Anda di halaman 1dari 8

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tetanus Neonatorum


2.1.1. Pengertian
Neonatus adalah bayi baru lahir yang berusia di bawah 28 hari (Stoll, 2007).
Tetanus adalah suatu penyakit toksemik akut yang disebabkan oleh
Clostridium tetani, dengan tanda utama kekakuan otot (spasme), tanpa disertai
gangguan kesadaran (Ismoedijanto, 2006). Tetanus neonatorum adalah
penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus yang disebabkan oleh Clostridium
tetani yaitu bakteria yang mengeluarkan toksin (racun) yang menyerang
sistem saraf pusat (Saifuddin, 2001).

2.1.2. Etiologi
Clostridium tetani adalah kuman berbentuk batang, berukuran 2-5 x 0,4-0,5
milimikron yang hidup tanpa oksigen (anaerob), dan membentuk spora. Spora
dewasa mempunyai bagian yang berbentuk bulat yang letaknya di ujung, dan
memberi gambaran penabuh genderang (drum stick) (Bleck, 2000). Spora ini
mampu bertahan hidup dalam lingkungan panas, antiseptik, dan di jaringan
tubuh. Spora ini juga bisa bertahan hidup beberapa bulan bahkan bertahun.
(Ritarwan, 2004). Bakteria yang berbentuk batang ini sering terdapat dalam
kotoran hewan dan manusia, dan bisa terkena luka melalui debu atau tanah
yang terkontaminasi (Arnon, 2007). Clostridium tetani merupakan bakteria
Gram positif dan dapat menghasilkan eksotoksin yang bersifat neurotoksik.
Toksin ini (tetanospasmin) dapat menyebabkan kekejangan pada otot
(Suraatmaja, 2000).

Universitas Sumatera Utara

2.1.3. Faktor Risiko


Terdapat 5 faktor risiko utama terjadinya tetanus neonatorum, yaitu:
a. Faktor Risiko Pencemaran Lingkungan Fisik dan Biologik
Lingkungan yang mempunyai sanitasi yang buruk akan memyebabkan
Clostridium tetani lebih mudah berkembang biak. Kebanyakan penderita
dengan gejala tetanus sering mempunyai riwayat tinggal di lingkungan
yang kotor. Penjagaan kebersihan diri dan lingkungan adalah amat penting
bukan sahaja dapat mencegah tetanus, malah pelbagai penyakit lain.
b. Faktor Alat Pemotongan Tali Pusat
Penggunaan alat

yang tidak steril untuk memotong tali pusat

meningkatkan risiko penularan penyakit tetanus neonatorum. Kejadian ini


masih lagi berlaku di negara-negara berkembang dimana bidan-bidan yang
melakukan pertolongan persalinan masih menggunakan peralatan seperti
pisau dapur atau sembilu untuk memotong tali pusat bayi baru lahir
(WHO, 2008).
c. Faktor Cara Perawatan Tali Pusat
Terdapat sebagian masyarakat di negara-negara berkembang masih
menggunakan ramuan untuk menutup luka tali pusat seperti kunyit dan
abu dapur. Seterusnya, tali pusat tersebut akan dibalut dengan
menggunakan kain pembalut yang tidak steril sebagai salah satu ritual
untuk menyambut bayi yang baru lahir. Cara perawatan tali pusat yang
tidak benar ini akan meningkatkan lagi risiko terjadinya kejadian tetanus
neonatorum (Chin, 2000).
d. Faktor Kebersihan Tempat Pelayanan Persalinan
Kebersihan suatu tempat pelayanan persalinan adalah sangat penting.
Tempat pelayanan persalinan yang tidak bersih bukan sahaja berisiko
untuk menimbulkan penyakit pada bayi yang akan dilahirkan, malah pada
ibu yang melahirkan. Tempat pelayanan persalinan yang ideal sebaiknya
dalam keadaan bersih dan steril (Abrutyn, 2008).

Universitas Sumatera Utara

e. Faktor Kekebalan Ibu Hamil


Ibu hamil yang mempunyai faktor kekebalan terhadap tetanus dapat
membantu mencegah kejadian tetanus neonatorum pada bayi baru lahir.
Antibodi terhadap tetanus dari ibu hamil dapat disalurkan pada bayi
melalui darah, seterusnya menurunkan risiko infeksi Clostridium tetani.
Sebagian besar bayi yang terkena tetanus neonatorum biasanya lahir dari
ibu yang tidak pernah mendapatkan imunisasi TT (Chin, 2000).

2.1.4. Patogenesis
Pertolongan persalinan dan pemotongan tali pusat yang tidak steril akan
memudahkan spora Clostridium tetani masuk dari luka tali pusat dan
melepaskan tetanospamin. Tetanospamin akan berikatan dengan reseptor di
membran prasinaps pada motor neuron. Kemudian bergerak melalui sistem
transpor aksonal retrograd melalui sel-sel neuron hingga ke medula spinalis
dan batang otak, seterusnya menyebabkan gangguan sistim saraf pusat (SSP)
dan sistim saraf perifer (Arnon, 2007). Gangguan tersebut berupa gangguan
terhadap inhibisi presinaptik sehingga mencegah keluarnya neurotransmiter
inhibisi, yaitu asam aminobutirat gama (GABA) dan glisin, sehingga terjadi
epilepsi, yaitu lepasan muatan listrik yang berlebihan dan berterusan, sehingga
penerimaan serta pengiriman impuls dari otak ke bagian-bagian tubuh
terganggu (Abrutyn, 2008). Ketegangan otot dapat bermula dari tempat masuk
kuman atau pada otot rahang dan leher. Pada saat toksin masuk ke sumsum
tulang belakang, kekakuan otot yang lebih berat dapat terjadi. Dijumpai
kekakuan ekstremitas, otot-otot dada, perut dan mulai timbul kejang. Sebaik
sahaja toksin mencapai korteks serebri, penderita akan mengalami kejang
spontan. Pada sistim saraf otonom yang diserang tetanospasmin akan
menyebabkan gangguan proses pernafasan, metabolisme, hemodinamika,
hormonal, pencernaan, perkemihan, dan pergerakan otot. Kekakuan laring,
hipertensi,

gangguan

irama

jantung,

berkeringat

secara

berlebihan

Universitas Sumatera Utara

(hiperhidrosis) merupakan penyulit akibat gangguan saraf otonom. Kejadian


gejala penyulit ini jarang dilaporkan karena penderita sudah meninggal
sebelum gejala tersebut timbul (Ismoedijanto, 2006).

2.1.5. Gejala Klinis


Neonatus yang terinfeksi Clostridium tetani masih menunjukkan perilaku
seperti menangis dan menyusui seperti bayi yang normal pada dua hari yang
pertama. Pada hari ke-3, gejala-gejala tetanus mula kelihatan. Masa inkubasi
tetanus umumnya antara 3 12 hari, namun dapat mecapai 1 2 hari dan
kadang-kadang lama melebihi satu bulan; makin pendek masa inkubasi makin
buruk prognosis. Terdapat hubungan antara jarak tempat masuk kuman
Clostridium tetani dengan susunan saraf pusat, serta interval antara terjadinya
luka dengan permulaan penyakit; semakin jauh tempat invasi, semakin
panjang masa inkubasi. Gejala klinis yang sering dijumpai pada tetanus
neonatorum adalah:
a. Terjadinya kekakuan otot rahang sehingga penderita sukar membuka
mulut. Kekakuan otot pada leher lebih kuat akan menarik mulut kebawah,
sehingga mulut sedikit ternganga. Kadang-kadang dapat dijumpai mulut
mecucu seperti mulut ikan dan kekakuan pada mulut sehingga bayi tak
dapat menetek (Chin, 2000).
b. Terjadi kekakuan otot mimik muka dimana dahi bayi kelihatan mengerut,
mata bayi agak tertutup, dan sudut mulut bayi tertarik ke samping dan ke
bawah.
c. Kekakuan yang sangat berat menyebabkan tubuh melengkung seperti
busur, bertumpu pada tumit dan belakang kepala. Jika dibiarkan secara
berterusan tanpa rawatan, bisa terjadi fraktur tulang vertebra.
d. Kekakuan pada otot dinding perut menyebabkan dinding perut teraba
seperti papan. Selain otot dinding perut, otot penyangga rongga dada
(toraks) juga menjadi kaku sehingga penderita merasakan kesulitan untuk

Universitas Sumatera Utara

bernafas atau batuk. Jika kekakuan otot toraks berlangsung lebih dari 5
hari, perlu dicurigai risiko timbulnya perdarahan paru.
e. Pada tetanus yang berat akan terjadi gangguan pernafasan akibat kekakuan
yang terus-menerus dari otot laring yang bisa menimbulkan sesak nafas.
Efek tetanospamin dapat menyebabkan gangguan denyut jantung seperti
kadar denyut jantung menurun (bradikardia), atau kadar denyut jantung
meningkat (takikardia). Tetanospasmin juga dapat menyebabkan demam
dan hiperhidrosis. Kekakuan otot polos pula dapat menyebabkan anak
tidak bisa buang air kecil (retensi urin).
f. Bila kekakuan otot semakin berat, akan timbul kejang-kejang umum yang
terjadi setelah penderita menerima rangsangan misalnya dicubit,
digerakkan secara kasar, terpapar sinar yang kuat dan sebagainya. Lambat
laun, masa istirahat kejang semakin pendek sehingga menyebabkan
status epileptikus, yaitu bangkitan epilepsi berlangsung terus menerus
selama lebih dari tiga puluh menit tanpa diselangi oleh masa sedar;
seterusnya bisa menyebabkan kematian (Ningsih, 2007).

2.1.6. Pencegahan
Tindakan pencegahan serta eliminasi tetanus neonatorum adalah bersandarkan
pada tindakan menurunkan atau menghilangkan faktor-faktor risiko.
Pendekatan pengendalian lingkungan dapat dilakukan dengan menjaga
kebersihan lingkungan. Pemotongan dan perawatan tali pusat wajib
menggunakan alat yang steril (WHO, 2006). Pengendalian kebersihan pada
tempat pertolongan persalinan perlu dilakukan dengan semaksimal mungkin
agar tidak terjadi kontaminasi spora pada saat proses persalinan, pemotongan
dan perawatan tali pusat dilakukan. Praktik 3 Bersih perlu diterapkan, yaitu
bersih tangan, bersih alat pemotong tali pusat, dan bersih alas tempat tidur ibu,
di samping perawatan tali pusat yang benar sangat penting dalam kurikulum
pendidikan bidan. Selain persalinan yang bersih dan perawatan tali pusat yang

Universitas Sumatera Utara

tepat, pencegahan tetanus neonatorum dapat dilakukan dengan pemberian


imunisasi TT kepada ibu hamil (Djaja, 2003). Pemberian imunisasi TT
minimal dua kali kepada ibu hamil dikatakan sangat bermanfaat untuk
mencegah tetanus neonatorum (Vandaler, 2003; WHO, 2008).

2.2. Imunisasi Tetanus Toxoid (TT)


2.2.1. Pengertian
Imunisasi TT adalah suntikan vaksin tetanus untuk meningkatkan kekebalan
sebagai upaya pencegahan terhadap infeksi tetanus (Idanati, 2005).

2.2.2. Manfaat
Manfaat imunisasi TT pada ibu hamil adalah:
a. Dapat melindungi bayi yang baru lahir dari tetanus neonatorum (Chin,
2000).
b. Dapat melindungi ibu hamil terhadap kemungkinan terjadinya tetanus
apabila terluka (Depkes RI, 2000).
Kedua-dua manfaat tersebut adalah penting dalam mencapai salah satu tujuan
dari program imunisasi secara nasional yaitu, eliminasi tetanus maternal dan
tetanus neonatorum (Depkes, 2004).

2.2.3. Jumlah dan Dosis Imunisasi TT untuk Ibu Hamil


Imunisasi TT untuk ibu hamil diberikan 2 kali (Saifuddin, 2001), dengan dosis
0,5 cc disuntikkan secara intramuskuler atau subkutan (Depkes RI, 2000).
Sebaiknya imunisasi TT diberikan sebelum kehamilan 8 bulan. Suntikan TT1
dapat diberikan sejak diketahui postif hamil dimana biasanya di berikan pada
kunjungan pertama ibu hamil ke sarana kesehatan (Depkes RI, 2000). Jarak
pemberian (interval) imunisasi TT1 dengan TT2 adalah minimal 4 minggu
(Saifuddin, 2001; Depkes RI, 2005).

Universitas Sumatera Utara

2.2.4. Efek Samping


Biasanya hanya terjadi gejala-gejala ringan seperti nyeri, kemerahan dan
pembengkakan pada tempat suntikan (Depkes RI, 2000). TT adalah antigen
yang sangat aman untuk wanita hamil. Tidak ada bahaya bagi janin apabila
ibu hamil mendapatkan imunisasi TT (Saifuddin, 2000). Efek samping
tersebut berlangsung 1-2 hari dan akan sembuh sendiri tanpa diperlukan
tindakan/pengobatan (Depkes RI, 2000).

2.2.5. Tempat Pelayanan


Pelayanan imunisasi TT dapat dujumpai di:
a. Puskesmas,
b. Puskesmas pebantu,
c. Rumah sakit,
d. Rumah bersalin,
e. Polindes,
f. Posyandu,
g. Rumah sakit swasta,
h. Dokter praktik, dan
i.

Bidan praktik (Depkes RI, 2004).

Tempat-tempat pelayanan milik pemerintah imunisasi diberikan dengan gratis.

2.3. Pengetahuan
Pengetahuan (knowledge) merupakan hasil dari tahu dan pengalaman seseorang
dalam

melakukan

penginderaan

terhadap

suatu

rangsangan

tertentu.

Pengetahuan atau kognitif merupakan dominan yang sangat penting dalam


membentuk tindakan seseorang (overt behavior).
Manusia mengembangkan pengetahuannya untuk mengatasi kebutuhan
kelangsungvan hidup. Kedalaman pengetahuan yang diperoleh seeorang

Universitas Sumatera Utara

terhadap suatu rangsangan dapat diklasifikasikan berdasarkan enam tingkatan,


yaitu:
a. Tahu (know)
Merupakan suatu proses mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya, termasuk ke dalam tingkatan ini adalah mengingat kembali
(recall) terhadap suatu spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau
rangsangan yang telah diterima. Oleh karena itu, tahu merupakan tingkatan
pengalaman yang paling rendah.
b. Memahami (comphrehensive)
Merupakan suatu kemampuan untuk menginterpretasikan atau menjelaskan
secara benar objek yang diketahui.
c. Aplikasi (application)
Merupakan suatu kemampuan dalam menggunakan materi yang telah dipelajari
pada situasi dan kondisi yang sebenarnya.
d. Analisis (analysis)
Merupakan suatu kemampuan dalam menjabarkan materi atau suatu objek
dalam komponen-komponen, dan masih dalam struktur organisasi yang
berkaitan antara satu sama lain.
e. Sintesa (synthesis)
Merupakan suatu kemampuan dalam meletakkan atau menghubungkan bagianbagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru seperti menyusun
formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada.
f. Evaluasi (evaluation)
Merupakan suatu kemampuan dalam melakukan penilaian terhadap suatu
materi atau objek (Notoatmodjo, 2005).

Universitas Sumatera Utara