Anda di halaman 1dari 73

PERBANDINGAN AGAMA

I. STUDI TENTANG AGAMA-AGAMA


Apakah Agama itu? Berbagai jawaban dan definisi bisa diberikan oleh orang tergantung dari
sudut mana mereka melihat agama itu. Secara sederhana ada yang menyebutkan bahwa
agama itu adalah: kepercayaan akan mahluk-mahluk halus, namun yang lainnya mencoba
memberikan definisi yang lebih komprehensip atau deskripsi mengenai praktek-prakteknya.
Sejak berkembangnya agama pada masyarakat primitip, agama berkembang tanpa manusia
merasa perlu mendifinisikan artinya, namun sejak perkembangan ilmu pengetahuan, manusia
berusaha untuk mengerti hakekat agama yang sudah dianut manusia sejak kehadiran manusia
dimuka bumi itu. Beberapa pendekatan akan studi tentang agama-agama yang dilakukan
adalah antara lain sebagai berikut:
Ahli Antropologi menggambarkan keyakinan dan praktek agama seperti yang dapat diamati
dalam komunitas yang hidup. Agama dalam komunitas ini membantu menyatukan orangorang melalui pengalaman yang dilakukan bersama dan pemberian makna pada kehidupan
mereka. Agama menyediakan pola perilaku manusia, sering sebagai tanggapan atas
kesukaran hidup.
Ahli Sosiologi menekankan dimensi sosial dari ide-ide keagamaan. Agama menyediakan
jalan yang disepakati dalam melihat dunia ini. Ia memberikan kepada setiap individu
manusia rasa tentang makna dan tujuan hidup sosialnya.
Ahli Jiwa menjelaskan agama sebagai pemenuhan akan kebutuhan kejiwaan dalam
mengatasi konflik-konflik batin, dan bagaimana agama itu berperan dalam kesejahteraan jiwa
manusia itu.
Ahli Sejarah menjelaskan agama dalam hubungan kejadian-kejadian yang dihasilkan
kepercayaan dari dulu sampai sekarang.
Ahli Teologi berkenaan dengan agama dalam lingkungannya sendiri, mengenai pertanyaan
apakah hal itu benar atau salah, dan bagaimana manusia menanggapi agama itu.
Ahli-ahli lain berusaha melihat perilaku beragama dan agama itu sendiri dalam hubungan
dengan disiplin ilmu pengetahuan masing-masing.
Dalam penyelidikan agama-agama yang menyeluruh, kita mengenal setidaknya dua macam
studi agama, yaitu:
(1) Sejarah Agama, dan
(2) Perbandingan Agama.
Sejarah agama (History of Religions) berusaha untuk mengerti agama dari sejarahnya di
masa lalu sampai sekarang dan hal-hal apa yang berkembang dalam agama itu, jadi sifatnya
penyelidikan yang mendalam dan vertikal atas agama tertentu, sedangkan perbandingan
agama (comparative religions) mencoba melakukan pendekatan atas agama melalui
perbandingkan antara satu agama dengan agama lainnya.
1. PENDEKATAN STUDI AGAMA
Bila masa rasionalisme menghadirkan pemikiran filsafat alami (natural philosophy) seperti
yang dipopulerkan oleh G.W.F. Hegel, studi ANTROPOLOGI AGAMA mengalami
perkembangan penting setelah Charles Darwin mengemukakan teori evolusinya mengenai
perkembangan biologis kehidupan mahluk dari sederhana sampai kompleks, demikian juga
kemudian agama dianggap sebagai mengalami perkembangan yang sama pula. Ini kemudian
dikenal sebagai teori evolusi agama yang dikaitkan dengan nama E.B. Taylor, J.G. Frazer,

Post subject: Re: PERBANDINGAN AGAMA


Posted: Mon Nov 17, 2008 12:39 pm

II. MEMPELAJARI SEJARAH AGAMA HINDU

Joined:
Fri Jun ASPEK MISTIKNYA DAN PERKEMBANGANNYA
09,
DI INDONESIA
2006
5:20
Agama India kuno sudah terdeteksi sejak sekitar tahun 3000-BC dan nama Hindu
pm
adalah nama India dalam bahasa Persia, dan merupakan agama tradisi budaya yang
Posts:
berkaitan dengan tanah India yang disebut sebagai The Mother India yang lebih
8936
merupakan agama yang berorientasi kepada alam dan pertanian dan dapat dikatakan
sebagai 'percampuran sekte kultus, kebiasaan, ide-ide dan aspirasi' yang beragam
dan bervariasi di sekitar 700.000 desa.
India sebagai sebuah sub-benua saat ini memiliki penduduk sekitar 500 juta dan
terdiri dari bangsa Dravida di sebelah selatan yang umumnya hitam dan pendek,
bangsa Benggala di bagian timur laut yang coklat, dan bangsa Aria yang keturunan
Persia di sebelah utara yang umumnya bertubuh tinggi dan berkulit putih. Agama
Hindu yang kuno tidak mempunyai pendiri atau nabi, tidak mempunyai struktur
organisasi agama, dan lebih menekankan jalan hidup dan bukan pemikiran.
Radhakrishnan mantan presiden India menyebut 'agama Hindu sebagai kebudayaan
dan bukan pengakuan iman.'
1. KONSEP MENGENAI YANG SUCI
Dalam agama Hindu yang kuno ada yang percaya tentang apa yang disebut Tuhan
ada yang tidak dan umumnya menj adikan kekuatan alam sebagai sesembahan
(Manisme & Animisme) dan dengan adanya pengaruh bangsa Aria di Utara (ca.abad
ke-XV-BC) yang menghasilkan bahasa Sansekerta berkembanglah dewa-dewi
(politheisme) yang merupakan personifikasi kekuatan-kekuatan alam seperti Agni
(dewi api), Indra (dewa langit/ perang) dan Varuna (dewa pengatur kosmis), dan
memuncak dalam apa yang disebut sebagai Trimurti yaitu dewa Brahman, Shiva dan
Wishnu dan para dewinya yaitu Saraswati, Lakhsmi dan Kali/Duga. Dewi Shakti
adalah simbol kewanitaan. Di samping dewa-dewi ini dikenal para perantara (avatar)
seperti Rama dan Krishna. Para penguasa/raja dianggap sebagai anak dewa. Krishna
sering dipersonifikasikan sebagai binatang Sapi (kultus Mother Goddes).
Dengan berkembangnya agama menjadi PantheismelMistisisme (kebatinan) maka
konsep dewa-dewi berkembang menjadi konsep Monisme mengenai keberadaan zat
yang 'SATU' (The One) yang disebut Brahman yang mendasari semua keberadaan
dan keberadaan zat yang satu itu dalam diri manusia sebagai Atman, dan bahwa
adanya penyatuan zat manusia Atman dengan Brahman sebagai zat yang satu itu.

2. PERNYATAAN YANG SUCI


Ungkapan dari yang suci atau hierophany dinyatakan dalam keberadaan orang-orang
suci, tempat-tempat suci, dan kitab-kitab suci.
A. Orang-orang Suci
Sekalipun semula tidak mempunyai agama terstruktur dengan para imamnya
kemudian timbullahlah golongan Rishi (orang-orang suci) dan Sadhu (orang suci
pengelana/asketik) yang dianggap menjadi perantara antara dewa-dewi dengan
manusia. Mereka memberitakan jalan hidup kekekalan yang disebut sanata dharma.
Kemudian timbullah para Imam yang memimpin upacara suci di kuil-kuil dan
memuncak pada abad ke-VIII-BC. Pada abd ke-VI-V-BC timbullah pemberontakan
akan agama imam dengan berkembangnya agama Upanishad (mistik) seperti
Buddhisme dan J ainisme. Hinduisme mengalami kebangkitan kembali sekitar abad
ke-III-BC sampai AD-III.
B. Tempat-tempat Suci
Tempat-tempat yang dianggap suci yang terutama adalah sungai Gangga yang airnya
dianggap sebagai lambang kehidupan dimana setiap hari orang melakukan mandi
suci, demikian juga kota suci Varanashi di tepi sungai Gangga yang dianggap akhir
kehidupan dimana yang mati dibakar dan abunya ditaburkan di sungai Gangga dan
Alahabad ditepi pertemuan sungai ini dengan sungai Yamuna dimana dalam 12
tahun sekali diadakan festival mandi suci.
C. Kitab-kitab Suci
Agama Hindu kuno tidak memiliki kitab suci tetapi kemudian bangsa Aria yang
datang membawa Agama Aria menghasilkan kitab Veda (Vid = pengetahuan) yang
kemudian ada yang dinyanyikan (Rig Veda). Veda kemudian diakhiri dengan
Vedanta (akhir Veda) dalam bentuk kitab Upanishad dimana berkembang konsep
pantheisme/mistisime mengenai hakekat monisme Brahman - Atman. Pada kurun
antara abad ke-III-BC sampai AD-III kebangkitan Hinduisme menghasilkan kitabkitab Sutra yang merupakan perumusan pokok-pokok penting dari Veda dan
Upanishad.
Dalam sejarah kekekalan Hindu dalam empat zaman, pada zaman I dunia berada
dalam keadaan teratur, pada zaman II keadaan mulai terganggu, pada zaman ini
dikenal cerita suci agama yang disebut Ramayana (tentang rama dan Shinta) dan
memuncak pada akhir zaman III dimana terjadi perang habis-habisan yang
dikisahkan dalam Mahabharata (perang semesta antara kebaikan [pandhawa] dan
kejahatan [asthina]). Dialog Arjuna dan Krishna sebelum perang Kurusetra
kemudian dinyanyikan dalam bentuk Bhagawat Gita. Zaman IV menggambarkan
keadaan kacau yang disebabkan perang Kurusetra yang akhirnya dunia diperbaharui.
3. KONSEP MENGENAI MANUSIA & DUNIA
Manusia dianggap sebagai mahluk bagian alam yang menjadi permainan para dewadewi dan kemudian dalam perkembangan agama Hindu menjadi
Pantheisme/Mistisime berkembang menjadi konsep Atman (pusat manusia) yang
sehakekat dengan Brahman (pusat alam semesta). baik upacara agama atau jalan

kebatinan ditujukan untuk menyatukan Atman dengan Brahman.


4. UNGKAPAN BERAGAMA MANUSIA
Dalam mengungkapkan rasa keagamaan mereka, agama Hindu (Hinduisme)
mengenal juga cara-cara melalui jalan keselamatan, komunitas umat, dan upacara &
etik moral beragama yang sangat melekat dalam kehidupan sosial budaya
masyarakat.
A. Jalan Keselamatan
Hinduisme mempercayai bahwa kehidupan di dunia merupakan perjalan ziarah yang
panjang melalui jalan samsara yang miliaran tahun lamanya melalui siklus roda
kehidupan (mandala) dan kelahiran kembali yang disebut sebagai reinkarnasi atau
transmigrasi jiwa. Melalui jalan bhakti (devosi), jnana (pengetahuan), dan karma
(perbuatan) manusia berusaha melepaskan diri dari siklus karmanya menuju
kelepasan yang disebut moksa. Jalan ini juga biasa diisi dengan pertarakan
(asketisme) dan penggunaan mantra, dan kemudian setelah adanya Upanishad
berkembanglah jalan Yoga (meditasi).
Jalan keselamatan secara umum digambarkan sebagai melalui empat zaman yang
pada akhir zaman ke-III disi dengan cerita Mahabharata dan memasuki perang
semesta Kuruserta pada zaman ke-empat menuju kehancuran dan kemudian dunia
diperbaharui.
B. Komunitas Umat
Umat Hindu identik dengan penduduk India, karena itu kehidupan berkomunitas
penduduk juga merupakan kehidupan komunitas umat Hindu. Dalam Veda manusia
dibagi empat golongan yaitu Brahmana (imam), Ksatrya (penguasa), Waisha
(pengusaha) dan Sudra (rakyat pekerja). Ada juga yang menambahkan dengan
kelompok terhina dan tersingkirkan yang disebut Pariah.
C. Upacara a Etika Agama
Tiap hari mandi suci di sungai Gangga dan setiap 12 tahun diadakan festival Kumb
Melam di Alahabad yang terletak dipertemuan sungai Gangga dan Jamuna. Mereka
yang kaya memilih mati dibakar di Varunasi kota suci ditepi sungai Gangga dan
abunya dilarutkan di air sungai Gangga untuk menjalani kehidupannya yang terus
menerus sebelum ber-reinkarnasi. kepercayaan akan reinkarnasi menyebabkan
orang-orang Hindu umumnya menjadi vegetarian. Etik moral yang dilakukan oleh
orang Hindu sangat ketat, khususnya kehidupan pertarakan, tabu-tabu, dan
kepercayaan mengenai reinkarnasi yang menyebabkan orang-orang sangat
menghormati binatang yang dianggap titisan nenek moyang yang telah meninggal.
Sapi adalah binatang suci.

5. MISTIK DI DALAM HINDU: UPANISHAD


Berbeda dengan agama Hindu yang menekankan jalan keselamatan melalui upacara
agama ritual dibimbing para Imam, dari Hinduisme yang bersumber tradisi Arya
berkembang dua aliran yang menekankan jalan keselamatan melalui usaha pribadi,

yaitu J ainisme dan Buddhisme, keduanya bersifat mistik sekalipun tidak identik
sama. Keduanya menekankan cara pelepasan diri dari siklus samsara dengan usaha
penyadaran diri agar jiwa terlepas dari jasad materinya.
Sekalipun Jainisme dan Buddhisme cukup berpengaruh dalam perkembangan
Hinduisme, guruguru Hindu yang terkemudian menganggap keduanya sebagai
tidak ortodoks. Sebaliknya, ada bentuk lain pengajaran rahasia yang berkembang
dikalangan guru-guru tradisi Veda dan ikut memberi bentuk baru pada Hinduisme.
Ini kemudian dikenal sebagai Upanishads (upa = dekat, ni = bawah, shad = duduk),
karena mereka yang mempelajarinya duduk dibawah dekat guru mereka. Ditemukan
sekitar 200 tulisan upanishads.
Guru-guru itu tidak berurusan dengan para dewa atau korban ritual, mereka lebih
tertarik untuk menemukan dasar alam semesta (ground of the universe), yaitu
Realitas (Brahman) yang ada sebelum semuanya ada. Pada saat yang sama mereka
tertarik menggali hakekat kesadaran manusia. Mereka sampai kepada kesimpulan
bahwa apa yang azasi dari 'aku perorangan' (atman) tidak lain adalah realitas yang
mendasari kosmos. Beberapa kutipan yang menggambarkan konsep mistik
Upanishad itu secara jelas adalah:
"At the heart ofthis phenomenal world, within all its changing forms, dwells
the unchanging Lord. So, go beyond the changing, and, enjoying the inner."
(Ayat pertama Isha Upanishad)
"The Self is all knowing, it is all-understanding, and to it belongs all glory. It
is pure conciousness, dwelling in the heart of all, in the citadel of Brahma.
There is no space it does not fill." (Dari Mindaha Upanishad).
"Thou art the Eternal among etemals, the conciousness within all minds, the
Unity in diversity, the end of all desiring. Understanding and experience of
Thee dissolve all limitations." (Dari Shivatashvatara Upanishad). [1]

Sama halnya dengan Jainisme dan Buddhisme, Upanishad berkepentingan untuk


mengatasi perasaan yang asali keberadaan manusia akan kekuatiran dan frustrasi.
Mereka juga menyadari gejolak dan hidup yang bersifat sementara, tetapi mereka
mencari esensi yang kekal bukan saja dari luar tetapi dari dalam diri mereka. Jalan
keselamatan mereka adalah pengetahuan dan penglihatan rohani.
Seperti halnya buku panduan para imam, setiap Upanishad terlampir pada satu dari
keempat koleksi nyanyian Veda. Mereka adalah rekaan spekulatif yang digambarkan
sebagai perumpamaan untuk mengkomunikasikan pandangan mereka tentang
realitas. Setiap buku tentang Hindu mengutip cerita Svetaketu dalam Chandoya
Upanishad.
"Svetaketu diminta untuk membelah buah pohon banyan dan disuruh terus
membelah sampai tidak terlihat apa-apa. Ayahnya mengingatkannya bahwa yang
tiada berasal dari yang tiada bahkan dari yang sangat kecil masih hadir kekuatan
yang meresapi seluruh alam semesta dan menjadi dasar semua keberadaan.
Percayalah! Ia diingatkan. 'Itu adalah nafas-jiwa (Brahman) yang berada dalam akar
semua keberadaan, dan itulah juga apa adarnu, Svetaketu!' 'Itu adalah apa adaMu'

mengungkapkan kesatuan aku (jiwa) manusia dengan realitas mutlak. Ia diberitahu


pula tentang tidak mungkinnya memisahkan garam dari air asin karena rasa asin itu
meresapi keseluruhannya. Dengan cara yang sama, ia dijamin bahwa realitas dalam
didalam aku (jiwa) manusia adalah Realitas itu sendiri (Brahman).
Radhakrisnan menekankan sisi subyektip dan obyektip dari Upanishads.
Svetasvatara (salah satu dari pembicara), mengatakan, 'gergajilah kebenaran dalam
kuasa kontemplasi dan anugerah Allah.' Karena itu, lanjutnya, kebenaran-kebenaran
itu harus diperiksa bukan saja dengan pemikiran logis tetapi juga dengan
pengalaman pribadi.'
Sekalipun Upanishads berbicara mengenai yang tidak terbatas, ada banyak ungkapan
personal yang kemudian dibawa kepada ibadah (bhakti). Diberitahukan bahwa
'Brahman diam didalam dan diluar segala sesuatu yang tidak dilahirkan, murni, lebih
besar dari yang terbesar, tanpa nafas, tanpa pikiran' dan namun Brahman 'selalu
hadir dihati semuanya sebagai penyelamat semuanya dan tujuan yang mutlak.
'Dalam Brahman berada semua yang bergerak dan bernafas.' Brahman dilihat
sebagai 'yang satu yang dipuja.' Untuk 'mengetahui' Brahman adalah untuk
menemukan keberadaan seseorang dalam Brahman.
A. YOGA
Cara praktis penyatuan aku (jiwa) atman ke Realitas Brahman ini dilakukan melalui
Yoga. Pelaku Yoga biasa disebut yogi. Yoga merupakan salah satu jalan keselamatan
dalam Hinduisme, yaitu cara untuk mencapai Moksa atau Kelepasan. Yoga berarti
usaha mendisiplin diri untuk 'merealisasikan kehadiran Tuhan dalam diri,' tetapi
Yoga dapat juga berarti suatu 'usaha mengatur kekuatan alam dan roh,' dan juga
sebagai usaha 'penyatuan diri dengan zat ilahi.'
"Kata 'Yoga' berasal dari bahasa Sansekerta Yuj, yang berarti 'untuk
mengaitkan, menggabungkan, mempersatukan,' dan ghan, yang mengacu
kepada 'penggabungan atau penyatuan total'. Secara harfiah, definisi yoga
adalah untuk 'bergabung dan bersatu secara percuma.' Nah, apa saja yang
diusahakan yogi untuk digabungkan dan dipersatukan atau persatuan?
Jawabannya terletak pada konsep tiga unsur manusia yang diyakini dalam
agama India kuno. Bagi mereka, manusia terdiri atas tiga bagian, yaitu
pikiran, tubuh, dan jiwa. Tujuan akhir seorang siswa yang melakukan
praktek yoga adalah untuk mempersatukan ketiga unsur tersebut dan
mencapai persatuan dengan 'Sang Tuhan' atau 'Pikiran Alam Semesta'." [2]
Sekalipun membangun keluarga dan menikmati kesej ahteraan duniawi dibolehkan
dalam agama Hindu, dalam diri banyak orang India:
"Satu-satunya keinginan yang berapi-api adalah melepaskan diri dari dunia
dan hanya berfikir untuk menyatu dengan Brahman ... Para yogi
menyangkali selera mereka dan beberapa dikatakan dapat menghentikan
detak jantungnya selama satu menit dan menahan nafas sampai berjamjam ... Pada tingkat yang paling tinggi, bila seorang yogi telah melepaskan

diri dari semua indera rasanya, ia berada di atas keluarga, kasta, negara,
ibadat agama, baik dan jahat, waktu dan ruang, dan di atas diri sendiri karena
ia menjadi satu dengan Tuhan." [3]
AG. Honigjuga mengemukakan hal yang sama tentang seorang Yogi dimana
dikatakannya bahwa:
"Orang-orang yang menjalankan Yoga (yogi) mula-mula sekali harus belajar
mengendalikan diri dengan sempurna, juga di dalam hidupnya sehari-hari
yogi harus belajar menunaikan segala kebajikan, misalnya: memantang
kesenangan duniawi, berlaku jujur, tidak ceroboh, kemiskinan, kesucian,
belajar, dsb. Selanjutnya yogi harus menjauhkan diri dari manusia, banyak
berpuasa, dan membuat badannya menjadi baik untuk pemusatan pikiran.
Untuk itu ada diperintahkan bermacam-macam sikap duduk (asanas).
Sesudah itu ia harus berusaha menguasai dan mengatur jalannya napas.
Dalam hal itu ia harus meletakkan tangannya dalam sikap tertentu (mudra).
Setelah itu ia harus menunjukkan pikirannya kepada satu hal. Inilah yang
disebut meditasi atau perenungan (dhyana), di mana yogi masih selalu
berfikir juga. tetapi keadaan yang tertinggi ialah, di mana berfikirpun
berhenti dan jiwanya tenggelam di dalam obyek perenungan. Inilah yang
disebut samadhi. Karena akhimya yogi itu berhasil melepaskan rohnya dari
materi (zat), maka ia tidak lagi terikat kepada hukum-hukum materi,
sehingga ia dapat menjalankan usaha-usaha yang luar biasa. Bagi beberapa
orang memiliki kekuatan-kekuatan luar biasa itu menjadi pokok tujuan
mereka, tetapi sebenarnya di dalam Yoga itu yang menjadi tujuan ialah
kelepasan: moksa." [4]
Ada berbagai jalan yang ditempuh dalam Yoga, yaitu (i) Bhakti Yoga dilakukan
melalui cinta dan pengabdian; (ii) Karma Yoga dilakukan dengan pengorbanan diri
dan perbuatan baik; (iii) J nana Yoga melalui ilmu pengetahuan untuk mengerti
kebenaran hidup; (iv) Raja Yoga melalui meditasi mistik (kebatinan) untuk
menemukan diri (self) manusia terdalam; dan (v) Hatha Yoga melalui gerak dan
hidup (pernafasan). Posisi dan gerak tubuh tertentu dianggap sebagai jalan menuju
kesempurnaan pula.
Semua jalan itu ditujukan untuk menuju keadaan bersatunya roh diri manusia
(Atman) dengan roh ilahi/roh semesta (Brahman) itu, atau persatuan mikro kosmos
dengan sumbernya makro kosmos, yaitu persatuan jiwa manusia dengan jiwa alam
sebagai kelepasan. Beberapa cara yang dilakukan dalam Yoga adalah sebagai
berikut: (i) Yama, yaitu penyangkalan diri; (ii) Niyama, yaitu tingkah laku moral;
(iii) Asanas, yaitu sikap atau postur tubuh; (iv) Pranayama, yaitu pengaturan
pernafasan; (v) Pratyahara, yaitu penguasaan indera; (vi) Dharana, yaitu pengaturan
fikiran untuk dikonsentrasikan kepada obyek; (vii) Dhyana, yaitu meditasi dalam,
dan (viii) Samadhi, yaitu pencapaian kesadaran jati diri tertinggi.
Bila ke-delapan jalan itu telah berhasil dicapai, maka tercapailah pencerahan/
kelepasan/ keselamatan. Dalam praktek Yoga juga dilakukan pengucapan mantra
(kata-kata suci/berkhasiat) Om- Ram, dan sasaran dari latihan Yoga adalah untuk

membangkitkan Kundalini yaitu kekuatan ilahi yang sedang tidur dalam diri
manusia yang berbentuk seperti ular, karena itu disebut juga sebagai Kekuatan Ular.
Dalam Yoga dipercaya bahwa tubuh manusia dibungkus oleh sinar yang disebut
sebagai Aura,
dan tubuh manusia dianggap mempunyai 7 Chakra.
"tubuh manusia terdiri atas dua bagian yang terpisah: bagian fisik yang dapat
disentuh dan dilihat serta bagian spiritual atau bagian eterik yang tidak
tampak. Untuk menjaga kesehatan tubuh yang baik, para murid okultisme
bertujuan memapankan aliran energi yang baik antara kedua bagian tersebut.
Dalam usaha mencapai tujuan ini, orang diharuskan mengendalikan gerbanggerbang di antara kedua tubuh ini. Gerbang -gerbang ini disebut chakra.
Chakra atau 'roda' ini merupakan sisi -sisi energi yang berputar dan berlokasi
di tujuh tempat berbeda di seluruh tubuh manusia." [5]
Melalui latihan postur dan gerak, kekuatan Kundalini dapat dibangunkan dan naik
ke otak untuk mencapai Samadhi dan Kebebasan, dan kemudian Y ogi itu akan
mendapatkan kekuatan batin dan hidup langgeng selama disukainya.
"Kundalini adalah Kekuatan Ilahi yang sedang tidur, tergulung dalam suatu
makhluk, 2 jari di atas lubang pantat dan 2 jari di bawah kemaluan, itulah
tempat Muladhara Chakra. Di sini letaknya Devi Kundalini yang luhur. Ia
menggulung dirinya tiga setengah kali seperti seekor ular. Karena itu
dikatakan "Kekuatan Ular" (Serpent Power). Ia merupakan kekuatan dalam
mulut Sushumna Nadi dengan muka ke bawah. Ia merupakan kekuatan alam
yang mencipta dan senantiasa ada hubungannya dengan penciptaan ... Bila
Kundalini Shakti (kekuatan Kundalini) naik ke atas dan bersatu dengan Siva
di Sahasrara Chakra (letaknya di otak) mengakibatkan keadaan Samadhi dan
Kebebasan. Kemudian Yogi itu mendapatkan 8 macam Siddhis (kekuatan
batin) besar dan 32 macam Siddhis kecil. Ia boleh hidup selama ia suka." [6]
"Bila Sang Kobra mencapai chakra makota, ia akan berhenti dan melingkar
di sana. Pada titik ini Anda akan mengalami keadaan mental yang disebut
kesadaran kosmos, samadhi, satori atau banyak nama lain yang diberikan
orang untuk 'kebahagian sempurna". [7]
Dari kedua kutipan di atas kita dapat melihat bahwa usaha 'membangkitkan Kundali'
dalam Yoga bukan sekedar untuk mencari ketenangan dan kebahagiaan sempurna
tetapi juga untuk mencapai keilahian yang penuh dan dapat menentukan
kehidupannya sendiri. Yoga adalah jalan keselamatan bersatunya aku (jiwa) manusia
(Atman) kepada sumbernya Realistas Brahman.
Postur/sikap tubuh dalam meditasi Yoga yang terkenal berbentuk Lotus (seperti
piramid) dan Cobra dan ada gerakan Yoga yang merupakan penyembahan Matahari,
seperti yang dengan jelas terlihat dalam gerak Surya Namaskar.
Moderniasi ajaran Hindu, khususnya latihan Yoga juga terjadi pada abad ke-XX, dan
salah satunya yang terkenal menamakan dirinya sebagai Transcendental Meditation
(TM), yang merupakan moder-nisasi meditasi Hindu yang coba diilmiahkan agar

memenuhi gengsi rasionalisme dunia Barat. Maharishi Mahesh Yogi dari India
mem-perkenalkan latihan ini di Amerika Serikat pada tahun 1959, dan membentuk
organisasi bernama International Meditation Society, dan bahkan begitu meluas
sehingga sempat diresmikan prakteknya di sekolah-sekolah karena manfaatnya
dalam membantu membebaskan pecandu obat bius, tetapi karena kemudian dapat
dibuktikan bahwa TM berbau agama Hindu, maka kegiatannya di sekolah-sekolah
umum dibatasi. Maharishi mulai terkenal di tahun 1950-an ketika menjadi guru
kebatinan pemusik pop The Beatles.
Daya tarik TM adalah karena tidak menyebut dirinya sebagai aliran agama, dan
menawarkan relaksasi badan dan menenangkan pikiran, peningkatan kemampuan
mental, dan pengembangan kepribadian, tetapi dalam prakteknya terlihat bahwa TM
tidak lain adalah suatu bentuk latihan meditasi Hinduisme termasuk pembacaan
ayat-ayat dari Kitab Veda dan Bhagawad Gita, buku-buku suci Hindu, maupun
pengucapan mantra-mantra dalam latihan.

6. AGAMA HINDU DI INDONESIA


Hinduisme mulai diperkenalkan ke Indonesia sedini abad-4, dan beberapa dewadewi Hindu diadopsi ke dalam kepercayaan rakyat. Yang menarik untuk diamati
adalah bahwa beberapa dewa-dewi yang di India, pusat agama Hindu yang kurang
mendapat tempat terhormat, di Indonesia bisa menjadi penting setelah mengalami
sinkretisasi dengan dewa-dewi tradisi. Syiwa di Indonesia disembah dalam berbagai
bentuk, terutama bentuk Mahadewa dengan empat tangan. Di sini kita dapat melihat
adanya perubahan peran dan sifat-sifat dewa-dewi Hindu yang berbeda dengan
peran dan sifat-sifat mereka di tanah airnya sendiri India.
A. BRAHMANISME
Hindusime dikenal di Indonesia melalui kontak-kontak dagang dengan India dan
jejak-jejaknya dikenal di Kalimantan Timur (Kutai, abad - 4), Bali dan Jawa Barat
(Purnawarman, abad - 5). Para raja di daerah-daerah itu mulai memasukkan unsurunsur Hindu misalnya dalam istana, bahkan lingkunga istana mulai memasukkan
para brahman untuk memimpin upacara-upacara agama. Lama kelamaan, dengan
dukungan kerajaan, agama Hindu itu mulai mempengaruhi kerajaan-kerajaan
pedalaman di Jawa Tengah sekitar abad-abad - 8-9 (Candi Dieng [750] &
Prambanan [856]), dan di Jawa Timur pada abad - 10 dan memuncak pada kerajaan
Majapahit di abad - 14 yang kemudian memasukkan Hinduisme ke Bali. Para
Brahman dan rahib India berdatangan.
Pengaruh Buddhisme juga masuk ke Sumatera Selatan dimana pada abad -7
kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan Buddhis yang terkenal. Baik agama Hindu
maupun Buddhis sesuai semangat sinkretisme di Indonesia bercampur dan sejak itu
terjadi pergerakan para imam, rahib dan pengelana, dari Jawa dan Sumatera dan
pusat-pusat kerajaan Hindu dan Buddha lainnya.

Para Brahman berperan memimpin upacara kerajaan yang sudah terpengaruh agama
Hindu. Para Brahman itu juga rnendapat tugas untuk menjaga hubungan para raja
dengan nenek moyang mereka agar memperoleh kekuatan, dan mengkaitkan tahta
mereka dengan dewa-dewi Hindu dan Buddha. Beberapa imam Hindu dan Buddha
rnemiliki kedudukan tinggi di istana dan sering mewakili para raja dalarn
memutuskan kasus-kasus pengadilan. Mereka menggunakan kitab hukum India
tetapi menyesuaikan dengan adat-istiadat dan situasi lokal.
Penyesuaian model dan selera India ke dalam kebutuhan lokal menjadi tanda yang
jelas pada budaya klasik di kerajaan-kerajaan Jawa. Atribut dan nama-nama dewadewi Hindu diberikan kepada roh-roh setempat. Roh padi dicampurkan dengan isteri
Wisnu menjadi Dewi Sri, dewi kemakmuran. Roh-roh penunggu gunung yang
dipercayai penduduk Jawa bercampur dengan konsep Hindu mengenai pusat dunia
dan menjadikan Gunung Meru sebagai tempat kediaman para dewa-dewi.
Buku-buku undang-undang, filsafat, dan upacara India dipelajari dan diberikan
penafsiran dan diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Cerita-cerita kepahlawanan
(epik) India yang besar juga diberi jubah Jawa, seperti Mahabarata sudah
diterjemahkan dari bahasa Sansekerta pada abad - 10. Mitologi yang kaya itu
mempengaruhi lagu-lagu istana (kakawin) dan wayang jawa (wayang purwa).
Agama Rakyat
Di luar para Brahman di istana, tinggal para pertapa hutan dimana para asketik dan
mistik melakukan sihir, astrologi, pengusiran roh jahat, dan mencari kesaktian supranatural. Disamping itu, bagi rakyat jelata juga terbuka kesempatan melakukan
upacara kepada dewa-dewi, memberikan sesajen pada para brahman, terutama pada
bulan purnama, mengucapkan sumpah dan melakukan upacara -upacara tertentu
untuk mencapai keselamatan.
Upacara yang terkenal adalah upacara malam dewa Syiwa. Upacara ini mulai
dipopulerkan di India pada abad - 15, dan kemudian menyebar ke Jawa dan Bali.
Mereka yang bergadang semalam suntuk pada malam tanpa bulan dan mengurapi
lingga-Syiwa dengan air suci dan dedaunan, akan memperoleh kehidupan sesudah
mati yang cerah bersama dewa syiwa. Begitu kuatnya upacara itu sehingga
dipercayai dapat menghapuskan dosa yang paling besar pun. Dosa bukan saja karena
perbuatan jahat, tapi juga pekerjaan kotor, status sosial yang rendah, dan sifat
pribadi yang jelek ikut berperan. Pemburu yang miskin, karena perannya dalam
menghilangkan nyawa binatang akan mengalami nasib yang jelek. Sekali pun
pemburu itu melakukan perbuatan baik, namun statusnya sebagai pemburu
merugikan dia, tetapi bila ia melakukan upacara yang paling suci, itu dapat
menyucikan dia dari dosa.
Masyarakat dianggap terdiri dari kelas-kelas, Brahman, Ksatria, Waisya, dan Sudra,
dan ditambah kelas chandalas yaitu mereka yang memiliki pekerjaan kotor. Di Jawa
dan Bali upacara sosial ini diikuti tetapi perbedaan atas kasta tidak. Waktu dianggap
sebagai kekal dan bergerak dalam siklu-siklus yang tidak berkesudahan melalui
empat zaman dan sekarang memasuki zaman ke-4 yaitu zaman Kali. Kebenaran
harus dilakukan untuk mencapai zaman keemasan.

B. HINDU TENGGER
Menurut legenda Jawa, ketika kerajaan Hindu-Buddha Majapahit ditaklukan
kerajaan Islam (1520), keluarga kerajaan Majapahit dan para imam melarikan diri ke
Bali dan mewariskan agama Hindu di sana. Rakyat jelata kebanyakan lari ke
pegunungan Tengger di Jawa Timur dan bercampur baur dengan penduduk asli
Tengger yang menganut agama Jawa, di sini mereka tetap mewarisi tradisi
keimaman agama Syiwa zaman Majapahit. Kawah gunung Bromo adalah tempat
untuk melakukan upacara kurban bagi agama Tengger.
Berbeda dengan perkembangan di Bali, di Tengger agama rakyat sangat ketat
dipengaruhi perkembangan agama Jawa dan Islam di sekelilingnya. Reformasi
Hindu pada tahun 1970-an menghidupkan kembali agama Tengger yang
mengandung pertentangan agama imam Syiwa dan agama rakyat Jawa. Festival
terbesar adalah Karo (keduanya) yang lebih menggambarkan upacara dualisme
semesta antara bumi dan langit, tanah dan air, laki dan perempuan, dan Muhammad
dan Asyika. Asyika dianggap pendiri agama Tengger dan festival ini dibawah
pengaruh Islam menjadi upacara karo, yaitu koeksistensi damai, yang melihatkan
agama Islam dan agama Hindu Tengger.
Sejalan dengan kebangunan gerakan Islam pada tahun 1950-an dan 1960-an, di
tengger juga dialami kebangunan pembaharuan agama Hindu. Ini terjadi karena
pengaruh gerakan kaum muda Hindu Bali (parisadha Bali), kemudian banyak imam
agama Tengger belajar ke Bali. Ini menyebabkan terjadi pembaruan agama Hindu
Tengger bekerjasama dengan agama Hindu Bali pada tahun 1960-an dan 1970-an.
C. HINDU BALI
Bila Agama Hindu Tengger lebih bercirikan agama rakyat yang menyatu dengan
agama Jawa, agama Hindu Bali dibawa oleh para Brahman dan keluarga Raja
sehingga lebih kaya dalam upacara-upacara istananya. Namun, agama Hindu Bali
juga memiliki banyak variasi di Bali sejalan dengan sinkretisasi dengan kepercayaan
tradisi lokal yang berbeda-beda. Agama di sini semula disebut sebagai agama Hindu
Bali, namun berbeda dengan agama Hindu yang berasal dari tradisi Veda India, sekte
utama di sini menyembah Syiwa dan juga Buddha. Agama ini juga disebut agama
Tirta (air) karena umumnya ada upacara-upacara menggunakan air suci. Sekarang
nama resmi agama ini adalah agama Hindu Dharma.
Agama Hindu Dharma adalah agama upacara, umat pada umumnya tidak berbicara
mengenai teologi namun setia menjalankan upacara agama sesuai petunjuk para
imam. Kepercayaan akan kehidupan reinkarnasi itu disertai upacara nga ben
(pembakaran mayat keluarga kaya). Mereka yang terpelajar mencari pengertian
mengenai dewa-dewi lokal dan ikatannya dengan sesama dewa. Sebagai contoh
dewa Batara di danau batur adalah saudara dewa Batara di gunung Agung, padahal
keduanya berasal dari dewa-dewi Jawa kuno. Untuk menjaga Bali, Dewa Jawa
(Sang Hyang Pasupati) mengirimkan 7 anak-anaknya ke Bali yang kemudian
menjadi dewa-dewi lokal.

Agama Upacara
Penyebaran agama disamping melalui para imam (ajaran Veda) juga dengan kuat
ditanamkan melalui upacara dan tari-tarian, khususnya yang bertemakan Mahabarata
dan Ramayana, juga babad (sejarah tradisi) dan tutu/satua (sejarah yang diucapkan
turun-temurun). Dewa utama di Bali adalah Trimurti Veda, yaitu Brahma (pencipta),
Wisnu (pemelihara) dan Syiwa (perusak). Tiap keluarga Bali memiliki kuil (sangga)
beruang tiga untuk menyembah Trimurti dan roh-roh nenek-moyang. Di tingkat
desa, desa adat memiliki tiga kuil (pura - tiga kayangan), yaitu pura Desa, Puseh,
dan Dalem yang dipersembahkan kepada Brahma, Wisnu dan Syiwa bersama-sama.
Disamping itu ada pura yang bersifat regional yang disebut 'tempat suci dunia'
(kahyangan jagad), seperti pura Besakih, Batur, Lempuyang Luhur, Gua Lawah,
Uluwatu, Batukara, Pusering Jagad, Pulaki, Tanah Lot, dan Sakenan. Dari seluruh
pura ini, pura Besakih di lereng gunung Agung adalah yang terbesar.
Kuil-kuil diisi Meru (pagoda) yang biasanya beratap ganjil jumlahnya dan
maksimum sebanyak 11 buah dan biasanya digunakan untuk menghormati dewadewi atau nenek-moyang tertentu.
Agama Hindu Bali adalah agama upacara dimana agama dituturkan dari generasike-generasi yang diperkuat dengan persembahan kepada dewa-dewi setiap hari, dan
khususnya pada hari-hari tertentu ada persembahan untuk mengingat hari raya
tertentu, dan juga untuk pergi ke kuil secara berkala. Setiap perayaan penting selalu
didahului upacara agama untuk mengusir roh-roh jahat. Demikian juga, bencana
alam (termasuk pengeboman di legian-Kuta) harus disucikan dengan upacara doa.
Hindu Bali menyembah dewa tertinggi yang disebut Sang Hyang Widi sebagai
manifestasi dewa matahari Syiwa Raditya.

Catatan :
[1] Eerdsmans' Hanbook to The World's Religions, hlm. 179.
[2] Leo F. L:udzia, Tenaga Hidup, hlm.36.
[3] Henry R. Luce, The World's Great Religions, hlm.26.
[4] A. G. Honig Jr., Ilmu Agama I, hlm.102.
[5] Ludzia, Op.Cit., Hlm 48.
[6] Swami Sivananda, Yoga Asanas, h.142-143.
[7] Ludzia, Op. Cit., h.50-51.

Top

BP

Post subject: Re: PERBANDINGAN AGAMA


Posted: Mon Nov 17, 2008 1:39 pm

III. MEMPELAJARI SEJARAH AGAMA BUDDHA &


MISTIKNYA DAN PERKEMBANGANNYA

Joined:
Fri Jun ASPEK

09,
DI INDONESIA
2006
5:20
pm
Agama Buddha dapat dikatakan sebagai pembaruan agama Hindu dan Buddha
Posts:
artinya 'mereka yang telah bangun.' Buddhisme dirintis Siddharta Gautama, (lahir
8936
563SM) anak raja Kapilavastu dekat perbatasan Nepal. Peristiwa sekitar
kelahirannya banyak diisi dengan dongeng. Setelah mendirikan agama ia disebut
sebagai Buddha yaitu 'seseorang yang telah mengalami pencerahan' atau 'telah
bangun.' Ia mempunyai isteri bernama Gopa dan anak bernama Rahula. Karena
kehidupan mewah yang dialaminya tidak mendatangkan kepuasan, dan melihat
penderitaan disekitarnya, ia kemudian meninggalkan istana rumahnya, dan
keluarganya (isteri dan seorang anak) dan menjadi pengelana. Selama enam tahun ia
berkelana mencari arti hidup dan berguru kepada pada orang-orang suci.
Sebelumnya dalam tiga perjalanannya ia menjumpai penderitaan dunia dalam tiga
bentuk, yaitu (1) orang tua yang menderita; (2) orang cacat yang kesakitan; dan (3)
pengantar jenazah menangis. Dalam perjalanan ke-empat ia bertemu dengan rahib
Hindu yang bergembira sekalipun mengemis mencari makan, ini menyebabkan ia
berpendapat bahwa kehidupan itu sia-sia. Dibawah dua guru Brahmana ia kemudian
mencari melalui jalan Yoga untuk menyatukan Atman dengan Brahman tetapi
dianggap tidak membawa kepada pengetahuan.
Sebagai orang yang dilahirkan dalam lingkungan agama Hindu, sekalipun ia
berontak terhadap praktek Hinduisme orthodox, ajarannya menerima beberapa
pengajaran Hindu seperti soal setiap mahluk hidup mengalami siklus kelahiran dan
kematian yang tidak terhingga (reinkarnasi), ajaran tentang Karma (hukum
pembalasan), hukum alam sebab dan akibat dimana yang baik hidupnya akan
mendapat pahala dan yang tidak baik akan terhukum, bahwa dunia adalah tempat
hidup yang penuh dengan penderitaan dan kepedihan dimana orang bijak harus
melepaskan diri, dan jalan hikmat terletak pada penguasaan keinginan dan nafsu.
Sekalipun menerima pengajaran Hindu pada umumnya, ia menolak cara-cara yang
digunakan dalam agama Hindu untuk mencapai tujuan itu yang penuh dengan usaha
menyakiti diri (asketik / bertarak) yang dianggapnya sebagai tidak berguna dan siasia. Ia mempelopori 'Jalan Tengah' (middle way) yaitu diantara usaha menjalani
kehidupan dengan cara 'menyakiti diri' dan 'pemuasan nafsu diri', suatu usaha
menghindari sikap ekstrim dengan cara yang tenang. Buddha juga menolak
pembagian kasta India dan memandang semua manusia setara dalam memiliki
potensi spiritual.
Ia kemudian pergi ke utara India dan dengan lima pengikut melakukan pertarakan
(ascese).
Karena jalan ini juga tidak mendatangkan solusi ia melakukan meditasi dibawah
pohon Boddhi dan mencapai pencerahan dan Empat Kebenaran Mulia, dan sejak itu
ia dinamakan 'Buddha' atau 'yang telah dibangunkan dan mengalami pencerahan'
(the enlightened one). Kemudian bersama ke lima pengikutnya ia berkotbah pertama
kali di Benares (Vanarasi). Ia kemudian berkelana ke India bagian Utara sebagai
rahib pengemis sambil mengajarkan ajarannya selama sekitar 45 tahun.Di masa tua,
ia mengalami sakit keras dan mengajarkan kepada para pengikutnya mengenai

'ketidak tetapan' atau 'perubahan' yang selalu dialami di dunia ini, dan meninggal di
Kushinagara pada umur 80 tahun yang dipercayai sebagai telah kembali ke Nirvana
yang dipercayai sebagai puncak dari segala sesuatu.
1. KONSEP MENGENAI YANG SUCI
Dalam agama Buddha, konsep tentang yang suci atau ketuhanan tidak ada, yang ada
adalah kondisi Nirwana yaitu perhentian terakhir menuju ketiadaan. Agama Buddha
memang dipersoalkan hakekatnya sebagai agama, sebab Buddhisme ini praktis
didasarkan atas hal-hal yang rasional dan sekalipun juga bersifat transendental,
sangat sedikit sekali berurusan dengan yang supranatural, dan konsep ketuhanan
juga kabur sehingga dapatlah disebut bahwa Buddhisme adalah agama yang
sebenarnya A- Theist (Tidak ber Tuhan dalam pengertian Tuhan Atheisme), namun
untuk menghindari kerancuan dan pengidentikkan dengan A-Theisme Komunisme
yang berkonotasi negatip 'anti-Tuhan' maka agama Buddha sering disebut sebagai
berkeyakinan 'Non-Theist.' Di Indonesia, agama Buddha secara resmi juga
menerima konsep kepercayaan akan 'Tuhan Yang Mahaesa' namun pengertiannya
adalah 'Tuhan yang SATU itu' (Tuhan mistik tidak berpribadi), dan dalam kasus
agama Buddha, Tuhan yang SATU ini dimengerti sebagai situasi ketiadaan.
2. PERNYATAAN YANG SUCI
Ungkapan dari yang suci atau hierophany biasanya dinyatakan dalam keberadaan
orang-orang suci, tempat-tempat suci, dan kitab-kitab suci. Dalam Buddhisme kita
melihat beberapa hal sebagai berikut:
A Orang-orang Suci
Tidak ada orang suci dalam agama Buddha, ia bukan Tuhan dan juga bukan
perantara Tuhan, ia tidak dapat menjadi penebus. Yang lebih dipentingkan bukan
orang suci tetapi jalan suci atau Dharma yaitu ide pengajaran yang sifatnya kekal
dan tidak pernah berhenti. Semua orang harus menjadi Buddha dan dalam
Theravada dianggap ada beberapa Buddha (mula-mula 6 dan kemudian 28) dimana
Sidharta Gautama adalah yang utama dan sedang dinantikan Buddha yang akan
datang dalam diri Maitreya. Bagi aliran Mahasanghikas diakui bahwa ada banyak
sekali Buddha seperti banyaknya pasir di pantai.
B Tempat-tempat Suci
Tidak ada tempat suci khusus bagi agama Buddha kecuali pohon Boddhi yang
dianggap keramat, lainnya adalah kuil-kuil dan candi-candi. Di Indonesia kita
jumpai banyak candi yang dianggap tempat suci untuk tempat bermeditasi seperti
yang terkenal yaitu candi Borobudur.
C. Kitab-kitab Suci

Ajaran Buddha diajarkan dari mulut ke mulut dan di hafalkan, baru dikemudian hari
ucapan-ucapan Buddha ditulis oleh para pengikutnya.
Buddha kemudian mengajarkan 4 Kebenaran Mulia, yaitu (1) Penderitaan adalah
umum; (2) Penderitaan disebabkan keinginan cinta diri; (3) cara mengatasi
penderitaan adalah mengurangi keinginan; (4) Cara untuk mencapai pengurangan
keinginan adalah dengan mengikuti jalan tengah, tehnik mana diuraikan dalam 8
Jalan Mulia, yaitu (1) Pengetahuan yang benar; (2) Keputusan yang benar; (3)
Perkataan yang benar; (4) Perbuatan yang benar; (5) Kehidupan yang benar; (6)
Usaha yang benar; (7) Kesadaran yang benar; dan (8) Pengheningan cipta yang
benar. [1]
3. KONSEP MENGENAI MANUSIA
Manusia dalam konsep Buddha adalah Micro Cosmos tetapi berbeda dengan Atman
Hindu yang menyatu dalam Brahman semesta, manusia dalam Buddha adalah
Atman yang berusaha melepaskan dirinya dari penjara tubuh menuju kepada AnAtman (ketiadaan Atman), dan ini dicapai melalui usaha meditasi menuju
pencerahan.
4. UNGKAPAN BERAGAMA MANUSIA
Dalam ungkapan beragama Buddha kita melihat hal-hal berikut:
A. Jalan Keselamatan
Tujuan hidup Buddha adalah usaha mendisiplinkan diri dengan cara melakukan
amal baik dan ketenangan batin. Jalan keselamatan dalam Buddha adalah pencarian
dalam mencapai pengetahuan menuju pencerahan itu. Dan tujuan pencerahan itu
bukan menuju tempat tertentu (semacam surga) tetapi suatu keadaan yang disebut
Nirwana, keadaan kelepasan menuju status 'tiada'. Kondisi inilah yang disebut
menjadi Buddha, dan tugas seorang Buddhis adalah mengajak orang lain untuk
menjadi Buddha pula. Dharma sebagai hukum kehidupan lahir dan mati
mempercayai bahwa manusia mengalami karma yang baik bila hidup baik dan
karma yang jelek bila hidup tidak baik melalui siklus hidup kembali yang disebut
reinkarnasi.
Berbeda dengan konsep Atman Hinduisme yang bersiklus hidup secara tetap dan
terus menerus tidak berkesudahan, dalam Buddhisme siklus itu menuju kondisi
perhentian akhir yang tiada yang disebut Nirwana (An-Atman) yang bisa dicapai
dalam hidup ini melalui pencerahan, suatu kondisi perhentian dimana tidak ada lagi
keinginan dan penderitaan. Dalam ajaran Theravada hanya yang menjadi Bhiksu
yang akan selamat sedangkan dalam aliran Mahayana mereka menunda menjadi
Buddha agar dapat menolong sesamanya. Jadi bagi aliran Mahayana seorang
Boddhisatwa (mereka yang siap menjadi Buddha) mengajar dan juga bekerja
menjadi penyelamat.
B. Komunitas Umat

Selain ke-lima pengikut pertama, ia mengumpulkan umat dalam Sangha dan berbeda
dengan agama Hindu, Buddha menolak pembagian kasta. Umat menggunakan
ruang-ruang pertemuan yang disebut Vihara. Setelah kematian Buddha timbul
pertentangan tentang interpretasi ajaran-ajarannya dan timbul dua aliran utama yaitu
aliran Theravada atau Hinayana (kendaraan kecil) yang bersifat konservatif yang
menyebar ke selatan seperti Thailand, Myanmar, Kamboja, Laos, dan Srilangka, dan
aliran Mahasanghikas atau Mahayana (kendaraan besar) yang bersifat liberal yang
menyebar ke utara seperti Tibet, Nepal, Sikkim, Buthan, Vietnam, China, Jepang,
Monggolia, Korea dan Manchuria. Aliran Theravada mengacu pada kitab-kitab
asli/kuno dan menekankan usaha pribadi dalam mencapai pencerahan, sedangkan
aliran Mahayana menganggap bahwa keselamatan bukan untuk diri pribadi tetapi
untuk semua orang.
C. Upacara Agama
Aliran Theravada tidak mempunyai upacara kecuali bahwa semua orang harus
menjadi bhiksu untuk memperoleh selamat sedangkan dalam aliran Mahayana
semua orang adalah Buddha. Theravada lebih memurnikan ajarannya sedangkan
Mahayana cenderung bersinkretisasi dengan agama local sehingga timbul banyak
aliran dan upacara (Lamaisme di Tibet, Sam Kauw di China, Zen Buddhisme di
Jepang dll.)
5. MISTIK BUDDHISME
Bagi seorang Buddhis yang baik yang memperoleh pencerahan, terbukalah Nirwana
yaitu tujuan spiritual tertinggi. Nirwana adalah keberadaan tetap dari semua keadaan
yang bersifat realitas puncak yang tidak berpribadi, atau bahwa seseorang telah
berhenti dari siklus reinkarnasinya. Untuk mengembangkan pengajaran di atas,
Buddha mengajarkan bentuk dasar kepercayaan mengenai 'Aku' (Self) yang
dikatakan sebagai:
"Aku bukanlah seperti yang dipercayai dalam agama Hindu yang
menganggapnya sebagai bagian dari zat mutlak yang disebut sebagai
Brahman. Aku adalah tidak tetap dan dibentuk oleh tahap-tahap pemikiran
dan materi yang terus menerus berubah. Bila seseorang melepaskan diri dari
semua keinginan duniawi, ia sampai pada realisasi yang benar dari' Aku 'nya
dan menuju Nirwana."[ 2]
Menurut Buddha, konsep Aku itu berlawanan dengan Atman Hindu yang merupakan
bagian dari Brahman, zat semesta itu, karena itu Buddha menyebutnya An-Atman
atau An-Atta yang artinya:
"ajaran tentang tidak ada nyawa, tidak ada aku ... Si Aku itu hanya suatu
susunan sementara daripada dharma-dharma, yang daripadanya segala yang
ada itu tersusun, dan bersifat sementara pula. Semua yang ada itu hanya
suatu arus (samtana). Sesuatu atman sesungguhnya tidak ada, dimanapun
orang mencarinya. Oleh karena itu sebenarnya orang tidak dapat
mengatakannya dengan tepat, bahwa Buddha itu mengajarkan perpindahan
jiwa. Aku ini tiada lain daripada suatu kompleks dharma-dharma yang selalu

berubah. Demikianlah aku hanyut di dalam arus ketidak-tetapan. Itulah


penderitaan manusia ... Makin jauh orang berjalan di jalan kelepasan, makin
menjadi teranglah kesadaran bahwa ia tidak mempunyai aku."[ 3]
Dengan konsep An-Attanya, Buddha disebut sebagai pemberita yang termashur
tentang ajaran 'tidak ada aku', karenanya ia kemudian dijuluki sebagai 'Anatta vadi'
yang berarti pemberita tentang ajaran ketidak-ber-pribadian. Disini juga jelas
tentang konsep 'Jalan Tengah' mengenai 'Aku' yaitu ia 'bukan Atman tetapi menuju
An-Atman/An-Atta.'
Sekalipun ada konsep meditasi dan semedi baik di agama Hindu maupun Buddha,
keduanya berbeda. Bila dalam Hindu kedua disiplin itu digunakan untuk
mengusahakan penyatuan Atman dengan Brahman, dalam Buddhisme, baik meditasi
maupun samadi digunakan untuk usaha 'meniadakan aku' menuju 'Nirwana' yaitu
pemadaman sempurna dari hawa nafsu menuju 'ketiadaan Aku.'
"nirwana adalah terpadamnya skanda-skanda dengan sempurna. Ini berarti
berhenti, proses keadaan badani dan rohani kita tidak lagi berjalan terus. Hal
ini mulai terjadi pada kematian orang yang suci (Arahat) ... inilah
perdamaian, inilah yang luhur, yakni berhentinya segala pembentukan
karma, terurainya dasar-dasar keadaan, menjadi keringnya nafsu,
penghapusan, pemadaman, nirwana." [ 4]

Jadi, dibandingkan dengan agama Hindu dimana agama Buddha berasal jelas ada
perbedaan konsep tentang 'aku' dan secara negatip orang dapat menentukan dua hal
tentang hakekat nirwana itu.
"Pertama, nirwana bukanlah, bahwa jiwa kita masuk ke dalam Mahajiwa ...
inti ajaran Buddha itu justru terbentuk oleh pandangannya tentang 'anatta.'
Kedua, nirwana itu tidak boleh pula disebut pembinasaan, anihilasi. Nirwana
adalah berhentinya suatu proses, bukan anihilasi suatu kehidupan." [ 4]
Jadi, dari terang kutipan-kutipan tersebut jelas bahwa yang disebut sebagai 'Aku'
atau 'An-Atta' bukanlah kekuatan Mikro-kosmos yang berpotensi kundalini atau
prana tetapi suatu 'ketidak-adaan' sesuatu yang 'nihil.' Dan penyangkalan diri dan
latihan meditasi maupun samadi disini ditujukan untuk menuju keketidak-adaan itu.
Sekalipun demikian, para pengikut Buddha kemudian dari pengalaman mereka
menghadapi serangan fisik selama menjalankan misinya, kemudian juga
mengajarkan pelatihan kekuatan energi dalam tubuh manusia dan menjadikannya
dasar ilmu bela-diri:
"Sang Buddha juga telah mengajarkan latihan pernafasan dan meditasi untuk
mengontrol energi yang tersimpan di dalam tubuh." [ 6]
Dapatlah dimaklumi sekarang mengapa Bodidharma (Tat Mo Chowsu) dalam

perjalanan ke China membawa silat berlandasakan Buddhisme.


Buddha adalah agama sinkretis yang mempopulerkan ajaran Un 'jalan tengah' yang
menuju 'yang SATU' dan menghindarkan ekstrim, itulah sebabnya, khususnya aliran
Mahayana dengan mudah berbaur dengan agama-agama lain seperti 'Sam
Kauw/Tridharma' dengan Taoisme dan Konhucuisme, dan 'Ch'an atau Zen' dengan
Taoisme. Agama Buddha-lah yang kemudian menjadi dasar 'Universalisme' tentang
Yang SATU itu.
Catatan :
[1] Lihat Henry L. Luce (ed), The World's Great Religions, h. 44, dibawah The Path of Buddhism.
[2] Ibid.
[3] A.G.Honig, Ilmu Agama-I, h.156-157.
[ 4] Ibid, h.159.
[ 5] Ibid, h.160.
[ 6] Thubten Chodron, Tradisi dan Harmoni, Menelusuri Jejak-Jejak Agama Buddha, h.10.

6. ZEN BUDDHISME
Agama Buddha masuk melalui daratan China yang dibawa oleh Bodidharma (Tat
Mo Chowsu) dari India pada tahun 552 yang kemudian menyebrang ke kepulauan
Jepang. Pada tahun 645, kaisar Jepang Kotoku tertarik akan agama Buddha dan
menjadikan Buddhisme sebagai agama negara dan menolak agama Shinto yang
semula menjadi agama negara.
Mulai sekitar abad ke-VIII, masuknya pengaruh Buddhisme dari India yang masuk
lewat daratan China itu kemudian menyebabkan terjadinya sinkretisme antara agama
Buddha dan Shinto, agama asli Jepang yang menyembah Dewa Kami, hal ini
disebabkan karena Buddhisme yang juga mempunyai latar belakang kebatinan India,
kemudian menganggap dewa Kami Shinto itu sebagai pernyataan Buddha juga.
Koeksistensi damai kedua agama ini berlangsung terus sampai zaman Tokugawa
hingga kejatuhannya pada tahun 1867 ketika kaisar Meiji kembali menjadikan
Shinto sebagai agama negara di atas agama-agama lain.
Shintoisme mengalami kebangunan dengan kembali dijadikannya sebagai agama
negara oleh kaisar Meiji, tetapi sekalipun demikian pengaruh Buddhisme sudah
sedemikian kuat di Jepang sehingga pada tahun 1877 sekalipun Shinto dianggap
sebagai agama negara, Buddhisme tidak lagi dilarang untuk dipercaya oleh orang
Jepang.
Untuk bisa mengerti hakekat Zen Buddhisme, kita perlu mengetahui terpecahnya
Buddhisme menjadi dua yaitu Hinayana yang menyebar di daerah Selatan (Sri
Lanka, Laos, Muanmar, Thailand, Kamboja & Indonesia (borobudur)) dan
Mahayana yang menyebar ke Utara dan Timur (China, Jepang dan Korea).
Aliran Hinayana (artinya jalan kecil) yang juga disebut sebagai Theravada, lebih
memusatkan ajarannya ke arah keselamatan pribadi (individual), di mana setiap
orang perlu mencari jalannya sendiri dalam mencapai pencerahan, tiap individu
adalah atman yang mencari jalannya sendiri-sendiri. Sebaliknya, aliran Mahayana

(artinya jalan besar) lebih mengarah kepada keselamatan bersama yang bersifat
sosial. Setiap orang adalah bagian dari semuanya, karena itu ia sendiri tidak
mempunyai pribadi atau juga disebut sebagai anatta (atau an-atman).
Sebagai konsekwensi dari ajaran itu, maka bagi pengikut Hinayana kehidupan biara
sebagai biarawan merupakan pusat kegiatan beragama, sedang bagi pengikut
Mahayana, kehidupan aktif sebagai awam adalah kegiatan beragama, karena itu
aliran Mahayana lebih bersifat misioner, dan aliran inilah yang menjadikan agama
Buddha sebagai agama dunia dan menyebar kemana-mana.
Kehidupan aliran mahayana lebih bersifat liberal dan terbuka, dan lebih mudah
untuk berpecah-pecah dan melakukan sinkretisasi dengan agama-agama setempat,
itulah sebabnya dari aliran Mahayana ini kita melihat bentuk-bentuk yang berbeda
baik yang di Tibet, Monggolia, China, Korea, atau Jepang. Hal ini berbeda dengan
perkembangan Hinayana yang lebih merupakan agama kesatuan dengan tradisi
bersama.
Buddhisme Mahayana sedikitnya terpecah ke dalam lima (5) ajaran utama, yaitu
yang menekankan iman, pengajaran, mantra, politik, dan intuisi. Mahayana yang
menekankan intuisi inilah yang kita jumpai di Jepang dalam bentuk Zen Buddhisme.
Agama inilah yang merupakan sinkretisme agama Tao dan Buddha ketika
Bodidharma (Tat Mo Chowsu) pergi ke China (abad ke-VI) dan agama ini kemudian
oleh para pengikutnya dibawa menyeberang ke Jepang pada abad ke-XII.
Dalam ajaran Zen, kata-kata dan pikiran itu mempunyai keterbatasan-keterbatasan
dalam menyatakan sesuatu, karena itulah maka pengikut Zen menyatakan
kebenarannya tidak dengan ungkapan-ungkapan dan argumentasi teologis, tetapi
dengan suatu sikap yang transenden. Itulah sebabnya pengikut Zen tidak
mementingkan kitab suci, rumusan dogma atau pengakuan percaya. Zen (Ch'an
bahasa China atau Dhyana bahasa Sansekerta) sebenarnya berarti duduk, tetapi
kemudian diartikan dengan meditasi, yaitu perenungan untuk mencapai
pencerahan/penerangan/wahyu itu sendiri.
"Sebagai praktek agama yang pada dasarnya tidak condong kepada
kepustakaan, Zen mengajarkan manfaat hubungan langsung dengan batin
dan manfaat pencerahan roh-intelektual yang intuitif, yang diperoleh secara
perlahan-lahan maupun yang diperoleh seketika, tergantung pada
kemampuan tiap individu." [1]

Ada tiga (3) jalan yang biasa ditempuh dalam latihan Zen, yaitu 'Zazen' yang berarti
meditasi duduk, yaitu sikap merenung yang mendalam dengan cara diam berjamjam dan bahkan berhari-hari. Sikap mana dilanjutkan dengan 'Koan' yang berarti
konsentrasi akan suatu masalah tertentu, suatu masalah yang sulit yang sebenarnya
tidak bisa dijawab, tetapi bisa direnungkan. Sikap mana kemudian dilanjutkan
dengan 'Sanzen', yaitu bimbingan mengenai soal-soal meditasi. Bila ketiga jalan ini
dapat dijalankan dengan baik, seseorang akan memasuki keadaan pencerahan
'Satori', yaitu suatu situasi santai yang baru sekali ini dirasakan, satori adalah suatu
pengalaman intuisi, pengalaman mistik bahwa ia tidak lagi berpribadi (an-atta/an-

atman).
"Cara terbaik untuk merasakan Zen yang benar dan mencapai satori adalah
dengan meletakkan jasmani dalam keadaan keseimbangan sempurna,
sehingga keseimbangannya yang teratur menghilangkan keberadaannya dari
batin, seperti gigi tidak akan diperhatikan bila sehat dan seorang teman yang
benar-benar berkorban tidak pernah memperhatikan pengorbanannya. Untuk
mencapai keadaan yang seimbang ini, kita ikuti aturan hidup fisik tertentu:
pertama-tama buatlah postur yang benar, kemudian aturlah nafas dan
akhirnya tenangkan batin." [2]

Kekhasan dari Zen Buddhisme dibanding sekte-sekte Buddha lainnya adalah


penekanannya pada praktek meditasi sebagai jalan pencerahan, dan untuk
mencapai pencerahan itu, seseorang harus melakukan meditasi untuk mencapai jati
diri (self) yang terdalam, dan bila ia mencapai pengertian akan kesadaran dirinya itu,
berarti ia telah menyatukan diri dengan hakekat semesta atau realitas rohani semesta.
Hanya berbeda dengan mistik Hindu dan Tao, Zen menganggap bahwa realita
semesta itu keberadaannya berubah menjadi 'tidak ada /tiada'. Dalam mistik India
dan China, yang 'ada' menyatu kepada yang 'ADA' (Pan-Theisme), sedangkan dalam
Buddhisme termasuk Zen Buddhisme, yang 'tiada' menyatu dengan yang 'TIADA'
(A-Theisme).
Zen kemudian berpecah menjadi 5 aliran, dan dua di anataranya yang terkenal
adalah aliran Rinzai dan Soto yang pada abad ke-XII beremigrasi dari China ke
Jepang. Aliran Soto menekankan pencapaian pencerahan melalui meditasi tenang
pengosongan pikiran (kontemplasi), sedangkan aliran Rinzai menekankan
pencapaian pencerahan melalui meditasi yang diarahkan kepada aliran tertentu.
Meditasi Zen ini dipraktekkan sebagai usaha penyangkalan diri/pengosongan diri
dan pencerahan serta jalan kelepasan/keselamatan dengan usaha sendiri:
"Seperti yang dikatakan Sang Buddha, 'Lakukanlah penyelamatan dirimu
sendiri dengan rajin'." [3]
Meditasi Zen juga ditujukan untuk mencapai kedamaian, dan panjang umur,
dan kemudian memberi landasan batin untuk pengolahan kekuatan Chi/Ki
pada ilmu-ilmu bela-diri China/Jepang. [4]
Catatan :
[color=red][1] Shindai Sekiguchi, Zen Pedoman Bagi Pemula, h.4.
[2] Ibid, h.11.
[3] Ibid, h.88.

7. NICHIREN SHOSHU BUDDHISME


Berbicara mengenai agama Buddha, kita tidak dapat tidak perlu mengetahui pula
tentang satu sekte Buddhisme yang militan yang disebut Nichiren Shoshu. Sekte
ini sebenarnya tumbuh pada abad XIII di Jepang berdasarkan nama pendirinya

Nichiren Daishonon (1222-1282). Nichiren mempelajari Buddhisme sejak lama dan


terpengaruh pengajaran seorang tokoh Budhhisme bernama Dengyo Daishi yang
memperkenalkan Tendai Buddhisme masuk ke Jepang pada abad VIII.
Dengyo Daishi mempercayai bahwa kitab suci Lotus Sutra adalah kitab suci
Buddha yang memuat ajaran-ajaran asli dari Buddha, karena itu, kitab inilah yang
dianggap berotoritas, karena itu pulalah aliran ini menjadi sangat eksklusif dan
menyalahkan semua aliran Buddhisme di Jepang sebagai salah.
Semula perkembangannya terbatas, apalagi setelah kematian pendirinya yang
dihukum mati, namun pada awal abad XX (tepatnya 1930) dua pengikut Nichiren
yaitu Magiguchi Tsunesaburo dan Josei Toda membentuk perkumpulan yang
dinamakan Soka Gakai (yang artinya masyarakat pencinta nilai). Soka Gakai
merupakan gerakan misionari Nicheren yang sangat aktif dan militan dan kemudian
menyebar ke seluruh dunia setelah Josei Toda meninggal dunia (1960) dan
digantikan oleh Daisaku Ikeda.
Ajaran sentral Nichiren Shoshu berkisar Gohonson yaitu peti kayu berwarna hitam
yang berisi nama-nama orang penting yang disebutkan dalam Lotus Sutra.
Gohonson dijadikan altar dan mezbah pribadi dan dianggap berisi kekuatan semesta
yang mengontrol kehidupan para pengikut, dan ada hubungan timbal balik antara
kehidupan para pengikut dengan bagaimana mereka memperlakukan Gohonzon.
Ibadat ritual yang dilakukan para pengikut Nichiren Shoshu disebut Gongyo yaitu
berlutut didepan Gohonzon sambil mengucapkan beberapa ayat Lotus Sutra, meraba
tasbih, dan mengucapkan mantra-mantra. Ibadat ritual dipusatkan di kuil pusat di
kaki gunung Fuji yang disebut Dai-Gohonzon, sedangkan gohonzon-gohonzon
pribadi di rumah-rumah para pengikut dianggap penjelmaan kekuatan mistik dari
Dai-Gohonzon.
Gerakan Nichiren melalui Soka Gakai juga telah masuk ke Indonesia dan sempat
dianggap oleh Walubi (Perwalian Umat Buddha di Indonesia) sebagai bukan
beragama Buddha, sebaliknya sekte Nichiren juga menganggap semua aliran
Buddha lainnya tidak menjalankan agama Buddha, sekte ini sangat rajin menjalan
misi proselitasi dan kegiatan sosial.

7. NICHIREN SHOSHU BUDDHISME


Agama Hindu dan Buddha masuk ke Indonesia bersama-sama jauh sebelum abad
ke-V dimana sudah ditemukan patung-patung di Sulawesi, Jawa Timur dan
Palembang.
Dari abad ke-V-VII ditemukan beberapa prasasti di Kutei (raja Mulawarman) dan
Jawa Barat (raja Purnawarman) yang menunjukkan bahwa ada raja-raja yang
menggunakan nama Hindu, dan kelihatannya Palembang menjadi pusat kerajaan
Sriwijaya yang Buddhis (Hinayana tetapi juga ada yang Mahayana) pada abad keVII.

Dari abad ke-VII s/d ke-X pada dinasti raja Mataram Sanjaya (yang Hindu) dan raja
Sailendra (yang Buddha) ada beberapa prasasti dan candi peninggalan Hindu dan
Buddha Mahayana di Jawa Tengah tetapi rupanya juga ada pencampuran keduanya.
Candi yang terkenal adalah Borobudur.
Pada zaman Mojopahit terjadi puncak sinkretisme dimana baik agama Hindu Siwa,
Hindu Wisnu dan Buddha Mahayana diikuti bersama-sama.

BP
Merdeka dlm Kristus

Joined: Fri Jun 09,


2006 5:20 pm
Posts: 8936

Post subject: Re: PERBANDINGAN AGAMA


Posted: Tue Jan 06, 2009 8:34 am

IV. MEMPELAJARI SEJARAH AGAMA


KONGHUCU a TAO, ASPEK MISTIK TAO,
DAN PERKEMBANGAN TRIDHARMA
Agama di Tiongkok/China sangat unik karena berbeda dengan agama
lainnya didunia, agama ini bertumbuh dalam situasi terisolir tanpa
pengaruh dari luar dan juga berbeda dengan Yahudi, Kristen dan
lslam yang monotheistik, agama di China tidak berpusat Tuhan
seperti Kunghucu yang dianggap bukan agama. Baru setelah agamaagama asli di Tiongkok/China, maka datang pengaruh agama Buddha
yang datang dari India sekitar tahun 500M.

Bentuk agama juga tidak jelas dan pada dinasti Shang (1751-1050
SM) yang mulai tercatat secara sejarah, juga tidak ditemukan
petunjuk kearah itu kecuali bahwa masyarakat di zaman itu hidup
dari kepercayaan akan 'kekuatan dan roh yang mempengaruhi
manusia hidup dan yang membutuhkan korban dan sesajen'
(manisme & animisme). Orang China juga percaya akan
keseimbangan alam yang kemudian dilambangkan dengan Yin-Yang
(pantheisme) dan dipentingkannya 't'ien ming' (kesejahteraan rakyat
atau kehendak langit), Mistik ini sangat kuat meresapi masyarakat
China bahwa mereka menyadari akan adanya saling pengaruh antara
langit (termasuk dunia roh-roh) dan bumi (termasuk manusia hidup).
Konsep keseimbangan ini sudah lama ada dalam buku I-Ching.
Penyembahan nenek moyang mulai dikenal pada awal dinasti Chow
(1122-325 SM) dan bangkit kembali ketika Konghucu (500 SM)
mengajarkan untuk menghormati orang tua termasuk kalau sudah
meninggal. Dipercayai bahwa roh orang mati terbagi tiga bagian,
satu bagian naik ke langit, satu bagian ada dalam kuburan dan satu
bagian ada di meja sembayang. Karena kepercayaan adanya
penerusan hidup dari dunia orang hidup ke dunia orang mati maka
pemakaman biasa diramaikan dengan upacara dan sesajen yang
menjamin sampainya roh-roh itu ke tempatnya tanpa gangguan. Agar
kehidupan berjalan baik secara timbal balik dipraktekkan 'Feng Shui'.

1. MISTIK I-CHING
Tingkok/China di samping India adalah kawasan Timur (Oriental)
kaya akan ajaran kebatinan kuno, hal itu terlihat dari begitu
banyaknya ajaran kebatinan yang bersumber pada keyakinan kuno
yang lahir di Tiongkok/China seperti HongsuilFeng Shui, dan dalam
latihan kesehatan kita melihat pengaruhnya melalui pengobatan
alternatif a.l. Akupunktur dan Reflexiologi, dan dalam silat Tai Chi
dan Waitankung. Dari semuanya ada prinsip dasar yang dipercaya
yaitu mengenai 'Chi' atau nafas/tenaga hidup yang ada di alam dan
dalam diri setiap mahluk.
Ajaran kebatinan yang bersifat pantheistik dan animistik sudah
dipercayai dalam agama China purba. Sejak dahulu kala orang China
melakukan penyembahan alam dan roh-roh yang bisa dilihat dalam
praktek rakyat dalam penyembahan nenek-moyang,
astrologi/horoskop/shio (perbintangan), necromancy (feng shui),
ramalan/ nujum (gwamia), maupun dalam ajaran silat atau ilmu bela
diri seperti yang sudah disebutkan di atas.

Sejak lama konsep 'keseimbangan alam' dalam bentuk 'Yin-Yang'


menguasai hidup orang China, baik dalam kehidupan pribadi,
kehidupan berkeluarga, masyarakat, pertanian dan pembangunan,
ilmu bela diri, dan pengobatan. Setidaknya, di tahun 2205 SM, ketika
sungai Huangho meluap dan mengakibatkan banjir besar, Kaisar Yu
mencetuskan gerakan masal Tarian Agung untuk diikuti rakyat yang
prinsipnya adalah usaha 'mengikuti harmoni alam dengan melakukan
gerakan delapan arah' (pat kwalmeridian), dasar mana ditemukan
jejaknya jauh sebelumnya dalam buku filsafat keseimbangan 'I
Ching' (4600 SM) dan buku pengobatan China klasik 'Nei -Ching'
(abad XXVII SM) [1] .
I-Ching disebut 'Kitab Tentang Perubahan' itu, dikenal sebagai
filsafat tua yang mendasari keyakinan agama-agama di China sejak
3000 SM. Dalam kepercayaan kuno China, I Ching dianggap sebagai
nujum yang dapat memberi petunjuk rejeki bagi manusia baik dalam
bidang sosial, keluarga, bisnis maupun kesehatan.
"Ingat bahwa anda sedang mengadakan konsultasi dengan
ajaran kebijaksanaan yang terhimpun
sepanjang jaman, Kitab I Ching mengajarkan kepada anda
supaya membina satu harmoni pada inti hakekat kehidupan
dan dengan demikian merintis kesejahteraan hidup. Dengan
menerapkan cara ini, anda akan dapat menuangkan arus
kedamaian Ilahi pada gelombang arus kehidupan yang keruh.
Segala pertentangan akan lebur dan berubah menjadi
kebalikannya" [2]
I-Ching berpusat pada konsep Yin & Yang yang dikelilingi 64 buah
hexagram[3] yang masing-masing diberi nama khusus. Yin mewakili
yang negatip seperti bumi, bulan dan perempuan sedangkan Yang
mewakili segala sesuatu yang positip seperti Matahari dan laki-laki.
Yin dan Yang digambarkan sebagai sebuah lingkaran yang dibagi dua
bagian sama besar yang berwarna hitam dan putih. Masing-masing
bagian digambarkan sebagai berkepala bulatan yang berekor runcing.
Di pusat bulatan kepala ada bintik yang warnanya berbeda dengan
bulatan tersebut yang mengambarkan bahwa tidak ada yang mutlak
dari kedua bagianlbulatan itu. Yin & Yang itu beroperasi mengikuti
Meridian Langit yang biasanya dibagi menjadi 8 arah trigram atau
Pat Kwa.
Jauh sebelum kelahiran Lao Tsu dan Kong Hu Cu, sebenarnya baik
trigram maupun hexagram sudah terbentuk. Trigram sendiri disebut
diciptakan oleh kaisar Fu Hsi di tahun 2800 SM, sedangkan pada
abad ke-XII M konsep Yin-Yang yang pantheistik bercampur dengan
animisme kuno menghasilkan berbagai faham seperti agama rakyat
yang berbau mistik dan magis dan agama 'Tao' yang bersifat mistik
yang dipelopori Lao Tsu (575-485 SM) yang dipercayai bersama
dengan ajaran etis yang dipelopori oleh Kong Hu Cu (551-479 SM).

Satu milenium kemudian, pada tahun 520 M pendeta Buddha dari


India bernama Tat Mo Chowsu (Bodhidarma) memperkenalkan
agama Buddha ke China termasuk pengaruhnya yang kuat dalam
dunia silat yang berpusat di biara Shao-Lin. Perpaduan ketiga faham
Taoisme, Kunfusianisme dan Buddhisme menghasilkan agama
sinkretis yang kemudian diberi nama Sam Kauw (Tri-Dharma).
Perpaduan antara ajaran Tao dan Buddha disebut sebagai Ch'an
menyebar ke semenanjung Korea dan kepulauan Jepang (di Jepang
dikenal sebagai Zen).
Catatan :
[1] Nei Ching atau lengkapnya Huang Ti Nei Ching SU Wen (pengobatan dalam
kuno dari kaisar kuning) adalah buku yang ditulis oleh kaisar Huang Ti (2697-2597
SM) yang dikenal sebagai kaisar kuning (The Yellow Emperor).
[2] Joseph Murphy, Rahasia di Balik I Ching, h.12.
[3] Hexagram/ Trigram menggambarkan 6/3 garis sejajar yang mewakili simbol
arah tertentu. Garis-garis itu terdiri dari dua macam, yang tidak terputus mewakili
unsur Yang sedangkan yang terputus mewakili unsur Yin. Kombinasi dari
ketiganya (trigram) atau keenamnya (hexagram) dianggap melambangkan suatu
kondisi tertentu pada arah yang ditunjukkan.

2. FAHAM KONGHUCU (CONFUCIANISM)


Faham Konghucu (Conficianism) tidak dapat disebut agama, soalnya
faham ini tidak berbicara mengenai teologi (pengajaran mengenai
Tuhan) tetapi hanya mengajarkan hal-hal yang menyangkut Etika
hidup bermasyarakat. Itulah sebabnya ada yang menempatkan faham
ini bukan sebagai agama tetapi sekedar sebagai ajaran Etika.
a. KONSEP MENGENAI YANG SUCI
Agama Konghucu tidak mempunyai konsep mengenai 'Yang Suci'
kecuali bahwa mereka menerima dan meneruskan kepercayaan kuno
mengenai langit yang disebut 'Thian' dan lebih menekankan pada
hubungan kemanusiaan, itulah sebabnya Konghucu disebut bukan
agama melainkan 'etika.' Konsep mengenai 'Thian' ini berkembang
dalam pemikiran mazhab Konghucu, yaitu dari 'ketuhanan yang
utama' (Analek, Konghucu) ke 'kekuatan moral semesta' (Meng-Tsu),
dan kemudian 'alam semesta' (Hsun-Tsu). Dalam tahap kedua 'Neo
Confucianism' dibawah Chang Tsai mengarah pada pantheisme yang
telah dipengaruhi Taoisme dan Buddhisme. Langit ini berisi para
nenek-moyang (Ti) yang diperintah oleh penguasa (Shang- Ti).
b. PERNYATAAN YANG SUCI
1. Orang-orang Suci
Faham ini dirintis Konghucu (551-479 SM) yang meletakkan dasar
etika, kemudian dilanjutkan oleh pengikutnya Meng Tsu (371-289
SM) yang meletakkan dasar mistik, dan Hsun- Tsu (298-238 SM)

yang meletakkan dasar praktis dan ajaran tentang 'li.'.


2. Tempat-tempat Suci
Karena menekankan etika dan moral, Konghucu tidak mempunyai
tempat-tempat suci. Kuil-kuil Konghucu yang biasanya berwarna
merah bukan tempat -tempat penyembahan yang dianggap suci,
melainkan hanya tempat belajar, dimana buku-buku mengenai faham
Konghuucu disimpan untuk bisa dipelajari. Kuil Konghucu dibangun
di Beijing pada abad XIII dengan Aula yang menyimpan 300 tablet
karya klasik faham Konghucu.
3. Kitab-kitab Suci
Ajaran konghucu ditulis dalam buku-buku seperti Analek, Chungyung dll.
c. KONSEP MENGENAI MANUSIA
Pikiran langit dan bumi yang melahirkan segala sesuatu disebut 'jen',
dan manusia yang tercipta karena materi dan energi memperoleh
kehidupannya dari pikiran langit dan bumi. Manusia harus mengikuti
5 konsep yaitu Jen (hubungan ideal), Chun- Tzu (kemanusiaan yang
benar), Li (sopan), Te (kekuasaan), dan Wen (seni perdamaian).
d. UNGKAPAN BERAGAMA MANUSIA
1. Jalan Keselamatan
Konghucu mengajarkan humanisme (jen) atau 'jalan etika', tetapi
dalam buku Chung-yung (dari Meng-Tsu), salah satu dari ke-4 buku
yang menjadi pegangan, menunjukkan penyatuan 'ch'eng' dengan
langit dan bumi atau 'jalan mistik.' Karena itu disebut Meng-Tsulah
yang menjadikan faham Konghucu sebagai agama mistik.
2. Komunitas Umat
Karena tidak merupakan agama dan memiliki liturgi maka konghucu
hanya merupakan wacana hubungan perilaku antar manusia dalam
komunitas yang menyeluruh. Menurut Konghucu, keluarga adalah
unit dasar masyarakat, karena itu pentingnya ikatan kekeluargaan
akan memperkuat negara.
3. Upacara Agama
Sebenarnya tidak ada upacara khusus dalam agama Konghucu
semula, yang ada adalah hubungan hormat antara anak dan ayah,
adik dan kakak, isteri dan suami, yang muda dengan teman yang tua,
dan rakyat dan penguasa.
3. AGAMA TAO (TAOISM)
Berbeda dengan faham Konghucu, faham Tao banyak berbicara
mengenai supra-natural, namun kelihatan bahwa agama Tao lebih

bersifat agama mistik, yaitu kepercayaan akan yang SATU yang


tidak berpribadi sebagai kebenaran semesta.
a. KONSEP MENGENAI YANG SUCI
Dalam Taoisme kita melihat konsep yang suci sebaliknya dari
Konghucu. Bila Konghucu lebih menekankan kehidupan dibumi,
Taoisme lebih mengarahkan kepada 'Tao' yang mutlak yang
merupakan transformasi ketuhanan secara folosofis dan mistis. Tao
adalah prinsip semesta yang mencerminkan perubahan dan juga
merupakan pola perilaku manusia (wu-wei). Tao adalah 'jalan realitas
mutlak' atau 'jalan alam semesta', dan Jalan yang mengatur
kehidupan.' Pandangan ini pada hakekatnya meneruskan faham
monisme dualistis yang berasal dari buku I -Ching yang ditulis
sekitar tahun 3000 SM.
Pada prinsipnya dalam Taoisme yang disebut 'Tuhan' adalah TAO,
yaitu kekuatan dasar semesta yang tidak bisa disebut atau diberi
nama, tidak berpribadi, tetapi merupakan kekuatan semesta yang
menghasilkan segala sesuatu dalam alam ini (monisme). Konsep ini
mirip dengan pengertian 'Prima Causa' atau 'Ground of All Being'
dalam filsafat Yunani Purba.
Mengenai Tao ini, kepercayaan China kuno sejak I Ching ribuan
tahun sebelumnya, Lao Tsu kemudian mengembangkannya dan
dalam bukunya ia memberikan definisi berikut:
"Yang tidak bernama adalah asal-mula Langit dan Bumi;
Namanya adalah Ibu segala sesuatu, karena itu:
Seringkali orang terdorong menyangkali agar dapat melihat
rahasia kehidupan; Seringkali terdorong menjalani hidup,
agar melihat hasil manifestasinya. Keduanya (rahasia dan
manifestasinya) adalah (dalam sifat alaminya) sama;
Keduanya diberi nama yang berbeda bila keduanya
bermanifestasi. Keduanya dapat disebut sebagai Misteri
Kosmis. Pencapaian dari Misteri ke dalam Misteri terdalam
adalah gerbang kepada Rahasia semua kehidupan. " [1]
Sifat kebatinan (mistik) dari agama Tao terlihat dari kepercayaan
bahwa hakekat manusia sama dengan Tao dan tugas manusia adalah
mengusahakan dirinya hidup menjadi bagian Tao.
"Delapan pilar Taoisme mencakup setiap aspek dari
keberadaan kita sehari-hari. Mereka dirancang untuk
sepenuhnya memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar fisik
dengan cara yang memungkinkan kita menyadari potensi kita
sepenuhnya sebagai manusia. Maka kita dapat melompat

melintasi aspek waktu yang mendegenerasikan, untuk hidup


dengan Sang Tao, hidup dengan Tuhan." [2]
Tao mengekspresikan dirinya dalam kekuatan energi 'Chi' yang
mengikuti hukum Yin dan Yang yang saling bertentangan, seimbang,
saling memlengkapi secara harmonis. Setan sebagai pribadi tidak
dikenal dalam Taoisme filsafat kecuali dalam Taoisme Magis yang
berkembang kemudian setelah kematian Lao Tsu dimana setan-setan
hanya merupakan personifikasi dari roh-roh nenek-moyang yang
jahat. Sekalipun demikian, setan itu dikembangkan dalam sisi Yin
(negatip) yang mencakup baik setan, kejahatan, dan dosa.
Sebaliknya, aspek Yang (positip) melambangkan hal-hal baik, kuat
dll. Interaksi Yin & Yang ini menghasilkan segala sesuatu dalam
alam, seperti misalnya bumi & langit, wanita & pria, negatif &
positif, dingin & panas yang selalu ada berpasangan dan merupakan
komponen-komponen alam yang saling mengisi secara harmonis
sekalipun bertentangan. Baik bumi maupun manusia dan mahluk
lainnya akan mengalami malapetaka bila keseimbangan itu
terganggu.
Catatan :
[1] Tao Teh Ching, buku-I, Prinsip Tao, 1. Tentang Tao yang Mutlak, Lin Yu Tang,
The Wisdom of China and India, h.583, dengan catatan kakinya. Misteri dalam
bahasa China adalah 'Hsuan' yang artinya 'kebatinan' (mistik). Taoisme adalah
'Hsuanchiau' yang artinya 'Agama Kebatinan.' Rahasia dalam bahasa China adalah
'Miao' dapat diartikan juga sebagai 'Esensi'; artinya 'yang ajaib', 'yang tak terbatas',
'yang tidak diketahui pikiran', 'intisari', atau 'kebenaran esoteris.'
[2] Stephen T. Chang, Sistem Lengkap perihal Swapenyembuhan China, h.32.

b. PERNYATAAN YANG SUCI


1. Orang-orang Suci
Pendiri Taoisme adalah Lao Tsu (lahir 604 SM) kemudian
dilanjutkan oleh 'Chuang Tzu.'
2. Tempat-tempat Suci
Dalam perkembangannya, Taoisme kemudian membangun kuil-kuil
suci sebagai tempat beribadat yang diisi patung-patung. Selain itu
meja sembahyang disebut juga tempat suci, selain kuburan.
3. Kitab-kitab Suci
Ajaran Taoisme ditulis Lao Tzu dalam 'Tao Teh Ching' (Jalan dan
kekuatannya), 'Chuang-Tzu', 'Huai-nan-tzu' dan 'Lieh-tzu.'

c. KONSEP MENGENAI MANUSIA


Manusia dalam Taoisme adalah bagian alam semesta yang diciptakan
Tao dan manusia perlu mengalami perubahan yang harmonis dengan
Tao. Bila Tao dianggap sebagai 'prima causa' dan kekuatan mistik
semesta atau makro cosmos, maka manusia dan mahluk disebut
mikro-kosmos yang semuanya memiliki 'Chi' dalam dirinya yang
bekerja mengikuti irama Yin & Yang. Keselamatan atau kesembuhan
adalah bila tercapai keselarasan antara irama Yin & Yang manusia
dan mahluk dengan Yin & Yang semesta alam, dan tugas manusia
adalah mengusahakan keseimbangan tersebut.
Manusia disebut sehat dan sejahtera bila keseimbangan itu terjaga,
tetapi kalau keseimbangan itu terganggu, maka manusia akan jatuh
sakit atau kesejahteraannya menurun. Tugas manusia dalam
hidupnya adalah menjaga keseimbangan Yin & Yang ini agar senapas
dengan Yin & Yang alam semesta, dan tugas penyelamatan adalah
mencapai harmoni manusia dengan alam, Chi dengan Tao. Bagi
Taoisme, alam semesta adalah kekal dari dahulu sampai sekarang
dan tetap dalam keseimbangan kosmis demikian, demikian juga yang
akan terjadi pada masa yang akan datang.

d. UNGKAPAN BERAGAMA MANUSIA


1. Jalan Keselamatan
Jalan keselamatan Taoisme adalah sikap berdiam diri secara pasif
dan perenungan/ kontemplasi mistik dan 'usaha penyatuan dengan
Tao yang tidak bernama.' Dalam latihan silat, jalan itu dilakukan
dengan gerakan.
2. Komunitas Umat
Bila semula para pengikut Taoisme lebih bersifat usaha pencarian
secara pribadi dalam perkembangan berikutnya mereka membentuk
kelompok agama dengan kuil-kuil dan patung-patung.
3. Upacara Agama
Semula ajaran Taoisme bersifat filosofis, tetapi kemudian ajaran ini
berkembang menjadi mistis dan magis dengan upacara-upacara yang
bisa menjurus pada tahyul setelah mengalami sinkretisasi dengan
agama leluhur.

e. KONSEP 'CHI' TAOISME

Bila kita melihat bahwa dalam Taoisme, Tao itu digambarkan sebagai
'energi' semesta yang menjadi penyebab pertama (prima causa),
maka konsep Chi adalah energi yang menghidupkan manusia.
Menurut Taoisme:
"Energi adalah suatu daya dinamis, dalam aliran tetap yang
beredar melalui seluruh tubuh. Adalah masuk akal apabila
banyak orang mengganti kata energi itu dengan kata
kehidupan ... Ia disebut 'kekuatan kehidupan', 'energi
kehidupan', 'jiwa' atau elektromagnet-isme. Para Tao-is
menyebut kekuatan ini 'Chi'." [1]
Skinner dalam bukunya memberikan gambaran lebih jelas mengenai
keberadaan 'Chi' ini:
"Ch'i, roh yang vital, mengisi dunia pemikiran para Taois.
Ch'i adalah Roh Kosmis yang menghidupkan dan menginfus
semua hasil cipta alam, memberi enerji kepada manusia,
kehidupan kepada alam, pergerakan kepada air dan
pertumbuhan kepada tanaman ... di pusat ajaran latihan
pernafasan kaum Taois, yang juga melibatkan seni kepekaan
indra penciuman dan cara penggunaan dupa ... Keberadaan
orang adalah karena Ch'i, sedangkan Ch'i berada di dalam diri
orang. " [2]
Keberadaan energi Chi ini dipercaya sebagai melingkupi seluruh
tubuh manusia dan berbentuk sinar sekeliling tubuh manusia yang
disebut sebagai 'Aura.' Sama dengan apa yang dipercayai dalam
Yoga, dalam penyembuhan China dikenal pula 'pusat-pusat energi'
(chakra) yang di zaman modern ini di kaitkan dengan 'ke- 7 kelenj ar'
dalam diri manusia yang bertanggung jawab untuk mengatur aliran
energi dalam berbagai sistem pada tubuh. Ke-7 kelenjar itu dalam
alam modern dicari padanannya sebagai kelenjar-kelenjar:
(1) seksual, yang mengatur sekresi dan reproduksi;
(2) adrenalin, yang menopang fungsi ginjal, tulang sumsum dan
tulang belakang;
(3) pankreas, yang mengendalikan sistem pencernaan;
(4) thymus, yang menguasai jantung dan sistem peredaran darah;
(5) thyroid, yang memelihara metabolisme sel-sel dalam tubuh dan
menguasai pertumbuhan;
(6) kelenjar di bawah otak (pituitary), yang menguasai ingatan dan
pemikiran;
(7) pinealis, yang menguasai kelenjar sekresi lainnya[3].
Berdasarkan teori soal energi inilah maka disebutkan bahwa bila
keseimbangan energi itu terganggu maka seseorang akan mengalami
ketidak seimbangan kesehatan tubuh atau sakit dan untuk
memulihkannya dilakukan usaha-usaha mengembalikan

keseimbangan energi tersebut sehingga manusia kembali menjadi


sehat.
"Selanjutnya terdapat juga masalah ketidakseimbangan
energi, yang pentingnya sama dengan hilangnya energi.
Ketidakseimbangan energi di antara organ-organ (berkaitan
dengan fungsional seperti pada mekanisme jam) merupakan
suatu sumber lain dari keadaan sakit ... Kaum Tao-is purba
memahami bahwa tubuh manusia itu tidak mungkin ada tanpa
suplai energi yang secara berkesinambungan datang ke
jaringan-jaringan dan organ-organ. Mereka dapat menyadari
bahwa kesehatan dapat dipertahankan bilamana energi dalam
tubuh itu seimbang, dan bahwa penyakit itu timbul bilamana
terdapat penipisan atau pelemahan energi. [4]
Jadi keseimbangan energi harus dijaga dalam proses penyembuhan
China, dan lebih dari itu, sebagai mikro-kosmos yang menjadi bagian
dari makro-kosmos, manusia harus berusaha agar keseimbangan itu
selaras dengan keseimbangan alam semesta. Hal ini dapat dilihat dari
pernyataan dalam buku penyembuhan China sebagai berikut:
"Oleh karena alam semesta memelihara keseimbangan
melalui pengaruh-mempengaruhi, maka tubuh kita - sebuah
mikrokosmos dari alam semesta, - dipikirkan sebagai
mencapai keserasian mental dan fisik dengan cara yang sama.
Energi mengalir melalui tubuh lewat meridian dan organ serta
isi perut yang bersangkutan dalam siklus yang dirumuskan
dengan baik." [5]
Sekarang bagaimana manusia mengusahakan keseimbangan energi
'Chi' tersebut? Menurut sistem penyembuhan China ada berbagai
cara untuk melakukan hal itu, seperti misalnya melalui (1) makanan
& minuman yang tertib dan sehat seperti vegetarian (tidak makan
daging). Ini merupakan usaha yang pasif atau perilaku biasa seharihari. Selanjutnya usaha aktif dilakukan melalui Tao-Revitalisasi yaitu
yang mencakup (2) latihan pernafasan; (3) pengolahan pikiranlbatin;
dan (4) gerakan tubuh.
"Kaum Taois purba telah menciptakan Tao (jalan)
Revitalisasi, filsafat dan metoda berfikir, bernafas dan
bergerak." [6]
Orang-orang mengkaitkan usaha pengolahan batin melalui TaoRevitalisasi itu jauh sampai kepada Kaisar Kuning yang menulis
kitab 'Nei Ching' yang sudah disebutkan terdahulu.
"Pencipta dari sistem gerakan-gerakan ini adalah Kaisar

Kuning, yang adalah juga Bapak dari Tao-isme, ilmu dan


filsafat dari kehidupan dan panjang usia. Nama aslinya yang
tidak diterjemahkan untuk Tao Revitalisasi ini adalah Yang
Sheng Shu. Istilah terakhir itu dapat didefinisikan sebagai
pencapaian kehidupan yang berbahagia, sehat dan panjang
melalui penggunaan dari gerakan-gerakan mental dan fisik
untuk mencegah dan mengkoreksi semua penyakit,
membalikkan proses menua, dan memperbaiki semua fungsi
tubuh ... Dalam Tao Te Ching, Lao Tsu menyebutnya 'metoda
terapi terbaik untuk meningkatkan dan memperpanjang
hidup" [7]
Selain ke-4 cara yang disebutkan diatas ada beberapa cara lain yang
dilakukan yang disebut sebagai 'Latihan Internal' yang dibagi dalam
tiga kategori:
"Kategori pertama dari Latihan-latihan Internal mencakup
latihan-latihan yang dirancang untuk mengoreksi sikap
duduk, bersandar, berjalan dan bekerja yang gunanya untuk
mempermudah penyembuhan ... Kategori kedua mencakup
Meditasi (Tafakur) Meridian, yang juga dikenal sebagai
Meditasi Berkeliling Dunia atau hanya Kontemplasi
(Perenungan) Tao-is ... Tehnik-tehnik Akupuntur dan
Akupresur, yang berasal dari Meditasi Meridian ini,
dipergunakan untuk menolong orang lain, sedangkan
Meditasi Meridian sendiri dipergunakan untuk
swapenyembuhan (penyembuhan diri sendir)i. Kategori
ketiga dari Latihan-latihan Internal mencakup tehnik-tehnik
pernafasan energi. " [8]
Mengenai bentuk-bentuk populer dari Latihan-latihan TaoRevitalisasi itu diuraikan berikut.
Chi Kung, Tai Chi, Wai Tan Kung
Aplikasi praktis dalam bidang kesehatan dalam Tao-Revitalisasi
dipopulerkan melalui berbagai nama seperti Chi-Kung, Tai-Chi dan
Waitankung. Diantaranya yang paling populer adalah latihan
'pernafasan' Chi-Kung yang juga disebut sebagai Nei - Kung. Chi
Kung sekarang juga dikenal sebagai aliran keagamaan Fa Lun Gong.
Istilah Chi-Kung dapat diterjemahkan sebagai Latihan Bernafas atau
memberi Energi. Istilah Nei-Kung dapat diterjemahkan sebagai
latihan-latihan Internal. Latihan pernafasan Chi-Kung biasa digabung
dengan latihan gerak Tai-Chi dan Tai Chi Kung yang dipopulerkan di
Indonesia antara lain terdiri dari 25 gerakan Chi-Kung ditambah 18
gerakan Tai-Chi. [9]

Tai-Chi dari arti katanya, Tai berarti 'maha besar/sesuatu yang tak
terbatas' dan Chi berarti 'Inti atau Pusat' manusia. Kalau keduanya
digabung menjadi 'suatu usaha menyatukan inti/pusat manusia
kepada sumbernya yang maha besar dan tak terbatas itu.' Kadangkala
nama itu disambung menjadi Tai-Chi-Chuan, dimana Chuan berarti
'tinju' dan dapat diterjemahkan sebagai 'koordinasi mental dan fisik
atau singkatnya bela diri.' Sebagai bagian dari Tao-Revitalisasi, TaiChi menekankan gerak fisik & batin atau 'olah batin' dan latihannya
terdiri dari banyak jurus.
Berbeda dengan Tai-Chi-Chuan yang menyangkut unsur bela diri,
Waitankung lebih mirip dengan Chi-Kung yang menekankan latihan
pernafasan. Dari arti katanya kita dapat melihat bahwa 'Wai' artinya
luar, 'Tan' artinya pusat, dan 'Kung' artinya pernafasan.
Perkembangan dari Waitankung disebut Neitankung (Nei artinya
dalam) yang bila seseorang dapat mengusainya bisa memancarkan
hawa energi yang dimiliki setiap orang, dan menghasilkan kekuatankekuatan magis seperti yang dialami murid-murid Haji Ali Chang
Che Tung, pelopornya di Taiwan, yang sudah mencapai tingkat
lanjutan seperti 'terangkat 10 Cm di atas tanah, berjalan di atas air,
menembus bumi (masuk ke dalam tanah) dll. [10]
Baik Chi-Kung, Tai-Chi, & Waitankung adalah bagian praktek TaoRevitalisasi dimana baik pernafasan, meditasi maupun gerakan
diusahakan untuk mengolah 'energi Chi' dalam diri manusia agar
mencapai kesatuan dan keseimbangan sepenuhnya dengan 'energi
Chi alam semesta.' Sekalipun jelas bahwa latihan-latihan ini adalah
bagian dari praktek 'kebatinan Tao-isme' ada saja para pendukungnya
yang menyebutnya hanya sebagai olah raga biasa. Beberapa
komentar dari sumber-sumber mereka malah membantah pembelaan
demikian.
"Tao Revitalisasi bukanlah suatu olah raga. Ia tidak dirancang
untuk menggalakkan perlombaan atau gerakan-gerakan yang
menguras tenaga, menambah stres atau ketegangan,
menghabiskan energi atau dengan perkataan lain mengurangi
kurun hidup seseorang. lapun bukan suatu bentuk beladiri.
Berbeda dengan Kung Fu, karate dan sebagainya. Ia tidak
melibatkan gerakan-gerakan yang menguras tenaga atau
ketegangan ... satu aspek dari Tai Chi Chuan yakni penyatuan
jiwa dan raga, adalah sama dengan yang terdapat pada TaoRevitalisasi." [11]
Jusuf Sutanto mengemukakan dalam bukunya mengenai Tai Chi
Chuan, bahwa:
"Falsafah ini disebut Taoisme dan merupakan dasar bagi
pengobatan tradisional China ... Tai Chi Chuan sebenarnya
merupakan bagian yang paling pokok dari pengobatan ini.

Pada dasarnya Tai Chi Chuan sebenarnya berbeda dengan


segala jenis olah raga yang umum di kenal, yang berdasarkan
pada pembentukan otot, kekuatan dan kecepatan. Gerakan Tai
Chi adalah pelahan, relaks, melingkar-lingkar dan
berkesinambungan dalam keselarasan dan kesinambungan
irama nafas dan fikiran. Sehingga Tai Chi sering disebut
sebagai meditasi sambil jalan ... harus ada jalan (TAO) yang
secara bertahap dapat mengantarkan kita ke arah relaksasi
dalam keseluruhan badan dan fikiran kita. Dan itu adalah Tai
Chi! ... Tai Chi Chuan bukan hanya terbatas pada hal-hal
yang merupakan pandangan, konsep-konsep atau anganangan tentang kesehatan, tetapi dan yang terutama adalah
jalan atau TAO untuk mencapai ketenangan dan
kesejahteraan badan dan fikiran kita. " [12]
Dalam buku Senam Tera disebutkan bahwa:
"Tai Chi merupakan seni bela diri kuno berdasarkan filsafat
penganut kepercayaan Tao ... Bagaimana perbandingan Tai
Chi dengan olah raga lainnya? Salah satu segi uniknya dalam
memberikan rasa relax yang tinggi. Dalam hal ini Tai Chi
serupa pula dengan Yoga dan juga disebut sebagai 'meditasi
bergerak'." [13]
Bagaimana dengan Waitankung yang dikatakan berbeda dengan Tai
Chi karena lebih sederhana?
"Wai Tan Kung bukan merupakan jenis ilmu silat atau bela
diri, juga bukan merupakan ilmu Chi Kung tradisional, Yoga
atau olah raga orang barat ... Energi dasar, adalah suatu daya
yang secara alami telah berada di dalam tubuh manusia sejak
lahir, membuat daya ketahanan tubuh terhadap kondisi alam
sekitarnya dan sekaligus memberikan perlawanan serta
perlindungan terhadap gangguan-gangguan kesehatran ...
Manusia dalam usia muda/dewasa, dimana dalam tubuhnya
terdapat banyak unsur positip ('YANG') dan sedikit unsur
negatip ('YIN'). " [14]
Pengaruh Buddhisme terjadi sekitar tahun AD-SOO, seorang pendeta
Buddha bernama Tat Mo Chow Su (Bodidharma) dari India
menyeberangi sungai Yang Tze dan mengikuti perkembangan silat
Shao Lin dan menetap di kuil Shao Lin dan kemudian mempengaruhi
perkembangan silat Shao-Lin dengan dasar Buddhisme.
Sebetulnya agak sukar dimengerti kalau seorang padri mempelaj ari
silat, apalagi yang bersifat keras, tetapi Tat Mo yang anti kekerasan
itu menyadari bahwa dalam perjalanannya yang panjang itu ternyata
ia mengalami banyak kekerasan sehingga penguasaan kekerasan
untuk melawan kekerasan itu juga penting, misalnya untuk menolong
orang yang mengalami kekerasan. Karena alasan itulah kemudian ia

mengembangkan dan mengajarkan 18 jurus silat Lahan Chuan


kepada para padri yang diasuhnya.
"Pada latihan kaum Taois terdapat latihan pernafasan dan
teknik untuk mengembangkan energi yang tersimpan di
dalam tubuh. Chi Kung, suatu sistem latihan yang mengolah
energi dalam tubuh, telah berada di China untuk beberapa
abad. Sang Buddha juga telah mengajarkan latihan
pernafasan dan meditasi untuk mengontrol energi yang
tersimpan di dalam tubuh. Pada saat guru besar meditasi,
Bodhidharma datang ke China, beliau memperbaiki latihan
yang telah ada di sana dan mengembangkan satu seri latihan
yang memperbaiki kesehatan para bhiksu. Dengan cara ini,
latihan bela diri dipraktekkan di vihara." [15]
Sebagai lazimnya apa yang disebut pertentangan kepentingan,
perguruan Shao Lin karena pengaruh masuknya Buddhisme itu
kemudian mengalami perpecahan menjadi Shao-Iin Utara yang tetap
berpusat di gunung Shao-Lin dan yang tetap dikenal dengan nama
Shao Lin, dan Shao-Iin Selatan yang kemudian lebih dikenal dengan
perguruan Bu Tong (Wu Tang) yang berpusat di gunung Wu.
Sebenarnya cerita-cerita sekitar tokoh-tokoh yang melatarbelakangi
perpecahan itu ada dalam berbagai versi, tetapi dari banyak versi itu
yang paling populer adalah adanya tokoh yang bernama Tio Sam
Hong (1277-1367, dalam versi lain disebut Chang San Feng), pada
masa peralihan dinasti Goan ke dinasti Ming, sebagai murid Shao
Lin yang kemudian memisahkan diri dan membentuk perguruan Bu
Tong di Gunung Wu di propinsi Ho Pak, yang biasa juga dikaitkan
dengan kelahiran Tai Chi Chuan yaitu Tai Chi yang digunakan untuk
bela diri juga. Dalam versi lain disebutkan bahwa aliran ini
sebetulnya sudah ada pada abad ke-XI karena sudah
didokumentasikan oleh Wang Chung Yueh dengan nama Tai Chi
Chuan Ching [16].

Fa Lun Gong
Secara azas, sebenarnya Fa Lun Gong (Falun Dafa) merupakan
popularisasi kembali latihan pernafasan Chi-Kung, namun karena
latihan ini juga menjadi salah satu praktek organisasi masa yang
melakukan demonstrasi melawan pemerintah RRC (1999), maka
Falun Gong kemudian menjadi aliran yang dimusuhi oleh pemerintah
RRC. Fa Lun Gong diperkenalkan oleh Ii Hongzhi pada tahun 1992.
Ia melatih S bentuk pelatihan, dimana empat dilakukan dalam posisi
berdiri dan satu dalam posisi duduk yaitu untuk bermeditasi.
Pengikut Fa Lun Gong percaya bahwa dengan postur tubuh tertentu
dan melakukan tehnik pernafasan yang teratur, seseorang dapat

membangkitkan energi didalam dirinya yang sangat berpengaruh


dalam meningkatkan kesehatan dan kekuatan.
Fa Lun Gong memiliki lambang berupa perpaduan:
"Hukum Roda sekolah Buddha, Yin Yang sekolah Tao, dan
ke-l 0 pasak bumi semuanya direfleksikan ke dalam Hukum
Roda - Falun." ... Falun Dafa dipraktekkan menurut prinsip
evolusi alam semesta. Karena itu apa yang dikultivasikan
adalah Hukum Yang Mahabesar dan Tao Yang Mahabesar. "
[17]
Menurut para pengikut Falun Gong, mereka tidak merupakan aliran
agama, tidak tergolong agama Buddha maupun Tao, namun
memasukkan falsafah kedua aliran agama itu melalui lambanglambang swastika (Buddha) dan yin-yang (Tao) yang disatukan
dalam lambang Fa Lun Gong.
Catatan :
[1] Stephen T. Chang, Sistem Lengkap perihal Swapenyembuhan China, h.34,36.
[2] Stephen Skinner, Feng Shui, h.39.
[3] Chang, h.45-50.
[4] Ibid, h.38,45.
[5] Ibid,h.61.
[6] Ibid, h.13.
[7] Ibid, h.14.
[8] Ibid, h.24.
[9] lihat Senam Persendian dan Senam Pernafasan, Yayasan Pusat Senam
Pernafasan Tai-Chi lndonesia.
[10] Ibid, h.18.
[11] Chang, h.16-17.
[12] Jusuf Sutanto, Tai Chi Chuan, Irama Kehidupan, h.15,19,112,13l.
[13] Chia Siew Pang, Senam Tera (Tai Chi), h.8,14.
[14] Mengenal Olah Raga Senam Wai Tan Kung dan Faedahnya, h. 0,00.
[15] 15 Thubten Chodron, Tradisi dan Harmoni, menelusuri Jejak-jejak Agama
Buddha, h.10-11.
[16] Sophia Delza, Tai Chi Ch'uan, h.183.
[17] Situs Falun Dafa , Michigan.

4. AGAMA TRIDHARMA (SAM KAUW)


Sikap 'jalan tengah' yang menghindari 'ekstrim' yang ada dalam
agama-agama China yang mencari harmoni diperkaya dengan
datangnya Buddhisme pada tahun 500 ke China. Semula perpaduan
Taoisme dan Buddhisme dikenal sebagai 'Cha'n' atau dalam bahasa
Jepang disebut 'Zen.'
Pada waktu dinasti Ming (1369-1644) percampuran agama

Konghucu, Taoisme dan Buddhisme memuncak dalam bentuk agama


'Sam Kouw' (Tridharma). Ini dipelopori pemikir seperti Lin Chao-en
(1517-1598). Lin berusaha menggabungkan secara 'sinkretis' segisegi baik meditasi Taoisme dan Buddhisme dengan persaudaraan
Konghucu. Ajaran Tridharma inilah yang banyak diikuti di
Indonesia. Dalam proses kedatangan misi Kristen tidak sedikit orang
China yang Kristen yang dalam satu dan lain hal melakukan
sinkretisme pula dengan agama -agama leluhur mereka. Tradisi bagi
orang China menjadi bagian dari identitas ke-cina-an mereka karena
itu sekalipun sudah menjadi Kristen tradisi masih melekat.
Di Indonesia, agama Sam-Kouw diikuti umumnya oleh orang-orang
Tionghoa/China perantauan yang mereka bawa secara turun-temurun
dari tanah leluhur. Dimana ada pecinan yaitu pemukiman komunitas
Tionghoa/China, disitu umumnya tradisi turun-temurun dan agama
Tridharma dipraktekkan.
Orang Tionghoa cenderung bersifat sinkretis, karena itu dalam
klenteng orang Tionghoa/China, ketiga kepercayaan itu biasa diikuti,
ada yang lebih berat pada salah satu agama, ada juga yang sama
berat. Penganut gama Buddha yang khusus memiliki tempat ibadat
sendiri yang disebut Vihara.

Top

BP
Merdeka dlm Kristus

Post subject: Re: PERBANDINGAN AGAMA


Posted: Tue Jan 06, 2009 9:19 am

V. MEMPELAJARI AGAMA-AGAMA ASLI


INDONESIA
Apakah yang sebenarnya disebut sebagai agama asli itu? Rachmat
Subagya dalam bukunya merumuskannya sebagai berikut:

Joined: Fri Jun 09,


2006 5:20 pm
Posts: 8936

"Yang Dimaksudkan dengan agama asli adalah kerohanian


khas dari satuan bangsa atau dari suku bangsa, sejauh itu
berasal dan diperkembangkan di tengah-tengah bangsa itu
sendiri dan tidak dipengaruhi oleh kerohanian bangsa lain
atau menirunya. Kerohanian itu timbul dan tumbuh secara
spontan bersama (suku) bangsa itu sendiri. Dia murni tak
bercampur dengan kerohanian agama lain dan pada
hakekatnya hanya terdapat pada masyarakat yang tertutup
terhadap pergaulan antar (suku) bangsa. Kerenanya agama

yang mewadahi kerohanian semacam itu juga disebut agama


etnis, agama suku, agama preliterate atau agama sederhana."
[1]
Selanjutnya, Subagya juga menyebutkan bahwa sifatnya yang terikat
tempat itu, bila kemudian berkontak dengan agama lain, mungkin
mempertahankan diri sambil berkembang berkat unsur-unsur
keagamaan dari luar. Unsur-unsur itu diolah dengan kerohanian
semula, sedang corak khas asli tidak lenyap melainkan mewujudkan
diri lebih lengkap. Kerohanian asli tersebut biasanya tidak diketahui
secara reflektif, tidak pula dinyatakan dalam ajaran sistematis.
Kerohanian itu dihayati dalam sikap batin terhadap Zat tertinggi yang diberi nama apa saja - yang sifat hakekatnya mengatasi
manusia. Dia diungkapkan dalam kepercayaan, kesusilaan, adat,
nilai, upacara serta perayaan anekawarna. Melalui ungkapan lahir itu
pokok batin dapat disadari, ditentukan dan dirinci lebih lanjut.
Manusia menurut kodratnya menyadari bahwa ia terbatas dan lemah.
Ia mengalami juga, bahwa jiwanya terarah kepada alam lain yang
mengatasi kelemahannya dan keterbatasannya. Alam rohani itu
dipikirkan olehnya sebagai wujud cita-citanya, sebagai sesuatu yang
utuh, sempurna dan membahagiakan. Di dalamnya kerinduan akan
kebahagiaan dipenuhi; manusia berusaha mengarahkan kegiatannya
untuk mencapai kebahagiaan itu. Cara manusia menggapai
kebahagiaan tertinggi dan alam rohani pada bangsa-bangsa
menunjukkan adanya kesamaan yang mengesankan. Sudah barang
tentu demikian, karena kesatuan asasi mengikat seluruh umat
manusia. Tetapi perbedaan juga cukup banyak dan mencolok.
Menurut Subagya, agama asli sebagai jenis murni terutama terdapat
pada suku-suku bangsa yang dikenal dengan nama protomela yu.
Leluhur mereka merupakan gelombang imigrasi tertua dari Asia
Tenggara daratan ke Asia Tenggara kepulauan. Sedang jenis yang
tercampur biasa disebutkan sebagai deuteromelayu. Di samping
agama asli, agama itu bisa mengalami pencampuran bila
berhubungan dengan agama luar, baik agama yang senafas maupun
agama yang berbeda sama sekali, di sini terbentuk agama campuran.
Percampuran itu bisa terjadi karena pertemuan dua agama asli,
namun bisa juga dialami karena kedatangan agama pendatang, yaitu
Hindu, Buddha, Islam, dan Kristen.
Dalam agama apapun, baik primitif maupun modern, kita dapat
melihat adanya tiga faktor, yaitu: (1) Konsep mengenai Ketuhanan;
(2) Konsep mengenai Dunia Nyata; dan (3) Konsep mengenai
Manusia. Beberapa agama suku memiliki ciri-ciri berikut:
Catatan :
[1] Rachmat Subagya, Agama Asli Indonesia, YCLC & Sinar Harapan, Jakarta,

1981

1. AGAMA ASLI DI HIAS


Di Nias, terutama di bagian Tengah dan Selatan, konsep ketuhanan
itu digambarkan dalam bentuk alam atas, dimana dari sana menjelma
nenek-moyang orang Nias bernama Hia ke tempat yang bernama
Sifalago di daerah Gomo, Nias Tengah. Dari turunan nenek-moyang
itu lahirlah petinggi-petinggi masyarakat yang hidup saling terisolir,
dan petinggi yang paling popular adalah yang dapat menunjukkan
diri sebagai keturunan langsung nenek-moyang yang asli.
Posisi dan status para petinggi itu direfleksikan dalam panggilan
mereka, seperti salawa (tinggi) atau si 'ulu (yang naik), sedangkan
pemimpin kebanyakan dikenal dengan nama-nama seperti sihono
(ribuan) atau sato (rakyat banyak). Para petinggi ini menunjukkan
kesejahteraannya dengan mengumpulkan emas, berlian, dan ornamen
sebanyak mungkin, rumah yang paling besar, pakaian kebesaran
dengan kopiah yang tinggi, dan duduk paling tinggi dalam upacara
-upacara. Ini untuk menunjukkan bahwa mereka mampu
mempertahankan posisi otoritas mereka, dan bukan hanya itu, tetapi
juga untuk memnunjukkan bahwa mereka menjadi penghubung
antara petinggi dan pendiri desa yang bersangkutan.
Harta kekayaan harus ditunjukkan bukan saja dalam bentuk emas
dan berlian namun harus dinyatakan dalam ukiran-ukiran ornament,
demikian juga orang-orang yang sudah menikah tidak saja harus
menunjukkan banyaknya babi dan emas yang dimilikinya tetapi
menyatakannya dalam bentuk ornament-ornamen yang peresmiannya
biasa dilakukan dengan pesta upacara yang disebut owasa (Nias
Utara) atau tawila (Nias Selatan). Para petinggi dengan mengadakan
pesta akan memperoleh gelar baru.
Pada pesta owasa, petinggi itu membagi-bagikan daging babi sesuai
derajat hadirin. Daging babi itu juga menunjukkan simbolis asi
karena orang Nias percaya bahwa mereka adalah babi-babi para
dewa. Dulu dikatakan bahwa pengorbanan manusia pernah dilakukan
dalam owasa yang paling tinggi. Pesta-pesta juga berguna untuk
mempererat dan agar hubungan para petinggi dengan penduduk tetap
sinambung.
Orang Nias menyembah nenek-moyang melalui berbagai upacara,
seperti melalui patung atau ukiran (adu) yang menjadi alat perantara
berhubungan dengan roh nenek moyang. Mereka juga membuat meja
sembahyang adu karena mereka sangat percaya bahwa kehidupan
nenek-moyang bisa mempengaruhi mereka yang hidup, karena itu,
yang hidup harus menyenangkan yang mati dengan berbagai upacara

dan kurban, baik untuk tujuan kelahiran atau pernikahan yang


bahagia, atau untuk kesuburan tanah. Semua kurban dalam pesta itu
ditujukan untuk keseimbangan kosmis dalam pesta yang disebut
fondrako.

2. AGAMA ASLI DI SIBERUT (MENTAWAI)


Kepercayaan ketuhanan di Siberut lebih mengarah ke animis dan
mistik, sebab mereka percaya bahwa segala sesuatu - manusia,
binatang, tanam-tanaman dan benda-benda - memiliki jiwa
(simagere).
Dalam pemanfaatan sesuatu, perlu diperhatikan harmonisasi dengan
segala sesuatu, karena itu di sini dipercayai banyak tabu-tabu yang
tidak boleh dilanggar. Mereka mempercayai adanya bajou, kekuatan
tak berpribadi yang hadir dalam segala sesuatu yang memiliki jiwa.
Kekuatan ini akan terbangkitkan bila seseorang melanggar
keseimbangan dengan alam itu, seperti datangnya penyakit atau
kematian.
Juga dipercayai bahwa jiwa dapat mengembara dalam mimpi dan
bila mengalami kesukaran dapat meminta bantuan para nenekmoyang, karena itu upacara penyembahan nenek moyang penting.
Disamping ini, upacara ritual termasuk kurban melalui perantara juga
penting agar kekuatan-kekuatan kebaikan datang dan menjauhkan
kekuatan-kekuatan jahat.
Orang Siberut tinggal bersama dalam uma, yaitu rumah gadang yang
ditinggali oleh kurang lebih 5-10 keluarga. Dalam rumah ada
pengatur upacara (rimata) dan juga beberapa dukun (kerei), tetapi
mereka tidak memiliki penguasa. Ada tiga ketakutan yang biasa
dihadapi penghuni uma, yaitu: (1) kesatuan uma yang rapuh; (2)
hubungan yang tidak menentu dengan tetangga-tetangga; dan (3)
ketakutan karena penyakit dan kematian yang disebabkan melanggar
tabu. Melalui pesta upacara secara periodic (pulialijat) yang
berlangsung selama sebulan, ketiga hal itu diharapkan dapat
diperbaiki. Dalam upacara itu kekuatan-kekuatan kebaikan diundang
untuk memberkati uma. Jiwa nenek-moyang diundang masuk ke
dalam uma agar mempersatukan warga uma dalam solidaritas yang
baru. Mereka juga melakukan upacara perburuan di hutan untuk
menyenangkan roh-roh penjaga hutan agar kehidupan dapat berjalan
dengan baik.

3. AGAMA ASLI DI BATAK (SUMATERA UTARA)

Kepercayaan batak sangat kuat menekankan penyembahan nenek


moyang yang selalu diusahakan dekat dengan kehidupan mereka
melalui kurban yang terus menerus. Upacara melalui tari -tarian,
karya pahatan dan musik memungkinkan masalalu memasuki
masakini, dan para nenek moyang untuk memasuki kehidupan anakcucu mereka. Tugu adalah monumen penguburan.
Bagi orang Batak asli sebelum masuknya agama Islam (1820, Batak
Selatan) dan Kristen (1850, Angkola dan Taba), akhir hidup karena
kematian disangkal, mereka berpendapat bahwa kematian hanya
perpindahan wujud dan kehidupan berjalan menerus dan hubungan
timbal-balik antara yang hidup dan yang sudah mati tetap berjalan
terus melalui upacara kurban binatang, taritarian dsb.nya (ini mirip
dengan agama nenek-moyang di Tiongkok/China). Agama Batak asli
juga merupakan perisai yang menjaga mereka dari serangan
penyakit, musuh yang menyerang, dan juga pengaruh alam roh.
Kekuatan-kekuatan alam juga dimanfaatkan dalam kehidupan
masyarakat dalam pertahanan diri maupun sebagai perisai dalam
perang. Pengulangan peringatan garis keturunan suku, hubungan
dengan yang mati, ucapan mantera tentang hubungan roh-roh yang
mati dan manusia hidup, dan berkat sehari-hari pada bayi yang baru
dilahirkan untuk melindungi dari penyakit dan kematian merupakan
unsur penting dalam kehidupan beragama Batak.
Upacara sekitar tugu, tarian tortor (dulu upacara tortor di beberapa
daerah diiringi dengan kesurupan/trance), musik gondang, dan
penggunaan ulas, merupakan upacara melakukan hubungan dengan
nenek moyang dan kekuatan-kekuatan mistik alam supra-natural.
Ulas memiliki daya magis untuk berbagai kebutuhan, seperti
pengobatan, hubungan dengan nenek-moyang, dan kesuburan.
Penguburan kembali tulang-tulang yang sudah lama dikubur juga
merupakan usaha untuk tetap menghadirkan yang mati ke dalam
kehidupan pada masakini. Dalam upacara penguburan tulang yang
sudah mati selama 20 tahun, dipercaya bahwa roh orang mati itu
sudah mencapai status nenekmoyang yang penuh.
Dalam perkawinan upacara sahut-menyahut saling memberi katakata pantun berkat antara wakil-wakil mempelai wanita dan pria
bermaksud untuk mendatangkan kebahagian dan kesehatan bagi
kedua mempelai, kesuburan keluarga, dan juga kesuburan tanah
untuk menghidupi keluarga itu.Dalam pemberkatan rumah baru,
keluarga Batak yan berada mengadakan pesta upacara yang disebut
harja. Dalam upacara ini disembelih babi-babi atau kerbau, dan tuan
rumah menunjukkan kekuatan dengan membagikan daging kepada
hadirin secara cukup termasuk tukar-menukar hadiah bagi yang
mampu.
Pada awal kedatangan misi Kristen dari Eropah (Dimulai dengan

German Rheinische Mission) terjadi perang budaya dan sempat


praktek tortor dan gondang dilarang dari Tarutung ke Balige karena
dianggap menghujat Tuhan, namun kemudian praktek budaya itu
bangun kembali di kalangan orang batak Kristen sekalipun tidak
memiliki makna mistik & magis sedalam sebelum kedatangan para
misionari, dan terutama untuk konsumsi turis.

4. AGAMA ASLI DI BADUI (BANTEN)


Dipercayai bahwa tempat tinggal orang Badui adalah Pancar Bumi
yang suci, dan nenek moyang, sebagai turunan manusia pertama,
menurunkan peraturan-peraturan hidup dalam pikukuh. Bila
seseorang melanggar, ia harus dikeluarkan dari kampung tantu
(dalam) ke kampung dangka (luar) dan harus mengalami upacara
penyucian. Orang badui dalam biasa kelihatan berpakaian putih
sedangkan Badui Luar berpakaian Biru-Hitam. Orang Badui dalam
dilarang berhubungan dengan orang luar, karena itu hubungan itu
dilakukan melalui Badui Luar yang menjual barang -barang hasil
pertanian mereka ke kota-kota disekitar Badui.
Sesembahan orang Badui disebut Batara Tunggal yang dianggap
sebagai kekuatan yang maha hadir yang bisa dipersonifikasikan
sebagai manusia yang bijak dan suci. Nenek-moyang dipercaya
tinggal di kebuyutan di Sasaka Damas, di hulu sungai Ciujung.
Orang Badui mendapat tugas untuk tetap menjaga kesucian pusat
bumi itu dengan cara hidup sederhana, rendah hati, dan tidak
merusak lingkungan, ini dicapai dengan kehidupan yang asketik.
Semua ini ditulis dalam pikukuh, yaitu kumpulan peraturan nenekmoyang.
Menurut orang badui, dunia terdiri dari 'unia atas'(buana nyungcung)
yang dihuni dewa-dewi dan nenek moyang, dan 'dunia bawah' (buana
rarang). Manusia tinggal di 'dunia tengah' (buana panca) yang
berbentuk bentuk solid sekitar tiang nenek-moyang yang dikenal
sebagai Sasaka Pusaka Buana. Ini dianggap sebagai pusar dunia
(pancar bumi) yang berlokasi di Pamuntuan lereng sebelah Barat
gunung Kendeng. Lokasi itu disebut Arca Damas dimana ada banyak
batu megalitik. Setahun sekali orang badui bersemedi di sini untuk
membersihkan pusar dunia ini.
Orang Badui menganggap bahwa mereka adalah keturunan 7 dewa
Batar yang diutus oleh Batara Tunggal, yang digambarkan sebagai
kekuatan yang tidak kelihatan yang hadir dimana-mana. Para nenekmoyang yang telah meninggal dipercaya tinggal bersama di
kabuyutan yang berlokasi di Sasaka Damas.
Kehdupan orang badui berkisar pertanian dan upacara pertanian
ditujukan kepada dewa/roh Padi yang disebut Nyi Pohaci, yang

melalui upacara dibangunkan untuk menikah dengan bumi,


penyatuan mana disebut Nyi Pohaci Sanghyang Asri.

5. AGAMA ASLI DI DAYAK (KALIMANTAN)


Orang dayak memiliki kepercayaan mirip orang Batak, mereka
percaya bahwa manusia berasal dari persatuan 'dewa langit'
(diidentifikasikan sebagai burung enggang) dengan laut atau 'dewi
air' (diidentifikasikan sebagai naga). Manusia tinggal dalam 'dunia
tengah' di antara 'dunia atas' dan 'dunia bawah'.
Orang dayak percaya bahwa para dewa harus disenangkan pada
waktu-waktu tertentu agar memberikan kesejahteraan dan kedamaian
bagi manusia. Manusia dipercayai memiliki jiwa atau daya hidup
sama halnya dengan semua benda alam yang harus dijaga.
Keteraturan dan keseimbangan hidup kosmis dicapai dengan
keharusan mengikuti Adat yang dianggap berasal dari para nenek
moyang yang menerimanya dari para dewa dan harus dijalankan
turun-temurun agar hidup memperoleh berkat dan kesuburan, bila
tidak mereka akan mengalami malapetaka.
Adat menj aga keseimbangan kosmis yang dikaitkan dengan
kesuburan tanah, dan menghindarkan mereka dari kemarahan dewa
maupun gangguan roh. Manusia dianggap memiliki tubuh dan jiwa,
dan jiwa dapat meninggalkan tubuh melalui mimpi dan berhubungan
dengan roh-roh. Seseorang yang rohnya tidak kembali akan
mengalami sakit atau kerasukan roh jahat dan bila tetap demikian
akan mati. Pertolongan diperoleh melalui para dukun yang akan
mengusir roh jahat dan memanggil roh orang itu kembali. Orang
mati rohnya perlu diantar langsung ke dunia orang mati agar tidak
mengganggu yang hidup, ini dilakukan melalui upacara-upacara
penguburan dan tabu-tabu.

6. AGAMA ASLI BALI GUNUNG (PULAU BALI)


Bali memiliki agama asli disebut Bali Kuna ( Bali Aga) yang
dipercaya penduduk pegunungan di Bali sekitar gunung-gunung
Agung, Seraya (Karangasem), Batur (Bangli), batukau (Tabanan),
yang mempercayai adanya 'bapak langit' (Sang Hyang Aji Akasa)
dan 'bumi' yang diperintah oleh Ibu Pertiwi. Segala sesuatu dalam
alam ini terjadi karena perpaduan keduanya dan harus dijaga sesuai
kesimbangan kosmis yang dualistis melalui upacara-upacara.
Upacara tidak ditujukan kepada mereka melainkan kepada nenek
moyang yang dilakukan dalam pusat-pusat upacara atau banua. Pura

terbesar dan tertua adalah Pura Pucak Penulisan (di Sukawana)


dengan Pura Kauripan di dalamnya sebagai sumber rohani. Upacaraupacara dilakukan demi keseimbangan kosmis dan berpusat di pura
yang dianggap sebagai tempat tinggal nenek-moyang mereka.

7. AGAMA ASLI DI LOMBOK


Pulau Lombok dihuni orang Sasak yang sekalipun masakini
umumnya menganut agama Islam yang disebut waktu lima, ada juga
keturunan agama sinkretik asli yang disebut wetu telu (tiga waktu).
Penganut yang masih mengikuti wetu telu masih bsa dijumpai di
daerah -daerah terisolir seperti di Lombok bagian Utara dan Selatan.
Agama Wetu Telu Lombok memiliki kemiripan dengan agama
Hindu-Bali maupun Kejawen (Jawa-Islam). Kesamaan utama adalah
kepercayaan nenek-moyang, dimana dianggap bahwa ada penerusan
hidup sesudah mati (mirip agama nenek moyang Tionghoa/China).
Selama hidup roh manusia dapat berkelana selagi tidur (dalam
bentuk mimpi), dan ketika meninggal roh itu meninggalkan tubuh
berkelana tanpa tempat tinggal. Untuk menghindari roh kelana ini
mengganggu manusia hidup, dilakukan upacara-upacara agar roh itu
berkumpul dengan nenek-moyang.
Roh nenek-moyang masih tetap berhubungan dengan manusia dan
mempengaruhi hidup manusia, karena itu roh itu diundang dalam
upacara dan dimintai berkatnya bagi yang hidup. Roh-roh nenekmoyang ini juga membantu masyarakat menghadapi gangguan supranatural maupun serangan luar. Juga dipercayai kekuatan tidak
berpribadi dalam alam yang menguasai semua bagian alam dan harus
dihayati dalam keseimbangan.
Dalam sinkretisme dengan agama Islam yang berpusat di mesjid
wetu telu Islam di Bayan, mereka tidak melakukan ibadah jumat
tetapi merayakan Ramadan dan hari kelahiran nabi Muhammad,
dalam upacara itu juga ada kurban-kurban termasuk menggunaan
lambang patung naga. Pertemuan dua jumat berturut-turut dilakukan
bila terjadi bencana alam dimana para kya bertemu untuk
sembahyang bersama untuk keseimbangan alam.

8. ALIRAN KEPERCAYAAN
Aliran kepercayaan atau faham kebatinan/mistik di Indonesia sudah
terlihat jejaknya sejak kuno. Setidak-tidaknya agama-agama suku
yang asli mempercayai kekuatan mana dan animisme yang kemudian

berkembang menjadi ajaran mistisisme atau kebatinan sebelum


kemudian diresmikan dengan nama aliran kepercayaan.
Ketika agama Hindu masuk ke Indonesia rupanya kebatinan Hindu
(Upanishad) ikut membentuk ajaran kebatinan di Indonesia. Harun
Hadiwiyono dalam bukunya 'Kebatinan dan Injil' membagi aliran
kebatinan menjadi 5 macam, yaitu (1) yang bersifat sederhana dalam
ajaran seperti Paguyuban Sumaran; (2) aliran yang mirip seperti
Sapta Dharma; (3) yang mendasarkan dirinya pada Al-Quran seperti
Bratakesawa; (4) yang mendasarkan dirinya pada ajaran Kristen
seperti Pangestu; dan (5) yang mencoba mengemukakan teori
antropologi-biologi berdasarkan kebatinan seperti yang dipopulerkan
oleh Paryana Suryadipura (buku Alam Pikiran).
1. KONSEP MENGENAI YANG SUCI
Pada dasarnya aliran kebatinan mempercayai bahwa yang disebut
sebagai 'yang suci' itu adalah zat semesta yang mendasari terjadinya
segala sesuatu di alam ini. Hanya bedanya dengan monotheisme
dimana 'yang suci' itu dipercayai sebagai berpribadi, dalam
kebatinan, zat yang mutlak itu disebut tidak berpribadi yang juga
disebut sebagai Macro Cosmos. Dalam Pangestu ada konsep nunp
ketuhanan Islam dan Kristen tetapi bedanya konsep Allah ini tidak
bersifat pribadi, dan kemiripan dengan agama Kristen terletak pada
konsep tritunggal yaitu 'Allah Maha Esa' yang menyatakan diri
sebagai Tri Purusa yang dimengerti sebagai 'Keadaan Satu yang
bersifat tiga' yang disebut 'Sukma Kawekas, Sukma Sejati, dan Roh
Suci' tetapi beda dengan tritunggal Kristen, disini Sukma Kawekas
adalah Zat yang Mutlak itu, Sukma Sejati dianggap jelmaan Sukma
Kawekas seperti Yesus, tetapi yang disebut Roh Suci adalah jiwa
manusia atau manusia sejati dan hakekat manusia itu sendiri. Ia
adalah Cahaya Allah dan sehakekat dengan Allah sendiri, dan Ia
adalah satu dengan Sukma Sejati dan Sukma Kawekas.
2. PERNYATAAN YANG SUCI
1. Orang-orang Suci
Kebatinan tidak mengenal nabi atau orang-orang suci dalam
kedudukan struktural karena semua orang dapat mencapai kesucian
dan kesempurnaan batinnya sendiri. Biasanya tokoh-tokoh pendiri
aliran kebatinan dihormati sebagai tokoh pendiri saj a.
2. Tempat-tempat Suci
Tempat suci bagi pengikut kebatinan praktis tidak ada, hanya
beberapa tempat khusus yang biasanya dianggap memiliki kekuatan
gaib (angker) dianggap sebagai tempat suci, seperti gua tertentu,
kuburan, pohon besar, gunung dsb.nya sebagai warisan animisme.

3. Kitab-kitab Suci
Biasanya aliran kebatinan tidak mempunyai kitab-kitab suci karena
yang dipentingkan adalah jalan pribadi menuju keheningan cipta
melalui jalan semedi/meditasi yang dipelajari dari orang ke orang.
Pengajaran sifatnya adalah menurunkan hikmat pribadi dari satu
orang ke orang lainnya.
3. KONSEP MENGENAI MANUSIA
Dalam kebatinan, manusia dianggap bagian dari Zat Semesta, jadi
tuhan dan manusia dianggap sehakekat dan sezat. Manusia disebut
sebagai Micro Cosmos dan jiwa manusia adalah bunga api ilahi.
Manusia pada dasarnya adalah jiwa atau roh yang dibelenggu oleh
badan kasar atau badan wadag yang sangat dipengaruhi oleh
nafsunya.
.4. UNGKAPAN BERAGAMA MANUSIA
1. Jalan Keselamatan
Jalan keselamatan dalam kebatinan adalah bersatunya Micro Cosmos
kembali kepada Macro Cosmos sumbernya. Jalan ini dengan tepat
digambarkan dalam Paguyuban Sumarah sebagai: "Ilmu Sumarah
adalah suatu ilmu kebatinan yang dengan jalan sujud sumarah
(menyerahkan diri) mempelajari sampai tercapai bersatunya jiwa
dengan Dhat yang Mahaesa." Kelepasan terjadi bila telah terjadi
penyatuan itu atau terlepasnya jiwa dari tubuh manusia.
Berbeda dengan aliran Sumarah dan Sapta Dharma yang melakukan
penyatuan dengan jalan meditasi, aliran Bratakesawa melakukan
rasionalisasi kebatinan didasarkan ajaran Al-Quran dan menekankan
amal atau perbuatan baik Kejawen adalah sinkretisasi kebatinan
Hindu dengan Islam. Aliran Pangestu yang merupakan singkatan dari
'Paguyuban Ngesti Tunggal' yang berarti 'Persatuan untuk dapat ber
tunggal. '
2. Komunitas Umat
Komunitas umat dalam kebatinan lebih merupakan paguyuban
dimana umat melakukan pertemuan dan melakukan semedi bersama
-sama, tetapi secara umum semedi mereka lakukan secara
perorangan. Pengajaran diberikan tidak melalui perguruan tetapi
melalui sistem pamong (pengasuhan).
3. Upacara Agama
Dalam kebatinan tidak ada upacara khusus seperti yang terdapat
dalam agama -agama, tetapi yang ada adalah praktek semedi atau
meditasi sebagai usaha untuk mencapai sujud yaitu penyatuan itu.
Ciri khas aliran kebatinan adalah tujuannya yang diarahkan pada
penyelamatan diri sendiri sehingga kurang memiliki tanggung jawab
terhadap dunia ini seperti tugas sosial misalnya.

9. KEPERCAYAAN KEPADA TUHAN YANG MAHAESA


Di lndonesia aliran kebatinan mengalami perkembangan yang
menarik, karena bila selama ini berjalan sendiri-sendiri dan dicurigai
banyak pihak, kemudian berusaha menempatkan diri sejajar dengan
agama-agama lainnya, dan bersatu dibawah satu organisasi
pengayom atau payung, dan sekalipun belum diakui sebagai agama,
kedudukannya sudah diakui setara dengan ke-lima agama yang sudah
diakui sejajar yaitu lslam, Kristen-Protestan, Kristen-Katolik, Hindu,
dan Buddha.
Menempatkan diri di antara agama-agama yang diakui, bagi aliran
kebatinan tidaklah mudah karena pengertian mengenai tuhannya
berbeda dengan agama-agama yang diakui pemerintah, itulah
sebabnya dalam usaha menempatkan diri, ada usaha di kalangan
kebatinan untuk menghindari perbedaan dan ingin menempatkan diri
bukan sebagai pesaing agama-agama tetapi sebagai pelengkap yang
melengkapi aspek batin dari agama -agama.
Setidaknya ada dua pendapat di kalangan agama-agama, disatu pihak
ada yang menganggap kebatinan bisa menj adi pelengkap untuk
menguatkan batin agama -agama tetapi dipihak lain ada pendapat
yang mengatakan bahwa kebatinan lebih bersifat merusak agama,
jadi harus ditolak, itulah sebabnya sampai sekarang kebatinan belum
diakui sebagai agama tetapi diakui sebagai Aliran Kepercayaan yang
dimasukkan dibawah Depdikbud.
1. Proses Pengakuan Pemerintah RI
Perkembangan aliran kebatinan menjadi aliran kepercayaan yang
diakui pemerintah dimulai tahun 1945 dimana dalam UUD 1945
(pasal 29) disebutkan bahwa:
"Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk
agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya
dan kepercayaan itu."
UUD ini mendorong berkembangnya aliran kepercayaan di lndonesia
sehingga di tahun 1953 sudah terdapat 360 agama baru. Di tahun
1954 Depag mendirikan 'Pengawasan Aliran dan Kepercayaan
Masyarakat' (PAKEM) yang dususul dengan 'Badan Kongres
Kebatinan lndonesia' (BKKI) di Semarang (1955) dan di Solo
(1956).
Dari tahun 1956-1962 diadakan beberapa kongres dan seminar dan di
tahun 1960 PAKEM diambil alih oleh Kejaksaan dan disusul 1961

dengan dikeluarkannya 'UU Pokok Pengawasan Preventip Terhadap


Aliran-Aliran Kebatinan'. Di tahun 1966 didirikan 'Badan
Musyawarah kebatinan' dibawah Sekber Golkar dan pada tahun 1968
didirikan 'Paguyuban Ulah Kebatinan se-Indonesia' (PUKSI).
'Simposium Nasional Yogya' (1970) meminta kepada Pemerintah RI
agar keberadaan aliran kepercayaan diakui secara resmi sesuai UUD1945 pasal 29 ini dilanjutkan dengan 'Munas Kepercayaan Yogya'
pada tahun yang sama.
Di tahun 1971, Jaksa Agung RI mencatat adanya 282 aliran
kepercayaan, dan 167 aliran lain dilarang, sedangkan di tahun 1972,
menurut berita PAKEM, jumlah aliran disebut ada 427 cabang
kebatinan dari 217 aliran dan pengakuan pemerintah secara resmi
dikeluarkan dalam ketetapan MPR tanggal 22 Maret 1973, ketetapan
mana diperkuat dengan Ketetapan IV, MPR II di tahun 1978 dengan
catatan bahwa aliran kepercayaan dipisahkan dari agama, tetapi tidak
membentuk agama baru, dengan demikian, selanjutnya aliran
kepercayaan di lndonesia diakui sejajar hak-haknya dari agama lain
sekalipun bukan berbentuk agama.

Top

BP

Post subject: Re: PERBANDINGAN AGAMA


Posted: Tue Jan 06, 2009 9:44 am

Merdeka dlm Kristus

VI. GERAKAN ZAMAN BARU (NEW AGE


MOVEMENT)

Joined: Fri Jun 09,


2006 5:20 pm
Posts: 8936

Gerakan Zaman Baru (GZB) atau New Age Movement (NAM)


adalah kebangunan kembali agama alam (Pantheisme) Timur yang
juga merambak dunia Barat, dan mempengaruhi segenap aspek hidup
manusia. Kebangkitan ini dengan jelas kita lihat dalam kebangunan
kebatinan (mistik), perdukunan (shaman, okult), dan psikologi baru
yang menekankan dan berpusatkan "jati diri manusia", dimana
manusia menjadi pusat semesta (Humanisme Baru). Pada prinsipnya
GZB mempopulerkan kembali kepercayaan dan praktek agamaagama Pantheisme seperti Hinduisme, Buddhisme, dan Taoisme,
tetapi dipraktekkan dengan wajah praktis dalam bentuk latihanlatihan kesehatan dan hidup baru. GZB beranggapan bahwa:
"Pada dasarnya dibalik alam semesta ini ada Kekuatan
Semesta (Power, Force, Energy) yang menjadi sumber
terjadinya segala sesuatu, dan manusia adalah bagian dari

kekuatan semesta itu, atau dengan kata lain kalau kita


menyebut kekuatan semesta itu sebagai "kekuatan besar"
(Makro kosmos) maka manusia adalah "kekuatan kecil"
(mikro kosmos). Melalui latihan pernafasan, meditasi dan
olah batin maka manusia mencapai kesatuannya dengan
kekuatan semesta itu."
Dalam perdukunan (Shamanisme) kekuatan semesta itu dianggap
kekuatan magi besar dan manusia berusaha membangkitkan
kekuatan itu agar kebal, dan dalam kebatinan kekuatan semesta itu
dipandang sebagai roh kehidupan semesta dan manusia berusaha
menyatukan tenaga batinnya dengan kekuatan semesta itu atau
membangunkan sifat ilahi manusia.
Dalam hubungan dengan keKristenan, yang menjadi masalah adalah
bahwa kepercayaan allah sebagai "Kekuatan Semesta" itu menolak
hakekat Allah yang berpribadi, Allah hanya dianggap sebagai
Kekuatan Energi saja yang mengikuti hukum dualisme negatippositip (yin-yang) dan manusia dengan kemampuannya (baik pikiran,
penglihatan, kekuatan kata-kata) dapat menjadikan dirinya
berpotensi seperti kekuatan semesta/allah itu pula.
Tema film New Age umumnya berpusat pada pertempuran yang
tidak habis-habisnya antara kekuatan jahat dan baik (yin dan yang),
dan bagaimana manusia memanfaatkan kekuatan itu (seperti 'The
Force' dalam serial Star Wars). Latihan silat dan senam kesehatan
pada prinsipnya berusaha membangunkan tenaga dalamlbatin kita
untuk memperoleh kekuatan semesta itu di luar campur tangan
Tuhan.
Gerakan Zaman Baru mengajarkan beberapa hal berikut:
1. Hakekat Allah Alkitab sebagai Pribadi dan Pencipta ditolak.
"Allah" hanya dianggap sebagai roh/nafas alam semesta atau
kekuatan dan energi semesta saja;
2. Dunia dianggap sebagai pertarungan kekuatan negatip dan positip,
kekuatan gelap dan terang, kekuatan kejahatan dan kebenaran.
Hakekat Iblis sebagai pribadi ditolak;
3. Yesus Kristus tidak diterima sebagai Juruselamat dan hanya
dianggap sebagai salah satu tokoh agama saja. Drama penebusan,
pencurahan darah dan penyaliban Yesus Kristus ditolak dan dianggap
tidak ada artinya. Manusia dapat menyelamatkan diri dengan
kekuatan dalam dirinya;

1. NEW AGE

Pengaruh ajaran New Age menyebar dengan luar biasa. Bila kita
membaca koran, akan sering ditawarkan praktek pengobatan
altematif, pelatihan dan seminar yang menonjolkan 'Program
Pengembangan Diri' (self improvement program / human
development program). Berbagai istilah dipopulerkan dalam
pelatihan/seminar demikian, seperti percaya diri, perbaikan diri,
potensi diri, pencapaian diri, aktualisasi diri dan lainnya yang pada
umumnya menekankan bahwa manusia memiliki kekuatan/kuasa diri
yang dapat dikembangkan demi mencapai sukses hidup.
a. DIRI (SELF)
Secara umum, diri (self) manusia dipercaya memiliki kekuatan atau
kuasa yang sudah inheren di dalam diri manusia. Diri (self) manusia
ini dianggap mengandung kekuatan yang bisa digali oleh manusia.
Diri ini disebut dalam berbagai nama seperti potensi, kekuatan, daya
batin, kuasa yang dalam serial film Star Wars dikenal sebagai The
Force. Dalam pelatihan/seminar pengembangan diri, memang nama
'diri' itu bisa dijumpai dalam berbagai sebutan yang menarik.
Misalnya Anthony Robbins menyebutnya 'the giant within you, '
HND-Training di Bandung menyebutnya 'the diamond in you. ' Diri
yang memiliki kekuatan ini dalam istilah mistik yang
melatarbelakanginya disebut dalam berbagai nama, seperti chi
(China), Kundalini/Prana (India), ki/reiki (Jepang), dan Tenaga
Dalam / Sukma Kawekas (Indonesia/Jawa).
Sejalan dengan keyakinan mistik yang menganggap bahwa diri
manusia itu bersifat ilahi atau bagian dari kekuatan keilahian (micro
cosmos), maka sering diri manusia itu diidentikkan dengan ke ilahian
dan juga dikaitkan dengan konsep theisme kristen. Bebetrapa buku
mengenai Gerakan Zaman Baru (new age) menyamakan Chi sebagai
'ruach elohim,' bahkan Carl Jung pakar psikologi yang terpengaruh
ajaran mistik timur itu menyebut diri manusia sebagai 'Imago Dei'
gambar Allah dalam diri manusia.
Tidak kurang beberapa pelatih pengembangan diri yang beragama
Kristen mempopulerkannya sikretisme konsep diri mistik dengan
kekristenan dan menyebutnya sebagai 'the leader within you' (John
C. Maxwell), 'the huge reservoir' (Norman Vincent Peale), dan
mendorong orang mengucap 'My strength is made perfect in my
strengths' (Purpose Driven Life). Paulus Winarto sering diundang
gereja-gereja untuk membawakan pelatihan yang pemah ditulisnya
dalam buku 'reach your maximum potential' dan tidak kurang tokoh
persekutuan mahasiswa Kristen mengajarkan hal yang sama (Dale
Carnegie).
Secara umum pengidentifikasian konsep 'Diri' dengan 'Tuhan'
menempatkan manusia setara dengan Allah. Seorang tokoh Gerakan
Zaman Baru (new age) yaitu Shirley Mc.Laine menyebut dengan

lantang: "I am god." (bandingkan dengan ucapan Benny Hinn,


Kenneth Hagin, & Morris Cerulo bahwa manusia adalah 'little gods').

b. SUKSES
Bila kita mengamati pelatihan/seminar pengembangan diri itu,
apakah itu dilakukan oleh seorang new ager maupun yang beragama
kristen, umumnya yang ditawarkan adalah dengan kemampuan
dalam diri sendiri seseorang bisa dicapai sukses dan kehidupan
berkelimpahan. Sukses disini yang dimaksudkan adalah sukses
menurut ukuran dunia, jabatan tinggi dengan penghasilan yang tinggi
pula.

2. KEKUATAN BATIN / PIKIRAN


Positive Thinking dan kekuatan dalam diri manusia itu sebenarnya
berasal dari dunia mistiklmagis kuno yang sudah lama dipraktekkan
dalam rangka okultisme perdukunan seperti dipraktekkan dalam
kepercayaan tentang tahyul, nasib, mistik, magis, spiritisme, dan
satanisme. Hongsui/Fengshui adalah bagian dari kepercayaan ini
yang beranggapan bahwa manusia dengan kekuatannya berada
secara geosentris dalam permainan kosmos.
Sebenarnya ajaran mengenai kekuatan batin/pikiran sudah jauh
diajarkan dalam kepercayaan premordial, dalam manisme dan
terutama mistisisme (kebatinan) dan bangun kembali sebagai New
Age pada masa kini. Dalam kepercayaan kuno, ada kesadaran bahwa
dunia ini bukan sekedar dunia yang kita rasa dan raba saja tetapi ada
realita lain yang lebih besar dibaliknya.
a. MANA, KUNDALINI, CHI/KI/ZEN
Beberapa bentuk dan panggilan Kekuatan Batin/Pikiran yang sudah
kita pelajari adalah a.l. Mana dan Magi, kekuatan Piramid,
Kundalini/Prana, Chi/KilZen, dan dalam New Age dikenal istilah
modem seperti Bioenergy atau The Force.
b. THE FORCE
Manisme dalam budaya premordial dan kekuatan batin/pikiran dalam
budaya mistik, digambarkan secara modem dalam film garapan
George Lucas yaitu 'Star Wars.' Dalam Star Wars, konsep Mana dan
Kekuatan itu digambarkan sebagai 'The Force' (Sang Tenaga) sebagai

energi atau medan energi yang memberi dorongan hidup pada semua
mahluk, ada yang memiliki sedikit ada yang banyak, dan energi ini
bersifat netral & memiliki dua aspek berlawanan sisi baik dan jahat.
Jelas terlihat bahwa konsep 'The Force' tidak beda dengan Mana,
Kundalini, Chi, Ki dll.nya yang merupakan kekuatan batin/ pikiran
yang bisa diolah manusia. Dualisme mistik juga menjiwai The Force
dimana didalamnya disebut mengenai sisi baikIterang dan sisi
jahat/gelap. Bukan hanya itu, sama dengan konsep Manisme dan
Mistik bahwa kekuatan itu dianggap sebagai bagian ilahi dan ilahi itu
sendiri, dalam serial Star Wars, The Force itu juga dianggap sama
dengan Tuhan. Bila umat Kristen berkata 'May God be with You,'
dalam Star Wars berubah menjadi 'May The Force be with You.'

3. NEW THOUGHT
Gerakan New Thought (Pemikiran Baru) dirintis tokoh-tokoh
Quimby, Mary Baker Eddy (yang dikenal sebagai pendiri aliran
Christian Science) dan Charles Filmore.
a. Phineas Parkhust Quimby
Quimby mempelajari sipritualisme (hubungan dengan orang mati),
hidroterapi, mesmerisme (hipnotis) dan berbagai eksotika kejiwaan
lainnya yang berkembang pada masa hidupnya. Ia terpengaruh
hipnotisme yang diajarkan guru Perancis Charles Poyen yang
mengunjungi Portland, dimana Quimby tinggal, pada tahun 1827.
Quimby mengidap cacat, dan pada tahun 1838 ia mulai mencoba
ilmu hipnotis yang dipelajarinya untuk menyembuhkan dirinya
sendiri. Dalam beberapa tahun usahanya berhasil dan pada umurnya
yang 60-an ia dikenal sebagai seorang penyembuh (healer). Dalam
prakteknya ia mengamati bahwa bukan obat-obat yang
menyembuhkan pasiennya tetapi kepercayaan pasien bahwa obat itu
bisa menyembuhkan yang memegang peran utama.
Penyembuhannya bersifat mental. Ini kemudian mendorong Quimby
mengobah cara hipnotis dan menggantinya dengan sugesti mental
yang sederhana. Ia menggunakan kekuatan batin atau pikiran.
Quimby disebut sebagai pelopor mind cure dan aliran ini kemudian
dikenal sebagai New Thought (pemikiran baru).
b. Mary Baker Eddy a Christian Science
Christian Science (Ilmu Pengetahuan Kristen) adalah agama yang
timbul di Amerika Serikat yang tidak mau mengakui hakekat materi
dan bersandar semata-mata pada sebuah dalil, yakni bahwa secara

mutlak realitas dari segala sesuau adalah roh saja. Propaganda dari
aliran ini adalah surat kabar Christian Science Monitor dan brosur
yang diterbitkan berjudul Christian Science Sentinel. Christian
Science mengajarkan bahwa realitas dari segala sesuatu adalah roh
saja, dan semua pengetahuan yang lazim (science) adalah omong
kosong belaka. Science yang benar adalah Christian Science yang
dapat mengikis segala anggapan yang keliru tentang penyakit, dosa
dan maut, yang dikira orang sebagai ada tetapi sebenarnya tidak ada.
Tidak dapat disangkal bahwa sebagai pelopor dari faham mind cure
(penyembuhan dengan pikiran) yang memberi peran utama pada
pikiranlbatin (mind) seseorang dalam mengatasi baik aspek
pengajaran (faham) maupun kesembuhan (health), ajaran Christian
Science dalam bentuk umum telah menjiwai pelatihan positive
thinking dan pengembangan diri (human potential movement) yang
terus berkembang pengaruhnya sampai kini.
Hanya bila Christian Science semula berpangkal dari penggunaan
pikiran untuk penyembuhan sakit penyakit, human potential
movement mempraktekkannya lebih luas kedalam bisnis dan
hubungan kemanusiaan. Mary Baker Eddy (lahir 1821) berjumpa
dengan Phineas Parkhust Quimby, yang mengajarkannya pengobatan
dengan hipnotis. Di sinilah ia terpengaruh ajaran yang menganggap
bahwa 'bukan obat-obatan yang memberi kesembuhan melainkan
sikap batin si sakit.' Lama kelamaan tumbuh keyakinan dalam
dirinya bahwa penyakit sebenarnya berasal dari pikiran si sakit
sendiri, karena itu pengobatannya harus melalui pikiran si sakit
sendiri. Inilah yang kemudian dikenal sebagai mind cure
(pengobatan melalui pikiranIbatin).
c. Charles Filmore
Salah satu murid Mary Baker Eddy adalah suami isteri Charles
Filmore. Keduanya juga mengalami cacat dan berhasil mengalami
kesembuhan melalui mind cure, dan kemudian Filmore menulis buku
berjudul Modern Thought (1889). Di tahun 1891 keluarga Filmore
mulai melayani kekristenan secara praktis melalui pemikiran
barunya. Mereka membentuk Society of Silent Help yang
kemudian disebut Society of Silent Unity.
Sekalipun tidak bergabung dengan gereja Christian Science Mary
Baker Eddy, ia memiliki faham kekristenan sendiri dan pada akhir
pelajaran yang diberikannya, sebagai disiplin mental ia selalu
mengucapkan:
"I am the Christ of God .... kesempurnaan saya sekarang
dibentuk dalam pikiran ilahi (divine mind) .... Keragu-raguan
dan ketakutan saya sekarang teratasi dan saya bersandar pada

keyakinan dan damai pada hukum yang tidak berubah dari


Tuhan .... Saya tidak lagi menyalahkan, mengkritik,
menyensor atau mencari kesalahan rekan-rekan. Juga saya
tidak akan merendahkan atau menghukum diri sendiri ....
Saya tidak takut, sangat kuat dan bijak dalam kasih Tuhan."
(Filmore, hlm. 82,98,127,138).
Bawah sadar manusia tidak memiliki keyakinan demikian, itu harus
diisi terus menerus. Tujuan lain selain untuk tujuan kesembuhan
melalui pikiran, juga untuk kemakmuran. Buku Filmore berjudul
prosperity (kemakmuran, 1936) sangat terkenal, dan ia
mengemukakan bahwa adalah salah kalau umat Kristen miskin,
karena kemiskinan adalah dosa. Lebih lanjut dianggap kemakmuran
bukan sekedar memiliki kekayaan tetapi kemakmuran harus menjadi
bagian dan hasil dari pemikiran seseorang.

4. POSITIVE THINKING
Faham Positive Thinking secara populer dikenal melalui tulisan Dale
Carnegie, Napoleon Hill, Norman Vincent Peale, Robert Schuller,
dan lain-lainnya, dan perkembangan populer karena didongkrak
dengan dukungan pemikiran ahli-ahli ilmu jiwa dalam seperti
William James (1842-1910), Sigmund Freud (1856-1939), Carl Jung
(1875-1961), dan Abraham Maslow (1908-1970).
a. Ahli llmu Jiwa Yang Mendasari
1. William James
Hidup pada pasca era pengaruh rasionalisme dan revolusi industri
yang melanda negaranya. Pada masa itu ada optimisme berlebihan
yang menganggap kemajuan industri dan teknologi terjadi karena
manusia sudah bertumbuh menjadi seperti Allah dan karena itu
manusia sebenarnya sudah tidak lagi membutuhkan Allah.
Keberadaan Allah tidak ditolak namun ketergantungan manusia
kepada Allah sudah tidak perlu. William James dan umumnya ahli
-ahli ilmu pengetahuan saat itu kebanyakan termasuk religious
agnostik (tidak peduli ada atau tidak adanya Allah).
James yang pertama menguak keberadaan jiwa tak sadar
(unconscious) dan konsep inilah yang menj adi dasar tulisannya
dalam bukunya yang terkenal 'The Varieties of Religious Experience.
'
Dalam pengamatannya ia melihat bahwa ada lebih banyak kehidupan
dalam jiwa manusia yang total daripada yang pernah disadari

manusia. Manusia sebenarnya menyadari bahwa dirinya bisa


diperluas ke bawah sadarnya. Kehidupan yang berkelimpahan
bergantung dari keterbukaan kita akan dimensi bawah sadar itu, dan
manusia dapat mencapai kekuatan yang lebih tinggi itu melalui jalan
saluran bawah sadar dirinya untuk memasuki sumber energi yang
tidak terhingga dalam dirinya.
James menyebut bahwa bawah sadar kita merupakan jejak religious
kekuatan yang lebih tinggi (higher power) yang adalah 'baik.' Ini
membekali setiap individu dengan pengalaman spiritual yang
sepenuhnya dan tertinggi secara langsung.
2. Sigmund Freud
Adalah ahli ilmu jiwa dalam yang bekerja semasa William James
hidup namun meninggal 29 tahun setelah James. Ia seorang dokter
namun tidak ingin praktek melainkan ingin menjadi sarjana yang
melakukan penelitian kejiwaan. Dari seorang dokter lainnya Joseph
Breuer, ia belajar tentang faedah cara pengobatan katharsis atau cara
pengobatan dengan membiarkan seorang mencurahkan kesulitannya.
Dengan minat dan semangat ilmiah yang besar, Freud mulai
menjelajah lebih dalam ke dalam jiwa pasien-pasiennya, ia
menemukan adanya tenaga-tenaga dinamis yang sedang bekerja dan
menjadi sebab timbulnya gejala-gejala abnormal yang harus
diobatinya. Lambat laun dalam pemikiran Freud terbentuk pendapat,
bahwa kebanyakan dari tenaga -tenaga itu adalah tenaga yang tak
sadar. Karena itu baginya bawah sadar merupakan bejana tak
terhingga yang menampung tenagatenaga demikian.
3. Car I Jung
Adalah murid Freud dan mewarisi pandangan gurunya, namun ia
juga tertarik faham mistik Zen Buddhisme. Pengaruh Okult dan Zen
Buddhisme yang diminatinya sangat kuat dalam pemikiran Carl
Jung.
Jung biasa mempraktekkan spiritisme dan mempopulerkan meditasi
mistik Zen sebagai salah satu terapi psikologinya, termasuk
mengajarkan apa yang disebut sebagai 'active imagination' dan
'bawah sadar kolektif dan menganggap bahwa melalui
imajinasi/visualisasi, seseorang dapat masuk ke dalam realita
roh/dunia dalam. Jung menekankan agar manusia melakukan
realisasi diri.
4. Abraham Maslow

Berpendapat bahwa psikologi behaviorisme dan psikoanalisis terlalu


kaku dan hanya berkaitan dengan penyakit, ia kemudian
mengembangkan teori motivasi, yang menggambarkan proses
perkembangan pribadi dari kebutuhan dasar seperti makanan dan
seks, menuju kebutuhan yang lebih tinggi. Perkembangan inilah yang
disebutnya 'aktualisasi diri', pemenuhan potensi manusia yang
tertinggi. Baginya, tujuan utama psikoterapi adalah inegrasi diri.
b. Positive Thinkers
Para Positive Thinkers yang mencuat adalah Dale Carnegie,
Napoleon Hill, Norman Vincent Peale, dan Robert Schuller.
1. Dale Carnegie
Termasuk dalam barisan yang menekankan Yesus sebagai model
eksekutif.
Tujuan dari misi Dale Carnegie adalah mendorong orang menjadi
model manusia baru yang memiliki kwalitas menuju sukses. Pada
prinsipnya Dale Carnegie ingin menghadirkan kepribadian bisnis
yang positif yang mendorong ke arah sukses. Salah satu tehnik yang
diajarkan adalah sikap 'Senyum' (smile).
Konsep Dale lainnya adalah manusia pada dasarnya memiliki
keinginan menjadi 'penting' (desire to be important). Orang tidak
tertarik kepada orang lain, ia tertarik kepada dirinya sendiri.
Berdasarkan kenyataan ini ia mengembangkan perilaku yang
menekankan senyuman dan memberi perhatian dan ketertarikan
kepada rasa penting pihak lain.
Bila kita mempelajari etika bisnis Dale, terlihat ia menekankan sikap
luar dalam memberikan senyuman fisik dan ketertarikan kepada
mementingkan orang lain, tapi tidak mendalam mencapai sikap yang
benar-benar secara jujur mengasihi orang yang dihadapi-nya
(artificial ethics). Senyum bukan karena mengasihi tetapi demi
menyenangkan orang, demikian juga tertarik menjadikan orang
penting bukan karena orang itu penting tetapi sekedar
menyenangkannya untuk menghasilkan sesuatu untuk diri sendiri.
Dalam hubungan dengan 'memenangkan teman' Dale cenderung
mengarahkan kepada tertariknya orang untuk menjadi teman bisnis,
tetapi Dale tidak mendorong terciptanya kesetiakawanan yang
mendalam (friendship).
2. Napoleon Hill
Mengembangkan lebih lanjut manipulasi diri dengan mind cure ini.

Ia menulis buku The Law of Success dan How to SeH Your Way
Through Life. Ia memberikan harapan sukses dalam pergaulan dan
bisnis melalui pemikiran yang positif dan optimis. Ia menulis buku
terkenal 'Think and Grow Rich' dan mengungkapkan bahwa dibalik
getaran manusia akan ketakutan, kemiskinan, penderitaan, penyakit
dan kegagalan yang tertanam dalam bawah sadar, ia melihat adanya
getaran akan kemakmuran, kesehatan, dan kekayaan dan
kebahagiaan.
Dalam hubungan dengan itu Hill mengajarkan bahwa manusia bisa
menyelaraskan diri dengan getaran kemakmuran dengan cara
berulang-ulang melakukan pengakuan akan sukses dan kemakmuran
yang positif.
3. Norman Vincent Peale
Bekerjasama dengan seorang ahli jiwa psikoanalis Smiley Blanton
murid ahli jiwa Sigmund Freud. 20 tahun setelah dimulainya
kerjasama itu, klinik psikologi-agamani yang didirikan mereka di
Marble Collegiate Church mengalami sukses.
Dalam bukunya The Art of living, Peale menyodorkan bentuk
kekristenan yang bersifat pelarian (Christianity of Escape). Dalam
situasi Amerika pasca-Perang Dunia II dimana Amerika Serikat
masyarakat mengalami kekosongan rohani, buku hiburan demikian
segera meledak dan dicari orang. Mengikuti pendapat ahli jiwa
William James tentang Enerji Manusia, ia menyebutkan bahwa
"kekristenan terapan ditujukan untuk menolong manusia menggali
kekuatan batin (inner power) dalam dirinya.
Peale mengajar kekuatan sugesti pikiran manusia (mind
power/positive thinking) yang dapat digunakan untuk mengatasi
semua masalah yang dihadapi manusia. Semua usaha itu ditujukan
agar manusia memperoleh "sukses dan kesembuhan pikiran" berupa
"sukses materi dan status sosial yang lebih tinggi". Karena daya tarik
inilah Peale mulai dikenal sebagai pelopor gospel of success and
mind cure atau gospel of positive thinking. Buku-bukunya tidak saja
ditujukan bagi orang Kristen tetapi ditujukan kepada umum. Prinsip
Peale yang digali dari pandangan ahli jiwa William James
beranggapan bahwa dalam batin manusia bawah-sadar ada kekuatan
tersembunyi yang tidak berhingga yang belum dimanfaatkan dan
digali dan sumber sukses itu sudah ada dalam bejana bawah sadar
itu.
Menurut Peale tugas manusia adalah meyakinkan diri bahwa hanya
pikiran yang baik sajalah yang memenuhi batinIbawah sadar kita,
sebab batin/ bawah sadar hanya akan mengembalikan apa yang
masuk ke dalamnya.

Bila Peale sudah memulai mencetuskan Kekuatan Batin/Pikiran


sebagai sumber sukses, maka Robert Schuller melanjutkannya
dengan istilah Possibility Thinking yang tidak lain sebenarnya nama
lain Positive Thinking. Buku-buku Schuller umumnya diberi kata
pengantar oleh Peale.
Schuller memiliki gagasan mengembangkan The Positive Possibility
Thought yaitu cara berfikir demi kemungkinan yang positif. Mirip
dengan Peale, Schuller memberikan harapan iman kepada
pendengarnya seperti tema-tema "Iman yang dapat memindahkan
gunung" dan "Bagaimana menjadikan impian kita nyata" yang
tentunya menarik. Para pendengar didorong untuk berfikir secara
positif untuk mencari kemungkinan-kemungkinan baru demi
mencapai sukses duniawi baik dalam perkawinan, bisnis, reputasi
dan karir. Cara berfikir itu dikembangkan dengan membangun
Crystal Cathedral yang mewah yang dengan pengkotbah pertama
Norman Vincent Peale.
Dalam "Self Love", ia mengemukakan bahwa cinta diri merupakan
"The Dynamic Force of Success" dan mendorong kita "Belajar
mencintai diri sendiri rahasia kebahagiaan dalam hidup, cinta dan
segala sesuatu yang kita lakukan", bahkan dikatakannya bahwa Cinta
Diri adalah keselamatan:

5. BEHAVIOUR TRANS FORMATION


Bila kekuatan dalam diri manusia dalam manisme dan dinamisme
bisa diolah melalui meditasi, pernafasan, dan gerak untuk
menghasilkan kekuatan tertentu dalam diri manusia untuk mencapai
kehidupan yang berkelimpahan, dan bila kekuatan itu kemudian
dimanipulasikan melalui mind cure dalam New Thought, maka pada
abad-20 kekuatan yang sama dimanipulasikan melalui faham
Positive Thinking. Di tengah kedua abad-20, sejalan dengan
kebangunan faham New Age (gerakan zaman baru), Positive
Thinking sebagai proses pemikiran berkembang dalam Behaviour
Transformation melalui seminar-seminar pelatihan pengembangan
potensi diri. (Human Potential Development Training).
Pada prinsipnya gerakan pengembangan potensi diri mengajak
orang-orang untuk menyadari kemampuan dalam diri manusia yang
tidak terbatas/terhingga (a.l, melalui positive thinking), untuk
mencapai kehidupan yang berhasil, damai, sukacita, cinta, dan hidup
berkelimpahan di bumi ini.
a. Mind Dynamics
Mind Dynamics dapat disebut perintis Pelatihan Pengembangan

Potensi Diri, didirikan Alexander Everett, pendeta Unity Church.


Pada tahun 1968 ia mendirikan Mind Dynamics. Unity Church
senafas dengan Christian Science yang menjadikan agama sebagai
kendaraan untuk mengembangkan daya pikir manusia untuk
mencapai cita-cita kesejahteraan di bumi. Unity juga mengadopsi
ajaran Hinduisme yang menganggap Tuhan hanya sekedar kekuatan
energi semesta yang tidak berpribadi (monisme), mempercayai
reinkarnasi dan menganggap dosa dan kejahatan hanya sekedar ilusi.
Alexander mengakui bahwa MD dikembangkan dari beberapa ajaran
spiritual seperti Theosophy, Rosicrucianisme (percayai Kristus
sederajat dengan tokoh agama lain dan bersifat roh yang mendiami
tubuh Yesus dan manusia yang bisa dibangunkan dengan amal baik),
Egyptology, Silva Mind Control (visualisasi dan meditasi dapat
memanfaatkan kekuatan okult dari diri untuk tujuan pengembangan
diri).
Sukses dan praktek MD yang oleh Ikatan Psikolog Amerika (APA)
disebut mempraktekkan pencucian otak (brainwashing) dan
manipulasi kejiwaan itu berjalan di luar kontrol sehingga
menimbulkan reaksi keras banyak peserta yang mengalami kejutan
mental sehingga kedua bentuk pelatihan itu ditutup menyusul
gugatan-gugatan ganti rugi.
Kematian Mind Dynamics dan Leadership Dynamics, menyebabkan
para in strukturnya memisahkan diri dan membentuk organisasi
pelatihan baru dengan nama masing-masing, namun menjalankan
prinsip pelatihan yang tidak beda jauh dari induk asal mereka, a.l.:
Bob White, Randy Revell, Charlene Afrenow, dan John Hanley
mendirikan Iifespring (1974).
Jim Cook pelatih Lifespring mendirikan Asia Works di Hongkong.
b. Lifespring
Lifespring didirikan John Hanley berbentuk kelompok-kelompok
berbasis seminar yang berfokuskan introspeksi dan manipulasi
kenyataan dan menciptakan manusia yang berkuasa atas
kehidupannya sendiri. Iifespring menekankan bahwa 'kebenaran'
(truth) adalah konsep yang relatif yang bisa diartikan macam-macam.
Sumber 'kebenaran' terletak pada 'pusat' (core) jiwa manusia. Pusat
ini berisi 'kebenaran' juga cinta dan identitas. Tujuan Lifespring
adalah untuk mengeluarkan 'pusat kebenaran' itu dan
mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Diyakinkan
bahwa ini bisa diperoleh melalui latihan-latihan Lifespring.
Dalam publikasi Iifespring Family News, disebutkan bahwa:
"Seminar memanfaatkan prinsip-prinsip, konsep-konsep intelektual,
dan tehnik yang paling effektif dari ... parashychology ... dan disiplin
Timur" (VoU, No.2).

The Iifespring Level yang baru, dimaksudkan untuk meningkatkan


kompetensi individu dalam penguasaan perasaan dan kemampuan.
Dalam pelatihan ini peserta dipaksa menghadapi ketakutan dan
menguasainya, seperti latihan 'berjalan di atas bara api' (firewalking)
dan 'berjalan di atas tali' (the Ropes Course).
c. Asia Works
Asia Works adalah cucu Mind Dynamics melalui ayah Iifespring.
Adalah Jim Cook mantan instruktur Lifespring yang membuka Asia
Works di Hongkong (1992). Asia Works kemudian membuka cabang
di Indonesia (1997).
Pelatihan Asia Works masih mengikuti pola pelatihan Lifespring
yang mula-mula. Pada tingkat Basic Training, peserta diajak belajar
melalui pengalaman hidupnya. Mereka diajak melihat kembali
kebiasaan-kebiasaan yang selalu dilakukan setiap hari, lalu
menimbang kebiasaan mana yang harus diteruskan bahkan
ditingkatkan serta mana yang harus ditinggalkan. Dengan proses
mengingat (reminding) diharap kehidupan peserta bertambah baik
dan effektif.
Pada tingkat Advanced Training, peserta melakukan lokakarya untuk
mencari solusi atas masalah secara intensif. Pada tingkat Leadership
Program, peserta belajar bagaimana dan apa artinya menjadi
pemimpin dalam hidup mereka sendiri. Mereka merancang tujuan
dan program tiga bulan yang ingin dicapai.
Daya tarik dari pelatihan Asia Works selain karena para instruktur
adalah orang-orang Amerika yang berbahasa Inggeris dan peserta
diusahakan agar termotivasi untuk mencapai tingkat kehidupan yang
lebih tinggi, juga suasana diusahakan bersifat kekeluargaan sehingga
ikatan antar peserta dan antar peserta dengan instruktur menjadi erat.
Behaviour Transformation training menarik karena meletakkan
tanggung jawab hidup pada diri sendiri yang dicapai dengan
kekuatan sendiri.

6. KESIMPULAN
Kita sudah melihat bahwa apakah itu Manisme & Magisme kuno,
Mind Cure, Positive Thinking, maupun Behaviour Transformation,
semuanya percaya adanya kekuatan dalam diri manusia. Yang
membedakan adalah kegunaaan dan cara menggunakannya. Positive
Thinking adalah salah satu cara menggali potensi/kekuatan
tersembunyi bawah sadar itu.

Beberapa kesimpulan bisa diambil sebagai berikut:


(1) Konsep 'Yang Satu' berupa Tenaga, Kekuatan (Force/Power) dan
Mana, merupakan konsep mistik yang meniadakan Tuhan yang
berpribadi (The Force menggantikan 'God');
(2) Konsep kekuatan yang inheren dalam diri manusia, berarti
meninggikan manusia setara Tuhan (slogan New Age: I am God);
(3) Usaha manusia menguasai kekuatan itu menjadi kebal, sakti,
bersifat ilahi, dan mencapai kemakmuran, menunjuk ke jalan
keselamatan di luar Tuhan;
(4) Positive Thinking sebagai salah satu j alan menguasai kekuatan
itu melalui pikiran, mengabaikan realita bahwa pikiran itu pada
hakekatnya terbatas dan bahwa manusia itu tidak sempurna dan telah
jatuh, dan keduanya perlu ditebus dan dikuduskan;
(5) Pandangan yang optimis akan keselamatan melalui jalan pikiran
(mind cure / positive thinking) mengabaikan dosa yang diidap
manusia yang sebenarnya membutuhkan pertolongan Tuhan;
(6) U mat Kristen perlu berfikir positif, namun pikiran positif yang
alkitabiah bukan merupakan usaha manusia yang ditujukan untuk
mencapai keselamatan dengan kekuatan sendiri, melainkan karena
umat Kristen sudah diselamatkan, ia patut bersyukur dan berbuahkan
pemikiran yang positif;
(7) Umat Kristen perlu berhati-hati dalam berurusan dengan New
Age (gerakan zaman baru) yang berpusat manusia karena dibaliknya
bersembunyi kekuatan okult. Dan roh-roh dunia;
(8) Sejarah praktek kekuatan pikiran (mind power) tidak lepas dari
sifatnya yang menolak Allah dan manusia ingin menj adi Allah.
Alkitab menceritakan kepongahan Menara Babel dan Lucifer yang
menyombongkan kemampuan dirinya, karena itu Tuhan melalui nabi
Yeremiah mengatakan agar kita:
"tidak mengandalkan manusia, kekuatannya sendiri, dan hatinya
menjauhi Tuhan" (Yeremia 17: 5)
"diberkati orang yang mengandalkan Tuhan dan menaruh harapannya
pada Tuhan (Yeremia I 7: 7)

Top

BP
Merdeka dlm Kristus

Joined: Fri Jun 09,


2006 5:20 pm
Posts: 8936

Post subject: Re: PERBANDINGAN AGAMA


Posted: Tue Jan 06, 2009 10:08 am

VII. MEMPELAJARI USAHA


KERUKUNAN ANTAR UMAT
BERAGAMA DALAM KONTEKS
PLURALISME AGAMA
Masyarakat primitip cenderung hidup dalam situasi terisolasikan,
eksklusip dan tertutup, dalam hal demikian perjumpaan dengan
agama-agama lain agaknya kurang terjadi. Dalam masyarakat yang
kemudian berkembang, lalu-lintas orang melebihi batas antar-negara
sehingga mulai terjadi perjumpaan dengan agama-agama yang lain
secara terbuka.
Sebenarnya sudah sejak lama terjadi perjumpaan antar agama-agama.
Ketika Abraham memasuki negeri Kanaan, monotheisme yang
dipercayainya diperhadapkan dengan agama politheisme Kanaan.
Demikian juga kita melihat dalam kasus raja Salomo yang memiliki
sampai seribu isteri + selir dari berbagai-bagai bangsa dan agama
terjadilah perjumpaan antar umat berbeda agama.
Ketika umat Israel ditawan ke Babil terjadi perjumpaan dengan
agama dan bangsa Babil dan Parsi, tetapi pertemuan kebangsaan dan
keagamaan yang majemuk (plural) makin nyata ketika bangsabangsa saling berekspansi dan agama-agama saling menjalankan
misi nya. Ketika bangsa Aria dari Persia memasuki India terjadi
perjumpaan antara agama Hindu primitip dengan agama Veda dan
ketika bangsa Arab memasuki India dimana Islam bertemu dengan
Hinduisme, demikian juga ketika Buddhisme masuk ke Tibet, China,
Korea dan Jepang maka terjadi perjumpaan dengan agama-agama
asli di sana.
Marco Polo membawa berita ke Eropah bahwa di tempat-tempat
yang dikunjunginya temasuk China dan Indonesia, ia menjumpai
banyak masyarakat dengan agama-agama yang baru diketahuinya.
Situasi ini mendorong timbulnya di kalangan orang-orang Eropah
(abad XVI-XIX) yang umumnya beragama Kristen, gerakan misi
yang luar biasa terjadi ketika kolonialisme menjadi tunggangan misi
Kristen dimana para misionaris Kristen berjumpa dengan agamaagama lokal, dan kala itu proselitisme menjadi agenda utama
mereka.
Situasi ini lebih mencuat ketika dunia mengalami modernisasi di
abad ke-XX dimana perjumpaan antara bangsa-bangsa dan agamaagama makin sering terjadi dan sifatnya kompleks dan majemuk,

maka terbukalah era Pluralisme khususnya Budaya dan Agama yang


tidak terhindarkan yang jelas menghasilkan dampak perbenturan
peradaban (clash of civilization) yang sering menghasilkan situasi
konflik yang tidak damai dan sering berdarah.
Bangkitnya semangat nasionalisme pada abad ke-XX di negaranegara yang dijajah mendorong disetarakannya budaya dan agamaagama negara-negara itu dengan budaya dan agama para penjajah.
Bahkan lebih dari itu, menurut Samuel Huntington dalam bukunya
'The Clash of Civilization' disebut bahwa penolakan terhadap
westernisasi bahkan sering menimbulkan sikap dan permusuhan
terhadap budaya dan agama para penjajah yang umumnya berasal
dari negara-negara Barat terutama Eropah, dan kembalinya penduduk
pribumi kepada nilai-nilai lama premordialisme baik budaya maupun
agama lokal.
1. PLURALISME AGAMA DI INDONESIA
Umat Kristen di Indonesia saat ini menghadapi pluralisme budaya
dan agama, apalagi dalam alam reformasi, pluralisme itu makin
menjadi nyata. Dalam hubungan dengan Pluralisme Agama, dalam
tiga dasawarsa terakhir ini sudah dirintis dialog-dialog antar umat
beragama yang makin dirasakan perlunya setelah dalam dasawarsa
terakhir abad ke-XX pertentangan SARA makin menjadi sengit.
Karena itu, pembahasan mengenai soal 'Pluralisme Agama dan
Dialog' makin dirasakan perlu untuk diketahui oleh umat Kristen
agar kita dapat ikut berbuat sesuatu demi kerukunan kehidupan
beragama di Indonesia.
Pada dasawarsa terakhir abad ke-XX, di Indonesia telah terjadi
sekitar 200 lebih kerusuhan massal yang banyak di antaranya
melibatkan konflik yang berlatar belakang SARA (Suku Agama Ras
dan Antar-golongan). Sejak masa kemerdekaan RI di tahun 1945,
telah terjadi
penghancuran/pembakaran gedung gereja mendekati 1.000 buah
dimana hanya 2 buah terjadi pada masa ORLA (1945-1966) dan
sisanya terjadi pada masa ORBA dan Reformasi (1966-2008), dan
menarik untuk dicatat bahwa dari pengrusakan itu mayoritasnya
justru terjadi pada dua dasawarsa terakhir.
Penghancuran/pembakaran bangunan tempat ibadah itu bukan saja
dialami oleh Gereja (sekalipun mayoritas), tetapi juga puluhan
Mesjid (Di Indonesia Timur), dan belasan Klenteng dan Vihara.
Konflik SARA juga menimpa beberapa pesantren aliran Syiah dan
khususnya menimpa Jemaat Ahmadyah dan Mesjid mereka dibakar.
Lebih-lebih perang massal berkepanjangan yang terjadi di Maluku
yang pecah sejak bulan Januari 1999 dan yang riak-riaknya terasa
sampai sekarang sempat bergema di Lombok dan di tempat-tempat

lain, dan pembakaran kompleks Doulos dan Setia di jantung Ibukota


Negara RI menunjukkan dengan jelas konflik berlatar belakang
SARA khususnya Agama sangat kental dan telah merengut ratusan
jiwa melayang.
Tercabik-cabiknya masyarakat Indonesia atas kelompok-kelompok
masyarakat yang berlatar belakang agama itu mendorong banyak
tokoh untuk ikut memikirkan usaha-usaha dalam meredakan dan
mengurangi konflik berdarah yang menimpa umat beragama itu.
Setidak tidaknya sejak tahun 1970-an pihak Departemen Agama RI
sudah mengusahakan pertemuan-pertemuan dialog antar umat
beragama di Indonesia.
Sekalipun semula terkesan bersifat formalitas, kemudian gayung
disambut oleh tokoh-tokoh agama yang ada di Indonesia seperti dari
kalangan Kristen Protestan, Kristen Katolik, Islam, Hindu dan
Buddha, dan sejak itu makin sering diusahakan pertemuanpertemuan dialog antar umat beragama, baik yang berskala Nasional
maupun yang berskala Internasional.
Tokoh-tokoh dari agama Kristen cukup banyak ikut merintis Dialog
Antar Agama. Gereja Roma Katolik sudah memulainya sejak tahun
1960-an sebagai tindak lanjut Konsili Vatikan-II yang membuka
perhatian pada agama-agama lain, dan di kalangan Kristen Protestan
usaha itu terjadi sebagai gema pembicaraan yang hangat dalam
Dewan Gereja Dunia (WCC) di tahun 1970-an yang kemudian
diteruskan oleh Persekutuan Gereja Indonesia (PGI)
Harus diakui bahwa prakarsa dialog lebih banyak diikuti oleh teologteolog dari kalangan Ekumenis (mainline churches) tetapi kurang
bahkan nyaris tidak diusahakan oleh kalangan Injili maupun
Pentakosta/ Kharismatik. Perkembangan 'dialog' yang cenderung
menuju sinkretisme agama dan sering mengorbankan iman Kristen
itu memang memberi andil besar yang menyebabkan banyak juga
gereja ekumenis dan kalangan Injili dan Pentakosta/Kharismatik
enggan ikut terjun kedalamnya. Tetapi, bisa juga hal ini terjadi
karena sikap fundamentalisme vertikalistis yang masih kuat di
kalangan gereja-gereja tertentu menyebabkan mereka menjauhi
pertemuan-pertemuan demikian yang dianggap bertolak belakang
dengan misi PI. Sebagai contoh, pelayanan frontal misi Nehemia
yang menolak nama Allah cenderung membuka front yang
menyebabkan dua penginjilnya dikenai fatwa-mati oleh Forum
Ulama di Bandung pada tahun 2001.
Kurangnya kesadaran akan dialog antar umat beragama bisa juga
terjadi bahwa kekurang pengertian akan perbandingan agama dan
dialog, dan hal ini menyebabkan masih banyak gereja- gereja enggan
atau berhati-hati dalam ikut serta dalam usaha dialog antar umat
beragama. Tetapi, mengingat konflik SARA di Indonesia makin
meruncing dengan ekskalasi yang terus meningkat, dialog bukan saja

perlu tetapi menjadi mendesak, karena itu menjadi salah satu tugas
gereja untuk ikut terjun dalam usaha ini.

2. PLURALISME AGAMA DAN DIALOG


Sejak tengah kedua abad-XX mulai ada penglihatan baru
menghadapi Pluralisme yang jelas tidak lagi bisa dihindari, dan
mulailah orang melihat Pluralisme sebagai sesuatu yang baik
sehingga diberi beberapa pengertian yang lebih positip, seperti:
"pluralisme adalah suatu situasi di mana bermacam-macam agama
berinteraksi dalam suasana saling menghargai dan dilandasi kesatuan
rohani meskipun mereka berbeda." (Breslauer).
"pluralisme adalah pemahaman akan kesatuan dan perbedaan, yaitu
kesadaran mengenai suatu ikatan kesatuan dalam arti tertentu
bersama-sama dengan kesadaran akan keterpisahan dan perpecahan
kategoris" (Jacob Agus).
Bersamaan dengan berkembangnya ilmu Perbandingan/Sejarah
Agama dan makin terbukanya literatur agama-agama yang bisa
dipelajari semua orang di seminari teologia maupun universitas,
maka terbukalah Pluralisme secara demokratis. Di lingkungan
Teologi Orthodoks yang bersifat mistik memang pluralisme agama
sudah lama disenangi, di kalangan Roma Katolik, Konsili Vatikan-II
(1962-63) telah menumbuhkan sikap yang lebih terbuka pada agamaagama lain, dan di kalangan Kristen Protestan sejak tahun 1970-an
Dewan Gereja-Gereja Dunia (WCC) mulai merasakan perlunya
membuka dialog dengan agama-agama lain. Ada beberapa pendapat
yang berkembang dikalangan pelopor dialog antar-agama di
kalangan Kristen:
"agama bersifat relatif dan sejarah agama bersifat evolusi
sebagai suatu gerakan manusiawi yang universal menuju
kesempurnaan ... wahyu dilihat sebagai suatu gerak menuju
Yang Mutlak yang tidak pernah dapat dicapai secara
sempurna" (Ernst Troeltsch).
"keyakinan bahwa Roh Kudus hadir dimana-mana ... dialog
yang kritis dimaksudkan untuk merasuk ke dalam diri sendiri
dan ke dalam penghayatan agama sendiri ... Tuhan adalah
dasar keberadaan (the ground of all being)" (Paul Tillich).
"Semua agama hendaknya dipahami sebagai suatu
perjumpaan yang penting dan berubah-ubah antara Yang Ilahi
dan manusia ... para misionaris Kristen harus mengambil
bagian dalam perjumpaan Yang Ilahi-manusia dalam agama

lain dengan maksud untuk membantu perkembangannya yang


evolusioner" (Wilfred Cantwell Smith).
"dialog adalah upaya untuk memahami dan menyatakan
partikularitas kita bukan hanya dalam kaitan dengan warisan
kita sendiri tetapi juga dalam hubungan dengan warisan
rohani tetangga-tetangga" (Stanley Samartha).
"kebenaran yang dikemukakan baik oleh ajaran Kristen di
satu pihak maupun ajaran Hindu di lain pihak adalah
universal dan akhirnya sering dianggap sebagai pendirian
yang partikular dan terbatas, sedangkan sebetulnya keduanya
merupakan perumusan yang memang dibatasi oleh faktorfaktor budaya, mengenai suatu kebenaran yang lebih
universal" (Raimundo Panikkar).
3. REAKSI TERHADAP PLURALISME AGAMA
Ciri perbedaan antara Pluralisme dibandingkan dengan kolonialisme
pada masa lalu ialah bahwa bila kolonialisme menempatkan
pendatang sebagai yang lebih superior dibandingkan bangsa dan
agama pribumi yang dianggap inferior, maka Pluralisme
menghadirkan perjumpaan dimana setiap bangsa dan agama bertemu
dalam suasana sederajat dan seimbang dalam suasana demokratis.
Sebagai reaksi terhadap Pluralisme Agama yang makin menekan,
setidaknya ada tiga macam reaksi yang timbul, yaitu: (1)
Fundamentalisme yaitu reaksi menolak pluralisme dan
memperkukuh posisi sendiri; (2) Proselitisme yaitu usaha
mentobatkan dan usaha memindahkan agama; (3) Sinkretisme yaitu
reaksi kompromis dengan cara mencampur-adukkan kedua
keyakinan agama itu.
1. Fundamentalisme
Fundamentalisme adalah suatu reaksi yang menutup diri yang ingin
memurnikan ajaran agama dan menolak berhubungan dengan pihak
luar, sikap ini sering berakibat kemandegan rohani, eksklusifisme
yang menjurus pada sifat absolut/mutlak, bahkan militanisme dan
kekejaman agama satu atas agama lain;
2. Proselitisme
Proselitisme terjadi dalam perjumpaan dengan agama-agama lain
dimana agama seseorang 'dipaksa' berpindah pada keagamaan yang
ditemuinya atau sebaliknya. Disini terjadi trans-budayanisasi, dimana
agama sendiri ditinggalkan dan mengikuti sepenuhnya agama pihak

lain atau sebaliknya.


3. Sinkretisme
Sinkretisme berusaha untuk mencari hal-hal baik dari agama lain
untuk dapat diikuti bersama dengan agama sendiri. Reaksi ini
memang lebih bersifat inklusif, dan kerukunan agama berkembang
tetapi berkembang kearah yang relatif dan tidak jelas karena identitas
semula dan identitas agama lain dicampur-adukkan. Yang jelas
memang harus diakui bahwa sifat sinkretisme membawa ke situasi
yang kelihatannya lebih akur dan menghindari konflik. Adakalanya
seseorang memetik kebaikan dari agama lain dan memasukkan pada
agamanya sendiri dan tetap menganut agama sendiri, tetapi ada
kalanya kedua agama itu diikuti bersama dan melebur (seperti agama
Sikh dan Tridharma);
Ke-tiga reaksi terhadap Pluralisme ini jelas tidak mungkin bisa
dihindarkan, karena kita tidak lagi dapat menghindari perjumpaan
dengan bangsa, budaya dan agama yang lain dalam alam modern,
dan ketiga alternatif itu biasa merupakan reaksi yang terjadi
bilamana ada perjumpaan antara bangsa, budaya dan terutama agama
yang berbeda. Di samping ketiga bentuk reaksi terhadap Pluralisme
ini, ada juga reaksi appresiasi dalam menghadapi Pluralisme yang
tidak terbendung. Disini Pluralisme dianggap sebagai kesempatan
untuk maju.
Dibalik itu, dalam tiga dasawarsa terakhir ini ada juga appresiasi atas
pluralisme yang timbul di kalangan agama-agama. Disini Pluralisme
dianggap sebagai kesempatan untuk maju bersama. Sejak tengah
kedua abad ke-XX mulai ada penglihatan baru menghadapi
Pluralisme yang jelas tidak lagi bisa dibendung maupun dihindari itu,
dan mulailah orang melihat Pluralisme sebagai sesuatu yang baik
sehingga diberi beberapa pe-ngertian yang lebih positip. Sikap ini
ternyata menghasilkan reaksi ke-empat, yaitu:
4. Inklusivisme
Inklusivisme berusaha menggapai kesatuan agama-agama. Berbeda
dengan eksklusivisme, disini ada usaha untuk menjadikan agamaagama yang banyak itu sebagai salah satu facet dari agama yang satu,
dan berbeda dengan Sinkretisme yang mencampur adukkan agamaagama, disini agama-agama diperas menjadi satu. Usaha
inklusivisme ini terlihat dari berbagai pertemuan 'dialog antar agama'
yang banyak digelar baik secara nasional maupun internasional.
Kuliah kuliah 'Perbandingan Agama' maupun 'Sejarah Agama' makin
dipopulerkan dibanyak sekolah agama.
Inklusivisme memang berasal dari reaksi atas sikap eksklusif yang
ditunjukkan beberapa kalangan agama, jadi misinya adalah

membawa angin perubahan yang lebih inklusif (terbuka) dan


mengurangi ekses yang dihasilkan sikap eksklusif (tertutup), tetapi
dalam perkembangannya kita melihat bahwa sikap 'Inklusif' yang
baik itu kemudian berkembang menjadi suatu 'faham' suatu 'isme'
yang disebut 'inklusivisme', dan dalam prakteknya kelihatan pula
bahwa banyak pendukung inklusivisme ini juga bersikap 'eksklusif'
yang menghasilkan bukan dialog tetapi perdebatan yang panas juga.
Faktanya kalangan inklusif juga cenderung menyalahkan yang
eksklusif dalam agamanya sendiri, suatu sikap yang tidak inklusif.
Disini kita melihat bahwa 'inklusivisme' ternyata tidak selalu dapat
dihayati sepenuhnya oleh para pengikutnya sehingga sampai ke
dunia internetpun inklusivisme dengan kasat mata bisa dilihat
sebagai sikap tidak dewasa sama halnya dengan sikap tidak dewasa
yang diperlihatkan
fundamentalisme. Kenyataan ini timbul karena banyak dari mereka
yang bergairah mempopulerkan inklusivisme berasal dari kalangan
yang tergolong sebagai 'liberal' yang pada dasarnya tidak
memperlihatkan kesetiaannya kepada iman yang historis, sehingga
sikap inklusif yang ditujukan kepada agama-agama lain sulit mereka
praktekkan dalam menghadapi kelompok-kelompok konservatif atau
fundamentalis dalam agamanya sendiri, sehingga menghasilkan
sikap yang eksklusif juga, sesuatu yang semula ingin dihindari
karena kurang baik dan tidak benar.
4. PARADIGMA BARU INSKLUSIVISME
Apakah 'dialog' sekedar merupakan ungkapan keterbukaan yang
menjadikan seseorang bersikap terbuka (inklusif) untuk mau
mendengarkan orang lain ataukah 'dialog' sudah menjadi sesuatu
yang terbuka yang telah dimasuki faham lain yang ternyata
mengubah faham sendiri sehingga menghasilkan 'pergeseran
paradigma iman' menuju suatu 'paradigma baru' atau 'kepercayaan
baru' (inklusivisme)? Kelihatannya hal kedua ini telah terjadi di
kalangan banyak pengikut 'dialog' antar agama.
Dari pemikiran para perintis 'dialog agama', kita melihat ada
beberapa 'paradigma baru' yang dijadikan titik tolak 'dialog agama'.
Inklusivisme telah menjadi suatu agama yang baru bagi banyak
peserta 'dialog' yang pada dasarnya bukan agama yang baru yang
'sinkretis' atau 'sinthesis' tetapi kemudian akan ternyata bahwa itu
adalah 'agama lain'. Beberapa paradigma baru dalam dialog agama
adalah:
1. Relativisme
Banyak pula teolog 'dialog agama' yang berorientasi liberal/modern
yang mempercayai terjadinya 'evolusi agama' dimana agama-agama
yang unik sekarang dianggap sekedar sesuatu yang bersifat relatif

sesuai dengan tahap perkembangannya dan semuanya pada


hakekatnya sama, yang partikularis adalah bagian dari yang
universalis, inilah yang disebut sebagai 'Universalisme' (faham
mengenai ke'satu'an agama). Agama dianggap berjalan secara
evolusioner (evolusi agama) dari keberadaannya yang asli bersumber
pada penyembahan 'kekuatan' dasar semesta dan berkembang
menurut kemajuan konsepsi manusia dalam merumuskannya secara
partikular.

2. Universalime
Paradigma kedua yang mirip dengan yang pertama adalah adanya
'Logika bersama mengenai Yang Satu dan Yang Banyak'. Dari
perspektif filsafat dan teologi, logika bahwa suatu sumber realitas
dialami dalam pluralitas cara tampaknya oleh teolog tertentu
dianggap sebagai cara yang paling memuaskan untuk menjelaskan
fakta pluralisme keagamaan, ini bisa disebut sebagai pendekatan
yang 'Theosentris'. Sebenarnya pandangn ini didasarkan gagasan
'Veda' Hinduisme mengenai hakekat 'Yang Satu' yang disebut dengan
'banyak nama'. Pandangan mana biasa disebut sebagai
'Universalisme' dan keyakinan me-ngenai 'Yang Satu' disebut
'Monisme.' Monisme adalah faham yang meyakini adanya dasar
keberadaan alam semesta yang 'Satu' yang tidak berpribadi
(dibedakan dengan mono'theis'me, theis yang berpribadi).
Wilhelm Schmidt (Origin of the Idea of God) mengemukakan
dengan bahasa lain bahwa semula manusia mempercayai satu Tuhan
(monotheisme) sebagai 'Sebab Utama' (first cause) yang dianggap
sebagai 'Tuhan yang Agung' yang universal, tetapi kesadaran ini
lama-lama hilang dan berkembang menjadi kesadaran akan 'tuhantuhan' yang banyak (politheisme) yang partikular. Paul Tillich
menyebut 'Sebab Utama' ini sebagai 'The Ground of All Being.'
Pandangan ini bisa kita lihat juga pada pemikiran teolog-teolog
seperti Raimundo Panikkar, Stanley Samartha dan Wilfred Cantwell
Smith. Dalam buku 'God Has Many Names' karya John Hick, kita
dapat menjumpai pengertian yang sama. Agama Kristen hanya
dianggap salah satu yang 'partikular' dari yang satu yang 'universal.'
Selanjutnya, faham universal-isme ini diperjelas lagi secara mistik
dalam hubungan kesatuan manusia dengan 'Yang Satu' itu.
3. Mistisisme
Mistisisme adalah keyakinan mengenai 'Kesatuan manusia yang
sezat dengan Sumbernya.' (yaitu Yang Satu itu). Dalam pengertian
Zen Buddhisme dimengerti mengenai penyatuan manusia dengan jati
dirinya menuju yang 'tidak ada' (an-atman) yang mirip dengan

penyatuan manusia dengan jati dirinya yang 'ada' (atman) yang sezat
dengan 'Yang Satu' dalam Hinduisme (atman adalah Brahman).
Paul Tillich seorang teolog existentialist dalam ucapannya yang
dikutip pada bagian terdahulu mengajak manusia untuk lebih lanjut
ber-alih dari 'theosentris' ke arah 'allah di atas allah' yang disebutnya
sebagai 'dasar keberadaan' (the ground of all being). Baginya Roh
Kudus dianggap hadir dimana-mana sebagai nafas semesta yang bersumber pada dasar keberadaan itu. Mirip dengan Tillich adalah
pandangan Wilfred Cantwell Smith yang dalam bukunya 'The Faith
of Other Men' menyetarakan konsep 'Kristus yang hidup di dalamku'
yang diucapkan Paulus dengan konsep mistik tentang 'Atman' dalam
mistisisme/pantheisme Hinduisme.
Dalam Hinduisme memang ada ucapan terkenal yang disebut 'tat
twam asi' yang berarti 'engkau adalah realitas itu, engkau adalah
Tuhan'. Kenyataan mana dianalogikan dengan konsep 'Atman yang
sama dengan Brahman' Hinduisme atau tepatnya 'di dalam manusia
Brahman menjadi Atman'. Smith bukan saja menyamakan konsep 'tat
twam asi' dengan 'Kristus yang hidup di dalamku' tetapi juga dengan
pengertian 'manusia sebagai gambar Allah' (Imago Dei).
Bila paradigma 1 sampai 3 mengungkapkan paradigma baru di
kalangan 'dialog agama' secara umum, maka di kalangan teolog
Kristen, ada paradigma ke-4 yang merupakan pengejawantahan
ketiga paradigma di atas ke dalam kekristenan, yaitu 'usaha
menyesuaikan status Yesus dalam kerangka paradigma baru itu.'
4. De-Kristosentrisme
De-Kristosentrisme adalah usaha 'pemikirkan kembali Kristologi'.
Karl Barth, sekalipun menyamakan agama Kristen dengan agamaagama lain yang dianggapnya merupakan usaha usaha manusia yang
sia-sia untuk mengenal Allah, menyebut tentang Kristologi yang
masih 'unik dan eksklusif' dimana hanya melalui wahyu Yesus
Kristus manusia didamaikan dengan Allah. Lebih longgar dari Barth,
Karl Rahner, seorang teolog Katolik, tetap menegaskan keesklusivan
dan universalitas Kristus dan sekaligus menghormati kehendak Allah
untuk menyelamatkan yang sifatnya universal dan menganggap
pengikut-pengikut agama lain sebagai 'orang-orang Kristen anonim'.
Pemikiran ini kemudian makin menjauh dari pendekatan yang
Kristosentris dan beberapa teolog mengemukakan pendapat bahwa
'Yesus bukan dianggap sebagai Kristus yang unik' (deKristosentrisme) tetapi hanya sebagai salah satu dari yang banyak itu
(avatar). Pandangan yang menurunkan derajat Kristus menjadi
sekedar Yesus dikemukakan antara lain oleh Wilfred Cantwell Smith,
pandangan mana disambut oleh banyak teolog-teolog liberal/modern
yang umumnya menjadi pengikut 'dialog agama', termasuk yang

mempopulerkan 'Jesus Seminar.


Dari ke-empat pradigma baru 'inklusifisme' di atas kita dapat melihat
sampai dimana usaha 'dialog yang inklusif' sudah menyeret banyak
pengikutnya untuk mengikuti suatu 'agama baru' yang sebenarnya
bukan baru tetapi kenyataannya adalah 'agama lain'. Ini dibahas pada
bagian selanjutnya.
5. PROSELITISME DALAM BENTUK BARU?
Tidak dapat disangkal bahwa Pluralisme dengan 'dialog agama'nya
telah membawa angin segar dalam perjumpaan agama-agama, tetapi
melihat beberapa 'paradigma baru' ternyata telah dipromosikan dalam
bentuk 'inklusivisme', kita patut mempertanyakan apakah 'dialog
kerukunan antar umat beragama' yang dijiwai paradigma baru
inklusivisme demikian bersifat 'inklusif' atau membawa pada
'eksklusivisme' baru?
Dialog yang motivasinya baik ternyata telah kita ketahui pada bagian
sebelum ini sebagai sarat dipengaruhi paradigma baru relativisme
agama yang merupakan reduksionisme yang mencoba untuk
'membesarkan kesamaan dan mengabaikan perbedaan' bahwa ada
perbedaan yang azali yang mustahil di pertemukan.
Disadari oleh banyak pihak agama bahwa bila kita melihat
paradigma agama-agama yang ada, setidaknya ada tiga faham yang
tidak mudah untuk dipertemukan, yaitu antara yang bersifat: (1)
Theisme (Ke-Tuhan-an yang berpribadi dan transenden dalam agama
wahyu, seperti agama Yahudi, Kristen dan Islam); (2) Monisme (keTuhan-an yang tidak berpribadi dan imanen, seperti agama Hindu
dan Tao); (3) Non-Theisme (tidak mempercayai Tuhan yang
transenden dan yang 'ada', seperti agama Buddha).
Dialog agama umumnya mengabaikan perbedaan ini demi tujuan
kerukunan. Tepat seperti yang disinyalir oleh Harold Coward,
bahwa:
"Masalah yang belum terselesaikan untuk semua pendekatan ini ialah
penolakan penganut Budha dan Advaita Vedanta terhadap Allah
sebagai realitas penghabisan. Para teolog Kristen yang paling terbuka
terhadap agama Budha dan agama Hindu, tampaknya hampir dengan
sengaja menutup mata terhadap masalah ini" (Pluralisme tantangan
bagi agama-agama, h.86).
Lebih dari itu dewasa ini kita menyaksikan kebangkitan New Age
dan Okultisme yang luar biasa yang sekarang sudah menempatkan
diri dalam kedudukan yang terhormat dimata masyarakat umum (Di
dunia Barat, gerakan 'Interfaith' sudah melibatkan tokoh-tokoh
Satanic). Karena hal itu, kelihatannya perlu ditambahkan paradigma
agama yang ke-empat, yaitu: (4) Demonisme (Ke-tuhan-an
transenden yang berlawanan dengan 'Theisme', seperti agama
Satanic).

Kita dapat melihat bahwa dialog antar agama 'Theisme' bahkan serumpun 'Semitic' saja sudah sukar, apalagi antara agama 'Theisme'
dan 'Monisme/Non-Theisme' seperti yang disinyalir Harold Coward.
Lebih lagi dialog 'Theisme' dan 'Demonisme' lebih tidak mungkin
lagi bahkan mustahil. Memang dalam pemikiran liberalisme rasional,
ada kecenderungan kuat 'penolakan terhadap hal-hal yang bersifat
transenden dan supranatural', itulah sebabnya dapat dimaklumi
bahwa 'dialog-agama' yang banyak didukung kalangan teolog
berfaham liberal cenderung menghasilkan penolakan terhadap
keberadaan 'Theis' (dan juga realita Demon) yang transenden, suatu
pengingkaran akan realita supranatural.
Dari dialog yang belum bisa mempertemukan 'paradigma-paradigma'
tentang hakekat 'Yang Satu' itu, tentulah agak sulit bagi kita bila kita
mencoba untuk menjadikannya sebagai 'kebenaran universal' dan
semua agama (termasuk Demonisme?) dianggap 'jalan-jalan
partikular'. Menutup mata terhadap perbedaan hakekat ini tidak akan
memecahkan masalah sekalipun kelihatannya menarik bak
fatamorgana.
Kita harus jujur mengakui bahwa motivasi yang mengajak 'dialog
demi kerukunan agama' adalah usaha yang baik, berguna dan patut
didukung, tetapi perlu dihindari sikap reduksionisme yang menutup
mata terhadap realita sebenarnya demi kesatuan itu sendiri, sebab
kita dapat terjebak kembali pada sikap 'eksklusivisme baru' atau
'proselitisme baru' yang semula ditolak oleh semangat 'dialog antar
agama' itu.
Sebagai contoh, 'Proselitisme' yang dianggap sebagai mentobatkan
seseorang agar berpindah agama (semacam kristenisasi atau
islamisasi) ditolak di kalangan dialog, tetapi dengan mengarahkan
paradigma dialog menuju prinsip keyakinan 'Universalisme' yang
bersifat 'Monisme' sebenarnya para pedialog telah melakukan
proselitisme gaya baru yaitu mentobatkan seseorang yang beriman
'Theisme' agar berpindah menjadi pengikut agama lain yaitu
'Monisme' (dan/atau Non-Theisme). Ini bukanlah sikap 'inklusif'
tetapi 'iman agama inklusif' atau 'inklusivisme', usaha 'monisisasi'
dapat juga disebut indentik dan sederajat dengan 'kristenisasi'
maupun 'islamisasi' yang mentobatkan orang dengan cara memaksa.
Proselitisme baru bisa juga ber-bentuk usaha untuk mengubah
pengertian paradigma agama sendiri dengan paradigma agama lain.
Sebagai contoh yang disebutkan terdahulu bahwa Wilfred Cantwell
Smith berusaha memberi pengertian 'atman' sebagai 'Kristus yang
hidup dalamku'. Ini adalah usaha mengubah pengertian lama Kristen
dimana jatidiri yang sudah ada sejak semula yang berperilaku
berdosa yang diubah dengan kehadiran Kristus sebagai penolong
ketika seseorang baru menjadi percaya, menjadi konsep Atman yang
diakui oleh penganutnya sebagai identik dengan Brahman dan adalah

ilahi sejak awalnya (tat twam asi). Demikian juga menyamakan


konsep manusia 'atman' (tuhan yang imanen) dengan 'Imago Dei'
(gambar Tuhan yang transenden) oleh Smith jelas merupakan usaha
proselitisme yang tidak sesuai realitas.
Selesai.
Disalin dari :
Teologi-maya@yabina.org
http://yabina.org/mailman/listinfo/teol ... yabina.org