Anda di halaman 1dari 12

Part 2

Pembesaran Kelenjar Tiroid ec Kekurangan Iodium

Efek hormon tiroid terhadap pertumbuhan. Hormon tiroid mempunyai efek yang
umum dan efek yang spesifik terhadap pertumbuhan. Efek yang pentiing dari
hormon tiroid adalah meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan otak
selama kehidupan janin dan beberapa tahun pertama kehidupan pascalahir.

Efek hormon tiroid pada metabolisme karbohidrat. Hormon tiroid merangsang


hampir semua aspek metabolisme karbohidrat, termasuk penggunaan glukosa
yang cepat oleh sel, meningktakan glikolisis, meningktakan glukogenesis,
menigktakan kecepatan absorpsi dari saluran cerna, dan bahkan juga
meningkatkan sekresi insulun dengan hasil akhirnya adalah efeknya terhadap
metabolisme karbohidrat. Semua efek ini mungkin disebabkan oleh naiknya
seluruh enzim akibat dari hormon tiroid.

Efek pada metabolisme lemak. Pada dasarnya semua aspek metabolisme juga
ditingkatkan dibawah pengaruh hormon tiroid. Karena lemak merupakan sumber
energi utama untuk suplai jangka panjang, maka lemak yang telah disimpan
dalam tubuh akan lebih banyak dipecah daripada elemen jaringan lain.
Khususnya, lipid akan diangkut dari jaringan lemak, yang meningkatkan
konsentrasi asam lemak bebas di dalam plasma, hormon tiroid juga sangat
mempercepat proses oksidasi asam lemak bebas oleh sel.

Efek pada plasma dan lemak hati. Meningkatnya hormon tiroid menurunkan
jumlah kolesterol, fosofolipid, dan trigliserida, walaupun sebenarnya hormon ini
juga meningkatkan asam lemak bebas. Sebaliknya, menurunnya sekresi tiroid
sangat meningkatkan konsentrasi kolesterol, fosofolipid, dan trigliserida plasma
dan hampir selalu menyebabkan pengendapan lemak secara berlebihan di dalam
hati. Sangat meningkatnya jumlah lipid dalam sirkulasi darah pada penderita
hipotiroidisme

yang

lama

seringkali

dihubungkan

dengan

timbulnya

arterisklerosis berat.

Efek pada metabolisme vitamin. Oleh karena hormon tiroid meningkatkan


jumlah berbagai enzim dan oleh karena vitamin merupakan bagian penting dari
beberapa enzim atau koenzim, maka hormon tiroid ini meningkatkan kebutuhan
akan vitamin. Oleh karena itu, bila sekresi hormon tiroid berlebihan maka dapat
timbul defisiensi vitamin relatif, kecuali bila pada saat yang sama kenaikan
kebutuhan vitamin itu dapat tercukupi.

Efek pada laju metabolisme basal. Oleh karena hormon tiroid meningkatkan
metabolisme sebagian besar sel tubuh, maka kelebihan hormon ini kadangkala
akan meningkatkan laju metabolisme basal sampai setinggi 60 sampai 100
persen di atas nilai normalnya. Sebaliknya, bila tidak ada hormon tiroid yang
dihasilkan, maka laju metabolisme basal menurun sampai hampir setengah nilai
normal ; yaitu, laju metabolisme basal menjadi -30 sampai -45. Agar laju
metabolisme basal dapat sangat tinggi maka hormon ini dibutuhkan dalam
jumlah yang sangat banyak.

Efek pada berat badan. Bila produksi hormon tiroid sangat meningkat maka
hampir selalu menurunkan berat badan, dan bila produksinya sangat berkurang
maka hampir selalu tibul kenaikan berat badan ; efek ini selalu terjadi, oleh
karena hormon tiroid meningkatkan nafsu makan, dan keadaan ini dapat
melebihi keseimbangan perubahan kecepatan metabolisme.

Efek pada sistem kardiovaskuler. Meningkatkan aliran darah, curah jantung,


frekuensi denyut jantung, kekuatan denyut jantung dan volume darah sedikit
meningkat karena vasodilatasi sehingga jumlah darah yang terkumpul pada
sistem sirkulasi meningkat.

Efek pada respirasi. Meningkatnya kecepatan metabolisme akan meningkatkan


pemakaian oksigen dan pembentiukan karbon dioksida; efek-efek ini
mengaktifkan semua mekanisme yang meningkatkan kecepatan dan kedalaman
pernapasan.

Efek pada saluran cerna. Selain meningkatkan nafsu makandan asupan makanan.
Hormon tiroid meningkatkan baik kecepatan sekresi getah pencernaan dan
pergerakan saluran cerna. Seringkali, terjadi diare. Kekurangan hormon tiroid
menimbulkan konstipasi.

Efek pada sistem saraf pusat. Hormon tiroid meningkatkan kecepatan berpikir,
tetapi juga sering menimbulkan disosiasi pikiran, dan sebaliknya, berkurangnya
hormon tiroid akan menurunkan fungsi ini.

Efek terhadap fungsi otot. Sedikit peningkatan hormon tiorid biasanya


menyebabkan otot bereaksi dengan kuat, namun bila jumlah hormon ini

berlebihan, maka otot-otot malahan menjadi lemah oleh karena berlebihannya


katabolisme protein. Sebaliknya, kekurangan hormon tiroid menyebabkan otot
sangat lamba, dan otot tersebut berelaksasi dengan perlahan setelah
berkontraksi.

Efek pada kelenjar endokrin lain. Meningkatnya hormon tiroid meningkatkan


kecepatan sekresi sebagian besar kelenjar endokrin lain, tetapi hormon ini juga
meningkatkan

kebutuhan

jaringan

akan

hromon

ini.

Hormon

tiroid

meningkatkan sebagian besar aktivitas metabolisme yang berkaitan dengan


pembentukan tulang dan akibatnya meningkatkan kebutuhan hormon paratiroid.
Dan akhirnya, hormon tiroid meningkatkan kecepatan inaktivasi hormon
glukortikoid adrenal oleh hati. Keadaan ini menyebabkan timbulnya peningkatan
umpan balik produksi hormon adrenokotikotropik oleh kelenjar hipofisis
anterior dan, oleh karena itu, juga meningkatkan kecepatan sekresi
glukokortikoid oleh kelenjar adrenal.

Efek hormon tiroid pada fungsi seksual. Agar dapat timbul fungsi seksual yang
normal, dibutuhkan sekresi tiroid yang normal.pada pria, hormon tiroid menurun
menyebabkan hilangnya libido dan sebaliknya harmon tiroid meningkat dapat
menyebabkan impotensi. Pada wanita hormon tiroid menurun dapat terjadi
menoragia dan polimenore, periode menstruasi3,4.

A. Pengaturan Hormon Sekresi Tiroid


Hormon tiroid diatur oleh sumbu hipotalamus-hipofisis-tiroid.

Thyroid-stimulating hormone (TSH), hormon tropik tiroid dari hipofisis anterior, adalah regulator fisiologis
terpenting bagi sekresi hormon tiroid. Hampir semua langkah dalam pembentukan dan pengeluaran hormon tiroid
dirangsang oleh TSH.
Selain meningkatkan sekresi hormon tiroid, TSH bertanggung jawab untuk mempertahankan integritas struktural
kelenjar tiroid. Tanpa adanya TSH, tiroid mengalami atrofi (ukurannya mengecil) dan sekresi hormonnya berkurang.
Sebaliknya, kelenjar ini mengalami hipertrofi (peningkatan ukuran setiap sel folikel) dan hiperplasia (peningkatan jumlah
sel folikel) sebagai respons terhadap stimulasi TSH yang berlebihan.
Hormon tiroid, dengan mekanisme umpan-balik negatif, "mematikan" sekresi TSH, sementara thyrotropin- releasing
hormone (TRH) dari hipotalamus secara tropik "menghidupkan" sekresi TSH oleh hipofisis anterior. Pada sumbu
hipotalamus-hipofisis-tiroid, inhibisi terutama berlangsung di tingkat hipofisis anterior Seperti lengkung umpan-balik
negatif lainnya, lengkung antara hormon tiroid dan TSH cenderung mempertahankan stabilitas keluaran (sekresi) hormon
tiroid.
Pengaturan sehari-hari kadar hormon tiroid bebas tampaknya dilaksanakan oleh umpan-balik negatif antara tiroid dan
hipofisis anterior, sementara penyesuaian jangka-panjang diperantarai oleh hipotalamus. Tidak seperti sebagian besar
sistem hormonal lain, pada orang dewasa hormon-hormon di sumbu tiroid secara normal tidak mengalami pergeseran
sekresi yang mendadak dan lebar. Kecepatan sekresi hormon tiroid yang relatif stabil sesuai dengan respons terhadap
hormon yang bersifat lamban dan berlangsung lama; peningkatan atau penurunan kadar hormon tiroid dalam plasma yang
mendadak tidak memiliki nilai adaptif. Satu-satunya faktor yang diketahui meningkatkan sekresi TRH (dan dengan
demikian, TSH dan hormon tiroid) adalah pajanan ke dingin pada bayi; keadaan ini merupakan mekanisme yang sangat
adaptif pada bayi baru lahir. Peningkatan drastis sekresi hormon tiroid penghasil panas diperkirakan ikut berperan dalam
mempertahankan suhu tubuh dalam menghadapi penurunan mendadak suhu lingkungan pada saat lahir, sewaktu bayi
berpindah dari tubuh ibunya yang hangat ke udara lingkungan yang lebih dingin. Pada orang dewasa, respons TSH serupa
terhadap pajanan dingin tidak terjadi, walaupun hal ini secara fisiologis masuk akal dan memang terjadi pada beberapa
jenis hewan percobaan.

Berbagai jenis stres diketahui menghambat sekresi TSH dan hormon tiroid, diperkirakan
melalui pengaruh saraf pada hipotalamus, walaupun makna adaptif inhibisi ini belum
jelas5.

B. Metabolisme Energi
Metabolisme protein
PROTEIN TUBUH

zat padat tubuh terdiri dari protein (otot, enzim, protein plasma, antibodi, hormon)

Protein merupakan rangkaian asam amino dengan ikatan peptide

Banyak protein terdiri ikatan komplek dengan fibril protein fibrosa

Macam protein fibrosa: kolagen (tendon, kartilago, tulang); elastin (arteri); keratin
(rambut, kuku); dan aktin-miosin

MACAM PROTEIN

Peptide: 2 10 asam amino

Polipeptide: 10 100 asam amino

Protein: > 100 asam amino

Antara asam amino saling berikatan dengan ikatan peptide

Glikoprotein: gabungan glukose dengan protein

Lipoprotein: gabungan lipid dan protein

ASAM AMINO

Asam amino dibedakan: asam amino esensial dan asam amino non esensial

Asam amino esensial: T2L2V HAMIF (treonin, triptofan, lisin, leusin, valin histidin,
arginin, metionin, isoleusin, fenilalanin)

Asam amino non esensial: SAGA SATGA (serin, alanin, glisin, asparadin sistein, asam
aspartat, tirosin, glutamin, asam glutamat)

TRANSPORT PROTEIN

Protein diabsorpsi di usus halus dalam bentuk asam amino masuk darah

Dalam darah asam amino disebar keseluruh sel untuk disimpan

Didalam sel asam amino disimpan dalam bentuk protein (dengan menggunakan enzim)

Hati merupakan jaringan utama untuk menyimpan dan mengolah protein

PENGGUNAAN PROTEIN UNTUK ENERGI

Jika jumlah protein terus meningkat protein sel dipecah jadi asam amino untuk
dijadikan energi atau disimpan dalam bentuk lemak

Pemecahan protein jadi asam amino terjadi di hati dengan proses: deaminasi atau
transaminasi

Deaminasi: proses pembuangan gugus amino dari asam amino

Transaminasi: proses perubahan asam amino menjadi asam keto

PEMECAHAN PROTEIN
1.

Transaminasi:
alanin + alfa-ketoglutarat piruvat + glutamat

2.

Diaminasi:
asam amino + NAD+ asam keto + NH3
NH3 merupakan racun bagi tubuh, tetapi tidak dapat dibuang oleh ginjal
harus diubah dahulu jadi urea (di hati) agar dapat dibuang oleh ginjal

EKSKRESI NH3

NH3 tidak dapat diekskresi oleh ginjal

NH3 harus dirubah dulu menjadi urea oleh hati

Jika hati ada kelainan (sakit) proses perubahan NH3 urea terganggu
penumpukan NH3 dalam darah uremia

NH3 bersifat racun meracuni otak coma

Karena hati yang rusak disebut Koma hepatikum

PEMECAHANPROTEIN

Deaminasi maupun transaminasi merupakan proses perubahan protein zat yang dapat
masuk kedalam siklus Krebs

Zat hasil deaminasi/transaminasi yang dapat masuk siklus Krebs adalah: alfa ketoglutarat,
suksinil ko-A, fumarat, oksaloasetat, sitrat

SIKLUS KREBS
Proses perubahan asetil ko-A H + CO2
Proses ini terjadi didalam mitokondria. Pengambilan asetil co-A di sitoplasma dilakukan
oleh: oxalo asetat proses pengambilan ini terus berlangsung sampai asetil co-A di
sitoplasma habis. Oksaloasetat berasal dari asam piruvat. Jika asupan nutrisi kekurangan
KH kurang as. Piruvat kurang oxaloasetat.

RANTAI RESPIRASI

H hasil utama dari siklus Krebs ditangkap oleh carrier NAD menjadi NADH
H dari NADH ditransfer ke Flavoprotein Quinon sitokrom b sitokrom c
sitokrom aa3 terus direaksikan dengan O2 H2O + E
Rangkaian transfer H dari satu carrier ke carrier lainya disebut Rantai respirasi
Rantai Respirasi terjadi didalam mitokondria transfer atom H antar carrier memakai
enzim Dehidrogenase sedangkan reaksi H + O2 memakai enzim Oksidase
Urutan carrier dalam rantai respirasi adalah: NAD Flavoprotein Quinon sitokrom
b sitokrom c sitokrom aa3 direaksikan dengan O2 H2O + E

FOSFORILASI OKSIDATIF
Dalam proses rantai respirasi dihasilkan energi yang tinggi energi tsb ditangkap oleh

ADP untuk menambah satu gugus fosfat menjadi ATP. Fosforilasi oksidatif adalah proses
pengikatan fosfor menjadi ikatan berenergi tinggi dalam proses rantai respirasi

KREATIN DAN KREATININ


Kreatin disintesa di hati dari: metionin, glisin dan arginin
Dalam otot rangka difosforilasi membentuk fosforilkreatin (simpanan energi)

istirahat
Kreatin + ATP

Fosforilkreatin Kreatinin

gerak

urine

Metabolisme karbohidrat
Setelah melalui dinding usus halus, glukosa akan menuju ke hepar melalui vena portae.
Sebagian karbohidrat ini diikat di dalam hati dan disimpan sebagai glikogen, sehingga
kadar gula darah dapat dipertahankan dalam batas-batas normal.
Karbohidrat yang terdapat dalam darah, praktis dalam bentuk glukosa, oleh karena
fruktosa dan galaktosa akan diubah terlebih dahulu sebelum memasuki pembuluh darah.
Apabila jumlah karbohidrat yang dimakan melebihi kebutuhan tubuh, sebagian besar
(2/3) akan disimpan di dalam otot dan selebihnya di dalam hati sebagai glikogen. Kapasitas
pembentukan glikogen ini sangat terbatas (maksimum 350 gram), dan jika penimbunan
dalam bentuk glikogen ini telah mencapai batasnya, kelebihan karbohidrat akan diubah

menjadi lemak dan disimpan di jaringan lemak. Bila tubuh memerlukan kembali enersi
tersebut, simpanan glikogen akan dipergunakan terlebih dahulu, disusul oleh mobilisasi
lemak. Jika dihitung dalam jumlah kalori, simpanan enersi dalam bentuk lemak jauh
melebihi jumlah simpanan dalam bentuk glikogen.
Sel-sel tubuh yang sangat aktif dan memerlukan banyak enersi, mendapatkan energi dari
hasil pembakaran glukosa yang di ambil dari aliran darah. Kadar gula darah akan diisi
kembali dari cadangan glikogen yang ada di dalam hati. Kalau energi yang diperlukan
lebih banyak lagi, timbunan lemak dari jaringan lemak mulai dipergunakan. Dalam
jaringan lemak diubah ke dalam zat antara yang dialirkan ke hati. Disini zat antara itu
diubah menjadi glikogen, mengisi kembali cadangan glikogen yang telah dipergunakan
untuk meningkatkan kadar gula darah. Peristiwa oksidasi glukosa di dalam jaringanjaringan terjadi secara bertahap dan pada tahap-tahap itulah enersi dilepaskan sedikit demi
sedikit, untuk dapat digunakan selanjutnya.
Melalui suatu deretan proses-proses kimiawi, glukosa dan glikogen diubah menjadi
asam pyruvat. Asam pyruvat ini merupakan zat antara yang sangat penting dalam
metabolisme karbohidrat. Asam pyruvat dapat segera diolah lebih lanjut dalam suatu
proses pada "lingkaran Krebs". Dalam proses siklis ini dihasilkan CO2 dan H2O dan
terlepas enersi dalam bentuk persenyawaan yang mengandung tenaga
kimia yang besar yaitu ATP (Adenosin Triphosphate). ATP ini mudah sekali melepaskan
enersinya sambi}berubah menjadi ADP (Adenosin Diphos phate). Sebagian dari asam
piruvat dapat diubah menjadi "asam laktat". Asam laktat ini dapat keluar dari sel-sel
jaringan dan memasuki aliran darah menuju ke hepar.

Di dalam hepar asam laktat diubah kembali menjadi asam piruvat dan selanjutnya
menjadi glikogen, dengan demikian akan menghasilkan energi.
Hal ini hanya terdapat di dalam hepar, tidak dapat berlangsung di dalam otot, meskipun
di dalam otot terdapat juga glikogen. Sumber glikogen hanya berasal dari glukosa dalam
darah. Metabolisme karbohidrat selain di pengaruhi oleh enzim-enzim, juga diatur oleh
hormon-hormon tertentu. Hormon Insulin yang dihasilkan oleh "pulau-pulau Langerhans"
dalam pankreas sangat memegang perananan penting. Insulin akan mempercepat oksidasi
glukosa di dalam jaringan, merangsang perubahan glukosa menjadi glikogen di dalam selsel hepar maupun otot.