bagian) dan bagian tulang rawan terdapat
pada bagian depan dan panjang (2/3 bagian).

Tulang-Tulang pendengaran
Pada

telinga

tengah

didapatkan

adanya

tulang

pendengaran yaitu maleus, inkus, dan stapes. Tulang


pendengaran

dalam

telinga

tengah

ini

saling

berhubungan. Ketiga tulang ini merupakan tulang kompak


tanpa rongga sumsum tulang. Tulang maleus melekat pada
membran timpani sedangkan lempeng dasar stapes melekat
pada tingkap celah oval (fenestra ovalis) pada dinding dalam.
Musculus Tensor Timpani
Otot ini berada pada suatu canalis pada dinding anterior dari cavum timpani, di sebelah atas
dari tuba eustachius. Keluar dari canalis ini, otot ini melanjutkan diri sebagai tendon menjadi
suatu benjolan pada dinding cavum timpani dalam suatu semicanal yang berakhir pada suatu
tonjolan tulang yang disebut proccessus cochlearis. Kemudian tendon ini membelok ke lateral
dan berakhir pada collum malei, dekat pada proccessus brevis. Fungsi otot ini untuk
meregangkan dan mengendorkan cavum timpani.
4

Musculus Stapedius
Otot ini dimulai dari suatu benjolan tulang dari dinding posterior cavum timpani yang disebut
eminentia pyramidalis. Kemudian tendonnya berakhir pada collum dari stapes. Fungsi otot ini
adalah untuk mengatur gerakan dari stapes.
Chorda Timpani
Berjalan dari cavum timpani, keluar dari nervus Fascialis Pars Vertikalis (dinding posterior
cavum timpani), kemudian berjalan dalam cavum timpani ke arah anterior kemudian masuk
ke fissure petrotympanica, dimana terdapat pada dinding anterior dan akhirnya saraf ini
mempersarafi lidah.
Telinga dalam
Telinga dalam adalah suatu sistem saluran dan rongga di dalam pars petrosum tulang
temporalis. Telinga tengah di bentuk oleh labirin tulang (labirin oseosa) yang di dalamnya
terdapat labirin membranasea. Labirin tulang berisi cairan perilimf sedangkan labirin
membranasea berisi cairan endolimf.

Labirin Tulang, terdiri atas 3 komponen yaitu kanalis semisirkularis, vestibulum, dan
koklea tulang.

Kanalis semisirkularis superior, posterior dan horizontalis dengan diameter 0,8 mm. Salah
satu ujungnya membesar sebagai ampula yang mengandung organ sensoris vestibuler. Pada
posisi berdiri, kanalis semisirkularis lateralis kedua telinga terletak pada bidang miring ke
bawah membentuk sudut 30 derajat dengan bidang horizontalis dan ketiga kanalis ini saling
tegak lurus terhadap yang lain.
Vestibulum merupakan bagian tengah labirin tulang, yang berhubungan dengan rongga
timpani melalui suatu membran yang dikenal sebagai tingkap oval (fenestra ovale). Ke dalam
vestibulum bermuara 3 buah kanalis semisirkularis yaitu kanalis semisirkularis anterior,
posterior dan lateral yang masing-masing saling tegak lurus. Setiap saluran semisirkularis
mempunyai pelebaran (ampula). Ke arah anterior rongga vestibulum berhubungan dengan
koklea tulang dan tingkap bulat (fenestra rotundum).
Koklea merupakan tabung berpilin mirip rumah siput. Bentuk keseluruhannya mirip kerucut
dengan dua tiga-perempat putaran dan berukuran panjang 30-35 mm, diameter 3 mm.
5

Ruangan bagian dalam koklea dibagi 2 oleh lamina spiralis oseus yang merupakan lamina
periosteum menjadi skala vestibuli dan skala timpani (keduanya berisi cairan perilimfe) yang
akan bersatu membentuk helikoterma.
Labirin Membranasea, terdiri dari :
1. Sakulus dan utrikulus
Adalah dua ruangan labirin membranasea yang terletak dalam vestibulum, keduanya
dihubungkan dengan duktus utrikulo-sakulus. Sakulus adalah kantung yang berbentuk,
didalamnya mengandung end organ neuro-sensoris makula. Utrikulus adalah
kantung berbentuk oval, dimana bagian antero-lateralnya terdapat makula
2. Duktus semi-sirkularis membranosa
Duktus ini dalam lumen kanalis semisirkularis dengan diameter bagian kanalis
semisirkularis dan berhubungan dengan utrikulus melalui 5 lubang. Ketiga duktus ini
terletak pada bidang yang berisis epitel saraf yang disebut krista ampularis.
3. Duktus Kohlearis
Duktus ini mengikuti bentuk spiral kohlea. Pada penampang melintang duktus ini
terlihat bentukan segitiga dengan dasar spiralis dibentuk oleh membran basilaris yang
membentang dari tepi lamina spiralis oseus ke dinding tulang kohlea.
a. Skala media, berisi cairan endolimfe yang strukturnya sama dengan cairan
intraseluler, mengandung kadar kalium tinggi dan natrium rendah.
b. Skala vestibuli, berisi cairan perilimfe dan berbatasan dengan kavum timpani lewat
fenstra ovale. Cairan perilimfe berbeda dengan cairan endolimfe, dimana perilimfe
mengandung tinggi natrium dan rendah kalium.
Skala vestibuli dengan skala media dipisahkan oleh membran Reissner (membran
vestibularis).
c. Skala timpani, berisi cairan perilimfe dan berbatasan dengan kavum timpani lewat
fenestra Rotundum.

Antara skala timpani dan skala media dipisahkan oleh

membran basilaris.

4. Organ Corti
Sepanjang duktus kohlearis di atas membrana basilaris terdapat reseptor organ yang
disebut organ korti. Organ korti merupakan struktur kompleks yang terdiri
dari 3 bagian utama yaitu sel penyangga, sel sensoris yaitu sel-sel saraf rambut dan
membrana tektoria.Organ korti mengandung 15.000 sel rambut yaitu 3.500 sel rambut
dalam dan12.000 sel rambut luar.(4)

BAB III
FISIOLOGI TELINGA

III.1 FISIOLOGI PENDENGARAN


Reseptor-reseptor khusus untuk suara terletak ditelinga dalam yang berisi cairan.
Karena itu gelombang suara di udara harus dapat ditangkap oleh daun telinga dan kemudian
disalurkan ke arah dan dipindahkan ke telinga dalam. Membran timpani yang membentang
merintangi pintu masuk ke telinga tengah, bergetar ketika terkena gelombang suara tersebut.
Agar membran timpani bebas bergerak ketika terkena gelombang suara, tekanan udara
istirahat di kedua sisi membran harus sama. Sewaktu membran timpani bergetar sebagai
respon terhadap gelombang suara ini, rangkaian tulang-tulang pendengaran yaitu maleus,
inkus dan stapes ikut bergerak dengan frekuensi yang sama, memindahkan frekuensi getaran
ini dari membran timpani ke tingkap lonjong. Tekanan yang terjadi di tingkap lonjong yang
ditimbulkan oleh setiap getaran akan menimbulkan gerakan cairan telinga dalam. Namun
diperlukan tekanan yang lebih besar untuk menggetarkan cairan. Sistem osikulus (maleus,
inkus dan stapes) memperkuat tekanan yang ditimbulkan oleh gelombang suara diudara
melalui dua mekanisme agar cairan di koklea bergetar :

(1) Karena luas permukaan membran timpani jauh lebih besar daripada luas tingkap
lonjong maka terjadi peningkatan tekanan ketika gaya yang bekerja pada membran
timpani disalurkan oleh osikulus ke tingkap lonjong (tekanan = gaya/luas).
(2) Efek tuas osikulus juga menimbulkan penguatan.
Kedua mekanisme ini meningkatkan gaya yang bekerja pada tingkap lonjong sebesar 20 kali
dibandingkan dengan jika gelombang suara langsung mengenai tingkap lonjong. Penambahan
tekanan ini sudah cukup untuk menggetarkan cairan di koklea.
Beberapa otot halus ditelinga tengah berkontraksi secara refleks sebagai respon
terhadap suara keras (lebih dari 70 dB), menyebabkan membran timpani mengencang dan
membatasi gerakan rangkaian osikulus. Berkurangnya getaran di struktur telinga tengah ini

menurunkan transmisi gelombang suara yang keras ke telinga dalam sehingga melindungi
perangkat sensorik yang peka dari kerusakan.
Gerakan stapes yang mirip piston terhadap tingkap lonjong memicu gelombang tekanan
di skala vestibuli sehingga perilimfa bergerak. Karena cairan tidak dapat mengalami
penekanan maka tekanan disebarkan melalui dua cara ketika stapes menyebabkan tingkap
lonjong menonjol ke dalam: (1) Penekanan tingkap bulat dan (2) Defleksi membran basilaris.
Gerakan cairan perilimfa yang ditimbulkan oleh getaran tingkap lonjong mengikuti dua jalur :
(1) Gelombang tekanan mendorong maju perilimfa di skala vestibuli, kemudian
mengelilingi helikotrema dan masuk kedalam skala timpani, tempat gelombang
tersebut menyebabkan tingkap bulat menonjol keluar mengarah ke rongga telinga
tengah untuk mengompensasi peningkatan tekanan.
(2) Jalan pintas dari skala vestibuli melalui membran basilaris ke skala timpani. Jalur
ini memicu pengaktifan reseptor suara dengan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel
rambut sewaktu organ corti yang terletak diatas membran basilaris bergeser relatif
terhadap membran tektorium di atasnya. Akibat terjadinya defleksi stereosilia sel-sel
rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari
badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut sehingga
melepaskan neurotransmitter kedalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi
pada saraf auditorius lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai korteks
pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis.

III.2

FISIOLOGI

SISTEM

KESEIMBANGAN
Telinga

dalam

memiliki

komponen khusus lain yaitu aparatus


vestibularis, yang memberi informasi
bagi sensasi keseimbangan dan untuk
koordinasi

gerakan

kepala

dengan

gerakan mata dan postur tubuh.


Gerakan atau perubahan kepala dalam arah apapun menyebabkan gerakan endolimfa di
labirin dan selanjutnya silia sel rambut akan menekuk. Ketika stereosilia terdefleksi oleh
gerakan endolimfe,hal ini menyebabkan permeabilitas membran sel berubah sehingga ion
kalsium akan masuk ke dalam sel yang menyebabkan terjadinya proses depolarisasi dan akan
merangsang pelepasan neurotransmiter eksitator yang selanjutnya akan meneruskan impuls
sensoris melalui saraf aferen ke pusat keseimbangan di otak. Sewaktu stereosila menekuk
kearah berlawanan maka akan terjadi hiperpolarisasi sel.
Organ vestibuler berfungsi sebagai transduser yang mengubah energi mekanik akibat
rangsangan otolit dan gerakan endolimfe di dalam kanalis semisirkularis menjadi energi
biolistrik, sehingga memberi informasi mengenai perubahan posisi tubuh akibat percepatan
linear atau percepatan sudut. Dengan demikian dapat memberi informasi mengenai semua
gerak tubuh yang sedang berlangsung.

10

BAB IV
KESIMPULAN

Telinga dibagi menjadi tiga bagian yaitu, telinga luar (daun telinga, liang telinga dan
membran timpani), telinga tengah (maleu, inkus, stapes), dan telinga dalam (koklea).
Telinga luar yang terdiri dari daun telinga yang tersusun dari tulang rawan elastin dan
kulit yang berfungsi menangkap energi bunyi yang nantinya dialirkan ke liang telinga dan
menggetarkan membran timpani. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan tulang rawan pada
sepertiga dan tulang pada dua pertiga bagian dalam. Membran timpani berbentuk budar dan
cekung dan terlihat oblik terhadap sumbu telinga, getaran yang timbul akibat retangkapnya
getaran bunyi akan menggetarkan tulang-tulang pendengaran dimuali dari maleus yang
menempel pada membran timpani. Telinga tengah terdiri dari tulang-tulang pendengaran
yaitu maleus, inkus, dan stapes. Getaran yang timbul dari mebran timpani akan menggetarkan
3 tulang pendengaran tersebut yang akhirnya akan menggetarkan tingkap lonjong sehingga
perilimfa yang terdapat pada koklea akan bergerak. Koklea merupakan telinga dalam,
didalamnya terdapat cairan perilimfa dan endolimfa yang pada akhirnya gerakan perilimfa
akan diterima oleh sel-sel rambut yang merupakan organ corti yang pada akhirnya
disampaikan pada saraf-saraf pusat pendengaran.
Fungsi keseimbangan diambil alih oleh telinga dalam, yang prosesnya bergantung
pada orientasi tubuh seseorang terhadap lingkungan disekitarnya .(2)

11

BAB V
DAFTAR PUSTAKA
1. Sherwood, Lauralee. Fisiologi Manusia. Edisi Kedua. Jakarta: EGC; 2001.h 176
2. Soepardi E., Iskandar N. Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi ke lima. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: 2004.
3. Adams G., Boies L., Higler P. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi ke enam. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta: 1997.
4.
(http://www.scribd.com/doc/82646507/Anatomi-Telinga, accesed on
june 23, 2012)
5. Becker, W., Naumann, H., Pfaltz, C. Ear, Nose, and Throat Disease. Edisi ke dua. Thieme.
New York:1994.
5. Newlands, Shawn D. Bailey, Biron J. et al.. Textbook of Head and Neck SurgeryOtolaryngology. 3rd edition. Volume 1. Lippincot: Williams & Wilkins. Philadelphia. 273-9.
2000.
6. Mygind, Niehls. Nacleria, Robert M. Alergic and Nonallergic Rhinitis, Clinical Aspecst.
1st Edition. Munksgaard. Copenhagen. 159-165. 1993.
7. Krouse, John H. Chadwick, Stephen J. Gordon, Bruce R. Derebery, M. Jennifer. Allergy
and Immunology, An Otolaryngic Approach. Lippincott Williams&Wilkins. USA. 209-219.
2002.
8. Sumarman, Iwin. Patogenesis, Komplikasi, Pengobatan dan Pencegahan Rinitis Alergis,
Tinjauan Aspek Biomolekuler. Bandung : FK UNPAD. 1-17. 2000.
9. Mansjoer, Arif dkk.. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga Jilid Pertama. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI. 106-108. 2001.
10. Bousquet, J. Cauwenberge, P. ARIA (Allergic Rhinitis and Its Impact on Asthma
Initiative).

12