Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULAN
Hemoroid adalah pelebaran atau inflamasi vena-vena di anus yang berasal
dari plexus hemoroidalis. Hemoroid dibagi dalam dua jenis, yaitu hemoroid
interna dan hemoroid eksterna. Hemoroid interna merupakan varises vena
hemoroidalis superior dan media atau pelebaran vena yang berada dibawah
mukosa pada bagian atas atau didalam linea dentata. Sedangkan hemoroid
eksterna merupakan varises vena hemoroidalis inferior atau pelebaran vena
diawah kulit pada bagian bawah atau luar linea dentata. Sesuai istilah yang
digunakan, maka hemoroid interna timbul di sebelah dalam otot sfingter ani dan
hemoroid eksterna timbul di sebelah luar otot sfingter ani. Hemoroid timbul akibat
kongesti vena yang disebabkan gangguan aliran balik vena hemoroidalis.1
Kedua jenis hemoroid ini sangat sering terjadi dan terdapat pada sekitar
35% penduduk, baik pria maupun wanita yang biasanya cenderung meningkat
seiring dengan bertambahnya usia seseorang, dimana usia puncaknya adalah 45-65
tahun.2 Sekitar setengah dari orang-orang yang berumur 50 tahun pernah mengalami
hemorrhoid. Suatu penelitian yang dilakukan di RSUP H. Adam Malik Medan pada
tahun 2010 menunjukkan bahwa tingkat kejadian hemorrhoid lebih besar pada usia
lebih dari 45 tahun. Sedangkan di RS Bhakti Wira Tamtama Semarang pada tahun
2008 dari 1575 kasus di instalasi rawat jalan klinik bedah, kasus hemorrhoid
mencapai 16% dari seluruh total kasus di instalasi tersebut.2.3
Tingginya prevalensi hemorrhoid disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
kurangnya konsumsi makanan berserat, konstipasi, usia, keturunan, kebiasaan duduk
terlalu lama, peningkatan tekanan abdominal karena tumor, pola buang air besar yang
salah, hubungan seks peranal, kurangnya intake cairan, kurang olah raga dan
kehamilan. Tingginya prevelensi terjadinya hemorroid di indonesia juga dipengaruhi
oleh perubahan pola hidup manusia yang mengikuti budaya barat. Perubahan ini
meliputi perubahan pola makan yang cenderung lebih menyukai makanan siap saji
yang tinggi lemak, garam dan rendah serat serta kurangnya aktivitas fisik manusia,
terlebih lagi pada usia produktif (21-30 tahun) dan pemakaian jamban duduk.4.5

Walaupun keadaan ini tidak mengancam jiwa, tetapi dapat menyebabkan


perasaan yang sangat tidak nyaman. Gejala yang dirasakan, yaitu keluar darah
atau darah menetes saat BAB, rasa gatal, terbakar, pendarahan, dan terasa sakit.
1

Kebanyakan penyakit ini hanya memerlukan perawatan ringan dan perubahan


gaya hidup jika berlanjut maka dilakukan perawatan secara operatif.6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Definisi
Hemorrhoid merupakan pelebaran dan inflamasi pembuluh darah vena di

daerah anorektal yang berasal dari plexus hemorrhoidalis. Plexus hemorrhoidalis


tersebut merupakan jaringan normal yang terdapat pada semua orang yang berfungsi
untuk mencegah inkontinensia flatus dan cairan. 1
Hemoroid bukan sekedar pelebaran vena hemoroidalis, tetapi bersifat lebih
kompleks yakni melibatkan beberapa unsur berupa pembuluh darah, jaringan lunak
dan otot di sekitar anorektal.1

2.2

Epidemiologi
Sekitar 35% orang dewasa mengalami penyakit hemoroid. Hemoroid

banyak terjadi pada dewasa berusia 45 65 tahun, dan juga sering terjadi pada
wanita hamil dan Tumor rektum juga dapat memicu terjadinya hemorrhoid.
Berdasarkan data yang diperoleh dari United States Cancer Statistics pada tahun 2007
terdapat 142.672 orang yang didiagnosa menderita tumor rektum di Amerika Serikat,
dengan rincian 72.755 pria dan 69.917 wanita. Sementara itu penelitian yang
dilakukan di Hemorrhoid Care Medical Clinic didapatkan hasil bahwa sebanyak 90%
pasien tumor rektum juga menderita hemorrhoid .5

2.3

Etiologi dan Faktor Resiko


Penyebab pasti timbulnya hemoroid masih belum pasti, hanya saja ada

beberapa faktor pendukung terjadinya hemoroid, yaitu :2,4


1. Anatomik : vena daerah anorektal tidak mempunyai katup dan pleksus
hemoroidalis kurang mendapat sokongan dari otot dan fascia sekitarnya.
2. Umur : pada umur tua terjadi degenerasi dari seluruh jaringan tubuh, juga otot
sfingter menjadi tipis dan atonis.
3. Keturunan : dinding pembuluh darah lemah dan tipis.
4. Pekerjaan : orang yang harus berdiri, duduk lama, atau harus mengangkat
barang berat mempunyai predisposisi untuk hemoroid.

5. Mekanis : semua keadaan yang menyebabkan meningkatnya tekanan intra


abdomen, misalnya penderita hipertrofi prostat, konstipasi menahun dan
sering mengejan pada waktu defekasi.
6. Endokrin : pada wanita hamil ada dilatasi vena ekstremitas dan anus oleh
karena ada sekresi hormone relaksin.
7. Fisiologi : bendungan pada peredaran darah portal, misalnya pada penderita
sirosis hepatis.
8. Tumor Rektum. Faktor-faktor tersebut berkaitan dengan kongesti vaskular dan
prolapsus mukosa.

2.4

Klasifikasi
Diagnosa hemorrhoid dapat ditegakkan salah satunya dengan anoskopi.

Anoskopi adalah pemeriksaan pada anus dan rektum dengan menggunakan sebuah
spekulum. Pemeriksaan ini dapat menentukan letak dari hemorrhoid tersebut.
Secara anoskopi, berdasarkan letaknya hemorrhoid terbagi atas 2 yaitu:1,5

Gambar 1 : Illustration of internal hemorrhoid beginning to prolapse intothe anal canal


and external hemorrhoid. Courtesy of Iain Cleator, MD,Vancouver, BC, Canada.

a.

Hemorrhoid interna
Merupakan pelebaran dan penonjolan vena hemorrhoidalis superior dan

media yang timbul di sebelah proksimal dari musculus sphincter ani.


Hemoroid interna dikelompokkan ke dalam 4 derajat, yaitu:

Gambar 2 : Illustration of Stage internal hemorrhoid

1. Derajat I : bila terjadi pembesaran hemorrhoid yang tidak prolaps ke luar


kanalis analis yang hanya dapat dilihat dengan anorektoskop.
2. Derajat II : pembesaran hemorrhoid yang prolaps dan menghilang atau
dapat masuk kembali ke dalam anus secara spontan.
3. Derajat III : pembesaran hemorrhoid yang prolaps dimana harus dibantu
dengan dorongan jari untuk memasukkannya kembali ke dalam anus.
4. Derajat IV : prolaps hemorrhoid yang yang permanen. Prolaps ini rentan
dan cenderung mengalami trombosis dan infark.
b.

Hemorrhoid eksterna
Merupakan pelebaran dan penonjolan vena hemorrhoidalis yang berasal

dari dari bagian distal dentate line dan dilapisi oleh epitel skuamos yang telah
termodifikasi serta banyak persarafan serabut saraf nyeri somatik. Hemorrhoid
eksterna diklasifikasikan sebagai bentuk akut dan kronis yaitu:
1. Akut
Bentuk akut berupa pembengkakan bulat kebiruaan pada pinggir anus
yang merupakan suatu hematoma. Tanda dan gejala yang sering timbul adalah :
a. Sering rasa sakit dan nyeri

b. Rasa gatal pada daerah hemoroid


Kedua tanda dan gejala tersebut disebabkan karena ujung-ujung saraf pada
kulit merupakan reseptor nyeri.
2. Kronik
Hemoroid eksterna kronik terdiri atas satu lipatan atau lebih dari kulit anus
yang berupa jaringan penyambung dan sedikit pembuluh darah atau skin tag
biasanya merupakan sequele dari hematoma akut.
2.5

Gejala Klinis
Gejala klinis hemoroid dapat dibagi berdasarkan jenis hemoroid, yaitu :5,7

1.

Hemoroid Interna
Gejala yang biasa adalah protrusio, pendarahan, nyeri tumpul dan pruritus.

Trombosis atau prolapsus akut yang disertai edema atau ulserasi luar biasa
nyerinya. Hemoroid interna bersifat asimtomatik, kecuali bila prolaps dan menjadi
strangulata. Tanda satu-satunya yang disebabkan oleh hemoroid interna adalah
pendarahan darah segar tanpa nyeri per rektum selama atau setelah defekasi.
Gejala yang muncul pada hemoroid interna dapat berupa:
Perdarahan merupakan salah satu gejala yang paling sering muncul dan
biasanya merupakan awal dari penyakit ini. Perdarahan berupa darah segar
dan biasanya tampak setelah defekasi apalagi jika fesesnya keras.
Selanjutnya perdarahan dapat berlangsung lebih hebat, hal ini disebabkan
karena prolaps bantalan pembuluh darah dan mengalami kongesti oleh
sphincter ani.
Prolaps pada hemorrhid dapat dilihat dengan adanya tonjolan keluar dari
anus. Tonjolan ini dapat masuk kembali secara spontan ataupun harus
dimasukan kembali oleh tangan.
Nyeri dan rasa tidak nyaman dapat ditimbulkan oleh komplikasi yang terjadi
(seperti fisura, abses dll). Pada hemoroid interna jarang menimbulkan rasa
nyeri di anus. Kondisi ini dapat pula terjadi karena terjepitnya tonjolan
hemoroid yang terjepit oleh sphincter ani (strangulasi).
Keluarnya Sekret menyebabkan daerah anus menjadi lembab sehingga
rawan

untuk

terjadinya

infeksi

yang

dapat

ketidakkenyamanan penderita dan gatal di daerah anus.

meniimbulkan

Hemoroid Eksterna5,7
- Rasa terbakar
- Nyeri, jika terjadi thrombosis yang luas dengan udem dan radang.
- Gatal atau pruritus anus.
Patogenesis
2.

Price, 2000; dan Smeltzer, 2002

2.6

Diagnosis Banding
Menurut Kaidar-Person selama evaluasawal

pasien, kemungkinan

penyebab lain dari gejala-gejala seperti perdarahan rektal, gatal pada anus, rasa
tak nyaman, massa serta nyeri dapat disingkirkan. Kanker kolorektal dan anal, dan
melanoma anorektal merupakan contoh penyebab gejala tersebut. Dibawah ini
adalah diagnosa banding untuk gejala-gejala diatas:
a. Nyeri :
1. Fisura anal
2. Herpes anal
3. Proktitis ulseratif
4.Proctalgia fugax
b. Massa :
1. Karsinoma anal
2. Perianal warts
3. Skin tags
c. Nyeri dan massa :
1. Hematom perianal
2. Abses
3. Pilonidal sinus
d. Nyeri dan perdarahan :
1. Fisura anal
2. proktitis
e. Nyeri, massa, dan perdarahan :
1. Hematom perianal ulseratif
f. Massa dan perdarahan:
1. Karsinoma anal
g. Perdarahan :
1. Polips kolorektal
2. Karsinoma kolorektal
3. Karsinoma anal

2.7

Diagnosis
Diagnosis hemoroid ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan fisik, dan

pemeriksaan penunjang.
1.

Anamnesa
Pada anamnesa biasanya didapatkan pasien mengeluhkan adanya darah

segar pada saat buang air besar, darah yang keluar bisa menetes dan bisa juga
keluar terus menerus dan tidak bercampur dengan feses. Selain itu pasien juga
akan mengeluhkan adanya gatal-gatal pada daerah anus. Serta keluhan adanya
massa pada anus dan membuatnya merasa tidak nyaman, biasanya pada hemoroid
interna derajat II dan hemoroid eksterna. Pasien juga akan mengeluhkan nyeri
pada hemoroid interna derajat IV dan hemoroid eksterna.
Perdarahan yang disertai nyeri mengindikasikan hemoroid eksterna yang
sudah mengalami trombosis. Biasanya hemoroid interna mulai menimbulkan
gejala setelah terjadi prolapsus, sehingga mengakibatkan perdarahan, ulserasi,
atau trombosis. Hemoroid eksterna juga bisa terjadi tanpa gejala atau dapat
ditandai dengan nyeri akut, rasa tak nyaman, atau perdarahan akibat ulserasi dan
thrombosis.
2.

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan adanya pembengkakan vena yang

mengindikasikan hemoroid interna

atau hemoroid eksterna yang sudah

mengalami prolaps, biasanya jika berupa prolapsnya hemoroid interna akan


terlihat adanya mukus yang keluar saat pasien disuruh untuk mengedan. Jika
pasien mengeluhkan perdarahan kemungkinan bisa menyebabkan anemia
sekunder yang dapat dilihat dari konjungtiva palpebra pasien yang sedikit anemis,
tapi hal ini mungkin terjadi.
Daerah perianal juga diinspeksi untuk melihat ada atau tidaknya fisura,
fistula, polip atau tumor. Pada rectal toucher juga dinilai ukuran, perdarahan dan
tingkat keparahan inflamasi. Biasanya agak susah meraba hemoroid interna
karena tekanan vena yang tidak tinggi dan biasanya tidak nyeri. Rectal toucher
juga dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma rektum.

3.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan dapat berupa pemeriksaan

laboratorium untuk mendeteksi apakah terjadi anemia dan infeksi pada pasien dan
pemeriksaan anoscopy dan Flexible Sigmoidoscopy and Colonoscopy .
Anoskopi dilakukan untuk menilai mukosa rektal dan mengevaluasi tingkat
pembesaran hemoroid. Hasil anoskopi hemoroid interna yang tidak mengalami
prolaps biasanya terlihat gambaran vascular yang menonjol keluar, dan apabila
pasien diminta mengejan akan terlihat gambaran yang lebih jelas. Sedangkan
dengan menggunakan sigmoideskopi dapat mengevaluasi kondisi lain sebagai
diagnosa banding untuk perdarahan rektal dan rasa tak nyaman seperti pada fisura
anal dan fistula, colitis, polip rectal, dan kanker.
2.8
1.

Penatalaksanaan
Terapi Non Farmakologi,3,8
Dapat diberikan pada semua kasus hemoroid terutama hemoroid interna

derajat 1, disebut juga terapi konservatif, diantaranya adalah :

Koreksi konstipasi dengan meningkatkan konsumsi serat (25-30 gram sehari),

dan menghindari obat-obatan yang dapat menyebabkan konstipasi.


Meningkatkan konsumsi cairan (6-8 gelas sehari)
Menghindari mengejan saat buang air besar, dan segera ke kamar mandi saat

merasa akan buang air besar, jangan ditahan karena akan memperkeras feses.
Tirah baring untuk membantu mempercepat berkurangnya pembengkakan.

2.

Terapi Farmakologi3,7,8
Salep anastetik lokal
Kortikosteroid
Laksatif
Analgesik
Suplemen flavonoid, membantu mengurangi tonus vena dan mengurangi
hiperpermeabilitas serta efek antiinflamasi (Acheson dan Schirfield, 2008)

3.

Terapi Pembedahan,3,9
Hemorrhoid Institute of South Texas (HIST) menetapkan indikasi

tatalaksana pembedahan hemoroid antara lain :3,9

Hemoroid interna derajat II berulang


Hemoroid derajat III dan IV dengan gejala
10

Mukosa rektum menonjol keluar anus


Hemoroid interna derajat I dan II dengan penyakit penyerta seperti fisura
Kegagalan penatalaksanaan konservatif
Penderita yang mengalami keluhan menahun

Adapun jenis pembedahan yang sering dilakukan yaitu :

Skleroterapi
Teknik ini dilakukan dengan menginjeksikan 5 % fenol dalam minyak

nabati yang tujuannya untuk merangsang. Lokasi injeksi adalah submukosa


hemoroid. Efek dari injeksi adalah edema, reaksi inflamasi dengan proliferasi
fibroblast dan thrombosis intravascular. Reaksi ini akan menyebabkan fibrosis
pada submukosa hemoroid sehingga akan mencegah atau mengurangi prolapsus
jaringan hemoroid. Terapi ini disertai anjuran makanan tinggi serat dapat efektif
untuk hemoroid interna derajat I dan II. Menurut Acheson dan Scholfield pada
tahun 2009, teknik ini murah dan mudah dilakukan, tetapi jarang dilaksanakan
karena tingkat kegagalan yang tinggi.

Ligasi dengan gelang karet (Rubber band ligation)


Biasanya teknik ini dilakukan untuk hemoroid yang besar atau yang

mengalami prolaps. Dengan bantuan anoskop, mukosa diatas hemoroid yang


menonjol dijepit dan ditarik atau dihisap kedalam tabung ligator khusus. Efek dari
teknik ini adalah nekrosis iskemik dalam beberapa hari. Mukosa bersama karet
akan lepas sendri. Perdarahan dapat terjadi sewaktu hemoroid mengalami
nekrosis, biasanya setelah 7 sampai 10 hari.

11

Gambar 3. Rubber-Band Ligation.


When an internal hemorrhoid is present in the anorectal canal (Panel A), an anoscope may be used
as a guide to identify the hemorrhoidal complex and isolate its base (Panel B). With the lighted
guide in place, a ligating device (ligator) is positioned over the base of the hemorrhoid, and the
bands are released (Panel C). After the procedure is completed, the constricting bands remain in
place until they eventually fall off (typically because the tissue distal to the constricting bands
sloughs) (Panel D).

Gambar 4 : Illustration of RBL by using the touch technique without anoscopy. Courtesy of Iain
Cleator, MD, Vancouver, BC, Canada.

Bedah beku (cryosurgery)


Teknik bedah beku dilakukan dengan pendinginan hemoroid pada suhu

yang sangat rendah. Teknik ini tidak dipakai secara luas karena mukosa yg
nekrosis sukar ditentukan luasnya. Teknik ini lebih cocok untuk terapi paliatif
pada karsinoma rektum yang inoperable.

Gambar 5 : Teknik bedah beku

Infrared thermocoagulation
Sinar infra merah masuk ke jaringan dan berubah menjadi panas.

Manipulasi instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengatur banyaknya


jumlah kerusakan jaringan. Prosedur ini menyebabkan koagulasi, oklusi, dan

12

sklerosis jaringan hemoroid. Teknik ini singkat dan dengan komplikasi yang
minimal.

Gambar 6 : Illustration of transanoscopic approach to hemorrhoid treatment by using IRC


probe.

Hemoroidektomi
Teknik dipakai untuk hemoroid derajat III atau IV dengan keluhan

menahun, juga untuk penderita denga perdarahan berulang dan anemia yang tidak
sembuh dengan terapi lain yang lebih sederhana. Prinsipnya adalah eksisi hanya
dilakukan pada jaringan yang benar-benar berlebihan, dan pada anoderm serta
kulit yang normal dengan tidak mengganggu sfingter anus. Selama pembedahan
sfingter anus biasanya dilatasi dan hemoroid diangkat dengan klem atau diligasi
dan kemudian dieksisi.

BAB III
KESIMPULAN
Hemoroid adalah pelebaran atau inflamasi vena-vena di anus yang
berasal dari plexus hemoroidalis. Hemoroid dibagi dalam dua jenis, yaitu
hemoroid interna dan hemoroid eksterna. Hemoroid interna merupakan
varises vena hemoroidalis superior dan media atau pelebaran vena yang
berada dibawah mukosa pada bagian atas atau didalam linea dentata.
Sedangkan hemoroid eksterna merupakan varises vena hemoroidalis inferior
atau pelebaran vena diawah kulit pada bagian bawah atau luar linea dentata.
Sesuai istilah yang digunakan, maka hemoroid interna timbul di sebelah
dalam otot sfingter ani dan hemoroid eksterna timbul di sebelah luar otot

13

sfingter ani. Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan


gangguan aliran balik vena hemoroidalis.
Teknik pembedahn dipakai untuk hemoroid derajat III atau IV
dengan keluhan menahun, juga untuk penderita denga perdarahan berulang
dan anemia yang tidak sembuh dengan terapi lain yang lebih sederhana.
Prinsipnya adalah eksisi hanya dilakukan pada jaringan yang benar-benar
berlebihan, dan pada anoderm serta kulit yang normal dengan tidak
mengganggu sfingter anus. Selama pembedahan sfingter anus biasanya
dilatasi dan hemoroid diangkat dengan klem atau diligasi dan kemudian
dieksisi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Riwanto Ign. Usus halus, apendiks, kolon, dan anorektum. Dalam: Sjamsuhidajat
R, Jong WD, penyunting. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-3. Jakarta: EGC; 2010.
hal. 788-792.
2. Mubarak H. Karakteristik Penderita Hemoroid Berdasarkan Umur dan Jenis
Kelamin di RSUP H. Adam Malik tahun 2008-2009 [karya tulis ilmiah]. Medan:
Universitas Sumatera Utara; 2010.

3. Nelson, Heidi MD., Roger R. Dozois, MD., Anus, in Sabiston Text Book of
Surgery, Saunders Company, Phyladelphia 2001.

14

4. Silvia A.P, Lorraine M.W, Hemoroid, 2005. Dalam: Konsep konsep Klinis
Proses Penyakit, Edisi VI, Patofisiologi Vol.1. Jakarta, Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Hal: 467
5. Skandalakis ,John E. , Colon and Anorectum, in Surgical Anatomy and
Technique,Second edition, Atlanta, 1999.
6. Gebbenslaben O, Hilger Y, Rohde H. Etiology of Thrombosed External
Hemorrhoid: Result from a Prospective Cohort Study. The Internet Journal of
Gastroenterology. 2005.

7. Susan Galandiuk, MD, Louisville, KY, A Systematic Review of Stapled


Hemorrhoidectomy Invited Critique, Jama and Archives. 2002. 137 (12). 724
730.
8. Ganz, RB. The Evaluation and Treatment of Hemorrhoids: A Guide for the
Gastroenterologist. American Society of Colon and Rectal Surgeons the AGA
Institute. 2013. 11: 593-603.
9. Sjamsuhidajat, Wim de Jong. Hemoroid, 2010 Dalam: Buku Ajar Ilmu Bedah,
Ed.3, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal: 788 792.

15