Anda di halaman 1dari 15

Kehamilan Ektopik Terganggu

Lisa Sari
102012129
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Alamat: Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta 11510

Pendahuluan
Kehamilan ektopik ialah suatu kehamilan yang berbahaya bagi wanita yang
bersangkutan berhubung dengan besarnya kemungkinan terjadi keadaan yang gawat.
Keadaan gawat dapat terjadi apabila kehamilan ektopik terganggu. Kehamilan ektopik
merupakan keadaan emergensi yang menjadi penyebab kematian maternal selama kehamilan
trimester pertama, karena janin pada kehamilan ektopik secara nyata bertanggung jawab
terhadap kematian ibu, maka para dokter menyarankan untuk mengakhiri kehamilan. Hal
yang perlu diingat ialah bahwa pada setiap wanita dalam masa reproduksi dengan gangguan
atau keterlambatan haid yang disertai dengan nyeri perut bagian bawah, perlu difikirkan
dugaan adanya kehamilan ektopik terganggu.1

Anamnesis

Nyeri perut
Merupakan keluhan utama pada kehamilan ektopik terganggu Pada kehamilan ektopik
yang terganggu rasa nyeri perut bawah bertambah sering dan keras. Rasa nyeri mungkin
unilateral atau bilateral pada abdomen bagian bawah atau pada seluruh abdomen, atau
malahan di abdomen bagian atas. Dengan adanya hemiperitoneum , rasa nyeri akibat
iritasi diafragma bisa dialami pasien. Diperkirakan bahwa serangan nyeri hebat pada
ruptura kehamilan ektopik, ini disebabkan oleh darah yang mengalir ke kavum peritonei.

Perdarahan
Gangguan kehamilan sedikit saja sudah dapat menimbulkan perdarahan yang berasal dari
uterus. Perdarahan dapat berlangsung kontinyu dan biasanya berwarna hitam. Selama
fungsi endokrin plasenta masih bertahan, perdarahan uterus biasanya tidak ditemukan,
tetapi bila dukungan endokrin dari endometrium sudah tidak memadai lagi, mukosa

uterus akan mengalami perdarahan. Perdarahan tersebut biasanya sedikit-sedikit,


berwarna coklat gelap dan dapat terputus-putus atau terus menerus. Meskipun perdarahan
vaginal yang masif lebih menunjukkan kemungkinan abortus inkompletus intrauteri
daripada kehamilan ektopik, tetapi perdarahan semacam ini bisa terjadi pada kehamilan
tuba.

Amenorea
Amenorea sering ditemukan walau hanya pendek sebelum diikuti perdarahan, malah
kadang-kadang tidak amenorea. Tidak ada riwayat haid yang terlambat bukan berarti
kemungkinan kehamilan tuba dapat disingkirkan. Salah satu sebabnya adalah karena
pasien menganggap perdarahan pervaginam sebagai periode menstruasi yang normal,
dengan demikian memberikan tanggal haid yang keliru.2

Pemeriksaan umum : penderita tampak kesakitan dan pucat. Pada perdarahan dalam
rongga perut tanda-tanda syok dapat ditemukan. Pada jenis tidak mendadak perut bagian
bawah hanya sedikit menggembung dan nyeri tekan.1 Kehamilan ektopik yang belum
terganggu tidak dapat didiagnosis secara tepat semata-mata atas adanya gejala-gejala klinis
dan pemeriksaan fisik.3
Pemeriksaan ginekologi : Tanda-tanda kehamilan muda mungkin ditemukan.
Pergerakan serviks menyebabkan rasa nyeri. Bila uterus dapat diraba, maka akan teraba
sedikit membesar dan kadang-kadang teraba tumor di samping uterus dengan batas yang
sukar ditentukan. Kavum Douglas yang menonjol dan nyeri-raba menunjukkan adanya
hematokel retrouterina. Suhu kadang-kadang naik sehingga menyukarkan perbedaan dengan
infeksi pelvik.1 Hampir semua kehamilan ektopik didiagnosis antara kehamilan 5 dan 12
minggu. Identifikasi dari tempat implantasi embrio lebih awal dari pada kehamilan 5 minggu
melampaui kemampuan teknik-teknik diagnostik yang ada. Pada usia kehamilan 12 minggu,
kehamilan ektopik telah memperlihatkan gejala-gejala sekunder terhadap terjadinya ruptur
atau uterus pada wanita dengan kehamilan intrauteri yang normal telah mengalami
pembesaran yang berbeda dengan bentuk dari kehamilan ektopik.3
Pemeriksaan laboratorium : Pemeriksaan hemoglobin dan jumlah sel darah merah
berguna dalam menegakkan diagnosis kehamilan ektopik terganggu, terutama bila ada tandatanda perdarahan dalam rongga perut. Pada kasus tidak mendadak biasanya ditemukan
anemia, tetapi harus diingat bahwa penurunan hemoglobin baru terlihat setelah 24 jam.1

Perhitungan leukosit secara berturut menunjukkan adanya perdarahan bila leukosit meningkat
(leukositosis). Untuk membedakan kehamilan ektopik dari infeksi pelvik dapat diperhaikan
jumlah leukosit. Jumlah leukosit yang lebih dari 20.000 biasanya menunjukkan infeksi
pelvik.1
Penting untuk mendiagnosis ada tidaknya kehamilan. Cara yang paling mudah ialah
dengan melakukan pemeriksaan konsentrasi hormon human chorionic gonadotropin (hCG) dalam urin atau serum. Hormon ini dapat dideteksi paling awal pada satu minggu
sebelum tanggal menstruasi berikutnya. Konsentrasi serum yang sudah dapat dideteksi ialah 5
IU/L, sedangkan pada urin ialah 2050 IU/L.6 Tes kehamilan negatif tidak menyingkirkan
kemungkinan kehamilan ektopik terganggu karena kematian hasil konsepsi dan degenerasi
trofoblas menyebabkan human chorionic gonadotropin menurun dan menyebabkan tes
negatif.1 Tes kehamilan positif juga tidak dapat mengidentifikasi lokasi kantung gestasional.
Meskipun demikian, wanita dengan kehamilan ektopik cenderung memiliki level -hCG yang
rendah dibandingkan kehamilan intrauterin.4
Kuldosentesis : Ialah suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah terdapat darah
dalam kavum Douglas. Cara ini sangat berguna untuk membuat diagnosis kehamilan ektopik
terganggu. Hasil positif bila dikeluarkan darah berwarna coklat sampai hitam yang tidak
membeku atau berupa bekuan-bekuan kecil. Hasil negatif bila cairan yang dihisap berupa
cairan jernih yang mungkin berasal dari cairan peritoneum normal atau kista ovarium yang
pecah, nanah yang mungkin berasal dari penyakit radang pelvis atau radang appendiks yang
pecah (nanah harus dikultur) atau darah segar berwarna merah yang dalam beberapa menit
akan membeku, darah ini berasal dari arteri atau vena yang tertusuk.
Ultrasonografi : Cara yang paling efisien untuk mengeluarkan adanya kehamilan
ektopik adalah mendiagnosis suatu kehamilan intrauteri. Cara yang terbaik untuk
mengkonfirmasi satu kehamilan intrauteri adalah dengan menggunakan ultrasonografi.
Sensitivitas dan spesifisitas dari diagnosis kehamilan intrauteri dengan menggunakan
modalitas ini mencapai 100% pada kehamilan diatas 5,5 minggu. Sebaliknya identifikasi
kehamilan ektopik dengan ultrasonografi lebih sulit (kurang sensitif) dan kurang spesifik.3

Laparoskopi : hanya digunakan sebagai alat bantu diagnostik terakhir untuk


kehamilan ektopik apabila hasil penilaian prosedur diagnostik yang lain meragukan. Melalui
prosedur laparoskopik, alat kandungan bagian dalam dapat dinilai. Secara sistematis dinilai
keadaan uterus, ovarium, tuba, kavum Douglas dan ligamentum latum. Adanya darah dalam
rongga pelvis mempersulit visualisasi alat kandungan tetapi hal ini menjadi indikasi untuk
dilakukan laparotomi.

Working Diagnosis
Kehamilan Ektopik Terganggu
Implantasi ovum yang sudah dibuahi di luar kavum uteri disebut kehamilan ektopik.
Pada kehamilan ektopik hampir 95% terimplantasi di berbagai segmen tuba uterine. Dari
kehamilan-kehamilan ini, sebagian besar terletak di ampula. Sisanya 5% tertanam di ovarium,
rongga peritoneum, atau di dalam serviks.5
Kehamilan ektopik biasanya berasal dari keadaan-keadaan yang menunda atau
mencegah perjalanan ovum yang sudah dibuahi melewati tuba falopii. Produk konsepsi yang
menginvasi dan membesar dapat menyebabkan ruptur tuba uterina atau tempat lain.
Kehamilan ektopik diklasifikasikan berdasar tempat implantasinya:5
-

Kehamilan ektopik tuba (>99%) dibagi lebih lanjut menurut bagian anatomi yang
terlibat: ampula (55%), ismus (25%), fimbria (17%), interstisial (angular, kornu) (2%)
dan bilateral sangat jarang.

Kehamilan ovarium (0,5%) dapat terjadi setelah fertilisasi ovum yang tidak
dikeluarkan.

Kehamilan abdominal (kira-kira 1/15.000 kehamilan) dapat terjadi primer, dengan


implantasi awal zigot di luar tuba (missal, pada hati) atau sekunder karena ekspulsi
atau ruptur kehamilan tuba.

Implantasi servikal (jarang) ditunjukkan oleh serviks yang sangat membesar


(seringkali sebesar uterus tidak hamil, dikenal sebagai tanda jam pasir. Tanda ini
berupa serviks yang membesar dengan banyak vaskularisasi dan perdarahan, dengan
ostium interna yang rapat dan celah pada ostium eksterna.

Kehamilan ektopik uterus (jarang) dapat terjadi pada implantasi dalam kornu,
divertikulum uteri, sakulasi uteri, kornu rudimenter atau dinding otot (intramural)

Kehamilan intrauterine kombinasi (heterotopik). Terjadi pada 1/17.000-30.000


kehamilan.

Kemungkinan yang jarang lainnya adalah kehamilan intraligamentosa. Kehamilan


bahkan terjadi setelah histerektomi.5

Differential Diagnosis

Abortus
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang
dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Abortus dapat terjadi karena
beberapa sebab, yaitu :
a

Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi, biasa menyebabkan abortus pada kehamilan

b
c

sebelum usia 8 minggu. Faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah :


a Kelainan kromosom, terutama trisomi autosom dan monosomi X
b Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna
c Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obatan, tembakau dan alkohol
Kelainan pada plasenta, misalnya endarteritis vili korialis karena hipertensi menahun
Faktor maternal, seperti pneumonia, tifus, anemia berat, keracunan dan

toxoplasmosis
Kelainan traktus genitalia, seperti inkompetensi serviks (untuk abortus pada
trisemester kedua), retroversi uteri, mioma uteri, dan kelainan bawaan uterus.

Manifestasi klinis dari abortus adalah


o Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu

o Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menurun,
tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu
badan normal atau meningkat.
o Perdarahan pervaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi.
o Rasa mulas atau keram perut di daerah atas simfisis, sering disertai nyeri pinggang
akibat kontraksi uterus.

Mola Hidatidosa
Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal di mana hampir seluruh vili korialisnya
mengalami perubahan hidrofik. Etiologi belum diketahui dengan pasti, ada yang
menyatakan akibat infeksi, defisiensi makanan, dan genetik. Yang paling cocok adalah
teori Acosta Sison, yaitu defisiensi protein. Faktor infeksi terdapat pada golongan
sosiokonomi rendah, usia dibawah 20 tahun, dan paritas tinggi
Manifestasi klinis dari mola hidatidosa adalah sebagai berikut :
o Amenore dan tanda-tanda kehamilan
o Perdarahan pervaginam berkurang. Darah cenderung bewarna coklat. Pada keadaan
lanjut kadang keluar gelembung mola
o Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan
o Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya BJJ sekalipun
uterus sudah membesar setinggi pusar atau lebih
o Preeklamsia atau eklamsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu.

Appendisitis
Apendisitis adalah peradangan dari appendiks vermiformis, dan merupakan penyebab
abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki
maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang anak laki-laki berusia antara 10
sampai 30 tahun.
Keluhan appendisitis biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilikus atau
periumbilikus yang berhubungan dengan muntah. Dalam 2 12 jam nyeri akan beralih ke
kuadran kanan bawah, yang akan menetap dan di perberat bila berjalan atau batuk.
Terdapat juga keluhan anoreksia, malaise, dan demam yang tidak terlalu tinggi. Biasanya
juga terdapat konstipasi, tetapi kadang-kadang terjadi diare, mual dan muntah.
Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap.
Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen kanan bawah akan semakin progresif, dan
dengan pemeriksaan seksama akan dapat di tunjukan satu titik dengan nyeri maksimal.
Perkusi ringan pada kuadran kanan bawah dapat membantu menentukan lokasi nyeri.
Nyeri lepas dan spasme biasanya juga muncul. Bila tanda rovsing, psoas, dan obturator
positif, akan semakin menyakitkan diagnosis klinis apendisitis.

Kista Ovarium
Kista ovarium merupakan tumor jinak berupa kantong abnormal berisi cairan atau
setengah cair yang tumbuh dalam indung telur (ovarium). Indung telur adalah rongga
berbentuk kantong berisi cairan di dalam jaringan ovarium. Kista tersebut disebut juga
kista fungsional karena terbentuk setelah telur dilepaskan sewaktu ovulasi. Kista
fungsional akan mengkerut dan menyusut setelah beberapa waktu (setelah 1-3 bulan).
Gejala dari kista ovarium adalah
o Perut terasa kembung, penuh dan berat
o Merasa kandung kemih anda tertekan sehingga sulit buang air kecil
o Siklus menstruasi anda tidak teratur
o Nyeri disekitar panggul, biasanya menetap atau sesekali yang menyebar ke
panggul bawah dan paha
o Nyeri ketika bersenggama
o Payudara mengeras
o Mual hingga ingin muntah

Salpingitis
Salpingitis adalah peradangan pada saluran tuba, dipicu oleh infeksi bakteri.
Salpingitis kadang-kadang disebut penyakit radang panggul (PID). Ini istilah umum
termasuk infeksi lain dari sistem reproduksi wanita, termasuk rahim dan ovarium. Hampir
semua kasus salpingitis disebabkan oleh infeksi bakteri, termasuk penyakit menular
seksual seperti gonore dan klamidia. Peradangan yang meminta tambahan sekresi cairan
atau bahkan nanah untuk mengumpulkan dalam tuba falopi. Infeksi dari salah satu tabung
biasanya menyebabkan infeksi yang lain, karena bakteri bermigrasi melalui pembuluh
getah bening di dekatnya.
Salpingitis adalah salah satu penyebab paling umum dari ketidaksuburan wanita.
Tanpa perawatan yang segera, infeksi secara permanen dapat merusak tuba falopi
sehingga telursetiap siklus menstruasi dilepaskan tidak dapat bertemu dengan sperma.
Gejala-gejala salpingitis meliputi :
o Nyeri abdomen di kedua sisi
o Sakit punggung
o Sering buang air kecil
o Gejala-gejala biasanya muncul setelah periode menstruasi
o Demam tinggi dengan menggigil
o Nyeri perut Abnormal discharge vagina, seperti warna yang tidak biasa atau
o
o
o
o

bau
Dismenorea
Tidak nyaman atau hubungan seksual yang menyakitkan
Kanan kiri bawah, terutama kalau ditekan
Defense kanan dan kiri atas ligamen pourpart

o Mual dan muntah, ada gejala abdomen akut karena terjadi rangsangan
peritoneum
o Kadang-kadang ada tendensi pada anus karena proses dekat pada rektum dan
sigmoid
o Pada periksa dalam nyeri kalau portio digoyangkan, nyeri kiri dan kanan

yterus, kadang-kandang ada penebalan dari tuba.


o Nyeri saat ovulasi
Adnexitis
Adnexitis adalah radang yang terjadi di daerah panggul wanita, timbulnya rasa nyeri

pada daerah panggul wanita yang berada di daerah tuba falopi sampai ovarium. Jenis-jenis
bakteri yang sering menimbulkan adnexitis adalah Bakteri Gonorrhea dan Bakteri
Chlamydia. Gejala umumnya adalah :
o Demam terjadi secara tiba-tiba dan parah terutama akibat Gonnorhoe
o Sakit pada perut bagian bawah atau kram yang tidak berhubungan dengan
o
o
o
o
o

haid (bukan premenstuasi syndrom)


Nyeri tekan kanan dan kiri di perut bagian bawah
Nyeri saat berhubungan seksual
Nyeri BAK (Buang Air Kecil)
Keluarnya cairan berbau dan berwarna kekuningan dari vagina
Menstruasi tidak teratur yaitu perdarahan bercak atau spoting sampai perdarahan

o
o
o
o

irregular
Nyeri punggung
Dismenore
Mennoraghie
Mual muntah

Etiologi
Etiologi dari kehamilan ektopik sudah banyak di sebutkan karena secara patofisiologi
mudah dimengerti sesuai dengan proses awal kehamilan sejak pembuahan sampai nidasi.
Apabila nidasi terjadi diluar kavum uteri atau diluar endometrium, maka terjadilah kehamilan
ektopik. Dengan demikian, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya hambatan dalam
nidasi embrio ke endometrium menjadi penyebab kehamilan ektopik ini. Faktor-faktor yang
disebutkan adalah sebagai berikut :1
a

Faktor tuba
Adanya peradangan atau infeksi pada tuba menyebabkan lumen tuba menyempit atau
buntu. Keadaan uterus yang mengalami hipoplasia dan saluran tuba yang berkelok-kelok

panjang dapat menyebabkan fungsi silia tuba tidak berfungsi dengan baik. Juga pada
keadaan pascaoperasi rekanalisasi tuba dapat merupakan presdisposisi terjadi kehamilan
ektopik.
Faktor tuba yang lain ialah adanya kelainan endometriosis tuba atau diventrikel
saluran tuba yang bersifat kongenital. Adanya tumor di sekitar saluran tuba, misalnya
mioma uteri atau tumor ovarium yang menyebabkan perubahan bentuk dan patensi tuba,
b

juga dapat menjadi etiologi kehamilan ektopik.


Faktor abnomalitas dari zigot
Apabila tumbuh terlalu cepat atau tumbuh dengan ukuran besar, maka ziogt akan
tersendat dalam perjalanan pada saat melalui tuba, kemudian terhenti dan tumbuh di

saluran tuba.
Faktor ovarium
Bila ovarium memproduksi ovum dan ditangkap oleh tuba yang kontralateral, dapat
membutuhkan proses khusus atau waktu yang lebih panjang sehingga kemungkinan

terjadinya kehamilan ektopik lebih besar.


Faktor hormonal
Pada askseptor, pil KB yang hanya mengandung progesteron dapat mengakibatkan
gerakan tuba melambat. Apabila terjadi pembuahan dapat menyebabkan terjadinya

kehamilan ektopik.
Faktor lain
Termasuk disini antara lain adalah pemakai IUD di mana proses peradangan yang
dapat timbul endometrium dan endosalping dapat menyebabkan terjadinya kehamilan
ektopik. Faktor umur penderita yang sudah menua dan faktor perokok juga sering
dihubungkan dengan terjadinya kehamilan ektopik.

Epidemiologi
Insidensi kehamilan ektopik telah meningkat secara dramatis selama dua dekade
terakhir di Amerika Serikat menjadi > 1:100 kehamilan (dari kira-kira 1:500). Peningkatan
ini, paling jelas pada wanita kulit putih, disebabkan oleh infeksi tuba, endometriosis dan
peningkatan kemungkinan kehamilan ektopik setelah ligasi tuba laparoskopik gagal. 5
Di negara-negara berkembang seperti Indonesia diperkirakan frekuensinya 1:24.
Laporan dari negara lain berkisar antara 1:38-1:150. Di negara-negara maju berkisar antara
1:250 dan 1:329.6

Patofisiologi

Pada kehamilan ektopik, korpus luteum kehamilan berfungsi selama trofoblas tetap
variabel. Amenore terjadi karena produksi hCG oleh trofoblas dan sekresi progesteron oleh
korpus luteum. Biasanya tejadi perdarahan endometrium ringan, diperkirakan karena pola
hormonal yang tidak normal, setelah suatu interval amenore yang bervariasi. Lepasnya
endometrium dan perdarahan terjadi ketika trofoblas berkurang. Hanya pada kehamilan
intersitial yang tidak lazim, darah, dari tuba mengalir melalui uterus ke dalam vagina. Nyeri
abdomen bagian bawah, pelvis atau punggung bawah dapat terjadi sekunder akibat distensi
atau ruptur tuba. Kehamilan ismus biasanya membutuhkan waktu sekitar 6 minggu dan
perdarahan akibat kehamilan ampula terjadi pada 8-12 minggu. Kehamilan kornu paling
sering mencapi trimester kedua sebelum ruptur. Kehamilan intrabdominal dapat berakhir
setiap waktu disertai dengan perdarahan. Massa pelvis disebabkan oleh pembesaran hasil
konsepsi, pembentukan hematoma, distorsi usus akibat adhesi atau infeksi. 5
Ovum yang telah dibuahi dapat tersangkut di bagian mana saja dari tuba uterine
menyebabkan kehamilan tuba ampula, ismus, dan interstisium. Pada kasus-kasus yang jarang,
ovum yang telah dibuahi mungkin tertanam di ujung tuba uterina yang berfimbria. Ampula
adalah tempat tersering, diikuti oleh ismus.
Karena tuba tidak memiliki lapisan submukosa maka ovum yang telah dibuahi segera
menembus epitel, dan zigot akhirnya berada di dekat atau di dalam otot. Trofoblas yang cepat
berploriferasi dapat menginvasi muskularis sekitar, tetapi separuh dari kehamilan ektopik
ampula tetap berada di lumen tuba dengan lapisan otot tidak terkena. Mudigah atau janin
pada kehamilan ektopik sering tidak ada atau tidak berkembang.
Ruptur tuba terjadi apabila produk konsepsi menginvasi dan membesar di tuba.
Sebelum tersedia metode yang tepat untuk mengukur hCG, banyak kasus kehamilan tuba
berakhir dengan ruptur pada trimester pertama. Sebagai patokan, jika terjadi ruptur tuba pada
beberapa minggu pertama, kehamilan terletak di bagian ismus tuba. Ruptur biasanya spontan,
tetapi kadang terjadi setelah koitus atau pemeriksaan bimanual. Biasanya timbul gejala, dan
sering dijumpai tanda-tanda hipovolemia.
Abortus tuba sebagian frekuensinya bergantung pada tempat implantasi. Abortus
sering terjadi pada kehamilan ampula, sementara ruptur merupakan hasil akhir yang biasanya
terjadi pada kehamilan ismus. Akibat perdarahan, hubungan antara plasenta dan membrane
dan dinding tuba semakin terganggu.

Manifestasi klinis

Gejala kehamilan muda


Terdapat tanda akut abdomen : nyeri tekan hebat (defance musculair), muntah, gelisah,
pucat anemis, nadi kecil dan halus, tensi rendah atau tidak terukur (syok)
Nyeri bahu : karena perangsangan diafragma
Tanda cullen : sekitar pusat atau linea alba kelihatan biru hitam dan lebam
Pervaginam keluar decidual cast
Pada pemeriksaan ginekologi (periksa dalam) terdapat :
- Adanya nyeri ayun
- Douglas crise : rasa nyeri hebat pada penekanan kavum douglasi
- Kavum douglasi terasa menonjol karena terkumpulnya darah, begitu pula teraba masa
retrouterin (masa perlvis)
Pada palpasi perut dan perkusi : ada tanda perdarahan intrabdominal (shifting dullness)

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Darurat
Pasien kirim ke rumah sakit, pasang infus dengan jarum berdiameter besar pada vena
besar. Dapatkan hemogram, panel pembekuan darah dan darah untuk menentukan golongan
darah dan pencocokan silang. Berikan upaya-upaya untuk mengatasi syok sesuai keperluan:
kristaloid IV, tranfusi komponen darah, menjaga pasien tetap hangat, berikan oksigen.5
Bedah
Laparoskopi adalah terapi bedah yang dianjurkan untuk kehamilan ektopik, kecuali
jika wanita yang bersangkutan secara hemodinamis tidak stabil. Berdasarkan pengalaman
yang telah terkumpul, kasus-kasus yang semula ditangani dengan laparotomi misalnya,
kehamilan tuba atau kehamilan interstisium yang mengalami ruptur, dapat dengan aman
diatasi dengan laparoskopi.
Bedah tuba dianggap konservatif jika tuba diselamatkan. Contohnya adalah
salpingostomi, salpingotomi, dan ekspresi kehamilan ektopik melalui fimbria. Bedah radikal
didefinisikan sebagai salpingektomi. Bedak konservatif dapat meningkatkan angka
keberhasilan kehamilan uterus berikutnya tetapi menyebabkan peningkatan angka persistensi
fungsi trofoblas.
Salpingostomi digunakan untuk mengangkat kehamilan kecil yang panjangnya
biasanya kurang dari 2cm dan terletak di sepertiga distal tuba uterin dengan membuat insisi

linier 10-15mm dengan kauter jarum unipolar di atas kehamilan. Hasil kehamilan akan
menyembul dari insisi dan mudah dikeluarkan atau dibilas. Perdarahan ringan dikontrol
dengan elektrokoagulasi atau laser, dan insisi dibiarkan tidak dijahit agar sembuh dengan
secondary intention.
Salpingotomi sudah jarang dilakukan sekarang. Prosedurnya serupa dengan
salpingostomi, kecuali bahwa insisi ditutup dengan jahitan menggunakan benang yang lambat
diserap. Salpingektomi merupakan reseksi tuba yang mungkin dilakukan untuk kehamilan
ektopik ruptur dan tak ruptur.6
Medikamentosa
Penatalaksanaan medis dengan Metotrexate. Antagonis asam folat ini sangat efektif
terhadap trofoblas yang cepat berploriferasi dan telah digunakan selama lebih dari 40 tahun
untuk mengobati penyakit trofoblastik gestasional. Obat ini juga digunakan untuk mengakhiri
kehamilan dini. Methotrexate awalnya pernah digunakan untuk mengobati kehamilan
interstisium, dan sejak itu obat ini berhasil digunakan untuk berbagai variasi kehamilan
ektopik.
Perdarahan

intra-abdomen

aktif

adalah

kontraindikasi

untuk

kemoterapi.

Kontraindikasi mutlak lain adalah kehamilan intrauterus, menyusui, imunodefisiensi,


alkoholisme, penyakit hati, ginjal, atau paru kronik, diskrasia darah, dan penyakit tukak
peptik.
Tabel 2. Terapi Methotrexate untuk Pengobatan Primer Kehamilan Ektopik 6

Regimen

Surveilans

Dosis tunggal

Ukur kadar -hCG pada hari ke-4 dan 7

Methotrexate, 50 mg/m2 IM

Jika perbedaan 15%, ulangi setiap minggu


sampai tidak terdeteksi

Jika perbedaan < 15% antara hari ke-4 dan


ke-7, ulangi dosis methotrexate dan mulai
hari ke-1 yang baru

Jika terdapat aktivitas jantung janin pada


hari ke-7 , ulangi dosis methotrexate, mulai
hari ke-1 yang baru

Terapi bedah jika kadar -hCG tidak

menurun

atau

aktivitas

jantung

janin

menetap setelah tiga dosis methotrexate


Dua dosis

Pemantauan seperti regimen untuk dosis tunggal

Methotrexate 50 mg/m2 IM, hari 0,4


Dosis bervariasi (hingga empat dosis):

Ukur kadar -hCG pada hari 1,3,5,7. Lanjutkan

Methotrexate 1mg/kg IM hari 1,3,5,7

injeksi selang sehari sampai kadar -hCG turun

Leucovorin 0,1 mg/kg IM, hari 2,4,6,8

15% pada 48 jam atau empat dosis methotrexate


telah diberikan. Kemudian -hCG setiap minggu
sampai tidak terdeteksi

Regimen-regimen ini dilaporkan jarang menyebabkan kelainan laboratorium dan


gejala meskipun kadang terjadi toksisitas berat. Efek samping mereda dalam 3-4 hari setelah
methotrexate dihentikan. Efek terering adalah keterlibatan hati, stomatitis, gastroenteritis,
depresi sumsum tulang, nutropenia, demam, pneumonitis imbas obat, alopesia. Yang penting
obat NSAID dapat meningkatkan toksisitas methotrexate, sementara vitamin yang
mengandung asam folat dapat menurunkan efektivitas obat ini.6

Prognosis
Kehamilan ektopik merupakan kelainan yang mengancam nyawa pada >10% kasus,
dan >1% pasien-pasien ini meninggal karena perdarahan interna dan syok atau karena
komplikasi lanjut. Jarang sekali janin dapat tetap hidup pada kehamilan ini.
Kehamilan ektopik dapat berulang pada sekitar 15% kasus, tetapi kebanyakan pasien
yang pernah mengalami satu kali kehamilan ektopik selanjutnya akan mengalami kehamilan
normal.
Pada kehamilan ganda di luar rahim dan di dalam rahim, biasanya hanya salah satu
yang akan terdiagnosis (jarang keduanya). Umunya, kehamilan di luar rahim akan mati dan
60% dalam rahim akan terus hidup.5

Kesimpulan
Kehamilan ektopik diklasifikasikan secara beragam berdasarkan letak implantasinya.
Biasanya letak yang tersering ialah kehamilan tuba. Kehamilan ektopik kemungkinan dapat

ditandai oleh keterlambatan haid (amenore), diikuti oleh perdarahan per vagina, dan rasa
nyeri hebat di abdomen bawah dan panggul. Untuk memastikan dapat dilakukan pemeriksaan
fisik obstetrik dan ginekologik dan penunjang seperti sonografi, kuldosentesis, dan
laparoskopi yang juga dapat sebagai terapi. Selain itu dapat diketahui faktor risiko penyebab
terjadinya kehamilan ektopik sehingga dapat dilakukan pencegahan.
Keberhasilan penatalaksanaan pada kehamilan ektopik dapat bergantung pada
diagnosis dini. Penatalaksanaan yang dapat dilakukan dapat berupa tindakan bedah untuk
mengeluarkan hasil konsepsi dan medikamentosa dengan methotrexate.
Pada kehamilan ektopik sangat jarang janin dapat hidup, bahkan dapat mengancam
nyawa apabila terlambat dalam mendiagnosis dan penanganannya. Penanganan yang tepat
dan cepat dapat menghindari komplikasi dan menghindari bahaya.

Daftar Pustaka
1

Prawirohardjo, S., 2005, Kehamilan Ektopik dalam Ilmu Kebidanan, Jakarta Pusat :
Yayasan Bina Pustaka.

Varney, H., Kriebs, M., Jan., Gegor, L., Carolyn. Buku Ajar Asuhan Kebidanan ed.4. vol
2. 2008. Jakarta: EGC, 814-20.

Murray, H., Baakdah, H., Bardell, T., Tulandi, T., Diagnosis and Treatment of Ectopic
Pregnancy,

CMA

Media

Inc.

(CMAJ),2005;173(8),

diunduh

dari

http://www.cmaj.ca.full.pdf+html.
Taber BZ. Kehamilan ektopik. Dalam : Melfiawati S. Kapita selekta kedaruratan obstetri
dan ginekologis. Jakarta: EGC. 1994. h. 185-6

Benson, Ralph C. Kehamilan ektopik. Dalam: Benson, Ralph C. Buku saku obstetri dan
ginekologi. Jakarta: EGC. 2009. H.305-13;575;612-7

Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Rouse DJ, Spong YS. Kehamilan
ektopik. Dalam : Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Rouse DJ, Spong
YS. Obstetri Williams. Jakarta : EGC. 2013. H.251-70

Beri Nilai