Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memiliki wilayah yang
sangat luas dibandingkan dengan negara-negara lain, yang terbentang dari
Sabang sampai Marauke. Letak geografis NKRI diapit oleh dua Benua (Asia
dan Australia) dan dua Samudera (Pasifik dan Hindia). Indonesia terletak
diantara 60 LU-110 LS dan 950BT-1410 BT. Di Indonesia terdapat dua
musim yaitu musim hujan dan musim kemarau.
Sebagai Negara yang memiliki wilayah luas, Indonesia mempunyai
lebih dari 300 suku. Suku-suku tersebut, sebagian masih tinggal di pedalaman
dan sebagian lagi sudah tinggal di perkotaan. Hal ini juga menunjukkan
bahwa NKRI disebut Negara Multikultural yaitu negara yang memiliki
banyak suku, yang mempunyai berbagai bahasa, adat, keyakinan bahkan
kesenian. Sehingga hal inipun yang menunjukkan bahwa rakyat Indonesia
mempunyai mata pencaharian dan cara berpikir yang berbeda-beda. Karena
hal-hal tersebutlah membuat rakyat Indonesia harus mempelajari Wawasan
Nusantara sebagai bukti cinta kepada tanah air.
Terbentuknya negara Indonesia dilatar belakangi oleh perjuangan
seluruh bangsa. Sudah sejak lama Indonesia menjadi incaran banyak negara
atau bangsa lain, karena potensinya yang besar dilihat dari wilayahnya yang
luas dengan kekayaan alam yang banyak. Kenyataannya ancaman datang

tidak hanya dari luar, tetapi juga dari dalam. Terbukti, setelah perjuangan
bangsa tercapai dengan terbentuknya NKRI, ancaman dan gangguan dari
dalam juga timbul, dari yang bersifat kegiatan fisik sampai yang idiologis.
Meski demikian, bangsa Indonesia memegang satu komitmen bersama untuk
tegaknya negara kesatuan Indonesia. Dorongan kesadaran bangsa yang
dipengaruhi kondisi dan letak geografis dengan dihadapkan pada lingkungan
dunia yang serba berubah akan memberikan motivasi dalam menciptakan
suasana damai. Sejak merdeka negara Indonesia tidak luput dari gejolak dan
ancaman yang membahayakan kelangsungan hidup bangsa. Tetapi bangsa
Indonesia mampu mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya dari
agresi Belanda dan mampu menegakkan wibawa pemerintahan dari gerakan
separatis. Ketahanan nasional adalah kondisi dinamika, yaitu suatu bangsa
yang berisi keuletan dan ketangguhan yang mampu mengembangkan
ketahanan, Kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala
tantangan, hambatan dan ancaman baik yang datang dari dalam maupun dari
luar inilah yang harusnya dipahami.

BAB II
PEMBAHASAN WAWASAN NASIONAL

A. Ajaran Wawasan Nasional Indonesia


Sebelum membahas Wawasan Nusantara, terlebih dahulu saya akan
menjelaskan tentang Wawasan Nasional. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (Edisi II, 1994) Wawasan berasal dari kata mawas atau mewawas
yang memiliki arti meneliti, meninjau, mengamati dan memandang. Dengan
adanya imbuhan an secara harfiah Wawasan berarti cara penglihatan, cara
tinjau ataupun cara pandang. Sedangkan yang dimaksud Nasional adalah
berkenaan dengan suatu bangsa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
Wawasan Nasional adalah cara pandang suatu bangsa yang telah menegara
tentang diri dan lingkungannya dalam eksistensinya yang serba terhubung
(melalui interaksi dan interelasi) dan dalam pembangunannya di lingkungan
Nasional (termasuk lokal dan propinsional), regional serta global.
Sementara itu, Wawasan Nasional Indonesia merupakan wawasan
yang dikembangkan berdasarkan teori Wawasan Nasional secara universal.
Wawasan tersebut dibentuk dan dijiwai oleh paham kekuasaan bangsa
Indonesia dan paham Geopolitik.
1. Paham Kekuasaan Bangsa Indonesia
Wawasan Nasional Indonesia tidak mengembangkan ajaran tentang
kekuasaan dan adu kekuatan, karena hal tersebut mengandung benih-benih
persengketaan dan ekspansionisme. Ajaran Wawasan Nasional Indonesia

menyatakan bahwa ideologi digunakan sebagai landasan idiil dalam


menentukan politik Nasional, dihadapkan pada kondisi dan konstelasi
(keadaan dan tatanan) geografi Indonesia dengan segala aspek kehidupan
Nasionalnya. Tujuannya adalah agar bangsa Indonesia dapat menjamin
kepentingan bangsa dan Negaranya ditengah-tengah perkembangan dunia.
2. Geopolitik Indonesia
Negara Indonesia menganut paham Negara kepulauan, yaitu paham
yang dikembangkan dari asas Archipelago yang memang berbeda dengan
pemahaman Archipelago di negar-negara barat pada umumnya. Perbedaan
yang esensial dari pemahaman ini adalah menurut paham barat laut
berperan sebagai pemisah pulau, sedangkan menurut paham Indonesia laut
adalah penghubung, sehingga wilayah negara menjadi satu kesatuan yang
utuh sebagai tanah air dan disebut negara kepulauan.

B. Latar Belakang Filosofis Wawasan Nusantara


Wawasan adalah cara pandang. Sedangkan Nusantara terdiri dari dua
kata yaitu Nusa yang artinya Negara kepulauan dan Antara yang berarti
pembatas. Berikut filosofis yang melatarbelakangi Wawasan Nusantara, yaitu:
1. Pemikiran Berdasarkan Falsafah Pancasila
Berdasarkan falsafah Pancasila, manusia Indonesia adalah makhluk
ciptaan Tuhan yang memiliki naluri, akhlak, daya pikir dan sadar akan
keberadaannya yang serba terhubung dengan sesamanya, lingkungannya,

alam semesta dan penciptanya. Kesadaran ini menumbuhkan cipta, karsa


dan karya untuk mempertahankan eksistensi dan kelangsungan hidupnya
dari

generasi

ke

generasi.

Berdasarkan

yang

dipengaruhi

oleh

lingkungannya manusia Indonesia memiliki motivasi antara lain untuk


menciptakan suasana damai dan tenteram menuju kebahagiaan serta
menyelenggarakan keteraturan dalam membina hubungan antarsesama.
Atas dasar nilai-nilai Pancasila nampak bahwa Wawasan Nasional
yang dianut dan dikembangkan oleh bangsa Indonesia merupakan
pancaran dari Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia. Oleh
karena itu, Wawasan Nasional Indonesia menghendaki terciptanya
persatuan dan kesatuan tanpa menghilangkan ciri, sifat, dan karakter dari
kebhinekaan unsur-unsur pembentuk bangsa (suku bangsa, etnis, golongan
atau daerah itu sendiri).
2. Pemikiran Berdasarkan Aspek Kewilayahan Nusantara
Kondisi obyektif sebagai modal dalam pembentukkan suatu negara
merupakan suatu ruang gerak hidup suatu bangsa yang didalamnya
terdapat Sumber Daya Alam dan penduduk yang mempengaruhi
pengambilan keputusan/kebijaksanaan politik Negara tersebut. Oleh
karena itu, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara fungsi maupun
pengaruh geografi terhadap sikap dan tata laku negara yang bersangkutan
merupakan suatu fenomena yang mutlak diperhitungkan. Demikian pula
sebaliknya, dampak sikap dan tata laku negara terhadap kondisi geografis

sebagai tata hubungan antara manusia dan wadah lingkungannya perlu


diperhitungkan.
Kondisi obyektif geografi nusantara merupakan untaian ribuan
pulau yang tersebar dan terbentang di khatulistiwa serta terletak pada
posisi silang yang sangat strategis, memiliki karakteristik yang berbeda
dengan negara lain. Deklarasi Djuanda yang diselenggarakan pada tanggal
13 Desember 1957 menyatakan bahwa bentuk geografis Indonesia adalah
negara kepulauan yang terdiri atas ribuan pulau besar dan kecil dengan
sifat dan corak tersendiri.
3. Pemikiran Berdasarkan Aspek Sosial Budaya
Sosial Budaya sebagai salah satu aspek kehidupan nasional
disamping politik, ekonomi serta pertahanan dan keamanan adalah faktor
dinamik masyarakat terbentuk oleh keseluruhan pola tingkah laku lahir
batin yang memungkinkan berlangsungnya hubungan sosial diantara
anggotanya.
Masyarakat Indonesia sejak awal terbentuk dengan ciri kebudayaan
beragam yang muncul karena pengaruh ruang lingkungan berupa
kepulauan dimana ciri alamiah tiap-tiap pulau berbeda-beda. Perbedaan
karakter masyarakatnya sangat mencolok, perbedaan dalam ras dan etnik.
Faktor alamiah itu membentuk perbedaan khas kebudayaan masyarakat di
tiap-tiap daerah sekaligus perbedaan daya tanggap inderawi serta pola
kehidupan baik dalam hubungan vertikal maupun hosizontal. Secara

universal kebudayaan masyarakat yang heterogen tersebut sama-sama


mempunyai unsur-unsur penting sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Sistem religi dan upacara keagamaan


Sistem masyarakat dan organisasi kemasyarakatan
Sistem pengetahuan
Bahasa
Keserasian (budaya dalam arti sempit)
Sistem mata pencaharian
Sistem teknologi dan peralatan
Dari tinjauan sosial budaya, pada akhirnya dapat dipahami bahwa

proses sosial dalam keseluruhan upaya menjaga persatuan nasional sangat


membutuhkan kesamaan persepsi diantara segenap masyarakat tentang
eksistensi budaya yang sangat beragam namun memiliki semangat untuk
membina kehidupan bersama yang harmonis. Dengan adanya kesamaan
persepsi ini Wawasan Nasional Indonesia diwarnai oleh keinginan untuk
menumbuh suburkan faktor-faktor positif, mewujudkan persatuan dan
kesatuan dan mengurangi atau kalau bisa menghilangkan pengaruh negatif
dari faktor-faktor yang dapat menimbulkan disintegrasi bangsa.
4. Pemikiran Berdasarkan Aspek Kesejarahan
Perjuangan suatu bangsa dalam meraih cita-citanya pada umumnya
tubuh dan berkembang dari latar belakang sejarahnya. Wilayah NKRI
merupakan warisan kolonial hindia belanda dimana batas wilayah perairan
ditentukan dan diakui berdasarkan Territoriale Zee en Maritieme Kringen
Ordonnantie (TZMKO) 1939. Berdasarkan TZMKO, laut teritorial adalah
selebar 3 mil laut dari garis pangkal masing-masing pulau.

Konsepsi Nusantara merupakan hasil Deklarasi Djuanda, yang


berlandaskan semangat kekompakan dan mengacu pada konstelasi
geografi RI sebagai Negara kepulauan dikukuhkan menjadi UU No. 4/Prp
tahun 1960, yaitu:
a. Perairan Indonesia ialah laut wilayah Indonesia beserta perairan
pedalaman Indonesia.
b. Laut wilayah Indonesia ialah jalur laut 12 mil laut.
c. Perairan pedalaman Indonesia adalah semua perairan yang terletak
pada sisi dalam dari garis dasar.
Wawasan Kebangsaan atau Wawasan Nasional Indonesia diwarnai
oleh pengalaman sejarah yang tidak menginginkan terulangnya perpecahan
dalam lingkungan bahasa dan Negara Indonesia yang akan melemahkan
perjuangan dalam mengisi kemerdekaan untuk mewujudkan cita-cita dan
tujuan nasional sebagai hasil kesepakatan bersama agar bangsa Indonesia
setara dengan bangsa lain.

C. Hakikat dan Implementasi Wawasan Nusantara


Adapun hakikat dan implementasinya, yaitu:
1. Hakikat Wawasan Nusantara

Hakikat Wawasan Nusantara adalah keutuhan nusantara, dalam


pengertian cara pandang yang selalu utuh menyerluruh dalam lingkup
nusantara demi kepentingan nasional. Hal tersebut berarti bahwa setiap
warga bangsa dan aparatur Negara harus berpikir, bersikap dan bertindak
secara utuh menyeluruh demi kepentingan bangsa dan Negara Indonesia.
2. Implementasi Wawasan Nusantara
Implementasi Wawasan Nusantara senantiasa berorientasi pada
kepentingan rakyat dan wilayah tanah air secara utuh dan menyeluruh,
sebagai berikut:
a. Dalam kehidupan politik akan menciptakan iklim penyelenggaraan
Negara yang sehat dan dinamis.
b. Dalam kehidupan ekonomi akan menciptakan tatanan ekonomi yang
benar-benar menjamin pemenuhan dan peningkatan kesejahteraan dan
kemakmuran rakyat secara merata dan adil.
c. Dalam kehidupan sosial budaya dapat menciptakan sikap bathiniyah
danLahiriyah yang mengakui kebhinekaan sebagai kenyataan hidup
dan karunia Sang Pencipta.
d. Dalam
kehidupan
pertahanan

dan

keamanan

akan

menumbuhkembangkan kesadaran cinta tanah air dan bangsa sehingga


akan membentuk sikap bela Negara pada setiap warga Negara
Indonesia.
Dalam pembinaan seluruh aspek kehidupan nasional yang
dijelaskan diatas, Implementasi Wawasan Nusantara harus menjadi nilai
yang menjiwai segenap peraturan perundang-undangan yang berlaku pada

setiap strata diseluruh wilayah Negara. Wawasan Nusantara juga dapat di


implementasikan ke dalam segenap pranata sosial yang berlaku di
msayarakat dalam nuansa kebhinekaan sehingga mendinamisasikan
kehidupan sosial yang akrab, peduli, toleransi, hormat dan taat hukum.

D. Landasan Wawasan Nusantara


Berikut merupakan Landasan Wawasan Nusantara, yaitu:
1. Landasan Idiil (Pancasila)
Pancasila telah diakui sebagai sebagai ideologi dan dasar Negara
yang terumuskan dalam pembukaan UUD`45. Pada hakikatnya, Pancasila
mencerminkan nilai keseimbangan, keserasian, keselarasan, persatuan dan
kesatuan, kekeluargaan, kebersamaan dan kearifan dalam membina
kehidupan nasional. Perpaduan nilai-nilai tersebut mampu mewadahai
kebhinekaan seluruh aspirasi bangsa Indonesia. Pancasila merupakan
sumber motivasi bagi perjuangan seluruh bangsa Indonesia dalam
tekadnya untuk menata kehidupan didalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia secara berdaulat dan mandiri. Pancasila sebagai falsafah,
ideologi bangsa dan dasar negara mempunyai kekuatan hukum yang
mengikat para penyelenggara negara, para pimpinan pemerintahan dan
seluruh rakyat Indonesia.
Dengan demikian, Pancasila sebagai falsafah bangsa Indonesia
telah dijadikan landasan idiil dan dasar Negara sesuai dengan yang

10

tercantum pada pembukaan UUD`45. Oleh karena itu, Pancasila sudah


seharusnya serta sewajarnya menjadi Landasan Idiil Wawasan Nusantara.
2. Landasan Konstitusional (UUD`45)
UUD 1945 merupakan konstitusi dasar yang menjadi pedoman
pokok dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bangsa
Indonesia bersepakat bahwa Indonesia adalah negara kesatuan yang
berbentuk republik dan berkedaulatan rakyat yang dilakukan sepenuhnya
oleh MPR. Oleh karena itu, negara mengatasi segala paham golongan,
kelompok dan perseorangan serta menghendaki persatuan dan kesatuan
dalam segenap aspek dan dimensi kehidupan nasional. Artinya,
kepentingan negara dalam segala aspek dan perwujudannya lebih
diutamakan diatas kepentingan golongan, kelompok dan peseorangan
berdasarkan aturan, hukum, dan perundang-undangan yang berlaku
memperhatikan HAM, aspirasi masyarakat dan kepentingan daerah yang
berkembang saat ini.
Dengan demikian, UUD`45 seharusnya dan sewajarnya menjadi
landasan konstitusional dari Wawasan Nusantara yang merupakan cara
pandang bangsa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.

E. Kedudukan, Fungsi dan Tujuan Wawasan Nusantara

11

Berikut ini merupakan Kedudukan, Fungsi dan Tujuan dari Wawasan


Nusantara, yaitu:
1. Kedudukan Wawasan Nusantara
a. Wawasan Nusantara sebagai Wawasan Nasional bangsa Indonesia
merupakan ajaran yang diyakini kebenarannya oleh seluruh rakyat
agar tidak terjadi penyesatan dan penyimpangan dalam upaya
mencapai dan mewujudkan cita-cita dan tujuan nasional.
b. Wawasan Nusantara dalam paradigm nasional dapat dilihat dari
stratifikasinya sebagai berikut:
Pancasila sebagai falsafah, ideologi bangsa dan dasar Negara

berkedudukan sebagai landasan idiil.


UUD`45 sebagai landasan konstitutsi Negara, berkedudukan

sebagai landasan konstitusional.


Wawasan Nusantara sebagai visi nasional, berkedudukan sebagai

landasan visional.
Ketahanan nasional sebagai konsepsi nasional, berkedudukan

sebagai landasan konsepsional.


GBHN sebagai politik dan strategi nasional atau sebagai
kebijaksanaan dasar nasional, berkedudukan sebagai landasan

operasional.
2. Fungsi Wawasan Nusantara
Wawasan Nusantara berfungsi sebagai pedoman, motivasi,
dorongan serta rambu-rambu dalam menentukan segala kebijaksanaan,
keputusan, tindakan dan perbuatan bagi penyelenggara Negara di tingkat
pusat dan daerah maupun bagi seluruh rakyat Indonesia dalam kehidupan
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
3. Tujuan Wawasan Nusantara

12

Wawasan Nusantara bertujuan mewujudkan nasionalisme yang


tinggi

disegala

aspek

kehidupan

rakyat

Indonesia

yang

lebih

mengutamakan kepentingan nasional daripada kepentingan individu,


kelompok, golongan, suku bangsa atau daerah. Hal tersebut bukan berarti
menghilangkan

kepentingan-kepentingan

individu,

kelompok,

suku

bangsa, atau daerah. Kepentingan-kepentingan tersebut tetap dihormati,


diakui dan dipenuhi, selam tidak bertentangan dengan kepentingan
nasional atau kepentingan masyarakat banyak.

F. Pemasyarakatan/Sosialisasi Wawasan Nusantara


Pemasyarakatan/Sosialisasi Wawasan Nusantara tersebut dapat dilakukan
dengan cara berikut:
1. Menurut Sifat atau Cara Penyampaiannya
a. Langsung, yang terdiri dari ceramah, diskusi, dialog, tatap muka.
b. Tidak Langsung, yang terdiri dari media elektronik, media cetak.
2. Menurut Metode Penyampaiannya
a. Keteladanan. Melalui metode penularan keteladanan dalam sikap
perilaku kehidupan sehari-hari kepada lingkungannya, terutama
dengan memberikan contoh-contoh berpikir, bersikap dan bertindak
mementingkan kepentingan bangsa dan Negara diatas kepentingan

13

pribadi atau golongan, sehingga timbul semangat kebangsaan yang


selalu cinta tanah air.
b. Edukasi, yakni melalui metode pendekatan formal dan informal.
Pendidikan formal ini dimulai dari tingkat TK sampai Perguruan
Tinggi, pendidikan karir disemua strata dan bidang profesi, penataran
atau kursus-kursus dan sebagainya. Sedangkan pendidikan non formal
dapat dilaksanakan di lingkungan rumah atau keluarga, di lingkungan
pemukiman, pekerjaan dan organisasi kemasyarakatan.
c. Komunikasi, tujuan yang ingin dicapai dari sosialisasi Wawasan
Nusantara melalui metode komunikasi adalah tercapainya hubungan
komunikatif secara baik yang akan mampu menciptakan iklim saling
menghargai, menghormati, mawas diri dan tenggang rasa sehingga
tercipta kesatuan bahasa dan tujuan tentang Wawasan Nusantara.
d. Integrasi, tujuan yang ingin dicapai dari Pemasyarakatan atau
Sosialisasi Wawasan Nusantara melalui metode integrasi adalah
terjalinnya persatuan dan kesatuan. Pengertian serta pemahaman
tentang Wawasan Nusantara akan membatasi sumber konflik didalam
tubuh bangsa Indonesia baik pada saat ini maupun dimasa mendatang
dan akan memantapkan kesadaran untuk mengutamakan kepentingan
nasional dan cita-cita serta tujuan nasional.

14

BAB III
PEMBAHASAN KETAHANAN NASIONAL

A. Pengertian Ketahanan Nasional Indonesia


Kondisi dinamik bangsa Indonesia yang meliputi segenap aspek
kehidupan nasional yang berintegrasi, berisi keuletan dan ketangguhan yang
mengandung

kemampuan

mengembangkan

kekuatan

nasional

dalam

menghadapi dan mengatasi segala tantangan ancaman hambatan dan


gangguan baik yang datang dari luar maupun dari dalam. Untuk menjamin
identitas, integritas kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan
mencapai tujuan nasionalnya. Konsepsi ketahanan nasional Indonesia adalah
konsepsi pengembangan kekuatan nasional melalui pengaturan dan
15

penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan yang seimbang serasi dalam


seluruh aspek kehidupan secara utuh dan menyeluruh berlandaskan Pancasila,
UUD45 dan Wasantara Kesejahteraan = Kemampuan bangsa dalam
menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai nasionalnya demi sebesarbesarnya kemakmuran yang adil dan merata rohani dan jasmani. Keamanan =
Kemampuan bangsa Indonesia melindungi nilai-nilai nasionalnya terhadap
ancaman dari luar maupun dari dalam.

B. Hakekat Ketahanan Nasional dan Konsepsi Ketahanan Nasional


Indonesia
Hakekat Ketahanan Nasional Indonesia = Keuletan dan ketangguhan
yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional untuk
dapat menjamin kelangsungan hidup dan tujuan Negara.
Hakekat Konsepsi Ketahanan Nasional Indonesia = Pengaturan dan
penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan secara seimbang, serasi dan
selaras dalam seluruh aspek kehidupan nasional.

C. Asas-asas Ketahanan Nasional

16

Asas ketahanan nasional adalah tata laku yang didasari nilai-nilai yang
tersusun berlandaskan Pancasil, UUD 1945 dan Wawasan Nusantara. Asasasas tersebut adalah sebagai berikut (Lemhannas, 2000: 99 11).
1. Asas Kesejahteraan dan Keamanan
Asas ini merupakan kebutuhan yang sangat mendasar dan wajib
dipenuhi bagi individu maupun masyarakat atau kelompok. Didalam
kehidupan nasional berbangsa dan bernegara, unsur kesejahteraan dan
keamanan ini biasanya menjadi tolak ukur bagi mantap/tidaknya
ketahanan nasional.

2. Asas Komprehensif/Menyeluruh Terpadu


Artinya, ketahanan nasional mencakup seluruh aspek kehidupan.
Aspek-aspek tersebut berkaitan dalam bentuk persatuan dan perpaduan
secara selaras, serasi, dan seimbang.
3. Asas Kekeluargaan
Asas ini bersikap keadilan, kebersamaan, kesamaan, gotong
royong,

tenggang

rasa dan tanggung

jawab dalam kehidupan

bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam hal hidup dengan asas


kekeluargaan ini diakui adanya perbedaan, dan kenyataan real ini

17

dikembangkan secara serasi dalam kehidupan kemitraan dan dijaga dari


konflik yang bersifat merusak/destruktif.

D. Sifat-sifat Ketahanan Indonesia


1. Mandiri = Percaya pada kemampuan dan kekuatan sendiri bertumpu pada
identitas, integritas dan kepribadian. Kemandirian merupakan prasyarat
menjalin kerjasama yang saling menguntungkan.
2. Dinamis = Berubah tergantung pada situasi dan kondisi bangsa dan
negara serta kondisi lingkungan strategis.
3. Wibawa = Pembinaan ketahanan nasional yang berhasil akan
meningkatkan kemampuan bangsa dan menjadi faktor yang diperhatikan
pihak lain.
4. Konsultasi dan Kerjasama = Sikap konsultatif dan kerjasama serta saling
menghargai dengan mengandalkan pada kekuatan moral dan kepribadian
bangsa.

E. Kedududukan dan Fungsi Ketahanan Nasional


Ketahanan

nasional

merupakan

suatu

ajaran

yang

diyakini

kebenarannya oleh seluruh bangsa Indonesia serta merupakan cara terbaik


yang perlu di implementasikan secara berlanjut dalam rangka membina
kondisi kehidupan nasional yang ingin diwujudkan, wawasan nusantara dan
ketahanan nasional berkedudukan sebagai landasan konseptual, yang didasari
oleh Pancasil sebagai landasan ideal dan UUD sebagai landasan konstisional
dalam paradigma pembangunan nasional.

18

Ketahanan nasional nasional dalam fungsinya sebagai doktrin dasar


nasional perlu dipahami untuk menjamin tetap terjadinya pola pikir, pola
sikap, pola tindak dan pola kerja dalam menyatukan langkah bangsa yang
bersifat inter regional (wilayah), inter sektoral maupun multi disiplin.
Konsep doktriner ini perlu supaya tidak ada cara berfikir yang terkotak-kotak
(sektoral). Satu alasan adalah bahwa bila penyimpangan terjadi, maka akan
timbul pemborosan waktu, tenaga dan sarana, yang bahkan berpotensi dalam
cita-cita nasional. Ketahanan nasional juga berfungsi sebagai pola dasar
pembangunan nasional. Pada hakikatnya merupakan arah dan pedoman dalam
pelaksanaan

pembangunman

nasional

disegala

bidang

dan

sektor

pembangunan secara terpadu, yang dilaksanakan sesuai dengan rancangan


program.

F. Beberapa Ancaman Ketahanan Nasional Dalam Dan Luar Negeri


Beberapa ancaman dalam dan luar negeri telah dapat diatasi bangsa
Indonesia dengan adanya tekad bersama-sama menggalang kesatuan dan
kecintaan bangsa. Ancaman sparatis dawasa ini ditunjukan dengan banyaknya
wilayah atau propinsi di Indonesia yang menginginkan dirinya merdeka lepas
dari Indonesia, begitu pula beberapa aksi provokasi yang mengganggu
kestabilan kehidupan sampai terjadinya berbagai kerusuhan yang diwarnai
nuansa etnis dan agama dan gangguan dari luar adalah gangguan dari negara
lain yang ingin menguasai pulau-pulau kecil yang masih berada di didalam
wilayah NKRI namun dekat dengan wilayah negara lain.

19

DAFTAR PUSTAKA

Sumarsono, dkk. 2001. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta: PT. Gramedia


Pustaka Utama
Zubaidi, H. Achmad, dkk. 2002. PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN.
Yogyakarta: Paradigma
Prof. Drs. S. Pamudji, MPA. 1985. Demokrasi Pancasila dan Ketahanan Nasional,
Suatu Analisa di Bidang Politik dan Pemerintahan. Jakarta: PT. Bina
Aksara.

20