Anda di halaman 1dari 12

LANSIA

1. Definisi Lansia
Lanjut usia (lansia) merupakan proses alamiah dan berkesinambungan
yang mengalami perubahan anatomis, fisiologis, dan biokimia pada jaringan atau
organ yang pada akhirnya memengaruhi keadaan fungsi dan kemampuan badan
secara keseluruhan (Fatmah, 2010). Menurut Budi Anna Keliat yang dikutip
Maryam et al. (2008), usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan
pada daur kehidupan manusia. Menurut UU no.12 tahun 1998 tentang
kesejahteraan lansia, yang disebut lansia adalah seseorang yang telah mencapai
usia diatas 60 tahun.
2. Klasifikasi Lansia
Departement Kesehatan RI mengklasifikasikan lansia dalam kategori sebagai
berikut:
a. Pralansia (prasenilis), adalahseseorang berusia 45-58 tahun
b. Lansia, adalah seseorang berusia 60 tahun atau lebih
c. Lansia risiko tinggi, adalah seseorang yang berusia di atas 70 tahun atau di
atas 60 tahun dengan masalah kesehatan
d. Lansi potensial, adalah seorang lansia yang masih mampu melakukan
pekerjaan atau kegiatan yang menghasilkan
e. Lansia tidak potensial, adalah lansia yang tidak berdaya mencari nafkah
sehingga hidupnya tergantung pada orang lain.
Sedangkan World Heath Ogranization (WHO) mengklasifikasikan lansia menjadi
3, yaitu:
a. Usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun
b. Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun
c. Lanjut usia tua (old) 75 90 tahun
d. Lansia sangat tua (very old) diatas 90 tahun (Dewi, 2014).
3. Teori Menua
Menurut Constantinides dalam Darmojo (2009), menua (menjadi
tua/aging) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan
jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti diri dan mempertahankan struktur

dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk
infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita. Menua juga didefinisikan
sebagai penurunan seiring waktu yang terjadi pada sebagian besar makhluk hidup
berupa kelemahan, meningkatnya kerentanan terhadap penyakit dan perubahan
lingkungan, hilangnya mobilitas dan ketangkasan, serta perubahan fisiologis
yang terkait usia (Setiati et al., 2009).
Berbagai teori mengenai proses penuaan telah diajukan dimana semua
teori tersebut saling mengisi dan menjelaskan berbagai sebab dan perubahan
akibat proses menua.
a. Teori radikal bebas
Teori ini menyebutkan bahwa produk hasil metabolisme oksidatif
yang sangat reaktif (radikal bebas) dapat bereaksi dengan berbagai
komponen penting selular, termasuk protein, DNA, dan lipid, dan menjadi
molekul-molekul yang tidak berfungsi namun bertahan lama dan
mengganggu fungsi sel lainnya. Akumulasi radikal bebas secara bertahap di
dalam sel sejalan dengan waktu dan bila kadarnya melebihi konsentrasi
ambang maka mungkin berkontribusi pada perubahan-perubahan yang
seringkali dikaitkan dengan penuaan (Setiati et al., 2009).
Sebenarnya di dalam tubuh sendiri memiliki kemampuan untuk
menangkal radikal bebas. Walaupun telah ada sistem penangkal, namun
sebagian radikal bebas tetap lolos, bahkan makin lanjut usia makin banyak
radikal bebas terbentuk sehingga proses kerusakan terus terjadi. Kerusakan

organel sel makin lama makin banyak dan akhirnya sel mati (Darmojo,
2009).
b. Teori glikosilasi
Proses glikosilasi nonenzimatik yang menghasilkan pertautan glukosaprotein yang disebut sebagai advanced glycation end products (AGEs) dapat
menyebabkan penumpukan protein dan makromolekul lain yang termodifikasi
sehingga menyebabkan disfungsi pada hewan atau manusia yang menua. Protein
glikasi menunjukkan perubahan fungsional, meliputi menurunnya aktivitas enzim
dan menurunnya degradasi protein abnormal (Setiati et al., 2009).
c. Teori DNA repair
Teori DNA repair atau tepatnya mitochondrial DNA repair terkait erat
dengan teori radikal bebas. Mutasi DNA mitokondria (mtDNA) dan pembentukan
Reactive Oxygen Species (ROS) di mitokondria saling memengaruhi satu sama lain,
membentuk vicious cycle yang secara eksponensial memperbanyak kerusakan
oksidatif dan disfungsi selular yang pada akhirnya menyebabkan kematian sel.
Mutasi DNA di manusia terjadi setelah umur pertengahan tiga puluhan,
terakumulasi seiring pertambahan umur, dan jarang melebihi 1 %. Rendahnya
jumlah mutasi mtDNA yang terakumulasi diakibatkan proses repair yang terjadi di
tingkat

mitokondria. Adanya

gangguan

repair

pada

kerusakan

oksidatif

menyebabkan percepatan proses penuaan (accelerated aging). Selain itu, mutasi


mtDNA akibat gangguan repair juga terkait dengan munculnya keganasan, Diabetes
Melitus, dan penyakit neurodegeneratif (Setiati et al., 2009).

d. Teori Genetic clock


Menurut teori ini, menua telah terprogram secara genetik untuk
spesies tertentu. Tiap spesies di dalam nuclei (inti sel) mempunyai jam
genetik yang telah diputar menurut replikasi tertentu. Jam ini akan

menghitung mitosis dan menghentikan replikasi sel bila tidak diputar, jadi
menurut konsep ini bila jam Lansia berhenti akan meninggal dunia,
meskipun tanpa disertai kecelakaan lingkungan atau penyakit akhir. Konsep
genetic clock didukung oleh kenyataan bahwa ini merupakan cara
menerangkan mengapa pada beberapa spesies terlihat adanya perbedaan
harapan hidup yang nyata (Darmojo, 2009).
e. Rusaknya sistem imun tubuh
Mutasi yang berulang atau perubahan protein pasca translasi dapat
menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem imun tubuh mengenali
dirinya sendiri (self recognition). Jika mutasi somatik menyebabkan
terjadinya kelainan pada antigen permukaan sel, maka hal ni dapat
menyebabkan sistem imun tubuh menganggap sel yang mengalami
perubahan tersebut sebagai sel asing dan menghancurkannya. Perubahan
inilah yang menjadi dasar terjadinya peristiwa autoimun (Darmojo, 2009).
Di pihak lain sistem imun tubuh sendiri daya pertahanannya
mengalami penurunan pada proses menua, daya serangnya terhadap sel
kanker menjadi menurun sehingga sel kanker leluasa membelah. Inilah yang
menyebabkan terjadinya kanker meningkat sesuai dengan meningkatnya
umur (Darmojo, 2009).
4. Stereotipe psikologik lansia
Sifat-sifat stereotype para lansia umumnya sesuai dengan pembawaannya
pada waktu muda. Beberapa tipe yang dikenal adalah sebagai berikut:
a. Tipe konstruktif.
Lansia dengan tipe ini memiliki integritas baik, dapat menikmati hidupnya,
mempunyai toleransi tinggi, humoristik, fleksibel (luwes), dan tahu diri.

Biasanya sifat-sifat ini dibawanya sejak muda. Mereka dapat menerima faktafakta proses menua, mengalami masa pension dengan tenang, juga dalam
menghadapi masa akhir.
b. Tipe ketergantungan (dependent)
Lansia dengan tipe ini masih dapat diterima di tengah masyarakat, tetapi
selalu pasif, tak berambisi, masih tahu diri, tak mempunyai inisiatif, dan
bertindak tidak praktis. Biasanya orang ini dikuasai istrinya. Ia senang
mengalami pensiun, malahan bisa banyak makan dan minum, tidak suka
bekerja dan senang untuk berlibur.
c. Tipe defensif
Lansia dengan tipe ini umumnya mempunyai jabatan atau pekerjaan yang
tidak tetap pada masa mudanya. Lansia ini bersifat selalu menolak bantuan,
seringkali emosinya tidak dapat dikontrol, memegang teguh pada
kebiasaannya, bersifat kompulsif aktif. Anehnya mereka takut menghadapi
menjadi tua dan tidak menyenangi masa pension.
d. Tipe bermusuhan (holisty)
Lansia dengan tipe ini menganggap orang lain yang menyebabkan
kegagalannya, selalu mengeluh, bersifat agresif, dan curiga. Umumnya
memiliki pekerjaan yang tidak stabil pada masa muda. Mereka menjadi tua
sebagai hal yang tidak baik, takut mati, iri hati pada orang yang muda, dan
aktif melakukan pekerjaan atau kegiatan menghindari masa yang buruk.
e. Tipe membenci atau menyalahkan diri sendiri (selfhaters)
Lansia dengan tipe ini bersifat kritis dan menyalahkan diri sendiri, tidak
mempunyai ambisi, mengalami penurunan kondisi sosio-ekonomi. Biasanya
mempunyai perkawinan yang tidak bahagia, mempunyai sedikit hobi dan
merasa menjadi korban dari keadaan. Mereka menganggap kematian sebagai
suatu kejadian yang membebaskannya dari penderitaan.
5. Sindroma geriatrik
Sindroma geriatrik adalah kumpulan gejala atau sindroma mengenai
kesehatan yang sering dikeluhkan oleh para usia lanjut dan/atau keluarganya.
Sindroma ini bukan suatu penyakit atau diagnosis, sehingga diperlukan adanya
asesmen atau penilaian lebih lanjut untuk mencari latar belakang penyakit yang

mendasari sindroma ini agar terapi dapat dilakukan. Sindroma geriatri menurut
Solomon et al, California, UCLA, (the 13 I) adalah sebagai berikut:
a. Immobility
Imobilisasi didefinisikan sebagai keadaan tidak bergerak/tirah baring selama
3 hari atau lebih, dengan gerak anatomi tubuh menghilang akibat perubahan
fungsi fisiologis. Berbagai faktor fisik, psikologis, dan lingkungan dapat
menyebabkan imobilisasi pada usia lanjut. Penyebab utama imobilisasi
adalah adanya rasa nyeri, lemah, kekakuan otot, ketidakseimbangan, dan
masalah psikologis. Beberapa informasi penting meliputi lamanya menderita
disabilitas yang menyebabkan imobilisasi, penyakit yang mempengaruhi
kemampuan mobilisasi, dan pemakaian obat-obatan untuk mengeliminasi
masalah iatrogenesis yang menyebabkan imobilisasi (Kane et al., 2008).
b. Impaction (konstipasi)
Konstipasi merupakan keterlambatan dan kesulitan dalam pengosongan isis
perut (defekasi), yang terjadi akibat feces yang terlalu keras atau volumenya
yang terlalu kecil. Sekitar 30% di atas umur 60 tahun menggunakan laksatif
sedikitnya satu kali seminggu. Dengan meningkatnya usia, kesulitan buang
air besar semakin sering terjadi. Selain karena fungsi pencernaan tubuh
menurun, juga disebabkan oleh aktivitas fisik yang semakin berkurang serta
pola makan yang kurang serat. Banyak yang kemudian menggunakan laksatif
untuk mengatasinya sehingga menimbulkan ketergantungan (Sinurat, 2003).
c. Instability
Terdapat banyak faktor yang berperan untuk terjadinya instabilitas dan jatuh
pada orang usia lanjut. Berbagai faktor tersebut dapat diklasifikasikan
sebagai faktor intrinsik (faktor risiko yang ada pada pasien) dan faktor risiko
ekstrinsik (faktor yang terdapat di lingkungan). Prinsip dasar tatalaksana usia
lanjut dengan masalah instabilitas dan riwayat jatuh adalah: mengobati
berbagai kondisi yang mendasari instabilitas dan jatuh, memberikan terapi
fisik dan penyuluhan berupa latihan cara berjalan, penguatan otot, alat bantu,
sepatu atau sandal yang sesuai, serta mengubah lingkungan agar lebih aman

seperti pencahayaan yang cukup, pegangan, lantai yang tidak licin (Kane et
al., 2008; Cigolle et al., 2007).
d. Iatrogenic
Iatrogenik atau penyakit akibat obat-obatan sering dijumpai pada lansia yang
mempunyaki riwayat penyakit dan membutuhkan pengobatan dalam waktu
yang lama, jika tanpa pengawasan dokter maka akan menyebabkan timbulnya
penyakit akibat obat-obatan (Nasution, 2013).
e. Intelectual impairment
Keadaan yang terutama menyebabkan gangguan intelektual pada pasien
lanjut usia adalah delirium dan demensia. Demensia adalah gangguan fungsi
intelektual dan memori didapat yang disebabkan oleh penyakit otak, yang
tidak berhubungan dengan gangguan tingkat kesadaran. Demensia tidak
hanya masalah pada memori. Demensia mencakup berkurangnya kemampuan
untuk mengenal, berpikir, menyimpan atau mengingat pengalaman yang lalu
dan juga kehilangan pola sentuh, pasien menjadi perasa, dan terganggunya
aktivitas (Nasution, 2013).
f. Insomnia
Gangguan tidur seperti insomnia dapat berdampak pada kualtitas hidup dan
dapat berkontribusi pada timbulnya jatuh, trauma, dan permasalahan
kesehatan lainnya. Banyak faktor yaang dapat mempengaruhi tidur, antara
lain ansietas, depresi, delirium, demensia, penggunaan obat-obatan, alkohol,
masalah medis seperti nyeri, arthritis, kesulitan bernapas, dan sering merasa
buang air kecil saat malam hari (Health in Aging Foundation, 2012).
g. Incontinence (inkontinensia urin dan alvi)
Inkontinensia urin didefinisikan sebagai keluarnya urin yang tidak
dikehendaki dalam jumlah dan frekuensi tertentu sehingga menimbulkan
masalah sosial dan atau kesehatan. Inkontinensia urin merupakan salah satu
sindroma geriatrik yang sering dijumpai pada usia lanjut. Diperkirakan satu
dari tiga wanita dan 15-20% pria di atas 65 tahun mengalami inkontinensia
urin. Inkontinensia urin merupakan fenomena yang tersembunyi, disebabkan
oleh keengganan pasien menyampaikannya kepada dokter dan di lain pihak

dokter jarang mendiskusikan hal ini kepada pasien (Kane et al., 2008; Cigolle
et al., 2007).
Sedangkan faecal Incontinence atau inkontinensia alvi adalah hilangnya tak
sadar feses cair atau padat yang merupakan masalah sosial atau higienis.
Definisi lain menyatakan, Inkontinensia alvi sebagai perjalanan spontan atau
ketidakmampuan untuk mengendalikan pembuangan feses melalui anus.
Kejadian inkontinensia alvi lebih jarang dibandingkan inkontinensia urin
(Kane et al., 2008).
h. Isolation
Isolasi sosial merupakan suatu keadaan seseorang yang mengalami
ketidakmampuan unuk mengadakan hubungan dengan orang lain atau
lingkungan sekitar secara wajar (Utomo, 2014). Banyak lansia mengalami
isolasi sosial yang meningkat sesuai dengan usia. Isolasi ini salah satunya
disebabkan oleh adanya perubahan-perubahan perilaku lansia yang tidak
dapat diterima oleh orang lain seperti inkontinensia, demensia dan lain-lain
sehingga lansia cenderung menarik diri (Nasution, 2013).
i. Impotence
Impotensi merupakan ketidakmampuan untuk mencapai

dan

atau

mempertahankan ereksi yang cukup untuk melakukan senggama yang


memuaskan yang terjadi paling sedikit tiga bulan. Hal ini disebabkan oleh
terjadi hambatan aliran darah ke dalam alat kelamin karena adanya kekakuan
pada dinding pembuluh darah, baik karena proses menua ataupun
penyakitnya (Nasution, 2013).
j. Imuno-defiiency
Daya tahan menurun merupakan salah satu akibat dari proses menua,
meskipun kadang dapat disebabkan oleh penyakit yang menahun, kurang
gizi, dan lain-lain (Nasution, 2013).
k. Infection
Infeksi pada lansia merupakan penyebab kesakitan dan kematian no. 2 setelah
penyakit kardiovaskular di dunia. Hal ini terjadi akibat beberapa hal antara
lain: adanya penyakit komorbid kronik yang cukup banyak, menurunnya

daya tahan/imunitas terhadap infeksi, menurunnya daya komunikasi lansia


sehingga sulit/jarang mengeluh, sulitnya mengenal tanda infeksi secara dini.
Ciri utama pada semua penyakit infeksi biasanya ditandai dengan
meningkatnya temperatur badan, dan hal ini sering tidak dijumpai pada
lansia, 30-65% lansia yang terinfeksi sering tidak disertai peningkatan suhu
badan, sebaliknya suhu badan dapat turun dibawah 360C dan gejala infeksi
semakin tidak khas antara lain berupa konfusi/delirium sampai koma, adanya
penurunan nafsu makan tiba-tiba, badan menjadi lemas, dan adanya
perubahan tingkah laku sering terjadi pada pasien usia lanjut (Kane et al.,
2008)
l. Inanition
Inanisi atau kelemahan nutrisi merujuk pada hendaya yang terjadi pada usia
lanjut karena kehilangan berat badan fisiologis dan patologis yang tidak
disengaja. Anoreksia pada usia lanjut merupakan penurunan fisiologis nafsu
makan dan asupan makan yang menyebabkan kehilangan berat badan yang
tidak diinginkan (Kane et al., 2008). Pada pasien, kekurangan nutrisi
disebabkan oleh keadaan pasien dengan gangguan menelan, sehingga
menurunkan nafsu makan pasien. Pada umumnya lansia memiliki kebutuhan
kalori yang lebih sedikit daripada orang dewasa, tetapi membutuhkan lebih
banyak nutrisi tertentu, seperti kalsium, vitamin D, dan vitamin B12.
Malnutrisi dapat ditunjukkan dengan hilangnya berat badan. Hal ini dapat
menyebabkan permasalahan yang lain seperti kelemahan dan jatuh, masalah
pada tulang, dan diabetes (Health in Aging Foundation, 2012).
m. Impairment of hearing, vision, dll
Gangguan pendengaran sangat umum ditemui pada geriatri. Prevalensi
gangguan pendengaran sedang atau berat meningkat dari 21% pada kelompok
usia 70 tahun sampai 39% pada kelompok usia 85 tahun. Pada dasarnya,
etiologi gangguan pendengaran sama untuk semua umur, kecuali ditambah
untuk kelompok geriatri. Presbikusis sensorik yang sering sekali ditemukan
pada geriatri disebabkan oleh degenerasi dari organ korti, dan ditandai

gangguan pendengaran dengan frekuensi tinggi. Pada pasien juga ditemui


adanya gangguan pendengaran sehingga sulit untuk diajak berkomunikasi.
Penatalaksanaan untuk gangguan pendengaran pada geriatri adalah dengan
cara memasangkan alat bantu dengar atau dengan tindakan bedah berupa
implantasi koklea (Salonen, 2013).
Permasalahan pengelihatan dapat menyebabkan jatuh, sehingga dianjurkan
untuk

memeriksakan mata setiap dua

tahun sekali.

Permasalahan

pengelihatan yang sering terjadi pada usia lanjut antara lain hipermetropia,
glaukoma, katarak, presbiopia, retinopati diabetika, dan degenerasi makular
(Health in Aging Foundation, 2012).

Daftar Pustaka
Dewi SR. 2014. Buku Ajar Keperawaratan Gerontik. Yogyakarta:
Deepublish. p: 4-8.
Darmojo RB, 2009. Buku Ajar Boedhi-Darmojo Geriatri (Ilmu
Kesehatan Usia Lanjut). Jakarta: Balai Penerbit FK UI. p: 115117
Fatmah. 2010. Gizi Usia Lanjut. Jakarta: PT.Gelora Aksara Pratama.
Maryam SR, Ekasari MF, Rosidawati, Jubaedi A, Batubara I. 2008.
Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba
Medika. p: 32
Kane RL, Ouslander JG, Abrass IB, Resnick B. 2008. Essentials of
clinical geriatris. 6th
ed. New York, NY: McGraw-Hill.

Setiati S, Harimurti K, Roosheroe AG. 2006. Buku ajar ilmu penyakit


dalam. Jilid III. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Indonesia
Cigolle CT, Langa KM, Kabeto MU, Tian Z, Blaum CS. 2007. Geriatric
conditions and disability: the health and retirement study.
American College of Physicians.147(3):156-164
Dini AA. 2013. Sindrom geriatri (imobilitas, instabilitas, gangguan
intelektual,

inkontinensia,

infeksi,

malnutrisi,

gangguan

pendengaran). Medula. 1(3):117-125.


Health in aging foundation. 2012. A guide to geriatric syndromes:
common and often related medical conditions in older
adults. Amerika: The official foundation of The american
geriatrics society
Salonen, Jaakko. 2013. Hearing impairement and tinnitus in the
elderly. Turku : Universitas of Turku.
Sinurat D. 2003. Gambaran konsumsi serat serta kaitannya dengan
penyakit dan konstipasi pada lansia di Panti Tresna Werdha
Abdi, Desa Cengkeh Turi, Kecamatan Binjai Utara, Kotamadya
Binjai tahun 2003. Medan: Universitas Sumatera Utara.
Skripsi.
Utomo B. Analisis faktor-faktor isolasi sosial pada lansia di Panti
Werdha Wisma Mulia Jakarta Barat. Jakarta: Universitas Esa
Unggul.
Agus AD. 2013. Perbedaan successful aging pada lansia ditinjau dari
jenis kelamin. Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Nasution Z. 2013. Pengaruh pengetahuan, sikap, dukungan keluarga


dan kader terhadap pemanfaatan posyandu lanjut usia di
wilayah kerja Puskesmas Bandar Dolok, Kecamatan Pagar
Merbau,

Kabupaten

Sumatera Utara. Tesis.

Deli

Serdang.

Medan:

Universitas