Anda di halaman 1dari 11

masokhis haha

pagi ini kami saling menjahit mulut


segelas air bening yang kau suka tak berani kami reguk, selalu ada untukmu.
tapi hanya itu. maaf.
sekam sudah padam, hanya sisa legam panci penyok di dapur yang lama karam
apa masih ada yang bias kita gadaikan?
tidak, iman kita tak berangka.
saya punya tiga kucing, mereka tak berkuping, mereka lahir sebelum saya.
ah, sudahlah malam ini saya akan carikan sandal karet bekas, mungkin sejarah jejaknya
sama. digonggong anjing.
aha, apa kita harus tuli? katanya sunyi adalah waktu doa sejati,
jejali kedua telinga kita dengan potongan jari!
esok, mari kita saling jahit kelopak mata masing
hey, bukankah kita semua menyukai bunga?
biarkan dia tumbuh meski kita hanya tubuh, kita adalah pot ideal lebih dari potnya
sutardji
unselfkillme

sentimentalia negasi maknamakna konstruksi aphorisma jenaka


predisposisi misa katakata dalam ekaristi jiwa yang haha
ekamatra tauhid di kelingking jemari yang digigit anjing
halo, mesias telah mati semesta martirmartir sati
hiporealis terasing ruang arsitektur sunyi dan malaikatmalaikat bisu menari
paradigma tertawa lara bunga kamboja
hahahahahaha ember rumah belah pecah
dan cacah kita catur koma
infus nimbus hujan asam menjadikan karat pada mata kelopak retak lalu kedip berkerak
amboi, imaniman temaram geram geraham daging ham
ham ham ham pseudoham sesak kredokredo mono
anjing anjing anjing anjing anjing anjing anjing hening.
intermeso sebelum mencuci

rekamlah api maka kau akan jadi matahari.


tapi pak kepala ini bapak telah isi adukan semen,
biar menjadi dinding biar menjadi gedung.
selsel kimia otak saya sudah lama batu.
oh iya, saya ingat dulu ada bergelas emosi di meja ini
tapi semua telah habis ibu reguk, buat ganti airmata untuk akuarium sandalsandal kita
kemarin saya melihat tuhan di cermin, histeria.
mari kucukur rambutmu serunya, kubilang tidak mau
ini tanaman yang tumbuh di atas semen kalo berbuah kelak akan aku hadiahkan buat
afrizal
lalu kutinggalkan cermin, televisi menayangkan perempuanperempuan berkaki indah
payudarapayudara segitiga sayang mereka tak berkepala
duh, perutku lapar padahal lambung saya sudah bapak kubur jauhjauh hari.
idih, ada dian sastro di iklan lux.
saya sudah berada di dalam ember, ayo bu kita mencuci.
tentang pohon itu dan aku

baik baik akan kukabarkan pada semua tentang sebuah pohon


yang berdaun tubuhtubuh dan berbuah janinjanin yang menggayut ranum
di tiap rantingnya yang jemari
yang kekar akarnya menjulur memagut rumahrumah tuhan
dan kau tahu? telah kujatuhkan benihku pada daun yang pucuk bersama peluh dan desah
amarah dalam birahiku yang paling.
dan kau tahu? telah kucuri sejanin yang paling ranum yang akan kutanam di udara kota
yang abu setelah subuh
sublimasi ruh

aku tidak memiliki matahari, dia tahu


kemudian diajakku bertamasya menujunya berbekal sekujur roti serta secawan anggur
ekaristi. tetaplah pejam agar tak lenyap, ucapmu. kita dalam liturgi ketidakmengertian
kepalakepala tanda tanya, sisanya spasispasi kosong yang harus diisi. elipsis
titiktitik berkelanjutan memaksa jelajah cakrawala harapan melalui jendelajendela sunyi
semua ibid, serumu, kau bisa lihat pada catatan jejak.
hingga kapan aku harus pejam? hingga kau selesai berdoa
hey bukankah hidup itu seluruhnya doa? aku hanya pejalan sepi ingin jemari.
perlahan kubuka kedua kelopak, seluruhnya jingga.
lengkung senyummu rona ceria lekuk itu sembunyi beban biarkan belam dalam pejam.
sublimasi ruh menyisa tubuhtubuh
bu!

semalam kau tawarkan segelas air mata padaku


“minumlah, dahagamu adalah duka bagiku”
aku menoleh, kau pun angguk
maka kureguk,
tak sisa.
“luka ini tambah menganga, bu!”
“tidurlah, esok mungkin embun menyapamu!”
pagi ini, sepiring asa hangat kau sediakan di meja
“makanlah sebelum kau berangkat, sebentar
mungkin vladimir dan estragon akan kemari”
“untuk apa?”
“sedikit cerita dari mereka tak mengurangi ada kita”
kulahap sementara uap terlepas
“sepulang kau nanti, masih ada sekotak ingatan yang bisa kau cicipi”

salam untuk mereka bila kemari


aku kembali setelah kubekukan matahari
phantasmagoria

tertuang kata dalam cekung mata


aku belum temukan tepi!
cermin mati
sebuah eksistensi
tak pernah simetris
dalam bubu dimensi
gradasi hidup
gradasi nyala
katarsis rasa menjadi aphorisma
hagiasophia
sebentar saja

kita tunggu hujan reda


sebentar saja
biar menjadi gerimis
sebab deras tak baik untukmu,
kompas yang kita punya
berjarum jam
percepatan waktu dan
tujuan mengurung ruang
dalam antara
metafora paternal

aku ingin menjadi selirmu, ucap bunga pada ramarama


hisap dan nikmatilah nektarku seperti kau setubuhi katakata yang memang
milik kalian.
bukankah kuasa adalah harta atas segala?
jadilah tuhan jika kau bisa dan akulah agama atas tuhanmu.
ramarama adalah rimarima dalam hidup maknamakna
setubuhi aku maka jadilah ramarama yang selalu memiliki rimarima karena
bunga tak pernah diakui memiliki rimarima dalam semesta katakata
kutulis untukmu

ini hening. hanya dengung neon terdengar


aku suka, tak ada suara orang.
hari itu kau aku bertemu
gaun putih itu pantas buatmu, hanya saja
tak ada renda, tapi aku suka
kau terlihat bersahaja, jelita
ringan kau kepak sepasang sayap
di punggungmu
satu senyum di mukamu, lalu sirna
hari kemudian aku bertemu kembali
di kursi kayu kita duduk tak berkata
bulan lengkung sedikit muram
sepasang kunang melintas riang
kau aku berada di taman penuh kembang
masih kau kenakan gaun putih hari lalu
satu senyum di mukamu, tiga kelopak
kuncup kembang rekah
kau, masih tak berkata tapi aku suka
tetaplah hening kau terlihat bersahaja, jelita
ringan kau kepak sepasang sayap
di punggungmu
satu senyum di mukamu, lalu sirna
kelak di hari ketiga,
aku memintamu
kau senyum meski tak yang paling

seperti kunang
pada redupasa yang
kukirakau pun
punya,
tak saja sempat
satu birama
sepiinitiara
kausenyummeskitak
yang paling