Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
Anestesiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mendasari berbagai tindakan
meliputi pemberian anestesi, penjagaan keselamatan penderita yang mengalami
pembedahan, pemberian bantuan hidup dasar, pengobatan intensif pasien gawat, terapi
inhalasi dan penanggulangan nyeri menahun. Pada prinsipnya dalam penatalaksanaan
anestesi pada suatu operasi terdapat beberapa tahap yang harus dilaksanakan yaitu pra
anestesi yang terdiri dari persiapan mental dan fisik pasien, perencanaan anestesi,
menentukan prognosis dan persiapan pada pada hari operasi. Sedangkan tahap
penatalaksanaan anestesi terdiri dari premedikasi, masa anestesi dan pemeliharaan,
tahap pemulihan serta perawatan pasca anestesi.
Tonsilitis kronis merupakan peradangan kronik pada tonsil yang biasanya
merupakan kelanjutan dari infeksi akut berulang atau infeksi subklinis dari tonsil. Pada
tonsillitis kronis, ukuran tonsil dapat membesar sedemikian sehingga disebut tonsillitis
kronis hipertrofi. Mengingat dampak yang ditimbulkan maka tonsilitis kronis hipertrofi
yang telah menyebabkan sumbatan jalan napas harus segera ditindak lanjuti dengan
pendekatan

operatif

tonsilektomi.

Tonsilektomi

didefinisikan

sebagai

metode

pengangkatan tonsil palatina. Beragam teknik tonsilektomi terus berkembang mulai dari
abad 21 diantaranya diseksi tumpul, eksisi guillotine, diatermi monopolar dan bipolar,
skapel harmonik, diseksi dengan laser dan terakhir diperkenalkan tonsilektomi dengan
coblation.
Pemilihan jenis anestesi untuk tonsilektomi ditentukan berdasarkan usia pasien,
kondisi kesehatan dan keadaan umum, sarana dan prasarana. Di Indonesia, tonsilektomi
masih dilakukan di bawah anestesi umum, teknik anestesi lokal tidak digunakan lagi
kecuali di rumah sakit pendidikan dengan tujuan untuk pendidikan.
Mengingat tonsilektomi merupakan tindakan bedah yang dilakukan dengan
anestesi umum maupun lokal, komplikasi yang ditimbulkannya merupakan gabungan
komplikasi tindakan bedah dan anestesi. Sekitar 1:15.000 pasien yang menjalani
tonsilektomi meninggal baik akibat perdarahan maupun komplikasi anestesi setelah

operasi. Komplikasi ini terkait dengan keadaan status kesehatan pasien. Adapun
komplikasi yang dapat ditemukan berupa laringospasme, gelisah pasca operasi, mual,
muntah, kematian pada saat induksi pada pasien dengan hipovolemia, hipersensitif
terhadap obat anestesi serta hipotensi dan henti jantung terkait induksi intravena dengan
pentotal.

BAB II
LAPORAN KASUS
A. IDENTITAS PASIEN
Nama
: Tn. N
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Usia
: 35 tahun
Berat Badan
: 90 kg
Agama
: Islam
Alamat
: Grogol, Cilegon
No. RM
: 241xxx
Diagnosis
: Tonsilitis Kronik
B. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan tanggal 29 Mei 2015, pukul 06.30. Anamnesis dilakukan
secara autoanamnesis.
a. Keluhan utama
: Nyeri Menelan
b. Riwayat penyakit sekarang
:
Pasien datang ke Poliklinik THT RSUD Cilegon pada tanggal 25 Mei
2015 dengan keluhan nyeri menelan yang dirasakan sejak 2 tahun
sebelum masuk rumah sakit (SMRS). Pasien juga mengeluh nyeri menelan
dirasakan saat makan, minum ataupun menelan ludah, pasien juga
mengeluhkan sering demam berulang hampir setiap bulan. Nyeri menelan
disertai dengan ngorok maupun nafas tersengal-sengal saat tidur.
3 bulan sebelum masuk rumah sakit (SMRS) pasien periksa ke dokter
umum dengan keluhan yang sama dan dikatakan mengalami radang
amandel. Dalam 1 bulan terakhir kambuh 2 kali. Bila kambuh pasien
merasakan nyeri tenggorokan, susah menelan, disertai demam. Keluhan
terasa terutama setelah pasien mengkonsumsi minuman dingin dan makanan
berminyak. Saat ini pasien tidak mengalami demam, batuk, pilek, hidung
tersumbat, nyeri di kedua telinga maupun kurang pendengaran.
c. Riwayat penyakit dahulu
:
1) Riwayat asma disangkal
2) Riwayat alergi makanan dan obat disangkal
3) Riwayat pernah operasi disangkal
4) Riwayat Hipertensi disangkal
5) Riwayat DM disangkal

d. Riwayat penyekit keluarga:


Riwayat asma, alergi dan riwayat penyakit yang sama dengan pasien
disangkal.
C. PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pada 29 Mei 2015
GCS

: E4V5M6 = 15

Vital Sign

: Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 82 x/menit

Suhu

: 36,6C

Pernafasan

: 16 x/menit

Status Generalis
a. Kulit :

Warna kulit sawo matang, tidak ikterik,

tidak sianosis, turgor kulit cukup, capilary refill kurang


dari 2 detik dan teraba hangat.
b. Kepala

Tampak tidak ada jejas, tidak ada

bekas trauma, distribusi merata dan tidak mudah dicabut.


Tonsil membesar T4-T3, kripte melebar, detritus (-).
c. Mata :

Konjungtiva tidak anemis dan sklera tidak

ikterik
d. Pemeriksaan Leher
1) Inspeksi

: Tidak terdapat jejas


2) Palpasi

: Trakea teraba di tengah,

tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid. Teraba


pembesaran limfonodi submandibula.
Pemeriksaan Thorax
1) Jantung
a)Inspeksi
b)
c)

Palpasi
Perkusi :

: Tampak ictus cordis 2cm dibawah papila

mamae sinistra
: Ictus cordis teraba kuat angkat

i.
ii.
iii.
iv.
d)

Batas atas kiri


Batas atas kanan
Batas bawah kiri
Batas bawah kanan

:
:

SIC II LPS sinsitra


:
SIC II LPS dextra
:
SIC V LMC sinistra
SIC IV LPS dextra

Auskultasi : S1 S2 reguler, tidak ditemukan gallop dan murmur.


2)

Paru
a) Inspeksi

Dinding dada simetris pada saat

statis dan dinamis serta tidak ditemukan retraksi dan


ketertinggalan gerak.
b) Palpasi
:
Simetris, vokal fremitus kanan
sama dengan kiri dan tidak terdapat ketertinggalan
gerak.
c) Perkusi :
d) Auskultasi:

Sonor kedua lapang paru


Tidak terdengar suara rhonkhi pada

kedua paru. Tidak terdengar suara wheezing


Pemeriksaan Abdomen
a) Inspeksi

Perut membuncit, simetris,

tidak terdapat jejas dan massa


b) Auskultasi
:
Terdengar suara bising usus
dalam batas normal.
c) Perkusi :
Timpani
d) Palpasi :
Supel, tidak terdapat nyeri tekan
k.

dan nyeri lepas. Hepar dan lien tidak teraba.


Pemeriksaan Ekstremitas :
Tidak terdapat jejas, bekas trauma, massa, dan sianosis
Turgor kulit cukup, akral hangat

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
Pemeriksaan
Hematologi
Hemoglobin
Leukosit
Hematokrit
Trombosit
CT
BT

25-05-2015

Nilai normal

16,6
7580
47,8
185000
12
2

14-18 g/dL
5000-10000/L
40-48%
150000-450000/L
5-15 menit
1-6 menit

Gol. Darah
Kimia Klinik
SGOT
SGPT
Ureum
Creatinin
GDS
Seroimmunologi
HbsAg
Anti-HIV
Elektrolit
Natrium
Kalium
Klorida

O Rh(+)

17
28
18
0,8
86

< 37 U/L
< 41 U/L
17-43 mg/dL
0,7-1,1 mg/dL
200 mg/dL

Negatif

Negatif

Non Reaktif

Non Reaktif

140,6
3,88
101,8

135-155 mmol/l
3,0-5,5 mmol/l
95-107 mmol/l

E. KESAN ANESTESI
Laki-laki 35 tahun menderita Tonsilitis Kronik dengan ASA I
F. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan yaitu :
a. Intravena fluid drip (IVFD) RL 20 tpm
b. Pro Tonsilectomy
c. Informed Consent Operasi
d. Konsul ke Bagian Anestesi
e. Informed Consent Pembiusan
Dilakukan operasi dengan general anestesi dengan status ASA I

BAB III
LAPORAN ANESTESI
A. 1.

Preoperatif
Informed Consent (+)
Puasa (+) kurang lebih 6-8 jam
Tidak terdapat gigi goyang dan pemakaian gigi palsu
IV line terpasang dengan infus RL 500 cc, mengalir lancar
Keadaan umum tampak sakit sedang
Kesadaran Compos Mentis
Tanda Vital:
o TD
: 120/80 mmHg
o RR
: 16 x/menit
o Nadi
: 72 x/menit
o Suhu
: 36,6C

B. Premedikasi Anestesi
Sebelum dilakukan tindakan anestesi diberikan Ondansentron 4 mg secara bolus IV.
C. Tindakan Anestesi
Tanggal 29 Mei 2015 jam 09:00, Tn. N, 35 tahun tiba di ruang operasi
dengan terpasang infus RL 20 tpm. Dilakukan pemasangan dan pemeriksaan vital
sign dengan hasil TD 120/80 mmHg; Nadi 72x/menit, dan SpO2 99%. Pukul 09:15.
Diberikan premedikasi dengan injeksi Ondancentron 4 mg secara intravena. Setelah
diberikan premedikasi dilakukan induksi dengan injeksi Fentanyl 200 g, propofol
150 mg intavena yang dilanjutkan dengan pemberian obat pelumpuh otot injeksi
Rocurorium Bromida 40 mg intavena. Bersamaan dengan itu, pasien disungkupkan
dengan sungkup muka yang telah terpasang pada mesin anestesi yang mengalirkan
oksigen dari mesin ke jalan napas pasien sambil melakukan bagging selama kurang
lebih 2 menit untuk menekan pengembangan paru dan juga menunggu kerja dari
pelemas otot sehingga mempermudah dilakukannya pemasangan endotrakheal tube.
Setelah pasien terinduksi dengan tanda reflek bulu mata menghilang,
diberikan oksigen 100% selama 3 menit. Kemudian setelah fasikulasi hilang dan
leher pasien sudah tidak kaku dilakukan pemasangan ET (endotracheal tube) tipe
non kinkink no. 30 dengan menggunakan laringoskop. Setelah intubasi dilakukan

ET dikunci dengan menggembungkan balon ET dengan udara dalam spuit hingga


suara desis napas hilang, kemudian connector ET dihubungkan dengan mesin
anestesi untuk mendapatkan O2. Setelah itu dilakukan auskultasi paru kanan dan
kiri untuk mengetahui apakah ET sudah terpasang dengan benar.
Dilakukan pemeliharaan anestesi dengan kombinasi inhalasi O2, N20 dan
isoflurane. Inhalasi N2O : O2 diberikan dengan perbandingan 50:50. Pada pasien ini
diberikan N2O sebesar 2 liter/menit dan O2 sebesar 2 liter/menit. Isoflurane
diberikan sebanyak vol 2%. Bila anestesinya terlalu dalam maka isoflurane
diturunkan begitu pula sebaliknya. Kombinasi dinaikkan dan diturunkan perlahanlahan sesuai dengan keadaan pasien. Ventilasi dilakukan dengan bagging dengan
laju napas 20 x/ menit hingga operasi selesai. Selama maintenance diperhatikan
monitor tanda-tanda vital, vital sign diset otomatis dan dicatat setiap 5 menit.
Selama operasi , tekanan darah dan nadi di monitor tiap 5 menit dengan hasil:
-

lima menit I
:122/60 mmHg, nadi 89x/mnt, SpO2 99%
lima menit II
:117/56 mmHg, nadi 92x/mnt, SpO2 99%
lima menit III
:110/70 mmHg, nadi 99x/mnt, SpO2 99%
lima menit IV
:120/72 mmHg, nadi 91x/mnt, SpO2 99%
lima menit V :130/80 mmHg, nadi 90x/mnt, SpO2 99%
lima menit VI
:130/80 mmHg, nadi 92x/mnt, SpO2 99%
lima menit VII
:125/77 mmHg, nadi 88x/mnt, SpO2 99%
lima menit VIII
:130/75 mmHg, nadi 92x/mnt, SpO2 99%
lima menit IX
:130/80 mmHg, nadi 82x/mnt, SpO2 99%
lima menit X
:127/77 mmHg, nadi 86x/mnt, SpO2 99%
Respirasi rate 22x/menit. Perdarahan selama operasi 25 cc. Pasien

tidak tampak hipoksia, sesak napas maupun hipovolemik. Pembedahan


dilakukan selama 35 menit. Intake IVFD RL 250 cc.
Setelah operasi selesai isoflurane diturunkan secara bertahap sampai
mencapai 0 vol%,

N2O diturunkan hingga 0 liter/menit, sementara itu O2

dinaikkan menjadi 6 liter/menit. Sesaat sebelum pasien sadar dilakukan


ekstubasi. Sebelum ET dilepas dilakukan pembersihan jalan napas dari lendir
dengan menggunakan suction sampai bersih supaya pernapasan lancar,

kemudian balon ET dikempeskan kemudian baru dilepaskan. Setelah ekstubasi


pasien tetap diberikan O2 selama kurang lebih 5-10 menit.
Pasien dipindahkan ke ruang pemulihan (recovery room), dilakukan
pemantauan keadaan umum, tingkat kesadaran, dan vital sign hingga stabil.
Pulse oximetry dimonitor hingga pasien sadar penuh sampai pemulihan anestesi
maksimal. Setelah berada di recovery room dilakukan penilaian aldrete score,
hingga nilai > 8, maka pasien dapat dipindahkan ke ruang perawatan (bangsal)

BAB IV
Analisa Kasus
Berdasarkan hasil anamnesa, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang,
maka pasien dapt diklasifikasikan ke dalam ASA I, yaitu pasien normal dan hanya
menderita penyakit yang akan dioperasi tanpa penyakit sistemik lainnya. Persiapan yang
dilakukan sebelum operasi yaitu memastikan pasien dalam keadaan baik, memasang
infus, dan pasien dalam keadaan puasa selama 6-8 jam sebelum operasi untuk
meminimalkan risiko aspirasi isi lambung ke jalan nafas selama anestesi.
Menjelang operasi pasien dalam keadaan tampak sakit ringan dan kesadaran
compos mentis. Jenis anestesi yang akan dilakukan yaitu general anestesi dengan teknik
SCCS dengan ETT. Dari anamnesa diketahui bahwa psien belum pernah menjalankan
operasi apapun. Pasien direncanakan untuk operasi tonsilektomi elektif.
Sebelum operasi dimulai, pasien dipersiapkan terlebih dahulu yaitu memastikan
infus berjalan lancar, ini dimaksudkan karena pada saat operasi sebagian besar obatobatan diberikan melalui jalur intravena, kemudian pemasangan alat-alat tanda vital
seperti tensi, alat saturasi yang bertujuan untuk melihat tekanan darah pasien karena
beberapa obat anestesi dapat mempengaruhi perubahan tekanan darah. Alat saturasi
bertujuan untuk memantau suplai oksigen. Kemudian memastikan pasien dalam
keadaan tenang dan kooperatif.
Pasien diberikan obat premedikasi yaitu Ondansetron 4 mg secara bolus IV, yang
bertujuan agar pasien tidak mual dan muntah karena obat-obat anestesi dapat
merangsang muntah pada pasien. Ondansetron adalah suatu antagonis reseptor
Serotonin 5 Hydroxytriptamine (5HT3) selektif. 5HT3 merupakan zat yang akan
dilepaskan jika terdapat toksin dalam saluran cerna, berikatan dengan reseptornya dan
akan merangsang saraf vagus menyampaikan rengsangan ke CTZ (Chemoreseptor
Trigger Zone) dan pusat muntah dan kemudian terjadi mual muntah.

Kemudian dilakukan anestesi general kepada pasien dengan menggunakan


Fentanyl, Propofol, dan Rocurorium Bromida. Fentanyl sebagai analgesik adalah
analgesik narkotika yang poten, bisa digunakan sebagai tambahan untuk general
anestesi maupun sebagai awalan anestesi. Fentanil memiliki kerja cepat dan efek durasi
kerja kurang lebih 30 menit setelah dosis tunggal IV 100 g. Fentanil bergantung dari
dosis dan kecepatan pemberian, bisa menyebabkan rigiditas otot, euforia, miosis, dan
bradikardi. Profopol bekerja sebagai sedasi atau hipnotik. Dosis induksi menyebabkan
pasien tidak sadar, dimana dalam dosis yang kecil dapat menimbulkan efek sedasi,
tanpa disertai efek analgesik. Pada pemberian dosis induksi (2 mg/kgBB) pemulihan
berlangsung cepat. Recurorium Bromida sebagai relaksan otot yang bersifat opioid.
Sebagai tambahan pada anestesi umum untuk mempermudah intubasi endotrakeal dan
memberikan relaksasi otot rangka selama pembedahan.
Ada

berbagai

teknik

anestesi

untuk

melakukan

tonsilektomi

atau

tonsiloadenoidektomi. Teknik anestesi yang dianjurkan adalah menggunakan pipa


endotrakeal, karena dengan ini saturasi oksigen bisa ditingkatkan, jalan napas terjaga
bebas, dosis obat anestesi dapat dikontrol dengan mudah. Intubasi endotrakea dilakukan
dalam anestesi inhalasi yang dalam atau dibantu dengan pelemas otot nondepolarisasi
kerja pendek.
Pada kasus ini digunakan maintenance N 2O dan O2 dengan perbandingan 50:50
(N20 2 liter per menit : O2 2 liter per menit) serta Sevofluran vol 2 %.
Berdasarkan kepustakaan disebutkan bahwa anestesi yang ideal akan bekerja
secara cepat dan dapat mengembalikan kesadaran dengan segera setelah pemberian
dihentikan serta mempunyai batas keamanan yang cukup besar dan efek samping
minimal. Hal ini tidak dapat dicapai bila diberikan secara tunggal. Oleh karena itu perlu
anestesi dalam bentuk kombinasi. Umumnya obat anestesi umum diberikan secara
intravena dan inhalasi.
Selama anestesi berlangsung, pasien diberikan Tramadol 100 mg secara bolus
IV. Tramadol adalah analgesik kuat yang bekerja pada reseptor opiat. Tramadol

mengikat secara stereospesifik pada reseptor di sistem saraf pusat sehingga


menghentikan sensasi nyeri dan respon terhadap nyeri. Di samping itu juga
menghambat pelepasan neurotransmiter dari saraf aferen yang bersifat sensitif terhadap
rangsang, akibat impuls nyeri terhambat.
Ekstubasi dilakukan sesaat sebelum pasien sadar. Namun sebelum ET dilepas
dilakukan pembersihan jalan napas dari lendir dengan menggunakan suction sampai
bersih supaya pernapasan lancar, kemudian balon ET dikempeskan selanjutnya baru
dilepaskan. Setelah ekstubasi dipasang guedel dan pasien tetap diberikan O2 selama
kurang lebih 5-10 menit.
Terapi cairan durante operasi pada pasien ini dipilih menggunakan Ringer Laktat
yang merupakan cairan yang paling fisiologis ketika volume besar diperlukan.
Setelah operasi selesai, pemantauan dilanjutkan di RR (Recovery Room).
Tampak kondisi pasien stabil, sadar penuh, tanda-tanda vital dalam batas normal, idak
tampak adanya tanda syok, dan penilaian respon motorik pascaanestesi dengan
menggunakan skor Bromage didapatkan skor <2, setelah itu psaien dibawa kembali ke
ruangan.

BAB V
TINJAUAN PUSTAKA
ANESTESI UMUM
A. Definisi Anestesi Umum
Anestesi umum adalah tindakan untuk menghilangkan nyeri secara sentral
disertai dengan hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali atau reversible.
Anestesi memungkinkan pasien untuk mentoleransi prosedur bedah yang akan
menimbulkan sakit yang tidak tertahankan, mempotensiasi eksaserbasi fisiologis
yang ekstrim, dan menghasilkan kenangan yang tidak menyenangkan.
B. Tujuan Anestesi
Anestesi memiliki tujuan-tujuan sebagai berikut:
1. Hipnotik atau sedasi: hilangnya kesadaran
2. Analgesik: hilangnya respon terhadap nyeri
3. Muscle relaxant: relaksasi otot rangka
C. Pilihan Cara Anestesi

Umur
o Bayi dan anak paling baik dengan anestesi umum.
o Pada orang dewasa untuk tindakan singkat dan hanya dipermudahkan
dilakukan dengan anestesi lokal atau umum.

Status fisik
o Riwayat penyakit dan anestesi terdahulu. Untuk mengetahui apakah
pernah dioperasi dan anestesi. Dengan itu dapat mengetahui apakah ada
komplikasi anestesi dan pasca bedah.
o Gangguan fungsi kardiorespirasi berat sedapat mungkin dihindari
penggunaan anestesi umum.

o Pasien gelisah, tidak kooperatif, atau disorientasi dengan gangguan jiwa


sebaiknya dilakukan dengan anestesi umum.
o Pasien obesitas, jika disertai leher pendek dan besar, sering timbul
gangguan sumbatan jalan napas atas sesudah dilakukan induksi anestesi.
Pilihan anestesi adalah regional, spinal, atau anestesi umum endotrakeal.

Posisi pembedahan
o Posisi seperti miring, tungkurap, duduk, atau litotomi memerlukan
anestesi

umum

endotrakea

untuk

menjamin

ventilasi

selama

pembedahan. Demikian juga pembedahan yang berlangsung lama.

Keterampilan dan kebutuhan dokter pembedah


o Memilih obat dan teknik anestesi juga disesuaikan dengan keterampilan
dan kebutuhan dokter bedah antara lain teknik hipotensif untuk
mengurangi perdarahan, relaksasi otot pada laparotomi, pemakaian
adrenalin pada bedah plastik, dan lain-lain.

Keterampilan dan pengalaman dokter anestesiologi

Keinginan pasien

Bahaya kebakaran dan ledakan


o Pemakaian obat anestesi yang tidak mudah terbakar dan tidak eksplosif
adalah pilihan utama pada pembedahan dengan alat elektrokauter.

D. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Anestesi Umum

Faktor respirasi
Pada setiap inspirasi sejumlah zat anestesi akan masuk ke dalam paruparu (alveolus). Dalam alveolus akan dicapai suatu tekanan parsial tertentu.
Kemudian zat anestesi akan berdifusi melalui membran alveolus. Epitel alveolus
bukan penghambat disfusi zat anestesi sehingga tekanan parsial dalam alveolus
sama dengan tekanan parsial dalam arteri pulmonaris.

Hal yang mempengaruhi hal tersebut adalah:


1. Konsentrasi zat anestesi yang dihirup atau diinhalasi: makin tinggi
konsentrasinya, makin cepat naik tekanan parsial zat anestesi dalam
alveolus.
2. Ventilasi alveolus: makin tinggi ventilasi alveolus, makin cepat
meningginya tekanan parsial alveolus dan keadaan sebaliknya pada
hipoventilasi.

Faktor sirkulasi
Terdiri dari sirkulasi arterial dan sirkulasi vena. Faktor yang mempengaruhi:
1. Perubahan tekanan parsial zat anestesi yang jenuh dalam alveolus dan
darah vena. Dalam sirkulasi, sebagian zat anestesi diserap jaringan dan
sebagian kembali melalui vena.
2. Koefisien partisi darah atau gas yaitu rasio konsentrasi zat anestesi dalam
darah terhadap konsentrasi dalam gas setelah keduanya dalam keadaan
seimbang.
3. Aliran darah yaitu aliran darah paru dan curah jantung. Makin banyak
aliran darah yang melalui paru makin banyak zat anestesi yang diambil
dari alveolus, konsentrasi alveolus turun sehingga induksi lambat dan
makin lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat anestesi
yang adekuat.

Faktor jaringan
1. Perbedaan tekanan parsial obat anestesi antara darah arteri dan jaringan.
2. Koefisien partisi jaringan atau darah: kira-kira 1,0 untuk sebagian besar
zat anestesi kecuali halotan.
3. Aliran darah terdapat dalam 4 kelompok jaringan:
a) Jaringan kaya pembuluh darah (otak, jantung, hepar, ginjal)
Organ-organ ini menerima 70-75% curah jantung hingga tekanan
parsial zat anestesi ini meninggi dengan cepat dalam organ-organ
ini. Otak menerima 14% curah jantung.

b) Kelompok intermediet (otot skelet dan kulit)


c) Lemak (jaringan lemak)
d) Jaringan sedikit pembuluh darah
Relatif tidak ada aliran darah (ligament dan tendon).

Faktor zat anestesi


Bermacam-macam zat anestesi mempunyai potensi yang berbedabeda. Untuk menentukan derajat potensi ini dikenal adanya MAC (minimal
alveolar concentration atau konsentrasi alveolar minimal) yaitu konsentrasi
terendah zat anestesi dalam udara alveolus yang mampu mencegah
terjadinya tanggapan (respon) terhadap rangsang rasa sakit. Makin rendah
nilai MAC, makin tinggi potensi zat anestesi tersebut.

E. Tahapan Tindakan Anestesi Umum


1. Penilaian dan persiapan pra-anestesi
Persiapan pra-bedah yang kurang memadai merupakan faktor terjadinya
kecelakaan dalam anestesi. Sebelum pasien dibedah sebaiknya dilakukan
kunjungan pasien terlebih dahulu sehingga pada waktu pasien dibedah pasien
dalam keadaan bugar. Tujuan dari kunjungan tersebut adalah untuk mengurangi
angka kesakitan operasi, mengurangi biaya operasi, dan meningkatkan kualitas
pelayanan kesehatan.
a. Penilaian pra-bedah
1) Anamnesis
Riwayat tentang apakah pasien pernah mendapat anestesi
sebelumnya sangatlah penting untuk mengetahui apakah ada hal-hal yang
perlu mendapat perhatian khusus misalnya alergi, mual-muntah, nyeri
otot, gatal-gatal, atau sesak napas pasca bedah sehingga dapat dirancang
anestesi berikutnya dengan baik. Beberapa peneliti menganjurkan obat
yang dapat menimbulkan masalah di masa lalu sebaiknya jangan
digunakan ulang misalnya halotan jangan digunakan ulang dalam waktu
3 bulan atau suksinilkolin yang menimbulkan apnea berkepanjangan juga

jangan diulang. Kebiasaan merokok sebaiknya dihentikan 1-2 hari


sebelumnya.
2) Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan gigi-geligi, tindakan buka mulut, atau lidah relatif
besar sangat penting untuk diketahui apakah akan menyulitkan tindakan
laringoskopi intubasi. Leher pendek dan kaku juga akan menyulitkan
laringoskopi intubasi.
Pemeriksaan rutin secara sistemik tentang keadaan umum tentu
tidak boleh dilewatkan seperti inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi
semua sistem organ tubuh pasien.
3) Pemeriksaan laboratorium
Uji laboratorium dilakukan atas indikasi yang tepat sesuai dengan
dugaan penyakit. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan
darah (Hb, leukosit, masa perdarahan, dan masa pembekuan) dan
urinalisis. Pada usia pasien di atas 50 tahun ada anjuran pemeriksaan
EKG dan foto thoraks.
4) Kebugaran untuk anestesi
Pembedahan elektif boleh ditunda tanpa batas waktu untuk
menyiapkan agar pasien dalam keadaan bugar. Sebaliknya pada operasi
sito, penundaan yang tidak perlu harus dihindari.
Klasifikasi yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik
seseorang adalah yang berasal dari The American Society of
Anesthesiologists (ASA). Klasifikasi fisik ini bukan alat perkiraan risiko
anestesi karena efek samping anestesi tidak dapat dipisahkan dari efek
samping pembedahan.
Kelas I

: Pasien sehat organik, fisiologik, psikiatrik, biokimia.

Kelas II

: Pasien dengan penyakit sistemik ringan atau sedang.

Kelas III

: Pasien dengan penyakit sistemik berat sehingga aktivitas

rutin terbatas.
Kelas IV

: Pasien dengan penyakit sistemik berat tidak dapat

melakukan aktivitas rutin dan penyakitnya merupakan ancaman


kehidupannya setiap saat.

Kelas V

: Pasien sekarat yang diperkirakan dengan atau tanpa

pembedahan hidupnya tidak akan lebih dari 24 jam.


5) Masukan oral
Refleks laring mengalami penurunan selama anestesi. Regurgitasi
isi lambung dan kotoran yang terdapat dalam jalan napas merupakan
risiko utama pada pasien yang menjalani anestesi. Untuk meminimalkan
risiko tersebut, semua pasien yang dijadwalkan untuk operasi elektif
dengan anestesi harus dipantangkan dari masukan oral (puasa) selama
periode tertentu sebelum induksi anestesi.
Pada pasien dewasa umumnya puasa 6-8 jam, anak kecil 4-6 jam,
dan pada bayi 3-4 jam. Makanan tidak berlemak diperbolehkan 5 jam
sebelum induksi anestesi. Minuman air putih, teh manis sampai 3 jam,
dan untuk keperluan minum obat air putih dalam jumlah terbatas boleh 1
jam sebelum induksi anestesi.
b. Premedikasi
Sebelum pasien diberi obat anestesi, langkah selanjutnya adalah
dilakukan premedikasi yaitu pemberian obat sebelum induksi anestesi diberi
dengan tujuan untuk melancarkan induksi, rumatan, dan bangun dari anestesi
di antaranya:
1) Menimbulkan rasa nyaman bagi pasien
a) Menghilangkan rasa khawatir melalui:
Kunjungan pre-anestesi.
Pengertian masalah yang dihadapi.
Keyakinan akan keberhasilan operasi.
b) Memberikan ketenangan (sedatif).
c) Membuat amnesia.
d) Mengurangi rasa sakit (analgesik non-narkotik atau narkotik).
e) Mencegah mual dan muntah.
2) Memudahkan atau memperlancar induksi
Pemberian hipnotik sedatif atau narkotik.

3) Mengurangi jumlah obat-obat anestesi


Pemberian hipnotik sedatif atau narkotik.
4) Menekan refleks-refleks yang tidak diinginkan (muntah atau liur)
5) Mengurangi sekresi kelenjar saliva dan lambung
Pemberian antikolinergik atropin, primperan, rantin, atau H2 antagonis.
Pemberian obat secara subkutan tidak akan efektif dalam 1 jam,
secara intramuskuler minimum harus ditunggu 40 menit. Pada kasus yang
sangat darurat dengan waktu tindakan pembedahan yang tidak pasti obatobat dapat diberikan secara intravena. Obat akan sangat efektif sebelum
induksi. Jika pembedahan belum dimulai dalam waktu 1 jam dianjurkan
pemberian premedikasi intramuskuler, subkutan tidak dianjurkan. Semua
obat premedikasi jika diberikan secara intravena dapat menyebabkan sedikit
hipotensi kecuali atropin dan hiosin. Hal ini dapat dikurangi dengan
pemberian secara perlahan-lahan dan diencerkan.
Obat-obat yang sering digunakan:
1) Analgesik narkotik
a) Petidin (amp 2cc = 100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB
b) Morfin (amp 2cc = 10 mg), dosis 0,1 mg/kgBB
c) Fentanyl (fl 10cc = 500 mg), dosis 1-3gr/kgBB
2) Analgesik non narkotik
a) Ponstan
b) Tramol
c) Toradon
3) Hipnotik
a) Ketamin (fl 10cc = 100 mg), dosis 1-2 mg/kgBB
b) Pentotal (amp 1cc = 1000 mg), dosis 4-6 mg/kgBB
4) Sedatif
a) Diazepam/valium/stesolid (amp 2cc = 10mg), dosis 0,1 mg/kgBB
b) Midazolam/dormicum (amp 5cc/3cc = 15 mg), dosis 0,1mg/kgBB
c) Propofol/recofol/diprivan (amp 20cc = 200 mg), dosis 2,5 mg/kgBB

d) Dehydrobenzperidon/DBP (amp 2cc = 5 mg), dosis 0,1 mg/kgBB


5) Anti-emetik
a) Sulfas atropin (antikolinergik) (amp 1cc = 0,25 mg), dosis 0,001
mg/kgBB
b) DBP
c) Narfoz, rantin, primperan
2. Induksi anestesi
Merupakan tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi tidak
sadar sehingga memungkinkan dimulainya anestesi dan pembedahan. Induksi
dapat dikerjakan secara intravena, inhalasi, intramuskuler, atau rektal. Setelah
pasien tidur akibat induksi anestesi langsung dilanjutkan dengan pemeliharaan
anestesi sampai tindakan pembedahan selesai.
Untuk persiapan induksi anestesi diperlukan STATICS:
S: Scope

Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan jantung.


Laringoskop pilih bilah atau daun (blade) yang sesuai dengan
usia pasien. Lampu harus cukup terang.

T: Tube

Pipa trakea pilih sesuai usia. Usia < 5 tahun tanpa balon
(cuffed) dan > 5 tahun dengan balon (cuffed).

A: Airway Pipa mulut faring (guedel, oro-tracheal airway) atau pipa


hidung-faring (naso-tracheal airway). Pipa ini untuk menahan
lidah saat pasien tidak sadar untuk menjaga supaya lidah tidak
menyumbat jalan napas.
T: Tape

Plester untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong atau tercabut.

I: Introducer Mandrin atau stilet dari kawat dibungkus plastik (kabel)


yang mudah dibengkokan untuk pemandu supaya pipa
trakea mudah dimasukkan.
C : Connector Penyambung antara pipa dan peralatan anestesi.
S : Suction

penyedot lendir, ludah, dan lain-lainnya.

Macam-macam induksi pada anestesi umum yaitu:


a. Induksi intravena

o Paling banyak dikerjakan. Indikasi intravena dikerjakan dengan hati-hati,


perlahan-lahan, lembut, dan terkendali. Obat induksi bolus disuntikan
dalam kecepatan antara 30-60 detik. Selama induksi anestesi, pernapasan
pasien, nadi, dan tekanan darah harus diawasi dan selalu diberikan
oksigen. Dikerjakan pada pasien yang kooperatif.
o Obat-obat induksi intravena:

Tiopental (pentotal, tiopenton) amp 500 mg atau 1000 mg


Sebelum digunakan dilarutkan dalam akuades steril sampai
kepekatan 2,5% (1 ml = 25 mg). Hanya digunakan untuk intravena
dengan dosis 3-7 mg/kg disuntikan perlahan-lahan dihabiskan dalam
30-60 detik. Bergantung dosis dan kecepatan suntikan tiopental akan
menyebabkan pasien berada dalam keadaan sedasi, hipnosis, anestesi,
atau depresi napas. Tiopental menurunkan aliran darah otak, tekanan
likuor, tekanan intrakranial, dan diduga dapat melindungi otak akibat
kekurangan O2 . Dosis rendah bersifat anti-analgesik.

Propofol (diprivan, recofol)


Dikemas dalam cairan emulsi lemak berwarna putih susu bersifat
isotonik dengan kepekatan 1% (1 ml = 10 mg). Suntikan intravena
sering menyebabkan nyeri sehingga beberapa detik sebelumnya dapat
diberikan lidokain 1-2 mg/kg intravena. Dosis bolus untuk induksi 22,5 mg/kg, dosis rumatan untuk anestesi intravena total 4-12
mg/kg/jam, dan dosis sedasi untuk perawatan intensif 0.2 mg/kg.
Pengenceran hanya boleh dengan dekstrosa 5%. Tidak dianjurkan
untuk anak < 3 tahun dan pada wanita hamil.

Ketamin (ketalar)
Kurang digemari karena sering menimbulkan takikardi, hipertensi,
hipersalivasi, nyeri kepala, serta pasca anestesi dapat timbul mual-

muntah, pandangan kabur, dan mimpi buruk. Sebelum pemberian


sebaiknya diberikan sedasi midazolam (dormikum) atau diazepam
(valium) dengan dosis 0,1 mg/kg intravena dan untuk mengurangi
salivasi diberikan sulfas atropin 0,01 mg/kg. Dosis bolus 1-2 mg/kg
dan untuk intramuskuler 3-10 mg. Ketamin dikemas dalam cairan
bening kepekatan 1% (1 ml = 10 mg), 5% (1 ml = 50 mg), 10% (1 ml
= 100 mg).

Opioid (morfin, petidin, fentanyl, sufentanyl)


Diberikan dosis tinggi. Tidak menggaggu kardiovaskuler sehingga
banyak digunakan untuk induksi pasien dengan kelainan jantung.
Untuk anestesi opioid digunakan fentanyl dosis 20-50 mg/kg
dilanjutkan dosis rumatan 0,3-1 mg/kg/menit.

b. Induksi intramuskuler
Sampai sekarang hanya ketamin (ketalar) yang dapat diberikan secara
intramuskuler dengan dosis 5-7 mg/kgBB dan setelah 3-5 menit pasien tidur.
c. Induksi inhalasi
o N2O (gas gelak, laughing gas, nitrous oxide, dinitrogen monoksida)
Berbentuk gas, tidak berwarna, bau manis, tidak iritasi, tidak terbakar,
dan beratnya 1,5 kali berat udara. Pemberian harus disertai O 2 minimal
25%. Bersifat anastetik lemah dan analgesi kuat sehingga sering
digunakan untuk mengurangi nyeri menjelang persalinan. Pada anestesi
inhalasi jarang digunakan tunggal, sering dikombinasi dengan salah satu
cairan anastetik lain seperti halotan.
o Halotan (fluotan)
Sebagai induksi juga untuk laringoskop intubasi, asalkan anestesinya
cukup dalam, stabil, dan sebelum tindakan diberikan analgesik semprot
lidokain 4% atau 10% sekitar faring-laring. Kelebihan dosis dapat
menyebabkan depresi napas, menurunnya tonus simpatis, terjadi
hipotensi, bradikardi, vasodilatasi perifer, depresi vasomotor, depresi

miokard, dan inhibisi refleks baroreseptor. Merupakan analgesik lemah


tetapi anestesi kuat. Halotan menghambat pelepasan insulin sehingga
mininggikan kadar gula darah.
o Enfluran (etran, aliran)
Efek depresi napas lebih kuat dibanding halotan dan enfluran lebih
iritatif disbanding halotan. Depresi sirkulasi lebih kuat dibanding halotan
tetapi lebih jarang menimbulkan aritmia. Efek relaksasi terhadap otot
lurik lebih baik dibanding halotan.
o Isofluran (foran, aeran)
Meninggikan aliran darah otak dan tekanan intrakranial. Peninggian
aliran darah otak dan tekanan intrakranial dapat dikurangi dengan teknik
anestesi hiperventilasi sehingga isofluran banyak digunakan untuk bedah
otak. Efek terhadap depresi jantung dan curah jantung minimal sehingga
digemari untuk anestesi teknik hipotensi dan banyak digunakan pada
pasien dengan gangguan koroner.
o Desfluran (suprane)
Sangat mudah menguap. Potensinya rendah (MAC 6.0%) bersifat
simpatomimetik menyebabkan takikardi dan hipertensi. Efek depresi
napas seperti isofluran dan etran. Merangsang jalan napas atas sehingga
tidak digunakan untuk induksi anestesi.
o Sevofluran (ultane)
Induksi dan pulih dari anestesi lebih cepat dibandingkan isofluran.
Baunya tidak menyengat dan tidak merangsang jalan napas sehingga
digemari untuk induksi anestesi inhalasi di samping halotan.
d. Induksi per rektal
Cara ini hanya untuk anak atau bayi menggunakan tiopental atau midazolam.

e. Induksi mencuri

Dilakukan pada anak atau bayi yang sedang tidur. Induksi inhalasi biasa
hanya sungkup muka tidak kita tempelkan pada muka pasien tetapi kita
berikan jarak beberapa sentimeter sampai pasien tertidur baru sungkup muka
kita tempelkan.
f. Pelumpuh otot non-depolarisasi Tracurium 20 mg (Atracurium)
o Berikatan dengan reseptor nikotinik-kolinergik tetapi tidak menyebabkan
depolarisasi hanya menghalangi asetilkolin menempatinya sehingga
asetilkolin tidak dapat bekerja.
o Dosis awal 0,5-0,6 mg/kgBB, dosis rumatan 0,1 mg/kgBB, durasi selama
20-45 menit, kecepatan efek kerjanya 2 menit.
o Tanda-tanda kekurangan pelumpuh otot:

Cegukan (hiccup)

Dinding perut kaku

Ada tahanan pada inflasi paru

3. Rumatan anestesi (maintenance)


Dapat dikerjakan secara intravena (anestesi intravena total), dengan
inhalasi, atau dengan campuran intravena inhalasi. Rumatan anestesi mengacu
pada trias anestesi yaitu tidur ringan (hipnosis) sekedar tidak sadar, analgesik
cukup, diusahakan agar pasien selama dibedah tidak menimbulkan nyeri, dan
relaksasi otot lurik yang cukup.
Rumatan intravena biasanya menggunakan opioid dosis tinggi, fentanyl
10-50 g/kgBB. Dosis tinggi opioid menyebabkan pasien tidur dengan analgesik
cukup sehingga tinggal memberikan relaksasi pelumpuh otot. Rumatan intravena
dapat juga menggunakan opioid dosis biasa tetapi pasien ditidurkan dengan
infus propofol 4-12 mg/kgBB/jam. Bedah lama dengan anestesi total intravena,
pelumpuh otot, dan ventilator. Untuk mengembangkan paru digunakan inhalasi
dengan udara + O2 atau N2O + O2.
Rumatan inhalasi biasanya menggunakan campuran N2O dan O2 dengan
perbandingan 3:1 ditambah halotan 0,5-2 vol% atau enfluran 2-4% atau

isofluran 2-4 vol% atau sevofluran 2-4% bergantung apakah pasien bernapas
spontan, dibantu, atau dikendalikan.
4. Tatalaksana jalan napas
Hubungan jalan napas dan dunia luar melalui 2 jalan:
o Hidung menuju nasofaring
o Mulut menuju orofaring
Hidung dan mulut dibagian depan dipisahkan oleh palatum durum dan
palatum molle dan dibagian belakang bersatu di hipofaring. Hipofaring
menuju esofagus dan laring dipisahkan oleh epiglotis menuju ke trakea.
Laring terdiri dari tulang rawan tiroid, krikoid, epiglottis, dan sepasang
aritenoid, kornikulata, dan kuneiform.
a. Manuver tripel jalan napas
Terdiri dari:
1) Kepala ekstensi pada sendi atlanto-oksipital
2) Mandibula didorong ke depan pada kedua angulus mandibula
3) Mulut dibuka
Dengan maneuver ini diharapkan lidah terangkat dan jalan napas bebas
sehingga gas atau udara lancer masuk ke trakea lewat hidung atau mulut.
b. Jalan napas faring
Jika maneuver tripel kurang berhasil maka dapat dipasang jalan napas mulutfaring lewat mulut (oro-pharyngeal airway) atau jalan napas lewat hidung
(naso-pharyngeal airway).
c. Sungkup muka
Mengantar udara atau gas anestesi dari alat resusitasi atau sistem anestesi ke
jalan napas pasien. Bentuknya dibuat sedemikian rupa sehingga ketika
digunakan untuk bernapas spontan atau dengan tekanan positif tidak bocor
dan gas masuk semua ke trakea lewat mulut atau hidung.
d. Sungkup laring (laryngeal mask)
Merupakan alat jalan napas berbentuk sendok terdiri dari pipa besar
berlubang dengan ujung menyerupai sendok yang pinggirnya dapat
dikembang-kempiskan seperti balon pada pipa trakea. Tangkainya dapat

berupa pipa kerasdari polivinil atau lembek dengan spiral untuk menjaga
supaya tetap paten.
Dikenal 2 macam sungkup laring:
1) Sungkup laring standar dengan 1 pipa napas.
2) Sungkup laring dengan2 pipa yaitu 1 pipa napas standar dan lainnya pipa
tambahan yang ujung distalnya berhubungan dengan esofagus.
e. Pipa trakea (endotracheal tube)
Mengantar gas anestesi langsung ke dalam trakea dan biasanya dibuat dari
bahan standar polivinil-klorida. Pipa trakea dapat dimasukan melalui mulut
(orotracheal tube) atau melalui hidung (nasotracheal tube).
f. Laringoskopi
Fungsi laring ialah mencegah benda asing masuk paru. Laringoskop
merupakan alat yang digunakan untuk melihat laring secara langsung supaya
kita dapat memasukkan pipa trakea dengan baik dan benar. Secara garis
besar dikenal 2 macam laringoskop:
1. Bilah, daun (blade) lurus (Macintosh) untuk bayi-anak-dewasa.
2. Bilah lengkung (Miller, Magill) untuk anak besar-dewasa.
Klasifikasi tampakan faring pada saat membuka mulut terbuka maksimal
dan lidah dijulurkan maksimal menurut Mallapati dibagi menjadi 4
gradasi.
Gradasi
1
2
3
4

Pilar faring
+
-

Uvula
+
+
-

Palatum Molle
+
+
+
-

g. Intubasi
Intubasi trakea ialah tindakan memasukkan pipa trakea ke dalam trakea
melalui rima glotis sehingga ujung distalnya berada kira-kira
dipertengahan trakea antara pita suara dan bifurkasio trakea. Indikasi
sangat bervariasi dan umumnya digolongkan sebagai berikut:
1) Menjaga patensi jalan napas oleh sebab apapun
Kelainan anatomi, bedah kasus, bedah posisi khusus, pembersihan
sekret jalan napas, dan lain-lainnya.
2) Mempermudah ventilasi positif dan oksigenasi
Misalnya saat resusitasi memungkinkan penggunaan relaksan dengan
efisien, dan ventilasi jangka panjang.
3) Pencegahan terhadap aspirasi dan regurgitasi
Adapun prosedur dalam pelaksanaan intubasi meliputi:

Persiapan
1) Persiapan alat yang dibutuhkan seperti: laringoskop, ET, stilet,
dan lain-lain.
2) Masih siap pakai atau alat bantu napas.
3) Obat induksi seperti: pentotal, ketalar, diprivan, dan lain-lain.
4) Obat pelumpuh otot seperti: suksinil kolin, atrakurium, pavulon,
dan lain-lain.
5) Obat darurat seperti: adrenalin (efinefrin), SA, mielon, dan lainlain.

Tindakan
1) Pastikan semua persiapan dan alat sudah lengkap.
2) Induksi sampai tidur, berikan suksinil kolin fasikulasi (+).
3) Jika fasikulasi (-) ventilasi dengan O 2 100% selama kira-kira 1

menit.

4) Batang laringoskop dipegang dengan tangan kiri, tangan kanan

mendorong kepala sedikit ekstensi mulut membuka.


5) Masukan laringoskop (bilah) mulai dari mulut sebelah kanan,

sedikit demi sedikit, menyelusuri kanan lidah, dan menggeser


lidah ke kiri.
6) Cari epiglotis tempatkan bilah di depan epiglotis (pada bilah

bengkok) atau angkat epiglotis (pada bilah lurus).


7) Cari rima glotis (dapat dengan bantuan asisten dengan menekan

trakea dar luar).


8) Temukan pita suara warnanya putih dan sekitarnya merah.
9) Masukan ET melalui rima glotis.
10) Hubungkan pangkal ET dengan mesin anestesi dan atau alat

bantu napas (alat resusitasi)


Adapun kesulitan dalam intubasi yaitu:

Leher pendek berotot

Mandibula menonjol

Maksila atau gigi depan menonjol

Uvula tidak terlihat

Gerak sendi temporo-mandibular terbatas

Gerak vertebra servikal terbatas

Adapun komplikasi pada intubasi yaitu:


1) Selama intubasi

Intubasi esofagus

Trauma gigi geligi

Aspirasi

Laserasi bibir, gusi,

Spasme bronkus

laring

Merangsang saraf

2)
3) Setelah ekstubasi

simpatis

Spasme laring

Intubasi bronkus

Aspirasi

Gangguan fonasi

Edema glotis-

Infeksi laring, faring,


trakea

subglotis
4)

Sedangkan untuk pelaksanaan ekstubasi harus memperhatikan

hal-hal berikut ini:


1) Ekstubasi ditunda sampai pasien benar-benar sadar jika:

Intubasi kembali akan menimbulkan kesulitan

Pasca ekstubasi ada risiko aspirasi

2) Ekstubasi dikerjakan pada umumnya pada anestesi sudah ringan


dengan catatan tidak akan terjadi spasme laring.
3) Sebelum ekstubasi bersihkan rongga mulut laring faring dari sekret
dan cairan lainnya.
5. Pasca anestesi
5)

Sebelum pasien dipindahkan ke ruangan setelah dilakukan

operasi terutama yang menggunakan anestesi umum maka perlu melakukan


penilaian terlebih dahulu untuk menentukan apakah pasien sudah dapat
dipindahkan ke ruangan atau masih perlu diobservasi di ruang recovery room
(RR).
6)
7)
8)
a. Aldrete score
9) Nilai warna
Merah muda 2
Pucat 1
Sianosis 0
10) Pernapasan
Dapat bernapas dalam dan batuk 2
Dangkal tetapi pertukaran udara adekuat 1
Apnea atau obstruksi 0
11) Sirkulasi
Tekanan darah menyimpang < 20% dari normal 2

Tekanan darah menyimpang 20-50% dari normal 1


Tekanan darah menyimpang > 50% dari normal 0
12) Kesadaran
Sadar, siaga, dan orientasi 2
Bangun tetapi cepat kembali tertidur 1
Tidak berespons 0
13) Aktivitas
Seluruh ekstremitas dapat digerakkan 2
Dua ekstremitas dapat digerakkan 1
Tidak bergerak 0
14) Jika jumlahnya > 8, penderita dapat dipindahkan ke ruangan.
b. Steward score (anak-anak)
15) Pergerakan
Gerak bertujuan 2
Gerak tak bertujuan 1
Tidak bergerak 0
16) Pernapasan
Batuk, menangis 2
Pertahankan jalan napas 1
Perlu bantuan 0
17) Kesadaran
Menangis 2
Bereaksi terhadap rangsangan 1
Tidak bereaksi 0
18) Jika jumlah > 5, penderita dapat dipindahkan ke ruangan.

19)
F. Kontraindikasi Anestesi Umum
20) Adapun kontraindikasi dalam anestesi umum meliputi:
1. Mutlak: dekompensasio kordis derajat III-IV dan AV blok derajat II total (tidak
ada gelombang P).
2. Relatif: hipertensi berat atau tidak terkontrol (diastolik >110 mmHg), diabetes
melitus tidak terkontrol, infeksi akut, sepsis, dan glomerulonefritis akut.
21) Kontraindikasi mutlak ialah pasien sama sekali tidak boleh diberikan
anestesi umum sebab akan menyebabkan kematian, apakah kematian DOT (death
on the table) meninggal di meja operasi atau selain itu. Kemudian kontraindikasi
relatif ialah pada saat itu tidak bisa dilakukan anestesi umum tetapi melihat
perbaikan kondisi pasien hingga stabil mungkin baru bisa diberikan anestesi umum.

22)

23)
24) BAB VI
25) KESIMPULAN
26)
27)

Pemeriksaan pra anestesi memegang peranan penting pada setiap

operasi yang melibatkan anestesi. Pemeriksaan yang teliti memungkinkan kita


mengetahui kondisi pasien dan memperkirakan masalah yang mungkin timbul
sehingga dapat mengantisipasinya.
28)

Pada makalah ini disajikan kasus penatalaksanaan anestesi umum pada

operasi tonsilektomi pada penderita Laki-laki, usia 35 tahun, status fisik ASA I, dengan
diagnosis tonsilitis kronik yang dilakukan teknik anestesi semi closed dengan ET no. 30
respirasi spontan.
29)

Untuk mencapai hasil maksimal dari anestesi seharusnya

permasalahan yang ada diantisipasi terlebih dahulu sehingga kemungkinan


timbulnya komplikasi anestesi dapat ditekan seminimal mungkin.
30)

Dalam kasus ini selama operasi berlangsung tidak ada hambatan

yang berarti baik dari segi anestesi maupun dari tindakan operasinya. Selama di
ruang pemulihan juga tidak terjadi hal yang memerlukan penanganan serius.
31) Secara umum pelaksanaan operasi dan penanganan anestesi berlangsung
dengan baik.
32)
33)
34)
35)
36)
37)
38)
39)
40)
41)

42)
43)
44)
45)
46)
47)

48)

DAFTAR PUSTAKA

49)
50)
51)

American Heart Association. 2009. Cardiopulmonary Resuscitaion. Diakses dari


http://www.americanheart.org/presenter.jhtml?identifier=4479.

52)
53)

American Heart Association. 2010. Highlights of the 2010 American Heart


Association Guidelines for CPR and ECC.

54)
55)

Dachlan, R., dkk. 2002. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Jakarta: Bagian


Anestesiologi dan Terapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

56)
57)

Dar, A.B. 2008. Cardiopulmonary Resuscitation. India: Associate Prof of


Medicine.

58)
59)

Latief, S.A. & Suryadi. 2009. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.

60)
Omuigui. 1995. The Anaesthesia Drugs Handbook 2nd Ed. Mosby year Book Inc.

61)

62)
63)
64)
65)