Anda di halaman 1dari 17

Kehamilan Ektopik Terganggu

McGirt Lamberth Robert Uniplaita


Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

i.

Pendahuluan
Kehamilan ektopik ialah suatu kehamilan yang berbahaya bagi wanita yang
bersangkutan berhubung dengan besarnya kemungkinan terjadi keadaan yang gawat.
Keadaan gawat dapat terjadi apabila kehamilan ektopik terganggu.Kehamilan ektopik
merupakan keadaan emergensi yang menjadi penyebab kematian maternal selama kehamilan
trimester pertama, karena janin pada kehamilan ektopik secara nyata bertanggung jawab
terhadap kematian ibu, maka para dokter menyarankan untuk mengakhiri kehamilan. Hal
yang perlu diingat ialah bahwa pada setiap wanita dalam masa reproduksi dengan gangguan
atau keterlambatan haid yang disertai dengan nyeri perut bagian bawah, perlu difikirkan
dugaan adanya kehamilan ektopik terganggu.1

Alamat Korespondensi: 102011088, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

2015, Kelompok : F1. Jalan Arjuna Utara No. 6, Jakarta 11510,Telp: 021-5694201ext.2061,
girtrobert@gmail.com
ii.

Identifikasi Istilah
Tidak ada istilah yang tidak di ketahui

iii.

Skenario

Wanita, 30 tahun. Datang ke UGD dengan keluhan nyeri akut abdomen lebih pada sisi
kanan bawah disertai bercak darah. Pemeriksaan tes kehamilan dengan test pack memberikan
hasil positif. Berdasarkan hari pertama haid terakhir pasien hamil 7 minggu. Ini merupakan
kehamilan pasien yang ketiga, kehamilan pertama pasien mengalami absorsi. Pasien punya
riwayat infeksi pada organ pelvic 3 tahun yang lalu, dan riwayan pemakaian IUD.
Transvaginal ultrasound yang dilakukan 1 minggu yang lalu melaporkan uterus kosong dan
tampak masa pada adnexa kanan sebesar 2x2cm. TD 80/50mmHg, N 100x/menit, afebrile,
congjungtivae tampak pucat.
iv.

Rumusan Masalah
Wanita, 30 tahun. Datang ke UGD dengan keluhan nyeri akut abdomen lebih pada sisi
kanan bawah disertai bercak darah, hasil tes kehamilan dengan test pack memberikan hasil
positif. Berdasarkan hari pertama haid terakhir pasien hamil 7 minggu.

v.

Hipotesis
Pasien dengan keluhan nyeri akut abdomen kanan bawah yang disertai bercak darah
di duga mengalami kehamilan ektopik terganggu

vi.

Analisis Masalah
Anamnesis
Dari hasil anamnesis haid biasanya terlambat untuk beberapa waktu, dankadang-kadang
terdapat gejala subyektif kehamilan muda.1 Nyeri abdominal terutama bagian bawah dan
perdarahan pervaginam pada trimester pertama kehamilan merupakan tanda dan gejala klinis
yang mengarah ke diagnosis kehamilan ektopik. Gejala-gejala nyeri abdominal dan
perdarahan pervaginam tidak terlalu spesifik atau juga sensitif.2

Pemeriksaan Fisik dan Penunjang


Pemeriksaan umum : Penderita tampak kesakitan dan pucat. Pada perdarahan dalam
rongga perut tanda-tanda syok dapat ditemukan. Pada jenis tidak mendadak perut bagian
bawah hanya sedikit menggembung dan nyeri tekan.1 Kehamilan ektopik yang belum

terganggu tidak dapat didiagnosis secara tepat semata-mata atas adanya gejala-gejala klinis
dan pemeriksaan fisik.2
Pemeriksaan ginekologi : Tanda-tanda kehamilan muda mungkin ditemukan.
Pergerakan serviks menyebabkan rasa nyeri. Bila uterus dapat diraba, maka akan teraba
sedikit membesar dan kadang-kadang teraba tumor di samping uterus dengan batas yang
sukar ditentukan. Kavum Douglas yang menonjol dan nyeri-raba menunjukkan adanya
hematokel retrouterina. Suhu kadang-kadang naik sehingga menyukarkan perbedaan dengan
infeksi pelvik.1Hampir semua kehamilan ektopik didiagnosis antara kehamilan 5 dan 12
minggu. Identifikasi dari tempat implantasi embrio lebih awal dari pada kehamilan 5 minggu
melampaui kemampuan teknik-teknik diagnostik yang ada. Pada usia kehamilan 12 minggu,
kehamilan ektopik telah memperlihatkan gejala-gejala sekunder terhadap terjadinya ruptur
atau uterus pada wanita dengan kehamilan intrauteri yang normal telah mengalami
pembesaran yang berbeda dengan bentuk dari kehamilan ektopik.2
Pemeriksaan laboratorium : Pemeriksaan hemoglobin dan jumlah sel darah merah
berguna dalam menegakkan diagnosis kehamilan ektopikterganggu, terutama bila ada tandatanda perdarahan dalam rongga perut. Pada kasus tidak mendadak biasanya ditemukan
anemia, tetapi harus diingat bahwa penurunan hemoglobin baru terlihat setelah 24
jam.1Perhitungan leukosit secara berturut menunjukkan adanya perdarahan bila leukosit
meningkat (leukositosis). Untuk membedakan kehamilan ektopik dari infeksi pelvik dapat
diperhaikan jumlah leukosit. Jumlah leukosit yang lebih dari 20.000 biasanya menunjukkan
infeksi pelvik.1
Penting untuk mendiagnosis ada tidaknya kehamilan. Cara yang paling mudah ialah
dengan melakukan pemeriksaan konsentrasi hormon human chorionic gonadotropin (hCG) dalam urin atau serum. Hormon ini dapat dideteksi paling awal pada satu minggu
sebelum tanggal menstruasi berikutnya. Konsentrasi serum yang sudah dapat dideteksi ialah 5
IU/L, sedangkan pada urin ialah 2050 IU/L.6 Tes kehamilan negatif tidak menyingkirkan
kemungkinan kehamilan ektopik terganggu karena kematian hasil konsepsi dan degenerasi
trofoblas menyebabkan human chorionic gonadotropin menurun dan menyebabkan tes
negatif.1 Tes kehamilan positif juga tidak dapat mengidentifikasi lokasi kantung gestasional.
Meskipun demikian, wanita dengan kehamilan ektopik cenderung memiliki level -hCG yang
rendah dibandingkan kehamilan intrauterin.6
Kuldosentesis :Ialah suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah terdapat darah
dalam kavum Douglas. Cara ini sangat berguna untuk membuat diagnosis kehamilan ektopik
2

terganggu. Hasil positif bila dikeluarkan darah berwarna coklat sampai hitam yang tdak
membeku atau berupa bekuan-bekuan kecil.Hasil negatif bila cairan yang dihisap berupa
cairan jernih yang mungkin berasal dari cairan peritoneum normal atau kista ovarium yang
pecah, nanah yang mungkin berasal dari penyakit radang pelvis atau radang appendiks yang
pecah (nanah harus dikultur) atau darah segar berwarna merah yang dalam beberapa menit
akan membeku, darah ini berasal dari arteri atau vena yang tertusuk.
Ultrasonografi : Cara yang paling efisien untuk mengeluarkan adanya kehamilan
ektopik adalah mendiagnosis suatu kehamilan intrauteri. Cara yang terbaik untuk
mengkonfirmasi satu kehamilan intrauteri adalah dengan menggunakan ultrasonografi.
Sensitivitas dan spesifisitas dari diagnosis kehamilan intrauteri dengan menggunakan
modalitas ini mencapai 100% pada kehamilan diatas 5,5 minggu. Sebaliknya identifikasi
kehamilan ektopik dengan ultrasonografi lebih sulit (kurang sensitif) dan kurang spesifik.2

Laparoskopi
hanya
alat

digunakan sebagai
bantu

diagnostik

terakhiruntuk

kehamilan ektopik

apabila hasil penilaian prosedur diagnostik yang lain meragukan. Melalui prosedur
laparoskopik, alat kandungan bagian dalam dapat dinilai. Secara sistematis dinilai keadaan
2

uterus, ovarium, tuba, kavum Douglas dan ligamentum latum. Adanya darah dalam rongga
pelvis mempersulit visualisasi alat kandungan tetapi hal ini menjadi indikasi untuk dilakukan
laparotomi.

Diagnosis
Kesukaran membuat diagnosis yang pasti pada kehamilan ektopik belum terganggu
demikian besarnya sehingga sebagian besar penderita mengalami abortus tuba atau ruptur
ruba sebelum keadaan menjadi jelas. Alat bantu diagnostik yang dapat digunakan ialah
ultrasonografi (USG), laparoskopi atau kuldoskopi.1 Dari hasil pemeriksaan fisik dan
penunjang maka pasien ini di diagnosis dengan Kehamilan Ektopik Terganggu, dan ada
beberapa penyakit yang mirip dengan KET yang bisa di jadikan differential diagnosis yaitu
Abortus, Mola Hidaitosa, Appendixitis, Kista Ovarium, dan Salpingitis.
Pada kehamilan normal, telur yang sudah dibuahi akan melalui tuba falopi menuju
ke uterus. Dalam beberapa jam setelah pembuahan terjadi, mulailah pembelahan zigot. Dalam
3 hari terbentuk kelompok sel yang sama besarnya dan disebut stadium morula. Dalam
ukuran yang sama ini hasil konsepsi disalurkan terus ke pars ismika dan pars interstitialis
tuba (bagian-bagian tuba yang sempit) dan terus ke arah kavum uteri oleh arus serta getaran
silia pada permukaan sel-sel tuba dan kontraksi tuba. Dalam kavum uteri, hasil konsepsi
mencapai stadium blastula. Blastula dilindungi oleh simpai yang disebut trofoblas, yang
mampu menghancurkan dan mencairkan jaringan. Ketika blastula mencapai rongga rahim,
jaringan endometrium dalam keadaan sekresi. Jaringan endometrium ini banyak mengandung
sel-sel desidua.

Blastula dengan bagian yang berisi massa sel dalam (inner-cell mass) akan masuk ke
dalam desidua, menyebabkan luka kecil yang kemudian sembuh dan menutup lagi. Pada saat
nidasi terkadang terjadi sedikit perdarahan akibat luka desidua (tanda Hartman). Nidasi
terjadi pada dinding depan atau belakang uterus (korpus), dekat pada fundus uteri. Blastula
yang berimplantasi pada rahim akan mulai tumbuh menjadi janin.1 Pada kehamilan ektopik,
telur yang sudah dibuahi berimplantasi dan tumbuh di tempat yang tidak semestinya.
Kehamilan ektopik paling sering terjadi di daerah tuba falopi (98%), meskipun begitu
kehamilan ektopik juga dapat terjadi di ovarium, rongga abdomen, atau serviks.3

Differential Diagnosis
Abortus
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamilan kurang
dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Abortus dapat terjadi karena
beberapa sebab, yaitu :
a) Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi, biasa menyebabkan abortus pada kehamilan
sebelum usia 8 minggu. Faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah :
a. Kelainan kromosom, terutama trisomi autosom dan monosomi X
b. Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna
c. Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obatan, tembakau dan alkohol
b) Kelainan pada plasenta, misalnya endarteritis vili korialis karena hipertensi menahun
c) Faktor maternal, seperti pneumonia, tifus, anemia berat, keracunan dan
toxoplasmosis
d) Kelainan traktus genitalia, seperti inkompetensi serviks (untuk abortus pada
trisemester keduaKelainan traktus genitalia, seperti inkompetensi serviks (untuk
abortus pada trisemester kedua), retroversi uteri, mioma uteri, dan kelainan bawaan
uterus.
Manifestasi klinis dari abortus adalah

Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu


Pada pemeriksaan fisik : keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menurun,
tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, suhu

badan normal atau meningkat.


Perdarahan pervaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi.
Rasa mulas atau keram perut di daerah atas simfisis, sering disertai nyeri pinggang
akibat kontraksi uterus.

Mola Hidatidosa

Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal di mana hampir seluruh vili korialisnya
mengalami perubahan hidrofik. Etiologi belum diketahui dengan pasti, ada yang
menyatakan akibat infeksi, defisiensi makanan, dan genetik. Yang paling cocok adalah
teori Acosta Sison, yaitu defisiensi protein. Faktor infeksi terdapat pada golongan
sosiokonomi rendah, usia dibawah 20 tahun, dan paritas tinggi
Manifestasi klinis dari mola hidatidosa adalah sebagai berikut :
Amenore dan tanda-tanda kehamilan
Perdarahan pervaginam berkurang. Darah sendrung bewarna coklat. Pada keadaan

lanjut kadang keluar gelembung mola


Pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan
Tidak terabanya bagian janin pada palpasi dan tidak terdengarnya BJJ sekalipun

uterus sudah membesar setinggi pusar atau lebih


Preeklamsia atau eklamsia yang terjadi sebelum kehamilan 24 minggu.

Appendisitis
Apendisitis adalah peradangan dari appendiks vermiformis, dan merupakan penyebab
abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki
maupun perempuan, tetapi lebih sering menyerang anak laki-laki berusia antara 10
sampai 30 tahun.
Keluhan appendisitis biasanya bermula dari nyeri di daerah umbilikus atau
periumbilikus yang berhubungan dengan muntah. Dalam 2 12 jam nyeri akan beralih ke
kuadran kanan bawah, yang akan menetap dan di perberat bila berjalan atau batuk.
Terdapat juga keluhan anoreksia, malaise, dan demam yang tidak terlalu tinggi. Biasanya
juga terdapat konstipasi, tetapi kadang-kadang terjadi diare, mual dan muntah.
Pada permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap.
Namun dalam beberapa jam nyeri abdomen kanan bawah akan semakin progresif, dan
dengan pemeriksaan seksama akan dapat di tunjukan satu titik dengan nyeri maksimal.
Perkusi ringan pada kuadran kana bawah dapat membantu menentukan lokasi nyeri.
Nyeri lepas dan spasme biasanya juga muncul. Bila tanda rovsing, psoas, dan obturator
positif, akan semakin menyakitkan diagnosis klinis apendisitis.
Kista Ovarium
Kista ovarium merupakan tumor jinak berupa kantong abnormal berisi cairan atau
setengah cair yang tumbuh dalam indung telur (ovarium). Indung telur adalah rongga
berbentuk kantong berisi cairan di dalam jaringan ovarium. Kista tersebut disebut juga
kista fungsional karena terbentuk setelah telur dilepaskan sewaktu ovulasi. Kista
fungsional akan mengkerut dan menyusut setelah beberapa waktu (setelah 1-3 bulan).
Gejala dari kista ovarium adalah
2

Perut terasa kembung, penuh dan berat


Merasa kandung kemih anda tertekan sehingga sulit buang air kecil
Siklus menstruasi anda tidak teratur
Nyeri disekitar panggul, biasanya menetap atau sesekali yang menyebar ke panggul

bawah dan paha


Nyeri ketika bersenggama
Payudara mengeras
Mual hingga ingin muntah

Salpingitis
Salpingitis adalah peradangan pada saluran tuba, dipicu oleh infeksi bakteri.
Salpingitis kadang-kadang disebut penyakit radang panggul (PID). Ini istilah umum
termasuk infeksi lain dari sistem reproduksi wanita, termasuk rahim dan ovarium. Hampir
semua kasus salpingitisdisebabkan oleh infeksi bakteri, termasuk penyakit menular
seksual seperti gonore dan klamidia. Peradangan yang meminta tambahan sekresi cairan
atau bahkan nanah untukmengumpulkan dalam tuba falopi. Infeksi dari salah satu tabung
biasanya menyebabkan infeksi yang lain, karena bakteri bermigrasi melalui pembuluh
getah bening di dekatnya.
Salpingitis adalah salah satu penyebab paling umum dari ketidaksuburan wanita.
Tanpaperawatan yang segera, infeksi secara permanen dapat merusak tuba falopi sehingga
telursetiap siklus menstruasi dilepaskan tidak dapat bertemu dengan sperma. Gejalagejala salpingitis meliputi :
Nyeri abdomen di kedua sisi
Sakit punggung
Sering buang air kecil
Gejala-gejala biasanya muncul setelah periode menstruasi
Demam tinggi dengan menggigil
Nyeri perut Abnormal discharge vagina, seperti warna yang tidak biasa atau bau
Dismenorea
Tidak nyaman atau hubungan seksual yang menyakitkan
Kanan kiri bawah, terutama kalau ditekan
Defense kanan dan kiri atas ligamen pourpart
Mual dan muntah, ada gejala abdomen akut karena terjadi rangsangan peritoneum
Kadang-kadang ada tendensi pada anus karena proses dekat pada rektum dan sigmoid
Pada periksa dalam nyeri kalau portio digoyangkan, nyeri kiri dan kanan yterus,

kadang-kandang ada penebalan dari tuba.


Nyeri saat ovulasi

Working diagnosis
Kehamilan Ektopik Terganggu
2

Kehamilan ektopik adalah suatu kehamilan yang pertumbuhan sel telur yang telah di
buahi tidak menempel pada dinding endometrium kavum uteri. Lebih dari 95% kehamilan
ektopik berada di saluran telur (tuba fallopi).

Menurut lokasinya, kehamilan ektopik dapat dibagi dalam beberapa golongan atau
tempat, yaitu :
A. Tuba fallopi3
Dinding tuba merupakan lapisan luar dan kapsularis yang merupakan lapisan dalam
dari hasil konsepsi. Karena tuba tidak dan bukan merupakan tempat normal bagi
kehamilan, maka sebagian besar kehamilan tuba akan terganggu pada umur 6-10 minggu
kehamilan.
Pada saat proses fertilisasi yaitu proses penyatuan ovum dengan spermatozoon terjadi
di ampulla tuba. Dari sini ovum yang telah di buahi di gerakan ke kavum uteri dan di
tempat akhir ini mengadakan inplantasi di endometrium. Keadaan oada tuba yang
menghambat atau menghalangi gerakan ini, dapat menjadi sebab bahwa implantasi terjadi
pada endosalping; selanjutnya ada kemungkinan pula bahwa kelainan pada ovum yang di
buahi memberi pradisposisi untuk implantasi di luar kavum uteri, akan tetapi hal ini
kiranya tidak banyak terjadi. Diantara sebab-sebab yang menghambat perjalan ovum ke
uterus sehingga blastokista mengadakan implantasi di tuba ialah :
Bekas radang pada tuba; disini radang menyebabkan perubahan-perubahan pada
endosalping, sehingga walaupun fertilisasi masih dapat terjadi, gerakan uterus ke
ovum terlambat

Kelainan bawaan pada tuba, anatara lain divertikulum, tuba sangat panjang dan
sebagainya.
Gangguan fisiologik pada tuba karena pengaruh hormonal, perlekatan perituba,
tekanan pada tuba oleh tumor dari luar, dan sebagainya.
Operasi plastik pada tuba
Abortus buatan.
Mukosa pada tuba bukan merupakan medium yang baik buat pertumbuhan blastokista
yang berimplantasi di dalamnya. Vaskularisasi kurang baik, dan desidua tidak tumbuh
dengan sempurna. Dengan demikian ada 3 kemungkinan :
1) Hasil konsepsi mati dini dan diresorpsi
Pada implantasi secara kolumner, ovum yang dibuahi cepat mati karena
vaskularisasi kurang dan dengan mudah terjadi resorpsi total. Dalam keadaan ini
penderita tidak mengeluh apa-apa dan haidnya terlambat untuk beberapa hari.
2) Abortus ke dalam lumen tuba
Perdarahan yang terjadi karena pembukaan pembuluh-pembuluh darah oleh villi
koriales pada dinding tuba di tempat implantasi dapat melepaskan mudigah dari
dinding tersebut bersama-sama dengan robeknya pseudokapsularis. Pelepasan ini
dapat terjadi sebagian atau seluruhnya. Bila pelepasan menyeluruh, mudigah dan
selaputnya dikeluarkan dalam lumen tuba dan kemudian didorong oleh darah ke arah
ostium tuba abdominale. Perdarahan yang berlangsung terus menyebabkan tuba
membesar dan kebiru-biruan (Hematosalping) dan selanjutnya darah mengalir ke
rongga perut melalui ostium tuba, berkumpul di kavum douglas dan akan membentuk
hematokel retrouterina.
3) Ruptur dinding tuba
Ruptur tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada ismus dan biasanya pada
kehamilan muda. Sebaliknya ruptur pada pars interstitialis terjadi pada kehamilan
yang lebih lanjut. Faktor utama yang menyebabkan ruptur ialah penembusan villi
koriales ke dalam lapisan muskularis tuba terus ke peritoneum. Ruptur dapat terjadi
secara spontan atau karena trauma ringan. Darah dapat mengalir ke dalam rongga
perut melalui ostium tuba abdominale. Bila ostium tuba tersumbat, ruptur sekunder
dapat terjadi. Dalam hal ini, dinding tuba yang telah menipis oleh invasi trofoblas,
pecah karena tekanan darah dalam tuba. Kadang-kadang ruptur terjadi di arah
ligamentum latum dan terbentuk hematoma intraligamenter antara 2 lapisan
ligamentum tersebut. Jika janin hidup terus, dapat terjadi kehamilan intraligamenter.
Pada ruptur ke rongga perut, seluruh janin dapat keluar dari tuba, tetapi bila
robekan tuba kecil, perdarahan terjadi tanpa hasil konsepsi dikeluarkan dari tuba.
2

Nasib janin bergantung pada tuanya kehamilan dan kerusakan yang diderita. Bila
janin mati dan masih kecil, dapat diresorpsi seluruhnya, dan bila besar dapat diubah
menjadi litopedion.Janin yang dikeluarkan dari tuba dengan masih diselubungi oleh
kantong amnion dan dengan plasenta masih utuh kemungkinan tumbuh terus dalam
rongga perut, sehingga terjadi kehamilan ektpik lanjut atau kehamilan abdominal
sekunder. Untuk mencukupi kebutuhan makanan bagi janin, plasenta dari tuba akan
meluaskan implantasinya ke jaringan sekitarnya misalnya ke sebagian uterus,
ligamentum latum, dasar panggul dan usus.

Perjalanan kehamilan ektopik dalam tuba fallopi, dapat dibagi lagi dalam beberapa tempat
atau bagian, yaitu :

Pars interstisialis (2%)


Karena dinding agak tebal, dapat menahan kehamilan sampai 4 bulan atau lebih,
kadang kala sampai aterme, kalau pecah dapat menyebabkan perdarahan yang banyak

dan keluarnya janin dalam rongga perut.


Isthmus (25%)
Dinding tuba disini lebih tipis, biasanya pada kehamilan 2 sampai 3 bulan sudah
pecah
Ampula (55%)
Dapat terjadi abortus atau ruptur pada kehamilan 1-2 bulan
Fimbria (17%)
2

Dapat terjadi abortus atau ruptur pada kehamilan 1-2 bulan

B. Uterus
Kanalis servikalis
Kehamilan ini jarang dijumpai, dan biasanya terjadi abortus spontan di dahului

perdarahan yang makin lama makin banyak. Jarang terjadi lebih dari 20minggu.
Divertikulum
Kehamilan pada uterus jarang sekali terdapat, dan sangat sulit untuk mebuat
diangnosisnya. USG atau MRI kiranya dapat membantu menegakan diagnosis. Akibat
kehamilan ini adalah ruptur keluar dari uterus atau abortus. Kadang-kadang
kehamilan dapat berlangsung terus dan memerlukan laparatomi untuk melahirkan

janin, diikuti histeroktomi


Kornua
Tanduk rudimeter

C. Ovarium
Kehamilan ovarial primer sangat jarang terjadi. Diagnosis kehamilan tersebut
1

ditegakkan atas dasar 4 kriteria dari Spiegelberg, yakni :


a. Tuba pada sisi kehamilan harus normal
b. Kantong janin harus berlokasi pada ovarium
c. Kantong janin dihubungkan dengan uterus oleh ligamentum ovary proprium
d. Jaringan ovarium yang nyata harus ditemukan dalam dinding kantong janin
Diagnosis yang pasti diperoleh bila kantong janin kecil dikelilingi oleh jaringan
ovarium dengan trofoblas memasuki alat tersebut. Pada kehamilan ovarial biasanya
terjadi rupture pada kehamilan muda dengan akibat perdarahan dalam perut. Hasil
konsepsi dapat pula mengalami kematian sebelumnya sehingga tidak terjadi rupture,
ditemukan benjolan dengan berbagai ukuran yang terdiri atas ovarium yang mengandung
darah, vili korialis dan mungkin juga selaput mudigah. 1
D. Intraligamenter
E. Abdominal
Primer
sekunder
F. Kombinasi kehamilan di dalam dan di luar uterus
Etiologi
2

Etiologi dari kehamilan ektopik sudah banyak di sebutkan karena secara patofisiologi
mudah dimengerti sesuai dengan proses awal kehamilan sejak pembuahan sampai nidasi.
Apabila nidasi terjadi diluar kavum uteri atau diluar endometrium, maka terjadilah kehamilan
ektopik. Dengan demikian, faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya hambatan dalam
nidasi embrio ke endometrium menjadi penyebab kehamilan ektopik ini. Faktor-faktor yang
disebutkan adalah sebagai berikut :4
a) Faktor tuba
Adanya peradangan atau infeksi pada tuba menyebabkan lumen tuba menyempit atau
buntu. Keadaan uterus yang mengalami hipoplasia dan saluran tuba yang berkelok-kelok
panjang dapat menyebabkan fungsi silia tuba tidak berfungsi dengan baik. Juga pada
keadaan pascaoperasi rekanalisasi tuba dapat merupakan presdisposisi terjadi kehamilan
ektopik.
Faktor tuba yang lain ialah adanya kelainan endometriosis tuba atau diventrikel
saluran tuba yang bersifat kongenital. Adanya tumor di sekitar saluran tuba, misalnya
mioma uteri atau tumor ovarium yang menyebabkan perubahan bentuk dan patensi tuba,
juga dapat menjadi etiologi kehamilan ektopik.
b) Faktor abnomalitas dari zigot
Apabila tumbuh terlalu cepat atau tumbuh dengan ukuran besar, maka ziogt akan
tersendat dalam perjalanan pada saat melalui tuba, kemudian terhenti dan tumbuh di
saluran tuba.
c) Faktor ovarium
Bila ovarium memproduksi ovum dan ditangkap oleh tuba yang kontralateral, dapat
membutuhkan proses khusus atau waktu yang lebih panjang sehingga kemungkinan
terjadinya kehamilan ektopik lebih besar.
d) Faktor hormonal
Pada askseptor, pil KB yang hanya mengandung progesteron dapat mengakibatkan
gerakan tuba melambat. Apabila terjadi pembuahan dapat menyebabkan terjadinya
kehamilan ektopik.
e) Faktor lain
Termasuk disini antara lain adlaah pemakai IUD di mana proses peradangan yang
dapat timbul endometrium dan endosalping dapat menyebabkan terjadinya kehamilan
ektopik. Faktor umur penderita yang sudah menua dan faktor perokok juga sering
dihubungkan dengan terjadinya kehamilan ektopik.

Epidemiologi
Frekuensi dari kehamilan ektopik dan kehamilan intrauteri dalam satu konsepsi yang
spontan terjadi dalam 1 dalam 30.000 atau kurang. Angka kehamilan ektopik per 1000
diagnosis konsepsi, kehamilan atau kelahiran hidup telah dilaporkan berkisar antara 2,7
hingga 12,9. Angka kejadian kehamilan ektopik dari tahun ke tahun cenderung meningkat.
Diantara faktor-faktor yang terlibat adalah meningkatnya pemakaian alat kontrasepsi dalam
rahim, penyakit radang panggul, usia ibu yang lanjut, pembedahan pada tuba, dan pengobatan
infertilitas dengan terapi induksi superovulasi.2
Angka kejadian kehamilan ektopik di Amerika Serikat meningkat dalam dekade terakhir
yaitu dari 4,5 per 1000 kehamilan pada tahun 1970 menjadi 19,7 per 1000 kehamilan pada
tahun 1992. Kehamilan ektopik masih menjadi penyebab kematian utama pada ibu hamil di
Kanada yaitu berkisar 4% dari 20 kematian ibu pertahun.6 Pada tahun 1980-an, kehamilan
ektopik menjadi komplikasi yang serius dari kehamilan, terhitung sebesar 11% kematian
maternal terjadi di Amerika Serikat.2
Di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta angka kejadian kehamilan ektopik pada tahun 1987
ialah 153 di antara 4.007 persalinan atau 1 di antara 26 persalinan.Sebagian besar wanita
yang mengalami kehamilan ektopik berumur antara 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30
tahun. Frekuensi kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0-14,6%.1
Sekurangnya 95 % implantasi ektopik terjadi di tuba Fallopii. Di tuba sendiri, tempat
yang paling sering adalah pada ampulla, kemudian berturut-turut pada pars ismika,
infundibulum dan fimbria, dan pars intersisialis. Implantasi yang terjadi di ovarium, serviks,
atau cavum peritonealis jarang ditemukan.2

Manifestasi klinis

Gejala kehamilan muda


Terdapat tanda akut abdomen : nyeri tekan hebat (defance musculair), muntah, gelisah,
pucat anemis, nadi kecil dan halus, tensi rendah atau tidak terukur (syok)
Nyeri bahu : karena perangsangan diafragma
Tanda cullen : sekitar pusat atau linea alba kelihatan biru hitam dan lebam
Pervaginam keluar decidual cast
Pada pemeriksaan ginekologi (periksa dalam) terdapat :
- Adanya nyeri ayun
- Douglas crise : rasa nyeri hebat pada penekanan kavum douglasi

Kavum douglasi terasa menonjol karena terkumpulnya darah, begitu pula teraba masa

retrouterin (masa perlvis)


Pada palpasi perut dan perkusi : ada tanda perdarahan intrabdominal (shifting dullness)

Komplikasi5-6
(a) Pada pengobatan konservatif, yaitu bila ruptur tuba telah berlangsung (4-6minggu),
terjadi perdarahan ulang (recurrent bleeding). Ini merupakan indikasi operasi
(b) Infeksi
(c) Subileus karena massa pelvis
(d) sterilitas
Pentalaksanaan
Penatalaksanaan pada pasien kehamilan ektopik terganggu adalah segera merujuk
kerumah sakit, dan di rumah sakit dapat dilakukan :7-8

Bila wanita dalam keadaan syok, perbaiki keadaan umum dengan pemberiaan cairan yang

cukup (dekstrosa 5%, glukosa 5%, garam fisiologis) dan transfusi darah
Setelah diagnosa jelas dapat dilakukan laparatomi
Salpingektomi/salpingostomi/renanstomosis tuba
Kemoterapi
Dengan menggunakan metrotreksat 1mg/kg intravena dan faktor sitrovorum 0,1
mg/kg intramuskular berselang-seling selama 8 haribila kehamilan di pars ampularis tuba
belum pecah, diameter kantong gestasi kurang atau sama dengan 4cm, perdarahan dalam

rongga perut kurang dari 100ml, dan tanda vital baik.


Berikan antibiotik yang cukup dan obat antiinflamsi

Prognosis
Kematian karena kehamilan ektopik terganggu cenderung turun dengan
diagnosis dini dan persediaan darah yang cukup. Hellman dkk., (1971) melaporkan 1
kematian diantara 826 kasus, Wilson dkk., (1971) melaporkan 1 kematian diantara 591
kasus. Akan tetapi bila pertolongan terlambat angka kematian dapat tinggi. Sjahid dan
Martohoesodo (1970) mendapatkan angka kematian 2 dari 120 kasus. Sedangkan
Tardjiman dkk., (1973) mendapatkan angka kematian 4 dari 138 kehamilan ektopik.
Pada umumnya kelainan yang menyebabkan kehamilan ektopik bersifat bilateral.
2

Sebagian perempuan menjadi steril setelah mengalami kehamilan ektopik lagi pada tuba
yang lain. Angka kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan antara 0-14,6%. Untuk
perempuan dengan jumlah anak yang sudah cukup, sebaiknya pada operasi dilakukan
salpingektomi bilateralis dan sebelumnya perlu mendapat persetujuan suami dan isteri.1

vii.

Kesimpulan
Kehamilan ektopik adalah suatu kehamilan dimana sel telur yang dibuahi
berimplantasi dan tumbuh diluar endometrium kavum uteri. Kehamilan ektopik dapat
mengalami abortus atau ruptur pada dinding tuba dan peristiwa ini disebut sebagai Kehamilan
Ektopik Terganggu. Sebagian besar kehamilan ektopik terganggu berlokasi di tuba (90%)
terutama di ampula dan isthmus. Sangat jarang terjadi di ovarium, rongga abdomen, maupun
uterus. Keadaan-keadaan yang memungkinkan terjadinya kehamilan ektopik adalah penyakit
radang panggul, pemakaian antibiotika pada penyakit radang panggul, pemakaian alat
kontrasepsi dalam rahim IUD (Intra Uterine Device), riwayat kehamilan ektopik sebelumnya,
infertilitas, kontrasepsi yang memakai progestin dan tindakan aborsi.Gejala yang muncul
pada kehamilan ektopik terganggu tergantung lokasi dari implantasi. Dengan adanya
implantasi dapat meningkatkan vaskularisasi di tempat tersebut dan berpotensial
menimbulkan ruptur organ, terjadi perdarahan masif, infertilitas, dan kematian. Hal ini dapat
mengakibatkan meningkatnya angka mortalitas dan morbiditas Ibu jika tidak mendapatkan
penanganan secara tepat dan cepat. Insiden kehamilan ektopik terganggu semakin meningkat
pada semua wanita terutama pada mereka yang berumur lebih dari 30 tahun. Selain itu,
adanya kecenderungan pada kalangan wanita untuk menunda kehamilan sampai usia yang
cukup lanjut menyebabkan angka kejadiannya semakin berlipat ganda

Daftar Pustaka
1. Prawirohardjo, S., 2005, Kehamilan Ektopik dalam Ilmu Kebidanan, Jakarta Pusat :
Yayasan Bina Pustaka.
2. Murray, H., Baakdah, H., Bardell, T., Tulandi, T., Diagnosis and Treatment of Ectopic
Pregnancy,

CMA

Media

Inc.

(CMAJ),2005;173(8),

diunduh

dari

http://www.cmaj.ca.full.pdf+html.
3. Norwitz RE, Schorge JO. Anamnesis dan pemeriksaan fisik. Dalam : Norwitz RE,
Schorge JO. At a glance obstetri dan ginekologi. Jakarta : Erlangga 2007. H. 9; 17-20
2

4. Prawirohardjo, S., 2007, Kehamilan Ektopik dalam Ilmu Bedah Kebidanan, Jakarta
Pusat : Yayasan Bina Pustaka.
5. Benson, Ralph C. Kehamilan ektopik. Dalam : Benson, Ralph C. Buku saku obstetri dan
ginekologi. Jakarta: EGC. 2009. H.305-13;575;612-7
6. Taber BZ. Kehamilan ektopik. Dalam : Melfiawati S. Kapita selekta kedaruratan obstetri
dan ginekologis. Jakarta: EGC. 1994. h. 185-6
7. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Rouse DJ, Spong YS. Kehamilan
ektopik. Dalam : Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Rouse DJ, Spong
YS. Obstetri Williams. Jakarta : EGC. 2013. H.251-70
8. Sofian A. Sinopsis Obstetri. Dalam : Sofian A. Kelaianan letak kehamilan. Jakarta: EGC.
2012. H. 160-6