Anda di halaman 1dari 8

ASPEK ASUHAN KEFARMASIAN

Pengobatan Mandiri
Pengunjung yang datang ke Apotek Babarsari didominasi oleh mereka yang membeli
obat untuk digunakan pengobatan secara mandiri, tanpa memeriksakan diri terlebih dahulu ke
dokter.Obat yang dibutuhkan juga bermacam macam, mulai obat bebas hingga penggunaan
OWA.Berdasarkan hal tersebut, peran apoteker sebagai sarana informasi dan pengawas
penggunaan obat secara mandiri menjadi sangat dibutuhkan.Berikut ini disajikan alur pelayanan
swamedikasi di apotek Babarsari.

Pasien yang berkunjung ke apotek ini terlebih dahulu ditanyakan kebutuhan obat dan
keluhan yang dialaminya.Selanjutnya dilakukan penggalian informasi dan analisa apakah obat
yang dibutuhkan sudah pernah digunakan dan sudah diketahui kegunaannya.Setelah itu diakukan
assessment untuk mengetahui kesesuaian keluhan dan obat yang dibutuhkan serta memberikan
rekomendasi yang tepat untuk mengatasi keluhan yang dialami pasien.Keputusan tetap berada di
tangan pasien karena disini apoteker hanya sebagai fasilitator pemberi informasi dan konseling
terkait penggunaan obat secara mandiri.

5. Pengelolaan obat rusak, kadaluarsa, pemusnahan obat dan resep


a. Pengelolaan Obat Rusak dan Kadaluwarsa
Dalam pengelolaan obat rusak dan kadaluwarsa di Apotek Babarsari disesuaikan
perjanjian dengan PBF.Tidak semua obat yang rusak dan kadaluarsa dapat diretur pada PBF
yang bersangkutan. Untuk obat-obat yang tidak dapat diretur maka akan menjadi kerugian
bagi apotek. Sejauh ini tidak ada obat yang rusak secara fisik (kemasan rusak) di Apotek
Babarsari karena setiap ada barang yang dating, langsung dilakukan pemeriksaan fisik untuk
memastikan barang tersebut dalam kondisi baik.Pemeriksaan fisik ini dapat dilakukan secara
menyeluruh karena pemesanan barang yang dilakukan tidak dalam jumlah yang besar.Untuk
memantau kadaluarsa obat, dilakukan pengontrolan obat setiap minimal satu bulan sekali
untuk mengetahui obat mana yang hampir kadaluarsa.
b. Pemusnahan Obat dan Resep
Di Apotek Babarsari untuk obat-obat tanpa resep yang tidak laku terjual dan

sudah melewati batas waktu ED-nya maka disimpan, dikumpulkan hingga cukup banyak
(misal dikumpulkan selama satu tahun) lalu kemudian dimusnahkan.Sejauh ini, Apotek
Babarsari belum pernah melakukan pemusnahan obat dan resep selama kepemilikan
apotek oleh Wahyu Hidayat.
6. Evaluasi Mutu Pelayanan
Menurut standar pelayanan kefarmasian, indikator yang dapat digunakanuntuk
mengevaluasi mutu pelayanan adalah
a. Tingkat kepuasan konsumen, dilakukan dengan survey berupa angket atau wawancara
langsung.
b. Dimensi waktu, lama pelayanan diukur dengan waktu (yang telah ditetapkan)
c. Prosedur tetap (Protap), untuk menjamin mutu pelayanan sesuai standar yang telah
ditetapkan
Evaluasi mutu pelayanan yang dilakukan di Apotek Babarsari adalah dimensi
waktu pelayanan yang diberikan terhadap pasien dan menganalisis apakah kegiatan
pelayanan di Apotek ini sudah sesuai dengan protap (prosedur tetap) yang telah disusun
oleh apoteker.
Evaluasi pelayanan berdasarkan dimensi waktu di Apotek ini dilihat berdasarkan
lama pelayanan yang diukur dengan waktu.Apotek Babarsari tidak menetapkan lamanya
waktu pelayanan, tetapi hanya dilihat dari jenis resepnya.Resep racikan, seperti salep dan

kapsul membutuhkan waktu pelayanan yang lebih lama dibandingkan dengan resep obat
yang hanya perlu diberi etiket.Saat apoteker melakukan pengecekan terhadap resep,
pasien sudah diberi informasi tentang lamanya pelayanan terhadap obat di dalam resep.

1.

ASPEK BISNIS
1. Permodalan
Apotek Babarsari merupakan usaha yang dimiliki oleh perseorangan, sehingga secara
keseluruhan permodalan dari badan usaha ini seluruhnya berasal dari pemilik modal.Modal
yang tersedia digunakan untuk memenuhi pengadaan berbagai sarana dan prasarana apotek
seperti pengadaan obat, alat kesehatan, serta biaya pengelolaan apotek seperti biaya listrik
dan air.
2. Perhitungan BEP
Perhitungan nilai BEP di Apotek Babarsari dipengaruhi oleh biaya tetap dan biaya
variable.Biaya tetap merupakan biaya yang dikeluarkan (besarnya dianggap tetap) yang tidak
terpengaruh pada besarnya omzet.Sementara biaya variabel merupakan biaya yang
dikeluarkan, tergantung besar kecilnya omzet (omzet makin tinggi, biaya variabelnya makin
tinggi).Biaya tetap di Apotek ini yaitu gaji pegawai dan biaya sewa gedung, sedangkan untuk
biaya variable disini adalah biaya listrik, air, telepon, pengadaan obat dan alat kesehatan,
serta pajak.
3. Strategi pengembangan Apotek Babarsari
Apotek Babarsari berada di dalam suatu wilayah yang terdapat beberapa apotek lain.
Sekitar 100m di arah selatan apotek ini terdapat Apotek Gowok, kemudian sekitar 100m di
arah barat apotek Babarsari juga terdaat Apotek Kimia Farma.Dengan posisi yang
sedemikian rupa diperukan adanya strategi untuk tetap bertahan dan mendapat kepercayaan
masyarakat.Berdasarkan fakta tersebut, Apotek Babarsari melakukan strategi pengembangan
sebagai berikut ini.
A. Menyediakan obat dan alat kesehatan sesuai kebutuhan pasien yang telah memiliki
izin edar dan berasal dari PBF yang legal serta sesuai dengan keuangan apotek.
B. Apotek Babarsari menyediakan pelayanan yang cepat dan ramah, serta menyediakan
brosur-brosur yang memuat tentang informasi obat. Selain itu, Apoteker melayani
konsultasi selama jam buka apotek
C. Pemberian potongan harga bagi pelanggan setia Apotek Babarsari
D. Terdapat praktek dokter di apotek, yaitu dokter umum, dokter spesialis penyakit
dalam konsultasi rheumatologi, serta dokter spesialis kulit dan kelamin. Dalam hal ini
antara dokter praktek dan pemilik modal tidak memiliki perjanjian apapun dikedua
belah pihak dan tetap menaati kebebasan profesi masing-masing. Pihak Apotek

Babarsari hanya menyediakan sarana atau tempat praktek, menyediakan obat yang
lengkap yang diresepkan oleh dokter, dan membatu kelancaran dalam menjalankan
praktek kedokteran.
E. Apotek Babarsari menyediakan fasilitas pemeriksaan glukosa kolesterol, asam urat,
dan tekanan

darah yang murah dibandingkan apotek-apotek lain untuk menarik

pelanggan.
F. Apotek Babarsari mengadakan bakti sosial
5. Perpajakan
A. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
Pelaksanaan pembayaran PBB di Apotek Babarsari rutin dilakukan dan sudah
sesuai ketentuan yang berlaku.Pembayaran PBB ini diakukan setiap akhir tahun kepada
pemerintah.Besaran nilainya tergantung pada luas tanah, bangunan, serta letak lokasi
apotek.
B. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas setiap
pembelian barang kena pajak dan pemanfaatan jasa kena pajak.PPN merupakan pajak
yang ditanggung oleh PBF dan dibebankan kepada apotek. Setiap pembelian persediaan,
apotek dikenakan tarif pajak sebesar 10% dari dasar pengenaan pajaknya (Harga Jual
Apotek) dan PBF menyerahkan faktur pajak kepada apotek sebagai bukti bahwa apotek
telah membayar PPN.
C. Pajak penghasilan pasal 21 (PPh 21)
PPh pasal 21 adalah pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium,
tunjangan, dan pembayaran lain yang diterima atau diperoleh wajib pajak orang pribadi
dalam negeri sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan. Penyetoran
PPh pasal 21 pada setiap bulan di bayarkan pada bulan berikutnya kemudian
mendapatkan bukti surat setor pajak. PPh Pasal 21 dibayarkan kepada Negara melalui
Kantor Pos dan Giro atau Bank Presepsi dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP)
paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya. PPh Pasal 21 dilaporkan dalam SPT dan
disampaikan kepada Kantor Pelayanan Pajak setempat paling lama tanggal 20 bulan
berikutnya. Apabila terjadi keterambatan dalam pembayaran, akan dikenakan sanksi
berupa denda. Di Apotek Babarsari pajak ini hanya dikenakan kepada Apoteker.Hal
tersebut dikarenakan penghasilan pegawai lainya masih dibawah PTKP.
PPh yang harus dibayarkan sebesar tarif PPh pasal 17 (1) a UU Nomor 36 Tahun
2008 dikali penghasilan kena pajak.Penghasilan kena pajak didapat dari penghasilan

netto setahun dikurangi dengan PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak).Yang dimaksud
dengan penghasilan netto setahun adalah jumlah penghasilan sebulan yang sudah
dikurangi biaya jabatan, yakni 5% dari jumlah penghasilan, dan dikalikan dengan 12.
Tabel. Tarif PPh pasal 17 (1) a UU Nomor 36 Tahun 2008
Lapisan Kena Pajak
sampai dengan Rp 50.000.000,00
di atas Rp 50.000.000,00 sampai dengan Rp 250.000.000,00
di atas Rp 250.000.000,00 sampai dengan Rp 500.000.000,00
Di atas Rp 500.000.000,00

Tarif Pajak
5%
15%
25%
30%

Tabel . Penghasilan Tidak Kena Pajak


Jenis PTKP
Wajib pajak orang pribadi
Tambahan wajib pajak kawin
Tambahan penghasilan istri digabung
dengan penghasilan suami
Tambahan untuk anggota keluarga
(maksimal 3 anak)

Permenkeu RI No. 162 Tahun 2012


Setahun
Sebulan
Rp 24.300.000,00
Rp 2.025.000,00
Rp 2.025.000,00
Rp 168.750,00
Rp 24.300.000,00

Rp 2.025.000,00

Rp 2.025.000,00

Rp 168.750.00

D. PPh 25 diiringi PPh 28 dan PPh 29.


Apabila pada saat perhitungan laba perusahaan atau omzet selama 1 tahun terjadi
kenaikan dibanding tahun sebelumnya, maka dikenai PPh 29.Apabila laba atau omzet
perusahaan turun dari sebelumnya dikenai PPh 28 dan dapat diakumulasikan pembayaran
pajak tahun berikutnya.PPh 29 dibayar paling lambat tanggal 25 Maret tahun berikutnya
dan pelaporan paling lambat tanggal 31 Maret tahun Berikutnya.Di Apotek Babarsari
setiap tahun ada peningkatan penghasilan maka dikenai PPh pasal 29, maka kekurangan
pajak yang terhutang harus dilunasi selambat-lambatnya tanggal 25 bulan ketiga setelah
tahun pajak berakhir.
E. PPh pasal 46
PPh pasal 46 merupakan pajak penghasilan dari usaha yang diterima atau
diperoleh

Wajib

Pajak

yang

memiliki

peredaran

bruto

tertentu.Wajib

Pajak

tersebutdikenai Pajak Penghasilan yang bersifat final. Pajak yang dikenai sesuai dengan
ketentuan yaitu peredaran bruto yang kurang dari 4,8 M selama 1 tahun pajak maka
dikenakan tarif pajak sebesar 1% dari omzet sedangkan diatas 4,8 M maka perlu dibuat
neraca laba rugi.

Di Apotek Babarsari pembayaran kredit pajak dilakukan melalui bank sebelum tanggal 15
setiap bulannya melalui bank dan pelaporannya masih dilakukan secara manual dengan
melaporkannya ke kantor Dirjen Pajak. Pelaporan pajak dilakukan setahun sekali.
6. Kewirausahaan
Dalam mengelola suatu apotek, diperlukan kemampuan berwirausaha yang baik bagi
seorang Apoteker pengelola Apotek.Apoteker perlu memperhatikan keadaan disekitar dan
mampu melihat peluang-peluang yang ada terkait dengan pengembangan apotek serta dapat
melakukan tindakan yang dapat menambah penghasilan apotek.Praktek kewirausahaan yang
dilakukan di Apotek Babarsari adalah dengan memproduksi beberapa produk yang siap
digunakan, seperti rivanol, alcohol 70% dan 95%. Selain itu Apotek Babarsari juga
menyediakan komoditi selain obat-obat, seperti masker, suplemen kesehatan, susu, kosmetik,
jamu, perlengkapan bayi dan minuman ringan.