Anda di halaman 1dari 5

Budaya Ngopi : Kopi Menjangkau Semua

Kalangan !
OPINI | 23 November 2012 | 05:07

Dibaca: 731

Komentar: 63

10

Sebagai negara penghasil kopi ketiga di dunia (setelah Brazil dan Vietnam), tentunya
Indonesia memiliki berbagai tempat penghasil kopi. Di setiap daerah penghasil kopi tersebut
seperti Aceh, Sidikalang (Sumatera Utara), Bengkulu, Lampung, Jember, Pontianak, Toraja,
maupun Wamena (Papua), sudah pasti memiliki rasa khas yang menggugah selera bagi
penikmat kopi itu sendiri, sehingga dengan sendirinya ngopi itu pun menjadi budaya yang
kental dalam menjalin silaturahmi dengan kerabat.
Untuk daerah Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), budaya ngopi itu sendiri berdampak
positif. Wali Kota Banda Aceh, Bapak Mawardy Nurdin mengatakan bahwa acara Aceh Food
and Coffee Festival 2012 merupakan wujud dari budaya orang Aceh yang suka minum kopi
seperti yang dilansir oleh www.atjehpost.com . Acara tersebut dimulai dari tanggal 31
Oktober 2012 - 4 November 2012 yang sayangnya tidak dapat saya hadiri karena sekarang
saya tinggal di Medan.
***
Kopi Menjangkau Semua Kalangan
Banyak orang berkata bahwa kopi adalah minuman yang identik dengan kaum adam yang
biasanya dinikmati bersama rokok dan berbagai cemilan. Namun hal tersebut tidak berlaku
bagi saya, walaupun saya pecinta kopi namun saya tidak merokok.
Kecintaan saya terhadap kopi pun semakin meningkat dengan sendirinya hingga kini karena
banyak warung kopi yang menyediakan fasilitas free wifi di tempatnya. Bagi yang baru
pertama mendengar kata warung kopi (warkop), pasti berpikiran warung kopi edisi lama
dimana dikunjungi oleh bapak-bapak. Namun, warung kopi yang sering saya kunjungi
didekorasi semenarik mungkin sehingga tampak seperti cafe pada umumnya, sehingga
menampilkan kesan sebagai tempat yang tepat untuk bersantai bersama teman.
Para pengunjung warung kopi tersebut bukan hanya bapak-bapak, tapi juga diramaikan
dengan para eksekutif muda dan tak ketinggalan para mahasiwa/i. Sejauh yang saya
perhatikan, kedatangan mereka ke warung kopi bukan hanya untuk ngopi atau bersenda gurau
atau sekedar berhaha-hihi dengan teman, tapi juga untuk menyelesaikan berbagai tugas dari
kantor maupun kampus yang harus dicari di internet.
Tentunya fasilitas free wifi ini sangat membantu mereka mengingat kartu/paket berlangganan
modem sendiri sudah sangat mahal. Jadi dengan adanya free wifi di warung kopi itu, mereka
dapat berhemat khususnya mahasiswa/i yang kondisi keuangannya masih cukup riskan untuk
mengisi pulsa modem. Tak hanya itu, di dalam warung kopi disediakan layar besar yang
digunakan untuk menonton pertandingan bola, seperti yang saya lihat di salah satu warung
kopi langganan saya ketika kejuaraan Piala AFF pada tahun 2010 lalu. Lalu, kapan
sholatnya?

Ya. Ini adalah pertanyaan yang sering saya jumpai ketika saya berbicara kepada teman disini
maupun teman chatting. Kapan sholatnya? Pasti gak ingat sholat deh kalau sudah asyik
wifian.Tenang saja, warung kopi juga menyediakan mushalla sebagai tempat peribadatan bagi
umat muslim. Jadi, selain nongkrong di warung kopi, kewajiban menghadap Allah Swt tidak
kami lupakan.
Perempuan dan Kopi
Seperti yang telah saya sebutkan diatas dimana kopi menjangkau setiap kalangan, kopi juga
banyak diminati oleh kaum hawa. Tentunya diantara kompasianer perempuan ada yang
menyukai kopi, bukan? Begitu juga saya.
Sebagai putri kelahiran Aceh, tentunya si hitam manis ini bukan barang baru lagi untuk saya.
Sedari saya masih SD, saya sering melihat ibu membuat kopi. Awalnya memang saya cobacoba meminumnya, namun lama kelamaan saya seakan tak bisa hidup bila tak ada kopi. Bila
diberi pilihan antara kopi dan teh, sudah pasti saya memilih kopi sebagai teman penganan
cemilan saya.
Ketika berkunjung ke warung kopi baik di Medan ataupun Banda Aceh, yang menjadi pilihan
saya bukanlah kopi susu atau kopi campuran lainnya, melainkan si hitam manis yang khas
dari Aceh yaitu kopi Aceh dan kopi Gayo, yang entah itu ditempatkan di cangkir, gelas kecil,
maupun gelas besar (lebih sering yang besar). Hal tersebut saya lakukan karena kecintaan
saya yang teramat besar terhadap kopi, sehingga bila kopi di gelas kecil akan cepat habis dan
rasanya tak mampu memuaskan hobi ngopi saya.

segelas besar kopi bersama pisang goreng (dok. pribadi)

Aktifitas yang saya lakukan pun tidak pernah jauh dari kopi, karena bagi saya pribadi ide itu
akan mudah keluar bersamaan dengan tiap tegukan kopi yang saya minum. Jadi kalau saya
berkunjung ke warung kopi yang selalu ada fasilitas wifinya, saya selalu berusaha
menghasilkan tulisan skripsi, tugas kampus lainnya ataupun bahan postingan di Kompasiana
ini.
Kecintaan saya sebagai perempuan terhadap kopi itu sendiri semakin bertambah ketika saya
mendengar ucapan dari mantan pimpinan saya (perempuan) yang setiap pagi meminum kopi.
Beliau berujar bahwa, perempuan penyuka kopi biasanya sangat mandiri dimana memiliki
totalitas dan loyalitas dalam melakukan suatu pekerjaan.

segelas besar kopi mampu beri saya inspirasi (dok. pribadi)

***
Nongkrong di warung kopi adalah kegiatan saya sehari-hari bila sedang tidak memiliki
kegiatan lain. Kalau di Medan biasanya saya mengunjungi warung kopi bersama seorang
perempuan, itu pun ia tidak bertahan lama dan untuk saya pribadi, saya lebih memilih untuk
menghabiskan waktu di dalam warung kopi dari pada saya harus berputar-putar di dalam

mall. Karena di dalam mall itu kan kita tak mungkin hanya berjalan-jalan, pastinya kita akan
duduk-duduk ataupun sekedar window shopping. Nah, window shopping ini adalah kegiatan
yang membosankan bagi saya, karena selain lapar mata kegiatan ini juga cukup
melelahkan.
Untuk saya pribagi, saya lebih senang dan merasa nyaman bila berdiam diri seorang diri di
warung kopi bersama kopi Ulee Kareng (kopi Aceh) maupun kopi Gayo sembari menikmati
berselancar di dunia maya dan menyelesaikan tugas-tugas saya.
Selamat Pagi
Auda Zaschkya
http://lifestyle.kompasiana.com/hobi/2012/11/23/budaya-ngopi-kopi-menjangkausemua-kalangan--505354.html