Anda di halaman 1dari 17

PORTOFOLIO

Kasus 1
NamaPeserta
: dr. Alfiatur Rizki
NamaPendamping : dr. Eko Nugroho
NamaWahana
: RSUD Pasar Rebo
Topik
: Ileus Obstruktif
Tanggal kasus
: 04 Mei 2015
Nama pasien
: An. SW / 6 bulan 28 hari
Tanggal presentasi :
Tempat presentasi : Gedung Diklat RSUD Pasar Rebo
Objektifpresentasi
Keilmuan
Ketrampilan
Penyegaran
Tinjauan pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Bayi

Anak
Remaja Dewasa Lansia Bumil
Neonatus
Deskripsi
Tujuan
Bahan

Tinjauan

Riset

Kasus

Audit

bahasan
Cara

Pustaka
Diskusi

Presentasi dan

Email

Pos

membahas
Data Pasien

Nama: An. SW

Diskusi

NamaKlinik

Telp

Nomor

2015-

Registrasi
Terdaftar

623620

Sejak
Data UtamaUntuk Bahan Diskusi
1.Diagnosis / Gambaran klinis:
Ileus Obstruktif /
Pasien datang ke IGD RSUD Pasar Rebo dengan keluhan tidak BAB dan tidak kentut
sejak 3 hari SMRS.Menurut pengakuan keluarga, perut pasien membesar sejak 40
hari SMRS. Perut sempat mengempis namun semakin membesar sejak 3 hari
SMRS. Demam 2 hari SMRS. Demam naik turun. Sebelumnya diberi obat penurun
panas.
Pasien sudah mulai makan biskuit sejak 3 hari SMRS. Menurut pengakuan keluarga,
BAB terganggu sejak pasien sudah mulai PASI. Menurut pengakuan ibu pasien, BAK
berkurang sejak 3 hari SMRS. Mual, muntah pada 3 minggu SMRS. Namun 3 hari ini
mual muntah disangkal keluarga pasien.
1

Pasien belum pernah di bawa ke rumah sakit ataupun ke klinik sebelumnya.


2. Riwayat Pengobatan
:

Belum pernah berobat sebelumnya.


3. Riwayat Kesehatan/Penyakit :
Belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.
4. Riwayat Keluarga
:
Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.
5. Riwayat Pekerjaan
:6. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien tinggal bersama kedua orang tuanya dan kakaknya. Dalam hal ekonomi, keluarga
penderita termasuk ke dalam keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Ibu pasien
hanya sebagai ibu rumah tangga. Ayah pasien adalah seorang buruh bangunan dengan
pendapatan rata-rata 1.500.000 per bulan, dan dipergunakan untuk membiayai kehidupannya
sehari-harinya. Pengobatan pasien menggunakan BPJS kelas III.
7. Diagnosis Holistik Multiaksial
7.1 Aspek Personal (Alasan kedatangan, harapan, kekhawatiran, persepsi individu
mengenai penyakitnya)
Pasien datang ke IGD RSUD Pasar Rebo dengan keluhan tidak BAB dan tidak kentut
sejak 3 hari SMRS.Menurut pengakuan keluarga, perut pasien membesar sejak 40
hari SMRS. Perut sempat mengempis namun semakin membesar sejak 3 hari
SMRS. Demam 2 hari SMRS. Demam naik turun. Sebelumnya diberi obat penurun
panas. Pasien sudah mulai makan biskuit sejak 3 hari SMRS. Menurut pengakuan
keluarga, BAB terganggu sejak pasien sudah mulai PASI. Menurut pengakuan ibu
pasien, BAK berkurang sejak 3 hari SMRS. Mual, muntah disangkal oleh keluarga
pasien. Pasien belum pernah seperti ini sebelumnya.
7.2 Aspek Klinik
Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang disimpulkan
sebagai berikut :
Diagnosis kerja : Ileus Obstruktif Letak Tinggi
Diagnosis banding : 7.3 Aspek Risiko Internal (Faktor faktor internal yang mempengaruhi masalah
2

kesehatan pasien)
Genetik :
Belum pernah ada yang seperti ini dikeluarga
Pola makan :
Pasien mengkonsumsi PASI. Menurut keluarga, pasien tidak mengkonsumsi
susu formula. Pasien sudah mengkonsumsi biskuit. Ibu pasien juga
memberikan makanan seperti pisang, dan bubur.
Spiritual :
Keluarga pasien percaya bahwa penyakit yang dideritanya adalah cobaan dari
Allah SWT dan menerimanya dengan lapang dada apapun akibat yang akan
terjadi akibat penyakitnya.
7.4 Aspek Psikososial Keluarga (Faktor faktor eksternal yang mempengaruhi masalah
kesehatan pasien)
Dalam memenuhi kebutuhan makan sehari-hari yang memasak makanan didalam keluarga
adalah ibu pasien, dalam menyajikan makanan sehari-hari pasien tetap menghidangkan
makanan kesukaan keluarga pasien, dan tidak menggunakan prinsip gizi seimbang.
7.5 Aspek Fungsional
Berdasarkan skor Karnofsky pasien memilki skor 20% dimana pasien dalam keadaan sangat
sakit, operasi dan rawat inap diperlukan, serta terapi suportif sangat diperlukan. An. SW harus
dirujuk ke Spesialis Bedah Anak untuk dilakukan tindakan operasi. Namun keluarga pasien
menolak. Menurut keluarga pasien, An. SW sudah mulai membaik setelah dibawa ke RSPR
dan sudah bisa flatus. Keluarga pasien menolak untuk dilakukan perawatan dan operasi.
Tabel 3.1 Tabel Skala Karnofsky (www.pallipedia.com)

DaftarPustaka
1. Mukherjee S. Ileus. [Online]. 2008 January 29 [cited 2012 March 26];[7 screens]. Available
from: URL:http://www.emedicine.com/med/topic1154.htm
2. Beauchamp, Evers, Mattox, Sabiston, Textbook of Surgery, 16th edition, W.B.Saunders,
Philadelphia, 2001, hal 887-888
3. Brunicardi, F.C., et all, Schwartzs Principles of Surgery, volume II, 8th edition, McGrawHill, New York, 2005, hal 1031-1032
4. Nobie BA. Obstruction, small bowel. [Online] 2007 Sept 17 [cited 2012 March 26];[6
screens]. Available from: URL:http://www.emedicine.com
Hasil Pembelajaran :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Etilogi Ileus Obstruktif


Diagnosis Ileus Obstruktif
Patogenesis Ileus Obstruktif
Penatalaksanaan Ileus Obstruktif
Evaluasi Pengobatan Ileus Obstruktif
Edukasi tentang Pengobatan dan Faktor Pencetus

Subjektif
Pasien datang ke IGD RSUD Pasar Rebo dengan keluhan tidak BAB dan tidak kentut sejak 3
hari SMRS.Menurut pengakuan keluarga, perut pasien membesar sejak 40 hari SMRS. Perut
sempat mengempis namun semakin membesar sejak 3 hari SMRS. Demam 2 hari SMRS.
Demam naik turun. Sebelumnya diberi obat penurun panas.
Pasien sudah mulai makan biskuit sejak 3 hari SMRS. Menurut pengakuan keluarga, BAB
terganggu sejak pasien sudah mulai PASI. Menurut pengakuan ibu pasien, BAK berkurang sejak
3 hari SMRS. Mual, muntah pada 3 minggu SMRS. Namun 3 hari ini mual muntah disangkal
keluarga pasien.
Pasien belum pernah di bawa ke rumah sakit ataupun ke klinik sebelumnya.
Objektif
4

Keadaan umum/kesadaran
Tanda-tanda vital

: Tampak Sakit Sedang / Compos Mentis


: TD : FN
: 115x/menit
FP

: 43x/menit

: 38.6oC

BMI :

Hidung
Paru

: nafas cuping hidung (-)

Inspeksi

: Bentuk dan pergerakan pernafasan kanan-kiri simetris,

Palpasi

: Fremitus taktil simetris kanan-kiri

Perkusi

: Sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi

: Suara dasar vesikuler (+/+),wheezing (-/-), ronkhi (-/-)

Abdomen

: Ditensi (+), Bising usus (-)

Ekstremitas

: Hangat

+ , edema

+ +

Status lokalis :
Regio Abdomen : Inspeksi

: Ditensi (+)

Auskultasi

: Bising usus (+) 1 kali per menit

Palpasi

: Undulasi wave (+)

Perkusi

: Hipertimpani (+) di seluruh kuadran abdomen

Laboratorium :
Pemeriksaan
Hematologi :
Hb
Ht
Eritrosit
Leukosit
Trombosit
GDS
Fungsi ginjal:
Ureum
Kreatinin
Elektrolit:
Na+

8,7
27
3,7
19,18
676.000
74
23
0,28
143
5

K+
Cl
Gas

3,7
107
Darah

Elektrolit:
pH
P CO2
P O2
Hct
HCO3 HCO3 standard
TCO2
BE ecf
BE (B)
Saturasi O2

+
7,420
14,0
75
27
9,1
14,4
10
- 15,4
- 13,50
95.00

USG Abdomen
Organ sulit dievaluasi oleh karena penuh udara

Foto Abdomen 2 Posisi


Tampak dilatasi usus besar dan usus halus, air fluid level (+), udara tidak mencapai distal
DD/ Ileus Obstruktif Letak Tinggi

Assesment
Pasien didiagnosis sebagai Ileus Obstruktif berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
penunjang. Dari anamnesis didapatkan tidak BAB dan tidak kentut sejak 3 hari SMRS. Menurut
pengakuan keluarga, perut pasien membesar sejak 40 hari SMRS. Perut sempat mengempis
namun semakin membesar sejak 3 hari SMRS. Demam 2 hari SMRS. Demam naik turun.
Sebelumnya diberi obat penurun panas.
Pasien sudah mulai makan biskuit sejak 3 hari SMRS. Menurut pengakuan keluarga, BAB
terganggu sejak pasien sudah mulai PASI. Menurut pengakuan ibu pasien, BAK berkurang sejak
3 hari SMRS. Mual, muntah disangkal oleh keluarga pasien.
Pasien belum pernah di bawa ke rumah sakit ataupun ke klinik sebelumnya.
Dari tanda vital didapatkan : FN : 115x/menit, FP : 43x/menit, S : 38.6oC
Pemeriksaan fisik. Abdomen : Ditensi (+), Bising usus (-). Regio Abdomen : Inspeksi : Ditensi
(+). Auskultasi : Bising usus (-). Palpasi : Undulasi wave (+), nyeri tekan (+) di seluruh region
abdomen, finger test tidak teraba masa, defans muskuler (-). Perkusi : Hipertimpani (+) di
seluruh kuadran abdomen
Penatalaksanaan ileus obstruktif diantaranya memperbaiki keadaan umum. pemberian terapi
mdikamentosa. Penatalaksanaan : IVFD KAEN 3B 7 tpm mikro, pasang NGT, pasang DC.

Konsultasi dr. Anak : Ceftiraxone 2 x 200 mg, Ranitidin 2x5 mg, sanmol 3 x 50 mg. Konsultasi
dr. Bedah : Rujuk ke dr. Sp. BA.
Plan
Diagnosis

: Ileus Obstruktif

Pengobatan : Penatalaksanaan awal adalah memperbaiki keadaan umum, pemeriksaan USG


abdomen, dan foto abdomen 2 posisi.
Medikamentosa :
-

IVFD KAEN 3B 7 tpm mikro,

Pasang NGT,

Pasang DC.

Konsultasi dr. Anak : Ceftiraxone 2 x 200 mg, Ranitidin 2x5 mg, sanmol 3 x 50 mg.

Konsultasi dr. Bedah : Rujuk ke dr. Sp. BA.

Pendidikan

: Menjelaskan tentang penyakit ileus obstruktif, pengobatan ileus obstruktif,


mencari pertolongan medis jika tidak teratasi.

Konsultasi

: Menjelaskan kepada keluarga pasien tentang penyebab ileus obstruktif,

gambaran klinik dari ileus obstruktif, dan tatalaksana ileus obstruktif. Menjelaskan kepada
keluarga bahwa pasien harus dirujuk ke Rumah Sakit lain karena tidak tersedia dr. Sp. BA di
RSUD Pasar Rebo.

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Ileus obstruktif adalah kerusakan atau hilangnya pasase isi usus yang disebabkan oleh sumbatan
mekanik. Rintangan pada jalan isi usus akan menyebabkan isi usus terhalang dan tertimbun di
bagian proksimal dari sumbatan, sehingga pada daerah proksimal tersebut akan terjadi distensi
atau dilatasi usus.2
Obstruksi usus juga disebut obstruksi mekanik misalnya oleh strangulasi, invaginasi, atau
sumbatan di dalam lumen usus. Pada obstruksi harus dibedakan lagi obstruksi sederhana dari
obstruksi strangulasi. Obstruksi sederhana ialah obstruksi yang tidak disertai terjepitnya
pembuluh darah. Pada strangulasi ada pembuluh darah yang terjepit sehingga terjadi iskemia
yang akan berakhir dengan nekrosis atau gangren yang ditandai dengan gejala umum berat, yang
disebabkan oleh toksin dari jaringan gangren. Jadi strangulasi memperlihatkan kombinasi gejala
obstruksi dengan gejala sistemik akibat adanya toksin dan sepsis. Obstruksi usus yang
disebabkan oleh hernia, invaginasi, adhesi, dan volvulus mungkin sekali disertai strangulasi.
Sedangkan obstruksi oleh tumor atau obstruksi oleh cacing askaris adalah obstruksi sederhana
yang jarang menyebabkan strangulasi.2
2.2 Etiologi
Beberapa kelainan penyebab obstruksi antara lain:
1.

Adhesi intestinal : adanya jaringan fibrosa pada usus yang ditemukan saat lahir
(kongenital). Namun jaringan fibrosa ini paling sering terjadi setelah operasi abdominal.
Usus halus yang mengalami perlengketan akibat jaringan fibrosa ini akan menghalangi
jalannya makanan dan cairan.

2.

Hernia inkarserata : bila sudah terjadi penjepitan usus, maka dapat menyebabkan
obstruksi usus.

3.

Tumor (primer, metastasis) : dapat menyebabkan sumbatan terhadap jalannya makanan


dan cairan.

4.

Divertikulum Meckel

5.

Intussusception (masuknya usus proximal ke bagian distal)

6.

Volvulus (terpuntirnya usus)

7.

Striktur yang menyebabkan penyempitan lumen usus


9

8.

Askariasis

9.

Impaksi faeces (faecolith)

10.

Benda asing. 1,3,4

Adhesi, hernia, dan tumor mencakup 90% etiologi kasus obstruksi mekanik usus halus. Adhesi
dan hernia jarang menyebabkan obstruksi pada colon. Penyebab tersering obstruksi pada colon
adalah kanker, diverticulitis, dan volvulus.1,3
2.3 Patogenesis
Obstruksi ileus merupakan penyumbatan intestinal mekanik yang terjadi karena adanya daya
mekanik

yang

bekerja

atau

mempengaruhi

dinding

usus

sehingga

menyebabkan

penyempitan/penyumbatan lumen usus. Hal tersebut menyebabkan pasase lumen usus terganggu.
Akibat gangguan pasase tersebut terjadi pengumpulan isi lumen usus yang berupa gas dan cairan
pada bagian proximal tempat penyumbatan. Hal ini menyebabkan pelebaran dinding usus
(distensi) di bagian proximal dari sumbatan. Sumbatan usus dan distensi usus menyebabkan
rangsangan terjadinya hipersekresi kelenjar pencernaan. Dengan demikian akumulasi cairan dan
gas makin bertambah yang menyebabkan distensi usus tidak hanya pada tempat sumbatan tetapi
juga dapat mengenai seluruh usus di bagian proximal sumbatan. Sumbatan ini menyebabkan
gerakan usus yang meningkat (hiperperistaltik) sebagai usaha alamiah. Sebaliknya juga terjadi
gerakan antiperistaltik. Hal ini menyebabkan terjadi serangan kolik abdomen dan muntahmuntah. Pada obstruksi usus yang lanjut, peristaltik sudah hilang oleh karena dinding usus
kehilangan daya kontraksinya.3
2.4 Gambaran Klinik
Dengan melihat patogenesis yang terjadi, maka gambaran klinik yang dapat ditimbulkan sebagai
akibat obstruksi usus dapat bersifat sistemik dan serangan yang bersifat kolik.
Gambaran klinik yang bersifat sistemik meliputi :1
1. Dehidrasi berat
2. Hipovolemia
3. Syok
4. Oliguria
5. Gangguan keseimbangan elektrolit
6. Perut gembung
7. Kelebihan cairan usus
10

8. Kelebihan gas dalam usus


Gambaran klinik serangan kolik meliputi :
1. Nyeri perut berkala
2. Distensi berat
3. Mual / muntah
4. Gelisah / menggeliat
5. Bunyi usus nada tinggi
6. Halangan pasase
7. Obstipasi
8. Tidak ada flatus
Pada obstruksi usus dengan strangulasi, terjadi nekrosis atau gangguan dinding usus yang
menyebabkan timbulnya perdarahan pada dinding usus. Bahaya umum dari keadaan ini adalah
sepsis, toxinemia, bahkan shock.3
2.5 Diagnosis
Obstruksi usus halus sering menimbulkan nyeri kolik dengan muntah hebat. Juga didapatkan
distensi perut dan bising usus meningkat. Pada anamnesis intususepsi, didapatkan bayi tampak
gelisah dan tidak dapat ditenangkan, sedangkan diantara serangan biasanya anak tidur tenang
karena sudah capai sekali. Serangan klasik terdiri atas nyeri perut, gelisah sewaktu kolik,
biasanya keluar lendir campur darah (red currant jelly) per anum, yang berasal dari intususeptum
yang tertekan, terbendung, atau mungkin sudah mengalami strangulasi. Anak biasanya muntah
sewaktu serangan dan pada pemeriksaan perut dapat diraba massa yang biasanya memanjang
dengan batas jelas seperti sosis. Bila invaginasi disertai strangulasi, harus diingat kemungkinan
terjadinya peritonitis setelah perforasi. Pada volvulus didapatkan nyeri yang bermula akut, tidak
berlangsung lama, menetap, disertai muntah hebat. Biasanya penderita jatuh dalam keadaan
syok.3
Ileus obstruksi usus besar agak sering menyebabkan serangan kolik yang intensitasnya sedang.
Muntah tidak menonjol, tetapi distensi tampak jelas. Penderita tidak dapat melakukan defekasi
atau flatus. Bila penyebabnya adalah volvulus sigmoid maka perut dapat besar sekali.3
Strangulasi ditandai dengan adanya lokal peritonitis seperti takikardia, pireksia (demam), lokal
tenderness dan guarding, rebound tenderness, nyeri lokal, hilangnya suara usus lokal, untuk
mengetahui secara pasti adanya strangulasi hanya dengan laparotomi.4
11

Pemeriksaan fisik
1. Inspeksi
Perut distensi, dapat ditemukan darm kontur dan darm steifung. Benjolan pada regio
inguinal, femoral dan skrotum menunjukkan suatu hernia inkarserata. Pada Intussusepsi
dapat terlihat massa abdomen berbentuk sosis. Adanya adhesi dapat dicurigai bila ada bekas
luka operasi sebelumnya.
2. Perkusi
Hipertimpani
3. Auskultasi
Hiperperistaltik, bising usus bernada tinggi, borborhygmi. Pada fase lanjut bising usus dan
peristaltik melemah sampai hilang.
4. Palpasi
Kadang teraba massa seperti pada tumor (pada colok dubur teraba massa di rektum atau
terdapat darah dan lendir), invaginasi atau hernia. Adanya darah pada pemeriksaan colok
dubur dapat menyokong strangulasi atau neoplasma. Pada volvulus teraba massa yang nyeri
dan bertambah besar. Bila didapatkan feses yang mengeras kemungkinan adanya skibala, bila
feses negatif maka obstruksi usus diduga letaknya lebih tinggi. Ampula rekti yang kolaps
juga harus dicurigai adanya obstruksi. Bila ditemukan nyeri tekan lokal atau general pada
pemeriksaan palpasi dinding abdomen maka pikirkan adanya peritonitis.
Pemeriksaan Penunjang
1. Radiologi
Pada foto polos pasien dengan obstruksi yang komplit akan tampak terjadi dilatasi dari usus
bagian proksimal sampai ke tempat obstruksi dalam 35 jam Usus yang diameternya lebih
dari 3 cm sering dikaitkan dengan obstruksi. Usus bagian proksimal yang terdistensi oleh gas
dan cairan, akan tampak berdilatasi oleh timbunan udara intraluminer. Sebaliknya, pada usus
bagian distal dari obstruksi tidak tampak bayangan gas, atau bila sumbatannya terjadi belum
lama maka tampak bayangan gas yang sangat sedikit di bagian distal obstruksi. Pada daerah
rektum tidak tampak bayangan gas atau udara.3
Pada foto posisi tegak akan tampak bayangan air fluid level yang banyak dibeberapa tempat
(multiple fluid levels) yang tampak terdistribusi dalam susunan tangga (step ladder
appearance), sedangkan usus sebelah distal dari obstruksi akan tampak kosong. Jumlah loop
12

dari usus halus yang berdilatasi secara umum menunjukkan tingkat obstruksi. Bila jumlah
loop sedikit berarti obstruksi usus halus letaknya tinggi, sedangkan bila jumlah loop lebih
banyak maka obstruksi usus halus letaknya rendah. Semakin distal letak obstruksi, jumlah
air fluid level akan semakin banyak, dengan tinggi yang berbeda-beda sehingga berbentuk
step ladder appearance.1,4
Jarak valvula conniventes satu sama lain yang normal adalah 14 mm. Jarak ini akan melebar
pada keadaan distensi usus halus. Akibat distensi usus halus, maka valvula conniventes agak
teregang dan bersama-sama dengan valvula conniventes dari loop yang bertetangga, akan
tampak di foto sebagai gambaran sirip ikan yang disebut herringbone appearance.4
Bayangan udara di dalam kolon biasanya terletak lebih ke perifer dan biasanya berbentuk
huruf U terbalik. Obstruksi kolon ditandai dengan dilatasi proksimal kolon sampai ke
tempat obstruksi, dengan dekompresi dari kolon bagian distal. Kolon bagian proksimal
sampai letak obstruksi akan lebih banyak berisi cairan daripada feses. Usus halus bagian
proksimal mungkin berdilatasi, mungkin juga tidak.3

Gambar 1. Gambaran radiografi ileus obstruksi


Untuk mengetahui ada tidaknya strangulasi usus, beberapa gambaran klinik dapat membantu :
Rasa nyeri abdomen yang hebat, bersifat menetap, makin lama makin hebat, pada pemeriksaan
abdomen didapatkan ascites, terdapatnya abdominal tenderness, adanya tanda-tanda yang
bersifat umum, demam, dehidrasi berat, takikardia, hipotensi atau shock.3
Namun dari semua gejala klinik di atas, kita mempunyai pedoman Essential of Diagnosis yaitu: 4
1. Complete Proximal Obstruction:
13

Vomiting
Abdominal discomfort
Abnormal oral contrast x-rays
2. Complete Mid or Distal Obstruction:
Nyeri kolik abdomen
Vomiting
Abdominal distention
Constipation-obstipation
Peristaltic rushes
Usus yang berdilatasi pada pemeriksaan rontgen.
2.2.6 Diagnosis Banding
Ileus obstruktif dapat dikacaukan dengan gangguan saluran cerna lain dengan gambaran klinis
yang serupa seperti pseudo-obstruksi (Sindroma Ogilvie) dan ileus paralitik.1,4
Obstruksi Mekanis
Sederhana
(Ileus
Obstruktif)
Nyeri
keram
abdominal, konstipasi,
obstipasi,
mual,
muntah, dan anoreksia

Keluhan

Hasil
Fisik

Ileus Paralitik

Nyeri
abdominal
ringan,
perut
kembung,
mual,
muntah, obstipasi, dan
konstipasi
Pemeriksaan Borborygmi,
bunyi Bising usus senyap,
peristaltic meningkat distensi, dan timpani
dengan bising usus
nada tinggi, distensi,
nyeri terlokalisir

Gambaran
Polos BOF

Pseudo-obstruksi
Nyeri
keram
abdominal, konstipasi,
obstipasi,
mual,
muntah, dan anoreksia

Borborygmi, timpani,
terdapat gelombang
peristaltik
dengan
bising usus hipo atau
hiperaktif,
distensi
dan nyeri terlokalisir
Foto Bow-shaped loops in Dilatasi usus kecil dan Dilatasi usus besar
ladder
patern, usus besar dengan terisolasi
dengan
terdapat gambaran gas peningkatan
peningkatan
kolon
yang diafragma
diafragma
terperangkap
di
bagian distal dari lesi,

2.2.7 Penatalaksanaan
14

Dasar pengobatan ileus obstruksi adalah koreksi keseimbangan elektrolit dan cairan,
menghilangkan peregangan dan muntah dengan dekompresi, mengatasi peritonitis dan syok bila
ada, dan menghilangkan obstruksi untuk memperbaiki kelangsungan dan fungsi usus kembali
normal.3
2.2.8.1 Persiapan penderita
Persiapan penderita berjalan bersama dengan usaha menegakkan diagnosis obstruksi usus secara
lengkap dan tepat. Sering dengan persiapan penderita yang baik, obstruksinya berkurang atau
hilang sama sekali. Persiapan penderita meliputi 3:
1. Dekompressi usus dengan suction, menggunakan NGT yang dimasukkan dalam perut
atau usus
2. Pemasangan kateter untuk mengukur urine output
3. Koreksi elektrolit dan keseimbangan asam basa
4. Atasi dehidrasi
5. Mengatur peristaltik usus yang efisien berlangsung selama 4 sampai 24 jam sampai
saatnya penderita siap untuk operasi.
2.2.8.2 Operatif
Tindakan operatif untuk membebaskan obstruksi dibutuhkan bila dekompresi dengan NGT tidak
memberikan perbaikan atau diduga adanya kematian jaringan. Pada umumnya dikenal 4 macam
(cara) tindakan bedah yang dikerjakan pada obstruksi ileus 3:
1. Koreksi sederhana (simple correction). Hal ini merupakan tindakan bedah sederhana
untuk membebaskan usus dari jepitan, misalnya pada hernia incarcerata non-strangulasi,
jepitan oleh streng/adhesi atau pada volvulus ringan.
2. Tindakan operatif by-pass. Membuat saluran usus baru yang "melewati" bagian usus
yang tersumbat, misalnya pada tumor intralurninal, Crohn disease, dan sebagainya.
3. Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat obstruksi, misalnya
pada Ca stadium lanjut.
4. Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis ujung-ujung usus
untuk mempertahankan kontinuitas lumen usus, misalnya pada carcinomacolon,
invaginasi, strangulata, dan sebagainya. Pada beberapa obstruksi ileus, kadang-kadang
dilakukan tindakan operatif bertahap, baik oleh karena penyakitnya sendiri maupun
karena keadaan penderitanya, misalnya pada Ca sigmoid obstruktif, mula-mula dilakukan
kolostomi saja, kemudian hari dilakukan reseksi usus dan anastomosis.

15

2.2.9 Prognosis
Mortalitas obstruksi tanpa strangulata adalah 5% sampai 8% asalkan operasi dapat segera
dilakukan. Keterlambatan dalam melakukan pembedahan atau jika terjadi strangulasi atau
komplikasi lainnya akan meningkatkan mortalitas sampai sekitar 35% atau 40%.3 Prognosisnya
baik bila diagnosis dan tindakan dilakukan dengan cepat.3

16

DAFTAR PUSTAKA
1. Mukherjee S. Ileus. [Online]. 2008 January 29 [cited 2012 March 26];[7 screens]. Available
from: URL:http://www.emedicine.com/med/topic1154.htm
2. Beauchamp, Evers, Mattox, Sabiston, Textbook of Surgery, 16th edition, W.B.Saunders,
Philadelphia, 2001, hal 887-888
3. Brunicardi, F.C., et all, Schwartzs Principles of Surgery, volume II, 8th edition, McGraw-Hill,
New York, 2005, hal 1031-1032
4. Nobie BA. Obstruction, small bowel. [Online] 2007 Sept 17 [cited 2012 March 26];[6
screens]. Available from: URL:http://www.emedicine.com

17