Anda di halaman 1dari 14

Pendahuluan

Infeksi saluran kemih (ISK) ialah istilah umum untuk menyatakan adanya pertumbuhan
bakteri di dalam saluran kemih, meliputi infeksi di parenkim ginjal sampai infeksi di kandung
kemih. Pertumbuhan bakteri yang mencapai 100.000 unit koloni per ml urin segar yang
diambil pagi hari, digunakan sebagai batasan diagnosis ISK.
Infeksi saluran kemih merupakan penyebab demam kedua tersering setelah infeksi akut
saluran nafas pada anak berusia kurang dari 2 tahun. Pada kelompok ini angka kejadian ISK
mencapai 5%. Angka kejadian ISK bervariasi, tergantung umur dan jenis kelamin. Angka
kejadian pada neonatus kurang bulan adalah sebesar 3%, sedangkan pada neonatus cukup
bulan 1%. Pada anak dibawah 10 tahun ISK ditemukan pada 3,5% anak perempuan dan 1,1%
anak laki-laki.
Diagnosis yang akurat dan cepat dapat mencegah penderita ISK dari komplikasi
pembentukan parut ginjal dengan segala konsekuensi jangka panjangnya seperti hipertensi
dan gagal ginjal kronik.1
Manifestasi klinis ISK sangat bervariasi dan tergantung pada umur, mulai dengan
asimtomatik hingga gejala yang berat, sehingga ISK sering tidak terdeteksi baik oleh tenaga
medis maupun oleh orangtua. Kesalahan dalam menegakkan diagnosis (underdiagnosis atau
overdiagnosis) akan sangat merugikan. Underdiagnosis dapat berakibat penyakit berlanjut ke
arah kerusakan ginjal karena tidak diterapi. Sebaliknya overdiagnosis menyebabkan anak
akan menjalani pemeriksaan dan pengobatan yang tidak perlu. Bila diagnosis ISK sudah
ditegakkan, perlu ditentukan lokasi dan beratnya invasi ke jaringan, karena akan menentukan
tata laksana dan morbiditas penyakit. Diagnosis dan tata laksana ISK yang adekuat bertujuan
untuk mencegah atau mengurangi risiko terjadinya komplikasi jangka panjang seperti parut
ginjal, hipertensi, dan gagal ginjal kronik

Epidemiologi
Prevalensi infeksi saluran kemih berubah-ubah sesuai dengan jenis kelamin dan umur.
Infeksi saluran kemih simptomatis terjadi pada kira-kira 1.4/1.000 bayi baru lahir. Infeksi
saluran kemih lebih umum terjadi pada laki-laki yang tidak di khitan. Sesudahnya, infeksi
lebih banyak terjadi pada wanita. Infeksi saluran kemih simptomatis dan asimptomatis terjadi
pada 1,2 1,9% anak perempuan di usia sekolah dan paling banyak terjadi pada golongan
0

umur 7 sampai 10 tahun. Infeksi sangat jarang terjadi pada laki-laki dengan umur yang sama.
Wanita yang sangat aktig secara seksual mempunyai resiko sistitis yang tinggi; baik wanita
maupun laki-laki dewasa yang aktif secara seksual mengalami uretritis.2

Etiologi
Escherichia coli (E.coli) merupakan kuman penyebab tersering (60-80%) pada ISK serangan
pertama. Kuman lai penyebab ISK antara lain adalah Proteus mirabilis, Klebsiella oksitoka,
Proteus vulgaris, Pseudomonas aeruginosa, Enterobacte aerogenes, Morganela morganil,
Staphylococcus, Enterococcus.1
Infeksi saluran kemih terutama disebabkan oleh bakterii kolon.pada wanita, 75-90%
dari semua infeksi disebabkan oleh Escherechia coli, diikuti oleh Klebsiella dan Proteus.
Beberapa laporan menyatakan bahwa pada anak laki-laki yang berumur lebih dari 1 tahun,
infeksi akibat Proteus sama banyaknya seperti E.coli, laporan lain menyatakan suatu
organisme gram-positif dalam jumlah lebih besar pada laki-laki. Staphhylococcus
saprophyticus terbukti merupakan patogen pada kedua jenis kelamin. Infeksi virus dapat pula
terjadi.2
Kuman penyebab infeksi saluran air kemih :
-

Kuman gram negatif : E.Coli (85%), Klebsiela, Entero-bakter, Proteus, dan


Pseudomonas.

Stafilokokus Aureus, Streptokokus fecalis, kuman anaerob, TBC, jamur, virus dan
bentuk L bakteri protoplas.

\
1

Patogenesis
Infeksi dapat terjadi melalui penyebaran hematogen (neonatus) atau secara asending
(anak-anak). Faktor predisposisi infeksi adalah fimosis, alir-balik vesikoureter (refluks
vesikoureter), uropati obstruktif, kelainan kongenital buli-buli atau ginjal, dan diaper rash.
Patogenesis infeksi saluran kemih sangat kompleks, karena tergantung dari banyak faktor
seperti faktor pejamu (host) dan faktor organismenya. Bakteri dalam urin dapat berasal dari
ginjal, pielum, ureter, vesika urinaria atau dari uretra.
Beberapa faktor predisposisi ISK adalah obstruksi urin, kelainan struktur, urolitiasis,
benda asing, refluks atau konstipasi yang lama. Pada bayi dan anak anak biasanya bakteri
berasal dari tinjanya sendiri yang menjalar secara asending. Bakteri uropatogenik yang
melekat pada pada sel uroepitelial, dapat mempengaruhi kontraktilitas otot polos dinding
ureter, dan menyebabkan gangguan peristaltik ureter. Melekatnya bakteri ke sel uroepitelial,
dapat meningkatkan virulensi bakteri tersebut.
Mukosa kandung kemih dilapisi oleh glycoprotein mucin layer yang berfungsi sebagai
anti bakteri. Robeknya lapisan ini dapat menyebabkan bakteri dapat melekat, membentuk
koloni pada permukaan mukosa, masuk menembus epitel dan selanjutnya terjadi peradangan.
Bakteri dari kandung kemih dapat naik ke ureter dan sampai ke ginjal melalui lapisan tipis
cairan (films of fluid), apalagi bila ada refluks vesikoureter maupun refluks intrarenal. Bila
hanya buli buli yang terinfeksi, dapat mengakibatkan iritasi dan spasme otot polos vesika
urinaria, akibatnya rasa ingin miksi terus menerus (urgency) atau miksi berulang kali
(frequency), sakit waktu miksi (dysuri). Mukosa vesika urinaria menjadi edema, meradang
dan perdarahan (hematuria). Infeksi ginjal dapat terjadi melalui collecting system. Pelvis dan
medula ginjal dapat rusak, baik akibat infeksi maupun oleh tekanan urin akibat refluks berupa
atrofi ginjal. Pada pielonefritis akut dapat ditemukan fokus infeksi dalam parenkim ginjal,
ginjal dapat membengkak, infiltrasi lekosit polimorfonuklear dalam jaringan interstitial,
akibatnya fungsi ginjal dapat terganggu. Pada pielonefritis kronik akibat infeksi, adanya
produk bakteri atau zat mediator toksik yang dihasilkan oleh sel yang rusak, mengakibatkan
parut ginjal (renal scarring).

Manifestasi Klinis
2

Gejala klinik ISK pada anak sangat bervariasi, ditentukan oleh intensitas reaksi
peradangan, letak infeksi (ISK atas dan ISK bawah), dan umur pasien. Sebagian ISK pada
anak merupakan ISK asimtomatik, umumnya ditemukan pada anak umur sekolah, terutama
anak perempuan dan biasanya ditemukan pada uji tapis (screening programs). ISK
asimtomatik umumnya tidak berlanjut menjadi pielonefritis dan prognosis jangka panjang
baik. Pada masa neonatus, gejala klinik tidak spesifik dapat berupa apati, anoreksia, ikterus
atau kolestatis, muntah, diare, demam, hipotermia, mau minum, oliguria, iritabel, atau
distensi abdomen. Peningkatan suhu tidak begitu tinggi dan sering tidak terdeteksi. Kadangkadang gejala klinik hanya berupa apati dan warna kulit keabu-abuan (grayish colour). Pada
bayi sampai satu tahun, gejala klinik dapat berupa demam, penurunan berat badan, gagal
tumbuh, nafsu makan berkurang, cengeng, kolik, muntah, diare, ikterus, dan distensi
abdomen. Pada palpasi ginjal anak merasa kesakitan. Demam yang tinggi dapat disertai
kejang. Pada umur lebih tinggi yaitu sampai 4 tahun, dapat terjadi demam yang tinggi hingga
menyebabkan kejang, muntah dan diare bahkan dapat timbul dehidrasi. Pada anak besar
gejala klinik umum biasanya berkurang dan lebih ringan, mulai tampak gejala klinik lokal
saluran kemih berupa polakisuria, disuria, urgency, frequency, ngompol, sedangkan keluhan
sakit perut, sakit pinggang, atau pireksia lebih jarang ditemukan.
Pada pielonefritis dapat dijumpai demam tinggi disertai menggigil, gejala saluran cerna
seperti mual, muntah, diare. Tekanan darah pada umumnya masih normal, dapat ditemukan
nyeri pinggang. Gejala neurologis dapat berupa iritabel dan kejang. Nefritis bakterial fokal
akut adalah salah satu bentuk pielonefritis, yang merupakan nefritis bakterial interstitial yang
dulu dikenal sebagai nefropenia lobar.
Pada sistitis, demam jarang melebihi 38 0 C, biasanya ditandai dengan nyeri pada perut
bagian bawah, serta gangguan berkemih berupa frequensi, nyeri waktu berkemih, rasa
diskomfort suprapubik, urgensi, kesulitan berkemih, retensio urin, dan enuresis.
Bakteriuria asimptomatik sering terjadi; pada kebanyakan kasus, bila sudah terdapat gejala
yang memberi kesan adanya infeksi saluran kemih atau di duga akan ada gejala-gejala
tersebut. Manifestasi klinis seringkali gagal menunjukkan secara jelas apakah infeksi terbatas
pada kandung kemih atau telah melibatkan ginjal. Pada bayi, biasanya terjadi demam, berat
badan menurun, tidak dapat tumbuh dengan baik, nausea, muntah, diare dan ikterus. Pada
anak dengan demam tanpa diketahui sebabnya, biakan urine harus di ambil untuk
3

mengesampingkan infeksi saluran kemih. Dalam suatu penelitian pada bayi-bayi di ruang
gawat darurat dengan suhu >38oC, tetapi tanpa suatu penyebab demam yang jelas. 75%
menderita infeksi saluran kemmih. Proporsi ini lebih tinggi pada pasien wanita berkulit putih,
dan naik sampai 17% pada wnita berkulit putih dengan suhu >39oC. Biakann urin harus
diambil pada bayi yang demam. Kelak pada masa kanak-kanak, sering berkemih, sakit
selama berkemih, inkontinensia urin yang berkaitan dengan urgensi, mengompol pada anak
yang semula tidak lagi, sakit perut, dan urin berbau busuk mrupakan gejala yang sering
terjadi. Sistitis kronis atau yang sering kambuh seringkali menjadi penyebab inkontinensia
urin pada siang hari dan manifestasi ketidakstabilan kandug kemih lainnya yang mungkin
menetap meskipun urin sudah menjadi steril.
Kadang-kadang tampak hematuria sebagai tanda sistitis hemoragikka yang disebabkan
oleh E.coli. pada pielonefritis akut, biasanya terjadi demam, mengigil dan sakit panggul atau
perut serta nyeri tekan. Ginjal dapat membesar. Anak-anak dengan pielonefritis kronis
seringkali tidak bergejala. Hipertensi arterial biasanya berkaitan dengan jaringan parut ginjal.
Refluk nefropati yang biasanya dihubungkan dengan kombinasi refluk vesikoureter dan
infeksi, menjadi penyebab sampai 15% kasus gagal ginjal stadium akhir pada anak di
Amerika. Sepsis biasanya terjadi pada bayi dan anak yang lebih tua dengan infeksi dan
obstruksi saluran kemih. Hiperamonemia dengan manifestasi sistem saraf pusat merupakan
komplikasi yang jarang pada infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh Proteus dan terkait
dengan statis atau obstruksi saluran kemih.
Gejala klinis infeksi saluran air kemih bagian bawah secara klasik yaitu nyeri bila
buang air kecil (dysuria), sering buang air kecil (frequency), dan ngompol. Gejala infeksi
saluran kemih bagian bawah biasanya panas tinggi, gejala gejala sistemik, nyeri di daerah
pinggang belakang. Namun demikian sulit membedakan infeksi saluran kemih bagian atas
dan bagian bawah berdasarkan gejala klinis saja.2
Gejala infeksi saluran kemih berdasarkan umur penderita adalah sebagai berikut :
0-1 Bulan : Gangguan pertumbuhan, anoreksia, muntah dan diare, kejang, koma,
panas/hipotermia tanpa diketahui sebabnya, ikterus (sepsis).

1 bln-2 thn : Panas/hipotermia tanpa diketahui sebabnya, gangguan pertumbuhan, anoreksia,


muntah, diare, kejang, koma, kolik (anak menjerit keras), air

kemih

berbau/berubah warna, kadang-kadang disertai nyeri perut/pinggang.


2-6 thn

: Panas/hipotermia tanpa diketahui sebabnya, tidak dapat menahan kencing,


polakisuria, disuria, enuresis, air kemih berbau dan berubah warna, diare,
muntah, gangguan pertumbuhan serta anoreksia.

6-18 thn

: Nyeri perut/pinggang, panas tanpa diketahui sebabnya, tak dapat menahan


kencing, polakisuria, disuria, enuresis, air kemih berbau dan berubah warna.1

Diagnosis
Diagnosis ISK ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
laboratorium yang dipastikan dengan biakan urin.
ISK serangan pertama umumnya menunjukkan gejala klinik yang lebih jelas dibandingkan
dengan infeksi berikutnya. Gangguan kemampuan mengontrol kandung kemih, pola
berkemih, dan aliran urin dapat sebagai petunjuk untuk menentukan diagnosis. Demam
merupakan gejala dan tanda klinik yang sering dan kadang-kadang merupakan satu-satunya
gejala ISK pada anak. Pemeriksaan tanda vital termasuk tekanan darah, pengukuran
antropometrik, pemeriksaan massa dalam abdomen, kandung kemih, muara uretra,
pemeriksaan neurologik ekstremitas bawah, tulang belakang untuk melihat ada tidaknya
spina bifida, perlu dilakukan pada pasien ISK. Genitalia eksterna diperiksa untuk melihat
kelainan fimosis, hipospadia, epispadia pada laki-laki atau sinekie vagina pada perempuan.
Pemeriksaan urinalisis dan biakan urin adalah prosedur yang terpenting. Oleh sebab itu
kualitas pemeriksaan urin memegang peran utama untuk menegakkan diagnosis. American
Academy of Pediatrics (AAP) membuat rekomendasi bahwa pada bayi umur di bawah 2
bulan, setiap demam harus dipikirkan kemungkinan ISK dan perlu dilakukan biakan urin.
Pada anak umur 2 bulan sampai 2 tahun dengan demam yang tidak diketahui penyebabnya,
kemungkinan ISK harus dipikirkan dan perlu dilakukan biakan urin, dan anak ditata laksana
sebagai pielonefritis. Untuk anak perempuan umur 2 bulan sampai 2 tahun, AAP membuat
patokan sederhana berdasarkan 5 gejala klinik yaitu:1. suhu tubuh 39 0 C atau lebih, 2. demam
5

berlangsung dua hari atau lebih, 3. ras kulit putih, 4. umur di bawah satu tahun, 5. tidak
ditemukan kemungkinan penyebab demam lainnya. Bila ditemukan 2 atau lebih faktor risiko
tersebut maka sensitivitas untuk kemungkinan ISK mencapai 95% dengan spesifisitas 31%.
Anamnesis
Gambaran klinis ISK sangat bervariasi dan sering tidak khas, dari asimptomatik sampai
gejala sepsis berat. Pada neonatus sampai usia 2 bulan gejalanya menyerupai gejala
sepsis, berupa demam, apatis, berat badan tidak naik, muntah, mencret, anoreksia,
ikterus, problem minum dan sianosis. Sedangkan pada bayi gejalanya berupa demam,
berat badan sukar naik, atau anoreksia. Pada anak besar biasanya gejalanya lebih khas,
seperti sakit perut, sakit waktu miksi, frekuensi miksi meningkat, mengompol,
polakisuria atau urin berbau menyengat.
Pemeriksaan Fisik
Gejala dan tanda ISK yang dapat ditemukan berupa demam, nyeri ketok sudut kostovertebral, nyeri tekan supra simfisis, kelainan pada genitalia eksterna, seperti fimosis, sinekia
vulva, hipospadia, epispadia dan kelainan tulang belakang seperti spina bifida.
Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis infeksi saluran kemih tergantung pada biakan bakteri yang berasal dari urin.
Penemuan bakteri dari urin yang berasal dari kandung kemih ata pelvis ginjal menunjukan
adanya infeksi. Diagnosis yang tepat mungkin sulit ditetapkan karena seringkali kontaminasi
specimen yang dikeluarkan atau pengobatan penderita sebelumnya dengan antibiotika.
Pada ana yang terlatih menggunakan toilet, biakan urin diperoleh dari aliran mid stream.
Diperoleh setelah membersihkan meatus uretra. Pada wanita biasanya dibuka bagian labia
secara manual untuk menghindarkan kontaminasi atau kontak urin dengan kulit. Pada laki
laki yang tidak di khitan, preputium harus ditarik kebelakang, bila preputium tidak dapat
diretraksi, cara penampungan urin ini tidak dapat dipercaya. Untuk specimen mid stream,
hitungan koloni sering kali dipergunakan untuk membedakan specimen terinfeksi dan yang
terkontaminasi. Biakan yang menunjukan lebih dari 105 koloni/mL organisme tunggal
spesifikasinya lebih dari 90% untuk ISK. Namun demikian, harus diketahui, harus diketahui,
bahwa hitungan koloni yang lebih rendah pada penderita terinfeksi mungkin karena
6

kekeringan belebihan, pengosingan kandung kemih yang terlalu dini, atau karena pengobatan
dengan antibiotika. Hitungan demikian tidak mengesampingkan infeksi.

Biakan air kemih :


Dikatakan infeksi positif apabila :
-

Air kemih pancar tengah : biakan kuman positif dengan jumlah kuman 10 5/ml, 2
kali berturut-turut.

Air kemih tampung dengan pungsi buli-buli suprapubik : setiap kuman patogen yang
tumbuh pasti infeksi. Pembiakan urin melalui pungsi suprapubik digunakan sebagai
gold standar.

Dugaan infeksi :
- Pemeriksaan air kemih : ada kuman, piuria, torak leukosit
- Uji kimia : TTC, katalase, glukosuria, lekosit esterase test, nitrit test.

Mencari faktor resiko infeksi saluran kemih :


- Pemeriksaan ultrasonografi ginjal untuk mengetahui kelainan struktur ginjal dan
kandung kemih.
- Pemeriksaan Miksio Sisto Uretrografi/MSU untuk mengetahui adanya refluks.
- Pemeriksaan pielografi intra vena (PIV) untuk mencari latar belakang infeksi saluran
kemih dan mengetahui struktur ginjal serta saluran kemih.
Cara Penampungan

Jumlah koloni

Kemungkinan Infeksi

Pungsi supra pubik

Bakteri gram-negatif : asal

> 99%

ada kuman bakteri


7

gram-positif : beberapa ribu


> 105

95%

104 105

Diperkirakan ISK

103 104

Diragukan, Ulangi

< 103

Tidak ada ISK (kontaminasi)

> 104

Diperkirakan ISK

3x biakan > 105

95%

2x biakan > 105

90%

1x biakan > 105

80%

5 x 104 105

Diragukan, ulangi

Kateterisasi kandung kemih

Urin pancar tengah


Laki-laki dan perempuan
104 5 x 104
Klinis simptomatik

Diperkirakan ISK, ulangi

Klinis asimptomatik

Tidak ada ISK

< 104

Tidak ada ISK

Klasifikasi
ISK pada anak dapat dibedakan berdasarkan gejala klinis, lokasi infeksi, dan kelainan saluran
kemih. Berdasarkan gejala, ISK dibedakan menjadi ISK asimtomatik dan simtomatik.
Berdasarkan lokasi infeksi, ISK dibedakan menjadi ISK atas dan ISK bawah, dan
berdasarkan kelainan saluran kemih, ISK dibedakan menjadi ISK simpleks dan ISK
kompleks. ISK asimtomatik ialah bakteriuria bermakna tanpa gejala. ISK simtomatik yaitu
terdapatnya bakteriuria bermakna disertai gejala dan tanda klinik. Sekitar 10-20% ISK yang
sulit digolongkan ke dalam pielonefritis atau sistitis baik berdasarkan gejala klinik maupun
pemeriksaan penunjang disebut dengan ISK non spesifik.
Membedakan ISK atas atau pielonefritis dengan ISK bawah (sistitis dan urethritis) sangat
perlu karena risiko terjadinya parut ginjal sangat bermakna pada pielonefritis dan tidak pada
8

sistitis, sehingga tata laksananya (pemeriksaan, pemberian antibiotik, dan lama terapi)
berbeda.6,10,11 Untuk kepentingan klinik dan tata laksana, ISK dapat dibagi menjadi ISK
simpleks (uncomplicated UTI) dan ISK kompleks (complicated UTI). ISK kompleks adalah
ISK yang disertai kelainan anatomik dan atau fungsional saluran kemih yang menyebabkan
stasis ataupun aliran balik (refluks) urin. Kelainan saluran kemih dapat berupa RVU, batu
saluran kemih, obstruksi, anomali saluran kemih, buli-buli neurogenik, benda asing, dan
sebagainya. . ISK simpleks ialah ISK tanpa kelainan struktural maupun fungsional saluran
kemih. National Institute for Health and Clinical Excellence (NICE) membedakan ISK
menjadi ISK atipikal dan ISK berulang. Kriteria ISK atipikal adalah; keadaan pasien yang
sakit berat, diuresis sedikit, terdapat massa abdomen atau kandung kemih, peningkatan
kreatinin darah, septikemia, tidak memberikan respon terhadap antibiotik dalam 48 jam, serta
disebabkan oleh kuman non E. coli. ISK berulang berarti terdapat dua kali atau lebih episode
pielonefritis akut atau ISK atas, atau satu episode pielonefritis akut atau ISK atas disertai satu
atau lebih episode sistitis atau ISK bawah, atau tiga atau lebih episode sistitis atau ISK
bawah.5

Diagnosis Banding
Radang genitalia eksterna, vulvitis dan vaginitis yang disebabkan oleh ragi (yeast),
cacing kremi dan agen lain dapat disertai gejala mirip sistitis. Sistitis virus dan kimiawi harus
dibedakan dari sistitis bakterial berdasarkan atas riwayat penyakit dan hasil biakan urin.
Secara radiografi, ginjal hipoplastik dan displastik, atau ginjal kecil akibat gangguan vaskuler
dapat tempak sama dengan pielonefritis kronis. Namun pada terakhir ini, biasanya terdapar
refluks vesikoureter. Sistitis hemoragik akut sering disebabkan E.coli; telah dihubungkan juga
dengan adenovirus tipe 11 dan 21. Sistitis adenovirus lebih sering terdapat pada anak lakilaki; sembuh dengan sendirinya, dengan hematuria yang berlangsung kira-kira selama 4 hari.
Sistitis eosinofilik adalah bentuk jarang sistitis yang asalnya tidak jelas dan kadang-kadang
ditemukan pada anak. Gejala umum adalah sistitis dengan hematuria, dilatasi ureter dan
gagalnya pengisian kandung kemih yang disebabkan oleh massa yang secara histologis terdiri
atas infiltrat radang dengan eosinofil.

Yang penting adalah membedakan antara pielonefritis dan sistitis. Ingat akan
pielonefritis apabila didapatkan infeksi dengan hipertensi, disertai gejala-gejala umum,
adanya faktor predisposisi, fungsi konsentrasi ginjal menurun, respons terhadap antibiotik
kurang baik.2,3

Terapi
Sistitis akut sebaiknya segera diobati untuk mencegah kemungkinan berkembang
menjadi pielonefritis. Jika gejala-gejalanya berat, spesimen dari kandung kemih harus
diambil untuk biakan dan mulai untuk pengobatan. Bila gejalanya ringan atau diagnosis
meragukan, pengobatan dapat ditunda sampai biakan diketahui.2
Penyebab terseringg ISK adalah E.coli . sebelum ada hasil biakan urin dan uji
kepekaan, antibiotik diberikan secara empirik selama 7 10 hari untuk eradikasi infeksi akut.
Jenis Antibiotik oral

Dosis perhari

Amoksisilin

20-40 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis

Sulfonamida
-

Kombinasi

Trimetoprim

Sulfametoksazol (SMX)
-

6-12

mg

TMP dan

SMX/kgBB/hari

(TMP)
-

30-60

mg

dibagi dalam 3 dosis

120-150 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4


dosis

Sulfisoksazol

Sefalosporln

8 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis

- Sefiksim

10 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis

- Sefpodiksim

30 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis

- Sefprozil

50 mg/kgBB/hari dibagi dalam 4 dosis

Sefaleksin

6-7 mg/kg/hari dibagi dalam 4 dosis

Nitrofurantoin

6-12 mg/kg/hari dibagi dalam 4 dosis


10

Trimetoprim

Table antimikroba parenteral pada ISK.6


Jenis antbiotik Dosis per hari
Seftriakson

75 mg/kgbb/hari

Sefotaksim

150 mg/kgbb/hari dibagi setiap 6 jam

Seftazidim

150 mg/kgbb/hari dibagi setiap 6 jam

Sefazolin

50 mg/kgbb/hari dibagi setiap 8 jam

Gentamisin

7,5 mg/kgbb/hari dibagi setiap 6 jam

Amikasin

15 mg/kgbb/hari dibagi setiap 12 jam

Tobramisin

5 mg/kgbb/hari dibagi setiap 8 jam

Tikarsilin

300 mg/kgbb/hari dibagi setiap 6 jam

Ampisilin

100 mg/kgbb/hari dibagi setiap 6 jam

Monitoring
Dalam 2 x 24 jam setelah pengobatan fase akut dimulai gejala ISK umumnya
menghilang. Bila gejala belum menghilang, dipikirkan untuk mengganti antibiotik yang lain
sesuai dengan uji kepekaan antibiotik. Dilakukan pemeriksaan kultur dan uji resistensi urin
ulang 3 hari setelah pengobatan fase akut dihentikan, dan bila memungkinkan setelah 1 bulan
dan setiap 3 bulan. Jika ada ISK berikan antibiotik sesuai hasil uji kepekaan.

11

Bila ditemukan ada kelainan anatomik maupun fungsional yang menyebabkan


obstruksi, maka setelah pengobatan fase akut selesai dilanjutkan dengan antibiotik profilaksis
(lihat lampiran). Antibiotik profilaksis juga diberikan pada ISK berulang, ISK pada neonatus,
dan pielonefritis akut.
Prognosis
Prognosis jangka panjang infeksi saluran kemih biasanya baik, bila segera diobati
dengan adekuat setelah diagnosis ditegakkan. Pengobatan segera pielonefritis bakteri akut
pada hewan dapat mencegah timbulnya jaringan parut ginjal. Tidak tahan dengan cara yang
biasanya memberikan hasil jangka panjang yang menguntungkan ini, anak-anak dengan
infeksi saluran kemih yang berulang-ulang kambuh seringkali menimbulkan masalah yang
sulit dan mengecewakan dalam pengobatan dan profilaksisnya. Konsekuensi utama
kerusakan ginjal kronis yang disebabkan oleh pielonefritis adalah hipertensi arterial dan
insufiensi ginjal; bila hal ini terjadi maka harus diobati dengan tepat. Beberapa anak dengan
infeksi saluran kemih tidak sering berkemih dan banyak juga yang mengalami konstipasi
berat. Penyuluhan kepada orang tua untuk mencoba menentukan pola berkemih dan defekasi
yang lebih normal mungkin bermanfaat dalam mengembalikan kekambuhan.2

DAFTAR PUSTAKA

1. Pudjiadi, Antonius H. Dkk. Pedoman pelayanan medis ikatan dokter anak indonesia.
Jakarta. IDAI: 2010
2. Behrman, Richard E. 2002. Ilmu kesehatan anak Nelson vol.1. jakarta. EGC:2000
3. Behrman, Richard E. 2002. Ilmu kesehatan anak Nelson vol.3. jakarta. EGC: 2000
4. WHO. Pelayanan Kesehatan anak di rumah sakit. Jakarta. WHO:2005
5. Pecile P, Miorin E, Romanello C, Vidal E, Contrado M, Valent F. dkk. Age-related
renal parenchymal lesions in children with first febrile urinary tract infections.
Pediatrics 2009;124:23-9

12

6. Pardede SO, Tambunan T, Alatas H, Trihono PP, Hidayanti EL. Konsensus Infeksi
Saluran Kemih pada Anak. Jakarta: IDAI; 2011.
7. Hanson S, Jodal U. urinary tract infection. Pediatric nephrology, ed 5. New York:
Oxford; 2003.
8. WHO. Department of child and adolescent health and development.WHO; 2005.
9. Webb N. Clinical pediatric nephrology. Boston: Little brown and compny; 2008.
10. MacGregor

J.

Introduction

to

the

anatomy

and

physiology

of

children.Oxon:Routledge;2008.

13

Anda mungkin juga menyukai