Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
Pada dasarnya perceraian itu adalah hal yang di bolehkan tetapi hal
tersebut adalah hal yang dibenci olah Allah SWT. Maka dari itu ,
sebisa mungkin manusia menghindari perceraian tersebut. Tetapi
apbaila sudan terlanjur bercerai, maka haruslah kita
berpikirkembali tentang apa yang sudah diputuskan karena suami
mempunyai hak, yaitu hak merujuk kepada istri yang sudah
terlanjur di ceraikan.
Istilah “Rujuk” bayak sekali kita dengar atau kita ketahui, baik
melalui televisi maupun secara langsung atau juga pengalaman
orang tentang istilah tersebut. Akan tetapi “rujuk” ini sangatlah
menarik untuk kita bahas karena rujuk disini merupakan kajian
dari beberapa referensi.istilah “RuJuk” ialah kembalinya seorang
suami kepada istrinya yang di talak raj’I, tanpa melalui perkawinan
dalam masa ‘iddah. Ada pula para ulama mazhab berpendapat
dalam istilah kata ruju’ itu adalah menarik kembali wanita yang di
talak dan mempertahankan (ikatan) perkawinannya.
I. Latar Belakang Masalah
Para ulama muslim dalam membahas tentang rujuk
II. Rumusan Masalah
a. pengertian rujuk
b. hukum rujuk
c. rukun rujuk
d. rujuk dengan perbuatan

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Rujuk adalah mengembalikan istri yang telah ditalak pada
pernikahan yang asal sebelum diceraikan. Rujuk menurut bahasa
artinya kembali (mengembalikan). Adapun yang dimaksud rujuk
disini adalah mengembalikan status hukum perkawinan secara
penuh setelah terjadi talak raj’i yang dilakukan oleh mantan suami
terhadap mantan istrinya dalam masa iddahnya dengan ucapan
tertentu.
menurut bahasa Arab, kata ruju’ berasal dari kata raja’ a-yarji’ u-
rujk’an yang berarti kembali, dan mengembalikan. Sedangkan
secara terminology, ruju’ artinya kembalinya seorang suami
kepada istrinya yang di talak raj’I, tanpa melalui perkawinan dalam
masa ‘iddah. Ada pula para ulama mazhab berpendapat dalam
istilah kata ruju’ itu adalah menarik kembali wanita yang di talak
dan mempertahankan (ikatan) perkawinannya. Hukumnya,
menurut kesepakatan para ulama mazhab, adalah boleh. Menurut
para ulama mazhab ruju’ juga tidak membutuhkan wali, mas
kawin, dan juga tidak kesediaan istri yang ditalak..
Firman Allah SWT Artinya : “Wanita-wanita yang ditalak
handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru. Tidak boleh
mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam
rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan
suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika
mereka (para suami) menghendaki ishlah. Dan para wanita
mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut
cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu
tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana.” (QS Al Baqarah :228)
Dapat di rumuskan bahwa ruju’ ialah mengembalikan setatus
hokum perkawinan secara penuh setelah terjadinya talak raj’I yang
dilakukan oleh bekas suami terhadap bekas istrinya dalam masa
idddah, dengan ucapan tertentu.
Dengan terjadinya talak raj’I. maka kekuasaan bekas suami
terhadap istri menjadi berkurang, namun masih ada pertalian hak
dan kewajiban antara keduanya selama istri dalam masa iddahnya,
yaitu kewajiban menyediakan tempat tinggal serta jaminan nafkah,
dan sebagai imbangannya bekas suami memiliki hak prioritas
untuk meruju’ bekas istrinya itu dalam arti mengembalikannya
kepada kedudukannya sebagai istri secara penuh, dan pernyataan
ruju’ itu menjadi halal bekas suami mencampuri bekas istri yang
dimaksud, sebab dengan demikain setatus perkawinan mereka
kembali sebagai sedia kala.
Perceraian ada tiga cara, yaitu :
1. talaq bain qubra (talaq tiga).. Laki-laki tidak boleh rujuk lagi dan
tidak sah menikah lagi dengan bekas istrinya itu, keculi apbila si
istri sudah menukah dengan orang lain, sudah campur, sudah
diceraikan, sudah habis pula masa iddah, barulah suami pertama
boleh menikahinya lagi.
2. Talaq bain sughra (talaq tebus) dalam hal ini sumai tidak sah
rujuk lagi, tetapi bileh menikah lagi, baik dalam pada masa iddah
maupun sesuadah habis iddah.
3. Talaq satu atau talaq dua, dinamakan talaq raj’i. artinya si suami
boleh rujuk kembali kepada istrinya selama msih dalam masa
iddah.
B. Hukum Rujuk
a. Wajib khusus bagi laki-laki yang mempunyai istri lebih dari satu
jika salah seorang ditalak sebelum gilirannya disempurnakannya.
b. Haram apabila rujuk itu, istri akan lebih menderita.
c. Makruh kalau diteruskan bercerai akan lebih baik bagi suami
istri
d. Jaiz, hukum asal Rujuk.
e. Sunah jika rujuk akan membuat lebih baik dan manfaat bagi
suami istri

1. hukum ruju’ terhadap talak raj’I


kaum muslimin telah sepakat bahwa suami mempunyai hak
meruju; istrinya selama istrinya itu dalam masa iddah, dan tidak
atau tanpa pertimbangan seorang istri ataupun persetujuan seorang
istri. Sesuai dengan pengertian surat Al-Baqarah ayat 228 yang
berbunyi ”Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa
menanti itu.”
2. hukum ruju’ terhadap talak ba’in
talak ba’in kadang-kadang terjadi dengan bilangan talak kurang
dari tiga, dan ini terjadi pada istri yang belum digauli tanpa
diperselisihkan lagi, dan pada istri
yang menerima khulu’ dengan terdapat perbedaan pendapat
didalamnya. Hukum ruju’ setelah talak tersebut sama dengan nikah
baru.
Mazhab empat sepakat bahwa hukum wanita seperti itu sama
dengan wanita lain (bukan istri) yang untuk mengawinkannya
kembali disyaratkan adanya akad. Hanya saja dalam hal ini
selesainya ‘iddah tidak dianggap sebagai syarat.
a. talak ba’in karena talak tiga kali.
Mengenai istri yang ditalak tiga kali, para ulama mengatakan
bahwa ia tidak halal lagi bagi suaminya, kecuali si istri menikah
dengan orang lain, dengan syarat si istri sudah di tiduri oleh suami
tersebut. Dan pasangan suami istri tersebut bercerai. Kemudian
sang suami pertama merujuknya kembali dengan acara akad nikah
baru.
Sa’id Al-Musyyab berbeda sendiri pendapatnya dengan
mengatakan bahwa istri yang ditalak tiga kali boleh kembali
kepada suaminya yang pertama dengan akad nikah yang sama, ia
berpendapat bahwa nikah yang dimaksudkan adalah untuk semua
akad nikah.
b. nikah muhallil
dalam hal ini Fuqaha berselisih pendapat mengenai nikah muhallil.
Yakni jika seorang laki-laki mengawini seorang perempuan
dengan syarat (tujuan) untuk menghalalkannya bagi suami yang
pertama.
Menurut Imam Malik nikah tersebut sudah rusak, sedangkan
menurut imam Syafi’I dan Abu Hanifah perpendapat bahwa nikah
muhallil dibolehkan, dan niat untuk menikah itu tidak
mempengaruhi syahnya. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Daud
dan segolongan fuqaha. Mereka berpendapat bahwa pernikahan
tersebut menyebabkan kehalalan istri yang di ceraikan tiga kali.
3. perbedaan pendapat para ulama mazhab tentang terjadinya ruju’
melalui perbuatan.

a. Imam Syafi’i
Rujuk harus dilakukan dengan ucapan atau tulisan. Karena itu,
ruju’ tidak sah bila dilakukan dengan mencampurinya
sesungguhpun hal itu diniatkan sebagai ruju’. Suami haram
mencampurinya dalam ‘iddah. Kalau dia melakukan itu, ia harus
membayar mahar mitsil, sebab percampuran tersebut tergolong
pencampuran syubhat.
b. Imam Malik
Ruju’ boleh dilakukan melalui perbuatan yang di sertai dengan niat
untuk ruju’. Akan tetapi bila suami mencampuri istrinya tersebut
tanpa niat ruju’, maka wqnita tersebut tidak akan bias kembali
kepadanya. Namun percampuran tersebut tidak mengakibatkan
adanya hadd (hukuman) maupun keharusan membayar mahar.
Anak yang lahir dari perempuan dikaitkan nasabnya kepada laki-
laki yang mencampurinya itu. Wanita tersebut harus menyucikan
dirinya dengan haidh manakala dia tidak hamil.
c. Imam Hambali
Ruju’ hanya terjadi melalui percampuran begitu terjadinya
percampuran, maka ruju’ pun terjadi, sekalipun laki-laki tersebut
tidak berniat ruju’. Sedangkan bila tindakan itu bukan
percampuran, misalnya sentuhan ataupun ciuman yang disertai
birahi dan lain sebagainya, sama sekali tidak mengakibatkan
terjadinya ruju’
d. Imam Hanafi
Ruju’ bias terjadi melalui percampuran, sentuhan dan ciuman, dan
hal-hal sejenis itu, yang dilakukan oleh laki-laki yang menalak dan
wanita yang ditalaknya, dengan syarat semuanya itu disertai
dengan birahi. Ruju’ juga bisa terjadi melalui tindakan (perbuatan)
yang dilakukan oleh orang tidur, lupa, dipaksa, dan gila.. Misalnya
seorang laki-laki menalak istrinya, kemudian dia terserang
penyakit gila, lalu istrinya itu dicampurinya sebelum ia habis masa
iddahnya..

e. Imamiyah
Rujuk bisa terjadi melalui percampuran, berciuman dan
bersentuhan, yang disertai syahwat atau tidak dan lain sebagainya
yang tidak halal dilakukan kecuali oleh suami. Ruju’ tidak
membutuhkan pendahuluan berupa ucapan. Sebab, wanita tersebut
adalah istrinya, sepanjang dia masih dalam masa iddah. Dan
bahkan perbuatan tersebut tidak perlu disertai niat ruju’. Penyusun
kitab Al-Jawahir mengatakan, “barangkali tujuan pemutlakan nash
dan fakta tentang ruju’ adalah itu, bahkan ruju’ bisa terjadi melalui
perbuatan sekalipun disertai maksud tidak ruju;.” Sayyid Abu Al-
Hasan mengatakan dalam Al-Wasilahnya,”perbuatan tersebut
mengandung kemungkinan kuat sebagai ruju’, sekalipun
dimaksudkan bukan ruju;.” Tetapi. Bagi Imamiyah, tindakan
tersebut tidak dipandang berpengaruh manakala dilakukan oleh
orang yang tidur, lupa, dan mengalami syubhat, misalnya bila dia
mencampuri wanita tersebut karena menduga bahwa wanita
tersebut bukan istrinya yang dia talak.
C. Rukun Rujuk
1. Istri, syaratnya pernah dicampuri, talak raj’i, dan masih dalam
masa iddah, isteri yang tertentu yaitu kalau suami menalak
beberapa istrinya kemudian ia rujuk dengan salah seorang dari
mereka dengan tidak ditentukan siapa yang dirujukan-maka
rujuknya itu tidak sah.
2. Suami, syaratnya atas kehendak sendiri tidak dipaksa
3. Saksi yaitu dua orang laki-laki yang adil.
4. Sighat (lafal) rujuk ada dua, yaitu
1) terang-terangan , misalnya “Saya rujuk kepadamu”2) perkataan
sindiran, misalnya “Saya pegang engkau” atau “saya kawin
engkau” dan sebagainya, yaitu dengan kalimat yang boleh dipakai
untuk rujuk atau yng lainnya.

Rujuk dengan perbuatan (campur)


Perbedaan pendapat juga terjadi pada hokum rujuk dengan
perbuatan. Syafi’I berpendapat tidak sah, karena dalam ayat
alqur’an Allah menyuruh supaya rujuk dipersaksikan, sedangkan
yang dapat dipersaksikan hanya sigat (perkataan). Perbuatan
seperti itu sidah tentu tidak dapat dipersaksikan oleh orang lain.
Akan tetapi, menurut pendapat kebanyakan ulama, rujuk dengan
perbuatan itu sah. Mereka beralasan kepada firman Allah dalam
surat Al-baqarah : 228 yang artinya : “ dan suami-suami berhak
merujuknya”
Dalam ayat tersebut tudak ditentukan apakah dngan perkataan atau
perbuatan. Hokum mempersaksikan dalam ayat diatas hanyalh
sunat, bukan wajib. Qarinahnya adalah kesepakatan ulama (ijma’)
bahwa mempersaksikan talaq-ketika menalaq-tidak wajib:
demikian pula hendaknya ketika rujuk, apalgi beratri rujuk itu
meneruskan pernikahan yang lama, sehingga tidak perlu wali dan
tidak perlu ridho orang yang dirujuki. Mencampuri istri yang
sedang dalam iddah raj’iyah itu halal bagi suai yang
menceraikannya, menurut pendapat abu hanifah. Dasarnya krena
dalam ayat itu ia masih disebut suami.

Rujuk itu sah juga meskipun tidak dengan ridho si perempuan dan
atas sepengetahuannya karena rujuk itu berate mengekalkan
pernikahan yang telah lalu. Kalau seorang perempuan dirujuk oleh
suaminya sedangkan ia tidak tahu, kemudian setelah lepas
iddahnya perempuan itu menikah dengan laki-laki lain karena dia
tidak mengetahui bahwa suaminya rujuk kepadanya, maka nikah
yang kedua ini tidak sah dan batal dengan sendirinya dan
perempuan tersebut harus dikembalikan kepada suaminya.

BAB III
KESIMPULAN
Rujuk menurut bahasa artinya kembali (mengembalikan). Adapun
yang dimaksud rujuk disini adalah mengembalikan status hukum
perkawinan secara penuh setelah terjadi talak raj’i yang dilakukan
oleh mantan suami terhadap mantan istrinya dalam masa iddahnya
dengan ucapan tertentu.
Perceraian ada tiga cara, yaitu :
1. talaq bain qubra (talaq tiga).. Laki-laki tidak boleh rujuk lagi dan
tidak sah menikah lagi dengan bekas istrinya itu, keculi apbila si
istri sudah menukah dengan orang lain, sudah campur, sudah
diceraikan, sudah habis pula masa iddah, barulah suami pertama
boleh menikahinya lagi.
2. Talaq bain sughra (talaq tebus) dalam hal ini sumai tidak sah
rujuk lagi, tetapi bileh menikah lagi, baik dalam pada masa iddah
maupun sesuadah habis iddah.
3. Talaq satu atau talaq dua, dinamakan talaq raj’i. artinya si suami
boleh rujuk kembali kepada istrinya selama msih dalam masa
iddah.
Hukum Rujuk
a. Wajib khusus bagi laki-laki yang mempunyai istri lebih dari satu
jika salah seorang ditalak sebelum gilirannya disempurnakannya.
b. Haram apabila rujuk itu, istri akan lebih menderita.
c. Makruh kalau diteruskan bercerai akan lebih baik bagi suami
istri
d. Jaiz, hukum asal Rujuk.
e. Sunah jika rujuk akan membuat lebih baik dan manfaat bagi
suami istri

Rukun Rujuk
1. Istri, syaratnya pernah dicampuri, talak raj’i, dan masih dalam
masa iddah, isteri yang tertentu yaitu kalau suami menalak
beberapa istrinya kemudian ia rujuk dengan salah seorang dari
mereka dengan tidak ditentukan siapa yang dirujukan-maka
rujuknya itu tidak sah.
2. Suami, syaratnya atas kehendak sendiri tidak dipaksa
3. Saksi yaitu dua orang laki-laki yang adil.
4. Sighat (lafal) rujuk