Anda di halaman 1dari 22

LABORATORIUM TEKNOLOGI MAKANAN

Modul : Pengaruh Oligodinamik, Antiseptik, dan Desinfektan Terhadap Bakteri


Bacillus sp
Kelompok

: 9A

Nama

: 1. Rinny Retnoningsih

NRP 2313030011

2. Vonindya Khoirunnisa M.N.

NRP 2313030021

3. Govindra Okta S.P.

NRP 2313030035

4. Zandhika Alfi Pratama

NRP 2313030047

Tanggal Percobaan

: 4 November 2014

Tanggal Selesai

: 4 November 2014

Dosen Pembimbing : Saidah Altway, S.T., M.T., M.Sc


.Asisten

: Annisa Putri Taranita

PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2014

BAB I
PENDAHULUAN
I.1. Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan pengaruh oligodinamik, antiseptik, dan desinfektan terhadap
bakteri Bacillus sp adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui dan mengidentifikasi bakteri yang digunakan, dengan pengecatan gram.
2. Tujuan dari oligodinamik yaitu untuk menunjukkan pengaruh logam Al, Cu dan Zn
terhadap pertumbuhan bakteri Bacillus sp.
3. Mempelajari pengaruh antiseptik alami ekstrak daun sereh dan desinfektan Cling
terhadap pertumbuhan bakteri Bacillus sp.
4. Membandingkan daya hambat antiseptik kulit manggis, bunga belimbing wuluh dan
daun sereh terhadap pertumbuhan bakteri Bacillus sp.
5. Membandingkan daya hambat desinfektan Cif, S.O.S, dan Cling terhadap
pertumbuhan bakteri Bacillus sp.
I.2. Dasar Teori
I.2.1 Daya Oligodinamik
Banyak zat kimia yang dapat menghambat atau mematikan mikroorganisme, seperti
logam berat seperti Zn dan Cu sampai pada molekul organik yang kompleks seperi
persenyawaan ammonium kuartener. Berbagai substansi tersebut menunjukkan efek
antimikrobialnya dalam berbagai cara dan berbagai macam mikroorganisme. Efeknya
terhadap permukaan benda atau bahan juga berbeda-beda, ada yang serasi ada yang
bersifat merusak. Maka perlu sekali diketahui perlakuan suatu bahan kimia terlebih dahulu
sebelum digunakan untuk penerapan praktis tertentu (Pelczar, 1988).
Uji oligodinamik berprinsip pada interaksi antara logam yang terionisasi dengan
gugus sulfihidril pada protein sel yang menyebabkan denaturasi (Mifta, 2011).
I.2.2 Antiseptik dan Desinfektan
Antiseptik merupakan zat yang dapat menghambat atau membunuh pertumbuhan
jasad renik seperti bakteri, jamur dan lain-lain pada jaringan hidup. Menurut Margono
(1993), terdapat beberapa bahan yang sering digunakan sebagai antiseptik, antara lain:
1. Alkohol, efektif digunakan dengan kepekatan 50-70 %, untuk memecah protein yang
ada dalam kuman penyakit sehingga pertumbuhannya terhambat.
2. Asam dan alkali, penggunaannya sama dengan alkohol.
3. Air raksa, Arsenikum dan Argentum, yang bekerja melalui sistem enzim pada kuman
penyakit.
4. Pengoksida, juga bekerja pada sistem enzim kuman penyakit. Terdiri dari iodium
untuk desinfektan kulit dan chlor untuk desinfektan air minum.
Sifat antiseptik yang ideal adalah memiliki efektivitas germisid yang tinggi, bersifat
letal terhadap mikroorganisme, kerjanya cepat dan tahan lama, spektrum sempit terhadap
infeksi mikroorganisme yang sensitif, tegangan permukaan yang rendah untuk pemakaian
topical, indeks terapi tinggi dan hal ini merupakan faktor penentu penggunaan antiseptik,
tidak memberikan efek sistemik bila diberikan secara topical, tidak merangsang terjadinya
reaksi alergi, tidak diabsorpsi, tidak merangsang kulit maupun mukosa, toksisitas atau daya
absorpsi melalui kulit dan mukosa rendah, efek kerjanya cepat dan bertahan lama,
efektivitasnya tidak terpengaruh oleh adanya darah, dan memiliki spektrum luas yang
artinya efektif untuk membunuh bakteri, virus, jamur, dan sebagainya. Sampai saat ini
belum ada antiseptik yang ideal, tidak jarang bersifat toksik bagi jaringan, menghambat
penyembuhan luka, dan menimbulkan sensitivitas (Darmadi, 2008).
Desinfektan merupakan bahan kimia yang digunakan untuk mencegah terjadinya
infeksi atau pencemaran jasad renik seperti bakteri dan virus, juga untuk membunuh
I-1

LABORATORIUM TEKNOLOGI MAKANAN


kuman penyakit lainnya. Jenis desinfektan yang biasa digunakan adalah chlor atau
formaldehid. Jenis ini lebih efektif bila dicampur dengan air terutama dalam pembuatan es.
Untuk menjaga kualitas ikan penggunaan chlor sebanyak 0,05 % atau 0,5 gram/liter air
sangat efektif (Margono, 1993).
I.2.3 Pengecatan Gram
Salah satu teknik pewarnaan diferensial yang paling penting dan paling luas
digunakan untuk mengidentifikasi bakteri ialah pewarnaan gram. Dalam proses ini, olesan
bakteri yang sudah terfiksasi dikenai larutan-larutan berikut : ungu kristal, larutan yodium,
alkohol (bahan pemucat), dan safranin atau beberapa pewarna tandingan lain yang sesuai.
Bakteri yang diwarnai dengan metode gram ini dibagi menjadi dua kelompok. Salah satu
diantaranya, bakteri gram positif, mempertahankan zat pewarna ungu kristal dan karenanya
tampak ungu tua. Kelompok yang lain, bakteri gram negative, kehilangan ungu Kristal
ketika dicuci dengan alcohol, dan sewaktu diberi pewarna tandingan dengan warna merah
safranin, tampak berwarna merah. Langkah-langkah dalam prosedur serta hasilnya
(Pelczar, 1986)
Kegunaan pengecatan terhadap bakteri adalah untuk memperjelas bentuk dan jenis
bakteri, memperjelas bagian dalam dari suatu bakteri. Faktor-faktor yang mempengaruhi
pengecatan yaitu fiksasi, substrat, intensitas pewarnaan, zat warna penutup, dan dekoloripada setiap tahap dirangkum dalam table berikut (Pelczar, 1986).
Tabel 1. Pewarnaan Gram
LARUTAN DAN
REAKSI DAN TAMPANG BAKTERI
URUTAN
Bakteri Gram Positif
Bakteri Gram Negatif
PENGGUNAAN
Ungu Kristal (UK)
Larutan Yodium

Alkohol

Safranin

Sel berwarna ungu

Sel berwarna ungu

Kompleks UK-Y terbentuk


di dalam sel. Sel tetap
berwarna ungu
Dinding sel mengalami
dehidrasi, pori-pori menciut,
daya rembes dinding sel dan
membrane menurun, UK-Y
tidak dapat keluar dari sel.
Sel tetap ungu
Sel tidak terpengaruhi, sel
tetap ungu

Kompleks UK-Y terbentuk di


dalam sel. Sel tetap berwarna
ungu
Lipid terekstraksi dari dinding
sel, pori-pori mengembang,
kompleks UK-Y keluar dari sel.
Sel menjadi tak berwarna.
Sel menyerap zat pewarna ini,
sel menjadi merah

Gambar 1. Pengecatan Gram


PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

I-2

BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN
II.1 Variabel Percobaan
Variabel yang digunakan dalam percobaan ini terdiri atas:
1. Waktu Percobaan
Variabel waktu yang digunakan untuk percobaan ini yaitu selama 24 jam, 48 jam, dan
72 jam
2. Logam yang Digunakan
Logam yang digunakan dalam percobaan ini adalah Al, Cu dan Zn
3. Antiseptik dan Desinfektan
Antiseptik yang digunakan dalam percobaan ini adalah ekstrak daun sereh
(Cymbopogon Citratus) yang telah melalui proses pre treatment terlebih dahulu dengan
cara direbus dan diambil ekstraknya. Sedangkan untuk desinfektan yang digunakan
dalam percobaan ini adalah Cling yang kandungannya tidak disebutkan pada
kemasannya.
II.2 Bahan yang Digunakan
1. Agar Batang
2. Alkohol
3. Aquadest
4. Larutan C.C.V
5. Larutan Lugol
6. Nutrient Agar
7. Larutan Safranin
8. Suspensi Bakteri
II.3 Alat yang Digunakan
1. Autoklaf
2. Beaker Glass
3. Bunsen
4. Cawan Petridish
5. Deck Glass
6. Encast
7. Gelas Ukur
8. Inkubator
9. Jarum Ose
10. Kaca Objek
11. Kertas Coklat
12. Kertas Saring
13. Mikroskop
14. Pipet Tetes
II.4 Prosedur Percobaan
II.4.1 Pretreatment Bahan untuk Antiseptik
1. Membersihkan daun Sereh terlebih dahulu dengan air, kemudian ditiriskan.
2. Mengeringkan daun Sereh dalam suhu ruang.
3. Menghancurkan daun Sereh dengan menggunakan blender dan menambahkan aquadest
sebanyak 20 mL.
4. Menyaring partikel solid daun Sereh yang masih tercampur dalam campuran ekstrak
daun Sereh.
5. Mengambil hasil penyaringan campuran ekstrak daun Sereh untuk digunakan dalam
percobaan.
II-1

LABORATORIUM TEKNOLOGI MAKANAN


II.4.2 Sterilisasi Alat
1. Mencuci alat dengan sabun dan membilasnya dengan air.
2. Mencuci alat dengan alkohol 96%.
3. Membungkus alat dengan kertas cokelat dengan bagian halus ada di dalam.
4. Memasukkan dalam autoclaft hingga suhu 121oC selama 15 menit.
II.4.3 Pembuatan Media Padat
1. Menimbang 3,9 gram Nutrient Agar, 6 gram agar slant dan menyiapkan aquadest 100
ml.
2. Melarutkan 3,9 Nutrient Agar ke dalam aquadest 100 ml kemudian memanaskannya
didalam panci, setelah panas tambahkan 6 gram agar slant kemudian mengaduknya
hingga homogen.
3. Memasukkannya ke dalam encast. Setelah agak hangat kemudian menambahkan
suspensi bakteri sebanyak 3 ml. Mengaduknya hingga merata.
4. Membaginya ke dalam 5 buah petridish masing-masing 15 ml.
II.4.4 Percobaan Oligodinamik
1. Memotong logam Al, Cu dan Zn dengan diameter 2 cm.
2. Mensterilkan Al, Cu dan Zn dengan menyemprotkan alkohol 96%.
3. Meletakkan logam ke dalam petridish yang sudah diiisi suspensi bakteri.
4. Menginkubasi petridish yang berisi media agar dan logam selama 24 jam, 48 jam, dan
72 jam.
5. Mengamati pada variabel waktu untuk mengamati warna media, bentuk koloni, warna
zona bebas bakteri, dan zona bebas bakteri.
II.4.5 Percobaan Antiseptik dan Desinfektan
1. Memotong kertas saring dengan diameter 2 cm.
2. Mencelupkan ke dalam larutan desinfektan (Cling) dan antiseptik (Ekstrak daun sereh).
3. Menaruh dalam petridish yang berisi media padat yang telah diisi suspensi bakteri.
4. Memasukkan dalam inkubator.
5. Setelah dalam interval waktu tertentu (24 jam, 48 jam, dan 72 jam) kemudian mengukur
zona bebas bakteri dari masing-masing petridish.
II.4.6 Pengecatan Bakteri Menurut Gram
1. Mengambil sebuah kaca objek, membersihkannya dengan alkohol 96% lalu
mengeringkannya.
2. Meneteskan aquadest pada kaca objek.
3. Membakar jarum ose hingga berpijar, lalu mengambil sedikit suspensi bakteri dan
meletakkan pada tetesan aquadest yang terletak pada kaca objek, lalu meratakannya.
4. Mengeringkan tetesan aquadest yang bercampur suspensi bakteri. Bisa dengan api
bunsen dengan jarak 20-30 cm di atasnya.
5. Meneteskan zat warna C.C.V (Carbon Crystal Violet) lalu mendiamkan selama 3
menit dan membuangnya (jangan dicuci).
6. Meneteskan larutan lugol, mendiamkan 1 menit dan membuangnya (jangan dicuci).
7. Mencuci dengan alkohol 96 %.
8. Meneteskan larutan safranin, lalu membilas dengan aquadest.
9. Mengamati dengan menggunakan mikroskop.

PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

II-2

BAB III
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
III.1 Klasifikasi Bakteri Berdasarkan Pengecatan Gram
Pewarnaan Gram atau metode Gram adalah suatu metode empiris untuk membedakan
spesies bakteri menjadi dua kelompok besar, yakni gram positif dan gram negatif,
berdasarkan sifat kimia dan fisik dinding sel mereka. Metode ini diberi nama berdasarkan
penemunya, ilmuwan Denmark Hans Christian Gram (18531938) yang mengembangkan
teknik ini pada tahun 1884 untuk membedakan antara pneumokokus dan bakteri Klebsiella
pneumoniae. Pada uji pewarnaan Gram, suatu pewarna penimbal (counterstain)
ditambahkan setelah metil ungu, yang membuat semua bakteri gram negatif menjadi
berwarna merah atau merah muda. Pengujian ini berguna untuk mengklasifikasikan kedua
tipe bakteri ini berdasarkan perbedaan struktur dinding sel mereka (Lestari, 2013).
Kegunaan pengecatan terhadap bakteri adalah untuk memperjelas bentuk dan jenis
bakteri, memperjelas bagian dalam dari suatu bakteri. Faktor-faktor yang mempengaruhi
pengecatan yaitu fiksasi, substrat, intensitas pewarnaan, zat warna penutup, dan dekolorisator (peluntur cat) (Dyah, 1997).
Bakteri gram negative adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna metil
ungu pada metode pewarnaan Gram. Bakteri gram positif akan mempertahankan warna
ungu gelap setelah dicuci dengan alcohol, sementara bakteri gram negative tidak. Bakteri
gram positif adalah bakteri yang mempertahankan zat warna metil ungu sewaktu proses
pewarnaan Gram. Bakteri jenis ini akan berwarna biru atau ungu di bawah mikroskop,
sedangkan bakteri gram negative akan berwarna merah muda. Perbedaan klasifikasi antara
kedua jenis bakteri ini terutama didasarkan pada perbedaan struktur dinding sel bakteri
(Lestari, 2013).

Gambar 2. Hasil Pengecatan Bakteri Gram


Pada percobaan pengecatan gram bahan yang digunakan yaitu suspensi bakteri,
aquadest, alkohol, larutan C.C.V, larutan lugol, dan larutan safranin. Prosedur percobaan
pengecatan gram adalah mengambil sebuah kaca objek dan membersihkannya dengan
alkohol lalu mengeringkannya. Meneteskan aquadest pada kaca objek. Membakar jarum
ose hingga berpijar lalu mengambil suspensi bakteri dengan menggunakan jarum ose
tersebut. Suspensi bakteri yang telah diambil diletakkan pada kaca objek yang telah diberi
aquadest kemudian melakukan proses fiksasi dengan cara memanaskan campuran aquadest
dan suspensi bakteri di atas bunsen dengan jarak 20-30 cm di atasnya dan menunggu
hingga kering. Tujuan dari fiksasi adalah mencegah mengkerutnya globula-globula protein
sel, melekatkan bakteri diatas objek, dan membunuh mikroba secara tepat dengan tidak
merusak struktur sel. Selanjutnya meneteskan larutan C.C.V lalu didiamkan selama 1
menit dan membuang larutan C.C.V tersebut. Larutan C.C.V berfungsi untuk mewarnai
seluruh sel. Hasil dari pemberian larutan C.C.V yaitu seluruh sel bakteri menjadi ungu.
Meneteskan larutan lugol lalu didiamkan selama 1 menit dan membuang larutan lugol

III-1

LABORATORIUM TEKNOLOGI MAKANAN


tersebut. Larutan lugol berfungsi untuk membuat zat warna terikat lebih kuat pada jaringan
sel dengan membentuk kompleks Kristal violet-Iodin sehingga sulit dihilangkan oleh
bahan dekolorisasi. Selain itu penambahan larutan lugol juga berfungsi agar sel-sel bakteri
dapat diwarnai lebih intensif sehingga akan menyebabkan zat pewarna pada sel terikat
lebih kuat pada jaringan sel. Hasil dari pemberian larutan lugol yaitu warna sel bakteri
tetap terlihat berwarna ungu. Melakukan proses dekolorisasi dengan cara mencuci kaca
objek dengan larutan alkohol. Tujuan dari dekolorisasi berfungsi untuk memucatkan warna
ungu yang sudah menempel pada sel bakteri. Tahap selanjutnya yaitu pemberian cat
penutup dengan cara meneteskan larutan safranin pada kaca objek. Hasil dari pemberian
larutan safranin apabila bakteri tersebut termasuk bakteri gram positif maka bakteri akan
berwarna ungu, dan apabila bakteri termasuk bakteri gram negatif maka seluruh sel bakteri
menjadi merah. Setelah pemberian cat penutup, kaca objek dibilas dengan aquadest.
Kemudian mengamati warna bakteri dan bentuk bakteri.
Berdasarkan hasil pengecatan tersebut, bakteri yang digunakan memiliki
karakteristik diantaranya bentuknya oval, tubuhnya seperti berserat, dan berwarna merah
setelah dilakukan pengecatan. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa bakteri yang
digunakan dalam percobaan ini adalah bakteri gram negatif. Hal ini dapat dilihat dari
persamaan karakteristik bakteri yang digunakan dengan bakteri gram, yaitu bakteri gram
negatif akan kehilangan zat pewarna kristal violet setelah dicuci dengan alkohol, dan
sewaktu diberi zat pewarna tandingannya yaitu dengan zat pewarna air fuchsin atau
safranin akan tampak berwarna merah. Berdasarkan karakteristik morfologinya yang warna
koloni sebelum pewarnaan adalah krem, berbentuk basil atau kapsul, permukaan nampak
kasar dan tidak berlendir, dan termasuk bakteri gram negatif, maka dalam percobaan ini,
bakteri yang digunakan adalah bakteri Bacillus sp (Scetzer, 2006).
III.2 Pengaruh Daya Oligodinamik Terhadap Bakteri Gram
Oligodinamik adalah proses penghambatan ion logam terhadap pertumbuhan
mikroba. Logam berat berfungsi sebagai antimikroba oleh karena dapat mempresipitasikan
enzim-enzim atau protein esensial dalam sel. Daya antimikroba dari logam berat, dimana
pada konsentrasi yang kecil saja dapat membunuh mikroba dinamakan daya oligodinamik.
Oligodinamik merupakan kerja germisid dari ion logam dalam kadar rendah sekali
(Tjay, 2007). Germisid atau germisida sendiri adalah penghambat perkembangbiakan
bakteri penyebab busuk (Sarwono, 2002) atau suatu zat yang dapat menghancurkan
mikroorganisme, termasuk didalamnya: bakterisid, fungisid, virusid, dan amubisid
(Rahardjo, 2004). Daya antimikroba dari logam berat, dimana pada konsentrasi yang kecil
saja dapat membunuh mikroba dinamakan daya oligodinamik (Zaldi, 2009). Daya ini timbul
karena logam dapat mempresipitasikan enzim-enzim atau protein esensial dalam sel.
Logam berat yang umum dipakai adalah Hg, Ag, As, Zn, dan Cu (Dee, 2010). Ion-ion
logam berat pada kadar yang sangat rendah bersifat toksik terhadap mikrobia, karena ionion dapat bereaksi dengan bagian-bagian penting dalam sel (Najib, 2012).
Uji oligodinamik berprinsip pada interaksi antara logam yang terionisasi dengan
gugus sulfihidril pada protein sel yang menyebabkan denaturasi (Mifta, 2011). Banyak zat
kimia yang dapat menghambat atau mematikan mikroorganisme seperti logam berat
sampai pada molekul organik yang kompleks seperi persenyawaan ammonium kuartener.
Berbagai substansi tersebut menunjukkan efek antimikrobialnya dalam berbagai cara dan
berbagai macam mikroorganisme. Efeknya terhadap permukaan benda atau bahan juga
berbeda-beda, ada yang serasi ada yang bersifat merusak. Maka perlu sekali diketahui
perlakuan suatu bahan kimia terlebih dahulu sebelum digunakan untuk penerapan praktis
tertentu (Pelczar, 1988).
PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

III-2

LABORATORIUM TEKNOLOGI MAKANAN


Dengan cara kerja dari logam Cu yaitu beberapa turunan fenol, seperti heksaklorofen
dan oksikuinolin dapat membentuk khelat dengan ion Fe dan Cu masuk ke dalam sel
bakteri, kemudian bentuk khelat tersebut masuk ke dalam sel bakteri. Kadar yang tinggi
dari ion-ion logam di dalam sel menyebabkan gangguan fungsi enzim-enzim sehingga
jasad renik mengalami kematian (Marbun, 2014). Pada logam Zn dapat diambil contoh yaitu
Zinc pyrithione. Zinc pyrithione adalah suatu senyawa yang digunakan sebagai anti bakteri,
anti jamur topical dan anti seboroik. Efek antifungal pada zinc pythirione bekerja dengan
cara mengganggu transport sel melalui blok pompa proton yang berfungsi dalam
mekanisme transport. Penelitian terbaru menunjukan bahwa zinc menimbulkan kekurangan
besi pada substrat. Zinc pythirione memiliki spektrum luas dan sangat efektif dalam
menghambat pertumbuhan bakteri (Oktaviana, 2012). Berdasarkan literatur yang ada
menyebutkan bahwa mekanisme logam aluminium dapat menghambat pertumbuhan
bakteri dimana aluminium dalam bentuk aluminium chlorida dalam air atau mereaksikan
hidrogen chlorida dalam air dengan alumina hidrid yang dapat menghambat pertumbuhan
bakteri sehingga sering dipakai sebagai deodorant dan antiseptik serta sebagai bahan
pengawet kayu-kayuan (Priggodigdo, 2013).
Pada percobaan oligodinamik bahan yang digunakan yaitu nutrient agar, agar batang,
suspensi bakteri, aquadest, logam Al, logam Cu, dan logam Zn dengan diameter 2 cm.
Prosedur percobaan oligodinamik adalah pertama proses pembuatan media. Selanjutnya
memotong logam Al, logam Cu, dan logam Zn dengan diameter 2 cm. Meletakkan logam
ke dalam petridish yang telah terisi oleh media. Selanjutnya menginkubasi petridish yang
berisi media dan logam selama 24, 48, dan 72 jam. Kemudian melakukan pengamatan
terhadap keadaan logam, keadaan media, keadaan bakteri, zona bebas bakteri, dan zona
bakteri.
Tabel 2. Hasil Pengamatan Daya Oligodinamik Logam Al
Zona
Variabel
Zona
Hasil Pengamatan
Keterangan
Bebas
Waktu
Bakteri
Bakteri
-Keadaan Logam :
R
Tidak ada perubahan
-Keadaan Media :
Bewarna kuning dan
r
media terbagi menjadi
daerah bebas bakteri
24 Jam
dan bakteri
0,7 cm
2,8 cm
-Keadaan Bakteri :
Bakteri
tumbuh
berkoloni di seluruh
zona bakteri. Kecilkecil dan bewarna putih
bintik-bintik

PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

III-3

LABORATORIUM TEKNOLOGI MAKANAN

R
r
48 Jam

72 Jam

Variabel
Waktu

24 jam

-Keadaan Logam :
Tidak ada perubahan
-Keadaan Media :
Bewarna kuning dan
media terbagi menjadi
zona bebas bakteri dan
bakteri
-Keadaan Bakteri :
Bakteri
tumbuh
berkoloni di seluruh
zona bakteri. Kecilkecil dan bewarna putih
bintik-bintik
-Keadaan Logam :
Tidak ada perubahan
-Keadaan Media :
Bewarna kuning media
terbagi menjadi zona
bebas
bakteri
dan
bakteri
-Keadaan Bakteri :
Bakteri
tumbuh
berkoloni di seluruh
zona bakteri. Kecilkecil dan bewarna putih
bintik-bintik

0,5 cm

3 cm

0,5 cm

3 cm

Tabel 3. Hasil Pengamatan Daya Oligodinamik Logam Cu


Zona
Zona
Hasil Pengamatan
Keterangan
bebas
Bakteri
Bakteri
Logam Cu:
-Media ditumbuhi
bakteri yang tersebar
R
merata
r
-Bagian logam dan
sekelilingnya tidak
ditumbuhi bakteri
0,5 cm 3,5 cm
karena letak logam
terlalu dalam hingga
ke permukaan bawah
-Bakteri menyebar
seperti kerak dan
berwarna putih

PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

III-4

LABORATORIUM TEKNOLOGI MAKANAN

48 jam

Logam Cu:
-Media ditumbuhi
bakteri yang tersebar
merata
-Bagian logam dan
sekelilingnya tidak
ditumbuhi bakteri
-Bakteri menyebar
lebih merata seperti
kerak dan berwarna
putih.

0,6 cm

3,4 cm

72 jam

Logam Cu:
- Media ditumbuhi
bakteri yang tersebar
merata
-Bagian logam dan
sekelilingnya tidak
ditumbuhi bakteri
-Bakteri menyebar
lebih merata seperti
kerak dan berwarna
putih

0,8 cm

3,2 cm

R
r

Variabel
Waktu

24 jam

Tabel 4. Hasil Pengamatan Daya Oligodinamik Logam Zn


Zona
Zona
Hasil Pengamatan
Keterangan
bebas
Bakteri
Bakteri
Logam Zn:
-Media ditumbuhi
bakteri yang tersebar
R
merata
-Bagian logam dan
r
sekelilingnya tidak
ditumbuhi bakteri
0,5 cm
3 cm
karena letak logam
terlalu dalam hingga
ke permukaan
bawah
-Bakteri menyebar
seperti kerak dan
berwarna putih

PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

III-5

LABORATORIUM TEKNOLOGI MAKANAN


R
r
48 jam

72 jam

Logam Zn:
-Media ditumbuhi
bakteri yang tersebar
merata
-Bagian logam dan
sekelilingnya tidak
ditumbuhi bakteri
-Bakteri menyebar
lebih merata seperti
kerak dan berwarna
putih
Logam Zn:
-Media ditumbuhi
bakteri yang tersebar
merata di permukaan
-Daerah logam dan
sekelilingnya tidak
ditumbuhi
-Bakteri berwarna
putih dan
strukturnya bercakbercak putih seperti
jamur.

0,3 cm

3 cm

0,3 cm

3 cm

Dari hasil pengamatan logam Al dengan variable waktu 24 jam, 48 jam, dan 72 jam
didapatkan bahwa pada variabel waktu 72 jam logam Aluminium (Al) memiliki daya
hambat bakteri yang lebih besar dibandingkan dengan variabel waktu lainnya. Hal ini
ditunjukkan dengan zona bebas bakteri sebesar 0,7 cm.
Mekanisme logam aluminium dapat menghambat pertumbuhan bakteri dimana
aluminium dalam bentuk aluminium chlorida dalam air atau mereaksikan hidrogen
chlorida dalam air dengan alumina hidrid yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri
sehingga sering dipakai sebagai deodorant dan antiseptik serta sebagai bahan pengawet
kayu-kayuan (Priggodigdo, 2013).
Hal ini ditunjukkan dari hasil pengamatan logam Cu dengan zona bebas bakteri
sebesar 0,8 cm pada variabel 72 jam. Selain itu keadaan media pada variable waktu 72 jam
lebih sedikit ditumbuhi bakteri jika dibandingkan dengan variable waktu yang lain.
Keadaan bakteri yang tumbuh dari waktu ke waktu juga semakin berkurang, ditunjukkan
dengan semakin kecilnya zona bakteri. Bakteri yang tumbuh berwarna putih seperti jamur
dan tersebar merata di permukaan media.
Berdasarkan literatur, logam Cu memiliki karakteristik dapat mempresipitasikan
enzim-enzim atau protein esensial dalam sel (Zaldi, 2009), logam Cu pada kadar rendah
juga dapat menjadi racun (toksis).
Mekanisme kerja dari logam Cu dalam menghambat pertumbuhan bakteri sama
dengan kerja antibiotik yaitu menghambat sintesis dinding sel, merusak permeabilitas
membran sel, menghambat sintesis protein. Dibandingkan dengan hasil pengamatan untuk
mengetahui logam Cu apakah dapat menghambat pertumbuhan bakteri secara maksimum,
maka digunakan pembanding logam Zn.
Hal ini ditunjukkan dari hasil pengamatan logam Zn dengan zona bebas bakteri
sebesar 0,3 cm pada variabel 72 jam. Selain itu keadaan media yang ditumbuhi bakteri
pada variable 72 jam sama luas zona bakterinya dengan variable yang lainnya, yaitu 3 cm.
PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

III-6

LABORATORIUM TEKNOLOGI MAKANAN


Hal ini menunjukkan efektifitas daya oligodinamik dari logam Zn tersebut dari waktu ke
waktu sama. Keadaan bakteri yang tumbuh dari waktu ke waktu juga semakin bertambah.
Bakteri yang tumbuh berwarna putih seperti jamur dan tersebar merata di permukaan
media. Hal ini berbeda dengan literatur yang menunjukkan bahwa logam Zn memiliki daya
oligodinamik yang baik. Kesalahan ini disebabkan karena dalam penempatan logam Zn
terlalu dalam hingga ke dasar permukaan. Sehingga efektifitas daya oligodinamik logam
Zn tersebut terhambat oleh tumpukan medianya itu sendiri.
Pada logam Zn dapat diambil contoh yaitu Zinc pyrithione. Zinc pyrithione adalah
suatu senyawa yang digunakan sebagai anti bakteri, anti jamur topikal dan anti seboroik.
Efek antifungal pada zinc pythirione bekerja dengan cara mengganggu transport sel
melalui blok pompa proton yang berfungsi dalam mekanisme transport. Penelitian terbaru
menunjukan bahwa zinc menimbulkan kekurangan besi pada substrat. Zinc pythirione
memiliki spektrum luas dan sangat efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri
(Oktaviana, 2012).
Berdasarkan literatur, logam Zn memiliki karakteristik sebagai sumber-sumber
mikro nutrient yang penting bagi bakteri (Nurita, 2010). Selain itu logam Zn juga memiliki
sifat atau kemampuan antibakteri (Pranowo, 2009).
Dari ketiga hasil percobaan di atas maka dapat disimpulkan bahwa logam Cu lebih
resisten daripada logam Zn dan Al yang ditunjukkan dengan zona bebas bakteri sebesar 0,8
cm serta keadaan media yang tetap atau tidak berubah dan bakteri yang tumbuh tidak
begitu signifikan dalam media. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa
logam Cu memiliki keunggulan dibandingkan dengan logam Zn diantaranya logam Cu
lebih peka terhadap bakteri, bersifat racun atau toksik. Sedangkan logam Zn merupakan
sumber nutrient yang penting bagi mikroba sehingga justru menjadi tempat bertumbuhnya
mikroba (Nurita, 2010).
III.3 Pengaruh Antiseptik Terhadap Bakteri Gram
Antiseptik adalah desinfektan yang nontosik karena digunakan untuk kulit, mukosa,
atau jaringan hidup lainnya. Antiseptik harus memiliki persyaratan yaitu memiliki
spektrum luas (efektif membunuh mikroorganisme); tidak merangsang kulit maupun
mukosa; toksisitas atau daya absorbsi melalui kulit dan mukosa rendah; efek kerjanya
cepat dan bertahan lama; dan efektivitasnya tidak terpegaruh oleh adaya darah (Darmadi,
2008).

Tujuan dari percobaan antiseptik yaitu untuk mempelajari pengaruh antiseptik


alami bahan daun Binahong, daun Kersen, dan daun Pepaya terhadap pertumbuhan bakteri
Bacillus sp.

PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

III-7

LABORATORIUM TEKNOLOGI MAKANAN


Tabel 5. Hasil Pengamatan Daya Oligodinamik pada Antiseptik Ekstrak Daun Sereh
(Cymbopogon citratus)
Zona
Zona
Variabel
bebas
Hasil Pengamatan
Keterangan
Bakte
Waktu
Bakte
ri
ri
Ekstrak Daun Sereh:
-Media ditumbuhi
bakteri yang tersebar
merata
r
-Media di sekeliling
terdekat dari
24 jam
1 cm
2 cm
antiseptic tidak
R
ditumbuhi bakteri
-Bakteri yang tumbuh
berwarna putih
berkoloni seperti
jamur
R

48 jam

R
r
72 jam

PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

Ekstrak Daun Sereh:


-Media ditumbuhi
bakteri yang tersebar
merata
-Antiseptic dan
sekitarnya tidak
1 cm
ditumbuhi bakteri dan
sekat antar keduanya
semakin jelas
-Bakteri yang tumbuh
berwarna putih dan
seperti jamur
Ekstrak Daun Sereh:
-Media ditumbuhi
bakteri yang tersebar
merata
-Daerah sekeliling
antiseptic tidak
0,7 cm
nampak ditumbuhi
bakteri
-Bakteri yang tumbuh
berwarna putih
seperti jamur

2 cm

2,5 cm

III-8

LABORATORIUM TEKNOLOGI MAKANAN


Tabel 6. Hasil Pengamatan Daya Oligodinamik pada Antiseptik Kulit Manggis
(Garcinia mangostana)
Zona
Variabel
Zona
Hasil Pengamatan
Keterangan
Bebas
Waktu
Bakteri
Bakteri
-Keadaan antiseptik :
dikelilingi oleh bakteri.
-Keadaan Media :
berwarna kekuningan.
24 jam
Tidak terlihat zona
0 cm
3,5 cm
bebas bakteri.
-Keadaan Bakteri :
Bakteri tumbuh banyak
pada zona bakteri
-Keadaan antiseptik :
dikelilingi oleh bakteri.
-Keadaan Media :
berwarna kekuningan.
Tidak terlihat zona
48 jam
0 cm
3,5 cm
bebas bakteri.
-Keadaan Bakteri :
Bakteri tumbuh banyak
pada zona bakteri

72 jam

-Keadaan antiseptik :
dikelilingi oleh bakteri.
-Keadaan Media :
berwarna kekuningan.
Tidak terlihat zona
bebas bakteri.
-Keadaan Bakteri :
Bakteri tumbuh banyak
pada zona bakteri

0 cm

3,5 cm

Tabel 7. Hasil Pengamatan Daya Oligodinamik pada Antiseptik Ekstrak Bunga Belimbing
Wuluh
Zona
Variabel
Zona
Hasil Pengamatan
Keterangan
Bebas
Waktu
Bakteri
Bakteri
-Keadaan Antiseptik :
0 cm
4 cm
Masih tetap
-Keadaan Media :
Media dari variabel
tersebut tidak terbentuk
zona
anti
bakteri
24 Jam
namun
terdapat
perbedaan warna yang
samar dimana ada
warna yang lebih cerah
ditumbuhi oleh bakteri.
PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

III-9

LABORATORIUM TEKNOLOGI MAKANAN

48 Jam

72 Jam

-Keadaan bakteri dalam


media :
Bakteri
tersebut
membentuk
kolonikoloni yang berwarna
cerah dan memenuhi
media
-Keadaan Antiseptik :
masih dalam keadaan
yang baik, sama seperti
variabel 24 jam.
-Keadaan Media :
Media dari variabel
mulai
mengalami
peningkatan populasi
dan tidak terbentuk
zona bebas bakteri
-Keadaan Bakteri :
Bakteri
meningkat,
kerapatannya semakin
tinggi
-Keadaan antiseptik :
masih dalam keadaan
yang sama seperti
variabel-variabel
sebelumnya
-Keadaan Media :
Sama seperti kondisi
variabel 48 jam
-Keadaan Bakteri:
Sama seperti kondisi 48
jam.

0 cm

4 cm

0 cm

4 cm

Pada percobaan antiseptik bahan yang digunakan yaitu daun sereh, daun belimbing
wuluh, dan kulit manggis. Prosedur percobaan oligodinamik adalah pertama proses
pembuatan media. Selanjutnya memotong kertas saring dengan diameter 2 cm. Meletakkan
kertas saring yang telah diberi sampel ke dalam petridish yang telah terisi oleh media
setelah media semi padat. Selanjutnya menginkubasi petridish yang berisi media dan kertas
saring selama 24, 48, dan 72 jam. Kemudian melakukan pengamatan terhadap keadaan
kertas saring, keadaan media, keadaan bakteri, zona bebas bakteri, dan zona bakteri.
Sereh (Cymbopogon citratus) adalah salah satu tanaman penghasil minyak atsiri. Di
Indonesia, spesies yang lebih dikenal adalah West Indian Lemongrass dan masyarakat
umumnya menggunakannya sebagai campuran bumbu dapur dan rempah-rempah karena
mempunyai aroma khas seperti lemon. Aroma ini diperoleh dari senyawa sitral yang
terkandung dalam minyak atsiri sereh. Leung (1980) dalam Mamun dan Nurdjannah
(1993) mengutarakan bahwa minyak atsiri yang terkandung dalam sereh dapur memiliki
khasiat sebagai antijamur dan antibakteri (Sumiartha, 2013).
Dalam percobaan ini digunakan antiseptik ekstrak daun sereh dengan diameter 2
cm yang diketahui memiliki sifat atau kemampuan yang mampu menghambat
pertumbuhan bakteri dengan cara gugus hipofilik dan hidrofilik, antiseptik.
PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

III-10

LABORATORIUM TEKNOLOGI MAKANAN


Dari hasil pengamatan tersebut didapatkan bahwa pada variabel 24 jam, 36 jam,
dan 72 jam antiseptik ekstrak daun sereh memiliki daya hambat bakteri yang sama besar
dengan variabel waktu lainnya jika ditinjau dari jarak zona bebas bakteri dan zona bakteri.
Namun, jika ditinjau dari efektifitasnya, pada variable waktu 72 jam antiseptic lebih
optimal menghambat pertumbuhan bakteri, dengan terlihatnya semakin jelas batas antar
zona. Hal ini ditunjukkan dengan zona bebas bakteri sebesar 0,7 cm. Selain itu
keadaan media yang ditumbuhi bakteri pada variable 72 jam sama luas zona bakterinya
dengan variable yang lainnya, yaitu 2,5 cm. Namun, bakteri pada variable waktu 72 jam
lebih banyak. Hal ini menunjukkan efektifitas dari antiseptic ekstrak daun sereh tersebut
dari waktu ke waktu semakin besar, meskipun pertambahannya tidak begitu nampak
dengan jelas. Bakteri yang tumbuh berwarna putih seperti jamur dan tersebar merata di
permukaan media. Hal ini sesuai dengan literatur yang menunjukkan bahwa antiseptik
ekstrak daun sereh memiliki daya hambat pertumbuhan bakteri yang baik.
Dalam percobaan ini digunakan ekstrak bunga belimbing wuluh sebagai antiseptik
dengan diresapkan pada kertas saring berdiameter 2 cm yang diketahui memiliki sifat atau
kemampuan menghambat dan membunuh pertumbuhan bakteri dengan cara
mengkontakannya. Sebelum dilakukan percobaan, bahan terlebih dahulu melalui proses
pre-treatment dengan cara diresapkan dengan menggunakan kertas saring untuk lebih
memudahkan pengujian. Kemudian setiap kertas saring tersebut diletakkan pada media
yang telah ditanam bateri.
Dari hasil pengamatan tersebut didapatkan bahwa pada kulit manggis tidak
memiliki daya hambat pertumbuhan bakteri yang konstan. Sebab, tidak ada batas zona
bebas bakteri. Dimana semua bagian petridish ditumbuhi oleh bakteri. Hal ini tidak sesuai
dengan literatur yang ada menurut Poeloegan (2010) yang mana di dalam kulit manggis
mengandung tanin, flavonoid, steroid/triterpenoid dan kuinon yang mana zat tersebt dapat
menghambat atau membunuh pertumbuhan bakteri. Untuk banyaknya bakteri yang ada
pada media, variabel dengan banyak bakteri terbanyak terdapat pada variabel 72 jam.
Kemudian dibandingkan dengan hasil pengamatan, untuk mengetahui antiseptik
ekstrak daun sereh apakah dapat menghambat pertumbuhan bakteri secara maksimum,
maka digunakan pembanding desinfektan Cling. Berdasarkan hasil pengamatan, didapat
hasil yang ditampilkan dalam Tabel 8.
Dari ketiga hasil percobaan di atas maka dapat disimpulkan bahwa antiseptik alami
baik daun sereh, kulit manggis dan daun belimbing wuluh, daun sereh lebih resisten
terhadap bakteri daripada daun belimbing wuluh dan kulit manggis. Hal ini ditunjukkan
dengan zona bebas bakteri sebesar 0,7 cm serta keadaan media yang tetap atau tidak
berubah. Hal ini sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa ekstrak daun binahong
yang digunakan mengandung senyawa aktif seperti alkaloid, saponin, quinon, fenolik dan
flavonoid. Golongan senyawa-senyawa tersebut merupakan senyawa bioaktif dalam
tanaman, sehingga diduga berpotensi sebagai antibakteri (Qamarul, 2014).

PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

III-11

LABORATORIUM TEKNOLOGI MAKANAN


III.4 Pengaruh Disinfektan Terhadap Bakteri Gram
Tujuan dari percobaan desinfektan yaitu untuk mempelajari pengaruh desinfektan
bahan WPC, Molta Anti Bacterial, dan Dettol terhadap pertumbuhan bakteri Bacillus sp.
Desinfektan adalah suatu zat yang mencegah infeksi dengan menghancurkan
mikroorganisme patogen, terutama istilah ini digunakan pada benda-benda mati (Rahardjo,
2004). Sifat desinfektan yang ideal adalah memiliki efektivitas germisid yang tinggi,
spektrum antimikroba luas meliputi spora, bakteri, fungi, virus, dan protozoa, efek letalnya
cepat dan dapat dicapai walau terdapat bahan organik sehingga kemungkinan adanya
resistensi dapat dicegah, dapat menembus ke celah rongga dan ke lapisan bawah organik,
sifat kimiawi dan fisik stabil sehingga dapat bercampur dengan sabun dan substansi kimia
lain, faktor estetika seperti bau dan warna kadang merupakan faktor penentu untuk
pemakaian desinfektan, dan harga murah dan mudah didapat (Rahardjo, 2004).
Tabel 8. Hasil Pengamatan Daya Oligodinamik pada Desinfektan Cling
Zona
Variabel
Zona
Hasil Pengamatan
Keterangan
bebas
Waktu
Bakteri
Bakteri
Cling
(anti bacteria):
-Media ditumbuhi
r
bakteri yang tersebar
merata
-Daerah di atas dan di
24 jam
0,3 cm
3 cm
sekeliling desinfektan
R
tidak ditumbuhi
bakteri -Bakteri yang
tumbuh berwarna
putih seperti jamur
R
r

48 jam

R
72 jam

PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

Cling
(anti bacteria):
-Media ditumbuhi
bakteri yang tersebar
merata
-Daerah di sekitar
desinfektan tidak
ditumbuhi bakteri dan
jarak antar zona lebih
jelas
-Bakteri yang tumbuh
berwarna putih
seperti jamur
Cling
(anti bacteria):
-Media ditumbuhi
bakteri yang tersebar
merata
-Daerah di sekitar
desinfektan tidak
nampak ditumbuhi
bakteri dan jarak

0,2 cm

3 cm

0,2 cm

2,7 cm

III-12

LABORATORIUM TEKNOLOGI MAKANAN


antar zona lebih jelas
-Bakteri yang tumbuh
berwarna putih
seperti jamur

Variabel
Waktu

24 Jam

48 Jam

72 Jam

Tabel 9. Hasil Pengamatan Daya Oligodinamik pada Desinfektan Cif


Zona
Zona
Hasil Pengamatan
Keterangan
Bebas
Bakteri
Bakteri
Keadaan Desinfektan :
Tidak ada perubahan
-Keadaan Media :
Bewarna kuning media
terbagi menjadi zona
bebas
bakteri
dan
bakteri
0,8 cm
2,45 cm
r
-Keadaan Bakteri :
Bakteri
tumbuh
R
berkoloni di seluruh
zona bakteri. Kecilkecil dan bewarna putih
bintik-bintik
Keadaan Desinfektan :
Tidak ada perubahan
-Keadaan Media :
Bewarna kuning media
terbagi menjadi zona
bebas
bakteri
dan
R
bakteri
0,6 cm
2,45 cm
r
-Keadaan Bakteri :
Bakteri
tumbuh
berkoloni di seluruh
zona bakteri. Kecilkecil dan bewarna putih
bintik-bintik
Keadaan Desinfektan :
Tidak ada perubahan
-Keadaan Media :
r
Bewarna kuning media
terbagi menjadi zona
R
bebas
bakteri
dan
bakteri
0,6 cm
2,45 cm
-Keadaan Bakteri :
Bakteri
tumbuh
berkoloni di seluruh
zona bakteri. Kecilkecil dan bewarna putih
bintik-bintik

PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

III-13

LABORATORIUM TEKNOLOGI MAKANAN


Tabel 10. Hasil Pengamatan Daya Oligodinamik pada Desinfektan S.O.S
Zona
Variabel
Zona
Hasil Pengamatan
Keterangan
Bebas
Waktu
Bakteri
Bakteri
24 Jam
-Keadaan Desinfektan :
Masih tetap
-Keadaan Media :
Media dari variabel
tersebut
mulai
terbentuk zona anti
r
bakteri dan perbedaan
warna yang samar
0,7 cm
3,1 cm
dimana ada warna yang
lebih cerah ditumbuhi
R
oleh bakteri.
-Keadaan bakteri dalam
media :
Bakteri
tersebut
membentuk
kolonikoloni yang berwarna
cerah
-Keadaan Desinfektan :
masih dalam keadaan
48 Jam
yang baik, sama seperti
r
variabel 24 jam.
-Keadaan Media :
Media dari variabel
0,6 cm
3,2 cm
mulai
mengalami
R
peningkatan populasi
-Keadaan Bakteri :
Bakteri
meningkat,
kerapatannya semakin
tinggi
-Keadaan desinfektan :
72 Jam
S.O.S. masih dalam
R
keadaan yang sama
seperti
variabelvariabel sebelumnya
-Keadaan Media :
0,6 cm
3,2 cm
r
Sama seperti kondisi
variabel 48 jam
-Keadaan Bakteri:
Sama seperti kondisi 48
jam.
Dalam percobaan ini digunakan S.O.S sebagai desinfektan dengan diresapkan pada
kertas saring berdiameter 2 cm yang diketahui memiliki sifat atau kemampuan
menghambat dan membunuh pertumbuhan bakteri dengan cara mengkontakannya.
Sebelum dilakukan percobaan, bahan terlebih dahulu melalui proses pre-treatment dengan
cara diresapkan dengan menggunakan kertas saring untuk lebih memudahkan pengujian.
Kemudian setiap kertas saring tersebut diletakkan pada media yang telah ditanam bakteri.
PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

III-14

LABORATORIUM TEKNOLOGI MAKANAN


Dari hasil pengamatan tersebut didapatkan bahwa pada variabel 24 jam, 48 jam,
dan 72 jam desinfektan Cling memiliki daya hambat bakteri yang besar
dengan
variabel waktu 72 jam. Jika ditinjau dari jarak zona bebas bakteri dan zona bakteri, lebih
optimal menghambat pertumbuhan bakteri, dengan terlihatnya semakin jelas batas antar
zona. Hal ini ditunjukkan dengan zona bebas bakteri sebesar 0,3 cm. Selain itu
keadaan media yang ditumbuhi bakteri pada variable 72 jam lebih kecil luas zona
bakterinya dengan variable yang lainnya, yaitu 2,7 cm. Hal ini menunjukkan efektifitas
dari desinfektan Cling tersebut dari waktu ke waktu semakin besar, meskipun
pertambahannya tidak begitu nampak dengan jelas. Bakteri yang tumbuh berwarna putih
seperti jamur dan tersebar merata di permukaan media. Hal ini sesuai dengan literatur
yang menunjukkan bahwa desinfektan Cling memiliki daya hambat pertumbuhan bakteri
yang baik.
Berdasarkan literatur, desinfektan Cling merupakan desinfektan yang memiliki
aktivitas antiinflamasi, antioksidan, antibakteri, dan antivirus.
Berdasarkan literatur, desinfektan S.O.S. mengandung HCl 14% yang dapat dilihat
pada kemasan botol S.O.S. sendiri.
Menurut Amin, (2011), senyawa klorin yang terkandung dalam desinfektan bekerja
membunuh bakteri. Klorin membunuh dengan merusak struktur sel bakteri. Kerusakan
yang diakibatkan oleh klorin adalah:
1. Perusakan Kemampuan Permeabilitas
Sel Khlor bebas merusak membran dari sel bakteri, hal ini menyebabkan sel kehilangan
permeabilitasnya dan merusak fungsi sel lainnya. Paparan Khlor menyebabkan
kebocoran protein, RNA dan DNA. Sel mati merupakan hasilpelepasan TOC dan
material yang menyerap sinar UV, pengurangan sintesisprotein dan DNA. Perusakan
kemampuan permeabilitas oleh khlor juga penyebab kerusakan spora bakteri.
2. Perusakan Asam Nukleat dan Enzim
Klorin juga bisa merusak asam nukleat dan enzim bakteri. Enzim merupakan katalis
alami dari berbagai macam reaksi sel. Salah satu akibat pengurangan aktifitas katalis
adalah penghambatan akumulasi hidrogen peroksida yang merupakan senyawa racun
didalam tubuh bakteri.
Dari hasil pengamatan tersebut didapatkan bahwa pada pengujian oligodinamik
dengan bahan desinfektan dengan bahan Cling pada variabel waktu 72 jam dengan zona
bebas bakteri sebesar 0,2 cm. Keadaan bakteri yang tumbuh pada media, tumbuh tidak
terlalu banyak dan merata dan bertambah banyak pada sekitar media tetapi tidak terkena
kertas saring.
Sedangkan desinfektan Cif memiliki kandungan kloroxylenol merupakan komponen
yang berfungsi sebagai desinfektan pada Cif.
Dalam desinfektan Cif yang memiliki daya bunuh bakteri lebih besar serta
menyebabkan terjadinya denaturasi protein dan sehingga terjadi perubahan struktur protein
dan menyebabkan terjadinya koagulasi. Mekanisme di dalamnya adalah protein yang
mengalami denaturasi dan koagulasi akan kehilangan aktivitas fisiologis sehingga tidak
dapat berfungsi dengan baik. Perubahan struktur protein pada dinding sel bakteri akan
meningkatkan permeabilitas sel sehingga pertumbuhan sel akan terhambat dan kemudian
sel menjadi rusak. Selain itu desinfektan memiliki karakteristik merusak membran sel yang
memyebabkan kebocoran kostituen sel yang esensial sehingga bakteri mengalami
kematian. Pada kadar optimal senyawa ammonium kuartener menyebabkan sel mengalami
lisis.
Dari ketiga hasil percobaan di atas maka dapat disimpulkan bahwa desinfektan yang
lebih resisten terhadap bakteri yaitu desinfektan S.O.S. dan Cif yang ditunjukkan dengan
zona bebas bakteri sebesar 0,6 cm dan bakteri yang tumbuh tidak begitu signifikan dalam
PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

III-15

LABORATORIUM TEKNOLOGI MAKANAN


media. Hal ini telah sesuai literatur menurut Rahardjo (2004) bahwa desinfektan adalah
suatu zat yang mencegah infeksi dengan menghancurkan mikroorganisme patogen.
Sebagai Perbandingan atau variabel kontrol dari Oligodinamik, Antiseptik dan
Desinfektan, digunakan blanko pada Tabel 11.
Tabel 11. Hasil Pengamatan pada Variabel Kontrol (Blanko)
Zona
Zona
Variabel
Hasil Pengamatan
Keterangan
Bebas
Bakteri
Waktu
(cm)
(cm)

24 jam

Kondisi media :
Tidak terjadi
perubahan warna,
muncul zona bebas
di sekitar logam
Kondisi bakteri :
Tumbuh merata
pada media.

48 jam

Kondisi media :
Tidak terjadi
perubahan warna,
Kondisi bakteri :
Tumbuh lebih
meluas di media

Kondisi media :
Tidak terjadi
perubahan warna,
zona bebas di
sekitar logam
72 jam
semakin
menyempit
Kondisi bakteri :
Tumbuh lebih
meluas di media
Pada Tabel 11. Diketahui bahwa tidak terdapat zona bebas bakteri, dikarenakan
tidak adanya zat penghambat seperti zat oligodinamik, desinfektan ataupun antiseptik.
Tingkat pertumbuhan bakteri mengalami penambahan setiah bertambahnya waktu.
Sementara kondii media tidak mengalami perubahan.

PROGRAM STUDI DIII TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER

III-16

BAB IV
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan pengaruh oligodinamik, antiseptik, dan desinfektan
terhadap bakteri Bacillus sp yang dilakukan dapat disimpulkan yaitu :
1. Dari hasil pengecatan gram dapat disimpulkan bahwa bakteri yang digunakan dalam
percobaan ini adalah bakteri gram negatif dan jenis bakteri adalah bakteri Bacillus sp.
2. Logam Cu pada variabel 24 jam lebih resisten terhadap bakteri bila dibandingkan
dengan logam Zn dan Al yang ditunjukkan dari zona bebas bakteri sebesar 0,8 cm.
3. Antiseptik alami daun Sereh pada variabel 24 jam lebih resisten terhadap bakteri bila
dibandingkan dengan antiseptik daun Belimbing Wuluh dan Kulit Manggis yang
ditunjukkan dari zona bebas bakteri sebesar 0,7 cm.
4. Desinfektan S.O.S. dan Cif pada variabel 24 jam lebih resisten terhadap bakteri bila
dibandingkan dengan desinfektan Cling yang ditunjukkan dari zona bebas bakteri
sebesar 0,6 cm.

IV-1