Anda di halaman 1dari 14

Beberapa Paradigma Ilmu Sosial

Setiap paradigma memiliki perspektif yang berbeda dalam memandang realitas. Berikut
dipaparkan 3 paradima besar dalam ilmu-ilmu sosial yang dikutip oleh Salim (2006:72) dari
Dedy N. Hidayat:
Tiga Paradigma Ilmu Sosial
Positivisme &
Post-positivisme
Menempatkan ilmu sosial
seperti ilmu alam, yaitu
metode terorganisir untuk
mengkombinasikan
deductive logic melalui
pengamatan empiris, agar
mendapatkan konfirmasi
tentang hukum kausalitas
yang dapat digunakan bagi
memprediksi pola umum
gejala sosial tertentu
Contoh Teori

Konstruktivisme
Teori Kritis
(interpretif)
Memandang ilmu sosial
Mentakrifkan ilmu sosial
sebagai analisis sistematis
sebagai proses kritis
atas socially meaningful
mengungkap the real
action melalui pengamatan
structure dibalik ilusi dan
langsung terhadap aktor
kebutuhan palsu yang
sosial dalam setting yang
ditampakkan dunia materi,
alamiah, agar dapat
guna mengembangkan
memahami dan
kesadaran sosial untuk
menafsirkan bagaimana
memperbaiki kondisi
aktor sosial mencipta dan
kehidupan subjek penelitian
memelihara dunia sosial
Contoh Teori
Contoh Teori
Konstruktivisme Ekonomi
Ekonomi Politik Liberal,
Strukturalisme Ekonomi
Politik (Golding &
Teori Modernisasi, Teori
Politik (Schudson),
Murdock), Fenomenologi,
Pembangunan Negara
Instrumentalisme Ekonomi
Etnometodologi, Interaksi
Berkembang,
Politik (Chomsky, Gramsci
Simbolik (Chicago School),
Interaksionisme Simbolik
dan Adorno), Teori
Konstruksionisme (Social
(Iowa School), Agenda
Tindakan Komunikasi
Construction of Reality
Setting, Teori Fungsi Media
(Jurgan Habermas)
Peter L . Berger)
Sumber: Diambil dari Dedy N. Hidayat (Paradigma & Metodologi, 09/12/1998) (Salim,
2006:72).

Istilah paradigma positivisme/post positivisme selalu dilekatkan dengan perspektif atau


pendekatan objektif/positivistik, sedangkan istilah paradigma konstruktivisme dan kritis
selalu dilekatkan dengan perspektif atau pendekatan subjektif/interpretif. Dalam
perkembangannya, paradigma positivisme/post positivisme telah melahirkan berbagai metode
penelitian khususnya di ranah penelitian kuantitatif, sedangkan paradigma konstruktivisme
dan kritis telah melahirkan berbagai metode penelitian khususnya di ranah penelitian
kualitatif.
Dua Mahzab Dalam Penelitian Komunikasi
Dalam melakukan penelitian di bidang komunikasi terdapat 2 metode yakni metode
penelitian kuantitatif dan kualitatif. Penelitian kuantitatif terinspirasi oleh Mahzab Chicago
dengan menggunakan pendekatan objektif/positivistik, sedangkan penelitian kualitatif

dipopulerkan oleh Mahzab Frankfurt dengan menggunakan pendekatan subjektif/intrepretif.


Berikut sekilas penjelasan tentang kedua mahzab tersebut:
Mahzab Chicago
Mahzab ini dipelopori oleh para pakar penelitian dari Amerika Serikat diantaranya Robert
Ezra Park, Paul F. Lazarsfeld, Harold D. Lasswell, Bernard Berelson, Robert K. Merton,
David Lerner, Wilbur Schramm, David K. Berlo, Ithiel De Sofa Pool, Charles Wright dan
lain-lain. Penelitian yang dilakukan oleh mahzab ini lebih menitik beratkan pada efek
komunikasi massa baik secara langsung maupun tak langsung terhadap khalayak. Disini
digambarkan khalayak yang pasif saat menerima pesan-pesan media. Jadi media begitu
perkasa dalam mempengaruhi atau merubah sikap dan prilaku khalayak. Mahzab ini disebut
juga dengan aliran positivisme empirik yang menganggap bahwa penelitian harus bebas nilai
yang diuji dalam dunia nyata, yaitu dunia yang dapat dindera (dilihat, dirasakan, diraba atau
dapat dialami).
Mahzab Frankfurt
Mahzab ini dipelopori oleh para pakar penelitian dari Jerman diantaranya Th. Adorno, M.
Horkheimer, W. Benjamin, M. Marcuce. Mahzab ini menghasilkan sebuah teori bernama
Teori Kritis dan penelitiannya dinamakan Critical Research (Penelitian Kritis). Jika Mahzab
Chicago lebih menekankan pada efek komunikasi massa, maka pada penelitian Mahzab
Frankfurt lebih berfokus pada pengawasan sistem komunikasi untuk menarik kesimpulan
tentang lembaga media massa yang menyebarkan pesan, bukan untuk mengetahui efek
komunikasinya terhadap khlayak.
Kritik Mahzab Frankfurt Terhadap Mahzab Chicago
Kritik Mahzab Frankfurt diantaranya menyatakan bahwa penelitian komunikasi massa yang
positivistik empirik oleh Mahzab Chicago yang tidak menggunakan teori sosial secara umum
tidak dapat mengkaji fenomena-fenomena komunikasi massa. Dalam hal penelitian tentang
efektivitas iklan misalnya, karena pihak sponsor ingin mengetahui apakah dana yang
dikeluarkannya itu bermanfaat atau tidak, maka disitu tidak dipertanyakan manfaat sosial dari
iklan tersebut. Bahkan penelitian Mahzab Chicago yang selalu didanai oleh pihak sponsor,
hasil penelitiaannya pun harus disesuaikan dengan kehendak sponsor, sehingga disini hasil
penelitiannya jelas diragukan kesahihannya karena sangat rawan dengan manipulasi data dan
fakta demi memuaskan keinginan pihak sponsor. Hal ini juga menjadi sorotan kritik dari
Mahzab Frankfurt.
Dua Pendekatan yang Melandasi Penelitian Komunikasi
Ada 2 Metode Penelitian komunkasi yang saat ini digunakan, yaitu Metode Penelitian
Kuantitatif dan Metode Penelitian Kualitatif. Penelitian Kuantitatif dilandasi oleh pendekatan
objektif, sedangkan Penelitian Kualitatif dilandasi oleh pendekatan subjektif /interpretif.
Pendekatan Objektif/Positivistik Sebagai Landasan Metode Penelitian Kuantitatif
Pendekatan objektif/positivistik diterapkan dalam penelitian yang sistematis, terkontrol,
empiris dan kritis atas hipotesis mengenai hubungan yang diasumsikan di antara fenomena
alam. Pendekatan ini memandang bahwa kebenaran dapat ditemukan bila kita dapat

menyingkirkan campur tangan manusia ketika melakukan penelitian atau mengambil jarak
dari objek yang diteliti. Jadi penelitian yang dilakukan harus bebas nilai, artinya terlepas dari
interpretasi atau penilaian dari si peneliti. Metode penelitian cenderung menganggap manusia
itu pasif seperti mesin atau hewan yang prilakunya bisa diramalkan sehingga bisa
digeneralisasikan. Penelitian ini bersifat deduktif, artinya berfikir dari hal-hal yang bersifat
umum ke khusus. Peneliti mengambil kesimpulan umum terlebih dahulu untuk melakukan
generalisasi yang disebut sebagai hipotesis untuk kemudian diuji kebenarannya.
Sebagai ilustrasi, hipotesis yang menyatakan bahwa Tayangan kekerasan di televisi
menimbulkan perilaku agresif pada anak-anak, sehingga dapat disimpulkan, Semakin
sering anak-anak menonton tayangan kekerasan di televisi, maka perilaku anak akan semakin
agresif. Disini terlihat hubungan sebab akibat dimana terdapat 2 variabel (yang tentunya ini
merupakan ciri dari Metode Penelitian Kuantitatif), yaitu variabel bebas dan variabel terikat.
Tayangan kekerasan di televisi sebagai variabel bebas yang mempengaruhi perilaku agresif
anak sebagai variabel terikat.
Jadi disini jelas terlihat bahwa menurut pendekatan pendekatan objektif sebagai landasan dari
metode penelitian kuantitatif, perilaku manusia sebagai objek penelitian dapat diramalkan
sehingga dapat digeneralisasikan. Penelitian Kuantitatif ini bertujuan menguji teori.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian kuantitatif ini bersifat deskriptif dengan
menggunakan wawancara yang berstruktur, survei korelasional, serta eksperimen yang
menekankan pada pencarian penjelasan kausal dan mekanistik atas fenomena komunikasi.
Pendekatan Subjektif/Interpretif Sebagai Landasan Metode Penelitian Kualitatif
Menurut pendekatan subjektif/interpretif bahwa perilaku manusia itu sangat unik dan tidak
bisa diramalkan karena manusia memiliki kehendak bebas. Berbeda dengan sesuatu (benda)
yang hanya sekedar bergerak, atau mesin yang bergerak karena dikendalikan, ataupun hewan
yang bertindak hanya karena insting. Jadi manusialah yang yang menciptakan struktur, bukan
struktur yang menentukan perilaku manusia. Ini berarti manusia aktif bertindak dalam
membetuk realitas. Manusialah yang menstruktur dunia, bukan dunia yang menstruktur
manusia. Pendekatan ini memandang bahwa realitas sosial bersifat majemuk, tidak tunggal,
sehingga tidak bisa digeneralisasikan. Beberapa prinsip pendekatan subjektif diantaranya:

Setiap manusia itu unik, tidak persis sama dengan yang lain sehingga perilaku mereka
tidak bisa diuraikan secara kausal dan karenanya tidak dapat diramalkan
Bila terdapat tatanan kausal dalam fenomena perilaku manusia, tatanan tersebut
begitu kompleks sehingga penemuan tidak tercapai secara permanen

Dalam ilmu alam, fakta sekarang selalu didahului oleh fakta yang lalu, namun
perilaku manusia tidak hanya ditentukan oleh perilaku masa lalu tapi juga tujuan masa
depan

Bila perilaku manusia merupakan bagian dari tatanan kausal dari peristiwa-peristiwa
dan prinsipnya dapat diramalkan, akan sia-sia berusaha membuat pilihan antara
kebaikan dan kejahatan, serta meminta orang untuk mempertanggung jawabkan
perbuatannya.

Kaum subjektivis merasa, untuk mengelola perilaku manusia sebagai materi untuk diteliti
secara ilmiah terhambat oleh keterlibatan langsung peneliti dalam perilaku yang mereka ingin
jelaskan,sehingga penelitian itu sendiri tidak bisa lepas dari interpretasi peneliti secara
subjektif. Penelitian kualitatif tidak bertujuan menguji teori, melainkan untuk menghasilkan
model atau teori baru. Jika penelitian kuantitatif ingin memprediksi seberapa besar pengaruh
tayangan kekerasan di televisi terhadap prilaku agresif anak, maka penelitian kualitatif tidak
bermaksud demikian. Penelitian kualitatif justru ingin menggali lebih jauh lagi mengapa bisa
muncul kecenderungan prilaku agresif anak, faktor-faktor apa saja yang mungkin bisa
menjadi penyebabnya. Adapun tayangan kekerasan di televisi mungkin hanya menjadi salah
satu penyebab dari sekian banyak penyebab yang lain. Disini penelitian kualitatif tidak
mengenal adanya variabel bebas dan terikat.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian kualitatif ini bersifat deskriptif dengan
menggunakan wawancara yang mendalam (tidak berstruktur), pengamatan berperan serta,
analisis dokumen, studi kasus, studi historis-kritis dengan penafsiran sujektif.

Rentang Pendekaan Objektif dan Interpretif


Meski masih banyak dipertentangkan, tapi sekedar sebagai perbandingan dapat disimak
pendapat Bavelas yang mencoba menggambarkan perbedaan kedua metode ini sebagai
berikut:
Penelitian Kuantitatif

Penelitian Kualitatif

Angka-angka

Tanpa angka-angka

Parametik

Nonparametik

Statistik

Nonstatistik

Empiris

Tidak empiris

Objektif

Subjektif

Deduktif

Induktif

Pengujian hipotesis

Penjelajahan (Exploratory)

Eksperimental

Noneksperimental

Laboratorium

Dunia nyata

Artifisial
Dapat digeneralisasikan

Alamiah
Tidak dapat digeneralisasikan

Sumber: Deddy Mulyana dan Solatun dalam bukuya:Metode Penelitian Komunikasi

Sedangkan rentang perspektif subjektif perspektif objektif menurut Morgan dan Smircich,
adalah sebagai berikut:

Sementara pemetaan Teori Komunikasi dalam rentang Perspektif Objektif dan Perspektif
Subjektif/interpretif menurut Griffin:

Sumber: Em Griffin. A First Look at Communication Theory, Edisi ke-3, NY, 1997
Beberapa pakar ada yang tidak sependapat dengan pemetaan di atas Misalnya Prof. Dr.
Deddy Mulyana, menilai teori interaksi simbolik masuk pada perspektif subjektif karena
manusia secara aktif memaknai simbol-simbol yang mereka buat untuk berinteraksi antara
satu sama lain.
METODE PENELITIAN KOMUNIKASI
Metodologi Kuantitatif
Yaitu penelitian yang menjelaskan suatu masalah yang menggambarkan hubungan antar
variabel yang kemudian hasil penelitiannya dapat digeneralisasikan. Penelitian ini tidak
terlalu mementingkan kedalaman data atau analisis, melainkan lebih mementingkan aspek
keluasan data sehingga data atau hasil riset merupakan representasi dari seluruh populasi.
Dalam melakukan analisis data, metode ini memerlukan bantuan perhitungan ilmu statistik
baik statistik deskriptif maupun inferensial.
Dalam penelitian ini peneliti harus bersikap objektif dan memisahkan diri dari data, artinya
peneliti tidak boleh membatasi konsep maupun alat ukur data sekehendak hatinya sendiri.
Batasan konsep dan alat ukurnya harus diuji terlebih dahulu untuk memenuhi prinsip

reliabilitas dan validitas. Oleh karenanya peneliti tidak boleh melibatkan analisis dan
interpretasi yang bersifat subjektif.
Karena penelitian ini bersifat menguji teori, maka harus diterapkan teori-teori yang relevan
yang melandasi penelitian tersebut, mulai dari tataran Grand Theory, Middle Range
Theory,sampai pada Applied Theory-nya.
Jenis Penelitian Komunikasi dengan Metodologi Kuantitatif
1. Metode Survei
Yakni metode penelitian dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan
datanya dengan tujuan memperoleh informasi tentang sejumlah responden yang dianggap
mewakili populasi tertentu. Survei ini terdiri dari:
a. Survei Deskriptif
Jenis survei yang digunakan untuk menggambarkan populasi yang sedang diteliti. Fokus
penelitian ini adalah perilaku yang sedang terjadi dan terdiri dari satu variabel. Misalnya
menggambarkan variabel sosiodemografis responden dalam riset Bagaimana karakteristik
sosiodemogafis pembaca Kompas?, maka peneliti akan menggambarkan tingkat pendidikan
responden, tingkat penghasilan, agama, jenis kelamin, tempat tinggal, usia, status perkawinan
dan lain-lain
b. Survei Eksplanatif (Analitik)
Jenis survei ini digunakan untuk mengetahui mengapa situasi atau kondisi tertentu terjadi
atau apa yang mempengaruhi terjadinya sesuatu. Peneliti tidak sekedar menggambarkan
terjadinya fenomena tapi menjelaskan mengapa fenomena itu terjadi dan apa pengaruhnya.
Dengan kata lain, peneliti ingin menjelaskan hubungan antara dua variabel atau lebih dan
membuat hipotesis sebagai asumsi awal untuk menjelaskan hubungan antar variabel yang
diteliti. Analisis data menggunakan uji statistik inferensial. Misalnya seorang praktisi iklan
ingin mensurvei apakah frekwansi terpaan iklan mempengaruhi keinginan orang untuk
membeli produk yang diiklankan.
Survei Eksplanatif ini terbagi dua yaitu:
1)
Komparatif: bermaksud untuk membuat komparasi (perbandingan) antara variabel yang
satu dengan lainnya yang sejenis. Misalnya: Apakah ada perbedaan antara tingkat kepuasan
pembaca Tribun dan Batam Pos?
2) Asosiatif: Bermaksud untuk menjelaskan hubungan (korelasi) antar variabel. Misalnya:
Apakah ada hubungan antara terpaan media massa dengan pengetahuan politik mahasiswa?
2. Metode Analisis Isi (Content Analysis)
Yaitu metode penelitian yang digunakan untuk meneliti atau menganalisis isi komunikasi
secara sistematik, objektif dan kuantitatif. Sistematis berarti proses analisis tersusun secara
sistematis mulai dari penentuan isi komunikasi yang dianalisis, cara menganalisisnya maupun
kategori yang dipakai untuk menganalisisnya. Objektif berarti peneliti harus

mengesampingkan faktor-faktor yang subjektif atau personal sehingga hasil analisis benarbenar objektif dan bila diteliti peneliti lain hasilnya relatif sama. Analisis ini harus
dikuantitatifkan ke dalam angka-angka, misalnya: 70% berita berita Kompas selama setahun
adalah bertema politik. Atau misalnya: Iklan politik di harian Tribun 50% lebih banyak
dibanding di harian Riau Pos
Analisis isi kuantitatif lebih memfokuskan pada isi komunikasi yang tampak
(tersurat/manifest/nyata). Sedangkan untuk menjelaskan hal-hal yang tersirat (latent),
misalnya ideologi dibalik berita dilakukan analisis isi kualtatif, seperti analisis framing,
analisis wacana dan semiotika yang telah banyak berkembang di dalam Ilmu Komunikasi.
3. Metode Eksperimen
Yaitu metode yang digunakan untuk meneliti hubungan atau pengaruh sebab akibat dengan
memanipulasi satu variabel atau lebih pada pada satu kelompok ekperimental atau lebih, dan
membandingkan hasilnya dengan kelompok kontrol yang tidak mengalami manipulasi.
Peneliti harus membagi responden dalam 2 kelompok. Kelompok yang satu dimanipulasi
dengan pesan tertentu, dan kelompok dua yang tidak dimanipulasi. Kemudian peneliti
melihat efek manipulasi tersebut terhadap kelompok satu dengan membandingkannya dengan
kelompok dua. Contoh, judul penelitian: Pengaruh tayangan kekerasan di TV terhadap
perilaku agresif anak. Kelompok anak yang satu disuruh menonton tayangan kekerasan di
TV, sedangkan kelompok dua disuguhi acara ringan seperti komedi atau acara ringan lainnya.
Kelompok satu disebut kelompok eksperimental, kelompok dua disebut kelompok kontrol.
Jika kekerasan diukur dengan perilaku memukul, menendang, mencubit dan yang lainnya,
bila anak-anak yang setelah menonton tayangan kekerasan di TV ketika diamati banyak yang
memukul, menendang, mencubit, berarti terbukti bahwa acara kriminal tersebut telah
mempengaruhi perilaku agresif pada anak-anak.
Teori atau Model Komunikasi Pendukung Metode Penelitian Kuantitatif
Ada beberapa teori atau model komunikasi yang mendukung meode penelitian kuantitatif,
diantaranya:
1. Model Komunikasi David K. Berlo
David K.Berlo menggambarkan konsep komunikasi secara sederhana yang melibatkan unsurunsur tersebut, yang dikenal dengan sebutan model proses komunikasi S-M-C-R (Source,
Message, Channel, Receiver). Model yang menggambarkan komunikasi berjalan secara linier
dari source ke receiver ini berasumsi bahwa komunikasi meupakan suatu proses dimana
sumber secara kuat merubah perilaku penerima.
2. Model Komunikasi Lasswell
Model Lasswell atau juga dikenal dengan Formula Lasswell menerangkan komunikasi
dengan menjawab pertanyaan: Who Says What In Which Channel To Whom With What
Effect. Jawaban dari pertanyaan itu adalah: Source, Message, Media, Receiver and Effect
(cognitive, affective, behaviour). Model ini juga menggambarkan komunikasi berjalan secara
linier dari source ke receiver.
3. Teori Jarum Suntik (Hypodemic Needle) dan Teori Peluru (Bullet Theory)

Kedua teori ini memiliki esensi yang sama, yaitu sama-sama mengangap khalayak itu bersifat
paswif dalam menerima pesan komunikasi. Teori Hipodermic Needle dipelopori oleh Carl
Hovland ini berasumsi bahwa komponen-komponen komunikasi (komunikator, pesan, media)
amat perkasa dalam mempengaruhi komunikasi. Disebut sebagai Teori Jarum Suntik karena
dalam teori ini dikesankan seakan-akan komunikasi disuntikkan langsung ke dalam jiwa
komunikan sebagaimana obat disimpan dan disebarkan ke dalam tubuh sehingga terjadi
perubahan dalam sistem fisik, begitu pula pesan-pesan persuasif merubah sistem psikologis.
Sementara Teori peluru yang dipelopori oleh Wilbur Schramm ini di tahun 1950-an
berasumsi bahwa seorang komunikator dapat menembakkan peluru komunikasi yang begitu
ajaib kepada khalayak yang pasif tidak berdaya. Namun di tahun 1970-an lewat karya
tulisnya, Schramm mencabut teori ini karena menemukan fakta bahwa khalayak yang
menjadi sasaran media itu ternyata tidak pasif.
4. Teori Agenda Setting
Teori Agenda Setting yang diperkenalkan oleh M.E. Mc. Comb dan D.L. Shaw ini berasumsi
bahwa media membentuk persepsi khalayak tentang apa yang dianggap penting. Dengan
tekhnik pemilihan dan penonjolan, media memberi tekanan mana isu yang lebih penting
(Becker, 1982). Jadi apa saja yang menjadi agenda media di satu sisi, adalah juga merupakan
agenda khalayak di sisi lain.
5. Teori Uses and Gratification
Teori Uses and Gratification yang dipopulerkan oleh Katz, Blumler dan Gurevitch ini, bukan
mempermasalahkan bagaimana media merubah sikap dan perilaku khalayak, melainkan
bagaimana khalayak bersikap dan bertindak terhadap media. Jadi khalayak dianggap aktif
menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya, dan bila itu terpenuhi, maka mereka
akan merasa puas.
6. Model Matematika Komunikasi Claude, Shanon dan Warren Weaver
Pandangan lain tentang model linier-mekanistis yaitu model matematis yang dipopulerkan
oleh Claude, Shanon dan Warren Weaver. Mereka mendefinisikan komunikasi sebagai All
the procedures by which one mind may effect another atau seluruh prosedur dimana suatu
pemikiran dapat mempengaruhi yang lain. Dengan definisi tersebut komponen komunikasi
meliputi sumber (source), penyandi (encoder), pesan (message), penyandi balik (decoder),
sasaran (destination) dan gangguan (noise).
7. Teori Kultivasi
Teori Kultivasi (Cultivation Theory) merupakan salah satu teori yang mencoba menjelaskan
keterkaitan antara media komunikasi (dalam hal ini televisi) dengan tindak kekerasan. Teori
ini dikemukakan oleh George Gerbner, yangberdasarkan penelitiannya terhadap perilaku
penonton televisi yang dikaitkan dengan materi berbagai program televisi yang ada di
Amerika Serikat.Teori Kultivasi pada dasarnya menyatakan bahwa para pecandu (penonton
berat/heavy viewers) televisi membangun keyakinan yang berlebihan bahwa dunia itu sangat
menakutkan. Hal tersebut disebabkan keyakinan mereka bahwa apa yang mereka lihat di
televisi yang cenderung banyak menyajikan acara kekerasan adalah apa yang mereka
yakini terjadi juga dalam kehidupan sehari-hari.

8. Teori S-O-R (Stimulus-Organisme-Response)


Teori S-O-R menjelaskan bagaimana suatu rangsangan mendapatkan respon. Teori S-O-R
beranggapan bahwa organisme menghasilkan perilaku jika ada kondisi stimulus tertentu pula.
Jadi efek yang timbuladalah reaksi khusus terhadap stimulus khusus, sehingga seseorang
dapat mengharapkan kesesuaian antara pesan dan reaksi komunikan. Jadi unsur-unsur dalam
model ini adalah: (1) Pesan (Stimuli); (2) Komunikan (Organism) (3) Efek (Response).
Dalam proses perubahan sikap, sikap komunikan dapat berubah jika stimulus yang
menerpanya benar-benar melebihi dari yang dialaminya. Marat (1984) mengutip pendapat
Hovland, Janis dan Kelly yang menyatakan bahwa dalam menelaah sikap yang baru ada tiga
variabel penting, yaitu: (1) Perhatian; (2) Pengertian (3) Penerimaan.
Metodologi Kualitatif
Yaitu penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan suatu fenomena sedalam-dalamnya
melalui pengumpulan data yang sedalam-dalamnya. Penelitian ini tidak mementingkan
besarnya populasi atau sampel, bahkan dengan populasi atau sampel yang terbatas namun
dilinai sudah cukup mendalam untuk bisa menjelaskan fenomena yang diteliti, maka tidak
diperlukan lagi sampel yang lain. Yang lebih ditekankan adalah masalah kedalaman (kualitas)
data dan bukan banyaknya (kuantitas) data.
Dalam penelitian ini peneliti merupakan bagian integral dari data, artinya peneliti ikut aktif
dalam menentukan jenis data yang diinginkan. Jadi peneliti merupakan instrumen penelitian
yang harus terjun langsung di lapangan. Tekhnik pengumpulan data yang digunakan adalah
observasi partisipasi dimana peneliti terlibat sepenuhnya dalam kegiatan informan kunci yang
menjadi subjek penelitian dan sumber informasi. Karena itu penelitian ini bersifat subjektif
yang hasilnya lebih kasuistik, tidak bisa digeneralisasikan. Bahkan dalam penelitian
eksploratif misalnya, peneliti tidak memilki konsep awal tentang apa yang diteliti sehingga
tentu saja tidak memiliki desain penelitian. Ini dimaksudkan agar peneliti melakukan
penelitian dalam setting yang alamiah, membiarkan peristiwa yang diteliti mengalir secara
normal tanpa mengontrol variabel yang diteliti.
Jadi penelitian ini tidak bermaksud menguji teori, melainkan justru berusaha menemukan
sebuah model atau teori baru yang dapat berlaku secara spesifik untuk kasus-kasus tertentu.
Intersubjektifitas atau pemahaman bersama dalam penelitian ini menjadi begitu penting.
Jenis Penelitian Komunikasi dengan Metodologi Kualitatif
1. Metode Deskriptif Kualitatif
Yaitu sebuah metode penelititan dengan ciri-ciri berikut (Ardianto, 2010:60):
1. Mencari teori (hypothesis-generating), bukan menguji teori (hypothesis-testing),
heuristic, ataupun verifikasi.
2. Menitikberatkan pada observasi dan suasana alamiah (natural setting)
3. Peneliti terjun langsung ke lapangan, dan bertindak sebagai pengamat. Disini ia tidak
berusaha untuk memanipulasi variabel. Bahkan ia terjun ke lapangan tanpa dibebani
atau diarahkan oleh teori-teori tertentu.

2. Metode Wawancara Mendalam (in depth interview)


Yaitu suatu metode dalam penelitian kualitatif, dimana seorang atau sekelompok responden
mengkomunikasikan bahan-bahan dan mendorong untuk didiskusikan secara bebas.
Wawancara mendalam dapat dilakukan melalui telepon. Seringkali pewawancara dilatih
secara psikologis agar ia dapat menggali perasaan atau sikap yang tersembunyi dari
responden (Dun, 1986). Wawancara mendalam ini tidak terstruktur seperti wawancara pada
penelitian kuantitatif dengan kuesionernya. Komunikasi antara peneliti dan yang diteliti
berlangsung secara alamiah, bahkan subjek yang diteliti tidak menyadari bahwa ia
sebenarnya sedang diteliti. Jadi saat melakukan wawancara, peneliti tidak menunjukkan jati
dirinya sebagai peneliti kepada subjek yang diteliti sehingga diharapkan dapat diperoleh
informasi yang orisinal.
3. Metode Kelokmpok Diskusi Terfokus (Focus Groups Discussion)

Focus Groups Discussion (FGD) merupakan suatu tekhnik pengumpulan data yang umumnya
dilakukan pada penelitian kualitatif dengan tujuan menemukan makna sebuah tema menurut
pemahaman sebuah kelompok berdasakan hasil diskusi yang terpusat pada suatu
permasalahan tertentu.
4. Metode Studi Kasus
Merupakan tipe pendekatan dalam penelitian yang menelaah satu kasus secara intensif,
mendalam, mendetil, dan komprehensif dengan menggunakan berbagai sumber data. Metode
ini membutuhkan berbagai instrumen pengumpulan data seperti wawancara mendalam,
observasi partisipan, dokumentasi, rekaman bukti-bukti fisik dan lainnya.
5. Metode Fenomenologi
Fenomenologi memandang komunikasi sebagai pengalaman melalui diri sendiri atau diri
orang lain melalui suatu dialog. Tradisi ini memandang manusia secara aktif
menginterpretasikan pengalaman mereka sehingga mereka dapat memahami lingkungannya
melalui pengalaman personal dan langsung dengan lingkungan. Tradisi fenomenologi
memberikan penekanan sangat kuat pada persepsi dan interpretasi dari pengalaman subjektif
manusia.
Menurut Polkinghorne (Creswell,1998: 51-52): a phenomenological study describes the
meaning of the lived experiences for several individuals about a concept or the phenomenon.
Phenomenologist explore the structure of cosciousness in human experiences. Studi
fenomenologi menggambarkan makna pengalaman hidup bagi beberapa individu tentang
suatu konsep atau fenomena. Kaum fenomenologi berusaha mengekslorasi struktur kesadaran
pada penglaman manusia. Tokoh-tokohnya: Edmund Husserl, Alfred Schultz.
6. Metode Interaksi Simbolik
Interaksi simbolik memandang makna diciptakan dan dilanggengkan melalui interaksi
dengan kelompok-kelompok sosial. Interaksi sosial memberikan, melanggengkan dan
merubah aneka konvensi seperti peran, norma, aturan dan makna-makna yang ada dalam
suatu kelompok sosial. Tokoh-tokohnya: George Herbert Mead, Herbert Blumer.

7. Metode Grounded Teori


Merupakan suatu pendekatan yang reflektif dan terbuka, dimana pengumpulan data,
pengembangan konsep-konsep teoritis dan ulasan literatur berlangsung dalam proses siklis
berkelanjutan. Tokoh-tokohnya: Daymon, Holloway.
8. Metode Etnometodologi
Etnometodologi merupakan salah satu cabang ilmu sosiologi yang mempelajari berbagai
upaya, langkah dan penerapan pengetahuan umum pada kelompok komunitas untuk
menghasilkan dan mengenali subjek, realitas dan alur tindakan yang bisa dipahami bersamasama (Kuper, dalam Basrowi dan Sukidin, 2002). Etnometodologi beranggapan bahwa aspek
dari pemahaman bersama atas dunia sosial bergantung pada berbagai metode alasan yang
terselubung. Metode ini bersifat prosedural yang secara sosial dimiliki bersama dan tidak
pernah berhenti dipergunakan di setiap realitas yang terjadi. Metode ini merupakam suatu
studi empiris tentang bagaimana orang menanggapi pengalaman dunia sosialnya masingmasing serta realitas sosial atas interaksi yang berlangsung sehari-hari. Tokoh-tokohnya:
Garfinkle.
9. Metode Etnografi
Secara harfiah etnografi berarti tulisan atau laporan hasil penelitian di lapangan seorang
antropolog tentang suatu suku bangsa selama beberapa bulan atau tahun. Tujuan penelitian
etnografi adalah mendeskripsikan dan membangun struktur sosial dan budaya suatu
masyarakat, yaitu cara hidup masyarakat. Untuk itu peneliti harus melakukan interview
secara mendalam dengan beberapa informan dan melakukan observasi sambil berpartisipasi
dalam kehidupan masyarakat tersebut. Tokoh-tokohnya: Radcliffe-Brown, Malinowski.
10. Metode Dramaturgi
Metode ini berfokus pada penelitian terhadap ungkapan-ungkapan yang tersirat (tersembunyi/
tidak tampak), yakni ungkapan yang lebih bersifat teatris, kontekstual, non verbal dan tidak
intensional. Dalam analisis ini, orang aakan berusaha memahami makna untuk mendapatkan
kesan dari berbagai tindakan orang lain, baik dipancarkan dalam mimik wajah, isyarat dan
tindakan. Menurut tokohnya, Erving Goffman, semua itu mempunya keakuratan yang lebih
dibanding dengan ungkapan verbal. Dalam Dramaturgi ini dikenal ada 2 panggung individu
dalam tindakannya sehari-hari, yaitu panggung depan (front stage) dan panggung belakang
(back stage). Perilaku individu bisa saja berbeda di kedua panggung tersebut, dan inilah yang
diteliti dalam metode dramaturgi ini.
11. Metode Sejarah
Secara umum, sejarah meliputi pengalaman masa lalu untuk mengetahui apa yang harus
dikerjakan sekarang dan apa yang akan dikerjakan di masa depan. Sejarah menggambarkan
secara kritis seluruh kebenaran kejadian atau fakta pada masa lampau (Fox, dalam Sevilla
dkk)
Menurut Rakhmat sejarah adalah studi tentang masa lalu dengan menggunakan kerangka
paparan dan penjelasan. Dengan metode historis, ilmuwan sosial mencoba menjawab

masalah-masalah yang dihadapinya. Penelitian sejarah dimulai dengan perumusan masalah,


penetapan tujuan penelitian, pengumpuan data, evaluasi data dan pelaporan hasil penelitian.
12. Metode Analisis Wacana
Teori wacana menjelaskan sebuah peristiwa yang terjadi seperti terbentuknya sebuah kalimat
atau pernyatan (Heryanto, 2000). Karena itulah ia dinamakan analisis wacana. Dalam
linguistik, wacana digunakan untuk menggambarkan sebuah struktur yang luas melebihi
batasan-batasan kalimat (Sunarto, 2001).
Analisis wacana adalah seperangkat prinsip metodologis yang luas, diterapkan pada bentukbentuk ujaran/percakapan dan teks, baik yang terjadi secara alamiah maupun yang telah
direncanakan sebelumnya. Sumber data untuk analisis wacana meliputi wawancara,
percakapan, artikel, surat kabar, press release, media, siaran berita televisi, dokumen
kebijakan perusahaan, bahkan percakapan informal, bincang-bincang penyiar radio (Daymon
dan Holloway, 2008).
Beberapa pendekatan analisis wacana diantaranya pendekatan Teun A van Dijk, Norman
Fairclough, Ruth Wodak dan lain-lain.
13. Metode Analisis Framing
Analisis framing, yang pertama kali diperkenalkan oleh Barelson, merupakan versi terbaru
dari pendekatan analisis wacana, khususnya untuk menganalisis teks. (Sobur, 2001). Robert
Entman merupakan salah satu ahli yang meletakkan dasar analisis framing untuk studi isi
media. Konsep framing Entman digunakan untuk menggambarkan konsep proses seleksi dan
menonjolkan aspek tertentu dari realitas oleh media. Framing dapat dipandang sebagai
penempatan informasi dalam konteks yang khas sehingga isu tertentu mendapat alokasi lebih
besar daripada isu yang lain.
Model lain dalam analisis framing diantaranya Murray Edelman, William A. Gamson,
Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki.
14. Metode Analisis Semiotika
Semiotika merupakan ilmu yang mempelajari tentang tanda atau simbol. Semiotika sebagai
suatu model dari ilmu pengetahuan sosial memahami dunia sebagai sistem hubungan yang
memiliki unit dasar yang disebut dengan tanda. Dengan demikian semiotik mempelajari
hakekat tentang keberadaan suatu tanda. Umberto Eco menyebut tanda tersebut sebagai
kebohongan, dalam tanda ada sesuatu yang tersenbunyi di baliknya, dan bukan merupakan
tanda itu sendiri. Persepsi dan pandangan kita tentang realitas, dikonstruksikan oleh kata-kata
dan tanda-tanda lain yang digunakan dalam konteks sosial. Jadi tanda membentuk persepsi
manusia, lebih dari sekedar merefleksikan realitas yang ada (Bignel, dalam Listiorini, 1999).
Analisis semiotika berupaya menemukan makna tanda termasuk hal-hal yang tersembunyi
dibalik sebuah tanda (teks, iklan, berita), karena itu sistem tanda sifatnya amat kontekstual
dan bergantung pada pengguna tanda tersebut. Misalnya, kita bisa mempertanyakan,
Mengapa iklan mobil x menampilkan model wanita cantik duduk diatasnya?; Apa makna
logo palu-arit pada bendera partai komunis?; Apa makna sosial dari lirik lagu Imagine
milik John Lennon? dan sebagainya yang itu semua bisa diteliti dengan metode semiotika.

Kebanyakan pemikiran tentang semiotik melibatkan ide dasar triad of meaning yang
menegaskan bahwa arti muncul dari hubungan diantara tiga hal: benda (yang dituju), manusia
(penafsir) dan tanda (simbol). Seperti yang dijelaskan oleh Charles Saundders, ahli semiotik
modern, dimana semiosis diartikan sebagai hubungan diantara tanda, benda dan arti. Tanda
tersebut mempresentasikan benda atau yang ditunjuk oleh pikiran si penafsir. Tokoh yang
paling poluler dalam metode semiotika adalah Roland Barthes, yang menggunakan istilah
first order signification untuk denotasi, dan second order signification untuk konotasi dalam
semiotika.
15. Metode Partisipatif
Beberapa ahli memandang penelitian partisipatori sebagai masalah yang ditujukan untuk
mengumpulkan pengetahuan baru dengan orang-orang (sebagai partisipan) mampu
menetapkan pengetahuan tersebut.
Ada tiga karakteristik pokok dalam penelitian partisipatori. Pertama, waktu yang disediakan
dalam proses penanganan masalah yang sulit harus sesuai. Kualitas hubungan antara subjeksubjek yang diteliti dan peneliti menentukan kualitas penelitian partisipatori. Kedua, metode
yang digunakan harus dapat memungkinkan terselenggaranya pemikiran secara bersamasama oleh peneliti dan anggota adat dimana penelitian tersebut dilaksanakan. Ketiga, proses
penelitian harus merupakan suatu rangkaian analisis yang permanen, pernataan, pemikiran
tindakan, analisis dan lainnya. Penelitian partisipatif itu mengikuti seatu rangkaian penelitian
pedagogi dan tindakan, strategi yang disusun harus menunjukkan langkah-langkah yang
berurutan dari fase ke fase (Ardianto, 2010:83).
16. Metode Biografis
Biografis adalah sejarah atau catatan tertulis tentang kehidupan seseorang individu. Sebagian
besar pakar berpendapat bahwa biografi seyogyanya berjalan diantara narasi dan penceritaan
hal-hal khusus menuju konsep-konseptualisasi, interpretasi dan penjelasan yang lebih abstrak.
Menggeluti biografi merupakm aktivitas konstruksionis yang aktif, mulai dari pemilihan
tokoh hingga pencarian berbagai data, pemilihan dan tema citra atau sosok akhir yang hendak
dimunculkan. Kisah-kisah dan gagasan yang diciptakan oleh seorang penulis biografi
seyogyanya bermanfaat dalam memecahkan lebih lanjut aneka persoalan kehidupan
profesionalnya (Denzin dan Lincoln, 2009)
17. Metode Konvergensi Simbolik
Teori Konvergensi Simbolik (Symbolic Convergence Theory), diilhami oleh Bales lalu
dikembangkan oleh Ernest Bormann. Teori ini dibangun dalam kerangka paradigma naratif
yang meyakini bahwa manusia merupakan homo narrans yakni makhluk yang saling bertukar
cerita atau narasi untuk menggambarkan pengalaman dan realitas sosialnya (Bormann, 1985).
Konvergensi simbolik akan menghasilkan tema-tema fantasi drama-drama besar yang
panjang dan rumit dari sebuah cerita yang dipaparkan visi retorik(Bormann dalam Putnam
and Pacanowsky, 1983:110). Itulah teori konvergensi simbolik dikatakan identik dengan studi
tema-tema fantasi.

Teori konvergensi simbolik menegaskan bahwa solidaritas dan kohesivitas kelompok dapat
dicapai melalui kecakapan bersama dalam membaca dan menafsirkan tanda-tanda, kode-kode
dan teks-teks budaya. Hal ini membawa kepada terbentuknya realitas bersama (shared
reality). Sebagai teori yang berparadigma narratif maka penelitian yang menerapkanteori ini
lebih mementingkan pengumpulan data interpretif ketimbang data kuantitatif sebagaimana
dikembangkan dalam teori berparadigma rasional (Bormann, 1986).
Menurut teori ini, cerita atau tema-tema fantasi diciptakan melalui interaksi simbolik dalam
kelompok kecil dan kemudian dihubungkan dari satu orang ke orang lain dan dari satu
kelompok ke kelompok lain untuk menciptakan sebuah pandangan dunia yang terbagi
(Littlejohn, 2008:165). Contoh penelitian penelitian yang menggunakan metode ini misalnya
dengan judul:
Konvergensi simbolik pada jamaah tabligh Bandung (Studi tema-tema fantasi dalam
dakwah-dakwah di lingkungan jamaah tabligh Bandung).

DAFTAR PUSTAKA
Ardianto, Elvinaro. 2010. Metode Penelitian untuk Public Relation. Bandung: Simbiosa
Rekatama Media.
Effendy, Onong Uchayana. 2003. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: Citra
Aditya Bakti.
Eriyanto. 2004. Analisis Framing, Konstruksi, Ideologi dan Politik Media. Yogyakarta: LKiS.
Kriyantono, Rachmat. 2010. Tekhnik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada
Media Group.
Littlejohn Stephen W. and Foss. 1996. Theories of Human Communication. Belmont,
Californa: Wadsworth.
Mulyana, Deddy dan Solatun. 2008. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Mulyana, Deddy. 2010. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Rakhmat, Jalaluddin. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Sobur, Alex. 2002. Analisis Teks Media. Bandung PT. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.