Anda di halaman 1dari 12

LINGKUNGAN PENGENDAPAN

Dampak Sedimentasi terhadap Kualitas Perairan


Kegiatan pembukaan lahan di bagian hulu dan DTA untuk pertanian,
pertambangan dan pengembangan permukiman merupakan sumber sedimen dan
pencemaran perairan danau. Masuknya padatan tersuspensi ke dalam perairan
danau dapat meningkatkan kekeruhan air. Hal ini menyebabkan menurunnya laju
fotosintesis fitoplankton, sehingga produktivitas primer perairan menjadi turun,
yang pada gilirannya menyebabkan terganggunya keseluruhan rantai makan
(Haryani, 2001).
Sedimen yang dihasilkan oleh proses erosi akan terbawa oleh aliran dan
diendapkan pada suatu tempat yang kecepatannya melambat atau terhenti. Proses
ini dikenal dengan sedimentasi atau pengendapan. Asdak (2002) menyatakan
bahwa sedimen hasil erosi terjadi sebagai akibat proses pengolahan tanah yang
tidak memenuhi kaidah-kaidah konservasi pada daerah tangkapan air di bagian
hulu. Kandungan sedimen pada hampir semua sungai meningkat terus karena
erosi dari tanah pertanian, kehutanan, konstruksi dan pertambangan. Hasil
sedimen (sediment yield) adalah besarnya sedimen yang berasal dari erosi yang
terjadi di daerah tangkapan air yang dapat diukur pada periode waktu dan tempat
tertentu. Hal ini biasanya diperoleh dari pengukuran padatan tersuspensi di dalam
perairan danau.
Berdasarkan pada jenis dan ukuran partikel-partikel tanah serta komposisi
bahan, sedimen dapat dibagi atas beberapa klasifikasi yaitu gravels (kerikil),
medium sand (pasir), silt (lumpur), clay (liat) dan dissolved material (bahan
terlarut)

Ukuran partikel memiliki hubungan dengan kandungan bahan organic


sedimen. Sedimen dengan ukuran partikel halus memiliki kandungan bahan
organik yang lebih tinggi dibandingkan dengan sedimen dengan ukuran partikel
yang lebih kasar. Hal ini berhubungan dengan kondisi lingkungan yang tenang,
sehingga memungkinkan pengendapan sedimen lumpur yang diikuti oleh
akumulasi bahan organik ke dasar perairan. Pada sedimen kasar, kandungan bahan
organik biasanya rendah karena partikel yang halus tidak mengendap. Selain itu,
tingginya kadar bahan organic pada sedimen dengan ukuran butir lebih halus
disebabkan oleh adanya gaya kohesi (tarik menarik) antara partikel sedimen
dengan partikel mineral, pengikatan oleh partikel organik dan pengikatan oleh
sekresi lendir organisme (Wood, 1997).
Lingkungan Pengendapan ESTUARIA
Sedimen merupakan tempat tinggal tumbuhan dan hewan yang ada di
dasar. Sedimen terdiri dari bahan organik yang berasal dari hewan atau tumbuhan
yang membusuk kemudian tenggelam ke dasar dan bercampur dengan lumpur dan
bahan anorganik yang umumnya berasal dari pelapukan batuan (Sverdrup, 1966).
Kebanyakan perairan pesisir didominasi oleh substrat lunak. Substrat lumpur
berasal dari sedimen yang terbawa oleh sungai ke perairan pesisir.
Claphman (1973) menyatakan bahwa air sungai mengangkut partikel
Lumpur dalam bentuk suspensi, ketika partikel mencapai muara dan bercampur
dengan air laut, partikel lumpur akan membentuk partikel yang lebih besar dan
mengendap di dasar perairan.
Sedimen estuaria adalah secara fisiologis merupakan lingkungan yang
kaku untuk kebanyakan invertebrata karena range kadar garamnya ( 14±30 0/00),
fluktuasi temperatur dan pasang surut. Banyak spesies yang umum digunakan
dalam pengujian toksisitas di perairan laut dan tawar, tidak sesuai untuk
mengukur toksisitas sedimen di estuaria karena toleransi kadar garam yang sempit
atau tidak ada spesies endemik di estuaria.
Sedimen laut menurut asalnya diklasifikasikan menjadi tiga kelompok
yaitu lythogenous, biogenous dan hydrogenous. Lythogenous adalah sediment
yang berasal dari batuan, umumnya berupa mineral silikat yang berasal dari
pelapukan batuan. Biogenous adalah sedimen yang berasal dari organisme berupa
sisa-sisa tulang, gigi atau cangkang organisme, sedangkan hydrogenous
merupakan sedimen yang terbentuk karena reaksi kimia yang terjadi di laut
(Hutabarat dan Stewart, 1985).
Karakteristik sedimen akan mempengaruhi morfologi, fungsional, tingkah
laku serta nutrien hewan benthos. Hewan benthos seperti bivalva dan gastropoda
beradaptasi sesuai dengan tipe substratnya. Adaptasi terhadap substrat ini akan
menentukan morfologi, cara makan dan adaptasi fisiologis organisme terhadap
suhu, salinitas serta faktor kimia lainnya (Razak, 2002). Disamping tipe substrat,
ukuran partikel sedimen juga berperan penting dalam menentukan jenis benthos
laut (Levinton, 1982).
Partikel sedimen mempunyai ukuran yang bervariasi, mulai dari yang
kasar sampai halus. Menurut Buchanan (1984) berdasarkan skala Sedimen terdiri
dari beberapa komponen bahkan tidak sedikit sediment yang merupakan
pencampuran dari komponen-komponen tersebut. Adapun komponen itu
bervariasi, tergantung dari lokasi, kedalaman dan geologi dasar (Forstner dan
Wittman, 1983). Pada saat buangan limbah industri masuk ke dalam suatu
perairan maka akan terjadi proses pengendapan dalam sedimen. Hal ini
menyebabkan konsentrasi bahan pencemar dalam sedimen meningkat.

Logam berat yang masuk ke dalam lingkungan perairan akan mengalami


pengendapan, pengenceran dan dispersi, kemudian diserap oleh organisme yang
hidup di perairan tersebut. Pengendapan logam berat di suatu perairan terjadi
karena adanya anion karbonat hidroksil dan klorida (Hutagalung, 1984).
Logam berat mempunyai sifat yang mudah mengikat bahan organik dan
mengendap di dasar perairan dan bersatu dengan sedimen sehingga kadar logam
berat dalam sedimen lebih tinggi dibanding dalam air (Hutagalung, 1991)
Logam berat mempunyai sifat yang mudah mengikat dan mengendap di
dasar perairan dan bersatu dengan sedimen, oleh karena itu kadar logam berat
dalam sedimen lebih tinggi dibandingkan dalam air (Harahap, 1991).
Konsentrasi logam berat pada sedimen tergantung pada beberapa faktor
yang berinteraksi. Faktor-faktor tersebut adalah :
1. Sumber dari mineral sedimen antara sumber alami atau hasil aktifitas
manusia.Melalui partikel pada lapisan permukaan atau lapisan dasar sedimen.
2. Melalui partikel yang terbawa sampai ke lapisan dasar.
3. Melalui penyerapan dari logam berat terlarut dari air yang bersentuhan.
Beberapa material yang terkonsentrasi di udara dan permukaan air
mengalami oksidasi, radiasi ultraviolet, evaporasi dan polymerisasi. Jika tidak
mengalami proses pelarutan, material ini akan saling berikatan dan bertambah
berat sehingga tenggelam dan menyatu dalam sedimen. Logam berat yang
diadsorpsi oleh partikel tersuspensi akan menuju dasar perairan, menyebabkan
kandungan logam di air menjadi lebih rendah. Hal ini tidak menguntungkan bagi
organisme yang hidup di dasar seperti oyster dan kepiting sebagai filter feeder,
partikel sedimen ini akan masuk ke dalam sistem pencernaannya (Williams,
1979).
Logam berat yang masuk ke sistem perairan, baik di sungai maupun lautan
akan dipindahkan dari badan airnya melalui tiga proses yaitu pengendapan,
adsorbsi, dan absorbsi oleh organisme-organisme perairan (Bryan, 1976).
Proses pengendapan berdasarkan tenaga pengangkutnya.
 Pengendapan oleh air
Batuan hasil pengendapan oleh air disebut sedimen akuatis. Bentang alam
hasil pengendapan oleh air, antara lain meander, dataran banjir, tanggul alam
dan delta.
a. Meander
Meander merupakan sungai yang berkelok - kelok yang terbentuk
karena adanya pengendapan. Proses berkelok-keloknya sungai dimulai
dari sungai bagian hulu. Pada bagian hulu, volume air kecil dan tenaga
yang terbentuk juga kecil. Akibatnya sungai mulai menghindari
penghalang dan mencari rute yang paling mudah dilewati. Sementara,
pada bagian hulu belum terjadi pengendapan.
Pada bagian tengah, yang wilayahnya mulai datar aliran air mulai
lambat dan membentuk meander. Proses meander terjadi pada tepi sungi,
baik bagian dalam maupun tepi luar. Di bagian sungai yang aliranya cepat
akan terjadi pengikisan sedangkan bagian tepi sungai yang lamban
alirannya akan terjadi pengendapan. Apabila hal itu berlangsung secara
terus-menerus akan membentuk meander.
Meander biasanya
terbentuk pada
sungai bagian
hilir, dimana
pengikisan dan
Pengendapan
terjadi secara berturut turut. Proses pengendapan
yang terjadi secara terus menerus akan
menyebabkan kelokan sungai terpotong dan
terpisah dari aliran sungai, Sehingga terbentuk
oxbow lake.
b. Delta
Pada saat aliran air mendekati muara, seperti danau atau laut maka
kecepatan aliranya menjadi lambat. Akibatnya, terkadi pengendapan
sedimen oleh air sungai. Pasir akan diendapkan sedangkan tanah liat dan
Lumpur akan tetap terangkut oleh aliran air. Setelah sekian lama, akan
terbentuk lapisan - lapisan sedimen. Akhirnya lapian lapisan sediment
membentuk dataran yang luas pada bagian sungai yang mendekati
muaranya dan membentuk delta.
Pembetukan delta memenuhi beberapa syarat. Pertama, sedimen
yang dibawa oleh sungai harus banyak ketika akan masuk laut atau danau.
Kedua, arus panjang di sepanjang pantai tidak terlalu kuat. Ketiga , pantai
harus dangkal. Contoh bentang alam ini adalah delta Sungai Musi,
Kapuas, dan Kali Brantas.
c. Dataran banjir dan tanggul alam
Apabila terjadi hujan lebat, volume air meningkat secara cepat.
Akibatnya terjadi banjir dan meluapnya air hingga ke tepi sungai. Pada
saat air surut, bahan yang terbawa oleh air sungai akan terendapkan di tepi
sungai. Akibatnya, terbentuk suatu Dataran di tepi sungai. Timbulnya
material yang tidak halus (kasar) terdapat pada tepi sungai. Akibatnya tepi
sungai lebih tinggi dibandingkan dataran banjir yang terbentuk. Bentang
alam itu disebut tanggul alam.
 Pengendapan oleh Air Laut
Batuan hasil pengendapan oleh air laut disebut sedimen marine.
Pengendapan oleh air laut dikarenakan adanya gelombang. Bentang alam hasil
pengendapan oleh air laut, Antara lain pesisir, spit, tombolo, dan penghalang
pantai.
Pesisir merupakan wilayah pengendapan di sepanjang pantai. Biasanya
terdiri dari material pasir. Ukuran dan komposisi material di pantai sangat
berfariasi tergantung pada perubahan kondisi cuaca, arah angin, dan arus laut.
Arus pantai mengangkut material yang ada di sepanjang pantai. Jika terjadi
perubahan arah, maka arus pantai akan tetap mengangkut material material ke
laut yang dalam. ketika material masuk ke laut yang dalam, terjadi
pengendapan material. Setelah sekian lama, terdapat akumulasi material yang
ada di atas permukaan laut. Akumulasi material itu Disebut spit.
Jika arus pantai terus berlanjut, spit akan semakin panjang. Kadang kadang
spit terbentuk melewati teluk dan membetuk penghalang pantai (barrier
beach).

Terbentuknys split

Apabila di sekitar spit terdapat pulam, biasanya spit akhirnya tersambung


dengan daratan, sehingga membentuk tombolo.
Tombolo

 Pengendapan oleh angin


Sedimen hasil pengendapan oleh angin disebut sedimen aeolis. Bentang
alam hasil pengendapan oleh angin dapat berupa gumuk pasir (sand dune).
Gumuk pantai dapat terjadi di daerah pantai maupun gurun. Gumuk pasir
terjadi bila terjadi akumulasi pasir yang cukup banyak dan tiupan angin yang
kuat. Angin mengangkut dan mengedapkan Pasir di suatu tempat secara
bertahap sehingga terbentuk timbunan pasir yang disebut gumuk pasir.

Gumuk pasir
 Pengendapan oleh gletser.
Sedimen hasil pengendapan oleh gletser disebut sedimen glacial. Bentang
alam hasil Pengendapan oleh gletser adalah bentuk lembah yang semula
berbentuk V menjadi U. Pada saat musim semi tiba, terjadi pengikisan oleh
gletser yang meluncur menuruni lembah. Batuan atau tanah hasil pengikisan
juga menuruni lereng dan mengendap di lemah. Akibatnya, lembah yang
semula berbentuk V menjadi berbentuk U.
Struktur batuan sedimen, kebanyakan sedimen diteransport oleh arus yang
akhirnya diendapkan, sehingga ciri utama batuan sedimen adalah berlapis. Batas
antara satu lapis dengan lapis lainnya disebut bidang perlapisan. Bidang
perlapisan dapat terjadi akibat adanya perbedaan : warna, besar butir, dan atau
jenis batuan antara dua lapis. Struktur sedimen lain yang umum dijumpai pada
batuan sedimen adalah lapisan bersusun (granded bedding) dan lapisan silang siur
(cross bedding), gelembur gelombang (riplemark), dan rekah kerut (mud cracks).
Terjadinya struktur-struktur sedimen tersebut disebabkan oleh mekanisme
pengendapan dan kondisi serta lingkungan pengendapan tertentu.

Didalam sedimen umumnya terut terendapkan sisa-sisa organisme atau


tumbuhan, yang karena tertimbun,terawetkan. Dan selama proses Diagenesis tidak
rusak dan turut menjadi bagian dari batuan sedimen atau membentuk lapisan
batuan sedimen. Sisa-sia organisme atau tumbuhan yang terawetkan ini
dinamakan fossil. Jadi fosill adalah bukti atau sisa-sisa kehidupan zaman lampau.
Dapat berupa sisa organisme atau tumbuhan, seperti cangkang kerang, tulang atau
gigi maupun jejak ataupun cetakan.

Fasies sedimentasi dapat diartikan sebagai kenampakan atau sifat fisik


umum satu bagin sebuah tubuh batuan yang berbeda dari bagian yang lainnya.
Dengan mempelajari perbedaan karekteristik pada lapisan-lapisan batuan serta
fasiesnya dapat diketahui mekanisme, kondisi dan tempat pengendapan sedimen
sebelum menjadi batuan.

Dari studi lingkungan pengendapan dapat digambarkan atau direkontruksi


geografi purba dimana pengendapan terjadi. Secara umum dikenal 3 lingkungan
pengendapan, lingkungan darat transisi, dan laut. Beberapa contoh lingkungan
darat misalnya endapan sungai dan endapan danau, ditransport oleh air, juga
dikenal dengan endapan gurun dan glestsyer yang diendapkan oleh angin yang
dinamakan eolian. Endapan transisi merupakan endapan yang terdapat di daerah
antara darat dan laut seperti delta,lagoon, dan litorial. Sedangkan yang termasuk
endapan laut adalah endapan-endapan neritik, batial, dan abisal.

Proses sedimenter meninggalkan tanda (mark) pada batuan sedimen.


Tanda ini akan terekam dalam beberapa karakteristik seperti tekstur, struktur,
kandungan fosil dan komposisi mineral. Dari beberapa karakteristik tersebut yang
terpenting adalah tekstur dan struktur. Tekstur merupakan kanampakan terkecil
dari suatu batuan yang meliputi ukuran, bentuk dan orientasi dari individu-
individu butir penyusunnya. Struktur sedimen dalam hal ini struktur primer
merupakan kenampakan skala besar dari batuan sedimen itu sendiri, seperti
perlapisan, laminasi, perlapisan silang-siur, ripple mark, track, trail dan jejak-jejak
lain yang terbentuk oleh organisme.

Struktur sedimen dihasilkan oleh beberapa macam proses sedimenter,


termasuk di dalamnya adalah aliran fluida, aliran gravitasi sedimen, deformasi
sedimen lunak dan aktivitas biogenik. Struktur sedimen digunakan secara meluas
dalam memecahkan beberapa macam masalah geologi, karena struktur ini
terbentuk pada tempat dan waktu pengendapan, sehingga struktur ini merupakan
kriteria yang sangat berguna untuk interpretasi lingkungan pengendapan.
Beberapa aspek lingkungan sedimentasi purba yang dapat dievaluasi dari data
struktur sedimen di antaranya adalah mekanisme transportasi sedimen, arah aliran
arus purba, kedalaman air relatif, dan kecepatan arus relatif. Selain itu beberapa
struktur sedimen dapat juga digunakan untuk menentukan atas dan bawah suatu
lapisan.

Beberapa tipe struktur sedimen dapat diukur untuk memberikan informasi


tentang asal mula, pengendapan, dan sejarah sedimen. Sebagai contoh perlapisan
silang-siur. Struktur ini merupakan struktur sedimen primer yang dapat
dipergunakan sebagai petunjuk arah arus purba atau menentukan arah transportasi
sedimen. Dengan mengukur kedudukan perlapisan silang siur dan mengolahnya
dengan metode statistika akan didapat arah umum dari perlapisan silang siur yang
merupakan arah dari arus purba.

Konsep dasar perlapisan silang siur

Variasi energi selama transportasi sedimen menyebabkan reaksi variabel


dari pengendapan selektif ukuran butir tertentu, bentuk butir, dan berat butir
sampai erosi dan pembebanan diferensial dari pengendapan sedimen sebelumnya.
Pengaruh transportasi dan pengendapan mempunyai sifat skalar yang
memperlihatkan kebesaran tanpa menunjukkan arah transportasi, misalnya besar
butir, bentuk butir dan lain-lain. Di samping mempunyai sifat skalar, transportasi
dan pengendapan juga mempunyai sifat vektor, yaitu besaran yang menunjukkan
arah (dalam hal ini arah transportasi), misalnya perlapisan silang-siur, gelembur
gelombang, dan lain-lain.
Jadi perlapisan silang siur, adalah struktur sedimen primer yang
mempunyai arah. Struktur ini sangat umum dijumpai pada batuan sedimen yang
berukuran lanau hingga pasir. Perlapisan silang siur dibentuk oleh arus air/angin
yang daya angkut suspensinya semakin berkurang, sehingga muatan suspensinya
jatuh dan diendapkan ke muka secara gravity sliding (longsoran gravitasi) dalam
bentuk bidang-bidang perlapisan sejajar.

Pada struktur perlapisan silang siur terdapat 3 parameter yang berubah-


ubah menurut tempat dan keadaan, yaitu :

1. Azimut atau arah kemiringan; merupakan fungsi dari arah aliran arus yang
terkuat.
2. Inklinasi, yaitu sudut lancip yang dibentuk oleh bidang fore set dengan
bidang perlapisan bottom set (true bedding). Dalam proses sidementasi,
sudut-sudut inklinasi merupakan sudut rebah yang besarnya tergantung
kepada kekuatan arus. Arus yang kuat akan membentuk sudut inklinasi
yang besar.
3. Ketebalan lapisan fore set yang bervariasi tergantung pada banyaknya
suspensi yang dibawa oleh arus dan lamanya proses sedimentasi
berlangsung.

Metode Analisis

Ada beberapa macam metode yang dapat dipergunakan untuk menentukan


tendensi sentral dari suatu kedudukan perlapisan silang-siur, misalnya diagram
mawar (rose diagram) yang pada prinsipnya menggunakan pendekatan modus dan
analisis vektor. Mengingat besaran yang terukur pada struktur perlapisan silang-
siur merupakan besaran vektor, maka perhitungan tendensi sentralnya dapat
didekati dengan metode analisis vektor. Metode analisis vektor ini dapat dibagi
menjadi 2 macam, yaitu analisis vektor 2-dimensi dan analisis vektor 3-dimensi.
Analisis Vektor 2-Dimensi

Data azimut perlapisan silang siur diukur dalam jumlah tertentu sesuai
dengan kaidah statistika yang berlaku. Untuk menentukan tendensi sentral dari
data-data azimuth perlapisan silang-siur dilakukan dengan menghitung besarnya
rata-rata dari data tersebut. Besarnya rata-rata dapat dihitung secara vektor (vector
mean) dan secara aritmatika (arithmatic mean). Untuk lebih jelasnya dapat dibaca
pada Davis (1986). Besarnya rata-rata dengan menggunakan analisis vektor 2-D
dapat diturunkan dengan rumus-rumus sebagai berikut :

Misalkan arah tiap-tiap azimuth dari suatu perlapisan silang-siur adalah maka
besaran vektor untuk masing-masing sumbu adalah sbb.:

vektor resultannya adalah:

sedangkan besar sudut resultannya adalah :

Analisis Vektor 3-Dimensi

Berbeda dengan analisis vektor 2-D yang hanya menggunakan azimuth


dari perlapisan silang siur, analisis vektor 3-D menggunakan kedudukan bidang
perlapisan silang siur sebagai data. Data yang digunakan dalam perhitungan
meliputi azimuth dan dip atau kemiringan bidang perlapisan silang-siur.

Perhitungan dengan menggunakan analisis vektor dapat dilakukan dengan


menguraikan kedudukan bidang ( , ) secara statistik dapat dilakukan sebagai
berikut :
dengan :

= azimuth, dan = dip

DAFTAR PUSTAKA
http://warmada.staff.ugm.ac.id/Strsed/
http://hagi.or.id/download/Resonansi/Resonansi-HAGI-6.pdf
http://elcom.umy.ac.id/elschool/muallimin_muhammadiyah/file.php/1/materi/Geo
grafi/LITHOSFER.pdf
http://www.damandiri.or.id/file/marganofipbbab2.pdf