Anda di halaman 1dari 65

RHINOSINUSITIS

Aisyah Fithri Syafwan


Shabrin Izzati

Mulfa Satria Asnel

BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rhinosinusitis merupakan masalah
kesehatan yang signifikan yang
tampaknya mencerminkan dari
peningkatan frekuensi rhinitis alergi dan
yang menyebabkan beban keuangan yang
besar pada masyarakat.
Penyebab utamanya adalah selesma
(common cold) yang merupakan infeksi
virus, alergi dan gangguan anatomi yang
selanjutnya dapat diikuti infeksi bakteri.

Rhinosinusitis adalah penyakit inflamasi yang


sering ditemukan dan mungkin akan terus
meningkat prevalensinya.
Rhinosinusitis dapat mengakibatkan gangguan
kualitas hidup yang berat, sehingga penting bagi
dokter umum atau dokter spesialis lain untuk
memiliki pengetahuan yang baik mengenai
definisi, gejala dan metode diagnosis dari
penyakit rhinosinusitis.

Bahaya dari rhinosinusitis adalah komplikasinya


ke orbita dan intrakranial. Komplikasi ini terjadi
akibat tatalaksana yang inadekuat atau faktor
predisposisi yang tidak dapat dihindari

BATASAN MASALAH
Case ini membahas mengenai rhinosinusitis
dengan komplikasinya meliputi anatomi, fisiologi
sinus paranasal, definisi, etiologi, klasifikasi,
patofisiologi, diagnosis, penatalaksanaan dan
komplikasi rhinosinusitis

TUJUAN PENULISAN
Tujuan penulisan case ini adalah unutk
memahami mengenai anatomi, fisiologi sinus
paranasal, definisi, etiologi, klasifikasi,
patofisiologi, diagnosis, penatalaksanaan dan
komplikasi rhinosinusitis

METODE PENULISAN
Case ini disusun berdasarkan studi kepustakaan
dengan merujuk ke berbagai literatur

BAB 2
Tinjauan Pustaka

ANATOMI
Sinus paranasal adalah ruang berisi udara yang
terletak di dalam tulang tengkorak dan wajah.
Terdapat empat pasang sinus yaitu maksila, frontal,
sphenoid, dan ethmoid. Masing-masing sinus
mempunyai muara ke rongga hidung.
Seluruh sinus dilapisi oleh epitel saluran pernapasan
yang mengalami modifikasi, mampu menghasilkan
mukus, dan bersilia.

Dibagi menjadi dua kelompok:


Anterior : sinus yang terbuka ke arah anterior basal
lamella dari konka di meatus tengah, membentuk
kelompok anterior sinus paranasal. Terdiri dari sinus
maksila, frontal dan anterior sinus ethmoid
Posterior : sinus yang terbuka kearah posterior dan
superior pada basal lamella dari konka media. Terdiri
dari sinus ethmoid dan sinus sphenoid. Posterior
sinus etmoidalis terbuka di meatus superior dan sinus
sphenoid terbuka reses sphenoethmoidal

FISIOLOGI SINUS PARANASAL


1.
2.
3.
4.

Meringankan berat kepala


Pelembab dan pemanasan menghirup udara
Meningkatkan resonansi suara
Membantu produksi mukus

DEFINISI RHINOSINUSITIS
Rhinosinusitis didefinisikan sebagai peradangan
pada selaput lendir hidung dan sinus paranasal.
Umumnya disertai atau dipicu oleh rinitis
sehingga sering disebut rhinosinusitis.
Penyebab utamanya ialah selesma (common cold)
yang merupakan infeksi virus, yang selanjutnya
dapat diikuti oleh infeksi bakteri.

Rhinosinusitis pada dewasa didefinisikan sebagai


inflamasi pada hidung dan sinus paranasal dengan
karakteristik dua atau lebih gejala dimana salah
satunya harus ada sumbatan/obstruksi/kongesti pada
hidung atau keluarnya cairan dari hidung
(anterior/posterior nasal drip) :
nyeri pada wajah/ rasa tertekan pada wajah
penurunan/hilangnya rasa penciuman

epos 2012

ETIOLOGI
Beberapa faktor etiologi dan predisposisi antara
lain:
Common cold, bermacam rinitis terutama rinitis
alergi, rinitis hormonal pada wanita hamil, polip
hidung, kelainan anatomi seperti deviasi septum
atau hipertrofi konka, sumbatan kompleks ostimeatal (KOM), infeksi tonsil, infeksi gigi,
kelainan imunologik, diskenesia silia seperti
pada sindrom Kartgener.

CONT..
Faktor predisposisi yang paling lazim adalah
poliposis nasal yang timbul pada rinitis alergika;
polip dapat memenuhi rongga hidung dan
menyumbat sinus
Pada anak, hipertrofi adenoid merupakan faktor
penting penyebab sinusitis

KLASIFIKASI RHINOSINUSITIS

PATOFISIOLOGI

GEJALA KLINIS
Keluhan

utama pada rhinosinusitis


adalah hidung tersumbat yang disertai
nyeri atau rasa tekanan pada muka dan
ingus yang purulent. Ingus sering kali
turun ke tenggorok dimana pada
pemeriksaan rinoskopi akan terlihat post
nasal drip.
Nyeri tekan pada sinus yang terkena
merupakan ciri khas pada sinusitis akut.

Nyeri

pada pipi merupakan tanda sinusitis


maksila, nyeri di ke dua bola mata
menandakan sinusitiss etmoid, nyeri di dahi
atau seluruh kepala menandakan sinusitiss
frontal. Nyeri alih ke gigi dan telinga bisa
terjadi pada sinusitis maksila.
Gejala lain adalah sakit kepala, hiposmia atau
anosmia, halitosis. Pada anak-anak gejala
berupa batuk lebih bayak ditemukan dari
hiposmia atau nyeri tekan pada wajah

FAKTOR YANG TERKAIT MENURUT


TASKFORCE
Gejala mayor

Gejala minor

Nyeri wajah

Sakit kepala

Rasa penuh di wajah

Demam (untuk semua rhinosinusitis non

Obstruksi hidung

akut)

Secret hidung

Halitosis

Hiposmia/anosmia

Fatigue

Secret purulen pada cavum nasi

Nyeri pada gigi

Demam (khusus untuk rhinosinusitis akut)

Batuk
Nyeri pada telinga/rasa penuh

DIAGNOSIS
Diduga kuat rhinosinusitis apabila terdapat 2
atau lebih gejala mayor atau 1 mayor 2 minor
atau lebih dari 3 minor.
Mengarah ke rhinosinusitis bila 1 mayor atau 2
atau lebih minor

taskforce

EPOS 2012
Gejala utama
Hidung tersumbat dan / atau

Gejala tambahan

Tanda

nyeri wajah / rasa tertekan

Tanda dari endoskopi :

Pengeluaran cairan/discharge di wajah

Polip nasi dan atau

dari hidung baik ke anterior

Discharge mukopurulen

atau ke posterior

berkurang atau hilang


Kemampuan penghidu

dari meatus nasi media


dan atau
-

Udem/penyumbatan
meatus nasi

di

media dan

atau

Perubahan gambaran CT

Adanya perubahan mukosa di


daerah osteomeatal kompleks
dan atau di daerah sinus.

Pada rinosinisitis viral akut ditemukan 2 atau lebih


dari gejala tersebut dan sudah berlangsung kurang
dari 10 hari.
Pada rhinosinusitis akut post viral ditemukan gejala
apabila lebih dari 10 hari dengan tidak ditemukan
bakteri dan sekretnya mukoid tidak purulen.
Pada rhinosinusitis bakterial ditemukan gejala
apabila terdapat bakteri pada pemeriksaan
laboratorium dan sekret berubah menjadi purulen
dalam waktu kurang dari 12 minggu.
Pada rhinosinusitis kronis, ditemukan 2 atau lebih
gejala dan sudah berlangsung lebih dari 12 minggu.

Pemeriksaan fisik dilakukan rinosokopi anterior dan


rinoskop posterior.
Tanda khas pada sinusitis maksila dan etmoid
anterior dan frontal adalah pus yang ditemukan di
meatus media.
Pus pada meatus superior ditemukan pada sinusitis
etmoid posterior dan sfenoid.
Pada rhinosinusitis akut ditemukan mukosa edema
dan hiperemis

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Dapat dilakukan berupa :
foto polos
CT Scan
pemeriksaan tranluminasi
pemeriksaan mikrobiologi dan sinuskopi

FOTO POLOS

Posisi PA dan lateral, Waters umumnya hanya mampu


menilai sinus-sinus besar seperti maksila dan frontal.

CT SCAN

CT scan merupakan gold standar dalam merupakan


sinusitis karena mampu menilai anatomi hidung dan
sinus

PENATALAKSANAAN

Rhinosinusitis akut
Antibiotik merupakan kunci dalam penatalaksanaan
rhinosinusitis akut. Amoksisilin merupakan terapi
pilihan untuk bakteri gram positif dan negatif. Jika
diperikirakan kuman telah resisten maka dapat
diberikan amoksisilin-klavunat atau jenis sefalosporin
generasi kedua.
Terapi lain yang dapat diberikan jika diperlukan adalah
analgetik, mukolitik, steroid oral/topikal, pencucian
rongga hidung dengan NaCl, dan antihistamin.
Antihistamin hanya diberikan pada rhinosinusitis alergi.
Analgetik dan kompres hangat dapat diberikan untuk
mengurangi nyeri.

2 gejala : salah satunya harus ada obstruksi


hidung atau perubahan warna sekret

Keadaan yang harus segera di rujuk/ dirawat


Edema periorbita
Pendorongan letak bola mata
Penglihatan ganda
Oftalmoplegi
Penurunan visus
Nyeri frontal unilateral atau bilateral
Bengkak daerah frontal
Tanda meningitis atau tanda fokal
neurologis

+/- nyeri frontal,sakit kepala


+/- penciuman terganggu
Pemeriksaan : rinoskopi anterior
x-ray dan ct tidak direkomendasikan

Gejala kurang dari 5


hari
atau membaik
setelahnya

Common cold

Pengobatan simtomatik:
analgetik,cuci hidung

Gejala menetap atau


memburuk setelah 5
hari

Sedang (post viral)

Steroid topikal

Berat (termasuk
bakteri)

Antibiotik
topikal

steroid

Tidak ada perbaikan


setelah 14 hari

Perbaikan dalam 48 jam

Tidak ada perbaikan


dalam 48 jam

Rujuk ke dokter
spesialis

Teruskan terapi untuk 714 hari

Rujuk
spesialis

ke

dokter

2 atau lebih gejala, salah satunya berupa hidung


tersumbat/ obstruksi/ kongesti atau pilek; sekret hidung
anterior/ posterior;
nyeri/ rasa tertekan di wajah;
Penghidu terganggu/ hilang
Pemeriksaan: Rinoskopi Anterior
x-ray dan ct scan tidak direkomendasikan
Tersedia Endoskopi

Ikuti skema
rhinosinusitis kronik
dokter spesialis THT
Rujuk Dokter Spesialis
THT jika Operasi
Dipertimbangkan

Pikirkan diagnosis lain :


Gejala unilateral
Perdarahan
Krusta
Gangguan penciuman
Gejala Orbita
Edema Periorbita
Pendorongan letak bola mata
Penglihatan ganda
Oftalmoplegi
Nyeri kepala bagian frontal yang berat
Bengkak daerah frontal
Tanda meningitis atau tanda fokal neurologis fokal

Endoskopi tidak tersedia

Investigasi dan
intervensi secepatnya

Pemeriksaan Rinoskopi Anterior


Foto Polos SPN/ Tomograf
Komputer tidak direkomendasikan

Steroid topikal
Cuci hidung

Reevaluasi setelah 4
minggu
Perbaikan

Lanjutkan terapi

Tidak ada perbaikan

Rujuk spesialis THT

Bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF/FESS)


merupakan operasi terkini untuk sinusitis kronik
yang memerlukan operasi. Tindakan ini telah
menggantikan hampir semua jenis bedah sinus
terdahulu karena memberikan hasil yang lebih
memuaskan dan tindakan lebih ringan dan tidak
radikal.
Indikasi tindakan ini berupa sinusitis kronik yang
tidak membaik setelah terapi adekuat, sinusitis
kronik disertai kista atau kelainan yang ireversibel,
polip ekstensif, adanya komplikasi sinusitis serta
sinusitis jamur

KOMPLIKASI
Komplikasi merupakan hal yang sering terjadi dan
seringkali membahayakan nyawa penderita, namun
seiring berkembangnya teknologi diagnostik dan
antibiotika, maka hal tersebut dapat dihindari

CONT..
1.
2.
3.

Komplikasi orbita
Komplikasi oseus/tulang
Komplikasi intrakranial

ILUSTRASI KASUS

IDENTITAS PASIEN
Nama
: Tn. RS
Umur
: 27 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan
: Pekerja Swasta
Alamat
: Pariaman
Suku bangsa
: Minangkabau
Seorang pasien laki-laki berumur 27 tahun dirawat di
rumah sakit RSUP Dr M Djamil Padang pada tanggal 6
Mei 2015

Keluhan Utama : Hidung tersumbat sejak 4 bulan


yang lalu

Riwayat penyakit sekarang :


Hidung tersumbat sejak 4 bulan yang lalu, terus menerus.
Sebelumnya pasien sudah merasakan hidung tersumbat sejak
sekitar 1 tahun namun hilang timbul.
Keluar cairan dari hidung sejak 4 bulan yang lalu, cairan
berwarna kehijauan, agak kental, dan berbau amis.
Sebelumnya pasien sudah merasakan keluar cairan dari
hidung sejak sekitar 1 tahun yang lalu namun cairan
berwarna bening dan agak encer.
Nyeri pada pipi kiri sejak 3 bulan yang lalu, nyeri terus
menerus.
Wajah terasa berat terutama saat sedang menunduk atau
sujud pada saat shalat.
Pasien merasa penciumannya berkurang sejak 2 bulan yang
lalu
Bersin-bersin lebih dari 5 kali ketika terkena debu dan udara
dingin.
Gatal gatal pada hidung bila terkena debu dan udara dingin.

Terasa cairan mengalir dari belakang hidung ke


tenggorokan sejak 4 bulan yang lalu.
Nyeri kepala tidak ada
Nyeri telinga tidak ada
Batuk tidak ada
Nyeri pada gigi tidak ada
Demam tidak ada
Riwayat keluar cairan dari telinga 3 bulan yang lalu
namun sekarang sudah tidak keluar lagi.
Riwayat gangguan pendengaran tidak ada.

Riwayat telinga berdenging tidak ada.


Riwayat sakit gigi tidak ada
Riwayat nyeri menelan tidak ada.
Pasien sebelumnya sudah berobat ke poliklinik
THT RSUP Dr M Djamil Padang, namun pasien
tidak mengetahui obat apa yang berikan, gejala
yang dirasasakan berkurang setelah
mendapatkan pengobatan.
Pada tahun 2013 pasien mengalami kecelakaan
yang mengenai daerah wajah.

Riwayat penyakit dahulu :


Riwayat hipertensi tidak ada
Riwayat Diabetes Melitus tidak ada.

Riwayat penyakit keluarga :


Tidak ada anggota keluarga pasien mengalami
keluhan yang sama dengan pasien.
Riwayat pekerjaan, sosial ekonomi dan
kebiasaan :
Pasien seorang pekerja swasta
Merokok sejak 10 tahun yang lalu sebanyak setengah
bungkus perhari
Riwayat konsumsi alkohol tidak ada.

PEMERIKSAAN FISIK
STATUS GENERALIS
Keadaan umum : Sedang
Kesadaran: CMC
Tekanan darah :120/80
Frekwensi Nadi : 84 x/menit
Frekwensi Nafas : 20 x/menit
Suhu Tubuh
PEMERIKSAAN SISTEMIK
Kepala
Mata : Konjungtiva tidak anemis dan sklera tidak ikterik
Thoraks : Jantung dan Paru dalam batas normal
Abdomen : Dalam batas normal
Ekstremitas : Akral Hangat perfusi baik

STATUS LOKALIS THT


TELINGA
Pemeriksaan

Daun telinga

Diding liang telinga

Sekret/serumen

Kelainan

Dekstra

Sinistra

Kel kongenital

Tidak ada

Tidak ada

Trauma

Tidak ada

Tidak ada

Radang

Tidak ada

Tidak ada

Kel. Metabolik

Tidak ada

Tidak ada

Nyeri tarik

Tidak ada

Tidak ada

Nyeri tekan tragus

Tidak ada

Tidak ada

Cukup lapang (N)

Cukup lapang (N)

Cukup lapang(N)

Sempit

Hiperemi

Tidak ada

Tidak ada

Edema

Tidak ada

Tidak ada

Massa

Tidak ada

Tidak ada

Ada / Tidak

Ada

Ada

Bau

Tidak ada

Tidak ada

Warna

Kekuningan

Kekunigan

Jumlah

Sedikit

sedikit

Jenis

kering

kering

Membran timpani

Utuh

Perforasi

Mastoid

Tes garpu tala

Warna

Keruh

Keruh

Reflek cahaya

Tidak ada

Tidak ada

Bulging

Tidak ada

Tidak ada

Retraksi

Tidak ada

Tidak ada

Atrof

Tidak ada

Tidak ada

Jumlah perforasi

Ada

ada

Jenis

Sentral

sentral

Pinggir
Tanda radang

Rata
Tidak ada

rata
Tidak ada

Fistel

Tidak ada

Tidak ada

Sikatrik

Tidak ada

Tidak ada

Nyeri tekan

Tidak ada

Tidak ada

Nyeri ketok

Tidak ada

Tidak ada

Rinne

( -)

(-)

Schwabach

Memanjang

Memanjang

Kwadran

HIDUNG
Pemeriksaan

Kelainan

Dektra

Sinistra

Deformitas

Tidak ada

Tidak ada

Kelainan

Tidak ada

Tidak ada

Hidung luar

kongenital
Trauma

Tidak ada

Tidak ada

Radang

Tidak ada

Tidak ada

Massa

Tidak ada

Tidak ada

Sinus paranasal
Pemeriksaan

Dekstra

Sinistra

Nyeri tekan

Tidak ada

Ada (sinus maksila)

Nyeri ketok

Tidak Ada

Ada (sinus maksila)

RINOSKOPI ANTERIOR
Pemeriksaan
Vestibulum

Cavum nasi

Sekret

Konka inferior

Konka media

Kelainan

Dekstra

Sinistra

Vibrise

Ada

Ada

Radang

Tidak ada

Tidak ada

Cukup lapang (N)

Cukup lapang (N)

Sempit

Sempit

Tidak ada

Ada

Lapang

Tidak ada

Tidak ada

Lokasi

Ada

Ada

Jenis

Mukopurulen

Mukopurulen

Jumlah

Sedikit

Sedikit

Bau

Tidak ada

Tidak ada

Ukuran

Hipertrof

Hipertrof

Warna

Livide

Livide

Permukaan

Licin

Licin

Edema

Tidak ada

Tidak ada

Ukuran

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Warna

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Cukup

lurus/deviasi

Septum

Permukaan

Licin

Licin

Warna

Merah muda

Merah muda

Krista

Tidak ada

Tidak ada

Abses

Tidak ada

Tidak ada

Lokasi

Tidak ada

Tidak ada

Ukuran

Tidak ada

Tidak ada

Permukaan

Tidak ada

Tidak ada

Konsistensi

Tidak ada

Tidak ada

Spina

Perforasi

Deviasi ke arah kiri

Bentuk

Warna

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

RINOSKOPI POSTERIOR
Pemeriksaan

Kelainan

Cukup

Koana

(N)

Dekstra

Sinistra

lapang
Sukar dinilai

Sukar dinilai

Warna

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Edem

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Ukuran

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Warna

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Permukaan

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Edem

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Ada/tidak

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Sempit
Lapang

Mukosa

Jaringan
granulasi

Konka inferior
Adenoid

Muara

tuba Tertutup

eustachius

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Lokasi

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Ukuran

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Bentuk

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Permukaan

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Sukar dinilai

sekret
Edem mukosa

Massa
Post
Drip

Nasal Ada/tidak
Jenis

OROFARING DAN MULUT

Pemeriksaan

Palatum mole +
Arkus Faring
Dinding faring

Tonsil

Kelainan

Dekstra

Sinistra

Simetris/tidak

Simetris

Simetris

Warna

Merah muda

Merah muda

Edem

Tidak ada

Tidak ada

Bercak/eksudat

Tidak ada

Tidak ada

Warna

Kemerahan

Merah muda

Permukaan

Licin

Licin

Ukuran

T1

T1

Warna

Merah muda

Merah muda

Permukaan

Rata

Rata

Muara kripti

Tidak Melebar

Tidak Melebar

Detritus

Tidak ada

Tidak ada

Eksudat

Tidak ada

Tidak ada

Perlengketan


Peritonsil

Tumor
Gigi

Lidah

Warna

Merah muda

Merah muda

Edema

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Tidak ada

Lokasi

Tidak ada

Tidak ada

Bentuk

Tidak ada

Tidak ada

Ukuran

Tidak ada

Tidak ada

Permukaan

Tidak ada

Tidak ada

Konsistensi

Tidak ada

Tidak ada

Karies/Radiks

Ada

Ada

Kesan

Oral Higiene kurang

Warna

Merah muda

Merah muda

Bentuk

Normal

Normal

Deviasi

Tidak ada

Tidak ada

Massa

Tidak ada

Tidak ada

Abses

LARINGISKOPI INDIREK
Pemeriksaan

Epiglotis

Kelainan

Ariteniod

Sinistra

Bentuk

Normal

Normal

Warna

Merah muda

Merah muda

Edema

Tidak ada

Tidak ada

Rata

Rata

Massa

Tidak ada

Tidak ada

Warna

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Edema

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Massa

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Gerakan

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Pinggir
rata/tidak

Dekstra

Warna

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Ventrikular

Edema

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Sukar dinilai

band

Massa

Warna

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Plica vokalis

Gerakan

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Pingir medial

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Massa

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Massa

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Sekret

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Massa

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Sekret

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Massa

Sukar dinilai

Sukar dinilai

Subglotis/trakea
Sinus piriformis
Valekula

Pemeriksaan Kelenjar getah bening leher :


tidak ada pembesaran KGB
Inspeksi : tidak terlihat pembesaran kelenjar
getah bening di leher
Palpasi
: tidak teraba pembesaran kelenjar
getah bening di leher

RESUME

Anamnesis
Hidung tersumbat sejak 4 bulan yang lalu, terus menerus.
Sebelumnya pasien sudah merasakan hidung tersumbat sejak
sekitar 1 tahun namun hilang timbul.
Keluar cairan dari hidung sejak 4 bulan yang lalu, cairan
berwarna kehijauan, agak kental, dan berbau amis. Sebelumnya
pasien sudah merasakan keluar cairan dari hidung sejak sekitar
1 tahun yang lalu namun cairan berwarna bening dan agak
encer.
Nyeri pada pipi bagian kiri sejak 3 bulan yang lalu, nyeri terus
menerus.
Wajah terasa berat terutama saat sedang menunduk atau sujud
pada saat shalat.
Pasien merasa penciumannya berkurang sejak 2 bulan yang
lalu

Bersin-bersin lebih dari 5 kali ketika terkena debu dan udara


dingin.

Gatal gatal pada hidung bila terkena debu dan


udara dingin.
Terasa cairan mengalir dari belakang hidung ke
tenggorokan sejak 4 bulan yang lalu.
Riwayat keluar cairan dari telinga ada 3 bulan
yang lalu namun sekarang sudah tidak keluar
lagi.
Pasien sebelumnya sudah berobat ke poliklinik
THT RSUP Dr M Djamil Padang, namun pasien
tidak mengetahui obat apa yang berikan, gejala
yang dirasasakan berkurang setelah
mendapatkan pengobatan.
Pada tahun 2013 pasien mengalami kecelakaan
yang mengenai daerah wajah.

Pemeriksaan fsik
Sinus Paranasal : Nyeri ketok dan nyeri tekan pada
sinus maksila sinistra.
Rinoskopi anterior
KND : Kavum nasi sempit sekret ada, mukopurulen,
sedikit, tidak berbau. konka inferior hipertrofi, livid,
permukaan licin, konka media sukar dinilai, septum
deviasi kearah kiri.
KNS : Kavum nasi sempit, sekret ada, mukopurulen,
sedikit, tidak berbau. konka inferior hipertrofi, livid,
permukaan licin, konka media sukar dinilai, septum
deviasi kearah kiri.
Telinga
ADS : Membran timpani keruh, perforasi sentral,
kuadran anterior inferior, pinggir rata.
Tes garpu Tala : Tuli konduktif ADS.

Pemeriksaan penunjang
Foto polos sinus paranasal posisi waters,
Audiometri, Timpanometri.
Diagnosis Kerja :
Rhinosinusitis kronik maksila sinistra ec susp
septum deviasi dan rhinitis alergi
Diagnosis Tambahan
Otitis Media Supuratif Kronis ADS tipe aman fase
tenang
Pemeriksaan anjuran
Prick test

Terapi :
Ciproproksasin 2 x 500 mg
Pseudoefedrin HCl 30 mg + Terferadin 40 mg (3x1
tab)
Ambroxol 3 x30 mg
Cuci Hidung Nacl 0, 9 %
Anjuran Terapi :
septoplasti
Prognosis :
Quo ad vitam : bonam
Quo ad sanam : dubia et bonam
Quo as funtionam : dubia ad malam

DISKUSI
Telah dilaporkan seorang pasien laki-laki berusia 27 tahun
dengan diagnosa kerja. rhinosinusitis kronik maksila sinistra ec
susp septum deviasi dan rhinitis alergi. Diagnosa Pada pasien
ini ditegakkan dari Anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Berdasarkan anamnesis didapatkan hidung tersumbat , keluar
cairan dari hidung berwarna kehijauan, nyeri pada pipi bagian
kiri, nyeri terus menerus dan wajah terasa berat terutama saat
sedang menunduk atau sujud pada saat shalat, serta pasien
merasa penciumannya berkurang. Pada anamnesis ini
didapatkan lima kriteria mayor dari penegakkan diagnosis
rinosinusitis menurut Task Force. Pasien mengeluhkan pula
bersin-bersin lebih dari 5 kali ketika terkena debu dan udara
dingin, serta gatal gatal pada hidung juga dirasakan bila
terkena debu dan udara dingin. Hal ini sesuai dengan etiologi
dari rinosinusitis yang dapat disebabkan oleh rinitis alergi.
Keluhan pada pasiennya ini dimulai sejak 4 bulan yang lalu.
Menurut European Position Paper on Nasal Polyps ini termasuk
dalam rinosinusitis kronis.

Pada Pemeriksaan fisik didapatkan didapatkan kavum nasi


dekstra sinistra pada pasien sempit, sekret ada, mukopurulen,
sedikit, dan tidak berbau konka inferior hipertrofi dan livid. Pada
pasien terdapat pula septum deviasi ke arah sinistra.
Pemeriksaan Sinus Paranasal di dapatkan nyeri ketok dan nyeri
tekan pada sinus maksila sinistra.
Keadaan konka inferior
yang hipertrofi dan livid merupakan tanda dari adanya rinitis
alergi. Nyeri ketok dan nyeri tekan pada maksila menandakan
adanya infeksi pada sinus.
Terdapat berbagai faktor predisposisi rinosinusitis. Faktor
predisposisi pada pasien ini berupa adanya rinitis alergi dan
deviasi pada septum ke arah kiri karena trauma daerah wajah.
Faktor lain yang juga adalah kebiasaan merokok pada pasien
yang perubahan mukosa dan merusak silia. Faktor predisposisi
pada pasien yakni rinitis alergi dan deviasi septum menyebabkan
sumbatan pada ostium sinus. Organ-organ pembentuk KOM
letaknya berdekatan dan bila terjadi edema mukosa yang
berhadapan akan saling bertemu hingga silia tidak dapat
bergerak dan ostium tersumbat.

Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik didapatkan adanya


OMSK ADS tipe aman fase tenang. Berdasarkan anamnesis yakni
riwayat keluar cairan dari telinga sekitar 3 bulan yang lalu namun
sekarang sekret sudah tidak keluar. Pemeriksaan fisik pada
telinga pasien ditemukan membran timpani telinga kiri dan kanan
keruh, perforasi sentral, anterior inferior, pinggir rata dan tes
garpu tala tuli konduktif Auris Dekstra dan Sinistra. Adanya
perforasi dari membran timpani dan riwayat keluar cairan dari
telinga lebih dari 2 bulan menandakan adanya OMSK. Letak
perforasi pada membran timpani di sentral mengarahkan pada
diagnosa OMSk tipe aman (benigna). Saat ini pada liang telinga
pasien tidak ada sekret yang keluar secara aktif, menandakan
OMSK tipe aman pasien berada dalam fase tenang.
Pada
kasus ini diberikan terapi medikamentosa seperti
Ciproproksasin 2 x 500 mg yang berguna sebagai antibiotik.
Diberikan juga Pseudoefedrin HCl 30 mg + Terferadin 40 mg (3x1
tab), ambroxol 3 x30 mg, Cuci Hidung Nacl 0, 9 %, dan 2x5 tetes
ADS. Pada pasien dianjurkan dilakukan septoplasti untuk
mengatasi septum deviasi .

TERIMA KASIH