Anda di halaman 1dari 6

A.

Konsep Pengembangan Pariwisata


Pengembangan pariwisata merupakan suatu rangkaian upaya untuk mewujudkan keterpaduan
dalam penggunaan berbagai sumber daya pariwisata mengintegrasikan segala bentuk aspek di luar
pariwisata yang berkaitan secara langsung maupun tidak langsung akan kelangsungan pengembangan
pariwisata. (Swarbrooke 1996;99)
Terdapat beberapa jenis pengembangan, yaitu :
a. Keseluruhan dengan tujuan baru, membangun atraksi di situs yang tadinya tidak digunakan
sebagai atraksi.
b. Tujuan baru, membangun atraksi pada situs yang sebelumnya telah digunakan sebagai atraksi.
c. Pengembangan baru secara keseluruhan pada keberadaan atraksi yang dibangun untuk menarik
pengunjung lebih banyak dan untuk membuat atraksi tersebut dapat mencapai pasar yang lebih
luas, dengan meraih pangsa pasar yang baru.
d. Pengembangan baru pada keberadaan atraksi yang bertujuan untuk meningkatkan fasilitas
pengunjung atau mengantisipasi meningkatnya pengeluaran sekunder oleh pengunjung.
e. Penciptaan kegiatan-kegiatan baru atau tahapan dari kegiatan yang berpindah dari satu tempat
ke tempat lain dimana kegiatan tersebut memerlukan modifikasi bangunan dan struktur.
Dalam pengembangan pariwisata diperlukan aspek-aspek untuk mendukung pengembangan
tersebut. Adapun aspek-aspek yang dimaksudkan adalah sebagai berikut :
1. Aspek Fisik
Menurut UU RI No. 23 Tahun 1997 dalam Marsongko (2001), lilngkungan hidup adalah
kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup termasuk manusia dan
perilakunya, yang mempengaruhi
kelangsungan peri-kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Yang termasuk
dalam lingkungan fisik berdasarkan olahan dari berbagai sumber, yaitu :
a. Geografi
Aspek geografi meliputi luas kawasan DTW, Luas area terpakai, dan juga batas administrasi
serta batas alam.
b. Topografi
Merupakan bentuk permukaan suatu daerah khususnya konfigurasi dan kemiringan lahan
seperti dataran berbukit dan area pegunungan yang menyangkut ketinggian rata-rata dari
permukaan laut, dan konfigurasi umum lahan.
c. Geologi
Aspek dari karakteristik geologi yang penting dipertimbangkan termasuk jenis material
tanah, kestabilan, daya serap, serta erosi dan kesuburan tanah.
d. Klimatologi
Termasuk temperatur udara, kelembaban, curah hujan, kekuatan tiupan angin, penyinaran
matahari rata-rata dan variasi musim.
e. Hidrologi
Termasuk di dalamnya karakteristik dari daerah aliran sungai, pantai dan laut seperti arus,
sedimentasi, abrasi.
f. Visability
Menurut Salim (1985;2239), yang dimaksud dengan visability adalah pemandangan
terutama dari ujung jalan yang kanan-kirinya berpohon (barisan pepohonan yang panjang).

g. Vegetasi dan Wildlife


Daerah habitat perlu dipertimbangkan untuk menjaga kelangsungan hidup vegetasi dan
kehidupan liar untuk masa sekarang dan akan datang. Secara umum dapat dikategorikan
sebagai tanaman tinggi, tanaman rendah (termasuk padang rumput) beserta spesies-spesies
flora dan fauna yang terdapat di dalamnya baik langka, berbahaya, dominan, produksi,
konservasi maupun komersial.
1. Aspek Daya Tarik
Pariwisata dapat berkembang di suatu tempat pada dasarnya karena tempat tersebut
memiliki daya tarik, yang mampu mendorong wisatawan untuk datang mengunjunginya.
Murray (1993) di dalam Gunn (1979;50) menyebutkan “… a thing or feature which draws
people by appealing to their desires, taste, etc. Especially an interesting or amusing exhibition
which ‘draws’ crowds”. Gunn (1979;48) juga berpendapat bahwa “attraction are the on-
location places in region that not only provide the things for tourist to see and do but also offer
the lure to travel”.
Menurut Inskeep (1991;77) daya tarik dapat dibagi menjadi 3 kategori, yaitu :
a. Natural attraction : berdasarkan pada bentukan lingkungan alami
b. Cultural attraction : berdasarkan pada aktivitas manusia
c. Special types of attraction : atraksi ini tidak berhubungan dengan kedua kategori diatas, tetapi
merupakan atraksi buatan seperti theme park, circus, shopping.
Yang termasuk dalam natural attraction diantaranya iklim, pemandangan, flora dan fauna
serta keunikan alam lainnya. Sedangkan cultural attraction mencakup sejarah, arkeologi, religi
dan kehidupan tradisional.
2. Aspek Aksesibilitas
Salah satu komponen infrastruktur yang penting dalam destinasi adalah aksesibilitas.
Aksesibilitas menurut Bovy dan Lawson (1998;107), “... should be possible by public transport
and bicycle trails, by pedesterian paths (from neighborhoods) and by cars (mainly families,
with an average of three persons/car)”.
Akses yang bersifat fisik maupun non fisik untuk menuju suatu destinasi merupakan hal
penting dalam pengembangan pariwisata. Aspek fisik yang menyangkut jalan, kelengkapan
fasilitas dalam radius tertentu, frekuensi transportasi umum dari terminal terdekat.
Menurut Bovy dan Lawson (1998;202), jaringan jalan memiliki dua peran penting dalam
kegiatan pariwisata, yaitu :
a. Sebagai alat akses, transport, komunikasi antara pengunjung atau wisatawan dengan
atraksi rekreasi atau fasilitas.
b. Sebagai cara untuk melihat-lihat (sightseeing) dan menemukan suatu tempat yang
membutuhkan perencanaan dalam penentuan pemandangan yang dapat dilihat selama
perjalanan.
Pada peran kedua, menunjukan aspek non fisik yang juga merupakan faktor penting dalam
mendukung aksesibilitas secara keseluruhan, dapat berupa keamanan sepanjang jalan, dan
waktu tempuh dari tempat asal menuju ke destinasi.
Lebih lanjut Bovy dan Lawson (1998;203) membagi jalan untuk kepentingan wisatawan
menjadi tiga kategori, yaitu :
a. Jalan Utama yang menghubungkan wilayah destinasi utama dengan jaringan jalan nasional atau
jalan utama di luar kawasan.
b. Jalan Pengunjung, yaitu jalan sekunder yang biasanya beraspal (makadam) ataupun gravel yang
menghubungkan dengan fasilitas wisata yang spesifik seperti resort, hotel yang terpisah,
restoran atau atraksi rekreasi lainnya.
c. Sirkuit Pengunjung, untuk kegiatan melihat-lihat dengan pemandangan yang menarik di
sepanjang jalannya.
1. Aspek Aktivitas dan Fasilitas
Dalam pengembangan sebuah objek wisata dibutuhkan adanya fasilitas yang berfungsi
sebagai pelengkap dan untuk memenuhi berbagai kebutuhan wisatawan yang bermacam-
macam. Menurut Bukart dan Medlik (1974;133), fasilitas bukanlah merupakan faktor utama
yang dapat menstimulasi kedatangan wisatawan ke suatu destinasi wisata, tetapi ketiadaan
fasilitas dapat menghalangi wisatawan dalam menikmati atraksi wisata. Pada intinya, fungsi
fasilitas haruslah bersifat melayani dan mempermudah kegiatan atau aktivitas
pengunjung/wisatawan yang dilakukan dalam rangka mendapat pengalaman rekreasi.
Di samping itu, fasilitas dapat pula menjadi daya tarik wisata apabila penyajiannya
disertai dengan keramahtamahan yang menyenangkan wisatawan, dimana keramahtamahan
dapat mengangkat pemberian jasa menjadi suatu atraksi wisata. Bovy dan Lawson (1979;9)
menyebutkan bahwa fasilitas adalah atraksi buatan manusia yang berbeda dari daya tarik wisata
yang lebih cenderung berupa sumber daya.
2. Aspek Sosia Ekonomi dan Budaya
Dalam analisa sosial ekonomi membahas mengenai mata pencaharian penduduk,
komposisi penduduk, angkatan kerja, latar belakang pendidikan masyarakat sekitar, dan
penyebaran penduduk dalam suatu wilayah. Hal ini perlu dipertimbangkan karena dapat
menjadi suatu tolak ukur mengenai apakah posisi pariwisata menjadi sektor unggulan dalam
suatu wilayah tertentu ataukah suatu sektor yang kurang menguntungkan dan kurang selaras
dengan kondisi perekonomian yang ada.
Selanjutnya adalah mengenai aspek sosial budaya, dimana aspek kebudayaan dapat
diangkat sebagai suatu topik pada suatu kawasan. Dennis L. Foster menjelaskan mengenai
Pengaruh Kebudayaan (cultural influences) sebagai berikut : “Para pelaku perjalanan tidak
membuat keputusan hanya berdasarkan pada informasi pemrosesan dan pengevaluasian.
Mereka juga dipengaruhi oleh faktor kebudayaan, masyarakat, dan gaya hidupnya. Kebudayaan
itu cenderung seperti pakaian tradisional dan kepercayaan pada suatu masyarakat, religi, atau
kelompok etnik (ethnic group)”.

A. Konsep Identifikasi Potensi Daya Tarik Wisata


Fungsi kriteria dan indikator adalah sebagai dasar dalam pengembangan DTW melalui penetapan
unsur kriteria, penetapan bobot, penghitungan masing-masing sub unsur dan penjumlahan semua nilai
unsur kriteria. Tujuan membuat kriteria ini adalah untuk menentukan skala prioritas pengembangan
DTW dan mengintensifikasikan pemanfaatan dan pembinaan suatu DTW.
Dasar penilaian adalah :
1. Berorientasi pada kepentingan konservasi kawasan,
2. Memberikan pemahaman pendidikan konservasi kepada masyarakat,
3. Meningkatkan peran serta masyarakat,

#John S. Naisbit dalam bukunya Global Paradox menjelaskan bahwa perlunya berpikir local
dan bertindak global dalam menghadapi ledakan globalisasi yang terjadi akibat pesatnya
pertumbuhan technology, informasi dan komunikasi pada milinium ini. Berpikir lokal
dimaksudkan bahwa kita perlu berpikir untuk kepentingan lokal, menggali nilai-nilai/norma-
norma sosial lokal sebagai hasil dan budi daya lokal (local genius), mengeksplorasi dan
mengkonservasi sumber-sumber alam dan budaya lokal dengan cara-cara profesional sehingga
yang lokal itu bisa mengglobal.

#Apapun konsep pengembangan pariwisata nantinya, harus memperhatikan hal-hal sebagai


berikut:
1. Lingkungan : Pariwisata harus ramah lingkungan, bukan sebaliknya lingkungan yang
menjadi korban eksploitasi bisnis pariwisata.
2. Kebudayaan : Pariwisata untuk budaya, bukan budaya untuk pariwisata. Jangan sampai
warisan-warisan budaya baik in-situ maupun ex-situ dikomersialkan untuk kepentingan
pariwisata. Kegiatan pariwisata justru harus mendukung konservasi dan preservasi kebudayaan
lokal.
3. Manusia : Peningkatan dan pengembangan SDM melalui pendidikan dan latihan sehingga
mampu berkompetisi global. Perlu juga diberikan kampanye kesadaran kepada masyarakat
untuk semakin mencintai kebudayaan serta ketahanan akan norma-norma/nilai-nilai sosial
kemasyarakatan sehingga mampu memfiltrasi pengaruh inkulturasi, akulturasi ataupun
asimiliasi sebagai akibat dari kegiatan pariwisata.
4. Ekonomi Sosial : Pariwisata harus mampu meningkat kesejahteraan dan taraf hidup orang
banyak.
5. Objek dan Daya Tarik Wisata : Objek dan atraksi wisata diidentifikasi, dikembangkan,
dirawat dan dipergunakan secara berkesinambungan bukan dibuat untuk menghabiskan biaya
APBD lalu ditelantarkan sehingga menjadi objek yang mubazir.

#A.3. Komponen-komponen Wisata


Menurut Inskeep (1991:38), di berbagai macam literatur dimuat berbagai macam
komponen wisata. Namun ada beberapa komponen wisata yang selalu ada dan merupakan
komponen dasar dari wisata. Komponen-komponen tersebut saling berinteraksi satu sama
lain. Komponen-komponen wisata tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut :
· Atraksi dan kegiatan-kegiatan wisata
Kegiatan-kegiatan wisata yang dimaksud dapat berupa semua hal yang berhubungan
dengan lingkungan alami, kebudayaan, keunikan suatu daerah dan kegiatan-kegiatan
lain yang berhubungan dengan kegiatan wisata yang menarik wisatawan untuk
mengunjungi sebuah obyek wisata.

· Akomodasi

Akomodasi yang dimaksud adalah berbagai macam hotel dan berbagai jenis fasilitas lain
yang berhubungan dengan pelayanan untuk para wisatawan yang berniat untuk
bermalam selama perjalanan wisata yang mereka lakukan.

· Fasilitas dan pelayanan wisata

Fasilitas dan pelayanan wisata yang dimaksud adalah semua fasilitas yang dibutuhkan
dalam perencanaan kawasan wisata. Fasilitas tersebut termasuk tour and travel
operations (disebut juga pelayanan penyambutan). Fasilitas tersebut misalnya : restoran
dan berbagai jenis tempat makan lainnya, toko-toko untuk menjual hasil kerajinan
tangan, cinderamata, toko-toko khusus, toko kelontong, bank, tempat penukaran uang
dan fasilitas pelayanan keuangan lainnya, kantor informasi wisata, pelayanan pribadi
(seperti salon kecantikan), fasilitas pelayanan kesehatan, fasilitas keamanan umum
(termasuk kantor polisi dan pemadam kebakaran), dan fasilitas perjalanan untuk masuk
dan keluar (seperti kantor imigrasi dan bea cukai).

· Fasilitas dan pelayanan transportasi

Meliputi transportasi akses dari dan menuju kawasan wisata, transportasi internal yang
menghubungkan atraksi utama kawasan wisata dan kawasan pembangunan, termasuk
semua jenis fasilitas dan pelayanan yang berhubungan dengan transportasi darat, air,
dan udara.

· Infrastruktur lain

Infrastruktur yang dimaksud adalah penyediaan air bersih, listrik, drainase, saluran air
kotor, telekomunikasi (seperti telepon, telegram, telex, faksimili, dan radio).

· Elemen kelembagaan

Kelembagaan yang dimaksud adalah kelembagaan yang diperlukan untuk membangun


dan mengelola kegiatan wisata, termasuk perencanaan tenaga kerja dan program
pendidikan dan pelatihan; menyusun strategi marketing dan program promosi;
menstrukturisasi organisasi wisata sektor umum dan swasta; peraturan dan perundangan
yang berhubungan dengan wisata; menentukan kebijakan penanaman modal bagi sektor
publik dan swasta; mengendalikan program ekonomi, lingkungan, dan sosial kebudayaan.

Gambar berikut menunjukkan komponen-komponen wisata tersebut dalam suatu hubungan


keseluruhan dari lingkungan alami dan sosial ekonomi antara pasar internasional dan
wisatawan domestik yang akan dilayani dan kawasan tempat tinggal yang digunakan sebagai
tempat atraksi, penyediaan fasilitas, pelayanan, dan infrastruktur.
# Etika Perencanaan Suatu Kawasan Wisata.
Syamsu, dkk (2001) mengatakan bahwa Perencanaan pengembangan suatu kawasan wisata
memerlukan tahapan-tahapan pelaksanaan seperti: Marketing Research, Situational Analysis,
Marketing Target, Tourism Promotion, pemberdayaan masyarakat dan swasta dalam promosi dan
Marketing. Lebih lanjut dijelaskan, untuk menjadikan suatu kawasan menjadi objek wisata yang
berhasil haruslah memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut. (1) Faktor kelangkaan (Scarcity) yakni:
sifat objek/atraksi wisata yang tidak dapat dijumpai di tempat lain, termasuk kelangkaan alami maupun
kelangkaan ciptaan. (2) Faktor kealamiahan (Naturalism) yakni: sifat dari objek/atraksi wisata yang
belum tersentuh oleh perubahan akibat perilaku manusia. Atraksi wisata bisa berwujud suatu warisan
budaya, atraksi alam yang belum mengalami banyak perubahan oleh perilaku manusia. (3) Faktor
Keunikan (Uniqueness) yakni sifat objek/atraksi wisata yang memiliki keunggulan komparatif
dibanding dengan objek lain yang ada di sekitarnya. (4) Faktor pemberdayaan masyarakat (Community
empowerment). Faktor ini menghimbau agar masyarakat lokal benar-benar dapat diberdayakan dengan
keberadaan suatu objek wisata di daerahnya, sehingga masyarakat akan memiliki rasa memiliki agar
menimbulkan keramahtamahan bagi wisatawan yang berkunjung. (5) Faktor Optimalisasi lahan (Area
optimalsation) maksudnya adalah lahan yang dipakai sebagai kawasan wisata alam digunakan
berdasarkan pertimbangan optimalisasi sesuai dengan mekanisme pasar. Tanpa melupakan
pertimbangan konservasi, preservasi, dan proteksi. (6) Faktor Pemerataan harus diatur sedemikian rupa
sehingga menghasilkan manfaat terbesar untuk kelompok mnasyarakat yang paling tidak beruntung
serta memberikan kesempatan yang sama kepada individu sehingga tercipta ketertiban masyarakat tuan
rumah menjadi utuh dan padu dengan pengelola kawasan wisata.
# Plog (1972) dan Pitana (2005), menjelaskan konsep sosiologi tentang wisatawan menjadi
sangat penting, kemudian Plog mengelompokkan tipologi wisatawan sebagai berikut:
1. Allocentris, yaitu wisatawan hanya ingin mengunjungi tempat-tempat yang belum diketahui,
bersifat petualangan, dan mau memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh masyarakat local.
2. Psycocentris, yaitu wisatawan yang hanya ingin mengunjungi daerah tujuan wisata sudah
mempunyai fasilitas dengan standar yang sama dengan di negaranya.
3. Mid-Centris, yaitu terletak diantara tipologi Allocentris dan Psycocentris
Menurut Pitana (2005), tipologi wisatawan perlu diketahui untuk tujuan perencanaan, termasuk
dalam pengembangan kepariwisataan, tipologi yang lebih sesuai adalah tipologi berdasarkan atas
kebutuhan riil wisatawan sehingga pengelola dalam melakukan pengembangan objek wisata sesuai
dengan segmentasi wisatawan. Pada umumnya kelompok wisatawan yang datang ke Indonesia terdiri
dari kelompok wisatawan psikosentris (Psycocentris). Kelompok ini sangat peka pada keadaan yang
dipandang tidak aman dan sangsi akan keselamatan dirinya, sehingga wisatawan tersebut enggan
datang atau membatalkan kunjungannya yang sudah dijadualkan (Darsoprayitno, 2001)
Berdasarkan hal inilah, teori di atas ditulis kembali dengan harapan untuk mengingatkan
kembali bahwa wisatawan yang datang ke Indoensia dari kelompok Psycocentris sehingga siapapun
yang menjadi pengelola objek wisata di Indonesia dapat memperhatikan karakteristik di atas