Anda di halaman 1dari 2

RI Semakin Tergantung pada Negara Maju

Senin, 6 April 2009


JAKARTA (Suara Karya): Sejumlah kalangan menilai, hasil pertemuan negara-negara
anggota G-20 yang menjanjikan pinjaman siaga dan kebijakan untuk membangun kembali
kepercayaan dalam sistem keuangan global, tidak akan berpengaruh signifikan untuk
memperbaiki perekonomian Indonesia.
Sebaliknya, kehadiran pemerintah RI di KTT G-20 di London justru akan menambah
ketergantungan Indonesia dan negara berkembang lainnya terhadap negara maju
serta lembaga keuangan internasional, seperti Dana Moneter Internasional (IMF).
"Pertemuan G-20 itu tidak akan membawa perbaikan terhadap ekonomi Indonesia.
Kehadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di sana justru hanya menambah
beban dan ketergantungan. G-20 lebih banyak untuk mendukung kepentingan
negara-negara maju," kata Direktur Inter-CAFE IPB Iman Sugema, di Jakarta,
Minggu, menanggapi optimisme para kepala negara anggota G-20.
Menurut dia, usulan untuk menambah atau memberikan suntikan dana bagi IMF
berimplikasi pada kebijakan-kebijakan peningkatan ketergantungan ekonomi di
negara-negara berkembang. Khususnya dengan semakin besarnya jumlah utang luar
negeri (LN), sehingga memberikan keuntungan besar bagi lembaga donor dan
negara-negara maju.
"Oleh karena itu, pertemuan G-20 menimbulkan pertanyaan bahwa bailout tersebut
untuk negara berkembang atau negara maju?" kata Iman mempertanyakan
keinginan atau usulan Menteri Keuangan RI memberikan suntikan dana bagi IMF.
Iman menjelaskan, bailout merupakan strategi negara maju untuk memperbaiki
posisi perusahaan-perusahaannya yang terkena krisis global. Mereka ingin menutupi
segala kebutuhan perusahaan kapitalis transnasional agar kembali bergerak setelah
dihantam badai krisis yang berawal dari Negeri Paman Sam tersebut.
Dengan demikian, Iman menilai, peran dan upaya Presiden SBY dalam pertemuan G-
20 itu tidak berdampak bagi perbaikan perekonomian Indonesia. "IMF hanya akan
kembali memberikan resep-resep menyesatkan, tapi kelihatannya membantu,"
tuturnya.
Lebih jauh dia menegaskan, hasil G-20 tersebut merupakan agenda-agenda negara-
negara maju untuk dilaksanakan oleh negara berkembang. "Mereka akan mendikte
melalui kebijakan seperti yang sudah biasa, privatisasi, dan sebagainya, agenda
yang dijalankan oleh negara berkembang," ujarnya.
Hal senada juga disampaikan ekonom Tim Indonesia Bangkit (TIB) Ichsanuddin
Noorsy. Menurut dia, negara-negara maju anggota G-20 saat ini tidak mampu
mengarahkan ekonomi global, karena sedang sibuk melindungi dan menjaga
kepentingan nasionalnya. Kondisi perekonomian Amerika Serikat (AS), Uni Eropa
(UE), dan Jepang sebenarnya sudah mulai mengalami stagnasi sejak 16 tahun lalu.
Dalam hal ini, negara-negara maju melihat kebijakan fiskal dan pinjaman perbankan
kepada perusahaan swasta sebagai jalan keluar. Hal ini yang diikuti Indonesia, meski
sayangnya justru mengandalkan kebijakan fiskal berbasis tambal sulam utang.
"Inilah sebabnya persoalan ekonomi Indonesia justru terperangkap dalam jerat
utang Bank Dunia dan IMF," ujarnya.
Ajang KTT G-20, menurut Noorsy, sebenarnya bisa menjadi forum penting bagi
Indonesia untuk menempatkan diri sebagai bangsa yang bebas dari tekanan
ekonomi. Terlebih lagi dari negara maju yang sedang sibuk melakukan proteksi diri
untuk menyelamatkan perekonomian nasional masing-masing.
Di lain pihak, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito
Abimanyu menilai, keputusan yang dikeluarkan dalam pertemuan G-20
menguntungkan Indonesia. Penambahan modal kepada lembaga-lembaga keuangan
internasional dan juga berbagai fasilitas pembiayaan dengan biaya yang murah,
sangat membantu negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, dalam
menghadapi krisis yang terjadi.
"Dengan keputusan G-20 kita bisa akses pendanaan untuk likuiditas, perdagangan,
dan APBN. Ini adalah dana untuk mengompensasi dana pasar yang selama ini
dibiayai obligasi dan sekarang banyak lari ke AS," ujarnya.
Menurut Anggito, pertemuan G-20 menghasilkan keputusan adanya bantuan
langsung sebesar 1,1 triliun dolar AS dalam bentuk penambahan modal kepada
lembaga-lembaga keuangan internasional dan juga bantuan pembiayaan ekspor-
impor (trade financing).
"Keputusan ini pengaruhnya langsung ke Indonesia. Pokoknya ada fasilitas support
balance of payment (neraca pembayaran), pendanaan untuk perdagangan serta
dukungan untuk anggaran melalui bank pembangunan," tuturnya.
Karenanya, fasilitas trade financing ini bisa membantu mendorong pertumbuhan
perdagangan internasional yang saat ini menurun. Sebab, terdapat akses pada
pendanaan tanpa ada penjaminan. "Kalau butuh trade financing untuk ekspor, tidak
perlu masuk ke pasar, sehingga keperluan valas tidak tinggi serta tidak memberikan
tekanan kepada cadangan devisa," katanya. (Indra/Bayu/A Choir)