Anda di halaman 1dari 50

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Negara Indonesia adalah negara yang terdiri dari pulau pulau yang
memiliki luas daerah perairan lebih besar dari pada luas daratan sehingga
sering juga disebut negara maritim. Oleh karena itu kapal merupakan alat
transportasi utama untuk menghubungkan antara pulau pulau di Indonesia.
Kapal adalah sarana angkutan laut yang sangat efektif dan efisien
sebagai sarana penghubung antar pulau di Indonesia. Kapal merupakan alat
transportasi yang di gunakan dalam berbagai hal khususnya untuk
perekonomian dan kebutuhan masyarakat di Indonesia. Sehingga kapal
merupakan sarana yang sangat penting, khususnya di Indonesia.
Perkembangan dunia perkapalan maupun dunia maritim harus
diimbangi dengan peningkatan mutu alat transportasi tersebut. Kapal
sebagai penghubung utama saat ini, harus diikuti dengan pemeliharaan yang
baik agar kapal dinyatakan layak untuk berlayar. Di galangan dan Dok PT.
Sarana Lautan Nusantara, kapal KM. ANUGRAH PERSADA sedang
melakukan pengedokan, oleh karena itu kami melakukan observasi secara
langsung untuk mengetahui proses reparasi khususnya reparasi penggantian
plat (replating) pada badan kapal tersebut.

1.2Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari latar belakang diatas adalah:
a. Apa penyebab di lakukannya pekerjaan replating plat kapal?
b. Persiapan apa saja yang harus di lakukan sebelum replating?
c. Apa saja tahap - tahap yang harus diperhatikan sebelum melaksanakan
replating?
d. Bagaimana cara mereplating plat pada bagian bottom kapal?

1.3Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk :
a. Mengetahui penyebab dilakukannya pekerjaan replating pada plat kapal
b. Mengetahui persiapan apa saja sebelum pekerjaan replating plat kapal
c. Mengetahui tahap tahap yang harus di perhatikan sebelum
melaksanakan replating.
d. Mengetahui cara untuk mereplating plat pada bagian bottom kapal.
1.4

Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah:
- Memberikan pengetahuan kepada mahasiswa tentang replating pada
bagian bottom kapal.
- Memberikan pengetahuan kepada pekerja tentang prosedur pekerjaan
replating plat yang sesuai dengan aturannya.
- Sebagai inspirasi mahasiswa untuk memecahkan masalah yang ada di
lapangan.

1.5

Batasan Masalah
Adapun penulisan makalah ini didasarkan pada apa yang sebenarnya
terjadi dalam pengamatan replating pelat bottom pada KM. ANUGRAH
PERSADA saat melaksanakan kerja praktek di PT. Sarana Lautan Nusantara
Tegal dan referensi yang menunjang. Replating plat bottom pada makalah
ini hanya mencakup plat bottom yang diatasnya merupakan tanki ballas dan
perhitungan jumlah kelistrikan yang di pakai pada pekerjaan replating tidak
di bahas dalam makalah ini.

BAB II
LANDASAN TEORI

2.1.

Perawatan Badan Kapal


Penipisan pada pelat merupakan hal yang sudah sewajarnya, tetapi
hal ini tidak dapat dianggap remeh karena mengingat pengaruh pelat itu
sendiri sebagai kekuatan badan kapal. Selain itu apabila pelat tipis maka
akan rawan terjadi kebocoran pada kapal sehingga akan menyebabkan
kerusakan muatan pada palkah atau bahkan dapat mengakibatkan
tenggelamnya kapal. Oleh karena itu perlu diadakannya perawatan dan
replating pelat pada kapal secara berkala setiap kapal docking, sehingga
kapal terhindar dari kebocoran pelat.
Salah satu proses penting adalah perawatan pelat khususnya plat
yang tercelup air (dibawah garis air). Pada proses perawatan ini pelat yang
ada di kapal dilakukan pembersihan dengan menggunakan berbagai cara.
Cara pertama yang biasa dilakukan adalah dengan penyekrapan.
Yaitu pembersihan pelat dari binatang laut dengan pisau skrap. Lalu
diadakan pengetokan dengan palu untuk menghilangkan karat yang
menempel. Setelah proses pengetokan, dilakukan water jet yaitu
penyemprotan air tawar dengan tekanan tinggi ke badan kapal untuk
menghilangkan kadar garam yang melekat pada badan kapal. Setelah itu
dilakukan sand blasting, proses sand blasting ini dilakukan untuk
menghilangkan sisa kotoran yang masih melekat serta menghilangkan
lapisan cat lama karena akan dilakukan proses pengecatan. Proses
pengecatan yang telah dilaksanakan belum melindungi pelat kapal, pelat
kapal masih harus di lindungi dengan zinc anode, fungsinya adalah untuk
melindungi pelat kapal dari karat terutama pelat kapal yang dilewati air
dengan arus deras misalnya pada pelat bilga maupun sayap sisi kapal.

2.2.

Faktor-faktor Penyebab Replating


Faktor faktor pergantian pelat atau replating bukan hanya
penipisan pada pelat, ada beberapa faktor lain. Faktor-faktor penyebab
diadakanya penggantian pelat (replating) adalah :
a. Korosi
Pelat kapal yang mengalami korosi, dibagian permukaan pelat
akan timbul karat yang lama kelamaan semakin tebal yang membuat
pelat itu semakin menipis. Karat ini diakibatkan karena terjadinya
peristiwa reaksi kimia antara air laut yang mengandung garam, dengan
udara yang ada di dalam air maupun udara bebas, serta pelat kapal.
Pelat kapal akan beroksidasi dengan udara yang ada diair laut maupun
udara bebas, sebenarnya proses oksidasi ini membutuhkan waktu yang
lama, namun karena adanya air laut yang merupakan katalisator yang
baik antara udara bebas dengan pelat maka proses oksidasi ini menjadi
lebih cepat, sehingga dengan adanya ini pelat kapal yang terbuat dari
baja akan termakan karat.
b. Deformasi
Pelat kapal yang mengalami kerusakan akibat adanya gaya dari
luar, misalnya kapal kandas, atau tertabrak karang atau dermaga,
sehingga pelat kapal mengalami gaya yang begitu besar sehingga pelat
kapal mengalami deformasi atau kelengkungan. Namun ada juga
penyebab lain yaitu kelengkungan atau deformasi pada kapal karena
pelaksanaan teknik pengerjaan pelat yang tidak sesuai prosedur sehingga
mengakibatkan tejadinya pelat deformasi.
c. Kebocoran
Pelat yang tercelup pada air laut yang di tempeli oleh binatang
(tiram dll) dan tumbuhan laut biasanya pelat tersebut terdapat cacat yang
berbentuk cekungan-cekungan kecil, jika hal ini di biarkan dan tidak
segera di perbaiki maka dalam waktu yang panjang bisa menyebabkan
kebocoran pada plat.
d. Keretakan
4

Pelat kapal mengalami keretakan disebabkan antara lain karena


kandas, tubrukan, akibat adanya getaran yang kuat yang berasal dari
kamar mesin atau putaran propeler yang biasanya terdapat di kamar
mesin dan di sekitar boss propeller. Biasanya sering terjadi pada
sambungan - sambungan pengelasan yang berdekatan dengan sumber
getaran. Hal ini kapal yang mengalami tubrukan atau kandas, banyak
terjadi pelat kapal yang robek sehingga bocor dan harus diganti.
2.3.

Survey Pengedokkan
Satu periode masa berlaku kelas (lima tahunan) Kapal harus
melakukan 2 kali survey pengedokan yaitu : Survey pengedokan I (Survey
pengedokan antara) dan Survey pengedokan II (Survey pengedokan SS),
Survey Pengedokan II merupakan survey pembaruan kelas.
Survey Tahunan
Merupakaan survey periodik yang dilaksanakaan tiap tahun
sesuai tanggal jatuh temponya dengan rentang waktu (time window) 3
bulan sebelum dan sesudah jatuh tempo. Survey periodik untuk sistem
otomasi/seperti kendali jauh seperti halnya sistem otomasi mesin
penggerak utama.
Survey Antara
Dapat dilaksanakan bersamaan dangan survey tahunan kedua dan
paling lambat pada survey tahunan ketiga, namun ditambah dengan
item survey seperti : Tangki Ballast, Permesinan dan Instalasi Listrik.
Survey SS
Yaitu survey pembaruan kelas yang dilaksanakan tiap 5 tahun
sekali (setiap berakhirnya masa berlaku Sertifikat) dan dilaksanakan di
atas dock. Survey ini meliputi seluruh badan kapal yang seperti survey
periodik dan survey antara termasuk didalamnya.

2.4.

Standarisasi Pelat

Standarisasi untuk ketebalan pelat yang harus dilakukan replating


sesuai dengan ketentuan BKI (Biro Klasifikasi Indonesia) 2013 Vol. II Sec.
B.2.3.
Dibawah ini adalah contoh keausan maksimal yang diperbolehkan klas
BKI :
1. Pelat lambung
- Pelat alas (bottom pelat)
- Pelat lajur bilage (bilga pelating)
- Pelat lajur alas (sheer stroke)
2. Pelat alas dalam (tank top)
- Pelat tepi (margin pelat)
- Pelat alas
3. Pelat geladak utama (main deck)
- Pelat tepi geladak (stringer pelat)
- Pelat geladak antar lubang palkah
4. Pelat geladak lainnya
5. Dinding sekat

20%
30%
20%
20%
20%
20%
20%
30%
20%-30%

BAB III
METODE PENULISAN
Praktikum dilakukan di PT. Sarana Lautan Nusantara yang dilaksanakan pada
tanggal 2 Februari 2015 sampai dengan tanggal 2 Maret 2015.
3.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakkan untuk prosesnya praktikum dan pengumpulan data
adalah:
- Kamera
- Alat tulis
- Buku dan Laptop
3.2 Metode Pengumpulan Data
a) Metode tinjauan langsung (Survey dan Observasi Langsung)
Penulis melihat langsung bagaimana proses replating berlangsung,
dan bagaimana cara mereparasi plat bottom kapal yang dilakukan oleh
para pekerja di galangan, terutama pada kapal KM. ANUGERAH
PERSADA
Hasil yang didapat dari tinjauan langsung adalah mengetahui
proses replating dari mulai persiapan, pelaksanaan, sampai terakhir
pemeriksaan dan pengujian.
b) Metode wawancara atau interview
Wawancara terhadap pihak galangan dan pihak lain yang
berkompeten terhadap masalah tersebut dan mengajukan pertanyaan
kepada pekerja di PT. Sarana Lautan Nusantara tentang segala sesuatu
yang berkaitan dengan makalah dalam penyelesaianya.
Pada

tahapan

proses

replating

dilakukan

hasil

dari

interview/wawancara langsung tentang reparasi plat atau replating.


c) Metode Kepustakaan
Membaca literatur yang memiliki hubungan reparasi lambung
kapal dan mencari tahu apa saja kerusakan, bahan pelat yang digunakan
pada kapal serta apa saja akibat bila kapal tidak melakukan pengedockan
untuk reparasi.
7

Buku literatur diantaranya :


-

Teknik Galangan Kapal dan Dock Jilid I.

Teknik Galangan Kapal dan Dock Jilid II.

Teknik Konstruksi Kapal Baja.

Teknik Pengelasan Kapal Jilid 1 untuk SMK.

BAB IV
PEMBAHASAN
Replating adalah proses pergantian pelat dari pelat lama diganti menjadi
pelat baru. Pergantian ini biasanya dilakukan hanya setempat namun tidak
menutup kemungkinan juga replating ini dilakukan pada 1 pelat utuh tergantung
pada kerusakannya apakah hanya penipisan pelat, deformasi, atau bahkan
keretakan dan berlubang. Namun untuk pergantian pelat setempat memiliki aturan
sendiri.
4.1 Jenis Kerusakan Pelat Kulit Kapal
Jenis-jenis Kerusakan Pelat, cara mengetahui, dan cara penanganannya
(perbaikan atau reparasinya).
NO

Jenis Kerusakan

Cara Mengetahui

Cara Perbaikan

Pengurangan tebal
Plat

1. NDT
Ultrasonic test
2. Test hammer

3. Pergantian pelat
setempat.
4. Pergantian satu lajur
pelat

Kerusakan
sambungan las

1. Uji kekedapan
2. Pengamatan
langsung

Pembongkaran las
(gouging) dan dilakukan
pengelasan kembali serta
dilakukan tes kekedapan
dan pengujian.

Retak permukaan
plat dan cacat
permukaan

1. Uji dengan
metode Minyak
dan Kapur
2. Test hammer

1. Pembuatan alur las dan


pengelasan pelat
2. Dilakukan teckweld

Lekuk dan
gelombang plat

Mistar pengukur

1. Pelurusan setempat
2. Pemotongan setempatperbaikan di bengkel
dan pemasangan
kembali
3. Penggantian dengan
plat baru

4.2 Flowchar Replating Plat Bottom

4.3 Persiapan Replating pada Plat Bottom Kapal


10

Sebelum melaksanakan proses replating kapal yang akan dilaksanakan,


maka harus mempersiapkan semua kebutuhan untuk proses replating.
4.3.1 Material
Untuk persiapan material ini dibagi 2 macam yaitu :
1. Supply Owner
Pengertian dari Supply Owner yaitu bahan atau material seperti pelat,
profil, pipa dan lain lain dibawa atau disediakan oleh pemilik kapal
(Owner). Sehingga galangan hanya memberikan jasa untuk proses
replating kapal.
2. Supply Galangan
Sedangkan pengertian dari Suplly Galangan yaitu semua kebutuhan
bahan material seperti pelat, profil profil, pipa, elektroda las dan lain
lain disediakan oleh pihak galangan mulai dari persiapan sampai
kapal selesai direplating.
Material yang di pakai pada pekerjaan reparasi plat atau replating
plat bottom adalah plat, dengan spesifikasi plat marine tebal 12 mm.
4.3.2 Peralatan Replating
a) Crane
Crane adalah alat pengangkat dan pemindah material yang
bekerja dengan perinsip kerja tali, crane digunakan untuk
mengangkat dan menurunkan pelat yang berukuran besar ke tempat
tujuan agar proses replating lebih mudah dilaksanakan.
b) Forklift
Forklift adalah suatu alat / kendaraan yang menggunakan
garpu atau clamp yang dipasang pada bagian depan kendaraan dan
berfungsi untuk mengangkat dan menurunkan atau memindahkan
suatu barang yang mempunyai ukuran besar dan berat yang tidak
bisa dipindahkan oleh tenaga manusia dari satu tempat ke tempat
lain, misalnya seperti pelat kapal.
c) Takle
Takle di gunakan untuk mengangkat ataupun menahan
beban yang cukup berat sehingga memudahkan dalam proses
11

pekerjaan yang berat. Pada pekerjaan replating, takle digunakan


untuk memindahkan maupun mengangkat plat agar pada posisi
yang akan di inginkan, dan juga untuk menahan plat agar tetap pada
posisinya. Takle atau kotrek ini memiliki kapasitas maksimum 5 ton
d) Dongkrak
Dongkrak di gunakan untuk menahan dan mengangkat
beban yang berat, pada pekerjaan replating dongkrak di gunakan
untuk mengangkat plat agar sesuai pada posisinya, sehingga
mempermudah dalam memasang stopper/plat L.
e) Brander potong / Alat potong
Brander potong merupakan alat yang di gunakan untuk
memotong bahan jenis metal atau baja dengan cara pemanasan
hingga kondisi tertentu kemudian di semprotkan dengan oksigen
yang bertekanan. Alat ini memiliki dua tabung, yakni tabung asitelin
dan gas oksigen. Bagian yang lain adalah regulator tekanan pada
tabung gas, kabel (selang), dan Nozel.
f) Alat Las
Alat las merupakan alat yang di gunakan untuk mengelas.
Pada pengelasan replating plat bottom ini menggunakan pengelasan
SMAW (shield metal arc welding) merupakan pengelasan yang
menggunakan busur listrik.
g) Peralatan Lain: palu (hammer), meteran, benang, Plat L, plat U, dll
h) Cat Penanda / Kapur

4.3.3 Sumber Daya Manusia (SDM)


a. Fitter (Tukang Rakit)
Fitter merupakan seseorang yang melakukan pekerjaan perakitan
ataupun penyetelan pada sebuah pekerjaan yang berhubungan dengan
12

bahan logam,yang terbuat dari besi, baik baja ataupun karbon steel,
ataupun bahan yang terbuat dari almunium dan stainleessteel. Disini
proses fitter mengacu pada pengecekan dan penyetelan untuk proses
replating. Dari mulai persiapan sampai proses replating selesai.
b. Welder (Juru Las)
Ketentuan untuk pekerja yang akan melaksanakan pengelasan
replating harus lulus dari uji kualifikasi sesuai dengan yang disyaratkan
dalam standart serta yang diakui dan disepakati bersama. Registrasi
ketrampilan juru las perlu selalu ditingkatkan dan dipertahankan
validasinya dengan selalu mengisi format keaktifan juru las.
Kualitas pengelasan sangat tergantung pada ketrampilan welder
(juru las), oleh karena itu untuk bidang perkapalan Badan Klasifikasi
mensyaratkan kualifikasi tertentu dari welder (juru las). Galangan galangan kapal bertanggung jawab dalam mempekerjakan welder (juru
las) yang memenuhi syarat dan telah diuji untuk tingkat keterampilan
khusus yang diakui Badan Klasifikasi. Juru las harus memenuhi uji
kualifikasi keterampilan welder kapal Kelas BKI untuk pengelasan baja
mengacu pada Rules volume VI sec. III-1996/DIN850, DIN-EN287 dan
terdiri dari beberapa kualifikasi / kategori yaitu B II KI, B III S KI, B
IV KI dan R II KI, RIII K I dan seterusnya.
Pelaksanaan Pengelasan :
1) Pengelasan dari satu sisi dengan tembusan penuh, las balik pada
posisi lain tidak diperbolehkan.
2) Pengelasan dari lapisan pertama (akar) sampai lapisan akhir
dilaksanakan sesuai dengan posisi pengelasan yang sama.
3) Pengelasan ulang pelat uji pada satu sisi pengelasan hanya boleh
dilaksanakan dua kali.
4) Dianjurkan untuk pengelasan lapisan pertama (akar) menggunakan
kawat las diameter 3,2 mm dan lapisan selanjutnya dengan diameter
4,0 atau 5,0 mm.
5) Pengujian pengelasan dengan posisi vertikal turun harus dengan
persetujuan surveyor BKI dan dicatat dalam sertifikat welder.
13

c. Tukang Potong
Untuk proses replating di butuhkan tukang potong yang
berpengalaman, hal ini di karenakan posisi plat bottom tersebut yang
susah untuk memotong secara datar, sehingga tukang potong tersebut
haru bisa memotong plat di segala posisi.
4.4 Pengecekkan (pengujian) plat dan Penandaan
4.4.1

Pengecekkan (Pengujian) Plat


Sebelum plat kapal dinyatakan untuk di replating, maka
dilakukan pekerjaan pengecekkan pada plat. Pengecekkan dilakukan
dengan pengujian pada titik-titik plat yang di curigai mengalami
kerusakan maupun penipisan yang tidak memenuhi standar. Di
lapangan (galangan) pengujian biasanya dilakukan dengan test
hammer, tes kekedapan dan juga dengan menggunakan UT test
(ultrasonic test).
1. Test hammer
Alat yang di gunakan: Hammer atau Palu uji.
Cara kerja hammer test yaitu dengan mendeteksi getaran
bunyi pada saat hammer atau palu di pukulkan ke plat. Jika getaran
bunyi yang di timbulkan oleh plat lebih keras maka plat tersebut
sudah tipis, tetapi jika getaran bunyi yang di timbulkan tidak tinggi
maka plat tersebut masih bagus atau masih tebal.
Untuk daerah yang di uji pada test hammer adalah seluruh
badan atau kulit kapal, khususnya plat yang tercelup ke air seperti
plat bottom, plat lambung bagian bawah, plat bilga, dan daerah
yang tercelup air lainnya.
2. Ultrasonic Test
Persiapan sebelum tes ultrasnik:
a. Alat dan Bahan

14

Alat yang di gunakan dalam pengujian ultrasonic test


adalah Ultrasonic thicness. Sedangkan untuk bahan yang di
gunakan menggunakan Vaseline dan bisa juga menggunakan
stampad.
b. Analisa gambar bukaan kulit
Sebelum melakukan pengujian, maka pihat penguji
melihat bukaan kulit pada saat reparasi sebelumnya. Hal ini
bertujuan agar plat yang di uji tidak terlalu banyak. Plat yang di
uji adalah plat yang paling tipis atau plat yang di curigai
mengalami kerusakkan.
c. Proses pengujian Utrasonik
Pada plat alas (bottom pelat), keausan maksimal yang di
perbolehkan oleh peraturan klas BKI adalah 20% dari plat awal.
Jika melebihi keausan maksimal tersebut, maka harus dilakukan
penggantian atau replating.
Untuk lekuk dan gelombang sesuai peraturan klasifikasi,
masih di ijinkan apaila lekuknya dianggap landau dimana
besarnya lenturan tidak boleh lebih dari 20% jarak gading
(Frame spacing), dan perbandingan besarnya lenturan dengan
panjang lenturan tidak lebih dari 1:20.
Pengujian ini akan menghasilkan rekomendasi yang
berbeda - beda tergantung dengan Klass yang memeriksa kapal
tersebut. Klass akan memberikan rekomendasi apakah pelat
yang mengalami penipisan tersebut harus diganti satu pelat utuh,
atau hanya direplating pada bagian yang tipis saja. Namun
keputusan replating tetap pada pihak owner, akan tetapi tetap
harus mengikuti rekomendasi dari pihak Klass.
Pada uji ultrasonic, 1 lembar pelat akan diuji sebanyak 3
titik yaitu samping kanan, kiri dan tengah, pada kanan dan kiri
jaraknya sebaiknya adalah 100 milimeter setelah kampuh las.
Namun pengujian ini juga bisa dilakukan pada daerah yang
15

dicurigai mempunyai ketebalan yang tidak memenuhi syarat.


Setelah proses UT hasil yang diperoleh dipindah pada gambar
bukaan kulit untuk acuan docking berikutnya.

NO

Pelaksanaan

Pembersihan pelat yang akan


di test dengan menggunakan
gerinda.

Pemberian lemak (vaselin)


pada pelat yang akan di uji
yang telah di gerinda dan
dibersihkan

Sensor ditempelkan pada plat


yang sudah di bersihkan dan
di beri vaselin untuk di ukur
ketebalannya

Setelah diukur ketebalannya,


kemudian pelat diberi tanda
dengan menggunakan cat.

Keterangan Gambar

Ultrasonic Test

Penandaan pada pelat dengan cat

16

Setelah diukur ketebalannya,


kemudian pelat diberi tanda
dengan menggunakan cat.

Metode Proses Ultrasonic Test

4.4.2

Penandaan Pada Plat


Setelah proses pengujian pelat, maka langkah selanjutnya
yaitu proses penandaan (Marking). Proses marking ini biasanya
menggunakan kapur atau cat, penandaan dilakukan pada bagian
pelat lama yang sudah tidak memenuhi standar atau yang akan
diganti dengan pelat baru, marking dilakukan sesuai dengan bentuk
dan daerah yang akan direplating. Pada pelat baru juga dilakukan
proses marking. Tujuannya untuk memudahkan proses replating itu
sendiri.

4.5 Pembersihan di Daerah Replating


Setelah plat yang akan di replating di tandai, maka daerah tersebut harus
bersih baik bersih dari kotoran maupun bersih dari gas-gas yang berbahaya,
baik dari luar kapal maupun dari dalam kapal. Karena plat yang akan di
replating ini adalah plat bottom di bawah tanki ballas, maka tanki tersebut
juga harus di bersihkan untuk menjaga keamanan dan juga agar bisa di
lakukan pekerjaan replating.
Langkah-langkah pada saat pembersihan pada tanki ballas adalah
sebagai berikut:
4.5.1

Buka man hole

17

Man hole merupakan lubang untuk masuknya orang ke dalam


tanki maupun ruangan-ruangan yang ada di double bottom.
Sebelum membuka man hole, maka harus mengetahui ukuran
serta bentuknya untuk membukanya. Secara umum ukuran man hole
adalah 400 x 600 mm, degan diameter mur yaitu 3/4 inchi yang
berjumlah antara 20 24 butir. Alat untuk membuka mur tersebut
menggunakan kunci ring. Untuk membuka tidak di permasalahkan jika
melepas murnya secara tidak beraturan, tetapi jika pada saat menutup
man hole lagi maka memasang murnya dengan sistem silang.

4.5.2

Pengosongan air pada tanki ballas


Untuk mengosongkan tanki pada tanki ballas biasanya
menggunakan bottom plug. Bottom plug merupakan lubang yang ada
di bawah tanki selain tanki minyak. Jika akan mengeluarkan air dari
tanki maka cukup membuka bottom plug tersebut. Tetapi jika pada
tanki minyak, maka harus di pompa dan dipindahkan ke tempat
penampungan. Karena replating yang di lakukan hanya pada tanki
ballas maka cukup di lakukan pembukaan pada bottom plug saja, tanpa
adanya pemompaan dari luar kapal. Tetapi jika pada tanki ballas yang
sudah terkontaminasi oleh minyak maka air dan minyak harus di
pisahkan dengan cara memompa air dengan pompa dan di alirkan ke
oil trap atau oil kaeser.

membuka bottom plug:


a. Alat yang di gunakan adalah: kunci L, besi battle, hammer (palu)
b. Langkah-langkah membuka bottom plug:

18

Bongkar semen pada bottom plug menggunakan besi battle dan


hammer.

lepas drat bottom plug dengan menggunakan kunci L


gambar. 4.1. Bottom plug
Setelah bottom plug di buka, maka tunggu sampai air dalam

tanki tersebut habis, kemudian tinggal membersihkan sisa-sisa yang


ada di dalamnya.

Pompa ballas (ballas pump)


Pompa ballas merupakan pompa yang di gunakan untuk
memompa air dari laut ke tanki ballas, dan air dari tanki ballas ke laut.
Pompa ballas biasanya terletak di ruang pompa ataupun pada ruang
mesin. Sehingga untuk membuang air pada tanki ballas bisa
menggunakan pompa ballas.
Oil kaeser
Oil kaeser adalah alat untuk memisahkan air dan minyak.

Cairan ini dapat di pisahkan karena perbedaan massa jenis yang


berbeda diantara fluida tersebut.
Langkah kerja oil kaeser pada tanki ballas yang sudah
terkontaminasi minyak adalah sebagai berikut:

19

1. Air di pompa dari tanki ballas menuju tabung atau chamber yang
melewati plat-plat pemisah agar lumpur tidak ikut masuk ke ruang
oil kaeser.
2. Setelah melalui tabung pemisah pertama, maka minyak akan di
saring kembali oleh filter.
3. Air yang memiliki masa jenis lebih berat (air murni: 1000 kg/cm2,
air laut: 1025 kg/cm2) dari pada minyak akan melewati filter yang
di bantu oleh tekanan dari pompa.
4. Minyak akan terus di permukaan karena masa jenis minyak yang
lebih kecil (785 kg/cm2 943 kg/cm2) daripada air, dan minyak
tersebut akan melewati pipa yang ada di permukaan untuk di
tampung dan di olah.
5. Air yang telah melewati filter maka langsung terbuang. Air tersebut
sudah bebas dari minyak sehingga bisa langsung di buang.

20

Gambar. 4.2 Proses pemisahan minyak dan air


4.5.3

Memasang dan Menyalakan blower


Blower gunanya untuk memberikan udara segar ke tanki.
Prinsip kerja ini seperti ventilasi atau seperti kipas angin. Dalam tanki
terdapat dua lubang man hole, dimana pada saat akan di blower maka
lubang tersebut harus di buka semua, sehingga udara yang masuk bisa
menjadi sirkulasi di dalamnya.

21

Pada umumnya proses blower sebelum orang di ijinkan masuk


ke dalam tanki, maka blower di hidupkan minimal selama dua jam.
Setelah itu baru orang boleh masuk melalui sekitar blower. Pada saat
orang masuk tanki blower harus tetap hidup sampai pekerjaan

di

dalam tanki tersebut selesai. Hal ini bertujuan untuk menjaga udara
yang ada di dalam tanki agar tidak pengap dan berbahaya. Sehingga
lebih aman dalam melakukan pekerjaan tersebut.
4.5.4

Pembersihan manual di tanki oleh cleaning service


Setelah blower di hidupkan selama minimal 2 jam, maka
pekerja masuk ke dalam tanki untuk membersihkan kotoran-kotoran
seperti lumpur dan sebagainya secara manual. Pada hal ini blower
harus tetap hidup sampai pekerjaan di tanki selesai.
Alat yang di gunakan untuk pembersihan manual adalah:
ember, scrup, scrup karet, dan pembersih lain seperti gabus, spons,
karung, ataupun kain.
Pembersihan

dilakukan

menggunakan

manual,

yaitu

membersihkan lumpur dengan menggunakan scrup dan ember.


Kemudian di angkat untuk di buang ke luar kapal. Jika pada lumpur
tersebut terdapat campuran minyak, maka sisa-sisa yang masih
menempel pada plat tersebut di bersihkan dengan menggunakan busa
ataupun spons, sehingga minyak yang menempel pada plat dapat
terserap langung oleh busa (spons) tersebut.
4.5.5

Pengujian Free Gas Pada Tanki


Setelah di adakan pembersihan lumpur dan kotoran lain pada
tanki tersebut, maka di lakukan pengujian pada tanki apakah masih ada
gas yang berbahaya ataupun sudah bebas dari gas. Pengujian dilakukan
ketika orang yang di dalam tanki sudah keluar. Setelah orang keluar
dari tanki, maka blower di matikan dan tunggu beberapa menit, setelah
itu baru dilakukan pengujian.

22

Pengujian untuk mengetahui apakah tanki tersebut sudah bebas


dari gas yang berbahaya adalah dengan menggunakan alat multi gas
indicator. Caranya adaslah sebagai berikut:
a) Sensor pada ujung multi gas detector dimasukkan ke dalam tanki
b) Nyalakan atau tekan tombol ON pada alat multi gas detector

c) Atur gas apa saja yang akan di deteksi pada tombol pengaturan
d) Lihat presentase kandungan gas dalam tanki lewat layar monitor
pada multi gas detector.
Gambar. 4.2 Multi gas detector

23

Table 1. kondisi gas pada multi gas detector.


Jika hasil pengujian tersebut masih mengandung gas berbahaya
yang tinggi, maka akan di lakukan pembloweran lagi kurang lebih 2
jam. Setelah itu di laksanakan pengujian lagi.
Pengujian ini dilakukan untuk menjaga keamanan pada saat
pekerjaan selanjutnya, khususnya pada proses pemotongan plat lama
pada daerah tanki.
Tanki yang akan di lakukan pekerjaan selanjutnya harus memiliki
ijin ataupun sertifikat keamanan dari klas, pengawas, OS kapal, dan
juga bagian Keselamatan. Tanpa adanya ijin tersebut, maka tanki tidak
di porbolehkan untuk di laksanakan pekerjaan cutting (pemotongan).
Setelah tanki dinyatakan bersih, maka proses replating bisa
dilanjutkan, yaitu pada proses pemotongan plat lama tersebut.
4.6 Pemotongan (cutting)

24

Peralatan yang digunakan untuk pelaksanaan proses Pemotongan


(cutting) yaitu dengan menggunakan Blender Potong. Brander potong terdiri
dari 2 bagian, yakni tabung gas, dan blander potong. Berikut gambar dan
bagian-bagiannya:
Gambar. 4.3. Brender potong
Keterangan:
1.
2.
3.
4.

Hubungan pipa masuk gas oksigen


Hubungan pipa masuk gas asetilin
1
1
Katup tabung
gas asetilin
1
2
Katup oksigen
sebelum pemanasan

5.

Katup gas oksigen alat potong

6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Pegangan tangan
Pipa sebelum pemanasan
Pipa oksigen pemotong
Mur belakang
Pucuk alat potong
Tabung gas asitelin
Tabung gas oksigen

Table 2. Nozzle untuk jenis ketebalan plat

25

Spesifikasi alat potong atau brander potong untuk pemotongan


plat 12 mm adalah dengan lobang oksigen 0,9 mm, tekanan gas
asitelin 0,15 kg/cm, gas oksigen 2,5 kg/cm, dengan kecepatan potong
400 mm/jam. Untuk kabel atau selang oksigen dengan panjang 50 m
dan diameter 50 mm.
Untuk penggunaan nozzle pada brender potong, maka
perlakuan dari ketebalan tiap-tiap plat memiliki ukuran peggunaan
nozel yang berbeda-beda.
Ketebalan pelat < 10 mm, maka jarak nozzle adalah 3 mm

Ketebalan pelat 10 25 mm, maka jarak nozzle adalah 5


mm

Ketebalan pelat 25 50 mm, maka jarak nozzle adalah 6


mm

Ketebalan pelat 50 100 mm, maka jarak nozzle adalah 8


mm

Ketebalan pelat > 100 mm, maka jarak nozzle adalah 10


mm
Namun pada kenyataannya, di lapangan untuk proses

pemotongan tidak begitu peduli dengan ketentuan yang ada. Karena


proses pekerjaan ini di lakukan secara manual, maka jarak maupun
ukuran yang di tentukan oleh tukang potong merupakan ukuran yang
di perkirakan sendiri.
1. Langkah-langkah penyetelan brander potong untuk pemotongan
plat kapal.
a. Buka katup tabung gas asitelin sekitar putaran, dan buka
katup gas oksigen sekitar - 1 putaran.
b. Buka katup pada regulator gas asitelin sebesar 0,15 kg/m2,
dan buka katup pada regulator oksigen sebesar 2,5 kg/cm2.
c. Buka katup gas asitelin pada brander kira-kira putaran.
d. Nyalakan moncong nozzel tersebut dengan lighter, dan atur
apinya hingga api tidak berjelaga dan tidak terlalu besar
e. Membuka kran oksigen sedikit demi sedikit sampai api
mendesis.

26

f. Panaskan plat atau area yang akan di potong hingga berwarna


merah kekuningan, sebelumnya atur dulu jarak benda kerja
dengan nozzle yaitu sekitar 5-10 mm.
g. Setelah plat berwarna merah kekuningan lalu buka kran gas
oksigen untuk memberikan tekanan pada plat tersebut
(seperti menembakkannya).
h. Arahkan nozzle ke arah pemotongan, gerakkan nozzle
dengan kecepatan yang stabil (tidak terlalu cepat dan tidak
terlalu lambat)
4.6.1

Macam-macam kerusakan plat yang di potong


Plat kapal yang sudah tidak standar atau mengalami
kerusakan harus dilakukan pekerjaan replating. Salah satu tahap
replating adalah di lakukan pemotongan khususnya pemotongan
pada plat lama yang sudah tidak standar atau rusak.
Untuk jenis kerusakan plat yang sudah tidak standar pada plat
bottom di bawah tanki ballas yaitu:
a. Plat yang sudah mengalami penipisan sebanyak 20% dari plat
awal.
b. Terjadi retak ataupun kebocoran akibat benturan seperti kandas.
c. Terjadi legokan ataupun lengkungan yang kedalamannya lebih
dari 20 % dari jarak gading.

4.6.2

Marking plat lama


Setelah mengetahui kerusakan yang terdapat pada plat
bottom, maka plat lama tersebut akan di tandai atau di marking.
Penandaan disini adalah penandaan pada plat yang akan di potong.
Penandaan dilakukan menggunakan benang nilon dan kapur. Cara
menandai plat menggunakan benang dan kapur.
a. Benang di olesi dengan kapur
b. Benang di arahkan ke daerah yang akan di potong untuk
membuat garis potongan
c. Benang di jepretkan kearah plat yang akan di potong
Benang yang di jepretkan tadi akan menjadi garis lurus yang
di gunakan untuk tanda pemotongan pada plat tersebut.
Pemotongan di bagi menjadi 2 bagian, yakni pemotongan pelat
lama dan pemotongan pelat baru.

27

4.6.3

Pemotongan pelat lama


Setelah proses marking pada pelat yang berlubang atau tidak
memenuhi standart ketentuan, kemudian dilaksanakan proses
cutting dan akan diganti dengan pelat yang baru. Marking
menggunakan benang yang di olesi kapur kemudian di hentakkan
ke plat agar menjadi garis yang lurus, sehingga menjadi alur
pemotongan. Langkah awal adalah penentuan lebar replating pada
pelat bottom. Penentuan lebar replating ini berdasarkan pada

bagian pelat yang tipis. Untuk menentukan bagian plat yang akan
di ganti di tentukan oleh rencana dari bukaan kulit dan setelah
pengujian tersebut. Setelah ditentukan lebar replatingnya maka
dilakukan pemotongan pada pelat yang lama. Untuk pemotongan
pelat lama mempunyai ketentuan antara lain tidak boleh kurang
dari dua jarak gading dan pemotongan sisi memanjang pelat kulit
lama tidak boleh kurang dari jarak gading atau sekitar 300 mm
dari gading, seperti pada gambar di bawah ini :
Gambar 4.4. Jarak Minimal Replating dari Gading
Metode untuk pemotongan pelat lama, pertama pelat akan dipotong
adalah sebelah kanan gading lalu sebelah kirinya dan yang terakhir adalah
pelat yang menempel pada gading.
Tujuan pemotongan tersebut adalah untuk mempertahankan ukuran
gading sehingga ukuran gading tidak berubah ketika dilaksanakan
replating. namun ketika pemotongan tidak melalui kampuh las maka
pemotongan pada ujungnya diberi Radius. Fungsinya adalah untuk
menghindari pelat retak karena deformasi akibat pengelasan.
28

Gambar 4.5. Langkah Pemotongan Pelat


Cara memotong pelat yang menempel pada gading adalah :
1.

Pemotongan dari sebelah kanan gading dengan arah serong 60o

2.

Pemotongan dari arah sebaliknya sebelah kiri dengan serong 60o

3.

Pemotongan sisa pelat yang menempel pada gading dengan arah


horizontal.
Metode pemotongan plat lama
N

Pelaksanaan

Keterangan Gambar

O
1

Menyalakan api
pemanasan awal
sampai titik bakar
(sekitar 900C)
Kemudian oksigen
murni bertekanan
tinggi ditiupkan
langsung pada
pusat (tengahtengah) api
preheating ke
logam induk
sampai mencair.

Memisahkan oksida
besi hasil
pembakaran yang
disebut slag
(terak).

Penentuan lebar

Ket :
1.
2.
3.
4.
5.

Blander potong
Tabung Oksigen
Tabung Elpiji
Selang Elpiji
Selang Oksigen

29

replating
berdasarkan pada
bagian pelat yang
tipis.
Pemotongan pelat
lama tidak boleh
kurang dari 2 jarak
gading.
Pemotongan sisi
memanjang pelat
lama tidak boleh
kurang dari jarak
gading atau sekitar
300 mm dari
gading.

Ketentuan pemotonagan pelat lama

Pemotongan dari
sebelah kanan
gading dengan
arah serong 60o.
Kemudian
pemotongan dari
sebelah kiri dengan
arah serong 60o.
Pemotongan sisa
pelat yang
menempel pada
gading dengan
arah horizontal.

4.6.4

Cara pemotongan pelat lama yang


menempel pada gading, yang
bertujuan untuk mempertahankan
bentuk gading tersebut.

Pengukuran dan Pengemalan


Setelah plat lama tersebut di potong, maka bagian plat lama
yang di potong tersebut dijadikan untuk ukuran dalam membuat
plat baru. Jika bagian plat tersebut berbentuk datar atau bidang
maka cukup di lakukan pengukuran dengan meteran, dan langsung
di aplikasikan ke plat baru.
Tetapi jika plat tersebut memiliki kelengkungan, maka di
buatkan mal yang terbuat dari beton nozer ataupun plat tipis. Untuk
membuat mal caranya sebagai berikut:
a. Plat tipis di potong sesuai ukuran yang di perlukan
30

b. Mal di las cantum atau di las titik pada bagian atas, bawah,
kanan, dan kiri pada bagian plat bottom yang sudah di potong
c. Mal di pukul-pukul sampai mal membentuk kelengkungan
yang di rencanakan
d. Mal di pasang stopper agar tidak berubah ataupun bergeser
e. Lepas mal dengan memukul pada bagian yang di las catum
tersebut
f. Mal di aplikasikan ke plat baru.
g. Plat baru di buat sesuai dengan mal tersebut, jika ada
4.6.5

lengkungan, maka di lakukan pembendingan pada plat tersebut.


Pemotongan pelat baru
Hal yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan pelat baru
yang akan menjadi ganti dari pelat lama. Cara yang umum dilakukan
digalangan yaitu:
1. Melakukan pengukuran langsung pada bagian yang sudah di
potong (pengukuran dari lokasi plat lama di potong)
2. Data hasil pengukuran tersebut di aplikasikan langsung pada plat
baru tersebut.
3. Kemudian dilakukan penandaan pada plat tersebut, yaitu dengan
menggunakan benang nilon yang di beri kapur.
4. Plat yang sudah di tandai, maka plat di potong dan di bentuk
sesuai hasil penandaan tersebut, dan di beri serong untuk kampuh
las sekitar 300. (di bevel terlebih dahulu).
Cara pengaplikasian mal ke dalam plat baru.
1. Mal di ukur ke plat baru dan di tandai menggunakan kapur
2. Plat baru di potong sesuai dengan mal tersebut.
3. Untuk melengkungkan, plat baru di bawa ke mesin bending.
Untuk menaikkan plat ke meja bending menggunakan takle
yang berkapasitas 5 ton.
4. Plat di bending (di pres) sampai sama dengan mal tersebut.

31

Setelah membentuk seperti yang di inginkan, maka plat


tersebut di beri bevel kurang lebih 300 (di beri kampuh las)
biasanya berbentuk V. Join plat akan membentuk bevel sekitar 60o
70o.
4.7 Pemasangan (fit up)
Setelah proses

pemotongan

selanjutnya

dilaksanakan

proses

pemasangan pelat baru.


4.7.1

Pengambilan plat baru ke lokasi replating


Plat baru yang di potong dan di bentuk sesuai dengan plat yang
di replating maka plat di bawa dari bengkel menuju lokasi dimana
kapal melakukan replating. Untuk membawa plat ke lokasi replating,
biasanya plat di angkut menggunakan forklift. Jika plat baru ada di
sekitar kapal maka bisa juga menggunakan crane dan memindahkan di
dekat daerah replating. Sebelum menggunakan crane, maka plat harus
di beri plat mata untuk mengaitkan plat dengan crane sehingga aman
untuk di pindahkan.

4.7.2

Marking plat baru dan plat lama


Setelah plat sudah di tempat replating maka plat baru dan plat
lama di marking, yaitu plat di beri bevel untuk kampuh pengelasan plat
tersebut. Alat yang di gunakan untuk membuat bevel yaitu; brender
potong, gerinda tangan, dan sikat baja. Bevel yang baik adalah bevel
dengan sudut 30o.
Cara membuat bevel adalah sebagai berikut:
a. Ujung-ujung plat baru di potong dengan sudut sekitar 30o.
pemberian bevel pada plat di arahkan ke dalam kapal.
b. Setelah di lakukan pemotongan maka ujung bevel yang kurang rata
diratakan dengan gerinda tangan sampai permukaan bevel tersebut
rata.

32

c. Setelah di ratakan, maka bevel tersebut di bersihkan dengan sikat


baja agar kotoran-kotoran yang menempel hilang.
Gambar 4.6. Bevel untuk kampuh las
4.7.3 Pemasangan plat baru
a. Plat baru dan plat dari dalam kapal di beri plat mata untuk pengait
takle. Takle yang di gunakan untuk proses pemasangan plat yaitu
takle yang memiliki daya angkut sekitar 5 ton.
b. Plat baru di tarik dari dalam kapal menggunakan takle.
c. Setelah plat baru sudah naik dan memposisikan pada plat lama,
maka bagian plat yang belum memposisikan pada plat lama di
dongkrak ke atas hingga posisinya benar- benar pas dengan plat
lama tersebut. Dongkrak yang di gunakan adalah dongkrak dengan
kapasitas
beban 30
50 ton.

Gambar 4.7. Penyanggaan pelat bottom menggunakan dongkrak


4.7.4

Pemasangan stopper
Setalah plat sudah dalam posisinya, maka plat baru di beri

stopper. Tujuannya adalah agar plat baru yang sudah pada posisinya
tidak bergeser. Stopper biasanya menggunakan plat L dan plat U
(paju). Plat L di gunakan untuk penahan plat baru, sedangkan plat U di
gunakan untuk meyamakan atau mengepreskan plat lama dengan plat

33

baru. Plat U atau paju di buat dengan plat yang tebal seperti segitiga
yang ujungnya runcing dan tipis.
Langkah-langkah memasang stopper (memasang plat L dan
Plat U atau paju :
a. Plat L bagian yang pendek di pasang di plat lama dan di las
cantum, sedangkan bagian yang lebih panjang di buat penampang
untuk plat baru.
b. Plat U di selipkan ke dalam plat L dan di ketok sampai plat baru
sama kedudukannya dengan plat lama.
Gambar 4.8. Paju untuk meratakan sisi pelat baru dan lama

Ditinjau dari ilmu mekanika, pelat bottom yang dipasang pada tiap tiap gading, kita anggap suatu blok yang terjepit pada tiap - tiap ujungnya.
Jadi momen yang terbesar adalah ditengah antara gading. Sedangkan pada 4
jarak gading momennya adalah nol. Tidak diperkenankan pula pelat - pelat
yang akan direplating berbentuk runcing atau tajam. Karena untuk
menghindari terjadinya keretakan atau deformasi pada bagian sudut sudut
pelat dalam proses pengelasan, maka biasanya pelat diberi Radius (R) pada
tiap sudut pelat.
Namun apabila proses replating terdapat pada posisi lajur nat, maka
tidak diberi radius, namun pada waktu pengelasan kampuh las harus lebih
panjang dari ukuran pelat tersebut kirakira 5 s/d 10 cm.
Setelah semua proses fit up selesai, maka di adakan proses pengelasan
pada plat baru dan plat lama.
4.8 Pengelasan (welding)

34

Setelah proses marking, cutting dan fit up semua selesai dilakukan


maka proses selanjutnya yaitu proses penyambungan pelat lama dan plat baru
dengan cara pengelasan (welding).
Untuk proses welding biasanya galangan-galangan di Indonesia
menggunakan pengelasan SMAW.
SMAW ( Shield Metal Arc Welding )
Pengelasan ini menggunakan electroda batangan yang juga berfungsi
sebagai shielding (pelindung). Shield ini berasal dari komposisi elektroda flux
coating.

Fungsi

dari

pelindung

ini

adalah

untuk

mencegah

Weld

terkontaminasi dengan udara luar.Elektroda pada SMAW bisa dioperasikan


pada arus AC, DCEP, dan DCEN.
Pengelasan ini bisa digunakan untuk semua posisi, dan bisa digunakan
untuk ketebalan pelat yang bermacam-macam.Namun tidak efektif apabila
digunakan untuk penyambungan yang relatif panjang, selain itu juga harus ada
perlakuan khusus apabila elektrodanya menggunakan low hidrogen. Elektroda
low hidrogen harus diopen terlebih dahulu sebelum digunakan.
4.8.1

Persiapan sebelum melakukan pengelasan


Sebelum melakukan pekerjaan pengelasan, maka harus di
lakukan persiapan, baik secara alat dan bahannya, maupun secara
teknisnya. Melakukan pekerjaan las juga harus memperhatikan
keselamatan

dalam

bekerja

sehingga

memperkecil

terjadinya

kecelakaan kerja.
Berikut persiapan-persiapan yang harus dilakukan sebelum
melakukan pengelasan (pekerjaan las).
a. Teknik yang di gunakan
Teknik yang di gunakan untuk pengelasan sambungan
menggunakan teknik las SMAW, di galangan-galangan Indonesia
teknik las SMAW merupakan teknik yang sering di gunakan,
alasannya adalah karena pengelasan ini dapat di gunakan untuk
35

semua posisi las dan juga bisa di gunakan untuk mengelas plat
dengan ketebalan yang bermacam-macam, serta harga alatnya juga
relative lebih murah daripada dengan teknik pengelasan yang lain.
Namun untuk pengelasan SMAW memiliki kelemahan, yakni tidak
efektif untuk penyambungan plat yang cukup panjang dan
elektrodanya juga harus di tangani secara khusus apabila untuk
menjaga

elektrodanya.

Jika

elektrodanya

lembab

maka

elektrodanya harus di oven agar elektrodanya tidak lembab lagi,


karena elektroda yang lembab dapat menyebabkan cacat pada hasil
pengelasan.
b. Alat dan bahan yang di gunakan
Alat yang di gunakan untuk pengelasan dengan teknik
SMAW adalah: mesin las, kabel elektroda, kabel las, dan stang
penjepit elektroda. Sedangkan untuk bahan kerja yang di gunakan
adalah elektroda. Karena yang di bahas adalah replating pada plat
bottom dengan ketebalan plat adalah 12mm, maka spesifikasi dan
persiapan alat tersebut adalah:
-

Mesin Las: panjang kabel 40-50 m, diameter kabel 60-70 mm,


daya mesin las 220 volt untuk arus AC/DC dan 380 volt untuk
Arus AC, amper las datar sekitar 200 A, untuk over head: 150180 A.

Bahan kerja: elektroda merek ESAB, type E 6013, diameter 4


mm, klas BKI.

Kawat gouging yang di gunakan adalah kawat dengan diameter


4 mm, dengan daya 400 A. jika kawat gouging habis maka bisa
menggunakan kawat las dengan ukuran yang sama tetapi besar
ampernya adalah 400 A.

c. Tukang las (welder)


Tukang las yang di gunakan adalah tukang las yang sudah
memiliki sertifikat dan pengalaman dalam pengelasan. Dalam
36

replating bottom kapal, tukang las yang di gunakan adalah tukang


las yang bisa melakukan pengelasan over head. Karena
pengelasan pada plat bottom di pastikan akan melakukan
pengelasan over head.

d. Safety atau keselamatan dalam bekerja


Sebelum

melakukan

pengelasan

juga

harus

memperhatikan keselamatan dan keamanan pada saat melakukan


pekerjaan las. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kecelakaan
saat bekerja. Khususnya pada saat pekerjaan las yang di lakukan
secara over head, maka harus lebih siap dan hati-hati. Karena
bahan cair panas terus berjatuhan akibat proses pengelasan.
Persiapan safety antara lain:
-

Memakai APD (alat pelindung diri) seperti: topeng las, baju


pelindung, masker, sepatu safety, dan sarung tangan las.

Mengecek kondisi sekitar apakah memungkinkan untuk


melakukan pengelasan atau tidak.

Mengecek kondisi kabel elektroda, dan mengecek mesin las


tersebut.

4.8.2

Teknis sebelum melakukan pengelasan


Pengelasan yang dilaksanakan diatas dock kapal dengan arus
bolakbalik ini ada dua arus yang harus diperhatikan yaitu arus
listrik (+) dan (-), arus yang dihasilkan oleh travo las (pesawat
las)yaitu arus listrik (+) dan untuk arus (-) yaitu biasanya
disalurkan ke badan kapal melalui pelat yang ditanam pada bawah
pondasi dock kapal (arde). Sedangkan untuk arus negative (+) di
sambungkan pada kabel elektroda dan stang jepit elektroda untuk
melakukan pengelasan

4.8.3

Pengelasan dari dalam kapal


37

Dalam proses pengelasan agar tidak terjadi kelengkungan kelengkungan atau perubahan bentuk pada pelaksanaan proses
pengelasan yang tidak diharapkan, pekerjaan pengelasan pelat
bottom dilaksanakan dengan urutan sebagai berikut :
1.

Pengelasan pelat terlebih dahulu dilakukan dibagian gading


gading / wrang - wrang. Sebelum mengelas, nat yang
melewati gading atau wrang-wrang maka wrang harus di
buat scallop yang berbentuk setengah lingkaran dengan
jari-jari 30mm. scallop di gunakan untuk jalan pengelasan
pada saat melewati gading atau wrang-wrang. Tetapi jika
nat mengenai sekat, maka sekat di berikan small secallop.
Bentuk small scallop dengan scallop sama, bedanya jika
small scallop memiliki jari-jari lubang

15mm . setelah

pengelasan yang melewati sekat selesai maka small scallop


2.

akan di tutup kembali dengan las-lasan.


Bevel pada plat di posisikan di dalam kapal, tujuannya agar
proses pengelasan lebih mudah dan juga proses gouging di
luar kapal lebih mudah sehingga dapat meminimalisir

3.

terjadinya cacat las dan deformasi.


Pengelasan untuk bagian memutar pelat, dilakukan dari
tengah ke samping kanan dan dari tengah ke samping kiri,
demikian juga untuk sisi pelat yang berada pada bagian
bawah (luar kapal). Pengelasan ini bertujuan agar panas

4.

tidak berpusat pada satu titik atau tengah pelat yang di las.
Pengelasan dari dalam kapal di las penuh, dengan tonjolan
las sampai 1-2 mm. pengelasan pada daerah datar
menggunakan amper kurang lebih 200 A dan sudut

5.

pengelasannya adalah 45o .


Setiap selesai melakukan pengelasan, maka hasil las-lasan
tersebut harus di bersihkan dari terak-teraknya, kemudian di
lihat hasilnya dari segi visualnya, jika terjadi cacat maka
dilakukan penanggulangannya sesuai cacat tersebut.

4.8.4

Pengelasan dari luar kapal


38

Pengelasan dari luar kapal merupakan tahap akhir dari


proses penyambungan. Setelah pengelasan dari dalam selesai maka
di lakukan pengelasan dari luar kapal. Langkah-langkah dalam
mengelas dari luar kapal pada plat bottom adalah sebagai berikut:
1. Jalur las dari luar di gouging terlebih dahulu, bertujuan untuk
membersihkan terak-terak yang diakibatkan oleh las-lasan dari
dalam tersebut. Gouging merupakan pembersihan kotorankotoran dari hasil pengelasan.
2. Gerinda hasil gouging tersebut hingga bersih, tujan untuk
menghidari cacat pada hasil pengelasan. Penggerindaan
menggunakan gerinda tangan.
3. Pengelasan untuk over head dari luar yaitu dari depan ke
belakang. Mengelas dengan posisi ini benda kerja terletak pada
bagian atas juru las dan kedudukan elektroda sekitar 5 - 20
terhadap garis vertikal dan 75 - 85 terhadap benda kerja.
4. Sambungan dari luar kapal di las penuh dengan tonjolan las
kurang lebih 2 mm, dengan daya mesin las sekitar 150 180 A.
5. Setelah melakukan pengelasan, hasil las-lasan harus di
bersihkan dari terak-teraknya menggunakan hammer, sehingga
hasil lasan yang sebenarnya dapat terlihat dari segi visualnya.
Jika terjadi cacat maka akan di lakukan perbaikan terhadap
cacat tersebut.
6. Setelah pengelasan selesai, maka akan di lakukan pegujian
terhadap hasil pengelasan tersebut.
4.9 Pengujian Hasil Pengelasan
Hasil pengelasan pada umumnya sangat bergantung pada keterampilan juru las.
Kerusakan hasil las baik dipermukaan maupun dibagian dalam sulit dideteksi dengan
metode pengujian sederhana. Selain itu karena struktur yang dilas merupakan bagian
integral dari seluruh badan material las maka retakan yang timbul akan menyebar luas
dengan cepat bahkan mungkin bisa menyebabkan kefatalan yang serius pada saat kapal
39

mulai dioprasikan. Untuk mencegah hal - hal yang tidak diinginkan maka dilakukanlah
proses pengujian dan pemeriksaan dibagian daerah - daerah las.
Pemeriksaan dan pengujian hasil pengelasan yang biasa dilakukan salah
satunya adalah:
4.9.1 Pengujian metode hoose test
Alat yang di gunakan: pompa air, nozzle 4 mm, palu
Cara kerja pengujian:
Cara kerja dari pengujian dengan metode hoose test yaitu
dengan cara menyemprotkan air dengan nozzle tepat pada kampuh laslasan dengan tekanan yang tinggi sekitar 75 kg/cm2 125 kg/cm2.
Nozzle yang di gunakan berdiameter sekitar 4 mm. Penyemprotan di
lakukan dari luar kapal dengan jarak sekitar 1 meter dari benda kerja.
Dari dalam kapal, hasil las-lasan yang sedang di semprotkan di ketokketok menggunakan palu. Jika terjadi rembesan pada alas-lasan, maka
las-lasan tersebut harus di perbaiki lagi. Air yang di gunakan untuk
pengujian adalah air tawar, karena jika menggunakan air laut, maka
akan mempercepat laju korosi pad alas-lasan tersebut.
N

Pelaksanaan

Keteranagn Gambar

O
1

Menyemprotkan
air pada dibagian
luar pelat tepat
pada kampuh las
dengan tekanan
yang tinggi
sekitar 75 kg/cm2
sampai 125
kg/cm2. Dengan
jarak kurang lebih
1 meter dari
kampuh.

Gambar proses pengecekan dengan cara


Dan pada bagian mennyemprotkan air betekanan tinggi ke daerah
dalam pelat kampuh las.

lambung
seseorang
memukul
mukulkan palu
tepat pada
40

kampuh las yang


disemprot air.
Apabila terjadi
rembesan air
maka pengelasan
ini dinyatakan
bocor sehingga
harus diperbaiki
dengan
pengelasan
ulang.

4.9.2

Pengujian metode kapur dan solar


Alat dan bahan yang di gunakan untuk pengujian metode kapur dan
solar adalah: kuas, kapur, dan solar
Cara kerja pengujian:
Bagian kampuh las dari luar kapal di olesi dengan kapur, kemudian
dari dalam kapal, kampuh lasnya di olesi dengan solar. Kemudian di
tunggu beberapa saat. Kemudian dari luar kapal pada las-lasan yang di beri
kapur di amati. Jika kapur tersebut tetap kering dan masih berwarna putih
maka hasil las-lasannya sudah baik, tetapi jika terdapat rembesan solar
pada kapur maka las-lasannya harus di perbaiki. Jika hasilnya retak pad
alas-lasan, maka perlu di gouging kemudian di grenda setelah itu
dilakukan pengelasan ulang sesuai dengan prosedur pengelasan.
NO
1

Pelaksanaan

Keterangan Gambar

Sepanjang hasil
lasan pada bagian
luar diolesi dengan
kapur.
Sepanjang hasil
lasan bagian dalam
diolesi dengan solar.
Setelah ditunggu
beberapa saat jika
kapur tetap kering
dan berwarna putih,
berarti hasil lasan
baik.

Gambar proses pengecekan hasil


lasan dengan menggunakan kapur
dan solar

Tetapi jika kapur


41

terdapat bercakbercak solar, berarti


hasil lasan terdapat
retak/penetrasinya
kurang baik.
5

4.9.3

Jika terjadi hal yang


demikian maka hasil
lasan harus
digouging dan
dilakukan
pengelasan kembali.
Pengujian metode hidrolic test
Alat untuk melakukan test hidrolic adalah pompa air.
Langkah kerja test hidrolik adalah:
1. Tanki yang akan di uji harus kedap dengan cara menutup man hole.
Cara menutup man hole, pada cover man hole di pasang pada bolt
atau baut, setelah itu nut atau mur di pasang dengan cara silang.
Alat untuk mengecangkan mur dengan menggunakan kunci ring
inchi, karena ukuran dari mur pada manhole memiliki diameter
luar inchi.
2. Pipa udara pada tanki tersebut di biarkan terbuka sebagai
masuknya udara agar tanki memiliki tekanan
3. Air di masukkan lewat pipa sounding dengan menggunakan pompa
air. Tunggu hingga air meluap sampai pipa udara beberapa saat.
4. Matikan pompa air dan lihat hasil pengelasan dari luar kapal
tersebut.
5. Hasil uji dapat di lihat dari kampuh las yang ada di luar kapal. Jika
ada cairan yang menetes pada kampuh las tersebut maka hasil laslasannya harus di perbaiki dengan cara di gouging dan di las ulang
jika cacat lasnya sampai retak. Tetapi jika hanya rembesan kecil
pada samping kiri atau kanan las-lasan maka hanya perlu di
gerinda dan di tambah dengan las-lasan.

Hidrolick test
Alat dan bahan : Pompa, selang, dan air
42

NO
1

Pelaksanaan

Keterangan Gambar

Tangki ballast yang


akan
dicek
dipastikan
kedap
dengan
cara
menutup man hole,
namun
tidak
menutup
pipa
udara.
Lalu mengisi pipa
sounding tersebut
dengan air dan
biarkan air tersebut
meluap
melalui
pipa udara sampai
beberapa
waktu
saat.

Hidrolick test cara kerjanya dengan


menggunakan air sebagai medianya.
Pengecekan ini juga hanya bisa dilakukan
diruangan kedap.

Kebocoran
pada
kampuh
akan
terlihat bila ada air
yang
menetes
keluar dari tangki
sehingga harus dilas
ulang.
Pengujian hidrolic pada tanki merupakan pengujian untuk
keseluruhan tanki yang di isi oleh air, sehingga kebocoran yang terjadi
pada tanki bisa terlihat. Pada pengujian pelat bottom, hidrolic test
merupakan pengujian yang efektif, karena bisa menguji secara keseluruhan
tanki sehingga tidak ada cacat yang terlewatkan.
4.10

Kebutuhan Material dan Pekerja


Untuk menghitung anggaran dalam pekerjaan, maka setiap kebutuhan
baik dari segi material maupun orang yang bekerja harus di perhitungkan.
4.10.1. Kebutuhan Material
1. Elektroda yang di perlukan.
Elektroda yang di perlukan adalah elektroda ESAB, E 6013.
Dengan diameter 4 mm. untuk menghitung jumlah elektroda
yang di perlukan (dalam kg) maka estimasi untuk elektroda

43

yang di perlukan adalah 5 % dari pekerjaan plat tersebut (dalam


kg)
2. Oksigen dan LPG/Asitelin
Perbandingan kebutuhan untuk gas LPG dan oksigen untuk
melakukan pekerjaan potong adalah sekitar 1 : 2. Untuk
pekerjaan 1 ton plat, di butuhkan sekitar 40 kg LPG/Asitelin.
Sehingga kebutuhan oksigen yang di gunakan merupakan 2 x
dari kebutuhan LPG tersebut.
4.10.2. Kebutuhan Pekerja
Untuk mengetahui jumlah pekerja yang akan di gunakan
untuk melaksanakan pekerjaan replating dengan waktu yang di
tentukan maka harus tau kemampuan setiap pekerjaannya.
Menurut survey galangan di PT. Janata Marina Indah
Semarang, kemampuan pekerja (man dies) untuk pekerjaan plat
adalah 50-60 kg per harinya (tanpa lembur atau 8 jam). Berat 50
60 kg merupakan berat bersih semua pekerjaan dari pekerjaan
pemotongan sampai dengan pengelasan. Dari berat dan waktu yang
di tentukan maka dapat di ketahui jumlah orang yang di butuhkan
untuk menyelesaikan tugas tersebut. Perbandingan tukang potong,
tukang las, dan pembantu adalah 2 : 2 : 1. Untuk pembantu tidak
begitu di perhitungkan dalam pekerjaan ini di karenakan tugasnya
yang

tidak

memiliki

keahlian

sehingga

untuk

membantu

meringankan pekerja ahli seperti tukang las atau tukang potong.


Rumus menghitung jumlah orang yang di perlukan:
Jumlah pekerja = (Berat plat kerja / kemampuan kerja) / waktu
Dimana :
- Jumlah pekerja adalah jumlah orang untuk melaksanakan
-

pekerjaan tersebut.
Berat plat kerja adalah berat plat yang akan di kerjakan

(per-kg)
Kemampuan kerja adalah kemampuan di dalam galangan

untuk mengerjakan plat tersebut (50 kg 60 kg/hari).


Waktu adalah waktu yang di butuhkan untuk pekerjaan
tersebut (per-hari)

44

Tukang las (welder)


Menurut survey di galangan PT. JMI (unit 2) Semarang,
kemampuan rata-rata pekerjaan las untuk daerah yang sukar
yaitu pada tanki dan di bawah tanki (over head) adalah 4 m
dalam sehari atau 8 jam kerja. 4 m maksudnya adalah
pengelasan atas dan bawah (back side) secara penuh sepanjang
4 m. Untuk plat 12 mm, pengelasan atas sebanyak 4 - 5 layer
dan pengelasan sebaliknya (back side) cukup dengan 2 layer.
4.10.3. Contoh perhitungan pekerjaan plat.
1. Pertanyaan:
Untuk 1 ton pekerjaan plat, berapa kebutuhan material yang di
gunakan, dan berapa jumlah pekerjanya jika di kerjakan dalam
waktu 2 hari?
2. Jawaban:
Untuk mengerjakan plat dengan berat 1 ton atau 1000 kg
membutuhkan material sebanyak:
- Elektroda
Jumlah Elektroda
= 5% x 1000
(kg)
= 50
(kg)
- Gas LPG
= 30 kg untuk 1 ton plat
- Gas Oksigen
= 2 x gas LPG
(kg)
= 2 x 30
(kg)
= 60
(kg)
Untuk mengerjakan plat 1 ton, dalam waktu 2 hari maka
pekerja yang di butuhkan adalah:
Jumlah pekerja
= ( 1000/50) / 2
= (20) / 2
= 10

(Orang)
(Orang)
(Orang)

Jumlah dari 10 orang tersebut meliputi tukang potong,


tukang las, dan pembantu. Jika di aplikasikan pada perbandingan
2:2:1 maka jumlah 10 orang meliputi 4 orang tukang potong, 4
orang tukang las, dan 2 orang sebagai pembantu (buruh).
Jadi untuk mengerjakan pekerjaan plat 1 ton, membutuhkan
elektroda sebanyak 50 kg, gas LPG 40 kg, dan Oksigen 80 kg.
jumlah pekerja yang di gunakan adalah 10 orang jika pekerjaan

45

tersebut dilakukan selama 2 hari, dimana 4 orang sebagai tukang


las, 4 orang sebagai tukang potong, dan 2 orang sebagai pembantu.
Dari jumlah pekerja tersebut maka dapat di ketahui alat
yang di gunakan untuk melakukan pekerjaan tersebut sehingga dari
data di atas maka alat yang di gunakan adalah 4 unit mesin las
untuk 4 orang dan 4 unit brander potong untuk 4 orang.

46

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kapal harus melakukan pemeliharaan secara teratur, ini berguna agar
kapal selalu dapat berfungsi secara baik dan juga dapat memperpanjang umur
kapal. Masa docking juga harus dipatuhi agar terhindar dari kerusakankerusakan yang dapat membahayakan keselamatan dan keamanan penumpang
serta keselamatan kapal itu sendiri. Replating pelat itu sendiri pada dasarnya
melalui 4 tahap yaitu:

Penandaan
Penandaan dilakukan pada bagian pelat lama yang sudah tidak
memenuhi standart atau yang akan diganti dengan pelat baru, marking
dilakukan sesuai dengan bentuk dan daerah yang akan direplating.

Pemotongan
Pemotongan pelat lama mempunyai ketentuan antara lain tidak boleh
kurang dari dua jarak gading dan pemotongan sisi memanjang pelat kulit
lama tidak boleh kurang dari jarak gading atau sekitar 300 mm dari
gading.

Pemasangan
Untuk menurunkan pelat harus diberi pelat mata, yang bertujuan
untuk mengaitkat pelat dengan seling crane, pemasangan pelat mata
dengan cara dicantum pada bagian tengah pelat, untuk menaikkan plat ke
lambung bisa menggunakan takle dan juga dongkrak untuk menahannya.

Pengujian Kekedapan Las


Pada proses pengujian las pada saat replating plat bottom yang biasa
di gunakan adalah hoose test, tes kapur dan solar, dan hidrolic test. Untuk
aplikasi lain di galangan sendiri pengujian tergantung oleh owner.

47

Replating pada bagian bottom kapal yang terdapat pada daerah


tangki tangki harus memperhatikan tingkat keamanan dan keselamatan
untuk melakukan replating.
5.2 Saran
1. Pengawasan yang ketat dari Biro Klasifikasi yang memperhatikan benar
tentang replating pelat.
2. Kesadaran dari owner untuk mematuhi saran dari Biro Klasifikasi.
3. Saat pengerjaanya selalu mengutamakan keselamatan agar menghindari
korban kecelakaan.
4. Adanya profesionalitas kerja dari galangan agar menghasilkan produk yang
berkualitas dalam hal mengenai replating pelat.
5. Setiap pekerjaan hendaknya di lakukan sesuai prosedur agar hasil pekerjaan
memiliki kualitas yang baik.
6. Teknologi yang di pakai lebih di tingkatkan lagi untuk memajukan kualitas
pekerjaannya.

48

DAFTAR PUSTAKA

Djatmiko, S, Soedijono, Soedarsono, 1983. Teknik Galangan Kapal dan


Dock Jilid I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah : Jakarta.

Djatmiko, S, Soedijono, Soedarsono, 1983. Teknik Galangan Kapal dan


Dock Jilid II. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah : Jakarta.

Djaya, Indra, Kusuma, 2008. Teknik Konstruksi Kapal Baja. Departemen


Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan
Dasar dan Menengah : Jakarta.

Sunaryo, Heri, 2008. Teknik Pengelasan Kapal Jilid 1 untuk SMK.


Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Manajemen
Pendidikan Dasar dan Menengah : Jakarta.

Khamdan, Kepala Bagian Lambung PT. Janata Marina Indah Unit 1

Masriman, Kepala Bagian Lambung PT. Janata Marina Indah Unit 2

Sutarsono, Kepala Teknik PT. Sarana Lautan Nusantara

http://www.yantosumedang.blogspot.com/2014/01/tentang-ows-di-kapal.html

49

LAMPIRAN - LAMPIRAN

50