Anda di halaman 1dari 20

PRINSIP EPIDEMIOLOGI DALAM PENGENDALIAN PENYAKIT KUNING PADA

TANAMAN LADA (Piper nigrum L)


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Teknik Peramalan Organisme
Pengganggu Tanaman

Disusun Oleh :
KELOMPOK V
1. Putri Mei Shara

150510120008

2. Agung Kurniawan

150510120033

3. Mahsuri

150510120080

4. Fildzah Nur Fajrina

150510120234

5. Fransisco

150510120241

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
JATINANGOR
2015

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan
rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan salah satu tugas mata kuliah Teknik
Peramalan OPT tepat pada waktunya. Adapun isi dari tugas ini yaitu mengenai Prinsip
Epidemiologi dalam Pengendalian Penyakit Kuning pada Lada (Piper nigrum L.).
Teknik peramalan OPT merupakan salah satu mata kuliah pilihan minat hama dan
penyakit tanaman. Dalam mata kuliah ini dipelajari epidemiologi dalam berbagai macam
pengendalian berbagai penyakit.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi isi,
cover, maupun tata letak atau desain. Oleh karena itu, kritik dan saran dari semua pihak yang
bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan draft ini.
Akhir kata, penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
dan ikut membantu dalam penyusunan makalah ini dari awal hingga akhir. Semoga Tuhan
yang Maha Esa senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Jatinangor, Juni 2015

Tim Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................................................i
DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii
BAB I.........................................................................................................................................1
PENDAHULUAN......................................................................................................................1
1.1. Latar Belakang.................................................................................................................1
1.2 Tujuan...............................................................................................................................1
BAB II........................................................................................................................................2
PEMBAHASAN........................................................................................................................2
2.1. Penyebab Penyakit Kuning..............................................................................................2
2.2. Gejala Penyakit................................................................................................................3
2.3. Penyebaran Penyakit.......................................................................................................5
2.4. Rumus Van der Plank......................................................................................................5
2.5. Kurva Perkembangan Penyakit.......................................................................................6
2.6. Pengendalian Penyakit Berdasarkan Komponen Van Der Plank.....................................6
2.7. Grafik Pengendalian........................................................................................................7
A. Strategi pengendalian yang dilakukan untuk menurunkan jumlah inokulum awal
(X0) pada perkembangan epidemic penyakit Kuning pada tanaman lada yaitu :...............8
B. Strategi pengendalian yang dilakukan untuk mengurangi laju infeksi (r) pada
perkembangan epidemic penyakit Kuning pada tanaman lada yaitu :..............................10
2.8. Komponen Epidemi Yang Harus Ditekan.....................................................................12
2.9. Peramalan Penyakit Kuning Pada Lada........................................................................12
BAB III.....................................................................................................................................13
PENUTUP................................................................................................................................13
3.1. Kesimpulan....................................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................14

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Lada (Piper nigrum L.) merupakan salah satu komoditas ekspo yang sangat penting di
Indonesia. Salah satu masalah dalam upaya meningkatkan produksi lada tersebut adalah
penyakit kuning yang disebabkan oleh serangan nematoda parasit.
Penyakit kuning pertama kali dilaporkan terdapat pada pertanaman lada di daerah
Bangka oleh Van Der Vecht pada tahun 1932. Kemudian penyakit tersebut ditemukan juga di
daerah Kalimantan Barat. Selain di Indonesia, penyakit serupa dengan penyakit kuning
tersebut dilaporkan terdapat di Thailand dan India. Pada tahun 1967, penyakit ini dilaporkan
merusak pertanaman lada di Bangka sebesar 32% (Mustika, 2010).
Penyakit kuning pada tanaman lada terutama di Bangka disebabkan oleh keadaan
yang sangat kompleks yaitu adanya serangan nematoda (Radopholus similis dan
Meloidogyne incognita), adanya jamur parasit (Fusarium solani dan F. oxysporum), serta
rendahnya kesuburan tanah, di samping juga kelembaban atau kadar air tanah yang rendah
(Bridge, 1978; Mustika, 1990). Berdasarkan penelitian diketahui bahwa faktor utama
penyebab penyakit tersebut adalah serangan nematoda R. similis, sedangkan faktor lainnya
dapat memperlemah keadaan tanaman yang terserang nematoda tersebut (Mustika, 1990).
Mengingat kompleksnya penyebab penyakit kuning, maka cara pengendalian yang
tepat adalah secara terpadu, terutama ditujukan pada pengendalian nematoda R. similis dan
M. incognita dan jamur Fusarium spp., serta pemenuhan kebutuhan tanaman lada akan unsur
hara yang diperlukan.
Beberapa komponen pengendaliannya antara lain adalah varietas tahan (toleran),
teknik budidaya, pengendalian secara hayati, dan penggunaan pestisida.

1.2 Tujuan
Tujuan makalah ini adalah agar mahasiswa mampu mengetahui dan memahami teknik
pengendalian dan peramalan penyakit kuning pada tanaman lada
1

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Penyebab Penyakit Kuning


Penyakit kuning pada lada utamanya disebabkan oleh nematoda R. similis dan M.
incognita (Mustika, 1990).
a. Radopholus similis
R. similis adalah nematoda parasit yang berpindah-pindah di dalam jaringan tanaman
(endoparasit migratory). Nematoda tersebut masuk ke dalam akar, berpindah-pindah di dalam
jaringan tanaman, aktif makan dan berkembang biak di dalam akar. Ciri-ciri dari nematoda
betina: panjang tubuh = 614 m, panjang stilet = 19 m, panjang ekor = 64 m, diameter
tubuh = 24 m, letak vulva = 59 %. Sedangkan ciri-ciri dari nematoda jantan: panjang tubuh
= 614 m, panjang stilit = 13 m, panjang ekor = 70 m, panjang spikula = 18 m, diameter
tubuh = 17 m.

Siklus hidup R. similis


Siklus hidup R. similis seluruhnya berlangsung di dalam akar. R. similis masuk ke

dalam akar tanaman lada pada 24 jam setelah inokulasi atau setelah nematoda menyentuh
akar. Sel-sel sekitar tempat penetrasi berubah warna menjadi coklat tua, dan 72 jam setelah
penetrasi terbentuk luka-luka pada akar. Nematoda betina meletakkan telur di antara korteks
akar pada 5 hari setelah penetrasi. Nematoda tersebut menyerang pembuluh jaringan (xylem)
dan mengeluarkan zat seperti getah dan mengakibatkan pembuluh jaringan tersumbat. Saat
penetrasi ke dalam akar, R. similis mengeluarkan beberapa macam enzim seperti enzim
hydrolase (selulase), invertase (sakharose, sukrase atau fructofuranoksidase) dan enzim
pektolitik (Duebert dan Rohde, 1971). Apabila bagian akar membusuk, nematoda tersebut
berpindah-pindah mencari akar yang masih sehat.
R. similis mampu bertahan hidup selama 6 bulan di dalam tanah tanpa tanaman inang.
Temperatur optimum untuk perkembangbiakan nematoda ini adalah27o C (Mustika, 1990).
Tanaman inang dari R. similis selain lada adalah pisang, jahe, kelapa, pinang, nangka,
mangga, dan dadap (Koshy dan Bridge, 1990).
3

b. Meloidogyne incognita
M. incognita adalah salah satu jenis nematoda penyebab bengkak akar (buncak akar).
Ciri-ciri nematoda betina: berbentuk seperti buah pear, berukuran sekitar 500-800 m.
Sedangkan ciri-ciri nematoda jantan: panjang tubuh = 1100-1900 m. panjang stilet = 23-33
m, spikula = 29-40 m. Larva: panjang tubuh = 337-403 m, panjang ekor = 38-55 m,
panjang stilet = 9,6-11,7 m.

Siklus hidup M. incognita


Stadia larva 2, masuk ke dalam akar dan makan pada jaringan parenkim. Akibat

serangan nematoda ini, sel-sel di sekitar kepala nematoda membengkak dan disebut sel
raksasa (giant cells). Sel-sel raksasa tersebut selanjutnya menjadi sumber makanan bagi
nematoda. Selama di dalam akar, nematoda M. incognita tidak bergerak atau berpindah, tetapi
tetap makan pada sel-sel raksasa sampai menyelesaikan siklus hidupnya. Terjadinya sel-sel
raksasa menyebabkan akar membengkak dan ukurannya berbeda-beda tergantung pada
kepekaan tanaman. Akar yang bengkak berisi nematoda-nematoda betina beserta kelompok
telur (egg masses). Kelompok telur tersebut seringkali muncul ke permukaan akar yang
membengkak, dan biasanya berwarna kecoklatan. Satu kelompok telur berisi sekitar 100-150
telur. Satu siklus nematoda ini berlangsung sekitar 30-60 hari.
Pada suhu 26,5-29o C, larva stadia-2 M. incognita mulai penetrasi ke dalam akar pada
24 jam setelah akar kontak dengan nematoda tersebut. Larva stadia-2 berkembang menjadi
jantan dan betina berturut-turut pada 29 dan 17 harisetelah inokulasi. Betina dewasa bertelur
pada 26 hari setelah penetrasi. Satu ekor betina mampu bertelur sebanyak 290 butir. Telurtelur tersebut menetas pada 35 hari setelah inokulasi (Wiryadiputra et al., 1991). ). Tanaman
inang dari M. incognita selain lada adalah tembakau, tomat, cabe, dadap, kapok, gliricidia.

2.2. Gejala Penyakit


Gejala penyakit kuning pada tanaman lada terdiri dari gejala di atas permukaan tanah dan
gejala di bawah permukaan tanah.

Gejala di atas permukaan tanah


4

Mula-mula tanaman yang terserang terhambat pertumbuhannya, kemudian secara bertahap


warna daun dan dahan menjadi kekuning-kuningan yang lama-kelamaan akan gugur.
Perubahan ini umumnya dimulai dari bagian bawah dan menjalar ke bagian atas tanaman.
Gejala penyakit ini dapat terjadi pada tanaman muda maupun tanaman yang sudah berumur
lebih dari 3 tahun.

Gambar 1. Tanaman lada yang terserang penyakit kuning (Sumber: Mustika, I. 2010)

Gejala di bawah permukaan tanah

Pada bagian akar tampak sebagian akar rambutnya sudah rusak. Pada akar tersebut terdapat
luka-luka nekrosis dan puru atau bengkak akar. Luka-luka akar disebabkan oleh serangan
nematoda R. similis, sedangkan puru akar diakibatkan oleh serangan nematoda M. incognita.

Gambar 2. Akar lada terserang nematoda M. incognita (Sumber: Mustika, I. 2010)

Di dalam jaringan akar yang luka dan berpuru tersebut, terdapat sekelompok
nematoda. Selain itu pembuluh jaringan akar yang terserang oleh nematoda tersumbat oleh
cairan seperti getah. Hal ini meyebabkan terhambatnya translokasi air dan hara dari akar ke
bagian tanaman lainnya dan mengakibatkan bagian atas tanaman menjadi berwarna kuning.

Gambar 3. Kumpulan nematoda di dalam jaringan akar lada (Sumber: Mustika, I. 2010)

2.3. Penyebaran Penyakit


Dalam penyebarannya, penyakit kuning disebabkan oleh pathogen terbawa tanah (soil
borne pathogen). Tidak semua tanaman di satu kebun serentak menjadi sakit, tetapi tanaman
yang sakit selalu bermula dari beberapa tanaman saja.

2.4. Rumus Van der Plank


Berdasarkan waktu timbulnya gangguan, perlindungan tanaman pada dasarnya dapat
dilakukan melalui dua cara, yaitu secara preventif dan kuratif. Perlindungan tanaman secara
preventif dilakukan untuk pencegahan sebelum tanaman terganggu, sedangkan perlindungan
secara kuratif dilakukan untuk mengurangi kerugian selama tanaman terganggu. Perlindungan
tanaman yang baik dilakukan secara preventif terlebih dahulu dan jika tanaman mengalami
gangguan dilakukan perlindungan secara kuratif.
Secara matematis, model perkembangan penyakit dapat diperkirakan menggunakan
rumus Van der Plank, yakni

Xt =Xo ( 1+rt ) dengan arti lambang bahwa Xt = berat serangan


6

pada waktu t, X0 = berat serangan pada waktu awal, e = kontante bilangan normal (2,71828),
r = laju penyakit, dan t = waktu. Perlindungan tanaman menggunakan pendekatan matematis
ini pada prinsipnya adalah mengusahakan nilai Xt sekecil mungkin. Nilai Xt akan menjadi
kecil jika serangan awal (X0) kecil, laju penyakit (r) lambat, dan waktu (t) interaksi sebentar.
Oleh karena itu, van der Plank juga membedakan perlindungan tanaman menjadi dua tujuan,
yaitu mengurangi penular (X0) dan menurunkan laju penyakit (r).

Rumus van der Plank untuk penyakit kuning pada lada:


Xt =Xo(1+rt )
Keterangan :
Xt

= berat serangan pada waktu t

Xo

= Inokulum awal

= laju perkembangan penyakit

= waktu

2.5. Kurva Perkembangan Penyakit

Penyakit kuning pada lada merupakan salah satu penyakit yang penularannya melalui tanah
(soil born disease). laju dari perkembangan

penyakit

monosiklik sangat dipengaruhi

inokulum awal, dalam hal ini, laju perkembangan penyakit kuning sangat dipengaruhi oleh
banyaknya inokulum awal berupa nematoda yang sudah terdapat didalam tanah. Dari kurva
diatas menunjukkan bahwa intensitas serangan tanaman yg terserang penyakit monosiklik
dipengaruhi oleh bayaknya inoculum awal dan akan terus meningkat hingga tanaman yang
tersrang mendekati 100% kemudian cenderung melandai. Semakin banyak patogen yang
mampu bertahan untuk pertanaman selanjutnya maka akan semakin besar juga jumlah
inokulum awal yang ada dipertanaman selanjutnya dan berpotensi menimbulkan kerusakan di
pertanaman selanjutnya.

2.6. Pengendalian Penyakit Berdasarkan Komponen Van Der Plank


Cara pengendalian

Penurunan Inokulum awal

Menggunakan varietas

(X0)
Ya

ketahanan vertikal
Sanitasi lahan
Penggunaan pupuk organik
Menggunakan jamur

Laju Infeksi (r)

Ya
Ya
Ya

Paecilomyces lilacinus dan


8

Verticillium
chlamidosporium
Penggunaan mulsa
Melakukan rotasi dengan

Ya
Ya

tanaman jarak (Ricinus


communis)
Mengguakan bakteri

Ya

Pasteuria penetrans
Penggunaan kapur pertanian
Menggunakan musuh alami

Ya
Ya

dari jamur Arthrobotrys,


Dactylaria, dan Dactylella.
Menggunakan pestisida

Ya

nabati mimba (Azadirachta


indica)
Menggunakan nematisida

Ya

aldicarb (50 g/tanaman/3


bulan)

2.7. Grafik Pengendalian


Mengingat kompleksnya penyebab penyakit kuning lada, maka cara pengendalian
yang tepat adalah secara terpadu, terutama ditujukan pada pengendalian nematoda R. similis
dan M. incognita dan jamur (Fusarium spp.), serta pemenuhan kebutuhan tanaman lada akan
unsur hara yang diperlukan. Beberapa komponen pengendaliannya antara lain adalah varietas
tahan (toleran), teknik budidaya, pengendalian secara hayati dan penggunaan pestisida.

Varietas tahan vertikal, sanitasi


lahan, penggunaan pupuk, rotasi
tanaman, menggunakan bakteri
Pesteuria penetrans,
penggunaan kapur pertanian, dan
musuh alami

Penggunaan jamur, penggunaan mulsa,


pestisida nabati, nematisida

A.

Strategi pengendalian yang dilakukan untuk menurunkan jumlah inokulum

awal (X0) pada perkembangan epidemic penyakit Kuning pada tanaman lada yaitu :
1. Varietas Tahan
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tidak ada satupun varietas lada yang
tahan terhadap serangan R. similis dan M. incognita (Venkitesan dan Setty, 1979;
Koshy dan Sundararaju, 1979). Meskipun demikian, dari penelitian di Bangka
diperoleh bahwa varietas-varietas LDL (Lampung Daun Lebar), Kuching dan Bangka,
cukup toleran terhadap M. incognita (Nuryani, 1984). Penelitian lebih lanjut
menunjukkan bahwa
varietas Kuching cukup toleran terhadap serangan M. incognita dan R. similis
(Mustika, 1990).
2. Sanitasi Lahan
Cara sanitasi yaitu dengan menjaga kebersihan kebun, membongkar dan
membakar sisa-sisa tanaman sakit, dan tidak menanam tanaman inang R. similis dan
M. incognita.
3. Pengunaan pupuk
Nematoda dapat dikendalikan dengan menggunakan bahan organik. Dengan
menambahkan bahan organik ke dalam tanah, populasi musuh-musuh alami nematoda
parasit terutama dari golongan jamur (Arthrobotrys spp), meningkat. Selain itu,
10

bahan-bahan organik tersebut dapat menghasilkan asam-asam organik yang bersifat


nematisida, seperti asam format, asam butirat, dan asam asetat (Nat. Acad. Sci., 1968).
Bahan organik yang dapat digunakan untuk menekan populasi nematoda M. incognita
antara lain adalah kotoran ayam, bungkil kedele, alang-alang dan kompos. Sedangkan
untuk menekan R. similis adalah kotoran sapi (Mustika et al., 1993). Freire dan Bridge
(1985) menemukan bahwa jamur

Paecilomyces lilacinus dan

Verticillium

chlamidosporium dapat menginfeksi masa telur M. incognita, pada pembibitan lada


berturut-turut sebesar 15% dan 12%.
Dosis pupuk yang tepat untuk tanaman lada adalah 4 x 600 g RBS (Rustica Blue
Special)/tanaman/tahun (Wahid, 1979), atau 400 kg N, 180 kg P, 480 kg K, 425 kg Ca,
dan 112 kg Mg.
4. Penggunaan Bakteri
Pengendalian secara organik yaitu dengan penggunaan bakteri, beberapa
agensia hayati dilaporkan efektif untuk mengendalikan nematoda, salah satu di
antaranya adalah bakteri Pasteuria penetrans (Sayre, 1980; Mankau, 1980; RodriguezKabana, 1992). Pasteuria penetrans merupakan bakteri parasit obligat yang tersebar di
seluruh dunia dan dapat memarasit sekitar 205 spesies nematoda parasit tanaman
(Sturhan, 1988). Di antara nematoda parasit yang dapat terinfeksi oleh P. penetrans
adalah M. incognita, M. arenaria, M. javanica, Pratylenchus scribneri, P. brachyurus,
Helicotylenchus, Xiphinema diversicaudatum dan Radopholus simis. Siklus hidup
P.penetrans terdiri atas 4 stadia yaitu (1). Perkecambahan spora, (2). Pertumbuhan
vegetatif, (3). Fragmentasi dan (4). Sporogenesis. Perkecambahan spora pada
Meloidogyne spp. mulai pada 8 hari setelah larva-2 terinfeksi masuk ke dalam akar
dan mulai makan. Siklus hidup P. penetrans sangat sinkron dengan siklus hidup
nematoda. Pada suhu 200 C siklus hidupnya berlangsung sampai 85 - 100 hari,
sedangkan pada suhu 300 C berlangsung hanya 20 - 30 hari. Jumlah spora yang
dihasilkan oleh nematoda terinfeksi dapat mencapai 2 juta (Mankau, 1975).
5. Penggunaan Kapur Pertanian

11

Penggunaan kapur dilaporkan dapat meningkatkan kemampuan infeksi


nematoda oleh bakteri P. penetrans. Hasil penelitian mengenai pengaruh beberapa
formulasi P. penetrans terhadap nematoda pada skala laboratorium menunjukkan
bahwa formulasi tepung akar ditambah dengan dolokal (kapur pertanian), mampu
menginfeksi 65% Meloidogyne dan 22% Radopholus similis. Hal ini mungkin terjadi
karena penambahan kapur, dapat mengurangi kemasaman. Pada formulasi P.
penetrans dimana digunakan kapur, kemasaman formulasi tersebut mencapai 9,15
(Mustika, 1998).

B.

Strategi pengendalian yang dilakukan untuk mengurangi laju infeksi (r) pada

perkembangan epidemic penyakit Kuning pada tanaman lada yaitu :


1. Penggunaan jamur
Beberapa jenis jamur diketahui dapat menjerat nematoda di antaranya adalah
Arthrobotrys spp. Arthrobotrys, Dactylaria dan Dactylella diaplikasikan dalam bentuk
biakan jagung sebanyak 150 g/pot/6 bulan, sedangkan P. penetrans dalam bentuk
kapsul sebanyak 4 kapsul/pot/6 bulan. Kombinasi ke empat agen hayati (Arthrobotrys,
Dactylaria, Dactylella dan P. penetrans), pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman
(tinggi tanaman) dan populasi nematoda (M. incognita dan R. similis) lebih baik
dibanding dengan aplikasi JPN tersebut secara tunggal (Tabel 3). Keempat agen
hayati tersebut dalam membunuh nematoda mempunyai mekanisme yang berbeda.
Spora bakteri P. penetrans menempel pada tubuh nematoda, sehingga nematoda tidak
mampu berkembang lebih lanjut (Sayre, 1980; Stirling, 1984).
Jamur Arthrobotrys membentuk jaringan bergetah yang menjerat nematoda,
Dactylaria dan Dactylella membentuk cincin/benjolan yang dapat menjerat larva
nematoda (Sayre, 1980). Diduga keempat agen hayati tersebut, secara alami tidak
bersinergis satu sama lain, tetapi bekerja sendiri-sendiri.
2. Penggunaan Mulsa

12

Penggunaan mulsa dapat memperbaiki tekstur dan struktur tanah, juga


menambah bahan organik serta menekan aktivitas nematoda (Christie, 1959). Sebagai
mulsa dapat digunakan lalang atau serasah setebal 10 - 20 cm.
3. Penggunaan Pestisida
Untuk mengurangi populasi nematoda dapat digunakan nematisida, sedangkan
untuk mengurangi aktivitas jamur digunakan fungisida.
a. Penggunaan Pestisida Nabati
Beberapa jenis tanaman diketahui mempunya potensi sebagai sumber pestisida
nabati. Sekitar 2.400 jenis tanaman mengandung racun yang dapat mematikan
hama tanaman. Diantara tanaman-tanaman tersebut, mimba (Azadirachta
indica) dan jarak (Ricinus communis) dilaporkan dapat membunuh nematoda.
Jarak dan mimba merupakan bahan pestisida nabati yang sangat potensial,
karena mengandung beberapa senyawa aktif yang dapat membunuh
(mempengaruhi) jamur patogen, bakteri serangga dan nematoda.
Mimba merupakan salah satu tanaman yang banyak kegunaannya
diantaranya yang sangat penting adalah sebagai pestisida nabati dan industri
obat untuk kesehatan manusia. Mimba dilaporkan banyak mengandung
senyawa yang bersifat pestisida diantaranya adalah mimbidin, thiomenon,
azadirachtin, nimbin, nimbidic acid, kaemferol, quercetin, meliantriol dan
salanin (Alam dan Jairajpuri, 1990). Semua bagian tanaman mimba efektif
untuk mengendalikan nematoda diantaranya adalah daun, bunga, kulit batang,
akar, biji dan kulit biji. Beberapa spesies nematoda yang dapat terbunuh oleh
bagian

tanaman

mimba

antara

lain

adalah

Aphelenchus

avenae,

Helicotylenchus erythrinae, H. indicus, Hoplolaimus indicus, Meloidogyne


arenaria, M. incognita, M. javanica, Pratylenchus brachyurus, P. delatrei dan
Rotylenchulus reniformis.
Tanaman jarak diketahui mengeluarkan senyawa antihelmintic
(antinematoda), sehingga dapat digunakan sebagai tanaman antagonis untuk
mengendalikan nematoda (Rodriguez-Kabana, 1992). Biji jarak mengandung
minyak (castor oil) sekitar 40 - 60%, komponen utamanya adalah asam
13

risinoleat, 7% asam oleat, 3% asam linoleat, 2% asam palmitat dan 1% asam


stearat (The Merck Index, 1989). Semua bagian tanaman jarak (akar, batang,
daun dan biji) mengandung senyawa beracun terhadap nematoda. Beberapa
spesies nematoda yang dapat terbunuh oleh bagian tanaman jarak diantaranya
adalah Aphelenchus avenae, Ditylenchus cypei, Helicotylenchus erythrinae,
Heterodera rostochiensis, H. schachtii, Hoplolaimus indicus, Meloidogyne
incognita, M. javanica, Pratylenchus delattrei, Rotylenchulus reniformis,
Tylenchorhynchus brassiceae, Tylenchulus semipenetrans (Grainge dan
Ahmed, 1987).

b. Penggunaan Pestisida Sintetik


Hasil penelitian di Bangka menunjukkan bahwa pemberian Aldicarb (50
g/tanaman/3 bulan) dapat menekan perkembangan penyakit kuning sebesar
15%, dan meningkatkan produksi lada basah sebesar 50%. Di Serawak,
penggunaan Furadan 3G sebanyak 4 x 114 g/tanaman/tahun, dapat
mengurangi populasi M. incognita di dalam tanah sebanyak 82%, serta
meningkatkan produksi lada basah sebesar 200% (Kueh dan Teo, 1978).

2.8. Komponen Epidemi Yang Harus Ditekan


Penyakit kuning merupakan penyakit yang bersifat monosiklik dimana penyebarannya
melalui tanah (soil borne). Berdasarkan sifat patogennya, dalam hal ini komponen epidemic
yang paling harus ditekankan adalah inokulum awal patogen (Xo) yang berada di dalam
tanah. Karena pengendalian terhadap inokulum awal (Xo) pada penyakit monosiklik akan
lebih efektif dalam mengurangi intensitas serangan pada waktu t (Xt) dibandingkan dengan
pengendalian yang ditekankan terhadap laju penyakit (R).

2.9. Peramalan Penyakit Kuning Pada Lada


Cara peramalan yang dilakukan yaitu dengan mengambil sampel tanah dari suatu lahan yang
diduga terkena serangan penyakit kuning yang kemudian diekstraksi, setelah itu dilihat
apakah terdapat nematoda yang dimaksud atau tidak. Kemudian cara lainnya yaitu dengan
14

mengambil sampel tanah dari suatu lahan yang diduga terkena serangan penyakit kuning.
Setelah itu tanah tersebut ditanami dengan tanaman lada dan diamati apakah dalam
pertumbuhan tanamannya menunjukkan adanya gejala dari penyakit kuning atau tidak.

15

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Penyakit kuning pada lada utamanya disebabkan oleh nematoda R. similis dan M.
incognita. Penyakit kuning merupakan penyakit yang bersifat monosiklik dengan penyebaran
patogen melalui tanah (soil borne). Intensitas serangan tanaman yg terserang penyakit
monosiklik dipengaruhi oleh bayaknya inoculum awal dan akan terus meningkat hingga
tanaman yang tersrang mendekati 100% kemudian cenderung melandai. Sehingga
pengendalian yang harus lebih ditekannya adalah pengendalian terhadap inokulum awal (Xo).
Pengendalian yang dilakukan untuk menangani penyakit kuning harus berdasarkan konsep
PHT dengan memperhatikan aspek ekonomi, lingkungan, dan social.

16

DAFTAR PUSTAKA
Bridge, J., 1978. Plant nematodes with cloves and black pepper in Sumatera and Bangka,
Indonesia. ODM Technical Report on visit to Indonesia. 9-19 th July, 1978. UK
Ministry of Overseas Development. 19 pp.
Dubert, K.H. and Rohde, R.A. 1971. Nematodes enzymes. Dalam Zuckerman, B.M., Mai,
W.F., and Rohde, R.A., (Eds). Plant Parasitic Nematodes. Vol. 2. Acad. Press. N.Y. p.
73-90
Freire, P.C.O. and J. Bridge, 1985. Biochemical induced in roots and xylem sap of black
pepper by Meloidogyne incognita. Fitopatologia Brasileira 10 : 485-497.
Koshy, P.K. and Bridge, J. 1990. Nematodes Parasites Of Spices. Dalam Luc, M.A., Sikora
and Bridge, J. (Eds). Plant Parasitic Nematodes In Subtropical And Tropical
Agriculture. CABI. p. 557-582
Mustika, I., 1990. Studies on the interaction of Meloidogyne incognita, Radopholus similis
and Fusarium solani on black pepper (Piper nigrum L.). Wageningen Agric. Univ.
The Netherlands. 127 pp.
Mustika, I., 2010. Penyakit Kuning Pada Tanaman Lada Dan Cara Pengendaliannya. Balai
Penelitian Tanaman Rempah Dan Obat
Nuryani, Y., 1984. Field trial of six black pepper varieties in Bangka. Pember. Littri. Vol. X,
No. 1-2: 30-33.
Sayre, R.M., 1980. Promising organism for biological control nematodes. Plant Disease 64 :
527-532.
Wiryadiputra, S., Mustika, I., dan Jacob, J.J. 1991. Sejarah hidup nematoda Meloidogyne
incognita pada lada. Kongres Nasional XII dan Seminar Nasional PFI. Yogyakarta,
6-8 September, 1993. p. 955-959.

17