Anda di halaman 1dari 16

A-PDF WORD TO PDF DEMO: Purchase from www.A-PDF.

com to remove the watermark

Pangeran Diponegoro

Potret Pangeran Diponegoro (1835)

Pangeran Diponegoro (Yogyakarta, 11 November 1785 - Makassar, 8 Januari


1855) adalah salah seorang pahlawan nasional Republik Indonesia. Makamnya
berada di Makassar.

Asal-usul Diponegoro

Diponegoro adalah putra sulung Hamengkubuwana III, seorang raja Mataram di


Yogyakarta. Lahir pada tanggal 11 November 1785 di Yogyakarta dari seorang
garwa ampeyan (selir) bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan
(istri non permaisuri) yang berasal dari Pacitan. Pangeran Diponegoro bernama
asli Raden Mas Ontowiryo.

Menyadari kedudukannya sebagai putra seorang selir, Diponegoro menolak


keinginan ayahnya, Sultan Hamengkubuwana III untuk mengangkatnya menjadi
raja. Beliau menolak mengingat ibunya bukanlah permaisuri. Mempunyai 3 orang
istri, yaitu: Bendara Raden Ayu Antawirya, Raden Ayu Ratnaningsih, & Raden Ayu
Ratnaningrum.

Diponegoro lebih tertarik pada kehidupan keagamaan dan merakyat sehingga ia


lebih suka tinggal di Tegalrejo tempat tinggal eyang buyut putrinya, permaisuri
dari HB I Ratu Ageng Tegalrejo daripada di keraton. Pemberontakannya terhadap
keraton dimulai sejak kepemimpinan Hamengkubuwana V (1822) dimana
Diponegoro menjadi salah satu anggota perwalian yang mendampingi
Hamengkubuwana V yang baru berusia 3 tahun, sedangkan pemerintahan sehari-
hari dipegang oleh Patih Danurejo bersama Residen Belanda

Ditahun 1820-an kompeni Belanda sudah memasuki dan mencampuri urusan


kerajaan-kerajaan Yogyakarta. Peraturan tata tertib dibuat oleh pemerintah
Belanda yang sangat merendahkan martabat raja-raja Jawa. Para bangsawan diadu
domba. Tanah-tanah kerajaan banyak yang diambil untuk perkebunan milik
pengusaha-pengusaha Belanda.

Melihat kondisi seperti itu, Pangeran Diponegoro merasa tidak senang, lalu
meninggalkan keraton dan menetap di Tegalrejo. Lucunya Belanda menuduhnya
menyiapkan pemberontakan. Tanggal 20 Juni 1825 pasukan Belanda menyerang
Tegalrejo dan dengan demikian mulailah perang yang dikenal dengan nama
Perang Diponegoro (1825 - 1830).
2

Setelah Tegalrejo jatuh, Pangeran Diponegoro membangung pusat pertahanan di


Selarong. Lalu perang dilancarkan secara gerilya. Belanda kewalahan karena sulit
dihancurkan dan Belanda mengalami kesulitan.

Riwayat Perjuangan

Perang Diponegoro berawal ketika pihak Belanda memasang patok di tanah milik
Diponegoro di desa Tegalrejo. Saat itu, beliau memang sudah muak dengan
kelakuan Belanda yang tidak menghargai adat istiadat setempat dan sangat
mengeksploitasi rakyat dengan pembebanan pajak.

Sikap Diponegoro yang menentang Belanda secara terbuka, mendapat simpati dan
dukungan rakyat. Atas saran Pangeran Mangkubumi, pamannya, Diponegoro
menyingkir dari Tegalrejo, dan membuat markas di sebuah goa yang bernama
Goa Selarong. Saat itu, Diponegoro menyatakan bahwa perlawanannya adalah
perang sabil, perlawanan menghadapi kaum kafir. Semangat "perang sabil" yang
dikobarkan Diponegoro membawa pengaruh luas hingga ke wilayah Pacitan dan
Kedu. Salah seorang tokoh agama di Surakarta, Kyai Maja, ikut bergabung dengan
pasukan Diponegoro di Goa Selarong. Selama perang ini kerugian pihak Belanda
tidak kurang dari 15.000 tentara dan 20 juta gulden.

Berbagai cara terus diupayakan Belanda untuk menangkap Diponegoro. Bahkan


sayembara pun dipergunaan. Hadiah 50.000 Gulden diberikan kepada siapa saja
yang bisa menangkap Diponegoro. Sampai akhirnya Diponegoro ditangkap pada
1830.

Penangkapan dan pengasingan

16 Februari 1830 Pangeran Diponegoro dan Kolonel Cleerens bertemu di Remo


Kamal, Bagelen, Purworejo. Cleerens mengusulkan agar Kanjeng Pangeran dan
pengikutnya berdiam dulu di Menoreh sambil menunggu kedatangan Letnan
Gubernur Jenderal Markus de Kock dari Batavia.

Lukisan Persitiwa Pengkapan Pangeran Diponegoro oleh VOC


3

28 Maret 1830 Diponegoro menemui Jenderal de Kock di Magelang. De Kock


memaksa mengadakan perundingan dan mendesak Diponegoro agar
menghentikan perang. Permintaan itu ditolak Diponegoro. Tetapi Belanda telah
menyiapkan penyergapan dengan teliti. Hari itu juga Diponegoro ditangkap dan
diasingkan ke Ungaran, kemudian dibawa ke Gedung Karesidenan Semarang, dan
langsung ke Batavia menggunakan kapal Pollux pada 5 April 1830.

11 April 1830 sampai di Batavia dan ditawan di Stadhuis (sekarang gedung


Museum Fatahillah). Sambil menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur
Jenderal Van den Bosch.

30 April 1830 keputusan pun keluar. Pangeran Diponegoro, Raden Ayu


Retnaningsih, Tumenggung Diposono dan istri, serta para pengikut lainnya seperti
Mertoleksono, Banteng Wereng, dan Nyai Sotaruno akan dibuang ke Manado.

3 Mei 1830 Diponegoro dan rombongan diberangkatkan dengan kapal Pollux ke


Manado dan ditawan di benteng Amsterdam.

1834 dipindahkan ke benteng Rotterdam di Makassar, Sulawesi Selatan.

8 Januari 1855 Diponegoro wafat di benteng Rotterdam Ujungpandang dan


dimakamkan di kampung Jawa Makassar.

Dalam perjuangannya, Pangeran Diponegoro dibantu oleh puteranya bernama


Bagus Singlon atau Ki Sodewo. Ki Sodewo melakukan peperangan di wilayah Kulon
Progo dan Bagelen.

Ki Sodewo memiliki ibu bernama Citrowati yang meninggal dalam penyerbuan


Belanda. Ki Sodewo kecil atau Bagus Singlon tumbuh dalam asuhan Ki Tembi,
orang kepercayaan Pangeran Diponegoro. Bagus Singlon atau Raden Mas Singlon
atau Ki Sodewo setelah remaja menyusul ayahnya di medan pertempuran. Sampai
saat ini keturunan Ki Sodewo masih tetap eksis dan salah satunya menjadi wakil
Bupati di Kulon Progo bernama Drs. R. H. Mulyono. Setidaknya Pangeran
Diponegoro mempunyai 17 putra dan 5 orang putri, yang semuanya kini hidup
tersebar di seluruh Indonesia, termasuk Jawa, Sulawesi & Maluku
Perang Diponegoro
Perang Diponegoro (Inggris:The Java War, Belanda: De Java Oorlog), adalah
perang besar dan menyeluruh berlangsung selama lima tahun (1825-1830) yang
terjadi di Jawa, Hindia Belanda (sekarang Indonesia), antara pasukan penjajah
Belanda di bawah pimpinan Jendral De Kock[1] melawan penduduk pribumi yang
dipimpin seorang pangeran Yogyakarta bernama Pangeran Diponegoro. Dalam
perang ini telah berjatuhan korban yang tidak sedikit. Baik korban harta maupun
jiwa. Dokumen-dokumen Belanda yang dikutip para ahli sejarah, disebutkan
bahwa sekitar 200.000 jiwa rakyat yang terenggut. Sementara itu di pihak serdadu
Belanda, korban tewas berjumlah 8.000.

Perang Diponegoro merupakan salah satu pertempuran terbesar yang pernah


dialami oleh Belanda selama menjajah Nusantara. Peperangan ini melibatkan
seluruh wilayah Jawa, maka disebutlah perang ini sebagai Perang Jawa.

Latar belakang

Setelah kekalahannya dalam Perang Napoleon di Eropa, pemerintah Belanda yang


berada dalam kesulitan ekonomi berusaha menutup kekosongan kas mereka
dengan memberlakukan berbagai pajak di wilayah jajahannya, termasuk di Hindia
Belanda. Selain itu, mereka juga melakukan monopoli usaha dan perdagangan
untuk memaksimalkan keuntungan. Pajak-pajak dan praktek monopoli tersebut
amat mencekik rakyat Indonesia yang ketika itu sudah sangat menderita.

Untuk semakin memperkuat kekuasaan dan perekonomiannya, Belanda mulai


berusaha menguasai kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, salah satu di antaranya
adalah Kerajaan Yogyakarta. Ketika Sultan Hamengku Buwono IV wafat,
kemenakannya, Sultan Hamengku Buwono V yang baru berusia 3 tahun, diangkat
menjadi penguasa. Akan tetapi pada prakteknya, pemerintahan kerajaan
dilaksanakan oleh Patih Danuredjo, seseorang yang mudah dipengaruhi dan
tunduk kepada Belanda. Belanda dianggap mengangkat seseorang yang tidak
sesuai dengan pilihan/adat keraton.

Pada pertengahan bulan Mei 1825, pemerintah Belanda yang awalnya


memerintahkan pembangunan jalan dari Yogyakarta ke Magelang lewat Muntilan,
mengubah rencananya dan membelokan jalan itu melewati Tegalrejo. Rupanya di
salah satu sektor, Belanda tepat melintasi makam dari leluhur Pangeran
Diponegoro. Hal inilah yang membuat Pangeran Diponegoro marah luar biasa, dan
memutuskan untuk mengangkat senjata melawan Belanda. Beliau kemudian
memerintahkan bawahannya untuk mencabut patok-patok yang melewati makam
tersebut.

Belanda yang mempunyai alasan untuk menangkap Pangeran Diponegoro karena


dinilai telah memberontak, pada 20 Juli 1825 mengepung kediaman beliau.
Terdesak, Pangeran beserta keluarga dan pasukannya menyelamatkan diri
menuju barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo, dan meneruskan ke
arah selatan hingga tiba di Goa Selarong yang terletak lima kilometer arah barat
dari Kota Bantul. Sementara itu, Belanda —yang tidak berhasil menangkap
Pangeran Diponegoro— membakar habis kediaman Pangeran.
2

Pangeran Diponegoro kemudian menjadikan Goa Selarong, sebuah goa yang


terletak di Dusun Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul, sebagai basisnya.
Pangeran menempati goa sebelah Barat yang disebut Goa Kakung, yang juga
menjadi tempat pertapaan beliau. Sedangkan Raden Ayu Retnaningsih (selir yang
paling setia menemani Pangeran setelah dua istrinya wafat) dan pengiringnya
menempati Goa Putri di sebelah Timur.

Setelah penyerangan itu, dimulailah sebuah perang besar yang akan berlangsung
5 tahun lamanya. Di bawah kepemimpinan Diponegoro, rakyat pribumi bersatu
dalam semangat "Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati"; sejari kepala
sejengkal tanah dibela sampai mati. Selama perang, sebanyak 15 dari 19 pangeran
bergabung dengan Diponegoro. Perjuangan Diponegoro dibantu Kyai Maja yang
juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan.

Jalannya perang

Peta Mataram Baru setelah Perang Diponegoro pada tahun 1830

Pertempuran terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan infantri, kavaleri dan


artileri —yang sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan dalam
pertempuran frontal— di kedua belah pihak berlangsung dengan sengit. Front
pertempuran terjadi di puluhan kota dan desa di seluruh Jawa. Pertempuran
berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu wilayah dapat dikuasai
pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu sudah direbut
kembali oleh pasukan pribumi; begitu pula sebaliknya. Jalur-jalur Iogistik
dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan perang.
Berpuluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan dan dasar jurang. Produksi mesiu
dan peluru berlangsung terus sementara peperangan berkencamuk. Para telik
sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan informasi yang
diperlukan untuk menyusun stategi perang. Informasi mengenai kekuatan musuh,
jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah hujan menjadi berita utama; karena
taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi.
3

Serangan-serangan besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-bulan


penghujan; para senopati menyadari sekali untuk bekerjasama dengan alam
sebagai "senjata" tak terkalahkan. Bila musim penghujan tiba, gubernur Belanda
akan melakukan usaha usaha untuk gencatan senjata dan berunding, karena hujan
tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat. Penyakit malaria,
disentri, dan sebagainya merupakan "musuh yang tak tampak" melemahkan moral
dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka. Ketika gencatan
senjata terjadi, Belanda akan mengkonsolidasikan pasukan dan menyebarkan
mata-mata dan provokator mereka bergerak di desa dan kota; menghasut,
memecah belah dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan
pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang dibawah komando pangeran
Diponegoro. Namun pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang
melawan Belanda.

Pada puncak peperangan, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu;
suatu hal yang belum pernah terjadi ketika itu dimana suatu wilayah yang tidak
terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur dijaga oleh puluhan ribu
serdadu. Dari sudut kemiliteran, ini adalah perang pertama yang melibatkan
semua metode yang dikenal dalam sebuah perang modern. Baik metode perang
terbuka (open warfare), maupun metoda perang gerilya (geurilia warfare) yang
dilaksanakan melalui taktik hit and run dan penghadangan. ini bukan sebuah tribal
war atau perang suku. Tapi suatu perang modern yang memanfaatkan berbagai
siasat yang saat itu belum pernah dipraktekkan. perang ini juga dilengkapi
dengan taktik perang urat syaraf (psy-war) melalui insinuasi dan tekanan-tekanan
serta provokasi oleh pihak Belanda terhadap mereka yang terlibat langsung dalam
pertempuran; dan kegiatan telik sandi (spionase) dimana kedua belah pihak saling
memata-matai dan mencari informasi mengenai kekuatan dan kelemahan
lawannya.

Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan


menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun
1829, Kyai Maja, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap. Menyusul
kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasya
menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De
Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. Di sana, Pangeran
Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota
laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke
Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng
Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.

Berakhirnya Perang Jawa yang merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa.


Perang Jawa ini banyak memakan korban dipihak pemerintah Hindia sebanyak
8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000 orang Jawa.
Sehingga setelah perang ini jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya.
Perang Diponegoro dan Perang Padri

Di sisi lain, sebenarnya Belanda sedang menghadapi Perang Padri di Sumatera


Barat. Penyebab Perang Paderi adalah perselisihan antara Kaum Padri (alim
ulama) dengan Kaum Adat (orang adat) yang mempermasalahkan soal agama
Islam, ajaran-ajaran agama, mabuk-mabukan, judi, maternalisme dan paternalisme.
4

Saat inilah Belanda masuk dan mencoba mengambil kesempatan. Namun pada
akhirnya Belanda harus melawan baik kaum adat dan kaum paderi, yang
belakangan bersatu. Perang Paderi berlangsung dalam dua babak : babak I antara
1821-1825, dan babak II.

Untuk menghadapi Perang Diponegoro, Belanda terpaksa menarik pasukan yang


dipakai perang di Sumatera Barat untuk menghadapi Pangeran Diponegoro yang
bergerilya dengan gigih. Sebuah gencatan senjata disepakati pada tahun 1825,
dan sebagian besar pasukan dari Sumatera Barat dialihkan ke Jawa. Namun,
setelah Perang Diponegoro berakhir (1830), kertas perjanjian gencatan senjata itu
disobek, dan terjadilah Perang Padri babak kedua. Pada tahun 1837 pemimpin
Perang Paderi, Tuanku Imam Bonjol akhirnya menyerah. Berakhirlah Perang Padri.

Perang Jawa Britania-Belanda

Perang Jawa Britania-Belanda pada 1810-1811 adalah sebuah perang antara


Britania Raya dan Belanda yang terjadi seluruhnya di pulau Jawa di Indonesia.

Gubernur-Jendral Hindia-Belanda, Herman Willem Daendels (1762-1818),


memperkuat pulau Jawa terhadap kemungkinan adanya serangan Inggris. Pada
1810 sebuah ekspedisi Perusahaan Hindia Timur Britania yang kuat di bawah
Gilbert Elliot, gubernur-jendral India, merebut pulau Bourbon (Réunion) dan
Mauritius milik Perancis di Samudra Hindia dan pulau Ambon dan Maluku milik
Hindia-Belanda. Setelah itu rombongannya menuju Jawa dan kemudian merebut
kota pelabuhan Batavia (Jakarta) pada Agustus 1811, dan memaksa pihak Belanda
menyerah di Semarang pada 17 September 1811. Jawa, Palembang, Makassar dan
Timor diserahkan kepada pihak Britania.

Letnan Gubernur Jawa yang dilantik, Thomas Stamford Raffles (1781-1826)


mengakhiri metode pemerintahan Belanda, membebaskan sistem kepemilikan
tanah, dan memperluas perdagangan. Pada Kongres Wina 1815, diputuskan bahwa
Britania harus mengembalikan Jawa dan kekuasaan Hindia-Belanda lainnya
kepada Belanda sebagai bagian dari persetujuan yang mengakhiri Perang
Napoleon.

Melaka misalnya, dikembalikan kepada Belanda pada 1818, tetapi terpaksa oleh
Belanda harus diserahkan kembali kepada Britania pada 1824 pada Perjanjian
London (Traktat London). Kala itu diputuskan bahwa Belanda harus menyerahkan
semua wilayahnya di Semenanjung Melayu pada Britania dan Britania
menyerahkan semua wilayahnya di Sumatra pada Belanda
Daerah Istimewa Yogyakarta
Termashur karena Kepahlawanannya
Pemerintah RI yang baru saja berdiri, merasakan betapa beratnya tugas-tugas
yang harus dihadapi. Pemindahan kekuasaan dan lain-lain yang dalam Naskah
Proklamasi disebutkan :
“ akan diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-
singkatnya “
ternyata merupakan tugas yang sangat berat dan berbahaya, karena berarti harus
merebut kekuasaan dari kaum penjajah.
Sesudah kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, ternyata kaum penjajah tidak
mau mengakui kedaulatan RI, bahkan berusaha untuk menggagalkannya dengan
melancarkan serangan-serangan. Jakarta sebagai Ibukota negara diserang oleh
tentara sekutu dan berhasil mendudukinya, sehingga penyelenggaraan
pemerintahan RI tidak mungkin lagi dilaksanakan di Jakarta.
Menghadapi situasi seperti ini diputuskan untuk memindahkan pemerintahan ke
daerah yang lebih aman. Yogyakarta terpilih sebagai Ibukota Negara dalam masa
perang mempertahankan kemerdekaan itu, dengan pertimbangan kota ini
dipandang sebagai kota pedalaman yang relatif lebih aman dari serangan tentara
sekutu. Selain itu Daerah Istimewa Yogyakarta sudah memiliki tradisi
pemerintahan daerah yang tertib, teratur, sudah berjalan baik secara
berkesinambungan sejak zaman penjajahan Jepang sampai dengan zaman
republik. Dengan demikian diharapkan Yogyakarta dapat menjamin stabilitas
pemerintahan RI.
Maka sejak tanggal 4 Januari 1945, Yogyakarta menjadi Ibukota negara RI.
Presiden Soekarno selama lebih dari satu bulan di Puro Pakualaman, sambil
menunggu perbaikan Gedung Negara ( Gedung Agung sekarang) yang rusak
akibat perang waktu itu. Suasan cukup tenteram dan pemerintahan RI berjalan
baik. Sri Sultan Hamengku Buwono sendiri menyanggupi untuk menjaga keamanan
dan keselamatan Pemerintahan RI dengan segala kemampuan yang ada.
Di Yogyakarta, pemerintah RI mulai membangun Angkatan Udara, membentuk
Kepolisian Negara dan mencetak Uang RI untuk yang pertama kalinya.
Pada bulan September 1948, PKI melakukan pemberontakan di Madiun dan
mengkhianati cita-cita proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, dalam situasi
yang belum sepenuhnya terkendali akibat pemberontakan ini, Belanda
memanfaatkan untuk secara tiba-tiba menyerang Yogyakarta pada tanggal 19
Desember 1948, sehingga berhasil menguasai Ibukota Negara (Yogyakarta).
Menhadapi serangan ini, muncul semboyan “ alon-alon waton kelakon “ yang
bukan berarti bekerja santai, akan tetapi memiliki makna filsafati yang sangat
dalam yaitu “ perjuangan dilaksanakan dengan penuh perhitungan “ perjuangan
tidak boleh dilakukan dengan gegabah atau hanya bermodalkan berani saja.
Karena keterbatasan-keterbatasan yang ada maka perjuangan harus dilakukan
alon-alon, tidak terburu-buru atau tergesa-gesa tanpa perhitungan, tetapi pasti
berhasil (kelakon) bahkan kalau perlu berani menempuh jalan panjang.
2

Oleh karena itulah, taktik perjuangan yang dipergunakan Panglima Besar jenderal
Soedirman, pemimpin tentara Indonesia dalam menghadapi Belanda adalah “
manunggal dengan rakyat “ membaur dengan mereka dalam melaksanakan
perang gerilya melawan penjajah. Pada waktu itu dicanangkan suatu bentuk
peperangan inkonvensional, yaitu perang yang tidak mengenal medan
pertempuran dan tidak mengenal garis demarkasi. Perang melawan penjajah
merupakan perang dalam segala bidang dan dengan segala cara. Itulah pola
pemikiran luas TNI yang tidak terbatas kepada kemiliterannya saja. Konsep
perang inkonvensional ini kemudian dikenal sebagai Perang Rakyat Semesta.

Ketika kaum tentara dan laskar-laskar rakyat memasuki desa-desa dalam rangka
melaksanakan perang gerilya tersebut, ternyata rakyat menyambutnya dengan
penuh semangat dan memberikan bantuan sepenuhnya kepada kaum pejuang.
Markas-markas pertahanan segera disiapkan, keperluan perjuangan seperti
makan dan dapur umum didirikan oleh kaum ibu, regu-regu palang merah
dibentuk dan lain sebagainya. Semangat dan pengorbanan rakyat yang diberikan
kepada kaum pejuang untuk menghadapi penjajah sehari setelah serangan
belanda ke Yogyakarta, telah mengilhami ditetapkannya tanggal 20 Desember
1948 sebagai Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional, sebagai wujud penghargaan
kita terhadap pengorbanan dan kekompakan perjuangan rakyat melawan kaum
penjajah yang muncul sesaat setelah kota Yogyakarta diduduki balanda.

Sementara itu, para pemimpin republik menempuh jalan lain, mereka tidak
mengikuti perang gerilya, karena para pemimpin waktu itu adalah kaum politisi
yang sejak masa mudanya berjuang melalui kegiatan politik, menulis disurat
kabar, berpidato di depan rakyat, menghimpun perkumpulan-perkumpulan dan
melaksanakan pergerakan politik serta mendirikan partai-partai politik yang
bertindak sebagai oposisi terhadap pemerintah penjajah dan aksi non kooperatif
lainnya, sehingga berhasil memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Walaupun
banyak dari mereka harus keluar masuk penjara atau dibuang ke Tanah Merah
atau keluar negeri.Oleh karena mereka tidak memiliki kemampuan yang cukup
untuk memegang senjata, maka jalan yang ditempuh adalah diplomasi.

Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh. Hatta, Perdana Mentri Syahrir dan
banyak Mentri yang lain memutuskan untuk melimpahkan kekuasaan pemerintah
RI kepada sebuah Pemerintahan Darurat RI di Sumatra Barat Mr. Safruddin
Prawiranegara, Mentri Kemakmuran yang saat itu sedang berada di Bukit Tinggi,
mendapat perintah untuk memimpin Pemerintahan Darurat RI di Sumatra Barat.
Sedangkan Mr. AA. Maramis (Mentri Keuangan), LN. Palar dan Dr. Sudarsono yang
waktu itu sedang berada di India diberi tugas untuk mempersiapkan diri apabila
sewaktu-waktu diperlukan membentuk Pemerintahan RI di pengasingan yaitu
apabila Mr. Sarifuddin Prawiranegara tidak berhasil melaksanakan tugasnya.

Setelah taktik militer dan taktik diplomasi diatur, Presiden, Wakil Presiden dan
beberapa mentri yang berda di Yogyakarta tetep berada di Istana Kepresidenan,
tanpa dikawal oleh tentara dan juga tidak mempersenjatai diri. Hal ini
dimaksudkan agar apabila tentara Belanda menangkap para pemimpin RI, mereka
tidak akan diperlakukan sebagai tawanan perang tetapi sebagai tawanan politik
yang dilindungi oleh hukum internasional. Memang semua akhirnya terjadi. Para
pemimpin RI Ditawan Belanda dan dibuang ke Sumatra.
3

Dengan kedua taktik ini, maka tentara pendudukan Belanda di Yogyakarta tidak
langsung medapatkan perlawanan dari tentara Indonesia. Inipun berarti, harapan
tentara Belanda, yakni terjadinya perang terbuka yang dapat memaksa tentara
Indonesia menyerah kalah, juga tidak terwujud. Dalam penyerangan Ke Istana
Kepresidenan, Belanda tidak memperoleh apa yang diinginkan karena para
pemimpin republik yang berada di Yogyakarta ternyata sudah tidak memiliki
kekuasan lagi karena telah dilimpahkan kekuasaan kepada Mr. Sarifuddin
Prawiranegara. Sementara itu, setiap malam tentara pendudukan Belanda
mendapat gangguan dari para pejuang yang merlaksanakan taktik gerilya, dengan
melakukan penculikan-penculikan, aksi sabotase, bumi hangus dan sebagainya.
Seiring dengan perjuangan tersebut, di forum politik internasional, RI tetap aktif
dan terus mengembangkan opini dunia.

Menghadapi situasi seperti ini, tentara pendudukan Belanda berusaha mensekati


Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan mengajak bekerjasama. Namun sejak awal Sri
Sultan Hamengku Buwono IX memperlihatka sikap anti Belanda dan menunjukan
kekuasaannya sebagai Sultan. Tentara pendudukan tidak mampu mengatasi sikap
keras Sri Sultan Hamengku Buwono IX, bahkan akhirnya mengakui kekuasaan Sri
Sultan Hamengku Buwono IX dan menyatakan Keraton Yogyakarta, Pura
Pakualaman dan Kepatihan sebagi kawasan bebas (immum). Situasi seperti itu
sesuai dengan ramalan Jangka Jayabaya yang menyatakan, bahwa negara mung
kari sak megaring payung, yaitu hanya tinggal seluas keraton Yogyakarta. Namun
dari keraton inilah, perjuangan selanjutnya dapat dilaksanakan termasuk
persiapan Serangan Umum dan akhirnya mampu menopang perjuangan diplomasi
RI di PBB. Akhirnya Dewan Keamanan PBB memutuskan penarikan tentara
pendudukan Belanda dari Yogyakarta, yang pelaksanaannya diawasi oleh sebuah
komisi khusus dari PBB (UNCI), sedangkan pengendalian keaamanan oleh pihak RI
dilaksanakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Peristiwa mundurnya tentara
pendudukan Belanda ini dikenal sebagai peristiwa Jogja Kembali.

Setelah Konperensi Meja Bundar di Denhaag. Pemerintah kerajaan Belanda


mengakui kedaulatan RI, dengan Syarat Negara RI harus meninggalkan bentuk
Kesatuannya dan berubah bentuk menjadi Federasi, dengan alasan bahwa wilayah
RI sudah terpecah belah.

Tanggal 27 Desember 1949 Republik Indonesia Serikat di bentuk dan Ir. Soekarno
diangkat menjadi Presiden RIS. Daerah-daerah berdiri sendiri sebagai suatu
daerah atau negara bagian RIS. Ada yang menamakan diri negara Indonesia
Timur, Negara Sumatra Timur, Distrik Federal Jakarta, Daerah Jawa Tengah,
Daerah Istimewa Kalimantan Barat dan lain-lain. Yogyakarta tetap sebagai negara
RI dan menjadi negara bagian RIS. Mr. Assaat ditunjuk sebagai pemangku jabatan
Presiden RI di Yogyakarta setelah Ir. Soekarno diangkat menjadi Presiden RIS.
Maka secara Nasional Yogyakarta merupakan B umi Mataramyang tetap menjadi
bagian Republik Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar 1945.
SOEDIRMAN
SANG GURU YANG JADI PANGLIMA
Tanggal 5 Oktober selalu kita peringati sebagai Hari Angkatan Bersenjata. Pada
tanggal itu, tahun 1945, semua Badan Perjuangan dilebur menjadi Tentara Keamanan
Rakyat (TKR). Sebulan kemudian, ketika berbagai TKR daerah disatukan menjadi
Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI), Kolonel Soedirman dari Divisi V TKR
Banyumas dipilih menjadi panglimanya.

Ia terpilih karena terkenal sebagai komandan tentara yang bijak dan bersikap
kebapakan. Sikap ini sudah ditunjukkan jauh sebelum ia menjadi tentara. Setamat
pendidikan guru di HIK Mohammadiyah Solo tahun 1934, ia menjadi Kepala SD
Mohammadiyah di Cilacap, sebelum Jepang menyerbu Indonesia. Sebagai kepala
sekolah, ia bersikap terbuka, mau mendengarkan pendapat orang lain, dan selalu
siap memberi jalan pemecahan terhadap setiap masalah yang timbul di kalangan
para guru. Majalah Forum Keadilan edisi 9 Januari 2000 menyebutkan ia menjadi
tenaga pengajar di sekolah menengah Mohammadiyah Cilacap, di mana ia juga
aktif di organisasi Kepanduan Islam Hisbul Wathon.

Sudah sejak belia keteguhan hati Soedirman terpancar. Suatu malam di tengah
dinginnya udara malam pegunungan Dieng, sekelompok pemuda Kepanduan
Hisbul Wathon sedang berkemah. Karena udara terlampau menusuk tulang,
banyak rekan Soedirman yang meninggalkan perkemahan. Tetapi sebagai
pemimpin kepanduan, Soedirman bertahan sampai pagi.

Dari guru ke jenderal

Karier militernya diawali ketika ia mengikuti latihan perwira tentara Pembela


Tanah Air (PETA) di Bogor. Selesai mengikuti latihan, ia diangkat menjadi
Daidancho (Komandan Daidan, setara Batalyon) di Banyumas.

Beberapa bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, pasukan


Inggris mendarat di Indonesia atas nama Sekutu. Mereka bertugas mengurus
tawanan perang yang disekap Jepang, dan melucuti senjata tentara Jepang yang
sudah kalah perang. Di berbagai daerah, mereka yang sedang menunggu
diangkut pulang ke Jepang itu diminta menyerahkan senjatanya kepada tentara
Indonesia. Tetapi ada yang tidak rela menyerahkan senjata inventaris negara
mereka. Permintaan lalu berubah menjadi perebutan dengan paksa, hingga
menelan banyak korban di kedua belah pihak.

Berbeda dengan Banyumas. Tak ada pertumpahan darah dalam proses


penyerahan senjata. Itu berkat kearifan mantan Daidanco Soedirman dalam
berunding. Ia juga memberikan jaminan perlindungan kepada bekas tentara
Jepang.

"Para komandan TKR berbagai daerah yang hadir dalam rapat pimpinan di Markas
Tinggi Tentara Keamanan Rakyat di Yogyakarta, kebanyakan dari Jawa Tengah,"
tulis Abdul Haris Nasution dalam "Tjatatan-tjatatan Sekitar Politik Militer di
Indonesia" (Intisari Juni 1964).
2

"Dari Jawa Timur hanya beberapa, karena sebagian besar sedang bertempur
mempertahankan wilayah melawan Belanda. Dari Jawa Barat sebagian besar tidak
dapat hadir, sedangkan dari Sumatra hanya hadir seorang kolonel yang mewakili
enam divisi TKR."

Tapi bukan karena dominasi komandan TKR dari Jawa itu Pak Dirman terpilih
dengan suara terbanyak. Di kalangan para perwira tentara, Pak Dirman memang
mempunyai kelebihan: teguh hati, lemah lembut tutur katanya, dan bersikap
kebapakan mengayomi para bawahan. Meski relatif masih muda, baru 29 tahun, ia
pemimpin yang cepat mengambil keputusan mantap, lalu tegas bertindak.
Sebagian orang mengatakan Soedirman lahir 1912 di Bodaskarangjati, Rembang,
tetapi sumber lain menyebutkan ia lahir di Purbalingga, 7 Februari tahun yang
sama. Yang jelas prestasinya mempersatukan pelbagai laskar ke dalam tubuh
ketentaraan dipandang bukan prestasi sederhana.

Tak sudi dilecehkan

Sampai tanggal 12 November 1945, Pak Dirman memimpin Divisi V yang


wilayahnya meliputi karesidenan Banyumas dan Kedu. Kolonel yang baru saja
dipilih menjadi Panglima ini (tinggal menunggu pelantikan), pada tanggal 26
November 1945 menghadapi serbuan tentara Inggris yang diboncengi Belanda
dari Semarang.

Ia kemudian menyerang balik lawan yang ketika itu sudah menduduki Kota
Ambarawa. Para komandan sektor bawahannya diminta berkumpul di Magelang
untuk merundingkan siasat merebut Ambarawa.

Jalan antara Semarang - Ambarawa harus dikuasai sepenuhnya dengan sergapan


mendadak terhadap pasukan musuh yang mondar-mandir di antara kedua tempat
itu. Serangan umum ke Ambarawa pun dilakukan serentak di semua sektor,
menjelang fajar 12 Desember 1945. Komando penyerangan disampaikan dengan
isyarat tembakan pistol.

Sehari penuh, pertempuran berlangsung!

Baru pada hari keempat, 15 Desember, pasukan Indonesia berhasil merebut


Ambarawa. Hal itu tidak lepas dari koordinasi rapi antar komandan sektor, dan
siasat jitu rancangan Panglima Soedirman dari Magelang. Pertempuran itu
kemudian dikenal sebagai Palagan Ambarawa.

Keteguhan hati Jenderal Soedirman makin tampak ketika ia hendak menghadiri


perundingan gencatan senjata dengan Belanda. Minggu 20 Oktober 1946, bersama
Kepala Staf APRI, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo, dari Yogya ia bertolak ke
Jakarta menggunakan kereta api luar biasa (KLB). Apa lacur mendekati Jakarta, di
Stasiun Klender, KLB itu dihentikan oleh tentara Belanda. Mereka meminta agar
pengawal Panglima tidak membawa senjata, kalau ingin memasuki Jakarta.
"Aturan apa itu, pengawal panglima dilarang membawa senjata!" tegas Jenderal
Sudirman sebagai reaksi. "Tidak! Tidak bisa begitu! Ini pelanggaran kehormatan
panglima tentara negara yang berdaulat! Kita kembali ke Yogya saja!"
Perundingan gencatan senjata pun batal.
3

Blunder tentara Belanda di perbatasan kemudian buru-buru dikoreksi oleh


pemerintahnya. Melalui kawat kereta api, mereka meminta maaf atas insiden
konyol itu, yang disampaikan kepada Panglima di Stasiun Cirebon, ketika KLB
berhenti di sana. Panglima diharap berkenan ke Jakarta lagi beserta para
pengawalnya. Kali ini boleh membawa senjata!

Pak Dirman menolak. Perundingan gencatan senjata pun terpaksa tertunda


berhari-hari sampai tentara Inggris di Jakarta yang bertugas menyelenggarakan
gencatan senjata kebakaran jenggot.

Perundingan baru bisa dimulai November 1946, saat Jenderal Soedirman datang
ke Jakarta lagi. Kali ini ia dijemput seorang pembesar Inggris di perbatasan
Bekasi, karena mereka tidak mau kecolongan serdadu rendahan Belanda lagi.

Gencatan senjata itu menghasilkan Persetujuan Linggarjati. Walaupun persetujuan


itu sangat merugikan Indonesia, namun Tentara Rakyat Indonesia (TRI; nama baru
bagi TKR sejak 24 Januari 1946) sebagai unsur negara harus patuh. Panglima
Soedirman berhasil menenteramkan para komandan TRI daerah yang semula tidak
mau menerima Persetujuan Linggarjati.

Yogya diserang

Namun justru pihak Belanda sendiri yang melanggar Persetujuan Linggarjati itu,
dengan melancarkan agresi militer I bulan Juli 1947. Setelah merebut beberapa
ibukota karesidenan di pantai utara Jawa, mereka minta gencatan senjata lagi.
Hasilnya Persetujuan Renville, dilakukan di atas kapal perang Amerika Serikat
yang berlabuh di Tanjungpriok tanggal 2 Desember 1947.

Republik Indonesia dirugikan lagi. Kota-kota yang sudah direbut Belanda tidak
dikembalikan ke RI. Akibatnya, 35.000 personel Tentara Nasional Indonesia (TNI;
nama baru bagi TRI sejak 3 Juni 1947) harus dipindahkan dari kantung-kantung
pertahanan di Jawa Barat yang dikuasai Belanda. Divisi Siliwangi harus
meninggalkan Jawa Barat dan hijrah ke Yogya. Suatu hal yang tidak pernah bisa
dilakukan melalui perang oleh tentara Belanda.

Namun kehadiran Divisi Siliwangi di Yogya dan Solo malah mempertinggi daya
tempur tentara. Panglima Soedirman mengerahkan divisi itu (di bawah komando
Kolonel Abdul Haris Nasution) untuk menumpas pemberontakan PKI-Muso 18
September 1948.

Pemberontakan dapat ditumpas, Republik Indonesia tidak jadi berantakan.


Keberhasilan menumpas PKI ini rupanya membuat Amerika Serikat yakin bahwa
Indonesia antikomunis. Mereka mendesak Belanda agar segera mengakui RI
sebagai negara berdaulat. Tetapi desakan itu justru dibalas dengan agresi II ke
Yogya 18 Desember 1948.

"Menjelang fajar," tulis Vaandrig (pangkat bintara militer di bawah letnan dua)
Oetojo Kolopaking (Intisari Maret 1968), "beberapa pesawat Dakota hijau belang-
belang menderu bersama pesawat pemburu Mustang cocor merah di atas kota."
4

"Dalam keadaan yang mencekam itu, para perwira di rumah dinas Pak Dirman ke
luar untuk menilai medan, lalu kembali lagi mendekati Pak Dirman yang berdiri di
serambi depan. Mereka membisikkan sesuatu padanya dengan mendekatkan
kepala masing-masing, ke kepala Pak Dirman, seakan-akan khawatir kalau
bisikannya akan terdengar oleh serdadu Belanda dalam pesawat yang menderu-
deru."
Ongkos sendiri

"Waktu rasanya berjalan amat kencang," tulis Oetojo lagi, yang waktu itu bertugas
sebagai anggota regu pengawal Panglima di rumah dinas Pak Dirman di Bintaran
Tengah, Yogya.

"Ketika matahari sudah mulai menyengat, seorang kapten keluar dari rumah
membawa secarik kertas dari Pak Dirman ke pos jaga tempat saya bertugas. Saya
harus membacakan isinya, berupa tulisan tangan, kata demi kata lewat telepon di
rumah jaga ke RRI Yogya agar disiarkan ke seluruh negeri."

Isi pokoknya ialah perintah kilat kepada seluruh angkatan perang bahwa RI
diserang Belanda lewat lapangan terbang Maguwo. Semua anggota TNI harus
menjalankan tugas masing-masing sesuai rencana yang sudah ditetapkan.

Tidak lama kemudian, Ajudan Panglima, Kapten Soepardjo Roestam, diutus ke


Gedung Agung untuk menyampaikan kepada Presiden agar bersiap-siap
meninggalkan kota. Gedung Agung di Jalan Malioboro, di tengah kota, adalah
bekas kediaman Gubernur Belanda yang ditempati Presiden RI zaman perang
kemerdekaan. Tetapi, sampai siang hari, Kapten Soepardjo belum kembali.

Karena habis kesabarannya, Pak Dirman memutuskan untuk berangkat sendiri ke


Gedung Agung. Dalam keadaan sakit dan masih mengenakan piyama ditutup
mantel tentara warna hijau, dengan blangkon (ikat kepala) wulung (hitam), ia
hendak menemui Presiden Soekarno untuk mendapatkan keputusan, kebijakan
apa yang harus diambil dalam situasi gawat ini. Namun, setiba di Gedung Agung,
Pak Dirman tidak dapat segera bertemu dengan Presiden, karena harus menunggu
dimulainya sidang kabinet di ruang tamu.

Sementara itu, serangan udara Belanda makin gencar. Benteng Vredeburg di


depan Gedung Agung ditembaki dan dibom sampai salah satu bangunan yang
ditempati Kementerian Pertahanan hancur. Tetapi sidang kabinet belum juga
dimulai, karena menunggu kedatangan Wakil Presiden Mohamad Hatta dari
Kaliurang.

Pak Dirman merasa tidak berhasil menemui Presiden, dan minta kepada
pengawalnya agar diantar kembali ke rumah dinasnya. Sudah bulat tekadnya
untuk meninggalkan kota, dan mengatur siasat dari luar Yogya saja.

Pukul 11.30, Pak Dirman meninggalkan kota dengan mobil tentara bersama dr.
Soewondo (dokter pribadinya), Kapten Soepardjo Roestam, dan Kapten
Tjokropranolo (pengawal pribadinya). Sesuai rencana, mereka bertolak ke Kediri.
Dari kota itulah perlawanan akan diatur. Tentara Belanda waktu itu hanya
menguasai kota-kota besar di pantai utara. Daerah pantai selatan Jawa masih
dikuasai RI.
5

Berkali-kali terhindar dari maut

"Dengan dikawal pasukan kecil (tanpa bekal uang dari pemerintah), rombongan
Jenderal Soedirman tiba di Kediri tanggal 23 Desember 1948, setelah melalui
Grogol, Wonogiri, Jetis (Ponorogo), dan Bendo (Trenggalek)," tulis Pierre Heyboer
dalam buku De Politionele Acties. De strijd om Indie, 1945/1949.

"Dengan Kolonel Soengkono, Komandan Divisi I Jawa Timur, ia membicarakan


situasi militer dan rencana pertahanan melawan serbuan Belanda dengan perang
gerilya.

"Pada hari Natal pertama 1948, Jenderal meninggalkan Kota Kediri. Beberapa jam
kemudian, kota ini diserang dan diduduki tentara Belanda. Agaknya intel Belanda
memberi tahu atasannya bahwa Jenderal Soedirman berada di Kediri. Tetapi
ketika tentara Belanda dikerahkan masuk kota, Jenderal itu sudah berada di lereng
Gunung Wilis."

Usaha menghabisi Panglima terjadi lagi di desa Karangnongko (10 km barat Kota
Kediri). Ketika rombongan sedang beristirahat di desa itu, datanglah seseorang
tak dikenal mencari Jenderal Soedirman. Ini jelas mencurigakan! Orang tak
dikenal kok mencari Jenderal Panglima Angkatan Perang.

Karena curiga, Pak Dirman dan Kolonel Bambang Soepeno meninggalkan rumah
penginapan pada pukul 05.00, dan masuk ke dalam hutan dengan berjalan kaki.

Setelah fajar menyingsing, Letnan Heru Keser, pengawal yang masih tinggal di
rumah penginapan, disuruh Kapten Soepardjo agar mengenakan iket wulung dan
mantel yang selalu dipakai Panglima. Sosok tubuhnya sama dengan Pak Dirman.
Kemudian dengan disaksikan orang banyak, "Pak Dirman" yang ini ditandu ke luar
rumah menuju Selatan, dan berhenti di sebuah rumah untuk menginap. Kemudian
dengan diam-diam Letnan Heru Keser, sudah berganti pakaian, meninggalkan
rumah itu bersama Kapten Soepardjo.

Sorenya, rumah itu diserang habis-habisan oleh tiga pesawat pemburu Belanda
yang memuntahkan peluru senapan mesinnya secara bergantian!

Percobaan pembunuhan masih terjadi dua kali lagi. Pertama di Sedayu, sebelah
barat G. Wilis. Pengawalnya bertempur dengan patroli Belanda yang berangkat
dari Ponorogo tanggal 17 Januari 1949. Dukuh Sedayu digeledah. Rumah-rumah
penduduk dimasuki untuk dicari Jenderal Soedirmannya. Padahal Pak Dirman
bersembunyi di semak-semak dalam hutan rotan.

Empat hari kemudian, hutan itu dikepung. Namun, malam hari sebelumnya, Pak
Dirman sudah meloloskan diri dalam gelapnya malam gulita, dipapah oleh dua
orang pengawal.

Tak berhasil dengan sergapan ini, tentara Belanda mencoba sekali lagi, dengan
menerjunkan pasukan payung di sekitar Wonogiri. Tetapi sekali lagi, Pak Dirman
lolos, karena sudah berada di Dukuh Sobo, + 80 km timur Wonosari.
6

Selamat berkali-kali lolos dari lubang jarum maut itu tidak lepas dari kewaspadaan
Kapten Tjokropranolo dan Kapten Soepardjo. Ditambah ketajaman daya analisis
informasi lapangan Pak Dirman sendiri dan kecepatannya bertindak, membuat
Belanda selalu ketinggalan kereta.

Tanggal 31 Maret 1949, rombongan Panglima tiba di rumah Kebayan Karsosemito


di Dukuh Sobo. "Dukuh ini tidak pernah dikenal orang, dari dulu sampai
sekarang," tulis Tjokropranolo. "Tetapi tempat itu paling ideal untuk memimpin
perang gerilya. Di dukuh itulah Panglima menetap paling lama, karena paling
aman dibanding dengan tempat lain."

Kurir dikirim ke berbagai daerah untuk menyampaikan perintah militer dan


mendapatkan berita perkembangan situasi di lapangan. Banyak sekali komandan
pasukan dan pejabat pemerintah dalam pengasingan yang meminta petunjuk, apa
yang harus dilakukan untuk menjalankan pemerintahan di daerah yang terpisah
dari Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) pimpinan Presiden Syafruddin
Prawiranegara di Sumatra. (Sesaat sebelum ditawan Belanda, Presiden Soekarno
memang telah menyerah-terimakan kekuasaan RI kepada Syafruddin
Prawiranegara.)

Pertikaian antarkomandan yang sering terjadi karena macam-macam sebab, juga


diselesaikan dari markas Sobo ini. Hanya dengan sepucuk surat yang
ditandatangani Panglima, pertikaian selesai. Para komandan diarahkan
perhatiannya ke tugas utama semula, mengatur pertahanan terhadap serbuan
musuh bersama, yaitu tentara Belanda, di wilayah masing-masing. Tidak saling
bertengkar!

Hari-hari terakhir

Tanggal 7 Mei 1949 ditandatangani pernyataan bersama Roem-Van Royen untuk


menyelesaikan konflik bersenjata di meja perundingan. Usai sudah perang antara
Republik Indonesia dan Belanda. Panglima Sudirman memasuki kota Yogya lagi
dari desa Ponjong tanggal 9 Juli 1949, setelah berfoto bersama dengan pembawa
tandu terakhir yang dipakai menyeberangi Kali Opak dekat Piyungan.

Pada tanggal 27 Desember 1949, pemerintah Belanda secara resmi menyerahkan


kedaulatan kepada Republik Indonesia. Sayang, Pak Dirman tidak dapat
menyaksikan hasil perjuangannya lebih lanjut. Kuman tuberkulosis yang semakin
menggerogoti paru-parunya selama ia berbulan-bulan masuk keluar hutan
akhirnya mengalahkan dia. Pada tanggal 29 Januari 1950 ia meninggal dunia di
Rumah Peristirahatan Tentara Badakan, Magelang. Pahlawan Kemerdekaan
Nasional ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta. (Slamet
Soeseno)

Ditulis ulang oleh Haryono


Ketua Harian Mabigus Smda 01. 129/130 Panembahan Senopati masa bhakti 2007 - 2010