Anda di halaman 1dari 9

1

ALVEOLOPLASTI
PENDAHULUAN
Idealnya setiap orang akan mempertahankan gigi permanennya yang alami
sepanjang hidupnya. Namun penyebab dari kehilangan gigi ini sendiri sangat
beragam seperti : penyakit periodontal, karies gigi, kondisi patalogis dari rahang
itu sendiri dan tidak jarang oleh trauma. Konstruksi gigi tiruan yang baik adalah
yang dapat menggantikan gigi yang hilang dalam efisiensi pengunyahan makanan
stabil dengan retensi yang kuat. Untuk mencapai tujuan ini suatu protesa harus
didudukkan pada linggir alveolar dengan sangat baik dan tepat. Bedah
preprostetik adalah prosedur pelaksanaan bedah yang bertujuan memperbaiki
kondisi dari jaringan lunak mulut dan jaringan keras sebelum perawatan
prostodonti dimulai. Bedah ini diindikasikan apabila terdapat kelainan yang
ekstrim dari rahang yang tidak dapat diatasi oleh ahli prostodonti untuk membuat
suatu konstruksi gigi tiruan yang sempurna (Pedlar).
TUJUAN
Pada makalah ini akan dibahas salah satu bagian dari bedah preprostetik yang
diindikasikan pada jaringan keras yaitu alveoloplasti. Pengertian alveoloplasti
adalah pembentukan kembali linggir alveolar sehingga mencapai bentuk ideal
untuk pembuatan gigi tiruan. (Peterson).
INDIKASI
Bedah preprostetik umumnya dilakukan pada pasien yang dalam keadaan
edontulous yang parah, ekstrem dan sulit diatasi, sehingga memerlukan rujukan ke
bagian bedah mulut. Keadaan suatu rahang atau linggir alveolar yang
membutuhkan tindakan alveoloplasti adalah :
1. Keadaan soket yang potensial untuk terjadinya eksostosis atau undercut.
2. Terdapat eksostosis berat yang meliputi beberapa region atau seluruh
rahang.
3. Pada linggir alveolar suatu rahang terdapat undercut yang sangat besar.

4. Penonjolan tulang yang tidak beraturan pada linggir alveolar yang


menyebabkan kedudukan suatu protesa tidak stabil . (Toeti)
ETIOLOGI
Penyebab terjadinya keadaan linggir alveolar yang tidak beraturan adalah :
1. Kelalaian dari pasien sendiri yang tidak dilakukan pemeliharaan linggir
alveolar setelah dilakukan pencabutan sederhana.
2. Kelalaian operator sendiri pada akhir proses pencabutan.
3. Kelainan bawaan dari pasien yang bersifat patalogis seperti bentuk rahang
yang terlalu besar atau tebal. (Toeti).
KLASIFIKASI
Alveoloplasti berdasarkan hasil pengerjaannya dibagi menjadi primer dan
sekunder. (G.Dimitroulis, 1997).
ALVEOLOPLASTI PRIMER
Yang dimaksud alveoloplasti primer disini adalah dilakukannya proses
rekounturing atau perbaikan bentuk alveolar pada saat tindakan pencabutan gigi.
Tindakan meliputi rangkaian prosedur sebagai berikut :
1. Penekanan secara digital.
2. Intraseptal alveoloplasti.
3. Penguatan jaringan.
Ad.1. Penekanan secara digital
Ini merupakan prosedur alveoloplasti yang paling sederhana yang meliputi
pembuangan residual atau segment tulang yang pecah saat pencabutan dan diikuti
penekanan atau pemijitan digital dari sisi pencabutan. Dengan maksud didapatnya
kontur yang tepat dari tulang alveolar, sehingga diharapkan tidak akan terjadi
pertumbuhan tulang tidak beraturan, yang dikenal dengan oxsostoses.

Gambar 1: Penekanan daerah soket pencabutan atau setelah dilakukannya intraseptal alveoloplasti.

Ad.2. Intraseptal alveoloplasti


Yaitu suatu proses pemotongan tulang inter septum dan memposisikan
kembali dari tulang kortikal labial yang rusak. Teknik ini paling baik digunakan
pada daerah dimana countur dari linggir alveolar relative beraturan. Teknik yang
digunakan tanpa pembukaan flap, hanya dengan pembebasan jaringan lunak yang
berada pada crest alveolar kemudian dengan alat rongeur yang kecil tulang intra
septal dipotong. Setelah pembuangan tulang yang tepat maka disempurnakan
dengan pemijitan/tekanan digital secukupnya untuk mematahkan plat kortikal arah
labial dari linggir alveolar agar masuk ke dalam aproximal plat palatal derah itu.

Gambar 2a. Pembuangan tulang intraseptal dengan fissure bur


2b. Menggunakan rongeur atau tang pemotong tulang (Peterson)

Ad 3. Penguatan jaringan
Memperkuat kedua plat palatal dan bukal dari tulang untuk menghasilkan
penyembuhan yang cepat dari alveolus melalui penutupan dengan segera/primery,
dengan penjahitan secara interrupted atau continous. Dapat juga dilakukan dengan

material pengikat yang lunak agar dapat dipertahankan posisi tulang sampai
penyembuhan terjadi.

Gambar 3. penguatan jaringan dengan metode penjahitan. ( pedlar )

ALVEOLOPLASTI SEKUNDER
Yang dimaksud dengan alveoloplasti sekunder adalah proses perbaikan
countur alveolar secara bedah yang dilakukan beberapa bulan atau tahun setelah
proses pencabutan. Pada saat ini telah terjadi pembentukan eksostosis atau
pembentukan linggir alveolar yang tidak beraturan sehingga mengganggu proses
pembuatan suatu gigi tiruan, maka dilakukan suatu tindakan bedah minor dengan
pembukaan flap sederhana seperti beberapa proses berikut ini :
PROSEDUR BEDAH
1. Persiapan daerah kerja
2. Desain flap
3. Retraksi flap
4. Pengambilan tulang patologis
5. Penghalusan tulang alveolar
6. Penyelesaian prosedur bedah
Ad.1. PERSIAPAN DAERAH KERJA
Pada saat persiapan lapangan kerja yang harus diperhatikan adalah :

Daerah tersebut bebas dari penyakit dan infeksi karena sangat


mempengaruhi keberhasilan kerja dan proses penyembuhan.

Penentuan luas daerah operasi yang meliputi lokasi dimana


terdapatnya eksostosis atau tulang patologis yang akan dibuang.

Isolasi daerah operasi dengan pemberian desinfektan pada seluruh


daerah yang akan dilakukan prosedur bedah.

Pemberian anaestesi, biasanya diberikan local anaestesi, tetapi dapat


juga pemberian sedasi atau narkose umum apabila dibutuhkan.

Ad.2. DISAIN FLAP


Suatu flap didisain sebagai jalan pembuka untuk pelaksanaan rekontouring
linggir alveolar ini. Flap yang biasa digunakan adalah tipe envelope, karena tipe
ini memberikan lapangan pandang yang luas dan mudah dalam pengerjaannya.

Gambar 4. Flap tipe envelope yang dianjurkan untuk alveoloplasti (Peterson)

Ad.3. RETRAKSI FLAP


Setelah dilakukan insisi yang tepat dan smooth sesuai disain, flap telah
bisa dibuka dengan menggunakan raspatorium yang tumpul dengan memisahkan
jaringan lunak dari perlekatannya pada tulang alveolar.

Ad.4. PENGAMBILAN TULANG PATOLOGIS


Setelah didapatkan pembukaan flap yang baik maka disitu akan terlihat
exostoses atau tulang yang tidak beraturan pada linggir alveolar. Pengambilan
tulang dapat dilakukan dengan ruonger atau bur bulat yang lebar sambil dilakukan
pembentukan countur yang diinginkan. Pada saat pembuangan tulang yang harus
diingat adalah selalu dilakukan irigasi dengan cairan fisiologis dan jagalah
pembuangan tulang seminim mungkin. (Peterson)

Ad.5. PENGHALUSAN TULANG ALVEOLA


Pengahalusan ini penting sekali untuk mendapatkan permukaan linggir
alveolar yang licin, pelekatan yang baik dan penyembuhan yang cepat setelah
operasi. Penghalusan tulang dapat dilakukan dengan bone file atau chisel dan
selalu dicek pembuangan yang tepat dengan meletakkan kembali mukosa pada sisi
pembedahan dan rasakan countur yang telah dihasilkan dengan jari tangan.

Ad.6. PENYELESAIAN PROSEDUR OPERASI


Setelah semua yang dilakukan diyakini memenuhi bentuk yang
diinginkan, maka bersihkan daerah kerja dengan irigasi yang banyak sehingga
didapati lapangan kerja yang betul-betul bersih. Tahap selanjutnya merapikan

pinggiran flap dengan membuang jaringan sisa dan dijahit dengan teknik
interrupted atau continous suture.

EFEK PASCA BEDAH


Efek yang dialami pasien setelah alveoloplasti biasanya berupa :
(Pedersen)
1. Pembengkakan yang umumnya terjadi pasca operasi
2. Rasa sakit dan ngilu pada tulang alveolar
3. Parastesi
4. Peradangan di daerah jahitan
5. Lepas jahitan
6. Perdarahan
7. Kegagalan insisi flap
PERAWATAN PASCA BEDAH
Pasien yang telah menjalani bedah alveoloplasti harus dilakukan
perawatan pasca bedah sebagaimana biasanya pada setiap tindakan bedah pada
umumnya. Instruksi pasca bedah yang biasa diberikan pada pasien adalah :
1. Pasien dianjurkan untuk melakukan kompres dingin dengan es atau
cairan kompres bisa juga air dingin selama kurang lebih 30 menit pada
jam pertama untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah terjadinya
pembengkakan.

2. Pasien diharapkan tidak mengganggu daerah operasi dan menjaga


kebersihan mulutnya dengan cara berkumur pelan-pelan setiap selesai
makan dengan cairan antiseptic atau gargle yang telah disiapkan.
3. Pasien diminta datang pada hari berikutnya untuk melakukan kontrol
kembali pada daerah operasinya.
4. Lima hari pasca operasi pasien diminta datang untuk pembukaan
jahitan.
Pasien yang telah melakukan bedah alveoloplasti hendaklah diberikan
bekal resep obat anti sakit (analgesic) dan vitamin untuk mempercepat
penyembuhan. Dapat juga diberikan antibiotik apabila diperlukan dan sebaiknya
juga diberikan obat kumur antiseptik atau gargle. (Pedersen)
Setelah melakukan kontrol terakhir yang diikuti dengan pembukaan
jahitan,

hendaklah

dilakukan

pemeriksaan

ulang

pada

daerah

operasi

tersebutapakah hasil alveoloplasti yang dilakukan telah berhasil atau masih


terdapat daerah ekstrim yang berarti terjadi kegagalan. Apabila terjadi hal seperti
itu maka pengulangan tindakan alveoloplasti dapat direncanakan setelah terjadi
penyembuhan total. (Peterson)
KESIMPULAN
1.

Kelalaian dari pasien dan dokter gigi sangat berpengaruh dalam


terbentuknya eksostosis undercut.

2.

Setiap dokter gigi hendaknya dapat melakukan alveoloplasti primer sebagai


pencegahan terbentuknya linggir alveolar yang tidak beraturan.

3.

Dalam melakukan bedah alveoloplasti hendaklah dilakukan pembuangan


tulang seminimal mungkin dan selalu dilakukan irigasi dengan cairan
fisiologis.

4.

Penentuan daerah pembuangan yang tepat sehingga dapat dihindari proses


bedah yang berulang-ulang.

DAFTAR PUSTAKA
1. Dimitroulis G, 1997. A Synopsis of Minor Oral Surgery. Wright. ( p 113124)
2. Pederson G W, 1996 ; Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. W.B Sounders. Co
( p 112-135)
3. Pedlar J ; Frame JW. ; 2001 Oral and Maxillofacial Surgery, W.B Sounders
Spain. ( p 143-162)
4. Peterson Larry J ; 1998. Oral and Maxillofacial Surgery. Mosby. 3rd
edition.

( p 286-323)

5. Toeti R. Tjiptono cs, 1990, ilmu Bedah Mulut 3rd edition, Bagian Bedah
Mulut FKG USU, ( P 194-212)