Anda di halaman 1dari 14

Diposkan oleh Abdul Rauf on Senin, 15 September 2008

Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli pendidikan se
pendapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 1
8 tahun. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, na
mun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Mereka sedang mencari
pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui metod
e coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukan sering m
enimbulkan kekhawatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungan d
an orangtuanya.
Generasi muda adalah tulang punggung bangsa, yang diharapkan di masa depan mampu
meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini agar lebih baik. Dalam mempe
rsiapkan generasi muda juga sangat tergantung kepada kesiapan masyarakat yakni d
engan keberadaan budayanya. Termasuk didalamnya tentang pentingnya memberikan fi
lter tentang perilaku-perilaku yang negatif, yang antara lain; minuman keras, me
ngkonsumsi obat terlarang, sex bebas, dan lain-lain yang dapat menyebabkan terja
ngkitnya penyakit HIV/AIDS.
Sekarang ini zaman globalisasi. Remaja harus diselamatkan dari globalisasi. Kare
na globalisasi ini ibaratnya kebebasan dari segala aspek. Sehingga banyak kebuda
yaan-kebudayaan yang asing yang masuk. Sementara tidak cocok dengan kebudayaan k
ita. Sebagai contoh kebudayaan free sex itu tidak cocok dengan kebudayaan kita.
Pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Pa
ra remaja dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandan
gan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperduli
kan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa
remaja. Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggaka
n. Akibatnya, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan p
acar. Pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat berbed
a dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya, di jaman ini banyak r
emaja yang putus sekolah karena hamil. Oleh karena itu, dalam masa pacaran, anak
hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. Anak hendaknya dit
umbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita, sebaliknya
harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula dengan pacaran. Keindahan
dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus berlangsung selamanya
.
Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap remaja yang sedang jatuh cin
ta, orangtua hendaknya bersikap seimbang, seimbang antar pengawasan dengan kebeb
asan. Semakin muda usia anak, semakin ketat pengawasan yang diberikan tetapi ana
k harus banyak diberi pengertian agar mereka tidak ketakutan dengan orangtua yan
g dapat menyebabkan mereka berpacaran dengan sembunyi-sembunyi. Apabila usia mak
in meningkat, orangtua dapat memberi lebih banyak kebebasan kepada anak. Namun,
tetap harus dijaga agar mereka tidak salah jalan. Menyesali kesalahan yang telah
dilakukan sesungguhnya kurang bermanfaat.
Penyelesaian masalah dalam pacaran membutuhkan kerja sama orangtua dengan anak.
Misalnya, ketika orangtua tidak setuju dengan pacar pilihan si anak. Ketidaksetu
juan ini hendaknya diutarakan dengan bijaksana. Jangan hanya dengan kekerasan da
n kekuasaan. Berilah pengertian sebaik-baiknya. Bila tidak berhasil, gunakanlah
pihak ketiga untuk menengahinya. Hal yang paling penting di sini adalah adanya k
omunikasi dua arah antara orangtua dan anak. Orangtua hendaknya menjadi sahabat
anak. Orangtua hendaknya selalu menjalin dan menjaga komunikasi dua arah dengan
sebaik-baiknya sehingga anak tidak merasa takut menyampaikan masalahnya kepada o
rangtua.
Dalam menghadapi masalah pergaulan bebas antar jenis di masa kini, orangtua hend
aknya memberikan bimbingan pendidikan seksual secara terbuka, sabar, dan bijaksa
na kepada para remaja. Remaja hendaknya diberi pengarahan tentang kematangan sek
sual serta segala akibat baik dan buruk dari adanya kematangan seksual. Orangtua
hendaknya memberikan teladan dalam menekankan bimbingan serta pelaksanaan latih
an kemoralan. Dengan memiliki latihan kemoralan yang kuat, remaja akan lebih mud
ah menentukan sikap dalam bergaul. Mereka akan mempunyai pedoman yang jelas tent
ang perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan yang tidak boleh dikerjakan. De
ngan demikian, mereka akan menghindari perbuatan yang tidak boleh dilakukan dan
melaksanakan perbuatan yang harus dilakukan.
Berdasarkan penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30
persen remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks. Celakanya, perilaku seks
bebas tersebut berlanjut hingga menginjak ke jenjang perkawinan. Ancaman pola hi
dup seks bebas remaja secara umum baik di pondokan atau kos-kosan tampaknya berk
embang semakin serius. Pakar seks juga specialis Obstetri dan Ginekologi Dr. Boy
ke Dian Nugraha di Jakarta mengungkapkan, dari tahun ke tahun data remaja yang m
elakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari sekitar lima persen pada ta
hun 1980-an, menjadi dua puluh persen pada tahun 2000. Kisaran angka tersebut, k
ata Boyke, dikumpulkan dari berbagai penelitian di beberapa kota besar di Indone
sia, seperti Jakarta, Surabaya, Palu dan Banjarmasin. Bahkan di pulau Palu, Sula
wesi Tenggara, pada tahun 2000 lalu tercatat remaja yang pernah melakukan hubung
an seks pranikah mencapai 29,9 persen.
Kelompok remaja yang masuk ke dalam penelitian tersebut rata-rata berusia 17-21
tahun, dan umumnya masih bersekolah di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SL
TA) atau mahasiswa. Namun dalam beberapa kasus juga terjadi pada anak-anak yang
duduk di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tingginya angka hubungan seks p
ranikah di kalangan remaja erat kaitannya dengan meningkatnya jumlah aborsi saat
ini, serta kurangnya pengetahuan remaja akan reproduksi sehat. Jumlah aborsi sa
at ini tercatat sekitar 2,3 juta, dan 15-20 persen diantaranya dilakukan remaja.
Hal ini pula yang menjadikan tingginya angka kematian ibu di Indonesia, menjadi
kan Indonesia sebagai negara yang angka kematian ibunya tertinggi di seluruh Asi
a Tenggara.
Dari sisi kesehatan, perilaku seks bebas bisa menimbulkan berbagai gangguan. Dia
ntaranya, terjadi kehamilan yang tidak diinginkan. Selain tentunya kecenderungan
untuk aborsi, juga menjadi salah satu penyebab munculnya anak-anak yang tidak d
iinginkan. Keadaan ini juga bisa dijadikan bahan pertanyaan tentang kualitas ana
k tersebut, apabila ibunya sudah tidak menghendaki. Seks pranikah, lanjut Boyke
juga bisa meningkatkan resiko kanker mulut rahim. Jika hubungan seks tersebut di
lakukan sebelum usia 17 tahun, risiko terkena penyakit tersebut bisa mencapai em
pat hingga lima kali lipat.
Sekuat-kuatnya mental seorang remaja untuk tidak tergoda pola hidup seks bebas,
kalau terus-menerus mengalami godaan dan dalam kondisi sangat bebas dari kontrol
, tentu suatu saat akan tergoda pula untuk melakukannya. Godaan semacam itu tera
sa lebih berat lagi bagi remaja yang memang benteng mental dan keagamaannya tida
k begitu kuat. Saat ini untuk menekankan jumlah pelaku seks bebas-terutama di ka
langan remaja-bukan hanya membentengi diri mereka dengan unsur agama yang kuat,
juga dibentengi dengan pendampingan orang tua dan selektivitas dalam memilih tem
an-teman. Karena ada kecenderungan remaja lebih terbuka kepada teman dekatnya ke
timbang dengan orang tua sendiri.
Selain itu, sudah saatnya di kalangan remaja diberikan suatu bekal pendidikan ke
sehatan reproduksi di sekolah-sekolah, namun bukan pendidikan seks secara vulgar
. Pendidikan Kesehatan Reproduksi di kalangan remaja bukan hanya memberikan peng
etahuan tentang organ reproduksi, tetapi bahaya akibat pergaulan bebas, seperti
penyakit menular seksual dan sebagainya. Dengan demikian, anak-anak remaja ini b
isa terhindar dari percobaan melakukan seks bebas. Dalam keterpurukan dunia rema
ja saat ini, anehnya banyak orang tua yang cuek bebek saja terhadap perkembangan
anak-anaknya. Kini tak sedikit orang tua dengan alasan sibuk karena termasuk ti
pe “jarum super” alias jarang di rumah suka pergi; lebih senang menitipkan anakn
ya di babby sitter. Udah gedean dikit di sekolahin di sekolah yang mahal tapi mi
skin nilai-nilai agama.
Acara televisi begitu berjibun dengan tayangan yang bikin ‘gerah’, Video klip la
gu dangdut saja, saat ini makin berani pamer aurat dan adegan-adegan yang bikin
dek-dekan jantung para lelaki. Belum lagi tayangan film yang bikin otak remaja t
eracuni dengan pesan sesatnya. Ditambah lagi, maraknya tabloid dan majalah yang
memajang gambar “sekwilda”, alias sekitar wilayah dada; dan gambar “bupati”, ali
as buka paha tinggi-tinggi. Konyolnya, pendidikan agama di sekolah-sekolah terny
ata tidak menggugah kesadaran remaja untuk kritis dan inovatif.
http://karyaabdulrauf.blogspot.com/2008/09/dampak-pergaulan-bebas-bagi-remaja.ht
ml
TUGAS KARYA TULIS ILMIAH

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA

DIKERJAKAN OLEH :
Asep Setyawan
Dicky Wahyu
Desi Arini
Ikhsan Kamil
Neni Suryani
Nur Ihsani Eka Saputri
Tria Juanita
Zuki Marandika Putra
Kelas : XI SOC 2
SMA NEGERI 21 BANDUNG
2007
ABSTRAK
Remaja adalah bagian dari aset negara yang harus dibina dan dibimbing untuk pada
akhirnya menjadi tonggak perubahan bangsa yang lebih baik dihari depan. Namun,
dewasa ini problematika remaja menunjukan gejala peningkatan baik secara kualita
tif maupun secara kuantitatif. Perkembangan seksualitas pada usia remaja memang
seringkali menimbulkan banyak problematika moral dan sosial. Tujuan penelitian i
ni adalah untuk memahami dan menganalisa permasalahan dan karakteristik dengan b
erdasar pada pengalaman seksualitas yang akhirnya menunjukan sejauh mana tingkat
perilaku seksual dikalangan remaja saat ini.
Pada masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat penting dalam
pembentukan hubungan baru yang lebih matang dengan lawan jenis. Padahal pada ma
sa remaja informasi tentang masalah seksual sudah seharusnya mulai diberikan, ag
ar remaja tidak mencari informasi dari orang lain atau dari sumber-sumber yang t
idak jelas atau bahkan keliru sama sekali.
Ini menimbulkan dampak psikologis yang sangat serius, seperti rasa bersalah, dep
resi, marah, dan agresi. Sementara akibat psikososial yang timbul akibat perilak
u seksual antara lain adalah ketegangan mental dan kebingungan akan peran sosial
yang tiba-tiba berubah, misalnya pada kasus remaja yang hamil di luar nikah.
Pendidikan seksual merupakan cara pengajaran atau pendidikan yang dapat menolong
muda-mudi untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada dorongan seksual.
Dengan demikian pendidikan seksual ini bermaksud untuk menerangkan segala hal ya
ng berhubungan dengan seks dan seksualitas dalam bentuk yang wajar.

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah, puji syukur kami ucapkan terutama untuk Allah SWT yang telah memb
eri karunia yang tiada henti kepada kami untuk menyelesaikan karya tulis ini. Ta
k lupa untuk guru Bahasa Indonesia yang telah membimbing kami dalam menyusun kar
ya ilmiah. Juga bagi semua pihak yang telah membantu secara langsung ataupun tid
ak, bagi para responden pengisi angket kami, terimakasih atas partisipasinya.
Dan itu semua tiada arti bila tidak ada kerja keras dan kekompakan anggota kelom
pok. Semoga karya tulis kami dapat menjadi referensi, inspirasi dan bahan renung
an bagi semua kalangan.

Bandung, 10 April 2007


Penyusun

DAFTAR ISI

Cover...........................................................................
.........1
Abstrak.........................................................................
........2
Kata Pengantar..................................................................
..3
Daftar Isi......................................................................
........4
Bab I : Pendahuluan............................................................5
Bab II : Tinjauan Pustaka....................................................8
Bab III : Metodologi Penelitian.........................................10
Bab IV : Pembahasan.........................................................11
Bab V : Kesimpulan dan Saran..........................................27
Daftar Pustaka..................................................................
.34

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Masalah
Remaja adalah bagian dari aset negara yang harus dibina dan dibimbing untuk p
ada akhirnya menjadi tonggak perubahan bangsa yang lebih baik dihari depan.
Namun, dewasa ini problematika remaja menunjukan gejala peningkatan baik secara
kualitatif maupun secara kuantitatif. Data yang berhasil dihimpun oleh Biro Pusa
t Statistik dari Direktorat Rehabilitasi Tuna Sosial, bahwa di Jawa Barat masala
h kenakalan remaja kian meningkat dari tahun ketahun. Masalah umum yang sering d
ialami oleh remaja adalah : putus sekolah, kenakalan, masalah penyesuaian diri,
ketergantungan pada keluarga, penggunaan obat terlarang, dan yang mencengangkan
adalah masalah perilaku seksual yang terlampau bebas dan terlalu dini, yang bera
kibat pada penularan virus HIV/AIDS yang dalam jangka panjang menimbulkan berbag
ai kerugian bahkan kematian.
I. 2 Identifikasi Masalah
Masalah remaja bukan hanya berasal dari pembawaan remaja itu sendiri, sebagia
n besar dipengaruhi oleh lingkungan. Secara umum sebab-sebab masalah remaja dipe
ngaruhi faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang beras
al dari dalam diri remaja yang dipengaruhi oleh perkembangan seksualitas, emosi,
kemauan dan pikiran. Sedangkan faktor ekstern adalah faktor yang berasal dari l
uar diri remaja, seperti : lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan pergaulan
.
Perkembangan seksualitas pada usia remaja memang seringkali menimbulkan ba
nyak problematika moral dan sosial. Dimana seharusnya pada masa itu remaja sebag
ai generasi muda penerus bangsa semestinya bersiap dengan keadaan yang menuntut
dirinya sebagai contoh perubahan bangsa yang lebih baik. Namun disisi lain gejol
ak pubertas yang bermuara pada titik seksualitas tidak dapat dicegah karena pada
kurun usia seseorang 12-22 tahun adalah memasuki fase pubertas yang dalam kamus
kesehatan berarti proses perubahan fisik (biologis atau seksual) dan psikis pad
a diri manusia dari fase anak-anak menjadi dewasa yang berlansung kurang lebih t
iga sampai lima tahun. Nama lain pubertas disebut dengan transisi karena proses
pendewasaan yang singkat namun meninggalkan kesan mendalam. Salah satu tahap yan
g akan dilalui seorang remaja pada masa pubertas adalah perkembangan seksualitas
yang seringkali tak terkendali.
I. 3 Maksud dan Tujuan Penelitian
Masalah perkembangan perilaku seksualitas remaja dijadikan obyek penelitian d
engan alasan sebagai berikut :
1. Bahwa masalah remaja - dalam hal ini perkembangan seksualitas – bersifat krit
is, cenderung meningkat dan memerlukan pemecahan sesegera mungkin.
2. Masalah remaja yang diteliti mempunyai pengaruh terhadap peningkatan kehidupa
n dan berkaitan dengan fungsi pekerjaan sosial yaitu fungsi pencegahan, pengemba
ngan dan sosialisasi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami dan menganalisa permasalahan d
an karakteristik dengan berdasar pada pengalaman seksualitas yang akhirnya menun
jukan sejauh mana tingkat perilaku seksual dikalangan remaja saat ini. Selanjutn
ya dengan penelitian ini penyusun dapat menyumbangkan pemikiran dan hasil peneli
tian ini kepada pihak yang ingin mengetahui tingkat perilaku seksualitas remaja.
I. 4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang didapat dari penelitian ini adalah :
1. Mengetahui sejauh mana tingkat perilaku seksual dikalangan remaja.
2. Mengetahui pendapat remaja mengenai batas kewajaran perilaku seksual
3. Mengetahui sejauh apa pengetahuan remaja mengenai kerugian perilaku seks beba
s
4. Mengetahui pendapat remaja mengenai cara efektif menekan laju perilaku seks b
ebas
5. Dan penelitian ini dapat dijadikan acuan atau tolak ukur bagi guru, orang tua
, dinas sosial dan pihak terkait untuk mencari cara yang tepat dalam menanggulan
gi problem seks dikalangan remaja.

I. 5 Lokasi dan Waktu Penelitian


Lokasi yang penyusun jadikan tempat penelitian adalah lingkungan Sekolah Mene
ngah Atas Negeri 21 Bandung. Sedangkan waktu penelitian adalah satu pekan dalam
bulan Maret dan dilakukan disela-sela waktu senggang proses belajar mengajar
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Andolesen dan Hubungannya dengan Remaja Dalam Pandangan Seksualitas, oleh : Anna
Freud
Andolesensia adalah masa yang meliputi proses perkembangan, dimana ter
jadi perubahan-perubahan dalam hal motivasi seksuil, organisasi daripada ego, da
lam hubungannya dengan orang tua, orang lain dan cita-cita yang dikejarnya.
( Singgih D. Gunarsa, DR, 1991, hal; 7)
Batas-Batas Masa Remaja Sesuai dengan Tempat Hidupnya, Lingkungan Sosialnya dan
Pandangan Sosiologis, oleh : Neidhart
Andolesensia merupakan masa peralihan dan ketergantungan pada masa a
nak ke masa dewasa, dimana ia harus sudah dapat berdiri sendiri.
Patokan Proses Perkembangan Dengan Hasil Perkembangan yang Jelas dan Mudah Diama
ti, oleh : Hurlock
Patokan batas umur yakni ditandai fisik yang menunjukan kematangan s
eksuil dengan timbulnya gejala-gejala biologis.
Andolesensia Dalam Bidang Psikologi Berhubungan dengan Perkembangan Psikis yang
Terjadi, oleh : E.H.Erikson
Andolesensia merupakan masa dimana terbentuk suatu perasaan baru men
genai identitas. Identitas mencakup cara hidup pribadi yang dialami sendiri dan
sulit dikenal oleh orang lain. Secara hakiki ia tetap sama walaupun telah mengal
ami berbagai perubahan.
Dr Nafsiah Mboi, dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA)
Perempuan sangat rentan terkena HIV/AIDS. Bahkan remaja putri mempunyai kemungki
nan lima sampai enam kali lebih banyak terkena kasus HIV positif daripada laki-l
aki (Suara Pembaruan, 19/10/2004).
Singgih, D. Gunarsa, Psikologi praktis, anak, remaja dan keluarga, 1991
Penyampaian materi pendidikan seksual ini seharusnya diberikan sejak dini ketika
anak sudah mulai bertanya tentang perbedaan kelamin antara dirinya dan orang la
in, berkesinambungan dan bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan dan umur anak se
rta daya tangkap anak.
Tirto Husodo, Seksualitet dalam mengenal dunia remaja, 1987
Pendidikan seksual juga bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan mendidik anak
agar berperilaku yang baik dalam hal seksual, sesuai dengan norma agama, sosial
dan kesusilaan.
Handbook of Adolecent psychology, 1980
Pemberian informasi masalah seksual menjadi penting terlebih lagi mengingat rem
aja berada dalam potensi seksual yang aktif, karena berkaitan dengan dorongan se
ksual yang dipengaruhi hormon dan sering tidak memiliki informasi yang cukup men
genai aktivitas seksual mereka sendiri.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3. 1 Objek Penelitian
Populasi penelitian ini adalah siswa siswi kelas XI IPS di SMAN 21 Bandun
g yang berjumlah 100 orang. Dengan penyebaran di 3 kelas, yaitu : XI IPS 2; 39 o
rang, XI IPS 3; 26 orang, XI IPS 4; 35 orang.
3. 2 Metode Penelitian
Teknik pengumpulan data yang penyusun pergunakan adalah :
1. Pendekatan empiris yaitu kajian lapangan dengan cara menyebarkan angket kepad
a responden ditiap kelas.
2. Kajian literatur yaitu studi kepustakaan untuk mengumpulkan data dari buku da
n internet.
Teknik analisa data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah bers
ifat kualitatif, yaitu menguraikan data dengan kalimat logis dalam berbagai aspe
k dan melihat saling keterkaitannya. Langkah-langkah dalam menganalisa data adal
ah sebagai berikut :
1. Coding, yaitu mengkode tiap-tiap data yang masuk
2. Tabulating, yaitu penyusun mentabulasi data-data yang sejenis
3. Editing, yaitu memilih data yang relevan dengan penelitian mengenai tingkat p
erilaku seksual remaja.
BAB IV
PEMBAHASAN
A. Pengertian Remaja
Remaja pada umumnya merujuk kepada golongan manusia yang berumur 12-22 tahun. Da
ri sudut perkembangan manusia, remaja merujuk kepada satu peringkat perkembangan
manusia, yaitu periode transisi antara masa anak-anak dan masa dewasa. Semasa s
eseorang itu mengalami zaman remaja dia akan mengalami berbagai perubahan yang d
rastis, termasuk perubahan jasmani, sosial, emosi, dan bahasa. Akibatnya, remaja
merupakan orang yang emosinya tidak stabil, dan senantiasa "bermasalah".
Pembahasan mengenai remaja sering dihubungkan dengan istilah-istilah asing. Pube
rtas, Andolesensia, Youth, Teenagers. Untuk mengindari kesimpang-siuran dan kesa
lahpahaman, maka akan dijelaskan terlebih dahulu.
a. Puberty, berasal dari Bahasa Inggris yang berarti kelaki-lakian, kedewasaan y
ang dilandasi oleh sifat dan tanda-tanda kelaki-lakian.
b. Adulescentia, berasal dari bahasa latin yang dimaksudkan masa muda, yakni ant
ara 17 dan 30 tahun.
Dalam kepustakaan lain didapat istilah Pubis yang lebih ditonjolkan
hubungan antara masa dan perubahan yang terjadi bersamaan dengan tumbuhnya ’pubi
c hair’ atau bulu rambut pada daerah kemaluan. Penggunaan istilah ini lebih terb
atas dan menunjukan tercapainya kematangan seksual. Istilah pubertas ini sering
dikaitkan dengan pengertian masa tercapainya kematangan seksual ditinjau dari as
pek biologisnya.
SATU DARI LIMA ORANG INDONESIA ADALAH REMAJA
Pembengkakan jumlah penduduk usia remaja tengah terjadi di berbagi n
egara di dunia, termasuk Indonesia.Saat ini 44 juta remaja bertumbuh di tanah ai
r kita, artinya, satu dari lima orang Indonesia berada dalam rentang usia remaja
.Merekalah bakal orang tua bagi generasi mendatang.Bisa dibayangkan betapa besa
r pengaruh segala tindakan yang mereka lakukan saat ini pada hari-hari mendatang
mereka sebagai orang dewasa, dan lebih jauh lagi pada bangsa kita di masa depan
.
Menjadi remaja berarti menjalani proses berat yang membutuhkan banya
k penyesuaian dan menimbulkan kecemasan, karena lonjakan pertumbuhan badani dan
pematangan organ-organ reproduksi sering memunculkan perasaan asing terhadap dir
i. Tetapi kecemasan yang dialami ketika melangkah dari kanak-kanak menuju dewasa
hanya samar-samar diingat oleh hampir semua dewasa,yang merasa telah melewati m
asa pubernya dengan sukses. (kespro.net: jumat, 16 April 2004 @ 13.58.50)
B. Ciri-Ciri Remaja
• Suka bergaul dengan rekan sebaya daripada orangtuanya.
Pada peringkat ini, manusia remaja akan mulai belajar bergaul dengan orang lain
selain dari anggota keluarga mereka. Ini bermaksud bahwa masa remaja merupakan m
asa perkembangan sosial seseorang.
• Suka berangan-angan
Remaja yang normal mempunyai angan-angan sehat mengenai masa depan mereka. Merek
a senantiasa memikirkan apa yang akan mereka perbuat pada waktu mendatang.
• Senang Terpengaruh oleh Emosi
Orang remaja merupakan orang yang senang terpengaruh oleh emosi. Ini adalah kare
na pikiran mereka masih berkembang dan belum sampai ke satu tahap yang mantap.
B. Gambaran Seksualitas Pada Remaja
Hubungan seks didefinisikan sebagai persenyawaan, persetubuhan dan sat
u aktivitas merangsang dari sentuhan kulit secara keseluruhan, sampai mempertemu
kan alat kemaluan lelaki ke dalam organ vital wanita. Rangsangan ini adalah nalu
ri alamiah semua makhluk hidup untuk menyambung generasi seterusnya agar gen ini
tidak terputus.
Sampai saat ini masalah seksualitas selalu menjadi topik yang menarik untuk dibi
carakan. Hal ini dimungkinkan karena permasalahan seksual telah menjadi suatu ha
l yang sangat melekat pada diri manusia. Seksualitas tidak bisa dihindari oleh m
akhluk hidup, karena dengan seks makhluk hidup dapat terus bertahan menjaga kele
starian keturunannya.
Pada masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat penting dalam
pembentukan hubungan baru yang lebih matang dengan lawan jenis. Padahal pada ma
sa remaja informasi tentang masalah seksual sudah seharusnya mulai diberikan, ag
ar remaja tidak mencari informasi dari orang lain atau dari sumber-sumber yang t
idak jelas atau bahkan keliru sama sekali. Tentu saja hal tersebut akan sangat b
erbahaya bagi perkembangan jiwa remaja bila ia tidak memiliki pengetahuan dan in
formasi yang tepat. Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar remaja kita tidak men
getahui dampak dari perilaku seksual yang mereka lakukan, seringkali remaja sang
at tidak matang untuk melakukan hubungan seksual terlebih lagi jika harus menang
gung resiko dari hubungan seksual tersebut.
Karena meningkatnya minat remaja pada masalah seksual dan sedang berada dalam p
otensi seksual yang aktif, maka remaja berusaha mencari berbagai informasi menge
nai hal tersebut. Dari sumber informasi yang berhasil mereka dapatkan, pada umu
mnya hanya sedikit remaja yang mendapatkan seluk beluk seksual dari orang tuany
a. Oleh karena itu remaja mencari atau mendapatkan dari berbagai sumber informas
i yang mungkin dapat diperoleh, misalnya seperti di sekolah atau perguruan tingg
i, membahas dengan teman-teman, buku-buku tentang seks, media massa atau interne
t.
Karakteristik Seksual Remaja
Karakter seksual masing-masing jenis kelamin memiliki spesifikasi yang
berbeda hal ini seperti yang pendapat berikut ini : Sexual characteristics are
divided into two types. Primary sexual characteristics are directly related to r
eproduction and include the sex organs (genitalia). Secondary sexual characteris
tics are attributes other than the sex organs that generally distinguish one sex
from the other but are not essential to reproduction, such as the larger breast
s characteristic of women and the facial hair and deeper voices characteristic o
f men (Microsoft Encarta Encyclopedia 2002)
Pendapat tersebut seiring dengan pendapat Hurlock (1991), seorang ahli psikologi
perkembangan, yang mengemukakan tanda-tanda kelamin sekunder yang penting pada
laki-laki dan perempuan. Menurut Hurlock, pada remaja putra : tumbuh rambut kem
aluan, kulit menjadi kasar, otot bertambah besar dan kuat, suara membesar dan la
in,lain. Sedangkan pada remaja putri : pinggul melebar, payudara mulai tumbuh, t
umbuh rambut kemaluan, mulai mengalami haid, dan lain-lain.
Seiring dengan pertumbuhan primer dan sekunder pada remaja ke arah kematangan ya
ng sempurna, muncul juga hasrat dan dorongan untuk menyalurkan keinginan seksual
nya. Hal tersebut merupakan suatu yang wajar karena secara alamiah dorongan seks
ual ini memang harus terjadi untuk menyalurkan kasih sayang antara dua insan, se
bagai fungsi pengembangbiakan dan mempertahankan keturunan.
Perilaku Seksual
Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, b
aik dengan lawan jenis maupun sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini dapat
beraneka ragam, mulai dari perasaan tertarik hingga tingkah laku berkencan, ber
cumbu dan senggama.
Obyek seksual dapat berupa orang, baik sejenis maupun lawan jenis, orang dalam k
hayalan atau diri sendiri. Sebagian tingkah laku ini memang tidak memiliki dampa
k, terutama bila tidak menimbulkan dampak fisik bagi orang yang bersangkutan ata
u lingkungan sosial. Tetapi sebagian perilaku seksual (yang dilakukan sebelum wa
ktunya) justru dapat memiliki dampak psikologis yang sangat serius, seperti rasa
bersalah, depresi, marah, dan agresi.
Sementara akibat psikososial yang timbul akibat perilaku seksual antara lain ada
lah ketegangan mental dan kebingungan akan peran sosial yang tiba-tiba berubah,
misalnya pada kasus remaja yang hamil di luar nikah. Belum lagi tekanan dari mas
yarakat yang mencela dan menolak keadaan tersebut. Selain itu resiko yang lain
adalah terganggunya kesehatan yang bersangkutan, resiko kelainan janin dan tingk
at kematian bayi yang tinggi. Disamping itu tingkat putus sekolah remaja hamil j
uga sangat tinggi, hal ini disebabkan rasa malu remaja dan penolakan sekolah men
erima kenyataan adanya murid yang hamil diluar nikah. Masalah ekonomi juga akan
membuat permasalahan ini menjadi semakin rumit dan kompleks.
Berbagai perilaku seksual pada remaja yang belum saatnya untuk melakukan hubunga
n seksual secara wajar antara lain dikenal sebagai :
Masturbasi atau onani yaitu suatu kebiasaan buruk berupa manipulasi terhadap a
lat genital dalam rangka menyalurkan hasrat seksual untuk pemenuhan kenikmatan y
ang seringkali menimbulkan goncangan pribadi dan emosi.
Berpacaran dengan berbagai perilaku seksual yang ringan seperti sentuhan, pega
ngan tangan sampai pada ciuman dan sentuhan-sentuhan seks yang pada dasarnya ada
lah keinginan untuk menikmati dan memuaskan dorongan seksual.
Berbagai kegiatan yang mengarah pada pemuasan dorongan seksual yang pada dasar
nya menunjukan tidak berhasilnya seseorang dalam mengendalikannya atau kegagalan
untuk mengalihkan dorongan tersebut ke kegiatan lain yang sebenarnya masih dapa
t dikerjakan.
Dorongan atau hasrat untuk melakukan hubungan seksual selalu muncul pada remaja,
oleh karena itu bila tidak ada penyaluran yang sesuai (menikah) maka harus dila
kukan usaha untuk memberi pengertian dan pengetahuan mengenai hal tersebut.
Adapun faktor-faktor yang dianggap berperan dalam munculnya permasal
ahan seksual pada remaja, menurut Sarlito W. Sarwono (Psikologi Remaja,1994) ad
alah sebagai berikut :
Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual remaja. Peningka
tan hormon ini menyebabkan remaja membutuhkan penyaluran dalam bentuk tingkah la
ku tertentu
Penyaluran tersebut tidak dapat segera dilakukan karena adanya penundaan usia
perkawinan, baik secara hukum oleh karena adanya undang-undang tentang perkawina
n, maupun karena norma sosial yang semakin lama semakin menuntut persyaratan yan
g terus meningkat untuk perkawinan (pendidikan, pekerjaan, persiapan mental dan
lain-lain)
Norma-norma agama yang berlaku, dimana seseorang dilarang untuk melakukan hubu
ngan seksual sebelum menikah. Untuk remaja yang tidak dapat menahan diri memilik
i kecenderungan untuk melanggar hal-hal tersebut.
Kecenderungan pelanggaran makin meningkat karena adanya penyebaran informasi d
an rangsangan melalui media masa yang dengan teknologi yang canggih (cth: VCD, b
uku stensilan, Photo, majalah, internet, dan lain-lain) menjadi tidak terbendung
lagi. Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan ingin mencoba, akan menir
u apa dilihat atau didengar dari media massa, karena pada umumnya mereka belum p
ernah mengetahui masalah seksual secara lengkap dari orangtuanya.
Orangtua sendiri, baik karena ketidaktahuannya maupun karena sikapnya yang mas
ih mentabukan pembicaraan mengenai seks dengan anak, menjadikan mereka tidak ter
buka pada anak, bahkan cenderung membuat jarak dengan anak dalam masalah ini.
Adanya kecenderungan yang makin bebas antara pria dan wanita dalam masyarakat,
sebagai akibat berkembangnya peran dan pendidikan wanita, sehingga kedudukan wa
nita semakin sejajar dengan pria.
Untuk itu penyusun telah melakukan serangkaian riset sederhana untuk
mengetahui perkembangan perilaku seksual remaja di kawasan SMAN 21
Bandung, dalam hal ini kelas XI. Karena pada umumnya puncak kenakalan
remaja SMA terjadi pada grade ini.
PACARAN
Sudah hal lumrah dan tidak aneh bila pacaran menjadi pilihan para
remaja untuk mengisi masa mudanya dengan melakukan aktivitas berkasih
sayang bersama lawan jenisnya. Dan sebenarnya kegiatan pacaran ini adalah
titik awal dari sebuah perjalanan menuju seks bebas. Dari penelitian awal
yang penyusun lakukan diketahui 83% siswa/i dari semua kelas yang menjadi
objek penelitian menjawab, sudah pernah berpacaran. Dan sisanya berjumlah
14% mengaku belum pernah berpacaran.
KELAS JUMLAH RESPONDEN SUDAH PACARAN BELUM PACARAN
XI IPS 2 39 orang 36 orang 3 orang
XI IPS 3 26 orang 23 orang 3 orang
XI IPS 4 35 orang 26 orang 9 orang
Tingkat kewajaran perilaku dalam berpacaran
Pada penelitian ini menunjukan pendapat para responden tentang batas
wajar perilaku dalam berpacaran. Dan penyusun membuat 5 pilihan jawaban. Dengan
jumlah responden masih 100 orang.
Kelas Pegang Tangan Pelukan & Memegang Bagian Tubuh Ciuman Making Love & Pe
tting Tidak Melakukan Apa-apa
Ips 2 9 orang 10 orang 11 orang 5 orang 4 orang
Ips 3 7 orang 1 orang 8 orang 3 orang 7 orang
Ips 4 10 orang - 12 orang 5 orang 8 orang
Pendapat sangat erat hubungannya dengan perilaku, untuk pertanyaan sel
anjutnya, penyusun mencoba mengungkap fakta perealisasian pendapat terhadap ting
kat perilaku seksual yang telah dilakukan oleh responden. Berikut ini data-data
yang berhasil dihimpun untuk melengkapi penelitian.
Kelas Pegang Tangan Pelukan & Memegang Anggota Tubuh Ciuman Petting
Making Love
Ips 2 36 orang 26 orang 26 orang 12 orang 6 orang
Ips 3 23 orang 14 orang 16 orang 2 orang 1 orang
Ips 4 29 orang 25 orang 24 orang 8 orang 10 orang
Dari tabel diatas dapat diakumulasikan bahwa, 26% responden menilai pacaran waja
r apabila hanya berpegangan tangan dan 88% sudah melakukannya. Meningkat pada pe
rilaku berpacaran yang lebih dekat dengan aktivitas seksual yaitu berpelukan & m
emegang anggota tubuh pasangannya masih dianggap wajar oleh 11% responden dan te
lah dilakukan oleh 64% responden.
Yang cukup mengejutkan adalah jawaban dari responden bahwa ciuman/ k
issing masih wajar dalam berpacaran, meraih presentase tertinggi yaitu sebesar 3
1% dengan presentase telah dilakukan oleh 66%. Dengan detail jenis kissing 24% u
ntuk responden yang berciuman pipi, dahi dan tangan. Sedangkan 32% mengaku telah
berciuman bibir dan ciuman leher/ anggota tubuh lainnya mencapai 35%, sisanya s
ebanyak 9% memilih abstain atau tidak menjawab.
Dalam penelitian selanjutnya terkuak bahwa 22% responden telah mela
kukan petting, yaitu persetubuhan tanpa mempertemukan alat kelamin. Dari semua p
enelitian akhirnya mengacu pada pokok permasalahan yaitu presentase dari respond
en yang telah melakukan seks diluar nikah pada masa sekolah. Dan dari penyebaran
ini didapati fakta 19% dari keseluruhan responden telah melakukan making love p
ranikah. Mereka melakukannya dengan pasangannya ataupun bukan (tidak diketahui).
Hasil polling dari Lembaga Swadaya Masyarakat Sahabat Anak Dan Rema
ja Indonesia (Sahara Indonesia) menyimpulkan bahwa 44,8 persen mahasiswa dan rem
aja Bandung telah melakukan hubungan seks (Pikiran Rakyat, 26/5/04).
Hasilnya, remaja yang beberapa generasi lalu masih malu-malu kini sudah mulai me
lakukan hubungan seks di usia dini, 13-15 tahun. Tak bisa dipungkiri bahwa globa
lisasi yang membuat dunia menjadi tak berbatas serta meningkatnya konsumerisme d
i kalangan remaja (berusia 15-24 tahun) telah mereduksi nilai keperawanan yang p
ada gilirannya memicu kian bebasnya model pergaulan para remaja. Mereka tidak la
gi ‘sekedar’ berpegangan tangan, berpelukan, berciuman tetapi juga telah berhubu
ngan seksual, sebuah aktivitas yang sesungguhnya ‘hak milik’ bagi yang sudah men
ikah.
Polling di Bandung: 51,5% Remaja Lakukan Hubungan Seksual di Tempat Ko
s.
Eramuslim.com - Sebuah polling yang dilakukan Lembaga Swadaya Masyarakat Sahabat
Anak Dan Remaja Indonesia (Sahara Indonesia) menyebutkan bahwa 44,8 persen maha
siswa dan remaja Bandung telah melakukan hubungan seks sebelum menikah. Tragisny
a, tempat yang digunakan untuk melakukan seks hampir sebagian besar berada di wi
layah kos-kosan bagi mahasiswa yang kuliah di PTN dan PTS terbesar di Bandung. B
agaimana para mahasiswa ini menjadikan tempat kos-kosan sebagai ajang prostitusi
dan atas dasar apa mereka bisa terjebak dalam budaya seks bebas?
Menurut Agus Mochtar, Ketua Sahara Indonesia, banyaknya mahasiswa ya
ng menjadikan kos-kosan sebagai tempat melakukan hubungan seks karena ada kecend
rungan pola hubungan sosial sangat renggang antara pemilik kos dengan penghuni y
ang bersifat hubungan transaksional. Ini juga menyebabkan tempat kos bebas tanpa
ada yang mengawasi.
Dari sekitar 1000 remaja peserta konsultasi (curhat) dan polling yan
g dilakukan Sahara Indonesia selama tahun 2000 - 2002, tempat mereka melakukan h
ubungan seksual terbesar dilakukan di tempat kos (51,5%). Menyusul kemudian di r
umah (30%), di rumah perempuan (27,3%), di hotel (11,2 %), di taman (2,5%), di t
empat rekreasi (2,4%), di kampus/sekolah (1,3%), di mobil (0,4%) dan tak diketah
ui (0,7%).
Akibatnya, sebanyak 72,9% responden mengaku hamil. Sebanyak 91,5% di
antaranya mengaku telah melakukan aborsi lebih dari satu kali. Aborsi umumnya d
ilakukan dengan bantuan dukun/nonparamedik (94,8%) dan hanya 5,2% dilakukan deng
an bantuan paramedik.
Seks bebas erat kaitannya dengan penyakit kelamin yang dapat menular
dari pasangan saat melakukan hubungan intim. 95% dari responden mengetahui keru
gian yang ditimbulkan dari perilaku seks bebas. Diantara jawaban yang paling ban
yak dilontarkan adalah HIV/AIDS,
Kasus AIDS di Indonesia setiap tahunnya terus menunjukkan kecenderun
gan meningkat hingga selama rentang dari 1996 sampai Maret 2006 jumlahnya mencap
ai 5.823 kasus. Dr I Nyoman Kandun MPH, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit
dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL) Depkes, di Bandung, Selasa, mengatakan, da
ri 5.823 kasus AIDS di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir itu, 80,9 persen
di antaranya menimpa pada kaum laki-laki dan 18,1% pada kaum perempuan. terjadi
peningkatan kasus AIDS di tanah air setiap tahunnya mulai 2002 sebanyak 1.172 ka
sus kemudian terus meningkat 2003 menjadi 1.488 kasus, 2004 menjadi 2.683 kasus,
2005 menjadi 5.321 kasus dan 2006 menjadi 5.823 kasus. Mereka juga tahu bahwa a
da beberapa jenis penyakit yang ditularkan dari hubungan seksual. Misalnya 93% t
ahu tentang AIDS dan 34% tahu Sipilis. Kalau tentang AIDS, mereka 82% tahu dari
televisi, 20% dari internet dan hanya 10% yang tahu dari orang tuanya (Camita Wa
rdhana, Project Director Synovate Reseach).
Sumber Masalah Kesehatan Reproduksi
1. Seks dengan sembarang orang
2. Seks tanpa alat pengaman (kondom)
3. Melakukan hubungan seksual saat perempuan sedang haid
4. Seks tidak normal, misalnya seks anal (melalui dubur)
5. Oral seks dengan penderita gonore, menyebabkan faringitis gonore (gonore pada
kerongkongan)
6. Seks pada usia terlalu muda, bisa mengakibatkan kanker serviks
7. Perilaku hidup tidak sehat dapat mendatangkan penyakit (tekanan darah tinggi,
jantung koroner, diabetes melitus) yang dapat memicu disfungsi ereksi (DE)
8. Kehidupan seks menimbulkan trauma psikologis juga faktor pemicu DE
Dalam hal perilaku seks yang aman 40% menjawab lebih memilih melakuk
an petting daripada making love dengan menggunakan kondom, dengan alasan kondom
dapat bocor dan tidak terjamin keamanannya. Sebanding dengan itu 40% lainnya ber
pendapat bahwa seks dengan kondom itu tidak besar resikonya dibanding petting. S
isannya mengaku tidak tahu. Disinggung tentang aman tidaknya melakukan seks deng
an menggunakan alat kontrasepsi 50% menjawab tidak, 3% tidak tau dan lainnya men
gaku aman.
Pemuasan Nafsu
Terkadang para remaja tidak dapat mengendalikan nafsu yang sedang berg
ejolak. Dan terungkap bahwa 38% responden sebagai objek penelitian, melakukan ma
sturbasi sendiri atau oleh temannya setelah menyaksikan sesuatu yang membuat naf
su meningkat. Fenomena ini mungkin saja terjadi bagi remaja yang tidak dapat men
ahan diri namun sadar akan norma-norma agama, dimana seseorang dilarang melakuka
n hubungan seks sebelum menikah. Dari penelitian penyusun 65% responden mengaku
pernah menonton, melihat video, gambar, film dan audio visual yang berbau seks.
Virginitas
Seiring dengan meningkatnya kebebasan perilaku remaja yang mengarah pa
da seks pranikah, tentu sangat berpengaruh terhadap keperawanan pihak remaja put
ri. Karenanya, ketika ditanya bagaimana perasaan para responden setelah melakuka
n hubungan seks pra nikah itu, 47% responden perempuan merasa menyesal karena ta
kut hamil, berdosa, hilang keperawanan dan takut ketahuan orang tua.
Masalah keperawanan seorang wanita masih dianggap penting dipertahan
kan sampai menikah oleh 90% responden yang terdiri dari pria dan wanita. Pada um
umnya, banyak dari responden pria yang telah melakukan seks pranikah, namun mere
ka tetap menginginkan wanita yang masih perawan hingga saat menikah.
REMAJA PUTRI, SUDAH JATUH TERTIMPA TANGGA
. Undang-undang no. 20 / 1992 mentabukan pula pemberian KB untuk rem
aja puteri yang belum menikah. Ketika pencegahan gagal dan berujung pada kehamil
an, lagi-lagi remaja putri yang harus bertanggung jawab. Memilih untuk menjalani
kehamilan dini seperti dilakukan 9,5% remaja di bawah 20 tahun , dengan risiko
kemungkinan kematian ibu pada saat melahirkan 28% lebih tinggi dibanding yang be
rusia 20 tahun ke atas , disertai kegamangan karena tak siap menghadapi peran ba
ru sebagai ibu. Atau menjalani pilihan lain yang tersedia : aborsi.
Selain itu, hubungan atau kontak seksual pada usia di bawah 17 tahun
merangsang tumbuhnya sel kanker pada alat kandungan perempuan, karena pada rent
ang usia 12 hingga 17 tahun, perubahan sel dalam mulut rahim sedang aktif sekali
.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
KESIMPULAN
Kelalaian untuk menanggapi kebutuhan remaja akan informasi tentang k
esehatan reproduksi dan seks yang bertanggungjawab ternyata berbuah pahit. Begit
u populernya perilaku berisiko,begitu banyak korban berjatuhan,begitu tinggi bia
ya sosial yang harus dibayar.
Perasaan seksual yang menguat tak bisa tidak dialami oleh setiap rem
aja meskipun kadarnya berbeda satu dengan yang lain, juga kemampuan untuk mengen
dalikannya. Ketika mereka harus berjuang mengenali sisi-sisi diri yang mengalami
perubahan fisik - psikis - sosial,akibat pubertas,masyarakat justru berupaya ke
ras menyembunyikan segala hal tentang seks,meninggalkan remaja dengan berjuta ta
nda tanya yang lalu lalang di kepala mereka. Pandangan bahwa seks adalah tabu, y
ang telah sekian lama tertanam,membuat remaja enggan untuk berdiskusi tentang ke
sehatan reproduksi dengan orang lain. Yang lebih memprihatinkan, mereka justru s
ering merasa paling tidak nyaman bila harus membahas seksualitas dengan orang tu
anya.
Tak tersedianya informasi yang akurat dan benar tentang kesehatan re
produksi memaksa remaja bergerilya mencari akses dan melakukan eksplorasi sendir
i. Arus komunikasi dan informasi mengalir deras menawarkan petualangan yang mena
ntang. Majalah,buku, dan film pornografi yang memaparkan kenikmatan hubungan sek
s tanpa mengajarkan tanggung jawab yang harus disandang dan risiko yang harus di
hadapi menjadi acuan utama mereka.
SARAN
Pendidikan Seksual
Pendidikan seksual merupakan cara pengajaran atau pendidikan yang dapat menolong
muda-mudi untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada dorongan seksual.
Dengan demikian pendidikan seksual ini bermaksud untuk menerangkan segala hal ya
ng berhubungan dengan seks dan seksualitas dalam bentuk yang wajar. Dalam hal in
i maka sebenarnya peran dunia pendidikan sangatlah besar. Bahkan jika memungkink
an masalah kesehatan reproduksi ini dapat menjadi kurikulum baru.
Tujuan Pendidikan Seksual
Pendidikan seksual selain menerangkan tentang aspek-aspek anatomis dan biologis
juga menerangkan tentang aspek-aspek psikologis, moral, unsur hak asasi manusia,
kultur dan agama.
Juga dikatakan bahwa tujuan dari pendidikan seksual adalah bukan unt
uk menimbulkan rasa ingin tahu dan ingin mencoba hubungan seksual antara remaja,
tetapi ingin menyiapkan agar remaja tahu tentang seksualitas dan akibat-akibatn
ya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama dan adat istiadat serta kes
iapan mental dan material seseorang. Penjabaran tujuan pendidikan seksual dengan
lebih lengkap sebagai berikut :
• Memberikan pengertian yang memadai mengenai perubahan fisik, mental da
n proses kematangan emosional yang berkaitan dengan masalah seksual pada remaja.
• Mengurangi ketakutan dan kecemasan sehubungan dengan perkembangan dan
penyesuaian seksual (peran, tuntutan dan tanggungjawab)
• Membentuk sikap dan memberikan pengertian terhadap seks dalam semua m
anifestasi yang bervariasi
• Memberikan pengertian bahwa hubungan antara manusia dapat membawa kepu
asan pada kedua individu dan kehidupan keluarga.
• Memberikan pengertian mengenai kebutuhan nilai moral yang esensial unt
uk memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan berhubungan dengan per
ilaku seksual.
• Memberikan pengetahuan tentang kesalahan dan penyimpangan seksual agar
individu dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat mengganggu keseh
atan fisik dan mentalnya.
• Untuk mengurangi prostitusi, ketakutan terhadap seksual yang tidak ras
ional dan eksplorasi seks yang berlebihan.
• Memberikan pengertian dan kondisi yang dapat membuat individu melakuka
n aktivitas seksual secara efektif dan kreatif dalam berbagai peran, misalnya se
bagai istri atau suami, orang tua, anggota masyarakat.
Jadi tujuan pendidikan seksual adalah untuk membentuk suatu sikap emosional yang
sehat terhadap masalah seksual dan membimbing anak dan remaja ke arah hidup dew
asa yang sehat dan bertanggung jawab terhadap kehidupan seksualnya. Hal ini dima
ksudkan agar mereka tidak menganggap seks itu suatu yang menjijikan dan kotor. T
etapi lebih sebagai bawaan manusia, yang merupakan anugrah Tuhan dan berfungsi p
enting untuk kelanggengan kehidupan manusia, dan supaya anak-anak itu bisa belaj
ar menghargai kemampuan seksualnya dan hanya menyalurkan dorongan tersebut untuk
tujuan tertentu (yang baik) dan pada waktu yang tertentu saja.
Beberapa Kiat
Pendidik yang terbaik adalah orang tua dari anak itu sendiri. Pendid
ikan yang diberikan termasuk dalam pendidikan seksual. Dalam membicarakan masala
h seksual adalah yang sifatnya sangat pribadi dan membutuhkan suasana yang akrab
, terbuka dari hati ke hati antara orang tua dan anak. Hal ini akan lebih mudah
diciptakan antara ibu dengan anak perempuannya atau bapak dengan anak laki-lakin
ya, sekalipun tidak ditutup kemungkinan dapat terwujud bila dilakukan antara ibu
dengan anak laki-lakinya atau bapak dengan anak perempuannya. Dalam memberikan
pendidikan seks pada anak jangan ditunggu sampai anak bertanya mengenai seks. Se
baiknya pendidikan seks diberikan dengan terencana, sesuai dengan keadaan dan ke
butuhan anak. Sebaiknya pada saat anak menjelang remaja dimana proses kematangan
baik fisik, maupun mentalnya mulai timbul dan berkembang kearah kedewasaan.
Beberapa hal penting dalam memberikan pendidikan seksual, seperti ya
ng diuraikan oleh Singgih D. Gunarsa (1995) berikut ini, mungkin patut diperhati
kan:
• Cara menyampaikannya harus wajar dan sederhana, jangan terlihat ragu-r
agu atau malu.
• Isi uraian yang disampaikan harus obyektif, namun jangan menerangkan y
ang tidak-tidak, seolah-olah bertujuan agar anak tidak akan bertanya lagi, boleh
mempergunakan contoh atau simbol seperti misalnya : proses pembuahan pada tumbu
h-tumbuhan, sejauh diperhatikan bahwa uraiannya tetap rasional.
• Dangkal atau mendalamnya isi uraiannya harus disesuaikan dengan kebutu
han dan dengan tahap perkembangan anak. Terhadap anak umur 9 atau 10 tahun t bel
um perlu menerangkan secara lengkap mengenai perilaku atau tindakan dalam hubung
an kelamin, karena perkembangan dari seluruh aspek kepribadiannya memang belum m
encapai tahap kematangan untuk dapat menyerap uraian yang mendalam mengenai masa
lah tersebut.
• Pendidikan seksual harus diberikan secara pribadi, karena luas sempitn
ya pengetahuan dengan cepat lambatnya tahap-tahap perkembangan tidak sama buat s
etiap anak. Dengan pendekatan pribadi maka cara dan isi uraian dapat disesuaikan
dengan keadaan khusus anak.
• Pada akhirnya perlu diperhatikan bahwa usahakan melaksanakan pendidika
n seksual perlu diulang-ulang (repetitif) selain itu juga perlu untuk mengetahui
seberapa jauh sesuatu pengertian baru dapat diserap oleh anak, juga perlu untuk
mengingatkan dan memperkuat (reinforcement) apa yang telah diketahui agar benar
-benar menjadi bagian dari pengetahuannya.
Bekerjasama Dengan Pemerintah
Pemerintah Republik Indonesia pun memaklumkan pentingnya kesehatan reproduk
si remaja dalam PROPENAS 2000,yang akan diwujudkan oleh BKKBN. Bagitu banyak hal
terkait yang bisa dilakukan melalui kerja sama antara pemerintah dengan berbaga
i pihak lain, diantara kebijakan itu :
• Mengembangkan kebijakan dan program berdasar paradigma baru yang bebas bias ge
nder, sekaligus lebih ramah pada remaja, dengan menempatkan remaja sebagai subye
k aktif yang patut didengar, dilibatkan, dan dengan demikian turut bertanggung j
awab atas kepentingan mereka sendiri. Pendidikan kesehatan reproduksi remaja, te
rmasuk di dalamnya informasi tentang keluarga berencana dan hubungan antar gende
r, diberikan tak hanya untuk remaja melalui sekolah dan media lain, tetapi juga
untuk keluarga dan masyarakat
• Membuka wacana pengkajian ulang Undang-und
ang nomor 1 tahun 1974 yang memberikan celah bagi terjadinya pernikahan dini, da
n Undang-undang nomor 10 tahun 1992 yang mengganjal pelayanan kontrasepsi untuk
pasangan ( baca: remaja) yang belum menikah, serta aturan-aturan yang dibuat ber
landaskan Undang-undang tersebut.
• Meneruskan upaya meretas hambatan sosial budaya dan agama dalam persoalan repr
oduksi dan seksualitas remaja, melibatkan kelompok masyarakat yang lebih luas, s
eperti ulama-rohaniwan, petinggi adat untuk menilai, merencanakan dan melaksanak
an program yang paling tepat untuk kesehatan reproduksi remaja, termasuk juga me
ndorong keterbukaan dan komunikasi dalam keluarga.

DAFTAR PUSTAKA
- D. Gunarsa, Singgih : Psikologi Remaja. Jakarta, BPK Gunung Mulia 1991.
- Siswanto, Joko : Skripsi Pandangan Orang Tua Tentang Kesejahteraan Remaja Di R
W Kebon Kangkung Kiaracondong Kotamadya Dati II Bandung. Bandung, STKS 1985.
- Eramuslim.com
- Kespro.net
- Seksiologi@Wikipedia.com
http://siapapunbolehbaca.multiply.com/journal/item/22