Anda di halaman 1dari 30

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Mesin Perkakas
Mesin perkakas merupakan alat mekanis yang ditenagai, biasanya
digunakan untuk mempabrikasi benda kerja menjadi bentuk tertentu sehingga
menjadi barang siap pakai dalam kehidupan keseharian.
1. Parameter Utama dalam Mesin Perkakas
Konsep ketelitian dan ketepatan harus diterapkan dalam setiap
proses pemesinan, hal ini ditujukan agar hasil dari proses pemesinan
tersebut dapat mencapai titik maksimal yang diharapkan. Hal itu dapat
dicapai jika dalam pengerjaan pemesinan mengacu pada teori dasar
pemesinan seperti berikut1 :
a. Cutting Speed (Vc)
Cutting speed/kecepatan potong alat potong adalah jarak
yang dapat ditempuh oleh salah satu mata potong (m/menit). Cutting
speed ditentukan berdasarkan tabel material atau tabel material alat
potong. Hal yang dapat mempengaruhi cutting speed antara lain
material benda kerja, material alat potong, pendinginan (cooling).
Cutting speed dapat digambarkan sebagai keliling benda kerja
dikalikan dengan kecepatan putar atau :
Vc=( xdxn ) /1000 ...........................1)2
di sini :
1 Dalmasius Ganjar S.,Pemrograman CNC dan Aplikasi di Dunia Industri (Bandung:
informatika,2012), h.23
2Ibid, loc cit., h 23

Vc = kecepatan potong (m/menit)


d = diameter alat potong (mm)
n = putaran spindle utama/alat potong (rpm)
b.

Feeding (f)
Dalam proses milling, feeding dapat dibedakan menjadi 3
tipe, yaitu :
1) Feed per minute: merupakan pergerakan meja dalam waktu 1
menit. (mm/menit)
f = z x n x sz (mm/menit) .........................2)3
di sini :
z = jumlah mata potong
n = putaran spindel utama/alat potong (rpm)
sz = feed per tooth (mm/tooth)
2) Feed per revolution : pergerakan meja dalam mm pada 1 kali
putaran milling cutter. (mm/revolution)
f = z x sz (mm/revolution)......................3)4
di sini :
z = jumlah mata potong
sz = feed per tooth, satuannya (mm/tooth)
3) Feed per tooth : merupakan pergerakan meja dalam mm selama
waktu cutter yang berputar pada benda kerja dari satu mata
potong ke mata potong berikutnya. (mm/tooth)
sz = f/(z x n)........................4)5
di sini :
z = jumlah mata potong
n = putaran spindle utama/alat potong (rpm)
f = feed per minute (mm/menit)
sedangkan untuk menghitung kecepatan laju pemotongan (F) :

3 Ibid., h.24.
4 Ibid, loc cit., h.24.
5 Ibid, loc cit,. h.24.

F = n x fn x z ........................5)6
di sini :
F = kecepatan laju pemotongan (mm/menit)
n = putaran spindle (put/menit)
fn = ketebalan tatal (mm/put)
z = jumlah mata potong
2. Jenis Mesin Perkakas
Pekerjaan pemesinan, benda yang akan digunakan dan dijadikan
dalam bentuk tertentu sehingga menjadi barang siap pakai tentu
memerlukan proses pengerjaan menggunakan mesin perkakas. Mesin
perkakas itu, seperti mesin bubut (lathe machine), mesin frais (milling
machine), mesin sekrap.
a. Mesin Bubut (Lathe Machine)
Mesin bubut merupakan salah satu jenis mesin perkakas yang
digunakan untuk mengerjakan benda kerja yang memiliki bentuk
silinder atau diameter lingkaran benda kerja baik lurus maupun
bertingkat, selain itu mesin bubut juga dapat mengerjakan lubang
pada silinder7.
Proses pemesinan yang dilakukan pada mesin bubut berbeda
dengan proses yang dilakukan pada mesin frais. Pada proses bubut,
benda kerja akan dipegang oleh pencekam (cuck) yang dipasang
pada ujung poros utama (spindle) sehingga benda kerja akan ikut
berputar dengan poros utama mesin, sedangkan pahat akan dipegang
oleh dudukan pahat (tool post) dan pahat hanya bergerak ke arah
sumbu X dan Z sesuai. Selain itu, pada mesin frais benda kerja
6 Ibid., h.25.
7 Dalmasius Ganjar S., Teknik Pemrograman CNC Bubut dan Frais (Jakarta: LIPI Pres,
2008), h.5

dicekam pada meja mesin dan bergerak ke arah sumbu X dan Y,


sedangkan pahat dipasang pada poros utama (spindle) yang dapat
bergerak ke arah sumbu Z.

Gambar 2.1. Proses Pemotongan pada Mesin Bubut8


Proses bubut menurut arah gerakan laju dapat dibedakan
menjadi beberapa jenis9 :
1) Pembubutan memanjang

(gambar

2.2.a).

Gerakan

laju

berlangsung sejajar dengan sumbu putaran. Oleh itu, bidang


permukaan luar benda kerja (bidang garapan lengkung) yang
digarap. Gerakan penyetelan menempatkan perkakas pada posisi
penyayatan yang tepat pada benda kerja setelah setiap
penyayatan. Kedalaman tusukan ditentukan oleh penyetelan
tegak lurus terhadap sumbu perputaran.
8 Ibid,.h.8
9 Alois Schnmetz et al., Pengerjaan Logam dengan Mesin, terj. Eddy D.
Hardjapamekas, (Bandung: Angkasa, 2013), h.18.

2) Pembubutan

membidang

(gambar

2.2.b).

Gerakan

laju

berlangsung tegak lurus terhadap sumbu perputaran. Proses ini


dihasilkan bidang rata tegak lurus terhadap sumbu perputaran
(bidang garapan datar). Oleh itu, benda kerja memperoleh
panjang yang tepat. Arah laju dapat dari luar kepusat perputaran
atau sebaliknya. Penyetelan (kedalaman tusukan) berlangsung
sejajar dengan sumbu perputaran setelah setiap penyayatan.
3) Jika gerakan laju berlangsung menyudut miring terhadap
terhadap sumbu perputaran, dihasilkan kerja yang berbentuk
kerucut (gambar 2.2.c).
4) Pembubutan alur berlangsung hanya dengan gerakan laju tegak
lurus terhadap sumbu perputaran (gambar 2.2.d)
5) Arah gerakan laju sejajar dan tegak lurus terhadap sumbu
perputaran pada saat yang sama dihasilkan benda bulat atau
benda rotasi lainnya (gambar 2.2.e)

Gambar 2.2. Pembubutan Menurut Arah Gerakan Laju10


b. Mesin Frais (Milling Machine)
Proses frais berbeda dengan proses pemesinan lainnya karena
dalam proses frais tidak menghasilkan geram yang tetap melainkan
10 Ibid,.h.17

bentuk koma. Tebal geram itu dipengaruhi oleh gerak makan pergigi
dan sudut posisi pahat yang selalu berubah akibat perubahan mata
potong (gigi mata frais).
1) Klasifikasi Pahat pada Mesin Frais
Berdasarkan jenis pahat yang dipakai pada mesin frais
dapat digolongkan menjadi tiga jenis11:

Gambar 2.3. Tiga Klasifikasi Proses Frais : (a) Frais periperal


(slab milling), (b) frais muka (face milling), dan
(c) frais jari (end milling)12.

a) Frais Periperal (Slab Milling)


Proses ini disebut juga dengan slab milling,
permukaan yang difrais dihasilkan oleh gigi pisau yang
terletak pada permukaan luar badan alat potongnya. Sumbu
dari putaran piau biasanya pada bidang yang sejajar dengan
permukaan benda kerja yang disayat.
b) Frais Muka (Face Milling)
Pisau dipasang pada spindel yang memiliki sumbu
putar tegak lurus terhadap permukaan benda kerja.
11 Widarto,Teknik Permesinan Jilid 1 untuk SMK (Jakarta: Direktorat Pembinaan
Sekolah Menengah Kejuruan, 2008), h.187.
12 Ibid., loc cit., h.187

10

Permukaan hasil proses frais dihasilkan dari hasil


penyayatan oleh ujung dan selubung pisau.
c) Frais Jari (End Milling)
Pisau pada frais jari biasanya berputar pada sumbu
yang tegak lurus permukaan benda kerja. Pisau dapat
digerakakan menyudut untuk menghasilakan permukaan
menyudut. Gigi potong pada pisau terletak pada selubung
pisau dan ujung badan pisau.
2) Nilai Kerja pada Mesin Frais
Pengoperasian mesin frais terdapat beberapa acuan yang
harus

diperhatikan,

berikut

adalah

beberapa

acuan

pengoperasian mesin frais13 :


a) Kecepatan Sayat
Pada mesin frais gerakan utama pada perautan
adalah gerakan putaran peraut. Gerakan utama ialah
kecepatan sayat dan ini bekerja pada keliling peraut yang
bentuknya

lingkaran,

kecepatan

sayat

disebut

juga

kecepatan keliling. Kecepatan sayat dapat dihitung dengan


rumus seperti berikut :
d. .n
v=
14
1000 (m/menit) .....................6)
maka

n=

1000. v
d .

(1/menit) ...............7)15

13 Alois Schnmetz et al., Pengerjaan Logam dengan Mesin, terj. Eddy D.


Hardjapamekas, (Bandung: Angkasa, 2013), h.163.
14 Ibid., loc cit,. h.163
15 Ibid., h.163

11

Di sini :
v = kecepatan sayat (m/menit)
d = garis tengah peraut (mm)
n = angka putaran peraut (1/menit)
Kecepatan sayat akan sangat dipengaruhi oleh
diameter benda kerja, jika garis tengah benda kerja semakin
tinggi dan angka putaran peraut semakin besar maka nilai
kecepatan sayat akan mengikuti.
b) Laju
Gerakan laju pada peraut dilaksanakan oleh benda
kerja yang mendapatkan gerakan ini dari gerakan meja.
Nilai laju dinyatakan dalam mm per menit, jadi hal ini
merupakan pernyataan kecepatan (lintasan di dalam satuan
waktu). Penggerakan meja dilakukan oleh motor tersendiri
dan bebas dari angka putaran spindle frais. Jika angka
putaran spindle peraut diubah, memang akan berubah pula
kecepatan sayat. Selain itu, tidak demikian halnya dengan
kecepatan laju benda kerja (kecepatan meja).
Jumlah gigi pisau frais harus juga dipertimbangkan
dengan mengingat beban yang akan ditampung oleh setiap
gigi pisau frais. Semakin banyak jumlah gigi, akan semakin
sedikit serpih yang diungkit oleh setiap gigi pada laju
tertentu. Daya mesin dan pemakaian tenaganya mengalami
pengaruh negatif akibat pembagian gigi yang kecil karena
perlawanan sayat meningkat dengan bertambahnya gigi
yang menyayat pada saat yang sama. Pembagian gigi yang

12

terlalu kecil dapat menyebabkan patahnya peraut atau


lengkapan alih gerak laju mesin.
c) Kedalaman Irisan
Meningkatnya kedalaman irisan , meningkat pula
kebutuhan mesin frais akan daya. Hal ini, beberapa bagian
gigi menyayat secara serentak, akan berlangsung putaran
yang stabil dan dihasilkan bidang permukaan garapan yang
halus. Oleh itu, jika serpih yang akan dikelupas besar
volumenya, akan lebih ekonomis apabila dapat dicapai
volume serpih yang sama dengan pada irisan yang dangkal,
tetapi laju yang besar dalam beberapa siklus penyayatan.
Pada pemfraisan menyongsong yang kedalaman irisannya
melebihi 6mm, gaya yang mengarah ke atas akan terlalu
besar sehingga benda kerja akan terangkat. Pada volume
serpih yang sama berlaku prinsip : serpih yang sempit dan
tebal (irisan yang dangkal, laju yang tinggi) memerlukan
gaya yang lebih kecil daripada serpih yang lebih besar dan
tipis.
c. Mesin Sekrap

13

Gambar 2.4. Mesin Sekrap Horizontal16

Gambar 2.5. Mesin Sekrap Vertikal17


Mesin sekrap merupakan mesin yang bekerja dengan cara
benda dijepitkan pada catok yang dipasangkan pada meja yang dapat
digeser arah melintang terhadap sumbu mesin. Selain itu, pahat yang
dipasangkan pada eretan bergerak sepanjang sumbu mesin secara
bolak balik. Langkah penyayatannya dapat diatur panjang atau
pendek. Jalannya benda kerja bergerak secara melintang, dapat diatur
secara otomatis. Gerakan meja juga dapat dinaik turunkan untuk
penyetelan posisi benda kerja, sedangkan untuk memekankan pahat
dilakukan dengan memutar eretan bawah18

16 Widarto, Teknik Pemesinan untuk SMK Jilid 2 (Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Kejuruan,2008), h.237

17 Ibid,.loc cit,.h.237
18 Daryanto, Dasar Dasar Teknik Mesin (Jakarta:Bina Aksara,1984),h.77

14

Mesin ini digunakan untuk pengerjaan berbagai bidang yang


rata, jika perlu untuk bidang yang lengkung pada umunya rendamen
pada mesin ini tidak menguntungkan karena setiap gerak kerja, alat
pahat membuat gerak kembali tanpa menyayat, meskipun rendah
rendamennya.
Besar kecilnya mesin sekrap menentukan panjang bagian
yang akan disekrap, jika bagian yang disekrap melebihi batas
panjang langkahnya maka benda kerja itu tidak dapat dikerjakan,
oleh itu, ukuran mesin sekrap sebaiknya digunakan sesuai panjang
langkah yang akan dipakai.

Gambar 2.6. Jenis Pahat Mesin Sekrap19


B. Sistem Operasi Mesin Frais
Prinsip kerja mesin frais ialah pisau penyayatnya mempunyai gerak
berputar, sedangkan benda kerja terpasang pada meja dengan bergerak
mendatar, ke atas dan ke bawah20. Menurut sistem operasi ada dua
penggolongan mesin frais, mesin frais konvensional dan mesin frais CNC.
1. Mesin Frais Konvensional
19 Ibid,.loc cit,.h.79

15

Mesin frais konvensional berbeda dengan mesin frais CNC, pada


mesin frais konvensional masih menggunakan penggerak manual. Selain
itu tingkat produktifitas yang dihasilkan mesin frais konvensional juga
lebih rendah. Berikut adalah beberapa jenis mesin frais konvensional21 :
a. Mesin Frais Horizontal
Pada mesin frais horizontal, letak sumbu utama spindel
sejajar dengan meja mesin. Meja mesin hanya dapat digerakan pada
tiga arah, yaitu membujur, melintang, dan tegak.

Gambar 2.7. Mesin Frais Horizontal22


b. Mesin Frais Vertikal
Mesin frais vertikal, letak sumbu utama spindelnya tegak
lurus terhadap meja mesin. Bagian kepala tegaknya dapat diputar
sehingga kedudukan spindel sumbu utama dapat dibuat menyudut
terhadap mesin. Mesin ini cocok digunakan untuk pekerjaan
pekerjaan yang mempergunakan pisau frais sisi atau jari.

20 Daryanto., Teori Kejuruan Teknik Mesin Perkakas (Bandung: Satu Nusa, 2010), h. 95
21 Ibid., loc cit,. h.95.
22 Ibid,.h.97

16

Gambar 2.8. Mesin Frais Vertikal23


c. Mesin Frais Universal
Mesin frais universal pada prinsipnya sama dengan mesin
frais horizontal, hanya meja mesin frais universal dapat diputar
mendatar dengan membuat sudut 450 ke arah tiang mesin.

Gambar 2.9. Mesin Frais Universal24


2. Mesin Frais CNC
Mesin frais CNC memiliki beberapa kelebihan dibandingkan
dengan mesin konvensional, diantaranya mampu melakukan ketelitian
tinggi (accurate), ketepatan tinggi (Precise), produktifitas tinggi
(produktive), dan dapat mengerjakan bentuk yang kompleks.
Secara garis besar mesin frais CNC dapat digolongkan menjadi
dua, yaitu25:
a. Mesin Frais CNC Training Unit

23 Ibid,.h.98
24 Ibid,.h.99

17

Mesin ini dipergunakan untuk pelatihan dasar pemrograman


dan pengoperasian CNC. Mesin frais CNC Training Unit hanya
mampu dipergunakan untuk berbagai pekerjaan ringan dengan bahan
yang relatif lunak.
b. Mesin Frais CNC Production Unit
Mesin ini dipergunakan untuk produksi masal, proses mesin
ini dilengkapi dengan kelengkapan tambahan seperti sistem pembuka
otomatis yang menerapkan prinsip kkerja hoidrolis, pembuangan
tatal dan sebagainya.
Gerakan mesin frais CNC dikontrol oleh program komputer,
sehingga semua gerakan yang berjalan sesuai dengan program yang
diberikan, keuntungan dari sistem ini adalah mesin memungkinkan
untuk diperintah mengulang gerakan yang sama secara terus
menerus dengan tingkat ketelitian yang sama pula.
C. Komponen Mesin Frais CNC
Mesin frais CNC 3 axis menggunakan sistem koordinat Cartesius.
Prinsip kerjanya adalah meja bergerak melintang dan horizontal sedangkan
pisau / pahat berputar. Bagi gerakan persumbuan mesin frais CNC 3 axis
diberi lambang sumbu X untuk arah gerakan horizontal, sumbu Y untuk arah
gerakan melintang dan sumbu Z untuk arah gerakan vertikal.
Pada mesin frais CNC terdiri dari beberapa komponen utama,
komponen itu seperti26 :

25 Widarto., Teknik Pemesinan Jilid 1 (Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah


Menengah Kejuruan, 2008), h.363
26Ibid.,364

18

1. Eretan/Lead Screw
Leadscrew merupakan gerak persumbuan arah jalannya mesin.
Pada mesin ini mempunyai dua fungsi gerakan kerja ,pada posisi gerakan
kerja vertikal dan gerakan kerja horizontal.
2. Motor Stepper

Gambar 2.10 Motor Stepper27


Motor stepper berfungsi untuk menggerakan leadscrew, tiap arah
gerakan sumbu memiliki motor stepper. Berbeda dengan motor DC biasa
yang

menghasilkan

gerakan

putaran

kontinyu,

motor

stepper

menghasilkan tingkat derajat tertentu. Besarnya sudut untuk tiap langkah


bervariasi antara 0,9 sampai 900.
3. Linear Guide
Linear guide adalah komponen pendukung CNC yang berfungsi
sebagai bantalan untuk menstabilkan gerakan dan menahan beban table
mesin CNC agar bergerak dengan gesekan yang minimal, sehingga
tenaga yang dihasilkan dari motor stepper dapat dimaksimalkan dalam
proses pemakanan benda kerja.
4. Kopling
Kopling merupakan komponen mekanik yang dirancang mampu
menghubungkan dan melepas/memutuskan perpindahan tenaga dari suatu
benda yang berputar ke benda lainnya agar ikut berputar. Dalam mesin
CNC, kopling akan menghubung/memutuskan putaran dari motor stepper
menuju ke leadscrew sehinnga leadscrew akan ikut berputar ataupun
27 Ibid., h.363

19

sebaliknya. Pada mesin CNC kopling yang akan dipakai berjumlah 3


buah yang dipasang pada masing masing sumbu leadscrew.
5. Driver
Motor driver berfungsi sebagai penerus perintah dari break out
board yang di aplikasikan menjadi pergerakan step perderajat putaran
motor stepper. Motor driver dipasang pada CPU yang langsung
berhubungan dengan break out board dan motor stepper
6. Power Supply
Pada dasarnya power supply termasuk dari bagian power
conversion. Power supply fungsi utamanya adalah mengubah listrik arus
bolak balik (AC) menjadi arus listrik searah (DC) yang dibutuhkan oleh
komponen pada mesin CNC.
7. Break Out Board
Komponen ini berfungsi sebagai prosesor yang mendistribusikan
perintah program yang telah kita buat.
8. Router/motor utama

Gambar 2.11 Motor Utama28


Router merupakan komponen pada mesin CNC yang berfungsi
sebagai penggerak utama spindle atau end mill.
9. Block Support
Block support merupakan komponen pada mesin CNC yang
berfungsi sebagai dudukan ballscrew yang berputar. Block support akan
didukung dengan bearing didalamnya sehingga akan mempermudah
ballscrew berputar bebas saat beroperasi.

28 Ibid.loc cit,h.364

20

10. Tool Holder


Tool holder (penjepit alat potong) digunakan sebagai rumah atau
dudukan collet. Sumber putaran tool holder dihasilkan dari motor utama.

Gambar 2.12 Tool Holder29


11. Collet
Collet pada berfungsi sebagai alat penjepit end mill. Bentuk
collet ini biasanya disesuaikan dengan ukuran dari end mill.

Gambar 2.13 Collet30


12. Ragum

29 Ibid., h.366
30 Ibid., loc cit,. h.366

21

Ragum digunakan untuk menjepit benda kerja pada saat


proses penyayatan. Ragum pada mesin ini dilengkapi dengan
stopper. Ragum bisa diganti sesuai dengan kebutuhan.

Gambar 2.14 Ragum31

13. Saklar Utama/Main Switch


Saklar utama digunakan sebagai pintu masuk aliran arus ke
kontrol pengendali. Cara kerja saklar ini pada saat diputar pada
posisi 1 maka arus listrik akan mengalir masuk menuju kontrol CNC.

(a)(b)
Gambar 2.15 Main Switch: a. Posisi mati, b. Posisi hidup32
14. Emergency Switch
Tombol ini digunakan untuk memutus arus listrik yang
masuk ke kontrol mesin. Hal ini, dilakukan apabila akan terjadi hal
31 Ibid., h.366
32 Ibid., h.368

22

hal yang tidak diinginkan akibat kesalahan program yang telah


dibuat.

Gambar 2.16 Emergency Switch33


D. Beban
Perancangan bagian mesin kemungkinan besar akan mengalami
kegagalan. Kegagalan tersebut salah satunya disebabkan karena terjadinya
deformasi plastik. Ketika poros menerima beban torsi atau momen puntir,
maka poros tersebut cenderung akan terdeformasi akibat pengaruh puntiran
karena perbedaan putaran satu titik terhadap titik lain. besarnya torsi yang
diterima dapat dihitung dengan persamaan berikut :
P 3
T w = . M . g
10
....................................8)34
2

Keterangan :
Tw = torsi beban
M = massa meja ditambah massa benda kerja
g = percepatan grafitasi
33 Ibid, loc cit,. h.368
34Abdul Hafid, Jurnal Pemilihan Motor Servo Pada Proses Retrofit Mesin Frais
(Jakarta: BATAN,2008). h.101.

23

P = jarak bagi poros


= koefisien gesek
Ketika poros menerima torsi atau momen puntir yang besarnya
telah ditentukan dengan perhitungan diatas, maka akan terjadi momen
inersia kerja pada poros tersebut. Besarnya momen inersia kerja dapat
dihitung dengan persamaan berikut :

Jw =

P 2 6
M
.10 + J B ...................................................9)35
2

( )

di sini :
Jw = inersia kerja
JB = inersia poros
Sedangkan besarnya JB adalah :
2

JB =

M B. D
6
. 10
8

......................................................10)36

di sini :
MB = massa poros
D = diameter poros
E. Aluminium
Aluminium dan paduan aluminium termasuk logam ringan yang
mempunyai kekuatan tinggi, tahan terhadap karat dan merupakan konduktor

35 Ibid.,loc cit., h.101


36 Ibid.,loc cit., h.101

24

yang cukup baik. Logam ini dipakai secara luas dalam biang kimia,
bangunan, transportasi dan peralatan penyimpanan. Paduan aluminium dapat
diklasifikasikan dalam tiga cara, yaitu berdasarkan pembuatan, dengan
klasifikasi paduan cor dan paduan tempa, berdasarkan perlakuan panas dapat
dan tidaknya diperlaku panaskan dan cara ketiga yang berdasarkan unsur
unsur paduan. Berdasarkan klasifikasi ketiga ini aluminium dibagi menjadi
tujuh jenis yaitu37 : Al murni, Jenis Al-Cu, jenis jenis Al-Mn, Al-Si, jenis AlMg, jenis Al-Mg-Si dan jenis Al-Zn.
Tabel 2.1 Klasifikasi Paduan Aluminium38

1. Jenis Al- Murni Teknik (seri 1000)


Jenis aluminium ini memliki kemurnian antara 99,0% dan 99,9 %.
Aluminium ini mempunyai sifat than karat yang cukup baik, konduksi
panas dan konduksi listrik dan sifat mampu las dan mampu potong yang
baik.
2. Jenis Al-Cu (seri 2000)
Aluminium jenis ini mempunyai sifat yang hampir mirip dengan
baja lunak, tetapi daya tahan korosinya rendah bila dibandingkan dengan
jenis paduan lainnya. Sifat mampu lasnya juga kurang baik, karena itu
37 Harsono Woryosumarto dan Thoshie Okumura, Teknologi Pengelasan Logam (Jakarta
: Pradnya Paramita,2008). h. 113
38 Shinroku saito, Pengetahuan Bahan Teknik, Cet.4, terj. Ir. Tata Surdia, M.S. Met. E, (Jakarta :
Pradnya Paramita,1999), h. 135.

25

paduan jenis ini biasa digunakan pada konstruksi keling dan banyak
digunakan dalam konstruksi pesawat terbang.
3. Jenis paduan Al-Mn (seri 3000)
Jenis ini tidak dapat diperlaku-panaskan sehingga penaikan
kekuatannya hanya dapat diusahakan melalui pengerjaan dingin dalam
proses pembuatannya. Aluminium ini mempunyai sifat tahan korosi,
mampu potong dan sifat mampu lasnya cukup baik.
4. Jenis Al-Si (seri 4000)
Jenis ini tidak dapat diperlaku panaskan. Aluminium ini dalam
keadaan cair mempunyai sifat mampu alir yang baik dan proses
pembekuannya hampir tidak terjadi retak. Oleh itu, jenis ini banyak
digunakan sebagai bahan atau logam las dalam pengelasan paduan
aluminium baik cor maupun paduan tempa.
5. Jenis Al-Mg (seri 5000)
Jenis ini tidak mampu diperlaku panaskan., tetapi mempunyai
sifat yang baik dalam daya tahan terhadap korosi, terutama korosi
terhadap air laut, dan dalam sifat mampu lasnya. Oleh itu, jenis ini
banyak digunakan tidak hanya dalam konstruksi umum tetapi juga untuk
tangki-tangki penyimpanan gas alam cair dan oksigen cair.
6. Jenis Al-Mg-Si (seri 6000)
Aluminium jenis ini termasuk dalam jenis yang dapat diperlaku
panaskan dan mempunyai sifat mampu potong, mampu las dan daya
tahan terhadap korosi yang cukup baik. Sifat yang kurang baik dari jenis
ini adalah terjadinya pelunakan pada daerah las sebagai akibat dari panas
pengelasan yang timbul.
7. Jenis Al-Zn (seri 7000)
Jenis ini cukup baik dalam menahan panas. Kekuatan tarik yang
dicapai lebih dari 50 kg/mm2, sehingga paduan ini dinamakan paduan

26

ultra duralumin. Berlawanan dengan kekuatan tariknya, sifat mampu


lasnya dan daya tahan terhadap korosi kurang baik.
Tabel 2.2 Sifat mekanik paduan Al-Mg-Si39

F. Ulir
Pada umumnya ulir digunakan untuk penyatuan dua komponen hampir
terdapat dalam semua hasil teknologi, dari hasil teknologi perindustrian yang
tingkat ketelitiannya rendah sampai pada hasil perindustrian yang tingkat
ketelitiannya tinggi tidak bisa lepas dari yang namanya ulir. Selain sebagai
penyatuan dua komponen ulir juga sering digunakan sebagai penerus daya,
artinya ulir digunakan untuk memindahkan daya menjadi daya lain. Ulir juga
dapat digunakan utnuk mencegah terjadinya kebocoran, terutama pada sistem
ulir yang digunakan pada pipa
1. Istilah Penting Pada Ulir
Penggunaan istilah disini bukan untuk menunjukan arti arti lain
pada ulir, melainkan untuk menunjukan adanya dimensi dimensi yang
penting untuk diketahui setiap kali membicarakan masalah ulir.

Gambar 2.17. Dimensi Penting Dari Ulir40


39 Ibid.,h.140

27

a. Diameter Major (diameter luar) merupakan diameter terbesar ulir.


b. Diameter minor (diameter inti) merupakan diameter terkecil ulir.
c. Diameter tusuk merupakan diameter semu yang letaknya diantara
diameter luar dan diameter inti. Pada radius dari diameter tusuk
inilah letaknya titik titik singgung antara pasangan dua buah ulir
sehingga pada titik titik tersebutlah yang akan menerima beban
terberat sewaktu pasangan ulir dikencangkan.
d. Pitch (jarak puncak ulir) merupakan dimensi yang cukup besar
pengaruhnya terhadap pasangan ulir. Apabila jarak puncak yang satu
dengan puncak ulir yang lain tidak sama maka ulir ini tidak akan
bisa dipasangkan.
e. Sudut ulir merupakan sudut dari kedua sisi permukaan ulir yang
satuannya dalam derajat. Untuk American Standard dan ISO sudut
ulirnya 600.
f. Kedalaman ulir merupakan jarak antara diameter inti dengan
diameter luar.
2. Jenis Ulir
Secara umum jenis ulir dapat dilihat dari gerakan ulir, jumlah ulir
dalam tiap gang (pitch), dan bentuk permukaan ulir. Dapat juga jenis ulir
dilihat dari standard yang digunakan, seperti ulir metrik dan sebagainya.
a. Jenis Ulir Menurut Arah Gerakan Jalur Ulir
Menurut arah gerakan ulir dibedakan menjadi dua macam ulir
yaitu ulir kiri dan ulir kanan. Untuk membedakannya dapat dilihat
dari kemiringan sudut sisi ulir. Atau bisa juga dicek dengan memutar
pasangan dari komponen komponen yang berulir misalnya mur dan
baut. Apabila sebuah mur dipasangkan pada baut yang kemudian
diputar ke kanan (searah jarum jam) ternyata murnya bergerak maju
40 Dahmir Dahlan, Elemen Mesin (Jakarta : Citra Harta Prima, 2012). h.69

28

maka ulir tersebut termasuk ulir kanan. Sebaliknya, bila mur diputar
arahnya ke kiri (berlawanan jarum jam) ternyata murnya bergerak
maju maka ulir tersebut termasuk ulir kiri.
b. Jenis Ulir Menurut Jumlah Ulir Tiap Gang (Pitch)
Dilihat dari banyaknya ulir tiap pitch maka ulir dpat
dibedakan menjadi ulir tunggal dan ulir ganda. Ulir ganda artinya
dalam satu putaran (dari puncak ulir satu kepuncak ulir yang lain)
terdapat lebih dari satu ulir.

Gambar 2.18. Ulir Tunggal dan Ulir Ganda41

c. Jenis Ulir Menurut Bentuk Sisi Ulir


Dilihat dari sisi ulir maka ulir dapat dibedakan menjadi ulir
segitiga, segi empat, trapesium, parabol (knuckle).

41 Ibid.,h.71

29

(b)

(b)

(e)

(d)

(f)

Gambar 2.19. (a).Ulir Metrik, (b).Ulir Unified, (c).British Standard


Whitwort, (d). Knuckle, (e).Buttress 450, (f). Acme42

G. BallScrew
Ballscrew disebut juga bantalan bola sekrup. Ballscrew terdiri dari
spindel sekrup dan nut yang terintegrasi dengan bola dan mekanisme
pengembalian bola. Ballscrew merupakan jenis sekrup yang paling umum
digunakan dalam mesin industri dan mesin yang memerlukan kepresisian
tinggi. Fungsi utama dari ballscrew untuk mengkonversi gerakan berputar
menjadi gerakan linier atau torsi untuk mendorong dan sebaliknya.
1. Karakteristik Ballscrew

42 Ibid,.h.70.

30

Banyak manfaat dalam menggunakan ballscrew seperti


efisiensi yang tinggi, reversibilitas, akurasi yang tinggi. Dibandingkan
dengan lead screw, ballscrew mempunyai manfaat yang lebih baik.

Gambar 2.20 Ballscrew dan Lead screw43


Ballscrew memiliki bola diantara mur dan spindel sehingga
gaya gesek sekrup dilakukan oleh gerakan putaran bola. Ballscrew
terbuat dari baja yang melalui proses carburizing, induction
hardening.
Karakteristik ballscrew adalah sebagai berikut44:
a. High Efficiency and reversibility
Ballscrew dapat mencapai efisiensi 90% karena bola
bergulir antara spindel dan mur. Oleh karena itu torsi yang
dibutuhkan sekitar sepertiga daripada lead screw. Akibat
rendahnya torsi yang dibutuhkan oleh ballscrew pada saat
beroperasi hal ini juga dapat mengakibatkan daya motor yang
dipakai menjadi lebih rendah.
b. Backlash elimination and high stiffnes
Mesin CNC memerlukan ballscrew dengan backlash
sekecil mungkin (zero) dan deformasi elastis yang minim.
Ballscrew ini dirancang dengan bentuk lengkungan pada
balltrack (alur bolanya). Gerakan bolak balik pada ballscrew

43 HIWIN, Linear Motion Products dan Technology (Taiwan: HIWIN,2010),h.1


44 Ibid.,h.2

31

sangat dibutuhkan untuk mencapai tingkat kekakuan yang tinggi.


Namun,

gerakan

bolak

balik

yang

berlebihan

dapat

meningkatkan torsi gesekan dalam pengoperasian. Oleh itu, torsi


gesekan akan menghasilkan panas dan memperpendek usia
ballscrew.
c. High lead accuracy
Pembuatan ballscrew terdapat pengukuran laser yang baik
sehingga dihasilkan ballscrew dengan tingkat akurasi yang tinggi.
d. Predictable life expectancy
Berbeda dengan lead screw, yang diatur oleh gesekan
permukaan secara langsung. Ballscrew ini dapat digunakan
sampai tingkat kelelahan pada material logam ballscrew tersebut.
e. Low starting torque and smooth running
Pada lead screw dihasilkan gesekan pada permukaan
logam sehingga membutuhkan tenaga yang tinggi untuk
mengurangi gesekan - gesekan yang terjadi. Sedangkan dalam
ballscrew dibutuhkan tenaga awal yang lebih kecil untuk
mengurangi gesekan dikarenakan adanya bola yang terdapat pada
permukaan ballscrew.
2. Aplikasi Ballscrew
Ballscrew sering digunakan dalam bidang bidang berikut45:
a. CNC Machinery : CNC Machine center, CNC Lathe, CNC milling
machine, CNC grinder, Wire cutting machine, boring machine.
b. Precision machine tools : Milling machine, grinder, gear
manufacturing machine, drilling machine.

45 Ibid,. h.4

32

c. Industrial machinery : Printing machine, paper processing


machine, automatic machine, textile machine, drawing machine,
injection molding machine.
d. Electronic machinery : Robot measuring intrument, medical
equipment, surface mounting device, semi conductor equipment,
factory automation equipment.
e. Transport machinery : Material handling equipment, elevated
actuator.
f. Aerospace industry : Aircraft flaps, airport loading equipment, fin
actuator.
3. Standar Spindle dan Lead pada Ballscrew
Standar spindle dan lead pada ballscrew hiwin dapat dilihat
pada tabel berikut:
Tabel 2.3 Hiwin standard ballscrew spindle and lead46

4. Dimensi Ballscrew Tipe FSI


Ballscrew tipe FSI terdiri dari ukuran yang berbeda, berikut
adalah tabel dimensi dari ballscrew tipe FSI :
Tabel 2.4 Dimensi ballscrew tipe FSI47

46 Ibid,.h.5

33

47 Ibid.,51