Anda di halaman 1dari 5

--------------------

Subject: tugas studi islam 0_o'

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini
dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan dia mungkin penyusun tidak akan sanggup
menyelesaikan dengan baik.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat mengetahui seberapa besar sejarah computer
terhadap masyarakat Indonesia maupun diluar Indonesia berdasarkan pengamatan dari
berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik
itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh
kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Makalah ini memuat tentang “Nikah Kontrak” dan sengaja dipilih karena menarik
perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang
peduli terhadap ajaran agama islam.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.
Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran
dan kritiknya. Terima kasih..

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

BAB I NIKAH MU’TAH (Kawin Kontrak)

BAB II DEFINISI NIKAH MUT’AH

BAB III PENUTUP


Simpulan
Saran

DAFTAR PUSTAKA

Bab I
Nikah Mut’ah (Kawin Kontrak)
Nikah mut’ah bukanlah istilah yang baru di dalam dunia Islam. Jenis nikah yang sering
disebut dengan istilah kawin kontrak sempat menjadi kontoversi ketika diusulkan agar
nikah jenis ini diatur dalam undang-undang yang sah. Mengapa demikian? Apa
sebenarnya Nikah mut’ah itu? Bagaimana landasan hukumnya dalam Islam (Al-Qur’an
dan Sunnah).
Pendahuluan
Pernikahan merupakan sunnatullah pada alam ini, tidak ada yang keluar
dari garisNya, baik manusia, hewan maupun tumbuhan. Allah berfirman,
"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan, supaya
kamu mengingat akan kebesaran Allah" - (QS. adz Dzariyat:49)”.

Allah memilih sarana ini untuk berkembang-biaknya alam dan kesinambungan


ciptaanNya, setelah mempersiapkan setiap pasangan tugas dan posisi
masing-masing. Allah menciptakan manusia seperti ciptaan yang lainnya, tidak
membiarkan nalurinya berbuat sekehendaknya, atau membiarkan hubungan antara laki-
laki dan perempuan kacau tidak beraturan. Tetapi Allah meletakkan rambu-rambu
dan aturan sebagaimana telah diterangkan oleh utusanNya, Muhammad.
Oleh karenanya, salah satu maqashid syari’ah (hikmah pensyari’atan),
yaitu menjaga keturunan. Islam menganjurkan umat Islam untuk menikah
dan diharamkan membujang. Islam melarang mendekati zina dan menutup
sarana-sarana yang menjurus kepada perbuatan kotor tersebut. Islam
juga mengharamkan perzinaan yang berbalutkan dengan sampul pernikahan,
atau pelacuran menggunakan baju kehormatan. Di antara pernikahan yang
diharamkan oleh Islam, ialah seperti:
1. Nikah tahlil, yaitu seseorang menikah dengan seorang
wanita yang telah dithalak tiga oleh suaminya, dengan tujuan agar
suami pertama dapat rujuk dengannya.

2. Nikah syighar, yaitu seseorang menikahkan putrinya


dengan seseorang, dengan syarat orang yang dinikahkan tersebut juga
menikahkan putrinya, dan tidak ada mahar atas keduanya.
3. Nikah muhrim, dan seterusnya.
Juga terdapat pernikahan yang diharamkan, yang dikenal dengan nikah
kontrak (kawin kontrak). Nikah yang biasa disebut nikah mut’ah ini
merupakan salah satu pernikahan yang diharamkan Islam. Uniknya, nikah
mut’ah ini bahkan dilanggengkan dan dilestarikan oleh agama Syi’ah
dengan mengatasnamakan agama.

Bab II
Definisi Nikah Mut’ah

Yang dimaksud nikah mut’ah adalah seseorang menikah dengan seorang wanita dalam
batas waktu tertentu,dengan sesuatu pemberian kepadanya, berupa harta, makanan,
pakaianatau yang lainnya. Jika masanya telah selesai, maka dengan sendirinya mereka
berpisah tanpa kata thalak dan tanpa warisan.

Bentuk pernikahan ini, seseorang datang kepada seorang wanita tanpa harus ada wali atau
saksi. Kemudian mereka membuat kesepakatan mahar (upah) dan batas waktu tertentu.
Misalnya tiga hari atau lebih, atau kurang. Biasanya tidak lebih dari empat puluh lima
hari; dengan ketentuan tidak ada mahar kecuali yang telah disepakati, tidak ada nafkah,
tidak saling mewariskan dan tidak ada iddah kecuali istibra’ dan tidak ada nasab kecuali
jika disyaratkan.
Jadi, rukun nikah mut’ah menurut Syiah Imamiah ada empat:
1. Shighat, seperti ucapan : "aku nikahi engkau", atau "aku mut’ahkan engkau".
2. Calon istri, dan diutamakan dari wanita muslimah atau kitabiah.
3. Mahar, dengan syarat saling rela sekalipun hanya satu genggam gandum.
4. Jangka Waktu tertentu.

Bab III
PENUTUP

Simpulan
a. Nikah Kontrak merupakan pernikahan yang diharamkan islam.
b. Dan menjadi kontroversi karna sudah ada dalam undang-undang yg sah.

Saran
Kalau memang kita bias menikah dalam pernikahan yang sah lebih baik seperti itu.
Memang jaman skarang menikah kontrak sudah menjadi hal yang sudah biasa karena
sudah diperbolehkan bahkan mengatasnamakan agama tetapi tidak bagi Allah SWT.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.facebook.com/l/fc3b3;blog.vbaitullah.or.id/.../712-nikah-mutah-kawin-
kontrak-14/
--------------------