Anda di halaman 1dari 24

Pedoman Umum Pendayagunaan

Tenaga Kerja Sukarela

Pedoman Umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengangguran merupakan salah satu permasalahan serius bangsa
yang secara terus-menerus menjadi perhatian pemerintah. Upaya
penanggulangan pengangguran menjadi penting, karena bila tidak
tertangani dengan baik, dampak dari masalah pengangguran
dikhawatirkan dapat memicu persoalan kerawanan sosial, seperti
meningkatnya angka kemiskinan dan kriminalitas.
Masih tingginya angka pengangguran di tanah air dapat diamati dari
data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) BPS Agustus 2014 yang
menyebutkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Agustus
2014 mengalami peningkatan dari semula sebanyak 7,15 juta orang atau
sekitar 5,7 persen penduduk pada Februari 2014 menjadi 7,24 juta orang
atau sekitar 6,17 persen penduduk pada Agustus 2014.
Fakta tersebut sekaligus menjadi warning kepada pemerintah agar
mampu meningkatkan upaya penanggulangan pengangguran secara
optimal, terutama ditengah kondisi perekonomian nasional yang belum
membaik.
Selain itu, tantangan ketenagakerjaan kedepan diperkirakan semakin
berat dan kompleks. Jumlah angkatan kerja diperkirakan bertambah
sehingga menuntut adanya pelayanan pasar kerja yang mudah dan
murah, serta tersedianya kesempatan kerja yang sesuai dengan tingkat
pendidikan tenaga kerja yang ada.
Terlebih lagi adanya penerapan Masyarakat Ekonomi ASEAN (ASEAN
Economic Community), menuntut adanya peningkatan kualitas SDM
tenaga kerja yang mampu bersaing di pasar kerja domestik maupun
internasional. Selain itu, industrialisasi kedepan juga diperkirakan akan
semakin berkembang seiring dengan perkembangan teknologi dan pasar
bebas. Untuk itu, perlindungan tenaga kerja dituntut sesuai dengan
perkembangan tersebut.
Terbatasnya lapangan kerja di sektor formal yang tidak sebanding
dengan jumlah pencari kerja, berpengaruh terhadap meningkatnya angka
pengangguran, khususnya dikalangan kaum muda terdidik. Keberadaan
penganggur terdidik ini tentu saja merupakan suatu pemborosan, karena
mereka sebenarnya memiliki pengetahuan dan keterampilan yang
memadai, namun belum terserap di pasar kerja formal.

Pedoman Umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela

Disisi lain, pengembangan ketenagakerjaan sektor informal belum


tergarap secara optimal. Padahal, Indonesia memliki beragam potensi
sumber daya alam yang bisa dimanfaatkan menjadi modal dasar
pengembangan usaha sektor informal.
Dalam rangka mengatasi permasalahan tersebut, pemerintah melalui
Kementerian Ketenagakerjaan mengupayakan berbagai kebijakan, salah
satunya melalui pembentukan kegiatan Pendayagunaan Tenaga Kerja
Sukarela atau yang dikenal dengan istilah "Pendayagunaan TKS".
Kegiatan Pendayagunaan TKS bertujuan untuk memberdayakan para
sarjana dalam kegiatan pendampingan masyarakat dibidang perluasan
kesempatan kerja dan penempatan tenaga kerja, yang berbentuk :
pendampingan Kelompok Usaha Masyarakat (Padat Karya produktif,
Terapan
Teknologi
Tepat
Guna
dan
Tenaga
Kerja
Mandiri/kewirausahaan), Pendampingan Calon TKI (CTKI), Penggerak
Perantaraan Kerja dan Operator Bursa Kerja On line (BKOL). Dengan
mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut, pengalaman dan keterampilan TKS
diharapkan dapat berkembang secara optimal.
Kemudian dalam rangka memandu pelaksanaan kegiatan
Pendayagunaan TKS, Direktorat Pengembangan dan Perluasan
Kesempatan Kerja - Direktorat Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga
Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja - Kementerian Ketenagakerjaan
menyusun pedoman Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela.
Pedoman Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela terdiri atas
Pedoman Umum dan Petunjuk Pelaksanaan Pendayagunaan Tenaga Kerja
Sukarela. Pedoman umum memuat ketentuan-ketentuan umum dan
prinsip-prinsip kegiatan Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela.
Sedangkan Petunjuk Pelaksanaan memuat aturan teknis pelaksanaan
kegiatan Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela.
B. Dasar Hukum
1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Perluasan
Kesempatan Kerja;
2. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan;
3. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2011 tentang Kewirausahaan
Pemuda;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2013 tentang Perluasan
Kesempatan Kerja;
5. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.12 tahun 2012
tentang
Rencana
Pembangunan
Jangka
Panjang
Bidang
Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian Tahun 2010-2025;
2

Pedoman Umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela

6. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. 5 Tahun 2014


tentang Penetapan Indikator Kinerja Utama Kementerian Tenaga Kerja
dan Transmigrasi Tahun 2014-2019.
C. Tujuan Penyusunan Pedoman
Penyusunan pedoman kegiatan Pendayagunaan TKS bertujuan untuk
memberikan panduan kepada para stake holder kegiatan mengenai
konsep kegiatan, tujuan dan mekanisme kegiatan Pendayagunaan TKS
sesuai dengan sasaran yang ingin dicapai.
D. Sasaran Pengguna
Sasaran pengguna Pedoman Umum dan Petunjuk Pelaksanaan
Pendayagunaan TKS, antara lain:
1. Pelaksana kegiatan, yakni aparatur Direktorat Pengembangan dan
Perluasan Kesempatan Kerja selaku Pelaksana Kegiatan Pusat dan
Dinas Tenaga Kerja Provinsi dan Kabupaten/Kota selaku Pelaksana
Kegiatan Daerah;
2. Pengguna/pemanfaat kegiatan, yakni masyarakat, dalam hal ini
pencari kerja (pencaker) dan pemberi kerja;
3. Lembaga/instansi lain yang membutuhkan.
E. Daftar Istilah
Dalam pedoman ini terdapat beberapa istilah yang perlu dipahami oleh
para penggunaa, antara lain:
1.

Program Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela adalah program


pemberdayaan pemuda-sarjana yang berbentuk pendampingan
masyarakat dibidang perluasan kesempatan kerja dan penempatan
tenaga kerja.

2.

Tenaga Kerja Sukarela (TKS) adalah para pemuda-sarjana yang


menjadi peserta kegiatan Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela.

3.

Pelaksana Kegiatan Pusat atau disingkat PL Pusat adalah aparatur


Direktorat Pengembangan dan Perluasan Kesempatan Kerja-Ditjen
Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan
kerja-Kementerian Ketenagakerjaan selaku penanggung jawab,
pembina sekaligus pelaksana kegiatan Pendayagunaan TKS di tingkat
pusat.

Pedoman Umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela

4.

Pelaksana Kegiatan Daerah atau disebut PL Daerah adalah aparatur


pemerintah daerah dari Dinas yang membidangi urusan
ketenagakerjaan di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota selaku
penanggung jawab, pembina dan pelaksana kegiatan pendayagunaan
TKS di daerah. Pelaksana kegiatan di tingkat Provinsi selanjutnya
disebut PL Provinsi, sedangkan pelaksana kegiatan di tingkat
Kabupaten/Kota disebut PL. Kabupaten/Kota.

5.

Pemanfaat kegiatan adalah semua pihak yang mengambil manfaat


dari kegiatan Pendayagunaan TKS, yaitu TKS, kelompok usaha
masyarakat yang didampingi, pencari kerja dan pemberi kerja.

6.

Pola pendampingan TKS adalah pola pendampingan kepada


masyarakat yang menitikberatkan pada peranan TKS sebagai
pendamping/fasilitator sesuai dengan prinsip-prinsip umum
pendampingan.

7.

Kelompok Usaha Masyarakat adalah kumpulan orang (penganggur)


yang tergabung dalam suatu kelompok dengan maksud melakukan
usaha produktif dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup mereka.

8.

Kesempatan kerja adalah lowongan pekerjaan yang diisi oleh pencari


kerja dan pekerja yang sudah ada.

9.

Perluasan Kesempatan Kerja adalah upaya yang dilakukan untuk


menciptakan lapangan pekerjaan baru dan/atau mengembangkan
lapangan pekerjaan yang sudah tersedia.

10. Perluasan Kesempatan Kerja di dalam Hubungan Kerja adalah


upaya yang dilakukan untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru
dan/atau mengembangkan lapangan pekerjaan yang tersedia
berdasarkan perjanjian kerja, yang mempunyai unsur perintah,
pekerjaan dan upah.
11. Perluasan Kesempatan Kerja di luar Hubungan Kerja adalah upaya
yang dilakukan untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru
dan/atau mengembangkan lapangan pekerjaan yang tersedia tidak
berdasarkan perjanjian kerja.
12. Penempatan tenaga kerja adalah proses pelayanan kepada pencari
kerja untuk memperoleh pekerjaan dan pemberi kerja dalam
pengisian lowongan kerja sesuai dengan minat, bakat dan
kemampuan.
13. Antar kerja adalah sistem yang meliputi pelayanan informasi pasar
kerja, penyuluhan dan bimbingan jabatan dan perantaraan kerja.

Pedoman Umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela

14. Pengantar kerja adalah Pegawai Negeri Sipil yang memiliki


keterampilan melakukan kegiatan antar kerja dan diangkat dalam
jabatan fungsional oleh Menteri atau Pejabat yang ditunjuk.
15. Pencari kerja (pencaker) adalah angkatan kerja yang sedang
menganggur dan mencari pekerjaan maupun yang sudah bekerja
tetapi ingin pindah atau alih pekerjaan dengan mendaftarkan diri
kepada pelaksana penempatan tenaga kerja atau secara langsung
melamar kepada pemberi kerja.
16. Pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum
atau badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan
membayar upah.
17. Penempatan tenaga kerja ke luar negeri adalah kegiatan pelayanan
untuk mempertemukan TKI sesuai bakat, minat, dan kemampuannya
dengan pemberi kerja di luar negeri yang meliputi keseluruhan
proses perekrutan, pengurusan dokumen, pendidikan dan pelatihan,
penampungan, persiapan pemberangkatan, pemberangkatan sampai
ke negara tujuan dan pemulangan dari negara tujuan.
18. Calon Tenaga Kerja Indonesia (CTKI) adalah setiap warga negara
Indonesia yang memenuhi syarat sebagai pencari pekerja yang akan
bekerja ke luar negeri dan terdaftar di dinas pemerintah
Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan.
19. Tenaga Kerja Indonesia (TKI) adalah setiap warga negara Indonesia
yang memenuhi syarat bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja
untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah.
20. Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS)
adalah badan hukum yang telah memperoleh ijin tertulis dari
menteri untuk menyelenggarakan pelayanan penempatan tenaga
kerja Indonesia di luar negeri.
21. Informasi Pasar Kerja (IPK) adalah keterangan
karakteristik kebutuhan dan persediaan tenaga kerja.

mengenai

22. Bursa Kerja adalah tempat pelayanan kegiatan penempatan tenaga


kerja
23. Bursa Kerja On line (BKOL) adalah sistem pelayanan kegiatan
penempatan tenaga kerja melalui pemanfaatan sistem jaringan
internet.

Pedoman Umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela

24. Indikator Kinerja adalah ukuran kuantitatif dan/atau kualitatif yang


menggambarkan tingkat capaian suatu sasaran atau tujuan dari
kegiatan pendayagunaan TKS.
25. Pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan
kekuatan atau posisi tawar masyarakat agar mampu mengambil
keputusan untuk dirinya serta ikut menentukan dan mempengaruhi
pengambilan keputusan yang dilakukan pihak lain yang berpengaruh
terhadap dirinya.

Pedoman Umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela

BAB II
PROFIL KEGIATAN PENDAYAGUNAAN
TENAGA KERJA SUKARELA
A. Konsep Kegiatan
Kegiatan Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela (TKS) bukanlah
kegiatan baru di Kementerian Ketenagakerjaan. Sejak tahun 1968
kegiatan ini sudah berjalan dibawah koordinasi suatu badan lintas
kementerian yang bernama Badan Urusan Tenaga Sukarela Indonesia
(BUTSI). Namun seiring dengan perkembangan waktu, kegiatan ini
mengalami pasang surut perubahan, mulai dari perubahan nomenklatur
nama kegiatan dan pola kegiatan. Bahkan, kegiatan ini pernah
mengalami masa vakum hingga akhirnya pada tahun 2010 dijalankan
kembali.
Kegiatan Pendayagunaan TKS bertujuan untuk mengurangi
pengangguran, baik pengangguran sarjana yang didayagunakan menjadi
Tenaga Kerja Sukarela maupun masyarakat penganggur/kelompok
usaha yang didampingi selaku peserta kegiatan perluasan kesempatan
kerja (Padat Karya Produktif, Terapan Tekonologi Tepat Guna, Tenaga
Kerja Mandiri dan kegiatan produktif lainnya) yang didampingi TKS.
Selain itu, Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela pada hakekatnya
juga merupakan ajang pemagangan/praktek kerja lapangan yang
diharapkan dapat menambah wawasan dan pengalaman baru bagi TKS
dan dapat menginspirasi pengembangan karier TKS selanjutnya.
Dengan demikian, ada dua keuntungan yang diharapkan dari
kegiatan Pendayagunaan TKS. Pertama, berkurangnya pengangguran
sarjana. Kedua, berkembangnya usaha kelompok masyarakat yang
didampingi oleh TKS.
B. Tugas Pendampingan
Fokus tugas pendampingan TKS, terbagi menjadi dua, yaitu (1)
pendampingan dibidang perluasan kesempatan kerja dan (2)
pendampingan dibidang penempatan tenaga kerja.

Pedoman Umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela

1. Bidang Perluasan Kesempatan Kerja (PKK)


Kegiatan perluasan kesempatan kerja bertujuan untuk mengupayakan
tersedianya kesempatan kerja sektor informal bagi para pencari kerja melalui
pembentukan kelompok usaha mandiri dengan memanfaatkan potensi lokal
yang tersedia. Kegiatan ini berbentuk :
- Pengembangan Padat Karya
Penyediaan lapangan pekerjaan kepada penganggur yang bersifat sementara
(crash for work) berbasis tenaga kerja (tenaga manusia) dalam bentuk kegiatan
infrastruktur maupun produktif.
- Terapan Teknologi Tepat Guna
Proses kegiatan alih teknologi sederhana untuk mengolah bahan baku menjadi
bahan jadi sehingga memberikan nilai tambah, memperluas kesempatan kerja
dan menyerap tenaga kerja.
- Tenaga Kerja Mandiri
Pemberdayaan masyarakat penganggur, setengah penganggur dan
pencari kerja melalui pelatihan dan bantuan sarana usaha sebagai
stimulasi kegiatan kewirausahaan.
Bentuk pendampingan : Pendampingan Kelompok Usaha Masyarakat
(KUM)
2. Bidang Penempatan Tenaga Kerja
Fokus kegiatan penempatan tenaga kerja adalah memfasilitasi pelayanan
dibidang penempatan tenaga kerja, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Kegiatan tersebut dijalankan dengan memperhatikan aspek minat, bakat dan
keterampilan para pencari kerja. Sedangkan mekanisme yang digunakan melalui
sistem antar kerja dan pemanfaatan Bursa Kerja.
Bentuk pendampingan : Pendamping Calon TKI, Pendamping Perantaraan Kerja
dan Operator Bursa Kerja On Line.

C. Prinsip-Prinsip Dasar Pendampingan Masyarakat


Pelaksanaan Pendayagunaan TKS mengacu pada prinsip/dasar etik
yang harus dipatuhi oleh semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan
kegiatan. Menurut Sumpeno (2007), Prinsip-prinsip pemberdayaan
masyarakat, antara lain :
1.

Tidak ditujukan untuk mencari keuntungan pribadi


Kegiatan pendampingan terlepas sama sekali dari maksud-maksud
untuk memperoleh keuntungan pribadi atau lembaga, baik dalam
bentuk materi atau yang dapat dikategorikan atau dihargai secara
materi ataupun dalam bentuk lain;
8

Pedoman Umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela

2.

Memberi manfaat bagi orang lain dan TKS itu sendiri


Kegiatan pendampingan yang dijalankan TKS memberikan manfaat
atau menghasilkan suatu perubahan yang lebih baik dari keadaan
sebelumnya, baik yang dapat dilihat atau dirasakan secara materi
maupun non materi;

3.

Dilaksanakan atas kemauan sendiri secara bebas


Keputusan untuk melakukan kegiatan tanpa tekanan atau bujukan
dari pihak lain maupun dari perasaan sendiri terhadap kewajiban
sosialnya;

4.

Tidak boleh mengancam pekerjaan orang lain


Meskipun didasarkan pada rasa kesukarelaan, akan tetapi kegiatan
tersebut tidak boleh mengancam kelangsungan pekerjaan
seseorang atau beberapa orang dimana mereka memperoleh
penghidupan;

5.

Anti diskriminasi
Pelaksanaan kegiatan sukarela didasarkan pada paham kesamaan
dan kesetaraan semua manusia meskipun berbeda latar belakang,
seperti agama, ras, budaya, pandangan politik dan lain-lain;

6.

Non partisan (independent)


Tidak terikat dengan kepentingan politik manapun, sehingga bisa
lebih mandiri dan kreatif serta terbebas dari tekanan pihak lain;

7.

Tidak boleh menggantikan pekerjaan pekerja yang sedang mogok


Kegiatan TKS juga tidak boleh dilaksanakan untuk menggantikan
kedudukan pekerja yang sedang melangsungkan pemogokan untuk
menuntut hak-hak mereka;

8.

Pengembangan bersifat terpadu (integrated development) yang


meliputi aspek sosial, ekonomi, politik, budaya, lingkungan dan
personal/spiritual dalam satu kesatuan;

9.

Menjunjung tinggi hak asasi secara proporsional (Human Right),


melindungi hak dasar masyarakat untuk berpendapat, berserikat
dan berkreasi secara bertanggung jawab;

10. Berkelanjutan (sustainability), kegiatan berorientasi pada


keberlangsungan generasi mendatang dengan meminimalisir
penggunaan sumber daya yang tidak dapat diperbaharui dan
menjaga kelestarian alam;

Pedoman Umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela

11. Pemberdayaan (empowerment), yaitu menyediakan sumberdaya,


kesempatan, pengetahuan, keterampilan serta meningkatkan
kemampuan binaan untuk menentukan masa depannya ketika
berpartisipasi dalam masyarakat;
12. Kepemilikan masyarakat (community ownership), yaitu pemberian
kewenangan kepada masyarakat untuk mengelola sumber daya
dengan segenap aturan mainnya dengan cara memberikan akses
dan kontrol terhadap proses pengambilan keputusan;
13. Kemandirian (self-reliance)
Mengutamakan penggalian dan pemanfaatan sumber daya internal
masyarakat, seperti keuangan, teknis, sumber daya alam, dan
sumber daya manusia;
14. Tujuan Praktis dan strategis (Immediate goals and ultimate
visions), yakni mengupayakan tercapainya tujuan jangka pendek
tanpa mengabaikan tujuan jangka panjang yang strategis;
15. Pengembangan organik (organic development)
Pemberdayaan masyarakat diibaratkan seperti mengurus tanaman
(yang kompleks), bukan seperti mesin (yang simple);
16. Berangkat dari yang dibutuhkan masyarakat (the pace of
development)
Masyarakat yang mengkontrol dan memimpin proses, sedangkan
pendamping hanya melayani dan memfasilitasi. Dalam proses ini
diperlukan waktu lebih banyak;
17. Membangun Masyarakat (community building) yang dilakukan
dengan cara memperkuat interaksi sosial dalam masyarakat,
membangun kebersamaan masyarakat, komunikasi yang efektif
satu dengan yang lain, menghasilkan dialog yang alami dan saling
memahami serta aksi sosial;
18. Proses dan keluaran (process and outcome), dalam artian adanya
keseimbangan antara proses dan keluaran. Proses harus dalam
konteks menghasilkan keluaran yang diharapkan, dan keluaran
harus diproses dengan benar;
19. Integritas Proses (the integrity of process)
Untuk mencapai keluaran yang baik, maka diperlukan proses yang
baik, yaitu proses yang muncul dari gagasan masyarakat. Proses
harus sejalan dengan keluaran yang akan dicapai yaitu keadilan

10

Pedoman Umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela

sosial dan kelestarian lingkungan. Proses tersebut harus tulus, tidak


manipulatif, tidak berliku-liku, juga tidak konfrontatif;
20. Tanpa kekerasan (non violence)
Kekerasan tidak hanya diartikan secara fisik, tapi bisa juga berupa
struktur sosial dan pembinaan yang menindas. Pendekatan yang
digunakan hendaknya mengutamakan persetujuan, kerjasama,
serta menghindari konfrontrasi;
21. Inklusif (Inclusiveness)
Membangun dialog dan meningkatkan saling pengertian, selalu
mengevaluasi diri, tidak mengklaim diri sebagai yang paling benar
dan bijaksana, selalu mau belajar dari orang lain terutama dari
orang yang berfikir beda dari kita, serta selalu berprasangka baik
pada orang lain;
22. Konsensus (Concensus)
Penyelesaian masalah tanpa kekerasan. Inkusifitas hanya bisa
dicapai melalui konsensus, bukan manufer menang-kalah.

11

Pedoman Umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela

BAB III
PERSYARATAN, PERAN DAN TUGAS
TENAGA KERJA SUKARELA
A. Persyaratan Calon Peserta Kegiatan Pendayagunaan TKS
Peserta kegiatan Pendayagunaan TKS adalah para pemuda-sarjana
yang mempunyai minat dan motivasi menjadi pendamping/fasilitator
masyarakat dan memenuhi persyaratan kompetensi tertentu.
Persyaratan peserta kegiatan Pendayagunaan TKS diatur lebih lanjut
dalam Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Pendayagunaan TKS.
B. Peran dan Tugas TKS
Peran TKS dalam pendampingan kelompok usaha masyarakat,
sebagai berikut:
1. Motivator
Memotivasi masyarakat penganggur untuk melakukan usaha
produktif, baik disektor formal maupun informal.
2. Fasilitator
Memfasilitasi kelompok dampingan (Kelompok Usaha Masyarakat)
untuk mendapatkan akses pengembangan usaha yang dibutuhkan
dan memfasilitasi pencari kerja yang ingin memperoleh informasi
lowongan pekerjaan.
3. Mediator
Mempertemukan kelompok dampingan (Kelompok Usaha
Masyarakat) dengan mitra pendukung, seperti SKPD/instansi
pemerintah lainnya, perbankan dan kelompok profesi serta
mempertemukan pencari kerja dengan pengguna tenaga kerja.
4. Inovator
Merumuskan ide-ide baru untuk pengembangan usaha kelompok
dampingan (Kelompok Usaha Masyarakat) dan proses
pendampingan pencari kerja.
Sedangkan tugas pendampingan TKS terbagi menjadi dua, yaitu (1)
tugas pendampingan dibidang perluasan kesempatan kerja sebagai
tugas utama dan (2) tugas pendampingan dibidang penempatan tenaga
kerja sebagai tugas tambahan. Proporsi perbandingan antara
pelaksanaan tugas utama dan tugas tambahan sebesar 70:30.

12

Pedoman Umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela

Tugas utama TKS meliputi pendampingan kelompok usaha


masyarakat yang menjadi kegiatan padat karya Produktif, Terapan
Teknologi Tepat Guna, kegiatan Tenaga Kerja Mandiri (kewirausahaan)
dan kegiatan produktif lainnya yang sumber dana kegiatannya berasal
dari APBN maupun APBD.
Sedangkan tugas tambahan meliputi pendampingan dibidang
penempatan tenaga kerja, seperti pendamping Calon Tenaga Kerja
Indonesia (CTKI), pendamping perantaraan kerja dan operator Bursa
Kerja On Line (BKOL).

Pendamping
Kelompok Usaha
Masyarakat
Pada program2 TTG,
Padat Karya atau
usaha2 produktif
lainnya dengan dana
APBN atau APBD
(TUGAS UTAMA)

Program TKS

Pendamping
calon TKI

Pendamping

Penggerak
Perantaraan kerja

Operator
BKOL

Deskripsi Tugas TKS :


1. Tugas Utama : Pendamping Kelompok Usaha Masyarakat
Memfasilitasi kelompok masyarakat peserta kegiatan padat karya,
terapan teknologi tepat guna, tenaga kerja mandiri
(kewirausahaan) serta usaha produktif lainnya.
2. Tugas Pendukung :
a.

Pendamping Calon Tenaga Kerja Indonesia (CTKI)


Memberikan pelayanan dan pendampingan kepada calon TKI
yang akan bekerja ke luar negeri. Bentuk pelayanan berupa
penyuluhan, konsultasi, pencatatan, pendataan dan pelaporan
berkala.

13

Pedoman Umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela

b. Pendamping Perantaraan Kerja;


Membantu
Pejabat
Fungsional
Pengantar
Kerja
menghubungkan pencari kerja (pencaker) dengan pemberi
kerja kerja sesuai dengan minat, bakat dan kompetensi
pencaker dengan persyaratan kompetensi yang diminta oleh
pemberi kerja (perusahaan).
c.

Operator Bursa Kerja On Line (BKOL)


Membantu petugas Disnaker Kabupaten/Kota menyediakan
data dan informasi lowongan pekerjaan secara online kepada
pencari kerja.

C. Hak dan Kewajiban TKS


Hak dan kewajiban TKS harus diatur dalam perjanjian tugas TKS. Hakhak TKS, meliputi hak mengikuti pembekalan/orientasi, mendapatkan
pembinaan, mendapatkan biaya hidup, dana operasional, mendapatkan
seragam tugas dan asuransi. Pemenuhan hak-hak TKS ini dimaksudkan
untuk mendukung pelaksanaan tugas TKS seoptimal mungkin.
Sedangkan kewajiban TKS terkait erat dengan komitmen ketaatan
TKS terhadap norma atau aturan-aturan, baik yang dirumuskan oleh
pelaksana kegiatan maupun norma-norma yang berlaku dalam
masyarakat.

14

Pedoman Umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela

BAB IV
ORGANISASI PELAKSANA
Dalam rangka mendukung pelaksanaan kegiatan Pendayagunaan TKS
yang optimal, maka diperlukan tenaga pelaksana yang mampu menjalankan
kegiatan secara baik. Kegiatan dilaksanakan secara bersinergi, melibatkan
berbagai unsur pelaksana, yaitu Kementerian Ketenagakerjaan (Direktorat
Pengembangan dan Perluasan Kesempatan Kerja) dan SKPD/Dinas yang
membidangi
urusan
ketenagakerjaan
ditingkat
Provinsi
dan
Kabupaten/Kota. Selain itu, adapula mitra-mitra kerja lainnya di tingkat
pusat maupun di daerah yang membantu pelaksanaan kegiatan
pendayagunaan TKS.
ORGANISASI PELAKSANA

DITJEN PEMBINAAN PENEMPATAN TENAGA KERJA

TIM PEMBINA
TK. PUSAT

DIT. PKKPTKSI

TIM PELAKSANA
TK. PROPINSI

DISNAKER
PROPINSI

TIM PELAKSANA
TK KAB/KOTA

DISNAKER
KAB/KOTA

Garis Pelaporan.
Garis Instruksi
Garis Koordinasi

A. Direktorat Pengembangan dan Perluasan Kesempatan Kerja


Direktorat Pengembangan Perluasan Kesempatan Kerja bertugas
menyiapkan konsep kegiatan, anggaran, pedoman, sosialisasi kegiatan
ke daerah, sistem pembinaan, monitoring dan evaluasi serta pelaporan.

15

Pedoman Umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela

B. Dinas Tenaga Kerja Provinsi


Dinas Tenaga Kerja Provinsi berperan dalam proses perencanaan
kegiatan, pemetaan lokasi dan penetapan kuota penugasan TKS,
sosialisasi kegiatan ke daerah, rekrutmen dan seleksi, bimbingan dan
pelatihan TKS, penugasan TKS, pembinaan TKS, monitoring dan evaluasi,
serta pelaporan kegiatan. Dalam Pelaksanaan tugas ini, Disnaker
Provinsi berkoordinasi dengan Disnaker Kabupaten/Kota.
C. Dinas Tenaga Kerja Kabupaten/Kota
Dinas Tenaga Kerja Kabupaten/Kota berperan penting dalam proses
sosialisasi kegiatan, rekrutmen calon TKS, penugasan TKS, pembinaan,
monitoring dan evaluasi serta pelaporan kegiatan.
D. Mitra Kerja
Selain organisasi pelaksana diatas, kegiatan Pendayagunaan TKS juga
didukung oleh mitra-mitra kerja lainnya. Hal ini berangkat dari
kesadaran bahwa upaya penanggulangan pengangguran dan kemiskinan
tidak bisa dijalankan sendiri-sendiri (parsial), akan tetapi menjadi
tanggung jawab bersama.
Oleh karena itu, diperlukan koordinasi dan sinergi dengan berbagai
pihak terkait lainnya, seperti Kementerian, Dinas/SKPD Pemda, BUMN,
BUMD, swasta, perbankan, Lembaga Swadaya Masyarakat (NGO),
lembaga pelatihan SDM, lembaga pemberdayaan masyarakat, dsb.

16

Pedoman Umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela

BAB V
TAHAPAN PELAKSANAAN KEGIATAN
Kegiatan pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela (TKS) dijalankan secara
terencana dan terukur, mengacu pada tahapan pelaksanaan yang meliputi
perencanaan kegiatan, sosialisasi, rekrutmen dan seleksi TKS,
orientasi/pembekalan TKS, penugasan TKS, pembinaan, monitoring dan
evaluasi serta pelaporan.
A. Tahap Perencanaan
Perencanaan kegiatan TKS berfokus pada pemetaan lokasi
penugasan TKS dan penetapan kuota TKS di setiap lokasi. Pemetaan
lokasi penugasan TKS mengacu pada data lokasi pelaksanaan kegiatan
perluasan kesempatan kerja, seperti Padat Karya Produktif, Terapan
Teknologi Tepat Guna, Tenaga Kerja Mandiri (Kewirausahaan), baik yang
dilaksanakan oleh pemerintah pusat (APBN) maupun pemerintah
daerah. Data hasil pemetaan wilayah secara lengkap memuat lokasi
serta identitas kelompok usaha masyarakat yang membutuhkan
pendampingan.
Hasil pemetaan ini selanjutnya digunakan sebagai dasar penetapan
lokasi dan kuota penugasan TKS di setiap Kabupaten/Kota.
B. Tahap Sosialisasi
Setelah menetapkan wilayah penugasan TKS, Pelaksana Pusat
mensosialisasikan kegiatan TKS kepada Pelaksana Daerah (Disnaker
Provinsi dan Kabupaten/Kota). Sosialisasi bertujuan untuk
menyampaikan berbagai informasi kegiatan sehingga ada kesamaan
pandangan dan tercipta koordinasi antar pelaksana kegiatan dalam
mengimplementasikan kegiatan Pendayagunaan TKS di lapangan.
Pelaksana Daerah meneruskan informasi kegiatan kepada
masyarakat sebagai bagian dari proses rekrutmen calon peserta
kegiatan.
C. Tahap Rekrutmen dan Seleksi
Rekrutmen dan seleksi bertujuan memilih peserta yang memenuhi
persyaratan/kriteria. Untuk memastikan bahwa proses rekrut dan
seleksi berjalan sistematis, transparan, jujur dan adil, maka para
pelaksana kegiatan harus membuat sistem rekrutmen dan seleksi yang
terorganisir dengan baik.

17

Pedoman Umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela

Aturan seleksi memuat keterangan lengkap mengenai mekanisme


rekrutmen dan seleksi, tempat pendaftaran, tempat seleksi, materi
seleksi, dsb. Selain itu, aturan rekrutmen dan seleksi juga mengatur
persyaratan calon TKS yang meliputi : persyaratan fisik, persyaratan
kompetensi, karakter serta data administrasi pendukung.
Persyaratan fisik mencakup usia dan kesehatan. Sedangkan
persyaratan
kompetensi
meliputi
persyaratan
pendidikan,
keterampilan, pengetahuan serta sikap kerja. Kemudian persyaratan
karakter berkaitan dengan temperamen, perilaku dan etos kerja.
Pemenuhan persyaratan administrasi dibuktikan dengan surat
keterangan atau dokumen yang otentik, misalnya KTP sebagai bukti
domisili/kependudukan, ijazah kelulusan sebagai bukti pendidikan, surat
keterangan dokter sebagai bukti keterangan sehat jasmani, dsb.
Pelaksanaan tes yang berkaitan dengan pendalaman karakter dan
kompetensi, sebaiknya melibatkan biro psikologi sehingga hasil seleksi
bisa dipertanggungjawabkan secara profesional kepada semua pihak.
Hasil akhir proses rekrutmen dan seleksi bermuara pada penetapan
nama-nama calon yang dinyatakan lulus sebagai Tenaga Kerja Sukarela.
D. Tahap Pembekalan
Para peserta yang telah ditetapkan lulus seleksi wajib mengikuti
pembekalan (orientasi). Pembekalan bertujuan untuk memberi arahan
kepada TKS untuk mempersiapkan sikap mental mereka menjelang
pelaksanaan tugas pendampingan.
Materi pengajaran dalam kegiatan pembekalan disesuaikan dengan
kurikulum, meliputi :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Kebijakan ketenagakerjaan, seperti kebijakan perluasan


kesempatan kerja, penempatan tenaga kerja dalam dan luar negeri
dan pengembangan pasar kerja;
Kepemimpinan dan manajemen organisasi;
Pendampingan masyarakat;
Perencanaan kegiatan masyarakat (Participatory Rural Appraisal)
dan teknik menyusun desain manajemen kegiatan (Logical
Framework Appraisal);
Pembentukan jejaring kemitraan;
Kewirausahaan Sosial;
Pendampingan kelompok usaha kecil;
Manajemen usaha mikro;

18

Pedoman Umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela

9.
10.
11.
12.
13.
E.

Mekanisme pengajuan kredit usaha mikro, dana CSR ;


Pengurusan badan usaha dan izin usaha;
Teknik negosiasi;
Rintisan usaha mandiri (starting bussines);
Pelaporan keuangan.

Tahap Penugasan
Setelah mengikuti pembekalan, para TKS melaksanakan tugas
pendampingan ke lokasi-lokasi penugasan yang telah ditetapkan. Dalam
pelaksanaan tugas pendampingan, TKS memerlukan kelengkapan
pendukung, seperti surat perintah penugasan (SPT), perjanjian tugas,
pendaftaran asuransi, tanda pengenal dan lain-lain.
Dalam pelaksanaan tugas, TKS tidak dibebankan tugas-tugas yang
terkait dengan administrasi perkantoran, melainkan lebih menekankan
pada pelaksanaan tugas pendampingan di lapangan. Hal ini
mempertimbangkan bahwa tujuan utama kegiatan Pendayagunaan TKS,
yaitu (1) membantu pengembangan kelompok usaha dampingan TKS
dan (2) pengembangan keterampilan/kompetensi TKS sendiri.
Jangka waktu penugasan TKS selama satu tahun/periode sesuai
alokasi anggaran yang tersedia. Masa tugas TKS dapat diperpanjang satu
tahun/periode berikutnya sesuai dengan persyaratan-persyaratan
tertentu. Namun demikian, perpanjangan masa tugas TKS maksimum
hanya dapat dilakukan sebanyak satu kali perpanjangan. Kebijakan ini
dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada penganggur
sarjana yang berminat mengikuti kegiatan TKS.

F. Tahap Pembinaan
Pembinaan pada hakekatnya merupakan bimbingan berkelanjutan
dari pelaksana kegiatan kepada TKS untuk mendukung kelancaran tugas
TKS serta memberikan solusi ketika TKS menghadapi persoalan dalam
pelaksanaan tugas.
Bentuk pembinaan dapat berupa konsultasi, pelibatan TKS dalam
pelatihan, pemberian rekomendasi dan upaya-upaya lain yang bisa
menghubungkan TKS dan kelompok dampingannya dengan lembaga
mitra.
Tujuan akhir pembinaan bermuara pada peningkatan kompetensi
TKS sehingga pasca penugasan, mereka bisa melakukan perencanaan
karier secara mandiri.

19

Pedoman Umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela

G. Monitoring dan Evaluasi (MONEV)


Monitoring adalah pemantauan berkala atas kegiatan yang sedang
atau sudah berjalan untuk mengetahui hasil atau perkembangan kegiatan
di lapangan.
Sedangkan evaluasi adalah upaya untuk mengkaji dan mengukur
capaian kinerja, perkembangan, dampak atau manfaat dari kegiatan
pendayagunaan TKS berdasarkan indikator capaian kinerja yang telah
ditetapkan.
Melalui monev, maka dapat diketahui berbagai informasi penting
terkait dengan hasil atau realitas pelaksanaan kegiatan, dampak atau
manfaat kegiatan, faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan atau
kegagalan kegiatan, permasalahan atau hambatan yang dihadapi serta
usulan solusi untuk penyelesaian suatu permasalahan. Informasiinformasi ini berguna sebagai acuan dalam penyusunan rencana kegiatan
pada tahun berikutnya.
Monev dapat dilaksanakan dalam berbagai bentuk, misalnya
kunjungan lapangan, wawancara TKS dan kelompoknya, dan pertemuanpertemuan rutin yang melibatkan stake holder, seperti perwakilan TKS,
Pelaksana Kegiatan dan kelompok dampingan.
H. Pelaporan
Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan
Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah mewajibkan setiap entitas
instansi pemerintah mempertanggungjawabkan hasil pelaksanaan
tugasnya melalui suatu pelaporan yang mencakup laporan pelaksanaan
kegiatan dan realisasi anggaran. Begitu pun dengan pelaksanaan kegiatan
Pendayagunaan TKS.
Untuk mendukung hal tersebut diatas, maka semua pihak yang
terlibat dalam kegiatan Pendayagunaan TKS, mulai dari TKS, Pelaksana
Kabupaten/Kota dan Provinsi hingga Direktorat Pengembangan dan
Perluasan Kesempatan Kerja wajib menyampaikan laporan hasil kegiatan.
Laporan-laporan tersebut dihimpun oleh Direktorat Pengembangan dan
Perluasan Kesempatan Kerja menjadi Laporan Paripurna Pendayagunaan
TKS dan menjadi sumber dalam penyusunan Pelaporan Keuangan dan
Kinerja Instansi Pemerintah.

20

Pedoman Umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela

BAB VI
KEGIATAN PENDUKUNG
Dalam rangka menunjang kegiatan Pendayagunaan TKS, maka diperlukan
beberapa kegiatan pendukung yang bersinergi dengan kegiatan
Pendayagunaan TKS. Namun karena sifatnya sebagai pendukung, maka
prioritas pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut disesuaikan dengan
ketersediaan anggaran dan urgensi pengembangan kegiatan TKS. Kegiatankegiatan pendukung tersebut, meliputi :
A. Penyusunan Pedoman Pelaksanaan Kegiatan
Pedoman-pedoman dibutuhkan sebagai sumber panduan pelaksanaan
kegiatan Pendayagunaan TKS. Pedoman-pedoman tersebut, meliputi
Pedoman Umum dan Petunjuk Pelaksanaan Pendayagunaan TKS,
Pedoman Rekrut dan Seleksi TKS, Pedoman Monitoring dan Evaluasi,
Manual Pendampingan TKS serta panduan-panduan lain yang
dibutuhkan.
B. Temu Konsultasi Pelaksana Kegiatan
Temu konsultasi pelaksana kegiatan TKS merupakan forum konsultasi
antara Pelaksana Pusat dan Pelaksana Daerah dalam rangka
mempersiapkan kegiatan Pendayagunaan TKS.
C. Temu Evaluasi Pelaksana Kegiatan
Kegiatan temu evaluasi merupakan forum evaluasi bersama antara
Pelaksana Kegiatan Pusat dan Daerah untuk membahas dan mengukur
hasil capaian kegiatan TKS. Hal-hal yang dibahas dalam temu evaluasi
meliputi analisis hasil kegiatan, permasalahan yang dihadapi TKS dalam
pelaksanaan tugasnya dan solusi yang diupayakan, serta pencanangan
target kinerja kedepan. Rekomendasi hasil temu evaluasi menjadi
masukan dalam perencanaan kegiatan selanjutnya.
D. Temu Lapang TKS
Pelaksanaan kegiatan Temu Lapang TKS melibatkan para TKS yang
"berkinerja baik" mewakili tiap-tiap provinsi. Kegiatan ini bertujuan
untuk menghimpun informasi pelaksanaan tugas pendampingan TKS di
lapangan. Informasi-informasi tersebut nantinya menjadi bahan
masukan untuk pengembangan kegiatan Pendayagunaan TKS
selanjutnya.

21

Pedoman Umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela

E.

Penguatan Jejaring Kemitraan


Untuk memperkuat kegiatan pendampingan TKS, maka diperlukan
penguatan jejaring kemitraan dengan pihak lain sehingga terjadi sinergi
kegiatan yang positif. Penguatan jejaring kemitraan diwujudkan melalui
pengembangan kerjasama kelembagaan dengan instansi/lembaga
pemerintah dan non pemerintah, seperti: lembaga profesi, Lembaga
Swadaya Masyarakat (NGO), lembaga pelatihan, perbankan dan lainlain. Bentuk kerjasama kelembagaan dapat berupa pelatihan,
pembinaan, penguatan manajemen usaha, pemasaran dsb.

F.

Pemberian penghargaan
Pemberian penghargaan kepada TKS dan pelaksana kegiatan yang
berkinerja baik diperlukan untuk memotivasi TKS dan Pelaksana
Kegiatan sehingga dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan kegiatan
Pendayagunaan TKS di daerah masing-masing.

22

Pedoman Umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela

BAB VII
PENUTUP
Demikian pedoman umum Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela ini
disusun. Semoga pedoman umum ini dapat bermanfaat sebagai acuan
pelaksanaan kegiatan Pendayagunaan Tenaga Kerja Sukarela.

23